Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: membunuh akhirya menjadi kebiasaan  (Read 37652 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline bluppy

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.163
  • Reputasi: 65
  • Gender: Female
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #180 on: 16 December 2012, 05:09:55 PM »
at bro nagasena,

tadi baru liat film Gandhi (1982)
ttg kisah hidup Mahatma Gandhi dalam nonviolence resistance to gain India independence
ini adalah pratik ahimsa dalam kehidupan nyata, bukan dalam teori

kalau bro nagasena punya kesabaran, curiosity untuk menonton film 3 jam ini , bisa ditonton di sini


saya akan sangat tertarik untuk berdiskusi dengan anda
ttg topik "membunuh karena terpaksa"
jika anda selesai menonton film ini

tapi seandainya anda tidak tertarik, tidak ingin, tidak sabar, tidak menonton film ini
yag sudah, ini hanya saran saja, pilihan di tangan masing2 orang

Offline NagaSena

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 134
  • Reputasi: -6
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #181 on: 17 December 2012, 10:31:26 AM »
ngomong2, saya sudah memperlihatkan bukti sutta yg menegaskan bahwa tidak ada kecuali dalam hal sila-1, sekarang setelah sekian lama anda masih juga belum menampilkan bukti anda bahwa Sang Buddha mengajarkan adanya kompromi dalam pelanggaran sila-1, yaitu, bahwa Sang Buddha menyetujui tindakan membunuh dengan alasan tertentu. silakan ...

Sy Tidak tahu anda baca koment2 sy dengan Teliti atau tidak :

Quote
Kita Sepakat Dalam pancasila Buddhist memang Disana Tidak ada Kata Kecuali Dan dalam Sila pertama bertekad Menghindari/meninggalkan melakukan tindakan pembunuhan. Kata "Kecuali" memang tidak ada (Tidak diTulis), Kemudian seseorang dengan pemahamannya sendiri berfikir bahwa dalam kondisi apapun tetap menghindari pembunuhan harus dilakukan. Menurut anda ini Tafsir pemahaman sendiri(Seseorang) atau bukan? (Diawal sy sudah bertanya Jika ada Sutta2nya Yg mendukung, meneguhKan atau Menguatkan bahwa hal itu Benar Maka Tunjukan atau Berikan REFERENSI sutta2nya atau seTidaknya Literature2 Buddha) JIKA memang tidak ada. Dibawah ini Komentar saya sebelumnya Kan :
JIKA TIDAK ADA, dengan Demikian hanya pandangan kita saja yg Berbeda tohh untuk Sila Pertama ini ...

Dikoment sebelum2nya juga sudah banyk sy tulis, Jika Tidak ada itu Berarti pandangan Kita saja yg Berbeda toh...,
Dan sebelumnya Juga sudah sy katakan ini pemahaman sy sendiri (iniada dikoment sy sebelumnya) , Sy tidak Tahu disutta itu ada atau tidak tertulis bahwa dalam kondisi/keadaan tertentu membunuh dibolehkan atau tidak (Beda antara BoLeh dan diBenarkan)

Dan dibawah ini sy Rasa lebih jelas lagi Koment sy :
Quote
Anda bisa mengatakan dengan ringan Bahwasannya Cukup JeLas disana. sekaliPun disana TIDAK pula ada Kata "Kecuali "(Lebih tepatNya Kondisi tertentu) Tetapi Mempunyai Pemahaman Lain, bahwa Suami-Istri yang SAH (Konsisi/keadaan sudah Menikah) tidak termasuk dalam Pelanggaran Sila Ke- 3. Sedang Pada Sila ke- 1, sama tidak diTulis Disana kata "kecuali" (Lebih tepatNya Kondisi tertentu) bahkan tidak secara Jelas diTulis Mahluk tersebut dalam keadaan sperti apa (bandingkan dgn keterangan untk Sila Ke- 3 yg diBold itu). TETAPI Ketika sesorang mempunyai pemahaman lain pada Sila Ke-1 ini, ketika Ingin mengetahui lebih Jauh lagi atau Menganalisa, dengan Ringan PULA anda mengatakan tidak membunuh Sebagai  (atau “YA”) Tidak Membunuh. Hmmm….  BegituKah maksud anda dalam memahami nya ??

Yang Satu Boleh memiliki pemahaman/penafsiran atau setidaknya ada analisa, Tetapi Yang Satu TIDAK BOLEH sama Sekali ada pemahaman atau ditafsirkan Lain…

Maksud sy apakah hanya karna disana tidak ada Kata2 Tertulis  "Kecuali"  terus Pemahaman atau penafsiran DiHaramkan/Tidak diBolehkan.

Jika keterangan yang diBold dibawah ini, Kita sepakat Sudah Cukup Jelas. Tidak akan ada Pemahaman, tafsir Yang Simpangsiur, menimbulkan perbedaan pemahaman atau Bercabang.

Quote
ia tidak melakukan hubungan seksual dengan perempuan-perempuan yang dilindungi oleh ibu, ayah, ibu dan ayah, saudara laki-laki, saudara perempuan, atau sanak saudara mereka, yang memiliki suami, yang dilindungi oleh hukum, atau dengan mereka yang mengenakan kalung bunga sebagai tanda pertunangan.  Itu adalah tiga jenis perilaku jasmani yang sesuai dengan Dhamma, perilaku yang baik

MAKA, Silahkan anda Post Sutta2 Lain Yang anda Ketahui untuk Sila Pertama. Yang Jelas terang benerang sperti Sutta diatas yg diBold itu Hingga tidak Terjadi Kesimpangsiuran dalam memahaminya setidaknya Ketemu kesepahaman. SeandaiNya Bila memang benar2 TIDAK ada, (atau mungkin belum menemukan)

BaikLah, Disana (Sutta) yang ada berikan secara Jelas dan gamblang tidak ada kata "Kecuali" Dan Tidak ada Juga Kondisi/keadaan tertentu yang dijabarkan atau diterangkan membunuh diBisa dilakukan atau Tidak. Disana hanya ada pesan bahwasannya Kita harus mencintai semua mahluk hanya itu saja... Tidak Ada keterangan Disana situasi dan kondisi sperti apa..


Dengan Demikian Status ini Masih Status Quo  ;D

Offline NagaSena

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 134
  • Reputasi: -6
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #182 on: 17 December 2012, 10:38:13 AM »
jadi intinya, kalau rumah sudah terlalu banyak nyamuk, maka dengan sangat terpaksa harus dibunuh, kalau tidak akan jatuh korban dari keluarga kita...
ok, ic...
thanks.. ;)
case closed....

[spoiler]
dah males ngetik panjang2...
udahan dulu yah...


Klo contoh nyamuk Malaria yg sudah sy contohKan pada si Mi4ka. Ya silahkan anda Pikir sendiri, apa yang anda Lakukan, mau berdiam diri atau melakukan sesuatu yang Tepat... Jadi beda antara MENCEGAH dengan Menanggulangi  ;D

Apa yang seseorang/Anda bisa lakukan ketika melihat hal seperti ini, Jika ada kemampuan atau kesempatan untuk menghentikannya, melukai atau bahkan sampai membunuh pelaku tersebut untuk menyelamatkan orang lain...  -? :-?
Betapa Sulitnya Terlahir menjadi manusia.. Jadi memang sangat berharga Nyawa manusia itu...

http://internasional.kompas.com/read/2012/12/15/11240464/Rentetan.Pembantaian.di.Sekolah.AS?utm_source=WP&utm_medium=Ktpidx&utm_campaign=#
« Last Edit: 17 December 2012, 11:00:20 AM by NagaSena »

Offline NagaSena

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 134
  • Reputasi: -6
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #183 on: 17 December 2012, 10:51:01 AM »
q

Offline NagaSena

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 134
  • Reputasi: -6
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #184 on: 17 December 2012, 11:05:04 AM »
at bro nagasena,

tadi baru liat film Gandhi (1982)
ttg kisah hidup Mahatma Gandhi dalam nonviolence resistance to gain India independence
ini adalah pratik ahimsa dalam kehidupan nyata, bukan dalam teori

kalau bro nagasena punya kesabaran, curiosity untuk menonton film 3 jam ini , bisa ditonton di sini


saya akan sangat tertarik untuk berdiskusi dengan anda
ttg topik "membunuh karena terpaksa"
jika anda selesai menonton film ini

tapi seandainya anda tidak tertarik, tidak ingin, tidak sabar, tidak menonton film ini
yag sudah, ini hanya saran saja, pilihan di tangan masing2 orang

Hmmm... itu film pernah diPutar di Metro Tv bbrp tahun Lalu, Seorang Mahatma Ghandi... si pencetus Faham Ahimsa...  :x
Seorang Hindu yang berkawan Baik dengan seorang Muslim Nehru...  :D :D

Apa yang mau anda Jelaskan tentang Film itu....


Offline NagaSena

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 134
  • Reputasi: -6
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #185 on: 17 December 2012, 11:09:11 AM »

memang sudah 'tidak ketolongan'  ^-^

Jika memang tidak ada kemampuan, tidak meolong juga Tidak apa...  :D  :-? :-?

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #186 on: 17 December 2012, 01:15:24 PM »

Klo contoh nyamuk Malaria yg sudah sy contohKan pada si Mi4ka. Ya silahkan anda Pikir sendiri, apa yang anda Lakukan, mau berdiam diri atau melakukan sesuatu yang Tepat... Jadi beda antara MENCEGAH dengan Menanggulangi  ;D

saya gak tahu dengan anda, tapi bagi saya contoh itu terlalu dipaksakan untuk membenarkan pembunuhan yang dilakukan...
saya dari kecil sampe sekarang, udah digigit ribuan nyamuk, ndak pernah kena malaria..
lagipula masih banyak altenatif lain untuk menghindari nyamuk...
atau memang mungkin sudah terlalu malas mengambil tindakan pencegahan, langsung tepok aja...

Quote
Apa yang seseorang/Anda bisa lakukan ketika melihat hal seperti ini, Jika ada kemampuan atau kesempatan untuk menghentikannya, melukai atau bahkan sampai membunuh pelaku tersebut untuk menyelamatkan orang lain...  -? :-?
Betapa Sulitnya Terlahir menjadi manusia.. Jadi memang sangat berharga Nyawa manusia itu...
lebih berbahaya lagi nyawa nyamuk yang sekali ditepok langsung ko'it
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline M14ka

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.821
  • Reputasi: 94
  • Gender: Female
  • Live your best life!! ^^
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #187 on: 17 December 2012, 01:49:42 PM »

BaikLah, Disana (Sutta) yang ada berikan secara Jelas dan gamblang tidak ada kata "Kecuali" Dan Tidak ada Juga Kondisi/keadaan tertentu yang dijabarkan atau diterangkan membunuh diBisa dilakukan atau Tidak. Disana hanya ada pesan bahwasannya Kita harus mencintai semua mahluk hanya itu saja... Tidak Ada keterangan Disana situasi dan kondisi sperti apa..


Dengan Demikian Status ini Masih Status Quo  ;D

Kalau mencintai semua makhluk kenapa kk seperti lebih mementingkan manusia n keluarga sendiri sehingga bole merugikan hewan bila terpaksa? Berarti ms ada ego kan kl ms membeda"kan. Ada ga di 8 jalan utama yang membenarkan perbuatan yang merugikan makhluk hidup kk?
« Last Edit: 17 December 2012, 01:56:25 PM by M14ka »

Offline NagaSena

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 134
  • Reputasi: -6
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #188 on: 17 December 2012, 03:01:35 PM »
saya gak tahu dengan anda, tapi bagi saya contoh itu terlalu dipaksakan untuk membenarkan pembunuhan yang dilakukan...
saya dari kecil sampe sekarang, udah digigit ribuan nyamuk, ndak pernah kena malaria..
lagipula masih banyak altenatif lain untuk menghindari nyamuk...
atau memang mungkin sudah terlalu malas mengambil tindakan pencegahan, langsung tepok aja...

silahkan anda Fahami kata dibawah ini :
Jadi beda antara MENCEGAH dengan Menanggulangi..
Siapa yang suruh Langsung Tepok.. Jadi silahkan anda Cari contoh yg sy Tulis. Apa perlu sy TARUH disini Biar JELAS... Silahkan anda cari2 lagi ya
nanti bisa jadi Ngawurr nihh....

Ingat, Boleh membunuh dan membenarkan diBunuh Beda Loh...

Quote
lebih berbahaya lagi nyawa nyamuk yang sekali ditepok langsung ko'it

Langsung Ko'it...!!!!?? Lebih sakit mana langsung mati ko'it atau Disiksa dulu baru Ko'it...  :D



Offline NagaSena

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 134
  • Reputasi: -6
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #189 on: 17 December 2012, 03:41:51 PM »
Kalau mencintai semua makhluk kenapa kk seperti lebih mementingkan manusia n keluarga sendiri sehingga bole merugikan hewan bila terpaksa?Berarti ms ada ego kan kl ms membeda"kan. Ada ga di 8 jalan utama yang membenarkan perbuatan yang merugikan makhluk hidup kk?

Kalimat sy dibawah ini jgn diPotong-potong Donx  ;D  ;D
Jadi silahkan anda fahami ini :
Quote
BaikLah, Disana (Sutta) yang anda berikan secara Jelas dan gamblang tidak ada kata "Kecuali" Dan Tidak ada Juga Kondisi/keadaan tertentu yang dijabarkan atau diterangkan membunuh diBisa dilakukan atau Tidak. Disana hanya ada pesan bahwasannya Kita harus mencintai semua mahluk hanya itu saja... Tidak Ada keterangan Disana situasi dan kondisi sperti apa..

Dengan Demikian Status ini Masih Status Quo  ;D

Sebelum Jawab kepertanyaan kamu, Silahkan kamu pikir pake otak kamu dan pertimbangkan dengan hati kamu. Lebih berharga mana manusia dengan Binatang?? Ya, itu terserah kamu jika menurut kamu lebih berharga binatang   :o :o

Jangan Lupakan juga yang ini..
Betapa Sulitnya Terlahir menjadi manusia.. Jadi memang sangat berharga Nyawa manusia itu...
Manusia bagaikan segenggam pasir ditangan tetapi mahluk2 lain bagaikan pasir diSungai gangga...  :)

Hmm.. Baru kali ini sy Melihat, Ternyata ada manusia yang lebih mementingkan Binatang dari pada Manusia.... ;D ;D

Jangan2 anda lupa kali contoh kasus yg sy berikan waktu2 sebelumnya, apa harus dipost Ulang...  ::) ::)
itu bukan berburuk sangka seperti contoh Anjing yg kamu bilang....   ;D

ini contoh Lain yg gak ada tanggapannya :  :-? :-?

Quote
Jadi tidak ada pertentangan dengan apa yang sy Katakan Sebisa Mungkin tidak membunuh. Mungkin seorang Petani sudah melakukan Berbagai cara untuk menjaga tanaman, ladangnya agar tidak dijangkit Hama, sekalipun ada hama dalam porsi yang wajar tidak diBunuh. Tapi ada dimana sudah tidak bisa dikendalikan lagi, membahayakan ya mau gak mau dibantaiLah hama2 tersebut enTah itu hama tikus, belalang, Ulat atau serangga lainnya...

Quote
http://internasional.kompas.com/read/2012/12/15/11240464/Rentetan.Pembantaian.di.Sekolah.AS?utm_source=WP&utm_medium=Ktpidx&utm_campaign=#

Toh Tidak ada Tanggapan, Banyak contoh2 lain yg Gak diJawab....  :-? :-?

Jadi ini Bukan Masalah Ego atau Merugikan, Lebih baik anda Belajar untuk lebih Bijaksana dalam menentukan Pilihan..
Sebuah aturan tidak Lazim disematkan dengan kata KECUALI, sebelumnya sudah sy Jelaskan. silahkan anda lihat koment2 sy sebelumnya disini..  ^-^ ^-^
Jika ada yg Kurang seFaham silahkan anda koment disana, agar tidak rancu...  :D


« Last Edit: 17 December 2012, 03:45:47 PM by NagaSena »

Offline M14ka

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.821
  • Reputasi: 94
  • Gender: Female
  • Live your best life!! ^^
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #190 on: 17 December 2012, 04:24:06 PM »
Kalimat sy dibawah ini jgn diPotong-potong Donx  ;D  ;D
Jadi silahkan anda fahami ini :
Sebelum Jawab kepertanyaan kamu, Silahkan kamu pikir pake otak kamu dan pertimbangkan dengan hati kamu. Lebih berharga mana manusia dengan Binatang?? Ya, itu terserah kamu jika menurut kamu lebih berharga binatang   :o :o

Jangan Lupakan juga yang ini..
Betapa Sulitnya Terlahir menjadi manusia.. Jadi memang sangat berharga Nyawa manusia itu...
Manusia bagaikan segenggam pasir ditangan tetapi mahluk2 lain bagaikan pasir diSungai gangga...  :)

Hmm.. Baru kali ini sy Melihat, Ternyata ada manusia yang lebih mementingkan Binatang dari pada Manusia.... ;D ;D

Jangan2 anda lupa kali contoh kasus yg sy berikan waktu2 sebelumnya, apa harus dipost Ulang...  ::) ::)
itu bukan berburuk sangka seperti contoh Anjing yg kamu bilang....   ;D

ini contoh Lain yg gak ada tanggapannya :  :-? :-?

Toh Tidak ada Tanggapan, Banyak contoh2 lain yg Gak diJawab....  :-? :-?

Jadi ini Bukan Masalah Ego atau Merugikan, Lebih baik anda Belajar untuk lebih Bijaksana dalam menentukan Pilihan..
Sebuah aturan tidak Lazim disematkan dengan kata KECUALI, sebelumnya sudah sy Jelaskan. silahkan anda lihat koment2 sy sebelumnya disini..  ^-^ ^-^
Jika ada yg Kurang seFaham silahkan anda koment disana, agar tidak rancu...  :D

Kk jangan suka membuat kesimpulan sendiri donk.... Bs tunjukkan dimana saya prnh blg lebih mementingkan binatang daripada manusia? Bukannya saya uda pernah blg sama penting ya? Kl ga salah ada cerita dulu satu kehidupan Sang Buddha juga pernah mengorbankan diri demi menyelamatkan rusa deh, CMIIW...


Quote
"Merupakan sebuah sebab pertumbuhan di dalam Dhamma dan Vinaya (Ajaran dan Aturan) para suciwan ketika, melihat sebuah pelanggaran sebagaimana mestinya, seseorang lalu memperbaiki sesuai Dhamma dan melatih pengendalian di kemudian hari."

        — DN 2

Offline Rico Tsiau

  • Kebetulan terjoin ke DC
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.976
  • Reputasi: 117
  • Gender: Male
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #191 on: 17 December 2012, 04:25:02 PM »
 [at]  NagaSena

manusia atau binatang lebih penting? bukan disini letak 'point' dari Sila 1
namun ketika anda membunuh dengan sengaja, tidak ada pengecualian. tetap dikatakan melanggar sila 1.

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.971
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #192 on: 17 December 2012, 05:10:46 PM »
[at]  NagaSena

manusia atau binatang lebih penting? bukan disini letak 'point' dari Sila 1
namun ketika anda membunuh dengan sengaja, tidak ada pengecualian. tetap dikatakan melanggar sila 1.


ini mah dari awal sudah dijelaskan sedemikian lengkap
tapi memang ........
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #193 on: 17 December 2012, 11:53:53 PM »
Sy Tidak tahu anda baca koment2 sy dengan Teliti atau tidak :

Anggaplah saya tidak teliti, mohon anda sudi mengulangi lagi bukti bahwa Sang Buddha memberikan pengecualian dalam hal membunuh.

Quote
Dikoment sebelum2nya juga sudah banyk sy tulis, Jika Tidak ada itu Berarti pandangan Kita saja yg Berbeda toh...,
Dan sebelumnya Juga sudah sy katakan ini pemahaman sy sendiri (iniada dikoment sy sebelumnya) , Sy tidak Tahu disutta itu ada atau tidak tertulis bahwa dalam kondisi/keadaan tertentu membunuh dibolehkan atau tidak (Beda antara BoLeh dan diBenarkan)

Dan dibawah ini sy Rasa lebih jelas lagi Koment sy :

saya sudah menunjukkan bukti sutta, tapi anda tetap pada pandangan bahwa sutta tidak menyebutkan tentang "ada atau tidak tertulis bahwa dalam kondisi/keadaan tertentu membunuh dibolehkan atau tidak (Beda antara BoLeh dan diBenarkan) ". terlepas dari pendapat anda, sebaiknya anda segera memberikan referensi sutta yg mendukung pendapat anda, karena saya lebih menyukai ajaran Sang Buddha daripada ajaran anda yg tidak sesuai dengan ajaran Buddha.


Quote
MAKA, Silahkan anda Post Sutta2 Lain Yang anda Ketahui untuk Sila Pertama. Yang Jelas terang benerang sperti Sutta diatas yg diBold itu Hingga tidak Terjadi Kesimpangsiuran dalam memahaminya setidaknya Ketemu kesepahaman. SeandaiNya Bila memang benar2 TIDAK ada, (atau mungkin belum menemukan)


saya bisa saja memposting banyak sutta yg mendukung argumen saya, tapi bahkan dua sutta yg saya tampilkan sebelumnya pun belum dapat anda bantah, jadi untuk apa saya memposting sutta2 lain lagi? sebaliknya sekarang adalah giliran anda utk menampilkan sutta yg membantah sutta yg saya tampilkan itu. silakan ...

Quote
BaikLah, Disana (Sutta) yang ada berikan secara Jelas dan gamblang tidak ada kata "Kecuali" Dan Tidak ada Juga Kondisi/keadaan tertentu yang dijabarkan atau diterangkan membunuh diBisa dilakukan atau Tidak. Disana hanya ada pesan bahwasannya Kita harus mencintai semua mahluk hanya itu saja... Tidak Ada keterangan Disana situasi dan kondisi sperti apa..


anda mulai berhalusinasi, jelas bahwa sutta itu ADA menjelaskan bahwa dalam praktik Buddhis maka membunuh harus dihindari, bukan soal BISA atau tidak, sesuatu yg bisa dilakukan bukan berarti boleh dilakukan.

anda hanya memaksakan kebrutalan anda dengan dalih bahwa karena tidak dijelaskan tentang situasi dan kondisi apa pembunuhan itu tidak dilakukan, maka artinya pembunuhan boleh dilakukan dalam situasi dan kondisi tertentu. entah bagaimana cara menarik kesimpulan ini.

Quote

Dengan Demikian Status ini Masih Status Quo  ;D


mungkin hanya anda yg menganggap demikian, jika anda jeli mencermati posisi para peserta diskusi dalam thread ini.

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #194 on: 18 December 2012, 06:53:07 AM »
terlalu lama, langsung klik aja deh. ^:)^
"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."