Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: membunuh akhirya menjadi kebiasaan  (Read 37580 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline M14ka

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.821
  • Reputasi: 94
  • Gender: Female
  • Live your best life!! ^^
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #225 on: 19 December 2012, 04:22:27 PM »
Ya, wajar karna dari awal koment anda tidak menjawab dengan pasti apa pertanyaan sy. Lihat diawal-awal kita koment di Thread ini.
kdng anda tidak menjawab tapi buat pernyataan lain...  :D
Salah satunya ini,

Justru saya udah pernah menjawab di awal" koment kita, cb baca http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,23304.0/message,425258.html

Lagipula wajar dr sisi apa ya, krn tidak menjawab dengan pasti jadi buat kesimpulan sepihak?

Quote
Sy tidak sedang menanggapi contoh Anjing yg menolong Bayi terus anjing itu dibunuh oleh majikannya.. sy tidak mengomentari itu, karna sebelumnya sy sudah jawab bahwa itu Prasangka si Majikan yg tidak tahu menahu kejadiannya.. Jadi jgn dicampur-campur. seolah-olah ingin membenarkan pendapat kamu Padahal Kondisinya Berbeda.
Siapa yang mengacu pada contoh itu ya? Sepertinya kk yang suka mencampur"kan sesuatu deh...  Kan byk tuh cerita hewan yang menyelamatkan manusia, misalnya:

LuLu adalah babi gendut yang diberikan sebagai hadiah ulang tahun untuk seorang ibu, Jo Ann. Dan sepertinya Ann begitu bersyukur dengan kadonya. Ketika Ann tiba-tiba mengalami serangan jantung, LuLu yang melihatnya langsung bergerak menolong. Seperti apa? Babi gendut yang biasanya diam di balik pagar rumah ini dengan segera melesat, mencari jalan raya dan menunggu mobil serta mencoba menghentikannya.

Seekor anjing yang dijuluki pahlawan di Filipina karena kehilangan moncongnya dalam sebuah kecelakaan sepeda motor demi menyelamatkan dua orang gadis dibawa ke AS untuk menjalani pengobatan.

Kabang, nama anjing itu, melompat ke jalur sepeda motor yang sedang ngebut saat sepeda motor itu nyaris menabrak dua gadis muda yang menyeberang jalan di Provinsi Zamboanga di Filipina selatan, Desember tahun lalu, lapor media lokal.

Kabang, seekor anjing campuran yang menyerupai seekor anjing gembala German, tersangkut kepalanya di roda depan sepeda motor itu pada kecelakaan tersebut. Moncong dan rahang atas anjing itu robek.

"Anjing itu telah menyelamatkan nyawa dua anak. Jadi, sekarang anjing itu membutuhkan bantuan kami. Sekarang giliran kami untuk menyelamatkan hidupnya," kata dokter hewan Anton Lim.


Itu terjadi pada seorang pria bernama Simon Steggal yang hidup bersama istrinya, Victoria di Cambridgeshire, Inggris. Ketika sedang duduk di sofa, kelinci mereka, Dory menyadari ada hal aneh yang terjadi pada Simon.

Dengan segera, Dory langsung menjilati mulut Simon dan menjadi kelinci agresif dalam upaya membantu Simon menemukan kesadarannya. Victoria yang menyadari itu langsung memanggil tim medis. Hasilnya, Dory mendapat anugrah kehormatan dari Asosiasi Kehormatan Kelinci. Berniat mengajari kelinci kamu supaya jadi seperti Dory?


Quote
Harap diIngat, manusia berbeda dengan binatang, Tapi jelas ada sifat, kelakuan manusia lebih rendah dari Binatang...

Betul sekali, jadi kenapa kk sebelumnya mengatakan:
Sebelum Jawab kepertanyaan kamu, Silahkan kamu pikir pake otak kamu dan pertimbangkan dengan hati kamu. Lebih berharga mana manusia dengan Binatang?? Ya, itu terserah kamu jika menurut kamu lebih berharga binatang   :o :o

Jangan Lupakan juga yang ini..
Betapa Sulitnya Terlahir menjadi manusia.. Jadi memang sangat berharga Nyawa manusia itu...
Manusia bagaikan segenggam pasir ditangan tetapi mahluk2 lain bagaikan pasir diSungai gangga...  :)

Hmm.. Baru kali ini sy Melihat, Ternyata ada manusia yang lebih mementingkan Binatang dari pada Manusia.... ;D ;D

Quote
sy harap anda bisa mengerti maksud kata2 sy diatas (klo tidak ngerti nanti sy jelaskan, klo perlu buat Thread baru saja. biar tdk campur aduk. OK)

Sebetulnya sy sudah ingatKan diawal kita Koment tentang sila2 itu, Bahwa Manusia ini BUKAN ROBOT yg dimasukan instrument ya begitu2 saja tidak bisa berfikir, bernalar dll, Semua Sila2 itu ada penjelasannya, penjabarannya. intinya JANGAN DISAMA RATAKAN.
Masalah Kata "Terpaksa" dari awal sy TIDAK menggunakan kata Terpaksa. Sepertinya netter disini selalu menggunakan kata "Terpaksa". Jelas ini Konotasinya sangat Buruk, Jahat. Sy IngatKan sekali lagi YA, ada kondisi dimna tidak bisa menghindar dari membunuh...
Kondisi seperti apa? Kl yang nyamuk malaria, sebenarnya juga pasti ada prasangka buruk ama nyamuk itu kan n alasan mengungsi, tangkap pake jala sebenarnya bs cuma kk lebih memilih membunuh kan biar lebih mudah beres?

Sebelumnya kk sendiri juga menggunakan kata terpaksa:
Terpaksa dgn asalanya yg Benar sy rasa tidak sepenuhnya salah, sy Kira ada benci atau tidak tergantung individu masing2 malakukan hal tersebut dgn dasar apa.  ;D

Quote
Masalah diBenarKan, Tunggu. Sebelumnya sudah sy ada tulisa koment waktu sama Mr. Indra bahwa "Boleh" dan "diBenarkan" itu Berbeda maksudnya
Kalau menurut kk kita bukan lagi membahas pembenaran pembunuhan ya? Jd lg bahas soal apa?

Quote
Jgn dicampur aduk donx sama kisah yg kamu tulis itu, Liat donx koment sy itu, hati2 nanti disangka "Dongeng" itu kisah yg kamu tulis... Sy belum bisa memutuskan percaya atau tidak karna sy tidak tahu sumbernya dari Sutta apa itu diambil. apakah Dari Sutta yg pertama muncul atau yg muncul belakangan
Lagi2, org yg memang Tahu menahu inilah yg mempunyai tanggung jawab untuk dipercaya atau tidak Cerita2 tersebut
Kok bisa belum memutuskan, pdhal kan kk blg br tau ada manusia yang mementingkan hewan drpd manusia...
Lagian kalau misalnya cm dongeng apakah perbuatan tersebut bukan perbuatan baik?

Quote
Klo urusan Karma ya semuanya samaLah, Klo anda perhatikan dari awal koment2 sy pastLah anda melihat koment sy yg sperti ini. BISAkah kita membedakan sabda2 Buddha ketika berbicara pada Seorang DEWA, seorang Bhikku/sekelompok Bhikku dan kepada para ummat awam.. (Disini sy mengunakan kata Pertapa karna sy tidak tahu waktu itu Beliau sudah menjadi Buddha atau Belum)
dalam agama Buddha hanya ada 2 golongan yaitu Ummat awan dan Ummat Bhikku kedua-duannya mempunyai peranannya masing2. Untuk masalah lebih lanjut lagi bisa Kita diskusikan dilain Hal.. Tidak usah melebar kmna-mna dulu. Mari kita temukan titik Kesepahaman dalam hal ini dulu. OK  :D
Dari awal emang saya bingung kok dibeda"in, bukankah intinya sama" mengajarkan menghindari pembunuhan? Emang kl Umat Awam membunuh gpp?

Quote
Thanks sudah diPost,  ;) ;)

Ternyata anda cukup pintar juga.  Dari apa yg sy  TanyaKan  ;D Tunjukan diSutta - Sutta lain yang menjabarkan, meneguhkan, menguatkan isi Sila perTama sebagai pendukung... walaupun Disana masih ada ada kondisi yang tetap harus Ummat Pilih... Kebijaksanaan atau Moralitas dan masih relevantKah ajaran ini diTerapKan....

Sy harap anda menjawab dahulu koment sy yg diBawah ini sebelum lebih jauh lagi sy berKomentar tentang Sutta yg anda Post itu
Ok, Boleh sy Tahu Sutta yg anda Post itu Ketika Guru Buddha Berbicara pada siapa, seorangDewa, seorang/sekelompk Bhikku,  kepada Ummat awam atau pada saat kedua-duanya hadir?
Emang bedanya apa ya? Bisa dijelaskan krn saya sangat bingung kenapa harus mengetahui sedang berbicara pada siapa br bisa menjawab.

Quote
Dan sy Harap anda Mengerti Dari Kata yg Sy Bold itu... coba anda renungi
Sy harap anda juga merenungkan bahwa yang di bold sgt kontradiksi dengan contoh" anda (membunuh)

Quote
Semoga apa yg kamu post bukan sebuah Dongeng dagelan org2 jaman dahulu atau seorang pengagung Guru Buddha yg Berlebihan…  :) :)
Paling tidak saya memakai referensi acuan, sedangkan yang kk post ga ada referensinya.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #226 on: 19 December 2012, 04:47:27 PM »
Tenang Sy Sabar kok memberitahu anda walau harus berkali-kali.... (Apa belaga ngak Tahu kali, Sorry nie....  ;D )

kalau anda memang sabar, saya belum melihat bukti yg saya inginkan dari anda bahwa ADA PENGECUALIAN dalam hal pelaksanaan sila-1. walaupun anda berkelit bahwa itu adalah pandangan anda, saya mengharapkan suatu pandangan yg berdasar, bukan tanpa dasar, dan dasar yg kami sepakati di sini adalah dasar otentik dari ajaran Sang Buddha, bukan ajaran lain.


Quote
Sudah BeKali-kali sy Mengatakan Bahwa itu Hanya pandangan sy Terhadap sila pertama dalam hal Membunuh. Jadi sy harap anda tidak sedang Minum Anggur yg memabukan.  Begitu banyak koment yg sy Tulis bahwa itu hanya pandangan sy dan sy minta pentunjuk disini yg meneguhkan , menguatkan isi dari sila pertama.

saya tidak minum anggur, karena selain melanggar sila, juga mahal. dan pandangan anda itu jika itu adalah apa yang anda anut, sebaiknya tidak mengatakan bahwa karena tidak disebutkan tidak ada kecuali maka disimpulkan bahwa ada kondisi tertentu yg membenarkan pembunuhan. karena pernyataan anda jelas bertentangan dengan ajaran Buddha yg tercatat dalam sutta, dan anda melakukan penyesatan di sini.

Quote
Sekali lagi sy harap anda dalam keadaan sadar. Sy tidak menggunakan kata Pengecualian, Diawal sy mengunakan kata itu agar memudahkan saja, tapi akhirnya tidak menemukan titik temu yg diMengerti. tidak LAZIM kata kecuali diSematkan dalam sebuah aturan...

oh anda tidak menggunakan kata pengecualian ya? bisa anda jelaskan maksud dari kalimat anda di bawah ini yg tidak menggunakan kata pengecualian itu?

Quote
Mungkin Maksudnya Situasi & Kondisi. Jika sudah pada tahap membahayakan, mengkhawatirkan orang banyak atau diri sendiri. Manakala ini terjadi jika sudah tidak ada pilihan lain dan terpojok pembunuhan bisa saja terjadi atau diLakukan, Jadi Hal Tersebut dilakukan bukan atas dasar dendam, kebencian ataupun merasa gembira klo membunuh mahluk hidup binatang disini. Karna kita juga berfikir dan mempertimbangan akibat dari yg akan terjadi. Dalam artian bukan tidak adanya karma buruk yang timbul, tetapi setidaknya akan menentukan kualitas dari akibat karma buruk tersebut. Seperti Singa, Macan memang Binatang Buas, Bukan Berarti Sekonyong-konyong main Bunuh saja. tetapi dimna situasi dan Kondisi yg menjadikan pembunuhan itu terjadi.

Dari Sila pertama itu, adakah sutta2 yang mendukung bahwasannya dlm pembunuhan Binatang itu TIDAK ada Kata Pengecualian. Mungkin ada penjabaran atau penafsiran2 yg Tepat. Bukan atas dasar persepsi atau pikiran kita sendiri..  :-?


yg mana untuk kasus tidak ada sudah saya buktikan, dan saya menunggu adanya bukti sebaliknya dari anda.

Quote
Dan sy katakan sekali lagi jika ada yg Kurang seFaham silahkan anda Koment disana.... disana ada jelas dan detail Untuk Masalah ini....
Kalau anda memang benar2 Sedang Sakau Dengan Senag Hati sy akan Post Ulang disini... ;D ;D
Ya Menunjukan Bukti yg tidak sesuai dgn pertanyaan sy....   :))
Silahkan anda baca koment sy yg pertama diatas...  :-? :-?


saya juga tidak sedang sakaw, walaupun saya memang agak ketagihan dengan spesies spt anda.

Quote
Silahkan ada Baca dengan teliti Kedua Sutta yang anda post sebelumnya, memang tidak ada kok disana kondisi apapun tohh.... BukanKah itu sudah sy BANTAH.. Anda masih dalam Keadaan SADARKan... Sutta itu hanya anjuran bagi ummat saja tidak ada yg Lain disana... Bahkan sebelumnya sudah sy beri contoh Pula...  ??? ???

sebenarnya memang tidak ada sutta yg mengajarkan suatu yg harus dilakukan, bahkan anda tidak dilarang untuk memperkosa ibu anda sendiri. hanya saja kita sedang membahas praktik spiritual buddhis, dalam hal ini sila. jadi walaupun semua ajaran Sang Buddha memang bersifat anjuran, tapi bagi yg ingin menjalani kehidupan spiritual buddhis yg bercita2 untuk mencapai kebebasan dari dukkha, maka anjuran2 itu adalah suatu latihan yg harus dijalankan.

Quote
Sy masih Berharap anda bisa menunjukan Sutta2 Tersebut, Jika belum diTemukan silahkan anda cari dahulu JIKA perlu tanyakan saja pada seorang Bhikku

saya bisa menunjukkan sutta2 tersebut, hanya saja saya bukan orang suruhan anda, jadi saya menolak pekerjaan dari anda. dan saya juga blm pernah bertemu dengan bhikkhu yg lebih tahu daripada google, jadi anjuran anda juga tidak berguna.

Quote
Memang diAwal sudah sy Tulis kok Setiap ummat Buddhist memang harus menghindari sebisa mungkin malah... Tapi ada keadaan seseorang tidak dapat menghindar dari membunuh (Silahkan anda jawab contoh2 yg sudah banyak sy tulis sebelumnya)

contoh2 anda bukan kasus di mana pembunuhan tidak bisa dihindari.

[qupte]
anda hanya memaksakan kebrutalan anda dengan dalih bahwa karena tidak dijelaskan tentang situasi dan kondisi apa pembunuhan itu tidak dilakukan, maka artinya pembunuhan boleh dilakukan dalam situasi dan kondisi tertentu. entah bagaimana cara menarik kesimpulan ini.


Dan anda sangat BRUTAL dengan menganggap Tidak membunuh YA tidak membunuh... (ini Baru sila Pertama, belum sampai ke- 4 Sila yg Lain, padahal sebelumnya sudah sy sedikit singgung hal ini, Tapi OK lah kita teruskan yg Sila ke- 1 ini dulu  :D :D )
disamping itu, diawal ada yg sudah sy Singgung Bahwa manusia Bukan ROBOT yg hanya bisa dimasukan instrument2 baru bisa Bertindak dan hanya itu2 saja tidak bisa yg lain tidak bisa berfikir dan bernalar....  :))

[/quote]
menganggap tidak membunuh adalah tidak membunuh anda anggap brutal? apakah menurut anda semua bhikkhu yg mematuhi vinaya adalah brutal? apakah semua orang yg mematuhi sila adalah brutal? justru karena manusia bisa berpikir dan bernalar maka manusia selalu bisa memikirkan cara utk tidak melakukan pelanggaran.

Quote
Tidak lama Lagi kita disini akan menyimpulkan hasil dari diskusi disini karna ada satu Netter yg cukup medekati akhir dari diskusi ini Si Mi4ka. Dia sudah MemPost sebuah Sutta yg Menunjukan sebuah Sikap Kebijaksanaan dan Moralitas....


postingan SIs M14Ka itu juga tidak mendukung posisi anda, silakan anda menunjukkan bagian mana dari postingan itu yg membenarkan pembunuhan.

Quote
Sy rasa anda lebih berkompeten tentang Sutta yg diPost itu, sebuah Dongeng atau memang Kisah nyata....  ;D ;D

itu sudah jelas, tapi saya sedang tidak ingin memberitahu anda.

Quote
Kecuali anda dalam keragu-raguan....  karna anda pernah mengatakan percaya terhadap sutta2 yg ada hanya 20%, 75%, 50% :-? :-?

saya tidak ragu2. ketika saya mengatakan bahwa saya tidak 100% meyakini tipitaka yg saya maksudkan adalah bahwa ada sebagian yg saya terima dan ada sebagian lainnya yg tidak saya terima, bukan spt penafsiran T*L*L anda bahwa saya ragu2 terhadap sutta2.

Quote
Ohh sy Sudah Jeli mencermati diskusi disni dan memang belum ada sutta2 yg tepat dengan secara Gamblang seperti Sutta yg anda Post yang merujuk pada SILA ke- 3 tidak Perlu Panjang lebar semua sudah Tahu tohh... (Kecuali seorang Bhikku kan...  ;D ;D )
Dan anda hanya menjawab dengan ringan... "oh, itu sudah Cukup JELAS" woowww Keren...   8) 8)

kalau jelas saya akan katakan jelas, begitu juga sebaliknya, saya juga menjalankan sila ke-4, mungkin anda menganut ajaran boleh berbohong jika ingin memenangkan perdebatan, tapi saya jelas tidak spt itu.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #227 on: 19 December 2012, 04:53:11 PM »
Sebaiknya anda Baca Thread ini Mulai dari awal, OK
dan klo ada yg tidak setuju anda jawab disana, nanti sy balas koment anda.
Dan Ingat anda harus Baca BerUrut, karna setiap koment yg saja Buat. Bisa jadi untuk membalas sebelumnya atau Komentar tmn2 lain disini yg lain...


saya selalu mengikuti semua postingan di forum ini, bukan hanya thread ini, dan ini sudah saya lakukan selama bertahun2, dan saya memang tidak mengomentari semua postingan, hanya jika ada postingan lucu baru saya akan berkomentar

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #228 on: 19 December 2012, 11:56:35 PM »
kata2 yg tidak tepat tetap tidak tepat terlepas dari siapa kata2 itu berasal ... emangnya kalo dari situ apa itu jadi benar?
emang gak benar.. :P
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #229 on: 20 December 2012, 12:06:10 AM »
apa Sang Buddha zaman dahulu kala sering membunuh nyamuk kalau lingkungannya udah kebanyakan nyamuk?? ??? ???
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.963
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #230 on: 20 December 2012, 05:15:46 AM »
setelah sekian lama diskusi dengan si 'Naga', ada beberapa hal 'lucu' yang perlu di rangkumkan,

1. sila 1, boleh membunuh mahluk hidup jika keadaan 'terpaksa' sesuai sikon, apalagi melakukan pembunuhan tidak dengan pikiran membenci tapi bunuh dengan cinta kasih, karena mahluk manusia lebih berharga dari mahluk hewan.

2. sila ke 4, boleh berbohong dan asal cuap2 sesuai selera opini pribadi, semuanya demi kepentingan untuk memenangi perdebatan.

3. cerita2 sutta diragukan, mungkin saja dagelan atau dongeng dari manusia jaman dahulu yang mengagungkan Sang Buddha, tapi dalam diskusi jika sudah terpojok malah diminta untuk tanya Bhikkhu, sepertinya Bhikkhu sekarang mengetahui segalanya  ???, Bhikkhu sekarang diagungkan dan dijadikan referensi untuk bertanya, Bhikkhu jaman dahulu dianggap suka dagelan sehingga membuat cerita keagungan Sang Buddha yang belum tentu benar.   :'(

4. ..... ( tolong isi bagi yg pernah diskusi dengan si Naga)

« Last Edit: 20 December 2012, 05:35:00 AM by adi lim »
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #231 on: 20 December 2012, 06:46:38 AM »
kalau opini pribadi gak apa-apa cuap-cuap, meskipun gak sesuai sutta. kalau memang ada rujukan dari sutta, maka cari cara pembenaran yang lain (sikon) :))

memang hebat
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline pemulaabis

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 1
  • Reputasi: 0
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #232 on: 17 January 2013, 05:16:08 PM »
kayanya jadi makin panjang diskusinya..... makin "ngawur" kl gw lihat pdhl mnrtku jawabannya simple. Kan intinya pertanyaan TS

1) yg ingin saya tanyakan apakah membunuh nyamuk setelah nyamuk itu binasa,  saya mendoakannya  supaya lahir di alam yg bahagia
apakah masih menimbun karma buruk?

Coba baca syarat pelanggaran sila 1: (kl syarat ini memang benar, tapi kita anggap saja benar :) )

1. adanya makhluk hidup (nyamuk makhluk hidup bukan...? kl iya syarat pertama terpenuhi)

2. tahu bahwa makhluk itu hidup (nah mnrt anda nyamuk itu hidup ga? kl iya syarat kedua terpenuhi)

3. ada niat/kehendak untuk membunuh (ada niat ga buat ngebunuh tuh nyamuk? kl iya syarat ketiga terpenuhi)

4. ada usaha untuk membunuh (ada usaha ga buat ngebunuh tuh nyamuk, kaya beli dan nyalahin tuh baygon, raket nyamuk, ditepuk pakai tangan dsb? kl iya syarat keempat terpenuhi)

5. makhluk tersebut mati/lenyap (nah sesudah melakukan suatu usaha, mati ga nyamuknya...? kl mati syarat kelima terpenuhi)

jadi kl iya semua, jawaban membunuh nyamuk menimbun karma buruk

2) berbohong  tanpa menyakti manusia apakah termasuk karma buruk?

Syarat melanggar sila ke 4, kasar/berbohong/ memfitnah/omong kosong:
1. ada hal yang tidak benar (nah ketika berbohong kepada seseorang manusia tanpa menyakitinya, adakah dari isi dari pembicaraannya yang akan d katakan ada hal yang tidak benar sesuai kebenaran?, kl iya maka syarat pertama terpenuhi.....)

2. ada niat untuk menyampaikan (nah ketika akan berbohong kepada seseorang manusia tanpa menyakitinya, adakah niat untuk menyampaikan pembicaraan yang tidak benar ini?, kl iya maka syarat kedua terpenuhi.....)

3. ada usaha (ketika lo berbohong, lo berusaha ga untuk mengatakan hal yang tidak benar dan menyakinkan seseorang tersebut?)

4. ada orang lain yang percaya. (sesudah lo berbohong, orang itu jadi percaya ga sama perkataan lo, kl iya syarat keempat terpenuhi)

jadi kl iya semua, berbohong tanpa menyakiti seseorang itu melanggar sila ke 4

gmn teman2 masuk akal kan + mudah dicerna :D

===============

beda lagi kl kasusnya seperti ini...

lo seorang cw, trus mw d perkosa sama seseorang d dapur..... lo berontak, teriak2, dan tak sengaja lo ambil pisau dan tancepin tuh pisau hingga s pemerkosa itu mati.....

Syarat ke 3 dalam melakukan pembunuhan yaitu niat membunuh tidak ada, karena niatnya untuk mempertahankan kesucian..... CMIIW
« Last Edit: 17 January 2013, 05:23:26 PM by pemulaabis »

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #233 on: 17 January 2013, 07:57:28 PM »

lo seorang cw, trus mw d perkosa sama seseorang d dapur..... lo berontak, teriak2, dan tak sengaja lo ambil pisau dan tancepin tuh pisau hingga s pemerkosa itu mati.....

Syarat ke 3 dalam melakukan pembunuhan yaitu niat membunuh tidak ada, karena niatnya untuk mempertahankan kesucian..... CMIIW

bisa dijelaskan lagi secara lebih terperinci bagaimana seseorang bisa mengambil sesuatu secara tidak sengaja dan secara tidak sengaja lagi menancapkannya ke tubuh seseorang?

Kalau bisa begitu, berarti bisa juga dong, seseorang tidak sengaja menembakkan peluru ke jidat seseorang?, bukan dengan niat membunuh, tapi untuk menyimpan peluru di dalam kepala seseorang.

atau seseorang tidak sengaja memotong leher seseorang tanpa maksud membunuh, hanya untuk menguji ketajaman pedangnya asja.

Offline NagaSena

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 134
  • Reputasi: -6
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #234 on: 31 May 2016, 10:38:36 AM »
Gimna Klo Dengan Kasus Ini, Apa ini cerita dibuat-buat atau Dagelan...
Apa yang diLakukan Ummat Buddhis Awam (Bukan Bhikku) Klo terjadi seperti ini.... ???? Teguh Dalam SILA atau ???


https://foto.tempo.co/read/beritafoto/42257/Seram-Bocah-4-Tahun-Terjatuh-di-Kandang-Gorila/6


Kalau Saudari Indra, Dede M1aka... Cuma diam Dan Nonton saja Atraksi Anak Manusia diCabik-Cabik dgn Terharu.... atau Pergi berlalu dengan berkata Sudah Karma Buruk si Anak tersebut Mati oleh Gorilla.... :o :o

Itu Gorrilla Mati Ditembak BUKAN atas dasar kebencian tohh... Pasti Dengan Terpaksa atau tidak ada Pilihan lain harus ditembak mati. Yang Nembak goriila itu pasti beda karma Buruknya dengan yang membunuh Binatang untuk Kesenangan Saja... Sila Perlu TAPI Kebijaksanaan Juga sangat DiPerlukan...

Offline NagaSena

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 134
  • Reputasi: -6
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #235 on: 31 May 2016, 10:44:22 AM »
bisa dijelaskan lagi secara lebih terperinci bagaimana seseorang bisa mengambil sesuatu secara tidak sengaja dan secara tidak sengaja lagi menancapkannya ke tubuh seseorang?
BISA saja dengan ReFlex... atau Niatnya hanya mau melukai saja Tapi Akhirnya Tewas

Quote
Kalau bisa begitu, berarti bisa juga dong, seseorang tidak sengaja menembakkan peluru ke jidat seseorang?, bukan dengan niat membunuh, tapi untuk menyimpan peluru di dalam kepala seseorang.


Oh BISA, itu TNI lagi latihan perang Nembakkan Meriam ketempat yg sudah ditentukan, malah Jatuh di Rumah warga... Apa SEGAJA diarahkan kerumah warga

Quote
atau seseorang tidak sengaja memotong leher seseorang tanpa maksud membunuh, hanya untuk menguji ketajaman pedangnya asja.
Contoh Yang NGAWUrrr...

Offline NagaSena

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 134
  • Reputasi: -6
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #236 on: 31 May 2016, 11:09:44 AM »
contoh ini tidak tepat, karena kondisi itu masih bisa dihindari, misalnya dengan langkah2 yg sering dibahas, misalnya, AC yg dingin, kipas angin, dll

Tiap Hari pake Kipas Angin Masuk Angin Donxx... Kalau orangnya Kebetulan Alergi sama AC gimna tuh Gak Semua orang Badannya Kuat sama AC... pake kipas angin pake AC. Lah klo orang susah gimna tuh boro2 beli kipas angin, AC. buat makan aja Susah....
SILA itu bukan buat orang Kaya saja tohh...

Offline harlons

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 20
  • Reputasi: 2
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #237 on: 31 May 2016, 05:05:03 PM »
Tiap Hari pake Kipas Angin Masuk Angin Donxx... Kalau orangnya Kebetulan Alergi sama AC gimna tuh Gak Semua orang Badannya Kuat sama AC... pake kipas angin pake AC. Lah klo orang susah gimna tuh boro2 beli kipas angin, AC. buat makan aja Susah....
SILA itu bukan buat orang Kaya saja tohh...
Sudahlah kk.
Thread ini uda berlalu hampir 4 tahun, tapi hari ini anda kembali lagi. Ternyata anda belum bisa move on dari dunia "seandainya, apabila, dan kecuali"

Offline NagaSena

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 134
  • Reputasi: -6
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #238 on: 19 August 2016, 11:31:20 AM »
Sudahlah kk.
Thread ini uda berlalu hampir 4 tahun, tapi hari ini anda kembali lagi. Ternyata anda belum bisa move on dari dunia "seandainya, apabila, dan kecuali"

Baru ada waktu balas...
Saya kira tidak ada yang berandai-andai, apa bila dan kecuali... semua Nyata dalam kehidupan ini apa yang terjadi.
Mengenai pancasila Buddhis, dari Sila pertama sampai 5. Saya kira tidak ada salahnya jika ditelaah lebih dalam, mulai dari waktu pertama kali Guru Agung Buddha berkotbah tentang 5 landasan sila dan ini hal yang sangat fundametal sekali dalam ajaran Buddha. Apa lagi membunuh ada urutan paling atas dalam pancasila Buddhis Sila ini berarti sangat penting sekali. Apakah sejak zaman Sang Buddha kemudian dilanjutkan oleh murid2nya sejak diadakannya konsili pertama sampai terakhir bahwa SEPAKAT tidak adanya TANPA PengKecualian dalam Hal sila Pertama itu. Jika Benar demikian adanya,, Kita semua mengetahui sang Buddha hidup di masa raja2 dimna sebuah kerjaan ada bala tentaranya, yang satu ingin menguasi yang lain, perang antar suku, terjadi peperangan dll. jika sila ke-1 menghindari pembunuhan, apakah wejangan Beliau ketika terjadi Peperangan pada sebuah kerajaan atau terjadi perang di dalam masyarakat... apa yang harus dilakukan ketika sebuah kerajaan diserang oleh kerjaan lain.
Tidak mungkin, adalah Hal yang Mustahil Guru Buddha hidup Sampai 81 thn, tapi tidak ada satu contohpun dalam hidup beliau sejak membabarkan Dhamma TAPI tidak ada satuPun sebuah kisah yang memberikan contoh untuk meneguhkan dan menguatkan bahwa pada sila Pertama itu memang Tanpa TerKecuali... Hingga tidak ada penafsiran yang menyimpang terlebih lagi dampaknya dalam kehidupan manusia Bila sila ke1 benar2 diLaksanakan.. Seperti orang yang bervegetarian, sebenarnya sama saja tidak terlepas manusia dari membunuh mahluk lain, tanamanpun banyak berhama, bersarang dalam tanaman2, buah2an dll...

Offline NagaSena

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 134
  • Reputasi: -6
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #239 on: 19 August 2016, 11:51:22 AM »
Quote
setelah sekian lama diskusi dengan si 'Naga', ada beberapa hal 'lucu' yang perlu di rangkumkan,


1. sila 1, boleh membunuh mahluk hidup jika keadaan 'terpaksa' sesuai sikon, apalagi melakukan pembunuhan tidak dengan pikiran membenci tapi bunuh dengan cinta kasih, karena mahluk manusia lebih berharga dari mahluk hewan.

Saya disini hanya minta contoh dalam kehidupan Guru Agung Kita atau murid2 penerusnya untuk meneguhkan dan menguatkan sehingga tidak ada penafsiran yang berbeda dalam Sila ke 1 ini. Jika demikian apakah dalam ajaran Guru Agung kita dilarang untuk melakukan MEMBELA diri?? Mungkin anda lebih menghetahui apakah selama Guru Buddha membabarkan Dhamma bagaimana dengan membela diri?

Quote
2. sila ke 4, boleh berbohong dan asal cuap2 sesuai selera opini pribadi, semuanya demi kepentingan untuk memenangi perdebatan.

Berbohong yang mana ya, SILAHKAN anda cari kembali koment saya tentang Berbohong... anda ngawur...


Quote
3. cerita2 sutta diragukan, mungkin saja dagelan atau dongeng dari manusia jaman dahulu yang mengagungkan Sang Buddha, tapi dalam diskusi jika sudah terpojok malah diminta untuk tanya Bhikkhu, sepertinya Bhikkhu sekarang mengetahui segalanya  ???, Bhikkhu sekarang diagungkan dan dijadikan referensi untuk bertanya, Bhikkhu jaman dahulu dianggap suka dagelan sehingga membuat cerita keagungan Sang Buddha yang belum tentu benar.   :'(

Bukan saya Yang terpojok, silahkan anda baca ulang komen sy tentang hal tersebut. disana malah sy sebaliknya silahkan jika belum ketemu di sutta tanya ke seorang Bhikku (tentunya Bhikku yang anda percaya sudh mumpuni donx bukan yang baru kemarin sore baru jadi Bhikku kan) sya tidak bilang diAgungkan loh,jika ingin mencari tahu tentang ajaran Buddha klo bukan bertanya kepada seorang Bhikku kepada siapa lagi masa sama Pendeta atau ulama hehee..

4. ..... ( tolong isi bagi yg pernah diskusi dengan si Naga)