Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: membunuh akhirya menjadi kebiasaan  (Read 37581 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Rico Tsiau

  • Kebetulan terjoin ke DC
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.976
  • Reputasi: 117
  • Gender: Male
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #210 on: 18 December 2012, 04:58:05 PM »
thread dengan diskusi yang melelahkan..  :(

saya sudah sering jumpa netter yang 'au ban' tapi masih gampang dan bisa untuk dihadapin, tapi yang ini super spesial..

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.963
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #211 on: 19 December 2012, 05:49:57 AM »
thread dengan diskusi yang melelahkan..  :(

saya sudah sering jumpa netter yang 'au ban' tapi masih gampang dan bisa untuk dihadapin, tapi yang ini super spesial..

bold : memang demikianlah persepsi saya
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline Kelana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.226
  • Reputasi: 142
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #212 on: 19 December 2012, 12:34:06 PM »
Sepengetahuan saya, dalam Buddhisme, membunuh adalah membunuh apapun pikiran awal yang mendasari pikiran membunuh tersebut.

Ketika kita mengamati pikiran kita, kita dapat mengetahui bahwa pikiran kita selalu berbeda-beda dan berpindah-pindah seperti kera (Assutavā Sutta, Samyutta Nikaya 12.61). Pikiran yang satu diikuti dengan pikiran yang lain. Begitu juga sifat yang menyertainya, baik atau buruk. Pikiran baik diikuti dengan pikiran buruk atau sebaliknya pikiran buruk diikuti dengan pikiran baik. Namun keduanya tidak bisa muncul secara bersamaan. Ini sudah sifat alami pikiran. Karena kadang kala gerak dan jarak kemunculan antara satu pikiran dengan pikiran lain begitu sangat cepat, maka banyak orang berpendapat  bahwa mereka muncul bersamaan.

Karena sifat pikiran yang demikian (terpisah-pisah kemunculannya), maka baik buruknya sifat dan hasil dari perbuatan pikiran tersebut juga terpisah. Oleh karena itu pikiran membunuh adalah pikiran membunuh, pikiran buruk yang bersekutu dengan LDM untuk meniadakan kehidupan makhluk lain. Ia tidak muncul bersamaan dengan Metta. Inilah mengapa membunuh adalah membunuh ketika memenuhi 5 syarat (dalam hal ini poin 3) (Reply #16 ), tidak peduli seberapa kuat intensitas pikiran membunuhnya, tidak peduli bagaimana cara melakukannya. Membunuh adalah perbuatan buruk (karma buruk).

Ada 4 dorongan perbuatan jahat/buruk:
Perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan atas dorongan rasa senang sepihak (chanda gati),
perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan atas dorongan ketidaksukaan yang sangat/kebencian (dosa gati),
perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan atas dorongan ketidaktahuan (moha gati), dan
perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan atas dorongan rasa takut (bhaya gati).
(Sigalovada Sutta, Digha Nikaya 31)

Dengan demikian, kita bisa berpikir ulang, benarkah kita sebagai umat awam membunuh karena cinta kasih atau jutru adalah manifestasi dari dorongan rasa takut (bhaya gati) dan benci (dosa gati) yang mengancam orang yang kita cintai? Kita takut mereka sakit, takut kehilangan mereka. Kita tidak suka (benci) mereka sakit, kita benci kehilangan mereka, kita benci menjadi hidup sendiri, dan kita benci tidak ada generasi penerus kita.

Sikap “Robin Hood” (melegalkan kejahatan dengan alasan kebaikan) adalah usaha untuk menghindar dari bertanggung jawab atas suatu perbuatan buruk. Ini bukan sikap yang baik dan tidak mengubah apapun hasilnya. Hal yang terbaik setelah atau ketika akan atau ketika sedang melakukan perbuatan buruk (terlepas berapa banyak dan sering) adalah mempersiapkan diri menerima dengan bijaksana akibat dari perbuatan-perbuatan buruk tersebut.


Demikian.
« Last Edit: 19 December 2012, 12:44:57 PM by Kelana »
GKBU
 
_/\_ suvatthi hotu


- finire -

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #213 on: 19 December 2012, 01:07:30 PM »
jadi karena "di sana Tidak ada kata pengkecualian dan Tidak ada Pula diterangkan dalam kondisi yg bagaimna mahluk2 itu." maka kesimpulannya adalah "ada pengecualian"? mantap ...
super licin... :P
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.963
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #214 on: 19 December 2012, 02:13:25 PM »
super licin... :P

bukan licin tapi memang kurang ....
hanya bisa omdo sesuai seleranya.
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline NagaSena

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 134
  • Reputasi: -6
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #215 on: 19 December 2012, 02:39:53 PM »
Saya kan pakai tanda tanya, sedangkan kk langsung pake kata "ternyata"

Ya, wajar karna dari awal koment anda tidak menjawab dengan pasti apa pertanyaan sy. Lihat diawal-awal kita koment di Thread ini.
kdng anda tidak menjawab tapi buat pernyataan lain...  :D
Salah satunya ini,
Quote
Sebelum Jawab kepertanyaan kamu, Silahkan kamu pikir pake otak kamu dan pertimbangkan dengan hati kamu. Lebih berharga mana manusia dengan Binatang?? Ya, itu terserah kamu jika menurut kamu lebih berharga binatang

Quote
Meskipun binatang tuh anjing yang menyelamatkan nyawa manusia dibandingkan dgn manusia yang slalu berbuat jahat?

Sy tidak sedang menanggapi contoh Anjing yg menolong Bayi terus anjing itu dibunuh oleh majikannya.. sy tidak mengomentari itu, karna sebelumnya sy sudah jawab bahwa itu Prasangka si Majikan yg tidak tahu menahu kejadiannya.. Jadi jgn dicampur-campur. seolah-olah ingin membenarkan pendapat kamu Padahal Kondisinya Berbeda.

Harap diIngat, manusia berbeda dengan binatang, Tapi jelas ada sifat, kelakuan manusia lebih rendah dari Binatang...
sy harap anda bisa mengerti maksud kata2 sy diatas (klo tidak ngerti nanti sy jelaskan, klo perlu buat Thread baru saja. biar tdk campur aduk. OK)

Quote
Kondisi terpaksa yang spt apa secara umum yang dibenarkan? Kl mencuri krn terpaksa krn kelaparan tu dibenarkan juga ga?

Sebetulnya sy sudah ingatKan diawal kita Koment tentang sila2 itu, Bahwa Manusia ini BUKAN ROBOT yg dimasukan instrument ya begitu2 saja tidak bisa berfikir, bernalar dll, Semua Sila2 itu ada penjelasannya, penjabarannya. intinya JANGAN DISAMA RATAKAN.
Masalah Kata "Terpaksa" dari awal sy TIDAK menggunakan kata Terpaksa. Sepertinya netter disini selalu menggunakan kata "Terpaksa". Jelas ini Konotasinya sangat Buruk, Jahat. Sy IngatKan sekali lagi YA, ada kondisi dimna tidak bisa menghindar dari membunuh...

Masalah diBenarKan, Tunggu. Sebelumnya sudah sy ada tulisa koment waktu sama Mr. Indra bahwa "Boleh" dan "diBenarkan" itu Berbeda maksudnya

Quote
Saya juga uda lupa, tapi kalau menurut kk hewan lebih ga penting dari manusia hrsnya kk ga percaya donk cerita di atas?

Jgn dicampur aduk donx sama kisah yg kamu tulis itu, Liat donx koment sy itu, hati2 nanti disangka "Dongeng" itu kisah yg kamu tulis... Sy belum bisa memutuskan percaya atau tidak karna sy tidak tahu sumbernya dari Sutta apa itu diambil. apakah Dari Sutta yg pertama muncul atau yg muncul belakangan
Lagi2, org yg memang Tahu menahu inilah yg mempunyai tanggung jawab untuk dipercaya atau tidak Cerita2 tersebut

Quote
Apa umat awam n pertapa beda ya karmanya?

Klo urusan Karma ya semuanya samaLah, Klo anda perhatikan dari awal koment2 sy pastLah anda melihat koment sy yg sperti ini. BISAkah kita membedakan sabda2 Buddha ketika berbicara pada Seorang DEWA, seorang Bhikku/sekelompok Bhikku dan kepada para ummat awam.. (Disini sy mengunakan kata Pertapa karna sy tidak tahu waktu itu Beliau sudah menjadi Buddha atau Belum)
dalam agama Buddha hanya ada 2 golongan yaitu Ummat awan dan Ummat Bhikku kedua-duannya mempunyai peranannya masing2. Untuk masalah lebih lanjut lagi bisa Kita diskusikan dilain Hal.. Tidak usah melebar kmna-mna dulu. Mari kita temukan titik Kesepahaman dalam hal ini dulu. OK  :D

Quote
apakah kutipan di bawah smuanya ada syarat n ketentuan berlaku ya?

Kebijaksanaan dimurnikan oleh moralitas dan moralitas dimurnikan oleh kebijaksanaan. Dimana ada yang satu, disana ada yang satunya lagi. Orang yang bermoral memiliki kebijaksanaan dan orang yang bijak memiliki moralitas. Kombinasi dari kedua ini merupakan hal tertinggi di dunia. D.I,84

Ketika engkau berbicara dengan orang lain, engkau mungkin berbicara pada waktu yang tepat atau tidak, berdasarkan fakta atau tidak, secara halus atau kasar, secara langsung atau tidak, dengan pikiran yang dipenuhi kebencian atau cinta kasih. Engkau harus melatih dirimu seperti ini. "Pikiran kita tidak boleh terkotori, kita juga tidak boleh berbicara kasar tetapi dengan kebaikan dan welas asih kita akan hidup dengan pikiran yang terbebas dari kebencian dan dipenuhi cinta kasih. Kita akan hidup meliputi satu orang dengan cinta kasih, dan kemudian meliputi seluruh dunia dengan cinta kasih yang meluas, menyebar dan tak terbatas dan sama sekali tanpa kebencian ataupun permusuhan." Dengan cara inilah engkau harus melatih dirimu sendiri. M.I,126

Ada tiga hal yang dengannya orang bijaksana bisa dikenali. Apakah yang tiga itu? Ia melihat kesalahannya sebagaimana adanya, ketika melihatnya ia berusaha memperbaikinya, etika orang lain mengakui kesalahan mereka ia memaafkannya. A.I,103

Bahkan jika seorang penjahat rendah memotong anggota tubuh satu per satu dengan gergaji balik, jika kalian memenuhi pikiranmu dengan kebencian, kalian tidak akan mempraktikkan ajaran-Ku. M.I,126

Bagaikan seorang ibu yang melindungi anak tunggalnya dengan nyawanya sendiri, demikian juga, seseorang harus mengembangkan cinta kasih tanpa batas pada semua makhluk di dunia. Sn.150

Jika orang lain melukai, memukul, melempar batu atau menyerang kalian dengan tongkat atau pedang, kalian harus menyingkirkan semua nafsu dan kehendak duniawi dan berpikir. "Pikiranku tidak akan goyah. Aku tidak boleh berkata kasar. Aku tidak akan merasakan kebencian tetapi mempertahankan kebaikan dan welas asih kepada semua makhluk." Seperti inilah kalian harus berpikir. M.I,126

Ada 4 jenis orang yang terdapat dalam dunia ini. Apakah yang empat itu? mereka yang tidak memperhatikan kebahagiaan diri sendiri dan orang lain, mereka memperhatikan kebahagiaan orang lain tetapi tidak pada diri sendiri, mereka yang memperhatikan kebahagiaan diri sendiri tanpa memperhatikan kebahagiaan orang lain dan mereka yang memperhatikan kebahagiaan diri sendiri dan orang lain... Dari keempat jenis orang ini, mereka yang memperhatikan kebahagiaan mereka sendiri dan orang lain merupakan terutama, tertinggi, terkemuka, dan terbaik. A.II,94

Taklukkan kebencian dengan cinta kasih, kejahatan dengan kebaikan, kekejaman dengan kemurahan hati dan kebohongan dengan kebenaran. Dp.223

Semua orang gentar akan hukuman, semua orang menginginkan kehidupan. Oleh karena itu, tempatkan dirimu di posisi orang lain dan tidak membunuh ataupun membenarkan pembunuhan. Dp. 130

Mereka yang terus berpikir, "Ia melukaiku!" "Ia memukulku!" "Ia menindasku!" "Ia merampasku!" tidak akan menghentikan kebenciannya. Tetapi mereka yang melepaskan pikiran seperti itu akan menghentikan kebenciannya. Di dunia ini kebencian tidak akan dihentikan oleh kebencian. Cinta kasih yang menghentikan kebencian, inilah kebenaran abadi. Dp.3-5


Thanks sudah diPost,  ;) ;)

Ternyata anda cukup pintar juga.  Dari apa yg sy  TanyaKan  ;D Tunjukan diSutta - Sutta lain yang menjabarkan, meneguhkan, menguatkan isi Sila perTama sebagai pendukung... walaupun Disana masih ada ada kondisi yang tetap harus Ummat Pilih... Kebijaksanaan atau Moralitas dan masih relevantKah ajaran ini diTerapKan....

Sy harap anda menjawab dahulu koment sy yg diBawah ini sebelum lebih jauh lagi sy berKomentar tentang Sutta yg anda Post itu
Ok, Boleh sy Tahu Sutta yg anda Post itu Ketika Guru Buddha Berbicara pada siapa, seorangDewa, seorang/sekelompk Bhikku,  kepada Ummat awam atau pada saat kedua-duanya hadir?
Dan sy Harap anda Mengerti Dari Kata yg Sy Bold itu... coba anda renungi

Semoga apa yg kamu post bukan sebuah Dongeng dagelan org2 jaman dahulu atau seorang pengagung Guru Buddha yg Berlebihan…  :) :)



Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #216 on: 19 December 2012, 02:46:51 PM »

Sy IngatKan sekali lagi YA, ada kondisi dimna tidak bisa menghindar dari membunuh...



Tolong diberikan contoh kondisi di mana membunuh tidak bisa dihindarkan.

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #217 on: 19 December 2012, 02:49:26 PM »
Tolong diberikan contoh kondisi di mana membunuh tidak bisa dihindarkan.
contohnya kalau nyamuk di sekitaran rumah udah terlalu banyak... :whistle:

[spoiler=request]
gedein lagi dunk jadi 36... =))
« Last Edit: 19 December 2012, 03:11:37 PM by will_i_am »
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #218 on: 19 December 2012, 03:04:24 PM »
contohnya kalau nyamuk di sekitaran rumah udah terlalu banyak...

[spoiler=request]
gedein lagi dunk jadi 36... =))


contoh ini tidak tepat, karena kondisi itu masih bisa dihindari, misalnya dengan langkah2 yg sering dibahas, misalnya, AC yg dingin, kipas angin, dll

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #219 on: 19 December 2012, 03:08:15 PM »
contoh ini tidak tepat, karena kondisi itu masih bisa dihindari, misalnya dengan langkah2 yg sering dibahas, misalnya, AC yg dingin, kipas angin, dll
kata2 itu bukan dari aye loh... :whistle:
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #220 on: 19 December 2012, 03:11:19 PM »
kata2 itu bukan dari aye loh... :whistle:

kata2 yg tidak tepat tetap tidak tepat terlepas dari siapa kata2 itu berasal ... emangnya kalo dari situ apa itu jadi benar?

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.963
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #221 on: 19 December 2012, 03:36:17 PM »

Semoga apa yg kamu post bukan sebuah Dongeng dagelan org2 jaman dahulu atau seorang pengagung Guru Buddha yg Berlebihan…  :) :)


semoga ini juga dagelan anda utk meragukan 'dongengan' orang2 dahulu :))

kasian memang karena marga au, sehingga meragukan apapun yang sudah tercantum dalam sutta
« Last Edit: 19 December 2012, 03:39:25 PM by adi lim »
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline NagaSena

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 134
  • Reputasi: -6
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #222 on: 19 December 2012, 04:02:57 PM »
Anggaplah saya tidak teliti, mohon anda sudi mengulangi lagi bukti bahwa Sang Buddha memberikan pengecualian dalam hal membunuh.

Tenang Sy Sabar kok memberitahu anda walau harus berkali-kali.... (Apa belaga ngak Tahu kali, Sorry nie....  ;D )

Sudah BeKali-kali sy Mengatakan Bahwa itu Hanya pandangan sy Terhadap sila pertama dalam hal Membunuh. Jadi sy harap anda tidak sedang Minum Anggur yg memabukan.  Begitu banyak koment yg sy Tulis bahwa itu hanya pandangan sy dan sy minta pentunjuk disini yg meneguhkan , menguatkan isi dari sila pertama.
Sekali lagi sy harap anda dalam keadaan sadar. Sy tidak menggunakan kata Pengecualian, Diawal sy mengunakan kata itu agar memudahkan saja, tapi akhirnya tidak menemukan titik temu yg diMengerti. tidak LAZIM kata kecuali diSematkan dalam sebuah aturan...
Dan sy katakan sekali lagi jika ada yg Kurang seFaham silahkan anda Koment disana.... disana ada jelas dan detail Untuk Masalah ini....
Kalau anda memang benar2 Sedang Sakau Dengan Senag Hati sy akan Post Ulang disini... ;D ;D

Quote
saya sudah menunjukkan bukti sutta, tapi anda tetap pada pandangan bahwa sutta tidak menyebutkan tentang "ada atau tidak tertulis bahwa dalam kondisi/keadaan tertentu membunuh dibolehkan atau tidak (Beda antara BoLeh dan diBenarkan) ". terlepas dari pendapat anda, sebaiknya anda segera memberikan referensi sutta yg mendukung pendapat anda, karena saya lebih menyukai ajaran Sang Buddha daripada ajaran anda yg tidak sesuai dengan ajaran Buddha.
Ya Menunjukan Bukti yg tidak sesuai dgn pertanyaan sy....   :))
Silahkan anda baca koment sy yg pertama diatas...  :-? :-?

Quote
saya bisa saja memposting banyak sutta yg mendukung argumen saya, tapi bahkan dua sutta yg saya tampilkan sebelumnya pun belum dapat anda bantah, jadi untuk apa saya memposting sutta2 lain lagi? sebaliknya sekarang adalah giliran anda utk menampilkan sutta yg membantah sutta yg saya tampilkan itu. silakan ...

Silahkan ada Baca dengan teliti Kedua Sutta yang anda post sebelumnya, memang tidak ada kok disana kondisi apapun tohh.... BukanKah itu sudah sy BANTAH.. Anda masih dalam Keadaan SADARKan... Sutta itu hanya anjuran bagi ummat saja tidak ada yg Lain disana... Bahkan sebelumnya sudah sy beri contoh Pula...  ??? ???
Sy masih Berharap anda bisa menunjukan Sutta2 Tersebut, Jika belum diTemukan silahkan anda cari dahulu JIKA perlu tanyakan saja pada seorang Bhikku

Quote
anda mulai berhalusinasi, jelas bahwa sutta itu ADA menjelaskan bahwa dalam praktik Buddhis maka membunuh harus dihindari, bukan soal BISA atau tidak, sesuatu yg bisa dilakukan bukan berarti boleh dilakukan.

Memang diAwal sudah sy Tulis kok Setiap ummat Buddhist memang harus menghindari sebisa mungkin malah... Tapi ada keadaan seseorang tidak dapat menghindar dari membunuh (Silahkan anda jawab contoh2 yg sudah banyak sy tulis sebelumnya)

Quote
anda hanya memaksakan kebrutalan anda dengan dalih bahwa karena tidak dijelaskan tentang situasi dan kondisi apa pembunuhan itu tidak dilakukan, maka artinya pembunuhan boleh dilakukan dalam situasi dan kondisi tertentu. entah bagaimana cara menarik kesimpulan ini.

Dan anda sangat BRUTAL dengan menganggap Tidak membunuh YA tidak membunuh... (ini Baru sila Pertama, belum sampai ke- 4 Sila yg Lain, padahal sebelumnya sudah sy sedikit singgung hal ini, Tapi OK lah kita teruskan yg Sila ke- 1 ini dulu  :D :D )
disamping itu, diawal ada yg sudah sy Singgung Bahwa manusia Bukan ROBOT yg hanya bisa dimasukan instrument2 baru bisa Bertindak dan hanya itu2 saja tidak bisa yg lain tidak bisa berfikir dan bernalar....  :))

Tidak lama Lagi kita disini akan menyimpulkan hasil dari diskusi disini karna ada satu Netter yg cukup medekati akhir dari diskusi ini Si Mi4ka. Dia sudah MemPost sebuah Sutta yg Menunjukan sebuah Sikap Kebijaksanaan dan Moralitas....
Sy rasa anda lebih berkompeten tentang Sutta yg diPost itu, sebuah Dongeng atau memang Kisah nyata....  ;D ;D
Kecuali anda dalam keragu-raguan....  karna anda pernah mengatakan percaya terhadap sutta2 yg ada hanya 20%, 75%, 50% :-? :-?

Quote
mungkin hanya anda yg menganggap demikian, jika anda jeli mencermati posisi para peserta diskusi dalam thread ini.

Ohh sy Sudah Jeli mencermati diskusi disni dan memang belum ada sutta2 yg tepat dengan secara Gamblang seperti Sutta yg anda Post yang merujuk pada SILA ke- 3 tidak Perlu Panjang lebar semua sudah Tahu tohh... (Kecuali seorang Bhikku kan...  ;D ;D )
Dan anda hanya menjawab dengan ringan... "oh, itu sudah Cukup JELAS" woowww Keren...   8) 8)
« Last Edit: 19 December 2012, 04:11:54 PM by NagaSena »

Offline NagaSena

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 134
  • Reputasi: -6
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #223 on: 19 December 2012, 04:06:04 PM »
semoga ini juga dagelan anda utk meragukan 'dongengan' orang2 dahulu :))

kasian memang karena marga au, sehingga meragukan apapun yang sudah tercantum dalam sutta

Bukan sy yg menentukan hal ini dongeng atau Bukan, ada yg lebih berkompeten Mr. Indra... atau mungkin anda lebih tahu tentang hal itu...
silahkan anda berkomentar... anda pernah bilang, jangan hanya OMDO kan...  :) :)
sangat bagus sekali jika kamu bisa mengetahui sebuah sutta itu dongeng atau Bukan...  ^-^ ^-^
« Last Edit: 19 December 2012, 04:11:29 PM by NagaSena »

Offline NagaSena

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 134
  • Reputasi: -6
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #224 on: 19 December 2012, 04:11:02 PM »
kata2 yg tidak tepat tetap tidak tepat terlepas dari siapa kata2 itu berasal ... emangnya kalo dari situ apa itu jadi benar?

Sebaiknya anda Baca Thread ini Mulai dari awal, OK
dan klo ada yg tidak setuju anda jawab disana, nanti sy balas koment anda.
Dan Ingat anda harus Baca BerUrut, karna setiap koment yg saja Buat. Bisa jadi untuk membalas sebelumnya atau Komentar tmn2 lain disini yg lain...