Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Buddhisme Awal, Sekte dan Tradisi => Mahayana => Topic started by: Edward on 21 February 2009, 03:52:27 PM

Title: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Edward on 21 February 2009, 03:52:27 PM
Melihat bahwa pembahasan mengenai mahzab Mahayana selalu OOT, karena banyaknya member2 mempertanyakan sesuai dengan aliran laen, sehingga pembahasan mengenai topik itu sendiri menjadi kacau dan ujung2nya selalu membahas antara T vs M...

Gw coba memfasilitasi dengan membuat thread khusus bagi member2 yg ingin bertanya...
Selanjutnya, jika ada pertanyaan2 OOT yg ujung2nya T vs M, akan dilempar k thread ini...

Silahkan berdikusi, mempertanyakan, atau mengkritik , tapi harap masih dalam koridor kesopanan dan tidak menghina atau merendahkan..

 _/\_
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: marcedes on 24 March 2009, 12:37:41 PM
Ajaran SangBuddha menyelamatkan makhluk hidup dari apa?

mohon maaf,
kalau saya rasa mungkin sama saja dengan thread terdahulu, ujung-ujung nya tidak ada jawaban, malah teori tanpa realita yang dikeluarkan...

salam metta.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: ENCARTA on 24 March 2009, 12:40:35 PM
apa benar kalau mahayana tingkatnya lebih tinggi dari T ? kenapa?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hatRed on 24 March 2009, 12:47:14 PM
Aliran apa saja yang berada dalam naungan Mahayana ?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 24 March 2009, 01:04:07 PM
pembahasan

Banyak menyangka bahwa kitab suci pertama Buddhis itu adalah bahasa pali sebenarnya kitab suci pertama Agama Budhha itu sansekerta. Mahayana diperkenankan setiap orang telah mencapai arahat untuk mengembangkan Dhamma sesuai dengan keadaan kondisi, waktu, dan tempat.

Kekurangan Mahayana di Indonesia adalah penerjemah sastra mandarin, Ahli bahasa sansekerta dan juga staff ahli pengajar yang tepat, karena pembahasan Dhamma dalam mahayana jauh lebih complek dari pada diperkirakan orang.

Sebagian Sutra Mahayana berkembang di Negeri Tiongkok kemudian menyebar sesuai kondisi, tempat dan waktu sehingga mengalami evolusi Dogma. Maka itulah kenapa Mahayana lebih komplek.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 24 March 2009, 01:05:01 PM
Aliran apa saja yang berada dalam naungan Mahayana ?

Paling besar dan pertama kali adalah aliran tanah Suci. dari sini mengalami evolusi dan berkembang menjadi aliran aliran lain
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 24 March 2009, 01:08:16 PM
apa benar kalau mahayana tingkatnya lebih tinggi dari T ? kenapa?

kata sapa?
ngak koq, kita tidak merasa lebih tinggi koq

cuma mereka aje kale yang merasa rendah ato direndahkan......

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: ENCARTA on 24 March 2009, 01:19:54 PM
kalau ajaran paling penting dalam mahayana itu apa?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 24 March 2009, 01:24:21 PM
kalau ajaran paling penting dalam mahayana itu apa?

Semua Penting.
Tidak ada yang tidak penting
dalam Mahayana teori Dhamma haruslah diimbangi dengan Pratek Dhamma.
Barulah dia mengerti dhamma
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hatRed on 24 March 2009, 01:26:04 PM
Aliran apa saja yang berada dalam naungan Mahayana ?

Paling besar dan pertama kali adalah aliran tanah Suci. dari sini mengalami evolusi dan berkembang menjadi aliran aliran lain

trims om Purnama,

Jadi yg di Child Board Mahayana, hanya itu saja aliran Mahayana,

sepertinya kebanyakan lahir dari Tiongkok ya?
lalu adakah aliran Mahayana yg lahir dan berkembang di India?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 24 March 2009, 01:30:05 PM
kalau ajaran paling penting dalam mahayana itu apa?

se7 dengan bro purnama, semua penting

cuma di mahayana menawarkan banyak kemudahan...
ditheravada cuma ada 8 jalan utama
sedangkan dimahayana ada 84.000 pintu dharma menuju nibbana

ngomong2, kemana tuh bro dilbert, bro gandalf, bro edward....
waduh2, banyak tamu nech..... koq ga da yang jaga  ^-^
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Gunawan on 24 March 2009, 01:32:04 PM
Mau Tanya Kenapa di Mahayana mengunakan Upaya Kausaliya? dan Apa Manfaatnya?
Ada yang Bisa bantu saya?

 _/\_
Thanks & Best Regards
Gunawan S S
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 24 March 2009, 01:37:15 PM
Aliran apa saja yang berada dalam naungan Mahayana ?

Paling besar dan pertama kali adalah aliran tanah Suci. dari sini mengalami evolusi dan berkembang menjadi aliran aliran lain

trims om Purnama,

Jadi yg di Child Board Mahayana, hanya itu saja aliran Mahayana,

sepertinya kebanyakan lahir dari Tiongkok ya?
lalu adakah aliran Mahayana yg lahir dan berkembang di India?

aliran mahayana banyak, bro hatRed
di sub-board ini cuma sebagian dari aliran mahayana saja
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: coedabgf on 24 March 2009, 01:37:48 PM
Kutipan pertanyaan Encarta :
apa benar kalau mahayana tingkatnya lebih tinggi dari T ? kenapa?

Quote from: hatRed on Yesterday at 02:59:20 PM
IMHO, kalau arti menemukan pencerahan dalam Zen tidak sama dengan Pandangan Terang seperti dalam sutta2 yg i tahu...
dalam Zen (IMO lagi) pencerahan itu cuma sebatas pengetahuan kebijaksanaan saja...

kutipan purnama :
Semua Penting.
Tidak ada yang tidak penting



teman-teman sedikit penjelasan dari kutipa-kutipan
kutipan dari topik Puisi-puisi Master Chan Xuyun :
Menyelami Chan! Bukanlah ajaran para murid.
Penceramah demikian adalah tamu dari luar pintu.
Chan yang ingin kamu ceramahkan
hanyalah perbincangan tentang kura-kura yang menjelma ikan.

Menyelami Chan! Mengenali hakikat sejati diri sendiri!
Senantiasa bergerak mengikuti arus ke mana-mana.
Saat kau tidak memalsukannya dan membuang waktu membersihkan dan mengasahnya,
Diri Sejati-mu akan selalu bersinar hingga lebih terang daripada cahaya.

Menyelami Chan! Abaikan takhayul yang tak masuk akal itu
Hal itu membuat beberapa orang mengaku bahwa mereka mencapai Chan.
Keyakinan bodoh dari mereka yang belum terbangunkan.
Dan mereka adalah yang membutuhkan pendalaman Chan!


kutipan sendiri :
ujung-ujungnya jalan umum itu adalah realisasi jalan mulia, pengalaman Zen (pengenalan hati bodhi/True self)
jalan umum hanya sebatas jalan luar, jalan penanggalan aku ciri diri sementara (atta anicca dukkha anatta) tuk menuju pemahaman dan pengalaman/realisasi jalan mulia, pengalaman Zen (pengenalan hakekat sejati/hati bodhi/True self) pada akhirnya (tujuan akhir), itulah yang disebut pencerahan.

Tetapi bagaimanakah akibatnya (pada arah yang benar pembinaan)  bila malah menggunakan/melekat kepada  jalan atau cara-cara melekat kepada kuasa-kuasa/kekuatan-kekuatan duniawi lain diluar.


semoga berguna
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: lophenk on 24 March 2009, 01:39:31 PM
apa benar kalau mahayana tingkatnya lebih tinggi dari T ? kenapa?

tdk ada yg lebih tinggi dan tdk ada yg lebih rendah , sama saja.

aliran sungai yg berbeda toh menuju samudra yg sama .
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: andry on 24 March 2009, 01:43:00 PM
mau tanya, alam sukhavati itu = dgn alamnya anagami?
sebab d sebutkan d sukhavati d ajarkan dhamma oleh buddha amitabha dan lsg mencapai nibanna.
CMIIW
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 24 March 2009, 01:43:17 PM
ada
aliran aliran budhis kayaknya pernah dibahas di Dhammacitta
http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=9372.0
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 24 March 2009, 01:44:37 PM
Mau Tanya Kenapa di Mahayana mengunakan Upaya Kausaliya? dan Apa Manfaatnya?
Ada yang Bisa bantu saya?

 _/\_
Thanks & Best Regards
Gunawan S S

Hanya Bodhisattva tingkat atas yang mampu melakukan upaya kausalya yang melanggar sila, dan tentu upaya kausalya ini sekalipun melanggar sila, ditujukan untuk kebahagiaan semua makhluk.

Apabila ada seorang Bodhisattva melakukan upaya kausalya yang melanggar sila, maka ini bukanlah sebagai teladan, namun sebagai teguran pada kita.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 24 March 2009, 01:48:25 PM
mau tanya, alam sukhavati itu = dgn alamnya anagami?
sebab d sebutkan d sukhavati d ajarkan dhamma oleh buddha amitabha dan lsg mencapai nibanna.
CMIIW

Jawaban singkatnya :

1. Percaya akan dhamma Dan mengakui Buddha sebagai Penuntun hidup
2. Pratek dhamma Dalam kehidupan sehari - hari mengikis semua karma buruk
3. Melafalkan Sutra Seperti Sutra amitabha Sutra, Dsbya.

Ketiga tiganya haruslah dilaksanakan secara bersamaan tidak ada perbedaan
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 24 March 2009, 01:56:35 PM
mau tanya, alam sukhavati itu = dgn alamnya anagami?
sebab d sebutkan d sukhavati d ajarkan dhamma oleh buddha amitabha dan lsg mencapai nibanna.
CMIIW
ada yang bilang itu alam brahmana

sebenarnya menurut saya, itu alam saha seperti bumi ato dunia yg kita tempati
cuma bedanya alam sukhavati itu ada diplanet lain disebelah barat...
disono kita belajar dharma, dan umur manusia nya tidak tak terbatas

klu tidak tak terbatas, berhubung umurnyaaaaaaaa panjaanngggggg....
trus belajar dharma terus tiap hari, kenapa tidak bisa mencapai nibbana?  ^-^

CMIIW,

navis
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: ENCARTA on 24 March 2009, 01:58:03 PM
kalau ajaran paling penting dalam mahayana itu apa?

Semua Penting.
Tidak ada yang tidak penting
dalam Mahayana teori Dhamma haruslah diimbangi dengan Pratek Dhamma.
Barulah dia mengerti dhamma

semuanya penting? benar? tanpa terkecuali?

apa benar kalau mahayana tingkatnya lebih tinggi dari T ? kenapa?

tdk ada yg lebih tinggi dan tdk ada yg lebih rendah , sama saja.

aliran sungai yg berbeda toh menuju samudra yg sama .

ada aliran sungai yg pendek dan panjang kan, yg belok, yg lurus saja, dll
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: ENCARTA on 24 March 2009, 02:00:13 PM
mau tanya, alam sukhavati itu = dgn alamnya anagami?
sebab d sebutkan d sukhavati d ajarkan dhamma oleh buddha amitabha dan lsg mencapai nibanna.
CMIIW
ada yang bilang itu alam brahmana

sebenarnya menurut saya, itu alam saha seperti bumi ato dunia yg kita tempati
cuma bedanya alam sukhavati itu ada diplanet lain disebelah barat...
disono kita belajar dharma, dan umur manusia nya tidak tak terbatas

klu tidak tak terbatas, berhubung umurnyaaaaaaaa panjaanngggggg....
trus belajar dharma terus tiap hari, kenapa tidak bisa mencapai nibbana?  ^-^

CMIIW,

navis


rumput tetangga memang lebih hijau ;D
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Gunawan on 24 March 2009, 02:06:55 PM
pembahasan

Banyak menyangka bahwa kitab suci pertama Buddhis itu adalah bahasa pali sebenarnya kitab suci pertama Agama Budhha itu sansekerta. Mahayana diperkenankan setiap orang telah mencapai arahat untuk mengembangkan Dhamma sesuai dengan keadaan kondisi, waktu, dan tempat.

Kekurangan Mahayana di Indonesia adalah penerjemah sastra mandarin, Ahli bahasa sansekerta dan juga staff ahli pengajar yang tepat, karena pembahasan Dhamma dalam mahayana jauh lebih complek dari pada diperkirakan orang.

Sebagian Sutra Mahayana berkembang di Negeri Tiongkok kemudian menyebar sesuai kondisi, tempat dan waktu sehingga mengalami evolusi Dogma. Maka itulah kenapa Mahayana lebih komplek.

 [at] Bro Purnama = Kitab Suci TIPITAKA PALI TEXT mulai di tulis di daun lontar pada Sidang Agung Sangha Ke Empat yg diadakan di Alu Vihara di Desa Matale pada tahun 101-77 SM yang di hadiri oleh 500 Bhikkhu Arahat + Bhikkhu Terpelajar. Yang jadi pertanyaan saya ke Bro Pur adalah
1.Apakah ada Sejarah Resmi yang mengatakan bahwa Kitab Suci pertama tertulis Bhs Sansekerta?
2.Apakah anda sudah Mengecek Pada Tahun Berapa 3 Rahib China (Fa Xien,Xuan Tzuang,It-Ching) yang mencari Kitab Ke Barat krn Mrk lah yang membantu menyebarkan Agama Buddha di Negeri Tiongkok dan perlu di ketahui bahwa pd waktu itu di negeri tiongkok ada banyak Kaisar yang menentang Agama Buddha shg Para Kaisarnya memerintahkan untuk membakar habis Kitab-kitab agama Buddha di Tiongkok pd waktu itu?  

Semoga kita saling asah,asih dan asuh..... No Offense...

 _/\_
Thanks & Best regards
Gunawan S S
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 24 March 2009, 02:07:13 PM
kalau ajaran paling penting dalam mahayana itu apa?
Semua Penting.
Tidak ada yang tidak penting
dalam Mahayana teori Dhamma haruslah diimbangi dengan Pratek Dhamma.
Barulah dia mengerti dhamma

semuanya penting? benar? tanpa terkecuali?

apa benar kalau mahayana tingkatnya lebih tinggi dari T ? kenapa?

tdk ada yg lebih tinggi dan tdk ada yg lebih rendah , sama saja.

aliran sungai yg berbeda toh menuju samudra yg sama .

ada aliran sungai yg pendek dan panjang kan, yg belok, yg lurus saja, dll

Yup. Kalo ngak penting yah buat apa ada dhamma dibuat ?. Masak cuman bacaan doang ^.^
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hatRed on 24 March 2009, 02:09:24 PM
menurut i, semua obat dan racun sudah disediakan...

silahkan bedakan sendiri :P (nah loh...)
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 24 March 2009, 02:14:08 PM
Quote
Yang jadi pertanyaan saya ke Bro Pur adalah Apakah ada Sejarah Resmi yang mengatakan bahwa Kitab Suci pertama tertulis Bhs Sansekerta? dan Apakah anda sudah Mengecek Pada Tahun Berapa 3 Rahib China (Fa Xien,Xuan Tzuang,It-Ching) yang mencari Kitab Ke Barat krn Mrk lah yang membantu menyebarkan Agama Buddha di Negeri Tiongkok dan perlu di ketahui bahwa pd waktu itu di negeri tiongkok ada banyak Kaisar yang menentang Agama Buddha shg Para Kaisarnya memerintahkan untuk membakar habis Kitab-kitab agama Buddha di Tiongkok pd waktu itu?  [/qoute]

U bener Bro. Aku baca dari Eksklopedia Buddhis dari teman punya, melihat dari sejarah kita lihat Kapilavastu itu adanya di nepal bro, wajarlah Bahasa sansekerta digunakan.  Dalam sejarah Tiongkok emang benar ada beberapa kaisar dari negeri tiongkok tolak mentah  - mentah Dharma.
Buddhim itu berkembang pesan pada saat dinasti tang.
Seblumnya udah ada tapi banyak yang kagak suka

contoh Tat mo kot su Setengah mati ngajarin dharma ke kaisar pada jaman enam dinasti, malah milih Shaolin se.

banyak hal yang saya bisa aja beri tahu.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 24 March 2009, 02:15:38 PM
menurut i, semua obat dan racun sudah disediakan...

silahkan bedakan sendiri :P (nah loh...)

Obat dipake kebanyakan bisa jadi racun lokh .
Racun dipake racun bisa jadi obat lokh.
Percaya ngak ?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Gunawan on 24 March 2009, 02:18:09 PM
Mau Tanya Kenapa di Mahayana mengunakan Upaya Kausaliya? dan Apa Manfaatnya?
Ada yang Bisa bantu saya?

 _/\_
Thanks & Best Regards
Gunawan S S

Hanya Bodhisattva tingkat atas yang mampu melakukan upaya kausalya yang melanggar sila, dan tentu upaya kausalya ini sekalipun melanggar sila, ditujukan untuk kebahagiaan semua makhluk.

Apabila ada seorang Bodhisattva melakukan upaya kausalya yang melanggar sila, maka ini bukanlah sebagai teladan, namun sebagai teguran pada kita.

 [at] Bro Naviscope = Anumodana atas Penjelasannya......  :) Jadi maksud anda Walaupun Melanggar sila asal untuk Kesejahteraan dan Kebahagiaan  semua Makhluk , semua itu adalah Benar?  Maaf ya Bro,Apakah Sang Buddha pernah Mengatakan seperti ini? apakah ada Sutranya?.. Thanks ya Bro.....Semoga kita bisa saling Asah,Asih dan Asuh.

No Offense..... :)

 _/\_
Thanks & Best Regards
Gunawan S S
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: coedabgf on 24 March 2009, 02:30:30 PM
aku mo tambahkan juga, Buddha atau arahat atau orang suci siapa (yang mana) yang melanggar sila? coba sebutkan bro!

kutipan :
kutipan dari topik Puisi-puisi Master Chan Xuyun :
Menyelami Chan! Abaikan takhayul yang tak masuk akal itu
Hal itu membuat beberapa orang mengaku bahwa mereka mencapai Chan.
Keyakinan bodoh dari mereka yang belum terbangunkan.
Dan mereka adalah yang membutuhkan pendalaman Chan!


semoga kutipan ada relevansinya
good hope and love
coedabgf
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: ENCARTA on 24 March 2009, 02:33:26 PM
aku mo tambahkan juga, Buddha atau arahat atau orang suci siapa (yang mana) yang melanggar sila? coba sebutkan bro!

kutipan :
kutipan dari topik Puisi-puisi Master Chan Xuyun :
Menyelami Chan! Abaikan takhayul yang tak masuk akal itu
Hal itu membuat beberapa orang mengaku bahwa mereka mencapai Chan.
Keyakinan bodoh dari mereka yang belum terbangunkan.
Dan mereka adalah yang membutuhkan pendalaman Chan!


semoga kutipan ada relevansinya
good hope and love
coedabgf

bearti memang chan kan wakkaaaa
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Gunawan on 24 March 2009, 02:39:57 PM
Quote
Yang jadi pertanyaan saya ke Bro Pur adalah Apakah ada Sejarah Resmi yang mengatakan bahwa Kitab Suci pertama tertulis Bhs Sansekerta? dan Apakah anda sudah Mengecek Pada Tahun Berapa 3 Rahib China (Fa Xien,Xuan Tzuang,It-Ching) yang mencari Kitab Ke Barat krn Mrk lah yang membantu menyebarkan Agama Buddha di Negeri Tiongkok dan perlu di ketahui bahwa pd waktu itu di negeri tiongkok ada banyak Kaisar yang menentang Agama Buddha shg Para Kaisarnya memerintahkan untuk membakar habis Kitab-kitab agama Buddha di Tiongkok pd waktu itu?  [/qoute]

U bener Bro. Aku baca dari Eksklopedia Buddhis dari teman punya, melihat dari sejarah kita lihat Kapilavastu itu adanya di nepal bro, wajarlah Bahasa sansekerta digunakan.  Dalam sejarah Tiongkok emang benar ada beberapa kaisar dari negeri tiongkok tolak mentah  - mentah Dharma.
Buddhim itu berkembang pesan pada saat dinasti tang.
Seblumnya udah ada tapi banyak yang kagak suka

contoh Tat mo kot su Setengah mati ngajarin dharma ke kaisar pada jaman enam dinasti, malah milih Shaolin se.

banyak hal yang saya bisa aja beri tahu.

[at] Bro Pur = Pada awal tahun 1 Masehi di China ada 2 Filsafat Moteso dan Lokaraksa yang mengembangkan Agama Buddha di china baru kemudian di bantu perkembangannya oleh 3 Rahib China tsb (Fa Xien,It Ching dan Xuan Tjuang). ada Info Lagi Bro Pur Bhw Raja Asoka mengirim Dhamma Dutanya ke Seluruh pelosok termasuk China pada tahun 250SM, tetapi apakah telah terbentuk Kitab Suci dalam bhs Sansekerta pd waktu itu? Tetapi menurut info yang saya dapat bahwa Kitab Suci Agama Buddha di China berkembang dari 3 Rahib tersebut.

No Offense .... :)

 _/\_
Gunawan S S

 
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: coedabgf on 24 March 2009, 02:44:00 PM
to bro encarta,
yah salah tangkap lagi...

ini maksudnya (relevansinya), saya mo tahu sapa atau darimana itu orangnya yang melakukan itu (melanggar sila).
aku mo tambahkan juga, Buddha atau arahat atau orang suci siapa (yang mana) yang melanggar sila? coba sebutkan bro!

kutipan dari topik Puisi-puisi Master Chan Xuyun :
Menyelami Chan! Abaikan takhayul yang tak masuk akal itu
Hal itu membuat beberapa orang mengaku bahwa mereka mencapai Chan.
Keyakinan bodoh dari mereka yang belum terbangunkan.

Dan mereka adalah yang membutuhkan pendalaman Chan!
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 24 March 2009, 03:02:32 PM
[at] Bro Pur = Pada awal tahun 1 Masehi di China ada 2 Filsafat Moteso dan Lokaraksa yang mengembangkan Agama Buddha di china baru kemudian di bantu perkembangannya oleh 3 Rahib China tsb (Fa Xien,It Ching dan Xuan Tjuang). ada Info Lagi Bro Pur Bhw Raja Asoka mengirim Dhamma Dutanya ke Seluruh pelosok termasuk China pada tahun 250SM, tetapi apakah telah terbentuk Kitab Suci dalam bhs Sansekerta pd waktu itu? Tetapi menurut info yang saya dapat bahwa Kitab Suci Agama Buddha di China berkembang dari 3

Koreksi
Raja asoka tidak pernah mengirim utusan ke tiongkok bro.
Karena jalur sutra belum ada pada jaman raja asoka.
terbukanya jalur sutra itu adanya di dinasti han Awalnya pada pemerintahan Liu bang 256 BC/247 BC. sementara agama buddha belum dikenal di masa itu. Bro saya pernah bahas di sini
http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=6720.0. coba baca dulu kalo ada yang kurang mengerti baru tanya kembali


Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 24 March 2009, 03:06:05 PM
[at] gunawan

Mau Tanya Kenapa di Mahayana mengunakan Upaya Kausaliya? dan Apa Manfaatnya?
Ada yang Bisa bantu saya?

 _/\_
Thanks & Best Regards
Gunawan S S

Hanya Bodhisattva tingkat atas yang mampu melakukan upaya kausalya yang melanggar sila, dan tentu upaya kausalya ini sekalipun melanggar sila, ditujukan untuk kebahagiaan semua makhluk.

Apabila ada seorang Bodhisattva melakukan upaya kausalya yang melanggar sila, maka ini bukanlah sebagai teladan, namun sebagai teguran pada kita.

 [at] Bro Naviscope = Anumodana atas Penjelasannya......  :) Jadi maksud anda Walaupun Melanggar sila asal untuk Kesejahteraan dan Kebahagiaan  semua Makhluk , semua itu adalah Benar?  Maaf ya Bro,Apakah Sang Buddha pernah Mengatakan seperti ini? apakah ada Sutranya?.. Thanks ya Bro.....Semoga kita bisa saling Asah,Asih dan Asuh.

No Offense..... :)

 _/\_
Thanks & Best Regards
Gunawan S S

ada di babarkan oleh sang buddha di sutra lotus/ saddharma pundarika sutra
bab II "Upaya Kausalya Parivartah Dharmaparyaya Suttram"

nech linknya.... tangkeeeeeppppp

http://www.fodian.net/world/Indonesian/Bab-II.htm (http://www.fodian.net/world/Indonesian/Bab-II.htm)
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 24 March 2009, 03:07:20 PM
mau tanya, alam sukhavati itu = dgn alamnya anagami?
sebab d sebutkan d sukhavati d ajarkan dhamma oleh buddha amitabha dan lsg mencapai nibanna.
CMIIW
ada yang bilang itu alam brahmana

sebenarnya menurut saya, itu alam saha seperti bumi ato dunia yg kita tempati
cuma bedanya alam sukhavati itu ada diplanet lain disebelah barat...
disono kita belajar dharma, dan umur manusia nya tidak tak terbatas

klu tidak tak terbatas, berhubung umurnyaaaaaaaa panjaanngggggg....
trus belajar dharma terus tiap hari, kenapa tidak bisa mencapai nibbana?  ^-^

CMIIW,

navis


rumput tetangga memang lebih hijau ;D

yup, dan satu lagi, tagihan rekening air nya pasti lebih mahalllll........
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 24 March 2009, 03:09:01 PM
aku mo tambahkan juga, Buddha atau arahat atau orang suci siapa (yang mana) yang melanggar sila? coba sebutkan bro!

kutipan :
kutipan dari topik Puisi-puisi Master Chan Xuyun :
Menyelami Chan! Abaikan takhayul yang tak masuk akal itu
Hal itu membuat beberapa orang mengaku bahwa mereka mencapai Chan.
Keyakinan bodoh dari mereka yang belum terbangunkan.
Dan mereka adalah yang membutuhkan pendalaman Chan!


semoga kutipan ada relevansinya
good hope and love
coedabgf

bearti memang chan kan wakkaaaa

Jigong Chanshi [emanasi seorang Arhat] yang suka mabuk-mabukan dan makan daging
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Gunawan on 24 March 2009, 03:09:42 PM
 [at] Bro Naviscope = Saya sudah Tangkeeeeeeppppppppp...... :))

Thanks & Best Regards
Gunawan S S
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 24 March 2009, 03:10:43 PM
^
^
^
mo +1 ah....

necccchhhh bro tangkeeepppp lg....  :P

mari lah kita saling bina,
tapi jangan saling binasakan ya....

 _/\_
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 24 March 2009, 03:23:21 PM
Jigong Chanshi [emanasi seorang Arhat] yang suka mabuk-mabukan dan makan daging
omong - omong g juga suka sama cerita berita beliau pembabaran  beliau lebih dharma membumi
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hatRed on 24 March 2009, 03:39:02 PM
mo nanya emanasi itu apa ya?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Gunawan on 24 March 2009, 03:43:23 PM
 [at] Bro Naviscope = Thanks atas grp ,Kiriman Sutra Upaya kausalya dan sharingnya..... :)  Setelah saya baca sutra Lotus Saya mau tanya lagi nich.... Jika di Theravada ada ungkapan bahwa Sang Buddha sebagai Raja Dhamma , YM.Sariputta Thera sebagai Panglima Dhamma dan YM.Ananda Thera sebagai Bendahara Dhamma. Kebanyakan Sutta di Theravada berisi percakapan antara Sang Buddha dengan YM.Ananda Thera. Yang saya mau tanyakan Apakah Sutra-sutra di Mahayana kebanyakan berisikan percapakan antara Sang Buddha dengan YM.Sariputta Thera? dan YM Sariputta Thera sebagai apa? atau di sebut apa ?  Just sharing No Offense..... :)

 _/\_
Thanks & Best Regards
Gunawan S S
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 24 March 2009, 03:52:13 PM
mo nanya emanasi itu apa ya?
bahasa awam-nya penjelma-an

[at] bro gunawan
klu pangeran dharma di mahayana itu Manjusri Bodhisatva

di bhaisajyaguru vaidurya sutra

Demikian aku telah mendengar, <<< seharusnya refer-nya ke Ananda, CMIIW

Pada suatu saat, sewaktu Sang Junjungan sedang bepergian ke berbagai negeri untuk mengajarkan Dharma kepada penduduk, Beliau tiba di Vaisali. Di tempat itu, Beliau berdiam dibawah pohon di mana musik berkumandang. Bersama Beliau terdapat persamuan besar bhiksu yang berjumlah 8000 orang. Hadir pula 36.000 Bodhisattva Mahasattva, para raja dengan menteri utamanya, brahmana, umat terpelajar, dewa, naga, yaksa, dan makhluk-makhluk ini mengelilingi Hyang Buddha. Hyang Buddha kemudian membabarkan Dharma kepada mereka.

Pangeran Dharma Manjusri yang menerima kekuatan spiritual yang luhur dari Hyang Buddha melalui inspirasi, bangkit dari tempat duduknya, membetulkan letak jubahnya, dan berlutut dengan kaki kanan-Nya. Dengan beranjali, ia memberikan penghormatan. Manjusri menyapa Hyang Buddha dengan berkata : “Oh, Yang Dijunjung dengan tulus aku memohon agar Engkau membabarkan tentang bentuk dan keanekaragaman nama semua Buddha, tentang pahala dari Ikrar Agung mereka yang diucapkan sewaktu pertama kali menapak jalan Bodhisattva. Agar semua yang mendengar ini akan dibersihkan dari rintangan karmanya sehingga mereka bisa memberikan manfaat dan kegembiraan kepada semua makhluk hidup di zaman Ajaran ( Dharma ) Duplikat ( dimana yang tersisa hanya bentuk daripada isinya ).

CMIIW,

navis
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Gunawan on 24 March 2009, 04:03:17 PM
Oh Begitu Toh Bro....  Anumodana yach... Bagaimana dengan Istilah Buddha Amitabha? Avalokitesvara? Konsep Trikaya? Boleh minta di jelaskan sekalian Bro? hehehe... ;D

 _/\_
Thanks & Best Regards
Gunawan S S
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 24 March 2009, 04:11:28 PM
Oh Begitu Toh Bro....  Anumodana yach... Bagaimana dengan Istilah Buddha Amitabha? Avalokitesvara? Konsep Trikaya? Boleh minta di jelaskan sekalian Bro? hehehe... ;D

 _/\_
Thanks & Best Regards
Gunawan S S

Banyak banget pertanyaannya udah kayak wartawan bos :))
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Gunawan on 24 March 2009, 04:14:39 PM
 [at] Atas = Bakat kali Bro...... =))
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 24 March 2009, 04:19:06 PM
[at] gunawan

Buddhisme Mahayana mengenal adanya konsep Tri-Kaya (Tiga Rangkap Tubuh Buddha)

yaitu dharmakaya, sambhogakaya, dan nirmanakaya.
Dharmakaya (tubuh kebenaran)
Sambhogakaya (tubuh kebahagiaan)
Nirmanakaya (tubuh penjelmaan)

utk referensi nya silakan baca lebih lengkap disini
http://www.nshi.org/Buddhisme/Indonesia%20Buddhisme/Konsep-Trikaya.htm (http://www.nshi.org/Buddhisme/Indonesia%20Buddhisme/Konsep-Trikaya.htm)

Klu Theravada Penekanan sebagian besar pada nirmana-kaya dan dharma-kaya. CMIIW
Hal terbaik didalam ajaran Mahayana dilengkapi dengan Samboga-kaya atau badan melengkapi;melengkapi konsep Trikaya
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: sobat-dharma on 24 March 2009, 04:57:53 PM
aku mo tambahkan juga, Buddha atau arahat atau orang suci siapa (yang mana) yang melanggar sila? coba sebutkan bro!

kutipan :
kutipan dari topik Puisi-puisi Master Chan Xuyun :
Menyelami Chan! Abaikan takhayul yang tak masuk akal itu
Hal itu membuat beberapa orang mengaku bahwa mereka mencapai Chan.
Keyakinan bodoh dari mereka yang belum terbangunkan.
Dan mereka adalah yang membutuhkan pendalaman Chan!


semoga kutipan ada relevansinya
good hope and love
coedabgf

bearti memang chan kan wakkaaaa

Jigong Chanshi [emanasi seorang Arhat] yang suka mabuk-mabukan dan makan daging

Dalam hal ini Bodhidharma memang pernah berkata:
"Seorang Buddha tidak menjaga sila-sila. Seorang Buddha tidak melakukan perbuatan baik ataupun perbuatan jahat. Seorang Buddha tidak bersemangat ataupun malas. Seorang Buddha adalah seseorang yang tidak melakukan apapun, seseorang yang bahkan tidak bisa memfokuskan pikirannya pada seorang Buddha. Seorang Buddha bukan Buddha."

Namun ia juga mengingatkan dengan segera bahwa:
 

"Mereka secara salah berpendirian bahwa segala sesuatu adalah kosong sehingga melakukan kejahatan tidaklah salah. Orang yang demikian terjerumus dalam neraka kegelapan tanpa akhir tanpa harapan untuk bebas. Mereka yang bijaksana tidak mempertahankan pemahaman demikian."

Bro, bahkan dalam Buddhisme Zen pun sila selalu penting dan pantang dilanggar secara leluasa
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 24 March 2009, 05:08:34 PM
biar ga salah persepsi

nech saya kasi contoh lagi ya

Kuan Kong merupakan salah satu orang bijak yang harus diteladani, karena kesetiaan pada negara, pemberani.

Kuan Kong tidak akan membunuh orang ataupun merencanakan pembunuhan pada tentara musuh klo tidak ada sebabnya. jika Kuan Koang tidak berperang maka akan lebih BERSALAH lagi melihat penderitaan pada rakyat banyak.

upaya kausalya, itu tidak boleh sembarangan dipraktek-an, bukan berarti bisa mengunakan upaya kausalya untuk membenarkan tindakan.

sedangkan Jigong Chansi, mengunakan upaya-kausalya untuk menyadarkan orang-orang yang berasal dari berbagai tingkatan pemahaman.

"According to Mahayana Buddhism one of the attributes of a Bodhisattva is to use skill-in-means or upaya-kausalya. This refers to the ability to present Buddhist teachings in such a way as to be be understood by audiences with different levels of comprehension."

Seorang Bodhisattva menurut Mahayana hanyalah membimbing para makhluk di dalam menempuh jalan yang benar menuju nirvana. Itulah pengertian yang benar bagi "menyelamatkan semua makhluk". Mereka menggunakan berbagai metode-jitu (skillful means) yang disebut upaya kausalya (merupakan salah satu di antara 10 Paramita Mahayana)

Upaya kausalya berarti dengan terampil memanfaatkan berbagai metode untuk menarik perhatian dan mengarahkan para makhluk agar bersedia menapaki Jalan Dharma.

CMIIW,

navis

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Edward on 24 March 2009, 07:59:11 PM
Wah, kaget jg, dlm satu hari bisa serame ini...

Ow iya, dlm thread ini, gw hanya sebagai fasilitator, jadi bukan sebagai narasumber...Jadi, jika ada member lain yg bisa memberikan jawaban diskusi yg baik, silahkan membantu menjelaskan..

Mungkin ada beberapa pertanyaan yg gw bisa jawab, tetapi, gw ini pun masih seorang murid yg masih dan akan terus berlatih...Jadi semoga kita bisa saling asah, asih, asuh yahhh...

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Edward on 24 March 2009, 08:16:20 PM
Penjelasan mengenai Alam Sukhavati bisa dicari referensi secara lengkap di dalam Sutra Amitabha dan The Longer Amitabha Sutra...
Berdasarkan beberapa buku yg gw baca, secara ringkas, Sukhavati sama seperti dunia saha kita ini, perbedaannya, di sukhavati masih ada Buddha yg masih mengajarkan Dhamma, dan dunia tersebut terbebas dari berbagai kekotoran duniawi. Sehingga dikatakan bahwa Tanah Suci Sukhavati merupakan dunia yg sangat pas dan tepat untuk mempelajari Dhamma secara langsung dari Buddha dan memperoleh pencerahan.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: GandalfTheElder on 24 March 2009, 08:37:12 PM
Quote
Apakah Sutra-sutra di Mahayana kebanyakan berisikan percapakan antara Sang Buddha dengan YM.Sariputta Thera? dan YM Sariputta Thera sebagai apa? atau di sebut apa ?

Tidak semua sutra Mahayana berisi percakapan dengan Yang Arya Shariputra. Sutra-sutra Mahayana seperti Sukhavativyuha dan sutra-sutra Prajnaparamita banyak mengisahkan percakapan antara Sakyamuni Buddha dengan Shariputra. Bahkan beliau diramalkan akan menjadi Samyaksambuddha. Di antara para Shravaka Arahat, beliau merupakan salah satu yang memahami Mahayana.

Di pohon perlindungan Karma Kagyu (salah satu aliran Vajrayana), di bagian Sangha juga terdapat Arya Shariputra.

 _/\_
The Siddha Wanderer
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: GandalfTheElder on 24 March 2009, 08:42:58 PM
Quote
Jigong Chanshi [emanasi seorang Arhat] yang suka mabuk-mabukan dan makan daging
omong - omong g juga suka sama cerita berita beliau pembabaran  beliau lebih dharma membumi

Hati-hati soalnya banyak kitab karangan Yi Guan Dao (Maitreya) berkenaan dengan Jigong Chanshi. Dan yang kebanyakan beredar adalah yang ini....

 _/\_
The Siddha Wanderer
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: GandalfTheElder on 24 March 2009, 08:46:27 PM
Quote
mau tanya, alam sukhavati itu = dgn alamnya anagami?
sebab d sebutkan d sukhavati d ajarkan dhamma oleh buddha amitabha dan lsg mencapai nibanna.
CMIIW

Beda dong.

Anagami ya tidak masuk Sukhavati....mereka terlahir di alam Abhasvara..... kecuali kalau dia beraspirasi untuk ke sana...... misalnya Raja Bimbisara yang mencapai tingkat Anagamin di awal pembabaran Sutra Amitayurdhyana.

 _/\_
The Siddha wanderer
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: GandalfTheElder on 24 March 2009, 08:52:13 PM
Quote
sepertinya kebanyakan lahir dari Tiongkok ya?
lalu adakah aliran Mahayana yg lahir dan berkembang di India?

Di India:

1. Madhyamika, dibagi dua lagi:
a. Prasangika Madhyamika
b. Svatantrika Madhyamika

2. Yogacara (Vijnanavada)

Dua aliran Mahayana itu yang berkembang pesat di India.

Praktek dan pengikut Tantra di India juga bercampur dengan filosofi kedua ajaran tersebut.

Anda masih bisa menjumpai agama Buddha Mahayana versi India (walaupun sudah cukup berbeda gayanya) dengan naskah asli Sansekertanya di Nepal (kalangan masyarakat Newar), yang konon merupakan keturunan suku Sakya. Lagipula Nepal sendiri dikenal sebagai tempat kelahiran Pangeran Siddharta.

 _/\_
The Siddha Wanderer
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: N1AR on 24 March 2009, 08:57:09 PM


Quote
nech saya kasi contoh lagi ya

Kuan Kong merupakan salah satu orang bijak yang harus diteladani, karena kesetiaan pada negara, pemberani.

Kuan Kong tidak akan membunuh orang ataupun merencanakan pembunuhan pada tentara musuh klo tidak ada sebabnya. jika Kuan Koang tidak berperang maka akan lebih BERSALAH lagi melihat penderitaan pada rakyat banyak.

bagaimana dengan lawannya, bukankah mempunyai tujuan yg sama?

Quote
sedangkan Jigong Chansi, mengunakan upaya-kausalya untuk menyadarkan orang-orang yang berasal dari berbagai tingkatan pemahaman.

"According to Mahayana Buddhism one of the attributes of a Bodhisattva is to use skill-in-means or upaya-kausalya. This refers to the ability to present Buddhist teachings in such a way as to be be understood by audiences with different levels of comprehension."

Seorang Bodhisattva menurut Mahayana hanyalah membimbing para makhluk di dalam menempuh jalan yang benar menuju nirvana. Itulah pengertian yang benar bagi "menyelamatkan semua makhluk". Mereka menggunakan berbagai metode-jitu (skillful means) yang disebut upaya kausalya (merupakan salah satu di antara 10 Paramita Mahayana)

apa tidak ada yg akan salah menagkap maksud Jigong Chansi nanti?
atau mungkin nanti seperti menjadi alasan bhante mata duitan yg beroperasi di pasar, yg ngaku2 berpanutan pada Jigong Chansi
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: GandalfTheElder on 24 March 2009, 09:00:58 PM
Quote
apa benar kalau mahayana tingkatnya lebih tinggi dari T ? kenapa?

Semuanya bertahap jalannya. Dari Hinayana terus Mahayana terus Vajrayana.

Apakah bertahap ini merupakan tinggi-tinggian atau tidak, silahkan renungkan sendiri.

 _/\_
The Siddha Wanderer
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: GandalfTheElder on 24 March 2009, 09:03:03 PM
Quote
apa tidak ada yg akan salah menagkap maksud Jigong Chansi nanti?
atau mungkin nanti seperti menjadi alasan bhante mata duitan yg beroperasi di pasar, yg ngaku2 berpanutan pada Jigong Chansi

Maka dari itu Jigong Chanshi sendiri pernah mengatakan bahwa seseorang seharusnya mengkritik perbuatannya, bukan malah menirunya mabuk-mabukan plus makan daging.

Demikianlah yang kudengar dari Bhiksu Hai Tao Fashi.

 _/\_
The Siddha Wanderer
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: N1AR on 24 March 2009, 09:07:40 PM
Quote
apa benar kalau mahayana tingkatnya lebih tinggi dari T ? kenapa?

Semuanya bertahap jalannya. Dari Hinayana terus Mahayana terus Vajrayana.

Apakah bertahap ini merupakan tinggi-tinggian atau tidak, silahkan renungkan sendiri.

 _/\_
The Siddha Wanderer

kalau jalan bergitu dekat , kenapa mesti memilih jalan yg bergitu jauh

dan saya pernah bertanya.. kepada orang yg lebih tua. katanya, ajaran dari T ke M ke Tantra memang dari Tiongkok yah
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: N1AR on 24 March 2009, 09:10:18 PM
Quote
apa tidak ada yg akan salah menagkap maksud Jigong Chansi nanti?
atau mungkin nanti seperti menjadi alasan bhante mata duitan yg beroperasi di pasar, yg ngaku2 berpanutan pada Jigong Chansi

Maka dari itu Jigong Chanshi sendiri pernah mengatakan bahwa seseorang seharusnya mengkritik perbuatannya, bukan malah menirunya mabuk-mabukan plus makan daging.

Demikianlah yang kudengar dari Bhiksu Hai Tao Fashi.

 _/\_
The Siddha Wanderer

seorang yg tidak dapat ditiru, apa bisa menjadi panutan?

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: GandalfTheElder on 24 March 2009, 09:11:57 PM
Quote
kalau jalan bergitu dekat , kenapa mesti memilih jalan yg bergitu jauh

dan saya pernah bertanya.. kepada orang yg lebih tua. katanya, ajaran dari T ke M ke Tantra memang dari Tiongkok yah

Di India udah ada ajaran dari T ke M terus ke Tantra.....

Ya kebanyakan orang yang lebih tua taunya ya dari tradisi Mahayana Tiongkok... makanya bilang begitu...

Mengenai jalan... gini deh... apa bisa anda langsung loncat jadi siswa SMA padahal anda belum menjadi siswa TK, SD atau SMP?

 _/\_
The Siddha Wanderer
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: GandalfTheElder on 24 March 2009, 09:13:55 PM
Quote
seorang yg tidak dapat ditiru, apa bisa menjadi panutan?

Kebajikannya yang perlu kita jadikan panutan.

Mabuk2annya ya jangan lah.....

Misalnya anda punya ortu yang suka marah tapi gemar berdana dan tulus dalam memberi....

Apakah tidak boleh anda menjadikan ortu anda sebagai panutan berderma??

 _/\_
The Siddha Wanderer
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: N1AR on 24 March 2009, 09:14:10 PM
Quote
kalau jalan bergitu dekat , kenapa mesti memilih jalan yg bergitu jauh

dan saya pernah bertanya.. kepada orang yg lebih tua. katanya, ajaran dari T ke M ke Tantra memang dari Tiongkok yah

Di India udah ada ajaran dari T ke M terus ke Tantra.....

Ya kebanyakan orang yang lebih tua taunya ya dari tradisi Mahayana Tiongkok... makanya bilang begitu...

Mengenai jalan... gini deh... apa bisa anda langsung loncat jadi siswa SMA padahal anda belum menjadi siswa TK, SD atau SMP?

 _/\_
The Siddha Wanderer

seharusnya dalam arti sama-sama tk , cuma bedah daerah

kalau sama2 bisa lulus untuk apa belajar sampai beberapa tk
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: N1AR on 24 March 2009, 09:16:02 PM
Quote
seorang yg tidak dapat ditiru, apa bisa menjadi panutan?

Kebajikannya yang perlu kita jadikan panutan.

Mabuk2annya ya jangan lah.....

Misalnya anda punya ortu yang suka marah tapi gemar berdana dan tulus dalam memberi....

Apakah tidak boleh anda menjadikan ortu anda sebagai panutan berderma??

 _/\_
The Siddha Wanderer

apa seorang osama bin laden bisa diambil baiknya saja? dalam pikiran umat nya sendiri saja banyak bertentangan.
bagaimana dengan musuhya.. apa bisa memberikan contoh yg baik?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: GandalfTheElder on 24 March 2009, 09:17:09 PM
Masalahnya Hinayana, Mahayana, Vajrayana itu TK, SD, SMP...... bukan sama2 TK, demikian menurut pandangan Mahayana / Vajrayana.

Kalau anda umat T memandang semua TK ya sah2 dan maklum2 saja.... tapi pandangan Mahayana / Vajrayana ya beda lagi....

 _/\_
The Siddha Wanderer

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: GandalfTheElder on 24 March 2009, 09:19:53 PM
Quote
apa seorang osama bin laden bisa diambil baiknya saja? dalam pikiran umat nya sendiri saja banyak bertentangan.
bagaimana dengan musuhya.. apa bisa memberikan contoh yg baik?

Yah anda pikir apakah kekeliruan Jigong Chanshi itu separah Osama Bin Laden?

Bodhisattva kok dibandingin sama teroris.

Makanya saya pake contoh ortu kita yang bagai seorang Bodhisattva bagi kita!

 _/\_
The Siddha Wanderer
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: N1AR on 24 March 2009, 09:20:52 PM
Masalahnya Hinayana, Mahayana, Vajrayana itu TK, SD, SMP...... bukan sama2 TK, demikian menurut pandangan Mahayana / Vajrayana.

Kalau anda umat T memandang semua TK ya sah2 dan maklum2 saja.... tapi pandangan Mahayana / Vajrayana ya beda lagi....

 _/\_
The Siddha Wanderer



ini pendapat pribadi atau ada referensinya?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: N1AR on 24 March 2009, 09:24:21 PM
Quote
apa seorang osama bin laden bisa diambil baiknya saja? dalam pikiran umat nya sendiri saja banyak bertentangan.
bagaimana dengan musuhya.. apa bisa memberikan contoh yg baik?

Yah anda pikir apakah kekeliruan Jigong Chanshi itu separah Osama Bin Laden?

Bodhisattva kok dibandingin sama teroris.

Makanya saya pake contoh ortu kita yang bagai seorang Bodhisattva bagi kita!

 _/\_
The Siddha Wanderer


bagaimana dengan orang tua lain?
yang menjual anaknya.. memperkosa.. apa bisa dijadikan panutan untuk anaknya?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: GandalfTheElder on 24 March 2009, 09:24:33 PM
Quote
ini pendapat pribadi atau ada referensinya?

Referensi ya buanyak... silahkan baca sendiri sutra2 Mahayana plus kalau mau belajar lamrim sekalian... buku Pembebasan Di Tangan Kita saya saranin.... Bahkan di Tiongkok modern ini, pembelajaran Lamrim Chenmo - Putidaocidiguanglun [菩提道次第廣論] cukup populer di kalangan mahasiswa di sana.....

 _/\_
The Siddha Wanderer
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: GandalfTheElder on 24 March 2009, 09:27:16 PM
Quote
bagaimana dengan orang tua lain?
yang menjual anaknya.. memperkosa.. apa bisa dijadikan panutan untuk anaknya?

Tampaknya anda tidak memahami arah diskusi.

Saya ya tentu tidak membandingkan dengan ortu semacam itu.

Kalau semuanya pakai pola pikir kaya yang anda sebutin itu... ya kagak bakalan ada lagu "Ma Ma Hao" lah dan juga kagak bakalan ada kalimat "Kasih Ibu Sepanjang Masa".....

Toh katanya anda masih ada juga ibu yang kejam....hehe.....

 _/\_
The Siddha Wanderer
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: N1AR on 24 March 2009, 09:40:44 PM
Quote
ini pendapat pribadi atau ada referensinya?

Referensi ya buanyak... silahkan baca sendiri sutra2 Mahayana plus kalau mau belajar lamrim sekalian... buku Pembebasan Di Tangan Kita saya saranin.... Bahkan di Tiongkok modern ini, pembelajaran Lamrim Chenmo - Putidaocidiguanglun [菩提道次第廣論] cukup populer di kalangan mahasiswa di sana.....

 _/\_
The Siddha Wanderer

apa relevan suruh baca bukunya dulu. kenapa tidak dikutip sedikit
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: N1AR on 24 March 2009, 09:43:22 PM
Quote
bagaimana dengan orang tua lain?
yang menjual anaknya.. memperkosa.. apa bisa dijadikan panutan untuk anaknya?

Tampaknya anda tidak memahami arah diskusi.

Saya ya tentu tidak membandingkan dengan ortu semacam itu.

Kalau semuanya pakai pola pikir kaya yang anda sebutin itu... ya kagak bakalan ada lagu "Ma Ma Hao" lah dan juga kagak bakalan ada kalimat "Kasih Ibu Sepanjang Masa".....

Toh katanya anda masih ada juga ibu yang kejam....hehe.....

 _/\_
The Siddha Wanderer

menurut saya memang pengumpamaan yg dangkal. kenapa tidak boddhisattvanya saja langsung
bagaimana saya yg umat awam bisa paham , mana yg harus ditiru dan jangan ditiru
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: GandalfTheElder on 24 March 2009, 09:49:14 PM
Referensi saya saranin baca bukunya supaya lebih jelas.... kalau kutip sekutip maka pemahaman yang didapatkan tidak bisa keseluruhan dan kurang mantap... lagipula saya juga tidak punya cukup banyak waktu untuk mengutip, mengetik dan memilah mana-mana saja yang dapat sepenuhnya menjawab pertanyaan anda. Maka dari itu saya saranin beli bukunya aja.... sutra-sutra Mahayana toh anda bisa dapatkan di internet banyak tersedia... rajin baca sutra dong!

Maka dari itu pemahaman anda sebagai seorang Buddhis harus kuat dulu... baru anda bisa memilah mana yang patut ditiru dan mana yang tidak..... sambil kembangkanlah Bodhicitta yang mengharapkan pencerahan sempurna pada semua makhluk termasuk diri sendiri.... doktrin upaya kausalya adalah tahap pembelajaran yang lebih kemudian..... lebih baik anda belajar bertahap dulu...... maka Lamrim Chenmo sangat saya saranin... Ok??

 _/\_
The Siddha Wanderer
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: N1AR on 24 March 2009, 09:52:46 PM
Ajaran mengenai Bodhicitta juga
meliputi metode yang diturunkan secara khusus
oleh Guru Suwarnadwipa Dharmakirti kepada
Yang Mulia Atisha yang dikenal dengan metode
Menyetarakan dan Menukar Diri dengan Orang
Lain.
Pembebasan di tangan kitaJilid III: Tujuan Agung

jelas saya tidak akan beli dan baca, dariiklannya saja metodenya aneh2
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: GandalfTheElder on 24 March 2009, 09:59:05 PM
Nah!! Anda belum belajar sudah merasa curiga aneh2.... gimana anda bisa mengosongkan cangkir anda kalau anda belajar dengan prasangka?

Belum baca sudah merasa metodenya aneh2... ini kan prasangka tidak berdasar.... apa dasarnya? Perasaan aja gitu? Kesan pertama gitu? La wong dari judul aja bisa menjustifikasi aneh2.... belum dapet penjelasan, udah muncul prasangka yang nggak-nggak.

Kalau anda belajar sastra..... maka anda akan menemukan bahwa judul yang aneh2 itu kenyatannya isinya nggak ikutan aneh2 kok.... orang yang mengerti akan tahu bahwa itu hanya permainan bahasa saja.

Ehipassiko plisss ??

 _/\_
The Siddha Wanderer
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: coedabgf on 24 March 2009, 10:43:38 PM
Siapa yang menilai siapa?
hati-hati perhatikan seperti nasihat kutipan ini
:

Menyelami Chan! Mengenali hakikat sejati diri sendiri!
Senantiasa bergerak mengikuti arus ke mana-mana.

Saat kau tidak memalsukannya dan membuang waktu membersihkan dan mengasahnya,
Diri Sejati-mu akan selalu bersinar hingga lebih terang daripada cahaya.

Hati-hati, bukan melekat kepada figur makhluk-makhluk pelindung (versi-versi, tetapi sesungguhnya masih duniawi) diluar diri tuk mencapai pembebasan sebab seperti judul diatas 'Siapa yang menilai siapa?', atau mencari pencapaian kebijaksanaan pengalaman pembebasan dari usaha-usaha pengalaman jasmani (ekstrim kanan maupun kiri), contoh ektrimnya adalah sadhana sex atau seperti cara tapa penyiksaan siddharta sampe mo mati.

Menyelami Chan! Abaikan takhayul yang tak masuk akal itu
Hal itu membuat beberapa orang mengaku bahwa mereka mencapai Chan.
Keyakinan bodoh dari mereka yang belum terbangunkan.

Dan mereka adalah yang membutuhkan pendalaman Chan!

sebab seperti guru Buddha mengajar hanya diperlukan penanggalan cekatan/kemelekatan ciri diri (nama-rupa) khayal/sementara yang bersifat anicca->dukkha dan anatta dan pengetahuan kebijaksaaannya, sehingga (dituntun untuk) dapat melihat nature yang sejati (true self) sendiri dari setiap manusia, dan (rahasia) kebenaran sejati (DHARMA) terbukakan.

Di dalam rumahku ada sebuah gua
di dalam gua tidak ada apapun lagi

kekosongan murni benar-benar luar biasa
gemilang dan indah gemerlap bak surya
makanan vegetarian memelihara tubuh tua ini
katun  dan kulit menutupi bentuk ilusif-nya.
biarkan seribu orang suci muncul di hadapanku
aku memiliki Dharmakaya diriku sendiri

Meskipun banyak rintangan saya mengejar sang biarawan agung
pegunungan berkabut sejuta tingkatan tingginya
beliau menunjukkan jalan pulang ke rumah
bulan bundar tunggal lentera langit


seperti nasihat Bodhidharma, kutipan :
"Seorang Buddha tidak menjaga sila-sila. Seorang Buddha tidak melakukan perbuatan baik ataupun perbuatan jahat. Seorang Buddha tidak bersemangat ataupun malas. Seorang Buddha adalah seseorang yang tidak melakukan apapun, seseorang yang bahkan tidak bisa memfokuskan pikirannya pada seorang Buddha. Seorang Buddha bukan Buddha."
seperti syair ini :
Menyelami Chan! Mengenali hakikat sejati diri sendiri!
Senantiasa bergerak mengikuti arus ke mana-mana.

Saat kau tidak memalsukannya dan membuang waktu membersihkan dan mengasahnya,
Diri Sejati-mu akan selalu bersinar hingga lebih terang daripada cahaya.


"Mereka secara salah berpendirian bahwa segala sesuatu adalah kosong sehingga melakukan kejahatan tidaklah salah. Orang yang demikian terjerumus dalam neraka kegelapan tanpa akhir tanpa harapan untuk bebas. Mereka yang bijaksana tidak mempertahankan pemahaman demikian."


Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 25 March 2009, 08:32:13 AM


Quote
nech saya kasi contoh lagi ya

Kuan Kong merupakan salah satu orang bijak yang harus diteladani, karena kesetiaan pada negara, pemberani.

Kuan Kong tidak akan membunuh orang ataupun merencanakan pembunuhan pada tentara musuh klo tidak ada sebabnya. jika Kuan Koang tidak berperang maka akan lebih BERSALAH lagi melihat penderitaan pada rakyat banyak.

bagaimana dengan lawannya, bukankah mempunyai tujuan yg sama?

^
^
jika anda sudah membaca buku tiga kerajaan/ sam kok
ato minimal nonton film tiga kerajaan
anda akan melihat mana yang benar-benar berjuang demi rakyat, mana yang haus akan kekuasaan


Quote
sedangkan Jigong Chansi, mengunakan upaya-kausalya untuk menyadarkan orang-orang yang berasal dari berbagai tingkatan pemahaman.

"According to Mahayana Buddhism one of the attributes of a Bodhisattva is to use skill-in-means or upaya-kausalya. This refers to the ability to present Buddhist teachings in such a way as to be be understood by audiences with different levels of comprehension."

Seorang Bodhisattva menurut Mahayana hanyalah membimbing para makhluk di dalam menempuh jalan yang benar menuju nirvana. Itulah pengertian yang benar bagi "menyelamatkan semua makhluk". Mereka menggunakan berbagai metode-jitu (skillful means) yang disebut upaya kausalya (merupakan salah satu di antara 10 Paramita Mahayana)

apa tidak ada yg akan salah menagkap maksud Jigong Chansi nanti?
atau mungkin nanti seperti menjadi alasan bhante mata duitan yg beroperasi di pasar, yg ngaku2 berpanutan pada Jigong Chansi

kenapa bhante itu tidak beralasan sedang menjalankan Pindapata? lebih masuk akal kan....... ;D CMIIW
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: GandalfTheElder on 25 March 2009, 08:51:51 AM
Quote
pengalaman pembebasan dari usaha-usaha pengalaman jasmani (ekstrim kanan maupun kiri), contoh ektrimnya adalah sadhana sex

Daripada anda mengatakan bahwa Sadhana "seks" itu ekstrim, lebih baik anda selami batin anda sendiri!

Masih prthagjana kok berani2 menilai praktek sadhana "seks" yang dirinya aja nggak paham sepenuhnya!

Orang yang belum paham akan sadar diri dan tidak terlalu banyak bicara..... nah kalau belum paham tapi sudah berani menjustifikasi... nah ini bagaimana?

Jangan gunakan pernyataan seorang Buddha untuk menyangkal ajaran Buddha yang lain.

Sudahlah... dari dulu kok ributin karmamudra terusss.... kok hobi ya bikin kontroversi...... padahal Empat Kesunyataan Mulia aja belum tembus tapi ud berani njustifikasi karmamudra?? Hebat ya umat2 zaman sekarang.....

 _/\_
The Siddha Wanderer
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 25 March 2009, 08:59:05 AM
^
^
^
xixixi....
calm down bro, calm down....

emang umat2 sekarang, hebat2 loh. sangkin hebatnya.... :P
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: GandalfTheElder on 25 March 2009, 09:12:15 AM
Quote
^
^
^
xixixi....
calm down bro, calm down....

emang umat2 sekarang, hebat2 loh. sangkin hebatnya.... Tongue

Tq...tq...

Tapi aneh juga ya... yang suka cari kontroversi tentang Mahayana / Vajrayana itu biasanya banyak posting di forum......banyak debat....... tapi yang tulus belajar kok masih sedikit ya...... apa mungkin mereka merenungkan postingan2 selama ini, mengetahui debat tidak berdasar adalah tiada manfaatnya?

Saya kutip dari Dasabhumika Sutra:

"Tetapi mereka yang melekat pada kedunguan, curiga dan tak menerima, tak akan pernah berkesempatan mendengarnya (ajaran tentang berbagai tingkatan Bodhisattvabhumi)."
(Dasabhumika, Avatamsaka Sutra)

Jadi kalau temen2 mau paham Mahayana, hilangkan dulu rasa curiga dan rasa tak menerima. Percuma saja kalau curiga terus, apa gunanya belajar Mahayana? Yang ada hanyalah seperti cangkir kotor, di mana kekotoran itu adalah rasa curiga dan tak menerima.

Memang seperti yang dikatakan bro. chingik, bagi mereka yang suka meributkan "Lobha vs tekad Bodhisattva" silahkan baca Dasabhumika Sutra, di sana anda akan paham bahwa Bodhisattva juga mencapai tingkatan "Tanpa Aku" dan "Tanpa Keinginan." Good luck yah nyari bukunya......  ;D

 _/\_
The Siddha Wanderer
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: marcedes on 25 March 2009, 09:19:50 AM
"Ada penderitaan, tapi tidak ada yang menderita,
Ada jalan, tapi tidak ada yang menempuhnya,
Ada nibbana, tapi tidak ada yang mencapainya."
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: GandalfTheElder on 25 March 2009, 09:22:16 AM
"Ada penderitaan, tapi tidak ada yang menderita,
Ada jalan, tapi tidak ada yang menempuhnya,
Ada nibbana, tapi tidak ada yang mencapainya."

Hehe..... termasuk kita2 ini kan belum mencapai Nibbana nih.......

Seeppp 2x...

_/\_
The Siddha Wanderer
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hatRed on 25 March 2009, 09:25:18 AM
curiga pangkal ehipasiko...
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 25 March 2009, 09:35:05 AM
kenapa tidak

rasa ingin tahu pangkal ehipassiko

kalau curiga kan agak2 negatif geto
rasa ingin tahu kan netral.... ;D

CMIIW,

navis
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: coedabgf on 25 March 2009, 09:41:44 AM
Quote dari coedabgf :
mencari pencapaian kebijaksanaan pengalaman pembebasan dari usaha-usaha pengalaman jasmani (ekstrim kanan maupun kiri), contoh ektrimnya adalah sadhana sex

Posted by: GandalfTheElder
Daripada anda mengatakan bahwa Sadhana "seks" itu ekstrim, lebih baik anda selami batin anda sendiri!
Masih prthagjana kok berani2 menilai praktek sadhana "seks" yang dirinya aja nggak paham sepenuhnya!
Orang yang belum paham akan sadar diri dan tidak terlalu banyak bicara..... nah kalau belum paham tapi sudah berani menjustifikasi... nah ini bagaimana?
Jangan gunakan pernyataan seorang Buddha untuk menyangkal ajaran Buddha yang lain.
Sudahlah... dari dulu kok ributin karmamudra terusss.... kok hobi ya bikin kontroversi...... padahal Empat Kesunyataan Mulia aja belum tembus tapi ud berani njustifikasi karmamudra?? Hebat ya umat2 zaman sekarang.....

Posted by: naviscope
^
xixixi....
calm down bro, calm down....
emang umat2 sekarang, hebat2 loh. sangkin hebatnya....  :P


loh saya kan... hanya mengingatkan kawan-kawan untuk berhati-hati, tidak menjustifikasi. Malahan saya kutip tulisan-tulisan pengajaran guru-guru yang menurut/sesuai jalan Sutta guru Buddha.
klo dari isi kutipan teman diatas, kenyataan isinya sebenarnya siapa yang menjustifikasi atau mempertahankan pandangan keyakinan sendiri sehingga timbul mencurigai juga tulisan yang dengan maksud mengingatkan teman-teman lain? bahkan saya tidak bilang atau (timbul pikiran) membedakan merasa hebat loh.

sebab seperti yang guru Buddha ingatkan,
kutipan :
Pada saat itu Yang Dijunjungi mengucapkan suatu gatha yang berbunyi :
Barang siapa melihat-Ku dalam wujud,
Barang siapa mencari-Ku dalam suara,
Dia mempraktekkan jalan menyimpang,
Dan tidak dapat melihat Hyang Tathagatha.



semoga teman-teman dapat melihat dengan jelas praktek jalan pengajaran guru Buddha yang bebas dari pencarian pada pengalaman secara jasmaniah ekstrim kiri maupun kanan, kebergantungan pada kemelekatan figur-figur wujud luar untuk mencapai pembebasan dan paham nihilisme atau kewujudan khayal (dimana dua-duanya adalah berasal dari paham kewujudan khayal) karena cekatan atta berupa nama-rupa yang annicca anatta.
good hope and love
coedabgf
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hatRed on 25 March 2009, 09:42:29 AM
kenapa tidak

rasa ingin tahu pangkal ehipassiko

kalau curiga kan agak2 negatif geto
rasa ingin tahu kan netral.... ;D

CMIIW,

navis

???

sepertinya berbeda....

IMO
rasa ingin tahu merupakan tindak lanjut dari curiga...

contoh : Karena curiga, jadi ingin menyelidiki...

kok jadi diskusi bahasa indonesia :))
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: N1AR on 25 March 2009, 09:43:41 AM


Quote
nech saya kasi contoh lagi ya

Kuan Kong merupakan salah satu orang bijak yang harus diteladani, karena kesetiaan pada negara, pemberani.

Kuan Kong tidak akan membunuh orang ataupun merencanakan pembunuhan pada tentara musuh klo tidak ada sebabnya. jika Kuan Koang tidak berperang maka akan lebih BERSALAH lagi melihat penderitaan pada rakyat banyak.

bagaimana dengan lawannya, bukankah mempunyai tujuan yg sama?

^
^
jika anda sudah membaca buku tiga kerajaan/ sam kok
ato minimal nonton film tiga kerajaan
anda akan melihat mana yang benar-benar berjuang demi rakyat, mana yang haus akan kekuasaan


Quote
sedangkan Jigong Chansi, mengunakan upaya-kausalya untuk menyadarkan orang-orang yang berasal dari berbagai tingkatan pemahaman.

"According to Mahayana Buddhism one of the attributes of a Bodhisattva is to use skill-in-means or upaya-kausalya. This refers to the ability to present Buddhist teachings in such a way as to be be understood by audiences with different levels of comprehension."

Seorang Bodhisattva menurut Mahayana hanyalah membimbing para makhluk di dalam menempuh jalan yang benar menuju nirvana. Itulah pengertian yang benar bagi "menyelamatkan semua makhluk". Mereka menggunakan berbagai metode-jitu (skillful means) yang disebut upaya kausalya (merupakan salah satu di antara 10 Paramita Mahayana)

apa tidak ada yg akan salah menagkap maksud Jigong Chansi nanti?
atau mungkin nanti seperti menjadi alasan bhante mata duitan yg beroperasi di pasar, yg ngaku2 berpanutan pada Jigong Chansi

kenapa bhante itu tidak beralasan sedang menjalankan Pindapata? lebih masuk akal kan....... ;D CMIIW

tadi saya serius, melihat anda suka bercanda tentang film samkok , saya ikutan yah

sungguh mulia cita2 kuan koang ^O^
membunuh bergitu banyak dengan alasan yg mulia. memang patut dicontoh
apa ada istilah jihad diajaran sang Buddha, saya ingin ikut juga. bisa kasih sutta jihad disini. karena saya juga merasah
ditindas nih.


sesuai cerita diatas
banteng nya mengaku2 berpanutan pada Jigong Chansi sebagai idola. emang kenapa? gak boleh?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: N1AR on 25 March 2009, 09:47:07 AM
"Ada penderitaan, tapi tidak ada yang menderita,
Ada jalan, tapi tidak ada yang menempuhnya,
Ada nibbana, tapi tidak ada yang mencapainya."

Hehe..... termasuk kita2 ini kan belum mencapai Nibbana nih.......

Seeppp 2x...

_/\_
The Siddha Wanderer

banyak bacot dari tadi, baru sadar? ^-^
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 25 March 2009, 09:49:13 AM


Quote
nech saya kasi contoh lagi ya

Kuan Kong merupakan salah satu orang bijak yang harus diteladani, karena kesetiaan pada negara, pemberani.

Kuan Kong tidak akan membunuh orang ataupun merencanakan pembunuhan pada tentara musuh klo tidak ada sebabnya. jika Kuan Koang tidak berperang maka akan lebih BERSALAH lagi melihat penderitaan pada rakyat banyak.

bagaimana dengan lawannya, bukankah mempunyai tujuan yg sama?

^
^
jika anda sudah membaca buku tiga kerajaan/ sam kok
ato minimal nonton film tiga kerajaan
anda akan melihat mana yang benar-benar berjuang demi rakyat, mana yang haus akan kekuasaan


Quote
sedangkan Jigong Chansi, mengunakan upaya-kausalya untuk menyadarkan orang-orang yang berasal dari berbagai tingkatan pemahaman.

"According to Mahayana Buddhism one of the attributes of a Bodhisattva is to use skill-in-means or upaya-kausalya. This refers to the ability to present Buddhist teachings in such a way as to be be understood by audiences with different levels of comprehension."

Seorang Bodhisattva menurut Mahayana hanyalah membimbing para makhluk di dalam menempuh jalan yang benar menuju nirvana. Itulah pengertian yang benar bagi "menyelamatkan semua makhluk". Mereka menggunakan berbagai metode-jitu (skillful means) yang disebut upaya kausalya (merupakan salah satu di antara 10 Paramita Mahayana)

apa tidak ada yg akan salah menagkap maksud Jigong Chansi nanti?
atau mungkin nanti seperti menjadi alasan bhante mata duitan yg beroperasi di pasar, yg ngaku2 berpanutan pada Jigong Chansi

kenapa bhante itu tidak beralasan sedang menjalankan Pindapata? lebih masuk akal kan....... ;D CMIIW

tadi saya serius, melihat anda suka bercanda tentang film samkok , saya ikutan yah

sungguh mulia cita2 kuan koang ^O^
membunuh bergitu banyak dengan alasan yg mulia. memang patut dicontoh
apa ada istilah jihad diajaran sang Buddha, saya ingin ikut juga. bisa kasih sutta jihad disini. karena saya juga merasah
ditindas nih.


sesuai cerita diatas
banteng nya mengaku2 berpanutan pada Jigong Chansi sebagai idola. emang kenapa? gak boleh?

orang aneh, memaksakan kehendak.....

hehehe... koq jd banteng?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 25 March 2009, 09:50:16 AM
"Ada penderitaan, tapi tidak ada yang menderita,
Ada jalan, tapi tidak ada yang menempuhnya,
Ada nibbana, tapi tidak ada yang mencapainya."

Hehe..... termasuk kita2 ini kan belum mencapai Nibbana nih.......

Seeppp 2x...

_/\_
The Siddha Wanderer

banyak bacot dari tadi, baru sadar? ^-^

dia sudah mulai sadar, kamu sudah sadar belum?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: coedabgf on 25 March 2009, 09:57:49 AM
ajaran moralitas itu tetap pada posisi yang tertinggi. apa jadinya di dunia (penuh) kemelekatan dan kelobhaan ini klo ada pembenaran-pembenaran amoral (apalagi khususnya pemimpin) dengan alasan keyakinan. Sama seperti cerita-cerita kejadian-kejadian pemimpin-pemimpin agama sekarang atau bahkan jaman kegelapan-kegelapan masa lalu, apalagi klo perkataan manusia pemimpinnya menjadi hukum kebenaran. Tetapi untungnya berlaku hukum terpisah pada masa sekarang. wah bisa-bisa gawat dah, aku bisa dikuliti.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hatRed on 25 March 2009, 10:03:07 AM
seperti i katakan sebelumnya

obat dan racun sudah ada, yg seakan2 menjadi obat dan yg seakan2 menjadi racun pun tersedia...

silahkan pikir sendiri, apa metode anda dalam membedakannya....
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 25 March 2009, 10:07:58 AM
n satu lagi

jangan lupa, kode etik yang diterapkan oleh TS

Silahkan berdikusi, mempertanyakan, atau mengkritik , tapi harap masih dalam koridor kesopanan dan tidak menghina atau merendahkan..

;D
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: coedabgf on 25 March 2009, 10:10:00 AM
seperti contoh tentang moralitas karena pada dasarnya manusia ditaruh timbangan kebenaran yaitu hati nurani sehingga paling gak dapat membedakan yang mana yang baik yang mana tidak layak, gak tahu dah klo sudah tumpul, gelap alias sesat.
anak 12 tahun, lalu perawan 9 tahun, atau orgy atau swinger, free sex dengan alasan dibenarkan keyakinan, penghakiman membabi-buta bahkan membunuh tanpa kesesuaian/pembuktian jalur hukum bukan karena kejahatan nyata tetapi karena berbeda pemahaman keyakinan. Apa jadinya manusia dengan keyakinannya dan dunia ini semakin lama klo begitu?  :'(
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hatRed on 25 March 2009, 10:16:40 AM
Masalahnya Hinayana, Mahayana, Vajrayana itu TK, SD, SMP...... bukan sama2 TK, demikian menurut pandangan Mahayana / Vajrayana.

Kalau anda umat T memandang semua TK ya sah2 dan maklum2 saja.... tapi pandangan Mahayana / Vajrayana ya beda lagi....

 _/\_
The Siddha Wanderer



::)
ini termasuk merendahkan gak ya?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: N1AR on 25 March 2009, 10:22:22 AM
seperti contoh tentang moralitas karena pada dasarnya manusia ditaruh timbangan kebenaran yaitu hati nurani sehingga paling gak dapat membedakan yang mana yang baik yang mana tidak layak, gak tahu dah klo sudah tumpul, gelap alias sesat.
anak 12 tahun, lalu perawan 9 tahun, atau orgy atau swinger, free sex dengan alasan dibenarkan keyakinan, penghakiman membabi-buta bahkan membunuh tanpa kesesuaian/pembuktian jalur hukum bukan karena kejahatan nyata tetapi karena berbeda pemahaman keyakinan. Apa jadinya manusia dengan keyakinannya dan dunia ini semakin lama klo begitu?  :'(

justru ada ajaran yg bikin ribet dan ditambah-tambahin, supaya .... tahu sendiri dah
bisa dilihat dari karakter umatnya ^-^
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 25 March 2009, 10:26:07 AM
Masalahnya Hinayana, Mahayana, Vajrayana itu TK, SD, SMP...... bukan sama2 TK, demikian menurut pandangan Mahayana / Vajrayana.

Kalau anda umat T memandang semua TK ya sah2 dan maklum2 saja.... tapi pandangan Mahayana / Vajrayana ya beda lagi....

 _/\_
The Siddha Wanderer



Hebat! ^:)^  ^:)^  ^:)^
Jadi thread ini memang tidak tepat.
Mana mungkin anak-anak TK, playgroup, atau tidak sekolah, mengkritisi anak SD & SMP yang nota bene jauh lebih pintar, lebih ngerti, lebih dewasa, lebih bijaksana.

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: coedabgf on 25 March 2009, 10:28:54 AM
 ^-^ => jadi seru nih! (sapa bela sapa bela sapa, sapa dulu, kebenarannya mana?)
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Indra on 25 March 2009, 10:37:30 AM
menurut statistik saya, jumlah encek2 yg gak lulus SD dan berhasil sukses (baca: kaya) lebih banyak daripada sarjana yang nganggur (baca: miskin)
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 25 March 2009, 10:38:21 AM
snap snap snap

Perlu ditegaskan yang dimaksud oleh Mahayanis sebagai Hinayana bukanlah Theravada...  :P bila kita teliti lebih dalam maka yang disebut Buddha sebagai Hinayanis adalah orang yang mencari pembebasan dan kebahagiaan 'hanya' untuk diri sendiri saja, tidak peduli dengan mahkluk lain; berwawasan sempit;

kalau ada yang tersinggung

I AM SORI
I AM KHILAF

 _/\_


Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hatRed on 25 March 2009, 10:51:06 AM
menurut statistik saya, jumlah encek2 yg gak lulus SD dan berhasil sukses (baca: kaya) lebih banyak daripada sarjana yang nganggur (baca: miskin)

OOT ah....

ney encek2 generasi kapan ya,, SD nya mantep amat... :))

ternyata SD jaman doeloe, hoebat2 =))
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 25 March 2009, 10:51:51 AM
Bukan masalah Hinayana = Theravada atau bukan. Bagi orang yang menganggap dirinya lebih baik dari orang lain, lebih pintar dari orang lain, bisakah dia menerima kritik dari orang lain? Hinayana saja dianggap TK, mungkin saya dianggap ga sekolah.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 25 March 2009, 10:56:13 AM
^
^

ngak lah bro....

jangan gitu donk
masak sech, kayaknya ngak dech....

IMHO, kainyn_kutho itu kan lumayan loh, dalam jajaran MOD cukup diperhitungkan loh.

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 25 March 2009, 11:19:41 AM
Hanya
^
^

ngak lah bro....

jangan gitu donk
masak sech, kayaknya ngak dech....

IMHO, kainyn_kutho itu kan lumayan loh, dalam jajaran MOD cukup diperhitungkan loh.



Sebenernya bukan masalah pribadi saya sendiri, tetapi kalau dalam satu diskusi, seseorang menempatkan dirinya lebih tinggi, dari orang lain, maka sikap demikian tidak akan membuat diskusi berjalan.

Sekarang di sini 'kan judulnya "Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...", bagaimana jika memang saya seorang Hinayana dan mau mengkritik? Bukankah di mata GandalfTheElder hanya seperti anak TK yang mengkritik anak SD/SMP?

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 25 March 2009, 11:29:48 AM
yup, gpp bro

jangan dimasukin kehati....

murid aje bole kritik gurunya disekolah (guru disekolah loh)
gw salah satu-nya :P

tapi saya tidak merasa lebih pinter dari guru saya loh
cuma kan, kadang guru bisa khilaf, namanya juga manusia :P

P.S. tar saya marahin dia ya, bro kainyn_kutho, tapiiii.... saya takut tar saya disihir jadi kodok  :'(

saya setuju sech, diskusi harus berjalan dua arah.  ^-^

"please ignore the statement above"

lanjut2 diskusi nya


Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 25 March 2009, 01:01:20 PM
menurut statistik saya, jumlah encek2 yg gak lulus SD dan berhasil sukses (baca: kaya) lebih banyak daripada sarjana yang nganggur (baca: miskin)

OOT ah....

ney encek2 generasi kapan ya,, SD nya mantep amat... :))

ternyata SD jaman doeloe, hoebat2 =))
menurut statistik saya, jumlah encek2 yg gak lulus SD dan berhasil sukses (baca: kaya) lebih banyak daripada sarjana yang nganggur (baca: miskin)

Maklum lah si gendalf masih anak kecil. Belum dewasa

Setuju sama Bro Indra. Terang aja encek enceknya langsung pratek, lebih tahan banting, daripada sarjana sok pintar tapi Ngak bisa apa - apa pas lansung prateknya.
Alias tong kosong nyaring bunyinya
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 25 March 2009, 10:31:43 PM
Quote
apa benar kalau mahayana tingkatnya lebih tinggi dari T ? kenapa?

Semuanya bertahap jalannya. Dari Hinayana terus Mahayana terus Vajrayana.  

Apakah bertahap ini merupakan tinggi-tinggian atau tidak, silahkan renungkan sendiri.

 _/\_
The Siddha Wanderer

kalau dari klaim konsep MAHAYANA, bahwa Hinayana berakhir pada jalan SAVAKA/SRAVAKA yang di MAHAYANA hanya identik dengan Bodhisatva tkt-7, dan masih bisa mengambil jalan MAHAYANA untuk mencapai bodhisatva tkt-10 (setara dengan samyaksambuddha/sammasambuddha), masih ada LOGIKA PEMBENARAN-NYA...

Tetapi apakah yang melandaskan pandangan bahwa Tahapan selanjutnya dari MAHAYANA adalah VAJRAYANA/TANTRA ? Apakah karena konsep VAJRAYANA yang "mengusahakan" tercapai-nya penerangan sempurna (annutara samyaksambuddha) hanya dalam 1 kehidupan saja ?
JIKA BEGITU... Malah yang ingin saya tanyakan... apakah dari sekian banyak praktisi VAJRAYANA/TANTRA, ada yang "di-ketahui" sudah mencapai penerangan sempurna annutara samyaksambuddha ? (SOALNYA KALAU ALIRAN VAJRAYANA/TANTRA, KOK YANG KEDENGARAN ADALAH EMANASI EMANASI TERUS MENERUS, malah NAMA SAMPAI pakai angka ROMAWI... ada yang sampai XVI ? ? ? )
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Shining Moon on 26 March 2009, 03:34:17 AM
mau nanya yah..
bagaimana pandangan pure land (tanah suci) jika dibandingkan dengan re-birth?
apa keberadaan pure land itu sendiri merupakan nirvana atau apa ya..
maaf, saya bener2 nggak ngerti
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Edward on 26 March 2009, 08:17:00 AM

Maklum lah si gendalf masih anak kecil. Belum dewasa

Setuju sama Bro Indra. Terang aja encek enceknya langsung pratek, lebih tahan banting, daripada sarjana sok pintar tapi Ngak bisa apa - apa pas lansung prateknya.
Alias tong kosong nyaring bunyinya

ehem, silahkan berdiskusi. Tidak perlu menjelek-jelekkan. :)
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Edward on 26 March 2009, 08:27:13 AM
mau nanya yah..
bagaimana pandangan pure land (tanah suci) jika dibandingkan dengan re-birth?
apa keberadaan pure land itu sendiri merupakan nirvana atau apa ya..
maaf, saya bener2 nggak ngerti

Pure Land itu bukan nirvana. Sesuai dengan penjelasan saya sebelumnya, Sukhavati itu sama seperti dunia Saha kita ini, tapi dengan kondisi yang berbeda.Perbedaannya ialah kondisi dunia Sukhavati yg terbebas dari berbagai macam delusi, dan memiliki Buddha yaitu Amita Buddha yg masih mengajarkan Dhamma.Dengan berbabagai kondisi yang "pas" tersebut, Sukhavati menjadi lokasi yg paling cocok untuk kita melatih diri dan memperoleh pencerahan di sana.

Sukhavati sendiri tidak abadi, karena suatu saat pun akan hancur dan berputar kembali sesuai dengan hukum anicca, tetapi Sukhavati dikatakan dalam Sutra bahwa memiliki lifespan yg sangat panjang, sehingga dikatakan umurnya hampir tak terhingga.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 26 March 2009, 08:36:16 AM
mau nanya yah..
bagaimana pandangan pure land (tanah suci) jika dibandingkan dengan re-birth?
apa keberadaan pure land itu sendiri merupakan nirvana atau apa ya..
maaf, saya bener2 nggak ngerti

Pure Land itu bukan nirvana. Sesuai dengan penjelasan saya sebelumnya, Sukhavati itu sama seperti dunia Saha kita ini, tapi dengan kondisi yang berbeda.Perbedaannya ialah kondisi dunia Sukhavati yg terbebas dari berbagai macam delusi, dan memiliki Buddha yaitu Amita Buddha yg masih mengajarkan Dhamma.Dengan berbabagai kondisi yang "pas" tersebut, Sukhavati menjadi lokasi yg paling cocok untuk kita melatih diri dan memperoleh pencerahan di sana.

Sukhavati sendiri tidak abadi, karena suatu saat pun akan hancur dan berputar kembali sesuai dengan hukum anicca, tetapi Sukhavati dikatakan dalam Sutra bahwa memiliki lifespan yg sangat panjang, sehingga dikatakan umurnya hampir tak terhingga.

apakah sukhavati jg memiliki alam dewa, alam brahma, alam apaya tersendiri ?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: marcedes on 26 March 2009, 09:46:35 AM
"ehipassiko" kata ini selalu berhubungan langsung dengan ajaran buddha.
mengenai hukum anicca, anatta, re-birth,bahkan alam dewa dan alam apaya semua nya bisa dibuktikan melalui jb8.

tetapi bagaimana pandangan mahayana tentang pure land........
bisa dibuktikan dengan apa?
dengan "saddha" yang tebal seperti ajaran nasra*i ??? alias percaya buta/blind faith.

saudara Edward yang bijak,
saya tidak pernah mencari pembenaran sepihak, tetapi pembenaran mutlak. dimana saya memakai kenyataan sebagai bukti...bukan hanya teori.

apakah pernah ada yang merenungkan "mengapa memilih agama buddha?"
mengapa bukan ajaran Isla*,Kriste* atau hind*....atau bahkan maitrey*

kalau saya, tentu saya mau menjawab "saya ingin bahagia"
bahagia yang tentunya bisa di buktikan....bukan ilusi / angan-angan / janji-janji tanpa bukti.

coba sendiri teliti letak ehipassiko nya itu ada bagian mana.
ataukan seperti cerita Ajahn Brahm "nanti saya akan bahagia"

kalau mau simak cerita nya bisa ke.
http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=9531.msg159530#msg159530


====================================================================
mohon maaf kalau saya repost
Quote from: chingik on 18 February 2009, 09:12:00 PM
Quote from: marcedes on 18 February 2009, 07:05:40 PM

Quote
Maksud saya kemana-mana kita pakai baju itu kemelekatan kan? sekali-sekali keluar rumah tanpa pakaian mas... untuk membuktikan jangan melekat   Grin

gimana yang punya isteri dan suami? kemelekatan kan? sekali sekali suami atau isteri orang lain?  untuk membuktikan tidak melekat   Grin

Maksud saya: apa batasan kemelekatan?
 Namaste
ada penderitaan maka ada kemelekatan, tidak ada kemelekatan, maka penderitaan tidak ada. ^^

Quote from: chingik on 18 February 2009, 03:59:31 PM
Quote
Nah... dalam RAPB, jelas dikatakan bahwa petapa sumedha telah memenuhi semua persyaratan untuk pencapaian ARAHAT (savaka buddha), tetapi karena chanda (keinginan luhur) beliau untuk mencapai sammasambuddha, maka pencapaian ARAHAT ditinggalkan (petapa sumedha tidak mencapai tingkat ARAHAT atau NIBBANA yang dimana kalau mencapai nibbana dan parinibbana maka tidak terlahirkan lagi di alam manapun lagi). Oleh karena ikrar-nya tersebut, Petapa Sumedha harus menjalani tumimbal lahir selama 4 asankheya kappa dan 100 ribu kappa untuk menyempurnakan parami...

Sedangkan dalam konsep MAHAYANA (terutama dilihat dari Saddharmapundarika Sutra), dikatakan bahwa para Sravaka (Arahat) --- Dalam hal ini yang telah mencapai Arahat / tidak ditunda ---- disetarkan dengan bodhisatva tingkat 7, dan jika para Sravaka ingin menempuh jalan bodhisatva dan bertujuan mencapai sammasambuddha, dapat keluar dari nibbana ekstrim (katanya nibbana para sravaka) untuk mencapai sammasambuddha. (Demikian juga BUDDHA GOTAMA dalam sutra saddharmapundarika meramalkan pencapaian sammasambuddha di masa mendatang dari beberapa sravaka/Arahat seperti Arahat Ananda dsbnya)...

Nah, persoalannya terjadi perbedaan di sini... Dari cerita penempuhan jalur bodhisatta (karir bodhisatta calon sammasambuddha seperti petapa sumedha) versi Theravada (sumber RAPB), jelas dikatakan bahwa Petapa Sumedha tidak merealisasikan pencapaian Savaka Buddha / Arahat, tetapi memasuki jalur/karir bodhisatta untuk pencapaian sammasambuddha. BEDA DENGAN KONSEP MAHAYANA, dimana setelah seorang individu merealisasikan ARAHAT / SRAVAKA BUDDHA, seorang ARAHAT dalam kembali menempuh jalur bodhisatva dengan bertumimbal lahir atau beremanasi atau berinkarnasi atau semacamnya dalam rangka pencapaian sammasambuddha.
Yaah....karena pada dasarnya Sammasambuddha lebih luhur. Lihat saja Sumedha walapun belum mencapai kesucian (cuma 4 jhana 5 abhinna), toh ketika mencanangkan ikrarnya, Api neraka aja menjadi padam (lihat RAPB).  Dan masih banyak lagi memuji keluhuran ikrar ini. Semua ini menurut saya membuka kemungkinan bahwa jalur Arahat utk menempuh Sammasambuddha adalah memungkinkan. Oya , perlu dicatat walaupun Mahayana mengatakan Arahat masih ada ruang utk maju lagi, tetapi ruang ini sangat kecil alias sangat sulit seorang Arahat sampai bisa membangkitkan cita2 Agung ini. (SEbenarnya ini secara implisit mengatakan bahwa Arahat memang sudah final sama seperti pandangan Theravada, tetapi Mahayana tidak mau menutup pintu kemungkinan ini rapat2, karena bagaimanapun Arahat blm tahu apa yg Buddha tahu, ini yg menjadi kunci bahwa bisa saja dia belajar lagi dlm arti belajar utk meraih pengetahuan sempurna)
saudara Chingik .... Nibbana itu tidak ada yang namanya "ragu-ragu" masih bisa maju atau tidak bisa maju..semua itu telah di ketahui nya dengan sempurna...

apabila ada seseorang arahat telah mencapai Nibbana, dan dirinya sendiri tidak tahu/tidak yakin dalam pencapaiannya...itu bukan arahat. ^^


tahu atau tidak tahu yg saya maksudkan bukan mengenai nibbananya, tetapi pada pengetahuan sempurna yg mencakup aspek sabbanu nana. Arahat tidak memilikinya.
arahat mengetahui dirinya telah sampai dimana, dan tidak ada keraguan untuk itu.
bisa baca ref Raungan Sariputta.

tetapi memang Arahat(savaka) bukan maha tahu....
tetapi arahat telah menyelami nibbana sampai tahu dimana-mana....jadi tidak ada vicikiccha pada pencapaian nya.

(ref.raungan sariputta)
Quote
Bhante, sebenarnya kami tidak memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengetahui pikiran para Arahat, Sammasambuddha, baik dari masa lampau, yang akan datang maupun sekarang. Tetapi, meskipun demikian kami memiliki pengetahuan tentang tradisi Dhamma (Dhammanvayo)."
    "Bhante, sama seperti perbatasan-negara milik seorang raja yang mempunyai benteng yang kokoh, dengan dinding dan menara penjagaan yang kuat dan hanya mempunyai sebuah pintu saja. Dan di sana, ada seorang penjaga pintu yang pandai, berpengalaman serta cerdas, yang akan mengusir orang-orang yang tidak dikenal dan hanya mengijinkan masuk orang-orang yang dikenal saja. Ketika ia memeriksa dengan menyusuri jalan yang mengelilingi dinding benteng-negara itu, ia tidak melihat adanya sebuah lubang atau celah, di dinding benteng-negara itu, yang cukup untuk dilewati oleh binatang, sekali pun hanya sekecil seekor kucing. Dan ia berpikir: "Seberapa pun besarnya mahluk-mahluk yang akan masuk atau meninggalkan negara ini, mereka semua hanya dapat melalui pintu ini."

dari sini bukankah sudah jelas kalau "arahat" telah tahu secara sempurna nibbana itu.

Quote from: chingik on 18 February 2009, 09:20:04 PM
Quote
masalah nnya...Mahayana menulis arahat masih bisa merosot.....jadi maksud nya itu apa?
Theravada sendiri tidak pernah mengatakan arahat masih bisa merosot...

apa seorang arahat masih bisa menjadi perumah tangga....
dalam arti kesucian itu bisa pelan-pelan kotor kembali.. ^^

dalam arti lain Sammasambuddha masih bisa kotor?
apabila dialasankan menjadi Arahat tidak sama Sammasambuddha dalam pencapaian..
berarti hal ini menujukkan perbedaan Nirvana kelas Arahat dan kelas Sammasambuddha.?

kalau Theravada kan tidak ada beda nibbana arahat(savaka) dan nibbana sammasambuddha( arahat juga)
sedangkan mahayana ada beda?...tolong infonya
Tafsiran kemerosotan Arahat bukan pernyataan sepihak Mahayana. Hal ini sudah terjadi perdebatan dari berbagai sekte. Sarvastivada yg bagian dari pecahan Theravada juga menyatakan kemerosotan Arahat. Masing2 punya pandangan masing2, mereka saja saling berdebat Arahat jenis apa yg merosot, jenis apa yg tidak merosot. Merosot sebatas apa, dll.
Coba kaji juga ttg Arahat yg tidak sanggup menahan sakit dan memilih bunuh diri, apa karena ada kaitan dgn kekuatiran mengalami kemerosotan, saya sejujurnya blm tahu, tapi silakan kemukakan pandangan anda. NO problem. hehe..

sudah dikatakan berulang ^^
kemorosotan arahat hanya ada dalam kitab komentar para murid-murid....bukan pada ajaran.

dan untungnya theravada dalam kitab komentar belum pernah terjadi kemerosotan arahat.
jika memang sarvastivada menulis demikian...ada baiknya di post disini..biar menambah wawasan semua rekan-rekan se-dhamma. ^^

Quote from: chingik on 18 February 2009, 09:25:01 PM
Quote from: Edward on 18 February 2009, 08:11:31 PM
Setelah point2 penjelasan sudah dijelaskan.
Setelah dapat dilihat perbedaan yg memank jelas dari kedua aliran mainstream.
Kesimpulan-kesimpulan pun sudah dapat diperoleh, sesuai dengan keinginan diri sendiri...
Berbagai thread dan topik sudah dibuka, yang hasilnya selalu sama aja.

Terus, apalagi sih yg mo dicari? Grin

Masalahnya dia mau sampai mendapat kesimpulan bahwa ajaran yg dia anut benar, dan kita salah. haha... Tongue
Ga lah..santai aja bro marcedes, pertanyaan mu sangat bagus,
kayak Bodhisatva Mahakasyapa (bukan Y.A Maha Kassapa) yg selalu meragukan penjelasan Hyang Buddha dalam Mahaparinirvana Sutra. Buddha udh bilang begini2, dia lalu membantah bahwa ah..masak begtiu, kalo begitu bukankah jadi begitu begitu...., hehe..menarik juga ya bentuk dialog Mahaparinirvana Sutra yg terbuka, debatif.

^^
santai lah..
saya sendiri lebih suka berpandangan sesuai kenyataan. yakni sebenar-benarnya.
dhamma 4 kesunyataan mulia itu merupakan kenyataan hakekat yang sudah mutlak sesuai kenyataan....
masalah nya. "aliran mahayana" merubah kenyataan tersebut dan berkata lain.....
dan saya jadi ingin tahu sampai dimana pikiran tersebut melayang.....
apakah masih sesuai kenyataan?

sangat disayangkan buddha dhamma yang sangat demokratis..bebas berpikir....
tetapi jika ternyata hanya khayalan....bukankah itu semua fenomena yang sia-sia?

"selama saya belajar dhamma...saat ini Aliran Theravada yang memberikan gambaran sesuai kenyataan"

maka oleh sebab itu saya tidak menutup diri
"untuk mempersilahkan jika ada yang salah dalam aliran yang saya pelajari ini"
---------------------------------------------------------
Quote from: chingik on 18 February 2009, 09:43:06 PM

Quote
coba jelaskan secara 4 kesunyataan mulia sesuai aja deh dengan kitab mahayana...
kan sammasambuddha lahir terus..
jadi masih menderita lah...
Wah..4 kebenaran mulia, bahkan dalam Dasabhumika Sutra yg membahas tingkatan bodhisatva juga menjabarkan 4 kebenaran mulia dan pattica sammpuda dgn masing2 tingkatan dgn tingkat pemahaman yg berbeda2. Cukup menarik, bahkan tidak mudah dipahami oleh orang awam seperti saya. Tapi saya percaya Isi kitab ini tidak se'naif" yg bro bayangkan, karena mereka bisa membahas panjang lebar ttg 4 kebenaran mulia yg dikaitkan dgn jalan bodhisatva. Entah mereka sekedar ngarang2 sambil makan kacang, ah...ga mungkin deh...

Oya sammasambbudha telah mencapai kondisi tidak lahir dan tidak lenyap, bebas dari dualitas. Di Mahayana tulisan seperti ini buaanyaakknya minta ampun. Apa ga cukup ? Jangan terpaku pada Buddha lahir lagi di lokasi x. dll, itu kan sudah dikatakan bahwa ini bukan jenis kelahiran yg mengikuti siklus 21 musabab saling bergantungan. Buddha yg transeden memiliki abhinna yg tidak kita pahami, jadi bukan Buddha melanggar ucapannya sendiri.
kita tidaklah perlu membahas boddhisatva ada berapa tingkatan....
langsung saja ke pokok kenyataan

diselamatkan dari apa ajaran buddha?
dan mengapa buddha lupa cara pencapaian ke-buddha-an dan harus mendengarkan nasehat pemusik yang lewat?

(apakah bagian sini buddha sengaja bersandiwara seperti aktor laga?)

(buddha yang sudah memiliki pengetahuan maha tahu, kok bisa harus melihat 4 tanda barulah muncul perasaan samvega pada diri-nya?...bersandiwara lagi?)

(Buddha sudah mencapai pencerahan, mengapa harus menunggu umur 35 barulah mengajar?...
mengapa bukan dari kecil seperti umur 25 atau lainnya saja,,
bahkan sengaja menikah...
disatu sisi ini melecehkan kesucian buddha,dimana kita tahu kehidupan suci adalah meninggalkan hidup berumah tangga....lalu?)
bagian ini bisa di delete jika tidak berkenaan oleh moderator...
tetapi saya sungguh bukan dengan maksud menghina, melainkan bertanya apakah ada alasan special untuk ini?

apa buddha sudah hampir seperti Tuh*n dalam agama lain?
"tidak dapat dipikirkan dengan logika dan akal sehat" ^^

mari kita flash back sedikit. ^^
di agama tetangga, Tuh*n katanya sangat welas asih !!!.
bayangkan "mengizinkan iblis menguji anak domba-nya(manusia) untuk dihasut menuju neraka"
ketika saya tanyakan hal ini, dan mempertanyakan

"Orang Tua mana yang TEGA-TEGA nya membiarkan penjahat menghasut anak-nya?"
dan lagi ini "dapat restu dari orang tua"

saya bahkan di beri satu penjelasan yang saya anggap penjelasan crazy think.
yakni " welas asih Tuh*n tidak dapat dipikirkan oleh logika manusia "

tahu kan arti welas asih, cinta kasih,dsb-nya......orang tua kandung kita memiliki semua itu.

disini jelas "kenyataan" Tuh*n itu tidaklah memiliki welas asih,cintakasih,dsb-nya..
tetapi mengapa di "benarkan memiliki semua itu?"
saya kira hanya ketakutan akan kepercayaan yang dipegang itu ternyata tidak sesuai kenyataan.
inilah kebodohan batin. ^^

---------------------------------------------------
sama seperti kenyataan... "buddha" lahir di India... dan dikatakan buddha akan lahir lagi entah dimana, dan mengajarkan dhamma....

ketika kita mempertanyakan "berarti Buddha" itu masih ada sampai sekarang?
masa mau di bilang "jangan dibilang ada, atau tiada".....ini bukan-kah perumitan namanya?

kenyataan-nya kan akan "ada"..berarti proses nya
ketika buddha ada ( di bumi ) kemudian meninggal -----> pindah entah kemana ----> ada lagi entah dimana mengajarkan dhamma..

berarti ADA ---> XXX -----> ADA.
mau dikatakan apa itu coba?..

Quote from: chingik on 18 February 2009, 09:48:42 PM
Quote
masalah paham nihilis......itu jikalau kita beranggapan bahwa sesudah kita meninggal, maka tidak ada sama sekali lagi apa-apa...tamat sudah.
tentu hal ini dianggap nihilisme dikarenakan masih ada sebab...tetapi tidak ada akibat.
nah..bro bisa membedakan kondisi nihilis/lenyap antara orang awam yg beranggapan salah dengan seorang Buddha yg mencapai anutpadisesa nibbana.
Seharusnya juga  bisa membedakan antara kondisi Buddha yg bisa bermanifestasi lagi di tempat lain dengan orang awam yg dilahirkan kembali.   
kita kembali ke hukum sebab akibat..

pernahkah ada akibat tanpa sebab?
disitu dikatakan buddha akan bermanifestasi entah dimana...."sebab" - nya?

berarti buddha itu masih ada donk sampai sekarang....

---------------------------------------------
kalau mau di persingkat...pada inti nya adalah

kan kalau di Theravada buddha menyelamatkan dari Penderitaan.
dimana jara-marana ada karena ada kondisi....
dan ketika kondisi itu sudah tiada...maka jara-marana tidak akan ada.
lahir-mati, untung-rugi, bahagia-derita, dan seterusnya......
bahkan termasuk bentuk pikiran yang memikirkan hal ini pun, juga telah padam.

kalau mahayana apa donk visi-misi Buddha?
selama buddha mengajarkan dhamma dari kappa ke kappa yang sudah sekian banyak.

"buddha menyelamatkan makhluk hidup dari apa?



mau baca versi dulu nya di sini
http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=5941.msg151786#msg151786

_/\_

salam metta
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: coedabgf on 26 March 2009, 11:31:59 AM
mau nanya yah..
bagaimana pandangan pure land (tanah suci) jika dibandingkan dengan re-birth?
apa keberadaan pure land itu sendiri merupakan nirvana atau apa ya..
maaf, saya bener2 nggak ngerti


sis yuliany, saya kasih ilustrasi (anggap saja seperti cerita fiksi, bisa juga loh buat inspirasi).
Alam-alam, dunia ini seperti rimba raya, ada tuan-tuan yang baik dan jahat, ada kerajaan-kerajaan dengan penguasa-penguasanya, ada yang didalam penguasaan tuan-tuan baik yang baik maupun yang jahat, atau dalam kerajaan-kerajaan, ada gelandangan terlunta-lunta, ada preman yang berlaku hukum rimba, tetapi tetap meskipun seolah-olah ada atau tiada hukum, semua ada di bawah/tunduk kepada (terproses oleh) satu kuasa hukum tertinggi dunia.
Klo alam sukhavati, adalah salah satu alam spiritual yang dipimpin oleh guru Buddha Amithaba.
apa kegiatannya sama seperti di dunia ini? Berbeda, saya beri ilustrasi kehidupan disana seperti biara shaolin, tapi bukan belajar pukulan (kung fu) melainkan belajar pendalaman DHAMMA hingga pencerahan oleh guru BUDDHA Amithaba.
Bagaimana untuk mencapainya? yaitu bagi mereka pelaku pemeraktek/pengikut/pemercaya guru Buddha Amithaba.


kutipan dari marcedes :
tetapi bagaimana pandangan mahayana tentang pure land........
bisa dibuktikan dengan apa?
dengan "saddha" yang tebal seperti ajaran nasra*i Huh? alias percaya buta/blind faith.

saya mo meluruskan seperti pandangan banyak teman-teman yang lain tentang iman kekeristenan dibilang percaya buta/blind faith. coba klo sebaliknya praktek keyakinan teman-teman ditanyakan kepada mereka yang memiliki iman kekeristenan. apa jawaban atau penjelasan mereka? bukan karena kebenaran (petunjuk jalan) pengajaran guru Buddha (mungkin mereka tidak tahu karena tidak mendalami), tetapi kenyataan praktek-praktek umat buddhist secara umum mereka malah melakukan praktek kepercayaan yang membabi buta seperti yang dinyatakan oleh guru Buddha sebagai kepercayaan takhayul, apalagi bagaimana mungkin untuk dapat melepaskan/menanggalkan pandangan salah tentang aku ciri diri sementara yang anicca => dukkha dan anatta untuk dapat meraih pengetahuan sempurna kesejatian (pencerahan) dan bagaimana mungkin untuk dapat merealisasikan kehidupan sejati/nibanna (memberlakukan dalam kehidupan) bila tidak mencapai pengetahuan sejati tentang kesejatian hidup (diri)/kebenaran Mutlak, hanya dalam kekhayalan atau bahkan takhayul.

Seperti yang sudah saya jelaskan/gambarkan/ilustrasikan pada sis yuliany bahwa alam-alam, dunia ini seperti rimba raya, ada tuan-tuan yang baik dan jahat, ada kerajaan-kerajaan dengan penguasa-penguasanya, ada yang didalam penguasaan tuan-tuan baik yang baik maupun yang jahat, atau dalam kerajaan-kerajaan, ada gelandangan terlunta-lunta, ada preman yang berlaku hukum rimba, tetapi tetap meskipun seolah-olah ada atau tiada hukum, semua ada di bawah/tunduk kepada (terproses oleh) satu kuasa hukum tertinggi dunia (yang berujung ketidak-kekalan/maut/kebinasaan), didalam praktek penyembahan kepercayaan/keyakinan apapun juga itu menghadirkan suatu kuasa atau kekuatan (yang saya ilustrasikan sebagai tuan-tuan atau raja-raja penguasa atau bahkan preman-preman), tetapi baik atau jahat, yang mengandung (sifat-sifat) kebenaran/terang atau kejahatan/kegelapan pada akhirnya siapa yang tahu, sebagai contohnya pohon atau batu atau patung yang ditumpu (dilekat keyakinan) atau disembah sajapun bisa mendatangkan suatu figur kuasa/kekuatan. Tetapi klo anda mau sungguh-sungguh mempelajarinya, iman kekeristenan bukanlah suatu kepercayaan yang membabi buta atau kepercayaan buta/blind faith, sebab iman kepercayaan kekeristenan diluar dari atau kepada kepercayaan yang ada terhadap (di)dunia ini dengan jelas terpisahkan. (diluar dari praktek-praktek salah manusia penganutnya)


Jangan menjadi tersinggung (aku ciri diri/atta), semoga dapat melihat dan menjadi inspirasi buat perenungan umat.
good hope and love
coedabgf
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: cunda on 26 March 2009, 11:41:12 AM
menurut statistik saya, jumlah encek2 yg gak lulus SD dan berhasil sukses (baca: kaya) lebih banyak daripada sarjana yang nganggur (baca: miskin)


namaste suvatthi hotu

akooor


banyak "ortu yg bukan sarjana" bisa mengantarkan anak-anaknya menjadi sarjana

Semoga saja "ortu yang sarjana" tidak mengantarkan anak-anaknya cuma bisa lulus SD, karena nganggur.........alias bokek bin bangkrut

thuti
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: marcedes on 26 March 2009, 12:55:10 PM
Quote
apa benar kalau mahayana tingkatnya lebih tinggi dari T ? kenapa?

Semuanya bertahap jalannya. Dari Hinayana terus Mahayana terus Vajrayana.  

Apakah bertahap ini merupakan tinggi-tinggian atau tidak, silahkan renungkan sendiri.

 _/\_
The Siddha Wanderer

kalau dari klaim konsep MAHAYANA, bahwa Hinayana berakhir pada jalan SAVAKA/SRAVAKA yang di MAHAYANA hanya identik dengan Bodhisatva tkt-7, dan masih bisa mengambil jalan MAHAYANA untuk mencapai bodhisatva tkt-10 (setara dengan samyaksambuddha/sammasambuddha), masih ada LOGIKA PEMBENARAN-NYA...

Tetapi apakah yang melandaskan pandangan bahwa Tahapan selanjutnya dari MAHAYANA adalah VAJRAYANA/TANTRA ? Apakah karena konsep VAJRAYANA yang "mengusahakan" tercapai-nya penerangan sempurna (annutara samyaksambuddha) hanya dalam 1 kehidupan saja ?
JIKA BEGITU... Malah yang ingin saya tanyakan... apakah dari sekian banyak praktisi VAJRAYANA/TANTRA, ada yang "di-ketahui" sudah mencapai penerangan sempurna annutara samyaksambuddha ? (SOALNYA KALAU ALIRAN VAJRAYANA/TANTRA, KOK YANG KEDENGARAN ADALAH EMANASI EMANASI TERUS MENERUS, malah NAMA SAMPAI pakai angka ROMAWI... ada yang sampai XVI ? ? ? )
memang begitulah pelajaran tingkat tinggi... banyak XXXXXXX -nya....variabel nya rumit...

mau nanya yah..
bagaimana pandangan pure land (tanah suci) jika dibandingkan dengan re-birth?
apa keberadaan pure land itu sendiri merupakan nirvana atau apa ya..
maaf, saya bener2 nggak ngerti


sis yuliany, saya kasih ilustrasi (anggap saja seperti cerita fiksi, bisa juga loh buat inspirasi).
Alam-alam, dunia ini seperti rimba raya, ada tuan-tuan yang baik dan jahat, ada kerajaan-kerajaan dengan penguasa-penguasanya, ada yang didalam penguasaan tuan-tuan baik yang baik maupun yang jahat, atau dalam kerajaan-kerajaan, ada gelandangan terlunta-lunta, ada preman yang berlaku hukum rimba, tetapi tetap meskipun seolah-olah ada atau tiada hukum, semua ada di bawah/tunduk kepada (terproses oleh) satu kuasa hukum tertinggi dunia.
Klo alam sukhavati, adalah salah satu alam spiritual yang dipimpin oleh guru Buddha Amithaba.
apa kegiatannya sama seperti di dunia ini? Berbeda, saya beri ilustrasi kehidupan disana seperti biara shaolin, tapi bukan belajar pukulan (kung fu) melainkan belajar pendalaman DHAMMA hingga pencerahan oleh guru BUDDHA Amithaba.
Bagaimana untuk mencapainya? yaitu bagi mereka pelaku pemeraktek/pengikut/pemercaya guru Buddha Amithaba.


kutipan dari marcedes :
tetapi bagaimana pandangan mahayana tentang pure land........
bisa dibuktikan dengan apa?
dengan "saddha" yang tebal seperti ajaran nasra*i Huh? alias percaya buta/blind faith.

saya mo meluruskan seperti pandangan banyak teman-teman yang lain tentang iman kekeristenan dibilang percaya buta/blind faith. coba klo sebaliknya praktek keyakinan teman-teman ditanyakan kepada mereka yang memiliki iman kekeristenan. apa jawaban atau penjelasan mereka? bukan karena kebenaran (petunjuk jalan) pengajaran guru Buddha (mungkin mereka tidak tahu karena tidak mendalami), tetapi kenyataan praktek-praktek umat buddhist secara umum mereka malah melakukan praktek kepercayaan yang membabi buta seperti yang dinyatakan oleh guru Buddha sebagai kepercayaan takhayul, apalagi bagaimana mungkin untuk dapat melepaskan/menanggalkan pandangan salah tentang aku ciri diri sementara yang anicca => dukkha dan anatta untuk dapat meraih pengetahuan sempurna kesejatian (pencerahan) dan bagaimana mungkin untuk dapat merealisasikan kehidupan sejati/nibanna (memberlakukan dalam kehidupan) bila tidak mencapai pengetahuan sejati tentang kesejatian hidup (diri)/kebenaran Mutlak, hanya dalam kekhayalan atau bahkan takhayul.

Seperti yang sudah saya jelaskan/gambarkan/ilustrasikan pada sis yuliany bahwa alam-alam, dunia ini seperti rimba raya, ada tuan-tuan yang baik dan jahat, ada kerajaan-kerajaan dengan penguasa-penguasanya, ada yang didalam penguasaan tuan-tuan baik yang baik maupun yang jahat, atau dalam kerajaan-kerajaan, ada gelandangan terlunta-lunta, ada preman yang berlaku hukum rimba, tetapi tetap meskipun seolah-olah ada atau tiada hukum, semua ada di bawah/tunduk kepada (terproses oleh) satu kuasa hukum tertinggi dunia (yang berujung ketidak-kekalan/maut/kebinasaan), didalam praktek penyembahan kepercayaan/keyakinan apapun juga itu menghadirkan suatu kuasa atau kekuatan (yang saya ilustrasikan sebagai tuan-tuan atau raja-raja penguasa atau bahkan preman-preman), tetapi baik atau jahat, yang mengandung (sifat-sifat) kebenaran/terang atau kejahatan/kegelapan pada akhirnya siapa yang tahu, sebagai contohnya pohon atau batu atau patung yang ditumpu (dilekat keyakinan) atau disembah sajapun bisa mendatangkan suatu figur kuasa/kekuatan. Tetapi klo anda mau sungguh-sungguh mempelajarinya, iman kekeristenan bukanlah suatu kepercayaan yang membabi buta atau kepercayaan buta/blind faith, sebab iman kepercayaan kekeristenan diluar dari atau kepada kepercayaan yang ada terhadap (di)dunia ini dengan jelas terpisahkan. (diluar dari praktek-praktek salah manusia penganutnya)


Jangan menjadi tersinggung (aku ciri diri/atta), semoga dapat melihat dan menjadi inspirasi buat perenungan umat.
good hope and love
coedabgf
memang beda antara datang dan melihat..........dengan datang dan percaya
sudahlah....

"ada penderitaan tetapi tidak ada yang menderita"

diskusi nya saya sudahi....

banyak berkah pada anda semua
salam metta.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hendrako on 26 March 2009, 12:58:32 PM
mau nanya yah..
bagaimana pandangan pure land (tanah suci) jika dibandingkan dengan re-birth?
apa keberadaan pure land itu sendiri merupakan nirvana atau apa ya..
maaf, saya bener2 nggak ngerti


sis yuliany, saya kasih ilustrasi (anggap saja seperti cerita fiksi, bisa juga loh buat inspirasi).
Alam-alam, dunia ini seperti rimba raya, ada tuan-tuan yang baik dan jahat, ada kerajaan-kerajaan dengan penguasa-penguasanya, ada yang didalam penguasaan tuan-tuan baik yang baik maupun yang jahat, atau dalam kerajaan-kerajaan, ada gelandangan terlunta-lunta, ada preman yang berlaku hukum rimba, tetapi tetap meskipun seolah-olah ada atau tiada hukum, semua ada di bawah/tunduk kepada (terproses oleh) satu kuasa hukum tertinggi dunia.
Klo alam sukhavati, adalah salah satu alam spiritual yang dipimpin oleh guru Buddha Amithaba.
apa kegiatannya sama seperti di dunia ini? Berbeda, saya beri ilustrasi kehidupan disana seperti biara shaolin, tapi bukan belajar pukulan (kung fu) melainkan belajar pendalaman DHAMMA hingga pencerahan oleh guru BUDDHA Amithaba.
Bagaimana untuk mencapainya? yaitu bagi mereka pelaku pemeraktek/pengikut/pemercaya guru Buddha Amithaba.


kutipan dari marcedes :
tetapi bagaimana pandangan mahayana tentang pure land........
bisa dibuktikan dengan apa?
dengan "saddha" yang tebal seperti ajaran nasra*i Huh? alias percaya buta/blind faith.

saya mo meluruskan seperti pandangan banyak teman-teman yang lain tentang iman kekeristenan dibilang percaya buta/blind faith. coba klo sebaliknya praktek keyakinan teman-teman ditanyakan kepada mereka yang memiliki iman kekeristenan. apa jawaban atau penjelasan mereka? bukan karena kebenaran (petunjuk jalan) pengajaran guru Buddha (mungkin mereka tidak tahu karena tidak mendalami), tetapi kenyataan praktek-praktek umat buddhist secara umum mereka malah melakukan praktek kepercayaan yang membabi buta seperti yang dinyatakan oleh guru Buddha sebagai kepercayaan takhayul, apalagi bagaimana mungkin untuk dapat melepaskan/menanggalkan pandangan salah tentang aku ciri diri sementara yang anicca => dukkha dan anatta untuk dapat meraih pengetahuan sempurna kesejatian (pencerahan) dan bagaimana mungkin untuk dapat merealisasikan kehidupan sejati/nibanna (memberlakukan dalam kehidupan) bila tidak mencapai pengetahuan sejati tentang kesejatian hidup (diri)/kebenaran Mutlak, hanya dalam kekhayalan atau bahkan takhayul.

Seperti yang sudah saya jelaskan/gambarkan/ilustrasikan pada sis yuliany bahwa alam-alam, dunia ini seperti rimba raya, ada tuan-tuan yang baik dan jahat, ada kerajaan-kerajaan dengan penguasa-penguasanya, ada yang didalam penguasaan tuan-tuan baik yang baik maupun yang jahat, atau dalam kerajaan-kerajaan, ada gelandangan terlunta-lunta, ada preman yang berlaku hukum rimba, tetapi tetap meskipun seolah-olah ada atau tiada hukum, semua ada di bawah/tunduk kepada (terproses oleh) satu kuasa hukum tertinggi dunia (yang berujung ketidak-kekalan/maut/kebinasaan), didalam praktek penyembahan kepercayaan/keyakinan apapun juga itu menghadirkan suatu kuasa atau kekuatan (yang saya ilustrasikan sebagai tuan-tuan atau raja-raja penguasa atau bahkan preman-preman), tetapi baik atau jahat, yang mengandung (sifat-sifat) kebenaran/terang atau kejahatan/kegelapan pada akhirnya siapa yang tahu, sebagai contohnya pohon atau batu atau patung yang ditumpu (dilekat keyakinan) atau disembah sajapun bisa mendatangkan suatu figur kuasa/kekuatan. Tetapi klo anda mau sungguh-sungguh mempelajarinya, iman kekeristenan bukanlah suatu kepercayaan yang membabi buta atau kepercayaan buta/blind faith, sebab iman kepercayaan kekeristenan diluar dari atau kepada kepercayaan yang ada terhadap (di)dunia ini dengan jelas terpisahkan. (diluar dari praktek-praktek salah manusia penganutnya)


Jangan menjadi tersinggung (aku ciri diri/atta), semoga dapat melihat dan menjadi inspirasi buat perenungan umat.
good hope and love
coedabgf

"Berbahagialah orang yang percaya namun tidak melihat."

Apabila tidak melihatnya saya ganti dengan buta, yg notabene adalah sinonim dari kata "tidak melihat,
bukankah kalimat tersebut menjadi:

"Berbahagialah orang yang percaya, buta."

Maaf sebelumnya, bukan bermaksud menyinggung, namun memang itulah yang dikatakan sebagai 'Iman", yang berbeda dengan ke"yakin"an, yang "melihat", apapun agamanya atau bahkan tidak ber"agama" sama sekali.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: N1AR on 26 March 2009, 01:01:31 PM
pertanyaan untuk bro udabgf
apa yesus sama dengan bodhisattva?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: coedabgf on 26 March 2009, 01:13:09 PM
hayo siapa lagi yang mo tambahkan, nti saya rangkum jawabannya jadi satu, gak terpecah/pisah-pisah.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: bukeksiansu on 26 March 2009, 01:51:01 PM
Quote
apa benar kalau mahayana tingkatnya lebih tinggi dari T ? kenapa?

Semuanya bertahap jalannya. Dari Hinayana terus Mahayana terus Vajrayana.  

Apakah bertahap ini merupakan tinggi-tinggian atau tidak, silahkan renungkan sendiri.

 _/\_
The Siddha Wanderer

Mana yang lebih tinggi, Hindu atau Tibetan? dua-duanya memiliki ajaran Yoga dan Tantra.
Barangkali lebih tinggi lagi kr****n dan Islam  karena mereka adalah ajaran dari langit. penguasa alam semesta.

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hatRed on 26 March 2009, 02:33:36 PM
Quote
apa benar kalau mahayana tingkatnya lebih tinggi dari T ? kenapa?

Semuanya bertahap jalannya. Dari Hinayana terus Mahayana terus Vajrayana.  

Apakah bertahap ini merupakan tinggi-tinggian atau tidak, silahkan renungkan sendiri.

 _/\_
The Siddha Wanderer

Mana yang lebih tinggi, Hindu atau Tibetan? dua-duanya memiliki ajaran Yoga dan Tantra.
Barangkali lebih tinggi lagi kr****n dan Islam  karena mereka adalah ajaran dari langit. penguasa alam semesta.




bbbb...uahahahahhaaaa...............

nice joke... langit emang tinggi :))  :)) =))
bwakakakaakaa......................


kalo diatas langit ada langit..
Islam dan kr****n itu ada dilangit lapisan berapa ya :-?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 26 March 2009, 03:31:46 PM
kutipan dari marcedes :
tetapi bagaimana pandangan mahayana tentang pure land........
bisa dibuktikan dengan apa?
dengan "saddha" yang tebal seperti ajaran nasra*i Huh? alias percaya buta/blind faith.

"ehipassiko" kata ini selalu berhubungan langsung dengan ajaran buddha.
bro/ sis mercedes, sendiri bisa mengatakan ehipassiko, tidak berdasarkan kepercayaan yg membabi buta....

kalau gitu, kenapa tidak bro/ sis mercedes membuktikan nya sendiri dengan ehipassiko terlebih dahulu...
cobalah dengan keyakinan yang sepenuh hati dan tulus, melapalkan namo amitabha buddha selama maybe
1 bulan, dan cobalah liat hasilnya terlebih dahulu, jangan menjudge, sesuatu tanpa ehipassiko.


Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: andry on 26 March 2009, 03:35:27 PM
Saya mau tanya dong
kalau nyang bakar2 kertas itu dari mahayana? jika ya, jelasin dong
trus, kan suka ada ditulis nama2 d pelita. nah itu dari mahayana juga? jelasin juga donggg

terima kasih
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 26 March 2009, 03:47:52 PM
^
^
^
itu bukan mahayana
itu tradisi, kalau tidak salah itu ajaran konghucu (mgkn lebih jelas nya bro purnama bisa menjelaskan, krn dia expert dibidang ini)

bukan nya sang buddha tidak melarang kita melakukan ritual tradisi, selama itu tidak bertentangan dengan ajaran sang buddha.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 26 March 2009, 03:50:13 PM
Awal Mula Pemikiran Tanah Suci

Selama masa kehidupan Sang Buddha, ada seorang raja vernama Bimbisra yang dipenjara oleh putera mahkotanya sendiri, Pangeran Ajatasatru . Bahkan Ratu Vaidehi pun sulit bertemu dengan sang raja. Anak yang keras kepala ini kejam dan tidak mempunyai rasa berbakti. Ia merebut tahta dan memenjarakan sang raja. Raja Bimbisara merasa sangat sedih dan putus asa. Ia merasa prihatin atas Dunia Saha ini, yaitu dunia lima kemerosotan, yang penuh dengan penderitaan, setan-setan kelaparan, dan binatang. Ia berpikir dalam hati, “Oh, Buddha! Pada situasi sulit ini, mengapa Engkau tidak datang dan menolongku? Tunjukkanlah satu tempat berlindung yagn dapat menentramkan diriku yang letih ini!”

Ratu Vaidehi memohon untuk bertemu sang raja. Ajatasatru tidak mengijinkan Ratu Vaidehi membawa makanan kepada Raja Bimbisara. Raja Vaidehi dengan sedih melumuri madu dan tepung pada badannya untuk mengurangi rasa lapar sang raja. Pada saat tanpa harapan dan menyedihkan ini keduanya berdoa agar Buddha memberikan ajaran cinta kasih kepada mereka. Terjadilah seperti yagn mereka harapkan. Sang Buddha muncul didepan mereka melalui kekuatan gaib-Nya. Beliau berkata kepada Ratu Vaidehi dan Raja Bimbisara. “Pada jarak sepuluh juta milyar Tanah-tanah Buddha menuju barat dari Dunia Saha ini, terdapat sebuah dunia disebut kebahagiaan tertinggi, disana Buddha Amitabha sedang mengajarkan Dharma. Tidak ada penderitaan dalam dunia Amitabha. Itu adalah tempat yang paling suci, paling aman, dan paling membahagiakan. Anda hanya perlu membaca nama Buddha Amitabha. Buddha Amitabha akan menggunakan kekuatan tekad mulia-Nya untuk memanggil mereka yang menyebut nama-Nya untuk terlahir kembali di Tanah Suci”.

Setelah mendengar ajaran Sang Buddha, Raja Bimbisara dan Ratu Vaidehi mulai membaca berulang-ulang nam Amitabha. Sebuah hanmparan tanah yang terang dan bersih benar-benar muncul di depan mata mereka. Ini benar-benar Tanah Suci Amitabha yang membahagiakan. Ini merupakan awal mula filosofi Tanah Suci.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 26 March 2009, 03:54:26 PM
Kita mengetahui eksistensi Tanah Suci dari kejadian nyata orang-orang yang terlahir kembali di sana.

Di antara orang-orang yang membacakan berulang-ulang nama Buddha Amitabha, ada yang dapat meramalkan kapan mereka akan meninggal dunia; beberapa di antaranya dapat melihat Amitabha Buddha mengajak mereka secara pribadi; ada yang dapat mencium wangi aneh di kamar mereka. Peristiwa peristiwa seperti ini hanya terjadi pada mereka yang melatih ajaran Tanah Suci. Mereka dapat terlahir kembali di Tanah Suci saat mereka telah mencapai kesempurnaan latihan pembacaan berulang-ulang nama Buddha Amitabha.

Kita mengetahui eksistensi Tanah Suci dengan bukti ilmiah
Dari bukti ilmiah saat ini, kita ketahui bahwa ada sistem tata surya yang lain, di samping galaksi kita sendiri, dan terdapat banyak galaksi lain, selain yang kita tinggali. Alam semesta tidak terbatas luasnya; hal ini di luar imajinasi' umat manusia. Dengan kata lain, banyak terdapat dunia-dunia, selain planet Bumi kita.

Sebenarnya, kita tidak mernbutuhkan penemuan-penemuan dari ilmuwan-ilmuwan modem untuk membuktikan bahwa ada sistem tata surya lain di alam semesta.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 26 March 2009, 04:02:23 PM
kutipan dari amitabha sutra:

"Pada masa yang akan datang, Buddhadharma akan hilang. Para raja siluman paling takut pada Surangama Sutra, dan karenanya Surangama Sutra akan lenyap terlebih dahulu, sebab tanpa Sutra ini, tidak ada yang bisa mengucapkan mantra.Lalu satu persatu Sutra-Sutra lainnya akan hilang.

Yang akan lenyap paling akhir adalah Amitabha Sutra. Ia akan tinggal di dunia seratus tahun lagi dan membawa makhluk hidup yang tak terhingga banyaknya menyebrangi lautan penderitaan menuju pantai lainnya, yaitu Nirvana.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 26 March 2009, 04:05:19 PM
penderitaan di alam dewa dan alam brahma juga hanya ada 1 saja, yaitu kematian... Tidak ada sakit, dan usia tua hanya sebentar saja menjelang kematian. Apakah di alam sukhavati ada kematian ?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 26 March 2009, 04:23:32 PM
^
^
^
kutipan dari amitabha sutra (versi pendek)

"O Sariputra, demikinlah adanya negeri kebahagiaan sempurna dengan pahala dan kebajikan terhias, megah dan agung. Lagipula Sariputra, di negeri kebahagiaan sempurna makhluk hidup yang lahir semuanya Avaivartika. Di antara mereka banyak yang dalam kehidupan ini mencapai tingkat kebuddhaan, jumlah mereka sangatlah banyak tidak dapat dihitung dan hanya dapat disebut Kalpa Asankhyeya. Yang tiada terbatas, tiada terhingga."

Avaivartika (Sanskrit)  one who turns no more back; who goes straight to Nirvana.

IMHO, karena umur sangat sangattttttt............ panjannnnnnnnnnnngggggggggggggggggggggg,
menurut saya sangat sangat tidak mungkin terjadi kematian
karena sebelum mati, sudah mencapai nirvana terlebih dahulu....  ^-^

 ^:)^ kepada senior2 praktisi pure land, yang lebih expert didalam hal ini.

saya bukan praktisi pure land, saya hanya pemula praktisi tanah kristal lazuardi..... ^-^

CMIIW,

navis
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 26 March 2009, 04:33:28 PM

saya bukan praktisi pure land, saya hanya pemula praktisi tanah kristal lazuardi..... ^-^

CMIIW,

navis

tanah kristal lazuardi = tanah suci buddha bhaisjayaguru ?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Gunawan on 26 March 2009, 06:29:14 PM
Awal Mula Pemikiran Tanah Suci

Selama masa kehidupan Sang Buddha, ada seorang raja vernama Bimbisra yang dipenjara oleh putera mahkotanya sendiri, Pangeran Ajatasatru . Bahkan Ratu Vaidehi pun sulit bertemu dengan sang raja. Anak yang keras kepala ini kejam dan tidak mempunyai rasa berbakti. Ia merebut tahta dan memenjarakan sang raja. Raja Bimbisara merasa sangat sedih dan putus asa. Ia merasa prihatin atas Dunia Saha ini, yaitu dunia lima kemerosotan, yang penuh dengan penderitaan, setan-setan kelaparan, dan binatang. Ia berpikir dalam hati, “Oh, Buddha! Pada situasi sulit ini, mengapa Engkau tidak datang dan menolongku? Tunjukkanlah satu tempat berlindung yagn dapat menentramkan diriku yang letih ini!”

Ratu Vaidehi memohon untuk bertemu sang raja. Ajatasatru tidak mengijinkan Ratu Vaidehi membawa makanan kepada Raja Bimbisara. Raja Vaidehi dengan sedih melumuri madu dan tepung pada badannya untuk mengurangi rasa lapar sang raja. Pada saat tanpa harapan dan menyedihkan ini keduanya berdoa agar Buddha memberikan ajaran cinta kasih kepada mereka. Terjadilah seperti yagn mereka harapkan. Sang Buddha muncul didepan mereka melalui kekuatan gaib-Nya. Beliau berkata kepada Ratu Vaidehi dan Raja Bimbisara. “Pada jarak sepuluh juta milyar Tanah-tanah Buddha menuju barat dari Dunia Saha ini, terdapat sebuah dunia disebut kebahagiaan tertinggi, disana Buddha Amitabha sedang mengajarkan Dharma. Tidak ada penderitaan dalam dunia Amitabha. Itu adalah tempat yang paling suci, paling aman, dan paling membahagiakan. Anda hanya perlu membaca nama Buddha Amitabha. Buddha Amitabha akan menggunakan kekuatan tekad mulia-Nya untuk memanggil mereka yang menyebut nama-Nya untuk terlahir kembali di Tanah Suci”.

Setelah mendengar ajaran Sang Buddha, Raja Bimbisara dan Ratu Vaidehi mulai membaca berulang-ulang nam Amitabha. Sebuah hanmparan tanah yang terang dan bersih benar-benar muncul di depan mata mereka. Ini benar-benar Tanah Suci Amitabha yang membahagiakan. Ini merupakan awal mula filosofi Tanah Suci.
Selama saya mempelajari Buddha Dhamma Theravada saya hanya mengetahui YM.Ananda Thera sebagai Bendahara Dhamma. YM.Anandalah yang mengulang Dhamma pada Konsili pertama dan YM.Ananda Thera tidak pernah menyebut-nyebut Masalah Tanah Suci ataupun Amitabha. Saya yang masih Bodoh Mau tanya Siapakah yang Mengulang Dhamma ajaran Sang Buddha pertama kali dan Kapan (Versi Mahayana) ?

Kita mengetahui eksistensi Tanah Suci dari kejadian nyata orang-orang yang terlahir kembali di sana.

Di antara orang-orang yang membacakan berulang-ulang nama Buddha Amitabha, ada yang dapat meramalkan kapan mereka akan meninggal dunia; beberapa di antaranya dapat melihat Amitabha Buddha mengajak mereka secara pribadi; ada yang dapat mencium wangi aneh di kamar mereka. Peristiwa peristiwa seperti ini hanya terjadi pada mereka yang melatih ajaran Tanah Suci. Mereka dapat terlahir kembali di Tanah Suci saat mereka telah mencapai kesempurnaan latihan pembacaan berulang-ulang nama Buddha Amitabha.

Kita mengetahui eksistensi Tanah Suci dengan bukti ilmiah
Dari bukti ilmiah saat ini, kita ketahui bahwa ada sistem tata surya yang lain, di samping galaksi kita sendiri, dan terdapat banyak galaksi lain, selain yang kita tinggali. Alam semesta tidak terbatas luasnya; hal ini di luar imajinasi' umat manusia. Dengan kata lain, banyak terdapat dunia-dunia, selain planet Bumi kita.

Sebenarnya, kita tidak mernbutuhkan penemuan-penemuan dari ilmuwan-ilmuwan modem untuk membuktikan bahwa ada sistem tata surya lain di alam semesta.

Saya yang masih Bodoh mau Tanya? Apakah hanya dengan Membacakan Mantra Amitabha saja kita bisa ke Tanah Suci? dan Siapakah yang dapat memberikan Bukti nyata dari keberadaan Tanah Suci tsb? Dan Apakah Hanya Praktisi Tanah Kristal Lazuardi saja yang mampu mencapai tanah Suci tsb?

Note : Saya Hanya mau Tanya dan Belajar Mengenai Mahayana .... ;D Tidak ada maksud lain.... :)  No Offense..... ^:)^


 _/\_
Thanks & Best Regards
Gunawan S S
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: andry on 26 March 2009, 08:03:16 PM
Gunawan S S:
Saya yang masih Bodoh mau Tanya? Apakah hanya dengan Membacakan Mantra Amitabha saja kita bisa ke Tanah Suci? dan Siapakah yang dapat memberikan Bukti nyata dari keberadaan Tanah Suci tsb? Dan Apakah Hanya Praktisi Tanah Kristal Lazuardi saja yang mampu mencapai tanah Suci tsb?

, Menurut gue seh kagak bisa bangett yakk
masa cuma baca doang coba.., yg fasti harus d dukung parami yang oke.
kecuali selama 40 tahun terus baca amitabha, non stop. gue jamin bisa tuh minimal alam brahma dahh dapet
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Gunawan on 26 March 2009, 08:29:56 PM
 [at] Atas = Apakah dan siapakah yang menjamin bahwa dengan membaca mantra Amitabha saja selama 40 tahun bisa mencapai alam Brahma?.... :-? , Dalam Ajaran Theravada bahwa seseorang yang melatih Meditasi Samatha dan jika mencapai Jhana/tingkat konsentrasi baru bisa ke alam-alam Brahma dan tidak pernah diajarkan bahwa dgn mantra bisa mencapai kebahagiaan. .... :) ........  :)

 _/\_
Thanks & Best Regards
Gunawan S S
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: andry on 26 March 2009, 08:55:31 PM
hhaha, kan kita lagi d konteks mahayana... kosongkan isi cangkirnya bro (gitu sebut guru zen)
coba u bayangkan bro
40 tahun nonstop, ucap2 amitabha terus.
mencerap jhana gak? mencerap lahh
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: coedabgf on 26 March 2009, 10:38:49 PM
Selama saya mempelajari Buddha Dhamma Theravada saya hanya mengetahui YM.Ananda Thera sebagai Bendahara Dhamma. YM.Anandalah yang mengulang Dhamma pada Konsili pertama dan YM.Ananda Thera tidak pernah menyebut-nyebut Masalah Tanah Suci ataupun Amitabha. Saya yang masih Bodoh Mau tanya Siapakah yang Mengulang Dhamma ajaran Sang Buddha pertama kali dan Kapan (Versi Mahayana) ?


Saya yang masih Bodoh mau Tanya? Apakah hanya dengan Membacakan Mantra Amitabha saja kita bisa ke Tanah Suci? dan Siapakah yang dapat memberikan Bukti nyata dari keberadaan Tanah Suci tsb? Dan Apakah Hanya Praktisi Tanah Kristal Lazuardi saja yang mampu mencapai tanah Suci tsb?

Note : Saya Hanya mau Tanya dan Belajar Mengenai Mahayana .... ;D Tidak ada maksud lain.... :)  No Offense..... ^:)^


Seperti semua perbincangan diskusi pengetahuan Dhamma yang berandai-andai, sayapun mau ikut cerita yang berandai-andai pula,
1.saya yang percaya buta yang seolah-olah hanya menggunakan sedikit intelektualitas sehingga seolah-olah membuta dibandingkan teman-teman yang dapat melihat melalui kepandaian pertimbangan pikiran intelektualitasnya masing-masing, hanya mau menggambarkan saja,
klo menurut kisah setelah maha parinibanna guru Buddha Sakyamuni, apakah sudah ada murid-murid atau pendengar yang dapat mengerti ajaran jalan mulia dan mencapai pencerahan langsung?. dan kapasitas Ananda pada saat itu sebelum konsili pertama apakah sudah dapat menembus kebenaran pengetahuan mulia pencerahan? seperti yang diceritakan, meskipun memiliki banyak perbendaharaan (mengikuti) pengajaran guru Buddha, tetapi hanya dengan cara teguran perenungan oleh Kassapa dan menyerah saat  menanggalkan kepandaian pengetahuan intelektualitasnya, Ananda baru mengerti hakekat kebenaran sejati dan tercerahkan. sehingga apakah ada kemungkinan apakah Ananda mengetahui semua segala sesuatunya secara keseluruhan tentang pengajaran guru Buddha? dan apakah ada kemungkinan juga ada terpecah pengikut-pengikut menurut keterbatasan penerimaan ajaran (kebijaksanaan para pengikut) yang menyebabkan terjadinya pengelompokan pendokumentasian (pengikut) ajaran-ajaran, bahkan saat guru Buddha hiduppun ada terjadi seperti cerita 500 murid yang keluar/pergi tidak mengikuti ajaran selanjutnya (maaf gambarannya klo gak salah)?

2.secara teoritis dan kenyataan bahwa setiap orang mewarisi karmanya masing-masing. secara kenyataannya akan kembali mengikuti jalur (kelekatannya) kepercayaannya/keyakinannya dan kenyataan mewarisi karmanya juga yang membentuk kehidupannya (dimana keyakinan dan kepercayaannya juga itu adalah hasil dari karma kehidupannyanya juga). Dan seperti yang sudah saya jelaskan/gambarkan/ilustrasikan pada tulisan terdahulu  bahwa alam-alam, dunia ini seperti rimba raya, ada tuan-tuan yang baik dan jahat, ada kerajaan-kerajaan dengan penguasa-penguasanya, ada yang didalam penguasaan tuan-tuan baik yang baik maupun yang jahat, atau dalam kerajaan-kerajaan, ada gelandangan terlunta-lunta, ada preman yang berlaku hukum rimba, tetapi tetap meskipun seolah-olah ada atau tiada hukum, semua ada di bawah/tunduk kepada (terproses oleh) satu kuasa hukum tertinggi dunia (yang berujung ketidak-kekalan/maut/kebinasaan), dimana anda akan terproses atau menuju pada akhirnya (setelah kematian) menurut pilihan keyakinan/kepercayaan anda masing-masing. Tinggal pilih saja iman/keyakinan/kepercayaan yang benar, yang sesat atau tanpa pengetahuan tentang kebenaran keyakinan yang benar.

Seperti sorga barat sukhavati, mereka yang sungguh-sungguh mempercayainya berarti mereka juga yang memiliki keyakinan dan berusaha mempersiapkan dirinya menyesuaikan diri menurut kebenaran pengajaran dalam setiap aspek kehidupan, (sehingga) memiliki keyakinan untuk dapat memperoleh kesempatan mengalami kehidupan disana.
Dan pada saat kematian jasmaninya, mereka akan dibawa oleh kekuatan Buddha Amitabha masuk dalam kehidupan surga sukhavati.
Dan satu hal bila setiap pemercaya yang mengalami kematian jasmani di bumi ini dibawa kesana oleh kekuatan Buddha Amitabha, berarti sebenarnya di bumi ini tidak ada perwakilan yang dibilang mewakili surga sukhavati (yang membilang baik oleh perorangan pribadi maupun suatu kelompok seperti yang terdengar pada pengakuan beberapa aliran). Dan disana mereka secara khusus (anggap saja saya istilahkan secara intensif) diajar dan belajar seperti yang saya beri ilustrasi kehidupan disana seperti biara shaolin, tapi bukan belajar pukulan (kung fu) melainkan belajar pendalaman DHAMMA hingga pencerahan oleh (kekuatan) guru BUDDHA Amithaba.


Semoga dapat menjadi aspirasi cerita fiksi yang menjadi kenyataan.
Good hope and love

Nb :
Penjelasan untuk beberapa pertanyaan tentang Christianity harap sabar.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: marcedes on 26 March 2009, 11:49:52 PM
kutipan dari marcedes :
tetapi bagaimana pandangan mahayana tentang pure land........
bisa dibuktikan dengan apa?
dengan "saddha" yang tebal seperti ajaran nasra*i Huh? alias percaya buta/blind faith.

"ehipassiko" kata ini selalu berhubungan langsung dengan ajaran buddha.
bro/ sis mercedes, sendiri bisa mengatakan ehipassiko, tidak berdasarkan kepercayaan yg membabi buta....

kalau gitu, kenapa tidak bro/ sis mercedes membuktikan nya sendiri dengan ehipassiko terlebih dahulu...
cobalah dengan keyakinan yang sepenuh hati dan tulus, melapalkan namo amitabha buddha selama maybe
1 bulan, dan cobalah liat hasilnya terlebih dahulu, jangan menjudge, sesuatu tanpa ehipassiko.
coba 1 bulan?...apa bisa lihat itu tanah dan bertemu buddha amitabha?
atau anda mau bilang, cuma di rasakan dengan batin.

bagi pemeditator...jangan tanya masalah "merasakan"

bro,nibbana yang diajarkan sangbuddha dengan 4 kesunyataan mulia dan JB 8.
itu adalah kenyataan saat ini...
bukan "nanti akan bahagia"

kalau anda melafalkan namo amitabha selama 1 bulan...lantas dapat apa? tiket ke alam sana?
dan hal apa yang meyakinkan anda kalau "alam" itu ada?

=============================================

saya pernah suatu kali bertemu dengan anak-anak....lalu mereka bercerita neraka itu seram panas, dan banyak api....
lalu saya berkata "sudah pernah ke sana?"
anak-anak tersebut menjawab "belum"....tapi kata ini, kata itu....dll... neraka itu demikian.

ujung-ujung nya dogmatis.


orang-orang nasran* juga sering bilang, kalau ada 2 orang berkumpul atau lebih memanggil nama Tuha* , maka Tuha* akan hadir disitu.
lantas, siapa yang bilang hadir?...sudah lihatkah?
hanya keyakinan buta saja...

saudara naviscope yang bijak,
jikalau saya melafalkan dan tidak dapat apa-apa?...
anda akan berkata "saudara/i marcedes kamu kurang yakin dan kurang tulus"

apa bedanya dengan gerej* kalau ada penyembuhan ilahi.
jika ditanya mengapa dia sembuh,saya tidak?

maka pendeta itu dengan enteng menjawab
"keyakinan anda belum kuat,anda harus lebih tulus menyerahkan segala-galanya pada Tuha*"

apakah ini namanya pelatihan mengembangkan batin?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: marcedes on 26 March 2009, 11:52:37 PM
Awal Mula Pemikiran Tanah Suci

Selama masa kehidupan Sang Buddha, ada seorang raja vernama Bimbisra yang dipenjara oleh putera mahkotanya sendiri, Pangeran Ajatasatru . Bahkan Ratu Vaidehi pun sulit bertemu dengan sang raja. Anak yang keras kepala ini kejam dan tidak mempunyai rasa berbakti. Ia merebut tahta dan memenjarakan sang raja. Raja Bimbisara merasa sangat sedih dan putus asa. Ia merasa prihatin atas Dunia Saha ini, yaitu dunia lima kemerosotan, yang penuh dengan penderitaan, setan-setan kelaparan, dan binatang. Ia berpikir dalam hati, “Oh, Buddha! Pada situasi sulit ini, mengapa Engkau tidak datang dan menolongku? Tunjukkanlah satu tempat berlindung yagn dapat menentramkan diriku yang letih ini!”

Ratu Vaidehi memohon untuk bertemu sang raja. Ajatasatru tidak mengijinkan Ratu Vaidehi membawa makanan kepada Raja Bimbisara. Raja Vaidehi dengan sedih melumuri madu dan tepung pada badannya untuk mengurangi rasa lapar sang raja. Pada saat tanpa harapan dan menyedihkan ini keduanya berdoa agar Buddha memberikan ajaran cinta kasih kepada mereka. Terjadilah seperti yagn mereka harapkan. Sang Buddha muncul didepan mereka melalui kekuatan gaib-Nya. Beliau berkata kepada Ratu Vaidehi dan Raja Bimbisara. “Pada jarak sepuluh juta milyar Tanah-tanah Buddha menuju barat dari Dunia Saha ini, terdapat sebuah dunia disebut kebahagiaan tertinggi, disana Buddha Amitabha sedang mengajarkan Dharma. Tidak ada penderitaan dalam dunia Amitabha. Itu adalah tempat yang paling suci, paling aman, dan paling membahagiakan. Anda hanya perlu membaca nama Buddha Amitabha. Buddha Amitabha akan menggunakan kekuatan tekad mulia-Nya untuk memanggil mereka yang menyebut nama-Nya untuk terlahir kembali di Tanah Suci”.

Setelah mendengar ajaran Sang Buddha, Raja Bimbisara dan Ratu Vaidehi mulai membaca berulang-ulang nam Amitabha. Sebuah hanmparan tanah yang terang dan bersih benar-benar muncul di depan mata mereka. Ini benar-benar Tanah Suci Amitabha yang membahagiakan. Ini merupakan awal mula filosofi Tanah Suci.

jadi buddha ajar apa disitu?
4 kesunyataan mulia?

penderitaan saja tidak ada disana...buddha nya ngajarin apa?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: andry on 26 March 2009, 11:57:59 PM
SAYA SEBAGAI MEMBER HARAP DISINI BUKAN AJANG DEBAT KUSIR
DEBAT UNTUK MEMBUKTIKAN SIAPA YANG OKE PUNYA
SAYA HARAP DISINI AJANG SALING ASAH-ASIH-ASUH
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 27 March 2009, 12:06:51 AM
Awal Mula Pemikiran Tanah Suci

Selama masa kehidupan Sang Buddha, ada seorang raja vernama Bimbisra yang dipenjara oleh putera mahkotanya sendiri, Pangeran Ajatasatru . Bahkan Ratu Vaidehi pun sulit bertemu dengan sang raja. Anak yang keras kepala ini kejam dan tidak mempunyai rasa berbakti. Ia merebut tahta dan memenjarakan sang raja. Raja Bimbisara merasa sangat sedih dan putus asa. Ia merasa prihatin atas Dunia Saha ini, yaitu dunia lima kemerosotan, yang penuh dengan penderitaan, setan-setan kelaparan, dan binatang. Ia berpikir dalam hati, “Oh, Buddha! Pada situasi sulit ini, mengapa Engkau tidak datang dan menolongku? Tunjukkanlah satu tempat berlindung yagn dapat menentramkan diriku yang letih ini!”

Ratu Vaidehi memohon untuk bertemu sang raja. Ajatasatru tidak mengijinkan Ratu Vaidehi membawa makanan kepada Raja Bimbisara. Raja Vaidehi dengan sedih melumuri madu dan tepung pada badannya untuk mengurangi rasa lapar sang raja. Pada saat tanpa harapan dan menyedihkan ini keduanya berdoa agar Buddha memberikan ajaran cinta kasih kepada mereka. Terjadilah seperti yagn mereka harapkan. Sang Buddha muncul didepan mereka melalui kekuatan gaib-Nya. Beliau berkata kepada Ratu Vaidehi dan Raja Bimbisara. “Pada jarak sepuluh juta milyar Tanah-tanah Buddha menuju barat dari Dunia Saha ini, terdapat sebuah dunia disebut kebahagiaan tertinggi, disana Buddha Amitabha sedang mengajarkan Dharma. Tidak ada penderitaan dalam dunia Amitabha. Itu adalah tempat yang paling suci, paling aman, dan paling membahagiakan. Anda hanya perlu membaca nama Buddha Amitabha. Buddha Amitabha akan menggunakan kekuatan tekad mulia-Nya untuk memanggil mereka yang menyebut nama-Nya untuk terlahir kembali di Tanah Suci”.

Setelah mendengar ajaran Sang Buddha, Raja Bimbisara dan Ratu Vaidehi mulai membaca berulang-ulang nam Amitabha. Sebuah hanmparan tanah yang terang dan bersih benar-benar muncul di depan mata mereka. Ini benar-benar Tanah Suci Amitabha yang membahagiakan. Ini merupakan awal mula filosofi Tanah Suci.

jadi buddha ajar apa disitu?
4 kesunyataan mulia?

penderitaan saja tidak ada disana...buddha nya ngajarin apa?

Good point...

salah satu sebab mengapa seorang sammasambuddha harus terlahir sebagai manusia adalah karena di dunia manusia yang jangka waktu kehidupan relatif tidak panjang lebih mudah mengamati sukha dan dukha. Kalau di alam dewa yang umurnya panjang dan penderitaan yang ada hanyalah kematian, tidak akan begitu efektif menjelaskan tentang penderitaan. Sedangkan kalau terhadap makhluk di apaya bhumi (alam penderitaan), malah tidak punya kesempatan mempraktekkan dhamma karena terus menerus di dera penderitaan sepanjang usia.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: marcedes on 27 March 2009, 12:14:17 AM
kutipan dari amitabha sutra:

"Pada masa yang akan datang, Buddhadharma akan hilang. Para raja siluman paling takut pada Surangama Sutra, dan karenanya Surangama Sutra akan lenyap terlebih dahulu, sebab tanpa Sutra ini, tidak ada yang bisa mengucapkan mantra.Lalu satu persatu Sutra-Sutra lainnya akan hilang.

Yang akan lenyap paling akhir adalah Amitabha Sutra. Ia akan tinggal di dunia seratus tahun lagi dan membawa makhluk hidup yang tak terhingga banyaknya menyebrangi lautan penderitaan menuju pantai lainnya, yaitu Nirvana.
jangan berfantasi bro...
nirvana?

di aliran mahayana saja disitu jelas tertulis, bahkan sammasambuddha saja masih harus lahir dan lahir.
lahir maka ada penderitaan...
inikah guru yang mengajarkan kebahagiaan?

bahkan mesti ber-akting pura-pura lupa cara mencapai pencerahan, mesti nikah,
dan nanti ber-akting di kalpa mana lagi?

visi-misi buddha itu menyelamatkan makhluk hidup dari apa?

Selama saya mempelajari Buddha Dhamma Theravada saya hanya mengetahui YM.Ananda Thera sebagai Bendahara Dhamma. YM.Anandalah yang mengulang Dhamma pada Konsili pertama dan YM.Ananda Thera tidak pernah menyebut-nyebut Masalah Tanah Suci ataupun Amitabha. Saya yang masih Bodoh Mau tanya Siapakah yang Mengulang Dhamma ajaran Sang Buddha pertama kali dan Kapan (Versi Mahayana) ?


Saya yang masih Bodoh mau Tanya? Apakah hanya dengan Membacakan Mantra Amitabha saja kita bisa ke Tanah Suci? dan Siapakah yang dapat memberikan Bukti nyata dari keberadaan Tanah Suci tsb? Dan Apakah Hanya Praktisi Tanah Kristal Lazuardi saja yang mampu mencapai tanah Suci tsb?

Note : Saya Hanya mau Tanya dan Belajar Mengenai Mahayana .... ;D Tidak ada maksud lain.... :)  No Offense..... ^:)^


Seperti semua perbincangan diskusi pengetahuan Dhamma yang berandai-andai, sayapun mau ikut cerita yang berandai-andai pula,
1.saya yang percaya buta yang seolah-olah hanya menggunakan sedikit intelektualitas sehingga seolah-olah membuta dibandingkan teman-teman yang dapat melihat melalui kepandaian pertimbangan pikiran intelektualitasnya masing-masing, hanya mau menggambarkan saja,
klo menurut kisah setelah maha parinibanna guru Buddha Sakyamuni, apakah sudah ada murid-murid atau pendengar yang dapat mengerti ajaran jalan mulia dan mencapai pencerahan langsung?. dan kapasitas Ananda pada saat itu sebelum konsili pertama apakah sudah dapat menembus kebenaran pengetahuan mulia pencerahan? seperti yang diceritakan, meskipun memiliki banyak perbendaharaan (mengikuti) pengajaran guru Buddha, tetapi hanya dengan cara teguran perenungan oleh Kassapa dan menyerah saat  menanggalkan kepandaian pengetahuan intelektualitasnya, Ananda baru mengerti hakekat kebenaran sejati dan tercerahkan. sehingga apakah ada kemungkinan apakah Ananda mengetahui semua segala sesuatunya secara keseluruhan tentang pengajaran guru Buddha? dan apakah ada kemungkinan juga ada terpecah pengikut-pengikut menurut keterbatasan penerimaan ajaran (kebijaksanaan para pengikut) yang menyebabkan terjadinya pengelompokan pendokumentasian (pengikut) ajaran-ajaran, bahkan saat guru Buddha hiduppun ada terjadi seperti cerita 500 murid yang keluar/pergi tidak mengikuti ajaran selanjutnya (maaf gambarannya klo gak salah)?

2.secara teoritis dan kenyataan bahwa setiap orang mewarisi karmanya masing-masing. secara kenyataannya akan kembali mengikuti jalur (kelekatannya) kepercayaannya/keyakinannya dan kenyataan mewarisi karmanya juga yang membentuk kehidupannya (dimana keyakinan dan kepercayaannya juga itu adalah hasil dari karma kehidupannyanya juga). Dan seperti yang sudah saya jelaskan/gambarkan/ilustrasikan pada tulisan terdahulu  bahwa alam-alam, dunia ini seperti rimba raya, ada tuan-tuan yang baik dan jahat, ada kerajaan-kerajaan dengan penguasa-penguasanya, ada yang didalam penguasaan tuan-tuan baik yang baik maupun yang jahat, atau dalam kerajaan-kerajaan, ada gelandangan terlunta-lunta, ada preman yang berlaku hukum rimba, tetapi tetap meskipun seolah-olah ada atau tiada hukum, semua ada di bawah/tunduk kepada (terproses oleh) satu kuasa hukum tertinggi dunia (yang berujung ketidak-kekalan/maut/kebinasaan), dimana anda akan terproses atau menuju pada akhirnya (setelah kematian) menurut pilihan keyakinan/kepercayaan anda masing-masing. Tinggal pilih saja iman/keyakinan/kepercayaan yang benar, yang sesat atau tanpa pengetahuan tentang kebenaran keyakinan yang benar.

Seperti sorga barat sukhavati, mereka yang sungguh-sungguh mempercayainya berarti mereka juga yang memiliki keyakinan dan berusaha mempersiapkan dirinya menyesuaikan diri menurut kebenaran pengajaran dalam setiap aspek kehidupan, (sehingga) memiliki keyakinan untuk dapat memperoleh kesempatan mengalami kehidupan disana.
Dan pada saat kematian jasmaninya, mereka akan dibawa oleh kekuatan Buddha Amitabha masuk dalam kehidupan surga sukhavati.
Dan satu hal bila setiap pemercaya yang mengalami kematian jasmani di bumi ini dibawa kesana oleh kekuatan Buddha Amitabha, berarti sebenarnya di bumi ini tidak ada perwakilan yang dibilang mewakili surga sukhavati (yang membilang baik oleh perorangan pribadi maupun suatu kelompok seperti yang terdengar pada pengakuan beberapa aliran). Dan disana mereka secara khusus (anggap saja saya istilahkan secara intensif) diajar dan belajar seperti yang saya beri ilustrasi kehidupan disana seperti biara shaolin, tapi bukan belajar pukulan (kung fu) melainkan belajar pendalaman DHAMMA hingga pencerahan oleh (kekuatan) guru BUDDHA Amithaba.


Semoga dapat menjadi aspirasi cerita fiksi yang menjadi kenyataan.
Good hope and love

Nb :
Penjelasan untuk beberapa pertanyaan tentang Christianity harap sabar.

yah, coba baca

Yuganaddha Sutta

Pada suatu waktu YM Ananda sedang tinggal di Kosambi, di Vihara di Taman Ghosita. Disana beliau berbicara pada para bhikkhu, "Teman-teman!"

"Ya, teman," jawab para bhikkhu.

YM Ananda berkata: "Teman-teman, siapapun — bhikkhu atau bhikkhuni — menyatakan pencapaian arahantnya didepan hadapanku, mereka semua melalui satu dari empat jalan. Apakah empat itu?

"Ada kasus dimana seorang bhikkhu telah mengembangkan pandangan terang yang didahului oleh ketenangan. Seiring dia mengembangkan pandangan terang yang didahului oleh ketenangan, sang jalan muncul. Dia mengikuti jalan itu, mengembangkannya, menjalaninya. Seiring dia mengikuti sang jalan, mengembangkannya & menjalaninya — belenggu-belenggunya ditinggalkan, obsesi-obsesinya hancur.

"Kemudian ada kasus dimana seorang bhikkhu telah mengembangkan ketenangan yang didahului oleh pandangan terang. Seiring dia mengembangkan ketenangan yang didahului oleh pandangan terang, sang jalan muncul. Dia mengikuti jalan itu, mengembangkannya, menjalaninya. Seiring dia mengikuti sang jalan, mengembangkannya & menjalaninya — belenggu-belenggunya ditinggalkan, obsesi-obsesinya hancur.

"Kemudian ada kasus dimana seorang bhikkhu telah mengembangkan ketenangan bersama-sama dengan pandangan terang. Seiring dia mengembangkan ketenangan yang didahului oleh pandangan terang, sang jalan muncul. Dia mengikuti jalan itu, mengembangkannya, menjalaninya. Seiring dia mengikuti sang jalan, mengembangkannya & menjalaninya — belenggu-belenggunya ditinggalkan, obsesi-obsesinya hancur.

"Kemudian ada kasus dimana pikiran seorang bhikkhu yang kegelisahan tentang Dhamma [Comm: kekotoran pandangan] terkendali dengan baik. Ada suatu waktu dimana pikirannya menjadi seimbang didalam, tenang, dan menjadi terpusat & terkonsentrasi. Didalam dirinya sang jalan muncul. Dia mengikuti jalan itu, mengembangkannya, menjalaninya. Seiring dia mengikuti sang jalan, mengembangkannya & menjalaninya — belenggu-belenggunya ditinggalkan, obsesi-obsesinya hancur.

"Siapapun — bhikkhu atau bhikkhuni — menyatakan pencapaian arahantnya dihadapanku, mereka semua melakukannya melalui salah satu dari empat jalan ini.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
ditambah....

sampasadaniya sutta

"Bhante, sebenarnya kami tidak memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengetahui pikiran para Arahat, Sammasambuddha, baik dari masa lampau, yang akan datang maupun sekarang. Tetapi, meskipun demikian kami memiliki pengetahuan tentang tradisi Dhamma (Dhammanvayo)."
    "Bhante, sama seperti perbatasan-negara milik seorang raja yang mempunyai benteng yang kokoh, dengan dinding dan menara penjagaan yang kuat dan hanya mempunyai sebuah pintu saja. Dan di sana, ada seorang penjaga pintu yang pandai, berpengalaman serta cerdas, yang akan mengusir orang-orang yang tidak dikenal dan hanya mengijinkan masuk orang-orang yang dikenal saja. Ketika ia memeriksa dengan menyusuri jalan yang mengelilingi dinding benteng-negara itu, ia tidak melihat adanya sebuah lubang atau celah, di dinding benteng-negara itu, yang cukup untuk dilewati oleh binatang, sekali pun hanya sekecil seekor kucing. Dan ia berpikir: "Seberapa pun besarnya mahluk-mahluk yang akan masuk atau meninggalkan negara ini, mereka semua hanya dapat melalui pintu ini."
    "Bhante, hanya dengan cara demikian aku memiliki pengetahuan tentang tradisi Dhamma (Dhammanvayo). Oleh karena, para Bhagava, Arahat, Sammasambuddha yang pernah ada pada masa lampau, dengan meninggalkan lima rintangan batin (pancanivarana) dan noda-noda pikiran (citta-upakkilesa) melalui kekuatan kebijaksanaan, dan dengan pikiran yang terpusat baik pada empat landasan kesadaran (cattarosatipatthana), serta mengembangkan dengan sempurna tujuh faktor Penerangan Sempurna (satta-sambojjhanga), maka mereka telah mencapai kesempurnaan sepenuhnya dalam Penerangan Sempurna (Sambodhi) yang tiada bandingannya (anuttara)."


------------------------------------------------------------------------
tahu itu pintu apa?

mahaparinibbana sutta.

"Subhadda, dalam dhamma dan vinaya mana pun, jika tidak terdapat Jalan Mulia Berunsur Delapan, maka di sana pun tidak akan terdapat seorang petapa sejati yang telah mencapai tingkat pertama, kedua, ketiga atau keempat. Tetapi dalam dhamma dan vinaya yang mana pun, jika terdapat Jalan Mulia Berunsur Delapan, maka di sana pun akan terdapat petapa yang sejati yang telah mencapai tingkat pertama, kedua, ketiga atau keempat. Kini, dalam dhamma dan vinaya yang kami ajarkan terdapat Jalan Mulia Berunsur Delapan itu, maka dengan sendirinya juga terdapat petapa-petapa sejati yang telah mencapai tingkat pertama, kedua, ketiga atau keempat.
    Ajaran guru-guru lainnya yang tidak memiliki Jalan Mulia Berunsur Delapan adalah kosong dan bukan petapa yang sejati. Subhadda, jika para bhikkhu ini hidup dengan baik menurut dhamma dan vinaya, maka dunia ini tidak akan kekosongan Arahat.
    Subhadda, sejak kami berumur duapuluh sembilan tahun, kami telah meninggalkan kehidupan duniawi untuk mencari kebaikan. Subhadda, kini telah lewat limapuluh satu tahun, dan sepanjang waktu itu, kami telah berkelana dalam suasana kebajikan dan kebenaran, waktu itu di luar tidak ada manusia suci. Juga tidak dari tingkat kedua, ketiga ataupun tingkat kesucian keempat. Ajaran guru-guru lainnya yang tidak memiliki Jalan Mulia Berunsur Delapan adalah kosong dan bukan petapa yang sejati. Subhadda, jika para bhikkhu ini hidup dengan baik menurut dhamma dan vinaya, maka dunia ini tidak akan kekosongan Arahat."

=============================================

Kemudian Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu : "Para bhikkhu, perhatikanlah nasehat ini : 'Segala sesuatu adalah tidak kekal. Berusahalah dengan sungguh-sungguh.' (Vaya dhamma sankhara, appamadena sampadetha)."
Inilah kata-kata terakhir Sang Tathagata.

namo tassa bhagavato arahato sammasambuddhasa.
namo tassa bhagavato arahato sammasambuddhasa.
namo tassa bhagavato arahato sammasambuddhasa.

banyak berkah pada anda
salam metta.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Edward on 27 March 2009, 12:15:42 AM

Apakah anda pernah bermeditasi?Dlm bermeditasi, kita mengenal istilah dengan "meluaskan" dan "memfokus"kan.Coba saja anda meruncingkan konsentrasi untuk "mendeteksi" berbagai Tanah Suci yg ada dlm kosmos ini, rasanya anda akan dapat merasakannya.

Anda berkata mengenai alam dewa, saya bertanya kembali, dari segi apakah anda dapat "meng-ehipassiko"kan? Segi science? Sama seperti keberadaan Tanah Suci, anda dapat membuktikan sendiri dengan kekuatan pikiran anda.

Yang saya lihat ialah, seorang Buddha, selain dengan kualitas2 yang dimilikinya, ialah makhluk yg "bebas". Ketika semua belenggu sudah dilepaskan, apakah masih ada kesempatan suatu kejadian alamiah menjadi penderitaan?

Anda menyinggung mengenai logika, apakah LOGIKA yang anda junjung tinggi itu merupakan "patokan" pasti? Logika balita dan logika orang dewasa tentu berbeda.Jangankan itu, logika orang yg berumur sama, tentu akan berbeda jika memiliki pengetahuan yg berbeda. Jadi, sesuai dengan dasar2 ILMIAH, apakah sesuatu yg yg begitu tergantung dengan variabel bisa menjadi SUATU PATOKAN PASTI?
Ada suatu ungkapan, "zen bukanlah zen jika hanya sebatas logika.Zen melewati batas2 tersebut" Silahkan anda pikirkan ungkapan tersebut.

Tahukah anda dengan efek placebo?Sesuatu yg anda harapkan, pasti akan terlihat seperti yg anda harapkan, jika anda tidak "membebaskan" pikiran anda dengan belenggu-belenggu yg anda buat sendiri.Rasanya itulah yg anda alami. Maaf jika saya men-judge anda, saya harap yg saya katakan salah.

Ok lha, rasanya memank arah diskusi tidak dapat berlanjut dengan anda, karena diskusi seharusnya dua arah, dan dengan pandangan yg netral.Semoga anda berbahagia.


FYI, saya adalah penganut BEBAS yang tidak terikat dengan aliran tertentu.Karena kapasitas saya sebagai "satpam" board Mahayana, tentu saya akan menjawab sesuai buku2 dan apa yang saya pelajari dalam pandangan Mahayana.Pada pagi hari saya memasang dupa untuk para dewa, dan pada sore (tidak selalu rutin) hari saya membaca Amitocing untuk pelimpahan jasa, dan pada malam(sama, kga rutin juga) hari saya meditasi vipassana.Jadi, silahkan anda melabeli saya, karena saya sendiri tidak berlabel, dan menerima ajaran dari berbagai semua aliran sebagai suatu kesatuan yg saling mengisi.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Gunawan on 27 March 2009, 12:20:29 AM
hhaha, kan kita lagi d konteks mahayana... kosongkan isi cangkirnya bro (gitu sebut guru zen)
coba u bayangkan bro
40 tahun nonstop, ucap2 amitabha terus.
mencerap jhana gak? mencerap lahh

Oh...Jadi menurut anda pencapaian Jhana di mahayana Bisa dilakukan hanya dengan Baca Mantra Amitabha?


Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Edward on 27 March 2009, 12:22:15 AM
Sekali lagi Marcedes, rasanya anda kurang mengerti.

Coba saya jawab secara singkat kepada anda:

Yang ada dalam SUTTA VERSI THERAVADA ITU SALAH!!
KARENA DALAM SUTRA MAHAYANA BERBEDA!
So, MEMASUKKAN KUTIPAN SUTTA THERAVADA TIDAK RELEVAN, KARENA ISI-nya RANCU,MELENCENG dan MELAYANG-LAYANG DARI DHARMA YANG SEBENARNYA!
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: marcedes on 27 March 2009, 12:24:17 AM
bro edward yang bijak,
logika tidak selama-nya benar, tetapi kenyataan/fakta yang pasti benar.

kalau masalah diskusi,
sebuah diskusi akan memiliki arah yang baik apabila, memakai kenyataan sebagai acuan..
tetapi kalau sudah pakai fantasi...yah tentu bercabang-cabang.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: andry on 27 March 2009, 12:27:45 AM
hhaha, kan kita lagi d konteks mahayana... kosongkan isi cangkirnya bro (gitu sebut guru zen)
coba u bayangkan bro
40 tahun nonstop, ucap2 amitabha terus.
mencerap jhana gak? mencerap lahh

Oh...Jadi menurut anda pencapaian Jhana di mahayana Bisa dilakukan hanya dengan Baca Mantra Amitabha?

so, apa bedanya denga buddha-buddha-buddha
aki-aki-aki
masuk-masuk-masuk
keluar-keluar-keluar
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Edward on 27 March 2009, 12:38:34 AM
penderitaan di alam dewa dan alam brahma juga hanya ada 1 saja, yaitu kematian... Tidak ada sakit, dan usia tua hanya sebentar saja menjelang kematian. Apakah di alam sukhavati ada kematian ?

Kutipan dari buku "Pure Land Buddhism ,Dialogues with Ancient Masters"
Bahwa Pure itu terbebas dari  Five Turbidities (Corruption, Defilements, Depravaties, Filths, Impurities).
The five are: 1.the filth of kalpa, when the historical cycle is in a period of degeneration; 2. the filth of views,when all sorts of wrong views prevail; 3. the filth of passions, when desire, hatred and other defilements are predominant; 4. the filth of human condition, when people are more miserable than happy; 5 the filth of life span diminishes (G.C.C Chang). these conditions, viewed from a Buddhist angel, however, can constitute aids to enlightment, as they may spur practitioners to more earnest cultivation.

Kelima kondisi tersebut tidak ada dalam sukhavati.Kira2 seperti itulah penjelasan secara singkat mengenai Pure Land dalam buku tersebut.Secara lengkap bro isa coba cari n baca sendiri.Tersedia secara gratis di Mr Google karena free distribution.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: marcedes on 27 March 2009, 12:40:27 AM
hhaha, kan kita lagi d konteks mahayana... kosongkan isi cangkirnya bro (gitu sebut guru zen)
coba u bayangkan bro
40 tahun nonstop, ucap2 amitabha terus.
mencerap jhana gak? mencerap lahh

Oh...Jadi menurut anda pencapaian Jhana di mahayana Bisa dilakukan hanya dengan Baca Mantra Amitabha?

so, apa bedanya denga buddha-buddha-buddha
aki-aki-aki
masuk-masuk-masuk
keluar-keluar-keluar

kalau nafas, akan ada gerakan alamiah. secara nyata tanpa membutuhkan bergeraknya "si penggerak"
dan "si pengetahu" yang ada.
tetapi jika menggunakan metode pembacaan, maka disitu ada "penggerak" bergerak..

jadi meditasi nya bukan menjadi "menyadari saat ini"

meditasi seperti ini,saya pernah coba....tetapi
hasilnya mengecewakan.
hanya bercakap-cakap dengan masa lampau, bukan sadar SATI.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Edward on 27 March 2009, 12:50:59 AM
Ada berbagai metode dalam kultivasi Sukhavati, selain dengan merenungkan keagungan dan tanda2 dan gambaran seorang Buddha Amitabha, bisa juga dengan pelafan. Pelafalan tentu tidak sebatas dalam ucapan, tetapi memfokuskan pikiran dlm 1 titik, yaitu sosok Amitabha Buddha. Selain itu, "efek" dari pemfokusan terus menerus akan menumbuhkan " kebiasaan" akan selalu mengingat seorang Buddha, sehingga memungkinkan akan terlahir di sukhavati.

Dari kalimat saya di atas, apakah ada yg bisa melihat korelasinya dengan, Buddhanusati, Samatha Bhavana, dan karma baik dari "KEBIASAAN" mengingat akan dhamma dlm sistem Abhidhamma?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Gunawan on 27 March 2009, 12:54:54 AM
hhaha, kan kita lagi d konteks mahayana... kosongkan isi cangkirnya bro (gitu sebut guru zen)
coba u bayangkan bro
40 tahun nonstop, ucap2 amitabha terus.
mencerap jhana gak? mencerap lahh

Oh...Jadi menurut anda pencapaian Jhana di mahayana Bisa dilakukan hanya dengan Baca Mantra Amitabha?

so, apa bedanya denga buddha-buddha-buddha
aki-aki-aki
masuk-masuk-masuk
keluar-keluar-keluar

Buddho....3x atau Ahi...3x digunakan untuk Object Konsentrasi dan di bacakan dalam batin bukan dibacakan melalui Mulut berupa suara sehingga terdengar oleh diri sendiri atau orang lain.  
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Edward on 27 March 2009, 01:04:02 AM
bro gunawan,
Bukan pelafalannya yang ditekankan dalam penyebutan Amitabha Buddha, tetapi pemfokusan pikiran.Jadi, jika seseorang sedang menyebutkan "Amitofo" berulang2 kali, tidak hanya sebatas ucapan, tetapi pikiran pun turut serta difokuskan. INILAH yang seharusnya DITEKANKAN bagi para pelafal Amitofo.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Gunawan on 27 March 2009, 01:10:02 AM
bro gunawan,
Bukan pelafalannya yang ditekankan dalam penyebutan Amitabha Buddha, tetapi pemfokusan pikiran.Jadi, jika seseorang sedang menyebutkan "Amitofo" berulang2 kali, tidak hanya sebatas ucapan, tetapi pikiran pun turut serta difokuskan. INILAH yang seharusnya DITEKANKAN bagi para pelafal Amitofo.

Anumodana atas Penjelasannya Bro.Edward.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: marcedes on 27 March 2009, 01:14:11 AM
Sekali lagi Marcedes, rasanya anda kurang mengerti.

Coba saya jawab secara singkat kepada anda:

Yang ada dalam SUTTA VERSI THERAVADA ITU SALAH!!
KARENA DALAM SUTRA MAHAYANA BERBEDA!
So, MEMASUKKAN KUTIPAN SUTTA THERAVADA TIDAK RELEVAN, KARENA ISI-nya RANCU,MELENCENG dan MELAYANG-LAYANG DARI DHARMA YANG SEBENARNYA!
saudara edward yg bijak,
dalam sutra mahayana (saya lupa nama sutra nya, kalau tahu namanya bisa kasih info donk) dikatakan gotama telah mencapai pencerahan baik sebelum dilahirkan di suku sakya,bahkan jauh sebelum kelahiran-nya menjadi pertapa sumedha.

kok,beliau bisa lupa akan pencerahan-nya?
sehingga butuh guru-guru bahkan mesti 6 tahun menyiksa diri.atau bahkan sampai lewat pemusik?

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Edward on 27 March 2009, 01:18:23 AM
bro edward yang bijak,
logika tidak selama-nya benar, tetapi kenyataan/fakta yang pasti benar.

kalau masalah diskusi,
sebuah diskusi akan memiliki arah yang baik apabila, memakai kenyataan sebagai acuan..
tetapi kalau sudah pakai fantasi...yah tentu bercabang-cabang.

Ok, saya setuju.
Jika anda memank sudah bisa melihat kenyataan secara murni dan jelas, mari anda berbagi dengan kita semua sehingga saya pun, yang masih belajar ini bertambah pengetahuannya agar bisa melihat kenyataan secara murni dan jelas.
Karena kedua aliran memiliki referensi yg berbeda, akan lebih baik jika kenyataan dapat dijelaskan tanpa terikat embel2 menurut "Sutta ini benar, menurut Sutra ini salah".Karena jika tetap berpatokan dengan hal tersebut, pembahasan akan berujung pada debat kusir.
Karena jujur saja, dengan segala ketebatasan yg ada, sutra/sutta yg saya baca itu baru sangat sedikit.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Edward on 27 March 2009, 01:22:16 AM
Sekali lagi Marcedes, rasanya anda kurang mengerti.

Coba saya jawab secara singkat kepada anda:

Yang ada dalam SUTTA VERSI THERAVADA ITU SALAH!!
KARENA DALAM SUTRA MAHAYANA BERBEDA!
So, MEMASUKKAN KUTIPAN SUTTA THERAVADA TIDAK RELEVAN, KARENA ISI-nya RANCU,MELENCENG dan MELAYANG-LAYANG DARI DHARMA YANG SEBENARNYA!
saudara edward yg bijak,
dalam sutra mahayana (saya lupa nama sutra nya, kalau tahu namanya bisa kasih info donk) dikatakan gotama telah mencapai pencerahan baik sebelum dilahirkan di suku sakya,bahkan jauh sebelum kelahiran-nya menjadi pertapa sumedha.

kok,beliau bisa lupa akan pencerahan-nya?
sehingga butuh guru-guru bahkan mesti 6 tahun menyiksa diri.atau bahkan sampai lewat pemusik?


Sorry, can't help. ;D
Karena saya sendiri belom pernah membaca secara langsung sutra tersebut.Mungkin ada member lain yg lebih tahu dan dapat menjelaskan?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: marcedes on 27 March 2009, 01:29:09 AM
Ada berbagai metode dalam kultivasi Sukhavati, selain dengan merenungkan keagungan dan tanda2 dan gambaran seorang Buddha Amitabha, bisa juga dengan pelafan. Pelafalan tentu tidak sebatas dalam ucapan, tetapi memfokuskan pikiran dlm 1 titik, yaitu sosok Amitabha Buddha. Selain itu, "efek" dari pemfokusan terus menerus akan menumbuhkan " kebiasaan" akan selalu mengingat seorang Buddha, sehingga memungkinkan akan terlahir di sukhavati.

Dari kalimat saya di atas, apakah ada yg bisa melihat korelasinya dengan, Buddhanusati, Samatha Bhavana, dan karma baik dari "KEBIASAAN" mengingat akan dhamma dlm sistem Abhidhamma?
sosok nya saja belum pernah dilihat...
mau disuruh berfantasi sampai dimana saudara edward?

jika merenungkan buddhanusati. disitu seorang yogi bisa membangkitkan saddha dimana seorang buddha tercerahkan.
dikarenakan "Dhamma-nya."
jadi bukan sekedar percaya buddha...tetapi "apa yang ditemukan buddha"

buddha dan dhamma itu tidak dapat dipisahkan....
tidak mungkin meng-Agung-kan "sesosok" yang tidak ada "apa-apa-nya"
buddha di agungkan karena menemukan Dhamma, dan Dhamma ada karena Buddha menemukan.

kalau samantha bhavana.....melafalkan nama itu memicu pikiran agar tidak lari dan konsentrasi ke objek awal...
tidak mungkin mencapai konsentrasi yang baik apabila "si penggerak" yg dipakai.

mengingat kebiasaan baik?....saya tidak melihat adanya perbuatan baik/buruk apabila seseorang mengucapkan "besok hari sabtu" selama 100x.
semua itu dari pikiran-nya.

salam metta.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: marcedes on 27 March 2009, 01:30:47 AM
bro edward yang bijak,
logika tidak selama-nya benar, tetapi kenyataan/fakta yang pasti benar.

kalau masalah diskusi,
sebuah diskusi akan memiliki arah yang baik apabila, memakai kenyataan sebagai acuan..
tetapi kalau sudah pakai fantasi...yah tentu bercabang-cabang.

Ok, saya setuju.
Jika anda memank sudah bisa melihat kenyataan secara murni dan jelas, mari anda berbagi dengan kita semua sehingga saya pun, yang masih belajar ini bertambah pengetahuannya agar bisa melihat kenyataan secara murni dan jelas.
Karena kedua aliran memiliki referensi yg berbeda, akan lebih baik jika kenyataan dapat dijelaskan tanpa terikat embel2 menurut "Sutta ini benar, menurut Sutra ini salah".Karena jika tetap berpatokan dengan hal tersebut, pembahasan akan berujung pada debat kusir.
Karena jujur saja, dengan segala ketebatasan yg ada, sutra/sutta yg saya baca itu baru sangat sedikit.
jika demikian saya bertanya dari awal
"apakah kelahiran merupakan suatu penderitaan?"
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Semit on 27 March 2009, 02:41:23 AM
Sekali lagi Marcedes, rasanya anda kurang mengerti.

Coba saya jawab secara singkat kepada anda:

Yang ada dalam SUTTA VERSI THERAVADA ITU SALAH!!
KARENA DALAM SUTRA MAHAYANA BERBEDA!
So, MEMASUKKAN KUTIPAN SUTTA THERAVADA TIDAK RELEVAN, KARENA ISI-nya RANCU,MELENCENG dan MELAYANG-LAYANG DARI DHARMA YANG SEBENARNYA!

Rekan TS,
Dengan postingan ini, anda telah melanggar aturan yang anda buat sendiri, atas dasar apakah Saudara mengatakan Sutta versi Theravada itu SALAH?

tadinya saya ingin meng-click report to moderator, tapi saya pikir tidak ada gunanya karena anda adalah moderatornya.

Mohon Klarifikasi.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Edward on 27 March 2009, 07:58:25 AM
Ada berbagai metode dalam kultivasi Sukhavati, selain dengan merenungkan keagungan dan tanda2 dan gambaran seorang Buddha Amitabha, bisa juga dengan pelafan. Pelafalan tentu tidak sebatas dalam ucapan, tetapi memfokuskan pikiran dlm 1 titik, yaitu sosok Amitabha Buddha. Selain itu, "efek" dari pemfokusan terus menerus akan menumbuhkan " kebiasaan" akan selalu mengingat seorang Buddha, sehingga memungkinkan akan terlahir di sukhavati.

Dari kalimat saya di atas, apakah ada yg bisa melihat korelasinya dengan, Buddhanusati, Samatha Bhavana, dan karma baik dari "KEBIASAAN" mengingat akan dhamma dlm sistem Abhidhamma?
sosok nya saja belum pernah dilihat...
mau disuruh berfantasi sampai dimana saudara edward?

jika merenungkan buddhanusati. disitu seorang yogi bisa membangkitkan saddha dimana seorang buddha tercerahkan.
dikarenakan "Dhamma-nya."
jadi bukan sekedar percaya buddha...tetapi "apa yang ditemukan buddha"

buddha dan dhamma itu tidak dapat dipisahkan....
tidak mungkin meng-Agung-kan "sesosok" yang tidak ada "apa-apa-nya"
buddha di agungkan karena menemukan Dhamma, dan Dhamma ada karena Buddha menemukan.

kalau samantha bhavana.....melafalkan nama itu memicu pikiran agar tidak lari dan konsentrasi ke objek awal...
tidak mungkin mencapai konsentrasi yang baik apabila "si penggerak" yg dipakai.

mengingat kebiasaan baik?....saya tidak melihat adanya perbuatan baik/buruk apabila seseorang mengucapkan "besok hari sabtu" selama 100x.
semua itu dari pikiran-nya.

salam metta.

Apakah ada salah satu dari kita ini yg pernah melihat secara langsung sosok Siddharta?

Buddha memank tidak dapat dipisahkan dengan Dhamma.Bukankah banyak terdapat tulisan dalam sutta/sutra bahwa ada banyak dunia laen dengan Buddha masing2? Ato jgn2 tulisan seperti itu hanya ada dalam sutra yah?
Lain lagi, bukankah kualitas semua buddha itu sama?
Dhamma ada dimana2, bahkan ada sebelum kedatangan Samyaksambuddha, rasanya lebih tepat jika dikatakan bahwa seorang Samyaksambuddha "hanya" memutar roda dhamma dengan menemukannya kembali dan membabarkannya kepada semua makhluk agar dapat menemui dhamma.

Saya rasa ada yg salah dengan anda pahami dalam pelafalan Amitabha.

Membiasakan diri untuk selalu fokus pikirannya dan merenungkan sosok Buddha tidak ada gunanya?

Kalau memank seperti ini "pakem" pemikiran anda,  stament 1 n 2 sudah ditolak, tentu stament 3 sebagai akibat, udh pasti tidak relevan.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Edward on 27 March 2009, 08:05:15 AM
Sekali lagi Marcedes, rasanya anda kurang mengerti.

Coba saya jawab secara singkat kepada anda:

Yang ada dalam SUTTA VERSI THERAVADA ITU SALAH!!
KARENA DALAM SUTRA MAHAYANA BERBEDA!
So, MEMASUKKAN KUTIPAN SUTTA THERAVADA TIDAK RELEVAN, KARENA ISI-nya RANCU,MELENCENG dan MELAYANG-LAYANG DARI DHARMA YANG SEBENARNYA!

Rekan TS,
Dengan postingan ini, anda telah melanggar aturan yang anda buat sendiri, atas dasar apakah Saudara mengatakan Sutta versi Theravada itu SALAH?

tadinya saya ingin meng-click report to moderator, tapi saya pikir tidak ada gunanya karena anda adalah moderatornya.

Mohon Klarifikasi.

Ok, saya setuju.
Jika anda memank sudah bisa melihat kenyataan secara murni dan jelas, mari anda berbagi dengan kita semua sehingga saya pun, yang masih belajar ini bertambah pengetahuannya agar bisa melihat kenyataan secara murni dan jelas.
Karena kedua aliran memiliki referensi yg berbeda, akan lebih baik jika kenyataan dapat dijelaskan tanpa terikat embel2 menurut "Sutta ini benar, menurut Sutra ini salah".Karena jika tetap berpatokan dengan hal tersebut, pembahasan akan berujung pada debat kusir.
Karena jujur saja, dengan segala ketebatasan yg ada, sutra/sutta yg saya baca itu baru sangat sedikit.

Rekan Marcedes, karena anda yang sebagai partner diskusi dengan saya, bisakah tolong bantu memberikan klarifikasi seperti yg rekan Semit minta?Atau anda pun ternyata sebenarnya membutuhkan klarifikasi seperti rekan Semit?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Edward on 27 March 2009, 08:09:16 AM

Quote
jika demikian saya bertanya dari awal
"apakah kelahiran merupakan suatu penderitaan?"

Penderitaan itu sebab atau akibat?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: coedabgf on 27 March 2009, 08:10:38 AM
Selama saya mempelajari Buddha Dhamma Theravada saya hanya mengetahui YM.Ananda Thera sebagai Bendahara Dhamma. YM.Anandalah yang mengulang Dhamma pada Konsili pertama dan YM.Ananda Thera tidak pernah menyebut-nyebut Masalah Tanah Suci ataupun Amitabha. Saya yang masih Bodoh Mau tanya Siapakah yang Mengulang Dhamma ajaran Sang Buddha pertama kali dan Kapan (Versi Mahayana) ?


Saya yang masih Bodoh mau Tanya? Apakah hanya dengan Membacakan Mantra Amitabha saja kita bisa ke Tanah Suci? dan Siapakah yang dapat memberikan Bukti nyata dari keberadaan Tanah Suci tsb? Dan Apakah Hanya Praktisi Tanah Kristal Lazuardi saja yang mampu mencapai tanah Suci tsb?

Note : Saya Hanya mau Tanya dan Belajar Mengenai Mahayana .... ;D Tidak ada maksud lain.... :)  No Offense..... ^:)^


Seperti semua perbincangan diskusi pengetahuan Dhamma yang berandai-andai, sayapun mau ikut cerita yang berandai-andai pula,
1.saya yang percaya buta yang seolah-olah hanya menggunakan sedikit intelektualitas sehingga seolah-olah membuta dibandingkan teman-teman yang dapat melihat melalui kepandaian pertimbangan pikiran intelektualitasnya masing-masing, hanya mau menggambarkan saja,
klo menurut kisah setelah maha parinibanna guru Buddha Sakyamuni, apakah sudah ada murid-murid atau pendengar yang dapat mengerti ajaran jalan mulia dan mencapai pencerahan langsung?. dan kapasitas Ananda pada saat itu sebelum konsili pertama apakah sudah dapat menembus kebenaran pengetahuan mulia pencerahan? seperti yang diceritakan, meskipun memiliki banyak perbendaharaan (mengikuti) pengajaran guru Buddha, tetapi hanya dengan cara teguran perenungan oleh Kassapa dan menyerah saat  menanggalkan kepandaian pengetahuan intelektualitasnya, Ananda baru mengerti hakekat kebenaran sejati dan tercerahkan. sehingga apakah ada kemungkinan apakah Ananda mengetahui semua segala sesuatunya secara keseluruhan tentang pengajaran guru Buddha? dan apakah ada kemungkinan juga ada terpecah pengikut-pengikut menurut keterbatasan penerimaan ajaran (kebijaksanaan para pengikut) yang menyebabkan terjadinya pengelompokan pendokumentasian (pengikut) ajaran-ajaran, bahkan saat guru Buddha hiduppun ada terjadi seperti cerita 500 murid yang keluar/pergi tidak mengikuti ajaran selanjutnya (maaf gambarannya klo gak salah)?

2.secara teoritis dan kenyataan bahwa setiap orang mewarisi karmanya masing-masing. secara kenyataannya akan kembali mengikuti jalur (kelekatannya) kepercayaannya/keyakinannya dan kenyataan mewarisi karmanya juga yang membentuk kehidupannya (dimana keyakinan dan kepercayaannya juga itu adalah hasil dari karma kehidupannyanya juga). Dan seperti yang sudah saya jelaskan/gambarkan/ilustrasikan pada tulisan terdahulu  bahwa alam-alam, dunia ini seperti rimba raya, ada tuan-tuan yang baik dan jahat, ada kerajaan-kerajaan dengan penguasa-penguasanya, ada yang didalam penguasaan tuan-tuan baik yang baik maupun yang jahat, atau dalam kerajaan-kerajaan, ada gelandangan terlunta-lunta, ada preman yang berlaku hukum rimba, tetapi tetap meskipun seolah-olah ada atau tiada hukum, semua ada di bawah/tunduk kepada (terproses oleh) satu kuasa hukum tertinggi dunia (yang berujung ketidak-kekalan/maut/kebinasaan), dimana anda akan terproses atau menuju pada akhirnya (setelah kematian) menurut pilihan keyakinan/kepercayaan anda masing-masing. Tinggal pilih saja iman/keyakinan/kepercayaan yang benar, yang sesat atau tanpa pengetahuan tentang kebenaran keyakinan yang benar.

Seperti sorga barat sukhavati, mereka yang sungguh-sungguh mempercayainya berarti mereka juga yang memiliki keyakinan dan berusaha mempersiapkan dirinya menyesuaikan diri menurut kebenaran pengajaran dalam setiap aspek kehidupan, (sehingga) memiliki keyakinan untuk dapat memperoleh kesempatan mengalami kehidupan disana.
Dan pada saat kematian jasmaninya, mereka akan dibawa oleh kekuatan Buddha Amitabha masuk dalam kehidupan surga sukhavati.
Dan satu hal bila setiap pemercaya yang mengalami kematian jasmani di bumi ini dibawa kesana oleh kekuatan Buddha Amitabha, berarti sebenarnya di bumi ini tidak ada perwakilan yang dibilang mewakili surga sukhavati (yang membilang baik oleh perorangan pribadi maupun suatu kelompok seperti yang terdengar pada pengakuan beberapa aliran). Dan disana mereka secara khusus (anggap saja saya istilahkan secara intensif) diajar dan belajar seperti yang saya beri ilustrasi kehidupan disana seperti biara shaolin, tapi bukan belajar pukulan (kung fu) melainkan belajar pendalaman DHAMMA hingga pencerahan oleh (kekuatan) guru BUDDHA Amithaba.


Semoga dapat menjadi aspirasi cerita fiksi yang menjadi kenyataan.
Good hope and love

Nb :
Penjelasan untuk beberapa pertanyaan tentang Christianity harap sabar.



yah, coba baca

Yuganaddha Sutta

Pada suatu waktu YM Ananda sedang tinggal di Kosambi, di Vihara di Taman Ghosita. Disana beliau berbicara pada para bhikkhu, "Teman-teman!"

"Ya, teman," jawab para bhikkhu.

YM Ananda berkata: "Teman-teman, siapapun — bhikkhu atau bhikkhuni — menyatakan pencapaian arahantnya didepan hadapanku, mereka semua melalui satu dari empat jalan. Apakah empat itu?

"Ada kasus dimana seorang bhikkhu telah mengembangkan pandangan terang yang didahului oleh ketenangan. Seiring dia mengembangkan pandangan terang yang didahului oleh ketenangan, sang jalan muncul. Dia mengikuti jalan itu, mengembangkannya, menjalaninya. Seiring dia mengikuti sang jalan, mengembangkannya & menjalaninya — belenggu-belenggunya ditinggalkan, obsesi-obsesinya hancur.

"Kemudian ada kasus dimana seorang bhikkhu telah mengembangkan ketenangan yang didahului oleh pandangan terang. Seiring dia mengembangkan ketenangan yang didahului oleh pandangan terang, sang jalan muncul. Dia mengikuti jalan itu, mengembangkannya, menjalaninya. Seiring dia mengikuti sang jalan, mengembangkannya & menjalaninya — belenggu-belenggunya ditinggalkan, obsesi-obsesinya hancur.

"Kemudian ada kasus dimana seorang bhikkhu telah mengembangkan ketenangan bersama-sama dengan pandangan terang. Seiring dia mengembangkan ketenangan yang didahului oleh pandangan terang, sang jalan muncul. Dia mengikuti jalan itu, mengembangkannya, menjalaninya. Seiring dia mengikuti sang jalan, mengembangkannya & menjalaninya — belenggu-belenggunya ditinggalkan, obsesi-obsesinya hancur.

"Kemudian ada kasus dimana pikiran seorang bhikkhu yang kegelisahan tentang Dhamma [Comm: kekotoran pandangan] terkendali dengan baik. Ada suatu waktu dimana pikirannya menjadi seimbang didalam, tenang, dan menjadi terpusat & terkonsentrasi. Didalam dirinya sang jalan muncul. Dia mengikuti jalan itu, mengembangkannya, menjalaninya. Seiring dia mengikuti sang jalan, mengembangkannya & menjalaninya — belenggu-belenggunya ditinggalkan, obsesi-obsesinya hancur.

"Siapapun — bhikkhu atau bhikkhuni — menyatakan pencapaian arahantnya dihadapanku, mereka semua melakukannya melalui salah satu dari empat jalan ini.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
ditambah....

sampasadaniya sutta

"Bhante, sebenarnya kami tidak memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengetahui pikiran para Arahat, Sammasambuddha, baik dari masa lampau, yang akan datang maupun sekarang. Tetapi, meskipun demikian kami memiliki pengetahuan tentang tradisi Dhamma (Dhammanvayo)."
    "Bhante, sama seperti perbatasan-negara milik seorang raja yang mempunyai benteng yang kokoh, dengan dinding dan menara penjagaan yang kuat dan hanya mempunyai sebuah pintu saja. Dan di sana, ada seorang penjaga pintu yang pandai, berpengalaman serta cerdas, yang akan mengusir orang-orang yang tidak dikenal dan hanya mengijinkan masuk orang-orang yang dikenal saja. Ketika ia memeriksa dengan menyusuri jalan yang mengelilingi dinding benteng-negara itu, ia tidak melihat adanya sebuah lubang atau celah, di dinding benteng-negara itu, yang cukup untuk dilewati oleh binatang, sekali pun hanya sekecil seekor kucing. Dan ia berpikir: "Seberapa pun besarnya mahluk-mahluk yang akan masuk atau meninggalkan negara ini, mereka semua hanya dapat melalui pintu ini."
    "Bhante, hanya dengan cara demikian aku memiliki pengetahuan tentang tradisi Dhamma (Dhammanvayo). Oleh karena, para Bhagava, Arahat, Sammasambuddha yang pernah ada pada masa lampau, dengan meninggalkan lima rintangan batin (pancanivarana) dan noda-noda pikiran (citta-upakkilesa) melalui kekuatan kebijaksanaan, dan dengan pikiran yang terpusat baik pada empat landasan kesadaran (cattarosatipatthana), serta mengembangkan dengan sempurna tujuh faktor Penerangan Sempurna (satta-sambojjhanga), maka mereka telah mencapai kesempurnaan sepenuhnya dalam Penerangan Sempurna (Sambodhi) yang tiada bandingannya (anuttara)."


------------------------------------------------------------------------
tahu itu pintu apa?

mahaparinibbana sutta.

"Subhadda, dalam dhamma dan vinaya mana pun, jika tidak terdapat Jalan Mulia Berunsur Delapan, maka di sana pun tidak akan terdapat seorang petapa sejati yang telah mencapai tingkat pertama, kedua, ketiga atau keempat. Tetapi dalam dhamma dan vinaya yang mana pun, jika terdapat Jalan Mulia Berunsur Delapan, maka di sana pun akan terdapat petapa yang sejati yang telah mencapai tingkat pertama, kedua, ketiga atau keempat. Kini, dalam dhamma dan vinaya yang kami ajarkan terdapat Jalan Mulia Berunsur Delapan itu, maka dengan sendirinya juga terdapat petapa-petapa sejati yang telah mencapai tingkat pertama, kedua, ketiga atau keempat.
    Ajaran guru-guru lainnya yang tidak memiliki Jalan Mulia Berunsur Delapan adalah kosong dan bukan petapa yang sejati. Subhadda, jika para bhikkhu ini hidup dengan baik menurut dhamma dan vinaya, maka dunia ini tidak akan kekosongan Arahat.
    Subhadda, sejak kami berumur duapuluh sembilan tahun, kami telah meninggalkan kehidupan duniawi untuk mencari kebaikan. Subhadda, kini telah lewat limapuluh satu tahun, dan sepanjang waktu itu, kami telah berkelana dalam suasana kebajikan dan kebenaran, waktu itu di luar tidak ada manusia suci. Juga tidak dari tingkat kedua, ketiga ataupun tingkat kesucian keempat. Ajaran guru-guru lainnya yang tidak memiliki Jalan Mulia Berunsur Delapan adalah kosong dan bukan petapa yang sejati. Subhadda, jika para bhikkhu ini hidup dengan baik menurut dhamma dan vinaya, maka dunia ini tidak akan kekosongan Arahat."

=============================================

Kemudian Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu : "Para bhikkhu, perhatikanlah nasehat ini : 'Segala sesuatu adalah tidak kekal. Berusahalah dengan sungguh-sungguh.' (Vaya dhamma sankhara, appamadena sampadetha)."
Inilah kata-kata terakhir Sang Tathagata.

namo tassa bhagavato arahato sammasambuddhasa.
namo tassa bhagavato arahato sammasambuddhasa.
namo tassa bhagavato arahato sammasambuddhasa.

banyak berkah pada anda
salam metta.


saya menjelaskan tentang suatu gambaran (umum) apa?
anda menjelaskan tentang apa?
mengenai keyakinan,
klo seseorang atau anda melangkah bertindak karena (didahului) apa?
saat ada pengakuan kata-kata 'namo tassa bhagavato arahato sammasambuddhasa.' itu mencerminkan apa?
saat ada pengakuan kata-kata 'aku berlindung kepada Buddha, Dhamma dan Sangha' itu mencerminkan apa?
apakah anda sudah berjumpa Buddha?
dengan sudah mengetahui, melihat pintu (pikiran) itu, apakah anda sudah dapat melihat 'keBuddhaan'?
apakah DHAMMA/kebenaran yang sesungguhnya?
apakah karma itu?
apakah mengalami kelahiran dan kematian yang berulang-ulang itu?
apakah anda sebelumnya sudah melihat 'Nibanna'?
apakah anda sudah mencapai arahat?
mengapa anda mengikuti jalan dan memegang teguh ajaran guru Buddha dan mencerminkan pengakuan sebagai umat/pengikut/murid?
apakah dengan pengajaran jalan umum sekarang yang dapat dimengerti oleh intelektualitas anda (sebagai bukti anda dapat menjelaskan dengan baik dan dapat melakukan) anda sudah tercerahkan, melihat dan berlaku segala sesuatunya apa adanya seperti Buddha/mereka yang tercerahkan melihat?
dan yang terakhir, apakah anda sudah mengalami semuanya itu? klo belum karena apa anda memiliki (memegang teguh) pengetahuan itu?
berbahagialah mereka yang belum melihat namun percaya.
(catatan : bisa berbeda makna tulisan jika seperti tendensi bung hendarko tulis "Berbahagialah orang yang percaya namun tidak melihat.", muncul ketidak-murnian pencerapan/pandangan karena apa?)
sebab seperti guru Buddha bilang :
Pada saat itu Yang Dijunjungi mengucapkan suatu gatha yang berbunyi :
Barang siapa melihat-Ku dalam wujud,
Barang siapa mencari-Ku dalam suara,
Dia mempraktekkan jalan menyimpang,
Dan tidak dapat melihat Hyang Tathagatha.
sesungguhnya dari kisah penjelasan kalimat diatas, sebenarnya kita sudah (pernah) melihat atau belum? apa yang membuat manusia tidak melihat atau terbatasi melihat?

teori saja, tindakan meraih apa yang belum terlihat, pengalaman-kebenaran kenyataan teori yang dinyatakan (sebagai pembelajaran untuk meraih/menuju hasil yang belum terlihat), jika menuju untuk mencapai hasil di depan belum terlihat itu karena apa?
good hope and love
coedabgf
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: coedabgf on 27 March 2009, 08:55:59 AM
"Berbahagialah orang yang percaya namun tidak melihat."

Apabila tidak melihatnya saya ganti dengan buta, yg notabene adalah sinonim dari kata "tidak melihat,
bukankah kalimat tersebut menjadi:

"Berbahagialah orang yang percaya, buta."

Maaf sebelumnya, bukan bermaksud menyinggung, namun memang itulah yang dikatakan sebagai 'Iman", yang berbeda dengan ke"yakin"an, yang "melihat", apapun agamanya atau bahkan tidak ber"agama" sama sekali.


pernyataan bung hendrako sudah saya jelaskan sekalian pada tulisan diatas Reply #159.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: coedabgf on 27 March 2009, 08:58:25 AM
sudah dulu yee... yang lain menyusul.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 27 March 2009, 09:18:22 AM
^
^
^
se7, satu2 oi, nafsu bangetttt semua... ;D


bukan nya di theravada

jauh-jauh sebelum sakyamuni mencapai pencerahan, dia bertemu dengan buddha dipankara yang mengajarkan dharma kepada dia?

kenapa sekarang mereka sangat sulit untuk mempercayai ada buddha lain yang membabarkan dharma ya?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 27 March 2009, 09:38:33 AM
oioioi sorry kawan2 belum sempat membahas dulu lagi banyak kerjaan dikantor. Saya bawa buku bagus nanti saya tulis disini sesesempat mungkin. karena kerjaan lagi menumpuk terpaksa selesaikan pekerjaan.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: marcedes on 27 March 2009, 10:06:14 AM
Ada berbagai metode dalam kultivasi Sukhavati, selain dengan merenungkan keagungan dan tanda2 dan gambaran seorang Buddha Amitabha, bisa juga dengan pelafan. Pelafalan tentu tidak sebatas dalam ucapan, tetapi memfokuskan pikiran dlm 1 titik, yaitu sosok Amitabha Buddha. Selain itu, "efek" dari pemfokusan terus menerus akan menumbuhkan " kebiasaan" akan selalu mengingat seorang Buddha, sehingga memungkinkan akan terlahir di sukhavati.

Dari kalimat saya di atas, apakah ada yg bisa melihat korelasinya dengan, Buddhanusati, Samatha Bhavana, dan karma baik dari "KEBIASAAN" mengingat akan dhamma dlm sistem Abhidhamma?
sosok nya saja belum pernah dilihat...
mau disuruh berfantasi sampai dimana saudara edward?

jika merenungkan buddhanusati. disitu seorang yogi bisa membangkitkan saddha dimana seorang buddha tercerahkan.
dikarenakan "Dhamma-nya."
jadi bukan sekedar percaya buddha...tetapi "apa yang ditemukan buddha"

buddha dan dhamma itu tidak dapat dipisahkan....
tidak mungkin meng-Agung-kan "sesosok" yang tidak ada "apa-apa-nya"
buddha di agungkan karena menemukan Dhamma, dan Dhamma ada karena Buddha menemukan.

kalau samantha bhavana.....melafalkan nama itu memicu pikiran agar tidak lari dan konsentrasi ke objek awal...
tidak mungkin mencapai konsentrasi yang baik apabila "si penggerak" yg dipakai.

mengingat kebiasaan baik?....saya tidak melihat adanya perbuatan baik/buruk apabila seseorang mengucapkan "besok hari sabtu" selama 100x.
semua itu dari pikiran-nya.

salam metta.

Apakah ada salah satu dari kita ini yg pernah melihat secara langsung sosok Siddharta?

Buddha memank tidak dapat dipisahkan dengan Dhamma.Bukankah banyak terdapat tulisan dalam sutta/sutra bahwa ada banyak dunia laen dengan Buddha masing2? Ato jgn2 tulisan seperti itu hanya ada dalam sutra yah?
Lain lagi, bukankah kualitas semua buddha itu sama?
Dhamma ada dimana2, bahkan ada sebelum kedatangan Samyaksambuddha, rasanya lebih tepat jika dikatakan bahwa seorang Samyaksambuddha "hanya" memutar roda dhamma dengan menemukannya kembali dan membabarkannya kepada semua makhluk agar dapat menemui dhamma.

Saya rasa ada yg salah dengan anda pahami dalam pelafalan Amitabha.

Membiasakan diri untuk selalu fokus pikirannya dan merenungkan sosok Buddha tidak ada gunanya?

Kalau memank seperti ini "pakem" pemikiran anda,  stament 1 n 2 sudah ditolak, tentu stament 3 sebagai akibat, udh pasti tidak relevan.
bro edward yang bijak,

tanpa melihat buddha, seseorang mampu mencapai tingkat kesucian....dikarenakan dhamma yang begitu nyata.

"ada sebuah kisah seorang pemuda belum pernah melihat "buddha gotama" dan memanggil buddha gotama dengan sebutan "sahabat" pemuda tersebut mencapai tingkat kesucian dikarenakan mendengarkan dhamma yang nyata

tetapi bagaimana dengan pelafalan amitabha ?
sudah point jelas disitu,

anda katakan buddha semua sama, dan dhamma semua sama.
lalu "apa yang diajarkan buddha amitabha?"  penderitaan saja tidak ada di sana.

dengan demikian pertanyaan anda "apakah pernah melihat sosok siddharta?"
jawabannya. "tidak secara fisik"
tetapi melihat "4 kesunyataan mulia di sekarang merupakan penglihatan"

saya rasa kata buddha "barang siapa melihat dhamma, maka melihat buddha"
kalau amitabha?... liat ajaran dmana?

4 kesunyataan mulia?  jalan beruas 8?....................

tahukah yang saya maksud kenyataan saat ini.  penderitaan



Quote
jika demikian saya bertanya dari awal
"apakah kelahiran merupakan suatu penderitaan?"

Penderitaan itu sebab atau akibat?
bro edward, pertanyaan ini saya tujukkan kepada anda...

"apakah menurut bro edward kelahiran merupakan suatu penderitaan?"

saya menjelaskan tentang suatu gambaran (umum) apa?
anda menjelaskan tentang apa?
mengenai keyakinan,
klo seseorang atau anda melangkah bertindak karena (didahului) apa?
saat ada pengakuan kata-kata 'namo tassa bhagavato arahato sammasambuddhasa.' itu mencerminkan apa?
saat ada pengakuan kata-kata 'aku berlindung kepada Buddha, Dhamma dan Sangha' itu mencerminkan apa?
apakah anda sudah berjumpa Buddha?
dengan sudah mengetahui, melihat pintu (pikiran) itu, apakah anda sudah dapat melihat 'keBuddhaan'?
apakah DHAMMA/kebenaran yang sesungguhnya?
apakah karma itu?
apakah mengalami kelahiran dan kematian yang berulang-ulang itu?
apakah anda sebelumnya sudah melihat 'Nibanna'?
apakah anda sudah mencapai arahat?
mengapa anda mengikuti jalan dan memegang teguh ajaran guru Buddha dan mencerminkan pengakuan sebagai umat/pengikut/murid?
apakah dengan pengajaran jalan umum sekarang yang dapat dimengerti oleh intelektualitas anda (sebagai bukti anda dapat menjelaskan dengan baik dan dapat melakukan) anda sudah tercerahkan, melihat dan berlaku segala sesuatunya apa adanya seperti Buddha/mereka yang tercerahkan melihat?
dan yang terakhir, apakah anda sudah mengalami semuanya itu? klo belum karena apa anda memiliki (memegang teguh) pengetahuan itu?
berbahagialah mereka yang belum melihat namun percaya.
(catatan : bisa berbeda makna tulisan jika seperti tendensi bung hendarko tulis "Berbahagialah orang yang percaya namun tidak melihat.", muncul ketidak-murnian pencerapan/pandangan karena apa?)
sebab seperti guru Buddha bilang :
Pada saat itu Yang Dijunjungi mengucapkan suatu gatha yang berbunyi :
Barang siapa melihat-Ku dalam wujud,
Barang siapa mencari-Ku dalam suara,
Dia mempraktekkan jalan menyimpang,
Dan tidak dapat melihat Hyang Tathagatha.
sesungguhnya dari kisah penjelasan kalimat diatas, sebenarnya kita sudah (pernah) melihat atau belum? apa yang membuat manusia tidak melihat atau terbatasi melihat?

teori saja, tindakan meraih apa yang belum terlihat, pengalaman-kebenaran kenyataan teori yang dinyatakan (sebagai pembelajaran untuk meraih/menuju hasil yang belum terlihat), jika menuju untuk mencapai hasil di depan belum terlihat itu karena apa?
good hope and love
coedabgf
saudara coedabgf yang bijak,
saya berjumpa dengan 4 kesunyataan mulia yang merupakan kenyataan depan mata.
pertanyaan anda mengenai  ini

Quote
apakah DHAMMA/kebenaran yang sesungguhnya?
apakah karma itu?
apakah mengalami kelahiran dan kematian yang berulang-ulang itu?
apakah anda sebelumnya sudah melihat 'Nibanna'?
apakah anda sudah mencapai arahat?
mengapa anda mengikuti jalan dan memegang teguh ajaran guru Buddha dan mencerminkan pengakuan sebagai umat/pengikut/murid?

ketika kita mempratekkan 4 kesunyataan mulia yang merupakan realita.....
semua pertanyaan ini tidak lah perlu lagi ditanyakan.......

mengapa?
karena akan membawa anda melihat hakekat magga dan phala....yakni berkurangnya "keinginan"
padam nya "keserakahan"
padam nya "kebencian"
padam nya "kebodohan"  >>> ya salah satu jika tidak bisa melihat "penderitaan" dan beranggapan bahwa "kelahiran" bukan penderitaan.

mohon maaf, tetapi jika anda tidak mempratekkan jalan tersebut........
anda hanya akan menjadi penghitung sapi milik orang lain...yakni dengan berkata

"apakah anda telah mencapai tingkatan tertentu?
apakah anda pernah merealisasikan nibbana?
apakah anda pernah merealisasikan ini, itu , dsb-nya?
saya rasa disini kita semua belum mencapai apa-apa, mari belajar bersama-sama.
inilah pengucapan-pengucapan dimana biasanya dipakai seseorang yang belajar dhamma seperti menghitung sapi milik orang lain...

sehingga antara fantasi dan fakta sudah sulit dibedakannya.

=========================================================
jalani lah 4 kesunyataan mulia, dan anda temukan betapa banyak pula sisi menyedihkannya semua yang terbentuk ini...

dan ketika anda telah sampai pada tahap tertentu, semua ini sudah menjadi tidaklah ada apa-apa-nya.

pernah kah anda melihat realita kehidupan ini?
lalu apa yang menyebabkan "keinginan" melafalkan amitofo lagi?

jawaban nya ada disitu.

banyak berkah pada anda
salam metta.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Semit on 27 March 2009, 10:15:56 AM
Sekali lagi Marcedes, rasanya anda kurang mengerti.

Coba saya jawab secara singkat kepada anda:

Yang ada dalam SUTTA VERSI THERAVADA ITU SALAH!!
KARENA DALAM SUTRA MAHAYANA BERBEDA!
So, MEMASUKKAN KUTIPAN SUTTA THERAVADA TIDAK RELEVAN, KARENA ISI-nya RANCU,MELENCENG dan MELAYANG-LAYANG DARI DHARMA YANG SEBENARNYA!


Rekan TS,
Dengan postingan ini, anda telah melanggar aturan yang anda buat sendiri, atas dasar apakah Saudara mengatakan Sutta versi Theravada itu SALAH?

tadinya saya ingin meng-click report to moderator, tapi saya pikir tidak ada gunanya karena anda adalah moderatornya.

Mohon Klarifikasi.

Ok, saya setuju.
Jika anda memank sudah bisa melihat kenyataan secara murni dan jelas, mari anda berbagi dengan kita semua sehingga saya pun, yang masih belajar ini bertambah pengetahuannya agar bisa melihat kenyataan secara murni dan jelas.
Karena kedua aliran memiliki referensi yg berbeda, akan lebih baik jika kenyataan dapat dijelaskan tanpa terikat embel2 menurut "Sutta ini benar, menurut Sutra ini salah".Karena jika tetap berpatokan dengan hal tersebut, pembahasan akan berujung pada debat kusir.
Karena jujur saja, dengan segala ketebatasan yg ada, sutra/sutta yg saya baca itu baru sangat sedikit.

Rekan Marcedes, karena anda yang sebagai partner diskusi dengan saya, bisakah tolong bantu memberikan klarifikasi seperti yg rekan Semit minta?Atau anda pun ternyata sebenarnya membutuhkan klarifikasi seperti rekan Semit?
Tuan Mod/TS yg baik,
saya mungkin mekakukan kesalahan dengan nimbrung langsung setelah 11 halaman, sebelum membaca thread ini dari awal, karena saya merasa surorised dengan statement anda. dan sambill saya membaca thread ini dari awal, bisakah menjelaskan aturan khusus berdiskusi di thread ini, selain yang terdapat dalam posting pertama. misalnya. semua pertanyaan yg memohon klarifikasi kepada TS/Mod akan dialihkan ke lawan diskusi dari TS.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: N1AR on 27 March 2009, 10:34:00 AM
bagaimana cara mengikis delusi dalam mahayana?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 27 March 2009, 10:51:26 AM
^
^
^
pake shurangama sutra
disono diajarkan cara membedakan yang sesat sama yang tidak sesat.
cara mengontrol indera2 tubuh....
cara menangkis godaan iblis.

pake lakavantara sutra (sutra biru) juga bisa, sehingga tidak terjadi dualisme...
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: sabdo palon on 27 March 2009, 11:12:11 AM
^
^
^
se7, satu2 oi, nafsu bangetttt semua... ;D


bukan nya di theravada

jauh-jauh sebelum sakyamuni mencapai pencerahan, dia bertemu dengan buddha dipankara yang mengajarkan dharma kepada dia?

kenapa sekarang mereka sangat sulit untuk mempercayai ada buddha lain yang membabarkan dharma ya?

Ini pernyataan aneh, di sutta mana dikatakan bahwa pertapa Sumedha belajar Dhamma dari Buddha Dipankara? memang pertapa Sumedha mendapat penetapan tetapi bukan belajar Dhamma.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 27 March 2009, 11:18:59 AM
petapa sumedha begitu serius menunggu kedatangan dan menyambut buddha dipankara...

trus begitu dia selesai menyambut buddha dipankara.
apakah pernah disebutkan tujuan buddha dipankara datang?
apakah cuma datang, buat ramah tamah, trus pergi?
tidak ada kotbah dharma sama sekali? so wasted u know....

atau memang buddha dipankara ada berkotbah, tapi
petapa sumedha tidak ikut?petapa sumedha pergi? pulang dulu-an? mgkn ada urusan... ;D

no offense, just asking.... :P

CMIIW,

navis
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: sabdo palon on 27 March 2009, 11:20:51 AM
"Berbahagialah orang yang percaya namun tidak melihat."

Apabila tidak melihatnya saya ganti dengan buta, yg notabene adalah sinonim dari kata "tidak melihat,
bukankah kalimat tersebut menjadi:

"Berbahagialah orang yang percaya, buta."

Maaf sebelumnya, bukan bermaksud menyinggung, namun memang itulah yang dikatakan sebagai 'Iman", yang berbeda dengan ke"yakin"an, yang "melihat", apapun agamanya atau bahkan tidak ber"agama" sama sekali.


pernyataan bung hendrako sudah saya jelaskan sekalian pada tulisan diatas Reply #159.

Berbahagialah orang buta yang percaya (masuk kr****n)   ;D
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 27 March 2009, 11:23:37 AM
^
^
^
se7, satu2 oi, nafsu bangetttt semua... ;D


bukan nya di theravada

jauh-jauh sebelum sakyamuni mencapai pencerahan, dia bertemu dengan buddha dipankara yang mengajarkan dharma kepada dia?

kenapa sekarang mereka sangat sulit untuk mempercayai ada buddha lain yang membabarkan dharma ya?

Ini pernyataan aneh, di sutta mana dikatakan bahwa pertapa Sumedha belajar Dhamma dari Buddha Dipankara? memang pertapa Sumedha mendapat penetapan tetapi bukan belajar Dhamma.
Menurut Tradisi Theravada, pelajaran Dhamma memang bisa didapatkan seorang Bodhisatta dari Buddha yang ada pada masa itu. Contohnya Bodhisatta Gotama pada kehidupan sebagai Jotipala, menjadi bhikkhu dari Samma Sambuddha Kassapa.

Yang sebetulnya berbeda adalah dalam Tradisi Theravada, ajaran semua Buddha adalah sama PERSIS.
Jadi berbeda dengan aliran lain misalnya Mahayana yang mengajarkan ajaran alternatif dari Buddha Amitabha (yaitu tekad menuju Sukhavati yang tidak diajarkan Buddha Sakyamuni), atau juga misalnya aliran Maitreya yang mengajarkan ajaran Buddha itu bisa kadaluwarsa dan digantikan dengan ajaran Buddha berikutnya.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: sabdo palon on 27 March 2009, 11:24:02 AM
petapa sumedha begitu serius menunggu kedatangan dan menyambut buddha dipankara...

trus begitu dia selesai menyambut buddha dipankara.
apakah pernah disebutkan tujuan buddha dipankara datang?
apakah cuma datang, buat ramah tamah, trus pergi?
tidak ada kotbah dharma sama sekali? so wasted u know....

atau memang buddha dipankara ada berkotbah, tapi
petapa sumedha tidak ikut?petapa sumedha pergi? pulang dulu-an? mgkn ada urusan... ;D

no offense, just asking.... :P

CMIIW,

navis

Balik bertanya padahal belum menjawab, sudah ketemu jawabannya belum bro Navis? sudah baca belum kisahnya? Baca dulu ya? no offense  ;D
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 27 March 2009, 11:29:33 AM
sudah baca kisahnya bro

tapi tidak lengkap
tidak mendetail....

setelah membungkuk buat di injak oleh buddha dipankara
dia langsung bertekad menjadi buddha
trus diramalkan bakal jadi samma sambuddha (oleh buddha dipankara)

tapi tidak diceritakan, trus petapa sumedha, setelah itu ikut rombongan atau langsung pulang rumah?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 27 March 2009, 11:30:55 AM
^
^
^
se7, satu2 oi, nafsu bangetttt semua... ;D


bukan nya di theravada

jauh-jauh sebelum sakyamuni mencapai pencerahan, dia bertemu dengan buddha dipankara yang mengajarkan dharma kepada dia?

kenapa sekarang mereka sangat sulit untuk mempercayai ada buddha lain yang membabarkan dharma ya?

Ini pernyataan aneh, di sutta mana dikatakan bahwa pertapa Sumedha belajar Dhamma dari Buddha Dipankara? memang pertapa Sumedha mendapat penetapan tetapi bukan belajar Dhamma.

Menurut Tradisi Theravada, pelajaran Dhamma memang bisa didapatkan seorang Bodhisatta dari Buddha yang ada pada masa itu. Contohnya Bodhisatta Gotama pada kehidupan sebagai Jotipala, menjadi bhikkhu dari Samma Sambuddha Kassapa.


Yang sebetulnya berbeda adalah dalam Tradisi Theravada, ajaran semua Buddha adalah sama PERSIS.
Jadi berbeda dengan aliran lain misalnya Mahayana yang mengajarkan ajaran alternatif dari Buddha Amitabha (yaitu tekad menuju Sukhavati yang tidak diajarkan Buddha Sakyamuni), atau juga misalnya aliran Maitreya yang mengajarkan ajaran Buddha itu bisa kadaluwarsa dan digantikan dengan ajaran Buddha berikutnya.


oh ic, nice info bro kaiyn kutho

ternyata tidak belajar dari buddha dipankara
tapi belajar dari buddha kasyapa....
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 27 March 2009, 11:36:13 AM
Sekali lagi Marcedes, rasanya anda kurang mengerti.

Coba saya jawab secara singkat kepada anda:

Yang ada dalam SUTTA VERSI THERAVADA ITU SALAH!!
KARENA DALAM SUTRA MAHAYANA BERBEDA!
So, MEMASUKKAN KUTIPAN SUTTA THERAVADA TIDAK RELEVAN, KARENA ISI-nya RANCU,MELENCENG dan MELAYANG-LAYANG DARI DHARMA YANG SEBENARNYA!

jadi menurut bro edward bahwa THERAVADA dan MAHAYANA itu berbeda... bisa ya BUDDHA GOTAMA menurunkan ajaran yang katanya berkelanjutan tetapi pada kenyataannya BERBEDA...
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 27 March 2009, 11:42:47 AM
oh ic, nice info bro kaiyn kutho

ternyata tidak belajar dari buddha dipankara
tapi belajar dari buddha kasyapa....

Bukan hanya Buddha Kassapa, tetapi dari semua Buddha juga. Bedanya lagi, menurut Tradisi Theravada, selama seorang Bodhisatta belum menjadi Buddha (di kehidupan terakhirnya), maka ia tidak mencapai pencerahan atau kesucian apa pun. Ia tetap hanya "orang biasa".
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Gunawan on 27 March 2009, 11:50:06 AM
Just Asking yach.... ;)  Apakah Mahayana banyak mengambil Ajaran-ajaran dari Rahib-rahib China (Fa-Xien,I Ching,Xuan Zhuang) yang mengambil kitab suci ke barat ?. Kalo tidak salah mereka bertiga mengeluarkan 3 kitab yang berbeda tentu dengan pendapatnya masing-masing... dan pada saat itu juga terdengar banyak Kaisar-kaisar yang anti Buddhism sehingga membakar habis Kitab-kitab yang ada.

No Offense ..Just Asking.... ;D

 _/\_
Gunawan S S
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 27 March 2009, 11:50:21 AM
oh ic, nice info bro kaiyn kutho

ternyata tidak belajar dari buddha dipankara
tapi belajar dari buddha kasyapa....

Bukan hanya Buddha Kassapa, tetapi dari semua Buddha juga. Bedanya lagi, menurut Tradisi Theravada, selama seorang Bodhisatta belum menjadi Buddha (di kehidupan terakhirnya), maka ia tidak mencapai pencerahan atau kesucian apa pun. Ia tetap hanya "orang biasa".

berarti sama donk dengan yang dalam sutra intan ("Vajracheddika prajna paramita")

if i am not mistaken
di sutra intan, distate, kalau pada saat yang paling penting, saat detik2 terakhir mencapai pencerahan
tiba2 saja masih terdapat sedikit saja sedikit kemelekatan, ato something like that.

maka pencapaian yang telah dicapai, akan direset jadi nol kembali (alias jadi orang biasa).

so base on this,
ternyata ada persamaan presepsi antara mahayana n theravada.  ^-^
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Indra on 27 March 2009, 12:09:51 PM
sudah baca kisahnya bro

tapi tidak lengkap
tidak mendetail....

setelah membungkuk buat di injak oleh buddha dipankara
dia langsung bertekad menjadi buddha
trus diramalkan bakal jadi samma sambuddha (oleh buddha dipankara)

tapi tidak diceritakan, trus petapa sumedha, setelah itu ikut rombongan atau langsung pulang rumah?


ada kok diceritakan, setelah Buddha Dipankara mengucapkan ramalan, selanjutnya Buddha Dipankara dan rombongan melanjutkan perjalanan disertai oleh para penduduk Ramavati, ke vihara yang dibangun khusus untuk Buddha dan rombongan, di sana Buddha Dipankara memberi ceramah Dhamma kepada para penduduk. sedangkan pada saat yang sama Sumedha malah bermeditasi dan merenungkan 10 Paramita yang harus dipenuhi untuk mencapai cita-citanya di masa depan.

Jadi memang benar, bahwa Petapa Sumedha tidak belajar dari Buddha Dipankara.

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 27 March 2009, 12:19:13 PM
Sembilan Kehidupan Lampau Siddharta Sebagai Bhikkhu
(i) Sebagai Raja Dunia Vijitavi yang kemudian menjadi bhikkhu pada masa Buddha Kondanna,
(ii) Sebagai Brahmana Suruci dan kemudian menjadi bhikkhu pada masa Buddha Manggala,
(iii) Sebagai Brahmana Uttara dan menjadi bhikkhu pada masa Buddha Sumedhà,
(iv) Sebagai raja dunia dan kemudian menjadi bhikkhu pada masa Buddha Sujàta,
(v) Sebagai Raja Vijitavi dan kemudian menjadi bhikkhu pada masa Buddha Phussa,
(vi) Sebagai Raja Sudassana dan menjadi bhikkhu pada masa Buddha Vessabhu,
(vii) Sebagai Raja Khemà dan menjadi bhikkhu pada masa Buddha Kakusandha,
(viii) Sebagai Raja Pabbata dan menjadi bhikkhu pada masa Buddha Konàgamana,
(ix) Sebagai Jotipàla, si pemuda brahmana dan kemudian menjadi bhikkhu pada massa Buddha Kassapa.

Demikianlah Beliau menerima ramalan dalam sembilan kehidupan sebagai bhikkhu

Sumber : Riwayat Agung Para Buddha (hal 383-384)
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: nyanadhana on 27 March 2009, 01:08:23 PM
Just Asking yach.... ;)  Apakah Mahayana banyak mengambil Ajaran-ajaran dari Rahib-rahib China (Fa-Xien,I Ching,Xuan Zhuang) yang mengambil kitab suci ke barat ?. Kalo tidak salah mereka bertiga mengeluarkan 3 kitab yang berbeda tentu dengan pendapatnya masing-masing... dan pada saat itu juga terdengar banyak Kaisar-kaisar yang anti Buddhism sehingga membakar habis Kitab-kitab yang ada.

No Offense ..Just Asking.... ;D

 _/\_
Gunawan S S

beberapa diselamatkan, bukan perbedaan pendapat hanya perbedaan mengutarakan isi namun tetep satu garis pemahaman.ini dikarenakan perbedaan penggunaan gaya bahasa di beberapa daerah tertentu.
Vajrachedika Sutra sendiri punya 3 versi, Surangama Sutra sendiri ditemukan kemudian di istana Kaisar Wanita Wu Ze Tian.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 27 March 2009, 01:24:15 PM
^
^
^
bro nyanadhana, kumaha dahang atuh? ^_^

pemahaman akan suatu isi beda-beda, dan cara penyampaian nya juga beda-beda, yang terjadi lah banyak versi...  ^-^
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 27 March 2009, 01:28:14 PM
Sembilan Kehidupan Lampau Siddharta Sebagai Bhikkhu
(i) Sebagai Raja Dunia Vijitavi yang kemudian menjadi bhikkhu pada masa Buddha Kondanna,
(ii) Sebagai Brahmana Suruci dan kemudian menjadi bhikkhu pada masa Buddha Manggala,
(iii) Sebagai Brahmana Uttara dan menjadi bhikkhu pada masa Buddha Sumedhà,
(iv) Sebagai raja dunia dan kemudian menjadi bhikkhu pada masa Buddha Sujàta,
(v) Sebagai Raja Vijitavi dan kemudian menjadi bhikkhu pada masa Buddha Phussa,
(vi) Sebagai Raja Sudassana dan menjadi bhikkhu pada masa Buddha Vessabhu,
(vii) Sebagai Raja Khemà dan menjadi bhikkhu pada masa Buddha Kakusandha,
(viii) Sebagai Raja Pabbata dan menjadi bhikkhu pada masa Buddha Konàgamana,
(ix) Sebagai Jotipàla, si pemuda brahmana dan kemudian menjadi bhikkhu pada massa Buddha Kassapa.

Demikianlah Beliau menerima ramalan dalam sembilan kehidupan sebagai bhikkhu

Sumber : Riwayat Agung Para Buddha (hal 383-384)

waduh2, ternyata petapa sumedha belajar dengan banyak buddha ya
trus yang jadi pertanyaan, buddha masa lampau tersebut, sekarang masih mengajarkan dharma?
dialam manakah sang buddha masa lampau tersebut?

sudah baca kisahnya bro

tapi tidak lengkap
tidak mendetail....

setelah membungkuk buat di injak oleh buddha dipankara
dia langsung bertekad menjadi buddha
trus diramalkan bakal jadi samma sambuddha (oleh buddha dipankara)

tapi tidak diceritakan, trus petapa sumedha, setelah itu ikut rombongan atau langsung pulang rumah?


ada kok diceritakan, setelah Buddha Dipankara mengucapkan ramalan, selanjutnya Buddha Dipankara dan rombongan melanjutkan perjalanan disertai oleh para penduduk Ramavati, ke vihara yang dibangun khusus untuk Buddha dan rombongan, di sana Buddha Dipankara memberi ceramah Dhamma kepada para penduduk. sedangkan pada saat yang sama Sumedha malah bermeditasi dan merenungkan 10 Paramita yang harus dipenuhi untuk mencapai cita-citanya di masa depan.

Jadi memang benar, bahwa Petapa Sumedha tidak belajar dari Buddha Dipankara.



oh ic2, bener2, bro indra
katanya petapa sumedha lagi menikmati pencapaian jhana nya (alias bertapa dihutan)

merenungkan 10 Paramita yang harus dipenuhi untuk mencapai cita-citanya di masa depan. >> berarti petapa sumedha menapaki jalan mahayana donk??? 10 paramita bodhisattva tah?

setau saya petapa sumedha sudah memenuhi pencapaian arahat pada saat itu juga kan, dia bisa saja jadi arahat dan kembali kejalan theravada kan? CMIIW

no offense, just curiousity....

 _/\_
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: nyanadhana on 27 March 2009, 01:29:53 PM
^
^
^
waduh2, ternyata buddha belajar dengan banyak buddha
trus yang jadi pertanyaan, buddha masa lampau tersebut, sekarang masih mengajarkan dharma?
dialam manakah sang buddha masa lampau tersebut?

sudah baca kisahnya bro

tapi tidak lengkap
tidak mendetail....

setelah membungkuk buat di injak oleh buddha dipankara
dia langsung bertekad menjadi buddha
trus diramalkan bakal jadi samma sambuddha (oleh buddha dipankara)

tapi tidak diceritakan, trus petapa sumedha, setelah itu ikut rombongan atau langsung pulang rumah?


ada kok diceritakan, setelah Buddha Dipankara mengucapkan ramalan, selanjutnya Buddha Dipankara dan rombongan melanjutkan perjalanan disertai oleh para penduduk Ramavati, ke vihara yang dibangun khusus untuk Buddha dan rombongan, di sana Buddha Dipankara memberi ceramah Dhamma kepada para penduduk. sedangkan pada saat yang sama Sumedha malah bermeditasi dan merenungkan 10 Paramita yang harus dipenuhi untuk mencapai cita-citanya di masa depan.

Jadi memang benar, bahwa Petapa Sumedha tidak belajar dari Buddha Dipankara.



oh ic2, bener2, bro indra
katanya petapa sumedha lagi menikmati pencapaian jhana nya (alias bertapa dihutan)


Jambudipa...melalui beribu2 kalpa.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hatRed on 27 March 2009, 01:30:51 PM
umm.......... something strange.. :-?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: N1AR on 27 March 2009, 01:32:20 PM
katanya yg bakalan pertama hilang adalah sutra tersebut bukan?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 27 March 2009, 01:34:44 PM
^
^
^
shurangama sutra
+ satu lagi kalau tidak salah, mahaparinibbana sutra

dua sutra ini pencegah ajaran dharma hilang dari muka bumi
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: nyanadhana on 27 March 2009, 01:35:33 PM
umm.......... something strange.. :-?

ada yang aneh lagi?

katanya yg bakalan pertama hilang adalah sutra tersebut bukan?

katanya...ehipassiko dulu ama sutranya baru bisa lanjutin apakah pertama hilang dan alasannya kenapa.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 27 March 2009, 01:36:07 PM
umm.......... something strange.. :-?

something strange?
for example? u tell me lar?

kita kan disini saling asah asih asuh?
bukan kah indah-nya kebersamaan.... ^_^
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: N1AR on 27 March 2009, 01:44:33 PM
apa perbedaan TBS ama mahayana asli nya?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hatRed on 27 March 2009, 01:45:14 PM
cuma ide aja...

kita flash back ma sejarah peradaban manusia dengan waktu paling pertama kali Buddha muncul...

apa sesuai.. ?

(tapi keknya OOT.. dah gak usah dibahas.. :hammer:)
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Indra on 27 March 2009, 01:48:29 PM
Sembilan Kehidupan Lampau Siddharta Sebagai Bhikkhu
(i) Sebagai Raja Dunia Vijitavi yang kemudian menjadi bhikkhu pada masa Buddha Kondanna,
(ii) Sebagai Brahmana Suruci dan kemudian menjadi bhikkhu pada masa Buddha Manggala,
(iii) Sebagai Brahmana Uttara dan menjadi bhikkhu pada masa Buddha Sumedhà,
(iv) Sebagai raja dunia dan kemudian menjadi bhikkhu pada masa Buddha Sujàta,
(v) Sebagai Raja Vijitavi dan kemudian menjadi bhikkhu pada masa Buddha Phussa,
(vi) Sebagai Raja Sudassana dan menjadi bhikkhu pada masa Buddha Vessabhu,
(vii) Sebagai Raja Khemà dan menjadi bhikkhu pada masa Buddha Kakusandha,
(viii) Sebagai Raja Pabbata dan menjadi bhikkhu pada masa Buddha Konàgamana,
(ix) Sebagai Jotipàla, si pemuda brahmana dan kemudian menjadi bhikkhu pada massa Buddha Kassapa.

Demikianlah Beliau menerima ramalan dalam sembilan kehidupan sebagai bhikkhu

Sumber : Riwayat Agung Para Buddha (hal 383-384)

waduh2, ternyata petapa sumedha belajar dengan banyak buddha ya
trus yang jadi pertanyaan, buddha masa lampau tersebut, sekarang masih mengajarkan dharma?
dialam manakah sang buddha masa lampau tersebut?

sudah baca kisahnya bro

tapi tidak lengkap
tidak mendetail....

setelah membungkuk buat di injak oleh buddha dipankara
dia langsung bertekad menjadi buddha
trus diramalkan bakal jadi samma sambuddha (oleh buddha dipankara)

tapi tidak diceritakan, trus petapa sumedha, setelah itu ikut rombongan atau langsung pulang rumah?


ada kok diceritakan, setelah Buddha Dipankara mengucapkan ramalan, selanjutnya Buddha Dipankara dan rombongan melanjutkan perjalanan disertai oleh para penduduk Ramavati, ke vihara yang dibangun khusus untuk Buddha dan rombongan, di sana Buddha Dipankara memberi ceramah Dhamma kepada para penduduk. sedangkan pada saat yang sama Sumedha malah bermeditasi dan merenungkan 10 Paramita yang harus dipenuhi untuk mencapai cita-citanya di masa depan.

Jadi memang benar, bahwa Petapa Sumedha tidak belajar dari Buddha Dipankara.



oh ic2, bener2, bro indra
katanya petapa sumedha lagi menikmati pencapaian jhana nya (alias bertapa dihutan)

merenungkan 10 Paramita yang harus dipenuhi untuk mencapai cita-citanya di masa depan. >> berarti petapa sumedha menapaki jalan mahayana donk??? 10 paramita bodhisattva tah?

setau saya petapa sumedha sudah memenuhi pencapaian arahat pada saat itu juga kan, dia bisa saja jadi arahat dan kembali kejalan theravada kan? CMIIW

no offense, just curiousity....

 _/\_

Sumber RAPB tidak menyebutkan demikian, tidak ada sama sekali dalam theravada seorang yang sudah Arahat bisa terlahir kembali. tapi tentunya akan OOT kalau membahas theravada di sini, jadi silahkan
:backtotopic:
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Gunawan on 27 March 2009, 01:49:48 PM
Quote
waduh2, ternyata petapa sumedha belajar dengan banyak buddha ya
trus yang jadi pertanyaan, buddha masa lampau tersebut, sekarang masih mengajarkan dharma?
dialam manakah sang buddha masa lampau tersebut?

Apakah Seorang Buddha yg telah mematahkan 10samyojana akan terlahir Kembali?  Coba anda renungkan.... :)

Quote
oh ic2, bener2, bro indra
katanya petapa sumedha lagi menikmati pencapaian jhana nya (alias bertapa dihutan)

merenungkan 10 Paramita yang harus dipenuhi untuk mencapai cita-citanya di masa depan. >> berarti petapa sumedha menapaki jalan mahayana donk??? 10 paramita bodhisattva tah?

setau saya petapa sumedha sudah memenuhi pencapaian arahat pada saat itu juga kan, dia bisa saja jadi arahat dan kembali kejalan theravada kan? CMIIW

no offense, just curiousity....
 

Dasa Paramittha adalah Dana , Sila , Nekkhama , Viriya , Panna , Khanti , Sacca , Addhitthana , Metta dan Uppekha

Kalau 10 Paramittha Bodhisatva itu apa yach?


 _/\_
Thanks & Best Regards
Gunawan S S

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: N1AR on 27 March 2009, 01:53:47 PM
Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
jadi pandangan berbeda bagaimana yg kritis?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 27 March 2009, 01:59:06 PM
Sembilan Kehidupan Lampau Siddharta Sebagai Bhikkhu
(i) Sebagai Raja Dunia Vijitavi yang kemudian menjadi bhikkhu pada masa Buddha Kondanna,
(ii) Sebagai Brahmana Suruci dan kemudian menjadi bhikkhu pada masa Buddha Manggala,
(iii) Sebagai Brahmana Uttara dan menjadi bhikkhu pada masa Buddha Sumedhà,
(iv) Sebagai raja dunia dan kemudian menjadi bhikkhu pada masa Buddha Sujàta,
(v) Sebagai Raja Vijitavi dan kemudian menjadi bhikkhu pada masa Buddha Phussa,
(vi) Sebagai Raja Sudassana dan menjadi bhikkhu pada masa Buddha Vessabhu,
(vii) Sebagai Raja Khemà dan menjadi bhikkhu pada masa Buddha Kakusandha,
(viii) Sebagai Raja Pabbata dan menjadi bhikkhu pada masa Buddha Konàgamana,
(ix) Sebagai Jotipàla, si pemuda brahmana dan kemudian menjadi bhikkhu pada massa Buddha Kassapa.

Demikianlah Beliau menerima ramalan dalam sembilan kehidupan sebagai bhikkhu

Sumber : Riwayat Agung Para Buddha (hal 383-384)

waduh2, ternyata petapa sumedha belajar dengan banyak buddha ya
trus yang jadi pertanyaan, buddha masa lampau tersebut, sekarang masih mengajarkan dharma?
dialam manakah sang buddha masa lampau tersebut?

sudah baca kisahnya bro

tapi tidak lengkap
tidak mendetail....

setelah membungkuk buat di injak oleh buddha dipankara
dia langsung bertekad menjadi buddha
trus diramalkan bakal jadi samma sambuddha (oleh buddha dipankara)

tapi tidak diceritakan, trus petapa sumedha, setelah itu ikut rombongan atau langsung pulang rumah?


ada kok diceritakan, setelah Buddha Dipankara mengucapkan ramalan, selanjutnya Buddha Dipankara dan rombongan melanjutkan perjalanan disertai oleh para penduduk Ramavati, ke vihara yang dibangun khusus untuk Buddha dan rombongan, di sana Buddha Dipankara memberi ceramah Dhamma kepada para penduduk. sedangkan pada saat yang sama Sumedha malah bermeditasi dan merenungkan 10 Paramita yang harus dipenuhi untuk mencapai cita-citanya di masa depan.

Jadi memang benar, bahwa Petapa Sumedha tidak belajar dari Buddha Dipankara.



oh ic2, bener2, bro indra
katanya petapa sumedha lagi menikmati pencapaian jhana nya (alias bertapa dihutan)

merenungkan 10 Paramita yang harus dipenuhi untuk mencapai cita-citanya di masa depan. >> berarti petapa sumedha menapaki jalan mahayana donk??? 10 paramita bodhisattva tah?

setau saya petapa sumedha sudah memenuhi pencapaian arahat pada saat itu juga kan, dia bisa saja jadi arahat dan kembali kejalan theravada kan? CMIIW

no offense, just curiousity....

 _/\_

Sumber RAPB tidak menyebutkan demikian, tidak ada sama sekali dalam theravada seorang yang sudah Arahat bisa terlahir kembali. tapi tentunya akan OOT kalau membahas theravada di sini, jadi silahkan
:backtotopic:

makanya, minta donk buku RAPB - nya...  ;D
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hatRed on 27 March 2009, 02:01:24 PM
Just FYI,

waktu sang Buddha Gotama di malam mencapai penerangan Sempurna, dia merenungkan dasa paramitha nya lowww...
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: nyanadhana on 27 March 2009, 02:09:29 PM
cuma ide aja...

kita flash back ma sejarah peradaban manusia dengan waktu paling pertama kali Buddha muncul...

apa sesuai.. ?

(tapi keknya OOT.. dah gak usah dibahas.. :hammer:)

bumi ini sudah pernah punah dan terbentuk kembali lho...bukannya awal peradaban manusia kali ini aja.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 27 March 2009, 03:47:48 PM
Sembilan Kehidupan Lampau Siddharta Sebagai Bhikkhu
(i) Sebagai Raja Dunia Vijitavi yang kemudian menjadi bhikkhu pada masa Buddha Kondanna,
(ii) Sebagai Brahmana Suruci dan kemudian menjadi bhikkhu pada masa Buddha Manggala,
(iii) Sebagai Brahmana Uttara dan menjadi bhikkhu pada masa Buddha Sumedhà,
(iv) Sebagai raja dunia dan kemudian menjadi bhikkhu pada masa Buddha Sujàta,
(v) Sebagai Raja Vijitavi dan kemudian menjadi bhikkhu pada masa Buddha Phussa,
(vi) Sebagai Raja Sudassana dan menjadi bhikkhu pada masa Buddha Vessabhu,
(vii) Sebagai Raja Khemà dan menjadi bhikkhu pada masa Buddha Kakusandha,
(viii) Sebagai Raja Pabbata dan menjadi bhikkhu pada masa Buddha Konàgamana,
(ix) Sebagai Jotipàla, si pemuda brahmana dan kemudian menjadi bhikkhu pada massa Buddha Kassapa.

Demikianlah Beliau menerima ramalan dalam sembilan kehidupan sebagai bhikkhu

Sumber : Riwayat Agung Para Buddha (hal 383-384)

waduh2, ternyata petapa sumedha belajar dengan banyak buddha ya
trus yang jadi pertanyaan, buddha masa lampau tersebut, sekarang masih mengajarkan dharma?
dialam manakah sang buddha masa lampau tersebut?

Kalau menurut Theravada, tiada kelahiran kembali lagi bagi BUDDHA yang sudah parinibbana (anupadisesa nibbana / nibbana tanpa sisa). Mau ngajar dimana lagi ? Tidak tahu menurut konsep Mahayana (sering dikaitkan dengan konsep TRIKAYA)...

sudah baca kisahnya bro

tapi tidak lengkap
tidak mendetail....

setelah membungkuk buat di injak oleh buddha dipankara
dia langsung bertekad menjadi buddha
trus diramalkan bakal jadi samma sambuddha (oleh buddha dipankara)

tapi tidak diceritakan, trus petapa sumedha, setelah itu ikut rombongan atau langsung pulang rumah?


ada kok diceritakan, setelah Buddha Dipankara mengucapkan ramalan, selanjutnya Buddha Dipankara dan rombongan melanjutkan perjalanan disertai oleh para penduduk Ramavati, ke vihara yang dibangun khusus untuk Buddha dan rombongan, di sana Buddha Dipankara memberi ceramah Dhamma kepada para penduduk. sedangkan pada saat yang sama Sumedha malah bermeditasi dan merenungkan 10 Paramita yang harus dipenuhi untuk mencapai cita-citanya di masa depan.

Jadi memang benar, bahwa Petapa Sumedha tidak belajar dari Buddha Dipankara.



oh ic2, bener2, bro indra
katanya petapa sumedha lagi menikmati pencapaian jhana nya (alias bertapa dihutan)

merenungkan 10 Paramita yang harus dipenuhi untuk mencapai cita-citanya di masa depan. >> berarti petapa sumedha menapaki jalan mahayana donk??? 10 paramita bodhisattva tah?

setau saya petapa sumedha sudah memenuhi pencapaian arahat pada saat itu juga kan, dia bisa saja jadi arahat dan kembali kejalan theravada kan? CMIIW

no offense, just curiousity....

 _/\_
[/quote]

sudah memenuhi syarat pencapaian, tetapi belum merealisasikan savaka buddha, karena masih adanya keinginan luhur (chanda) untuk menyelamatkan makhluk hidup sebagai seorang sammasambuddha, makanya petapa sumedha akibat aspirasinya yang telah di-pastikan oleh seorang sammasambuddha (buddha dipankara) harus menjalani tambahan kehidupan 4 assankheya kappa + 100 ribu kappa untuk menyempurnakan parami-nya guna kelak bisa mencapai annutara sammasambuddha.

MENGAPA PETAPA SUMEDHA harus menjalani tambahan kehidupan yang begitu lama untuk menyempurnakan parami sebagai seorang sammasambuddha, padahal pada waktu itu petapa sumedha sudah memenuhi syarat untuk menjadi seorang savaka/sravaka di bawah BUDDHA DIPANKARA ?
Bukan lain karena seorang sammasambuddha harus memiliki kecakapan khusus yang dimiliki oleh seorang sammasambuddha (tidak dimiliki oleh sravaka maupun pacceka) yaitu KEMAHATAHUAN atas semua prinsip yang harus diketahui dalam JALAN. Dengan KEMAHATAHUAN inilah seorang sammasambuddha dapat menurunkan ajaran PIONER (pendobrak) pada saat jaman kekosongan ajaran.

Apakah dikatakan petapa sumedha mengambil jalan MAHAYANA ? bisa jadi kalau konsep MAhayana yang mengajarkan umat-nya untuk merealisasikan annutara samyaksambuddha, dalam hal ini mungkin IYA... tetapi kalau konsep MAHAYANA tentang para ARAHAT/SAVAKA BUDDHA keluar dari nibbana SRAVAKA untuk kemudian melanjutkan lagi ke tingkat yang lebih tinggi (dalam hal ini BODHISATVA TKT-10 / ANNUTARA SAMYAKSAMBUDDHA), IMO tidak seperti demikian.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 27 March 2009, 04:12:02 PM
[at] bro indra & dilbert

thanks for your kindly explanation.

jadi sedikit mengerti sekarang, hihihi...
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Edward on 27 March 2009, 05:58:20 PM
Sekali lagi Marcedes, rasanya anda kurang mengerti.

Coba saya jawab secara singkat kepada anda:

Yang ada dalam SUTTA VERSI THERAVADA ITU SALAH!!
KARENA DALAM SUTRA MAHAYANA BERBEDA!
So, MEMASUKKAN KUTIPAN SUTTA THERAVADA TIDAK RELEVAN, KARENA ISI-nya RANCU,MELENCENG dan MELAYANG-LAYANG DARI DHARMA YANG SEBENARNYA!


Rekan TS,
Dengan postingan ini, anda telah melanggar aturan yang anda buat sendiri, atas dasar apakah Saudara mengatakan Sutta versi Theravada itu SALAH?

tadinya saya ingin meng-click report to moderator, tapi saya pikir tidak ada gunanya karena anda adalah moderatornya.

Mohon Klarifikasi.

Ok, saya setuju.
Jika anda memank sudah bisa melihat kenyataan secara murni dan jelas, mari anda berbagi dengan kita semua sehingga saya pun, yang masih belajar ini bertambah pengetahuannya agar bisa melihat kenyataan secara murni dan jelas.
Karena kedua aliran memiliki referensi yg berbeda, akan lebih baik jika kenyataan dapat dijelaskan tanpa terikat embel2 menurut "Sutta ini benar, menurut Sutra ini salah".Karena jika tetap berpatokan dengan hal tersebut, pembahasan akan berujung pada debat kusir.
Karena jujur saja, dengan segala ketebatasan yg ada, sutra/sutta yg saya baca itu baru sangat sedikit.

Rekan Marcedes, karena anda yang sebagai partner diskusi dengan saya, bisakah tolong bantu memberikan klarifikasi seperti yg rekan Semit minta?Atau anda pun ternyata sebenarnya membutuhkan klarifikasi seperti rekan Semit?
Tuan Mod/TS yg baik,
saya mungkin mekakukan kesalahan dengan nimbrung langsung setelah 11 halaman, sebelum membaca thread ini dari awal, karena saya merasa surorised dengan statement anda. dan sambill saya membaca thread ini dari awal, bisakah menjelaskan aturan khusus berdiskusi di thread ini, selain yang terdapat dalam posting pertama. misalnya. semua pertanyaan yg memohon klarifikasi kepada TS/Mod akan dialihkan ke lawan diskusi dari TS.


Ok, karena Marcedes tidak dapat membantu, saya akan menjelaskan sendiri.
Sebelum penjelasan saya, ada alasan mengapa saya meminta pada Marcedes untuk bantu menjelaskan, karena saya perlu mengetahui respon tertulis mengenai statement saya.Yaitu persamaan visi.Dengan begitu diskusi dapat berjalan dengan lancar tanpa adu2 referensi yang berbeda.
Dan penjelasan saya mengenai statement saya ialah:
1.Kalimat itu sebagai kalimat "pemotong" secara langsung pada beberapa member yang secara eksplisit maupun tidak, membanding2kan sutra Mahayana dengan Sutta Theravada.Bahwa menurut sutta itu "x", tapi jika menurut sutra itu "y", bearti "y" itu salah.Saya melihat ada arah diskusi menuju ke arah ini, tentu saja saya akan MENCEGAH, sebelum hal tersebut terjadi.Karena jika benar2 terjadi, akan menjadi debat kusir, dan saya sebagai moderator pasti akan menutup thread ini.Dan jika ujung2nya debat kusir, thread ini akan percuma dan tidak akan membawa manfaat.

2.Apakah isi sutra dan sutta berbeda?
Jika isi dari kedua kitab tersebut sama persis, apakah akan timbul yang namanya THERAVADA DAN MAHAYANA?
Bagi yang gemar menelusuri jejak2 sejarah penulisan sutta / sutra, silahkan diteliti dan dilihat.Dari awal penulisan aja udh beda.Tetapi keduanya memiliki sejarah dan jejak yang sangat kuat.
Bagaimana bisa beda? I don't know.

Untuk itulah, salah satu tujuan dari saya memulai thread ini ialah, agar kita sama2 bisa melihat dan menjembatani segala perbedaan yang ada.Hal ini tentu saja sulit, bagi saya sendiri yg bertugas sebagai Moderator,dan bagi kawan2 yang tertarik untuk berdiskusi. Karena diperlukan NETRALITAS, KETERBUKAAN, DAN SIKAP MENGHARGAI yang kuat agar diskusi dapat berjalan baik dan mencapai tujuan yang diharapkan.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: marcedes on 27 March 2009, 06:10:26 PM
Sekali lagi Marcedes, rasanya anda kurang mengerti.

Coba saya jawab secara singkat kepada anda:

Yang ada dalam SUTTA VERSI THERAVADA ITU SALAH!!
KARENA DALAM SUTRA MAHAYANA BERBEDA!
So, MEMASUKKAN KUTIPAN SUTTA THERAVADA TIDAK RELEVAN, KARENA ISI-nya RANCU,MELENCENG dan MELAYANG-LAYANG DARI DHARMA YANG SEBENARNYA!


Rekan TS,
Dengan postingan ini, anda telah melanggar aturan yang anda buat sendiri, atas dasar apakah Saudara mengatakan Sutta versi Theravada itu SALAH?

tadinya saya ingin meng-click report to moderator, tapi saya pikir tidak ada gunanya karena anda adalah moderatornya.

Mohon Klarifikasi.

Ok, saya setuju.
Jika anda memank sudah bisa melihat kenyataan secara murni dan jelas, mari anda berbagi dengan kita semua sehingga saya pun, yang masih belajar ini bertambah pengetahuannya agar bisa melihat kenyataan secara murni dan jelas.
Karena kedua aliran memiliki referensi yg berbeda, akan lebih baik jika kenyataan dapat dijelaskan tanpa terikat embel2 menurut "Sutta ini benar, menurut Sutra ini salah".Karena jika tetap berpatokan dengan hal tersebut, pembahasan akan berujung pada debat kusir.
Karena jujur saja, dengan segala ketebatasan yg ada, sutra/sutta yg saya baca itu baru sangat sedikit.

Rekan Marcedes, karena anda yang sebagai partner diskusi dengan saya, bisakah tolong bantu memberikan klarifikasi seperti yg rekan Semit minta?Atau anda pun ternyata sebenarnya membutuhkan klarifikasi seperti rekan Semit?
Tuan Mod/TS yg baik,
saya mungkin mekakukan kesalahan dengan nimbrung langsung setelah 11 halaman, sebelum membaca thread ini dari awal, karena saya merasa surorised dengan statement anda. dan sambill saya membaca thread ini dari awal, bisakah menjelaskan aturan khusus berdiskusi di thread ini, selain yang terdapat dalam posting pertama. misalnya. semua pertanyaan yg memohon klarifikasi kepada TS/Mod akan dialihkan ke lawan diskusi dari TS.


Ok, karena Marcedes tidak dapat membantu, saya akan menjelaskan sendiri.
Sebelum penjelasan saya, ada alasan mengapa saya meminta pada Marcedes untuk bantu menjelaskan, karena saya perlu mengetahui respon tertulis mengenai statement saya.Yaitu persamaan visi.Dengan begitu diskusi dapat berjalan dengan lancar tanpa adu2 referensi yang berbeda.
Dan penjelasan saya mengenai statement saya ialah:
1.Kalimat itu sebagai kalimat "pemotong" secara langsung pada beberapa member yang secara eksplisit maupun tidak, membanding2kan sutra Mahayana dengan Sutta Theravada.Bahwa menurut sutta itu "x", tapi jika menurut sutra itu "y", bearti "y" itu salah.Saya melihat ada arah diskusi menuju ke arah ini, tentu saja saya akan MENCEGAH, sebelum hal tersebut terjadi.Karena jika benar2 terjadi, akan menjadi debat kusir, dan saya sebagai moderator pasti akan menutup thread ini.Dan jika ujung2nya debat kusir, thread ini akan percuma dan tidak akan membawa manfaat.

2.Apakah isi sutra dan sutta berbeda?
Jika isi dari kedua kitab tersebut sama persis, apakah akan timbul yang namanya THERAVADA DAN MAHAYANA?
Bagi yang gemar menelusuri jejak2 sejarah penulisan sutta / sutra, silahkan diteliti dan dilihat.Dari awal penulisan aja udh beda.Tetapi keduanya memiliki sejarah dan jejak yang sangat kuat.
Bagaimana bisa beda? I don't know.

Untuk itulah, salah satu tujuan dari saya memulai thread ini ialah, agar kita sama2 bisa melihat dan menjembatani segala perbedaan yang ada.Hal ini tentu saja sulit, bagi saya sendiri yg bertugas sebagai Moderator,dan bagi kawan2 yang tertarik untuk berdiskusi. Karena diperlukan NETRALITAS, KETERBUKAAN, DAN SIKAP MENGHARGAI yang kuat agar diskusi dapat berjalan baik dan mencapai tujuan yang diharapkan.
saudara edward yang bijak,
sudah di katakan berulang dan berulang, yang kita bicarakan adalah "kenyataan"

kembali ke pertanyaan awal.
bagi anda saudara edward, "apakah kelahiran merupakan penderitaan?"
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Edward on 27 March 2009, 06:56:04 PM
saudara edward yang bijak,
sudah di katakan berulang dan berulang, yang kita bicarakan adalah "kenyataan"

kembali ke pertanyaan awal.
bagi anda saudara edward, "apakah kelahiran merupakan penderitaan?"

Dan saya mengulang dan mempertegas kalimat saya karena adanya permintaan dari rekan Semit. :)

"apakah kelahiran merupakan penderitaan?"
Ya. :)
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Edward on 27 March 2009, 07:06:02 PM
Sedang beres2 buku lama, secara kga sengaja membaca kembali kutipan menarik dari buku "Keyakinan Umat Buddha oleh Sri Dhammananda"

Komentar mengenai Tikaya.
".....Gagasan ini dengan jelas termaktub dalam teks Pali asli dari Theravada...."
"...Walaupun istilah Sambhogakaya dan Dhammakaya ditemukan pada karya Pali yang belakangan datang dari Mahayana dan Semi-Mahayana, murid2 dari tradisi lain tidak menunjukkan sikap pertentangan terhadapa mereka...."
Lebih lengkap dapat dilihat sendiri di hal 36-39.

Ada pertanyaan yg ingin ditanyakan, apakah yg dimaksud dengan "semi-mahayana?"

Apakah artinya menurut Sri Dhammananda Theravada juga mengakui konsep Trikaya?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: marcedes on 27 March 2009, 10:09:45 PM
saudara edward yang bijak,
sudah di katakan berulang dan berulang, yang kita bicarakan adalah "kenyataan"

kembali ke pertanyaan awal.
bagi anda saudara edward, "apakah kelahiran merupakan penderitaan?"

Dan saya mengulang dan mempertegas kalimat saya karena adanya permintaan dari rekan Semit. :)

"apakah kelahiran merupakan penderitaan?"
Ya. :)
bagus, dan apakah anda setuju juga,
jikalau akhir dari derita adalah  "tanpa kelahiran" ?

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: marcedes on 28 March 2009, 12:27:00 AM
saya akhiri saja diskusi ini,
semoga anda semua bisa merenungkan nya......
saya mulai dari malafalkan amitabha....

masalah melafalkan amitabha, anda katakan semua buddha sama, dan dhamma-nya sama.

ketika melafalkan amitabha,di kehidupan sekarang ini..... katakanlah memiliki peluang 50%  untuk bisa ke alam sana....
dan ketika anda memenangkan peluang 50% tersebut... anda mesti dibimbing lagi oleh buddha amitabha...

apakah yang diajarkan buddha amitabha?  >> inilah pokok permasalahan-nya.

dikatakan Sammasambuddha gotama telah membabarkan dhamma dengan sempurna, hingga tidak ada satupun dirahasiakan-nya...
jadi...begitu anda berhadapan dengan buddha amitabha....disitu hanya mengulang kata-kata buddha gotama bukan...

mengapa tidak belajar sekarang saja disini?.....mari lihat untung rugi-nya?
1. untuk masuk ke alam tersebut, mesti berjuang tanpa keberhasilan 100%....mengapa dikatakan bukan 100%.....
karena tidak ada satupun orang yang mampu mengatakan bahwa "alam ini telah saya lihat",
berbeda dengan jhana yang dapat dicapai saat ini....dengan mengikuti petunjuk...ada bukti nyata lagi.

2.ternyata ketika anda telah masuk...anda hanya mendengarkan hal yang sama.
jikalau demikian apa bedanya belajar disini dan di sana?

3.buddha amitabha berkata "4 kesunyataan mulia"
 - kelahiran adalah penderitaan, usia tua adalah penderitaan , sakit adalah penderitaan, kehilangan orang yang dicintai,dsb-nya...

bukankah hal ini merujuk pada kebohongan?...di sana kan tidak ada penderitaan...
apa anda mau menyatakan UUD45 di negara singapura? tidak berlaku kan....
jadi buddha mengajarkan kebenaran Absolut(paramatha)? atau kebenaran perspektif(samuthi)?

sama halnya disini dan disana.....


===================================
tidak ada alasan pergi kesana belajar dan berharap mendengar "dhamma special" yang membawa pada pencerahan.

kemudian apabila katakanlah telah berhasil ke sana dan telah belajar dhamma disana....
coba lihat perhatikan...

"sariputta
(murid utama yang dikatakan oleh sang buddha sebagai tauladan yang baik)
dikatakan akan terlahir lagi entah dikalpa mana, disitu akan mencapai sammasambuddha.
sampai disini...ternyata "kelahiran" bukan merupakan penderitaan lagi.
sudah berbalik fakta dengan 4 kesunyataan mulia..atau bahkan anda sendiri tadi menyatakan "kelahiran merupakan penderitaan"
dan ketika telah mencapai sammasambuddha parah nya lagi.

---kutipan sutra-----
Ketika Buddha itu sedang menginjak Jalan KeBodhisattvaan, Ia telah mengucapkan Prasetya Agung dengan berkata:"Setelah Aku menjadi Seorang Buddha dan setelah Aku moksha, maka dimanapun juga jika didalam negeri di alam semesta ini terdapat suatu tempat dimana Sutta Bunga Teratai Dari Hukum Yang Menakjubkan dikhotbahkan, maka disitulah Stupa-Ku akan muncul dan menjulang tinggi agar Aku dapat mendengarkan Sutta itu dan memberi kesaksian terhadap-Nya serta memuji-Nya dengan berkata:"Bagus sekali !"
----------------

jadi ternyata "anda belum bebas dari kelahiran"
belum bebas dari penderitaan?...padahal sudah jadi sammasambuddha loh. !!!

ditambah ini....

---kutipan sutra---
Pada saat itu Sang Sakyamuni Buddha bangkit dari tempat duduk Hukum-Nya untuk memperlihatkan Kekuatan Ghaib, dan meletakkan Tangan kanan-Nya diatas kepala-kepala dari Para Bodhisattva-Mahasattva yang tak terhitung jumlah-Nya serta bersabda demikian :
“Selama ratusan ribu koti asamkhyeya kalpa yang tanpa hitungan, Aku telah melaksanakan Hukum Kesunyataan Penerangan Agung yang aneh ini. Sekarang Aku percayakan kepada kalian. Sebar luaskanlah Hukum Kesunyataan ini dengan sepenuh hati Kalian dan tingkatkan serta suburkanlah di seluruh pelosok alam semesta.”
----------------

kapan yah bebas dari kelahiran?
atau saya ubah menjadi "kapan tidak menderita lagi?"

dan maka lengkaplah semua menjadi............

"buddha menyelamatkan makhluk hidup dari apa?
menyelamatkan dari penderitaan?... toh masih juga lahir...(berarti menderita)
buddha mengajarkan kebahagiaan....toh masih ada penderitaan....
renungkan lah ini.........^^


mari kita bahas lagi lebih lanjut..............
dikatakan telah beribu-ribu koti kalpa tidak terhingga,buddha telah mengajarkan hukum kesunyataan...


------kutipan sutra----
Kemudian Sang Buddha menyapa Semua Bodhisattva-Bodhisattva itu :"Wahai Putera-Putera-Ku Yang Baik ! Sekarang Aku harus memaparkan dan menyatakan dengan jelas kepada Kalian. Seandainya Kalian mengumpulkan atom-atom dari semua dunia itu, baik yang sudah di tebarkan maupun yang belum, kemudian menghitung setiap butiran atom itu sebagai satu kalpa, maka waktu sejak Aku menjadi Buddha masih juga melampaui semuanya ini dengan ratusan ribu koti nayuta asamkhyeya kalpa. Mulai saat itu dan seterusnya, Aku telah tiada henti-hentinya berkhotbah dan mengajar di dalam Dunia Saha ini serta memimpin dan menyelamatkan semua mahluk hidup di tempat-tempat lain dalam ratusan ribu koti nayuta asamkhyeya kawasan. Putera-Putera Yang Baik ! Selama waktu ini, Aku selalu bersabda mengenai Diri-Ku Sendiri sebagai Sang Buddha Cahaya Menyala, dan juga bersabda mengenai Buddha-Buddha yang lain serta menceritakan pula kepada Mereka tentang masuknya Para Buddha ke Nirvana. Demikianlah telah Aku gambarkan kepada Mereka secara Bijaksana.
-------

1.kok bisa lupa cara pencapaian sempurna, bahkan butuh guru bimbingan sampai lewat pemusik?
2.apa mesti menikah lagi dengan yasodhara? jadi siapa lagi calon berikut nya?
3.butuh 6 tahun menyiksa baru pencapaiannya kembali?...apakah pencapaian sammasambuddha bisa memudar?.....

ternyata baik buddha amitabha, buddha gotama, atau bahkan buddha maitreya....masih juga harus menderita....
sariputta pun ikut menjadi tumbal dari kelahiran.......termasuk calon murid yakni anda


inikah jalan menuju kebahagiaan?
bagian mana-nya yang bahagia?

yang ada hanya  P E N D E R I T A A N

banyak berkah pada anda..
salam metta.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Edward on 28 March 2009, 04:15:22 AM
Mari kita ulang secara lengkap 4  Kebenaran Ariya :
1. Kebenaran Ariya tentang dukkha;
2. Kebenaran Ariya tentang sebab dukkha;
3. Kebenaran Ariya tentang berakhirnya dukkha;
4. Kebenaran Ariya tentang Jalan menuju berakhirnya dukkha.

Apakah dukkha itu? Apakah serta merta dukkha = penderitaan? Dukkha dalam arti luas pun mengandung makna yg lebih dalam seperti : ketidakpuasan, ketidaksempurnaan, sakit, ketidakabadian, ketidakselerasan, ketidaknyamanan.

Anda bertanya "Apakah bagi Edward kelahiran merupakan penderitaan?" Tentu saya jawab "ya". Karena dalam kehidupan ini saya masih terbelenggu akan ikatan dan kebahagiaan yg terkondisikan.Tapi apakah sama bagi seseorang yg telah "TERBEBASKAN" sepenuhnya?Ketika kondisi2 telah dilepaskan, tubuh fisik telah dilepaskan dan yg ada adalah tubuh dhamma, yang tidak terkondisikan.Sama seperti makna akan Dhamma itu sendiri.

Jika mengikuti secara serta merta dukkha=penderitaan=kelahiran... Dan kita memasukkan ke dalam Kebenaran Ariya ke 3, menjadi "Kebenaran Ariya tentang Berakhirnya kelahiran" Woooww...Bukankah terlihat seperti paham nihilis? Jika diskusi mencapai k tahap ini, tentu saya akan mengakhiri, karena yg ada adalah spekulasi semata. Karena dengan kapasitas yang ada saat ini, saya belum mencapai tahap melihat dan memahami sepenuhnya dengan pengalaman sendiri.

Mengenai Amitabha Buddha.
Jika berikrar untuk terlahir dalam Sukhavati setelah kematian setelah kehidupan ini, berarti kita tidak mempelajari Dhamma dari Siddharta dan berlatih sesuai ajarannya pada kehidupan ini?Itu hanya ada dalam pikiran makhluk malas!

Dan seperti Jhana, BANYAK praktisi yang telah melihat alam Sukhavati dan tubuh dhamma Amitabha Buddha sebelum harus MATI dahulu.

Apakah Sukhavati memungkinkan menjadi tempat melihat sendiri 4 Kebenaran Ariya?Jika memaknai dukkha = penderitaan, tentu saja TIDAK.Tapi apakah makna dukkha sebegitu sempitnya? ???
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Edward on 28 March 2009, 05:04:45 AM
Menurut Tradisi Theravada, pelajaran Dhamma memang bisa didapatkan seorang Bodhisatta dari Buddha yang ada pada masa itu. Contohnya Bodhisatta Gotama pada kehidupan sebagai Jotipala, menjadi bhikkhu dari Samma Sambuddha Kassapa.

Yang sebetulnya berbeda adalah dalam Tradisi Theravada, ajaran semua Buddha adalah sama PERSIS.
Jadi berbeda dengan aliran lain misalnya Mahayana yang mengajarkan ajaran alternatif dari Buddha Amitabha (yaitu tekad menuju Sukhavati yang tidak diajarkan Buddha Sakyamuni), atau juga misalnya aliran Maitreya yang mengajarkan ajaran Buddha itu bisa kadaluwarsa dan digantikan dengan ajaran Buddha berikutnya.


Sori Bro, saya menolak IKT dikategorikan dalam Mahayana, maupun sebaliknya. ;D
Dan setahu saya, Tradisi Mahayana jg mengakui bahwa ajaran para Buddha sama, cma seperti iklan2, *terms and condition apply*  ;D
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 28 March 2009, 08:23:20 AM
saya akhiri saja diskusi ini,
semoga anda semua bisa merenungkan nya......
saya mulai dari malafalkan amitabha....

masalah melafalkan amitabha, anda katakan semua buddha sama, dan dhamma-nya sama.

ketika melafalkan amitabha,di kehidupan sekarang ini..... katakanlah memiliki peluang 50%  untuk bisa ke alam sana....
dan ketika anda memenangkan peluang 50% tersebut... anda mesti dibimbing lagi oleh buddha amitabha...

apakah yang diajarkan buddha amitabha?  >> inilah pokok permasalahan-nya.

dikatakan Sammasambuddha gotama telah membabarkan dhamma dengan sempurna, hingga tidak ada satupun dirahasiakan-nya...
jadi...begitu anda berhadapan dengan buddha amitabha....disitu hanya mengulang kata-kata buddha gotama bukan...

mengapa tidak belajar sekarang saja disini?.....mari lihat untung rugi-nya?
1. untuk masuk ke alam tersebut, mesti berjuang tanpa keberhasilan 100%....mengapa dikatakan bukan 100%.....
karena tidak ada satupun orang yang mampu mengatakan bahwa "alam ini telah saya lihat",
berbeda dengan jhana yang dapat dicapai saat ini....dengan mengikuti petunjuk...ada bukti nyata lagi.

2.ternyata ketika anda telah masuk...anda hanya mendengarkan hal yang sama.
jikalau demikian apa bedanya belajar disini dan di sana?

3.buddha amitabha berkata "4 kesunyataan mulia"
 - kelahiran adalah penderitaan, usia tua adalah penderitaan , sakit adalah penderitaan, kehilangan orang yang dicintai,dsb-nya...

bukankah hal ini merujuk pada kebohongan?...di sana kan tidak ada penderitaan...
apa anda mau menyatakan UUD45 di negara singapura? tidak berlaku kan....
jadi buddha mengajarkan kebenaran Absolut(paramatha)? atau kebenaran perspektif(samuthi)?

sama halnya disini dan disana.....


===================================
tidak ada alasan pergi kesana belajar dan berharap mendengar "dhamma special" yang membawa pada pencerahan.

kemudian apabila katakanlah telah berhasil ke sana dan telah belajar dhamma disana....
coba lihat perhatikan...

"sariputta
(murid utama yang dikatakan oleh sang buddha sebagai tauladan yang baik)
dikatakan akan terlahir lagi entah dikalpa mana, disitu akan mencapai sammasambuddha.
sampai disini...ternyata "kelahiran" bukan merupakan penderitaan lagi.
sudah berbalik fakta dengan 4 kesunyataan mulia..atau bahkan anda sendiri tadi menyatakan "kelahiran merupakan penderitaan"
dan ketika telah mencapai sammasambuddha parah nya lagi.

---kutipan sutra-----
Ketika Buddha itu sedang menginjak Jalan KeBodhisattvaan, Ia telah mengucapkan Prasetya Agung dengan berkata:"Setelah Aku menjadi Seorang Buddha dan setelah Aku moksha, maka dimanapun juga jika didalam negeri di alam semesta ini terdapat suatu tempat dimana Sutta Bunga Teratai Dari Hukum Yang Menakjubkan dikhotbahkan, maka disitulah Stupa-Ku akan muncul dan menjulang tinggi agar Aku dapat mendengarkan Sutta itu dan memberi kesaksian terhadap-Nya serta memuji-Nya dengan berkata:"Bagus sekali !"
----------------

jadi ternyata "anda belum bebas dari kelahiran"
belum bebas dari penderitaan?...padahal sudah jadi sammasambuddha loh. !!!

ditambah ini....

---kutipan sutra---
Pada saat itu Sang Sakyamuni Buddha bangkit dari tempat duduk Hukum-Nya untuk memperlihatkan Kekuatan Ghaib, dan meletakkan Tangan kanan-Nya diatas kepala-kepala dari Para Bodhisattva-Mahasattva yang tak terhitung jumlah-Nya serta bersabda demikian :
“Selama ratusan ribu koti asamkhyeya kalpa yang tanpa hitungan, Aku telah melaksanakan Hukum Kesunyataan Penerangan Agung yang aneh ini. Sekarang Aku percayakan kepada kalian. Sebar luaskanlah Hukum Kesunyataan ini dengan sepenuh hati Kalian dan tingkatkan serta suburkanlah di seluruh pelosok alam semesta.”
----------------

kapan yah bebas dari kelahiran?
atau saya ubah menjadi "kapan tidak menderita lagi?"

dan maka lengkaplah semua menjadi............

"buddha menyelamatkan makhluk hidup dari apa?
menyelamatkan dari penderitaan?... toh masih juga lahir...(berarti menderita)
buddha mengajarkan kebahagiaan....toh masih ada penderitaan....
renungkan lah ini.........^^


mari kita bahas lagi lebih lanjut..............
dikatakan telah beribu-ribu koti kalpa tidak terhingga,buddha telah mengajarkan hukum kesunyataan...


------kutipan sutra----
Kemudian Sang Buddha menyapa Semua Bodhisattva-Bodhisattva itu :"Wahai Putera-Putera-Ku Yang Baik ! Sekarang Aku harus memaparkan dan menyatakan dengan jelas kepada Kalian. Seandainya Kalian mengumpulkan atom-atom dari semua dunia itu, baik yang sudah di tebarkan maupun yang belum, kemudian menghitung setiap butiran atom itu sebagai satu kalpa, maka waktu sejak Aku menjadi Buddha masih juga melampaui semuanya ini dengan ratusan ribu koti nayuta asamkhyeya kalpa. Mulai saat itu dan seterusnya, Aku telah tiada henti-hentinya berkhotbah dan mengajar di dalam Dunia Saha ini serta memimpin dan menyelamatkan semua mahluk hidup di tempat-tempat lain dalam ratusan ribu koti nayuta asamkhyeya kawasan. Putera-Putera Yang Baik ! Selama waktu ini, Aku selalu bersabda mengenai Diri-Ku Sendiri sebagai Sang Buddha Cahaya Menyala, dan juga bersabda mengenai Buddha-Buddha yang lain serta menceritakan pula kepada Mereka tentang masuknya Para Buddha ke Nirvana. Demikianlah telah Aku gambarkan kepada Mereka secara Bijaksana.
-------

1.kok bisa lupa cara pencapaian sempurna, bahkan butuh guru bimbingan sampai lewat pemusik?
2.apa mesti menikah lagi dengan yasodhara? jadi siapa lagi calon berikut nya?
3.butuh 6 tahun menyiksa baru pencapaiannya kembali?...apakah pencapaian sammasambuddha bisa memudar?.....

ternyata baik buddha amitabha, buddha gotama, atau bahkan buddha maitreya....masih juga harus menderita....
sariputta pun ikut menjadi tumbal dari kelahiran.......termasuk calon murid yakni anda


inikah jalan menuju kebahagiaan?
bagian mana-nya yang bahagia?

yang ada hanya  P E N D E R I T A A N

banyak berkah pada anda..
salam metta.

Satu kata saja, cari-lah ajaran yang konsisten dari awal sampai akhir... Jangan ajaran di awal katanya ADA JALAN UNTUK MENGAKHIRI PENDERITAAN, tetapi kok akhirnya kagak bisa berakhir PENDERITAAN...
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 28 March 2009, 08:48:44 AM
Sori Bro, saya menolak IKT dikategorikan dalam Mahayana, maupun sebaliknya. ;D
Dan setahu saya, Tradisi Mahayana jg mengakui bahwa ajaran para Buddha sama, cma seperti iklan2, *terms and condition apply*  ;D

Maksud saya bukan IKT adalah bagian dari Mahayana (atau sebaliknya) sama sekali, Bro Edward. Itu hanya contoh perbedaan saja. Kalau di Theravada, ajaran semua Buddha adalah sama, "no terms and conditions applied" ;D
Jadi seandainya orang bisa ke semesta lain dan bertemu Buddha, tetap yang diajarkan adalah sama. Mencari Buddha lain untuk mencari pembebasan dengan cara berbeda adalah seperti berenang ke delapan penjuru mencari air laut yang tidak asin.

Dalam Mahayana ada alternatif ("terms and conditions applied") misalnya dengan Buddha Amitabha atau Buddha Bhaisajyaguru dengan tanah Buddhanya masing-masing (kalau tidak salah, di Barat dan Timur).

Kalau di IKT, beda lagi. Ajaran setiap Buddha ada semacam waktu berlakunya ("Valid thru DD/MM/YYYY"), jadi berubah sesuai zaman. Jadi ada ajaran Buddha yang kadaluwarsa. Ini tentu saja berbeda dengan yang lain, baik Theravada atau pun Mahayana.


Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hatRed on 28 March 2009, 08:58:54 AM
biar gak bingung,
mo nanya, term "Buddha" yg digunakan disini "Samma Sambuddha" kan?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: marcedes on 28 March 2009, 09:50:21 AM
Mari kita ulang secara lengkap 4  Kebenaran Ariya :
1. Kebenaran Ariya tentang dukkha;
2. Kebenaran Ariya tentang sebab dukkha;
3. Kebenaran Ariya tentang berakhirnya dukkha;
4. Kebenaran Ariya tentang Jalan menuju berakhirnya dukkha.

Apakah dukkha itu? Apakah serta merta dukkha = penderitaan? Dukkha dalam arti luas pun mengandung makna yg lebih dalam seperti : ketidakpuasan, ketidaksempurnaan, sakit, ketidakabadian, ketidakselerasan, ketidaknyamanan.

Anda bertanya "Apakah bagi Edward kelahiran merupakan penderitaan?" Tentu saya jawab "ya". Karena dalam kehidupan ini saya masih terbelenggu akan ikatan dan kebahagiaan yg terkondisikan.Tapi apakah sama bagi seseorang yg telah "TERBEBASKAN" sepenuhnya?Ketika kondisi2 telah dilepaskan, tubuh fisik telah dilepaskan dan yg ada adalah tubuh dhamma, yang tidak terkondisikan.Sama seperti makna akan Dhamma itu sendiri.

Jika mengikuti secara serta merta dukkha=penderitaan=kelahiran... Dan kita memasukkan ke dalam Kebenaran Ariya ke 3, menjadi "Kebenaran Ariya tentang Berakhirnya kelahiran" Woooww...Bukankah terlihat seperti paham nihilis? Jika diskusi mencapai k tahap ini, tentu saya akan mengakhiri, karena yg ada adalah spekulasi semata. Karena dengan kapasitas yang ada saat ini, saya belum mencapai tahap melihat dan memahami sepenuhnya dengan pengalaman sendiri.

Mengenai Amitabha Buddha.
Jika berikrar untuk terlahir dalam Sukhavati setelah kematian setelah kehidupan ini, berarti kita tidak mempelajari Dhamma dari Siddharta dan berlatih sesuai ajarannya pada kehidupan ini?Itu hanya ada dalam pikiran makhluk malas!

Dan seperti Jhana, BANYAK praktisi yang telah melihat alam Sukhavati dan tubuh dhamma Amitabha Buddha sebelum harus MATI dahulu.

Apakah Sukhavati memungkinkan menjadi tempat melihat sendiri 4 Kebenaran Ariya?Jika memaknai dukkha = penderitaan, tentu saja TIDAK.Tapi apakah makna dukkha sebegitu sempitnya? ???
bro edward yang bijak,
semua itu sudah masuk kategori penderitaan....walau dukkha banyak arti..tetapi menuju pada 1.

sama seperti baik hati, suka menolong, welas asih.......menuju pada 1 yakni.
kebijaksanaan dan kebahagiaan.

paham nihilis? ^.^
sebuah paham nihilis itu berpikir ada sebab tanpa ada akibat.
misalkan seseorang yang hanya beranggapan hidup kali ini saja.
padahal bahwa apabila citta belum padam, mana mungkin tidak ada bhava?

4 kesunyataan mulia?...baca paticasammupada lagi lah..
ingat ada sebab ada akibat......citta padam yah akibat nya "tidak ada bhava"

nah pikiran malas?...justru "berharap" bertemu dengan buddha dengan hanya malafalkan nama semata...adalah pikiran berfantasi tingkat tinggi.
kenyataan saja lah

ada yang sekarang didepan mata mala berharap yang didepan...
ntar kalau sudah di alam sukhavati sana, diajarkan melafalkan nama buddha mana lagi?



Quote
Apakah Sukhavati memungkinkan menjadi tempat melihat sendiri 4 Kebenaran Ariya?Jika memaknai dukkha = penderitaan, tentu saja TIDAK.Tapi apakah makna dukkha sebegitu sempitnya? Huh?

saudara edward yang bijak,
kadang ketika kenyataan menujukkan sebenarnya mengapa mencari jalan pembenaran fantasi?
hadapi saja itulah jalan kebenaran.

ada yang mengatakan "masih ada 84.000 cara" atau ada juga yang masih berkata "daun yang belum digenggam Tathagatha itu banyak."
semua itu hanya mencari pembenaran....kebenaran sejati itu hanya ada "sekarang"
bukan "nanti" atau "masa lalu"

saya jadi sangat mengerti mengapa sariputta begitu mendengar nasehat dari bikkhu Assaji.
bisa merealisasikan kehidupan pemasuk arus....yakni hanya terlahir sisa 7x.

Ye dhamma hetupabhava
Tesam hetum Tathagataha
Tesam ca yo nirodho
Evam vadi mahasamano
Dari segala hal yang timbul oleh karena suatu kondisi,
‘Kondisinya’ telah diberitahukan oleh Tathagata;
Dan juga pengakhirannya,
Inilah yang diajarkan oleh Pertapa Agung.


diskusi telah berakhir...

banyak berkah pada anda,
semoga semua makhluk berbahagia

"ada penderitaan, tetapi tidak ada yang menderita
ada jalan, tetapi tidak ada yang menempuhnya
ada nibbana, tetapi tidak ada yang mencapainya"

salam metta.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: ENCARTA on 28 March 2009, 10:03:10 AM
mungkin saja tempat amitabah benar2 ada
testi, nenek aye sangat percaya.. sebelum meninggal katanya dia melihat surga amitabah
dan biasanya seorang sebelum meninggal melihat tempat yg akan dilaluinya

tapi menurut saya itu bukanlah jalan menujuh kebenaran
_/\_
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: ryu on 28 March 2009, 10:19:20 AM
Ada seorang murid Zen yang sangat serius, bersemangat dan aktif belajar di sebuah Biara Zen.

Pada suatu ketika ia ditanya oleh Guru-nya :
' Kenapa engkau begitu rajin berlatih - siang dan malam ? '
Murid menjawab : ' Ya Sensei - karena aku ingin cepat-cepat menjadi seorang Buddha ! '.
Guru Zen tersebut mengambil sebuah batu dan menggosok-gosok batu tersebut dengan telapak tangannya , terus menerus, tanpa henti.
Murid yang keheranan kemudian bertanya : ' Sensei - apa yang sedang anda lakukan ? '.
' Aku sedang membuat sebuah cermin !.
' Sebuah Cermin ? - Bagaimana mungkin sebuah cermin dapat dibuat dari batu ? '
' S a m a. Engkau ingin cepat-cepat menjadi Buddha. Bagaimana mungkin ? '
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 28 March 2009, 12:11:41 PM
ada yang mengatakan "masih ada 84.000 cara" atau ada juga yang masih berkata "daun yang belum digenggam Tathagatha itu banyak."
semua itu hanya mencari pembenaran....kebenaran sejati itu hanya ada "sekarang"
bukan "nanti" atau "masa lalu"
Namun tidak semua orang bisa langsung merealisasikannya di sini dan sekarang. Rasanya semua orang juga memerlukan proses untuk menemukan kebenaran sejati "saat ini".



Quote
saya jadi sangat mengerti mengapa sariputta begitu mendengar nasehat dari bikkhu Assaji.
bisa merealisasikan kehidupan pemasuk arus....yakni hanya terlahir sisa 7x.

Salah alamat. Dalam Mahayana, Shariputra tetap akan terus terlahir lagi sampai suatu saat akan mencapai Anuttara Samyak Sambodhi bernama Padmaprabha.

Dalam Saddharma Pundarika Sutra, dikatakan bahwa seseorang Arahat yang mengatakan kelahirannya telah berakhir dan tidak bertekad mencapai Samyak Sambodhi, adalah seorang Arahat PALSU yang SOMBONG dan tidak bebas dari kesalahan.
Juga seorang Arahat atau Pratyeka Buddha yang tidak mengambil sumpah untuk mencapai Samyak Sambodhi, maka mereka bukanlah murid Tathagata.

Jadi tidak bisa pakai kitab Pali untuk membandingkan, walaupun ada karakter yang sama, namun kisah dan ajarannya berbeda.



Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: ENCARTA on 28 March 2009, 12:19:38 PM
buddha sakyamuni mengharuskan semua menjadi seperti dirinya samyak sambodhi?
kalau bukan berarti bukan muridnya
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Gunawan on 28 March 2009, 12:27:33 PM
How Come , Agga Savaka Seperti Sariputta yang sudah Bebas dari L,D,M dan Mematahkan 10 Belenggu bisa terlahir kembali?.....  ^-^

Oopppsss ini kan Menurut pandangannya Sekte Mahayana.... ;D

 _/\_
Gunawan S S
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 28 March 2009, 12:35:15 PM
ada yang mengatakan "masih ada 84.000 cara" atau ada juga yang masih berkata "daun yang belum digenggam Tathagatha itu banyak."
semua itu hanya mencari pembenaran....kebenaran sejati itu hanya ada "sekarang"
bukan "nanti" atau "masa lalu"
Namun tidak semua orang bisa langsung merealisasikannya di sini dan sekarang. Rasanya semua orang juga memerlukan proses untuk menemukan kebenaran sejati "saat ini".



Quote
saya jadi sangat mengerti mengapa sariputta begitu mendengar nasehat dari bikkhu Assaji.
bisa merealisasikan kehidupan pemasuk arus....yakni hanya terlahir sisa 7x.

Salah alamat. Dalam Mahayana, Shariputra tetap akan terus terlahir lagi sampai suatu saat akan mencapai Anuttara Samyak Sambodhi bernama Padmaprabha.

Dalam Saddharma Pundarika Sutra, dikatakan bahwa seseorang Arahat yang mengatakan kelahirannya telah berakhir dan tidak bertekad mencapai Samyak Sambodhi, adalah seorang Arahat PALSU yang SOMBONG dan tidak bebas dari kesalahan.
Juga seorang Arahat atau Pratyeka Buddha yang tidak mengambil sumpah untuk mencapai Samyak Sambodhi, maka mereka bukanlah murid Tathagata.

Jadi tidak bisa pakai kitab Pali untuk membandingkan, walaupun ada karakter yang sama, namun kisah dan ajarannya berbeda.


jadi kapan baru kelahiran kembali terhenti (akhir dari penderitaan) ?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 28 March 2009, 01:16:24 PM
Seperti saya bilang, ini 'kan pandangan Mahayana, jadi tidak bisa pakai acuan Theravada atau yang lain.
Ini seperti dalam Is1am, Yesus ga disalib; dalam Krist3n, Yesus disalib. Karakternya sama, tapi kisah dan ajarannya 'kan beda.

Kalau untuk akhir dari penderitaan, sepertinya sejak mencapai Arahat (sravaka/Pratyeka) sudah tidak ada penderitaan bathin lagi, tetapi Arahat yang benar akan mengambil jalan Mahayana untuk mencapai Anuttara Samyak Sambodhi demi orang lain.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 28 March 2009, 01:37:45 PM

Salah alamat. Dalam Mahayana, Shariputra tetap akan terus terlahir lagi sampai suatu saat akan mencapai Anuttara Samyak Sambodhi bernama Padmaprabha.

Dalam Saddharma Pundarika Sutra, dikatakan bahwa seseorang Arahat yang mengatakan kelahirannya telah berakhir dan tidak bertekad mencapai Samyak Sambodhi, adalah seorang Arahat PALSU yang SOMBONG dan tidak bebas dari kesalahan.
Juga seorang Arahat atau Pratyeka Buddha yang tidak mengambil sumpah untuk mencapai Samyak Sambodhi, maka mereka bukanlah murid Tathagata.

Jadi tidak bisa pakai kitab Pali untuk membandingkan, walaupun ada karakter yang sama, namun kisah dan ajarannya berbeda.





bole tau, di bab berapa dari sadharmapundarika sutra yang mengatakan demikian?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 28 March 2009, 01:50:22 PM

Salah alamat. Dalam Mahayana, Shariputra tetap akan terus terlahir lagi sampai suatu saat akan mencapai Anuttara Samyak Sambodhi bernama Padmaprabha.

Dalam Saddharma Pundarika Sutra, dikatakan bahwa seseorang Arahat yang mengatakan kelahirannya telah berakhir dan tidak bertekad mencapai Samyak Sambodhi, adalah seorang Arahat PALSU yang SOMBONG dan tidak bebas dari kesalahan.
Juga seorang Arahat atau Pratyeka Buddha yang tidak mengambil sumpah untuk mencapai Samyak Sambodhi, maka mereka bukanlah murid Tathagata.

Jadi tidak bisa pakai kitab Pali untuk membandingkan, walaupun ada karakter yang sama, namun kisah dan ajarannya berbeda.





bole tau, di bab berapa dari sadharmapundarika sutra yang mengatakan demikian?

Bab II.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 28 March 2009, 01:56:44 PM
"Lagi, Wahai Sariputra ! Jika para bhiksu dan bhiksuni yang menyatakan bahwa mereka telah menjadi Arhat dan berkata," inilah penitisan kami yang terakhir, sebelum mencapai Nirvana," dan kemudian mereka tidak berusaha lagi untuk mencari Penerangan Agung, maka ketahuilah bahwa golongan ini semuanya sangat sombong. Karena betapapun juga tidak ada hal yang seperti itu sebagai seorang bhiksu yang telah benar-benar mencapai kearhatan meskipun ia tidak menyakini hukum ini. Tetapi terdapat perkecualian jika setelah kemokshaan Sang Buddha tidak terdapat seorang Buddha lagi yang hadir. Karena sesudah kemokshaan Sang Buddha nanti, sangatlah begitu sulit untuk mencari seseorang yang dapat menerima, memelihara, membaca dan menghafalkan serta menjelaskan makna dari sutra-sutra semacam ini. Hanya jika mereka bertemu dengan para Buddha yang lain, barulah mereka dapat memperoleh pemecahan masalah di dalam Hukum Kesunyataan yang sama ini.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 28 March 2009, 02:04:43 PM
IMO, sudah mencapai Arahat Trus Berhenti?
kenapa tidak lanjut ke pencapai-an lebih lanjut?

Apakah Arahat sudah = Buddha?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 28 March 2009, 02:06:35 PM
Dalam satu terjemahan, ditulis demikian:
"Again, Shariputra, if there should be monks or nuns who claim that they already have attained the status of arhat, that this is their last incarnation, that they have reached the final nirvana, and that therefore they have no further intention of seeking anuttara-samyak-sambodhi, then you should understand that such as these are all persons of overbearing arrogance. Why do I say this? Because if they are monks who have truly attained the status of arhat, then it would be unthinkable that they should fail to believe this Law. The only
exception would be in a time after the Buddha had passed away, when there was no Buddha present in the world. Why is this? Because after the Buddha has passed away it will be difficult to find anyone who can embrace, recite, and understand the meaning of sutras such as this. But if persons at that time encounter another Buddha, then they will attain decisive understanding with regard to this Law."

Jelas di sini bahwa yang mengatakan kelahiran kembali telah berakhir namun tidak mengambil tekad mencapai Samyak Sambodhi, ia hanyalah orang yang mengaku-ngaku sebagai Arahat.


Bait sebelumnya adalah:
"Now, Sâriputra, such disciples, Arhats, or Pratyekabuddhas who do not hear their actually being called to the Buddha-vehicle by the Tathâgata, who do not perceive, nor heed it, those, Sâriputra, should not be acknowledged as disciples of the Tathâgata, nor as Arhats, nor as Pratyekabuddhas."


Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 28 March 2009, 02:10:17 PM
^
^
^
jangan mengutip sepotong-sepotong,
karena mengutip sepotong sepotong, bisa menghasilkan salah presepsi...
sutra saddharma pundarika sutra, bukan sutra yang dalam 1-2 menit langsung bisa dipahami...
kalau masih terikat dengan kendaraan yang lain, akan sangat sulit menerima sutra ini.

Tetapi terdapat perkecualian jika setelah kemokshaan Sang Buddha tidak terdapat seorang Buddha lagi yang hadir.

Karena sesudah kemokshaan Sang Buddha nanti, sangatlah begitu sulit untuk mencari seseorang yang dapat menerima, memelihara, membaca dan menghafalkan serta menjelaskan makna dari sutra-sutra semacam ini. Hanya jika mereka bertemu dengan para Buddha yang lain, barulah mereka dapat memperoleh pemecahan masalah di dalam Hukum Kesunyataan yang sama ini.

"Lagi, Wahai Sariputra ! Jika para bhiksu dan bhiksuni yang menyatakan bahwa mereka telah menjadi Arhat dan berkata," inilah penitisan kami yang terakhir, sebelum mencapai Nirvana," dan kemudian mereka tidak berusaha lagi untuk mencari Penerangan Agung, maka ketahuilah bahwa golongan ini semuanya sangat sombong. Karena betapapun juga tidak ada hal yang seperti itu sebagai seorang bhiksu yang telah benar-benar mencapai kearhatan meskipun ia tidak menyakini hukum ini. Tetapi terdapat perkecualian jika setelah kemokshaan Sang Buddha tidak terdapat seorang Buddha lagi yang hadir. Karena sesudah kemokshaan Sang Buddha nanti, sangatlah begitu sulit untuk mencari seseorang yang dapat menerima, memelihara, membaca dan menghafalkan serta menjelaskan makna dari sutra-sutra semacam ini. Hanya jika mereka bertemu dengan para Buddha yang lain, barulah mereka dapat memperoleh pemecahan masalah di dalam Hukum Kesunyataan yang sama ini.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 28 March 2009, 02:21:49 PM
^
^
^
jangan mengutip sepotong-sepotong,
karena mengutip sepotong sepotong, bisa menghasilkan salah presepsi...
sutra saddharma pundarika sutra, bukan sutra yang dalam 1-2 menit langsung bisa dipahami...
kalau masih terikat dengan kendaraan yang lain, akan sangat sulit menerima sutra ini.

Tetapi terdapat perkecualian jika setelah kemokshaan Sang Buddha tidak terdapat seorang Buddha lagi yang hadir.

Karena sesudah kemokshaan Sang Buddha nanti, sangatlah begitu sulit untuk mencari seseorang yang dapat menerima, memelihara, membaca dan menghafalkan serta menjelaskan makna dari sutra-sutra semacam ini. Hanya jika mereka bertemu dengan para Buddha yang lain, barulah mereka dapat memperoleh pemecahan masalah di dalam Hukum Kesunyataan yang sama ini.


Saya tidak masalah Mahayana mau percaya bagaimana, juga tidak akan mengatakan ini salah, itu benar. Silahkan saja.
Saya hanya mengatakan apa yang saya baca, dan memang sudah disebutkan bahwa yang paling benar memang jalan Mahayana, oleh karena itu tekad ke empat dari Buddha Bhaisajyaguru adalah membimbing Sravaka dan Pratyeka agar kembali ke jalan benar, yaitu: Mahayana. (Bhaisajyaguru Sutra.)

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 28 March 2009, 02:33:22 PM
Seperti saya bilang, ini 'kan pandangan Mahayana, jadi tidak bisa pakai acuan Theravada atau yang lain.
Ini seperti dalam Is1am, Yesus ga disalib; dalam Krist3n, Yesus disalib. Karakternya sama, tapi kisah dan ajarannya 'kan beda.

Kalau untuk akhir dari penderitaan, sepertinya sejak mencapai Arahat (sravaka/Pratyeka) sudah tidak ada penderitaan bathin lagi, tetapi Arahat yang benar akan mengambil jalan Mahayana untuk mencapai Anuttara Samyak Sambodhi demi orang lain.


saya tidak menanyakan dari sisi pandang Theravada, dari sisi MAHAYANA kapankah penderitaan itu berakhir ?
---

kemudian pernyataan di atas, bahwa arahat yang benar akan mengambil jalan Mahayana... berarti savaka/sravaka hinayana itu gak benar ?

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 28 March 2009, 02:41:38 PM
Seperti saya bilang, ini 'kan pandangan Mahayana, jadi tidak bisa pakai acuan Theravada atau yang lain.
Ini seperti dalam Is1am, Yesus ga disalib; dalam Krist3n, Yesus disalib. Karakternya sama, tapi kisah dan ajarannya 'kan beda.

Kalau untuk akhir dari penderitaan, sepertinya sejak mencapai Arahat (sravaka/Pratyeka) sudah tidak ada penderitaan bathin lagi, tetapi Arahat yang benar akan mengambil jalan Mahayana untuk mencapai Anuttara Samyak Sambodhi demi orang lain.


saya tidak menanyakan dari sisi pandang Theravada, dari sisi MAHAYANA kapankah penderitaan itu berakhir ?
---


Yang saya bicarakan itu memang dari Mahayana. Sravaka yang mengambil tekad tersebut 'kan sudah tidak menderita lagi. Masalahnya, seharusnya anda tanyakan apa itu penderitaan dari pandangan Mahayana. Kalau memang itu yang ditanyakan, saya tidak mampu jawab.


Quote
kemudian pernyataan di atas, bahwa arahat yang benar akan mengambil jalan Mahayana... berarti savaka/sravaka hinayana itu gak benar ?
Begitulah. Maka harus dibimbing kembali ke jalan Mahayana karena mereka hanya setengah jalan (seperti memang dikatakan sebelumnya, baru TK, harus lanjut SD, SMP, dst). Maka dikatakan bahwa Sariputra sendiri keliru mengira perjuangannya telah berakhir, namun sebenarnya akan terus terlahir sampai mencapai Samyak Sambodhi bernama Padmaprabha. Saya lupa persisnya pembicaraan ini di mana.

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 28 March 2009, 02:47:07 PM
Kalau begitu, seharusnya JALAN HINAYANA itu menyesatkan, dan harus di BERANTAS... karena menurut berbagai sumber MAHAYANA, bukan jalan yang benar...
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 28 March 2009, 02:50:57 PM
Kalau begitu, seharusnya JALAN HINAYANA itu menyesatkan, dan harus di BERANTAS... karena menurut berbagai sumber MAHAYANA, bukan jalan yang benar...

Tidak menyesatkan juga. Jika mengambil dan menempuh jalan Hinayana secara benar, pasti di kemudian hari akan mengerti ajaran dari para Buddha untuk meneruskan ke jalan Mahayana. Semua Sravaka seperti Sariputra juga 'kan menempuh jalan Hinayana, lalu setelah mendengarkan ajaran Buddha, mereka melanjutkan ke jalan Mahayana.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 28 March 2009, 02:52:29 PM
Kalau begitu, seharusnya JALAN HINAYANA itu menyesatkan, dan harus di BERANTAS... karena menurut berbagai sumber MAHAYANA, bukan jalan yang benar...

Tidak menyesatkan juga. Jika mengambil dan menempuh jalan Hinayana secara benar, pasti di kemudian hari akan mengerti ajaran dari para Buddha untuk meneruskan ke jalan Mahayana. Semua Sravaka seperti Sariputra juga 'kan menempuh jalan Hinayana, lalu setelah mendengarkan ajaran Buddha, mereka melanjutkan ke jalan Mahayana.


apakah semua sravaka itu harus melanjutkan ke jalan MAHAYANA ?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: N1AR on 28 March 2009, 03:01:21 PM
gak ada yg bakalan mencapai nibanna dong.. mesti ngantri berapa lama?
kumpulin pahala aja deh biar masuk surga
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: ryu on 28 March 2009, 03:14:49 PM
Kalau begitu, seharusnya JALAN HINAYANA itu menyesatkan, dan harus di BERANTAS... karena menurut berbagai sumber MAHAYANA, bukan jalan yang benar...

Tidak menyesatkan juga. Jika mengambil dan menempuh jalan Hinayana secara benar, pasti di kemudian hari akan mengerti ajaran dari para Buddha untuk meneruskan ke jalan Mahayana. Semua Sravaka seperti Sariputra juga 'kan menempuh jalan Hinayana, lalu setelah mendengarkan ajaran Buddha, mereka melanjutkan ke jalan Mahayana.

Para Buddha yang mana aja ya?, darimana kita tahu itu jalan yang benar?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Edward on 28 March 2009, 03:38:14 PM
gak ada yg bakalan mencapai nibanna dong.. mesti ngantri berapa lama?
kumpulin pahala aja deh biar masuk surga
Karena itu, dlm Tripitaka, Sang Buddha mengenalkan Amitabha Buddha dan berlatih secara langsung kepada seorang Buddha..
Waduh, lama2 gw bisa disangka praktisi Pure Land nich...
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: cunda on 28 March 2009, 03:39:55 PM
Kalau begitu, seharusnya JALAN HINAYANA itu menyesatkan, dan harus di BERANTAS... karena menurut berbagai sumber MAHAYANA, bukan jalan yang benar...


namaste suvatthi hotu


kejaaam

thuti
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: cunda on 28 March 2009, 03:47:20 PM


Begitulah. Maka harus dibimbing kembali ke jalan Mahayana karena mereka hanya setengah jalan (seperti memang dikatakan sebelumnya, baru TK, harus lanjut SD, SMP, dst). Maka dikatakan bahwa Sariputra sendiri keliru mengira perjuangannya telah berakhir, namun sebenarnya akan terus terlahir sampai mencapai Samyak Sambodhi bernama Padmaprabha. Saya lupa persisnya pembicaraan ini di mana.




namaste suvatthi hotu

Dari teks Mahayana yang mana pernyataan seperti itu dikutip?

mohon tuliskan sumber teks sutranya dong, untuk ricek

thuti

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: marcedes on 28 March 2009, 05:37:23 PM
Kalau begitu, seharusnya JALAN HINAYANA itu menyesatkan, dan harus di BERANTAS... karena menurut berbagai sumber MAHAYANA, bukan jalan yang benar...

Tidak menyesatkan juga. Jika mengambil dan menempuh jalan Hinayana secara benar, pasti di kemudian hari akan mengerti ajaran dari para Buddha untuk meneruskan ke jalan Mahayana. Semua Sravaka seperti Sariputra juga 'kan menempuh jalan Hinayana, lalu setelah mendengarkan ajaran Buddha, mereka melanjutkan ke jalan Mahayana.

saudara kainyn yang bijak,
coba sebutkan 4 hukum kesunyataan mulia....
1.dukkha  ( dari sini sebuah calon harusnya berusaha untuk menghindari dari dukkha)
2.sebab dukkha
3.akhir dukkha
4.jalan menuju akhir dukkha.

dan kenyataan setelah "LULUS dengan baik secara katakanlah "hinaya"  eh, kok di TK belajar menghindari dukkha..sekarang SD.SMP,SMA diajarkan untuk terus menikmati dukkha?
TK dan SMP--- kok tidak nyambung?

sudah saya paparkan diatas, bahwa menjadi sammasambuddha pun tidak lepas dari penderitaan...karena harus lahir..
"kelahiran = penderitaan"
coba lihat saja contohnya buddha gotama....disitu mesti lupa cara pencapaian-nya...
bahkan harus lewat pemusik,dan belajar dari guru-guru.....
bertapa secara extrim selama 6 tahun.... badan kurus-kering....

demikian dikatakan jalan kebahagiaan?
entah kalpa dimana lagi buddha gotama terlahir, atau mungkin bertapa 10 tahun secara ekstrim...

sesuai konsep anicca kah? "pencapaian sammasambuddha pun tidak kekal"

saya tidak melihat kenyataan dimana kelahiran = penderitaan.
melihat sebagaimana seorang buddha "menuju kebahagiaan"

yang ada jalan berliku-liku, tetapi ujung nya "penderitaan"

apakah arti belajar buddha dhamma? adakah arti mengumpulkan kebajikan? toh tidak lepas dari penderitaan.
demikian kah ajaran buddha?

"buddha menyelamatkan makhluk hidup dari apa?"


gambaran singkat nya.
masuk belajar ajaran buddha >>>> jadi boddhisatva atau jadi murid/sravaka >>>>> jadi sammasambuddha >>>> jadilah contoh buddha gotama......dan nanti kembali lagi ke awal "masuk belajar ajaran buddha...

dikatakan entah berkalpa-kalpa lalu... seorang raja meminta kepada pertapa untuk menjelaskan "sutra teratai",
raja tersebut rela menjadi pelayan asalkan mendapatkan sutra tersebut...
dan ternyata pertapa itu adalah "devadatta" dan raja itu adalah "gotama".

dikatakan siapa yang mendapatkan dan menlafalkan sutra tersebut....bebas dari neraka avici....dan janji-janji indah lainnya.
dan ternyata devadatta telah lupa sutra penyelamat nya.

--kutipan sutra ---
Sang Buddha bersabda kepada seluruh Bhiksu:"Raja dimasa dahulu itu adalah Aku Sendiri dan Orang Bijak pada masa itu adalah Sang Devadatta Sendiri. Melalui Persahabatan yang baik dari Sang Devadatta, Aku dapat menjadi sempurna didalam Keenam Paramita, didalam hal Keluhuran, Welas asih, Kebahagiaan dan Pikiran Bebas, didalam hal Ke 32 Tanda, 80 jenis Keistimewaan, Kulit yang berlapis Emas, 10 macam Kekuatan, ke 4 macam Keberanian, ke 4 Angger-Angger Kemasyarakatan, ke 18 ciri-ciri yang khusus, Kekuatan-Kekuatan Ghaib di Jalanan Agung, Pencapaian Penerangan Agung, dan Penyelamatan umat yang menyeluruh, yang semuanya ini semata-mata berkat Persahabatan yang baik dari Sang Devadatta.

---kemudian---
Sang Buddha bersabda kepada Para Bhiksu: "Seandainya di dalam dunia yang mendatang terdapat Putera ataupun Puteri yang baik, yang mendengarkan Hikmah Sang Devadatta tentang Hukum Kesunyataan Sutta Bunga Teratai Yang Menakjubkan ini dengan Hati Yang Bersih dan Penghormatan karena Keyakinan serta tiada rasa bimbang sedikitpun, maka Orang seperti ini tidak akan terjatuh ke dalam neraka atau menjadi seorang yang berjiwa tanha maupun menjadi seekor hewan, tetapi Ia akan terlahir dihadapan Para Buddha dari alam semesta. Dimanapun juga Ia terlahir, Ia akan selalu mendengar Sutta ini.

kronologis nya adalah ------------------
dulu awalnya sangbuddha belajar sama devadatta tentang sutra yang hebat ini, dan siapa saja yang belajar bebas dari neraka avici.
dan sekarang devadatta ada di neraka avici.....kok lupa baca mantra?
mana efek sutra nya?
apakah devadatta telah "lupa" persis yang dialami sama oleh gotama... "lupa" cara pencapaian sempurna-nya.

kalau memang bisa menyelamatkan semua makhluk dari neraka avici....saya yakin
penghuni disana bahkan rela membaca 100x tanpa henti......neraka bisa kosong. ^^


selanjut nya................
kutipan sutra-------
Ketika Buddha itu sedang menginjak Jalan KeBodhisattvaan, Ia telah mengucapkan Prasetya Agung dengan berkata:"Setelah Aku menjadi Seorang Buddha dan setelah Aku moksha, maka dimanapun juga jika didalam negeri di alam semesta ini terdapat suatu tempat dimana Sutta Bunga Teratai Dari Hukum Yang Menakjubkan dikhotbahkan, maka disitulah Stupa-Ku akan muncul dan menjulang tinggi agar Aku dapat mendengarkan Sutta itu dan memberi kesaksian terhadap-Nya serta memuji-Nya dengan berkata:"Bagus sekali !"
------------
kalau memang buddha masih ada....harus nya waktu tercium bau adanya perpecahan, beliau muncul dan berkata "buruk sekali !!!"
tetapi kenyataan-nya... mana?
nasehat nya pun "tidak ada"..


salam metta.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Shining Moon on 28 March 2009, 05:51:07 PM
Kalau begitu, seharusnya JALAN HINAYANA itu menyesatkan, dan harus di BERANTAS... karena menurut berbagai sumber MAHAYANA, bukan jalan yang benar...
Kalau begitu, seharusnya JALAN HINAYANA itu menyesatkan, dan harus di BERANTAS... karena menurut berbagai sumber MAHAYANA, bukan jalan yang benar...
Kalau begitu, seharusnya JALAN HINAYANA itu menyesatkan, dan harus di BERANTAS... karena menurut berbagai sumber MAHAYANA, bukan jalan yang benar...

eh.udah dong..jangan saling nyalahin..kan postingan ini awalnya dibuka biar orang lebih paham sama mahayana, bukan saling jelek2in ,iya nggak?
Kalo udah kayak gini mendingan saling damai. Kalo ga bisa lagi better di-lock aja. Masa sesama DC begini?? Tau begini saya nggak mau nanya tentang tanah suci karena ujung2nya jadi gini..
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Shining Moon on 28 March 2009, 05:53:19 PM
Eh sori quote-nya kepencet ampe tiga kali
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 28 March 2009, 06:12:03 PM
eh.udah dong..jangan saling nyalahin..kan postingan ini awalnya dibuka biar orang lebih paham sama mahayana, bukan saling jelek2in ,iya nggak?
Kalo udah kayak gini mendingan saling damai. Kalo ga bisa lagi better di-lock aja. Masa sesama DC begini?? Tau begini saya nggak mau nanya tentang tanah suci karena ujung2nya jadi gini..

pembahasan panas begini-an (dimana masih dalam koridor kesopanan dan tidak menyerang pribadi member) tidak akan ditemukan di tempat lain (mungkin di vihara vihara), karena forum ini memang PANCEN OYE...

Saya kira, dengan pembahasan atau boleh dikatakan diskusi panas begini, tidak akan merugikan member secara spiritual. Malah semakin membuka cakrawala dan kemungkinan kemungkinan.

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Indra on 28 March 2009, 09:22:54 PM


Begitulah. Maka harus dibimbing kembali ke jalan Mahayana karena mereka hanya setengah jalan (seperti memang dikatakan sebelumnya, baru TK, harus lanjut SD, SMP, dst). Maka dikatakan bahwa Sariputra sendiri keliru mengira perjuangannya telah berakhir, namun sebenarnya akan terus terlahir sampai mencapai Samyak Sambodhi bernama Padmaprabha. Saya lupa persisnya pembicaraan ini di mana.




namaste suvatthi hotu

Dari teks Mahayana yang mana pernyataan seperti itu dikutip?

mohon tuliskan sumber teks sutranya dong, untuk ricek

thuti



Kalau tidak salah ini ada di Bhaisajyaguru Sutra, merupakan salah satu dari tekad Bodhisatta Bhaisajyaguru
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: coedabgf on 28 March 2009, 11:18:32 PM
Kenyataan atau kritik pedas buat seluruh umat (Buddhist)!
wah bro mod jangan dilock dulu yach. Saya mo jelaskan/kasih gambaran mengapa umat awam jalan umum (masih bersifat dangkal/jasmaniah, dimana pengajaran oleh guru Buddha diajarkan agar pembina umum/umat awam jalan umum untuk dapat mengenali/menanggalkan/memisahkan/melepaskan kelekatan ciri atta diri) sebelum dapat mengerti tentang pada akhirnya untuk mencapai keberhasilan para pembina yang bertekad, tulus dan murni  harus masuk melalui jalan mulia (mahayana) untuk dapat menembus pengetahuan sejati pencerahan (hati bodhi/hati sunya/keBuddhaan/pengalaman nibanna).
Gambaran umum umat (jalan awam) keadaannya seperti syairku pada poemofpathofwisdom.blogspot.com :
Semua (masih) hanyalah kekhayalan
Mau keluar kekhayalan memakai kekhayalan
Menyelami yang sejati (masih) terikat pada yang terkondisi
Menilai yang Mutlak dari (keterbatasan) pengalaman persepsi kemelekatan (pada) yang sementara
tetapi bila semua masih diukur dari oleh karena masih tercekatnya (belum dapat menanggalkan) pada atta diri yang annica anatta, semua pengetahuan kebijaksanaan apapun yang ada hanyalah (hanya berasal dari sudut pandang pengetahuan kebijaksanaan pengalaman kenyataan keberadaan atta (yabg anicca anatta) diri) ilusi yaitu kekhayalan dan kebanggaan (kemelekatan) atta diri. (Seperti kisah Ananda tercerahkan.)

Apalagi atau lebih parah lagi melekat keluar (takhayul) seperti yang diajarkan dan dipraktekkan pada beberapa aliran Buddhisme, seperti melalui sex, melalui penyiksaan diri, melalui kemelekatan/pengandalan kepada seseorang (pengakuan) manifestasi Buddha/Bodhisatva hidup di dunia, benda-benda yang dibilang suci/jimat-jimat/mengandung kekuatan gaib  dsbnya.


semoga ada yang dapat merenungi dan mengerti menanggalkan/meninggalkan rakit (khayalan diri/palsu) yang sebenarnya bukan rakit karena sebenarnya belum membebaskan diri/menanggalkan diri berpindah (menaiki) ke rakit Dharma yang sebenarnya atau masih (menginjak) di daratan di seberang sana hilir mudik dengan (menunggangi) pengetahuan palsu sejati attanya dengan kebanggaan pengetahuannya.
Semoga tidak marah/tersinggung (attanya).  ;D
good hope and love
coedabgf
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: marcedes on 29 March 2009, 12:45:07 AM
kalau berdiskusi dan di situ ada kebencian, lebih baik sudahi saja....
kalau berdiskusi dan di situ tidak ada pertemuan titik pikiran..lebih baik sudahi saja...

makanya dari awal saya tanyakan
"apakah kelahiran merupakan suatu penderitaan?"

ketika pertanyaan ini dijawab "tidak" maka tidak ada pembahasan.
tetapi dikatakan "ya"
maka saya hanya menujukkan dimana letak "YA" nya itu berlawanan dengan "tujuan".

saya membaca buku lama "what's wrong with us"
disitu ada kalimat berbunyi

25.para bijak berkata "pembicaraan apapun juga tidak berdasarkan aniccam bukanlah pembicaraan dari seorang yang bijaksana"
sifat ketidak-kekalan dari segala sesuatu yang berkondisi adalah kenyataan, realita kebenaran.
bukan sekedar teori imajinasi, khayalan , impian , pendapat atau kepercayaan.
anda perlu bukti? tidak sulit.
cobalah temukan satu hal saja yang betul-betul anda tahu pasti bersifat kekal abadi, permanen, tidak berubah sepanjang masa...
pastikan hal tersebut nyata dalam kepercayaan atau khayalan anda saja. Dapatkah anda termukan? bila tidak maka mulai sekarang marilah kita berbicara berdasarkan apa yang nyata secara universal saja : bahwa segala sesuatu yang berkondisi itu memang tidak kekal adanya (anicca).

27. banyak orang tidak menyukai kebenaran. mereka lebih suka bentuk kepercayaan.
seindah apapun kedengarannya, suatu bentuk kepercayaan tetaplah hanyalah kepercayaan.
tidak lebih dari sekedar produk khayalan ilusi.
tetapi sayang-nya malahan kebanyakan orang lebih suka terbuai dan terikat dalam kepercayaan atau khayalan karena mereka khawatir kebenaran yang sesungguhnya mungkin tidak sesuai dengan harapan.
Sebenarnya sekejab saja menyadari dan mengalami kebenaran langsung jauh lebih berharga daripada hidup beribu-ribu tahun dalam "indah-nya" ilusi.

salam metta.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 29 March 2009, 12:51:04 AM
kalau berdiskusi dan di situ ada kebencian, lebih baik sudahi saja....
kalau berdiskusi dan di situ tidak ada pertemuan titik pikiran..lebih baik sudahi saja...

makanya dari awal saya tanyakan
"apakah kelahiran merupakan suatu penderitaan?"

ketika pertanyaan ini dijawab "tidak" maka tidak ada pembahasan.
tetapi dikatakan "ya"
maka saya hanya menujukkan dimana letak "YA" nya itu berlawanan dengan "tujuan".

saya membaca buku lama "what's wrong with us"
disitu ada kalimat berbunyi

25.para bijak berkata "pembicaraan apapun juga tidak berdasarkan aniccam bukanlah pembicaraan dari seorang yang bijaksana"
sifat ketidak-kekalan dari segala sesuatu yang berkondisi adalah kenyataan, realita kebenaran.
bukan sekedar teori imajinasi, khayalan , impian , pendapat atau kepercayaan.
anda perlu bukti? tidak sulit.
cobalah temukan satu hal saja yang betul-betul anda tahu pasti bersifat kekal abadi, permanen, tidak berubah sepanjang masa...
pastikan hal tersebut nyata dalam kepercayaan atau khayalan anda saja. Dapatkah anda termukan? bila tidak maka mulai sekarang marilah kita berbicara berdasarkan apa yang nyata secara universal saja : bahwa segala sesuatu yang berkondisi itu memang tidak kekal adanya (anicca).


ada satu hal yang kekal / tidak berubah... dari dulu begitu begitu saja...

MAU TAHU ?... yang kekal dan tidak berubah-ubah dari dulu adalah KETIDAKKEKALAN itu sendiri. Tidak ada yang kekal, yang kekal hanyalah perubahan itu (ketidakkekalan)...
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Edward on 29 March 2009, 02:33:31 AM
Karena itu, ditulis "yg berkondisi tidak kekal sifatnya."
Jika ada yg berkondisi, bearti ada pula yg tidak berkondisi.
Apakah itu?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: ENCARTA on 29 March 2009, 09:44:07 AM
energi
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: coedabgf on 29 March 2009, 10:25:36 AM
kalau berdiskusi dan di situ ada kebencian, lebih baik sudahi saja....
kalau berdiskusi dan di situ tidak ada pertemuan titik pikiran..lebih baik sudahi saja...

makanya dari awal saya tanyakan
"apakah kelahiran merupakan suatu penderitaan?"

ketika pertanyaan ini dijawab "tidak" maka tidak ada pembahasan.
tetapi dikatakan "ya"
maka saya hanya menujukkan dimana letak "YA" nya itu berlawanan dengan "tujuan".

saya membaca buku lama "what's wrong with us"
disitu ada kalimat berbunyi

25.para bijak berkata "pembicaraan apapun juga tidak berdasarkan aniccam bukanlah pembicaraan dari seorang yang bijaksana"
sifat ketidak-kekalan dari segala sesuatu yang berkondisi adalah kenyataan, realita kebenaran.
bukan sekedar teori imajinasi, khayalan , impian , pendapat atau kepercayaan.

anda perlu bukti? tidak sulit.
cobalah temukan satu hal saja yang betul-betul anda tahu pasti bersifat kekal abadi, permanen, tidak berubah sepanjang masa...
pastikan hal tersebut nyata dalam kepercayaan atau khayalan anda saja. Dapatkah anda termukan? bila tidak maka mulai sekarang marilah kita berbicara berdasarkan apa yang nyata secara universal saja : bahwa segala sesuatu yang berkondisi itu memang tidak kekal adanya (anicca).

27. banyak orang tidak menyukai kebenaran. mereka lebih suka bentuk kepercayaan.
seindah apapun kedengarannya, suatu bentuk kepercayaan tetaplah hanyalah kepercayaan.
tidak lebih dari sekedar produk khayalan ilusi.

tetapi sayang-nya malahan kebanyakan orang lebih suka terbuai dan terikat dalam kepercayaan atau khayalan karena mereka khawatir kebenaran yang sesungguhnya mungkin tidak sesuai dengan harapan.
Sebenarnya sekejab saja menyadari dan mengalami kebenaran langsung jauh lebih berharga daripada hidup beribu-ribu tahun dalam "indah-nya" ilusi.

salam metta.

ada satu hal yang kekal / tidak berubah... dari dulu begitu begitu saja...

MAU TAHU ?... yang kekal dan tidak berubah-ubah dari dulu adalah KETIDAKKEKALAN itu sendiri. Tidak ada yang kekal, yang kekal hanyalah perubahan itu (ketidakkekalan)...



mengapa secara umum umat seolah-olah bijaksana berpengetahuan seolah-olah berbicara prisip kebenaran berasal dari inti pengajaran guru Buddha, padahal semua itu dinyatakan oleh guru Buddha bukan dari inti kebenaran sejati melainkan sebagai ciri-ciri fenomena dari ketidak-kekalan semua yang bersifat duniawi atau carnal (daging) yang harus ditanggalkan/dilepaskan/tidak sepatutnya layak dipercayai, seperti :
perkataan mercedes :
-para bijak berkata "pembicaraan apapun juga tidak berdasarkan aniccam bukanlah pembicaraan dari seorang yang bijaksana"
sifat ketidak-kekalan dari segala sesuatu yang berkondisi adalah kenyataan, realita kebenaran.
bukan sekedar teori imajinasi, khayalan , impian , pendapat atau kepercayaan.
-apa yang nyata secara universal saja : bahwa segala sesuatu yang berkondisi itu memang tidak kekal adanya (anicca).
-banyak orang tidak menyukai kebenaran. mereka lebih suka bentuk kepercayaan.
seindah apapun kedengarannya, suatu bentuk kepercayaan tetaplah hanyalah kepercayaan.
tidak lebih dari sekedar produk khayalan ilusi.
-Sebenarnya sekejab saja menyadari dan mengalami kebenaran langsung jauh lebih berharga daripada hidup beribu-ribu tahun dalam "indah-nya" ilusi.

pernyataan dilbert :
-ada satu hal yang kekal / tidak berubah... dari dulu begitu begitu saja...
MAU TAHU ?... yang kekal dan tidak berubah-ubah dari dulu adalah KETIDAKKEKALAN itu sendiri. Tidak ada yang kekal, yang kekal hanyalah perubahan itu (ketidakkekalan)...

dimana pada setiap pembicaraan timbul pada hakekatnya suatu pernyataan yang bertentangan atau kekacauan dan kebingungan tentang kebenaran sejati yang dimaksudkan guru Buddha, tentang kenyataan kebenaran pemahaman 'ada dan tiada', 'anicca dan anatta', tentang keberadaan (kehidupan) makhluk/mereka yang telah tercerahkan. mengapa?
Seperti sering saya tulis tanyakan 'siapakah yang telah tercerahkan?', karena secara massal (umum) umat (buddhist) saya beri gambaran/ilustrasi sebagai berikut 'dalam kekhayalan berbicara kebenaran sejati'. apa artinya?
coba anda renungkan syair yang sudah saya tuliskan diatas :
Semua (masih) hanyalah kekhayalan
Mau keluar kekhayalan memakai kekhayalan
Menyelami yang sejati (masih) terikat pada yang terkondisi
Menilai yang Mutlak dari (keterbatasan) pengalaman persepsi kemelekatan (pada) yang sementara
Apa maksudnya?, yaitu semua apa yang anda/umat/awam nyatakan, apa yang dibicarakan, sesungguhnya semua dalam lingkup (pandang) kesementaraan saja alias bersifat ilusi saja.
Seperti pembicaraan tentang blind faith? siapa umat/awam (buddhist) yang dapat membuktikan tentang sesuatu yang menjadi inti keyakinan/kepercayaan guru Buddha sehingga Ia dapat mencapai pengetahuan pandangan terang tentang kesejatian inti keberadaan kehidupan sehingga dapat terbebas dari cengkraman/ikatan/cekatan ketidak-kekalan kehidupan sementara yang palsu atau khayal pada sutta udanna VIII.3, sehingga timbul suatu yang diistilahkan umat/awam dengan yang tercerahkan atau Buddha?
Tentang prinsip ehipassiko yang biasa dinyatakan oleh umat/awam yang masih dalam kesementaraan (yang masih terikat pada yang terkondisi) dalam setiap diskusi, itu sebenarnya pada akhirnya tertuju/ditujukan untuk pemuasan (logika) apa?  tetapi guru Buddha menyatakan prinsip itu supaya murid/umat untuk menggali/melihat/membuktikan kebenaran, bukan malah pada posisi yang terbalik yaitu menutup mata atau menolak segala sesuatu yang tidak sesuai atau asing (belum diketahui) karena kemapanan (seolah-olah berpengetahuan) diri (atta) ini biasanya berkecenderungan terjadi pada Buddhist theravada atau menerima langsung percaya seperti pada praktek-praktek umat pada Buddhist tradisi tantra (mengarah takhayul).
Semoga kawan-kawan buddhist dapat menerima tulisan cinta dari seorang sahabat dan terbebaskan. Untuk lebih jelasnya silahkan renungi tulisan saya pada reply #241 diatas.


semoga bukan memandang dengan kemarahan dan kebanggaan kemapanan (pengetahuan) atta diri
good hope and love
coedabgf

NB : sabar bro gunawan, saya fokus pada tulisan-tulisan akhir, blom fokus baca tulisan-tulisan anda.
       Dan pada teman-teman yang lain, jawaban tentang pertanyaan yang berhubungan kekeristenan
       bagaimana yah, masih mau di ulas?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: coedabgf on 29 March 2009, 10:32:10 AM
jangan marah yeeh...., inikan lagi ngebahas topik 'Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...', tapi aye salah baca menjadi 'Pernyataan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...'
coba renungkan tulisan aye jangan langsung dikonter meluap-luap atau meledak-ledak. (apanya yang meluap-luap atau yang meledak-ledak yah...?), moga-moga menyadari, melihat mutiara dalam kata-kata, klo tidak..., apalagi yang bisa saya katakan.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: marcedes on 29 March 2009, 01:16:53 PM
mengapa secara umum umat seolah-olah bijaksana berpengetahuan seolah-olah berbicara prisip kebenaran berasal dari inti pengajaran guru Buddha, padahal semua itu dinyatakan oleh guru Buddha bukan dari inti kebenaran sejati melainkan sebagai ciri-ciri fenomena dari ketidak-kekalan semua yang bersifat duniawi atau carnal (daging) yang harus ditanggalkan/dilepaskan/tidak sepatutnya layak dipercayai, seperti :
perkataan mercedes :
-para bijak berkata "pembicaraan apapun juga tidak berdasarkan aniccam bukanlah pembicaraan dari seorang yang bijaksana"
sifat ketidak-kekalan dari segala sesuatu yang berkondisi adalah kenyataan, realita kebenaran.
bukan sekedar teori imajinasi, khayalan , impian , pendapat atau kepercayaan.
-apa yang nyata secara universal saja : bahwa segala sesuatu yang berkondisi itu memang tidak kekal adanya (anicca).
-banyak orang tidak menyukai kebenaran. mereka lebih suka bentuk kepercayaan.
seindah apapun kedengarannya, suatu bentuk kepercayaan tetaplah hanyalah kepercayaan.
tidak lebih dari sekedar produk khayalan ilusi.
-Sebenarnya sekejab saja menyadari dan mengalami kebenaran langsung jauh lebih berharga daripada hidup beribu-ribu tahun dalam "indah-nya" ilusi.

pernyataan dilbert :
-ada satu hal yang kekal / tidak berubah... dari dulu begitu begitu saja...
MAU TAHU ?... yang kekal dan tidak berubah-ubah dari dulu adalah KETIDAKKEKALAN itu sendiri. Tidak ada yang kekal, yang kekal hanyalah perubahan itu (ketidakkekalan)...

dimana pada setiap pembicaraan timbul pada hakekatnya suatu pernyataan yang bertentangan atau kekacauan dan kebingungan tentang kebenaran sejati yang dimaksudkan guru Buddha, tentang kenyataan kebenaran pemahaman 'ada dan tiada', 'anicca dan anatta', tentang keberadaan (kehidupan) makhluk/mereka yang telah tercerahkan. mengapa?
Seperti sering saya tulis tanyakan 'siapakah yang telah tercerahkan?', karena secara massal (umum) umat (buddhist) saya beri gambaran/ilustrasi sebagai berikut 'dalam kekhayalan berbicara kebenaran sejati'. apa artinya?
coba anda renungkan syair yang sudah saya tuliskan diatas :
Semua (masih) hanyalah kekhayalan
Mau keluar kekhayalan memakai kekhayalan
Menyelami yang sejati (masih) terikat pada yang terkondisi
Menilai yang Mutlak dari (keterbatasan) pengalaman persepsi kemelekatan (pada) yang sementara
Apa maksudnya?, yaitu semua apa yang anda/umat/awam nyatakan, apa yang dibicarakan, sesungguhnya semua dalam lingkup (pandang) kesementaraan saja alias bersifat ilusi saja.
Seperti pembicaraan tentang blind faith? siapa umat/awam (buddhist) yang dapat membuktikan tentang sesuatu yang menjadi inti keyakinan/kepercayaan guru Buddha sehingga Ia dapat mencapai pengetahuan pandangan terang tentang kesejatian inti keberadaan kehidupan sehingga dapat terbebas dari cengkraman/ikatan/cekatan ketidak-kekalan kehidupan sementara yang palsu atau khayal pada sutta udanna VIII.3, sehingga timbul suatu yang diistilahkan umat/awam dengan yang tercerahkan atau Buddha?
Tentang prinsip ehipassiko yang biasa dinyatakan oleh umat/awam yang masih dalam kesementaraan (yang masih terikat pada yang terkondisi) dalam setiap diskusi, itu sebenarnya pada akhirnya tertuju/ditujukan untuk pemuasan (logika) apa?  tetapi guru Buddha menyatakan prinsip itu supaya murid/umat untuk menggali/melihat/membuktikan kebenaran, bukan malah pada posisi yang terbalik yaitu menutup mata atau menolak segala sesuatu yang tidak sesuai atau asing (belum diketahui) karena kemapanan (seolah-olah berpengetahuan) diri (atta) ini biasanya berkecenderungan terjadi pada Buddhist theravada atau menerima langsung percaya seperti pada praktek-praktek umat pada Buddhist tradisi tantra (mengarah takhayul).
Semoga kawan-kawan buddhist dapat menerima tulisan cinta dari seorang sahabat dan terbebaskan. Untuk lebih jelasnya silahkan renungi tulisan saya pada reply #241 diatas.


semoga bukan memandang dengan kemarahan dan kebanggaan kemapanan (pengetahuan) atta diri
good hope and love
coedabgf

NB : sabar bro gunawan, saya fokus pada tulisan-tulisan akhir, blom fokus baca tulisan-tulisan anda.
       Dan pada teman-teman yang lain, jawaban tentang pertanyaan yang berhubungan kekeristenan
       bagaimana yah, masih mau di ulas?
saudara coedabgf yang bijak,
kata-kata itu di ucapkan oleh ven. Ajahn Chah sendiri..

sudah saya katakan di postingan sebelumnya,
syair mengenai "keraguan" akan pencapaian adalah sebuah kebodohan.
ketika kita melihat "anicca" apakah dibutuhkan rekayasa atau semacam pembenaran?
anicca itu begitu "alamiah" sangat alamiah.

sama hal nya dengan kelahiran maka ada jara-marana... semua itu begitu alamiah, tanpa ada penghalang dalam melihat.
hanya ketika seseorang melihat hal ini, orang tersebut ragu akan kebenaran kenyataan.
maka biasanya muncul pada pandangan
"saya umat awam, masih belum tahu apa-apa"
saya umat awam, masih butuh belajar"
saya umat awam, masih harus berguru
saya umat awam, masih harus mengikis khayalan"

inilah beberapa pandangan jika seseorang tidak bisa mandiri membangkitkan kebijaksanaan untuk melihat "secara alamiah"
atau saya sebut "sebagaimana adanya"

1+1 = 2... di ubah bagaimana pun, kenyataannya tetap demikian...
ada kelahiran maka ada penderitaan, di ubah bagaimana pun, kenyataan tetap lah demikian....

demikian pencapaian "apakah harus ada keraguan ketika melihat hasil nya demikian"?
hanya kebodohan yang membuat nya demikian...

ketika seseorang sudah melihat anicca demikian, dan masih "ragu" akan kebenaran anicca. orang tersebut benar-benar bodoh.
=================================
nb:
 "masih butuh belajar" adalah dimana ketika seseorang menguasai 1+1=2 tetapi orang ini ragu akan kebenaran dari hasil 2.
atau ketika seseorang sudah menguasai 1+1=2 tetapi hanya pelajaran itu yang diulang-ulang....

salam metta _/\_
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: ENCARTA on 29 March 2009, 02:02:56 PM
1+1=2 anda yakin 1+1=2
soalnya sekarang katanya 4 = 5 loh ;D
dan kalau alam semesta colaps aye yakin energi tetap ada ;D
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: coedabgf on 29 March 2009, 06:19:04 PM
saudara coedabgf yang bijak,
kata-kata itu di ucapkan oleh ven. Ajahn Chah sendiri..


ven Ajahn Chah attained kebenaran sejati atau tidak, awam siapa yang tahu.
Kalaupun ven Ajahn Chah mencapai kebenaran sejati, kata-katanya hanyalah kata-kata, realitas kebenarannya hanya dapat diraih oleh pengalaman pribadi. Diluar realitas pengalaman kebenaran sendiri, pengetahuan atau kata-kata kebenaran tetaplah hanyalah ilusi.

Seperti kutipan syair yang saya tulis pada reply #75 :
Di dalam rumahku ada sebuah gua
di dalam gua tidak ada apapun lagi

kekosongan murni benar-benar luar biasa
gemilang dan indah gemerlap bak surya
makanan vegetarian memelihara tubuh tua ini
katun  dan kulit menutupi bentuk ilusif-nya.
biarkan seribu orang suci muncul di hadapanku
aku memiliki Dharmakaya diriku sendiri

Meskipun banyak rintangan saya mengejar sang biarawan agung
pegunungan berkabut sejuta tingkatan tingginya
beliau menunjukkan jalan pulang ke rumah
bulan bundar tunggal lentera langit


sudah saya katakan di postingan sebelumnya,
syair mengenai "keraguan" akan pencapaian adalah sebuah kebodohan.
ketika kita melihat "anicca" apakah dibutuhkan rekayasa atau semacam pembenaran?
anicca itu begitu "alamiah" sangat alamiah.

sama hal nya dengan kelahiran maka ada jara-marana... semua itu begitu alamiah, tanpa ada penghalang dalam melihat.
hanya ketika seseorang melihat hal ini, orang tersebut ragu akan kebenaran kenyataan.
maka biasanya muncul pada pandangan
"saya umat awam, masih belum tahu apa-apa"
saya umat awam, masih butuh belajar"
saya umat awam, masih harus berguru
saya umat awam, masih harus mengikis khayalan"

inilah beberapa pandangan jika seseorang tidak bisa mandiri membangkitkan kebijaksanaan untuk melihat "secara alamiah"
atau saya sebut "sebagaimana adanya"

1+1 = 2... di ubah bagaimana pun, kenyataannya tetap demikian...
ada kelahiran maka ada penderitaan, di ubah bagaimana pun, kenyataan tetap lah demikian....

demikian pencapaian "apakah harus ada keraguan ketika melihat hasil nya demikian"?
hanya kebodohan yang membuat nya demikian...

ketika seseorang sudah melihat anicca demikian, dan masih "ragu" akan kebenaran anicca. orang tersebut benar-benar bodoh.
=================================
nb:
 "masih butuh belajar" adalah dimana ketika seseorang menguasai 1+1=2 tetapi orang ini ragu akan kebenaran dari hasil 2.
atau ketika seseorang sudah menguasai 1+1=2 tetapi hanya pelajaran itu yang diulang-ulang....

salam metta _/\_


tahukah anda mengapa saya malah mengutip syair guru zen diatas dan anda menulis pandangan anda dan kutipan kata-kata ven. Ajahn Chah seperti yang senantiasa anda tulis untuk menyatakan/meneguhkan tataran pengetahuan anda?.
Sebab keBuddhaan sudah diluar dari pengetahuan/kebenaran itu semua, seperti yang sudah saya jelaskan pada tulisan saya terdahulu  yaitu pengajaran itu diutarakan untuk dapat mengadakan pemisahan sebagai berikut : ‘mengapa secara umum umat seolah-olah bijaksana berpengetahuan seolah-olah berbicara prisip kebenaran berasal dari inti pengajaran guru Buddha, padahal semua itu dinyatakan oleh guru Buddha bukan dari inti kebenaran sejati melainkan sebagai ciri-ciri fenomena dari ketidak-kekalan semua yang bersifat duniawi atau carnal (daging) yang harus ditanggalkan/dilepaskan/tidak sepatutnya layak dipercayai’, awal untuk dapat masuk/mengenal dan menyelami kedalam pengetahuan kebenaran sejati (pengalaman udanna VIII.3), masih bersifat dangkal atau kulit luar bukan kebenaran inti yang sesungguhnya yang dimaksudkan guru Buddha tetapi umat/awam sangat tercekat, sukar untuk memisahkan diri.
Seperti (sebagaimana) anda menyatakan pada nb anda :
nb:
"masih butuh belajar" adalah dimana ketika seseorang menguasai 1+1=2 tetapi orang ini ragu akan kebenaran dari hasil 2.
atau ketika seseorang sudah menguasai 1+1=2 tetapi hanya pelajaran itu yang diulang-ulang....
seperti yang sudah saya nyatakan/utarakan pada kutipan kalimat penjelasan tulisan saya diatas ini ‘mengapa secara umum umat seolah-olah bijaksana berpengetahuan seolah-olah berbicara prisip kebenaran berasal dari inti pengajaran guru Buddha, padahal semua itu dinyatakan oleh guru Buddha bukan dari inti kebenaran sejati melainkan sebagai ciri-ciri fenomena dari ketidak-kekalan semua yang bersifat duniawi atau carnal (daging) yang harus ditanggalkan/dilepaskan/tidak sepatutnya layak dipercayai’ dan kalimat yang sebagai berikut bahwa ‘Sebab keBuddhaan sudah diluar dari pengetahuan/kebenaran itu semuasiapakah yang masih berkutat melekat atau tercekat pada pengetahuan itu atau masih tercekat dalam pengalaman tataran keterbatasan keberadaan itu‘ ketika seseorang sudah menguasai 1+1=2 tetapi hanya pelajaran itu yang diulang-ulang....’ hanya dalam kapasitas tataran yang saya bilang ‘masih bersifat dangkal atau kulit luar bukan kebenaran inti yang sesungguhnya yang dimaksudkan guru Buddha tetapi umat/awam sangat tercekat, sukar untuk memisahkan diri’, ‘bukan dari inti kebenaran sejati melainkan sebagai ciri-ciri fenomena dari ketidak-kekalan semua yang bersifat duniawi atau carnal (daging) yang harus ditanggalkan/dilepaskan/tidak sepatutnya layak dipercayai’, tetapi melainkan ‘sebagai pengetahuan awal untuk dapat masuk/mengenal kedalam pengetahuan kebenaran sejati’. Dan apalagi kalau dalam kapasitas kebenaran kata-kata saja seperti yang sudah saya tulis diatas sebagai berikut :
ven Ajahn Chah attained kebenaran sejati atau tidak, awam siapa yang tahu.
Kalaupun ven Ajahn Chah mencapai kebenaran sejati, kata-katanya hanyalah kata-kata, realitas kebenarannya hanya dapat diraih oleh pengalaman pribadi. Diluar realitas pengalaman kebenaran sendiri, pengetahuan atau kata-kata kebenaran tetaplah hanyalah ilusi.



semoga dengan jawaban dari kutipan-kutipan tulisan yang sudah ada, mau mencoba menyelami dan dapat melihat mutiara dalam tulisan dan mendapatkan jawaban kebenaran atas sanggahan-sanggahan dan pertanyaan-pertanyaan diri yang baru dan mau muncul.
good hope and love
coedabgf
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: coedabgf on 29 March 2009, 06:19:54 PM
ada yang bisa mengerti gak, menangkap maksud tulisan sesungguhnya?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: marcedes on 29 March 2009, 09:04:43 PM
saudara coedabgf yang bijak,
saya tidak tahu ven,Ajahn Chah itu sudah jagoan atau belum...^^
tetapi yang saya tahu pasti, beliau tidak menambahkan khayalan pada anicca.

anicca tetap anicca....demikian dikatakan itu begini-begitu...
tetaplah itu sifat nya yakni adalah dukkha...bahkan bisa di lihat sekarang pun.
lalu apa hubungannya dengan pencapaian beliau sudah tercerahkan atau belum?

andaikata beliau "belum/telah" tercerahkan... apa berarti kata beliau bahwa "anicca" itu indah lantas harus kita percaya? karena label mereknya.....
bahkan anak TK sekalipun,jika menyatakan kenyataan, dimana apa yang "dia lihat sebagai apa yang dilihat - nya" maka anak itu adalah anak yang lebih pintar dari Ajahn Chah sekalipun.

bagaimana pun "terkenal-nya" seseorang,apabila orang tersebut berkata bahwa segala sesuatu yang berlawanan dengan kenyataan.. maka orang itu tetap lah buta.

sama halnya dengan kutipan sutra...dikatakan telah mencapai sammasambuddha...tetapi kenyataan penderitaan terus menerus ada di situ...
lalu apa untung-nya mencapai sammasambuddha?
dimana letak kebahagiaan-nya?

jelaskan donk.. ^^

Quote
‘mengapa secara umum umat seolah-olah bijaksana berpengetahuan seolah-olah berbicara prisip kebenaran berasal dari inti pengajaran guru Buddha, padahal semua itu dinyatakan oleh guru Buddha bukan dari inti kebenaran sejati melainkan sebagai ciri-ciri fenomena dari ketidak-kekalan semua yang bersifat duniawi atau carnal (daging) yang harus ditanggalkan/dilepaskan/tidak sepatutnya layak dipercayai’, awal untuk dapat masuk/mengenal dan menyelami kedalam pengetahuan kebenaran sejati (pengalaman udanna VIII.3), masih bersifat dangkal atau kulit luar bukan kebenaran inti yang sesungguhnya yang dimaksudkan guru Buddha tetapi umat/awam sangat tercekat, sukar untuk memisahkan diri.

sudah saya posting 2x dan ini ke-3x -nya..
hanya umat "awam" yang memang berpikir demikian.

Quote
‘mengapa secara umum umat seolah-olah bijaksana berpengetahuan seolah-olah berbicara prisip kebenaran berasal dari inti pengajaran guru Buddha
apa hubungannya anicca dengan buddha gotama?

gotama hanya menyatakan anicca itu sebagai apa yang dilihat-nya dari kenyataan...
sama seperti penemu hukum gravitasi bumi.....
apa hubungannya penemu dengan konsep/rumus-nya?...
tanpa penemu sekalipun, konsep/rumus itu memang sudah ada sebelumnya...

Quote
‘Sebab keBuddhaan sudah diluar dari pengetahuan/kebenaran itu semua’
kebenaran apapun itu..semua hanya ada dalam pikiran... bukan di luar pikiran.

sama halnya ruang dan waktu....
apakah pikiran ada dalam ruang dan waktu atau
atau ruang dan waktu ada dalam pikiran?

tentu saja ruang dan waktu lah yang ada dalam pikiran.. bukan pikiran ada dalam ruang dan waktu.

matahari,bulan,gunung,anicca,bahkan kita... semua hanya ada didalam pikiran..bukan pikiran ada dalam itu semua.

Quote
‘masih bersifat dangkal atau kulit luar bukan kebenaran inti yang sesungguhnya yang dimaksudkan guru Buddha tetapi umat/awam sangat tercekat, sukar untuk memisahkan diri’, ‘bukan dari inti kebenaran sejati melainkan sebagai ciri-ciri fenomena dari ketidak-kekalan semua yang bersifat duniawi atau carnal (daging) yang harus ditanggalkan/dilepaskan/tidak sepatutnya layak dipercayai’, tetapi melainkan ‘sebagai pengetahuan awal untuk dapat masuk/mengenal kedalam pengetahuan kebenaran sejati’. Dan apalagi kalau dalam kapasitas kebenaran kata-kata saja seperti yang sudah saya tulis diatas sebagai berikut :
ven Ajahn Chah attained kebenaran sejati atau tidak, awam siapa yang tahu.
Kalaupun ven Ajahn Chah mencapai kebenaran sejati, kata-katanya hanyalah kata-kata, realitas kebenarannya hanya dapat diraih oleh pengalaman pribadi. Diluar realitas pengalaman kebenaran sendiri, pengetahuan atau kata-kata kebenaran tetaplah hanyalah ilusi.

saudara coedabgf yang bijak,
saya ulangi lagi... kalau pikiran seperti itu hanyalah dimiliki bagi seseorang yang "ragu" akan kenyataan yang dilihat-nya.

pikiran membentuk sesuatu yang kita harapkan, akan tetapi kenyataan berbeda..lalu manakah yang benar?
kenyataan lah yang benar...apapun itu.

jadi saya tanyakan kepada anda.....^^
apakah "kelahiran(bhava) = penderitaan(dukkha / jara-marana)" merupakan kebenaran sejati?"
dari tadi kan di bahas kebenaran sejati.....

silahkan anda jawab sendiri. ^^

salam metta.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: coedabgf on 30 March 2009, 07:46:13 AM
Tentang prinsip ehipassiko yang biasa dinyatakan oleh umat/awam yang masih dalam kesementaraan (yang masih terikat pada yang terkondisi) dalam setiap diskusi, itu sebenarnya pada akhirnya tertuju/ditujukan untuk pemuasan (logika) apa?  tetapi guru Buddha menyatakan prinsip itu supaya murid/umat untuk menggali/melihat/membuktikan kebenaran, bukan malah pada posisi yang terbalik yaitu menutup mata atau menolak segala sesuatu yang tidak sesuai atau asing (belum diketahui) karena kemapanan (seolah-olah berpengetahuan) diri (atta) ini biasanya berkecenderungan terjadi pada Buddhist theravada atau menerima langsung percaya seperti pada praktek-praktek umat pada Buddhist tradisi tantra (mengarah takhayul).


seperti yang sudah saya tulis, saya mo tanya adakah rekan-rekan theravadin lain yang mengerti maksud kebenaran (ultimate truth) tulisan saya?,
sabar bro mercedes, anda pasti dapat jawaban atas pertanyaan anda yang mudah sekali.
 _/\_

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: coedabgf on 30 March 2009, 07:54:19 AM
bro and sis semua...,
lepaskan cangkang... segala (kelekatan) kewujudan. Contoh perumpamaan level tinggi adalah seperti syair guru Buddha tentang bahkan (pengetahuan tertinggi) Dhammapun seperti sebuah rakit yang harus ditinggalkan/ditanggalkan untuk menjejak di pantai seberang, apalagi yang (bersifat) fenomena atau bukan yang nyata/sejati, hanya (bersifat) sementara.

Dari kemelekatan timbul kesedihan, dari kemelekatan timbul ketakutan; bagi orang yang telah bebas dari kemelekatan, tiada lagi kesedihan maupun ketakutan
(Dhammapada 214)
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: coedabgf on 30 March 2009, 07:57:47 AM
eh... aye berani mati yah... yang dibilang the foreigner sendirian masuk kesarang macan....!  ;D
tapi maksudnya baik loh dengan membawa 'good hope and love'.  _/\_
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 30 March 2009, 09:09:15 AM


Begitulah. Maka harus dibimbing kembali ke jalan Mahayana karena mereka hanya setengah jalan (seperti memang dikatakan sebelumnya, baru TK, harus lanjut SD, SMP, dst). Maka dikatakan bahwa Sariputra sendiri keliru mengira perjuangannya telah berakhir, namun sebenarnya akan terus terlahir sampai mencapai Samyak Sambodhi bernama Padmaprabha. Saya lupa persisnya pembicaraan ini di mana.




namaste suvatthi hotu

Dari teks Mahayana yang mana pernyataan seperti itu dikutip?

mohon tuliskan sumber teks sutranya dong, untuk ricek

thuti



Sudah saya tulis sebelumnya di Bhaisajyaguru Sutra dikatakan bahwa tekad ke empat dari Bhaisajyaguru adalah untuk membimbing orang yang dalam Sravaka & Pratyeka-yana untuk kembali ke jalan Mahayana. Jika Sravaka & Pratyeka Buddha adalah juga jalan yang membawa pada pembebasan akhir, untuk apa dipanggil-panggil ke dalam jalan Mahayana?

Quote
"Aku berikrar bahwa bila Aku mencapai Penerangan di masa yang akan datang, jika ada makhluk hidup yang menempuh jalan menyimpang, Aku akan membimbing mereka kembali ke jalan Penerangan.
Jika ada yang menjadi pengikut jalan Sravaka atau Pacekkabuddha, mereka akan berangsur-angsur dibimbing ke Jalan Mahayana."


Dalam Saddharma Pundarika Sutra Bab II, dikatakan bahwa Sravaka, Arahat, Pratyeka Buddha yang tidak "terpanggil" untuk memasuki Buddhayana (Bodhisatvayana), maka seharusnya tidak dianggap Sravaka, Arahat, Pratyeka Buddha, atau pun murid dari Tathagata.
Ini berarti hanya yang sejati yang akan terpanggil ke dalam Bodhisatvayana.

Quote
"Now, Sâriputra, such disciples, Arhats, or Pratyekabuddhas who do not hear their actually being called to the Buddha-vehicle by the Tathâgata, who do not perceive, nor heed it, those, Sâriputra, should not be acknowledged as disciples of the Tathâgata, nor as Arhats, nor as Pratyekabuddhas."


Mengenai Sariputra yang akan menjadi Buddha dengan nama Padmaprabha, ternyata ada di Bab III.

Quote
... Thou thinkest that thou hast reached final rest. I, wishing to revive and renew in thee the knowledge of thy former vow to observe the (religious) course, will reveal to the disciples the Dharmaparyaya called 'the Lotus of the True Law,' this Sûrânta.

Again, Sâriputra, at a future period, after innumerable, inconceivable, immeasurable Æons, when thou shalt have learnt the true law of hundred thousand myriads of kotis of Tathâgatas, showed devotion in various ways, and achieved the present Bodhisattva-course, thou shalt become in the world a Tathâgata, named Padmaprabha
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 30 March 2009, 09:21:01 AM
apakah semua sravaka itu harus melanjutkan ke jalan MAHAYANA ?

Bukankah sudah dibilang bahwa Pratyeka & Sravaka yang berpikir jalannya telah berakhir adalah sombong dan keliru?
Seingat saya, Buddha Sakyamuni juga mengatakan para Sravaka (tidak hanya Sariputra) seperti Kasyapa, Maudgalyayana, Subhuti, Aniruddha, dan lain-lain juga akan menjadi Bodhisatva.


Para Buddha yang mana aja ya?, darimana kita tahu itu jalan yang benar?

Saya kurang tahu. Tetapi kalau di Sutra Mahayana, memang banyak disebutkan tentang Buddha lain. Pembagiannya adalah satu Buddha dalam satu galaksi, lalu ada Buddha di sebelah barat, utara, selatan, timur, zenith (atas), dan Nadir (bawah). Lalu dari arah masing-masing Buddha tersebut, ada Buddha lainnya lagi. Jadi sungguh banyak tak terhitung. Misalnya di sebelah barat ada Buddha Amitayus, Amitaskhamdha, Amitadhavaja, Mahaprabha, dan lain-lain. Di sebelah timur ada Buddha Aksobhya, Merudhvaja, Mahameru, daln lain-lain. Begitu juga di arah-arah lainnya.
Kalau setahu saya, yang dijelaskan dalam sutra adalah Amitayus (Amitabha) dan Bhaisajyaguru. (Dalam wihara Mahayana, sering kita lihat 3 patung utama Buddha, yaitu Sakyamuni di tengah, Amitayus di kiri, dan Bhaisajyaguru di kanan.)


Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 30 March 2009, 09:34:48 AM
saudara kainyn yang bijak,
coba sebutkan 4 hukum kesunyataan mulia....
1.dukkha  ( dari sini sebuah calon harusnya berusaha untuk menghindari dari dukkha)
2.sebab dukkha
3.akhir dukkha
4.jalan menuju akhir dukkha.

dan kenyataan setelah "LULUS dengan baik secara katakanlah "hinaya"  eh, kok di TK belajar menghindari dukkha..sekarang SD.SMP,SMA diajarkan untuk terus menikmati dukkha?
TK dan SMP--- kok tidak nyambung?

[...]


Untuk pertanyaan-pertanyaan itu, saya tidak kompeten menjawab. Silahkan ditanyakan pada yang lain saja yah.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 30 March 2009, 10:02:10 AM
Dalam satu terjemahan, ditulis demikian:
"Again, Shariputra, if there should be monks or nuns who claim that they already have attained the status of arhat, that this is their last incarnation, that they have reached the final nirvana, and that therefore they have no further intention of seeking anuttara-samyak-sambodhi, then you should understand that such as these are all persons of overbearing arrogance. Why do I say this? Because if they are monks who have truly attained the status of arhat, then it would be unthinkable that they should fail to believe this Law. The only
exception would be in a time after the Buddha had passed away, when there was no Buddha present in the world. Why is this? Because after the Buddha has passed away it will be difficult to find anyone who can embrace, recite, and understand the meaning of sutras such as this. But if persons at that time encounter another Buddha, then they will attain decisive understanding with regard to this Law."

Jelas di sini bahwa yang mengatakan kelahiran kembali telah berakhir namun tidak mengambil tekad mencapai Samyak Sambodhi, ia hanyalah orang yang mengaku-ngaku sebagai Arahat.


Bait sebelumnya adalah:
"Now, Sâriputra, such disciples, Arhats, or Pratyekabuddhas who do not hear their actually being called to the Buddha-vehicle by the Tathâgata, who do not perceive, nor heed it, those, Sâriputra, should not be acknowledged as disciples of the Tathâgata, nor as Arhats, nor as Pratyekabuddhas."




Boleh ditanya dapat darimana Bro ?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: ryu on 30 March 2009, 10:05:41 AM
Para Buddha yang mana aja ya?, darimana kita tahu itu jalan yang benar?

Saya kurang tahu. Tetapi kalau di Sutra Mahayana, memang banyak disebutkan tentang Buddha lain. Pembagiannya adalah satu Buddha dalam satu galaksi, lalu ada Buddha di sebelah barat, utara, selatan, timur, zenith (atas), dan Nadir (bawah). Lalu dari arah masing-masing Buddha tersebut, ada Buddha lainnya lagi. Jadi sungguh banyak tak terhitung. Misalnya di sebelah barat ada Buddha Amitayus, Amitaskhamdha, Amitadhavaja, Mahaprabha, dan lain-lain. Di sebelah timur ada Buddha Aksobhya, Merudhvaja, Mahameru, daln lain-lain. Begitu juga di arah-arah lainnya.
Kalau setahu saya, yang dijelaskan dalam sutra adalah Amitayus (Amitabha) dan Bhaisajyaguru. (Dalam wihara Mahayana, sering kita lihat 3 patung utama Buddha, yaitu Sakyamuni di tengah, Amitayus di kiri, dan Bhaisajyaguru di kanan.)



Apakah Bunyi Mantra2 itu HANYALAH untuk memuji Buddha tersebut atau bagaimana? soalnya terdengar seperti Buddha tersebut sebagai sosok yang ingin di puji baru memberikan bantuan :D
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: marcedes on 30 March 2009, 10:08:52 AM
bro and sis semua...,
lepaskan cangkang... segala (kelekatan) kewujudan. Contoh perumpamaan level tinggi adalah seperti syair guru Buddha tentang bahkan (pengetahuan tertinggi) Dhammapun seperti sebuah rakit yang harus ditinggalkan/ditanggalkan untuk menjejak di pantai seberang, apalagi yang (bersifat) fenomena atau bukan yang nyata/sejati, hanya (bersifat) sementara.

Dari kemelekatan timbul kesedihan, dari kemelekatan timbul ketakutan; bagi orang yang telah bebas dari kemelekatan, tiada lagi kesedihan maupun ketakutan
(Dhammapada 214)
bro coedabgf yang bijak,

silahkan jawab pertanyaan saya,
"apakah  (kelahiran = penderitaan) itu merupakan kebenaran sejati"?

kalau anda menyebut rakit, saya menyebut demikian.
"seseorang yang belum melihat "kelahiran=penderitaan", jangan kan menaiki rakit, melihat rakit saja belum bisa"

Dari kemelekatan timbul kesedihan, dari kemelekatan timbul ketakutan; bagi orang yang telah bebas dari kemelekatan, tiada lagi kesedihan maupun ketakutan
(Dhammapada 214)

yah tentu saja syair ini realita., dari kemelekatan ada kelahiran, dari kelahiran ada jara-marana.
siapa bebas dari kelahiran sama saja bebas dari jara-marana..

kok arti syair nya beda dengan kutipan sutra? ^^

atau mungkin sama seperti kata Ajahn Brahm,
"seseorang saat ini biasanya memakai rakit,belum sampai di tujuan malah sudah di lepas ditengah lautan"

orang seperti ini biasanya menganggap bahwa mencari "pembebasan" adalah kemelekatan itu sendiri.
dan orang seperti ini menganggap bahwa diri-nya telah berusaha "melepas"
sayang-nya yang terjadi justru "melepas" di tengah lautan.

salam metta.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 30 March 2009, 10:59:24 AM
Para Buddha yang mana aja ya?, darimana kita tahu itu jalan yang benar?

Saya kurang tahu. Tetapi kalau di Sutra Mahayana, memang banyak disebutkan tentang Buddha lain. Pembagiannya adalah satu Buddha dalam satu galaksi, lalu ada Buddha di sebelah barat, utara, selatan, timur, zenith (atas), dan Nadir (bawah). Lalu dari arah masing-masing Buddha tersebut, ada Buddha lainnya lagi. Jadi sungguh banyak tak terhitung. Misalnya di sebelah barat ada Buddha Amitayus, Amitaskhamdha, Amitadhavaja, Mahaprabha, dan lain-lain. Di sebelah timur ada Buddha Aksobhya, Merudhvaja, Mahameru, daln lain-lain. Begitu juga di arah-arah lainnya.
Kalau setahu saya, yang dijelaskan dalam sutra adalah Amitayus (Amitabha) dan Bhaisajyaguru. (Dalam wihara Mahayana, sering kita lihat 3 patung utama Buddha, yaitu Sakyamuni di tengah, Amitayus di kiri, dan Bhaisajyaguru di kanan.)



Apakah Bunyi Mantra2 itu HANYALAH untuk memuji Buddha tersebut atau bagaimana? soalnya terdengar seperti Buddha tersebut sebagai sosok yang ingin di puji baru memberikan bantuan :D

bunyi sutra amitabha, bukan mantra mantra utk memuji buddha,
tapi mengingatkan kita bahwa, bukan sang buddha sakyamuni saja yang ada, karena di alam sebelah barat, sebelah timur, sebelah utara, sebelah selatan, sebelah atas, sebelah bawah (sepuluh penjuru buddha).

"O Sariputra sebagaimana Aku memuji jasa dan kebaikan semua Buddha, semua Buddha juga memuji jasa dan kebajikanKu yang tak terkirakan, dengan mengucapkan kata-kata : "Sakyamuni Buddha dapat melasanakan secara luar biasa perbuatan-perbuatan sulit di dunia saha, dikurun kejahatan dari lima kekeruhan diantara kekeruhan kalpa, kekeruhan pandangan, kekeruhan penderitaan, kekeruhan makhluk hidup dan kekeruhan kehidupan. Ia dapat mencapai Annuttara Samyak Sambodhi. Demi makhluk hidup, membabarkan Dharma. Ini yang diseluruh dunia sulit dipercaya, Sariputra. Kamu seharusnya mengerti bahwa Aku, dikurun kejahatan dari lima kekeruhan mempraktekkan perbuatan yang sulit ini, mencapai Annuttara Samyak Sambodhi. Demi semua dunia kuucapkan Dharma yang sulit dipercaya ini, benar-benar sulit untuk dipercaya."
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 30 March 2009, 11:25:54 AM
Dalam satu terjemahan, ditulis demikian:
"Again, Shariputra, if there should be monks or nuns who claim that they already have attained the status of arhat, that this is their last incarnation, that they have reached the final nirvana, and that therefore they have no further intention of seeking anuttara-samyak-sambodhi, then you should understand that such as these are all persons of overbearing arrogance. Why do I say this? Because if they are monks who have truly attained the status of arhat, then it would be unthinkable that they should fail to believe this Law. The only
exception would be in a time after the Buddha had passed away, when there was no Buddha present in the world. Why is this? Because after the Buddha has passed away it will be difficult to find anyone who can embrace, recite, and understand the meaning of sutras such as this. But if persons at that time encounter another Buddha, then they will attain decisive understanding with regard to this Law."

Jelas di sini bahwa yang mengatakan kelahiran kembali telah berakhir namun tidak mengambil tekad mencapai Samyak Sambodhi, ia hanyalah orang yang mengaku-ngaku sebagai Arahat.


Bait sebelumnya adalah:
"Now, Sâriputra, such disciples, Arhats, or Pratyekabuddhas who do not hear their actually being called to the Buddha-vehicle by the Tathâgata, who do not perceive, nor heed it, those, Sâriputra, should not be acknowledged as disciples of the Tathâgata, nor as Arhats, nor as Pratyekabuddhas."




Boleh ditanya dapat darimana Bro ?



Dalam Saddharma Pundarika Sutra Bab II, dikatakan bahwa Sravaka, Arahat, Pratyeka Buddha yang tidak "terpanggil" untuk memasuki Buddhayana (Bodhisatvayana), maka seharusnya tidak dianggap Sravaka, Arahat, Pratyeka Buddha, atau pun murid dari Tathagata.
Ini berarti hanya yang sejati yang akan terpanggil ke dalam Bodhisatvayana.

Quote
"Now, Sâriputra, such disciples, Arhats, or Pratyekabuddhas who do not hear their actually being called to the Buddha-vehicle by the Tathâgata, who do not perceive, nor heed it, those, Sâriputra, should not be acknowledged as disciples of the Tathâgata, nor as Arhats, nor as Pratyekabuddhas."

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 30 March 2009, 11:46:23 AM
^
^
^

[at] bro kaiyn kutho

manttafffff om

mo +1 ah....
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 30 March 2009, 11:51:36 AM
Apakah Bunyi Mantra2 itu HANYALAH untuk memuji Buddha tersebut atau bagaimana? soalnya terdengar seperti Buddha tersebut sebagai sosok yang ingin di puji baru memberikan bantuan :D

Sepertinya bukan. Kalau menurut dugaan saya, setiap Buddha 'kan punya karakteristik masing-masing. Mantra masing-masing Buddha itu adalah untuk mengingatkan kita pada kualitas khas itu. Seperti dalam Atanatta Paritta Tradisi Theravada (paritta untuk perlindungan), juga disebutkan karakteristik Buddha-Buddha di masa lampau.


Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: ryu on 30 March 2009, 11:52:25 AM
O Sariputra, kalau seorang lelaki berbudi dan wanita berbudi mendengar sutta ini dan mengucapkan nama-nama semua Buddha ini, lelaki berbudi atau wanita berbudi ini akan menjadi orang yang ingat akan Buddha dan dilindungi oleh semua Buddha dan tidak akan gagal mencapai Anuttara Samyak Sambodhi. Sebab itu Sariputra, kalian semua patut percaya dan menerima kata-kataKu dan ucapan semua Buddha.Sariputra, kalau ada orang yang telah berikrar yang sedang berikrar atau yang akan berikrar, ”aku berhasrat lahir di negeri Amitabha.” Orang-orang ini semua tidak akan gagal mencapai Anuttara Samyak Sambodhi apakah dia lahir pada masa lampau, sekarang atau pada masa mendatang. Sebab itu Sariputra, semua laki-laki berbudi dan wanita berbudi jika mereka orang-orang yang memiliki keyakinan, seyogyanya berikrar untuk lahir di negeri ini.

Yang di bold terdengar seperti Iman agama sebelah deh :D
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 30 March 2009, 11:53:01 AM
^
^
^

[at] bro kaiyn kutho

manttafffff om

mo +1 ah....

Thanx, Bro naviscope.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: coedabgf on 31 March 2009, 10:32:00 AM
bro and sis semua...,
lepaskan cangkang... segala (kelekatan) kewujudan. Contoh perumpamaan level tinggi adalah seperti syair guru Buddha tentang bahkan (pengetahuan tertinggi) Dhammapun seperti sebuah rakit yang harus ditinggalkan/ditanggalkan untuk menjejak di pantai seberang, apalagi yang (bersifat) fenomena atau bukan yang nyata/sejati, hanya (bersifat) sementara.

Dari kemelekatan timbul kesedihan, dari kemelekatan timbul ketakutan; bagi orang yang telah bebas dari kemelekatan, tiada lagi kesedihan maupun ketakutan
(Dhammapada 214)
bro coedabgf yang bijak,

silahkan jawab pertanyaan saya,
"apakah  (kelahiran = penderitaan) itu merupakan kebenaran sejati"?

kalau anda menyebut rakit, saya menyebut demikian.
"seseorang yang belum melihat "kelahiran=penderitaan", jangan kan menaiki rakit, melihat rakit saja belum bisa"

Dari kemelekatan timbul kesedihan, dari kemelekatan timbul ketakutan; bagi orang yang telah bebas dari kemelekatan, tiada lagi kesedihan maupun ketakutan
(Dhammapada 214)

yah tentu saja syair ini realita., dari kemelekatan ada kelahiran, dari kelahiran ada jara-marana.
siapa bebas dari kelahiran sama saja bebas dari jara-marana..

kok arti syair nya beda dengan kutipan sutra? ^^

atau mungkin sama seperti kata Ajahn Brahm,
"seseorang saat ini biasanya memakai rakit,belum sampai di tujuan malah sudah di lepas ditengah lautan"

orang seperti ini biasanya menganggap bahwa mencari "pembebasan" adalah kemelekatan itu sendiri.
dan orang seperti ini menganggap bahwa diri-nya telah berusaha "melepas"
sayang-nya yang terjadi justru "melepas" di tengah lautan.

salam metta.


jawabannya silahkan lihat pada topik : Re: brahmajala sutta - pandangan berbelit2 (Studi Sutta/Sutra)
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Shining Moon on 31 March 2009, 10:35:33 AM
Apakah Bunyi Mantra2 itu HANYALAH untuk memuji Buddha tersebut atau bagaimana? soalnya terdengar seperti Buddha tersebut sebagai sosok yang ingin di puji baru memberikan bantuan :D

Sepertinya bukan. Kalau menurut dugaan saya, setiap Buddha 'kan punya karakteristik masing-masing. Mantra masing-masing Buddha itu adalah untuk mengingatkan kita pada kualitas khas itu. Seperti dalam Atanatta Paritta Tradisi Theravada (paritta untuk perlindungan), juga disebutkan karakteristik Buddha-Buddha di masa lampau.




saya mau nanya dong, sehubungan dengan pertanyaannya bro ryu..lagu pendupaan yang banyak dinyanyikan di vihara mahayana dan terkadang dinyanyikan oleh suhu, kan ada kalimat seperti ini...'saat pujianku telah melimpah_limpah, para Buddha menampakkan dirinya, aum vajra dupe aum.'..
Apa benar para Buddha akan menampakkan diri jika kita memuji para Buddha sampai melimpah2?
Mohon pencerahannya ya
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 31 March 2009, 10:40:29 AM
^
^
^
mencoba menjawab ya

IMO, kata-kata tidak mendeskripsikan sesuatu....
kalau kita penuh keyakinan, dalam hal ini, bukan pada pujian, tapi pada perbuatan baik
saat pujianku telah melimpah_limpah (IMO, perbuatan baikku telah melimpah_limpah) para buddha menampakan diri nya

sama halnya, pada saat pelimpahan jasa
semoga jasa dan kebajikan
"memperindah tanah suci"

IMO, tanah suci sudah indah, tidak perlu diperindah lagi,
hanya dengan sedikit perbuatan baik kita, mo memperindah tanah suci?
haaa.... (hendra susanto mode 'ON')

gan en,

navis
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: coedabgf on 31 March 2009, 10:40:58 AM
nanti yah sis yul aye jawab, tunggu jawaban yang laen.  :P
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 31 March 2009, 10:47:02 AM
saya mau nanya dong, sehubungan dengan pertanyaannya bro ryu..lagu pendupaan yang banyak dinyanyikan di vihara mahayana dan terkadang dinyanyikan oleh suhu, kan ada kalimat seperti ini...'saat pujianku telah melimpah_limpah, para Buddha menampakkan dirinya, aum vajra dupe aum.'..
Apa benar para Buddha akan menampakkan diri jika kita memuji para Buddha sampai melimpah2?
Mohon pencerahannya ya


Kalau pendapat saya pribadi, sepertinya bukan karena puji2an itu menyenangkan Buddha, tetapi karena devosi/pengabdiannya yang sungguh-sungguh. Kalau dalam kisah-kisah Theravada, orang yang mengasingkan diri menjaga sila tanpa cela selama 4 bulan, menjaga api upacara tidak padam, akan dikunjungi oleh Brahma. Kalau saya lihat, Brahma di sini menghargai kualitas moralitas & pengabdian orang itu sehingga bersedia mengunjunginya.

Barangkali, demikian juga maksud penampakan Buddha dalam nyanyian itu. Kalau mau lebih jelas, mungkin bisa ditanyakan ke yang mengerti.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Indra on 31 March 2009, 11:03:06 AM
saya mau nanya dong, sehubungan dengan pertanyaannya bro ryu..lagu pendupaan yang banyak dinyanyikan di vihara mahayana dan terkadang dinyanyikan oleh suhu, kan ada kalimat seperti ini...'saat pujianku telah melimpah_limpah, para Buddha menampakkan dirinya, aum vajra dupe aum.'..
Apa benar para Buddha akan menampakkan diri jika kita memuji para Buddha sampai melimpah2?
Mohon pencerahannya ya


Mungkin maksudnya, bahwa kita melakukan pujian melalui praktek dhamma, dan oleh karena itu, kita dikatakan melihat Dhamma, bukankah mrk yg melihat Dhamma berarti juga melihat Buddha?

namun ada yg lebih mencengangkan pada baris, "Para Buddha yang sedang bermusyawarah" kok spt anggota DPR?

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: nyanadhana on 31 March 2009, 11:15:19 AM
saya mau nanya dong, sehubungan dengan pertanyaannya bro ryu..lagu pendupaan yang banyak dinyanyikan di vihara mahayana dan terkadang dinyanyikan oleh suhu, kan ada kalimat seperti ini...'saat pujianku telah melimpah_limpah, para Buddha menampakkan dirinya, aum vajra dupe aum.'..
Apa benar para Buddha akan menampakkan diri jika kita memuji para Buddha sampai melimpah2?
Mohon pencerahannya ya


Kalau pendapat saya pribadi, sepertinya bukan karena puji2an itu menyenangkan Buddha, tetapi karena devosi/pengabdiannya yang sungguh-sungguh. Kalau dalam kisah-kisah Theravada, orang yang mengasingkan diri menjaga sila tanpa cela selama 4 bulan, menjaga api upacara tidak padam, akan dikunjungi oleh Brahma. Kalau saya lihat, Brahma di sini menghargai kualitas moralitas & pengabdian orang itu sehingga bersedia mengunjunginya.

Barangkali, demikian juga maksud penampakan Buddha dalam nyanyian itu. Kalau mau lebih jelas, mungkin bisa ditanyakan ke yang mengerti.


kan lagu juga bikinan pemusiknya yang belum tentu sudah cerah.

kalo Para Buddha bermusyawarah keknya diambil dari Taoisme dimana para dewa2 sendiri suka bermusyawarah di depan Raja Langit.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 31 March 2009, 03:52:51 PM
Dalam filsafat Mahayana, nirwana tidak pernah dikonsepkan sebagai pemadaman, biasanya dijelaskan sebagai pengalaman langsung mengenai realitas kosmis. Tidak ada yang harus dihancurkan: nirwana bukan menghancurkan hal-hal negative seperti napsu, kebencian, serta khayalan dan menggantinya dengan hal positif seperti ketenangan, bela rasa, dan sadar diri. Proses pengembangan moral ini mutlak untuk diperbaiki sebelum nirwana. Di nirwana, tidak ada perbedaan antara napsu dan ketenangan atau antara kebencian dan belas kasih karena pemikiran dualistic seperti itu telah teratasi.

Mungkin karena berharap untuk menekankan perbedaan interpretasi ini, disamping ‘nirwana’, para guru Mahayana sering kali menggunakan istilah seperti bodhi, jue(kesadaran), Zen Rhu, dan Buddhahood untuk mencerminkan pencerahan. Penjelasan dalam Zen Budhisme bahkan bersifat lebih langsung dengan istilah seperti sifat Alamiah Buddha dan Wajah Sebenarnya.

Pengalaman pencerahan Buddha dijelaskan secara apa adanya seperti kejadian yang sebenarnya dalam bagian naratif literature budhisme seperti The Garland Sutra (Hua Yen Cing atau Avatamsaka Sutra) dan Lotus Sutra (Lien Hua Jing atau Saddharma Pundharika sutra). Contohnya, Garland Sutra (Hua Yen Cing atau Avatamsaka Sutra) mengatakan:
Quote:
Ketika Buddha pertama kali mencapai pencerahaan, seluruh dunia menjadi dimurnikan, dihiasi dengan segala jenis permata dan bunga serta wewangian beraroma manis mengisi setiap sudutnya. Bunga-bunga merambat menganyam diri sendiri di sekeliling Buddha dan pada mereka terikat permata yang ajaib: emas,perak, batu tembus cahaya, batu akik, tembaga, batu karang, dan batu ambar yang berwarna kuning sawo. Dari daun dan ranting pohon terpancar cahaya yang bersinar terang. Perubahan ini dibawa oleh kekuatan supranatural misterius dari sang Buddha.

Keindahan realitas kosmis yang sulit diterima oleh orang biasa dialami dalam keadaan pencerahan yang dikenal sebagai ‘samadhi cermin laut’ dalam Budhisme Mahayana (aliran )Hua Yen, dan sama dengan ‘manifestasi cermin realitas’ yang dijelaskan dalam bab 4.

Dalam Vimalakirti Sutra, pencerahan yang dialami dalam keadaan Samadhi yang lain yang dikenal sebagai ‘realitas cermin yang kosong’ dijabarkan sebagai ‘Gerbang Spiritual dari Non-dualisme’, pintu gerbang menuju Dharma saat semua yang berseberangan terpecahkan. Di sini, pencerahan merupakan pengalaman langsung realitas kosmis sebagai sang Absolut, ketika tidak ada dualitas, dan saat semua pembedaan lenyap.

Aspek yang tidak dapat dibedakan serta dipisahkan dari realitas kosmis yang dialami di nirwana, secara gambling dijelaskan dalam Heart Sutra yang sangat terkenal (Ban Ruo Xin Jing atau Prajnaparamita Hridaya Sutra), meskipun banyak orang yang telah membacanya mungkin tidak menyadari maksudnya karena bahasanya yang terlalu ringkas:
Semua fenomena atau kenyataan duniawi memiliki karakteristik kekosongan: tidak muncul, tidak berhenti, tidak kotor, tidak murni, tidak menambah, tidak memecah. Oleh karena itu, dalam kekosongan tidak ada bentuk, tidak ada perasaan, tidak ada pikiran, tidak ada aktivitas, dan tidak sadar.

Secara singkat, penjelasan diatas menjelaskan bahwa dalam nirwana, orang yang telah mengalami pencerahan sadar bahwa semua dharma, realitas mutlak mereka, adalah kosong, tidak nyata. Oleh karena itu, dalam aspek rohani realitas kosmis tidak ada dharma yang timbul atau berhenti, tidak ada kenyataan yang kotor atau murni, dan tidak ada Buddha yang ditambahkan ke atau orang biasa yang dibisahkan dari keseluruhan saat orang biasa menjadi Buddha. Ini dikarenakan realitas kosmis dalam aspek rohani tidak terpisahkan dan tidak terbedakan, kosong dari semua bentuk terpisah, persepsi, pemikiran, aktivitas, dan kesadaran.

Hal yang berkaitan dengan perbedaan mereka mengenai konsep nirwana adalah pandangan para penganut Theravada dan Mahayana pada keselamatan. Para penganut Theravada yang mempercayai mentah-mentah bahwa nirwana itu terpisah dari samsara dan dicapai saat faktor-faktor negatif seperti kerinduan, kemelekatan, dan penderitaan dihilangkan, meyakini bahwa keselamatan merupakan masalah pribadi, bahwa setiap orang harus mencapai pencerahan mereka sendiri. Di sisi lain, para penganut Mahayana sangat meyakini bahwa nirwana dan samsara itu sebenarnya sama. Yang tampak berbeda sebenarnya adalah salah satu perspektif spiritual. Ketika realitas dilihat dari perspektif rohani, kita mengalami nirwana, ketika realitas dialami dari perspektif jasmani, kita mengalami samsara. Oleh karena realitas kosmis merupakan suatu kesatuan suci diluar semua dualitas, para penganut Mahayana meyakini bahwa keselamatan merupakan tanggung jawab kosmis.

Bentuk ideal Theravada adalah arahat, Makhluk yang paling berharga, sementara dalam Mahayana yang ideal adalah Bodhisattva, Makhluk yang dapat merasakan pencerahan. Oleh karena arahat hanya memperhatikan pencerahan pribadinya, ia sering digambarkan sebagai sosok dingin dan tanpa emosi, Sementara Bodhisattva yang bersumpah untuk bekerja demi keselamatan dunia terlihat suka menolong dan welas asih.

Theravada menerima Buddha Gautama sebagai sang Buddha, yang berarti satu-satunya Buddha dalam era kita, meskipun mereka juga menerima Buddha-Buddha lainnya dalam era yang lain sebelum dan setelah gautama. Para penganut Mahayana juga menerima Buddha Gautama ( Shakyamuni Buddha) sebagai Sang Buddha, yang berarti Buddha pertama dan yang paling penting dalam masa kita, juga mengenal Buddha-Buddha yang lain dari masa yang lain namun sebagai tambahan mereka meyakini bahwa sebenarnya sudah ada Buddha lain yang tidak terhitung sepanjang zaman dan ada Buddha lain yang jumlahnya juga tidak terhitung pada saat ini. Baik penganut Theravada dan Mahayana mendefinisikan Buddha sebagai orang yang mendapatkan pencerahan. Dengan demikian, perbedaannya tidak terletak pada definisinya, namun pada interpretasi mereka pada apa yang menyebabkan pencerahan. Para pengikut Theravada meyakini bahwa Buddha Gautama merupakan satu-satunya yang mendapatkan pencerahan sempurna sementara para pengikut Mahayana meyakini bahwa setiap orang, termasuk yang bukan manusia, dapat mencapai pencerahan sempurna – suatu pandangan yang mungkin lebih mendekati ajaran Gautama, jika tidak ia tidak akan mendedikasikan seluruh masa hidupnya sebagai manusia untuk tujuan ini. Di lain pihak, Vajrayana menempatkan lebih banyak penekanan pada Buddha Vairocana (personifikasi dari realitas kosmis Buddha Gautama), meskipun yang terakhir masih dianggap sebagai Buddha ada masa kini.

Dengan memikirkan bahwa para penganut Theravada menganggap bahwa pencapaian nirwana eksklusif untuk Buddha Gautama, sungguh mengejutkan bahwa konsep mereka mengenai nirwana kurang begitu ‘megah’ dibandingkan dengan para penganut Mahayana. Oleh karena itu, sering dikatakan bahwa Budhisme Theravada memiliki sasaran Nirwana, sementara Budhisme Mahayana memiliki sasaran Buddhahood, menjadi Buddha. Dengan kata lain dikatakan bahwa dalam Theravada, saat seseorang telah mencapai pencerahan berarti ia telah memadamkan semua keinginannya, penderitaan, dan ilusinya, dan mencapai suatu keadaan mental yang penuh dengan kebahagiaan tinggi. Dalam Mahayana, mencapai pencerahan berarti bahwa seseorang telah membebaskan dirinya dari keterbatasan imajinasi tubuh fisiknya dan menyadari bahwa ia sebenarnya berada dalam keseluruhan kosmos!

Oleh karena para guru Mahayana menyadari bahwa orang berada pada tingkat pengembangan spiritual yang berbeda, mereka telah merancang banyak dan bermacam-macam arti untuk membantu orang-orang itu mencapai pencerahan. Bagi mereka yang kurang memiliki pemahaman intelektual atau kemampuan spiritual, praktik penyembahan (seperti berdoa pada Buddha dan Bodhisattva) akan meningkatkan jasa spiritual mereka dalam kehidupan di masa mendatang. Yang lain mungkin mengucapkan nama Amitabha Buddha agar dilahirkan kembali dalam tanah Buddha untuk perbaikan berikutnya. Yang lebih maju secara spiritual dapat menggunakan meditasi yang hening dan kusuk untuk mencapai pencerahan dalam kehidupan ini. Metode yang semakin cepat dan semakin langsung, namun tidak harus selalu termudah adalah Zen.

__________________
Negeri-Buddha yang satu terbuat dari tujuh permata, negeri-Buddha yang lain seluruhnya penuh dengan bunga teratai; negeri-Buddha yang satu seperti istana dewa Mahesvara, negeri-Buddha yang lain menyerupai cermin kristal, di mana berbagai negeri-buddha di sepuluh penjuru terpantulkan di sana.
(Amitayur Dyana Sutra)
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 31 March 2009, 03:54:16 PM
refrensimya dari Sangha Mahayana Indonesia lok !

saya mau nanya dong, sehubungan dengan pertanyaannya bro ryu..lagu pendupaan yang banyak dinyanyikan di vihara mahayana dan terkadang dinyanyikan oleh suhu, kan ada kalimat seperti ini...'saat pujianku telah melimpah_limpah, para Buddha menampakkan dirinya, aum vajra dupe aum.'..
Apa benar para Buddha akan menampakkan diri jika kita memuji para Buddha sampai melimpah2?
Mohon pencerahannya ya


Kalau pendapat saya pribadi, sepertinya bukan karena puji2an itu menyenangkan Buddha, tetapi karena devosi/pengabdiannya yang sungguh-sungguh. Kalau dalam kisah-kisah Theravada, orang yang mengasingkan diri menjaga sila tanpa cela selama 4 bulan, menjaga api upacara tidak padam, akan dikunjungi oleh Brahma. Kalau saya lihat, Brahma di sini menghargai kualitas moralitas & pengabdian orang itu sehingga bersedia mengunjunginya.

Barangkali, demikian juga maksud penampakan Buddha dalam nyanyian itu. Kalau mau lebih jelas, mungkin bisa ditanyakan ke yang mengerti.


kan lagu juga bikinan pemusiknya yang belum tentu sudah cerah.

kalo Para Buddha bermusyawarah keknya diambil dari Taoisme dimana para dewa2 sendiri suka bermusyawarah di depan Raja Langit.

Ngak juga bro
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 31 March 2009, 04:04:39 PM
^
^
^
atas & atas nya lg

eeeewwwww............ panjangggggg

bentar, gw pelan2 cerna.....
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 31 March 2009, 04:22:47 PM
kalo Para Buddha bermusyawarah keknya diambil dari Taoisme dimana para dewa2 sendiri suka bermusyawarah di depan Raja Langit. ====> beda konsep Bro. Kalo saya baca dari buku Taoisme. ada perbedaan Tao dengan mahayana sedikit. Dalam konsep tao Dewa dewa tao lebih melapor ke raja langit, Atau di kenal sebagai Hi Tian Shang di bukan Thay siang Lo Cin Bro. Emang secara garis besar TSLC saya singkat ;D, adalah maha dewa. Tapi Yang bertangung jawab atas kedamaian bumu itu Kaisar langit. So jadi ada perbedaan tipis disini.
 
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Kelana on 01 April 2009, 08:35:35 AM
".....The Bhagavant said to Shariputra: "Do you know that if you travel westwards from here, passing a hundred thousand kotis of nayutas of Buddha-lands, you come to the land called 'Utmost Bliss,' where there is a Bhagavant named 'Amitayus' or 'Amitabha' with ten titles, including Tathagata, Arhat and Samyaksambuddha. He is living there at this very moment, teaching the profound and wonderful Dharma to sentient beings to give them supreme benefit and bliss......"

(Sukhāvatīvyūhaḥ Sutra)


Ada yang bisa menjelaskan terutama kalimat yang dibold??

 _/\_
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: nyanadhana on 01 April 2009, 08:56:32 AM
kalo Para Buddha bermusyawarah keknya diambil dari Taoisme dimana para dewa2 sendiri suka bermusyawarah di depan Raja Langit. ====> beda konsep Bro. Kalo saya baca dari buku Taoisme. ada perbedaan Tao dengan mahayana sedikit. Dalam konsep tao Dewa dewa tao lebih melapor ke raja langit, Atau di kenal sebagai Hi Tian Shang di bukan Thay siang Lo Cin Bro. Emang secara garis besar TSLC saya singkat ;D, adalah maha dewa. Tapi Yang bertangung jawab atas kedamaian bumu itu Kaisar langit. So jadi ada perbedaan tipis disini.
 

maksud gw,cara bermusyawarah...bukan soal lapor melapor....
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: nyanadhana on 01 April 2009, 08:58:01 AM
".....The Bhagavant said to Shariputra: "Do you know that if you travel westwards from here, passing a hundred thousand kotis of nayutas of Buddha-lands, you come to the land called 'Utmost Bliss,' where there is a Bhagavant named 'Amitayus' or 'Amitabha' with ten titles, including Tathagata, Arhat and Samyaksambuddha. He is living there at this very moment, teaching the profound and wonderful Dharma to sentient beings to give them supreme benefit and bliss......"

(Sukhāvatīvyūhaḥ Sutra)


Ada yang bisa menjelaskan terutama kalimat yang dibold??

 _/\_


Ten titles of Amitabha = Tathagata Arhat Samyaksambuddha

Samakan dengan versi Pali

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

juga merupakan titel dari Sakyamuni Buddha.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: sabdo palon on 01 April 2009, 03:07:54 PM
".....The Bhagavant said to Shariputra: "Do you know that if you travel westwards from here, passing a hundred thousand kotis of nayutas of Buddha-lands, you come to the land called 'Utmost Bliss,' where there is a Bhagavant named 'Amitayus' or 'Amitabha' with ten titles, including Tathagata, Arhat and Samyaksambuddha. He is living there at this very moment, teaching the profound and wonderful Dharma to sentient beings to give them supreme benefit and bliss......"

(Sukhāvatīvyūhaḥ Sutra)


Ada yang bisa menjelaskan terutama kalimat yang dibold??

 _/\_


Ten titles of Amitabha = Tathagata Arhat Samyaksambuddha

Samakan dengan versi Pali

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

juga merupakan titel dari Sakyamuni Buddha.

Apakah ini tidak membingungkan? dalam Theravada Arahat adalah telah mencapai kesucian, Sammasambuddha artinya sama.
Arahat adalah Savaka Buddha, seorang Sammasambuddha dikatakan telah mencapai tingkat kesucian Arahat.

Dari Mahayana dikatakan Arahat belum mencapai Buddha lantas mengapa disebutkan bersama dengan Samyak Sambuddha? mengapa disejajarkan dengan Samyak Sambuddha?

Bingung... aku bingung.....
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: nyanadhana on 01 April 2009, 03:21:35 PM
".....The Bhagavant said to Shariputra: "Do you know that if you travel westwards from here, passing a hundred thousand kotis of nayutas of Buddha-lands, you come to the land called 'Utmost Bliss,' where there is a Bhagavant named 'Amitayus' or 'Amitabha' with ten titles, including Tathagata, Arhat and Samyaksambuddha. He is living there at this very moment, teaching the profound and wonderful Dharma to sentient beings to give them supreme benefit and bliss......"

(Sukhāvatīvyūhaḥ Sutra)


Ada yang bisa menjelaskan terutama kalimat yang dibold??

 _/\_


Ten titles of Amitabha = Tathagata Arhat Samyaksambuddha

Samakan dengan versi Pali

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

juga merupakan titel dari Sakyamuni Buddha.

Apakah ini tidak membingungkan? dalam Theravada Arahat adalah telah mencapai kesucian, Sammasambuddha artinya sama.
Arahat adalah Savaka Buddha, seorang Sammasambuddha dikatakan telah mencapai tingkat kesucian Arahat.

Dari Mahayana dikatakan Arahat belum mencapai Buddha lantas mengapa disebutkan bersama dengan Samyak Sambuddha? mengapa disejajarkan dengan Samyak Sambuddha?

Bingung... aku bingung.....

dalam diri seorang SammasamBuddha, ia juga seorang Arahat, ia juga seorang Tathagatha, ia juga seorang Samyaksambuddha, ini adalah kualitas batin seorang Sammasambuddha. namun seorang Arahat tentu bukan seorang Sammasambuddha.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: bukeksiansu on 01 April 2009, 03:28:45 PM

Apakah anda pernah bermeditasi?Dlm bermeditasi, kita mengenal istilah dengan "meluaskan" dan "memfokus"kan.Coba saja anda meruncingkan konsentrasi untuk "mendeteksi" berbagai Tanah Suci yg ada dlm kosmos ini, rasanya anda akan dapat merasakannya.


Menarik sekali. Saya ingin mencoba, di kitab Mahayana manakah bro Edward mengutip kata-kata "meluaskan" dan "memfokuskan"? untuk mendeteksi tanah suci?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 01 April 2009, 03:33:21 PM
^
^
^
mencoba menjawab ya

mgkn yg di kamsud bro edward, vipasyana aliran tanah suci
ada dua belas tingkat vipasyana (ada shortcut nya loh, soalnya susah bangettttsssss....) setelah lulus 12 tingkat vipasyana
bisa dilanjut ke vipasyana ke 13, dst....

Amitayur Dhyana Sutra (Sutra 16 metode untuk meditasi)
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: nyanadhana on 01 April 2009, 03:35:05 PM
navis dah coba?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: sabdo palon on 01 April 2009, 03:36:22 PM
".....The Bhagavant said to Shariputra: "Do you know that if you travel westwards from here, passing a hundred thousand kotis of nayutas of Buddha-lands, you come to the land called 'Utmost Bliss,' where there is a Bhagavant named 'Amitayus' or 'Amitabha' with ten titles, including Tathagata, Arhat and Samyaksambuddha. He is living there at this very moment, teaching the profound and wonderful Dharma to sentient beings to give them supreme benefit and bliss......"

(Sukhāvatīvyūhaḥ Sutra)


Ada yang bisa menjelaskan terutama kalimat yang dibold??

 _/\_


Ten titles of Amitabha = Tathagata Arhat Samyaksambuddha

Samakan dengan versi Pali

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

juga merupakan titel dari Sakyamuni Buddha.

Apakah ini tidak membingungkan? dalam Theravada Arahat adalah telah mencapai kesucian, Sammasambuddha artinya sama.
Arahat adalah Savaka Buddha, seorang Sammasambuddha dikatakan telah mencapai tingkat kesucian Arahat.

Dari Mahayana dikatakan Arahat belum mencapai Buddha lantas mengapa disebutkan bersama dengan Samyak Sambuddha? mengapa disejajarkan dengan Samyak Sambuddha?

Bingung... aku bingung.....

dalam diri seorang SammasamBuddha, ia juga seorang Arahat, ia juga seorang Tathagatha, ia juga seorang Samyaksambuddha, ini adalah kualitas batin seorang Sammasambuddha. namun seorang Arahat tentu bukan seorang Sammasambuddha.


Mengapa Arahat? yang lebih rendah? mengapa bukan Bodhisattva yang lebih tinggi? Mengapa tidak disebut Bodhisattva, tathagata, Samyaksambuddha?

bingung..... aku bingung....
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 01 April 2009, 03:38:40 PM
^
^
^
kalau tidak salah,
Arahat = Bodhisattva tingkat 8

kalau mo lanjut ke samyaksambuddha harus lanjut ke bodhisattva tingkat 9 s/d 10
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 01 April 2009, 03:45:52 PM
navis dah coba?

sudah coba shortcut-nya saja....

recitation buddha meditation

dimana mengucap tetapi tidak mengucap
tidak mengucap, tetapi mengucap...  (bingung dech loe :P)
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: nyanadhana on 01 April 2009, 03:46:32 PM
Mengapa Arahat? yang lebih rendah? mengapa bukan Bodhisattva yang lebih tinggi? Mengapa tidak disebut Bodhisattva, tathagata, Samyaksambuddha?

bingung..... aku bingung....


Analisis yang bagus
akan tetapi Bodhisatva masihlah makhluk yang mengejar pencerahan, apakah seorang Sammasambuddha masih mengejar pencerahan? dan untuk apa dia disebut Bodhisatva sementara dia sudah berhenti dan final?
Arahat berarti orang yang sudah mematahkan belenggu dan terbebas sedangkan term Bodhisatva masih memiliki makna mengejar kesucian.

pertanyaan lagi,kan ada Bodhisatva tingkat ke 8 setelah Arahat,jadi Bodhisatva lebih tinggi lagi donk dari arahat.
well Bodhisatva tetep bodhisatva, Bodhisatva yang memiliki kualitas batin Arahat disebut arahat bukan Bodhisatva. dan Arahat memang masih bisa maju menjadi Sammasambuddha dengan penyempurnaan Dasa Parami.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: nyanadhana on 01 April 2009, 03:47:06 PM
navis dah coba?

sudah coba shortcut-nya saja....

recitation buddha meditation

dimana mengucap tetapi tidak mengucap
tidak mengucap, tetapi mengucap...  (bingung dech loe :P)

katanya lagi nunggu angkot ke mangga dua, sempat mengucap tanpa mengucap?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 01 April 2009, 03:51:31 PM
sering kalau kitab di "karang-karang" dan tidak jeli, maka timbul banyak pertanyaan-pertanyaan yang "mencurigakan", karena terjadi in-konsistensi.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 01 April 2009, 03:53:51 PM
^
^
^
kalau tidak salah,
Arahat = Bodhisattva tingkat 8

kalau mo lanjut ke samyaksambuddha harus lanjut ke bodhisattva tingkat 9 s/d 10

Maksud pertanyaannya gini lho... kalo di Theravada, Arahat itu sudah tingkat akhir, Samma Sambuddha itu jenisnya. Jadi ada Arahat Samma Sambuddha, Arahat Savaka, dan Arahat Pacceka Buddha. Jadi hanya untuk membedakan "fakultas" misalnya si X itu dokter, spesialis saraf; Y dokter, spesialis anak.

Kalau di Mahayana, Arahat 'kan bukan tingkat akhir, tapi masih pertengahan, kenapa julukan itu dipakai untuk Buddha?
Karena Arahat adalah tingkat bawah, jadi seperti mengatakan X dokter, lulusan SMU. Sebetulnya 'kan dengan adanya "dokter", tidak perlu disebutkan lagi "lulusan SMU"-nya.

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: nyanadhana on 01 April 2009, 03:55:16 PM
sering kalau kitab di "karang-karang" dan tidak jeli, maka timbul banyak pertanyaan-pertanyaan yang "mencurigakan", karena terjadi in-konsistensi.

bagaimana mengetahui kitab itu di"karang-karang"?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: nyanadhana on 01 April 2009, 03:58:07 PM
Kalau di Mahayana, Arahat 'kan bukan tingkat akhir, tapi masih pertengahan, kenapa julukan itu dipakai untuk Buddha?
Karena Arahat adalah tingkat bawah, jadi seperti mengatakan X dokter, lulusan SMU. Sebetulnya 'kan dengan adanya "dokter", tidak perlu disebutkan lagi "lulusan SMU"-nya.


kita tanyakan kepada sesepuh yang menciptakan Mahayana kalo begitu, bahkan mereka mengakui di setiap kitabnya seorang Sammsambuddha bergelar Bhagavan Arahate Samyaksambuddha dan tidak menuliskan Boddhisatvayam Tathagatanam Samyaksambuddhanam.

dan spekulasi gw adalah menurut Mahayana, Arahat sendiri sudah mencicipi nibbana dan mereka berdiam disitu tanpa mengajarkan pengetahuan itu kepada banyak makhluk,menurut Mahayana,sebenarnya Arahat ini bisa keluar dari keadaaan parinibbana total dan mengambil jalan menuju Sammasambuddha. jadi dalam Mahayana,sebenarnya Arahat bukanlah dipandang kecil dan Bodhisatva lebih tinggi, melainkan mereka yang menikmati Nibbana seharusnya memperpanjang kehidupannya untuk mengajarkan Dhamma kepada makhluk hidup. ini juga untuk Pacceka Buddha yang berbuat sama, Nibbana sendiri.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 01 April 2009, 03:59:01 PM
navis dah coba?

sudah coba shortcut-nya saja....

recitation buddha meditation

dimana mengucap tetapi tidak mengucap
tidak mengucap, tetapi mengucap...  (bingung dech loe :P)

katanya lagi nunggu angkot ke mangga dua, sempat mengucap tanpa mengucap?

angkot nya belum datang....  ^-^

"ditimpuk pake bakiak, krn OOT"
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 01 April 2009, 04:14:49 PM
sering kalau kitab di "karang-karang" dan tidak jeli, maka timbul banyak pertanyaan-pertanyaan yang "mencurigakan", karena terjadi in-konsistensi.

bagaimana mengetahui kitab itu di"karang-karang"?

mending kalau kitab itu konsep-nya beda sendiri... kalau nyambung konsep orang... itu-lah akibatnya banyak terjadi celah celah inkonsistensi...
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: cunda on 01 April 2009, 06:08:23 PM


Apakah ini tidak membingungkan? dalam Theravada Arahat adalah telah mencapai kesucian, Sammasambuddha artinya sama.
Arahat adalah Savaka Buddha, seorang Sammasambuddha dikatakan telah mencapai tingkat kesucian Arahat.

Dari Mahayana dikatakan Arahat belum mencapai Buddha lantas mengapa disebutkan bersama dengan Samyak Sambuddha? mengapa disejajarkan dengan Samyak Sambuddha?

Bingung... aku bingung.....


Namaste suvatthi hotu

mungkin yang anda maksud

Namo Bhagavate Śākyamunaye Tathāgatāya Arhate Samyaksaṃbuddhāya (3X)

(Terpujilah Bhagavan Śākyamuni, Tathāgata Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna).


Sammasambuddha adalah seorang arahat
sedangkan arahat adalah Buddha juga tapi bukan Sammasambuddha


semoga bermanfaat

thuti
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Gunawan on 01 April 2009, 06:23:48 PM
 [at] Romo Cunda = Keq na Ajaran nya banyak Terkontaminasi oleh kebudayaan setempat jadinya membinggungkan.......... ???.  Mudah-mudahan saya saja yang Binggung..... ^:)^

 _/\_
Gunawan S S
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Edward on 02 April 2009, 02:49:23 AM

Apakah anda pernah bermeditasi?Dlm bermeditasi, kita mengenal istilah dengan "meluaskan" dan "memfokus"kan.Coba saja anda meruncingkan konsentrasi untuk "mendeteksi" berbagai Tanah Suci yg ada dlm kosmos ini, rasanya anda akan dapat merasakannya.


Menarik sekali. Saya ingin mencoba, di kitab Mahayana manakah bro Edward mengutip kata-kata "meluaskan" dan "memfokuskan"? untuk mendeteksi tanah suci?
bukan mengutip dari kitab secara langsung, tapi ngutip dari buku Pure Land Buddhism, Dialogues with ancient master
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Edward on 02 April 2009, 02:52:33 AM
sering kalau kitab di "karang-karang" dan tidak jeli, maka timbul banyak pertanyaan-pertanyaan yang "mencurigakan", karena terjadi in-konsistensi.

bagaimana mengetahui kitab itu di"karang-karang"?

mending kalau kitab itu konsep-nya beda sendiri... kalau nyambung konsep orang... itu-lah akibatnya banyak terjadi celah celah inkonsistensi...
pernyataan judgemental..jgn salahin ajarannya kalo emank kga isa mengerti
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: ryu on 02 April 2009, 07:48:33 AM
sering kalau kitab di "karang-karang" dan tidak jeli, maka timbul banyak pertanyaan-pertanyaan yang "mencurigakan", karena terjadi in-konsistensi.

bagaimana mengetahui kitab itu di"karang-karang"?

mending kalau kitab itu konsep-nya beda sendiri... kalau nyambung konsep orang... itu-lah akibatnya banyak terjadi celah celah inkonsistensi...
pernyataan judgemental..jgn salahin ajarannya kalo emank kga isa mengerti
Tapi om edward, yang mengerti apakah banyak?
Sepertinya hanya segelintir orang yang mengerti deh, umat kebanyakan hanya di berikan semacam IMAN bahwa dengan baca begini maka akan ke sini apakah merka mengerti arti membaca sutra2 tsb :D
Atau memang ajarannya begitu? supaya tidak di mengerti?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: coedabgf on 02 April 2009, 08:32:07 AM
 [at]  ryu
itu pertanyaannya sama juga gak... dengan pertanyaan 'memang yang telah mencapai pencerahan/arahat/keBuddhaan banyak gak?'.
apa sebabnya napa gak ngerti? (mode on : tanya napa?)
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: cunda on 02 April 2009, 08:41:49 AM
[at] Romo Cunda = Keq na Ajaran nya banyak Terkontaminasi oleh kebudayaan setempat jadinya membinggungkan.......... ???.  Mudah-mudahan saya saja yang Binggung..... ^:)^

 _/\_
Gunawan S S

namaste suvatthi hotu

Bagaikan orang yang akan memilih beras, maka sebelum memilih kita harus tahu terlebih dahulu: mana beras, mana gabah dan mana batu.
Kemudian kita harus tahu apakah yang mau kita tanak? beraskah, gabahkah atau batukah?

Teliti terlebih dahulu mana yang ajaran Buddha, mana yang cuma berlabel ajaran Buddha, dan yang mana pembodohan.
Kemudian yang mau kita pelajari yang mana, ajaran Buddhakah?, ajaran yang cuma berlabel ajaran Buddha, atau pembodohan?

Belajar teori ajaran Buddha memerlukan keyakinan terhadap pencerahan Buddha, tanpa keyakinan tersebut kita akan sulit mnerimanya.

kemudian setelah mengetahui teori secara intelektual segeralah realisasikan, dengan praktek yang benar maka baik secara bertahap ataupun secara langsung pemahaman "tingkat intelektual" makin jelas, keyakinan pun makin jernih dan sedikit demi sedikit "kepercayaan membuta" memudar.

Semoga kita juga bisa menembus makna yang tersurat dan tersirat melalui kebijaksanaan yang muncul dari latihan pengembangan batin (bhavana).

Semoga bermanfaat

Thuti




Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 02 April 2009, 08:57:51 AM
^
^
^
bisa tlg dijelaskan mana yang berlabel ajaran buddha saja?

mana yang asli ajaran buddha saja?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 02 April 2009, 09:01:30 AM
[at] Romo Cunda = Keq na Ajaran nya banyak Terkontaminasi oleh kebudayaan setempat jadinya membinggungkan.......... ???.  Mudah-mudahan saya saja yang Binggung..... ^:)^

 _/\_
Gunawan S S

At bro gun, semua aliran agama buddha itu sudah membaur dengan kebudayaan setempat termasuk Teravada. Tapi dalam aliran Teravada evolusi pembaurannya tidaklah sebesar di mahayana. Inilah Yang menyebabkan Aliran ini masih eksis dengan sistem yang bertahan selama Ratusan tahun. Dibanding Mahayana memiliki evolusi budaya, Waktu dan tempat dimana pun aliran ini berada, perbandingannya adalah dalam Mahayana itu sangat flesksibel dalam pembauran budaya.

Selama Pembauran tersebut masih tidak melanggar 8 jalan kebenaran, 4 kesunyataan mulia dan Pancasila Buddhis masih bisa diterima dengan baik. Dalam Mahayana Sangha boleh menambahkan Pengetahuan Dhamma dalam kapasitas tertentu syaratnya pun minimal dia sudah mencapai tingkatan Arahat. dalam hal ini Ia sudah memiliki Alam kebijaksanaan yang paling tinggi.

Paling gampang bro Gun u mau percaya yang mana, yang sesuai dengan konsep anda, cukup lah anda jalani, orang lain memiliki kepercayaan konsep lain tidak perlu diributkan atau dipaksakan.

Memang benar Harus liat liat tidak semua aliran buddhis itu Sesuai dengan ajaran. Tapi paling minimal Ada garis besarnya itu sesuai tidak dengan diri kita.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 02 April 2009, 09:07:39 AM
^
^
^
bro purnama

aku tidak bisa tidak setuju sama kamu bro ... :P

IMO,
Ajaran Buddha kan aslinya dari india, emang kita harus ke India-India an gitu,
Buktinya ngak kan, di Thailand tidak mencoba ke India - India an ?

apa bedanya donk ama agama tetangga sebelah yang mencoba ke barat barat an?
apa bedanya donk ama agama tetangga sebelah yang mencoba ke gurun pasir gurun pasir an?

salam piss n love,

navis
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 02 April 2009, 09:19:09 AM
Bukan india kaleee Agama Buddhis itu tapi Nepal ;D.

teravada tuh eksitensinya bertahan dengan ajarannya karena tidak secara langsung membaur. Kalo Di thailand mah udah ngak Pure Teravada lagi Bro. Udah ada berapa aliran disana, selain itu mereka ada sembayang dewa dan arahat lainya contoh kecil Se mien Fo, Bahkan di Thailand Anggulimala di tung tung cep sama Hio ;D.

So jadi masalahnya adalah sistem yang bertahan dalam tera, tidak langsung mengubah paradigma dan dogma dalam ajaran. Di India juga mengalami pembakaran sutta tera oleh kaum tetangga kita yang mayoritas agamanya dinegeri ini. So jadi buat apa toh saling menjelekan.


Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 02 April 2009, 09:22:19 AM
^
^
^
oh iya, nepal, sori2

I AM SORI
I AM KHILAF

tapi koq sang buddha kita mirip orang india ya...

oh ya, kalau ngomong asli asli nya, dulu dulu bukan nya sang buddha sendiri pakai bahasa Sansekerta
kenapa sekarang diganti ya? tanya ken apa?

salam piss n love,

navis
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: sabdo palon on 02 April 2009, 09:23:43 AM
Kalau di Mahayana, Arahat 'kan bukan tingkat akhir, tapi masih pertengahan, kenapa julukan itu dipakai untuk Buddha?
Karena Arahat adalah tingkat bawah, jadi seperti mengatakan X dokter, lulusan SMU. Sebetulnya 'kan dengan adanya "dokter", tidak perlu disebutkan lagi "lulusan SMU"-nya.


kita tanyakan kepada sesepuh yang menciptakan Mahayana kalo begitu, bahkan mereka mengakui di setiap kitabnya seorang Sammsambuddha bergelar Bhagavan Arahate Samyaksambuddha dan tidak menuliskan Boddhisatvayam Tathagatanam Samyaksambuddhanam.

dan spekulasi gw adalah menurut Mahayana, Arahat sendiri sudah mencicipi nibbana dan mereka berdiam disitu tanpa mengajarkan pengetahuan itu kepada banyak makhluk,menurut Mahayana,sebenarnya Arahat ini bisa keluar dari keadaaan parinibbana total dan mengambil jalan menuju Sammasambuddha. jadi dalam Mahayana,sebenarnya Arahat bukanlah dipandang kecil dan Bodhisatva lebih tinggi, melainkan mereka yang menikmati Nibbana seharusnya memperpanjang kehidupannya untuk mengajarkan Dhamma kepada makhluk hidup. ini juga untuk Pacceka Buddha yang berbuat sama, Nibbana sendiri.

Bagaimana dengan Bodhisattva? apakah mereka sudah mencicipi Nibbana belum? Lalu apakah yang dicicipi oleh Sammasambuddha? Apa tujuan pencapaian keBuddhaan?

Bingung.... aku bingung.....
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 02 April 2009, 09:26:52 AM
Mudahnya dipahami tidak perlu diributkan. Kalau orang yang sudah memiliki kebijakan tinggi dan kebajikan yang tinggi. Orang tersebut bs bisa tanpa aliran apapun. Orang memiliki pancaran kebuddhaan yang sesungguhnya, Sudah tidak memiliki Ego dalam diri. Kalau anda mau mempelajari mahayana, mudahnya Lepaskan Ego dalam pikiran anda baru anda bisa mengerti

_/\_
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: sabdo palon on 02 April 2009, 09:28:27 AM
^
^
^
oh iya, nepal, sori2

I AM SORI
I AM KHILAF

tapi koq sang buddha kita mirip orang india ya...

oh ya, kalau ngomong asli asli nya, dulu dulu bukan nya sang buddha sendiri pakai bahasa Sansekerta
kenapa sekarang diganti ya? tanya ken apa?

salam piss n love,

navis

Theravada bilang pakai bahasa Pali, mana yang benar...? lebih aman buka buku sejarah.....
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: sabdo palon on 02 April 2009, 09:29:42 AM
Mudahnya dipahami tidak perlu diributkan. Kalau orang yang sudah memiliki kebijakan tinggi dan kebajikan yang tinggi. Orang tersebut bs bisa tanpa aliran apapun. Orang memiliki pancaran kebuddhaan yang sesungguhnya, Sudah tidak memiliki Ego dalam diri. Kalau anda mau mempelajari mahayana, mudahnya Lepaskan Ego dalam pikiran anda baru anda bisa mengerti

_/\_

Apakah ini jawaban ? Apakah bro Purnama sudah memahami?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 02 April 2009, 09:32:43 AM
^
^
^
benar tah?
buku sejarah belum tentu benar loh
bahkan sudah dipolitisir sedemikian rupa,

ambil contoh aja buku sejarah kita bro... :P

no offense loh

untuk lebih jelasnya mari kita tanya ke bro kainyn kutho, ato maybe bro2 lain ada yang tahu
setahu saya emang dulu sang buddha pakai bahasa Sansekerta, bahkan saya sudah mengklarisisapi dengan teman2 saya yang dari aliran si itu tuch... ^_^

Mudahnya dipahami tidak perlu diributkan. Kalau orang yang sudah memiliki kebijakan tinggi dan kebajikan yang tinggi. Orang tersebut bs bisa tanpa aliran apapun. Orang memiliki pancaran kebuddhaan yang sesungguhnya, Sudah tidak memiliki Ego dalam diri. Kalau anda mau mempelajari mahayana, mudahnya Lepaskan Ego dalam pikiran anda baru anda bisa mengerti

_/\_

apakah itu yang dinama kan, buddhayana tah?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 02 April 2009, 09:39:20 AM
Theravada bilang pakai bahasa Pali, mana yang benar...? lebih aman buka buku sejarah.....
Apakah ini jawaban ? Apakah bro Purnama sudah memahami?
darimana anda dapat ?
Kalo saya dapatnya dari Eksklopedia Buddhis . Saya mau tanya anda mau berniat provokasi aliran ?
Kalo Provokasi aliran udah gak jaman. Sayang banget ternyata ada orang mengaku dirinya aliran tera tapi masih prokasi aliran.

Percuma belajar Abidhamma, sutta,dan sebagainya cuman buat menujukan keegoisan dan keintelektualan diri.
Saya cuman mengingatkan para clonengan Abidhamma,sutta dan sebagai bukan untuk meyombongkan diri sendiri, tapi buat mengikis diri dari ke egoan dalam diri. Jangan bisa teori saja prateknya juga dari sikap anda

Kalo anda niat Prokavokasi, dan hanya ,menyombongkan diri mu. bro Sabdo palon Anda salah menafirkan kemampuan anda dalam dhamma yang sesungguh tercipta.

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 02 April 2009, 09:45:17 AM
Theravada bilang pakai bahasa Pali, mana yang benar...? lebih aman buka buku sejarah.....
Apakah ini jawaban ? Apakah bro Purnama sudah memahami?
darimana anda dapat ?
Kalo saya dapatnya dari Eksklopedia Buddhis . Saya mau tanya anda mau berniat provokasi aliran ?
Kalo Provokasi aliran udah gak jaman. Sayang banget ternyata ada orang mengaku dirinya aliran tera tapi masih prokasi aliran.

Percuma belajar Abidhamma, sutta,dan sebagainya cuman buat menujukan keegoisan dan keintelektualan diri.
Saya cuman mengingatkan para clonengan Abidhamma,sutta dan sebagai bukan untuk meyombongkan diri sendiri, tapi buat mengikis diri dari ke egoan dalam diri. Jangan bisa teori saja prateknya juga dari sikap anda

Kalo anda niat Prokavokasi, dan hanya ,menyombongkan diri mu. bro Sabdo palon Anda salah menafirkan kemampuan anda dalam dhamma yang sesungguh tercipta.



aiyooooo........... bro purnama
calm down lah

ga da ye, tuh namanya provokasi

tar TS nya marah loh :P
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: ENCARTA on 02 April 2009, 09:45:36 AM
saya setujuh ama bro sabdo. bagaimana melepaskan ego ? kalau sudah bisa melepaskan bearti kan kita sudah......
masih melanjutkan ke mahayana, bukan kah bolak balik jadinya.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 02 April 2009, 09:56:10 AM
saya setujuh ama bro sabdo. bagaimana melepaskan ego ? kalau sudah bisa melepaskan bearti kan kita sudah......
masih melanjutkan ke mahayana, bukan kah bolak balik jadinya.

g aja mahayana, bisa belajar teravada juga dari Jimmy lominto, Dia aja bisa mahayana dan tera dijuga maha, Bahkan g belajar aliaran lain kok masih tetap di agama Buddha. gak ada bolak balik tuh malah tetap Buddhis. Orang tera juga ada yang bisa mahayana kok masih tetap di tera ngak pake acara serang menyerang.

Intinya apa ?.hanya menunjukan keegoisan diri saja, kalo itu ditunjukan buat apa thread ini dibuka. Bikin cape nulis dan emosi saja yang ada
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Kelana on 02 April 2009, 10:00:28 AM
Jadi bagaimana? Apakah semua sepakat bahwa Samyaksambuddha juga adalah seorang Arahat? :-?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: ENCARTA on 02 April 2009, 10:00:44 AM
dari pada tidak ada kerjaan bos ;D

kalau konsepnya beda, dipikirin juga jadinya kacau. jadi sekarang kalau saya, ambil 1 - 1 dulu
cuma kalau tera dibilang di bawah maha kan gimana yah
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 02 April 2009, 10:03:21 AM
^
^
^
benar tah?
buku sejarah belum tentu benar loh
bahkan sudah dipolitisir sedemikian rupa,

ambil contoh aja buku sejarah kita bro... :P

no offense loh

untuk lebih jelasnya mari kita tanya ke bro kainyn kutho, ato maybe bro2 lain ada yang tahu
setahu saya emang dulu sang buddha pakai bahasa Sansekerta, bahkan saya sudah mengklarisisapi dengan teman2 saya yang dari aliran si itu tuch... ^_^

Mudahnya dipahami tidak perlu diributkan. Kalau orang yang sudah memiliki kebijakan tinggi dan kebajikan yang tinggi. Orang tersebut bs bisa tanpa aliran apapun. Orang memiliki pancaran kebuddhaan yang sesungguhnya, Sudah tidak memiliki Ego dalam diri. Kalau anda mau mempelajari mahayana, mudahnya Lepaskan Ego dalam pikiran anda baru anda bisa mengerti

_/\_

apakah itu yang dinama kan, buddhayana tah?

Saya tidak begitu tahu tentang ini. Kalau yang saya pernah baca, Buddha tidak menggunakan 1 dialek tertentu dalam berkhotbah. Kalau dari Sutta-sutta, Buddha kebanyakan berdiam di daerah Magadha, dan Magadha kuno menggunakan bahasa yang bentuknya mirip dengan yang kita kenal sekarang sebagai Pali.

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Indra on 02 April 2009, 10:05:20 AM
saya setujuh ama bro sabdo. bagaimana melepaskan ego ? kalau sudah bisa melepaskan bearti kan kita sudah......
masih melanjutkan ke mahayana, bukan kah bolak balik jadinya.

g aja mahayana, bisa belajar teravada juga dari Jimmy lominto, Dia aja bisa mahayana dan tera dijuga maha, Bahkan g belajar aliaran lain kok masih tetap di agama Buddha. gak ada bolak balik tuh malah tetap Buddhis. Orang tera juga ada yang bisa mahayana kok masih tetap di tera ngak pake acara serang menyerang.

Intinya apa ?.hanya menunjukan keegoisan diri saja, kalo itu ditunjukan buat apa thread ini dibuka. Bikin cape nulis dan emosi saja yang ada


Purnama,
anda mahayanist, kok belajar theravada? bukankah seorang mahayanist sudah melampaui theravada dengan menerapkan dalil, Theravada=TK, mahayana=SD, vajrayana=SMP
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 02 April 2009, 10:12:59 AM
Purnama,
anda mahayanist, kok belajar theravada? bukankah seorang mahayanist sudah melampaui theravada dengan menerapkan dalil, Theravada=TK, mahayana=SD, vajrayana=SMP

Yang dibilang TK itu 'kan "Hinayana", bro Indra. Bukan Theravada :)
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hatRed on 02 April 2009, 10:16:59 AM
ngomporin mode on  >:D

trus Theravada masuk mana?

Playgroup ???
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 02 April 2009, 10:18:35 AM
Purnama,
anda mahayanist, kok belajar theravada? bukankah seorang mahayanist sudah melampaui theravada dengan menerapkan dalil, Theravada=TK, mahayana=SD, vajrayana=SMP

ngak lah bro Indra
semua sama saja bro.
Yang penting kita ngak buat egois diri, Lah Dhamma buat apa dibuat ?. lagi pula bro indra yang buat pernyataan tersebut siapa bro indra. Bukan saya lokh. bro indra kan tau. Lagi pula
Si G itu masih terlalu muda bro indra makanya saya nasehatkan dia supaya belajar dewasa, bro indra bisa liat saya kan saya juga bela teravada dalam hal ini ketika si G berbuat kesalahan.

Saya masih baik lokh bro Membiarkan dia mengubah diri, Terus terang aja kemarin si G, di nasehatin sama pakar budaya supaya ubah sikap dulu kalau mau maju.

Saya belajar semua supaya saya bisa menghargai satu aliran dengan aliran lain, termasuk aliran agama lain, ngak langsung cap sesat kalau itu sudah menjurus SARA, sudah menjurus provokasi, Sudah menjurus Merusak sistem masyarakat seperti Provaksi seperti tetangga kita FLG baru lah saya mengatakan itu tidak baik dilakukan, Selama Dhamma mengajarkan kebaikan, cinta kasih, dan juga emosi kita berkurang Why not.

Bukan kah dalam sang Buddha ada kalimat " Dhamma ada dimana mana".
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Indra on 02 April 2009, 10:19:18 AM
Purnama,
anda mahayanist, kok belajar theravada? bukankah seorang mahayanist sudah melampaui theravada dengan menerapkan dalil, Theravada=TK, mahayana=SD, vajrayana=SMP

Yang dibilang TK itu 'kan "Hinayana", bro Indra. Bukan Theravada :)

Maafkan kesalahanku, Thanks Bro Kain
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 02 April 2009, 10:19:29 AM
dari pada tidak ada kerjaan bos ;D

kalau konsepnya beda, dipikirin juga jadinya kacau. jadi sekarang kalau saya, ambil 1 - 1 dulu
Belajar satu per satu dan kemudian pilih yang cocok, memang langkah yang tepat.


Quote
cuma kalau tera dibilang di bawah maha kan gimana yah
Kenapa harus terusik? Bagaimana kalau dibilang agama anda ga bakalan selamat, "bergantung" pada manusia (Buddha), bukan Tuhan, dan lain sebagainya. Sama saja, yang terusik sebetulnya ego 'kan? Ego itulah yang bikin menderita.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 02 April 2009, 10:23:01 AM
Maafkan kesalahanku, Thanks Bro Kain

 _/\_


ngomporin mode on  >:D

trus Theravada masuk mana?

Playgroup ???
Tidak relevan dimasukkan ke mana pun, karena sudut pandang "yana"-nya sendiri berbeda. Ini nanti seperti menanyakan, "Lucifer ada di neraka Avici yah?", sementara sudut pandang yang percaya "lucifer" dan "avici" 'kan sudah beda.

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 02 April 2009, 10:25:21 AM
saya mau ada pekerjaan banyak dulu, saya belum bisa bahas banyak, moga - moga kalau ada waktu saya bisa bahas lagi. Cuman berharap jangan saling mencela aja dalam diskusi
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: cunda on 02 April 2009, 10:29:45 AM
Purnama,
anda mahayanist, kok belajar theravada? bukankah seorang mahayanist sudah melampaui theravada dengan menerapkan dalil, Theravada=TK, mahayana=SD, vajrayana=SMP

Yang dibilang TK itu 'kan "Hinayana", bro Indra. Bukan Theravada :)

namaste suvatthi hotu

Kata "Hinayana" merujuk pada aliran yang bukan Mahayana, walaupun Theravada menolak disebut Hinayana

Thuti
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 02 April 2009, 10:42:11 AM
namaste suvatthi hotu

Kata "Hinayana" merujuk pada aliran yang bukan Mahayana, walaupun Theravada menolak disebut Hinayana

Thuti

Ya, tapi sebagian Mahayana juga tidak menyamakan Theravada dengan Hinayana sih. :)
Di samping itu, yang menarik dari Kitab Pali adalah tidak menekankan perbedaan aliran, jadi tidak ada Hinayana/Mahayana, religius/kafir, dan lain-lain sebutan. Yang dibedakan dari seseorang hanyalah moralitasnya saja. Jadi saya pikir memang kalau Theravada merujuk ke kitab Pali, tidak perlu menganggap diri Hinayana (karena munculnya istilah mahayana), juga kafir atau Bida'ah (karena munculnya agama lain tertentu).

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: cunda on 02 April 2009, 10:56:46 AM
saya setujuh ama bro sabdo. bagaimana melepaskan ego ? kalau sudah bisa melepaskan bearti kan kita sudah......
masih melanjutkan ke mahayana, bukan kah bolak balik jadinya.

g aja mahayana, bisa belajar teravada juga dari Jimmy lominto, Dia aja bisa mahayana dan tera dijuga maha, Bahkan g belajar aliaran lain kok masih tetap di agama Buddha. gak ada bolak balik tuh malah tetap Buddhis. Orang tera juga ada yang bisa mahayana kok masih tetap di tera ngak pake acara serang menyerang.

Intinya apa ?.hanya menunjukan keegoisan diri saja, kalo itu ditunjukan buat apa thread ini dibuka. Bikin cape nulis dan emosi saja yang ada


Purnama,
anda mahayanist, kok belajar theravada? bukankah seorang mahayanist sudah melampaui theravada dengan menerapkan dalil, Theravada=TK, mahayana=SD, vajrayana=SMP


Namaste suvatthi hotu

Perumpamaan seperti tersebut di atas sangat tidak masuk akal dan lebih menjurus pada kesombongan penganutnya dan merendahkan kaum yang lain.

Apabila Theravada cuma TK maka orang Mahayana adalah kaum yang tidak lulus TK (baca Theravada), dan bagaimana dengan Vajrayana? (gak lulus TK dan tidak lulus SD)

Untuk lulus TK (baca: Theravada) waktu anda tidak akan cukup, aku sudah menggeluti pali teks lebih dari 30 th masih belom lulus (mungkin bodoh).

thuti

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 02 April 2009, 11:02:48 AM
^
^
^
maksud pernyataan diatas, bisa tolong diperjelas?

apakah dengan ini, maksudnya, jalan besar sudah tidak ada artinya
apakah para sesepuh dari mahayana tidak mungkin mendapatkan pencerahan?

"ingat banyak jalan lain menuju roma"
jangan berpikiran sempit.....

saya yakin dari 84.000 pintu dharma bisa mencerahkan lebih banyak orang
daripada hanya ber pegangan pada 8 jalan utama saja, yang mungkin bisa mencerahkan orang (tapi tidak bisa banyak, maka dikatakan kendaraan kecil)

IMO, karena pada dasarnya 84.000 pintu dharma itu adalah perluasan dari 8 jalan utama.

salam piss n love,

navis
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 02 April 2009, 11:10:13 AM
Namaste suvatthi hotu

Perumpamaan seperti tersebut di atas sangat tidak masuk akal dan lebih menjurus pada kesombongan penganutnya dan merendahkan kaum yang lain.

Apabila Theravada cuma TK maka orang Mahayana adalah kaum yang tidak lulus TK (baca Theravada), dan bagaimana dengan Vajrayana? (gak lulus TK dan tidak lulus SD)

Untuk lulus TK (baca: Theravada) waktu anda tidak akan cukup, aku sudah menggeluti pali teks lebih dari 30 th masih belom lulus (mungkin bodoh).

thuti



Perumpamaan ini memang kurang tepat. Rasanya dari Mahayana pun tidak akan sepakat seperti itu.
Kalau mau dipaksakan, masuk akal kok. Tetapi orang Mahayana yang menggunakan perumpamaan itu adalah menghina dirinya sendiri.
Mengapa begitu? Karena tujuan dari Hinayana (TK) adalah pencapaian Arahatta.
Nah, sekarang pengikut Mahayana yang belum Arahat itu sama saja seperti orang belum lulus TK, tetapi belajar pelajaran SD/SMP.

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hatRed on 02 April 2009, 11:12:37 AM
bentar dulu......

biar gak terjadi kesalah pahaman.........

perumpamaan ini memang benar dinyatakan oleh Mahayana atau segelintir Mahayanis?

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: ENCARTA on 02 April 2009, 11:15:02 AM
bentar dulu......

biar gak terjadi kesalah pahaman.........

perumpamaan ini memang benar dinyatakan oleh Mahayana atau segelintir Mahayanis?



wong semua tahu , perumpamaan gitu
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Shining Moon on 02 April 2009, 11:23:28 AM
Masa? Saya malah nggak tau ada perumpamaan seperti itu. Tapi, perumpamaan ini kok sepertinya malah ngejelekin aliran orang tapi malah mental juga kena sendiri.memangnya yang sma n s1, s2, dsb siapa kalo gitu?
Marilah kita sepakat untuk tidak menghina aliran lain dalam buddhisme, toh kalau kita bisa hidup harmonis kita bisa bahagia...
Saya sendiri, biarpun sepertinya punya ikatan karma dgn theravada memiliki suami yang condong ke mahayana. Dan selama ini saya dan suami rukun2 aja nggak saling menjelekkan... :-?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hatRed on 02 April 2009, 11:27:03 AM
Ahhh............. Tidakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk  :'( :'(
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: ENCARTA on 02 April 2009, 11:29:24 AM
Masa? Saya malah nggak tau ada perumpamaan seperti itu. Tapi, perumpamaan ini kok sepertinya malah ngejelekin aliran orang tapi malah mental juga kena sendiri.memangnya yang sma n s1, s2, dsb siapa kalo gitu?
Marilah kita sepakat untuk tidak menghina aliran lain dalam buddhisme, toh kalau kita bisa hidup harmonis kita bisa bahagia...
Saya sendiri, biarpun sepertinya punya ikatan karma dgn theravada memiliki suami yang condong ke mahayana. Dan selama ini saya dan suami rukun2 aja nggak saling menjelekkan... :-?

kan uda aye tulis di depan2 , kalau yg bilang bergini kebanyakan om om atau kakek2 dari mahayana yg berasal dari tiongkok ^^!
sori no ofense
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: ryu on 02 April 2009, 11:31:58 AM
[at]  ryu
itu pertanyaannya sama juga gak... dengan pertanyaan 'memang yang telah mencapai pencerahan/arahat/keBuddhaan banyak gak?'.
apa sebabnya napa gak ngerti? (mode on : tanya napa?)
Tujuan Buddha yaitu mencari Obat dari Dukkha, cara melepas dari Dukkha sudah di ajarkan, Nah katanya ada 84000 jalan, nah apakah itu untuk lepas dari Dukkha atau malah Jalan untuk ber Dukka lagi ?

Kalau pandangan Saya, Surga sukhavati dll itu hanya seperti bayang2, impian, kemelekatan, janji2, dogma hampir sama dengan agama tetangga yang mengajarkan percaya dan masuk surga bukankah mereka menjanjikan lebih baik? dimana katanya hidup kekal selamanya tidak ada kelahiran kembali?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 02 April 2009, 11:32:25 AM
Masa? Saya malah nggak tau ada perumpamaan seperti itu. Tapi, perumpamaan ini kok sepertinya malah ngejelekin aliran orang tapi malah mental juga kena sendiri.memangnya yang sma n s1, s2, dsb siapa kalo gitu?
Marilah kita sepakat untuk tidak menghina aliran lain dalam buddhisme, toh kalau kita bisa hidup harmonis kita bisa bahagia...
Saya sendiri, biarpun sepertinya punya ikatan karma dgn theravada memiliki suami yang condong ke mahayana. Dan selama ini saya dan suami rukun2 aja nggak saling menjelekkan... :-?

sungguh bijaksana

yang lain koar2, mengerti dharma, apa lah gitu, tapi kalau menjelek-jelekan aliran lain, apa itu termasuk didalam ajaran?
dosa sungguh dosa....

kalau dengan begitu, bukan kah lebih keliatan kelas nya?
dari kelaku-an saja sudah keliatan mana yang kelas TK, mana yang kelas SD

sori ya, ga kelas
keket MODE 'ON' :P
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: coedabgf on 02 April 2009, 11:33:39 AM
Tanya sama yang nulis. Klo diliat-liat urutannya sich pasti yang dari vajra, sebab vajra yang dibilang number one  :)). (bingung juga sich tapi koq pake tekhnik-tekhnik pencerahan aneh-aneh mencari-cari pada kewujudan nama-rupa yang dibilang guru Buddha malah bersifat spekulasi. oh... no....! :o  ;)  ;D
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: ENCARTA on 02 April 2009, 11:36:59 AM
Tanya sama yang nulis. Klo diliat-liat urutannya sich pasti yang dari vajra, sebab vajra yang dibilang number one  :)). (bingung juga sich tapi koq pake tekhnik-tekhnik pencerahan aneh-aneh mencari-cari pada kewujudan nama-rupa yang dibilang guru Buddha malah bersifat spekulasi. oh... no....! :o  ;)  ;D

soalnya para varja bisa ilmu sakti lebih jago dari mahayana loh.. makanya , gak bakal bisa dimengerti oleh umat awam
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Edward on 02 April 2009, 11:41:58 AM
[at]  ryu
itu pertanyaannya sama juga gak... dengan pertanyaan 'memang yang telah mencapai pencerahan/arahat/keBuddhaan banyak gak?'.
apa sebabnya napa gak ngerti? (mode on : tanya napa?)
Tujuan Buddha yaitu mencari Obat dari Dukkha, cara melepas dari Dukkha sudah di ajarkan, Nah katanya ada 84000 jalan, nah apakah itu untuk lepas dari Dukkha atau malah Jalan untuk ber Dukka lagi ?

Kalau pandangan Saya, Surga sukhavati dll itu hanya seperti bayang2, impian, kemelekatan, janji2, dogma hampir sama dengan agama tetangga yang mengajarkan percaya dan masuk surga bukankah mereka menjanjikan lebih baik? dimana katanya hidup kekal selamanya tidak ada kelahiran kembali?
wah, bro ryu ketinggalan neh..
kaga ada kehidupan abadi di sukhavati...Dan surga sukhavati bukan "final destination" seperti ajaran seberang...
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: ryu on 02 April 2009, 11:48:47 AM
[at]  ryu
itu pertanyaannya sama juga gak... dengan pertanyaan 'memang yang telah mencapai pencerahan/arahat/keBuddhaan banyak gak?'.
apa sebabnya napa gak ngerti? (mode on : tanya napa?)
Tujuan Buddha yaitu mencari Obat dari Dukkha, cara melepas dari Dukkha sudah di ajarkan, Nah katanya ada 84000 jalan, nah apakah itu untuk lepas dari Dukkha atau malah Jalan untuk ber Dukka lagi ?

Kalau pandangan Saya, Surga sukhavati dll itu hanya seperti bayang2, impian, kemelekatan, janji2, dogma hampir sama dengan agama tetangga yang mengajarkan percaya dan masuk surga bukankah mereka menjanjikan lebih baik? dimana katanya hidup kekal selamanya tidak ada kelahiran kembali?
wah, bro ryu ketinggalan neh..
kaga ada kehidupan abadi di sukhavati...Dan surga sukhavati bukan "final destination" seperti ajaran seberang...
Soal percaya sudah pernah saya post tentang berlindung pada triratna :)

Iya memang tidak abadi tapi nyaris khan :D tapi soal keindahan dll nya hampir sama lho gambarannya kakakakakak
Apa Mr. J mengajarkan Sukhavati yak kakakakakak
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: coedabgf on 02 April 2009, 11:50:04 AM
Semua kan bisa terlihat dari isi gambaran kandungan yang tertulis (scripture). klo masih untuk pencapaian lagi yah berarti (pembinaan) ada pencapaian lagi, klo final destination yah berarti final destination, klo ada disediakan 72 harem-harem bidadari yah berarti gambarannya sikonnya seperti itu (bangun terus gak tidur-tidur, mungkin (alam) masih pembinaan mencari pencerahan seperti tekhnik sadhana sex).   :-?  :))
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: coedabgf on 02 April 2009, 11:54:02 AM
klo alam hugh hefner (playboy club), mencapai tingkatan alam apa yach?  8)  :-?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: ryu on 02 April 2009, 11:54:56 AM
iya brarti itu hanya Bayang2 yang masih abu2, susah untuk dibuktikan, dah hanya jadi Iman :D
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: ENCARTA on 02 April 2009, 11:59:09 AM
klo alam hugh hefner (playboy club), mencapai tingkatan alam apa yach?  8)  :-?

kalau saya bilang alat vital juga mempunyai peran yg sangat besar dalam ilmu sakti , seperti dalam taoism
percaya gak he.... :P
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: coedabgf on 02 April 2009, 12:00:04 PM
klo protes atau ribut-ribut iman, guru Buddha saja hanya menyebut sesuatu pada udanna VIII.3. dan bilang klo gak ada itu gak nyampe-nyampe pengetahuannya alias hanya spekulasi saja pengetahuan semuanya alias sia-sia semuanya deng!.  8)  _/\_  ^:)^
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: coedabgf on 02 April 2009, 12:01:15 PM
tapi koq dalam cerita-cerita pelem-pelem dewa-dewa digambarkan hilang alat vitalnya ya he.. he... he...  :))
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Edward on 02 April 2009, 12:09:46 PM
konon katanya, bagi para praktisi, bisa melihat sendiri dengan pengalaman meditasinya tanpa harus mati dulu...
klo gw sendiri, blom pernah praktek, jadi belom pernah lihat deh....

Udah achk, cukup tentang pure land,pembahasan pun udh mulai muter2...Rasanya kesimpulan sudah bisa diambil bagi masing2 pihak..
Kan masih bnyk tuch, point2 ttng mahayana yg bisa didiskusikan...

Bagaimana mengenai Trikaya?klo kga salah quote, di buku "Keyakinan Umat Buddha oleh Sri Dhammananda" katanya bagi sebagian Theravada, terdapat paham trikaya, tetapi lebih tidak ditekankan..Berbeda dengan mahayana, dimana point trikaya ini sangat penting bagi keseluruhan ajaran secara umum.Ada yg bisa bantu jelaskan?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hatRed on 02 April 2009, 12:13:12 PM
Trikaya apa ya..?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Sunkmanitu Tanka Ob'waci on 02 April 2009, 12:18:08 PM
saya pernah post mengenai trikaya dalam Theravada.
ada dalam sebuah kitab komentar, yang nampaknya ada pengaruh Mahayana.

Bhagava
Arahang
Sammasambuddha

tapi hal ini sedikit sekali diketahui orang awam, dan janggal kalau dikatakan penting bagi sebagian umat Theravada.
mungkin yang dimaksud Buddha Dhamma Sangha, yang gak didukung sebagai trikaya dalam kitab-kitab Theravada.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Edward on 02 April 2009, 12:27:11 PM
minta link doonkkk...
nyari pake sistem search kga nemu nih...
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: ryu on 02 April 2009, 12:31:21 PM
minta link doonkkk...
nyari pake sistem search kga nemu nih...
yang ini?
http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=1638.msg25915#msg25915
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Sunkmanitu Tanka Ob'waci on 02 April 2009, 12:36:57 PM
Sama gak ketemu, udah kebanyakan ;D
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Edward on 02 April 2009, 12:41:42 PM
wah, susah jg yah....
Gmn kalo masih ada filenya di copas tulisannya ke sini?
lumayan penasaran jg seh soalnya...
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: ENCARTA on 02 April 2009, 12:47:10 PM
jadi seperti dalam kriste'n yah trinitas gitu.. satu untuk semua :P
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Edward on 02 April 2009, 12:53:09 PM
jadi seperti dalam kriste'n yah trinitas gitu.. satu untuk semua :P
salah bro.. ;D
tapi katanya ada tulisan yg bilang sistem trinitas itu adopsi dari trikaya buddhis..
well, we'll never know about that..

tapi dari segi fakta, trikaya mahayana kan udh ada duluan sebelum kelahiran mr J
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hatRed on 02 April 2009, 12:57:12 PM
trikaya ini Dharmakaya, Samboghakaya, dan Nirmanakaya.

Kaya itu artinya apa ya?

Dharmakaya = Dharma... ?

Samboghakaya= .......?

NirmanaKaya = maksudnya Nirwana ya?

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: lykim176 on 02 April 2009, 01:08:21 PM
kaya bukannya jasmani yah.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 02 April 2009, 01:09:04 PM
^
^
^
maksud pernyataan diatas, bisa tolong diperjelas?

apakah dengan ini, maksudnya, jalan besar sudah tidak ada artinya
apakah para sesepuh dari mahayana tidak mungkin mendapatkan pencerahan?

"ingat banyak jalan lain menuju roma"
jangan berpikiran sempit.....

saya yakin dari 84.000 pintu dharma bisa mencerahkan lebih banyak orang
daripada hanya ber pegangan pada 8 jalan utama saja, yang mungkin bisa mencerahkan orang (tapi tidak bisa banyak, maka dikatakan kendaraan kecil)

IMO, karena pada dasarnya 84.000 pintu dharma itu adalah perluasan dari 8 jalan utama.

salam piss n love,

navis


bisa diquote sutta (pali) atau sutra (sansekerta / taisho) yang menyatakan ada 84.000 pintu dharma ?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 02 April 2009, 01:10:56 PM
trikaya ini Dharmakaya, Samboghakaya, dan Nirmanakaya.

Kaya itu artinya apa ya?

Dharmakaya = Dharma... ?

Samboghakaya= .......?

NirmanaKaya = maksudnya Nirwana ya?



Dharma kaya = tubuh dharma...
sambhogakaya = tubuh kebahagiaan...
nirmanakaya = tubuh penjelmaan...

sebagai contoh : Master Lu menyatakan konsep trikaya dirinya sebagai berikut :
Dharmakaya = BUDDHA VAIROCANA
Sambhogakaya = PADMAKUMARA PUTIH
Nirmanakaya = LU SHENG YEN...
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Gunawan on 02 April 2009, 01:11:15 PM
trikaya ini Dharmakaya, Samboghakaya, dan Nirmanakaya.

Kaya itu artinya apa ya?

Dharmakaya = Dharma... ?

Samboghakaya= .......?

NirmanaKaya = maksudnya Nirwana ya?



 [at] OM Hatred = Nich Linknya mengenai Trikaya sbb;

utk referensi nya silakan baca lebih lengkap disini

http://www.nshi.org/Buddhisme/Indonesia%20Buddhisme/Konsep-Trikaya.htm

 _/\_
Gunawan S S
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: ENCARTA on 02 April 2009, 01:23:59 PM
Dharma-Kaya=yg mutlak     -      Sambhoga-Kaya=sifat dasar Buddha
                      \                                 /
                    Nirmana-Kaya= wujud Buddha

konsep trikaya muncul, dari mana dan kapan ?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hatRed on 02 April 2009, 01:24:46 PM
 [at] om Gun en om Dilbert

tengk q



setelah disimak2 ternyata emang Trinitas ini mirip Trikaya yah...


btw ada yg mo ditanyain dari link tadi, i buat thread baru aja ya....
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: cunda on 02 April 2009, 01:41:22 PM
namaste suvatthi hotu

Kata Dhammakāya terdapat di beberapa sutta dan kitab Aṭṭhakathā (komentar), di antaranya

Dīghanikāyo; Pāthikavaggapāḷi; 4. Aggaññasuttaṃ 118
Khuddakanikāye; Udāna-aṭṭhakathā; 5. Soṇavaggo; 6. Soṇasuttavaṇṇanā 46

namun saya tidak/belum menemukan sambhogakaya dan nirmanakaya

Semoga bermanfaat

thuti
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: sabdo palon on 02 April 2009, 03:27:45 PM
Theravada bilang pakai bahasa Pali, mana yang benar...? lebih aman buka buku sejarah.....
Apakah ini jawaban ? Apakah bro Purnama sudah memahami?
darimana anda dapat ?
Kalo saya dapatnya dari Eksklopedia Buddhis . Saya mau tanya anda mau berniat provokasi aliran ?
Kalo Provokasi aliran udah gak jaman. Sayang banget ternyata ada orang mengaku dirinya aliran tera tapi masih prokasi aliran.

Percuma belajar Abidhamma, sutta,dan sebagainya cuman buat menujukan keegoisan dan keintelektualan diri.
Saya cuman mengingatkan para clonengan Abidhamma,sutta dan sebagai bukan untuk meyombongkan diri sendiri, tapi buat mengikis diri dari ke egoan dalam diri. Jangan bisa teori saja prateknya juga dari sikap anda

Kalo anda niat Prokavokasi, dan hanya ,menyombongkan diri mu. bro Sabdo palon Anda salah menafirkan kemampuan anda dalam dhamma yang sesungguh tercipta.



Owe Bertanya kepada bro Nyana, yang jawab orang lain, ditanya balik jadi begini  :( Inikah pemahaman, kebijakan, kebajikan?

Bro Nyana apa pendapat bro Nyana terhadap pertanyaanku?
Quote
Bagaimana dengan Bodhisattva? apakah mereka sudah mencicipi Nibbana belum? Lalu apakah yang dicicipi oleh Sammasambuddha? Apa tujuan pencapaian keBuddhaan?

Bingung.... aku bingung.....
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 02 April 2009, 04:41:35 PM
Theravada bilang pakai bahasa Pali, mana yang benar...? lebih aman buka buku sejarah.....
Apakah ini jawaban ? Apakah bro Purnama sudah memahami?
darimana anda dapat ?
Kalo saya dapatnya dari Eksklopedia Buddhis . Saya mau tanya anda mau berniat provokasi aliran ?
Kalo Provokasi aliran udah gak jaman. Sayang banget ternyata ada orang mengaku dirinya aliran tera tapi masih prokasi aliran.

Percuma belajar Abidhamma, sutta,dan sebagainya cuman buat menujukan keegoisan dan keintelektualan diri.
Saya cuman mengingatkan para clonengan Abidhamma,sutta dan sebagai bukan untuk meyombongkan diri sendiri, tapi buat mengikis diri dari ke egoan dalam diri. Jangan bisa teori saja prateknya juga dari sikap anda

Kalo anda niat Prokavokasi, dan hanya ,menyombongkan diri mu. bro Sabdo palon Anda salah menafirkan kemampuan anda dalam dhamma yang sesungguh tercipta.



Owe Bertanya kepada bro Nyana, yang jawab orang lain, ditanya balik jadi begini  :( Inikah pemahaman, kebijakan, kebajikan?

Bro Nyana apa pendapat bro Nyana terhadap pertanyaanku?
Quote
Bagaimana dengan Bodhisattva? apakah mereka sudah mencicipi Nibbana belum? Lalu apakah yang dicicipi oleh Sammasambuddha? Apa tujuan pencapaian keBuddhaan?

Bingung.... aku bingung.....

O saya kira ditanya saya. ;D. Yah deh kalo gitu terserah anda mau tanya kesiapa _/\_

Jangan bingung, Kalo bingung pegangan entar jatuh lokh (bercanda Bro or sis Clonengan) ;D _/\_
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 02 April 2009, 04:47:06 PM
trikaya ini Dharmakaya, Samboghakaya, dan Nirmanakaya.

Kaya itu artinya apa ya?

Dharmakaya = Dharma... ?

Samboghakaya= .......?

NirmanaKaya = maksudnya Nirwana ya?



Dharma kaya = tubuh dharma...
sambhogakaya = tubuh kebahagiaan...
nirmanakaya = tubuh penjelmaan...

sebagai contoh : Master Lu menyatakan konsep trikaya dirinya sebagai berikut :
Dharmakaya = BUDDHA VAIROCANA
Sambhogakaya = PADMAKUMARA PUTIH
Nirmanakaya = LU SHENG YEN...

bro dilbert saya mau tanya maksud u,
 Master lu itu master lu sheng yen itu ?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 02 April 2009, 05:07:13 PM
trikaya ini Dharmakaya, Samboghakaya, dan Nirmanakaya.

Kaya itu artinya apa ya?

Dharmakaya = Dharma... ?

Samboghakaya= .......?

NirmanaKaya = maksudnya Nirwana ya?



Dharma kaya = tubuh dharma...
sambhogakaya = tubuh kebahagiaan...
nirmanakaya = tubuh penjelmaan...

sebagai contoh : Master Lu menyatakan konsep trikaya dirinya sebagai berikut :
Dharmakaya = BUDDHA VAIROCANA
Sambhogakaya = PADMAKUMARA PUTIH
Nirmanakaya = LU SHENG YEN...

bro dilbert saya mau tanya maksud u,
 Master lu itu master lu sheng yen itu ?


jelas kan tuh nirmanakaya-nya tertulis siapa... hehehehe
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: coedabgf on 02 April 2009, 09:24:28 PM
mo diberi contoh yang mudah tentang trikaya dengan melalui contoh sangat sederhana trinitas (tetapi sukar ditembus bagi jasmaniah/daging/carnal/duniawi), kawan-kawan?
supaya anda semua tahu gambarannya apa itu trikaya, sehingga umat tidak kebingungan lagi mengartikan keberadaan keyakinan umat sendiri pada sutta udanna VIII.3
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: ENCARTA on 02 April 2009, 09:35:51 PM
bro udabgf aye bosan disuruh baca udanna mulu
bro percaya teori big bang?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: coedabgf on 02 April 2009, 09:39:07 PM
berdasarkan keyakinan itu mah masih teori, tetapi klo kitab suci itu anda percayakah itu adalah gambaran kebenaran (the real truth)?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: ENCARTA on 02 April 2009, 09:49:21 PM
berdasarkan teori? bearti tidak percaya ? kan gampang "percaya" dan "tidak percaya"
dan aye tidak ada masalah dengan real truth..
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Kelana on 02 April 2009, 10:33:08 PM
Dharmakaya = Adi Buddha = Tathagarbha = Nirvana = Sunyata = Emptiness
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: nyanadhana on 03 April 2009, 08:33:17 AM
Kalau di Mahayana, Arahat 'kan bukan tingkat akhir, tapi masih pertengahan, kenapa julukan itu dipakai untuk Buddha?
Karena Arahat adalah tingkat bawah, jadi seperti mengatakan X dokter, lulusan SMU. Sebetulnya 'kan dengan adanya "dokter", tidak perlu disebutkan lagi "lulusan SMU"-nya.


kita tanyakan kepada sesepuh yang menciptakan Mahayana kalo begitu, bahkan mereka mengakui di setiap kitabnya seorang Sammsambuddha bergelar Bhagavan Arahate Samyaksambuddha dan tidak menuliskan Boddhisatvayam Tathagatanam Samyaksambuddhanam.

dan spekulasi gw adalah menurut Mahayana, Arahat sendiri sudah mencicipi nibbana dan mereka berdiam disitu tanpa mengajarkan pengetahuan itu kepada banyak makhluk,menurut Mahayana,sebenarnya Arahat ini bisa keluar dari keadaaan parinibbana total dan mengambil jalan menuju Sammasambuddha. jadi dalam Mahayana,sebenarnya Arahat bukanlah dipandang kecil dan Bodhisatva lebih tinggi, melainkan mereka yang menikmati Nibbana seharusnya memperpanjang kehidupannya untuk mengajarkan Dhamma kepada makhluk hidup. ini juga untuk Pacceka Buddha yang berbuat sama, Nibbana sendiri.

Bagaimana dengan Bodhisattva? apakah mereka sudah mencicipi Nibbana belum? Lalu apakah yang dicicipi oleh Sammasambuddha? Apa tujuan pencapaian keBuddhaan?

Bingung.... aku bingung.....

Bodhisatva yang telah Arahat sudah menikmati Nibbana, di dalam Saddharma Pundarika ada dijelaskan bahwa setelah menikmati Nibbana, mereka mengambil jalan Bodhisatva.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hatRed on 03 April 2009, 09:02:03 AM
berdasarkan keyakinan itu mah masih teori, tetapi klo kitab suci itu anda percayakah itu adalah gambaran kebenaran (the real truth)?


keyakinan gmana dulu neh?

kalo keyakinan kek nyokap e, nakut nakutin buat percaya Tuhan itu namanya bukan teori tapi euforia..
Title: Konsep Bodhisatva dalam Mahayana
Post by: nyanadhana on 03 April 2009, 09:07:23 AM
Dalam Mahayana, Bodhisatva memiliki tingkatan yang disebut Dasa Bhumika Bodhisatva. merujuk dari konsep bahwa setiap orang memiliki Benih Kebuddhaan(Bodhicitta) di dalam dirinya maka setiap orang adalah sama dalam pencapaian Ke Buddhaan.

Seperti yang kita ketahui Kebuddhaan dalam Buddhisme dibagi atas
1. Savaka Buddha = tercerahkan dibawah bimbingan guru Buddha
2. Pacceka Buddha = tercerahkan tanpa bimbingan seorang guru namun tidak memiliki cukup parami untuk mengajarkan Dhamma yang Dia dapat kepada makhluk
3. Sammasambuddha = sama seperti Pacceka Buddha namun beliau mampu mengajarkan Dhamma yang rumit berdasarkan klasifikasi tingkatan makhluk tersebut sehingga semua makhluk yang menemui beliau mendapatkan pengetahuan Dhamma.

Goal dari Mahayana Buddhism adalah menjadi Sammasambuddha dimulai dari pengumpulan Dasa Paramita (beberapa sekolah menggunakan Sad Paramita). karena menurut mereka ,adalah jarang bagi Buddha lahir ke dunia dan adalah jarang makhluk2 bisa mendengarkan Dhamma maka tekad dan aspirasi mereka adalah menjadi Sammasambuddha.

makhluk yang memiliki aspirasi menjadi Buddha adalah Bodhisatva, ini berarti kamu,aku siapa saja memulai karir Bodhisatva. nah Arahat di dalam Mahayana dikategorikan Bodhisatva tingkat 7(koreksi kalo salah)

Arahat(Savaka Buddha) masih memiliki potensi jadi Sammasambuddha(menurut Mahayana) kalo mereka berkeinginan keluar dari Nibbana dan beraspirasi. Bodhisatva setelah tingkat Arahat disebut Mahasatva atau Maha Bodhisatva. jadi ada beda antara Bodhisatva tingkat bawah dengan atas.

well,sampe sini dulu dicernanya kalo bingung tanyaken lagi.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: marcedes on 06 April 2009, 11:58:42 PM
untuk saudara edward yang bijak,
kalau tidak salah anda pernah membahas tentang K.Sri Dhammadana.
dan berikut kutipan tulisan beliau pada buku Where is the buddha? yang merupakan artikel terakhir beliau.

------
Menurut aliran Buddhisme Mahayana ada 3 tubuh Sang Buddha atau 3 kaya, yaitu sambhogakaya, nirmanakaya, dharmakaya. Ia menggunakan sambhogakaya and nirmanakaya untuk melakukan makan, tidur, berjalan, berbicara, menasihati, mengajar. Semua aktivitas ini Ia lakukan dengan tubuh fisik. Ketika Sang Buddha mencapai parinibbana kedua tubuh ini menghilang. Tetapi dharmakaya atau tubuh dharma Sang Buddha tidak pernah dapat menghilang. Menurut aliran Buddhisme Mahayana, Sang Buddha Amitabha berada di tanah suci Sukhavati. Mereka yang melafalkan namaNya dengan hormat dan mereka yang menghormatiNya akan lahir di tanah suci dan mendapatkan kesempatan untuk mencapai nirvana. Menurut cara berpikir dan kepercayaan mereka, konsep ini memberikan banyak harapan dan kepercayaan bahwa Sang Buddha masih tetap hidup sampai semua makhluk mencapai keselamatan terakhir.

Dalam Mahapadana Sutta (Digha Nikaya 14) dikisahkan setiap Bodhisatta, calon
       Samma Sambuddha lahir, Ia mengucapkan "ayam antimaa jati, natthi daani punabbavo"
       (inilah kelahiranKu yang terakhir, tidak ada lagi tumimbal lahir bagiKu).
--------------

semoga info nya bermanfaat.

salam metta.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Sumedho on 07 April 2009, 06:03:29 AM
utk pdf nya bisa diambil di

http://dhammacitta.org/perpustakaan/ebook/umum/di-manakah-sang-buddha
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Tan on 10 April 2009, 12:07:41 AM
Ikut nimbrung. Benar saya setuju. Diskusi biasanya berakhir dengan "tawuran" antara T dan M. Menurut saya, dalam Buddhadharma dan agama Timur lainnya adalah sesuatu yang unik. Di dalam suatu agama terhadap pluralitas yang sangat besar atau kita boleh menyebutnya "kesatuan di dalam keragaman." Tanpa kita dapat menghargai keberagaman ini, diskusi tak akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Ajaran Mahayana tak dapat dipandang dari kacamata Theravada dan begitu pula sebaliknya. Keduanya harus dihargai perbedaannya dengan tetap memandang bahwa keduanya adalah sama-sama manifestasi Buddhadharma.
Agar wawasan kita menjadi luas, marilah kita berkaca pada agama Hindu. Agama Hindu mempunyai jauh lebih banyak aliran dibanding agama Buddha. Bahkan masing2 aliran itu ada yang sangat berbeda satu sama lain. Para scholar Barat yang tidak mengerti konsep pemikiran Timur akan menganggap bahwa itu semua merupakan agama-agama dan keyakinan yang berbeda. Umpamanya aliran yang satu memandang bahwa Brahma merupakan devata tertinggi, sementara aliran lain memandang Vishnu, Shiva, Indra, dan lain sebagainya merupakan devata tertinggi mereka. Bahkan tidak jarang ada kisah2 yang berbeda dalam teks2 Hindu masing2 sekte. Kendati demikian, masing2 sekte memandang bahwa Veda adalah sumber agama mereka. Apakah semua aliran itu merupakan agama2 yang berbeda? Umat Hindu sendiri TIDAK memandangnya demikian. Mereka dapat menghargai keragaman. Tidak pernah ada perang atau kebencian antar aliran.
Jangan biarkan pola pikir Barat meracuni pikiran kita. Jika ingin mengulas T gunakanlah filosofi T. Bila ingin mengulas M gunakanlah filosofi M. Baru demikian, akan mendatangkan manfaat bagi kemajuan spiritual kita. Sebagai penutup saya ingin memberikan sebuah contoh:

T berkata: Avalokitesvara itu tidak ada karena tak ada di kanon Pali.

Ungkatan di atas tidak tepat, karena MEMANG kanon Pali tidak mengulas Avalokitesvara. Mengaitkan Avalokitesvara dengan kanon Pali adalah suatu kesalahan serius. Ibaratnya mencari roti di toko besi. Ungkapan di atas secara kasar dapat disepadankan dengan:

"Roti itu tidak ada, karena tak dapat dijumpai di toko besi."

Anda akan melihat betapa menggelikannya ungkapan di atas.
Semoga tulisan ini dapat membawa pemahaman terang terhadap kajian filosofi Buddhis.

Metta,

Tan
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Tan on 10 April 2009, 12:13:04 AM
Sang Buddha masih hidup atau sudah mati? Dua-duanya "ya" dan dua-duanya "tidak." Sang Buddha "tidak mati" karena bila "mati" itu artinya Anda sudah masuk dalam sudut pandang ekstrem nihilisme. Sang Buddha "tidak hidup lagi" karena bila "hidup terus" pada kenyataannya tidak ada lagi Buddha Sakyamuni dalam wujud fisik pada masa sekarang ini. Sang Buddha tidak "tidak mati" karena bila Anda menganggapnya demikian, Anda telah masuk ke dalam pandangan ekstrem eternalisme. Sang Buddha tidak "hidup" karena bila menganggapnya demikian Anda menganggap Buddha masih hidup dengan tubuh fisikNya.
Dengan adanya pemahaman semacam itu, tidak masalah bila ada seorang Buddha dengan "tubuh termurnikan" seperti Amitabha yang seolah-olah masih hidup membabar Dharma di Sukhavati. YM. Mahabhikshu Thich Nhat Hanh pernah menasihatkan: "Jangan biarkan kata-kata menipu kita."

Amiduofo,

Tan
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 10 April 2009, 10:31:18 PM
lha... yang berbeda secara prinsipil itu manifestasi dari buddhadharma ?

Hatred mode on...

Aneh sungguh Aneh...

Hatred mode off...
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hendrako on 11 April 2009, 12:37:23 AM
Sang Buddha masih hidup atau sudah mati? Dua-duanya "ya" dan dua-duanya "tidak." Sang Buddha "tidak mati" karena bila "mati" itu artinya Anda sudah masuk dalam sudut pandang ekstrem nihilisme. Sang Buddha "tidak hidup lagi" karena bila "hidup terus" pada kenyataannya tidak ada lagi Buddha Sakyamuni dalam wujud fisik pada masa sekarang ini. Sang Buddha tidak "tidak mati" karena bila Anda menganggapnya demikian, Anda telah masuk ke dalam pandangan ekstrem eternalisme. Sang Buddha tidak "hidup" karena bila menganggapnya demikian Anda menganggap Buddha masih hidup dengan tubuh fisikNya.
Dengan adanya pemahaman semacam itu, tidak masalah bila ada seorang Buddha dengan "tubuh termurnikan" seperti Amitabha yang seolah-olah masih hidup membabar Dharma di Sukhavati. YM. Mahabhikshu Thich Nhat Hanh pernah menasihatkan: "Jangan biarkan kata-kata menipu kita."

Amiduofo,

Tan

Hanya kata-kata tak menipu
Itu hanyalah kata-kata
Hanya yang berkata-kata
Bisa berniat 'tuk menipu

Hanya kata-kata tak menipu
Lebih dari itu bisa menipu
Hati-hati salah menangkap kata-kata
Bisa bisa menjadi tertipu

Hanya kata-kata tidak menipu
Kurang dari itu bisa menipu
Ini hanyalah kotak-katik kata-kata
Ingatkan hati-hati dalam berkata-kata

Hanya kata-kata tidak menipu
Itu hanyalah kata-kata
.................
.................
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Tan on 11 April 2009, 01:36:07 AM
lha... yang berbeda secara prinsipil itu manifestasi dari buddhadharma ?

TAN:

Buddhadharma dapat memanifestasikan dirinya dalam berbagai wujud. Banyak orang tertipu karena melihat wujud-wujud itu dan menganggapnya berbeda. Es padat dan dingin, air cair dan bisa dingin ataupun panas, tetapi intinya tetap H2O. Padat adalah secara prinsipil berbeda dengan cair. Namun apakah atom H dan O yang menyusun es dan air berbeda? Janga biarkan wujud menipu kita. Sutra Vajracchedika mengatakan bahwa barangsiapa mencari Buddha dalam wujud ia telah tertipu. Semoga ini dapat membantu.

Salam metta,

Tan
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: truth lover on 11 April 2009, 01:28:11 PM
Sang Buddha masih hidup atau sudah mati? Dua-duanya "ya" dan dua-duanya "tidak." Sang Buddha "tidak mati" karena bila "mati" itu artinya Anda sudah masuk dalam sudut pandang ekstrem nihilisme. Sang Buddha "tidak hidup lagi" karena bila "hidup terus" pada kenyataannya tidak ada lagi Buddha Sakyamuni dalam wujud fisik pada masa sekarang ini. Sang Buddha tidak "tidak mati" karena bila Anda menganggapnya demikian, Anda telah masuk ke dalam pandangan ekstrem eternalisme. Sang Buddha tidak "hidup" karena bila menganggapnya demikian Anda menganggap Buddha masih hidup dengan tubuh fisikNya.
Dengan adanya pemahaman semacam itu, tidak masalah bila ada seorang Buddha dengan "tubuh termurnikan" seperti Amitabha yang seolah-olah masih hidup membabar Dharma di Sukhavati. YM. Mahabhikshu Thich Nhat Hanh pernah menasihatkan: "Jangan biarkan kata-kata menipu kita."

Amiduofo,

Tan

Mas Tan,

Jadi bagaimana Buddha itu menurut mas Tan? hidup atau mati? atau setengah hidup atau setengah mati? Atau seperti kata orang-orang, hidup enggan mati tak mau? atau mungkin kadang hidup kadang mati?

 _/\_
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hatRed on 11 April 2009, 01:37:52 PM
walau berbeda secara manifestasi.. tetap mempunyai sifat dasar yg sama..

seperti contoh om Tan diatas....

walau air dan es mempunyai manifestasi yg berbeda.. tetap mempunyai sifat dasar H2O

(sifat dasarna apa ya :hammer:)
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 11 April 2009, 03:01:17 PM
Kalau menurut saya sih antar aliran yang beda, terdapat persamaan dan perbedaan.
Yang berbeda tidak perlu disama-samakan. Air tetaplah air, bukan es, bukan gas. Walaupun ikatan 2H dan O, orang mandi dengan air, bukan es. Tetapi juga perbedaan itu tidak perlu dibesar-besarkan seolah-olah satu "asli" dan lainnya "as-pal".
Demikian juga persamaan yang ada (seperti sama-sama menganut 4 Kebenaran Mulia), tidak perlu dibeda-bedakan hanya karena ada perbedaan prinsipal lainnya.

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hendrako on 11 April 2009, 10:31:40 PM
Kalau menurut saya sih antar aliran yang beda, terdapat persamaan dan perbedaan.
Yang berbeda tidak perlu disama-samakan. Air tetaplah air, bukan es, bukan gas. Walaupun ikatan 2H dan O, orang mandi dengan air, bukan es. Tetapi juga perbedaan itu tidak perlu dibesar-besarkan seolah-olah satu "asli" dan lainnya "as-pal".
Demikian juga persamaan yang ada (seperti sama-sama menganut 4 Kebenaran Mulia), tidak perlu dibeda-bedakan hanya karena ada perbedaan prinsipal lainnya.



 :yes: :yes: :yes:

Yang sama jangan dibedakan
Yang beda jangan disamakan

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Tan on 11 April 2009, 10:32:40 PM
Mas Tan,

Jadi bagaimana Buddha itu menurut mas Tan? hidup atau mati? atau setengah hidup atau setengah mati? Atau seperti kata orang-orang, hidup enggan mati tak mau? atau mungkin kadang hidup kadang mati?

TAN:

Wah jangan bilang menurut saya donk. Kalo menurut saya pasti salah..hehehe. Saya pakai referensi ajaran para sesepuh saja, yakni Nagarjuna. Buddha itu tidak mati, tidak hidup, hidup dan mati sekaligus, tidak tidak mati dan tidak tidak hidup. Ini disebut tetralemma atau kebenaran rangkap empat. Kalau bingung ikuti saja ajaran Sang Bhagava di Vacchagota Sutta. Inti dari tetralemma itu adalah: Kondisi seorang Buddha itu tak terkatakan. Hidup dan mati itu tak dapat menggambarkan kondisi Beliau lagi. Buddha mengajar pada Vacchagota agar jangan berspekulasi. Pikiran manusia tidak akan bisa mencerap atau menggambarkannya.
Pikiran manusia masih diliputi dualisme, sehingga bingung dengan ajaran seorang Buddha yang mengajar di Sukhavati. Mereka seolah-olah menganggap bahwa itu mengacu pada seorang Buddha yang HIDUP mengajar selama-lamanya. Padahal pengertian "hidup"nya Buddha Amitabha itu tidak sama dengan pengertian kita akan "hidup." Apakah wujud Buddha Amitabha itu masih terdiri dari daging dan tulang seperti manusia? Tidak pernah dikatakan demikian dalam Sutra2 Mahayana. Definisi hidup menurut manusia yang masih dalam tataran kebenaran relatif (samvriti satya) akan sulit memahami hal itu. Sebagian umat Buddha menganggap bahwa ajaran Sukhavati tidak Buddhistis, tetapi alasan yang mereka kemukakan justru mencerminkan pandangan nihilisme, yang juga ditentang Buddha dalam Brahmajala Sutta.
Lebih baik kita banyak praktik Dharma, sehingga tidak memperdebatkan sesuatu yang tidak membawa pada pembebasan.

Amiduofo,

Tan
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Tan on 11 April 2009, 10:39:02 PM
Kalau menurut saya sih antar aliran yang beda, terdapat persamaan dan perbedaan.
Yang berbeda tidak perlu disama-samakan. Air tetaplah air, bukan es, bukan gas. Walaupun ikatan 2H dan O, orang mandi dengan air, bukan es. Tetapi juga perbedaan itu tidak perlu dibesar-besarkan seolah-olah satu "asli" dan lainnya "as-pal".
Demikian juga persamaan yang ada (seperti sama-sama menganut 4 Kebenaran Mulia), tidak perlu dibeda-bedakan hanya karena ada perbedaan prinsipal lainnya.

TAN:

Benar, karena itu seperti yang saya katakan membahas ajaran T pakai pola pikir T. Membahas M pakai filosofi M. Air memang bukan es dan juga bukan uap air. Es bukan air dan juga bukan uap air. Uap air bukan air dan juga bukan es. Semuanya mempunyai karakteristiknya sendiri2 di jagad raya. Tetapi tidak benar apabila sang air berkata, "Wahai es dan uap air kalian sesat, seharusnya kalian berwujud air seperti saya." Tidak benar bila sang es berkata, "Wahai air dan uap air! Kalian sesat. harusnya kalian berwujud padat seperti saya." Tidak benar pula bila sang uap air berkata, "Wahai air dan es! Kalian sesat. Seharusnya kalian berwujud gas seperti saya." Bagi orang yang belum mengetahui pengetahuan yang lebih tinggi, mereka terpaku pada wujud lahiriah es, air, dan uap air. Namun seorang yang paham kimia akan mengetahui bahwa mereka mempunyai rumus kimia yang sama, yakni H2O! Semuanya terbentuk dari atom H dan O yang sama. Atom H nya sama2 terdiri dari 1 elektron dan atom O nya terdiri dari 18 elektron. Kalau kita sudah bicara dalam tataran atom, tidak ada lagi perbedaannya. Arang batu dan intan mempunyai rumus kimia yang sama, yakni C, kendati wujud dan harganya sangat bertolak belakang.
Semoga tulisan ini dapat memberikan sedikit pencerahan.

Amiduofo,

Tan
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Tan on 11 April 2009, 10:41:18 PM
walau air dan es mempunyai manifestasi yg berbeda.. tetap mempunyai sifat dasar H2O

TAN:

Sifat dasarnya adalah atom2 yang sama2 terdiri dari elektron, proton, dan netron. Dalam tataran atomik, ketiganya tidak dapat dibedakan satu sama lain.

Metta,

Tan
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 11 April 2009, 11:16:18 PM
walau air dan es mempunyai manifestasi yg berbeda.. tetap mempunyai sifat dasar H2O

TAN:

Sifat dasarnya adalah atom2 yang sama2 terdiri dari elektron, proton, dan netron. Dalam tataran atomik, ketiganya tidak dapat dibedakan satu sama lain.

Metta,

Tan

kalau tidak dapat dibedakan... darimana muncul-nya istilah proton, neutron dan elektron ? ? ?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: truth lover on 12 April 2009, 08:46:48 AM
Mas Tan,

Jadi bagaimana Buddha itu menurut mas Tan? hidup atau mati? atau setengah hidup atau setengah mati? Atau seperti kata orang-orang, hidup enggan mati tak mau? atau mungkin kadang hidup kadang mati?

TAN:

Wah jangan bilang menurut saya donk. Kalo menurut saya pasti salah..hehehe. Saya pakai referensi ajaran para sesepuh saja, yakni Nagarjuna. Buddha itu tidak mati, tidak hidup, hidup dan mati sekaligus, tidak tidak mati dan tidak tidak hidup. Ini disebut tetralemma atau kebenaran rangkap empat. Kalau bingung ikuti saja ajaran Sang Bhagava di Vacchagota Sutta. Inti dari tetralemma itu adalah: Kondisi seorang Buddha itu tak terkatakan. Hidup dan mati itu tak dapat menggambarkan kondisi Beliau lagi. Buddha mengajar pada Vacchagota agar jangan berspekulasi. Pikiran manusia tidak akan bisa mencerap atau menggambarkannya.
Pikiran manusia masih diliputi dualisme, sehingga bingung dengan ajaran seorang Buddha yang mengajar di Sukhavati. Mereka seolah-olah menganggap bahwa itu mengacu pada seorang Buddha yang HIDUP mengajar selama-lamanya. Padahal pengertian "hidup"nya Buddha Amitabha itu tidak sama dengan pengertian kita akan "hidup." Apakah wujud Buddha Amitabha itu masih terdiri dari daging dan tulang seperti manusia? Tidak pernah dikatakan demikian dalam Sutra2 Mahayana. Definisi hidup menurut manusia yang masih dalam tataran kebenaran relatif (samvriti satya) akan sulit memahami hal itu. Sebagian umat Buddha menganggap bahwa ajaran Sukhavati tidak Buddhistis, tetapi alasan yang mereka kemukakan justru mencerminkan pandangan nihilisme, yang juga ditentang Buddha dalam Brahmajala Sutta.
Lebih baik kita banyak praktik Dharma, sehingga tidak memperdebatkan sesuatu yang tidak membawa pada pembebasan.

Amiduofo,

Tan

Apakah bedanya Buddha Amitabha dengan Brahma dan alam Dewa? Brahma dan dewa juga tidak memiliki daging dan tulang seperti manusia? Apakah mereka mati? tentu tidak, mereka masih hidup di alamnya, apakah mereka hidup? nyatanya yang kita lihat mereka telah mati.

Jadi Dewa dan Brahma juga cocok dengan penggambaran tetralemma yang mas Tan maksudkan: 1. tidak mati dan tidak hidup, 2. hidup dan mati sekaligus, 3. tidak tidak mati, 4. tidak tidak hidup.

Mengenai Vacchagota sutta, apakah itu penjelasan menurut T atau dituturkan oleh Nagarjuna? mas Tan memiliki pengetahuan yang luas, bisakah memberikan penjelasan hanya menurut sutra-sutra M? Sesuai dengan pernyataan mas Tan sendiri yang mengatakan dalam reply no 393. kalau kita membahas M jangan memakai filosofi T kan? Selain itu saya ingin tahu sudut pandang M. Kepada siapa lagi saya harus bertanya selain kepada mas Tan?

Mengenai perdebatan, mudah-mudahan mas Tan jangan menganggap ini sebagai perdebatan, anggaplah ini sebagai orang yang kurang mengerti, yang dengan kritis bertanya kepada orang yang lebih mengerti.

Terima kasih.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Tan on 12 April 2009, 12:59:06 PM
kalau tidak dapat dibedakan... darimana muncul-nya istilah proton, neutron dan elektron ? ? ?

TAN:

Sebenarnya ini ada di buku2 tentang ilmu kimia. Kalau ingin tahu lebih lanjut silakan cari referensi tentang kimia. Sebenarnya ini tidak perlu dibahas terlalu panjang lebar di sini. Semua sudah ada di buku kimia. Tetapi akan saya ulas secara singkat mumpung lagi liburan. Sehabis ini, saya mungkin tidak ada banyak waktu untuk menanggapinya. Coba kita runut ke belakang. Air, es, dan uap air sama-sama memiliki rumus molekul H2O. Jadi apa yang nampak berbeda itu sebenarnya terdiri dari suatu elemen yang sama. Terus kalau kita tarik kembali, H2O terdiri dari atom Hidrogen dan Oksigen. Kedua atom itu memang nampak beda, yakni dari segi jumlah elektron, netron, dan protonnya. Ketiga partikel elementer itu memang beda, terutama dari segi muatannya. Namun kalau kita tarik lagi semakin dalam, elektron yang dimiliki atom O dan H itu sama. Jadi tidak ada elektron yang khas O, H, atau unsur lain. Semua elektron, netron, dan proton pada masing-masing unsur adalah SAMA. Hanya saja, terjadi 114 unsur yang telah dikenal karena setiap unsur itu memiliki jumlah masing-masing yang berbeda. Semoga penjelasan ini cukup dapat memberikan pengertian lebih mendalam.

Metta,

Tan
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Tan on 12 April 2009, 01:09:37 PM
Apakah bedanya Buddha Amitabha dengan Brahma dan alam Dewa? Brahma dan dewa juga tidak memiliki daging dan tulang seperti manusia? Apakah mereka mati? tentu tidak, mereka masih hidup di alamnya, apakah mereka hidup? nyatanya yang kita lihat mereka telah mati.

TAN:

Menurut Anda sama atau beda? Buddha Amitabha seorang Buddha yang telah lepas dari lingkaran kelahiran dan kematian. Apakah Brahma sudah lepas dari lingkaran kelahiran dan kematian? Definisi "hidup" antara Brahma, manusia, dan Buddha Amitabha serta Buddha-Buddha kosmis lainnya sama? Saya kira hal ini tidak perlu dibahas lebih jauh. Karena ini adalah sub bagian Mahayana dari dhammacita.org, maka saya asumsikan bahwa sebagian besar telah mengerti filosofi Mahayana. Jadi saya kira tidak perlu dibahas lebih lanjut secara panjang lebar.

Jadi Dewa dan Brahma juga cocok dengan penggambaran tetralemma yang mas Tan maksudkan: 1. tidak mati dan tidak hidup, 2. hidup dan mati sekaligus, 3. tidak tidak mati, 4. tidak tidak hidup.

TAN:

Saya kurang mengerti mengapa Brahma dapat Anda pandang sesuai bagi tetralemma itu? Silakan uraikan secara lebih jelas.

Mengenai Vacchagota sutta, apakah itu penjelasan menurut T atau dituturkan oleh Nagarjuna? mas Tan memiliki pengetahuan yang luas, bisakah memberikan penjelasan hanya menurut sutra-sutra M? Sesuai dengan pernyataan mas Tan sendiri yang mengatakan dalam reply no 393. kalau kita membahas M jangan memakai filosofi T kan? Selain itu saya ingin tahu sudut pandang M. Kepada siapa lagi saya harus bertanya selain kepada mas Tan?

TAN:

Baik, saya mengutip Vacchagota Sutta karena hendak memperlihatkan bahwa tidak ada pertentangan antara T dan M dari segi ini. Saya melihat bahwa keduanya sebenarnya mempunyai intisari yang sama (layaknya air, es, dan uap air dengan H2O sebagai rumus molekulnya - lihat pembahasan di atas). Baik kalau begitu kita kesampingkan Vacchagota Sutta, kita pakai saja filosofi Madhyamika milik Nagarjuna. Saya kira telah jelas. Tetralemma menggambarkan bahwa kondisi kedemikianan dari segala sesuatu termasuk Buddhata (hakekat sejati Kebuddhaan) itu diluar kata-kata dan logika konvensional. Seekor ikan yang belum pernah melihat daratan, jelas tak akan dapat mengenal benar-benar apa itu daratan, walaupun bermilyar2 kata dipergunakan untuk menjelaskannya. Umpamanya ada guru geografi ikan yang berkata, "daratan itu adalah tempat yang tidak ada air.. tidak seperti tempat hidup kita...bla...bla..bla." Apakah keterangan si guru ikan itu dapat menjelaskan daratan dengan sempurna? Begitu juga manusia yang belum mencapai Kebuddhaan. Bisakah kita mengerti kondisi Kebuddhaan dengan sungguh2?

Mengenai perdebatan, mudah-mudahan mas Tan jangan menganggap ini sebagai perdebatan, anggaplah ini sebagai orang yang kurang mengerti, yang dengan kritis bertanya kepada orang yang lebih mengerti.

TAN:

Bagaimana mungkin kita dapat mengerti? Kita ini laksana ikan yang belum pernah lihat daratan. Bagaimana mungkin dapat mengerti daratan. Saya adalah ikan yang sangat amat bodoh. Bagaimana mungkin saya dapat membuat Anda mengerti? Saya justru sedang berjuang agar dapat "melihat" daratan itu sendiri. Perjalanan saya masih panjang.

Metta,

Tan

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 13 April 2009, 12:17:10 AM

Baik, saya mengutip Vacchagota Sutta karena hendak memperlihatkan bahwa tidak ada pertentangan antara T dan M dari segi ini. Saya melihat bahwa keduanya sebenarnya mempunyai intisari yang sama (layaknya air, es, dan uap air dengan H2O sebagai rumus molekulnya - lihat pembahasan di atas). Baik kalau begitu kita kesampingkan Vacchagota Sutta, kita pakai saja filosofi Madhyamika milik Nagarjuna. Saya kira telah jelas. Tetralemma menggambarkan bahwa kondisi kedemikianan dari segala sesuatu termasuk Buddhata (hakekat sejati Kebuddhaan) itu diluar kata-kata dan logika konvensional. Seekor ikan yang belum pernah melihat daratan, jelas tak akan dapat mengenal benar-benar apa itu daratan, walaupun bermilyar2 kata dipergunakan untuk menjelaskannya. Umpamanya ada guru geografi ikan yang berkata, "daratan itu adalah tempat yang tidak ada air.. tidak seperti tempat hidup kita...bla...bla..bla." Apakah keterangan si guru ikan itu dapat menjelaskan daratan dengan sempurna? Begitu juga manusia yang belum mencapai Kebuddhaan. Bisakah kita mengerti kondisi Kebuddhaan dengan sungguh2?

Mengenai perdebatan, mudah-mudahan mas Tan jangan menganggap ini sebagai perdebatan, anggaplah ini sebagai orang yang kurang mengerti, yang dengan kritis bertanya kepada orang yang lebih mengerti.

TAN:

Bagaimana mungkin kita dapat mengerti? Kita ini laksana ikan yang belum pernah lihat daratan. Bagaimana mungkin dapat mengerti daratan. Saya adalah ikan yang sangat amat bodoh. Bagaimana mungkin saya dapat membuat Anda mengerti? Saya justru sedang berjuang agar dapat "melihat" daratan itu sendiri. Perjalanan saya masih panjang.

Metta,

Tan



Yang saya sukai dari ajaran BUDDHA (khususnya aliran T), bahwa tidak terdapat pernyataan-pernyataan metafisis yang tidak dapat dibayangkan ataupun "diharamkan" untuk dapat dimengerti dengan pameo pameo bahwa TIDAK DAPAT "DIKATAKAN" SEBELUM MEREALISASIKAN-NYA... PERTANYAAN LANJUTAN, darimana kita tahu SEORANG INDIVIDU MEREALISASIKAN KE-BUDDHA-AN (walaupun mengikuti ajaran M) kalau BUKAN DARI PENGAKUAN DIRI SENDIRI. DAN JIKA ADA YANG MENGAKU, APAKAH BISA DI-PERCAYA ?

Jadi menurut saya, ketika ada yang menyatakan bahwa kondisi nibbana itu tidak dapat diceritakan ? menurut saya, SALAH BESAR, dengan jelas sekali bahwa kondisi nibbana adalah kondisi yang aLOBHA, aMOHA dan aDOSA. Sudah tahu kriteria nibbana, sekarang tinggal pelaksanaannya... dan pelaksanaannya yang sulit...
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 13 April 2009, 12:19:46 AM
kalau tidak dapat dibedakan... darimana muncul-nya istilah proton, neutron dan elektron ? ? ?

TAN:

Sebenarnya ini ada di buku2 tentang ilmu kimia. Kalau ingin tahu lebih lanjut silakan cari referensi tentang kimia. Sebenarnya ini tidak perlu dibahas terlalu panjang lebar di sini. Semua sudah ada di buku kimia. Tetapi akan saya ulas secara singkat mumpung lagi liburan. Sehabis ini, saya mungkin tidak ada banyak waktu untuk menanggapinya. Coba kita runut ke belakang. Air, es, dan uap air sama-sama memiliki rumus molekul H2O. Jadi apa yang nampak berbeda itu sebenarnya terdiri dari suatu elemen yang sama. Terus kalau kita tarik kembali, H2O terdiri dari atom Hidrogen dan Oksigen. Kedua atom itu memang nampak beda, yakni dari segi jumlah elektron, netron, dan protonnya. Ketiga partikel elementer itu memang beda, terutama dari segi muatannya. Namun kalau kita tarik lagi semakin dalam, elektron yang dimiliki atom O dan H itu sama. Jadi tidak ada elektron yang khas O, H, atau unsur lain. Semua elektron, netron, dan proton pada masing-masing unsur adalah SAMA. Hanya saja, terjadi 114 unsur yang telah dikenal karena setiap unsur itu memiliki jumlah masing-masing yang berbeda. Semoga penjelasan ini cukup dapat memberikan pengertian lebih mendalam.

Metta,

Tan



walau air dan es mempunyai manifestasi yg berbeda.. tetap mempunyai sifat dasar H2O

TAN:

Sifat dasarnya adalah atom2 yang sama2 terdiri dari elektron, proton, dan netron. Dalam tataran atomik, ketiganya tidak dapat dibedakan satu sama lain.

Metta,

Tan

saya juga tahu kalau yang membedakan antara satu unsur dengan unsur lain adalah konfigurasi elektron, protn dan neutron yang berbeda beda, walaupun elektron pada tiap unsur adalah sama, hanya jumlah dan konfigurasi-nya yang berbeda beda. Soalnya sdr.Tan menggunakan perumpamaan yang menurut saya salah, ketika menyatakan bahwa elektron, proton dan neutron itu tidak dapat dibedakan satu sama lain (sama)... yang pada kenyataannya PROTON (+), ELEKTRON (-) dan NEUTRON (netral) itu TIDAK SAMA.

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 13 April 2009, 08:55:06 AM
lha... yang berbeda secara prinsipil itu manifestasi dari buddhadharma ?

TAN:

Buddhadharma dapat memanifestasikan dirinya dalam berbagai wujud. Banyak orang tertipu karena melihat wujud-wujud itu dan menganggapnya berbeda. Es padat dan dingin, air cair dan bisa dingin ataupun panas, tetapi intinya tetap H2O. Padat adalah secara prinsipil berbeda dengan cair. Namun apakah atom H dan O yang menyusun es dan air berbeda? Janga biarkan wujud menipu kita. Sutra Vajracchedika mengatakan bahwa barangsiapa mencari Buddha dalam wujud ia telah tertipu. Semoga ini dapat membantu.

Salam metta,

Tan

mr Tan, coollllll....

saya setuju dengan pernyataan "Sutra Vajracchedika mengatakan bahwa barangsiapa mencari Buddha dalam wujud ia telah tertipu"

plus 1 ya.... mr Tan
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: truth lover on 13 April 2009, 10:50:23 AM
Apakah bedanya Buddha Amitabha dengan Brahma dan alam Dewa? Brahma dan dewa juga tidak memiliki daging dan tulang seperti manusia? Apakah mereka mati? tentu tidak, mereka masih hidup di alamnya, apakah mereka hidup? nyatanya yang kita lihat mereka telah mati.

TAN:

Menurut Anda sama atau beda? Buddha Amitabha seorang Buddha yang telah lepas dari lingkaran kelahiran dan kematian. Apakah Brahma sudah lepas dari lingkaran kelahiran dan kematian? Definisi "hidup" antara Brahma, manusia, dan Buddha Amitabha serta Buddha-Buddha kosmis lainnya sama? Saya kira hal ini tidak perlu dibahas lebih jauh. Karena ini adalah sub bagian Mahayana dari dhammacita.org, maka saya asumsikan bahwa sebagian besar telah mengerti filosofi Mahayana. Jadi saya kira tidak perlu dibahas lebih lanjut secara panjang lebar.

Begini mas Tan, terus terang pengetahuan saya mengenai Mahayana minim sekali, sebelumnya saya pernah diskusi dengan member-member yang lain, mereka mengatakan bahwa seorang Buddha bisa kembali ke dunia sebagai pangeran Siddharta, bila benar yang dikatakan demikian, maka seorang Buddha tentu belum terbebas dari kelahiran dan kematian.

Ini sama halnya dengan dewa dan Brahma, yang menganggap para dewa sekali waktu turun menjelma kembali untuk menolong umat manusia.

Quote
Jadi Dewa dan Brahma juga cocok dengan penggambaran tetralemma yang mas Tan maksudkan: 1. tidak mati dan tidak hidup, 2. hidup dan mati sekaligus, 3. tidak tidak mati, 4. tidak tidak hidup.

TAN:

Saya kurang mengerti mengapa Brahma dapat Anda pandang sesuai bagi tetralemma itu? Silakan uraikan secara lebih jelas.

1. Dewa dan Brahma tidak mati, karena ia hidup di alamnya.
2. Mereka tidak hidup karena ia telah mati di dunia ini dan terlahir kembali disana.
3. Mereka tidak tidak mati. Mereka bukan tidak mati karena mereka tak bisa dikatakan tak mati
4. Mereka tidak tidak hidup. Mereka bukan tak hidup karena mereka tak bisa dikatakan tidak hidup.

Jadi Dewa dan Brahma juga pas untuk deskripsi ini. Dan ini selaras dengan pemikiran bahwa Buddha bisa terlahir kembali ke dunia sebagai pangeran Sidharta (ada member lain yang mengatakan bahwa pangeran Siddharta pada hakekatnya sudah Buddha ketika terlahir sebagai anak raja Suddhodana).

Quote
Mengenai Vacchagota sutta, apakah itu penjelasan menurut T atau dituturkan oleh Nagarjuna? mas Tan memiliki pengetahuan yang luas, bisakah memberikan penjelasan hanya menurut sutra-sutra M? Sesuai dengan pernyataan mas Tan sendiri yang mengatakan dalam reply no 393. kalau kita membahas M jangan memakai filosofi T kan? Selain itu saya ingin tahu sudut pandang M. Kepada siapa lagi saya harus bertanya selain kepada mas Tan?

TAN:

Baik, saya mengutip Vacchagota Sutta karena hendak memperlihatkan bahwa tidak ada pertentangan antara T dan M dari segi ini. Saya melihat bahwa keduanya sebenarnya mempunyai intisari yang sama (layaknya air, es, dan uap air dengan H2O sebagai rumus molekulnya - lihat pembahasan di atas). Baik kalau begitu kita kesampingkan Vacchagota Sutta, kita pakai saja filosofi Madhyamika milik Nagarjuna. Saya kira telah jelas. Tetralemma menggambarkan bahwa kondisi kedemikianan dari segala sesuatu termasuk Buddhata (hakekat sejati Kebuddhaan) itu diluar kata-kata dan logika konvensional. Seekor ikan yang belum pernah melihat daratan, jelas tak akan dapat mengenal benar-benar apa itu daratan, walaupun bermilyar2 kata dipergunakan untuk menjelaskannya. Umpamanya ada guru geografi ikan yang berkata, "daratan itu adalah tempat yang tidak ada air.. tidak seperti tempat hidup kita...bla...bla..bla." Apakah keterangan si guru ikan itu dapat menjelaskan daratan dengan sempurna? Begitu juga manusia yang belum mencapai Kebuddhaan. Bisakah kita mengerti kondisi Kebuddhaan dengan sungguh2?

Mengapa hakekat sejati keBuddhaan tak bisa diterangkan oleh kata-kata dan logika konvensional? bukankah kita bisa memakai analogi untuk mengungkapkan hakekat sejati keBuddhaan? Saya rasa hakekat sejati keBuddhaan masih bisa diterangkan, yang tak bisa diterangkan "taste" nya itu, karena kita harus mencapai/mengalami sendiri (seperti yang mas Tan katakan sendiri, dalam perumpamaan ikan yang mencapai daratan).
Apakah tak ada keterangan di sutra-sutra M mengenai pencapaian keBuddhaan? Bagaimana keadaannya?

Quote
Mengenai perdebatan, mudah-mudahan mas Tan jangan menganggap ini sebagai perdebatan, anggaplah ini sebagai orang yang kurang mengerti, yang dengan kritis bertanya kepada orang yang lebih mengerti.

TAN:

Bagaimana mungkin kita dapat mengerti? Kita ini laksana ikan yang belum pernah lihat daratan. Bagaimana mungkin dapat mengerti daratan. Saya adalah ikan yang sangat amat bodoh. Bagaimana mungkin saya dapat membuat Anda mengerti? Saya justru sedang berjuang agar dapat "melihat" daratan itu sendiri. Perjalanan saya masih panjang.

Metta,

Tan

Saya tak pernah mengatakan bahwa mas Tan mengerti atau menyelami Dharma, yang saya maksudkan mas Tan lebih mengerti daripada saya mengenai konsep M.

Metta,
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: sobat-dharma on 13 April 2009, 08:31:07 PM
Yang saya sukai dari ajaran BUDDHA (khususnya aliran T), bahwa tidak terdapat pernyataan-pernyataan metafisis yang tidak dapat dibayangkan ataupun "diharamkan" untuk dapat dimengerti dengan pameo pameo bahwa TIDAK DAPAT "DIKATAKAN" SEBELUM MEREALISASIKAN-NYA... PERTANYAAN LANJUTAN, darimana kita tahu SEORANG INDIVIDU MEREALISASIKAN KE-BUDDHA-AN (walaupun mengikuti ajaran M) kalau BUKAN DARI PENGAKUAN DIRI SENDIRI. DAN JIKA ADA YANG MENGAKU, APAKAH BISA DI-PERCAYA ?

Jadi menurut saya, ketika ada yang menyatakan bahwa kondisi nibbana itu tidak dapat diceritakan ? menurut saya, SALAH BESAR, dengan jelas sekali bahwa kondisi nibbana adalah kondisi yang aLOBHA, aMOHA dan aDOSA. Sudah tahu kriteria nibbana, sekarang tinggal pelaksanaannya... dan pelaksanaannya yang sulit...

Tidak ada yang di-"haram"-kan atau di-"halal"-kan di sini. Semuanya boleh diceritakan, tapi hanya saja hasilnya sia-sia belaka jika tidak mencapainya. Gambar makanan tidak akan membuat orang kenyang...

Kadangkala penggambaran tentang apa itu nibbana justru dapat menghambat seseorang mencapainya, karena tidak mungkin kan waktu kita bermeditasi terus menerus bertanya-tanya "apa ini yang di maksud nibbana yang saya tahu" "apa ini yang namanya jhana 1, 2,3 dst?" "apa ini yang namanya nimitta?" Bahkan dalam Therevada pun selalu diajarkan bahwa bermeditasi berarti melepaskan. Melepaskan semua beban pikiran dan pengetahuan yang kita miliki... termasuk pengetahuan tentang apa itu nibbana.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Tan on 13 April 2009, 10:25:51 PM
Yang saya sukai dari ajaran BUDDHA (khususnya aliran T), bahwa tidak terdapat pernyataan-pernyataan metafisis yang tidak dapat dibayangkan ataupun "diharamkan" untuk dapat dimengerti dengan pameo pameo bahwa TIDAK DAPAT "DIKATAKAN" SEBELUM MEREALISASIKAN-NYA... PERTANYAAN LANJUTAN, darimana kita tahu SEORANG INDIVIDU MEREALISASIKAN KE-BUDDHA-AN (walaupun mengikuti ajaran M) kalau BUKAN DARI PENGAKUAN DIRI SENDIRI. DAN JIKA ADA YANG MENGAKU, APAKAH BISA DI-PERCAYA ?

TAN:

Seorang sah-sah saja mengatakan dirinya telah mencapai Kebuddhaan. Tetapi kita bisa menilai dari tindak tanduk pribadi yang mengaku dirinya telah mencapai Kebuddhaan. Namun hal ini bukan sesuatu yang harus dipercaya atau diimani dalam agama lain. Anda tidak percaya bahwa Buddha Sakyamuni telah mencapai Kebuddhaan juga tidak masalah. Buddhisme berpusat pada Dharmanya. Saya sendiri tidak peduli apakah Buddha Sakyamuni telah merealisasi Kebuddhaan atau belum. Yang saya tahu, Dharma sungguh baik dan bermanfaat. Itu saja.
Suatu fenomena sebenarnya "bisa" dikatakan sebelum seseorang merealisasinya. Tetapi masalahnya apa yang dikatakan atau DIDEFINISIKAN DENGAN KATA-KATA itu tidaklah mewakili "kesejatian" fenomena tersebut. Bisakah Anda menjelaskan rasa mangga pada orang yang belum pernah makan mangga, sehingga ia sungguh-sungguh mengerti rasa mangga? Mendefinisikan rasa mangga dengan kata-kata adalah sah-sah saja. Tetapi realita yang dituangkan dengan kata-kata itu tidak mewakili hakikat sejati rasa mangga. Hal ini telah diulas dengan gamblang dalam Sutra Samdhinirmocana.


Jadi menurut saya, ketika ada yang menyatakan bahwa kondisi nibbana itu tidak dapat diceritakan ? menurut saya, SALAH BESAR, dengan jelas sekali bahwa kondisi nibbana adalah kondisi yang aLOBHA, aMOHA dan aDOSA. Sudah tahu kriteria nibbana, sekarang tinggal pelaksanaannya... dan pelaksanaannya yang sulit...

TAN:

Apa yang Anda katakan itu ada diulas dalam buku karya Kalupahana tentang filsafat Buddhis. Memang dalam kanon Pali, nibanna didefinisikan secara negatif, yakni dengan menggunakan kalimat ingkaran (awalan "a" yang artinya "tidak"); seprti alobha, amoha, adosa, dan lain-lain. Tetapi masalah apakah sederet definisi seperti alobha, amoha, adosa, dan lain-lain itu telah mewakili nibanna? Menurut saya nibanna yang sejati tidak dapat didefinisikan dengan kata2 secara sempurna. Kata-kata adalah kata-kata dan nibanna adalah nibanna.

Metta,

Tan
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Tan on 13 April 2009, 10:34:51 PM
Saya kutipkan lagi:

Dalam tataran atomik, ketiganya tidak dapat dibedakan satu sama lain.

ANDA:

saya juga tahu kalau yang membedakan antara satu unsur dengan unsur lain adalah konfigurasi elektron, protn dan neutron yang berbeda beda, walaupun elektron pada tiap unsur adalah sama, hanya jumlah dan konfigurasi-nya yang berbeda beda. Soalnya sdr.Tan menggunakan perumpamaan yang menurut saya salah, ketika menyatakan bahwa elektron, proton dan neutron itu tidak dapat dibedakan satu sama lain (sama)... yang pada kenyataannya PROTON (+), ELEKTRON (-) dan NEUTRON (netral) itu TIDAK SAMA.

TAN:

Anda keliru memahami maksud saya: "Dalam tataran atomik, ketiganya tidak dapat dibedakan satu sama lain." Yang saya maksud adalah dalam tataran atomik atau molekular, molekul H2O pada es, air, dan uap air adalah 100 persen sama. Selanjutnya elektron pada atom H baik air, es, ataupun uap air adalah sama; demikian pula proton dan netronnya. Jadi tidak ada misalnya elektron pada atom H atau O milik es ada tulisannya ES. Tidak pula elektron pada atom H atau O milik air ada tulisannya AIR. Tidak pula alektron pada atom H atau O milik uap air ada tulisannya UAP. Elektron pada atom H atau O pada air, uap air, atau gas adalah sama. Kendati demikian, saya tidak pernah menyatakan elektron = proton = netron. Tidak pernah pula saya menyatakan bahwa air = es = uap air. Meskipun demikian, walau wujudnya berbeda ketiganya mungkin merupakan manifestasi sesuatu yang sama. Anda menekankan perbedaan proton, netron, dan elektron; tetapi kalau dibelah lagi proton, netron, dan elektron sama-sama terbentuk dari ENERGI. Dengan demikian, semua adalah manifestasi energi, seperti yang dituangkan dalam rumus E= mc2 oleh Albert Einstein. Semoga ini dapat memperjelas diskusi.

Metta,

Tan
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Tan on 13 April 2009, 10:57:22 PM
ANDA:

Begini mas Tan, terus terang pengetahuan saya mengenai Mahayana minim sekali, sebelumnya saya pernah diskusi dengan member-member yang lain, mereka mengatakan bahwa seorang Buddha bisa kembali ke dunia sebagai pangeran Siddharta, bila benar yang dikatakan demikian, maka seorang Buddha tentu belum terbebas dari kelahiran dan kematian.

Ini sama halnya dengan dewa dan Brahma, yang menganggap para dewa sekali waktu turun menjelma kembali untuk menolong umat manusia.


TAN:

Oke. Perbedaan ini terjadi karena T tidak menerima konsep trikaya atau Tiga Tubuh Buddha. Oleh karena itu, tentu saja diskusi tidak akan nyambung. Penganut T tidak akan bisa menerima bahwa seorang Buddha dapat memanifestasikan dirinya lagi di dunia ini (seperti yang diulas dalam Sutra Saddharmapundarika). Sebagai penganut M, saya menerima konsep Trikaya jadi saya juga menerima pandangan bahwa seorang Buddha dapat "menjelma" lagi di dunia. Hanya saja "penjelmaan" seorang Buddha ke dunia ini berbeda dengan para makhluk lainnya. Yang tampil "menjelma" di dunia ini adalah nirmanakaya atau "tubuh jelmaan" seorang Buddha. Namun apakah Tubuh Dharma (Dharmakaya) berpindah? Jawabnya tidak! Ibaratnya adalah bayangan matahari di danau atau sungai. Kita melihat bayangan matahari di sungai, tetapi apakah matahari benar-benar masuk ke sungai. Jawabannya tidak. Ini adalah sekedar analogi saja. Agar tidak salah paham, saya perlu menyatakan bahwa saya tidak hendak menyamakan Buddha dengan matahari.
Nah, selama Anda tidak menerima konsep trikaya yang khas Mahayana, tentu saja Anda tidak akan memahami hal itu. Diskusi lebih lanjut tidak dapat dilakukan dan akan menemui kebuntuan. Banyak orang memperdebatkan benar dan salahnya trikaya. Tetapi masalahnya ikan-ikan yang sama-sama belum pernah melihat daratan dapat memperdebatkan daratan? Saya malas terlibat dalam diskusi semacam itu.

ANDA:

1. Dewa dan Brahma tidak mati, karena ia hidup di alamnya.
2. Mereka tidak hidup karena ia telah mati di dunia ini dan terlahir kembali disana.
3. Mereka tidak tidak mati. Mereka bukan tidak mati karena mereka tak bisa dikatakan tak mati
4. Mereka tidak tidak hidup. Mereka bukan tak hidup karena mereka tak bisa dikatakan tidak hidup.

Jadi Dewa dan Brahma juga pas untuk deskripsi ini. Dan ini selaras dengan pemikiran bahwa Buddha bisa terlahir kembali ke dunia sebagai pangeran Sidharta (ada member lain yang mengatakan bahwa pangeran Siddharta pada hakekatnya sudah Buddha ketika terlahir sebagai anak raja Suddhodana).


TAN:

Kalau memang dapat diterapkan baik pada dewa Brahma ataupun Buddha Amitabha masalahnya kenapa? Dua hal bisa pas dengan definisi2 yang sama, tetapi tidak berarti bahwa keduanya identik!
Contoh: makhluk dengan empat alat gerak, mempunyai dua mata yang di depan, mempunyai tulang belakang, berkembang biak secara vivipar (melahirkan anak).
Nah, manusia dan monyet sama-sama pas dengan definisi di atas. Apakah manusia = monyet? Jadi argumen Anda di atas, tetap tidak dapat dipergunakan untuk mendukung pandangan bahwa Amitabha = Brahma.
Kedua, Brahma atau dewa mungkin dapat menjelma di dunia, tetapi pertanyaannya ketika suatu oknum dewa terlahir di alam manusia, apakah dia masih ada lagi di surganya?
Ini beda dengan "menjelma"nya seorang Buddha. Karena adanya konsep trikaya (Dharmakaya, Nirmanakaya, dan Sambhogakaya), Tubuh Dharma (Dharmakaya) tidak mengalami perpindahan sama sekali. Oleh karena itu, Beliau disebut Tathagata (Rulai). Jadi jelas saya tidak melihat adanya kesamaan antara Brahma dan konsep Buddhologi menurut paham Mahayana.
Saya akan berikan analogi lagi. Seorang bebas (dalam artian tidak sedang menjalani hukuman pidana pemenjaraan) boleh mengunjungi lembaga kemasyarakatan atau penjara, contohnya rohaniwan yang mengadakan pelayanan di penjara. Mereka bebas datang dan pergi. Begitu pula seorang Buddha yang telah bebas. Ruang dan waktu bukan lagi hambatan bagi mereka. Mengatakan bahwa seorang Buddha tidak dapat "menjelmakan" diri lagi jelas membatasi hakekat Kebuddhaan itu sendiri. Seorang Buddha dapat terjun ke selokan atau comberan tanpa mengotori diriNya lagi. Tetapi penjelmaan seorang Buddha itu beda dengan para makhluk samsara. Ini adalah konsep Mahayana yang tidak terdapat dalam T. Saya tidak memaksa penganut T menerima hal ini. Marilah kita praktikkan jalan Dharma kita masing-masing dengan baik.

ANDA:

Mengapa hakekat sejati keBuddhaan tak bisa diterangkan oleh kata-kata dan logika konvensional? bukankah kita bisa memakai analogi untuk mengungkapkan hakekat sejati keBuddhaan? Saya rasa hakekat sejati keBuddhaan masih bisa diterangkan, yang tak bisa diterangkan "taste" nya itu, karena kita harus mencapai/mengalami sendiri (seperti yang mas Tan katakan sendiri, dalam perumpamaan ikan yang mencapai daratan).
Apakah tak ada keterangan di sutra-sutra M mengenai pencapaian keBuddhaan? Bagaimana keadaannya?

TAN:

Penggunaan analogi sah-sah saja. Tetapi yang terpenting adalah penyelaman terhadap "taste" nibanna yang sejati. Bagaimana kita dapat menyelami "taste" nibanna yang sejati? Apakah dengan berkutat pada definisi, logika konvensional, buku-buku, studi pustaka, atau perdebatan tanpa akhir?

ANDA:

Saya tak pernah mengatakan bahwa mas Tan mengerti atau menyelami Dharma, yang saya maksudkan mas Tan lebih mengerti daripada saya mengenai konsep M.

TAN:

Tidak juga. Saya masih sangat dangkal pengetahuannya. Masih kalah jauh dengan yang lain. Saya tidak ada apa2nya dan masih belajar. Dalam Buddhadharma saya masih seperti anak kecil yang sok tahu. Mohon maaf kalau saya nampak terkesan sok tahu. Mohon Anda sudi memaafkan anak kecil yang sok tahu ini.

NB:

Mohon maaf kalau bahasanya agak acak2an. Warnetnya mau tutup.

Metta,

Tan





Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Tan on 13 April 2009, 11:04:02 PM
Yang saya sukai dari ajaran BUDDHA (khususnya aliran T), bahwa tidak terdapat pernyataan-pernyataan metafisis yang tidak dapat dibayangkan ataupun "diharamkan" untuk dapat dimengerti dengan pameo pameo bahwa TIDAK DAPAT "DIKATAKAN" SEBELUM MEREALISASIKAN-NYA... PERTANYAAN LANJUTAN, darimana kita tahu SEORANG INDIVIDU MEREALISASIKAN KE-BUDDHA-AN (walaupun mengikuti ajaran M) kalau BUKAN DARI PENGAKUAN DIRI SENDIRI. DAN JIKA ADA YANG MENGAKU, APAKAH BISA DI-PERCAYA ?

TAN:

Seorang sah-sah saja mengatakan dirinya telah mencapai Kebuddhaan. Tetapi kita bisa menilai dari tindak tanduk pribadi yang mengaku dirinya telah mencapai Kebuddhaan. Namun hal ini bukan sesuatu yang harus dipercaya atau diimani seperti dalam agama lain. Kalau tidak percaya lantas masuk neraka. Anda tidak percaya bahwa Buddha Sakyamuni telah mencapai Kebuddhaan juga tidak masalah. Buddhisme berpusat pada Dharmanya. Saya sendiri tidak peduli apakah Buddha Sakyamuni telah merealisasi Kebuddhaan atau belum. Yang saya tahu, Dharma sungguh baik dan bermanfaat. Itu saja.
Suatu fenomena sebenarnya "bisa" dikatakan sebelum seseorang merealisasinya. Tetapi masalahnya apa yang dikatakan atau DIDEFINISIKAN DENGAN KATA-KATA itu tidaklah mewakili "kesejatian" fenomena tersebut. Bisakah Anda menjelaskan rasa mangga pada orang yang belum pernah makan mangga, sehingga ia sungguh-sungguh mengerti rasa mangga? Mendefinisikan rasa mangga dengan kata-kata adalah sah-sah saja. Tetapi realita yang dituangkan dengan kata-kata itu tidak mewakili hakikat sejati rasa mangga. Hal ini telah diulas dengan gamblang dalam Sutra Samdhinirmocana.


Jadi menurut saya, ketika ada yang menyatakan bahwa kondisi nibbana itu tidak dapat diceritakan ? menurut saya, SALAH BESAR, dengan jelas sekali bahwa kondisi nibbana adalah kondisi yang aLOBHA, aMOHA dan aDOSA. Sudah tahu kriteria nibbana, sekarang tinggal pelaksanaannya... dan pelaksanaannya yang sulit...

TAN:

Apa yang Anda katakan itu ada diulas dalam buku karya Kalupahana tentang filsafat Buddhis. Memang dalam kanon Pali, nibanna didefinisikan secara negatif, yakni dengan menggunakan kalimat ingkaran (awalan "a" yang artinya "tidak"); seprti alobha, amoha, adosa, dan lain-lain. Tetapi masalah apakah sederet definisi seperti alobha, amoha, adosa, dan lain-lain itu telah mewakili nibanna? Menurut saya nibanna yang sejati tidak dapat didefinisikan dengan kata2 secara sempurna. Kata-kata adalah kata-kata dan nibanna adalah nibanna.

Metta,

Tan
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: truth lover on 14 April 2009, 09:32:03 AM
TAN:

Oke. Perbedaan ini terjadi karena T tidak menerima konsep trikaya atau Tiga Tubuh Buddha. Oleh karena itu, tentu saja diskusi tidak akan nyambung. Penganut T tidak akan bisa menerima bahwa seorang Buddha dapat memanifestasikan dirinya lagi di dunia ini (seperti yang diulas dalam Sutra Saddharmapundarika). Sebagai penganut M, saya menerima konsep Trikaya jadi saya juga menerima pandangan bahwa seorang Buddha dapat "menjelma" lagi di dunia. Hanya saja "penjelmaan" seorang Buddha ke dunia ini berbeda dengan para makhluk lainnya. Yang tampil "menjelma" di dunia ini adalah nirmanakaya atau "tubuh jelmaan" seorang Buddha. Namun apakah Tubuh Dharma (Dharmakaya) berpindah? Jawabnya tidak! Ibaratnya adalah bayangan matahari di danau atau sungai. Kita melihat bayangan matahari di sungai, tetapi apakah matahari benar-benar masuk ke sungai. Jawabannya tidak. Ini adalah sekedar analogi saja. Agar tidak salah paham, saya perlu menyatakan bahwa saya tidak hendak menyamakan Buddha dengan matahari.
Nah, selama Anda tidak menerima konsep trikaya yang khas Mahayana, tentu saja Anda tidak akan memahami hal itu. Diskusi lebih lanjut tidak dapat dilakukan dan akan menemui kebuntuan. Banyak orang memperdebatkan benar dan salahnya trikaya. Tetapi masalahnya ikan-ikan yang sama-sama belum pernah melihat daratan dapat memperdebatkan daratan? Saya malas terlibat dalam diskusi semacam itu.

TL:

Mas Tan, coba perhatikan postingan saya, apakah saya mempertentangkan M dengan T? malah kelihatannya mas Tan yang tidak konsisten, selalu mempertentangkan M dengan T, padahal mas Tan sendiri menyetujui agar jangan melihat M dari sudut pandang T. Ini kedua kali mas Tan membandingkan M dengan T.

Dewa dan Brahma konsep M mengenai keBuddhaan tidak saya bandingkan dengan T, tetapi menurut saya mirip dengan dewa-dewa Hindu yang sekali waktu menjelma menjadi manusia, atau  yang turun ke Bumi untuk mnyelamatkan domba-domba yang tersesat.

TAN:

Kalau memang dapat diterapkan baik pada dewa Brahma ataupun Buddha Amitabha masalahnya kenapa? Dua hal bisa pas dengan definisi2 yang sama, tetapi tidak berarti bahwa keduanya identik!
Contoh: makhluk dengan empat alat gerak, mempunyai dua mata yang di depan, mempunyai tulang belakang, berkembang biak secara vivipar (melahirkan anak).
Nah, manusia dan monyet sama-sama pas dengan definisi di atas. Apakah manusia = monyet? Jadi argumen Anda di atas, tetap tidak dapat dipergunakan untuk mendukung pandangan bahwa Amitabha = Brahma.
Kedua, Brahma atau dewa mungkin dapat menjelma di dunia, tetapi pertanyaannya ketika suatu oknum dewa terlahir di alam manusia, apakah dia masih ada lagi di surganya?
Ini beda dengan "menjelma"nya seorang Buddha. Karena adanya konsep trikaya (Dharmakaya, Nirmanakaya, dan Sambhogakaya), Tubuh Dharma (Dharmakaya) tidak mengalami perpindahan sama sekali. Oleh karena itu, Beliau disebut Tathagata (Rulai). Jadi jelas saya tidak melihat adanya kesamaan antara Brahma dan konsep Buddhologi menurut paham Mahayana.
Saya akan berikan analogi lagi. Seorang bebas (dalam artian tidak sedang menjalani hukuman pidana pemenjaraan) boleh mengunjungi lembaga kemasyarakatan atau penjara, contohnya rohaniwan yang mengadakan pelayanan di penjara. Mereka bebas datang dan pergi. Begitu pula seorang Buddha yang telah bebas. Ruang dan waktu bukan lagi hambatan bagi mereka. Mengatakan bahwa seorang Buddha tidak dapat "menjelmakan" diri lagi jelas membatasi hakekat Kebuddhaan itu sendiri. Seorang Buddha dapat terjun ke selokan atau comberan tanpa mengotori diriNya lagi. Tetapi penjelmaan seorang Buddha itu beda dengan para makhluk samsara. Ini adalah konsep Mahayana yang tidak terdapat dalam T. Saya tidak memaksa penganut T menerima hal ini. Marilah kita praktikkan jalan Dharma kita masing-masing dengan baik.

TL:

Manusia beda dengan monyet, ini benar. Manusia ada kemiripan dengan monyet, ini juga benar. Apakah kita kesal atau menerima persamaan kita dengan monyet? Ini terserah pribadi masing-masing individu. Kita marah atau menerima toh realitas yang sebenarnya tak berubah.

Mengenai konsep Trikaya khususnya Dharmakaya? Disini bukan saya menerima atau tidak menerima, apakah saya harus menerima sesuatu karena tertulis di kitab suci atau karena petinggi agamanya yang mengatakan demikian? Oleh karena itu sebaiknya mas Tan yang menjelaskan, bukankah sudah saya katakan bahwa pengetahuan saya sangat minim?
Mengerti lebih dahulu maka penerimaan menjadi lebih mudah kan?

Mengenai Buddha yang menjelma kembali, itu bukan saya yang mengatakan, itu berdasarkan kitab suci M kan? (tolong dikoreksi bila saya salah) Saya hanya membandingkan penjelmaan ini dengan kitab suci Hindu dan juga Perjanjian Baru kr****n, yaitu penjelmaan untuk menebus dosa umat manusia. (tolong jangan diperlebar, batasi hanya pada penjelmaannya).

TAN:

Penggunaan analogi sah-sah saja. Tetapi yang terpenting adalah penyelaman terhadap "taste" nibanna yang sejati. Bagaimana kita dapat menyelami "taste" nibanna yang sejati? Apakah dengan berkutat pada definisi, logika konvensional, buku-buku, studi pustaka, atau perdebatan tanpa akhir?

CL:

Mas Tan straight to the point saja: adakah keterangan mengenai kebuddhaan dan sifat Nirvana pada buku-buku M? bila ada dimana dan bagaimana? Supaya diskusi kita tidak mengambang tanpa arah.

Terima kasih dan saya sangat menghargai keterangan mas Tan.

Metta.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Tan on 14 April 2009, 05:25:45 PM
TL:

Mas Tan, coba perhatikan postingan saya, apakah saya mempertentangkan M dengan T? malah kelihatannya mas Tan yang tidak konsisten, selalu mempertentangkan M dengan T, padahal mas Tan sendiri menyetujui agar jangan melihat M dari sudut pandang T. Ini kedua kali mas Tan membandingkan M dengan T.

Dewa dan Brahma konsep M mengenai keBuddhaan tidak saya bandingkan dengan T, tetapi menurut saya mirip dengan dewa-dewa Hindu yang sekali waktu menjelma menjadi manusia, atau  yang turun ke Bumi untuk mnyelamatkan domba-domba yang tersesat.

TAN:

Maaf, bukan mempertentangkan antara T dan M. Saya hanya menanggapi berdasarkan apa yang Anda tanyakan. Kalau Anda menganggap saya mempertentangkan T dan M, maka kemungkina Anda salah tafsir terhadap apa yang saya uraikan sebelumnya.
Oke. Kalau mau dianggap mirip antara dewa yang menjelma jadi manusia mungkin memang ada miripnya. Saya pakai kata "mungkin" karena saya tidak banyak tahu bagaimana proses penjelmaaan suatu makhluk adikodrati seperti yang Anda ungkapkan di atas. Anda sendiri mengatakan bahwa segala sesuatu atau persamaan atau perbedaannya, bukan? Hanya saja, "penjelmaan" itu tidak sepenuhnya sama. Kita sepakati saja bahwa memang ada kemiripannya. Tetapi sesuatu yang mirip tidak selamanya identik bukan?

TL:

Manusia beda dengan monyet, ini benar. Manusia ada kemiripan dengan monyet, ini juga benar. Apakah kita kesal atau menerima persamaan kita dengan monyet? Ini terserah pribadi masing-masing individu. Kita marah atau menerima toh realitas yang sebenarnya tak berubah.

Mengenai konsep Trikaya khususnya Dharmakaya? Disini bukan saya menerima atau tidak menerima, apakah saya harus menerima sesuatu karena tertulis di kitab suci atau karena petinggi agamanya yang mengatakan demikian? Oleh karena itu sebaiknya mas Tan yang menjelaskan, bukankah sudah saya katakan bahwa pengetahuan saya sangat minim?
Mengerti lebih dahulu maka penerimaan menjadi lebih mudah kan?

Mengenai Buddha yang menjelma kembali, itu bukan saya yang mengatakan, itu berdasarkan kitab suci M kan? (tolong dikoreksi bila saya salah) Saya hanya membandingkan penjelmaan ini dengan kitab suci Hindu dan juga Perjanjian Baru kr****n, yaitu penjelmaan untuk menebus dosa umat manusia. (tolong jangan diperlebar, batasi hanya pada penjelmaannya).

TAN:

Bukankah saya sudah mengulas panjang lebar tentang "penjelmaan" tadi? Saya sudah menguraikan tentang Tiga Tubuh Buddha, yakni Dharmakaya, Samboghakaya, dan Nirmanakaya. Ini merupakan acuan untuk menjelaskan mengenai "manifestasi" seorang Buddha menurut  Mahayana. Nirmanakaya adalah Tubuh Jelmaan. Sedangkan Samboghakaya secara harafiah berarti Tubuh Pahala. Seorang Buddha dapat memanifestasikan diriNya dalam miliaran nirmanakaya, sementara itu Dharmakayanya tidak perlu berpindah tempat sama sekali, karena Dharmakaya atau Tubuh Dharma itu omnipresence (maha hadir). Mungkin analoginya adalah matahari (selaku Dharmakaya), sinar matahari (Sambhogakaya), dan bayangan matahari di air (Nirmanakaya). Dengan demikian, seorang Buddha dapat "menjelma" di mana saja dan sebagai apa saja, tetapi Dharmakaya-nya tidak bergerak ke manapun. Ini adalah konsep Mahayana. Saya menerima konsep ini karena menurut saya sangat logis dan masuk akal. Mengapa sangat logis dan masuk akal? Marilah kita cermati alasan2 berikut ini:

1.Seorang Buddha telah mengumpulkan paramita yang tak terhitung jumlahnya (silakan lihat kitab Buddhacarita - Fo Shuo Xing Chan, Lalitavistara Sutra, Sutra Damamukanidana - Xianyujing, dll). Seorang Buddha telah menyempurnakan maitri karunanya melalui tingkatan-tingkatan Boddhisattva (diulas di Sutra Dashabhumika - bagian kumpulan Avatamsaka). Dengan demikian, tidak mungkin setelah ia memasuki Nirvana Tanpa Sisa, Beliau berhenti memancarkan energi belas kasihNya terhadap para makhluk. Tidak mungkin energi paramita-paramita itu berhenti begitu saja. Kalau dengan memasuki Nirvana Tanpa Sisa seorang Buddha tidak memiliki dan tidak dapat memancarkan belas kasih lagi, paramita-paramita yang dilakukannya akan menjadi sia-sia; dengan asumsi bahwa maitri karuna yang sejati itu tak terbatas dan tak terkatakan. Maitri karuna sejati tidak dapat mengatakan, "Oke sampai di sini saja saya menolong kamu." Maitri karuna seorang Buddha itu tak dapat berakhir, beda dengan maitri karuna manusia biasa: "Ada uang abang disayang. Tak ada uang abang ditendang."

2.Orang yang telah bebas tentunya dapat pergi ke mana saja, bukan? Karena itu, bagi saya sangat masuk akal pandangan bahwa seorang Buddha masih dapat "pergi" atau "masuk" lagi ke dunia samsara. Hanya saja "masuk" atau "menjelma"nya Beliau ke dalam samsara itu bukan didasari oleh lobha, dosa, dan moha. Kalau dikatakan bahwa seorang Buddha tidak dapat "menjelma," maka nirvana akan menjadi semacam penjara yang "membatasi" seorang yang telah mencapai pencerahan. Banyak orang dari agama lain yang memahami nirvana semacam ini jadi menyalah artikan bahwa nirvana adalah penjara. Padahal nirvana adalah suatu kondisi, yang melambangkan pembebasan sejati.
Analoginya adalah sebagai berikut. Penjahat harus masuk penjara karena kesalahannya. Tetapi orang bebas (dalam artian bebas dari hukum pidana penjara) boleh berkunjung ke penjara dan setelah itu keluar lagi. Ia datang ke penjara bukan karena kesalahannya dan tidak harus ke sana. Ia datang ke penjara untuk menghibur dan menasihati para narapidana.
Tentu saja, sang Buddha masih dapat datang mengunjungi "penjara" kita ini. Hanya saja dengan cara yang berbeda dengan kita-kita "terlahir" di penjara ini. Beliau hadir bukan karena lobha, dosa, mohanya, melainkan karena maitri karuna Beliau. Konsep Trikaya dapat menjelaskan bagaimana "Kebuddhaan" hadir di samsara ini.

3.Nirvana dan samsara adalah identik menurut Mahayana.

Nah, demikian uraian saya mengenai konsep Buddhologi dalam Mahayana? Apakah uraian saya di atas mempertentangkan antara M dan T? Saya tidak merasa demikian. Bahkan saya tidak pakai kata "T" sama sekali. Silakan Anda cek. Tentu saja penjelasan saya masih jauh dari sempurna, karena keterbatasan waktu dan tempat.

CL:

Mas Tan straight to the point saja: adakah keterangan mengenai kebuddhaan dan sifat Nirvana pada buku-buku M? bila ada dimana dan bagaimana? Supaya diskusi kita tidak mengambang tanpa arah.

Terima kasih dan saya sangat menghargai keterangan mas Tan.

TAN:

Tentu ada donk. Banyak sekali. Bisa cek di Sutra Avatamsaka, Lankavatara, Saddharmapundarika, Srimaladevisimhanada, Mahaparinirvana, dll.
Di sastra juga banyak, antara lain: Mahayana Uttara Tantra Sashtra, Cheng Wei Shi Lun (karya Xuanzang), Madhyamakasashtra (karya Nagarjuna), dll.
Anda saya sarankan membaca naskah2 di atas, karena saya tidak ada waktu untuk menguraikannya. Lagipula membaca langsung dari sumbernya lebih baik bukan?

Amiduofo,

Tan





Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 14 April 2009, 05:28:20 PM
ami to fo juga

saudara Tan, emang manttafffff
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Tan on 14 April 2009, 05:33:51 PM
TAMBAHAN:

4. Saya menganggap konsep Buddha atau makhluk adikodrati apapun yang sudi menjelma ke dunia yang sarat penderitaan ini sebagai sesuatu yang baik secara filosofis. Ini mencerminkan ajaran tentang kepedulian. Ini menjadi teladan bagi saya untuk lebih peduli pada orang lain, terutama mereka yang menderita. Jadi terlepas dari apakah benar2 ada Buddha atau makhluk adikodrati yang menjelma, ajaran semacam ini memiliki makna yang baik.

Amiduofo,

Tan
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 14 April 2009, 05:50:44 PM

TAN:

Maaf, bukan mempertentangkan antara T dan M. Saya hanya menanggapi berdasarkan apa yang Anda tanyakan. Kalau Anda menganggap saya mempertentangkan T dan M, maka kemungkina Anda salah tafsir terhadap apa yang saya uraikan sebelumnya.
Oke. Kalau mau dianggap mirip antara dewa yang menjelma jadi manusia mungkin memang ada miripnya. Saya pakai kata "mungkin" karena saya tidak banyak tahu bagaimana proses penjelmaaan suatu makhluk adikodrati seperti yang Anda ungkapkan di atas. Anda sendiri mengatakan bahwa segala sesuatu atau persamaan atau perbedaannya, bukan? Hanya saja, "penjelmaan" itu tidak sepenuhnya sama. Kita sepakati saja bahwa memang ada kemiripannya. Tetapi sesuatu yang mirip tidak selamanya identik bukan?


TAN:

Bukankah saya sudah mengulas panjang lebar tentang "penjelmaan" tadi? Saya sudah menguraikan tentang Tiga Tubuh Buddha, yakni Dharmakaya, Samboghakaya, dan Nirmanakaya. Ini merupakan acuan untuk menjelaskan mengenai "manifestasi" seorang Buddha menurut  Mahayana. Nirmanakaya adalah Tubuh Jelmaan. Sedangkan Samboghakaya secara harafiah berarti Tubuh Pahala. Seorang Buddha dapat memanifestasikan diriNya dalam miliaran nirmanakaya, sementara itu Dharmakayanya tidak perlu berpindah tempat sama sekali, karena Dharmakaya atau Tubuh Dharma itu omnipresence (maha hadir). Mungkin analoginya adalah matahari (selaku Dharmakaya), sinar matahari (Sambhogakaya), dan bayangan matahari di air (Nirmanakaya). Dengan demikian, seorang Buddha dapat "menjelma" di mana saja dan sebagai apa saja, tetapi Dharmakaya-nya tidak bergerak ke manapun. Ini adalah konsep Mahayana. Saya menerima konsep ini karena menurut saya sangat logis dan masuk akal. Mengapa sangat logis dan masuk akal? Marilah kita cermati alasan2 berikut ini:

1.Seorang Buddha telah mengumpulkan paramita yang tak terhitung jumlahnya (silakan lihat kitab Buddhacarita - Fo Shuo Xing Chan, Lalitavistara Sutra, Sutra Damamukanidana - Xianyujing, dll). Seorang Buddha telah menyempurnakan maitri karunanya melalui tingkatan-tingkatan Boddhisattva (diulas di Sutra Dashabhumika - bagian kumpulan Avatamsaka). Dengan demikian, tidak mungkin setelah ia memasuki Nirvana Tanpa Sisa, Beliau berhenti memancarkan energi belas kasihNya terhadap para makhluk. Tidak mungkin energi paramita-paramita itu berhenti begitu saja. Kalau dengan memasuki Nirvana Tanpa Sisa seorang Buddha tidak memiliki dan tidak dapat memancarkan belas kasih lagi, paramita-paramita yang dilakukannya akan menjadi sia-sia; dengan asumsi bahwa maitri karuna yang sejati itu tak terbatas dan tak terkatakan. Maitri karuna sejati tidak dapat mengatakan, "Oke sampai di sini saja saya menolong kamu." Maitri karuna seorang Buddha itu tak dapat berakhir, beda dengan maitri karuna manusia biasa: "Ada uang abang disayang. Tak ada uang abang ditendang."

2.Orang yang telah bebas tentunya dapat pergi ke mana saja, bukan? Karena itu, bagi saya sangat masuk akal pandangan bahwa seorang Buddha masih dapat "pergi" atau "masuk" lagi ke dunia samsara. Hanya saja "masuk" atau "menjelma"nya Beliau ke dalam samsara itu bukan didasari oleh lobha, dosa, dan moha. Kalau dikatakan bahwa seorang Buddha tidak dapat "menjelma," maka nirvana akan menjadi semacam penjara yang "membatasi" seorang yang telah mencapai pencerahan. Banyak orang dari agama lain yang memahami nirvana semacam ini jadi menyalah artikan bahwa nirvana adalah penjara. Padahal nirvana adalah suatu kondisi, yang melambangkan pembebasan sejati.
Analoginya adalah sebagai berikut. Penjahat harus masuk penjara karena kesalahannya. Tetapi orang bebas (dalam artian bebas dari hukum pidana penjara) boleh berkunjung ke penjara dan setelah itu keluar lagi. Ia datang ke penjara bukan karena kesalahannya dan tidak harus ke sana. Ia datang ke penjara untuk menghibur dan menasihati para narapidana.
Tentu saja, sang Buddha masih dapat datang mengunjungi "penjara" kita ini. Hanya saja dengan cara yang berbeda dengan kita-kita "terlahir" di penjara ini. Beliau hadir bukan karena lobha, dosa, mohanya, melainkan karena maitri karuna Beliau. Konsep Trikaya dapat menjelaskan bagaimana "Kebuddhaan" hadir di samsara ini.

3.Nirvana dan samsara adalah identik menurut Mahayana.

Nah, demikian uraian saya mengenai konsep Buddhologi dalam Mahayana? Apakah uraian saya di atas mempertentangkan antara M dan T? Saya tidak merasa demikian. Bahkan saya tidak pakai kata "T" sama sekali. Silakan Anda cek. Tentu saja penjelasan saya masih jauh dari sempurna, karena keterbatasan waktu dan tempat.


TAN:

Tentu ada donk. Banyak sekali. Bisa cek di Sutra Avatamsaka, Lankavatara, Saddharmapundarika, Srimaladevisimhanada, Mahaparinirvana, dll.
Di sastra juga banyak, antara lain: Mahayana Uttara Tantra Sashtra, Cheng Wei Shi Lun (karya Xuanzang), Madhyamakasashtra (karya Nagarjuna), dll.
Anda saya sarankan membaca naskah2 di atas, karena saya tidak ada waktu untuk menguraikannya. Lagipula membaca langsung dari sumbernya lebih baik bukan?

Amiduofo,

Tan


Jika Nirvana dan Samsara itu tidak berbeda (terlepas dari dualisme), darimana adanya maitri karuna yang sejati itu tak terbatas dan tak terkatakan, yang terus menerus di pancarkan, bahkan setelah seorang BUDDHA merealisasikan nibbana tanpa sisa...

INKONSISTEN...
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: lophenk on 15 April 2009, 03:01:40 PM
Namo Amithofo ,

Buddha Amitabha .. siapakah Engkau , benarkah tanah suciMu jauh di sebelah barat sana ?
setiap hari setiap saat aku selalu menyebut namamu, apakah aku bodoh ? apakah aku melekat ?
yg kurasakan semakin aku nien semakin terasa kedamaian di batin ini ... batin ini spt penuh dgn cahaya kebajikan , rasanya tanah suciMu tdk jauh disana , tp ada di sini dibatin ini.
bagaimanakah menjelaskan apa yg dirasakan batin ini ??

_/\_

 
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Nevada on 15 April 2009, 04:18:47 PM
Quote from: Tan
1.Seorang Buddha telah mengumpulkan paramita yang tak terhitung jumlahnya (silakan lihat kitab Buddhacarita - Fo Shuo Xing Chan, Lalitavistara Sutra, Sutra Damamukanidana - Xianyujing, dll). Seorang Buddha telah menyempurnakan maitri karunanya melalui tingkatan-tingkatan Boddhisattva (diulas di Sutra Dashabhumika - bagian kumpulan Avatamsaka). Dengan demikian, tidak mungkin setelah ia memasuki Nirvana Tanpa Sisa, Beliau berhenti memancarkan energi belas kasihNya terhadap para makhluk. Tidak mungkin energi paramita-paramita itu berhenti begitu saja. Kalau dengan memasuki Nirvana Tanpa Sisa seorang Buddha tidak memiliki dan tidak dapat memancarkan belas kasih lagi, paramita-paramita yang dilakukannya akan menjadi sia-sia; dengan asumsi bahwa maitri karuna yang sejati itu tak terbatas dan tak terkatakan. Maitri karuna sejati tidak dapat mengatakan, "Oke sampai di sini saja saya menolong kamu." Maitri karuna seorang Buddha itu tak dapat berakhir, beda dengan maitri karuna manusia biasa: "Ada uang abang disayang. Tak ada uang abang ditendang."

Saya juga ingin berdiskusi... :)

Sepertinya memang ada perbedaan goal antara Theravada dengan Mahayana. Meski kata "Nibbana" (T) dan "Nirvana" (M) sama-sama merujuk pada makna Pembebasan Sempurna, namun saya sering melihat ada perbedaan fundamental di antara kedua konsep ini. Jika Aliran Theravada dan Mahayana sama-sama memegang konsep anicca-dukkha-anatta, seharusnya Nibbana dan Nirvana adalah Pembebasan Mutlak. Pembebasan Mutlak ini adalah kondisi yang berada di luar hidup-mati.

Pembebasan ini seharusnya adalah kondisi tak bersyarat. Bagaimana mungkin orang yang telah terbebas masih memiliki sisa (baca : bisa memancarkan belas-kasih lagi). Jadi Nirvana itu Pembebasan Mutlak atau Pembebasan yang Bersyarat?


Quote from: Tan
2.Orang yang telah bebas tentunya dapat pergi ke mana saja, bukan? Karena itu, bagi saya sangat masuk akal pandangan bahwa seorang Buddha masih dapat "pergi" atau "masuk" lagi ke dunia samsara. Hanya saja "masuk" atau "menjelma"nya Beliau ke dalam samsara itu bukan didasari oleh lobha, dosa, dan moha. Kalau dikatakan bahwa seorang Buddha tidak dapat "menjelma," maka nirvana akan menjadi semacam penjara yang "membatasi" seorang yang telah mencapai pencerahan. Banyak orang dari agama lain yang memahami nirvana semacam ini jadi menyalah artikan bahwa nirvana adalah penjara. Padahal nirvana adalah suatu kondisi, yang melambangkan pembebasan sejati.
Analoginya adalah sebagai berikut. Penjahat harus masuk penjara karena kesalahannya. Tetapi orang bebas (dalam artian bebas dari hukum pidana penjara) boleh berkunjung ke penjara dan setelah itu keluar lagi. Ia datang ke penjara bukan karena kesalahannya dan tidak harus ke sana. Ia datang ke penjara untuk menghibur dan menasihati para narapidana.
Tentu saja, sang Buddha masih dapat datang mengunjungi "penjara" kita ini. Hanya saja dengan cara yang berbeda dengan kita-kita "terlahir" di penjara ini. Beliau hadir bukan karena lobha, dosa, mohanya, melainkan karena maitri karuna Beliau. Konsep Trikaya dapat menjelaskan bagaimana "Kebuddhaan" hadir di samsara ini.

Orang yang telah merealisasi Pembebasan (Nibbana / Nirvana) sudah tidak dapat lagi ditemukan dalam bentuk 'orang' atau 'pribadi'. Wujud personal itu terbelenggu oleh anicca-dukkha-anatta. Bila orang yang dikatakan sudah merealisasi Pembebasan itu masih bisa ditemukan dalam bentuk 'orang' atau 'pribadi', maka orang itu sesungguhnya belum merealisasi Pembebasan.

Orang yang terbebas pun adalah orang yang tidak lagi terikat oleh dualisme duniawi ini. Selama masih berada di lingkup jagad raya, maka dualisme akan selalu ada. Orang yang terbebas tidak akan lagi masuk atau keluar. Karena masuk atau keluar adalah sifat dualistis. Dan hal itu tidak kongruen dengan sifat Nibbana / Nirvana yang dalam konsep sejatinya dikatakan absolut.

NB : Orang yang dapat seenaknya keluar-masuk itu bukan orang yang bebas, itu hanyalah orang yang memiliki izin keluar-masuk. Orang yang bebas itu seharusnya tidak dibatasi ruangan atau apapun (tidak perlu keluar-masuk).


Quote from: Tan
3.Nirvana dan samsara adalah identik menurut Mahayana.

Jika Nirvana dan samsara adalah identik, berarti dalam pandangan Mahayana secara jelas menyatakan bahwa Nirvana adalah 'tempat' / 'ruang' ? Apakah benar demikian?

Jika Nirvana memang adalah tempat / ruang / alam, maka sudah seharusnya Nirvana pun tunduk di bawah Panca Niyama (5 Hukum Tertib Kosmis), Tilakkhana (anicca-dukkha-anatta), Paticcasamuppada (Sebab-Musabab yang saling Bergantung), 4 Kebenaran Ariya.

Jika Nirvana bukanlah tempat, lantas mengapa Nirvana identik dengan samsara? Apakah Nirvana itu yang mengkondisikan samsara, atau samsara yang mengkondisikan Nirvana?

Lantas jika memang identik, mengapa orang yang telah merealisasi Nirvana dikatakan tidak ingin memasuki Nirvana tanpa sisa? Bukankah Nirvana dan samsara saling berkaitan, sehingga orang yang telah merealisasi Nirvana memang tidak akan bisa memasuki Nirvana tanpa sisa?


Quote from: Tan
4. Saya menganggap konsep Buddha atau makhluk adikodrati apapun yang sudi menjelma ke dunia yang sarat penderitaan ini sebagai sesuatu yang baik secara filosofis. Ini mencerminkan ajaran tentang kepedulian. Ini menjadi teladan bagi saya untuk lebih peduli pada orang lain, terutama mereka yang menderita. Jadi terlepas dari apakah benar2 ada Buddha atau makhluk adikodrati yang menjelma, ajaran semacam ini memiliki makna yang baik.

Amiduofo,

Tan

Secara filosofis memang baik sekali. Namun fakta dunia dengan jelas menunjukkan hanya diri kita sendiri yang bisa menolong diri sendiri (dalam merealisasi Pembebasan). Tidak ada juru selamat yang bisa memberikan tiket VIP ke Nirvana. Ini ibarat papan billboard raksasa yang bertuliskan : "Sadarlah! Lihat dirimu sendiri. Hanya Anda yang dapat menolong dirimu sendiri."

Anda sendiri meragukan apakah benar ada Buddha atau makhluk adikodrati yang menjelma...

Kisah Santa Clause yang memberi hadiah pada anak yang manis juga memiliki filosofi tinggi. Di luar fakta apakah Santa Clause itu benar ada atau tidak ada, saya melihat bahwa kisah ini pantas diteladani oleh para orang tua. Meski kisah ini hanyalah isapan jempol untuk anak-anak.

_/\_

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 15 April 2009, 10:18:51 PM
[at] upasaka...

GRP Sent...
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Tan on 15 April 2009, 10:29:41 PM
ANDA:

Jika Nirvana dan Samsara itu tidak berbeda (terlepas dari dualisme), darimana adanya maitri karuna yang sejati itu tak terbatas dan tak terkatakan, yang terus menerus di pancarkan, bahkan setelah seorang BUDDHA merealisasikan nibbana tanpa sisa...

INKONSISTEN...

TAN:

Justru sebaliknya, Bang. SANGAT KONSISTEN. Jika seseorang telah merealisasi kesamaan nirvana dan samsara, maka ia akan dapat memancarkan maitri karuna yang sejati. Bagi dia sudah tak ada segala bentuk pembedaan. Dualisme telah hilang. Sekarang saya balik bertanya, kemana perginya semua paramita yang ditimbun seorang Buddha saat Beliau masih menempuh jalan Bodhisattva? Saya melihat Anda menganut pandangan nihilisme penuh, karena yakin bahwa setelah seorang Buddha parinirvana, kekuatan maitri karunanya ikut musnah total. Ini bertolak belakang dengan pandangan sains bahwa materi tidak dapat diciptakan dan tak dapat dimusnahkan, melainkan materi hanya dapat ditransformasikan menjadi materi lainnya. Justru saya melihat pandangan Mahayana ini lebih sesuai dengan sains modern.
Saya balik pula bertanya, seorang Buddha dapat mengingat kehidupan lampaunya hingga sejauh yang Beliau inginkan. Pertanyaan saya, di manakan ingatan atau memori atas masa lampau itu tersimpan? Berarti bukankah ada suatu gudang penyimpanan yang ada terus menerus selama berkalpa2? Terus setelah seorang Buddha parinirvana ke manakah perginya "gudang" tersebut. Kalau tidak ada "gudang" itu, bagaimana seorang Buddha dapat merekoleksi kembali kehidupannya hingga jutaan kalpa yang lampau? Mohon penjelasannya secara jelas. Sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih.

Amiduofo,

Tan
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Tan on 15 April 2009, 10:37:15 PM
Karena jawaban Sdr. Upasaka sangag panjang terpaksa saya potong2.

JAWABAN KEPADA UPASAKA 1

Upasaka:

Saya juga ingin berdiskusi...

Sepertinya memang ada perbedaan goal antara Theravada dengan Mahayana. Meski kata "Nibbana" (T) dan "Nirvana" (M) sama-sama merujuk pada makna Pembebasan Sempurna, namun saya sering melihat ada perbedaan fundamental di antara kedua konsep ini. Jika Aliran Theravada dan Mahayana sama-sama memegang konsep anicca-dukkha-anatta, seharusnya Nibbana dan Nirvana adalah Pembebasan Mutlak. Pembebasan Mutlak ini adalah kondisi yang berada di luar hidup-mati.

Pembebasan ini seharusnya adalah kondisi tak bersyarat. Bagaimana mungkin orang yang telah terbebas masih memiliki sisa (baca : bisa memancarkan belas-kasih lagi). Jadi Nirvana itu Pembebasan Mutlak atau Pembebasan yang Bersyarat?

TAN:

Baik! Kata Anda tak bersyarat bukan? Jika Pembebasan Mutlak itu "tidak bisa memancarkan belas kasih lagi" bukankah itu adalah syarat juga? Di sini ada kontradiksi terhadap pernyataan Anda. Anda melepaskan nirvana dari satu syarat tetapi melekatkan padanya suatu syarat lainnya. Masalahnya tidak menjadi selesai, malah berputar2 lagi di hal itu-itu saja. Menurut saya pembebasan mutlak tak bersyarat itu justru adakah kesanggupan untuk memancarkan maitri karuna secara murni tanpa bias2 lobha, dosa, dan moha. Kita tidak dapat mencintai orang lain dengan sungguh2 karena masih diliputi bias-bias lobha, dosa, dan moha. Semua kebajikan kita pada orang sedikit banyak pasti diliputi oleh pertimbangan2 ego betapapun halusnya itu. Adalah ironis bila setelah seseorang mengikis lobha, dosa, dan moha, ia tak dapat lagi memancarkan belas kasih pada makhluk lain. Padahal belas kasih semacam itu adalah belas kasih yang secara logis merupakan maitri karuna sejati. Pandangan bahwa setelah seseorang mencapai nirvana, ia tak dapat lagi memancarkan belas kasih, menurut hemat saya adalah tidak masuk akal.

(bersambung ke jilid 2)
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 15 April 2009, 10:49:13 PM
ANDA:

Jika Nirvana dan Samsara itu tidak berbeda (terlepas dari dualisme), darimana adanya maitri karuna yang sejati itu tak terbatas dan tak terkatakan, yang terus menerus di pancarkan, bahkan setelah seorang BUDDHA merealisasikan nibbana tanpa sisa...

INKONSISTEN...

TAN:

Justru sebaliknya, Bang. SANGAT KONSISTEN. Jika seseorang telah merealisasi kesamaan nirvana dan samsara, maka ia akan dapat memancarkan maitri karuna yang sejati. Bagi dia sudah tak ada segala bentuk pembedaan. Dualisme telah hilang. Sekarang saya balik bertanya, kemana perginya semua paramita yang ditimbun seorang Buddha saat Beliau masih menempuh jalan Bodhisattva? Saya melihat Anda menganut pandangan nihilisme penuh, karena yakin bahwa setelah seorang Buddha parinirvana, kekuatan maitri karunanya ikut musnah total. Ini bertolak belakang dengan pandangan sains bahwa materi tidak dapat diciptakan dan tak dapat dimusnahkan, melainkan materi hanya dapat ditransformasikan menjadi materi lainnya. Justru saya melihat pandangan Mahayana ini lebih sesuai dengan sains modern.
Saya balik pula bertanya, seorang Buddha dapat mengingat kehidupan lampaunya hingga sejauh yang Beliau inginkan. Pertanyaan saya, di manakan ingatan atau memori atas masa lampau itu tersimpan? Berarti bukankah ada suatu gudang penyimpanan yang ada terus menerus selama berkalpa2? Terus setelah seorang Buddha parinirvana ke manakah perginya "gudang" tersebut. Kalau tidak ada "gudang" itu, bagaimana seorang Buddha dapat merekoleksi kembali kehidupannya hingga jutaan kalpa yang lampau? Mohon penjelasannya secara jelas. Sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih.

Amiduofo,

Tan

buat apa lagi semua paramita ketika dualisme nirvana dan samsara sudah tidak ada ? bukankah ini INKONSISTEN...
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 15 April 2009, 10:53:08 PM
Karena jawaban Sdr. Upasaka sangag panjang terpaksa saya potong2.

JAWABAN KEPADA UPASAKA 1

Upasaka:

Saya juga ingin berdiskusi...

Sepertinya memang ada perbedaan goal antara Theravada dengan Mahayana. Meski kata "Nibbana" (T) dan "Nirvana" (M) sama-sama merujuk pada makna Pembebasan Sempurna, namun saya sering melihat ada perbedaan fundamental di antara kedua konsep ini. Jika Aliran Theravada dan Mahayana sama-sama memegang konsep anicca-dukkha-anatta, seharusnya Nibbana dan Nirvana adalah Pembebasan Mutlak. Pembebasan Mutlak ini adalah kondisi yang berada di luar hidup-mati.

Pembebasan ini seharusnya adalah kondisi tak bersyarat. Bagaimana mungkin orang yang telah terbebas masih memiliki sisa (baca : bisa memancarkan belas-kasih lagi). Jadi Nirvana itu Pembebasan Mutlak atau Pembebasan yang Bersyarat?

TAN:

Baik! Kata Anda tak bersyarat bukan? Jika Pembebasan Mutlak itu "tidak bisa memancarkan belas kasih lagi" bukankah itu adalah syarat juga? Di sini ada kontradiksi terhadap pernyataan Anda. Anda melepaskan nirvana dari satu syarat tetapi melekatkan padanya suatu syarat lainnya. Masalahnya tidak menjadi selesai, malah berputar2 lagi di hal itu-itu saja. Menurut saya pembebasan mutlak tak bersyarat itu justru adakah kesanggupan untuk memancarkan maitri karuna secara murni tanpa bias2 lobha, dosa, dan moha. Kita tidak dapat mencintai orang lain dengan sungguh2 karena masih diliputi bias-bias lobha, dosa, dan moha. Semua kebajikan kita pada orang sedikit banyak pasti diliputi oleh pertimbangan2 ego betapapun halusnya itu. Adalah ironis bila setelah seseorang mengikis lobha, dosa, dan moha, ia tak dapat lagi memancarkan belas kasih pada makhluk lain. Padahal belas kasih semacam itu adalah belas kasih yang secara logis merupakan maitri karuna sejati. Pandangan bahwa setelah seseorang mencapai nirvana, ia tak dapat lagi memancarkan belas kasih, menurut hemat saya adalah tidak masuk akal.

(bersambung ke jilid 2)

Jadi Apa/Siapa yang memancarkan belas kasih tersebut (ketika sudah merealisasikan nibbana tanpa sisa) ?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: sobat-dharma on 15 April 2009, 10:56:24 PM


Orang yang telah merealisasi Pembebasan (Nibbana / Nirvana) sudah tidak dapat lagi ditemukan dalam bentuk 'orang' atau 'pribadi'. Wujud personal itu terbelenggu oleh anicca-dukkha-anatta. Bila orang yang dikatakan sudah merealisasi Pembebasan itu masih bisa ditemukan dalam bentuk 'orang' atau 'pribadi', maka orang itu sesungguhnya belum merealisasi Pembebasan.

Orang yang terbebas pun adalah orang yang tidak lagi terikat oleh dualisme duniawi ini. Selama masih berada di lingkup jagad raya, maka dualisme akan selalu ada. Orang yang terbebas tidak akan lagi masuk atau keluar. Karena masuk atau keluar adalah sifat dualistis. Dan hal itu tidak kongruen dengan sifat Nibbana / Nirvana yang dalam konsep sejatinya dikatakan absolut.

NB : Orang yang dapat seenaknya keluar-masuk itu bukan orang yang bebas, itu hanyalah orang yang memiliki izin keluar-masuk. Orang yang bebas itu seharusnya tidak dibatasi ruangan atau apapun (tidak perlu keluar-masuk).



Dikatakan "keluar-masuk", sebenarnya adalah analogi belaka. Justru karena Nirvana absolut, maka orang yang merealisasi nibbana dapat berada di mana-mana pada saat bersamaan dia tidak ada di mana-mana. Justru aneh sekali jika kita menganggap nirvana absolut, dengan tetap berpandangan bahwa samsara dan nirvana adalah dualitas yang berbeda. Jika nirvana dan samsara adalah dua realitas yang berdiri sendiri-sendiri, maka nirvana itu sendiri pasti berada dalam dualitas. Justru karena nirvana adalah absolut maka ia tidak bisa dipisahkan dengan samsara sekaligus tidak bisa dianggap sebagai esensi yang sama. Sebab "beda" dan "sama" sekali lagi merupakan konstruksi duniawi.

 


 "Sadarlah! Lihat dirimu sendiri. Hanya Anda yang dapat menolong dirimu sendiri."



Kontradiksinya, diri justru yang sering menghambat seseorang merealisasi nirvana. Karena terjebak pandangan ini, kita kemudian berpikir bahwa nirvana bisa direalisasi dengan kehendak dan usaha diri. Pada dasarnya, orang yang menyerahkan upayanya pada "diri" ataupun "bantuan yang lain" pada dasarnya menempuh jalan berbeda menuju arah yang sama. Seseorang yang pada awalnya mengandalkan tekad diri sendiri, pada suatu titik di jalan dia harus menanggalkan bahwa usaha dari diri yang berlebihan justru menghambat pencapaian nirvana. Karena bagaimanapun "diri" adalah wujud dari ego yang harus dilepaskan. Begitu juga yang mengandalkan metode "bantuan yang lain" pada satu titik pencapaian realisasi tertentu ia menyadari bahwa "tidak ada jarak antara yang dibantu dan membantu", sehingga akhirnya ia harus juga melepaskan "yang lain" dari pandangannya. Oleh karena itu dalam Mahayana selalu dikatakan "Sifat Kebuddhaan telah ada di dalam diri setiap makhluk hidup," hanya yang sadar disebut sebagai Buddha, yang tidak sadar yang disebut sebagai awam. Dalam jalan menuju realisasi Nibbana, seseorang akan melepaskan dikotomi antara "diri/aku" dengan "yang lain", maka apa bedanya antara memulai dengan "kemampuan diri sendiri" atau "dengan memohon bantuan yang lain", keduanya jika dilakukan dengan praktik yang benar akan menuju hasil yang sama baiknya. Sebaliknya jika keduanya dilakukan dengan praktik yang salah akan menuju hasil yang buruk.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Tan on 15 April 2009, 10:56:42 PM
JAWABAN KEPADA UPASAKA (2)

Upasaka:

Orang yang telah merealisasi Pembebasan (Nibbana / Nirvana) sudah tidak dapat lagi ditemukan dalam bentuk 'orang' atau 'pribadi'. Wujud personal itu terbelenggu oleh anicca-dukkha-anatta. Bila orang yang dikatakan sudah merealisasi Pembebasan itu masih bisa ditemukan dalam bentuk 'orang' atau 'pribadi', maka orang itu sesungguhnya belum merealisasi Pembebasan.

TAN:

Apakah yang dimaksud dengan "orang" dan "pribadi" di sini? Apakah orang dalam arti fisik atau bagaimana?

Upasaka:

Orang yang terbebas pun adalah orang yang tidak lagi terikat oleh dualisme duniawi ini. Selama masih berada di lingkup jagad raya, maka dualisme akan selalu ada. Orang yang terbebas tidak akan lagi masuk atau keluar. Karena masuk atau keluar adalah sifat dualistis. Dan hal itu tidak kongruen dengan sifat Nibbana / Nirvana yang dalam konsep sejatinya dikatakan absolut.

TAN:

Justru karena itu. Karena tidak adanya konsep masuk atau keluar, belas kasih seorang Buddha akan tetap eksis - TIDAK DIBATASI RUANG DAN WAKTU. Saya tidak menerima pandangan Anda di atas, karena:

1.Seolah-olah menyatakan bahwa nirvana hanya dapat dicapai setelah seseorang wafat atau tidak hidup di jagad raya ini. Bagaimana dengan nirvana dengan sisa (saupadisesa nirvana)? Ini nampak nyata dari pernyataan Anda: "Selama masih berada di lingkup jagad raya, maka dualisme akan selalu ada." - artinya selama masih di jagad raya seseorang tak akan mencapai nirvana.

2.Pernyataan Anda kontradiksi dengan poin 1 di atas dengan menyatakan bahwa "Orang yang terbebas tidak akan lagi masuk atau keluar." Dengan demikian, mustahil bagi seseorang mencapai nirvana atau terbebaskan. Begitu terbebaskan, ia akan "keluar" dari jagad raya dan tidak masuk lagi. Jika demikian, dalam benaknya selamanya akan tetap ada dualisme. Bagaimana mungkin ada pembebasan sejati? Justru konsep Mahayana bahwa samsara dan nirvana adalah sama lebih sesuai dengan konsep tidak ada masuk dan keluar. Pantai seberang adalah pantai ini juga (lihat Sutra Prajnaparamitahrdaya) - Gate-gate Paragate Parasamgate Boddhi Svaha!

Apakah Anda tidak sadar bahwa pernyataan Anda "Orang yang bebas itu seharusnya tidak dibatasi ruangan atau apapun (tidak perlu keluar-masuk)" justru mendukung konsep Trikaya dan juga kesamaan samsara dan nirvana.
Peryataan "Orang yang dapat seenaknya keluar-masuk itu bukan orang yang bebas, itu hanyalah orang yang memiliki izin keluar-masuk" ini hanya permainan kata2 Anda saja. Bagaimana kalau saya tanggapi dengan permainan kata-kata pula: "ORANG YANG MENURUT ORANG YANG BELUM TERCERAHI NAMPAK SEPERTI KELUAR MASUK, TETAPI SESUNGGUHNYA DALAM BATINNYA TIDAK ADA KELUAR MASUK." Nah pertanyaan, saya apakah orang itu "keluar masuk"?
Keluar masuk dari sudut pandang siapa?

Amiduofo,

Tan

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: sobat-dharma on 15 April 2009, 11:03:10 PM

Jadi Apa/Siapa yang memancarkan belas kasih tersebut (ketika sudah merealisasikan nibbana tanpa sisa) ?

pertanyaan siapa dan apa tidak berlaku bagi yang telah merealisasikan nirvana, karena pada dasarnya tidak ada aku dan orang lain, bagaimana bisa ada "siapa" atau "apa"? Pada dasarnyanya di dalam diri setiap orang ada Sifat Kebuddhaan, maka kehadiran nirvana adalah mutlak di dalam "samsara"; karena samsara menjadi ada semata-mata kita tertutup oleh debu duniawi ego-diri,jika kita bisa melnghentikan gerak ego-diri yang liar, maka realisasi nirvana akan terjadi dengan sendirinya. Oleh karena itu, nirvana sebenarnya adalah hakikat sejati yang konstan terus menerus yang dilupakan oleh kita karena sifat ego-diri.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hendrako on 15 April 2009, 11:04:14 PM
ANDA:

Jika Nirvana dan Samsara itu tidak berbeda (terlepas dari dualisme), darimana adanya maitri karuna yang sejati itu tak terbatas dan tak terkatakan, yang terus menerus di pancarkan, bahkan setelah seorang BUDDHA merealisasikan nibbana tanpa sisa...

INKONSISTEN...

TAN:

Justru sebaliknya, Bang. SANGAT KONSISTEN. Jika seseorang telah merealisasi kesamaan nirvana dan samsara, maka ia akan dapat memancarkan maitri karuna yang sejati. Bagi dia sudah tak ada segala bentuk pembedaan. Dualisme telah hilang. Sekarang saya balik bertanya, kemana perginya semua paramita yang ditimbun seorang Buddha saat Beliau masih menempuh jalan Bodhisattva? Saya melihat Anda menganut pandangan nihilisme penuh, karena yakin bahwa setelah seorang Buddha parinirvana, kekuatan maitri karunanya ikut musnah total. Ini bertolak belakang dengan pandangan sains bahwa materi tidak dapat diciptakan dan tak dapat dimusnahkan, melainkan materi hanya dapat ditransformasikan menjadi materi lainnya. Justru saya melihat pandangan Mahayana ini lebih sesuai dengan sains modern.
Saya balik pula bertanya, seorang Buddha dapat mengingat kehidupan lampaunya hingga sejauh yang Beliau inginkan. Pertanyaan saya, di manakan ingatan atau memori atas masa lampau itu tersimpan? Berarti bukankah ada suatu gudang penyimpanan yang ada terus menerus selama berkalpa2? Terus setelah seorang Buddha parinirvana ke manakah perginya "gudang" tersebut. Kalau tidak ada "gudang" itu, bagaimana seorang Buddha dapat merekoleksi kembali kehidupannya hingga jutaan kalpa yang lampau? Mohon penjelasannya secara jelas. Sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih.

Amiduofo,

Tan


Timbunan paramita seorang Bhodhisattva memuncak pada pencapaian Sammasambuddha.

Disebut nihilis apabila tidak ada apa-apa samasekali sebagai kebalikan dari ada, masalahnya disini Parinibbana bukanlah dalam konteks ada dan tiada atau bahkan biasanya ditambahkan masih dan sudah. Melainkan diluar ada dan tiada. Kata nihilis tidak berlaku dalam kondisi ini.

Baru kali ini saya membaca Nibbana diidentikkan dengan materi..??  :-?

Yang saya bold hijau menunjukkan analisa bro Upasaka memang benar2 tajam, yaitu Nibbana diinterpretasikan sebagai tempat sebagaimana yang ditunjukkan oleh Bro Tan, GRP send. 8)
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hendrako on 15 April 2009, 11:06:52 PM

Jadi Apa/Siapa yang memancarkan belas kasih tersebut (ketika sudah merealisasikan nibbana tanpa sisa) ?

pertanyaan siapa dan apa tidak berlaku bagi yang telah merealisasikan nirvana, karena pada dasarnya tidak ada aku dan orang lain, bagaimana bisa ada "siapa" atau "apa"? Pada dasarnyanya di dalam diri setiap orang ada Sifat Kebuddhaan, maka kehadiran nirvana adalah mutlak di dalam "samsara"; karena samsara menjadi ada semata-mata kita tertutup oleh debu duniawi ego-diri,jika kita bisa melnghentikan gerak ego-diri yang liar, maka realisasi nirvana akan terjadi dengan sendirinya. Oleh karena itu, nirvana sebenarnya adalah hakikat sejati yang konstan terus menerus yang dilupakan oleh kita karena sifat ego-diri.

Yang dimaksud oleh Bro Dilbert adalah Parinibbana, Nibbana tanpa sisa.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Tan on 15 April 2009, 11:13:20 PM
JAWABAN KEPADA UPASAKA (3)

Upasaka:

Jika Nirvana dan samsara adalah identik, berarti dalam pandangan Mahayana secara jelas menyatakan bahwa Nirvana adalah 'tempat' / 'ruang' ? Apakah benar demikian?

Jika Nirvana memang adalah tempat / ruang / alam, maka sudah seharusnya Nirvana pun tunduk di bawah Panca Niyama (5 Hukum Tertib Kosmis), Tilakkhana (anicca-dukkha-anatta), Paticcasamuppada (Sebab-Musabab yang saling Bergantung), 4 Kebenaran Ariya.

Jika Nirvana bukanlah tempat, lantas mengapa Nirvana identik dengan samsara? Apakah Nirvana itu yang mengkondisikan samsara, atau samsara yang mengkondisikan Nirvana?

Lantas jika memang identik, mengapa orang yang telah merealisasi Nirvana dikatakan tidak ingin memasuki Nirvana tanpa sisa? Bukankah Nirvana dan samsara saling berkaitan, sehingga orang yang telah merealisasi Nirvana memang tidak akan bisa memasuki Nirvana tanpa sisa?

TAN:

Pertanyaan ini tidak tepat, seperti menanyakan jika api mati ke mana perginya api itu. Tetapi pertanyaan Anda saya tanggapi dengan pertanyaan pula. Menurut Anda apakah samsara itu sebuah "tempat" atau "ruang"? Samsara adalah kondisi pikiran. Pikiran yang menentukan Anda "terlahir" di mana saat ini. Anda dilanda keserakahan, artinya Anda sedang terlahir di alam preta. Anda sedang berbahagia, artinya Anda ada di alam dewa. Samsara adalah kondisi pikiran. Jika pikiran tidak mengkondisikan samsara, maka samsara itu tidak ada lagi. Karena itu, samsara adalah nirvana dan nirvana adalah samsara.
Pertanyaan Anda ini juga inkonsten: "Jika Nirvana bukanlah tempat, lantas mengapa Nirvana identik dengan samsara? Apakah Nirvana itu yang mengkondisikan samsara, atau samsara yang mengkondisikan Nirvana?" Anda mengatakan bahwa nirvana adalah absolut, maka tentunya tak ada lagi dualisme. Tak ada lagi yang mengkondisikan nirvana. Tetapi Anda mempertentangkan nirvana dengan menyatakan mana yang mengkondisikan mana. Jika Anda berpegang bahwa nirvana adalah sesuatu yang absolut, maka tidak ada yang saling mengkondisikan lagi. Justru pandangan bahwa nirvana identik dengan samsara memperlihatkan bahwa keduanya tidak saling mengkondisikan. Di sini saya melihat filosofi Mahayana sangat konsisten. Saya tidak perlu menjawab pertanyaan "Jika Nirvana bukanlah tempat, lantas mengapa Nirvana identik dengan samsara? Apakah Nirvana itu yang mengkondisikan samsara, atau samsara yang mengkondisikan Nirvana?" karena berpandangan bahwa nirvana identik dengan samsara. Tidak ada yang saling mengkondisikan. Justru orang yang berpandangan nirvana beda dengan samsara itulah yang harus menjawab pertanyaan tersebut. Pertanyaan Anda boleh dikatakan salah alamat.

Anda menyatakan: "Lantas jika memang identik, mengapa orang yang telah merealisasi Nirvana dikatakan tidak ingin memasuki Nirvana tanpa sisa? Bukankah Nirvana dan samsara saling berkaitan, sehingga orang yang telah merealisasi Nirvana memang tidak akan bisa memasuki Nirvana tanpa sisa?"

Pertanyaan saya: Logika dari mana itu? Saya tidak paham maksud Anda pun tidak mengerti apa keterkaitannya dengan topik diskusi kita.

Amiduofo,

Tan


Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: sobat-dharma on 15 April 2009, 11:14:27 PM

Yang dimaksud oleh Bro Dilbert adalah Parinibbana, Nibbana tanpa sisa.

Apakah "sisa" itu kalau gitu? Apa yang bisa tersisa dari pencapaian nibbana? Kalau tanpa sisa apa yang tak tersisa kalau demikian? Mohon masukkannya. Terimakasih.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hendrako on 15 April 2009, 11:16:46 PM

Yang dimaksud oleh Bro Dilbert adalah Parinibbana, Nibbana tanpa sisa.

Apakah "sisa" itu kalau gitu? Apa yang bisa tersisa dari pencapaian nibbana? Kalau tanpa sisa apa yang tak tersisa kalau demikian? Mohon masukkannya. Terimakasih.

Pancakhanda.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: sobat-dharma on 15 April 2009, 11:17:25 PM

Pertanyaan Anda ini juga inkonsten: "Jika Nirvana bukanlah tempat, lantas mengapa Nirvana identik dengan samsara? Apakah Nirvana itu yang mengkondisikan samsara, atau samsara yang mengkondisikan Nirvana?" Anda mengatakan bahwa nirvana adalah absolut, maka tentunya tak ada lagi dualisme. Tak ada lagi yang mengkondisikan nirvana. Tetapi Anda mempertentangkan nirvana dengan menyatakan mana yang mengkondisikan mana. Jika Anda berpegang bahwa nirvana adalah sesuatu yang absolut, maka tidak ada yang saling mengkondisikan lagi. Justru pandangan bahwa nirvana identik dengan samsara memperlihatkan bahwa keduanya tidak saling mengkondisikan. Di sini saya melihat filosofi Mahayana sangat konsisten. Saya tidak perlu menjawab pertanyaan "Jika Nirvana bukanlah tempat, lantas mengapa Nirvana identik dengan samsara? Apakah Nirvana itu yang mengkondisikan samsara, atau samsara yang mengkondisikan Nirvana?" karena berpandangan bahwa nirvana identik dengan samsara. Tidak ada yang saling mengkondisikan. Justru orang yang berpandangan nirvana beda dengan samsara itulah yang harus menjawab pertanyaan tersebut. Pertanyaan Anda boleh dikatakan salah alamat.

Anda menyatakan: "Lantas jika memang identik, mengapa orang yang telah merealisasi Nirvana dikatakan tidak ingin memasuki Nirvana tanpa sisa? Bukankah Nirvana dan samsara saling berkaitan, sehingga orang yang telah merealisasi Nirvana memang tidak akan bisa memasuki Nirvana tanpa sisa?"

Pertanyaan saya: Logika dari mana itu? Saya tidak paham maksud Anda pun tidak mengerti apa keterkaitannya dengan topik diskusi kita.

Amiduofo,

Tan




Bro Tan,
nice point. GRP sent.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: sobat-dharma on 15 April 2009, 11:22:26 PM

Pancakhanda.

Jadi yang membedakan antara nibbana dan parinibbana, hanya pada hilang dan lenyapnya tubuh belaka atau alias mati? Bukankah demikian maksudnya? Kalau demikian, maka nibbana masih bisa dicemari oleh pancakandha. Kalau seseorang dikatakan sudah merealisasikan nibbana/nirvana tapi masih tercemar oleh pancakandha bukankah sulit dikatakan bahwa ia merealisasikan nibbana/nirvana? Jika kematian masih membawa dampak perubahanan padanya dapatkah dikatakan ia mencapai nibbana/nirvana? Bukankah nibbana/nirvana adalah kondisi yang melampaui kehidupan dan kematian?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Tan on 15 April 2009, 11:22:46 PM
ANDA:

Timbunan paramita seorang Bhodhisattva memuncak pada pencapaian Sammasambuddha.

TAN:

Setelah itu habis sama sekali ya? Sungguh ironis! Seseorang berjuang sungguh-sungguh demi membebaskan diri dari lobha dosa, dan moha. Tetapi begitu "gong"nya sudah dicapai, semua "hilang" sama sekali. Tidak ada sisa2 maitri karunanya.  Ini yang saya tidak bisa terima. Mohon maaf bagi saya tidak logis.

***



Disebut nihilis apabila tidak ada apa-apa samasekali sebagai kebalikan dari ada, masalahnya disini Parinibbana bukanlah dalam konteks ada dan tiada atau bahkan biasanya ditambahkan masih dan sudah. Melainkan diluar ada dan tiada. Kata nihilis tidak berlaku dalam kondisi ini.

TAN:

Oke. Saya balik bertanya. Begini: "bukan dalam konteks ada dan tiada" itu maksudnya gimana? Coba dijelaskan pandangan Anda. Sehingga arah diskusi menjadi jelas.

***

Baru kali ini saya membaca Nibbana diidentikkan dengan materi..??  

TAN:

Siapa yang mengidentikkan nirvana dengan materi? Anda salah mengerti. Yang Anda bold hijau itu pertanyaan saya untuk Sdr. Dilbert atau Upasaka. Silakan Anda jawab pertanyaan tersebut.

****

Yang saya bold hijau menunjukkan analisa bro Upasaka memang benar2 tajam, yaitu Nibbana diinterpretasikan sebagai tempat sebagaimana yang ditunjukkan oleh Bro Tan, GRP send.

TAN:

Penafsiran Anda salah. Tidak perlu saya tanggapi lebih lanjut.

Amiduofo,

Tan
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hendrako on 15 April 2009, 11:23:26 PM
JAWABAN KEPADA UPASAKA (3)

Upasaka:

Jika Nirvana dan samsara adalah identik, berarti dalam pandangan Mahayana secara jelas menyatakan bahwa Nirvana adalah 'tempat' / 'ruang' ? Apakah benar demikian?

Jika Nirvana memang adalah tempat / ruang / alam, maka sudah seharusnya Nirvana pun tunduk di bawah Panca Niyama (5 Hukum Tertib Kosmis), Tilakkhana (anicca-dukkha-anatta), Paticcasamuppada (Sebab-Musabab yang saling Bergantung), 4 Kebenaran Ariya.

Jika Nirvana bukanlah tempat, lantas mengapa Nirvana identik dengan samsara? Apakah Nirvana itu yang mengkondisikan samsara, atau samsara yang mengkondisikan Nirvana?

Lantas jika memang identik, mengapa orang yang telah merealisasi Nirvana dikatakan tidak ingin memasuki Nirvana tanpa sisa? Bukankah Nirvana dan samsara saling berkaitan, sehingga orang yang telah merealisasi Nirvana memang tidak akan bisa memasuki Nirvana tanpa sisa?

TAN:

Pertanyaan ini tidak tepat, seperti menanyakan jika api mati ke mana perginya api itu. Tetapi pertanyaan Anda saya tanggapi dengan pertanyaan pula. Menurut Anda apakah samsara itu sebuah "tempat" atau "ruang"? Samsara adalah kondisi pikiran. Pikiran yang menentukan Anda "terlahir" di mana saat ini. Anda dilanda keserakahan, artinya Anda sedang terlahir di alam preta. Anda sedang berbahagia, artinya Anda ada di alam dewa. Samsara adalah kondisi pikiran. Jika pikiran tidak mengkondisikan samsara, maka samsara itu tidak ada lagi. Karena itu, samsara adalah nirvana dan nirvana adalah samsara.
Pertanyaan Anda ini juga inkonsten: "Jika Nirvana bukanlah tempat, lantas mengapa Nirvana identik dengan samsara? Apakah Nirvana itu yang mengkondisikan samsara, atau samsara yang mengkondisikan Nirvana?" Anda mengatakan bahwa nirvana adalah absolut, maka tentunya tak ada lagi dualisme. Tak ada lagi yang mengkondisikan nirvana. Tetapi Anda mempertentangkan nirvana dengan menyatakan mana yang mengkondisikan mana. Jika Anda berpegang bahwa nirvana adalah sesuatu yang absolut, maka tidak ada yang saling mengkondisikan lagi. Justru pandangan bahwa nirvana identik dengan samsara memperlihatkan bahwa keduanya tidak saling mengkondisikan. Di sini saya melihat filosofi Mahayana sangat konsisten. Saya tidak perlu menjawab pertanyaan "Jika Nirvana bukanlah tempat, lantas mengapa Nirvana identik dengan samsara? Apakah Nirvana itu yang mengkondisikan samsara, atau samsara yang mengkondisikan Nirvana?" karena berpandangan bahwa nirvana identik dengan samsara. Tidak ada yang saling mengkondisikan. Justru orang yang berpandangan nirvana beda dengan samsara itulah yang harus menjawab pertanyaan tersebut. Pertanyaan Anda boleh dikatakan salah alamat.

Anda menyatakan: "Lantas jika memang identik, mengapa orang yang telah merealisasi Nirvana dikatakan tidak ingin memasuki Nirvana tanpa sisa? Bukankah Nirvana dan samsara saling berkaitan, sehingga orang yang telah merealisasi Nirvana memang tidak akan bisa memasuki Nirvana tanpa sisa?"

Pertanyaan saya: Logika dari mana itu? Saya tidak paham maksud Anda pun tidak mengerti apa keterkaitannya dengan topik diskusi kita.

Amiduofo,

Tan




Bukan BEDA dengan samsara, melainkan BUKAN samsara.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Tan on 15 April 2009, 11:25:40 PM
Jadi yang membedakan antara nibbana dan parinibbana, hanya pada hilang dan lenyapnya tubuh belaka atau alias mati? Bukankah demikian maksudnya? Kalau demikian, maka nibbana masih bisa dicemari oleh pancakandha. Kalau seseorang dikatakan sudah merealisasikan nibbana/nirvana tapi masih tercemar oleh pancakandha bukan sulit dikatakan bahwa ia merealisasikan nibbana/nirvana? Jika kematian masih membawa dampak perubahanan padanya dapatkah dikatakan ia mencapai nibbana/nirvana? Bukankah nibbana/nirvana adalah kondisi yang melampaui kehidupan dan kematian?

TAN:

Bagus sekali. Bro Sobat Dharma. Ini masalahnya, yakni antara anaupadisesa nirvana dan saupadisesa nirvana. Anda telah menemukan pointnya dan merumuskannya secara jitu. GRP Sent.

Amiduofo,

Tan
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: sobat-dharma on 15 April 2009, 11:28:41 PM

Bukan BEDA dengan samsara, melainkan BUKAN samsara.

"Beda" dan "bukan" bedanya apa bro?
Contohnya:
Hitam adalah "bukan" apapun yang berwarna putih
Putih adalah "bukan" apapun yang berawarna hitam
maka, hitam dan putih adalah "beda".

Yang baik adalah "bukan" apapun yang jahat
Yang jahat adalah "bukan" apapun yang baik
Bukan \kah tepat dikatakan "baik" dan "jahat" adalah dua hal yang berbeda

gimana bro?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Tan on 15 April 2009, 11:29:24 PM
HENDRAKO:

Bukan BEDA dengan samsara, melainkan BUKAN samsara.

TAN:

Saya bingung dengan pernyataan Anda. Jika "bukan beda" dengan samsara, mengapa Anda menyebutnya "bukan" samsara. Ibaratnya Anda menyatakan "Jakarta bukan beda dengan ibukota Republik Indonesia, melainkan BUKAN ibukota Republik Indonesia"? Bagaimana tuh logikanya. Kok saya makin bingung saja.

Amiduofo,

Tan
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hendrako on 15 April 2009, 11:31:55 PM
ANDA:

Timbunan paramita seorang Bhodhisattva memuncak pada pencapaian Sammasambuddha.

TAN:

Setelah itu habis sama sekali ya? Sungguh ironis! Seseorang berjuang sungguh-sungguh demi membebaskan diri dari lobha dosa, dan moha. Tetapi begitu "gong"nya sudah dicapai, semua "hilang" sama sekali. Tidak ada sisa2 maitri karunanya.  Ini yang saya tidak bisa terima. Mohon maaf bagi saya tidak logis.

***

Setelah Parinibbana, dimana tubuh telah melapuk, Buddha adalah Dhamma.



Disebut nihilis apabila tidak ada apa-apa samasekali sebagai kebalikan dari ada, masalahnya disini Parinibbana bukanlah dalam konteks ada dan tiada atau bahkan biasanya ditambahkan masih dan sudah. Melainkan diluar ada dan tiada. Kata nihilis tidak berlaku dalam kondisi ini.

TAN:

Oke. Saya balik bertanya. Begini: "bukan dalam konteks ada dan tiada" itu maksudnya gimana? Coba dijelaskan pandangan Anda. Sehingga arah diskusi menjadi jelas.

***
Pada saat anda berbicara tentang warna, apakah kata tinggi dan pendek dapat digunakan untuk menggambarkan warna??

Baru kali ini saya membaca Nibbana diidentikkan dengan materi..??  

TAN:

Siapa yang mengidentikkan nirvana dengan materi? Anda salah mengerti. Yang Anda bold hijau itu pertanyaan saya untuk Sdr. Dilbert atau Upasaka. Silakan Anda jawab pertanyaan tersebut.

****
Kalimat anda berkesan demikian, berikut kutipannya:

TAN:

Ini bertolak belakang dengan pandangan sains bahwa materi tidak dapat diciptakan dan tak dapat dimusnahkan, melainkan materi hanya dapat ditransformasikan menjadi materi lainnya. Justru saya melihat pandangan Mahayana ini lebih sesuai dengan sains modern.


TAN:

Penafsiran Anda salah. Tidak perlu saya tanggapi lebih lanjut.

Amiduofo,

 _/\_

Tan
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Tan on 15 April 2009, 11:35:37 PM
DILBERT:

buat apa lagi semua paramita ketika dualisme nirvana dan samsara sudah tidak ada ? bukankah ini INKONSISTEN...

TAN:

Buat apa lagi semua paramita dilepaskan ketika dualisme nirvana dan samsara sudah tidak ada? Apakah paramita itu sesuatu yang bisa kita lepaskan seenaknya seperti membawa tas belanjaan setelah berbelanja di mall? Saya kira tidak begitu lho. Paramita tidaklah dipegang atau dilepaskan. Itu adalah sesuatu yang alami.

Amiduofo,

Tan
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hendrako on 15 April 2009, 11:35:49 PM

Bukan BEDA dengan samsara, melainkan BUKAN samsara.

"Beda" dan "bukan" bedanya apa bro?
Contohnya:
Hitam adalah "bukan" apapun yang berwarna putih
Putih adalah "bukan" apapun yang berawarna hitam
maka, hitam dan putih adalah "beda".

Yang baik adalah "bukan" apapun yang jahat
Yang jahat adalah "bukan" apapun yang baik
Bukan \kah tepat dikatakan "baik" dan "jahat" adalah dua hal yang berbeda

gimana bro?

Penjelasan tentang beda dan bukan dari saya adalah sebagai contoh berikut.
Ikan teri BEDA dengan ikan kakap.
Ikan Bukan serangga.


Anda tepat sekali mengatakan bahwa "baik" dan "jahat" adalah dua hal yang berbeda.
Nibbana bukan BEDA dengan Baik dan Jahat.
Nibbana BUKAN Baik,maupun Jahat.
"baik" dan "jahat" = Samsara

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: sobat-dharma on 15 April 2009, 11:38:19 PM

Penjelasan tentang beda dan bukan dari saya adalah sebagai contoh berikut.
Ikan teri BEDA dengan ikan kakap.
Ikan Bukan serangga.



Kalau digantikan dengan:
Ikan teri BUKAN ikan kakap
Ikan beda dengan serangga

bukankah maknanya nggak berubah?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Tan on 15 April 2009, 11:39:57 PM
HENDRAKO:

Kalimat anda berkesan demikian, berikut kutipannya:

[deleted]

TAN:

Ah itu khan kesan Anda saja. Sah-sah saja Anda mau berkesan apapun. Ini negara demokratis. Yang pasti saya tidak menganggap demikian. Itu hanya analogi saja.

Amiduofo,

Tan

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hendrako on 15 April 2009, 11:43:16 PM

Penjelasan tentang beda dan bukan dari saya adalah sebagai contoh berikut.
Ikan teri BEDA dengan ikan kakap.
Ikan Bukan serangga.



Kalau digantikan dengan:
Ikan teri BUKAN ikan kakap
Ikan beda dengan serangga

bukankah maknanya nggak berubah?

Apabila disebut BEDA, masih ada kemungkinan persamaan.
BUKAN, dengan tegas bermaksud tidak ada persamaan ataupun perbedaan.

Contoh saya kurang pas pada serangga, karena masih ada persamaan bahwa sama2 binatang.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hendrako on 15 April 2009, 11:45:44 PM
HENDRAKO:

Kalimat anda berkesan demikian, berikut kutipannya:

TAN:

Ini bertolak belakang dengan pandangan sains bahwa materi tidak dapat diciptakan dan tak dapat dimusnahkan, melainkan materi hanya dapat ditransformasikan menjadi materi lainnya. Justru saya melihat pandangan Mahayana ini lebih sesuai dengan sains modern.

TAN:

Ah itu khan kesan Anda saja. Sah-sah saja Anda mau berkesan apapun. Ini negara demokratis. Yang pasti saya tidak menganggap demikian. Itu hanya analogi saja.

Amiduofo,

Tan



Syukurlah apabila saya salah,  _/\_
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Toni on 15 April 2009, 11:48:35 PM
Quote
PROTON (+), ELEKTRON (-) dan NEUTRON (netral) itu TIDAK SAMA.

Cuma mau menanggapi yang ini. he5x
+, -, ~ adalah sama. Mengapa? Karena + dapat diganti oleh - dan - dapat diganti oleh +. Ini dikarenakan adalah sebuah elektriksitas dan magnetis. Jadi sebenarnya + adalah - dan - adalah +
Jadi jika ditanggapi sama atau tidak sama. Jawabannya adalah sama.

Untuk mahayana vs theravada silahkan lanjut.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hendrako on 15 April 2009, 11:52:38 PM
Quote
PROTON (+), ELEKTRON (-) dan NEUTRON (netral) itu TIDAK SAMA.

Cuma mau menanggapi yang ini. he5x
+, -, ~ adalah sama. Mengapa? Karena + dapat diganti oleh - dan - dapat diganti oleh +. Ini dikarenakan adalah sebuah elektriksitas dan magnetis. Jadi sebenarnya + adalah - dan - adalah +
Jadi jika ditanggapi sama atau tidak sama. Jawabannya adalah sama.

Untuk mahayana vs theravada silahkan lanjut.
Menarik sekali.
Bagaimana dengan Neutron (0), apakah dapat digantikan oleh + dan -?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: truth lover on 16 April 2009, 09:29:38 AM
TAN:

Maaf, bukan mempertentangkan antara T dan M. Saya hanya menanggapi berdasarkan apa yang Anda tanyakan. Kalau Anda menganggap saya mempertentangkan T dan M, maka kemungkina Anda salah tafsir terhadap apa yang saya uraikan sebelumnya.
Oke. Kalau mau dianggap mirip antara dewa yang menjelma jadi manusia mungkin memang ada miripnya. Saya pakai kata "mungkin" karena saya tidak banyak tahu bagaimana proses penjelmaaan suatu makhluk adikodrati seperti yang Anda ungkapkan di atas. Anda sendiri mengatakan bahwa segala sesuatu atau persamaan atau perbedaannya, bukan? Hanya saja, "penjelmaan" itu tidak sepenuhnya sama. Kita sepakati saja bahwa memang ada kemiripannya. Tetapi sesuatu yang mirip tidak selamanya identik bukan?

TL:

Sebelum saya mengungkapkan kemiripannya dengan konsep Hindu, saya ingin bertanya sedikit lagi kepada mas Tan, benarkah bahwa alaya Vinnana terus ada, dan Dharmakaya ini adalah manifestasi alaya vinnana ini?

TAN:

Bukankah saya sudah mengulas panjang lebar tentang "penjelmaan" tadi? Saya sudah menguraikan tentang Tiga Tubuh Buddha, yakni Dharmakaya, Samboghakaya, dan Nirmanakaya. Ini merupakan acuan untuk menjelaskan mengenai "manifestasi" seorang Buddha menurut  Mahayana. Nirmanakaya adalah Tubuh Jelmaan. Sedangkan Samboghakaya secara harafiah berarti Tubuh Pahala. Seorang Buddha dapat memanifestasikan diriNya dalam miliaran nirmanakaya, sementara itu Dharmakayanya tidak perlu berpindah tempat sama sekali, karena Dharmakaya atau Tubuh Dharma itu omnipresence (maha hadir). Mungkin analoginya adalah matahari (selaku Dharmakaya), sinar matahari (Sambhogakaya), dan bayangan matahari di air (Nirmanakaya). Dengan demikian, seorang Buddha dapat "menjelma" di mana saja dan sebagai apa saja, tetapi Dharmakaya-nya tidak bergerak ke manapun. Ini adalah konsep Mahayana. Saya menerima konsep ini karena menurut saya sangat logis dan masuk akal. Mengapa sangat logis dan masuk akal? Marilah kita cermati alasan2 berikut ini:

TL:

Saya ingin bertanya kepada mas Tan, Dharmakaya seorang Buddha dengan Buddha yang lain sama atau berbeda? dimanakah Dharmakaya seorang Buddha ketika ia terlahir kembali sebagai pangeran Siddharta?

TAN:
1.Seorang Buddha telah mengumpulkan paramita yang tak terhitung jumlahnya (silakan lihat kitab Buddhacarita - Fo Shuo Xing Chan, Lalitavistara Sutra, Sutra Damamukanidana - Xianyujing, dll). Seorang Buddha telah menyempurnakan maitri karunanya melalui tingkatan-tingkatan Boddhisattva (diulas di Sutra Dashabhumika - bagian kumpulan Avatamsaka). Dengan demikian, tidak mungkin setelah ia memasuki Nirvana Tanpa Sisa, Beliau berhenti memancarkan energi belas kasihNya terhadap para makhluk. Tidak mungkin energi paramita-paramita itu berhenti begitu saja. Kalau dengan memasuki Nirvana Tanpa Sisa seorang Buddha tidak memiliki dan tidak dapat memancarkan belas kasih lagi, paramita-paramita yang dilakukannya akan menjadi sia-sia; dengan asumsi bahwa maitri karuna yang sejati itu tak terbatas dan tak terkatakan. Maitri karuna sejati tidak dapat mengatakan, "Oke sampai di sini saja saya menolong kamu." Maitri karuna seorang Buddha itu tak dapat berakhir, beda dengan maitri karuna manusia biasa: "Ada uang abang disayang. Tak ada uang abang ditendang

CL:

Saya ingin bertanya kepada mas Tan, bagaimanakah konsep anitya (anicca) menurut Mahayana? Apakah kesadaran nitya atau anitya? Adakah  suatu kekecualian terhadap hukum anitya?

TAN:
2.Orang yang telah bebas tentunya dapat pergi ke mana saja, bukan? Karena itu, bagi saya sangat masuk akal pandangan bahwa seorang Buddha masih dapat "pergi" atau "masuk" lagi ke dunia samsara. Hanya saja "masuk" atau "menjelma"nya Beliau ke dalam samsara itu bukan didasari oleh lobha, dosa, dan moha. Kalau dikatakan bahwa seorang Buddha tidak dapat "menjelma," maka nirvana akan menjadi semacam penjara yang "membatasi" seorang yang telah mencapai pencerahan. Banyak orang dari agama lain yang memahami nirvana semacam ini jadi menyalah artikan bahwa nirvana adalah penjara. Padahal nirvana adalah suatu kondisi, yang melambangkan pembebasan sejati.
Analoginya adalah sebagai berikut. Penjahat harus masuk penjara karena kesalahannya. Tetapi orang bebas (dalam artian bebas dari hukum pidana penjara) boleh berkunjung ke penjara dan setelah itu keluar lagi. Ia datang ke penjara bukan karena kesalahannya dan tidak harus ke sana. Ia datang ke penjara untuk menghibur dan menasihati para narapidana.
Tentu saja, sang Buddha masih dapat datang mengunjungi "penjara" kita ini. Hanya saja dengan cara yang berbeda dengan kita-kita "terlahir" di penjara ini. Beliau hadir bukan karena lobha, dosa, mohanya, melainkan karena maitri karuna Beliau. Konsep Trikaya dapat menjelaskan bagaimana "Kebuddhaan" hadir di samsara ini.

TL:
Sebenarnya yang manakah yang merupakan penjara menurut mas Tan? Nirvana atau batin dan jasmani (panca skandha)? Apakah mas Tan tahu apa yang menyebabkan mahluk terlahir kembali? apakah di Mahayana diajarkan pratitya sramutpada atau tidak?

TAN:
Tentu ada donk. Banyak sekali. Bisa cek di Sutra Avatamsaka, Lankavatara, Saddharmapundarika, Srimaladevisimhanada, Mahaparinirvana, dll.
Di sastra juga banyak, antara lain: Mahayana Uttara Tantra Sashtra, Cheng Wei Shi Lun (karya Xuanzang), Madhyamakasashtra (karya Nagarjuna), dll.
Anda saya sarankan membaca naskah2 di atas, karena saya tidak ada waktu untuk menguraikannya. Lagipula membaca langsung dari sumbernya lebih baik bukan?

TL:

Begini mas Tan, terus terang keterangan mengenai Nirvana dan penjelmaan dalam M adalah filosofi abu-abu yang tak jelas, lebih baik mas Tan sendiri yang mengatakan bagaimana, ada dimana, halaman berapa, alinea ke berapa, jadi jelas.

Ini contoh yang saya dapat dari Lankavatara.net:
It is the “knowledge” of those
… who are free from the dualisms of being and non-being, etc.,

… who are also free from the dualism of no-birth and no-annihilation

… who are free from all assertion and negation

… who have by self-realization gained insight into the truths of egolessness and imagelessness

… who no longer discriminate the world as subject to causation  

… who regard the world as a vision and a dream, like the birth and death of a barren woman’s child, wherein there is nothing .);evolving and nothing disappearing  

perhatikan warna biru jadi tiada sebab terbentuknya dunia, tiada yang berevolusi, tak ada yang lenyap, ini nitya atau anitya mas Tan? konsisten atau tidak dengan pratitya sramutpada?

Metta
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Nevada on 16 April 2009, 10:15:05 AM
Quote from: Tan
Baik! Kata Anda tak bersyarat bukan? Jika Pembebasan Mutlak itu "tidak bisa memancarkan belas kasih lagi" bukankah itu adalah syarat juga? Di sini ada kontradiksi terhadap pernyataan Anda. Anda melepaskan nirvana dari satu syarat tetapi melekatkan padanya suatu syarat lainnya. Masalahnya tidak menjadi selesai, malah berputar2 lagi di hal itu-itu saja. Menurut saya pembebasan mutlak tak bersyarat itu justru adakah kesanggupan untuk memancarkan maitri karuna secara murni tanpa bias2 lobha, dosa, dan moha. Kita tidak dapat mencintai orang lain dengan sungguh2 karena masih diliputi bias-bias lobha, dosa, dan moha. Semua kebajikan kita pada orang sedikit banyak pasti diliputi oleh pertimbangan2 ego betapapun halusnya itu. Adalah ironis bila setelah seseorang mengikis lobha, dosa, dan moha, ia tak dapat lagi memancarkan belas kasih pada makhluk lain. Padahal belas kasih semacam itu adalah belas kasih yang secara logis merupakan maitri karuna sejati. Pandangan bahwa setelah seseorang mencapai nirvana, ia tak dapat lagi memancarkan belas kasih, menurut hemat saya adalah tidak masuk akal.

Baik! Pembebasan Mutlak (Nirvana) adalah kondisi yang tanpa syarat. Oleh karena itu, sesuatu yang tidak dilahirkan; tidak menjelma; tidak muncul; tidak tercipta, tidak mungkin masih memancarkan atau tidak memancarkan belas kasih lagi. Karena Nirvana bukanlah sebab atau akibat, maka tidak akan ada yang namanya aktivitas. Aktivitas memancarkan belas kasih ataupun aktivitas tidak memancarkan belas kasih tidak pernah ada dalam Nirvana. Pun Nirvana adalah bukan ada maupun tiada. Oleh karenanya tidak akan memancarkan belas kasih berbeda dengan tidak bisa memancarkan belas kasih. Komentar saya sebelumnya ternyata malah Anda tanggapi sebagai dualisme lainnya...

Menurut Anda Pembebasan Tak Bersyarat adalah kesanggupan memancarkan maitri-karuna tanpa terbias lobha-dosa-moha? Lalu menurut Anda maitri-karuna itu dipancarkan dari dan oleh siapa / apa? ngat, kata 'memancarkan' itu adalah kata kerja. Memangnya konsep Nirvana bagi Anda itu masih mengenal aktivitas / bekerja?

Pandangan saya bahwa orang yang telah merealisasi Nirvana untuk masih memancarkan maitri-karuna adalah masuk akal. Namun itu saat pancakkhandha masih ada (masih menjalani penghidupan), bukan setelah Parinirvana - alias Nirvana Tanpa Sisa.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Nevada on 16 April 2009, 10:16:11 AM
Quote from: Tan
Apakah yang dimaksud dengan "orang" dan "pribadi" di sini? Apakah orang dalam arti fisik atau bagaimana?

Quote from: sobat-dharma
Dikatakan "keluar-masuk", sebenarnya adalah analogi belaka. Justru karena Nirvana absolut, maka orang yang merealisasi nibbana dapat berada di mana-mana pada saat bersamaan dia tidak ada di mana-mana. Justru aneh sekali jika kita menganggap nirvana absolut, dengan tetap berpandangan bahwa samsara dan nirvana adalah dualitas yang berbeda. Jika nirvana dan samsara adalah dua realitas yang berdiri sendiri-sendiri, maka nirvana itu sendiri pasti berada dalam dualitas. Justru karena nirvana adalah absolut maka ia tidak bisa dipisahkan dengan samsara sekaligus tidak bisa dianggap sebagai esensi yang sama. Sebab "beda" dan "sama" sekali lagi merupakan konstruksi duniawi.

Di postingan-postingan yang sebelumnya, Saudara Tan menyatakan bahwa "2.Orang yang telah bebas tentunya dapat pergi ke mana saja, bukan? Karena itu, bagi saya sangat masuk akal pandangan bahwa seorang Buddha masih dapat "pergi" atau "masuk" lagi ke dunia samsara. Hanya saja "masuk" atau "menjelma"nya Beliau ke dalam samsara itu bukan didasari oleh lobha, dosa, dan moha."...

Jadi saya yang ingin bertanya; "Apakah yang dimaksud dengan 'orang' di statement itu? Apakah orang dalam arti fisik atau bagaimana?"

Orang yang telah merealisasi Nirvana berada dapat berada di mana-mana namun tidak ada di mana-mana pada saat bersamaan? Apakah Nirvana masih mengenal konsep dualistis ada dan tiada; hadir dan absen; muncul dan tidak muncul? Statement sobat-dharma ini juga seudah jelas menyatakan secara implisit bahwa orang yang telah merealisasi Nirvana 'masih hadir', 'masih eksis', 'masih berkehendak', dan dengan kata lain seharusnya masih tunduk pada Hukum Alam Semesta.


Quote from: Tan
Justru karena itu. Karena tidak adanya konsep masuk atau keluar, belas kasih seorang Buddha akan tetap eksis - TIDAK DIBATASI RUANG DAN WAKTU. Saya tidak menerima pandangan Anda di atas, karena:

1.Seolah-olah menyatakan bahwa nirvana hanya dapat dicapai setelah seseorang wafat atau tidak hidup di jagad raya ini. Bagaimana dengan nirvana dengan sisa (saupadisesa nirvana)? Ini nampak nyata dari pernyataan Anda: "Selama masih berada di lingkup jagad raya, maka dualisme akan selalu ada." - artinya selama masih di jagad raya seseorang tak akan mencapai nirvana.

2.Pernyataan Anda kontradiksi dengan poin 1 di atas dengan menyatakan bahwa "Orang yang terbebas tidak akan lagi masuk atau keluar." Dengan demikian, mustahil bagi seseorang mencapai nirvana atau terbebaskan. Begitu terbebaskan, ia akan "keluar" dari jagad raya dan tidak masuk lagi. Jika demikian, dalam benaknya selamanya akan tetap ada dualisme. Bagaimana mungkin ada pembebasan sejati? Justru konsep Mahayana bahwa samsara dan nirvana adalah sama lebih sesuai dengan konsep tidak ada masuk dan keluar. Pantai seberang adalah pantai ini juga (lihat Sutra Prajnaparamitahrdaya) - Gate-gate Paragate Parasamgate Boddhi Svaha!

Apakah Anda tidak sadar bahwa pernyataan Anda "Orang yang bebas itu seharusnya tidak dibatasi ruangan atau apapun (tidak perlu keluar-masuk)" justru mendukung konsep Trikaya dan juga kesamaan samsara dan nirvana.
Peryataan "Orang yang dapat seenaknya keluar-masuk itu bukan orang yang bebas, itu hanyalah orang yang memiliki izin keluar-masuk" ini hanya permainan kata2 Anda saja. Bagaimana kalau saya tanggapi dengan permainan kata-kata pula: "ORANG YANG MENURUT ORANG YANG BELUM TERCERAHI NAMPAK SEPERTI KELUAR MASUK, TETAPI SESUNGGUHNYA DALAM BATINNYA TIDAK ADA KELUAR MASUK." Nah pertanyaan, saya apakah orang itu "keluar masuk"?
Keluar masuk dari sudut pandang siapa?

Amiduofo,

Tan

Iya, maksud saya di postingan yang itu adalah Parinirvana atau Nirvana Tanpa Sisa. :)

Apakah analogi keluar-masuk itu maksudnya kemampuan seorang Buddha untuk menjelma dan menyudahi penjelmaan-Nya itu? Bisa diterangkan lebih lanjut...?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Nevada on 16 April 2009, 10:17:25 AM
Quote from: Tan
Pertanyaan ini tidak tepat, seperti menanyakan jika api mati ke mana perginya api itu. Tetapi pertanyaan Anda saya tanggapi dengan pertanyaan pula. Menurut Anda apakah samsara itu sebuah "tempat" atau "ruang"? Samsara adalah kondisi pikiran. Pikiran yang menentukan Anda "terlahir" di mana saat ini. Anda dilanda keserakahan, artinya Anda sedang terlahir di alam preta. Anda sedang berbahagia, artinya Anda ada di alam dewa. Samsara adalah kondisi pikiran. Jika pikiran tidak mengkondisikan samsara, maka samsara itu tidak ada lagi. Karena itu, samsara adalah nirvana dan nirvana adalah samsara.
Pertanyaan Anda ini juga inkonsten: "Jika Nirvana bukanlah tempat, lantas mengapa Nirvana identik dengan samsara? Apakah Nirvana itu yang mengkondisikan samsara, atau samsara yang mengkondisikan Nirvana?" Anda mengatakan bahwa nirvana adalah absolut, maka tentunya tak ada lagi dualisme. Tak ada lagi yang mengkondisikan nirvana. Tetapi Anda mempertentangkan nirvana dengan menyatakan mana yang mengkondisikan mana. Jika Anda berpegang bahwa nirvana adalah sesuatu yang absolut, maka tidak ada yang saling mengkondisikan lagi. Justru pandangan bahwa nirvana identik dengan samsara memperlihatkan bahwa keduanya tidak saling mengkondisikan. Di sini saya melihat filosofi Mahayana sangat konsisten. Saya tidak perlu menjawab pertanyaan "Jika Nirvana bukanlah tempat, lantas mengapa Nirvana identik dengan samsara? Apakah Nirvana itu yang mengkondisikan samsara, atau samsara yang mengkondisikan Nirvana?" karena berpandangan bahwa nirvana identik dengan samsara. Tidak ada yang saling mengkondisikan. Justru orang yang berpandangan nirvana beda dengan samsara itulah yang harus menjawab pertanyaan tersebut. Pertanyaan Anda boleh dikatakan salah alamat.

Anda menyatakan: "Lantas jika memang identik, mengapa orang yang telah merealisasi Nirvana dikatakan tidak ingin memasuki Nirvana tanpa sisa? Bukankah Nirvana dan samsara saling berkaitan, sehingga orang yang telah merealisasi Nirvana memang tidak akan bisa memasuki Nirvana tanpa sisa?"

Pertanyaan saya: Logika dari mana itu? Saya tidak paham maksud Anda pun tidak mengerti apa keterkaitannya dengan topik diskusi kita.

Amiduofo,

Tan

Samsara dijelaskan oleh Sang Buddha sebagai Roda Kehidupan yang Berulang. Dan dalam mitologi Buddhisme, ada berbagai jenis alam kehidupan, yang kesemuanya berada di Alam Semesta ini. Jadi samsara jelas berada dalam lingkup Alam Semesta ini. Dan itu bukanlah kondisi pikiran. Kondisi pikiran hanyalah cerminan yang menunjukkan apakah kita masih terseret oleh samsara atau terlepas dari samsara.

Ya, saya bertanya apakah Nirvana itu mengkondisikan samsara atau sebaliknya. Itu saya kemukakan karena saya belum mengerti tentang komentar Anda mengenai keidentikan Nirvana dengan samsara. Namun sekarang saya sudah cukup mendapatkan dekripsi tentang Nirvana dari Anda...

Saya menyatakan : "Lantas jika memang identik, mengapa orang yang telah merealisasi Nirvana dikatakan tidak ingin memasuki Nirvana tanpa sisa? Bukankah Nirvana dan samsara saling berkaitan, sehingga orang yang telah merealisasi Nirvana memang tidak akan bisa memasuki Nirvana tanpa sisa?"

Ini pun saya kemukakan karena membaca statement Anda yang berbunyi : "Dengan demikian, tidak mungkin setelah ia memasuki Nirvana Tanpa Sisa, Beliau berhenti memancarkan energi belas kasihNya terhadap para makhluk. Tidak mungkin energi paramita-paramita itu berhenti begitu saja. Kalau dengan memasuki Nirvana Tanpa Sisa seorang Buddha tidak memiliki dan tidak dapat memancarkan belas kasih lagi, paramita-paramita yang dilakukannya akan menjadi sia-sia; dengan asumsi bahwa maitri karuna yang sejati itu tak terbatas dan tak terkatakan. Maitri karuna sejati tidak dapat mengatakan, "Oke sampai di sini saja saya menolong kamu." Maitri karuna seorang Buddha itu tak dapat berakhir, beda dengan maitri karuna manusia biasa: "Ada uang abang disayang. Tak ada uang abang ditendang."

Maksud dari pertanyaan saya adalah :
- Samsara dan Nirvana adalah identik...
- Setelah memasuki Nirvana (maksudnya Parinirvana), Buddha masih ingin memancarkan maitri-karuna...
- Karena masih ingin, artinya kalau tidak ingin pun sebenarnya bisa...
- Namun karena keinginan-Nya lebih kuat, maka Buddha pun tetap memancarkan maitri-karuna - alias tidak ingin memasuki Nirvana Tanpa Sisa.
- Karena menurut Buddha, memasuki Nirvana Tanpa Sisa adalah tidakan yang tidak layak untuk Orang Yang Tercerahkan.
- Karena samsara dan Nirvana adalah identik, maka seharusnya memang tidak ada Nirvana Tanpa Sisa. Karena keidentikan Nirvana dengan samsara ini secara implisit menujukkan bahwa Nirvana adalah kondisi yang masih memiliki elemen-elemen... (memancarkan, maitri, karuna, keinginan - itu semua elemen-elemen / unsur-unsur).
- Jadi... Apakah pandangan saya ini benar atau salah? Tolong dijelaskan lagi...

:)
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Nevada on 16 April 2009, 10:18:19 AM
Quote from: sobat-dharma
Kontradiksinya, diri justru yang sering menghambat seseorang merealisasi nirvana. Karena terjebak pandangan ini, kita kemudian berpikir bahwa nirvana bisa direalisasi dengan kehendak dan usaha diri. Pada dasarnya, orang yang menyerahkan upayanya pada "diri" ataupun "bantuan yang lain" pada dasarnya menempuh jalan berbeda menuju arah yang sama. Seseorang yang pada awalnya mengandalkan tekad diri sendiri, pada suatu titik di jalan dia harus menanggalkan bahwa usaha dari diri yang berlebihan justru menghambat pencapaian nirvana. Karena bagaimanapun "diri" adalah wujud dari ego yang harus dilepaskan. Begitu juga yang mengandalkan metode "bantuan yang lain" pada satu titik pencapaian realisasi tertentu ia menyadari bahwa "tidak ada jarak antara yang dibantu dan membantu", sehingga akhirnya ia harus juga melepaskan "yang lain" dari pandangannya. Oleh karena itu dalam Mahayana selalu dikatakan "Sifat Kebuddhaan telah ada di dalam diri setiap makhluk hidup," hanya yang sadar disebut sebagai Buddha, yang tidak sadar yang disebut sebagai awam. Dalam jalan menuju realisasi Nibbana, seseorang akan melepaskan dikotomi antara "diri/aku" dengan "yang lain", maka apa bedanya antara memulai dengan "kemampuan diri sendiri" atau "dengan memohon bantuan yang lain", keduanya jika dilakukan dengan praktik yang benar akan menuju hasil yang sama baiknya. Sebaliknya jika keduanya dilakukan dengan praktik yang salah akan menuju hasil yang buruk.

Saya tahu bahwa sebagai manusia, kita masih membutuhkan bantuan orang lain. Semua keberhasilan yang dapat kita raih pada dasarnya dibantu pula oleh orang lain.

Namun maksud saya, yang bisa membantu diri sendiri untuk merealisasi Pencerahan adalah diri sendiri tentunya. Sang Buddha hanya sebagai guru dan penunjuk jalan. Oleh karena itu, saya kurang mengerti dengan konsep Mahayanis yang menyatakan :

"...saya baru akan mau menjadi Buddha setelah semua makhluk terbebas dari penderitaan..."

Tekad dan semangatnya sangat baik dan positif. Namun satu hal yang kurang pas di akal sehat saya adalah nilai logisnya. Karena :
- Kita tidak mungkin mampu menolong semua makhluk.
- Seandainya semua makhluk sudah terbebas, akhirnya tinggal kita yang belum terbebas. Saat itu bila kita membutuhkan pertolongan, maka tidak ada satu makhluk pun yang ada untuk mau / mampu menolong kita.
- Jumlah makhluk hidup di samsara ini tidak terhitung. Kalau semua orang kerjanya hanya menunda, ujung-ujungnya hanya ada hukum timbal-balik antara penunda dengan orang yang ditunggu. Alias berjalan di tempat.
- Menurut saya (ini menurut saya yha...), samsara ini selalu ada... Jadi tidak mungkin samsara ini kehabisan penghuninya / makhluk hidup.
- dan kalau semua poin itu benar, maka tekad 'menolong makhluk lain' ini hanya menjadi aksi kebaikan yang merugikan diri sendiri - ibarat memberi makan pada semua pengemis di dunia, tapi diri sendiri akhirnya mati kelaparan.
- dll...

Mohon penjelasan lanjutnya... :)
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 16 April 2009, 11:00:32 AM

"...saya baru akan mau menjadi Buddha setelah semua makhluk terbebas dari penderitaan..."

Tekad dan semangatnya sangat baik dan positif. Namun satu hal yang kurang pas di akal sehat saya adalah nilai logisnya. Karena :
- Kita tidak mungkin mampu menolong semua makhluk.
- Seandainya semua makhluk sudah terbebas, akhirnya tinggal kita yang belum terbebas. Saat itu bila kita membutuhkan pertolongan, maka tidak ada satu makhluk pun yang ada untuk mau / mampu menolong kita.
- Jumlah makhluk hidup di samsara ini tidak terhitung. Kalau semua orang kerjanya hanya menunda, ujung-ujungnya hanya ada hukum timbal-balik antara penunda dengan orang yang ditunggu. Alias berjalan di tempat.
- Menurut saya (ini menurut saya yha...), samsara ini selalu ada... Jadi tidak mungkin samsara ini kehabisan penghuninya / makhluk hidup.
- dan kalau semua poin itu benar, maka tekad 'menolong makhluk lain' ini hanya menjadi aksi kebaikan yang merugikan diri sendiri - ibarat memberi makan pada semua pengemis di dunia, tapi diri sendiri akhirnya mati kelaparan.
- dll...

Mohon penjelasan lanjutnya... :)


- Kita tidak mungkin mampu menolong semua makhluk. >> mungkin kita tidak bisa menolong semua, tapi berapa banyak yang bisa kita tolong kita tolong (mengikis ke-egoisan, mementingkan diri sendiri)
beda pemikiran theravada ama mahayana
Theravada : mencapai buddha baru menolong orang (tapi base berdasarkan pemikiran ini, saya ragu, kalau setelah mencapai buddha mo menolong orang, karena sudah berpikiran masa bodoh dengan orang lain, yang penting saya selamat).
Mahayana : mencapai boddhisattva dan berusaha menolong semua orang (karena kalau menunggu mencapai buddha dulu, sudah terlalu lama dan terlambat)


- Seandainya semua makhluk sudah terbebas, akhirnya tinggal kita yang belum terbebas. Saat itu bila kita membutuhkan pertolongan, maka tidak ada satu makhluk pun yang ada untuk mau / mampu menolong kita. >> sudah bodhisattva, sudah calon buddha, tinggal memasuki nirvana saja, tidak perlu ditolong lagi

- Jumlah makhluk hidup di samsara ini tidak terhitung. Kalau semua orang kerjanya hanya menunda, ujung-ujungnya hanya ada hukum timbal-balik antara penunda dengan orang yang ditunggu. Alias berjalan di tempat. >> itu lah tugas nya mahayana yang mencoba menyadarkan mereka, bukan nya berpangku tangan saja....

sori, bahasa nya lugas... n tajam...

hehehe...
saya mencoba menjawab dari sudut pandang mahayana
karena bro upasaka masih melihat dari sisi pandang theravada
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Nevada on 16 April 2009, 11:07:37 AM
[at] naviscope

No problemo... Saya juga sedang belajar Aliran Mahayana. Jadi saya ingin turun aktif berdiskusi... ;)
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 16 April 2009, 11:08:57 AM

Pancakhanda.

Jadi yang membedakan antara nibbana dan parinibbana, hanya pada hilang dan lenyapnya tubuh belaka atau alias mati? Bukankah demikian maksudnya? Kalau demikian, maka nibbana masih bisa dicemari oleh pancakandha. Kalau seseorang dikatakan sudah merealisasikan nibbana/nirvana tapi masih tercemar oleh pancakandha bukankah sulit dikatakan bahwa ia merealisasikan nibbana/nirvana? Jika kematian masih membawa dampak perubahanan padanya dapatkah dikatakan ia mencapai nibbana/nirvana? Bukankah nibbana/nirvana adalah kondisi yang melampaui kehidupan dan kematian?

bukan hanya pada "hilang"-nya tubuh (rupa) yang merupakan salah satu khandha dari panca khanda... tetapi semua khanda sudah tidak bersatu padu lagi. Terhenti proses bersatu-nya khanda-khanda itu...
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 16 April 2009, 11:11:22 AM
DILBERT:

buat apa lagi semua paramita ketika dualisme nirvana dan samsara sudah tidak ada ? bukankah ini INKONSISTEN...

TAN:

Buat apa lagi semua paramita dilepaskan ketika dualisme nirvana dan samsara sudah tidak ada? Apakah paramita itu sesuatu yang bisa kita lepaskan seenaknya seperti membawa tas belanjaan setelah berbelanja di mall? Saya kira tidak begitu lho. Paramita tidaklah dipegang atau dilepaskan. Itu adalah sesuatu yang alami.

Amiduofo,

Tan

Sdr.Tan benar ketika mengatakan bahwa Paramita tidak dipegang dan dilepaskan. Itu sesuatu yang alami... Maka ketika mencapai parinibbana (nibbana tanpa sisa). Tidak ada lagi yang bisa dipancarkan paramita-nya... karena alamiahnya sudah berhenti proses.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hendrako on 16 April 2009, 11:20:26 AM
ANDA:

Timbunan paramita seorang Bhodhisattva memuncak pada pencapaian Sammasambuddha.

TAN:

Setelah itu habis sama sekali ya? Sungguh ironis! Seseorang berjuang sungguh-sungguh demi membebaskan diri dari lobha dosa, dan moha. Tetapi begitu "gong"nya sudah dicapai, semua "hilang" sama sekali. Tidak ada sisa2 maitri karunanya.  Ini yang saya tidak bisa terima. Mohon maaf bagi saya tidak logis.

***


"Maitri Karuna" seorang Sammasambuddha, adalah beliau mengajar manusia dan dewa.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 16 April 2009, 11:26:03 AM

Yang dimaksud oleh Bro Dilbert adalah Parinibbana, Nibbana tanpa sisa.

Apakah "sisa" itu kalau gitu? Apa yang bisa tersisa dari pencapaian nibbana? Kalau tanpa sisa apa yang tak tersisa kalau demikian? Mohon masukkannya. Terimakasih.

yang sisa itu adalah pencapaian nibbana oleh individu yang masih hidup di dunia ini... yang dalam hal ini adalah panca khanda... itu lah sisa...
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 16 April 2009, 11:51:14 AM
ANDA:

Timbunan paramita seorang Bhodhisattva memuncak pada pencapaian Sammasambuddha.

TAN:

Setelah itu habis sama sekali ya? Sungguh ironis! Seseorang berjuang sungguh-sungguh demi membebaskan diri dari lobha dosa, dan moha. Tetapi begitu "gong"nya sudah dicapai, semua "hilang" sama sekali. Tidak ada sisa2 maitri karunanya.  Ini yang saya tidak bisa terima. Mohon maaf bagi saya tidak logis.

***


"Maitri Karuna" seorang Sammasambuddha, adalah beliau mengajar manusia dan dewa.


yang di bold MERAH itu-lah pola pikir seorang puthujana yang masih mempertimbangkan untung rugi (DUALISME)... makanya tidak akan logis kalau pola pikir seorang puthujana (awam) dibandingkan dengan seorang tercerahkan...

di sutra vajracheddika (sutra intan / salah satu sutra utama Mahayana), saya kutip:

Kemudian Subhuti berkata kepada Hyang Buddha, "Yang Dijunjungi, jika seorang laki-laki atau wanita bajik bertekad untuk mencapai Anuttara-samyak-sambodhi, bagaimana seharusnya dia bertumpu, bagaimana seharusnya dia mengendalikan hatinya?"

Hyang Buddha memberitahu Subhuti, "Seorang laki-laki atau wanita bajik, yang bertekad untuk mencapai Anuttara-samyak-sambodhi harus berpikiran demikian:"Aku harus membebaskan semua makhluk hidup dari arus tumimbal lahir, tetapi bila semua makhluk hidup sudah dibebaskan dari tumimbal lahir, sebenarnya sama sekali tidak ada makhluk hidup yang dibebaskan. Mengapa begitu? Subhuti, jika seorang Bodhisattva masih mempunyai ciri keakuan, ciri manusia, ciri makhluk hidup dan ciri kehidupan, maka dia bukanlah seorang Bodhisattva. Apa sebabnya? Subhuti, sebenarnya tidak ada Dharma tentang tekad untuk mencapai Anuttara-samyak-sambodhi

Kemudian lagi :

"Subhuti, seorang Bodhisattva juga demikian, jika dia berkata, "Aku harus membebaskan makhluk hidup yang tak terhitung dari tumimbal lahir, maka dia tidak akan disebut seorang Bodhisattva. Apa sebabnya? Subhuti, sebenarnya tidak ada Dharma yang dinamakan Bodhisattva. Karena itu Hyang Buddha mengatakan semua Dharma tidak memiliki konsepsi diri, konsepsi manusia, konsepsi makhluk hidup, dan konsepsi kehidupan."

"Subhuti, jika seorang Bodhisattva mengatakan, "Aku akan menghiasi Tanah Buddha", dia tidak akan disebut Bodhisattva. Apa sebabnya? Memperindah tanah Buddha dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan memperindah. Oleh sebab itu dinamakan memperindah. Subhuti, jika seorang Bodhisattva memahami bahwa segala Dharma tidak memiliki konsepsi diri, Tathagatha menyebutnya sebagai
seorang Bodhisattva sejati."


Kemudian :

"Subhuti, bagaimana pendapatmu? Jika ada orang yang mengatakan bahwa Tathagatha mempunyai pikiran : "Aku akan membebaskan semua makhluk hidup". Subhuti, jangan mempunyai pikiran demikian. Mengapa? Karena sebenarnya tidak ada makhluk hidup yang dibebaskan oleh Tathagatha. Jika ada makhluk hidup yang dibebaskan oleh Tathagatha, maka Tathagatha akan mempunyai konsepsi
keakuan, manusia, makhluk hidup, dan kehidupan. Subhuti, keberadaan konsepsi keakuan dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan keberadaan konsepsi diri tetapi orang awam menganggapnya sebagai keberadaan konsepsi keakuan. Subhuti, orang awam dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan orang awam. Oleh sebab itu dinamakan orang awam."


Dan Lagi :

"Subhuti, seorang Bodhisattva boleh memenuhi sistem dunia yang banyaknya bagai butir-butir pasir di sungai Gangga dengan 7 macam permata mulia dan memberikannya sebagai dana amal. Tetapi jika seorang lainnya mengetahui bahwa semua Dharma tidak memiliki diri dan mencapai Anuttpatika-Dharma-ksanti, pahala dan kebajikan dari Bodhisattva tersebut akan melampaui Bodhisattva yang pertama. Mengapa begitu? Subhuti, itu disebabkan karena Bodhisattva tidak menerima pahala dan kebajikan."

Subhuti berkata kepada Hyang Buddha, "Yang Djunjungi, bagaimana bisa Bodhisattva tidak menerima pahala dan kebajikan?"

"Subhuti, karena Bodhisattva tidak boleh mengharapkan pahala dan kebajikan dari perbuatan baik yang dilakukannya, mereka dikatakan tidak menerima pahala dan kebajikan."


-------

Jika mainstream ajaran Mahayana lebih menekankan pada pencapaian annutara sammasambuddha, menurut saya OK OK saja... tetapi bukan dalam artian bahwa setelah pencapaian nibbana tanpa sisa (parinibbana) seorang annutara samyaksambuddha itu masih bisa begini begitu... Tentu beda pencapaian seorang sravaka dengan seorang pacceka maupun seorang samyaksambuddha. Tetapi dalam runut (proses) alamiah-nya tentang pembebasan adalah berhenti-nya proses, melihat apa adanya (secara alamiah), melampaui dualisme untung rugi, baik jahat dsbnya. Itulah akhir dari penderitaan.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 16 April 2009, 11:59:22 AM
>> mungkin kita tidak bisa menolong semua, tapi berapa banyak yang bisa kita tolong kita tolong (mengikis ke-egoisan, mementingkan diri sendiri)
Apakah Mahayana mempertimbangkan bahwa seseorang yang belum mencapai Ke-Buddha-an bisa berbuat kesalahan, sehingga bisa juga mengajarkan hal yang keliru, ataukah hanya berasumsi ajaran Mahayana pasti benar, keegoisan dikikis dengan menyebarkan ajaran PASTI BENAR ini?


Quote
beda pemikiran theravada ama mahayana
Theravada : mencapai buddha baru menolong orang (tapi base berdasarkan pemikiran ini, saya ragu, kalau setelah mencapai buddha mo menolong orang, karena sudah berpikiran masa bodoh dengan orang lain, yang penting saya selamat).
Mahayana : mencapai boddhisattva dan berusaha menolong semua orang (karena kalau menunggu mencapai buddha dulu, sudah terlalu lama dan terlambat)
Ini pemikiran keliru tentang Theravada. Dalam Theravada, kita TIDAK BISA menolong orang lain, bahkan Buddha sendiri tidak bisa. (Bisa dilihat dari kedatangan Buddha Gotama TIDAK "menyulap" semua mahluk jadi suci.)
Buddha hanya memberikan jalan, namun seseorang harus 'menolong dirinya sendiri'. Jadi mungkin di Mahayana ada semacam "Juru selamat" yang bisa menolong orang lain, namun di Theravada tidak. Terlebih lagi, orang yang masih menggapai-gapai dalam lumpur TIDAK BISA menyelamatkan orang yang di lumpur juga. Orang yang sudah selamat dari lumpur baru bisa membantu mereka yang masih di lumpur.
Jadi ajaran Theravada bukan agar egois & berpangku tangan, tetapi agar seseorang tahu diri kalau ga bisa berenang, jangan jadi lifeguard.

Mengenai hal ini, saya mau tanya, apakah ini berarti di Mahayana, orang yang terperangkap dalam lumpur, belum keluar dari lumpur, bisa menolong orang lain yang juga di lumpur?

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Johsun on 16 April 2009, 12:06:47 PM
Mungkin didalam nibbana sudah tidak ada dilbert, tan, dan makhluk dan aku.
Dan mungkin begitu mnrt pndngan buddhism. Maka apa yg diributkan mgnai nibbana.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 16 April 2009, 12:13:57 PM
>> mungkin kita tidak bisa menolong semua, tapi berapa banyak yang bisa kita tolong kita tolong (mengikis ke-egoisan, mementingkan diri sendiri)
Apakah Mahayana mempertimbangkan bahwa seseorang yang belum mencapai Ke-Buddha-an bisa berbuat kesalahan, sehingga bisa juga mengajarkan hal yang keliru, ataukah hanya berasumsi ajaran Mahayana pasti benar, keegoisan dikikis dengan menyebarkan ajaran PASTI BENAR ini?


Quote
beda pemikiran theravada ama mahayana
Theravada : mencapai buddha baru menolong orang (tapi base berdasarkan pemikiran ini, saya ragu, kalau setelah mencapai buddha mo menolong orang, karena sudah berpikiran masa bodoh dengan orang lain, yang penting saya selamat).
Mahayana : mencapai boddhisattva dan berusaha menolong semua orang (karena kalau menunggu mencapai buddha dulu, sudah terlalu lama dan terlambat)
Ini pemikiran keliru tentang Theravada. Dalam Theravada, kita TIDAK BISA menolong orang lain, bahkan Buddha sendiri tidak bisa. (Bisa dilihat dari kedatangan Buddha Gotama TIDAK "menyulap" semua mahluk jadi suci.)
Buddha hanya memberikan jalan, namun seseorang harus 'menolong dirinya sendiri'. Jadi mungkin di Mahayana ada semacam "Juru selamat" yang bisa menolong orang lain, namun di Theravada tidak. Terlebih lagi, orang yang masih menggapai-gapai dalam lumpur TIDAK BISA menyelamatkan orang yang di lumpur juga. Orang yang sudah selamat dari lumpur baru bisa membantu mereka yang masih di lumpur.
Jadi ajaran Theravada bukan agar egois & berpangku tangan, tetapi agar seseorang tahu diri kalau ga bisa berenang, jangan jadi lifeguard.

Mengenai hal ini, saya mau tanya, apakah ini berarti di Mahayana, orang yang terperangkap dalam lumpur, belum keluar dari lumpur, bisa menolong orang lain yang juga di lumpur?



Mantap... setajam silet...

GRP SENT...
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Indra on 16 April 2009, 12:22:40 PM
GRP untuk semuanya karena berdiskusi dengan baik, _/\_
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 16 April 2009, 01:21:27 PM
Jadi ajaran Theravada bukan agar egois & berpangku tangan, tetapi agar seseorang tahu diri kalau ga bisa berenang, jangan jadi lifeguard.

<< bukan nya mo sok jadi lifeguard
tapi berusaha saling belajar, saling sharing, saling membantu, bahu membahu (beda kalau ditheravada, kan lebih cenderung belajar sendiri, nah kalau belajar sendiri-sendiri, umat awam yang tidak mengerti, langsung dikasi buku tripitaka, nech belajar sendiri ya, sang buddha sudah menunjukan jalan)


Mengenai hal ini, saya mau tanya, apakah ini berarti di Mahayana, orang yang terperangkap dalam lumpur, belum keluar dari lumpur, bisa menolong orang lain yang juga di lumpur?
<< setidaknya kita berusaha, sama2 keluar dari lumpur
kalau kayak gitu, belum keluar dari lumpur, kita harus keluar dari lumpur dulu, tetapi orang lain sudah keburu tenggelam dan mati bro, gimana dong? orang itu sudah terlanjur masuk neraka, gimana lagi mo diselamatin?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 16 April 2009, 02:03:22 PM
bukan nya mo sok jadi lifeguard
tapi berusaha saling belajar, saling sharing, saling membantu, bahu membahu (beda kalau ditheravada, kan lebih cenderung belajar sendiri, nah kalau belajar sendiri-sendiri, umat awam yang tidak mengerti, langsung dikasi buku tripitaka, nech belajar sendiri ya, sang buddha sudah menunjukan jalan)
Memangnya kalo Bro naviscope masuk vihara Theravada, semua orang nongkrong sendiran di perpustakaan baca buku, tidak ada yang diskusi, nanya bhante, ikut dhamma class, denger ceramah?
Saya sih memang ke vihara mana pun, tapi setahu saya, rumah ibadah agama apa pun ga ada yang cuma disodorin buku lalu disuruh belajar sendiri deh.

Saya rasa OK saja tentu kalau sesama umat saling peduli, justru harus begitu. Tetapi saya kurang cocok dengan sikap "promosi agama sendiri" ke orang lain dengan dalih "mengikis keegoisan". Saya juga sering bertemu dengan "sales agama" dengan dalih "mengasihi dan ingin menyelamatkan jiwa saya". Bagi saya, itu bukan "tidak egois" atau "mengasihi", tetapi lebih ke arah "menghakimi" ("saya sudah tahu yang paling benar, sementara anda punya salah, maka saya mengenalkan punya saya supaya anda ga sesat").



Quote
<< setidaknya kita berusaha, sama2 keluar dari lumpur
kalau kayak gitu, belum keluar dari lumpur, kita harus keluar dari lumpur dulu, tetapi orang lain sudah keburu tenggelam dan mati bro, gimana dong? orang itu sudah terlanjur masuk neraka, gimana lagi mo diselamatin?

Ada kasus seseorang mau menolong temannya hampir tenggelam, tetapi dia sendiri tidak tahu bagaimana caranya. Orang yang hampir tenggelam itu meronta-ronta sambil berusaha terus memeluk "penyelamat"nya dengan keras. Alhasil, keduanya mati tenggelam.
Terlepas dari niat baiknya, si penyelamat tidak tahu bahwa kalau mau menolong orang yang hampir tenggelam itu harus dari belakang, maka hasilnya begitu.

Ini memang kepercayaan, masalah kecocokan, bukan benar & salah. Tapi kalau saya memang lebih cocok dengan "keluarlah dari lumpur secepatnya, maka dengan begitu bisa membantu yang masih di lumpur" bukan "saya tidak akan keluar dari lumpur kalau tidak beramai-ramai".

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 16 April 2009, 02:32:58 PM
Ini memang kepercayaan, masalah kecocokan, bukan benar & salah. Tapi kalau saya memang lebih cocok dengan "keluarlah dari lumpur secepatnya, maka dengan begitu bisa membantu yang masih di lumpur" bukan "saya tidak akan keluar dari lumpur kalau tidak beramai-ramai".

 =))

bisa saja bro Kainyn...
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 16 April 2009, 02:37:51 PM
bukan nya mo sok jadi lifeguard
tapi berusaha saling belajar, saling sharing, saling membantu, bahu membahu (beda kalau ditheravada, kan lebih cenderung belajar sendiri, nah kalau belajar sendiri-sendiri, umat awam yang tidak mengerti, langsung dikasi buku tripitaka, nech belajar sendiri ya, sang buddha sudah menunjukan jalan)
Memangnya kalo Bro naviscope masuk vihara Theravada, semua orang nongkrong sendiran di perpustakaan baca buku, tidak ada yang diskusi, nanya bhante, ikut dhamma class, denger ceramah?
Saya sih memang ke vihara mana pun, tapi setahu saya, rumah ibadah agama apa pun ga ada yang cuma disodorin buku lalu disuruh belajar sendiri deh.

Saya rasa OK saja tentu kalau sesama umat saling peduli, justru harus begitu. Tetapi saya kurang cocok dengan sikap "promosi agama sendiri" ke orang lain dengan dalih "mengikis keegoisan". Saya juga sering bertemu dengan "sales agama" dengan dalih "mengasihi dan ingin menyelamatkan jiwa saya". Bagi saya, itu bukan "tidak egois" atau "mengasihi", tetapi lebih ke arah "menghakimi" ("saya sudah tahu yang paling benar, sementara anda punya salah, maka saya mengenalkan punya saya supaya anda ga sesat").



Quote
<< setidaknya kita berusaha, sama2 keluar dari lumpur
kalau kayak gitu, belum keluar dari lumpur, kita harus keluar dari lumpur dulu, tetapi orang lain sudah keburu tenggelam dan mati bro, gimana dong? orang itu sudah terlanjur masuk neraka, gimana lagi mo diselamatin?

Ada kasus seseorang mau menolong temannya hampir tenggelam, tetapi dia sendiri tidak tahu bagaimana caranya. Orang yang hampir tenggelam itu meronta-ronta sambil berusaha terus memeluk "penyelamat"nya dengan keras. Alhasil, keduanya mati tenggelam.
Terlepas dari niat baiknya, si penyelamat tidak tahu bahwa kalau mau menolong orang yang hampir tenggelam itu harus dari belakang, maka hasilnya begitu.

Ini memang kepercayaan, masalah kecocokan, bukan benar & salah. Tapi kalau saya memang lebih cocok dengan "keluarlah dari lumpur secepatnya, maka dengan begitu bisa membantu yang masih di lumpur" bukan "saya tidak akan keluar dari lumpur kalau tidak beramai-ramai".



Serperti saya tekankan sama seperti Bro tan. Konsep Tera dengan maha memang ada perbedaan. Bukan berarti Mahayana itu tidak murni ajarannya, bukan berarti tera murni ajarannya, karena semua kitab kitab suci yang ada itu tidak ada letak permurnianya. Semua itu berdiri sendiri Mahayana dengan Kanon Sansekerta pada konsuil ke 2. Sementara kanon pali Pada konsuil ke 3. Dimana kedua aliran ini sebenarnya tidak pernah ketemu. memiliki daerah masing, tradisi sendiri - sendiri. Bagaimana mungkin bisa kalo memaksakan Konsep Tera ke maha. Konsep maha ke tera kalo orangnya masih punya EGO sendiri. Seperti saya katakan anda hilangkan EGO anda dulu baru bisa pelajari sesuatu yang berbenda dengan anda.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 16 April 2009, 02:52:14 PM
^
^
^
thanks bro

tapi apakah kamu yakin mahayana ada dulu-an?
kalau mahayana ada dulu-an, lebih asli mana donk,
ama yang muncul belakangan...

pertanyaan retoris...  ;D
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 16 April 2009, 03:00:03 PM
^
^
^
thanks bro

tapi apakah kamu yakin mahayana ada dulu-an?
kalau mahayana ada dulu-an, lebih asli mana donk,
ama yang muncul belakangan...

pertanyaan retoris...  ;D

Sebenernya ngak ada yang duluan Pis, dua duanya itu udah berdiri sendiri semenjak Buddha kita meninggal. Angak ada istilah permurnian ajaran aliran tapi yang ada adalah pemahaman, doktrin, tradisi dan juga kehadiran dua aliran ini emang sudah ada. jadi tidak ada yang saling mendahului dan tidak ada paling murni sebenarnya.

Lagi pula Sadarlah yang merasa sana sini pali, Buddha kita tuh sebenarnya tuh ngak pernah bisa berbahasa pali, dia mengunakan Bahasa Maghandi. makanya kenapa saya gembar gembor buku Wacana Buddha Dharma karangan Romo Khrisnanda Wijaya Mukti, karena dalam buku itu sudah disebutkan kedua aliran ini hadir darimana . Makanya Baca dulu. Sebelum komentar
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 16 April 2009, 03:11:46 PM
^
^
^
thanks bro

tapi apakah kamu yakin mahayana ada dulu-an?
kalau mahayana ada dulu-an, lebih asli mana donk,
ama yang muncul belakangan...

pertanyaan retoris...  ;D

Sebenernya ngak ada yang duluan Pis, dua duanya itu udah berdiri sendiri semenjak Buddha kita meninggal. Angak ada istilah permurnian ajaran aliran tapi yang ada adalah pemahaman, doktrin, tradisi dan juga kehadiran dua aliran ini emang sudah ada. jadi tidak ada yang saling mendahului dan tidak ada paling murni sebenarnya.

Lagi pula Sadarlah yang merasa sana sini pali, Buddha kita tuh sebenarnya tuh ngak pernah bisa berbahasa pali, dia mengunakan Bahasa Maghandi. makanya kenapa saya gembar gembor buku Wacana Buddha Dharma karangan Romo Khrisnanda Wijaya Mukti, karena dalam buku itu sudah disebutkan kedua aliran ini hadir darimana . Makanya Baca dulu. Sebelum komentar


Aliran-aliran BUDDHA sudah ada sejak BUDDHA masih hidup ? Interpretasi sendiri sendiri atau gimana ?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 16 April 2009, 03:17:42 PM
^
^
^
aliran buddha sudah ada sejak sang buddha hidup?
berarti agama lain juga ada donk, sejak buddha hidup???
sama donk kondisi-nya kayak sekarang, ada kairoh & romah???


tripitaka asli ditulis dalam bahasa sansekerta kan?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 16 April 2009, 03:19:07 PM
^
^
^
thanks bro

tapi apakah kamu yakin mahayana ada dulu-an?
kalau mahayana ada dulu-an, lebih asli mana donk,
ama yang muncul belakangan...

pertanyaan retoris...  ;D

Sebenernya ngak ada yang duluan Pis, dua duanya itu udah berdiri sendiri semenjak Buddha kita meninggal. Angak ada istilah permurnian ajaran aliran tapi yang ada adalah pemahaman, doktrin, tradisi dan juga kehadiran dua aliran ini emang sudah ada. jadi tidak ada yang saling mendahului dan tidak ada paling murni sebenarnya.

Lagi pula Sadarlah yang merasa sana sini pali, Buddha kita tuh sebenarnya tuh ngak pernah bisa berbahasa pali, dia mengunakan Bahasa Maghandi. makanya kenapa saya gembar gembor buku Wacana Buddha Dharma karangan Romo Khrisnanda Wijaya Mukti, karena dalam buku itu sudah disebutkan kedua aliran ini hadir darimana . Makanya Baca dulu. Sebelum komentar


Aliran-aliran BUDDHA sudah ada sejak BUDDHA masih hidup ? Interpretasi sendiri sendiri atau gimana ?

Interprasi dari siapa boss ?, Siapa nulis Buddha Masih hidup ?. Sesudah Beliau meninggal, baca atuh tulisan saya baik - baik. Kalo ngak bisa baca jelas dengan baik pakai kaca pembesar dong :P. lah jelas tulisan saya setelah BUDDHA MENINGGAL. Bukan semasa dia HIDUP
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Indra on 16 April 2009, 03:23:47 PM
^
^
^
thanks bro

tapi apakah kamu yakin mahayana ada dulu-an?
kalau mahayana ada dulu-an, lebih asli mana donk,
ama yang muncul belakangan...

pertanyaan retoris...  ;D

Sebenernya ngak ada yang duluan Pis, dua duanya itu udah berdiri sendiri semenjak Buddha kita meninggal. Angak ada istilah permurnian ajaran aliran tapi yang ada adalah pemahaman, doktrin, tradisi dan juga kehadiran dua aliran ini emang sudah ada. jadi tidak ada yang saling mendahului dan tidak ada paling murni sebenarnya.

Lagi pula Sadarlah yang merasa sana sini pali, Buddha kita tuh sebenarnya tuh ngak pernah bisa berbahasa pali, dia mengunakan Bahasa Maghandi. makanya kenapa saya gembar gembor buku Wacana Buddha Dharma karangan Romo Khrisnanda Wijaya Mukti, karena dalam buku itu sudah disebutkan kedua aliran ini hadir darimana . Makanya Baca dulu. Sebelum komentar


menurut mbah Wiki, http://en.wikipedia.org/wiki/Pali
Bahasa Pali adalah bahasa yang dipakai oleh penduduk Kerajaan Magadha, jadi bahasa Pali=Magadha.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 16 April 2009, 03:26:07 PM
^
^
^
thanks bro

tapi apakah kamu yakin mahayana ada dulu-an?
kalau mahayana ada dulu-an, lebih asli mana donk,
ama yang muncul belakangan...

pertanyaan retoris...  ;D

Sebenernya ngak ada yang duluan Pis, dua duanya itu udah berdiri sendiri semenjak Buddha kita meninggal. Angak ada istilah permurnian ajaran aliran tapi yang ada adalah pemahaman, doktrin, tradisi dan juga kehadiran dua aliran ini emang sudah ada. jadi tidak ada yang saling mendahului dan tidak ada paling murni sebenarnya.

Lagi pula Sadarlah yang merasa sana sini pali, Buddha kita tuh sebenarnya tuh ngak pernah bisa berbahasa pali, dia mengunakan Bahasa Maghandi. makanya kenapa saya gembar gembor buku Wacana Buddha Dharma karangan Romo Khrisnanda Wijaya Mukti, karena dalam buku itu sudah disebutkan kedua aliran ini hadir darimana . Makanya Baca dulu. Sebelum komentar


menurut mbah Wiki, http://en.wikipedia.org/wiki/Pali
Bahasa Pali adalah bahasa yang dipakai oleh penduduk Kerajaan Magadha, jadi bahasa Pali=Magadha.

Magadha itu Mirip Bahsa Pali bro indra, Tulisan Benernya Magadhi Soalnya aye cek dari dua buku sekaligus.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 16 April 2009, 03:26:45 PM
Serperti saya tekankan sama seperti Bro tan. Konsep Tera dengan maha memang ada perbedaan. Bukan berarti Mahayana itu tidak murni ajarannya, bukan berarti tera murni ajarannya, karena semua kitab kitab suci yang ada itu tidak ada letak permurnianya. Semua itu berdiri sendiri Mahayana dengan Kanon Sansekerta pada konsuil ke 2. Sementara kanon pali Pada konsuil ke 3. Dimana kedua aliran ini sebenarnya tidak pernah ketemu. memiliki daerah masing, tradisi sendiri - sendiri. Bagaimana mungkin bisa kalo memaksakan Konsep Tera ke maha. Konsep maha ke tera kalo orangnya masih punya EGO sendiri. Seperti saya katakan anda hilangkan EGO anda dulu baru bisa pelajari sesuatu yang berbenda dengan anda.

Bukan masalah siapa yang murni kok di sini. Saya tidak perlu ajaran murni/asli/benar kalau isinya ga nyambung dengan pemahaman saya. Bahkan kalau menurut saya sih, sudah tidak ada yang murni (bukan tidak ada yang benar, tapi semua sudah terdistorsi waktu).


Sikap yang menurut saya pribadi cocok adalah: TIDAK MENYEMBUNYIKAN ajaran, namun TIDAK MEMAKSAKAN pengajaran kepada orang lain.
Mahayana menilai kalau punya ajaran dan tidak disebar-luaskan, adalah egois. Saya kurang sependapat.
Mahayana juga menilai bahwa semua jalan (benar) akan kembali pada Mahayana. Saya juga tidak sependapat. Itu saja.

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 16 April 2009, 03:35:41 PM
aye tuliskan dari 2 Buku Sekaligus sebagai Penulisan bahwa g ngak sembarangan nulis dan juga Romo Khrisnanda bukan Orang sembarang ambil refrensi Bro Indra. Kenapa Saya gembar gembor buku beliau dia itu menggunakan 100 lebih buku untuk refrensi tulisan beliau, ini adaalah penggalan tulisan beliau dan juga Dari Bhante piyasilako berjudul " jalan Tunggal".  Berikut pengalan kalimat itu

"Tidak ada Sapun Bagian kitab Suci pali yang menyebutkan Bahwa Buddha berbahsa Pali. Kata Pali tidak ditemukan dalam Tripitaka. kemunculannya yang pertama ada pada msa belakangan didalam komentar2 . Dalam komentar2 kata " Pali" sering berarti sesuatu :naskah kitab suci" Sedangkan Untuk bahasa pali dari kitab suci "Pali ", Komentar2, memberitahu kita bahwa itu adalah Bahasa Magandhi."

Sisanya anda baca sendiri, Apasusahnya membaca buku Karangan Romo Khrisnanda wijaya Mukti bahwa tuh buku gratis, dan juga buku jalan Tunggal itu juga gratis bisa didapatkan di Dian darma, Kalo wacana Buddha darma pesan melalui Bro hendra lim. Dia tidak mengambil pungutan bayaran, bahkan rela meluangkan waktunya buat antar buku ini kalo didaerah jakarta.
oleh karena itu Saya kenapa tulis menghargai simpatik dia.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 16 April 2009, 03:37:42 PM
Serperti saya tekankan sama seperti Bro tan. Konsep Tera dengan maha memang ada perbedaan. Bukan berarti Mahayana itu tidak murni ajarannya, bukan berarti tera murni ajarannya, karena semua kitab kitab suci yang ada itu tidak ada letak permurnianya. Semua itu berdiri sendiri Mahayana dengan Kanon Sansekerta pada konsuil ke 2. Sementara kanon pali Pada konsuil ke 3. Dimana kedua aliran ini sebenarnya tidak pernah ketemu. memiliki daerah masing, tradisi sendiri - sendiri. Bagaimana mungkin bisa kalo memaksakan Konsep Tera ke maha. Konsep maha ke tera kalo orangnya masih punya EGO sendiri. Seperti saya katakan anda hilangkan EGO anda dulu baru bisa pelajari sesuatu yang berbenda dengan anda.

Bukan masalah siapa yang murni kok di sini. Saya tidak perlu ajaran murni/asli/benar kalau isinya ga nyambung dengan pemahaman saya. Bahkan kalau menurut saya sih, sudah tidak ada yang murni (bukan tidak ada yang benar, tapi semua sudah terdistorsi waktu).


Sikap yang menurut saya pribadi cocok adalah: TIDAK MENYEMBUNYIKAN ajaran, namun TIDAK MEMAKSAKAN pengajaran kepada orang lain.
Mahayana menilai kalau punya ajaran dan tidak disebar-luaskan, adalah egois. Saya kurang sependapat.
Mahayana juga menilai bahwa semua jalan (benar) akan kembali pada Mahayana. Saya juga tidak sependapat. Itu saja.



Kalo anda tidak sependapat yah tidak usah maksain kehendak anda dengan orang lain supaya sependapat dengan anda. Itu namanya EGO. Kalo mengungkap pendapat silakan saja, tidak perlu teriak - teriak.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 16 April 2009, 03:47:58 PM
[at] bro purnama

santai bro, santai...

bisa tlg di tulis lebih lengkap judul buku-nya
jd penasaran pengen baca... :P

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 16 April 2009, 03:48:27 PM
Kalo anda tidak sependapat yah tidak usah maksain kehendak anda dengan orang lain supaya sependapat dengan anda. Itu namanya EGO. Kalo mengungkap pendapat silakan saja, tidak perlu teriak - teriak.

Teriak-teriak apa yah? Saya maksain kehendak yang mana?
Lagipula saya tidak merasa ada diskusi dengan anda sebelumnya. Kok malah ego anda yang terusik?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 16 April 2009, 03:48:42 PM
^
^
^
thanks bro

tapi apakah kamu yakin mahayana ada dulu-an?
kalau mahayana ada dulu-an, lebih asli mana donk,
ama yang muncul belakangan...

pertanyaan retoris...  ;D

Sebenernya ngak ada yang duluan Pis, dua duanya itu udah berdiri sendiri semenjak Buddha kita meninggal. Angak ada istilah permurnian ajaran aliran tapi yang ada adalah pemahaman, doktrin, tradisi dan juga kehadiran dua aliran ini emang sudah ada. jadi tidak ada yang saling mendahului dan tidak ada paling murni sebenarnya.

Lagi pula Sadarlah yang merasa sana sini pali, Buddha kita tuh sebenarnya tuh ngak pernah bisa berbahasa pali, dia mengunakan Bahasa Maghandi. makanya kenapa saya gembar gembor buku Wacana Buddha Dharma karangan Romo Khrisnanda Wijaya Mukti, karena dalam buku itu sudah disebutkan kedua aliran ini hadir darimana . Makanya Baca dulu. Sebelum komentar


menurut mbah Wiki, http://en.wikipedia.org/wiki/Pali
Bahasa Pali adalah bahasa yang dipakai oleh penduduk Kerajaan Magadha, jadi bahasa Pali=Magadha.

dari wiki loe Bro, berarti aye ngak salah refrensi, mau buku atau wab sama lokh

Pali was considered by early Buddhists to be linguistically similar to Old Magadhi or even a direct continuation of that language. Many Theravada sources refer to the Pali language as “Magadhan” or the “language of Magadha.” This seems to be problematic, as the later form of Magadhi of Asoka's inscriptions (3rd century BC) is an Eastern Indian language whereas Pali most closely resembles Western Indian inscriptions. Ancient Magadha may, however, have been in the West of ancient India after all.[7] There are many remarkable analogies between Pali and Ardhamagadhi (Half Magadhi), an old form of Magadhi preserved in ancient Jain texts. Ardhamagadhi differs from the eastern Prakrit of Ashokan inscriptions on similar points as Pali. For example, Ardhamagadhi too does not change r into l, and in the noun inflexion it shows the ending -o instead of the eastern Prakritic -e at least in many metrical places. This similarity is not accidental, since Mahavira, the 24th Tirthankara of Jainism preached in the same area (Magadha) as Buddha Gotama.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: sobat-dharma on 16 April 2009, 03:49:49 PM

Di postingan-postingan yang sebelumnya, Saudara Tan menyatakan bahwa "2.Orang yang telah bebas tentunya dapat pergi ke mana saja, bukan? Karena itu, bagi saya sangat masuk akal pandangan bahwa seorang Buddha masih dapat "pergi" atau "masuk" lagi ke dunia samsara. Hanya saja "masuk" atau "menjelma"nya Beliau ke dalam samsara itu bukan didasari oleh lobha, dosa, dan moha."...

Jadi saya yang ingin bertanya; "Apakah yang dimaksud dengan 'orang' di statement itu? Apakah orang dalam arti fisik atau bagaimana?"

Orang yang telah merealisasi Nirvana berada dapat berada di mana-mana namun tidak ada di mana-mana pada saat bersamaan? Apakah Nirvana masih mengenal konsep dualistis ada dan tiada; hadir dan absen; muncul dan tidak muncul? Statement sobat-dharma ini juga seudah jelas menyatakan secara implisit bahwa orang yang telah merealisasi Nirvana 'masih hadir', 'masih eksis', 'masih berkehendak', dan dengan kata lain seharusnya masih tunduk pada Hukum Alam Semesta.


Dalam hal ini, tentu kita dibatasi bahasa dalam menyampaikan apa yang dimaksudkan. Seringkali kita menggunakan analogi untuk menyebutkan misalnya 'orang yang merealisasi nibbana', namun jelas-jelas ini cuma analogi belaka. Begitu juga nama "Buddha", jelas hanyalah metafora untuk menyampaikan sesuatu yang lebih tinggi. Kata "Buddha" berarti "Yang Mengetahui" atau "Yang Sadar", jika kata ini digunakan kita pun seharusnya bertanya siapa yang sadar? siapa yang mengetahui? Kalau pada dasarnya "tidak ada diri" saat seseorang merealisasi nibbana.  

Karena itu walaupun digunakan bahasa yang seolah-olah menyebutkan tentang 'diri',  memang tidak ada 'diri' yang merealisasi. Artinya tidak ada diri-ego yang sebagaimana kita alami sebagai manusia awam. Begitu juga juga soal 'keluar' dan 'masuk', karena sejak semula tidak ada yang keluar ataupun masuk, karena nibbana/nirvana itu identik dengan samsara, sekaligus bukan identik :) Lebih jauh lagi sobat, nirvana itu berada di luar hukum alam semesta, karena bagaimana pun hukum alam semesta (sebatas pengetahuan manusia) adalah bagian dari dunia samsara yang dikenali oleh ego-diri (pikiran). Namun  bagi seorang yang merealisasi nibbana, tidaklah berbeda antara alam semesta dan nibbana/nirvana itu sendiri.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 16 April 2009, 03:50:39 PM
Kalo anda tidak sependapat yah tidak usah maksain kehendak anda dengan orang lain supaya sependapat dengan anda. Itu namanya EGO. Kalo mengungkap pendapat silakan saja, tidak perlu teriak - teriak.

Teriak-teriak apa yah? Saya maksain kehendak yang mana?
Lagipula saya tidak merasa ada diskusi dengan anda sebelumnya. Kok malah ego anda yang terusik?


santai juga bro kainyn, santai....

;D
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 16 April 2009, 03:51:40 PM
apa benar kalau mahayana tingkatnya lebih tinggi dari T ? kenapa?

tdk ada yg lebih tinggi dan tdk ada yg lebih rendah , sama saja.

aliran sungai yg berbeda toh menuju samudra yg sama .

mendingan kita ngejungker aja yukkk : hammer :
;D
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Indra on 16 April 2009, 03:55:21 PM
Bro, pada jaman Sriwijaya atau Majapahit juga tidak pernah ada sebutan Indonesia, tapi kita tau bahwa Negara Sriwijaya/Majapahit adalah Negara Indonesia di masa lalu. dan kita tidak memerlukan ratusan pustaka untuk hal ini
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 16 April 2009, 03:56:50 PM
santai juga bro kainyn, santai....

;D


Santai kok. Ga buru2. :)

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 16 April 2009, 03:56:58 PM
[at] bro purnama

santai bro, santai...

bisa tlg di tulis lebih lengkap judul buku-nya
jd penasaran pengen baca... :P



ada bos di http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,10009.0.html
Tinggal telpon orangnya mau rela antar, Bro Hendra itu Orangnya baik lok, kalo dia orang didc g bisa GRP 100. mau rela antar kerumah g tanpa pungutan biaya.

Karena itu g nanti mau ketemu lagi sama dia, mau diskusikan masalah buku ini agar bisa di PDFkan disumbangkan ke DC. karena itu perlu perizinan dari Romo Khrisnanda sendiri Bos. Bagi yang mau tau isi buku ini, G janji bawa buku ini pas kopdar nanti ;D
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: sobat-dharma on 16 April 2009, 04:26:41 PM
Saya tahu bahwa sebagai manusia, kita masih membutuhkan bantuan orang lain. Semua keberhasilan yang dapat kita raih pada dasarnya dibantu pula oleh orang lain.
Namun maksud saya, yang bisa membantu diri sendiri untuk merealisasi Pencerahan adalah diri sendiri tentunya. Sang Buddha hanya sebagai guru dan penunjuk jalan.
Diri yang mana? Kukira anda juga bersepakat kalau diri itu pada prinsipnya adalah anatta?

Oleh karena itu, saya kurang mengerti dengan konsep Mahayanis yang menyatakan :
"...saya baru akan mau menjadi Buddha setelah semua makhluk terbebas dari penderitaan..."

Cobalah membuka diri, anda pasti akan mengerti....

Tekad dan semangatnya sangat baik dan positif. Namun satu hal yang kurang pas di akal sehat saya adalah nilai logisnya.
Akal sehat dan logika tidak akan membantu seseorang merealisasikan nirvana, justru dengan tekad dan semangat yang positif Sang Buddha akhirnya merealisasi nirvana

Karena :
- Kita tidak mungkin mampu menolong semua makhluk.
- Seandainya semua makhluk sudah terbebas, akhirnya tinggal kita yang belum terbebas. Saat itu bila kita membutuhkan pertolongan, maka tidak ada satu makhluk pun yang ada untuk mau / mampu menolong kita.
Jika anda melihat semua makhluk secara kuantitas belaka....  Eihh... kalau nggak salah ada nada takut sendirian di sini? Ketakutan jika tidak ada yang menolong nanti kalau sendirian bro?  ;D Bukankah kalau sendirian bisa dengan usaha sendiri, setidaknya menurut keyakinan bro demikian kan?  :))

- Jumlah makhluk hidup di samsara ini tidak terhitung. Kalau semua orang kerjanya hanya menunda, ujung-ujungnya hanya ada hukum timbal-balik antara penunda dengan orang yang ditunggu. Alias berjalan di tempat.

Kalau pada dasarnya nibbana sudah ada di sini, saat ini, maka sebenarnya nggak ada yang menunda-nunda ataupun yang ditunggu...

- Menurut saya (ini menurut saya yha...), samsara ini selalu ada... Jadi tidak mungkin samsara ini kehabisan penghuninya / makhluk hidup.
Ucapan singa!  Saya pikir ini tidak berdasarkan logika, tapi lebih berdasarkan keyakinan bukan?

- dan kalau semua poin itu benar, maka tekad 'menolong makhluk lain' ini hanya menjadi aksi kebaikan yang merugikan diri sendiri - ibarat memberi makan pada semua pengemis di dunia, tapi diri sendiri akhirnya mati kelaparan.
- dll..
Barang siapa yang takut merugikan diri sendiri, silahkan saja mempertahankan pikiran demikian. Saya pingin tahu apa yang masih mempertahankan pikiran ‘takut merugikan diri sendiri’ bisa menghilangkan klesa... Selama seseorang masih mempertahankan pikiran untung dan rugi saya nggak tahu apa yang bisa dicapainya... mungkin sukses dalam berdagang kali..:)
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: sobat-dharma on 16 April 2009, 04:32:06 PM

bukan hanya pada "hilang"-nya tubuh (rupa) yang merupakan salah satu khandha dari panca khanda... tetapi semua khanda sudah tidak bersatu padu lagi. Terhenti proses bersatu-nya khanda-khanda itu...

Bukannya kandha yang lain muncul karena tubuh (atau indera) ada. Maaf kalau saya salah...
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 16 April 2009, 04:40:17 PM
Saya tahu bahwa sebagai manusia, kita masih membutuhkan bantuan orang lain. Semua keberhasilan yang dapat kita raih pada dasarnya dibantu pula oleh orang lain.
Namun maksud saya, yang bisa membantu diri sendiri untuk merealisasi Pencerahan adalah diri sendiri tentunya. Sang Buddha hanya sebagai guru dan penunjuk jalan.
Diri yang mana? Kukira anda juga bersepakat kalau diri itu pada prinsipnya adalah anatta?

Oleh karena itu, saya kurang mengerti dengan konsep Mahayanis yang menyatakan :
"...saya baru akan mau menjadi Buddha setelah semua makhluk terbebas dari penderitaan..."

Cobalah membuka diri, anda pasti akan mengerti....

Tekad dan semangatnya sangat baik dan positif. Namun satu hal yang kurang pas di akal sehat saya adalah nilai logisnya.
Akal sehat dan logika tidak akan membantu seseorang merealisasikan nirvana, justru dengan tekad dan semangat yang positif Sang Buddha akhirnya merealisasi nirvana

Karena :
- Kita tidak mungkin mampu menolong semua makhluk.
- Seandainya semua makhluk sudah terbebas, akhirnya tinggal kita yang belum terbebas. Saat itu bila kita membutuhkan pertolongan, maka tidak ada satu makhluk pun yang ada untuk mau / mampu menolong kita.
Jika anda melihat semua makhluk secara kuantitas belaka....  Eihh... kalau nggak salah ada nada takut sendirian di sini? Ketakutan jika tidak ada yang menolong nanti kalau sendirian bro?  ;D Bukankah kalau sendirian bisa dengan usaha sendiri, setidaknya menurut keyakinan bro demikian kan?  :))

- Jumlah makhluk hidup di samsara ini tidak terhitung. Kalau semua orang kerjanya hanya menunda, ujung-ujungnya hanya ada hukum timbal-balik antara penunda dengan orang yang ditunggu. Alias berjalan di tempat.

Kalau pada dasarnya nibbana sudah ada di sini, saat ini, maka sebenarnya nggak ada yang menunda-nunda ataupun yang ditunggu...

- Menurut saya (ini menurut saya yha...), samsara ini selalu ada... Jadi tidak mungkin samsara ini kehabisan penghuninya / makhluk hidup.
Ucapan singa!  Saya pikir ini tidak berdasarkan logika, tapi lebih berdasarkan keyakinan bukan?

- dan kalau semua poin itu benar, maka tekad 'menolong makhluk lain' ini hanya menjadi aksi kebaikan yang merugikan diri sendiri - ibarat memberi makan pada semua pengemis di dunia, tapi diri sendiri akhirnya mati kelaparan.
- dll..
Barang siapa yang takut merugikan diri sendiri, silahkan saja mempertahankan pikiran demikian. Saya pingin tahu apa yang masih mempertahankan pikiran ‘takut merugikan diri sendiri’ bisa menghilangkan klesa... Selama seseorang masih mempertahankan pikiran untung dan rugi saya nggak tahu apa yang bisa dicapainya... mungkin sukses dalam berdagang kali..:)


mantafff, langsung to the point, ga neko2, mudah dicerna....

plus 1 ya, ;D
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Indra on 16 April 2009, 04:45:12 PM
Saya tahu bahwa sebagai manusia, kita masih membutuhkan bantuan orang lain. Semua keberhasilan yang dapat kita raih pada dasarnya dibantu pula oleh orang lain.
Namun maksud saya, yang bisa membantu diri sendiri untuk merealisasi Pencerahan adalah diri sendiri tentunya. Sang Buddha hanya sebagai guru dan penunjuk jalan.
Diri yang mana? Kukira anda juga bersepakat kalau diri itu pada prinsipnya adalah anatta?

Oleh karena itu, saya kurang mengerti dengan konsep Mahayanis yang menyatakan :
"...saya baru akan mau menjadi Buddha setelah semua makhluk terbebas dari penderitaan..."

Cobalah membuka diri, anda pasti akan mengerti....

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hatRed on 16 April 2009, 04:46:25 PM
oh... ah.. oh..... ???
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Indra on 16 April 2009, 04:48:46 PM
numpang belok dikit, setelah ini silahkan lanjut lagi.

merujuk pada persamaan Nirvana=Samsara, apakah ini berarti bahwa kita semua sudah mencapai Nirvana? yes/no

_/\_
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: sobat-dharma on 16 April 2009, 04:51:58 PM
Saya tahu bahwa sebagai manusia, kita masih membutuhkan bantuan orang lain. Semua keberhasilan yang dapat kita raih pada dasarnya dibantu pula oleh orang lain.
Namun maksud saya, yang bisa membantu diri sendiri untuk merealisasi Pencerahan adalah diri sendiri tentunya. Sang Buddha hanya sebagai guru dan penunjuk jalan.
Diri yang mana? Kukira anda juga bersepakat kalau diri itu pada prinsipnya adalah anatta?

Oleh karena itu, saya kurang mengerti dengan konsep Mahayanis yang menyatakan :
"...saya baru akan mau menjadi Buddha setelah semua makhluk terbebas dari penderitaan..."

Cobalah membuka diri, anda pasti akan mengerti....


"membuka diri" adalah istilah dalam bahasa indonesia untuk lebih terbuka dengan perbedaan. Seperti halnya "makan hati", bukan berarti kita memakan hati yang sebenarnya bukan :))
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: sobat-dharma on 16 April 2009, 04:56:39 PM
numpang belok dikit, setelah ini silahkan lanjut lagi.

merujuk pada persamaan Nirvana=Samsara, apakah ini berarti bahwa kita semua sudah mencapai Nirvana? yes/no

_/\_

Wah ini mau bikin kuesioner ya...? :) Kalau si penanya memaksakan suatu pilihan yang terbatas pada penjawabnya, maka ia hanya menginginkan "kepastian", bukan diskusi. maaf bro, kalau diberi pilihan kaku demikian, saya enggan menjawab. Trims.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Indra on 16 April 2009, 05:00:26 PM
Saya tahu bahwa sebagai manusia, kita masih membutuhkan bantuan orang lain. Semua keberhasilan yang dapat kita raih pada dasarnya dibantu pula oleh orang lain.
Namun maksud saya, yang bisa membantu diri sendiri untuk merealisasi Pencerahan adalah diri sendiri tentunya. Sang Buddha hanya sebagai guru dan penunjuk jalan.
Diri yang mana? Kukira anda juga bersepakat kalau diri itu pada prinsipnya adalah anatta?

Oleh karena itu, saya kurang mengerti dengan konsep Mahayanis yang menyatakan :
"...saya baru akan mau menjadi Buddha setelah semua makhluk terbebas dari penderitaan..."

Cobalah membuka diri, anda pasti akan mengerti....


"membuka diri" adalah istilah dalam bahasa indonesia untuk lebih terbuka dengan perbedaan. Seperti halnya "makan hati", bukan berarti kita memakan hati yang sebenarnya bukan :))

Sebaiknya diskusi yang sehat bukan mencari-cari syntax error, saya bisa dan saya yakin anda juga memahami bahwa "diri sendiri" yang dimaksud oleh Bro upasaka, adalah kita semua sebagai gabungan pancakkhandha. kita sebagai buddhist  memang sudah sepakat bahwa tidak ada diri (anatta), tapi dalam percakapan sehari2, bahkan Sang Buddha (dalam Sutta) juga sering menggunakan kata diri sebagai suatu konvensi bahasa.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Indra on 16 April 2009, 05:02:41 PM
numpang belok dikit, setelah ini silahkan lanjut lagi.

merujuk pada persamaan Nirvana=Samsara, apakah ini berarti bahwa kita semua sudah mencapai Nirvana? yes/no

_/\_

Wah ini mau bikin kuesioner ya...? :) Kalau si penanya memaksakan suatu pilihan yang terbatas pada penjawabnya, maka ia hanya menginginkan "kepastian", bukan diskusi. maaf bro, kalau diberi pilihan kaku demikian, saya enggan menjawab. Trims.

itu karena saya menggunakan pendekatan matematis, tapi tentu anda tetap diperbolehkan memberikan penjelasan sepanjang yg anda mau. anyway, demi kenyamanan anda, saya akan meralat:

jika, nirvana=samsara, apakah ini berarti bahwa kita semua sudah mencapai nirvana? boleh dijawab dengan jawaban apapun yg anda anggap benar.

semoga Bro sobat-dharma tidak enggan menjawab.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 16 April 2009, 05:03:18 PM
numpang belok dikit, setelah ini silahkan lanjut lagi.

merujuk pada persamaan Nirvana=Samsara, apakah ini berarti bahwa kita semua sudah mencapai Nirvana? yes/no

_/\_

Wah ini mau bikin kuesioner ya...? :) Kalau si penanya memaksakan suatu pilihan yang terbatas pada penjawabnya, maka ia hanya menginginkan "kepastian", bukan diskusi. maaf bro, kalau diberi pilihan kaku demikian, saya enggan menjawab. Trims.

i like your style :P
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Nevada on 16 April 2009, 05:12:10 PM
Quote from: sobat-dharma
Dalam hal ini, tentu kita dibatasi bahasa dalam menyampaikan apa yang dimaksudkan. Seringkali kita menggunakan analogi untuk menyebutkan misalnya 'orang yang merealisasi nibbana', namun jelas-jelas ini cuma analogi belaka. Begitu juga nama "Buddha", jelas hanyalah metafora untuk menyampaikan sesuatu yang lebih tinggi. Kata "Buddha" berarti "Yang Mengetahui" atau "Yang Sadar", jika kata ini digunakan kita pun seharusnya bertanya siapa yang sadar? siapa yang mengetahui? Kalau pada dasarnya "tidak ada diri" saat seseorang merealisasi nibbana.  

Karena itu walaupun digunakan bahasa yang seolah-olah menyebutkan tentang 'diri',  memang tidak ada 'diri' yang merealisasi. Artinya tidak ada diri-ego yang sebagaimana kita alami sebagai manusia awam. Begitu juga juga soal 'keluar' dan 'masuk', karena sejak semula tidak ada yang keluar ataupun masuk, karena nibbana/nirvana itu identik dengan samsara, sekaligus bukan identik :) Lebih jauh lagi sobat, nirvana itu berada di luar hukum alam semesta, karena bagaimana pun hukum alam semesta (sebatas pengetahuan manusia) adalah bagian dari dunia samsara yang dikenali oleh ego-diri (pikiran). Namun  bagi seorang yang merealisasi nibbana, tidaklah berbeda antara alam semesta dan nibbana/nirvana itu sendiri.

Sobat...

Jika memang tidak ada diri, lalu siapa atau apa yang bisa memancarkan maitri-karuna itu?

Apakah orang yang telah merealisasi Nirvana itu akan kekal?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Nevada on 16 April 2009, 05:12:35 PM
Saya tahu bahwa sebagai manusia, kita masih membutuhkan bantuan orang lain. Semua keberhasilan yang dapat kita raih pada dasarnya dibantu pula oleh orang lain.
Namun maksud saya, yang bisa membantu diri sendiri untuk merealisasi Pencerahan adalah diri sendiri tentunya. Sang Buddha hanya sebagai guru dan penunjuk jalan.
Diri yang mana? Kukira anda juga bersepakat kalau diri itu pada prinsipnya adalah anatta?

Oleh karena itu, saya kurang mengerti dengan konsep Mahayanis yang menyatakan :
"...saya baru akan mau menjadi Buddha setelah semua makhluk terbebas dari penderitaan..."

Cobalah membuka diri, anda pasti akan mengerti....

Tekad dan semangatnya sangat baik dan positif. Namun satu hal yang kurang pas di akal sehat saya adalah nilai logisnya.
Akal sehat dan logika tidak akan membantu seseorang merealisasikan nirvana, justru dengan tekad dan semangat yang positif Sang Buddha akhirnya merealisasi nirvana

Karena :
- Kita tidak mungkin mampu menolong semua makhluk.
- Seandainya semua makhluk sudah terbebas, akhirnya tinggal kita yang belum terbebas. Saat itu bila kita membutuhkan pertolongan, maka tidak ada satu makhluk pun yang ada untuk mau / mampu menolong kita.
Jika anda melihat semua makhluk secara kuantitas belaka....  Eihh... kalau nggak salah ada nada takut sendirian di sini? Ketakutan jika tidak ada yang menolong nanti kalau sendirian bro?  ;D Bukankah kalau sendirian bisa dengan usaha sendiri, setidaknya menurut keyakinan bro demikian kan?  :))

- Jumlah makhluk hidup di samsara ini tidak terhitung. Kalau semua orang kerjanya hanya menunda, ujung-ujungnya hanya ada hukum timbal-balik antara penunda dengan orang yang ditunggu. Alias berjalan di tempat.

Kalau pada dasarnya nibbana sudah ada di sini, saat ini, maka sebenarnya nggak ada yang menunda-nunda ataupun yang ditunggu...

- Menurut saya (ini menurut saya yha...), samsara ini selalu ada... Jadi tidak mungkin samsara ini kehabisan penghuninya / makhluk hidup.
Ucapan singa!  Saya pikir ini tidak berdasarkan logika, tapi lebih berdasarkan keyakinan bukan?

- dan kalau semua poin itu benar, maka tekad 'menolong makhluk lain' ini hanya menjadi aksi kebaikan yang merugikan diri sendiri - ibarat memberi makan pada semua pengemis di dunia, tapi diri sendiri akhirnya mati kelaparan.
- dll..
Barang siapa yang takut merugikan diri sendiri, silahkan saja mempertahankan pikiran demikian. Saya pingin tahu apa yang masih mempertahankan pikiran ‘takut merugikan diri sendiri’ bisa menghilangkan klesa... Selama seseorang masih mempertahankan pikiran untung dan rugi saya nggak tahu apa yang bisa dicapainya... mungkin sukses dalam berdagang kali..:)


1) Anda tidak perlu memainkan tendensi kata-kata. :) Saya rasa Anda sudah paham siapa itu diri sendiri yang saya maksud.

2) Saya sudah bisa menerimanya dari dulu. Tapi hanya sebatas kalimat motivasi, bukan filsafat realitas.

3) Akal sehat dan logika memang bukan hal utama yang dibutuhkan untuk merealisasikan Nirvana. Namun bila kita berangkat tanpa akal sehat dan logika, kita mudah sekali dibutakan oleh dunia. Ini ibarat Anda menyatakan : "tidak perlu akal sehat dan logika, yang kau butuhkan hanyalah tekad dan semangat untuk dapat menghentikan revolusi Bumi."

4) Anda tidak perlu memainkan kontekstual makna dalam kalimat saya. :) Saya mengajukan pertanyaan yang saya ambil dari pemahaman Mahayana saya yang masih dangkal. Maksudnya, saya ingin menerka masa depan samsara ditinjau dari pandangan Mahayana. Jikalau semua makhluk sudah terbebas dari penderitaan, lantas apa yang akan dilakukan oleh 'sang juru selamat' setelah itu...?

5) Nirvana bisa direalisasikan di hidup ini, bukannya sudah ada di sini. Kata "di sini" yang Anda pakai saja secara implisit menunjukkan pemahaman Anda bahwa Nirvana adalah sebuah tempat. Dan satu lagi... Kalau tidak ada yang perlu ditunda atau ditunggu, kenapa bodhisatva dengan lantang menyerukan "...saya tunda pencapaian kebuddhaan saya, karena...", ...?

6) Kan sudah saya bilang, ini menurut saya. Alasan saya menyatakan demikian karena samsara itu tiada berawal. Jadi akan menjadi terlalu berspekulasi kalau saya menyatakan bahwa samsara juga akan lenyap. Kalau menurut Anda sendiri, bagaimana?

7) Tidak mementingkan keuntungan diri sendiri, memberi keuntungan pada orang lain; adalah tindakan terpuji. Tapi bukan berarti lebih baik menjadi orang baik hati yang bodoh. Di sinilah letak kebijaksanaan berperan, apakah seseorang ingin melakukan kebaikan dengan cara yang arif atau monoton...
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: sobat-dharma on 16 April 2009, 05:12:46 PM

Sebaiknya diskusi yang sehat bukan mencari-cari syntax error, saya bisa dan saya yakin anda juga memahami bahwa "diri sendiri" yang dimaksud oleh Bro upasaka, adalah kita semua sebagai gabungan pancakkhandha. kita sebagai buddhist  memang sudah sepakat bahwa tidak ada diri (anatta), tapi dalam percakapan sehari2, bahkan Sang Buddha (dalam Sutta) juga sering menggunakan kata diri sebagai suatu konvensi bahasa.

bagaimana gabungan pancakhanda bisa membantu seseorang merealisasi nibbana? bukankah realisasi nibbana berarti disadarinya pancakhanda sebagai "bukan-diri"? Sebenarnya seperti yang sebelumnya saya katakan, okey saja seseorang berpandangan bahwa dengan mengandalkan usaha "diri" seseorang bisa memulai praktik dhamma. Namun, pada tingkat pencapaian tertentu "diri" justru harus dilepaskan. Bukankah dalam Theravada pun diajarkan kala meditasi adalah praktik pelepasan? Sama saja dengan pihak yang memulai praktiknya dengan pandangan melalui bantuan "yang lain", karena pada titik pencapaian tertentu ia akan menyadari bahwa "tidak ada yang dibantu dan tidak ada yang membantu".

Singkatnya, saya cuma berpendapat kalau terlalu ngotot mengatakan "hanya dengan usaha diri sendiri" seseorang bisa merealisasikan nirvana, maka ia sama berpotensi terjebak pada kekeliruan yang justru membuatnya berjalan ke arah sebaliknya: pemujaan akan usaha diri yang berlebihan, yang berarti terjebak dalam diri-ego.  

Saya juga berharap, kalau hal tersebut hanya masalah konvensi bahasa belaka, bukan suatu pandangan yang mengarah ke ekses lebih jauh... dari sekadar penggunaan bahasanya. Semoga kita semua tidak terjebak pada pandangan ego-diri sebagai solusi dari samsara, padahal ego-diri lah yang menjadi akar samsara
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: truth lover on 16 April 2009, 05:15:47 PM
numpang belok dikit, setelah ini silahkan lanjut lagi.

merujuk pada persamaan Nirvana=Samsara, apakah ini berarti bahwa kita semua sudah mencapai Nirvana? yes/no

_/\_

Yah tentu saja menurut M kita sudah Nirvana mas Indra, bukankah Nirvana dan Samsara sama?

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Indra on 16 April 2009, 05:18:58 PM
numpang belok dikit, setelah ini silahkan lanjut lagi.

merujuk pada persamaan Nirvana=Samsara, apakah ini berarti bahwa kita semua sudah mencapai Nirvana? yes/no

_/\_

Yah tentu saja menurut M kita sudah Nirvana mas Indra, bukankah Nirvana dan Samsara sama?



Mr. TL,
saya sudah Nirvana padahal saya masih bernafsu besar, walaupun tenaga kurang. :)) tapi biarlah, karena gue udah nirvana, kan gak perlu lagi segala macam sila, meditasi, dll, apa yg harus dilakukan sudah dilakukan, kehidupan suci telah selesai. finish
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: sobat-dharma on 16 April 2009, 05:22:15 PM
Quote from: sobat-dharma
Dalam hal ini, tentu kita dibatasi bahasa dalam menyampaikan apa yang dimaksudkan. Seringkali kita menggunakan analogi untuk menyebutkan misalnya 'orang yang merealisasi nibbana', namun jelas-jelas ini cuma analogi belaka. Begitu juga nama "Buddha", jelas hanyalah metafora untuk menyampaikan sesuatu yang lebih tinggi. Kata "Buddha" berarti "Yang Mengetahui" atau "Yang Sadar", jika kata ini digunakan kita pun seharusnya bertanya siapa yang sadar? siapa yang mengetahui? Kalau pada dasarnya "tidak ada diri" saat seseorang merealisasi nibbana.  

Karena itu walaupun digunakan bahasa yang seolah-olah menyebutkan tentang 'diri',  memang tidak ada 'diri' yang merealisasi. Artinya tidak ada diri-ego yang sebagaimana kita alami sebagai manusia awam. Begitu juga juga soal 'keluar' dan 'masuk', karena sejak semula tidak ada yang keluar ataupun masuk, karena nibbana/nirvana itu identik dengan samsara, sekaligus bukan identik :) Lebih jauh lagi sobat, nirvana itu berada di luar hukum alam semesta, karena bagaimana pun hukum alam semesta (sebatas pengetahuan manusia) adalah bagian dari dunia samsara yang dikenali oleh ego-diri (pikiran). Namun  bagi seorang yang merealisasi nibbana, tidaklah berbeda antara alam semesta dan nibbana/nirvana itu sendiri.

Sobat...

Jika memang tidak ada diri, lalu siapa atau apa yang bisa memancarkan maitri-karuna itu?

Apakah orang yang telah merealisasi Nirvana itu akan kekal?


Mari kita menggunakan kata-kata dalam Visuddhimagga untuk membantu anda memahaminya:

Penderitaan belakalah yang ada, tiada penderita yang ditemukan;
Perbuatan ada, tetapi pelaku perbuatan tidak ada;
Nibbana ada, tetapi orang yang memasuki tidak ada;
Jalan ada, tetapi pejalannnya tidak ada.

Di sini bisa kulanjutkan:
pancaran maitri-karuna ada, tetapi yang memancarkan tidak ada.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: truth lover on 16 April 2009, 05:30:15 PM
Mas-mas sekalian,

translation of Yoga Vasistha by Swami Venkatesananda: 29 april

nirvana eva nirvanams santam sante sive sivam, nirvamapyanirvanam sanabhortham navapi tat.

Nirvana is nirvana . in peace there is peace, in the divine there is divinity. Nirvana (emanciaption) also anirvana (non emancipation), associated with space and also not associated.

Nirvana adalah Nirvana. Dalam kedamaian ada kedamaian, dalam kesucian ada kesucian. Nirvana (non emansipasi) juga anirvana (non-emansipasi), berhubungan dengan angkasa dan juga tidak berhubungan.

perhatikan non dualisme nirvana - anirvana ; anirvana - samsara.

metta,
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 16 April 2009, 05:31:38 PM
numpang belok dikit, setelah ini silahkan lanjut lagi.

merujuk pada persamaan Nirvana=Samsara, apakah ini berarti bahwa kita semua sudah mencapai Nirvana? yes/no

_/\_

Yah tentu saja menurut M kita sudah Nirvana mas Indra, bukankah Nirvana dan Samsara sama?


salah besar cayank :P

kata sapa menurut M, menurut kata loe kale, bukan menurut kata M, tlg jangan suka mengarahkan opini public kearah yang tidak benar ya...
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: truth lover on 16 April 2009, 05:33:26 PM
numpang belok dikit, setelah ini silahkan lanjut lagi.

merujuk pada persamaan Nirvana=Samsara, apakah ini berarti bahwa kita semua sudah mencapai Nirvana? yes/no

_/\_

Yah tentu saja menurut M kita sudah Nirvana mas Indra, bukankah Nirvana dan Samsara sama?



Mr. TL,
saya sudah Nirvana padahal saya masih bernafsu besar, walaupun tenaga kurang. :)) tapi biarlah, karena gue udah nirvana, kan gak perlu lagi segala macam sila, meditasi, dll, apa yg harus dilakukan sudah dilakukan, kehidupan suci telah selesai. finish

wauw   ^:)^  GRP sent, pahalanya besar.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hatRed on 16 April 2009, 05:42:00 PM
masing masing keknya pada belum ahli dalam alirannya masing2.... :-?

bagaimana mencari tolak ukur diskusinya... ???
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: sobat-dharma on 16 April 2009, 05:46:33 PM
1)Anda tidak perlu memainkan tendensi kata-kata. Saya rasa Anda sudah paham siapa itu diri sendiri yang saya maksud.

Jawab:  saya tidak sedang bermain-main bro, dan memangnya siapa diri sendiri yang  bro maksudkan? Memangnya ada “diri” yang lain lagi?

2) Saya sudah bisa menerimanya dari dulu. Tapi hanya sebatas kalimat motivasi, bukan filsafat realitas.
Jawab:  cerita dong biar lengkap ...

3) Akal sehat dan logika memang bukan hal utama yang dibutuhkan untuk merealisasikan Nirvana. Namun bila kita berangkat tanpa akal sehat dan logika, kita mudah sekali dibutakan oleh dunia. Ini ibarat Anda menyatakan : "tidak perlu akal sehat dan logika, yang kau butuhkan hanyalah tekad dan semangat untuk dapat menghentikan revolusi Bumi."

Jawab:  Iya, itu yang dilakukan Sang Buddha ketika melempar mangkoknya ke aliran sungai... Dan ternyata melawan arus sungai bro! Kalau meragukan “akal sehat” dan “logika” dalam cerita ini, setidaknya hikmatnya bisa diambilkan...

4) Anda tidak perlu memainkan kontekstual makna dalam kalimat saya. Saya mengajukan pertanyaan yang saya ambil dari pemahaman Mahayana saya yang masih dangkal. Maksudnya, saya ingin menerka masa depan samsara ditinjau dari pandangan Mahayana. Jikalau semua makhluk sudah terbebas dari penderitaan, lantas apa yang akan dilakukan oleh 'sang juru selamat' setelah itu...?

Jawab: Pertanyaannya iseng banget...:)) Tapi okey koq. Jika semua makhluk terbebas dari penderitaan ya bersaam dengan itu ia terbebas juga ... Kan katanya ‘semua makhluk’, berarti ia sendiri termasuk dong  :)) 

5) Nirvana bisa direalisasikan di hidup ini, bukannya sudah ada di sini. Kata "di sini" yang Anda pakai saja secara implisit menunjukkan pemahaman Anda bahwa Nirvana adalah sebuah tempat. Dan satu lagi... Kalau tidak ada yang perlu ditunda atau ditunggu, kenapa bodhisatva dengan lantang menyerukan "...saya tunda pencapaian kebuddhaan saya, karena...", ...?

Jawab:  “Di sini” adalah keberadaan yang melampaui eksistensi ...

6) Kan sudah saya bilang, ini menurut saya. Alasan saya menyatakan demikian karena samsara itu tiada berawal. Jadi akan menjadi terlalu berspekulasi kalau saya menyatakan bahwa samsara juga akan lenyap. Kalau menurut Anda sendiri, bagaimana?

Jawab: Saya tidak tahu? Bagaimanapun saya kan bukan Arahat, Bodhisattva, apalagi Buddha yang Sempurna, bagaimana saya bisa tahu...

7) Tidak mementingkan keuntungan diri sendiri, memberi keuntungan pada orang lain; adalah tindakan terpuji. Tapi bukan berarti lebih baik menjadi orang baik hati yang bodoh. Di sinilah letak kebijaksanaan berperan, apakah seseorang ingin melakukan kebaikan dengan cara yang arif atau monoton...
Jawab:  berapakah banyak dari mereka yang memikirkan keuntungan dan kerugian di kepalanya bisa disebut bijak?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: truth lover on 16 April 2009, 05:47:46 PM
numpang belok dikit, setelah ini silahkan lanjut lagi.

merujuk pada persamaan Nirvana=Samsara, apakah ini berarti bahwa kita semua sudah mencapai Nirvana? yes/no

_/\_

Yah tentu saja menurut M kita sudah Nirvana mas Indra, bukankah Nirvana dan Samsara sama?


salah besar cayank :P

kata sapa menurut M, menurut kata loe kale, bukan menurut kata M, tlg jangan suka mengarahkan opini public kearah yang tidak benar ya...

reply no 425:

Quote
Pikiran yang menentukan Anda "terlahir" di mana saat ini. Anda dilanda keserakahan, artinya Anda sedang terlahir di alam preta. Anda sedang berbahagia, artinya Anda ada di alam dewa. Samsara adalah kondisi pikiran. Jika pikiran tidak mengkondisikan samsara, maka samsara itu tidak ada lagi. Karena itu, samsara adalah nirvana dan nirvana adalah samsara.
Pertanyaan Anda ini juga inkonsten: "Jika Nirvana bukanlah tempat, lantas mengapa Nirvana identik dengan samsara? Apakah Nirvana itu yang mengkondisikan samsara, atau samsara yang mengkondisikan Nirvana?" Anda mengatakan bahwa nirvana adalah absolut, maka tentunya tak ada lagi dualisme. Tak ada lagi yang mengkondisikan nirvana. Tetapi Anda mempertentangkan nirvana dengan menyatakan mana yang mengkondisikan mana. Jika Anda berpegang bahwa nirvana adalah sesuatu yang absolut, maka tidak ada yang saling mengkondisikan lagi. Justru pandangan bahwa nirvana identik dengan samsara memperlihatkan bahwa keduanya tidak saling mengkondisikan. Di sini saya melihat filosofi Mahayana sangat konsisten. Saya tidak perlu menjawab pertanyaan "Jika Nirvana bukanlah tempat, lantas mengapa Nirvana identik dengan samsara? Apakah Nirvana itu yang mengkondisikan samsara, atau samsara yang mengkondisikan Nirvana?" karena berpandangan bahwa nirvana identik dengan samsara. Tidak ada yang saling mengkondisikan. Justru orang yang berpandangan nirvana beda dengan samsara itulah yang harus menjawab pertanyaan tersebut.

Tuh mas Tan,  kata mas Naviscope saya salah,

Mas Tan mengutip darimana?  kata mas Naviscope Nirvana tidak identik dengan Samsara tuh, Mahayana tidak berpendapat demikian. Gimana nih?

metta,
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: truth lover on 16 April 2009, 05:59:09 PM
Quote
Upasaka:
4) Anda tidak perlu memainkan kontekstual makna dalam kalimat saya. Saya mengajukan pertanyaan yang saya ambil dari pemahaman Mahayana saya yang masih dangkal. Maksudnya, saya ingin menerka masa depan samsara ditinjau dari pandangan Mahayana. Jikalau semua makhluk sudah terbebas dari penderitaan, lantas apa yang akan dilakukan oleh 'sang juru selamat' setelah itu...?

Quote
Sobat Dharma:
Jawab: Pertanyaannya iseng banget... Tapi okey koq. Jika semua makhluk terbebas dari penderitaan ya bersaam dengan itu ia terbebas juga ... Kan katanya ‘semua makhluk’, berarti ia sendiri termasuk dong   
 

mas Sobat Dharma, mungkin yang dimaksudkan mas Upasaka, ialah: jika seorang Bodhisattva memasuki Nirvana berarti ia sudah melanggar sumpahnya sendiri, karena Ia sudah bersumpah tak akan memasuki Nirvana sebelum semua mahluk masuk Nirvana.

Bodhisattva yang lain juga begitu, mereka memiliki sumpah yang sama yaitu tak akan memasuki Nirvana sebelum semua mahluk memasuki Nirvana.

Karena  hanya dengan menjadi Bodhisattva bisa memasuki Nirvana yang sesungguhnya (menjadi Buddha) maka siapakah yang memasuki Nirvana?

Bukankah semuanya akan saling menunggu yang lain memasuki Nirvana? Dengan demikian tak ada yang memasuki Nirvana karena saling menunggu?

metta,
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 16 April 2009, 06:06:40 PM
oke,

TL, saya mo tanya,

penasaran saja, kalau kamu sudah mencapai nirvana, kamu bakal ingat pada yang lain tidak?
loe bakal membantu yg lain tidak, yang belum mencapai nirvana

kalau saya liat sech, sangat kecil kemungkinan, mo perduli sama yang lain
saya sudah capai nirvana, yang lain bukan urusan saya lagi?
betul demikian kah?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: truth lover on 16 April 2009, 06:21:44 PM
oke,

TL, saya mo tanya,

penasaran saja, kalau kamu sudah mencapai nirvana, kamu bakal ingat pada yang lain tidak?
loe bakal membantu yg lain tidak, yang belum mencapai nirvana

kalau saya liat sech, sangat kecil kemungkinan, mo perduli sama yang lain
saya sudah capai nirvana, yang lain bukan urusan saya lagi?
betul demikian kah?

Wah mas Navis nanya begitu saya jadi malu, saya kan hanya mengutip dari tulisan mas Tan.
Kemudian karena teringat tulisan mas Tan saya komentari tulisan mas Indra.

metta
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 16 April 2009, 06:34:45 PM
^
^
^
hmmm....

[quote dari kamu]
mas Sobat Dharma, mungkin yang dimaksudkan mas Upasaka, ialah: jika seorang Bodhisattva memasuki Nirvana berarti ia sudah melanggar sumpahnya sendiri, karena Ia sudah bersumpah tak akan memasuki Nirvana sebelum semua mahluk masuk Nirvana.

Bodhisattva yang lain juga begitu, mereka memiliki sumpah yang sama yaitu tak akan memasuki Nirvana sebelum semua mahluk memasuki Nirvana.

Karena  hanya dengan menjadi Bodhisattva bisa memasuki Nirvana yang sesungguhnya (menjadi Buddha) maka siapakah yang memasuki Nirvana?

Bukankah semuanya akan saling menunggu yang lain memasuki Nirvana? Dengan demikian tak ada yang memasuki Nirvana karena saling menunggu?

metta,
[/quote]

kamu mempertanyakan boddhisattva
saya mempertanyakan kembali ke kamu, kamu setelah jadi buddha, apakah masi ingat orang lain yang belum mencapai nirvana? kamu sudah memasuki nirvana, apakah kamu masi ingat?
ato kamu tidak ingat lagi, karena sudah nirvana

apakah kamu akan bertindak seperti dibawah ini?
saya sudah selamat, tinggal melihat dari seberang pantai saja
yang belum menyeberang pantai, kacian dech loe....
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: F.T on 16 April 2009, 06:38:02 PM
bukankah dengan mencapai nirvana berarti sudah menyelamatkan 1 umat manusia dari kegelapan batin, yaitu diri sendiri. :-? Apakah itu termaksud egois ?? :-?





Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Sunkmanitu Tanka Ob'waci on 16 April 2009, 06:50:54 PM
bila dibandingkan dengan menunda 1 orang dan menyelamatkan 10 orang, mana yang lebih egois?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: F.T on 16 April 2009, 07:02:58 PM
hm.. bukan itu jawaban yang sy harapkan.. hee... ok thanks. silahkan lanjutkan diskusinya.. sy lebih memilih netral.

_/\_
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Sunkmanitu Tanka Ob'waci on 16 April 2009, 09:03:45 PM
yah memang ada perbedaan pandangan
kalo nggak beda gak ada namanya aliran...
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dato' tono on 16 April 2009, 09:10:53 PM
yah memang ada perbedaan pandangan
kalo nggak beda gak ada namanya aliran...

nah betul itu, kalo ga ada perbedaan ga mungkin ada aliran... apakah setiap aliran mengajarkan hal buruk ? apakah semua aliran mengajarkan ajaran buddha ? walau ada beberapa aliran yg sudah terkontaminasi tradisi, budaya dan kepercayaan chinese, it's ok toh ga ngajari untuk melanggar sila bukan ?

anggap perbedaan sebagai keragaman di buddhism, sebagai bumbu penyedap, anda tertarik aliran A, saya tertarik aliran B, kamu tertarik aliran C, yo monggo... lebih bagus jika praktekin, kembangkan bathin di dalam aliran itu, tujuannya sama mencapai pembebasan tertinggi... so, apalagi yg diributkan ?

jika diributkan, apa beda nya dengan umat agama lain terutama nasrani yg suka jelek-jelekin buddhism ? ntar kalo di ladeni, malah marah2... nah loh... mau jd orang pecundang seperti itu ? jika ga... lupa kan perbedaan yg mencolok antar aliran buddhism, ambil kesamaannya, yaitu buddha sebagai panutan dan ajarannya...
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: truth lover on 16 April 2009, 09:34:48 PM
^
^
^
hmmm....

[quote dari kamu]
mas Sobat Dharma, mungkin yang dimaksudkan mas Upasaka, ialah: jika seorang Bodhisattva memasuki Nirvana berarti ia sudah melanggar sumpahnya sendiri, karena Ia sudah bersumpah tak akan memasuki Nirvana sebelum semua mahluk masuk Nirvana.

Bodhisattva yang lain juga begitu, mereka memiliki sumpah yang sama yaitu tak akan memasuki Nirvana sebelum semua mahluk memasuki Nirvana.

Karena  hanya dengan menjadi Bodhisattva bisa memasuki Nirvana yang sesungguhnya (menjadi Buddha) maka siapakah yang memasuki Nirvana?

Bukankah semuanya akan saling menunggu yang lain memasuki Nirvana? Dengan demikian tak ada yang memasuki Nirvana karena saling menunggu?

metta,

Quote
kamu mempertanyakan boddhisattva
saya mempertanyakan kembali ke kamu, kamu setelah jadi buddha, apakah masi ingat orang lain yang belum mencapai nirvana? kamu sudah memasuki nirvana, apakah kamu masi ingat?
ato kamu tidak ingat lagi, karena sudah nirvana

apakah kamu akan bertindak seperti dibawah ini?
saya sudah selamat, tinggal melihat dari seberang pantai saja
yang belum menyeberang pantai, kacian dech loe....

Mas Navis mungkin harus mempertanyakan pada diri sendiri, apakah mas Navis menerima konsep Nirvana = Samsara (konsep M) seperti yang dikemukakan oleh mas Tan atau tidak?

Kalau saya jelas tidak.

Kalau mas Navis menerima maka mas Navis harus pertanyakan pertanyaan mas Navis kepada diri sendiri.

Metta
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Sunkmanitu Tanka Ob'waci on 16 April 2009, 09:49:05 PM
Bukankah suatu kesalahpahaman jika menyatakan Boddhisattva melanggar sumpah sendiri jika mengatakan bahwa semua Boddhisattva menyatakan tidak akan mengalami Nirvana jika semua makhluk belum memasuki Nirvana?

Setahu saya ini cuma sumpah beberapa Boddhisattva deh...
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 16 April 2009, 10:04:02 PM
sah sah saja bahkan seorang bodhisatta itu mengucapkan sumpah... Karena sepanjang "seorang" individu yang disebut/telah menyandang karir bodhisatta masih terus menerus mempunyai keinginan (bahkan keinginan luhur/chanda), maka individu tersebut TIDAK AKAN MEREALISASIKAN KE-BUDDHA-AN... (ini sejalan dengan apa yang diungkapkan di dalam SUTRA INTAN/VAJRACHEDDIKA SUTRa).

Kutipan Sutra Intan :

Kemudian Subhuti berkata kepada Hyang Buddha, "Yang Dijunjungi, jika seorang laki-laki atau wanita bajik bertekad untuk mencapai Anuttara-samyak-sambodhi, bagaimana seharusnya dia bertumpu, bagaimana seharusnya dia mengendalikan hatinya?"

Hyang Buddha memberitahu Subhuti, "Seorang laki-laki atau wanita bajik, yang bertekad untuk mencapai Anuttara-samyak-sambodhi harus berpikiran demikian:"Aku harus membebaskan semua makhluk hidup dari arus tumimbal lahir, tetapi bila semua makhluk hidup sudah dibebaskan dari tumimbal lahir, sebenarnya sama sekali tidak ada makhluk hidup yang dibebaskan. Mengapa begitu? Subhuti, jika seorang Bodhisattva masih mempunyai ciri keakuan, ciri manusia, ciri makhluk hidup dan ciri kehidupan, maka dia bukanlah seorang Bodhisattva. Apa sebabnya? Subhuti, sebenarnya tidak ada Dharma tentang tekad untuk mencapai Anuttara-samyak-sambodhi.

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: wen78 on 16 April 2009, 10:17:42 PM
kamu mempertanyakan boddhisattva
saya mempertanyakan kembali ke kamu, kamu setelah jadi buddha, apakah masi ingat orang lain yang belum mencapai nirvana? kamu sudah memasuki nirvana, apakah kamu masi ingat?
ato kamu tidak ingat lagi, karena sudah nirvana
bagaimana kl saya modif sedikit menjadi...

kamu setelah jadi orang kaya, apakah masi ingat orang lain yang belum menjadi orang kaya? kamu sudah menjadi orang kaya, apakah kamu masi ingat?
ato kamu tidak ingat lagi, karena sudah menjadi orang kaya

apakah kamu akan bertindak seperti dibawah ini?
saya sudah selamat, tinggal melihat dari seberang pantai saja
yang belum menyeberang pantai, kacian dech loe....
saya sudah selamat, tinggal melihat dari seberang pantai saja
yang belum menyeberang pantai, masing2 menjalankan karma-nya masing2.
apakah yang belum menyeberang pantai bisa menyeberang pantai, semua tergantung diri mereka sendiri.

bukankah dengan mencapai nirvana berarti sudah menyelamatkan 1 umat manusia dari kegelapan batin, yaitu diri sendiri. :-? Apakah itu termaksud egois ?? :-?
tergantung, siapa yg mengatakan siapa yg egois? ;D

Bukankah suatu kesalahpahaman jika menyatakan Boddhisattva melanggar sumpah sendiri jika mengatakan bahwa semua Boddhisattva menyatakan tidak akan mengalami Nirvana jika semua makhluk belum memasuki Nirvana?

Setahu saya ini cuma sumpah beberapa Boddhisattva deh...
AFAIK, Boddhisattva bersumpah karena weles asih/kasih sayang/.. dll mereka kepada semua mahluk, sehingga mereka bersumpah untuk tidak masuk ke Nirvana demi menolong semua mahluk.

seperti orang yang banyak duit, tapi dia gunakan untuk membantu orang2 yg tidak mampu. tapi dia tidak disebut orang kaya, karena tidak punya uang banyak, tidak punya Ferarri, gak punya handphone.. dll. dan setiap uang yg dia dapatkan, dia gunakan untuk membantu org lain.
ato dengan kata lain, dia tidak bisa menikmati uang yg dia hasilkan.


Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Indra on 16 April 2009, 10:26:35 PM
numpang belok dikit, setelah ini silahkan lanjut lagi.

merujuk pada persamaan Nirvana=Samsara, apakah ini berarti bahwa kita semua sudah mencapai Nirvana? yes/no

_/\_

Wah ini mau bikin kuesioner ya...? :) Kalau si penanya memaksakan suatu pilihan yang terbatas pada penjawabnya, maka ia hanya menginginkan "kepastian", bukan diskusi. maaf bro, kalau diberi pilihan kaku demikian, saya enggan menjawab. Trims.

itu karena saya menggunakan pendekatan matematis, tapi tentu anda tetap diperbolehkan memberikan penjelasan sepanjang yg anda mau. anyway, demi kenyamanan anda, saya akan meralat:

jika, nirvana=samsara, apakah ini berarti bahwa kita semua sudah mencapai nirvana? boleh dijawab dengan jawaban apapun yg anda anggap benar.

semoga Bro sobat-dharma tidak enggan menjawab.


Bagaimana Bro sobat? saya sudah meralat pertanyaan saya untuk mengatasi keengganan Bro, mohon sudi memberikan pencerahan

_/\_
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Nevada on 16 April 2009, 10:32:04 PM
Quote from: sobat-dharma
Mari kita menggunakan kata-kata dalam Visuddhimagga untuk membantu anda memahaminya:

Penderitaan belakalah yang ada, tiada penderita yang ditemukan;
Perbuatan ada, tetapi pelaku perbuatan tidak ada;
Nibbana ada, tetapi orang yang memasuki tidak ada;
Jalan ada, tetapi pejalannnya tidak ada.

Di sini bisa kulanjutkan:
pancaran maitri-karuna ada, tetapi yang memancarkan tidak ada.

Sobat...

Empat baris awal yang Anda ketik itu berbicara mengenai realita anatta dalam tataran pra-Parinirvana. Artinya, dengan atau tidak menerima konsep anatta, fakta berbicara bahwa pada hakikatnya tidak ditemukan substansi inti (diri) di dunia ini. Penderita, pelaku perbuatan, orang yang merealisasi maupun pejalan; dinyatakan tidak ada, karena tidak ada penggerak utama yang beraktivitas dalam orang yang bersangkutan.

Namun pada dua baris akhir yang Anda ketik, statement itu berbicara dalam tataran pasca-Parinirvana. Di taraf ini, orang yang sudah memasuki Parinirvana sudah tidak lagi beraktivitas. Anda menyatakan bahwa pancaran maitri-karuna ada. Ini merujuk pada dua hal, yaitu :
- mungkin orang yang bersangkutan (Buddha) masih melakukan kegiatan memancarkan maitri-karuna.
- mungkin maitri-karuna itu dipancarkan oleh sesuatu (thing) - yang notabene adalah orang yang sudah memasuki Parinirvana.

Mohon penjelasan lanjutnya...
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Nevada on 16 April 2009, 10:32:16 PM
Quote from: sobat-dharma
1)Anda tidak perlu memainkan tendensi kata-kata. Saya rasa Anda sudah paham siapa itu diri sendiri yang saya maksud.
Jawab:  saya tidak sedang bermain-main bro, dan memangnya siapa diri sendiri yang  bro maksudkan? Memangnya ada “diri” yang lain lagi?

Maksudnya : "...yang bisa membuat diri sendiri (seseorang) merealisasi Pembebasan adalah diri sendiri (orang itu) pula."
Analoginya -> yang bisa membuat diri sendiri kenyang adalah diri sendiri pula.


Quote from: sobat-dharma
2) Saya sudah bisa menerimanya dari dulu. Tapi hanya sebatas kalimat motivasi, bukan filsafat realitas.
Jawab:  cerita dong biar lengkap ...

Saya melihat kalimat yang diucapkan bodhisatva itu hanya sebatas kalimat motivasi yang mendorong saya untuk mengembangkan kebajikan; tidak egois. Namun jika ditinjau dari pernyataan logika, maka kalimat itu agak pincang.


Quote from: sobat-dharma
3) Akal sehat dan logika memang bukan hal utama yang dibutuhkan untuk merealisasikan Nirvana. Namun bila kita berangkat tanpa akal sehat dan logika, kita mudah sekali dibutakan oleh dunia. Ini ibarat Anda menyatakan : "tidak perlu akal sehat dan logika, yang kau butuhkan hanyalah tekad dan semangat untuk dapat menghentikan revolusi Bumi."

Jawab:  Iya, itu yang dilakukan Sang Buddha ketika melempar mangkoknya ke aliran sungai... Dan ternyata melawan arus sungai bro! Kalau meragukan “akal sehat” dan “logika” dalam cerita ini, setidaknya hikmatnya bisa diambilkan...

Bro, jadi menurut Anda kejadian yang menimpa Petapa Sidharta itu tidak logis? Apa maksud Anda hukum alam memberi pengecualian agar mangkok itu mengalir melawan arus? Saya melihat kisah itu bisa saja terjadi, dan itu bukanlah suatu kejadian yang tidak bisa dijelaskan secara logika atau ilmu eksak. Bagi saya, akal sehat dan pemikiran logis merupakan filter awal untuk memilah suatu hal. Setelah itu, untuk pembuktian tentu saja saya harus mempraktikkannya.


Quote from: sobat-dharma
4) Anda tidak perlu memainkan kontekstual makna dalam kalimat saya. Saya mengajukan pertanyaan yang saya ambil dari pemahaman Mahayana saya yang masih dangkal. Maksudnya, saya ingin menerka masa depan samsara ditinjau dari pandangan Mahayana. Jikalau semua makhluk sudah terbebas dari penderitaan, lantas apa yang akan dilakukan oleh 'sang juru selamat' setelah itu...?
Jawab: Pertanyaannya iseng banget... :)) Tapi okey koq. Jika semua makhluk terbebas dari penderitaan ya bersaam dengan itu ia terbebas juga ... Kan katanya ‘semua makhluk’, berarti ia sendiri termasuk dong :))  

;D Iya, saya ingin tahu skenarionya dulu. Saya 'kan sedang belajar...
OK. Kalau begitu dalam konsep Mahayana, jadi semua makhluk di samsara ini akan memasuki Parnirvana secara bersama-sama?
Apa benar begitu?


Quote from: sobat-dharma
5) Nirvana bisa direalisasikan di hidup ini, bukannya sudah ada di sini. Kata "di sini" yang Anda pakai saja secara implisit menunjukkan pemahaman Anda bahwa Nirvana adalah sebuah tempat. Dan satu lagi... Kalau tidak ada yang perlu ditunda atau ditunggu, kenapa bodhisatva dengan lantang menyerukan "...saya tunda pencapaian kebuddhaan saya, karena...", ...?

Jawab:  “Di sini” adalah keberadaan yang melampaui eksistensi ...

Apa maksudnya keberadaan yang melampaui eksistensi?
Keberadaan itu berarti kehadiran; ada; eksis. Jadi sesuatu yang eksis dan melebihi eksistensi...?

Menurut saya, frase "di sini" adalah menunjukkan lokasi. Saya kurang mengerti dengan penjelasan ini; mengapa frase "di sini" dapat merujuk pada "keberadaan" -yang merupakan aktivitas-.


Quote from: sobat-dharma
6) Kan sudah saya bilang, ini menurut saya. Alasan saya menyatakan demikian karena samsara itu tiada berawal. Jadi akan menjadi terlalu berspekulasi kalau saya menyatakan bahwa samsara juga akan lenyap. Kalau menurut Anda sendiri, bagaimana?

Jawab: Saya tidak tahu? Bagaimanapun saya kan bukan Arahat, Bodhisattva, apalagi Buddha yang Sempurna, bagaimana saya bisa tahu...

Kalau Anda tidak tahu, kenapa Anda mengiyakan pertanyaan saya mengenai; "apakah semua makhluk akan merealisasi Nirvana, sehingga samsara kosong dari para makhluk", ...


Quote from: sobat-dharma
7) Tidak mementingkan keuntungan diri sendiri, memberi keuntungan pada orang lain; adalah tindakan terpuji. Tapi bukan berarti lebih baik menjadi orang baik hati yang bodoh. Di sinilah letak kebijaksanaan berperan, apakah seseorang ingin melakukan kebaikan dengan cara yang arif atau monoton...
Jawab:  berapakah banyak dari mereka yang memikirkan keuntungan dan kerugian di kepalanya bisa disebut bijak?

Saya tidak tahu. Saya bukanlah ahli sensus, Arhat, ataupun Samyaksambuddha...
Namun yang saya tahu, orang bijak itu selalu mempertimbangkan suatu hal berdasarkan prioritas dan faedahnya.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Tan on 16 April 2009, 11:39:53 PM
TANGGAPAN TERPADU

Menarik juga diskusi ini, karena sehari saja saya tidak mengecek dhammacitta sudah ada puluhan posting yang masuk. Sungguh luar biasa. Karena keterbatasan ruang dan waktu, saya tidak dapat membaca semuanya. Oleh karena itu, saya hanya akan menanggapi yang saya anggap penting saja.

Sebelumnya, saya melihat bahwa diskusi ini pada akhirnya tetap pada akhirnya akan menjurus pada perdebatan juga. Pihak non Mahayanis akhirnya tetap menanggapi Mahayana dari sudut pandang alirannya. Jadi perdebatan pada akhirnya tetap terelakkan. Memang perdebatan bukan sesuatu yang buruk, jika masing-masing pihak menyadari bahwa masalah agama berbeda dengan ranah ilmu pasti, dimana suatu jawaban empiris mungkin ditemukan. Namun dalam diskusi masalah agama, kebanyakan hal tidak dapat dibuktikan secara empiris. Akhirnya keputusan bergantung pada pilihan masing-masing. Demikian pula pandangan saya tentang Mahayana, walaupun hanya dapat dibuktikan secara ontologis, namun bagi saya filsafat Mahayana sangat masuk akal.

Baik kita akan lanjutkan diskusinya. Sebelumnya, karena banyaknya posting yang masuk saya tidak akan menanggapi satu persatu, melainkan merangkum semuanya menjadi satu posting. Tidak semua pernyataan akan saya tanggapi. Hanya yang sempat saya baca dan anggap penting saja yang akan ditanggapi. Oleh karena itu, harap maklum adanya.


Pernyataan:

Saya ingin bertanya kepada mas Tan, Dharmakaya seorang Buddha dengan Buddha yang lain sama atau berbeda? dimanakah Dharmakaya seorang Buddha ketika ia terlahir kembali sebagai pangeran Siddharta?

TAN:

Dharmakaya adalah tubuh absolut seorang Buddha. Mempertanyakan di mana dharmakaya adalah suatu pertanyaan yang tidak tepat. Ibaratnya menanyakan di manakah Buddha Sakyamuni setelah Beliau parinirvana. Menurut Nagasena pertanyaan ini tidak tepat dan dapat disamakan dengan menanyakan ke manakah perginya api setelah padam (lihat Na shien pi chiu ching – Nagasena bhikshu Sutra – padanan Milindapanha dalam Mahayana). Dharmakaya sendiri tidak mati ataupun menjelma, sehingga ini konsisten dengan konsep bahwa seorang Buddha tidak lagi menjelma. Yang memanifestasikan sebagai Buddha manusia adalah Nirmanakaya (tubuh jelmaan). Ingat dharmakaya sendiri tidaklah ke mana-mana. Dengan demikian, ia merupakan sesuatu yang absolut. Sampai di sini tidak ada pertentangan dengan doktrin aliran non Mahayana bukan? Karena merupakan tubuh yang absolute pertanyaan Anda di atas tidak berlaku.

Pernyataan:

Saya ingin bertanya kepada mas Tan, bagaimanakah konsep anitya (anicca) menurut Mahayana? Apakah kesadaran nitya atau anitya? Adakah  suatu kekecualian terhadap hukum anitya?

TAN:

Pertanyaan Anda saya balik pula dengan pertanyaan, apakah hukum karma itu nitya atau anitya? Kalau hukum karma adalah anitya, maka suatu saat, entah di masa lampau atau di masa mendatang, ada kalanya hukum karma tak berlaku. Kemungkinan ada masa di mana orang jahat tidak menuai kejahatannya dan orang baik tidak menuai buah kebaikannya. Apakah kondisi nirvana itu sendiri nitya atau anitya. Kalau anitya, kemungkinan seseorang dapat jatuh lagi setelah merealisasi nirvana. Poin yang hendak saya ungkapkan, ada kalanya pertanyaan-pertanyaan itu tidak tepat. Umpamanya dengan menanyakan “adakah segitiga yang mempunyai empat sisi?”

Pernyataan:

Sebenarnya yang manakah yang merupakan penjara menurut mas Tan? Nirvana atau batin dan jasmani (panca skandha)? Apakah mas Tan tahu apa yang menyebabkan mahluk terlahir kembali? apakah di Mahayana diajarkan pratitya sramutpada atau tidak?

TAN:

Jika Anda mengatakan nirvana adalah suatu batasan, maka itu adalah penjara. Perlu dibedakan antara penyebab para makhluk yang belum tercerahi terlahir kembali dan tubuh jelmaan yang memanifestasikan dirinya dalam berbagai perwujudan. Tentu saja di Mahayana diajarkan pratiyasamutpada. Tetapi ingat bahwa ini berlaku bila suatu makhluk masih memiliki avidya. Dalam kasus nirmanakaya penyebabnya beda. Avidya tidak lagi hadir di sini.

Pernyataan:

Baik! Pembebasan Mutlak (Nirvana) adalah kondisi yang tanpa syarat. Oleh karena itu, sesuatu yang tidak dilahirkan; tidak menjelma; tidak muncul; tidak tercipta, tidak mungkin masih memancarkan atau tidak memancarkan belas kasih lagi. Karena Nirvana bukanlah sebab atau akibat, maka tidak akan ada yang namanya aktivitas. Aktivitas memancarkan belas kasih ataupun aktivitas tidak memancarkan belas kasih tidak pernah ada dalam Nirvana. Pun Nirvana adalah bukan ada maupun tiada. Oleh karenanya tidak akan memancarkan belas kasih berbeda dengan tidak bisa memancarkan belas kasih. Komentar saya sebelumnya ternyata malah Anda tanggapi sebagai dualisme lainnya...

Menurut Anda Pembebasan Tak Bersyarat adalah kesanggupan memancarkan maitri-karuna tanpa terbias lobha-dosa-moha? Lalu menurut Anda maitri-karuna itu dipancarkan dari dan oleh siapa / apa? ngat, kata 'memancarkan' itu adalah kata kerja. Memangnya konsep Nirvana bagi Anda itu masih mengenal aktivitas / bekerja?

Pandangan saya bahwa orang yang telah merealisasi Nirvana untuk masih memancarkan maitri-karuna adalah masuk akal. Namun itu saat pancakkhandha masih ada (masih menjalani penghidupan), bukan setelah Parinirvana - alias Nirvana Tanpa Sisa.

TAN:

Baik. Di sini sebatas yang saya pahami, Anda mengangkat dikotomi antara “nirvana bersisa” dan “tanpa sisa.” Buddha semasa masih hidup di dunia masih beraktifitas. Buddha masih dapat berdialog dengan Mara  waktu ia meminta Buddha segera parinirvana. Terlebih lagi, dalam Sutta Mahaparinibanna disebutkan bahwa seorang Buddha masih dapat hidup berkalpa2 kalau Ananda yang memohonnya. Jika tidak ada aktifitas bagaimana mungkin Buddha dapat mempertahankan “tubuh fisiknya” jika ada permohonan? Bukankah saat itu Buddha sudah nirvana? Di sini saya melihat Anda menganggap bahwa “nirvana bersisa” itu lebih rendah dari “nirvana tanpa sisa.” Sehingga pada akhirnya nirvanapun masih menjadi subyek yang berkondisi. Penjelasan ini menurut hemat saya tak masuk akal. Pernyataan Anda: “Oleh karena itu, sesuatu yang tidak dilahirkan; tidak menjelma; tidak muncul; tidak tercipta, tidak mungkin masih memancarkan atau tidak memancarkan belas kasih lagi.” Pertanyaan saya: “Mengapa tidak mungkin?” Buddha saat menerima makanan dari Cunda sudah memasuki nirvana belum? Mengapa Buddha masih berbelas kasih pada Cunda? Mungkin Anda menjawab: “Itu nirvana dengan sisa.” Dengan demikian, permasalahan tetap tidak terpecahkan juga, karena seperti yang baru saja saya ungkapkan, seolah2 nirvana dengan sisa itu lebih rendah dari nirvana tanpa sisa. Jika nirvana masih dapat dipilah-pilah, apakah itu mencerminkan sesuatu yang absolut?
Justru karena konsisten dengan pandangan bahwa tiada pembedaan dalam nirvana, maka Mahayana berpandangan bahwa seorang Buddha sampai kapanpun tetap dapat memancarkan maitri karunanya. Ini yang menjadi salah satu alasan mengapa saya memilih Mahayana.

Pernyataan:

Jadi saya yang ingin bertanya; "Apakah yang dimaksud dengan 'orang' di statement itu? Apakah orang dalam arti fisik atau bagaimana?"

TAN:

Kata-kata apapun, baik “orang” atau apa saja hanya dipergunakan untuk menjelaskan (lihat Sutra Samdhinirmocana).

Pernyataan:

Orang yang telah merealisasi Nirvana berada dapat berada di mana-mana namun tidak ada di mana-mana pada saat bersamaan?

TAN:

Ya. Itulah sebabnya dikatakan nirvana itu tak terkatakan dan tak terbayangkan.

Pernyataan:

Apakah Nirvana masih mengenal konsep dualistis ada dan tiada; hadir dan absen; muncul dan tidak muncul? Statement sobat-dharma ini juga seudah jelas menyatakan secara implisit bahwa orang yang telah merealisasi Nirvana 'masih hadir', 'masih eksis', 'masih berkehendak', dan dengan kata lain seharusnya masih tunduk pada Hukum Alam Semesta.

TAN:

Ada dan tiada hanya ada dalam benak orang yang berdiskusi masalah nirvana, tetapi belum merealisasi nirvana itu sendiri, seperti kita-kita. Bicara masalah dualistis, toh masih ada “nirvana dengan sisa” dan “tanpa sisa.” Pertanyaan saya apakah kedua istilah itu mengacu pada nirvana yang sama atau beda? Apakah pancaskandha dapat mencemari nirvana?

Pernyataan:

-   Samsara dan Nirvana adalah identik...
-   
TAN:

Ya. Dari sudut pandang orang yang tercerahi adalah identik. Bagi yang belum akan memandangnya tak identik.

Pernyataan:

- Setelah memasuki Nirvana (maksudnya Parinirvana), Buddha masih ingin memancarkan maitri-karuna...

TAN:

Bukan ingin lagi. Tetapi itu adalah sifat alaminya. Dingin adalah sifat alami es. Es tidak ingin dirinya dingin. Seekor beruang kutub punya bulu lebat. Apakah keinginan si beruang kutub untuk punya bulu lebat? Apakah api ingin dirinya panas? Untuk memancarkan maitri karuna, Buddha tak perlu keinginan lagi, Bang.

Pernyataan:

- Karena masih ingin, artinya kalau tidak ingin pun sebenarnya bisa...
- Namun karena keinginan-Nya lebih kuat, maka Buddha pun tetap memancarkan maitri-karuna - alias tidak ingin memasuki Nirvana Tanpa Sisa.
- Karena menurut Buddha, memasuki Nirvana Tanpa Sisa adalah tidakan yang tidak layak untuk Orang Yang Tercerahkan.
- Karena samsara dan Nirvana adalah identik, maka seharusnya memang tidak ada Nirvana Tanpa Sisa. Karena keidentikan Nirvana dengan samsara ini secara implisit menujukkan bahwa Nirvana adalah kondisi yang masih memiliki elemen-elemen... (memancarkan, maitri, karuna, keinginan - itu semua elemen-elemen / unsur-unsur).

TAN:

Pertanyaan itu ada, karena Anda masih memandang nirvana bersisa dan tanpa sisa dari sudut pandang dualistis. Telah saya katakan bahwa maitri karuna adalah sifat alami seorang Buddha. Tidak ada keinginan lagi di sini. Tanggapan saya di bagian sebelumnya, menjadikan pertanyaan Anda di sini tidak lagi valid.


Amiduofo,

Tan


Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Indra on 16 April 2009, 11:54:17 PM
Baik. Di sini sebatas yang saya pahami, Anda mengangkat dikotomi antara “nirvana bersisa” dan “tanpa sisa.” Buddha semasa masih hidup di dunia masih beraktifitas. Buddha masih dapat berdialog dengan Mara  waktu ia meminta Buddha segera parinirvana. Terlebih lagi, dalam Sutta Mahaparinibanna disebutkan bahwa seorang Buddha masih dapat hidup berkalpa2 kalau Ananda yang memohonnya. Jika tidak ada aktifitas bagaimana mungkin Buddha dapat mempertahankan “tubuh fisiknya” jika ada permohonan? Bukankah saat itu Buddha sudah nirvana? Di sini saya melihat Anda menganggap bahwa “nirvana bersisa” itu lebih rendah dari “nirvana tanpa sisa.” Sehingga pada akhirnya nirvanapun masih menjadi subyek yang berkondisi. Penjelasan ini menurut hemat saya tak masuk akal. Pernyataan Anda: “Oleh karena itu, sesuatu yang tidak dilahirkan; tidak menjelma; tidak muncul; tidak tercipta, tidak mungkin masih memancarkan atau tidak memancarkan belas kasih lagi.” Pertanyaan saya: “Mengapa tidak mungkin?” Buddha saat menerima makanan dari Cunda sudah memasuki nirvana belum? Mengapa Buddha masih berbelas kasih pada Cunda? Mungkin Anda menjawab: “Itu nirvana dengan sisa.” Dengan demikian, permasalahan tetap tidak terpecahkan juga, karena seperti yang baru saja saya ungkapkan, seolah2 nirvana dengan sisa itu lebih rendah dari nirvana tanpa sisa. Jika nirvana masih dapat dipilah-pilah, apakah itu mencerminkan sesuatu yang absolut?
Justru karena konsisten dengan pandangan bahwa tiada pembedaan dalam nirvana, maka Mahayana berpandangan bahwa seorang Buddha sampai kapanpun tetap dapat memancarkan maitri karunanya. Ini yang menjadi salah satu alasan mengapa saya memilih Mahayana.

sepanjang pengetahuan saya yg minim, sepertinya yg di bold itu harusnya satu kalpa, dalam komentar dijelaskan maksudnya adalah akhir kappa, dimana kappa dalam hal ini adalah ayu kappa. boleh minta rujukan yg menyebutkan berkalpa2 (>1 kalpa)?

dan pada kenyataannya Ananda tidak mengajukan permohonan, jadi saya pikir tidak perlu berandai2 dengan spekulasi.

silahkan lanjooot...
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 17 April 2009, 12:08:26 AM
sah sah saja bahkan seorang bodhisatta itu mengucapkan sumpah... Karena sepanjang "seorang" individu yang disebut/telah menyandang karir bodhisatta masih terus menerus mempunyai keinginan (bahkan keinginan luhur/chanda), maka individu tersebut TIDAK AKAN MEREALISASIKAN KE-BUDDHA-AN... (ini sejalan dengan apa yang diungkapkan di dalam SUTRA INTAN/VAJRACHEDDIKA SUTRa).

Kutipan Sutra Intan :

Kemudian Subhuti berkata kepada Hyang Buddha, "Yang Dijunjungi, jika seorang laki-laki atau wanita bajik bertekad untuk mencapai Anuttara-samyak-sambodhi, bagaimana seharusnya dia bertumpu, bagaimana seharusnya dia mengendalikan hatinya?"

Hyang Buddha memberitahu Subhuti, "Seorang laki-laki atau wanita bajik, yang bertekad untuk mencapai Anuttara-samyak-sambodhi harus berpikiran demikian:"Aku harus membebaskan semua makhluk hidup dari arus tumimbal lahir, tetapi bila semua makhluk hidup sudah dibebaskan dari tumimbal lahir, sebenarnya sama sekali tidak ada makhluk hidup yang dibebaskan. Mengapa begitu? Subhuti, jika seorang Bodhisattva masih mempunyai ciri keakuan, ciri manusia, ciri makhluk hidup dan ciri kehidupan, maka dia bukanlah seorang Bodhisattva. Apa sebabnya? Subhuti, sebenarnya tidak ada Dharma tentang tekad untuk mencapai Anuttara-samyak-sambodhi.



[at] sdr.Tan...

coba perhatikan kutipan di atas dari SUTRA INTAN (Sutra Intan)... yang tidak menggunakan kacamata sutta pali (theravada) sehingga tidak menjadi polemik theravada dan mahayana... Bisakah sdr.Tan menjelaskan apa yang dimaksudkan dalam SUTRA INTAN dengan KONSEP UTAMA MAHAYANA dalam karier bodhisatva ? ? ?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Nevada on 17 April 2009, 12:15:56 AM
Quote from: Tan
Baik. Di sini sebatas yang saya pahami, Anda mengangkat dikotomi antara “nirvana bersisa” dan “tanpa sisa.” Buddha semasa masih hidup di dunia masih beraktifitas. Buddha masih dapat berdialog dengan Mara  waktu ia meminta Buddha segera parinirvana. Terlebih lagi, dalam Sutta Mahaparinibanna disebutkan bahwa seorang Buddha masih dapat hidup berkalpa2 kalau Ananda yang memohonnya. Jika tidak ada aktifitas bagaimana mungkin Buddha dapat mempertahankan “tubuh fisiknya” jika ada permohonan? Bukankah saat itu Buddha sudah nirvana? Di sini saya melihat Anda menganggap bahwa “nirvana bersisa” itu lebih rendah dari “nirvana tanpa sisa.” Sehingga pada akhirnya nirvanapun masih menjadi subyek yang berkondisi. Penjelasan ini menurut hemat saya tak masuk akal. Pernyataan Anda: “Oleh karena itu, sesuatu yang tidak dilahirkan; tidak menjelma; tidak muncul; tidak tercipta, tidak mungkin masih memancarkan atau tidak memancarkan belas kasih lagi.” Pertanyaan saya: “Mengapa tidak mungkin?” Buddha saat menerima makanan dari Cunda sudah memasuki nirvana belum? Mengapa Buddha masih berbelas kasih pada Cunda? Mungkin Anda menjawab: “Itu nirvana dengan sisa.” Dengan demikian, permasalahan tetap tidak terpecahkan juga, karena seperti yang baru saja saya ungkapkan, seolah2 nirvana dengan sisa itu lebih rendah dari nirvana tanpa sisa. Jika nirvana masih dapat dipilah-pilah, apakah itu mencerminkan sesuatu yang absolut?
Justru karena konsisten dengan pandangan bahwa tiada pembedaan dalam nirvana, maka Mahayana berpandangan bahwa seorang Buddha sampai kapanpun tetap dapat memancarkan maitri karunanya. Ini yang menjadi salah satu alasan mengapa saya memilih Mahayana.

Well...
...
Jelas selama pancaskhandha masih ada, maka Buddha tetap beraktivitas. Aktivitasnya pun hanya berupa kiriya (fungsional). Namun ketika Buddha memasuki Parinirvana (Nirvana Tanpa Sisa), Buddha tidak lagi dapat ditemukan dalam wujud atau kondisi apapun. Jadi tidak mungkin masih beraktivitas, meskipun juga sebatas kiriya (fungsional).


Quote from: Tan
Ya. Itulah sebabnya dikatakan nirvana itu tak terkatakan dan tak terbayangkan.

...Jadi orang yang telah memasuki Parinirvana itu punya banyak duplikat ya?


Quote from: Tan
Ada dan tiada hanya ada dalam benak orang yang berdiskusi masalah nirvana, tetapi belum merealisasi nirvana itu sendiri, seperti kita-kita. Bicara masalah dualistis, toh masih ada “nirvana dengan sisa” dan “tanpa sisa.” Pertanyaan saya apakah kedua istilah itu mengacu pada nirvana yang sama atau beda? Apakah pancaskandha dapat mencemari nirvana?

Jelas berbeda dong...
- Nirvana (masih ada pancaskhandha) adalah keadaan batin yang terbebas dari segala dualisme. Namun orang yang bersangkutan (Buddha) masih menjalani penghidupan-Nya.
- Parinirvana (tanpa sisa) adalah keadaan yang terbebas sepenuhnya. Orang yang telah memasuki Parinirvana itu telah terbebas dari samsara dan tidak lagi bertumibal-lahir. Dia tidak akan lahir, muncul, menjelma, maupun tercipta lagi dalam wujud maupun materi apapun.


Quote from: Tan
Ya. Dari sudut pandang orang yang tercerahi adalah identik. Bagi yang belum akan memandangnya tak identik.

Hmmm... Mohon bimbingan dari Anda. Saya adalah orang yang masih jauh dari Pencerahan... :)


Quote from: Tan
Bukan ingin lagi. Tetapi itu adalah sifat alaminya. Dingin adalah sifat alami es. Es tidak ingin dirinya dingin. Seekor beruang kutub punya bulu lebat. Apakah keinginan si beruang kutub untuk punya bulu lebat? Apakah api ingin dirinya panas? Untuk memancarkan maitri karuna, Buddha tak perlu keinginan lagi, Bang.

Jadi Parinirvana (Pembebasan Mutlak) masih memiliki sifat, toh...
Maitri-karuna itu artinya cinta kasih dan welas asih, bukan?
Dua sifat ini adalah kondisi batin yang hanya diaplikasikan dalam perbuatan.
Jadi setelah Buddha memasuki Parinirvana, Beliau masih memiliki citta-cetasika dan secara otomatis mengaplikasikannya?
Hmm... Jadi seperti keadaan serba otomatis ya? :)


Quote from: Tan
Pertanyaan itu ada, karena Anda masih memandang nirvana bersisa dan tanpa sisa dari sudut pandang dualistis. Telah saya katakan bahwa maitri karuna adalah sifat alami seorang Buddha. Tidak ada keinginan lagi di sini. Tanggapan saya di bagian sebelumnya, menjadikan pertanyaan Anda di sini tidak lagi valid.

Pertanyaan saya di postingan sebelumnya masih valid, karena ada hubungannya dengan pertanyaan saya di atas...


_/\_
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hendrako on 17 April 2009, 12:26:35 AM
TANGGAPAN TERPADU

Menarik juga diskusi ini, karena sehari saja saya tidak mengecek dhammacitta sudah ada puluhan posting yang masuk. Sungguh luar biasa. Karena keterbatasan ruang dan waktu, saya tidak dapat membaca semuanya. Oleh karena itu, saya hanya akan menanggapi yang saya anggap penting saja.

Sebelumnya, saya melihat bahwa diskusi ini pada akhirnya tetap pada akhirnya akan menjurus pada perdebatan juga. Pihak non Mahayanis akhirnya tetap menanggapi Mahayana dari sudut pandang alirannya. Jadi perdebatan pada akhirnya tetap terelakkan. Memang perdebatan bukan sesuatu yang buruk, jika masing-masing pihak menyadari bahwa masalah agama berbeda dengan ranah ilmu pasti, dimana suatu jawaban empiris mungkin ditemukan. Namun dalam diskusi masalah agama, kebanyakan hal tidak dapat dibuktikan secara empiris. Akhirnya keputusan bergantung pada pilihan masing-masing. Demikian pula pandangan saya tentang Mahayana, walaupun hanya dapat dibuktikan secara ontologis, namun bagi saya filsafat Mahayana sangat masuk akal.

Baik kita akan lanjutkan diskusinya. Sebelumnya, karena banyaknya posting yang masuk saya tidak akan menanggapi satu persatu, melainkan merangkum semuanya menjadi satu posting. Tidak semua pernyataan akan saya tanggapi. Hanya yang sempat saya baca dan anggap penting saja yang akan ditanggapi. Oleh karena itu, harap maklum adanya.


Pernyataan:

Saya ingin bertanya kepada mas Tan, Dharmakaya seorang Buddha dengan Buddha yang lain sama atau berbeda? dimanakah Dharmakaya seorang Buddha ketika ia terlahir kembali sebagai pangeran Siddharta?

TAN:

Dharmakaya adalah tubuh absolut seorang Buddha. Mempertanyakan di mana dharmakaya adalah suatu pertanyaan yang tidak tepat. Ibaratnya menanyakan di manakah Buddha Sakyamuni setelah Beliau parinirvana. Menurut Nagasena pertanyaan ini tidak tepat dan dapat disamakan dengan menanyakan ke manakah perginya api setelah padam (lihat Na shien pi chiu ching – Nagasena bhikshu Sutra – padanan Milindapanha dalam Mahayana). Dharmakaya sendiri tidak mati ataupun menjelma, sehingga ini konsisten dengan konsep bahwa seorang Buddha tidak lagi menjelma. Yang memanifestasikan sebagai Buddha manusia adalah Nirmanakaya (tubuh jelmaan). Ingat dharmakaya sendiri tidaklah ke mana-mana. Dengan demikian, ia merupakan sesuatu yang absolut. Sampai di sini tidak ada pertentangan dengan doktrin aliran non Mahayana bukan? Karena merupakan tubuh yang absolute pertanyaan Anda di atas tidak berlaku.

Pernyataan:

Saya ingin bertanya kepada mas Tan, bagaimanakah konsep anitya (anicca) menurut Mahayana? Apakah kesadaran nitya atau anitya? Adakah  suatu kekecualian terhadap hukum anitya?

TAN:

Pertanyaan Anda saya balik pula dengan pertanyaan, apakah hukum karma itu nitya atau anitya? Kalau hukum karma adalah anitya, maka suatu saat, entah di masa lampau atau di masa mendatang, ada kalanya hukum karma tak berlaku. Kemungkinan ada masa di mana orang jahat tidak menuai kejahatannya dan orang baik tidak menuai buah kebaikannya. Apakah kondisi nirvana itu sendiri nitya atau anitya. Kalau anitya, kemungkinan seseorang dapat jatuh lagi setelah merealisasi nirvana. Poin yang hendak saya ungkapkan, ada kalanya pertanyaan-pertanyaan itu tidak tepat. Umpamanya dengan menanyakan “adakah segitiga yang mempunyai empat sisi?”

Pernyataan:

Sebenarnya yang manakah yang merupakan penjara menurut mas Tan? Nirvana atau batin dan jasmani (panca skandha)? Apakah mas Tan tahu apa yang menyebabkan mahluk terlahir kembali? apakah di Mahayana diajarkan pratitya sramutpada atau tidak?

TAN:

Jika Anda mengatakan nirvana adalah suatu batasan, maka itu adalah penjara. Perlu dibedakan antara penyebab para makhluk yang belum tercerahi terlahir kembali dan tubuh jelmaan yang memanifestasikan dirinya dalam berbagai perwujudan. Tentu saja di Mahayana diajarkan pratiyasamutpada. Tetapi ingat bahwa ini berlaku bila suatu makhluk masih memiliki avidya. Dalam kasus nirmanakaya penyebabnya beda. Avidya tidak lagi hadir di sini.

Pernyataan:

Baik! Pembebasan Mutlak (Nirvana) adalah kondisi yang tanpa syarat. Oleh karena itu, sesuatu yang tidak dilahirkan; tidak menjelma; tidak muncul; tidak tercipta, tidak mungkin masih memancarkan atau tidak memancarkan belas kasih lagi. Karena Nirvana bukanlah sebab atau akibat, maka tidak akan ada yang namanya aktivitas. Aktivitas memancarkan belas kasih ataupun aktivitas tidak memancarkan belas kasih tidak pernah ada dalam Nirvana. Pun Nirvana adalah bukan ada maupun tiada. Oleh karenanya tidak akan memancarkan belas kasih berbeda dengan tidak bisa memancarkan belas kasih. Komentar saya sebelumnya ternyata malah Anda tanggapi sebagai dualisme lainnya...

Menurut Anda Pembebasan Tak Bersyarat adalah kesanggupan memancarkan maitri-karuna tanpa terbias lobha-dosa-moha? Lalu menurut Anda maitri-karuna itu dipancarkan dari dan oleh siapa / apa? ngat, kata 'memancarkan' itu adalah kata kerja. Memangnya konsep Nirvana bagi Anda itu masih mengenal aktivitas / bekerja?

Pandangan saya bahwa orang yang telah merealisasi Nirvana untuk masih memancarkan maitri-karuna adalah masuk akal. Namun itu saat pancakkhandha masih ada (masih menjalani penghidupan), bukan setelah Parinirvana - alias Nirvana Tanpa Sisa.

TAN:

Baik. Di sini sebatas yang saya pahami, Anda mengangkat dikotomi antara “nirvana bersisa” dan “tanpa sisa.” Buddha semasa masih hidup di dunia masih beraktifitas. Buddha masih dapat berdialog dengan Mara  waktu ia meminta Buddha segera parinirvana. Terlebih lagi, dalam Sutta Mahaparinibanna disebutkan bahwa seorang Buddha masih dapat hidup berkalpa2 kalau Ananda yang memohonnya. Jika tidak ada aktifitas bagaimana mungkin Buddha dapat mempertahankan “tubuh fisiknya” jika ada permohonan? Bukankah saat itu Buddha sudah nirvana? Di sini saya melihat Anda menganggap bahwa “nirvana bersisa” itu lebih rendah dari “nirvana tanpa sisa.” Sehingga pada akhirnya nirvanapun masih menjadi subyek yang berkondisi. Penjelasan ini menurut hemat saya tak masuk akal. Pernyataan Anda: “Oleh karena itu, sesuatu yang tidak dilahirkan; tidak menjelma; tidak muncul; tidak tercipta, tidak mungkin masih memancarkan atau tidak memancarkan belas kasih lagi.” Pertanyaan saya: “Mengapa tidak mungkin?” Buddha saat menerima makanan dari Cunda sudah memasuki nirvana belum? Mengapa Buddha masih berbelas kasih pada Cunda? Mungkin Anda menjawab: “Itu nirvana dengan sisa.” Dengan demikian, permasalahan tetap tidak terpecahkan juga, karena seperti yang baru saja saya ungkapkan, seolah2 nirvana dengan sisa itu lebih rendah dari nirvana tanpa sisa. Jika nirvana masih dapat dipilah-pilah, apakah itu mencerminkan sesuatu yang absolut?
Justru karena konsisten dengan pandangan bahwa tiada pembedaan dalam nirvana, maka Mahayana berpandangan bahwa seorang Buddha sampai kapanpun tetap dapat memancarkan maitri karunanya. Ini yang menjadi salah satu alasan mengapa saya memilih Mahayana.

Pernyataan:

Jadi saya yang ingin bertanya; "Apakah yang dimaksud dengan 'orang' di statement itu? Apakah orang dalam arti fisik atau bagaimana?"

TAN:

Kata-kata apapun, baik “orang” atau apa saja hanya dipergunakan untuk menjelaskan (lihat Sutra Samdhinirmocana).

Pernyataan:

Orang yang telah merealisasi Nirvana berada dapat berada di mana-mana namun tidak ada di mana-mana pada saat bersamaan?

TAN:

Ya. Itulah sebabnya dikatakan nirvana itu tak terkatakan dan tak terbayangkan.

Pernyataan:

Apakah Nirvana masih mengenal konsep dualistis ada dan tiada; hadir dan absen; muncul dan tidak muncul? Statement sobat-dharma ini juga seudah jelas menyatakan secara implisit bahwa orang yang telah merealisasi Nirvana 'masih hadir', 'masih eksis', 'masih berkehendak', dan dengan kata lain seharusnya masih tunduk pada Hukum Alam Semesta.

TAN:

Ada dan tiada hanya ada dalam benak orang yang berdiskusi masalah nirvana, tetapi belum merealisasi nirvana itu sendiri, seperti kita-kita. Bicara masalah dualistis, toh masih ada “nirvana dengan sisa” dan “tanpa sisa.” Pertanyaan saya apakah kedua istilah itu mengacu pada nirvana yang sama atau beda? Apakah pancaskandha dapat mencemari nirvana?

Pernyataan:

-   Samsara dan Nirvana adalah identik...
-   
TAN:

Ya. Dari sudut pandang orang yang tercerahi adalah identik. Bagi yang belum akan memandangnya tak identik.

Pernyataan:

- Setelah memasuki Nirvana (maksudnya Parinirvana), Buddha masih ingin memancarkan maitri-karuna...

TAN:

Bukan ingin lagi. Tetapi itu adalah sifat alaminya. Dingin adalah sifat alami es. Es tidak ingin dirinya dingin. Seekor beruang kutub punya bulu lebat. Apakah keinginan si beruang kutub untuk punya bulu lebat? Apakah api ingin dirinya panas? Untuk memancarkan maitri karuna, Buddha tak perlu keinginan lagi, Bang.

Pernyataan:

- Karena masih ingin, artinya kalau tidak ingin pun sebenarnya bisa...
- Namun karena keinginan-Nya lebih kuat, maka Buddha pun tetap memancarkan maitri-karuna - alias tidak ingin memasuki Nirvana Tanpa Sisa.
- Karena menurut Buddha, memasuki Nirvana Tanpa Sisa adalah tidakan yang tidak layak untuk Orang Yang Tercerahkan.
- Karena samsara dan Nirvana adalah identik, maka seharusnya memang tidak ada Nirvana Tanpa Sisa. Karena keidentikan Nirvana dengan samsara ini secara implisit menujukkan bahwa Nirvana adalah kondisi yang masih memiliki elemen-elemen... (memancarkan, maitri, karuna, keinginan - itu semua elemen-elemen / unsur-unsur).

TAN:

Pertanyaan itu ada, karena Anda masih memandang nirvana bersisa dan tanpa sisa dari sudut pandang dualistis. Telah saya katakan bahwa maitri karuna adalah sifat alami seorang Buddha. Tidak ada keinginan lagi di sini. Tanggapan saya di bagian sebelumnya, menjadikan pertanyaan Anda di sini tidak lagi valid.


Amiduofo,

Tan




Setelah Parinibbana,
Buddha = Dhamma.

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 17 April 2009, 08:45:36 AM
bila dibandingkan dengan menunda 1 orang dan menyelamatkan 10 orang, mana yang lebih egois?

Kalo 10 orang itu kecebur lumpur gara-gara 1 orang yang narik, maka kalau kemudian orang itu tinggalkan 10 lainnya, itu egois.
Kalo 1 orang itu naik dengan menginjak kepala 10 orang di lumpur (sehingga lebih susah naik), maka itu juga egois.

Tapi kalo saya kecebur lumpur karena salah saya, 10 orang kecebur lumpur gara2 salah masing2, kok saya mau naik sendiri tanpa menginjak kepala orang lain juga dibilang egois? Bukannya itu seperti 10 orang napi yang masih punya masa hukuman menghalangi 1 orang napi yang sudah habis masa hukumannya pulang ke rumah dengan dalih "solidaritas"? Bahkan dengan dalih lain "rumah adalah penjara, penjara adalah rumah. Jika dualisme menghilang, maka penjara tidak beda dengan rumah". Saya jadi kurang mengerti definisi egois nih.

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 17 April 2009, 09:00:57 AM
^
^
^
uda dech bro

uda jelas-jelas jawaban-nya

bila dibandingkan dengan menunda 1 orang dan menyelamatkan 10 orang, mana yang lebih egois?

jgn berusaha membenar-benarkan sesuatu yang tidak benar
karena sesuatu yang tidak benar, kalau dibenar-benarin jadi salah


itu lah beda sudut pandang T ama M

Kalo 10 orang itu kecebur lumpur gara-gara 1 orang yang narik, maka kalau kemudian orang itu tinggalkan 10 lainnya, itu egois.
Kalo 1 orang itu naik dengan menginjak kepala 10 orang di lumpur (sehingga lebih susah naik), maka itu juga egois.


sudah dech, bilang saja dari awal, kalau kamu memang berusaha menyelamatkan diri sendiri dulu, ketimbang menyelamatkan orang lain.

haaa...
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 17 April 2009, 09:04:20 AM
^
^
^
uda dech bro

uda jelas-jelas jawaban-nya

bila dibandingkan dengan menunda 1 orang dan menyelamatkan 10 orang, mana yang lebih egois?

jgn berusaha membenar-benarkan sesuatu yang tidak benar
karena sesuatu yang tidak benar, kalau dibenar-benarin jadi salah

haaa...


nibbana  berkaitan yathabutham nyanadasa (melihat apa adanya) yang tentunya berarti sesuai dengan proses alamiahnya...

Demikian ini dikatakan oleh Bhante Sariputta, siswa utama Sang Buddha:

'Bukan kematian, atau kelahiran yang kunantikan;
Bagaikan pekerja menantikan upah, aku menantikan waktuku.
Bukan kematian atau kelahiran yang kurindukan,
Dengan waspada dan jelas mengerti,
Begitulah aku menantikan waktuku'.


---

Jadi ketika ada tudingan bahwa para savaka Theravada EGOIS hanya menyelamatkan diri sendiri, maka dari sekian banyak savaka yang sudah mencapai nibbana tetap melakukan pembabaran dhamma (dalam hal ini tentunya banyak makhluk yang bisa dibimbing untuk menjadi pemasuk arus, pemenang arus, kembali sekali dan bahkan juga mencapai tingkat arahat). TETAPI KONTEKS-NY adalah secara alamiah bahwa setelah merealisasikan nibbana tanpa sisa (parinibbana), maka selesai-lah "TUGAS"-nya. Lihat syair yang di ucapkan oleh Ariya Sariputra di atas.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 17 April 2009, 09:05:35 AM
Sebelumnya, saya melihat bahwa diskusi ini pada akhirnya tetap pada akhirnya akan menjurus pada perdebatan juga. Pihak non Mahayanis akhirnya tetap menanggapi Mahayana dari sudut pandang alirannya.
Kalau gitu saya tanya yang tidak pakai aliran sama sekali:
"Katanya Mahayana, Buddha Gotama juga sebenarnya ada dan tidak masuk nirvana sampai semua mahluk mencapai pembebasan. Sekarang, mana Buddha Gotamanya? kok hanya berpangku tangan lihat debat antar aliran gini?"
Kalau itu juga masih dianggap 'dari sudut pandang aliran tertentu', saya tidak akan tanya lagi.



Quote
TAN:

Dharmakaya adalah tubuh absolut seorang Buddha. Mempertanyakan di mana dharmakaya adalah suatu pertanyaan yang tidak tepat. Ibaratnya menanyakan di manakah Buddha Sakyamuni setelah Beliau parinirvana. Menurut Nagasena pertanyaan ini tidak tepat dan dapat disamakan dengan menanyakan ke manakah perginya api setelah padam (lihat Na shien pi chiu ching – Nagasena bhikshu Sutra – padanan Milindapanha dalam Mahayana). Dharmakaya sendiri tidak mati ataupun menjelma, sehingga ini konsisten dengan konsep bahwa seorang Buddha tidak lagi menjelma. Yang memanifestasikan sebagai Buddha manusia adalah Nirmanakaya (tubuh jelmaan). Ingat dharmakaya sendiri tidaklah ke mana-mana. Dengan demikian, ia merupakan sesuatu yang absolut. Sampai di sini tidak ada pertentangan dengan doktrin aliran non Mahayana bukan? Karena merupakan tubuh yang absolute pertanyaan Anda di atas tidak berlaku.

Jadi walaupun sudah parinirvana, tetap ada yang disebut tubuh Buddha, dan juga bisa dirujuk "milikku"?
Kalau gitu, apa bedanya Mahayana dengan pandangan Eternalisme yang mengatakan ada "aku" (baik sadar maupun tidak sadar, baik terbatas maupun tidak terbatas)?



Quote
TAN:

Pertanyaan Anda saya balik pula dengan pertanyaan, apakah hukum karma itu nitya atau anitya? Kalau hukum karma adalah anitya, maka suatu saat, entah di masa lampau atau di masa mendatang, ada kalanya hukum karma tak berlaku. Kemungkinan ada masa di mana orang jahat tidak menuai kejahatannya dan orang baik tidak menuai buah kebaikannya. Apakah kondisi nirvana itu sendiri nitya atau anitya. Kalau anitya, kemungkinan seseorang dapat jatuh lagi setelah merealisasi nirvana. Poin yang hendak saya ungkapkan, ada kalanya pertanyaan-pertanyaan itu tidak tepat. Umpamanya dengan menanyakan “adakah segitiga yang mempunyai empat sisi?”

Wah, ini putar2 kata yang mahir. "Semua yang berkondisi terkena hukum perubahan" ditanya balik "apakah hukum perubahan berkondisi?"
Kalau gitu saya lanjutkan, "Semua yang berkondisi adalah dukkha", "semua fenomena adalah tanpa inti diri". Saya balik begini:
"Semua yang berkondisi adalah dukkha, namun itu juga anitya" dengan kata lain, "kapan-kapan, berkondisi itu tidak ada dukkhanya".
Yang lebih heboh lagi: "fenomena adalah tanpa inti diri, namun hukum ini juga berubah" dengan kata lain, "kapan-kapan, fenomena ada yang ada inti diri". Mahir sekali.
;D


Quote
Jika Anda mengatakan nirvana adalah suatu batasan, maka itu adalah penjara. Perlu dibedakan antara penyebab para makhluk yang belum tercerahi terlahir kembali dan tubuh jelmaan yang memanifestasikan dirinya dalam berbagai perwujudan. Tentu saja di Mahayana diajarkan pratiyasamutpada. Tetapi ingat bahwa ini berlaku bila suatu makhluk masih memiliki avidya. Dalam kasus nirmanakaya penyebabnya beda. Avidya tidak lagi hadir di sini.

Bathin - Jasmani adalah akibat dari Avidya. Kok ada suatu "jasmani" yang bukan dari Avidya?


Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: bond on 17 April 2009, 09:11:46 AM
Hukum karma berhenti kalo sudah mencapai parinibbana.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 17 April 2009, 10:16:56 AM
Hukum karma berhenti kalo sudah mencapai parinibbana.

Bagi orang tersebut memang tidak berlaku lagi. Tetapi hukum karmanya tetap ada (tanam padi, tuai padi).
Yang masalah, dibalikin jadi pertanyaan "hukum karma sendiri, nitya atau anitya?"
Kalau dibilang "nitya", berarti "ADA yang kekal", dengan demikian, hal-hal kekekalan macam "tubuh Buddha" dst, juga valid. Kalau dibilang "anitya", berarti "suatu saat nanti, bunuh orang berbuah umur panjang".


Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 17 April 2009, 10:26:02 AM
Kalo 10 orang itu kecebur lumpur gara-gara 1 orang yang narik, maka kalau kemudian orang itu tinggalkan 10 lainnya, itu egois.
Kalo 1 orang itu naik dengan menginjak kepala 10 orang di lumpur (sehingga lebih susah naik), maka itu juga egois.


sudah dech, bilang saja dari awal, kalau kamu memang berusaha menyelamatkan diri sendiri dulu, ketimbang menyelamatkan orang lain.

haaa...

Coba jangan lari dari konteks.
Saya masuk penjara karena perbuatan kriminal yang saya lakukan.
10 orang lain masuk penjara karena perbuatan yang mereka lakukan.
Di penjara, saya berkelakuan baik sehingga mendapat pengurangan masa hukuman, sementara 10 orang lain malah bikin onar.
Ketika saya sudah habis masa hukumannya, saya keluar "sendirian".

Saya mau tanya jadinya saya egois atau tidak kalau menurut Mahayana? Atau saya mesti ikutan bikin onar supaya bebasnya bareng baru dibilang Mahayanis sejati?


Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hatRed on 17 April 2009, 10:26:44 AM
Kalau dibilang "anitya", berarti "suatu saat nanti, bunuh orang berbuah umur panjang".

ada benerna juga....... dulu manusia sedikit bisa umurnya panjang2......

sekarang manusia kebanyakan umurnya tambah pendek.......
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hatRed on 17 April 2009, 10:29:21 AM
Kalo 10 orang itu kecebur lumpur gara-gara 1 orang yang narik, maka kalau kemudian orang itu tinggalkan 10 lainnya, itu egois.
Kalo 1 orang itu naik dengan menginjak kepala 10 orang di lumpur (sehingga lebih susah naik), maka itu juga egois.


sudah dech, bilang saja dari awal, kalau kamu memang berusaha menyelamatkan diri sendiri dulu, ketimbang menyelamatkan orang lain.

haaa...

Coba jangan lari dari konteks.
Saya masuk penjara karena perbuatan kriminal yang saya lakukan.
10 orang lain masuk penjara karena perbuatan yang mereka lakukan.
Di penjara, saya berkelakuan baik sehingga mendapat pengurangan masa hukuman, sementara 10 orang lain malah bikin onar.
Ketika saya sudah habis masa hukumannya, saya keluar "sendirian".

Saya mau tanya jadinya saya egois atau tidak kalau menurut Mahayana? Atau saya mesti ikutan bikin onar supaya bebasnya bareng baru dibilang Mahayanis sejati?


mengenai masalah ini.........

pandangan egois itu adalah pandangan duniawi........

jadi sebenarnya orang yg keluar penjara itu egois menurut orang yg masih di dalam penjara tetapi bagi orang yg di luar penjara hal itu tidak dipermasalahkan......

sama saja menyebut

Arahat yg parinibanna itu egois menurut orang jelek yg suka jelek2in orang..... tetapi tidak dipermasalahkan bagi arahat lainnya......
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 17 April 2009, 10:37:33 AM
^
^
^
maksudnya apa nech, menurut orang jelek yang suka jelek2in orang????
wakakakaka......

cuma beda pandangan saja,
aliran T bisa melihat kesusahan,
sedangkan aliran M tidak bisa melihat kesusahan, makanya meninggalkan nibbana, untuk menolong makhluk hidup yang kesusahan... bukan berdiam di nibbana...

toh pada saat setelah mencapai nibbana, tidak tega melihat kesusahan
toh akhirnya keluar dari jalur, dan menapaki jalan mahayana...
toh akhirnya buntut2 nya masuk ke mahayana lg, am I right? hehehe,,,
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 17 April 2009, 10:39:03 AM
Kalo 10 orang itu kecebur lumpur gara-gara 1 orang yang narik, maka kalau kemudian orang itu tinggalkan 10 lainnya, itu egois.
Kalo 1 orang itu naik dengan menginjak kepala 10 orang di lumpur (sehingga lebih susah naik), maka itu juga egois.


sudah dech, bilang saja dari awal, kalau kamu memang berusaha menyelamatkan diri sendiri dulu, ketimbang menyelamatkan orang lain.

haaa...

Coba jangan lari dari konteks.
Saya masuk penjara karena perbuatan kriminal yang saya lakukan.
10 orang lain masuk penjara karena perbuatan yang mereka lakukan.
Di penjara, saya berkelakuan baik sehingga mendapat pengurangan masa hukuman, sementara 10 orang lain malah bikin onar.
Ketika saya sudah habis masa hukumannya, saya keluar "sendirian".

Saya mau tanya jadinya saya egois atau tidak kalau menurut Mahayana? Atau saya mesti ikutan bikin onar supaya bebasnya bareng baru dibilang Mahayanis sejati?


mengenai masalah ini.........

pandangan egois itu adalah pandangan duniawi........

jadi sebenarnya orang yg keluar penjara itu egois menurut orang yg masih di dalam penjara tetapi bagi orang yg di luar penjara hal itu tidak dipermasalahkan......

sama saja menyebut

Arahat yg parinibanna itu egois menurut orang jelek yg suka jelek2in orang..... tetapi tidak dipermasalahkan bagi arahat lainnya......

Ya, kalau ini, saya setuju.
Ada orang "menunda" sesuatu karena alasan tertentu. Ada orang lain "tidak menunda" karena juga punya alasan sendiri.
Jika ada saling-pengertian, maka tidak akan ada tuding-menuding orang lain egois.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hatRed on 17 April 2009, 10:41:31 AM
orang jelek yg suka ngejelek jelekin orang ya kita kita ini loh... :whistle:

yg masih dalam lautan asmara eh samsara.....
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Nevada on 17 April 2009, 10:42:08 AM
Kalo 10 orang itu kecebur lumpur gara-gara 1 orang yang narik, maka kalau kemudian orang itu tinggalkan 10 lainnya, itu egois.
Kalo 1 orang itu naik dengan menginjak kepala 10 orang di lumpur (sehingga lebih susah naik), maka itu juga egois.


sudah dech, bilang saja dari awal, kalau kamu memang berusaha menyelamatkan diri sendiri dulu, ketimbang menyelamatkan orang lain.

haaa...

Coba jangan lari dari konteks.
Saya masuk penjara karena perbuatan kriminal yang saya lakukan.
10 orang lain masuk penjara karena perbuatan yang mereka lakukan.
Di penjara, saya berkelakuan baik sehingga mendapat pengurangan masa hukuman, sementara 10 orang lain malah bikin onar.
Ketika saya sudah habis masa hukumannya, saya keluar "sendirian".

Saya mau tanya jadinya saya egois atau tidak kalau menurut Mahayana? Atau saya mesti ikutan bikin onar supaya bebasnya bareng baru dibilang Mahayanis sejati?


mengenai masalah ini.........

pandangan egois itu adalah pandangan duniawi........

jadi sebenarnya orang yg keluar penjara itu egois menurut orang yg masih di dalam penjara tetapi bagi orang yg di luar penjara hal itu tidak dipermasalahkan......

sama saja menyebut

Arahat yg parinibanna itu egois menurut orang jelek yg suka jelek2in orang..... tetapi tidak dipermasalahkan bagi arahat lainnya......

Sis hatRed...

Egois itu adalaf sifat mementingkan diri sendiri. Artinya bila seseorang mampu memberi / menolong orang lain, namun orang itu tidak melakukannya dan malah mendahulukan kepentingan dirinya.

Kasus keluar dari penjara di atas bukanlah tindakan egois. Karena untuk dapat keluar dari penjara, seseorang harus menghabiskan masa tahananya dan atau menerima amnesti (pengurangan hukuman). Ini semua dapat diterima seseorang melalui usahanya sendiri. Jadi tidak ada narapidana yang bisa membebaskan narapidana lain.

Btw...
Saya masih belum menagkap jelas. Memang kalau dalam konsep Mahayana, menolong makhluk lain itu dalam bentuk tindakan yang seperti apa ya?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hatRed on 17 April 2009, 10:45:23 AM
 [at] om Upasaka

=))  i jadi sis.. euy.......... jadi malu ah.... :-[

emang orangnya gak egois..... namun pandangan orang (jelek yg suka ngejelekin orang laen) kan bisa macem macem.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 17 April 2009, 10:49:54 AM
[at] bro upasaka

Kasus keluar dari penjara di atas bukanlah tindakan egois. Karena untuk dapat keluar dari penjara, seseorang harus menghabiskan masa tahananya dan atau menerima amnesti (pengurangan hukuman). Ini semua dapat diterima seseorang melalui usahanya sendiri. Jadi tidak ada narapidana yang bisa membebaskan narapidana lain.
<<kalau ini saya setuju....


Saya masih belum menagkap jelas. Memang kalau dalam konsep Mahayana, menolong makhluk lain itu dalam bentuk tindakan yang seperti apa ya?
<< liat contoh nya, boddhisattva ksitigarbha,
sampai masuk ke neraka,.....

kalau orang lain, mgkn beranggapan dia bodoh, tapi kalau saya beranggapan, cita2 sungguh mulia, sungguh sangat sangat jarang bisa ditemukan bodhisattva yg demikian hebatnya nazar nya

pdhal dia sudah keluar penjara loh, kenapa mo masuk penjara lg  ^-^

buka mata, buka telinga, ini nyata, cuma ada di mahayana loh




Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hendrako on 17 April 2009, 10:50:44 AM
Ke-anitya-an hukum karma sudah terkandung di dalam hukum itu sendiri:
Hukum karma sebagaimana hal lain di alam samsara adalah hal yang terkondisi, perpaduan, dan bersyarat.
Diperlukan sebab agar hukum berlaku.
Tanpa sebab, hukum karma tidak berlaku sekaligus hal ini juga merupakan hukum karma itu sendiri.
Inilah ke-anitya-an hukum karma, berkondisi.

Hal ini bagaikan orang yang membunuh dirinya.
Dan karena hal inilah maka pembebasan dimungkinkan.
Hal yang terlihat sederhana,
namun hanya dapat dilihat dan diajarkan oleh seorang Sammasambuddha.

Jadi apakah hukum karma anitya?
Jawabannya YA.
Namun bukan dalam artian permukaan, yaitu sebab akan tidak membawa akibat.
Namun dalam artian ke-tidak-ada-an sebab yang menyebabkan kelahiran kembali,
yang secara otomatis memotong proses hukum karma.
Sebelum parinibbana, seorang arahat hanya menerima akibat tanpa sebab yang baru.
Setelah Parinibbana, aliran segala potensi akibat lalu, secara otomatis terpotong oleh terpotongnya arus kelahiran.


Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hatRed on 17 April 2009, 10:57:52 AM
[at] bro upasaka

Kasus keluar dari penjara di atas bukanlah tindakan egois. Karena untuk dapat keluar dari penjara, seseorang harus menghabiskan masa tahananya dan atau menerima amnesti (pengurangan hukuman). Ini semua dapat diterima seseorang melalui usahanya sendiri. Jadi tidak ada narapidana yang bisa membebaskan narapidana lain.
<<kalau ini saya setuju....


Saya masih belum menagkap jelas. Memang kalau dalam konsep Mahayana, menolong makhluk lain itu dalam bentuk tindakan yang seperti apa ya?
<< liat contoh nya, boddhisattva ksitigarbha,
sampai masuk ke neraka,.....

kalau orang lain, mgkn beranggapan dia bodoh, tapi kalau saya beranggapan, cita2 sungguh mulia, sungguh sangat sangat jarang bisa ditemukan bodhisattva yg demikian hebatnya nazar nya

pdhal dia sudah keluar penjara loh, kenapa mo masuk penjara lg  ^-^

buka mata, buka telinga, ini nyata, cuma ada di mahayana loh






tuh kan betul........ pandangan orang jelek yg suka ngejelekin oran laen... emang beda beda dan macem macem........

ada yg bilang.. tuh arahat kurang kerjaan...... ada yg bilang bego......... ada yg bilang arahat itu penuh cinta kasih..... ada yg bilang mulia (hotel kaleee)

tapi bagi arahat seharusnya hal itu gak jadi masalah lageee.........

ibarat kateee........ tuh bodhisatva yg kek gitu kek para pandita atau guru ngaji yang ngajarin para napi di penjara......

bodhisatva blum arahat kan?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Nevada on 17 April 2009, 10:58:14 AM
Quote from: naviscope
Saya masih belum menagkap jelas. Memang kalau dalam konsep Mahayana, menolong makhluk lain itu dalam bentuk tindakan yang seperti apa ya?
<< liat contoh nya, boddhisattva ksitigarbha,
sampai masuk ke neraka,.....

kalau orang lain, mgkn beranggapan dia bodoh, tapi kalau saya beranggapan, cita2 sungguh mulia, sungguh sangat sangat jarang bisa ditemukan bodhisattva yg demikian hebatnya nazar nya

pdhal dia sudah keluar penjara loh, kenapa mo masuk penjara lg  

buka mata, buka telinga, ini nyata, cuma ada di mahayana loh

Saya tidak punya referensinya. Bisa Bro ceritakan sedikit mengenai kisahnya?
Agar saya tahu, dan teman-teman yang lain pun tahu...?
:)
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hendrako on 17 April 2009, 10:59:15 AM
[at] bro upasaka

Kasus keluar dari penjara di atas bukanlah tindakan egois. Karena untuk dapat keluar dari penjara, seseorang harus menghabiskan masa tahananya dan atau menerima amnesti (pengurangan hukuman). Ini semua dapat diterima seseorang melalui usahanya sendiri. Jadi tidak ada narapidana yang bisa membebaskan narapidana lain.
<<kalau ini saya setuju....


Saya masih belum menagkap jelas. Memang kalau dalam konsep Mahayana, menolong makhluk lain itu dalam bentuk tindakan yang seperti apa ya?
<< liat contoh nya, boddhisattva ksitigarbha,
sampai masuk ke neraka,.....

kalau orang lain, mgkn beranggapan dia bodoh, tapi kalau saya beranggapan, cita2 sungguh mulia, sungguh sangat sangat jarang bisa ditemukan bodhisattva yg demikian hebatnya nazar nya

pdhal dia sudah keluar penjara loh, kenapa mo masuk penjara lg  ^-^

buka mata, buka telinga, ini nyata, cuma ada di mahayana loh






Cita-cita utama seorang Bhodhisatva (dalam imajinasi saya) adalah pencapaian Sammasambuddha sehingga dapat mengajarkan pembebasan kepada mahluk-mahluk, inilah Maitri Karuna utama seorang Bodhisattva sekaligus Sammasambuddha.

Segala perbuatan cinta kasih di dalam perjalanan Boddhisattva tujuannya adalah hal diatas. Jadi perbuatan cinta kasih sang Bodhisattva adalah SARANA, bukan TUJUAN. Sama halnya dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan yang merupakan SARANA, bukan TUJUAN.
Salah pengertian SARANA sebagai TUJUAN, akan berakibat salah juga.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 17 April 2009, 11:04:05 AM
Ke-anitya-an hukum karma sudah terkandung di dalam hukum itu sendiri:
Hukum karma sebagaimana hal lain di alam samsara adalah hal yang terkondisi, perpaduan, dan bersyarat.
Diperlukan sebab agar hukum berlaku.
Tanpa sebab, hukum karma tidak berlaku sekaligus hal ini juga merupakan hukum karma itu sendiri.
Inilah ke-anitya-an hukum karma, berkondisi.

Hal ini bagaikan orang yang membunuh dirinya.
Dan karena hal inilah maka pembebasan dimungkinkan.
Hal yang terlihat sederhana,
namun hanya dapat dilihat dan diajarkan oleh seorang Sammasambuddha.

Jadi apakah hukum karma anitya?
Jawabannya YA.
Namun bukan dalam artian permukaan, yaitu sebab akan tidak membawa akibat.
Namun dalam artian ke-tidak-ada-an sebab yang menyebabkan kelahiran kembali,
yang secara otomatis memotong proses hukum karma.
Sebelum parinibbana, seorang arahat hanya menerima akibat tanpa sebab yang baru.
Setelah Parinibbana, aliran segala potensi akibat lalu, secara otomatis terpotong oleh terpotongnya arus kelahiran.

Ya, saya cocok dengan itu. Yang berubah bukan kaidahnya, tetapi keterkondisian yang menopangnya adalah berubah.
Gampangnya, api itu panas. Yang berubah adalah keberadaan api yang berkondisi itu, bukan sifat api berubah dari panas jadi dingin.
Kalau mau main kata2, lebih baik:
"Sabbe dhamma anicca", jadi kita semua ga usah belajar dhamma. Buat apa belajar, ntar juga ada "kurikulum baru".

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 17 April 2009, 11:07:58 AM
[at] bro upasaka

Kasus keluar dari penjara di atas bukanlah tindakan egois. Karena untuk dapat keluar dari penjara, seseorang harus menghabiskan masa tahananya dan atau menerima amnesti (pengurangan hukuman). Ini semua dapat diterima seseorang melalui usahanya sendiri. Jadi tidak ada narapidana yang bisa membebaskan narapidana lain.
<<kalau ini saya setuju....


Saya masih belum menagkap jelas. Memang kalau dalam konsep Mahayana, menolong makhluk lain itu dalam bentuk tindakan yang seperti apa ya?
<< liat contoh nya, boddhisattva ksitigarbha,
sampai masuk ke neraka,.....

kalau orang lain, mgkn beranggapan dia bodoh, tapi kalau saya beranggapan, cita2 sungguh mulia, sungguh sangat sangat jarang bisa ditemukan bodhisattva yg demikian hebatnya nazar nya

pdhal dia sudah keluar penjara loh, kenapa mo masuk penjara lg  ^-^

buka mata, buka telinga, ini nyata, cuma ada di mahayana loh






tuh kan betul........ pandangan orang jelek yg suka ngejelekin oran laen... emang beda beda dan macem macem........

ada yg bilang.. tuh arahat kurang kerjaan...... ada yg bilang bego......... ada yg bilang arahat itu penuh cinta kasih..... ada yg bilang mulia (hotel kaleee)

tapi bagi arahat seharusnya hal itu gak jadi masalah lageee.........

ibarat kateee........ tuh bodhisatva yg kek gitu kek para pandita atau guru ngaji yang ngajarin para napi di penjara......

bodhisatva blum arahat kan?

bodhisatva blum arahat kan? << tergantung level berapa tuh boddhisattva
bodhisatva level 8, klu tidak salah sudah setara dengan arahat
trus, klu level 9 - 10 sudah diatas arahat loh

ibarat kateee........ tuh bodhisatva yg kek gitu kek para pandita atau guru ngaji yang ngajarin para napi di penjara......
<< [at] bro upasaka, ini lah, wujud sumbangsih mahayana, untuk menolong makhluk lain
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: Nevada on 17 April 2009, 11:12:03 AM
Quote from: naviscope
ibarat kateee........ tuh bodhisatva yg kek gitu kek para pandita atau guru ngaji yang ngajarin para napi di penjara......
<< [at] bro upasaka, ini lah, wujud sumbangsih mahayana, untuk menolong makhluk lain

Jadi Boddhisattva Ksitigarbha masuk ke neraka untuk mengajarkan Dharma pada makhluk-makhluk di sana ya?
Beliau memasuki neraka dengan cara apa? Meninggal dan terlahir di alam neraka? Atau singgah sebentar di neraka?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: hatRed on 17 April 2009, 11:12:41 AM
 [at] navis

:o  bodhisatva ada tingkatannya ya.......

baru tau ???

kek dragonball aja... dah sampe saiya berapa tuh :P

Quote
[at] bro upasaka, ini lah, wujud sumbangsih mahayana, untuk menolong makhluk lain

tapi kok di kotak kotakan ya......... ::)
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 17 April 2009, 11:17:48 AM
Quote from: naviscope
ibarat kateee........ tuh bodhisatva yg kek gitu kek para pandita atau guru ngaji yang ngajarin para napi di penjara......
<< [at] bro upasaka, ini lah, wujud sumbangsih mahayana, untuk menolong makhluk lain

Jadi Boddhisattva Ksitigarbha masuk ke neraka untuk mengajarkan Dharma pada makhluk-makhluk di sana ya?
Beliau memasuki neraka dengan cara apa? Meninggal dan terlahir di alam neraka? Atau singgah sebentar di neraka?

berikut saya kasi video kstigarbha boddhisattva

http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,10177.new.html#new (http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,10177.new.html#new)

biar lebih gampang cerna-nya

semoga bermanfaat
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 17 April 2009, 12:00:52 PM
^
^
^
maksudnya apa nech, menurut orang jelek yang suka jelek2in orang????
wakakakaka......

cuma beda pandangan saja,
aliran T bisa melihat kesusahan,
sedangkan aliran M tidak bisa melihat kesusahan, makanya meninggalkan nibbana, untuk menolong makhluk hidup yang kesusahan... bukan berdiam di nibbana...

toh pada saat setelah mencapai nibbana, tidak tega melihat kesusahan
toh akhirnya keluar dari jalur, dan menapaki jalan mahayana...
toh akhirnya buntut2 nya masuk ke mahayana lg, am I right? hehehe,,,

Kalau masih berkutat dengan keinginan untuk menyelamatkan makhluk hidup (bahkan walaupun yang namanya keinginan luhur / chanda), maka tidak bisa merealisasikan nibbana... jadi bukan sudah "masuk"/"merealisasikan" nibbana lantas keluar lagi...
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 17 April 2009, 12:03:21 PM
[at] bro upasaka

Kasus keluar dari penjara di atas bukanlah tindakan egois. Karena untuk dapat keluar dari penjara, seseorang harus menghabiskan masa tahananya dan atau menerima amnesti (pengurangan hukuman). Ini semua dapat diterima seseorang melalui usahanya sendiri. Jadi tidak ada narapidana yang bisa membebaskan narapidana lain.
<<kalau ini saya setuju....


Saya masih belum menagkap jelas. Memang kalau dalam konsep Mahayana, menolong makhluk lain itu dalam bentuk tindakan yang seperti apa ya?
<< liat contoh nya, boddhisattva ksitigarbha,
sampai masuk ke neraka,.....

kalau orang lain, mgkn beranggapan dia bodoh, tapi kalau saya beranggapan, cita2 sungguh mulia, sungguh sangat sangat jarang bisa ditemukan bodhisattva yg demikian hebatnya nazar nya

pdhal dia sudah keluar penjara loh, kenapa mo masuk penjara lg  ^-^

buka mata, buka telinga, ini nyata, cuma ada di mahayana loh


darimana tahu bodhisatva kshitigarbha masuk neraka ? Setahu saya referensi bodhisatva kshitigarbha hanya tentang sumpah beliau TIDAK AKAN MEREALISASIKAN KE-BUDDHA-AN SEBELUM NERAKA KOSONG.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 17 April 2009, 01:25:10 PM
^
^
^
maksudnya apa nech, menurut orang jelek yang suka jelek2in orang????
wakakakaka......

cuma beda pandangan saja,
aliran T bisa melihat kesusahan,
sedangkan aliran M tidak bisa melihat kesusahan, makanya meninggalkan nibbana, untuk menolong makhluk hidup yang kesusahan... bukan berdiam di nibbana...

toh pada saat setelah mencapai nibbana, tidak tega melihat kesusahan
toh akhirnya keluar dari jalur, dan menapaki jalan mahayana...
toh akhirnya buntut2 nya masuk ke mahayana lg, am I right? hehehe,,,

Kalau masih berkutat dengan keinginan untuk menyelamatkan makhluk hidup (bahkan walaupun yang namanya keinginan luhur / chanda), maka tidak bisa merealisasikan nibbana... jadi bukan sudah "masuk"/"merealisasikan" nibbana lantas keluar lagi...

kalau begitu bro dilbert, arahat tidak punya kesempatan menjadi samma sambuddha lg donk???
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 17 April 2009, 01:52:15 PM
Quote from: naviscope
ibarat kateee........ tuh bodhisatva yg kek gitu kek para pandita atau guru ngaji yang ngajarin para napi di penjara......
<< [at] bro upasaka, ini lah, wujud sumbangsih mahayana, untuk menolong makhluk lain


Ga usah jauh2 ke neraka, bagaimana kalau para Bodhisatva mengajar dharma ke binatang dulu? Bisa atau tidak?
Atau lebih tidak jauh lagi, mengajar manusia yang sangat jahat, misalnya. Bisa atau tidak? Kok masih banyak orang jahat?

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: coedabgf on 17 April 2009, 01:52:58 PM
'Subhuti, janganlah mengatakan Tathagatha punya pikiran "Aku telah membabarkan Dharma." Janganlah berpikir begitu. Apa sebabnya?Jika seseorang mengatakan bahwa Tathagatha telah membabarkan Dharma dia menghina Hyang Buddha disebabkan oleh ketidakmampuannya untuk mengerti apa yang kukatakan.
Subhuti, di dalam Dharma yang dibabarkan sebenarnya tidak ada Dharma yang bisa dibabarkan, oleh sebab itu disebut Dharma yang dibabarkan.'

'Subhuti, jika seorang Bodhisattva masih mempunyai ciri keakuan, ciri manusia, ciri makhluk hidup dan ciri kehidupan, maka dia bukanlah seorang Bodhisattva.'

'Subhuti, keberadaan konsepsi keakuan dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan keberadaan konsepsi diri tetapi orang awam menganggapnya sebagai keberadaan konsepsi keakuan. Subhuti, orang awam dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan orang awam. Oleh sebab itu dinamakan orang awam.'



Mungkin perbandingan yang saya berikan kurang tepat karena dibatasi ruang dan waktu, tetapi untuk ilustrasi penggambaran perbedaan pencapaian kehidupan pengalaman pencerahan.
Perbedaannya seperti orang awam yang bercerita tentang bulan dengan seorang astronot yang sudah pergi ke bulan bercerita tentang bulan.
Orang biasa (awam) bercerita tentang bulan tetapi dia masih dan hanya tetap bertumpu pada (hanya terikat/melekat/tercekat pada) pengalamannya pada bumi, tetapi astronot tersebut sudah mengalami menjejakan kaki pada bulan (the truth/kenyataan/pengalaman, paradigma berbeda), dimana mungkin cerita awam dapat saja menggambarkan hal yang sama (mirip) seperti pengalaman nyata sang astronot.
Jadi dari cerita perbandingan diatas, siapakah yang sedang berspekulasi?
Siapakah dan apakah yang dimaksud (yang sedang) berspekulasi menurut guru Buddha dalam brahmajala?

Saat ada pertanyaan atau pernyataan tentang mati-hidup/lahir, penderitaan, alam-alam, dewa dsbnya (yang) duniawi atau penjelasan keBuddhaan, Nibanna,Tuhan, atta anatta, ada tiada, kosong sunya dsbnya, awam hanya membicara bersifat apakah.... dengan kebanggaannya masih bertumpu pada/masih ketercekatannya pada (sudut pandang pengalaman) keakuan dagingnya?
tetapi yang tercerahkan seperti seorang astronot dia tahu gambaran bumi tetapi saat dia cerita kenyataan gambaran bulan yang sebenarnya, ketika dia bercerita bulan dia sudah melewati batasan kungkungan bayang-bayang lingkup pengalaman/bukan dari/sudah terbebas dari cekatan paradigma bumi lagi, bukan (masih) bumi lagi.
Itulah sebabnya para suci yang sungguh (the real one) mengajarkan menanggalkan (tidak meributkan/memperkarakan/membesarkan/mempolemikan lagi benar atau salah) segala yang sifatnya duniawi tetapi memperkatakan DHAMMA (the absolute truth) dan (yang berhubungan dengan segala) pencapaiannya (the Absolut (truth)).


Semoga dapat membantu sedikit memberi gambaran pada pertanyaan dari dan diskusi-diskusi yang lain dalam mencari kebenaran DHAMMA dan menuju the Absolute.
good hope and love
sahabatmu

.................
but and i have a Savior


Ilustrasi sikap batin yang tercerahkan, tidak ada pertentangan tetapi (karena sudah) melihat secara menyeluruh gambaran kenyataan keberadaan kebenaran sejati.
Seperti astronot yang sudah pernah menjejakan kakinya di bulan. Saat dibumi ia dapat merealisasikan dalam pandangan kesadaran batin/pikirannya untuk melihat apakah ia melihat pandangan keadaan (di) bumi atau melihat pandangan keadaan (di) bulan. Tetapi klo orang umum (awam) yang blom pernah ke bulan, saat merealisasikan gambar bulan, tetap saja sebatas yang berasal dari pengalaman pandangan yang berasal dari bumi, bukan dari gambaran nyata sesungguhnya alias hanya (masih) ilusi, dan saat membicarakan bulan meskipun dengan mahir karena kaki belum pernah mencapai dan merealisasikan ke bulan, hanya masih bertumpu pada (pengetahuan) bumi, tetap saja itu yang disebut berspekulasi oleh guru Buddha.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 17 April 2009, 02:24:16 PM
Quote from: naviscope
ibarat kateee........ tuh bodhisatva yg kek gitu kek para pandita atau guru ngaji yang ngajarin para napi di penjara......
<< [at] bro upasaka, ini lah, wujud sumbangsih mahayana, untuk menolong makhluk lain


Ga usah jauh2 ke neraka, bagaimana kalau para Bodhisatva mengajar dharma ke binatang dulu? Bisa atau tidak?
Atau lebih tidak jauh lagi, mengajar manusia yang sangat jahat, misalnya. Bisa atau tidak? Kok masih banyak orang jahat?



Bisa juga lokh Bro, Buddha sendiri saja mengajarkan Dhamma Kepada semua mahluk termasuk binatang, para Bodhisatva mengajarkan Dhamma sesuai panutan Beliau mengajarkan kepada semua mahluk Lokh,

Siapa Tau Alam binatang itu dulunya orang orang yang tidak pernah mengenal Dharma, atau pernah melakukan kesalahan, Lagi pula Subtansi Bodhisatva mengajar dhama itu tidak mengenal siapa dia, bentuk dia, dimana dia. Intinya adalah Selalu siap sedia dimanapun, kapanpun, mengajar dhamma itu, mereka selalu siap.

Masalah Ksigarbha mengajar Dhamma agar satu, mengurangi semua mahluk yang pernah bersalah, melakukan kesalahan di neraka avici, agar bisa bertobat, mengikuti ajaran Sang Buddha.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 17 April 2009, 02:26:00 PM
^
^
^
maksudnya apa nech, menurut orang jelek yang suka jelek2in orang????
wakakakaka......

cuma beda pandangan saja,
aliran T bisa melihat kesusahan,
sedangkan aliran M tidak bisa melihat kesusahan, makanya meninggalkan nibbana, untuk menolong makhluk hidup yang kesusahan... bukan berdiam di nibbana...

toh pada saat setelah mencapai nibbana, tidak tega melihat kesusahan
toh akhirnya keluar dari jalur, dan menapaki jalan mahayana...
toh akhirnya buntut2 nya masuk ke mahayana lg, am I right? hehehe,,,

Kalau masih berkutat dengan keinginan untuk menyelamatkan makhluk hidup (bahkan walaupun yang namanya keinginan luhur / chanda), maka tidak bisa merealisasikan nibbana... jadi bukan sudah "masuk"/"merealisasikan" nibbana lantas keluar lagi...

kalau begitu bro dilbert, arahat tidak punya kesempatan menjadi samma sambuddha lg donk???

realisasi nibbana = arahat... baik savaka buddha, pacceka buddha maupun sammasambuddha disebut juga arahat... dalam hal ini mungkin bro. naviscope bertanya dari sisi seorang savaka buddha...

Apakah seseorang yang telah merealisasikan savaka buddha TIDAK PUNYA KESEMPATAN menjadi sammasambuddha ?  
Maka jawaban menurut ajaran Theravada, tidak bisa lagi, karena sama sama sudah menjadi BUDDHA hanya tingkatannya berbeda... dan seorang individu yang merealisasikan nibbana (arahat) itu maka inilah kelahirannya yang terakhir. Perbedaannya adalah savaka buddha adalah individu yang merealisasikan ke-BUDDHA-an dengan mengikuti ajaran seorang sammasambuddha, sedangkan sammasambuddha merealisasikan ke-BUDDHA-annya dengan usaha sendiri. Masalah mengajar/memberikan Dharma, baik savaka buddha maupun sammasambuddha tetap memberikan ajaran pembebasan kepada semua makhluk sepanjang nibbana dengan sisa (artinya masih hidup).

Tidak ada bedanya donk... para savaka buddha  juga tetap mengajar, demikian juga seorang sammasambuddha juga mengajar, bedanya hanya sammasambuddha menjadi pioner (yang pertama) merumuskan ajaran pembebasan (memiliki pengetahuan tentang JALAN) ketika dunia dalam periode kekosongan ajaran. Sedangkan seorang individu yang merealisasikan savaka buddha juga langsung timbul pengetahuan tentang JALAN.
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: K.K. on 17 April 2009, 02:28:15 PM
Quote from: naviscope
ibarat kateee........ tuh bodhisatva yg kek gitu kek para pandita atau guru ngaji yang ngajarin para napi di penjara......
<< [at] bro upasaka, ini lah, wujud sumbangsih mahayana, untuk menolong makhluk lain


Ga usah jauh2 ke neraka, bagaimana kalau para Bodhisatva mengajar dharma ke binatang dulu? Bisa atau tidak?
Atau lebih tidak jauh lagi, mengajar manusia yang sangat jahat, misalnya. Bisa atau tidak? Kok masih banyak orang jahat?



Bisa juga lokh Bro, Buddha sendiri saja mengajarkan Dhamma Kepada semua mahluk termasuk binatang, para Bodhisatva mengajarkan Dhamma sesuai panutan Beliau mengajarkan kepada semua mahluk Lokh,

Siapa Tau Alam binatang itu dulunya orang orang yang tidak pernah mengenal Dharma, atau pernah melakukan kesalahan, Lagi pula Subtansi Bodhisatva mengajar dhama itu tidak mengenal siapa dia, bentuk dia, dimana dia. Intinya adalah Selalu siap sedia dimanapun, kapanpun, mengajar dhamma itu, mereka selalu siap.

Masalah Ksigarbha mengajar Dhamma agar satu, mengurangi semua mahluk yang pernah bersalah, melakukan kesalahan di neraka avici, agar bisa bertobat, mengikuti ajaran Sang Buddha.

OK, kalau begitu berarti bisa.
Lalu kenapa masih banyak orang jahat di muka bumi? Ini karena para Bodhisatva kurang gigih, atau orang-orangnya kepala batu?
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 17 April 2009, 02:32:16 PM
Quote from: naviscope
ibarat kateee........ tuh bodhisatva yg kek gitu kek para pandita atau guru ngaji yang ngajarin para napi di penjara......
<< [at] bro upasaka, ini lah, wujud sumbangsih mahayana, untuk menolong makhluk lain


Ga usah jauh2 ke neraka, bagaimana kalau para Bodhisatva mengajar dharma ke binatang dulu? Bisa atau tidak?
Atau lebih tidak jauh lagi, mengajar manusia yang sangat jahat, misalnya. Bisa atau tidak? Kok masih banyak orang jahat?



Bisa juga lokh Bro, Buddha sendiri saja mengajarkan Dhamma Kepada semua mahluk termasuk binatang, para Bodhisatva mengajarkan Dhamma sesuai panutan Beliau mengajarkan kepada semua mahluk Lokh,

Siapa Tau Alam binatang itu dulunya orang orang yang tidak pernah mengenal Dharma, atau pernah melakukan kesalahan, Lagi pula Subtansi Bodhisatva mengajar dhama itu tidak mengenal siapa dia, bentuk dia, dimana dia. Intinya adalah Selalu siap sedia dimanapun, kapanpun, mengajar dhamma itu, mereka selalu siap.

Masalah Ksigarbha mengajar Dhamma agar satu, mengurangi semua mahluk yang pernah bersalah, melakukan kesalahan di neraka avici, agar bisa bertobat, mengikuti ajaran Sang Buddha.

OK, kalau begitu berarti bisa.
Lalu kenapa masih banyak orang jahat di muka bumi? Ini karena para Bodhisatva kurang gigih, atau orang-orangnya kepala batu?


Orangnya belum mencapai keBuddhaan, Buddha aja tidak pantang menyerah bro, kenapa mesti menyerah. Beliau aja masih mau menyadarkan devata dari Lobha, kenapa para Bodhisatava kagak mau mengikuti jejak beliau ?. Aneh kan
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: coedabgf on 17 April 2009, 02:33:38 PM
 [at] kainyn
tanya diri anda yang tahu kenapa.  :))
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 17 April 2009, 02:40:41 PM
[at] kainyn
tanya diri anda yang tahu kenapa.  :))

bro kainyn sudah tahu jawabannya... bahwa semua-nya tergantung kepada diri sendiri... jadikanlah diri sendiri sebagai pulau sendiri... buddha dan para suciwan hanya menunjukkan jalan, selanjutnya untuk menempuh JALAN PEMBEBASAN itu tergantung kepada diri sendiri...
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 17 April 2009, 02:41:37 PM
[at] kainyn
tanya diri anda yang tahu kenapa.  :))

mana mungkinlah diri sendiri diselamatkan tapi sudah diselamat orang lain tidak diselamatkan.
Bro Kaiyn juga kenal agama Buddha juda dari orang Yang mengajar agama Buddha juga kan. kalo ngak Mana mungkin bisa tahu agama Buddha. Kalo ngak ada yang kasih Tau. Emangnya Dhamma langsung muncul dari langit tokh :)

Duh semesti kita masih inget ada tuh cerita di jantaka dimana kisah Buddha sudah mencapai kesempurnaan, Seorang kakek membujuk beliau mau mengajarkan dhamma kepada semua mahluk supaya semua mahluk Bisa mencapai kesempurnaan Beliau. Dan Beliau Namakara kepada kakek tersebut. Dan Akhirnya Beliau memilih mau mengajarkan Dhamma kepada kita semua sampai sekarang. Itu dia konsep yang dijalani oleh mahayana. Ngak hanya harus menyelamatkan diri sendiri bro tapi juga mau bantu menyelamatkan yang lain, Kalo tidak Dhamma bisa musnah lebih awal dong ?. kalo Berpikiran Hanya sendiri saja  terselamatkan semua gimana Dhamma bisa Cepat berakhir sebelum Ramalan Buddha kita.

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: purnama on 17 April 2009, 02:43:47 PM
[at] kainyn
tanya diri anda yang tahu kenapa.  :))

bro kainyn sudah tahu jawabannya... bahwa semua-nya tergantung kepada diri sendiri... jadikanlah diri sendiri sebagai pulau sendiri... buddha dan para suciwan hanya menunjukkan jalan, selanjutnya untuk menempuh JALAN PEMBEBASAN itu tergantung kepada diri sendiri...

pembebasan sendiri juga butuh pembimbing kalo gitu ngak butuh Sangha dong. Buat apa Sangha di buat. Kalo gitu Anda ngapain belajar dari Buddha tapi anda sendiri bisa kok memiliki pencerahan.

Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: naviscope on 17 April 2009, 02:47:28 PM
^
^
^
betul, betul sekali
kalau tergantung diri sendiri
pembimbing tidak berguna lagi,
kan kita uda pinter dengan sendiri-nya

:P
Title: Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
Post by: dilbert on 17 April 2009, 03:05:44 PM
[at] kainyn
tanya diri anda yang tahu kenapa.  :))

bro kainyn sudah tahu jawabannya... bahwa semua-nya tergantung kepada diri sendiri... jadikanlah diri sendiri sebagai pulau sendiri... buddha dan para suciwan hanya menunjukkan jalan, selanjutnya untuk menempuh JALAN PEMBEBASAN itu tergantung kepada diri sendiri...

pembebasan sendiri juga butuh pembimbing kalo gitu ngak butuh Sangha dong. Buat apa Sangha di buat. Kalo gitu Anda ngapain belajar dari Buddh