Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...  (Read 392829 times)

0 Members and 5 Guests are viewing this topic.

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #105 on: 25 March 2009, 10:31:43 PM »
Quote
apa benar kalau mahayana tingkatnya lebih tinggi dari T ? kenapa?

Semuanya bertahap jalannya. Dari Hinayana terus Mahayana terus Vajrayana.

Apakah bertahap ini merupakan tinggi-tinggian atau tidak, silahkan renungkan sendiri.

 _/\_
The Siddha Wanderer

kalau dari klaim konsep MAHAYANA, bahwa Hinayana berakhir pada jalan SAVAKA/SRAVAKA yang di MAHAYANA hanya identik dengan Bodhisatva tkt-7, dan masih bisa mengambil jalan MAHAYANA untuk mencapai bodhisatva tkt-10 (setara dengan samyaksambuddha/sammasambuddha), masih ada LOGIKA PEMBENARAN-NYA...

Tetapi apakah yang melandaskan pandangan bahwa Tahapan selanjutnya dari MAHAYANA adalah VAJRAYANA/TANTRA ? Apakah karena konsep VAJRAYANA yang "mengusahakan" tercapai-nya penerangan sempurna (annutara samyaksambuddha) hanya dalam 1 kehidupan saja ?
JIKA BEGITU... Malah yang ingin saya tanyakan... apakah dari sekian banyak praktisi VAJRAYANA/TANTRA, ada yang "di-ketahui" sudah mencapai penerangan sempurna annutara samyaksambuddha ? (SOALNYA KALAU ALIRAN VAJRAYANA/TANTRA, KOK YANG KEDENGARAN ADALAH EMANASI EMANASI TERUS MENERUS, malah NAMA SAMPAI pakai angka ROMAWI... ada yang sampai XVI ? ? ? )
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline Shining Moon

  • Sebelumnya: Yuri-chan, Yuliani Kurniawan
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.148
  • Reputasi: 131
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #106 on: 26 March 2009, 03:34:17 AM »
mau nanya yah..
bagaimana pandangan pure land (tanah suci) jika dibandingkan dengan re-birth?
apa keberadaan pure land itu sendiri merupakan nirvana atau apa ya..
maaf, saya bener2 nggak ngerti
Life is beautiful, let's rock and roll..

Offline Edward

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.968
  • Reputasi: 85
  • Gender: Male
  • Akulah yang memulai penderitaan ini.....
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #107 on: 26 March 2009, 08:17:00 AM »

Maklum lah si gendalf masih anak kecil. Belum dewasa

Setuju sama Bro Indra. Terang aja encek enceknya langsung pratek, lebih tahan banting, daripada sarjana sok pintar tapi Ngak bisa apa - apa pas lansung prateknya.
Alias tong kosong nyaring bunyinya

ehem, silahkan berdiskusi. Tidak perlu menjelek-jelekkan. :)
“Hanya dengan kesabaran aku dapat menyelamatkan mereka....."

Offline Edward

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.968
  • Reputasi: 85
  • Gender: Male
  • Akulah yang memulai penderitaan ini.....
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #108 on: 26 March 2009, 08:27:13 AM »
mau nanya yah..
bagaimana pandangan pure land (tanah suci) jika dibandingkan dengan re-birth?
apa keberadaan pure land itu sendiri merupakan nirvana atau apa ya..
maaf, saya bener2 nggak ngerti

Pure Land itu bukan nirvana. Sesuai dengan penjelasan saya sebelumnya, Sukhavati itu sama seperti dunia Saha kita ini, tapi dengan kondisi yang berbeda.Perbedaannya ialah kondisi dunia Sukhavati yg terbebas dari berbagai macam delusi, dan memiliki Buddha yaitu Amita Buddha yg masih mengajarkan Dhamma.Dengan berbabagai kondisi yang "pas" tersebut, Sukhavati menjadi lokasi yg paling cocok untuk kita melatih diri dan memperoleh pencerahan di sana.

Sukhavati sendiri tidak abadi, karena suatu saat pun akan hancur dan berputar kembali sesuai dengan hukum anicca, tetapi Sukhavati dikatakan dalam Sutra bahwa memiliki lifespan yg sangat panjang, sehingga dikatakan umurnya hampir tak terhingga.
“Hanya dengan kesabaran aku dapat menyelamatkan mereka....."

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #109 on: 26 March 2009, 08:36:16 AM »
mau nanya yah..
bagaimana pandangan pure land (tanah suci) jika dibandingkan dengan re-birth?
apa keberadaan pure land itu sendiri merupakan nirvana atau apa ya..
maaf, saya bener2 nggak ngerti

Pure Land itu bukan nirvana. Sesuai dengan penjelasan saya sebelumnya, Sukhavati itu sama seperti dunia Saha kita ini, tapi dengan kondisi yang berbeda.Perbedaannya ialah kondisi dunia Sukhavati yg terbebas dari berbagai macam delusi, dan memiliki Buddha yaitu Amita Buddha yg masih mengajarkan Dhamma.Dengan berbabagai kondisi yang "pas" tersebut, Sukhavati menjadi lokasi yg paling cocok untuk kita melatih diri dan memperoleh pencerahan di sana.

Sukhavati sendiri tidak abadi, karena suatu saat pun akan hancur dan berputar kembali sesuai dengan hukum anicca, tetapi Sukhavati dikatakan dalam Sutra bahwa memiliki lifespan yg sangat panjang, sehingga dikatakan umurnya hampir tak terhingga.

apakah sukhavati jg memiliki alam dewa, alam brahma, alam apaya tersendiri ?
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline marcedes

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.528
  • Reputasi: 70
  • Gender: Male
  • May All Being Happinesssssssss
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #110 on: 26 March 2009, 09:46:35 AM »
"ehipassiko" kata ini selalu berhubungan langsung dengan ajaran buddha.
mengenai hukum anicca, anatta, re-birth,bahkan alam dewa dan alam apaya semua nya bisa dibuktikan melalui jb8.

tetapi bagaimana pandangan mahayana tentang pure land........
bisa dibuktikan dengan apa?
dengan "saddha" yang tebal seperti ajaran nasra*i ??? alias percaya buta/blind faith.

saudara Edward yang bijak,
saya tidak pernah mencari pembenaran sepihak, tetapi pembenaran mutlak. dimana saya memakai kenyataan sebagai bukti...bukan hanya teori.

apakah pernah ada yang merenungkan "mengapa memilih agama buddha?"
mengapa bukan ajaran Isla*,Kriste* atau hind*....atau bahkan maitrey*

kalau saya, tentu saya mau menjawab "saya ingin bahagia"
bahagia yang tentunya bisa di buktikan....bukan ilusi / angan-angan / janji-janji tanpa bukti.

coba sendiri teliti letak ehipassiko nya itu ada bagian mana.
ataukan seperti cerita Ajahn Brahm "nanti saya akan bahagia"

kalau mau simak cerita nya bisa ke.
http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=9531.msg159530#msg159530


====================================================================
mohon maaf kalau saya repost
Quote from: chingik on 18 February 2009, 09:12:00 PM
Quote from: marcedes on 18 February 2009, 07:05:40 PM

Quote
Maksud saya kemana-mana kita pakai baju itu kemelekatan kan? sekali-sekali keluar rumah tanpa pakaian mas... untuk membuktikan jangan melekat   Grin

gimana yang punya isteri dan suami? kemelekatan kan? sekali sekali suami atau isteri orang lain?  untuk membuktikan tidak melekat   Grin

Maksud saya: apa batasan kemelekatan?
 Namaste
ada penderitaan maka ada kemelekatan, tidak ada kemelekatan, maka penderitaan tidak ada. ^^

Quote from: chingik on 18 February 2009, 03:59:31 PM
Quote
Nah... dalam RAPB, jelas dikatakan bahwa petapa sumedha telah memenuhi semua persyaratan untuk pencapaian ARAHAT (savaka buddha), tetapi karena chanda (keinginan luhur) beliau untuk mencapai sammasambuddha, maka pencapaian ARAHAT ditinggalkan (petapa sumedha tidak mencapai tingkat ARAHAT atau NIBBANA yang dimana kalau mencapai nibbana dan parinibbana maka tidak terlahirkan lagi di alam manapun lagi). Oleh karena ikrar-nya tersebut, Petapa Sumedha harus menjalani tumimbal lahir selama 4 asankheya kappa dan 100 ribu kappa untuk menyempurnakan parami...

Sedangkan dalam konsep MAHAYANA (terutama dilihat dari Saddharmapundarika Sutra), dikatakan bahwa para Sravaka (Arahat) --- Dalam hal ini yang telah mencapai Arahat / tidak ditunda ---- disetarkan dengan bodhisatva tingkat 7, dan jika para Sravaka ingin menempuh jalan bodhisatva dan bertujuan mencapai sammasambuddha, dapat keluar dari nibbana ekstrim (katanya nibbana para sravaka) untuk mencapai sammasambuddha. (Demikian juga BUDDHA GOTAMA dalam sutra saddharmapundarika meramalkan pencapaian sammasambuddha di masa mendatang dari beberapa sravaka/Arahat seperti Arahat Ananda dsbnya)...

Nah, persoalannya terjadi perbedaan di sini... Dari cerita penempuhan jalur bodhisatta (karir bodhisatta calon sammasambuddha seperti petapa sumedha) versi Theravada (sumber RAPB), jelas dikatakan bahwa Petapa Sumedha tidak merealisasikan pencapaian Savaka Buddha / Arahat, tetapi memasuki jalur/karir bodhisatta untuk pencapaian sammasambuddha. BEDA DENGAN KONSEP MAHAYANA, dimana setelah seorang individu merealisasikan ARAHAT / SRAVAKA BUDDHA, seorang ARAHAT dalam kembali menempuh jalur bodhisatva dengan bertumimbal lahir atau beremanasi atau berinkarnasi atau semacamnya dalam rangka pencapaian sammasambuddha.
Yaah....karena pada dasarnya Sammasambuddha lebih luhur. Lihat saja Sumedha walapun belum mencapai kesucian (cuma 4 jhana 5 abhinna), toh ketika mencanangkan ikrarnya, Api neraka aja menjadi padam (lihat RAPB).  Dan masih banyak lagi memuji keluhuran ikrar ini. Semua ini menurut saya membuka kemungkinan bahwa jalur Arahat utk menempuh Sammasambuddha adalah memungkinkan. Oya , perlu dicatat walaupun Mahayana mengatakan Arahat masih ada ruang utk maju lagi, tetapi ruang ini sangat kecil alias sangat sulit seorang Arahat sampai bisa membangkitkan cita2 Agung ini. (SEbenarnya ini secara implisit mengatakan bahwa Arahat memang sudah final sama seperti pandangan Theravada, tetapi Mahayana tidak mau menutup pintu kemungkinan ini rapat2, karena bagaimanapun Arahat blm tahu apa yg Buddha tahu, ini yg menjadi kunci bahwa bisa saja dia belajar lagi dlm arti belajar utk meraih pengetahuan sempurna)
saudara Chingik .... Nibbana itu tidak ada yang namanya "ragu-ragu" masih bisa maju atau tidak bisa maju..semua itu telah di ketahui nya dengan sempurna...

apabila ada seseorang arahat telah mencapai Nibbana, dan dirinya sendiri tidak tahu/tidak yakin dalam pencapaiannya...itu bukan arahat. ^^


tahu atau tidak tahu yg saya maksudkan bukan mengenai nibbananya, tetapi pada pengetahuan sempurna yg mencakup aspek sabbanu nana. Arahat tidak memilikinya.
arahat mengetahui dirinya telah sampai dimana, dan tidak ada keraguan untuk itu.
bisa baca ref Raungan Sariputta.

tetapi memang Arahat(savaka) bukan maha tahu....
tetapi arahat telah menyelami nibbana sampai tahu dimana-mana....jadi tidak ada vicikiccha pada pencapaian nya.

(ref.raungan sariputta)
Quote
Bhante, sebenarnya kami tidak memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengetahui pikiran para Arahat, Sammasambuddha, baik dari masa lampau, yang akan datang maupun sekarang. Tetapi, meskipun demikian kami memiliki pengetahuan tentang tradisi Dhamma (Dhammanvayo)."
    "Bhante, sama seperti perbatasan-negara milik seorang raja yang mempunyai benteng yang kokoh, dengan dinding dan menara penjagaan yang kuat dan hanya mempunyai sebuah pintu saja. Dan di sana, ada seorang penjaga pintu yang pandai, berpengalaman serta cerdas, yang akan mengusir orang-orang yang tidak dikenal dan hanya mengijinkan masuk orang-orang yang dikenal saja. Ketika ia memeriksa dengan menyusuri jalan yang mengelilingi dinding benteng-negara itu, ia tidak melihat adanya sebuah lubang atau celah, di dinding benteng-negara itu, yang cukup untuk dilewati oleh binatang, sekali pun hanya sekecil seekor kucing. Dan ia berpikir: "Seberapa pun besarnya mahluk-mahluk yang akan masuk atau meninggalkan negara ini, mereka semua hanya dapat melalui pintu ini."

dari sini bukankah sudah jelas kalau "arahat" telah tahu secara sempurna nibbana itu.

Quote from: chingik on 18 February 2009, 09:20:04 PM
Quote
masalah nnya...Mahayana menulis arahat masih bisa merosot.....jadi maksud nya itu apa?
Theravada sendiri tidak pernah mengatakan arahat masih bisa merosot...

apa seorang arahat masih bisa menjadi perumah tangga....
dalam arti kesucian itu bisa pelan-pelan kotor kembali.. ^^

dalam arti lain Sammasambuddha masih bisa kotor?
apabila dialasankan menjadi Arahat tidak sama Sammasambuddha dalam pencapaian..
berarti hal ini menujukkan perbedaan Nirvana kelas Arahat dan kelas Sammasambuddha.?

kalau Theravada kan tidak ada beda nibbana arahat(savaka) dan nibbana sammasambuddha( arahat juga)
sedangkan mahayana ada beda?...tolong infonya
Tafsiran kemerosotan Arahat bukan pernyataan sepihak Mahayana. Hal ini sudah terjadi perdebatan dari berbagai sekte. Sarvastivada yg bagian dari pecahan Theravada juga menyatakan kemerosotan Arahat. Masing2 punya pandangan masing2, mereka saja saling berdebat Arahat jenis apa yg merosot, jenis apa yg tidak merosot. Merosot sebatas apa, dll.
Coba kaji juga ttg Arahat yg tidak sanggup menahan sakit dan memilih bunuh diri, apa karena ada kaitan dgn kekuatiran mengalami kemerosotan, saya sejujurnya blm tahu, tapi silakan kemukakan pandangan anda. NO problem. hehe..

sudah dikatakan berulang ^^
kemorosotan arahat hanya ada dalam kitab komentar para murid-murid....bukan pada ajaran.

dan untungnya theravada dalam kitab komentar belum pernah terjadi kemerosotan arahat.
jika memang sarvastivada menulis demikian...ada baiknya di post disini..biar menambah wawasan semua rekan-rekan se-dhamma. ^^

Quote from: chingik on 18 February 2009, 09:25:01 PM
Quote from: Edward on 18 February 2009, 08:11:31 PM
Setelah point2 penjelasan sudah dijelaskan.
Setelah dapat dilihat perbedaan yg memank jelas dari kedua aliran mainstream.
Kesimpulan-kesimpulan pun sudah dapat diperoleh, sesuai dengan keinginan diri sendiri...
Berbagai thread dan topik sudah dibuka, yang hasilnya selalu sama aja.

Terus, apalagi sih yg mo dicari? Grin

Masalahnya dia mau sampai mendapat kesimpulan bahwa ajaran yg dia anut benar, dan kita salah. haha... Tongue
Ga lah..santai aja bro marcedes, pertanyaan mu sangat bagus,
kayak Bodhisatva Mahakasyapa (bukan Y.A Maha Kassapa) yg selalu meragukan penjelasan Hyang Buddha dalam Mahaparinirvana Sutra. Buddha udh bilang begini2, dia lalu membantah bahwa ah..masak begtiu, kalo begitu bukankah jadi begitu begitu...., hehe..menarik juga ya bentuk dialog Mahaparinirvana Sutra yg terbuka, debatif.

^^
santai lah..
saya sendiri lebih suka berpandangan sesuai kenyataan. yakni sebenar-benarnya.
dhamma 4 kesunyataan mulia itu merupakan kenyataan hakekat yang sudah mutlak sesuai kenyataan....
masalah nya. "aliran mahayana" merubah kenyataan tersebut dan berkata lain.....
dan saya jadi ingin tahu sampai dimana pikiran tersebut melayang.....
apakah masih sesuai kenyataan?

sangat disayangkan buddha dhamma yang sangat demokratis..bebas berpikir....
tetapi jika ternyata hanya khayalan....bukankah itu semua fenomena yang sia-sia?

"selama saya belajar dhamma...saat ini Aliran Theravada yang memberikan gambaran sesuai kenyataan"

maka oleh sebab itu saya tidak menutup diri
"untuk mempersilahkan jika ada yang salah dalam aliran yang saya pelajari ini"
---------------------------------------------------------
Quote from: chingik on 18 February 2009, 09:43:06 PM

Quote
coba jelaskan secara 4 kesunyataan mulia sesuai aja deh dengan kitab mahayana...
kan sammasambuddha lahir terus..
jadi masih menderita lah...
Wah..4 kebenaran mulia, bahkan dalam Dasabhumika Sutra yg membahas tingkatan bodhisatva juga menjabarkan 4 kebenaran mulia dan pattica sammpuda dgn masing2 tingkatan dgn tingkat pemahaman yg berbeda2. Cukup menarik, bahkan tidak mudah dipahami oleh orang awam seperti saya. Tapi saya percaya Isi kitab ini tidak se'naif" yg bro bayangkan, karena mereka bisa membahas panjang lebar ttg 4 kebenaran mulia yg dikaitkan dgn jalan bodhisatva. Entah mereka sekedar ngarang2 sambil makan kacang, ah...ga mungkin deh...

Oya sammasambbudha telah mencapai kondisi tidak lahir dan tidak lenyap, bebas dari dualitas. Di Mahayana tulisan seperti ini buaanyaakknya minta ampun. Apa ga cukup ? Jangan terpaku pada Buddha lahir lagi di lokasi x. dll, itu kan sudah dikatakan bahwa ini bukan jenis kelahiran yg mengikuti siklus 21 musabab saling bergantungan. Buddha yg transeden memiliki abhinna yg tidak kita pahami, jadi bukan Buddha melanggar ucapannya sendiri.
kita tidaklah perlu membahas boddhisatva ada berapa tingkatan....
langsung saja ke pokok kenyataan

diselamatkan dari apa ajaran buddha?
dan mengapa buddha lupa cara pencapaian ke-buddha-an dan harus mendengarkan nasehat pemusik yang lewat?

(apakah bagian sini buddha sengaja bersandiwara seperti aktor laga?)

(buddha yang sudah memiliki pengetahuan maha tahu, kok bisa harus melihat 4 tanda barulah muncul perasaan samvega pada diri-nya?...bersandiwara lagi?)

(Buddha sudah mencapai pencerahan, mengapa harus menunggu umur 35 barulah mengajar?...
mengapa bukan dari kecil seperti umur 25 atau lainnya saja,,
bahkan sengaja menikah...
disatu sisi ini melecehkan kesucian buddha,dimana kita tahu kehidupan suci adalah meninggalkan hidup berumah tangga....lalu?)
bagian ini bisa di delete jika tidak berkenaan oleh moderator...
tetapi saya sungguh bukan dengan maksud menghina, melainkan bertanya apakah ada alasan special untuk ini?

apa buddha sudah hampir seperti Tuh*n dalam agama lain?
"tidak dapat dipikirkan dengan logika dan akal sehat" ^^

mari kita flash back sedikit. ^^
di agama tetangga, Tuh*n katanya sangat welas asih !!!.
bayangkan "mengizinkan iblis menguji anak domba-nya(manusia) untuk dihasut menuju neraka"
ketika saya tanyakan hal ini, dan mempertanyakan

"Orang Tua mana yang TEGA-TEGA nya membiarkan penjahat menghasut anak-nya?"
dan lagi ini "dapat restu dari orang tua"

saya bahkan di beri satu penjelasan yang saya anggap penjelasan crazy think.
yakni " welas asih Tuh*n tidak dapat dipikirkan oleh logika manusia "

tahu kan arti welas asih, cinta kasih,dsb-nya......orang tua kandung kita memiliki semua itu.

disini jelas "kenyataan" Tuh*n itu tidaklah memiliki welas asih,cintakasih,dsb-nya..
tetapi mengapa di "benarkan memiliki semua itu?"
saya kira hanya ketakutan akan kepercayaan yang dipegang itu ternyata tidak sesuai kenyataan.
inilah kebodohan batin. ^^

---------------------------------------------------
sama seperti kenyataan... "buddha" lahir di India... dan dikatakan buddha akan lahir lagi entah dimana, dan mengajarkan dhamma....

ketika kita mempertanyakan "berarti Buddha" itu masih ada sampai sekarang?
masa mau di bilang "jangan dibilang ada, atau tiada".....ini bukan-kah perumitan namanya?

kenyataan-nya kan akan "ada"..berarti proses nya
ketika buddha ada ( di bumi ) kemudian meninggal -----> pindah entah kemana ----> ada lagi entah dimana mengajarkan dhamma..

berarti ADA ---> XXX -----> ADA.
mau dikatakan apa itu coba?..

Quote from: chingik on 18 February 2009, 09:48:42 PM
Quote
masalah paham nihilis......itu jikalau kita beranggapan bahwa sesudah kita meninggal, maka tidak ada sama sekali lagi apa-apa...tamat sudah.
tentu hal ini dianggap nihilisme dikarenakan masih ada sebab...tetapi tidak ada akibat.
nah..bro bisa membedakan kondisi nihilis/lenyap antara orang awam yg beranggapan salah dengan seorang Buddha yg mencapai anutpadisesa nibbana.
Seharusnya juga  bisa membedakan antara kondisi Buddha yg bisa bermanifestasi lagi di tempat lain dengan orang awam yg dilahirkan kembali.   
kita kembali ke hukum sebab akibat..

pernahkah ada akibat tanpa sebab?
disitu dikatakan buddha akan bermanifestasi entah dimana...."sebab" - nya?

berarti buddha itu masih ada donk sampai sekarang....

---------------------------------------------
kalau mau di persingkat...pada inti nya adalah

kan kalau di Theravada buddha menyelamatkan dari Penderitaan.
dimana jara-marana ada karena ada kondisi....
dan ketika kondisi itu sudah tiada...maka jara-marana tidak akan ada.
lahir-mati, untung-rugi, bahagia-derita, dan seterusnya......
bahkan termasuk bentuk pikiran yang memikirkan hal ini pun, juga telah padam.

kalau mahayana apa donk visi-misi Buddha?
selama buddha mengajarkan dhamma dari kappa ke kappa yang sudah sekian banyak.

"buddha menyelamatkan makhluk hidup dari apa?



mau baca versi dulu nya di sini
http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=5941.msg151786#msg151786

_/\_

salam metta
« Last Edit: 26 March 2009, 09:51:51 AM by marcedes »
Ada penderitaan,tetapi tidak ada yang menderita
Ada jalan tetapi tidak ada yang menempuhnya
Ada Nibbana tetapi tidak ada yang mencapainya.

TALK LESS DO MOREEEEEE !!!

Offline coedabgf

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 946
  • Reputasi: -2
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #111 on: 26 March 2009, 11:31:59 AM »
mau nanya yah..
bagaimana pandangan pure land (tanah suci) jika dibandingkan dengan re-birth?
apa keberadaan pure land itu sendiri merupakan nirvana atau apa ya..
maaf, saya bener2 nggak ngerti


sis yuliany, saya kasih ilustrasi (anggap saja seperti cerita fiksi, bisa juga loh buat inspirasi).
Alam-alam, dunia ini seperti rimba raya, ada tuan-tuan yang baik dan jahat, ada kerajaan-kerajaan dengan penguasa-penguasanya, ada yang didalam penguasaan tuan-tuan baik yang baik maupun yang jahat, atau dalam kerajaan-kerajaan, ada gelandangan terlunta-lunta, ada preman yang berlaku hukum rimba, tetapi tetap meskipun seolah-olah ada atau tiada hukum, semua ada di bawah/tunduk kepada (terproses oleh) satu kuasa hukum tertinggi dunia.
Klo alam sukhavati, adalah salah satu alam spiritual yang dipimpin oleh guru Buddha Amithaba.
apa kegiatannya sama seperti di dunia ini? Berbeda, saya beri ilustrasi kehidupan disana seperti biara shaolin, tapi bukan belajar pukulan (kung fu) melainkan belajar pendalaman DHAMMA hingga pencerahan oleh guru BUDDHA Amithaba.
Bagaimana untuk mencapainya? yaitu bagi mereka pelaku pemeraktek/pengikut/pemercaya guru Buddha Amithaba.


kutipan dari marcedes :
tetapi bagaimana pandangan mahayana tentang pure land........
bisa dibuktikan dengan apa?
dengan "saddha" yang tebal seperti ajaran nasra*i Huh? alias percaya buta/blind faith.


saya mo meluruskan seperti pandangan banyak teman-teman yang lain tentang iman kekeristenan dibilang percaya buta/blind faith. coba klo sebaliknya praktek keyakinan teman-teman ditanyakan kepada mereka yang memiliki iman kekeristenan. apa jawaban atau penjelasan mereka? bukan karena kebenaran (petunjuk jalan) pengajaran guru Buddha (mungkin mereka tidak tahu karena tidak mendalami), tetapi kenyataan praktek-praktek umat buddhist secara umum mereka malah melakukan praktek kepercayaan yang membabi buta seperti yang dinyatakan oleh guru Buddha sebagai kepercayaan takhayul, apalagi bagaimana mungkin untuk dapat melepaskan/menanggalkan pandangan salah tentang aku ciri diri sementara yang anicca => dukkha dan anatta untuk dapat meraih pengetahuan sempurna kesejatian (pencerahan) dan bagaimana mungkin untuk dapat merealisasikan kehidupan sejati/nibanna (memberlakukan dalam kehidupan) bila tidak mencapai pengetahuan sejati tentang kesejatian hidup (diri)/kebenaran Mutlak, hanya dalam kekhayalan atau bahkan takhayul.

Seperti yang sudah saya jelaskan/gambarkan/ilustrasikan pada sis yuliany bahwa alam-alam, dunia ini seperti rimba raya, ada tuan-tuan yang baik dan jahat, ada kerajaan-kerajaan dengan penguasa-penguasanya, ada yang didalam penguasaan tuan-tuan baik yang baik maupun yang jahat, atau dalam kerajaan-kerajaan, ada gelandangan terlunta-lunta, ada preman yang berlaku hukum rimba, tetapi tetap meskipun seolah-olah ada atau tiada hukum, semua ada di bawah/tunduk kepada (terproses oleh) satu kuasa hukum tertinggi dunia (yang berujung ketidak-kekalan/maut/kebinasaan), didalam praktek penyembahan kepercayaan/keyakinan apapun juga itu menghadirkan suatu kuasa atau kekuatan (yang saya ilustrasikan sebagai tuan-tuan atau raja-raja penguasa atau bahkan preman-preman), tetapi baik atau jahat, yang mengandung (sifat-sifat) kebenaran/terang atau kejahatan/kegelapan pada akhirnya siapa yang tahu, sebagai contohnya pohon atau batu atau patung yang ditumpu (dilekat keyakinan) atau disembah sajapun bisa mendatangkan suatu figur kuasa/kekuatan. Tetapi klo anda mau sungguh-sungguh mempelajarinya, iman kekeristenan bukanlah suatu kepercayaan yang membabi buta atau kepercayaan buta/blind faith, sebab iman kepercayaan kekeristenan diluar dari atau kepada kepercayaan yang ada terhadap (di)dunia ini dengan jelas terpisahkan. (diluar dari praktek-praktek salah manusia penganutnya)


Jangan menjadi tersinggung (aku ciri diri/atta), semoga dapat melihat dan menjadi inspirasi buat perenungan umat.
good hope and love
coedabgf
iKuT NGeRumPI Akh..!

cunda

  • Guest
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #112 on: 26 March 2009, 11:41:12 AM »
menurut statistik saya, jumlah encek2 yg gak lulus SD dan berhasil sukses (baca: kaya) lebih banyak daripada sarjana yang nganggur (baca: miskin)


namaste suvatthi hotu

akooor


banyak "ortu yg bukan sarjana" bisa mengantarkan anak-anaknya menjadi sarjana

Semoga saja "ortu yang sarjana" tidak mengantarkan anak-anaknya cuma bisa lulus SD, karena nganggur.........alias bokek bin bangkrut

thuti

Offline marcedes

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.528
  • Reputasi: 70
  • Gender: Male
  • May All Being Happinesssssssss
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #113 on: 26 March 2009, 12:55:10 PM »
Quote
apa benar kalau mahayana tingkatnya lebih tinggi dari T ? kenapa?

Semuanya bertahap jalannya. Dari Hinayana terus Mahayana terus Vajrayana.

Apakah bertahap ini merupakan tinggi-tinggian atau tidak, silahkan renungkan sendiri.

 _/\_
The Siddha Wanderer

kalau dari klaim konsep MAHAYANA, bahwa Hinayana berakhir pada jalan SAVAKA/SRAVAKA yang di MAHAYANA hanya identik dengan Bodhisatva tkt-7, dan masih bisa mengambil jalan MAHAYANA untuk mencapai bodhisatva tkt-10 (setara dengan samyaksambuddha/sammasambuddha), masih ada LOGIKA PEMBENARAN-NYA...

Tetapi apakah yang melandaskan pandangan bahwa Tahapan selanjutnya dari MAHAYANA adalah VAJRAYANA/TANTRA ? Apakah karena konsep VAJRAYANA yang "mengusahakan" tercapai-nya penerangan sempurna (annutara samyaksambuddha) hanya dalam 1 kehidupan saja ?
JIKA BEGITU... Malah yang ingin saya tanyakan... apakah dari sekian banyak praktisi VAJRAYANA/TANTRA, ada yang "di-ketahui" sudah mencapai penerangan sempurna annutara samyaksambuddha ? (SOALNYA KALAU ALIRAN VAJRAYANA/TANTRA, KOK YANG KEDENGARAN ADALAH EMANASI EMANASI TERUS MENERUS, malah NAMA SAMPAI pakai angka ROMAWI... ada yang sampai XVI ? ? ? )
memang begitulah pelajaran tingkat tinggi... banyak XXXXXXX -nya....variabel nya rumit...

mau nanya yah..
bagaimana pandangan pure land (tanah suci) jika dibandingkan dengan re-birth?
apa keberadaan pure land itu sendiri merupakan nirvana atau apa ya..
maaf, saya bener2 nggak ngerti


sis yuliany, saya kasih ilustrasi (anggap saja seperti cerita fiksi, bisa juga loh buat inspirasi).
Alam-alam, dunia ini seperti rimba raya, ada tuan-tuan yang baik dan jahat, ada kerajaan-kerajaan dengan penguasa-penguasanya, ada yang didalam penguasaan tuan-tuan baik yang baik maupun yang jahat, atau dalam kerajaan-kerajaan, ada gelandangan terlunta-lunta, ada preman yang berlaku hukum rimba, tetapi tetap meskipun seolah-olah ada atau tiada hukum, semua ada di bawah/tunduk kepada (terproses oleh) satu kuasa hukum tertinggi dunia.
Klo alam sukhavati, adalah salah satu alam spiritual yang dipimpin oleh guru Buddha Amithaba.
apa kegiatannya sama seperti di dunia ini? Berbeda, saya beri ilustrasi kehidupan disana seperti biara shaolin, tapi bukan belajar pukulan (kung fu) melainkan belajar pendalaman DHAMMA hingga pencerahan oleh guru BUDDHA Amithaba.
Bagaimana untuk mencapainya? yaitu bagi mereka pelaku pemeraktek/pengikut/pemercaya guru Buddha Amithaba.


kutipan dari marcedes :
tetapi bagaimana pandangan mahayana tentang pure land........
bisa dibuktikan dengan apa?
dengan "saddha" yang tebal seperti ajaran nasra*i Huh? alias percaya buta/blind faith.


saya mo meluruskan seperti pandangan banyak teman-teman yang lain tentang iman kekeristenan dibilang percaya buta/blind faith. coba klo sebaliknya praktek keyakinan teman-teman ditanyakan kepada mereka yang memiliki iman kekeristenan. apa jawaban atau penjelasan mereka? bukan karena kebenaran (petunjuk jalan) pengajaran guru Buddha (mungkin mereka tidak tahu karena tidak mendalami), tetapi kenyataan praktek-praktek umat buddhist secara umum mereka malah melakukan praktek kepercayaan yang membabi buta seperti yang dinyatakan oleh guru Buddha sebagai kepercayaan takhayul, apalagi bagaimana mungkin untuk dapat melepaskan/menanggalkan pandangan salah tentang aku ciri diri sementara yang anicca => dukkha dan anatta untuk dapat meraih pengetahuan sempurna kesejatian (pencerahan) dan bagaimana mungkin untuk dapat merealisasikan kehidupan sejati/nibanna (memberlakukan dalam kehidupan) bila tidak mencapai pengetahuan sejati tentang kesejatian hidup (diri)/kebenaran Mutlak, hanya dalam kekhayalan atau bahkan takhayul.

Seperti yang sudah saya jelaskan/gambarkan/ilustrasikan pada sis yuliany bahwa alam-alam, dunia ini seperti rimba raya, ada tuan-tuan yang baik dan jahat, ada kerajaan-kerajaan dengan penguasa-penguasanya, ada yang didalam penguasaan tuan-tuan baik yang baik maupun yang jahat, atau dalam kerajaan-kerajaan, ada gelandangan terlunta-lunta, ada preman yang berlaku hukum rimba, tetapi tetap meskipun seolah-olah ada atau tiada hukum, semua ada di bawah/tunduk kepada (terproses oleh) satu kuasa hukum tertinggi dunia (yang berujung ketidak-kekalan/maut/kebinasaan), didalam praktek penyembahan kepercayaan/keyakinan apapun juga itu menghadirkan suatu kuasa atau kekuatan (yang saya ilustrasikan sebagai tuan-tuan atau raja-raja penguasa atau bahkan preman-preman), tetapi baik atau jahat, yang mengandung (sifat-sifat) kebenaran/terang atau kejahatan/kegelapan pada akhirnya siapa yang tahu, sebagai contohnya pohon atau batu atau patung yang ditumpu (dilekat keyakinan) atau disembah sajapun bisa mendatangkan suatu figur kuasa/kekuatan. Tetapi klo anda mau sungguh-sungguh mempelajarinya, iman kekeristenan bukanlah suatu kepercayaan yang membabi buta atau kepercayaan buta/blind faith, sebab iman kepercayaan kekeristenan diluar dari atau kepada kepercayaan yang ada terhadap (di)dunia ini dengan jelas terpisahkan. (diluar dari praktek-praktek salah manusia penganutnya)


Jangan menjadi tersinggung (aku ciri diri/atta), semoga dapat melihat dan menjadi inspirasi buat perenungan umat.
good hope and love
coedabgf
memang beda antara datang dan melihat..........dengan datang dan percaya
sudahlah....

"ada penderitaan tetapi tidak ada yang menderita"

diskusi nya saya sudahi....

banyak berkah pada anda semua
salam metta.
« Last Edit: 26 March 2009, 12:57:40 PM by marcedes »
Ada penderitaan,tetapi tidak ada yang menderita
Ada jalan tetapi tidak ada yang menempuhnya
Ada Nibbana tetapi tidak ada yang mencapainya.

TALK LESS DO MOREEEEEE !!!

Offline hendrako

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.244
  • Reputasi: 60
  • Gender: Male
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #114 on: 26 March 2009, 12:58:32 PM »
mau nanya yah..
bagaimana pandangan pure land (tanah suci) jika dibandingkan dengan re-birth?
apa keberadaan pure land itu sendiri merupakan nirvana atau apa ya..
maaf, saya bener2 nggak ngerti


sis yuliany, saya kasih ilustrasi (anggap saja seperti cerita fiksi, bisa juga loh buat inspirasi).
Alam-alam, dunia ini seperti rimba raya, ada tuan-tuan yang baik dan jahat, ada kerajaan-kerajaan dengan penguasa-penguasanya, ada yang didalam penguasaan tuan-tuan baik yang baik maupun yang jahat, atau dalam kerajaan-kerajaan, ada gelandangan terlunta-lunta, ada preman yang berlaku hukum rimba, tetapi tetap meskipun seolah-olah ada atau tiada hukum, semua ada di bawah/tunduk kepada (terproses oleh) satu kuasa hukum tertinggi dunia.
Klo alam sukhavati, adalah salah satu alam spiritual yang dipimpin oleh guru Buddha Amithaba.
apa kegiatannya sama seperti di dunia ini? Berbeda, saya beri ilustrasi kehidupan disana seperti biara shaolin, tapi bukan belajar pukulan (kung fu) melainkan belajar pendalaman DHAMMA hingga pencerahan oleh guru BUDDHA Amithaba.
Bagaimana untuk mencapainya? yaitu bagi mereka pelaku pemeraktek/pengikut/pemercaya guru Buddha Amithaba.


kutipan dari marcedes :
tetapi bagaimana pandangan mahayana tentang pure land........
bisa dibuktikan dengan apa?
dengan "saddha" yang tebal seperti ajaran nasra*i Huh? alias percaya buta/blind faith.


saya mo meluruskan seperti pandangan banyak teman-teman yang lain tentang iman kekeristenan dibilang percaya buta/blind faith. coba klo sebaliknya praktek keyakinan teman-teman ditanyakan kepada mereka yang memiliki iman kekeristenan. apa jawaban atau penjelasan mereka? bukan karena kebenaran (petunjuk jalan) pengajaran guru Buddha (mungkin mereka tidak tahu karena tidak mendalami), tetapi kenyataan praktek-praktek umat buddhist secara umum mereka malah melakukan praktek kepercayaan yang membabi buta seperti yang dinyatakan oleh guru Buddha sebagai kepercayaan takhayul, apalagi bagaimana mungkin untuk dapat melepaskan/menanggalkan pandangan salah tentang aku ciri diri sementara yang anicca => dukkha dan anatta untuk dapat meraih pengetahuan sempurna kesejatian (pencerahan) dan bagaimana mungkin untuk dapat merealisasikan kehidupan sejati/nibanna (memberlakukan dalam kehidupan) bila tidak mencapai pengetahuan sejati tentang kesejatian hidup (diri)/kebenaran Mutlak, hanya dalam kekhayalan atau bahkan takhayul.

Seperti yang sudah saya jelaskan/gambarkan/ilustrasikan pada sis yuliany bahwa alam-alam, dunia ini seperti rimba raya, ada tuan-tuan yang baik dan jahat, ada kerajaan-kerajaan dengan penguasa-penguasanya, ada yang didalam penguasaan tuan-tuan baik yang baik maupun yang jahat, atau dalam kerajaan-kerajaan, ada gelandangan terlunta-lunta, ada preman yang berlaku hukum rimba, tetapi tetap meskipun seolah-olah ada atau tiada hukum, semua ada di bawah/tunduk kepada (terproses oleh) satu kuasa hukum tertinggi dunia (yang berujung ketidak-kekalan/maut/kebinasaan), didalam praktek penyembahan kepercayaan/keyakinan apapun juga itu menghadirkan suatu kuasa atau kekuatan (yang saya ilustrasikan sebagai tuan-tuan atau raja-raja penguasa atau bahkan preman-preman), tetapi baik atau jahat, yang mengandung (sifat-sifat) kebenaran/terang atau kejahatan/kegelapan pada akhirnya siapa yang tahu, sebagai contohnya pohon atau batu atau patung yang ditumpu (dilekat keyakinan) atau disembah sajapun bisa mendatangkan suatu figur kuasa/kekuatan. Tetapi klo anda mau sungguh-sungguh mempelajarinya, iman kekeristenan bukanlah suatu kepercayaan yang membabi buta atau kepercayaan buta/blind faith, sebab iman kepercayaan kekeristenan diluar dari atau kepada kepercayaan yang ada terhadap (di)dunia ini dengan jelas terpisahkan. (diluar dari praktek-praktek salah manusia penganutnya)


Jangan menjadi tersinggung (aku ciri diri/atta), semoga dapat melihat dan menjadi inspirasi buat perenungan umat.
good hope and love
coedabgf

"Berbahagialah orang yang percaya namun tidak melihat."

Apabila tidak melihatnya saya ganti dengan buta, yg notabene adalah sinonim dari kata "tidak melihat,
bukankah kalimat tersebut menjadi:

"Berbahagialah orang yang percaya, buta."

Maaf sebelumnya, bukan bermaksud menyinggung, namun memang itulah yang dikatakan sebagai 'Iman", yang berbeda dengan ke"yakin"an, yang "melihat", apapun agamanya atau bahkan tidak ber"agama" sama sekali.
yaa... gitu deh

Offline N1AR

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 930
  • Reputasi: 22
  • Yui
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #115 on: 26 March 2009, 01:01:31 PM »
pertanyaan untuk bro udabgf
apa yesus sama dengan bodhisattva?

Offline coedabgf

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 946
  • Reputasi: -2
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #116 on: 26 March 2009, 01:13:09 PM »
hayo siapa lagi yang mo tambahkan, nti saya rangkum jawabannya jadi satu, gak terpecah/pisah-pisah.
iKuT NGeRumPI Akh..!

Offline bukeksiansu

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 12
  • Reputasi: 2
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #117 on: 26 March 2009, 01:51:01 PM »
Quote
apa benar kalau mahayana tingkatnya lebih tinggi dari T ? kenapa?

Semuanya bertahap jalannya. Dari Hinayana terus Mahayana terus Vajrayana.

Apakah bertahap ini merupakan tinggi-tinggian atau tidak, silahkan renungkan sendiri.

 _/\_
The Siddha Wanderer

Mana yang lebih tinggi, Hindu atau Tibetan? dua-duanya memiliki ajaran Yoga dan Tantra.
Barangkali lebih tinggi lagi kr****n dan Islam  karena mereka adalah ajaran dari langit. penguasa alam semesta.

« Last Edit: 26 March 2009, 01:52:54 PM by bukeksiansu »

Offline hatRed

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 7.400
  • Reputasi: 138
  • step at the right place to be light
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #118 on: 26 March 2009, 02:33:36 PM »
Quote
apa benar kalau mahayana tingkatnya lebih tinggi dari T ? kenapa?

Semuanya bertahap jalannya. Dari Hinayana terus Mahayana terus Vajrayana.

Apakah bertahap ini merupakan tinggi-tinggian atau tidak, silahkan renungkan sendiri.

 _/\_
The Siddha Wanderer

Mana yang lebih tinggi, Hindu atau Tibetan? dua-duanya memiliki ajaran Yoga dan Tantra.
Barangkali lebih tinggi lagi kr****n dan Islam  karena mereka adalah ajaran dari langit. penguasa alam semesta.




bbbb...uahahahahhaaaa...............

nice joke... langit emang tinggi :))  :)) =))
bwakakakaakaa......................


kalo diatas langit ada langit..
Islam dan kr****n itu ada dilangit lapisan berapa ya :-?
i'm just a mammal with troubled soul



Offline naviscope

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.084
  • Reputasi: 48
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #119 on: 26 March 2009, 03:31:46 PM »
kutipan dari marcedes :
tetapi bagaimana pandangan mahayana tentang pure land........
bisa dibuktikan dengan apa?
dengan "saddha" yang tebal seperti ajaran nasra*i Huh? alias percaya buta/blind faith.

"ehipassiko" kata ini selalu berhubungan langsung dengan ajaran buddha.

bro/ sis mercedes, sendiri bisa mengatakan ehipassiko, tidak berdasarkan kepercayaan yg membabi buta....

kalau gitu, kenapa tidak bro/ sis mercedes membuktikan nya sendiri dengan ehipassiko terlebih dahulu...
cobalah dengan keyakinan yang sepenuh hati dan tulus, melapalkan namo amitabha buddha selama maybe
1 bulan, dan cobalah liat hasilnya terlebih dahulu, jangan menjudge, sesuatu tanpa ehipassiko.


« Last Edit: 26 March 2009, 03:46:00 PM by naviscope »
Tinggalkan masa lalu, lepaskan beban akan masa depan, tidak terikat dengan yang sekarang maka kamu akan merasakan kedamain batin.

Leave the past alone, do not worry about the future, do not cling to the present and you will achieve calm.