Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Pertanyaan kritis mengenai theravada menurut pandangan yg berbeda.  (Read 337464 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline marcedes

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.528
  • Reputasi: 70
  • Gender: Male
  • May All Being Happinesssssssss
Re: Pertanyaan kritis mengenai theravada menurut pandangan yg berbeda.
« Reply #135 on: 09 June 2009, 05:44:35 PM »
^
^
waks, panjang benerrrr.....
ngak tau dech, mumet ndasku...

ya semoga bro marcedes cepat merealisasikan nirvana, n satu lagi, kalau sudah nirvana, jangan engkau lupakan kita2 ini ya.... ;D
saddhu-saddhu-saddhu.  _/\_
tapi kalau sebaliknya, sy minta tolong kepada anda juga. ^^

Bro marcedes, bolehkah ceritanya lebih dipersingkat?
sorry.. yg baca juga jd pusink neh kaya Elin..  8-}
trus sampai banyak yg di quote gt ya...
I guess yg penting dan mau dikomentarin aja yg di quote..

maaf ya kalo komentar Elin menimbulkan ketidaknyamanan bagi bro marcedes.. _/\_
wah tulisan saya jelek ya...hehehe....
mungkin sekira nya hanya berusaha memperjelas sejelas-jelasnya...
kalau ada bagian tertentu tidak dipahami maksud saya, tanya saja....maklum aku bukan pujangga yang pandai merangkai kata. ^^

-----------------------------------------------

semua sutta memang wajar ada ketidakberesan.......misalkan yang satu bilang A yang satu bilang B...tetapi dalam sutta semua nya menjadi 1 arah. ( ini yang saya ketahui sampai saat ini )
seperti contoh saudara markos

Quote
Di sini bukan benar dan salah dalam artian makna ajaran, tetapi penulisan.
Jika dua orang bercerita ketika mereka sedang berjalan, maka mereka bertemu dengan Buddha dan meminta 1 nasihat singkat. Yang satu berkata:
- "Pada waktu itu Buddha hanya mengatakan satu kalimat: 'latihlah diri menghindari pembunuhan!'"
satunya lagi berkata:
- "Pada waktu itu Buddha hanya mengatakan satu kalimat: 'kembangkanlah cinta kasih!'"
Maka secara ajaran/dhamma, kedua hal ini adalah tidak bertentangan sama sekali. Tetapi secara penulisan, kutipan dan fakta, salah satu penulisan itu pasti salah.

lain hal nya kalau terbalik seperti...
disana buddha berkata "belum mencapai.....kekotoran"
sedangkan di satu sisi "telah mencapai......maha-suci"

inilah yang saya maksudkan esensi yg saling bertolak belakang, dimana 1 benar pasti 1 nya salah.....seperti dalam bahasa indo "kata antonim"  ^^

 _/\_
salam metta.
Ada penderitaan,tetapi tidak ada yang menderita
Ada jalan tetapi tidak ada yang menempuhnya
Ada Nibbana tetapi tidak ada yang mencapainya.

TALK LESS DO MOREEEEEE !!!

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.847
  • Reputasi: 268
Re: Pertanyaan kritis mengenai theravada menurut pandangan yg berbeda.
« Reply #136 on: 09 June 2009, 06:09:46 PM »
dalam minggu ini, udah beberapa kali Kalama Sutta ini kembali digunakan..... mungkin lagi rame lagi utk mengkritisi Tipitaka nih he3.....

Bro Kai, harus diingat bhw Kalama Sutta menyatakan dengan jelas bukan masalah kitabnya, atau Kembalikan pada kebenaran pribadi namun ke bagaimana suatu hal itu bisa membawa manfaat bagi perkembangan batin.....

itu yg jelas2 disebut dalam Kalama Sutta mengenai kerugian dari LDM dan keuntungan dari terbebas dari LDM
source : samaggiphala.or.id

Jadi yg ditelaah bukannya kitabnya melainkan bagaimana manfaat dari kitab itu terhadap pengikisan LDM

Kitab itu adalah peta, utk menunjukkan arah ke pengikisan LDM tapi peta itu sendiri bukan tujuan
Sama seperti telunjuk yang digunakan utk menunjuk bulan tapi telunjuk itu bukanlah bulan

Hanya org bodoh yg bilang telunjuk = bulan, atau peta = tujuan

Jadi bukan peta atau telunjuk yg salah, si pelaksananya itulah yg salah.......


Yang menjadi fokus saya di sini adalah sikap seseorang terhadap kitab sucinya (dalam hal ini, Tipitaka), bukan pada Tipitakanya itu sendiri. Sebetulnya yang ingin saya sampaikan adalah bahwa kemelekatan pada kitab suci adalah sumber dari penderitaan, sementara melihat kesalahan sebagai kesalahan, adalah awal dari kebebasan.

Perkembangan bathin seseorang ditentukan oleh kematangan bathin masing-masing. Perkembangan bathin sendiri sangat subjektif, dan sangat susah dinilai oleh orang lain. Bagi sebagian orang, kalau hafal Tipitaka, bathinnya sudah mantap. Bagi sebagian orang lain, kalau meditasinya tahan 10 jam non-stop, bathinnya sudah mantap. Kebenarannya, siapa yang tahu? Itulah sebabnya saya katakan semua itu dikembalikan pada pribadi masing-masing. Bagi orang yang melekat pada kitab, maka kitab adalah "foto" berisi sebuah gambaran ideal. Ketika mengetahui foto itu ternyata salah atau palsu, maka "habislah" dia. Kalama Sutta mengajarkan agar menyikapi kitab sebagai cermin. Cermin itu boleh buram atau retak, namun jika kita bisa melihat refleksi diri kita di cermin itu, jelek sebagai jelek, bagus sebagai bagus, untuk diperbaiki di masa depan, maka itulah yang dinamakan bermanfaat.


Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.407
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Pertanyaan kritis mengenai theravada menurut pandangan yg berbeda.
« Reply #137 on: 09 June 2009, 06:44:10 PM »
ajaran kan dipelajari melalui kitab, sepertinya sulit diterima kalo kitab salah tapi ajaran masih benar. tapi mari kita berandai2 lagi, seandainya memang demikian, kita masih bisa menggunakan tools lain yaitu logika dan pengalaman, kalau seteah membandingkan ternyata kitab salah dan ajaran dari guru2 terbukti benar maka saya memilih mengikuti ajaran yg benar daripada kitab yg salah.

sepertinya saya sedang dituntun gak tau kemana, mungkin ke dalam lubang jebakan, tapi akan saya ikutin permainan bro kainyn

Bukan, memang biasa saya suka main "jebakan", tapi kali ini tidak.
OK, thanx buat jawabannya.




^
  kalo om kain sendiri ditanya kek gitu gmana :-?
Sederhana. Saya akan katakan ajaran Buddha bukanlah ajaran yang menggantungkan hidup-mati, benar-salah pada kitab. Itulah yang membedakan ajaran Buddha dengan ajaran lain. Kepada umat Kalama, Buddha sudah mengatakan "kitab belum tentu benar". Lalu kenapa kita sendiri malah ngotot kitab harus benar?

Umat lain boleh klaim kitabnya PASTI GA ADA SALAH, karena ditulis dengan intervensi mahluk adikuasa. Ajaran Buddha tidak demikian. Semua kitab hanyalah sebuah pesan berantai dari manusia ke manusia lainnya, yang tentu saja sarat dengan kesalahan (walaupun maknanya belum tentu salah). Itulah sebabnya semua kitab dimulai dengan "evam me suttam" ("demikianlah yang kudengar").




Menarik juga pertanyaannya...

Bagi saya, kekeliruan penulisan seperti itu bukan menjadi hal yang memarginalkan esensi dari ajaran agama itu. Bahkan tidak peduli apakah Buddha Gotama itu pernah hidup atau hanya sebuah karangan fiksi, namun yang jelas esensi ajaran (Buddhisme) itu masih cukup sahid. Dan itulah yang saya jadikan pedoman, dan alasan mengapa sampai saat ini saya masih berjalan di Buddhadhamma.
Setuju sekali. Ajaran Buddha selalu mengembalikan kebenaran pada diri masing-masing, bukan pada buku. Itulah esensi Buddha-dhamma. Jadi memang Buddhisme bukan ajaran "kitab-sentrisme".



dalam minggu ini, udah beberapa kali Kalama Sutta ini kembali digunakan..... mungkin lagi rame lagi utk mengkritisi Tipitaka nih he3.....

Bro Kai, harus diingat bhw Kalama Sutta menyatakan dengan jelas bukan masalah kitabnya, atau Kembalikan pada kebenaran pribadi namun ke bagaimana suatu hal itu bisa membawa manfaat bagi perkembangan batin.....

itu yg jelas2 disebut dalam Kalama Sutta mengenai kerugian dari LDM dan keuntungan dari terbebas dari LDM
source : samaggiphala.or.id

Jadi yg ditelaah bukannya kitabnya melainkan bagaimana manfaat dari kitab itu terhadap pengikisan LDM

Kitab itu adalah peta, utk menunjukkan arah ke pengikisan LDM tapi peta itu sendiri bukan tujuan
Sama seperti telunjuk yang digunakan utk menunjuk bulan tapi telunjuk itu bukanlah bulan

Hanya org bodoh yg bilang telunjuk = bulan, atau peta = tujuan

Jadi bukan peta atau telunjuk yg salah, si pelaksananya itulah yg salah.......

Begini ko, Kalau petanya salah bagaimana, masa mau di pegang terus ga mungkin kan, sipelaksana sudah mengikuti peta itu dengan benar pun belum tentu ketujuan yang benar ;D
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline Sunkmanitu Tanka Ob'waci

  • Sebelumnya: Karuna, Wolverine, gachapin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.807
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
  • 会いたい。
Re: Pertanyaan kritis mengenai theravada menurut pandangan yg berbeda.
« Reply #138 on: 09 June 2009, 08:11:24 PM »
Yah resiko. Tapi kan sudah dibilang acek Indra, bisa dilihat dari logika dan pengalaman. Mana peta yang paling logis, mana yang tidak.
HANYA MENERIMA UCAPAN TERIMA KASIH DALAM BENTUK GRP
Fake friends are like shadows never around on your darkest days

Offline Sukma Kemenyan

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.840
  • Reputasi: 109
Re: Pertanyaan kritis mengenai theravada menurut pandangan yg berbeda.
« Reply #139 on: 09 June 2009, 09:47:58 PM »
Thread ini seru... sekaligus menyedihkan...

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Pertanyaan kritis mengenai theravada menurut pandangan yg berbeda.
« Reply #140 on: 09 June 2009, 10:04:43 PM »
Thread ini seru... sekaligus menyedihkan...
setuju seru, tapi mana yg menyedihkannya?

Offline Kelana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.226
  • Reputasi: 142
Re: Pertanyaan kritis mengenai theravada menurut pandangan yg berbeda.
« Reply #141 on: 09 June 2009, 10:05:50 PM »
Bukan kendala bahasa tapi dewa non lokal datangnya terlambat jadi duduknya paling belakang. Dan dewa-dewa lokal yang datangnya tidak telat duduk di depan. Dan merek ayang duduk di depan yang disebut namanya. Dan dalam ceramah atau pidato, tuan rumah biasanya yang banyak disebut. Lagi pula toh dewa non lokal sudah diwakili dengan kata “dewa 10.000 tata surya.”
mungkin juga ada otonomi wilayah perdewaan yah. jadi kalo acaranya di india, dewa yg jadi panitianya juga dari india, duduknya di kursi vip. kalo ngurusin kera sakti, itu otonominya dewa2 china...

tanggapan iseng juga :D


Ya mungkin saja…siapa yang tahu pasti yah  ;). Dalam sutta dikenal dengan dewa yang tinggal di daerah seperti digunung, di pohon, dll. Ini yang disebut dewa local. Sedangkan dewa yang tinggal di surga ya mungkin sama saja itu-itu saja, contohnya dewa Sakka yang tinggal di Tavatimsa, ya  ia tidak bisa disebut dewa local. Jadi harus dibedakan mana yang local mana yang bukan local tapi disebut dengan nama local.

Dewa yang ngurusin kera sakti?? Wong kera sakti cuma tokoh fiktif sebuah novel karya Wu Cheng'en kok, ngapain diurusin .. kecuali dewanya dewa mabok kali ye ^-^

balasan iseng juga  ;D
GKBU
 
_/\_ suvatthi hotu


- finire -

Offline Sukma Kemenyan

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.840
  • Reputasi: 109
Re: Pertanyaan kritis mengenai theravada menurut pandangan yg berbeda.
« Reply #142 on: 09 June 2009, 10:10:24 PM »
Menyedihkan dimana ?
Entahlah... gw ngebaca negh thread bagaikan ngeliad orang yg rebutan layang2

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Pertanyaan kritis mengenai theravada menurut pandangan yg berbeda.
« Reply #143 on: 09 June 2009, 10:15:03 PM »
sabar, show sebenarnya masih belum di mulai, ini masih opening ceremony

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.749
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Pertanyaan kritis mengenai theravada menurut pandangan yg berbeda.
« Reply #144 on: 09 June 2009, 11:06:40 PM »
Ya mungkin saja…siapa yang tahu pasti yah  ;). Dalam sutta dikenal dengan dewa yang tinggal di daerah seperti digunung, di pohon, dll. Ini yang disebut dewa local. Sedangkan dewa yang tinggal di surga ya mungkin sama saja itu-itu saja, contohnya dewa Sakka yang tinggal di Tavatimsa, ya  ia tidak bisa disebut dewa local. Jadi harus dibedakan mana yang local mana yang bukan local tapi disebut dengan nama local.
lha, tulisannya pak wowor bilang dalam seribu system tata surya alias sahasi culanikalokadhatu itu ada 1000 jambudipa, 1000 sineru, 4000 samudera, 4000 maharajika, 1000 yama, 1000 tusita, 1000 tavatimsa, dsb. kalo sepuluh rebu tata surya, ya mustinya dikaliin 10 dong... buanyaaaak. yg disebut di sana cuman yg lokal2 aje... mungkin bener yg anda bilang bang, first come first serve, duluan dateng kebagian tempat di depan... atau yg 9999 lainnya kosong ngkali ya...

nerusin iseng :)
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline D4M4

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 3
  • Reputasi: 0
Re: Pertanyaan kritis mengenai theravada menurut pandangan yg berbeda.
« Reply #145 on: 09 June 2009, 11:33:16 PM »
Yang dicari apa yah ? pembenaran atau kebenaran ? terus goal nya seperti apa ?
wong T + T aja keliatannya ga kompak gmn nih ?

Offline Sunkmanitu Tanka Ob'waci

  • Sebelumnya: Karuna, Wolverine, gachapin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.807
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
  • 会いたい。
Re: Pertanyaan kritis mengenai theravada menurut pandangan yg berbeda.
« Reply #146 on: 10 June 2009, 08:34:05 AM »
Ya mungkin saja…siapa yang tahu pasti yah  ;). Dalam sutta dikenal dengan dewa yang tinggal di daerah seperti digunung, di pohon, dll. Ini yang disebut dewa local. Sedangkan dewa yang tinggal di surga ya mungkin sama saja itu-itu saja, contohnya dewa Sakka yang tinggal di Tavatimsa, ya  ia tidak bisa disebut dewa local. Jadi harus dibedakan mana yang local mana yang bukan local tapi disebut dengan nama local.
lha, tulisannya pak wowor bilang dalam seribu system tata surya alias sahasi culanikalokadhatu itu ada 1000 jambudipa, 1000 sineru, 4000 samudera, 4000 maharajika, 1000 yama, 1000 tusita, 1000 tavatimsa, dsb. kalo sepuluh rebu tata surya, ya mustinya dikaliin 10 dong... buanyaaaak. yg disebut di sana cuman yg lokal2 aje... mungkin bener yg anda bilang bang, first come first serve, duluan dateng kebagian tempat di depan... atau yg 9999 lainnya kosong ngkali ya...

nerusin iseng :)


yah, soal nama dibahas lageee. kan para dewa pakai bahasa cuma atu, dev vani. jadi wajar aja morpheus = perubahan = xxx = yyy = zzz

ada nama jelita, pretty, ramani, dll, dsb, tapi artinya sama aja
HANYA MENERIMA UCAPAN TERIMA KASIH DALAM BENTUK GRP
Fake friends are like shadows never around on your darkest days

Offline markosprawira

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.449
  • Reputasi: 155
Re: Pertanyaan kritis mengenai theravada menurut pandangan yg berbeda.
« Reply #147 on: 10 June 2009, 08:57:19 AM »
ajaran kan dipelajari melalui kitab, sepertinya sulit diterima kalo kitab salah tapi ajaran masih benar. tapi mari kita berandai2 lagi, seandainya memang demikian, kita masih bisa menggunakan tools lain yaitu logika dan pengalaman, kalau seteah membandingkan ternyata kitab salah dan ajaran dari guru2 terbukti benar maka saya memilih mengikuti ajaran yg benar daripada kitab yg salah.

sepertinya saya sedang dituntun gak tau kemana, mungkin ke dalam lubang jebakan, tapi akan saya ikutin permainan bro kainyn

Bukan, memang biasa saya suka main "jebakan", tapi kali ini tidak.
OK, thanx buat jawabannya.




^
  kalo om kain sendiri ditanya kek gitu gmana :-?
Sederhana. Saya akan katakan ajaran Buddha bukanlah ajaran yang menggantungkan hidup-mati, benar-salah pada kitab. Itulah yang membedakan ajaran Buddha dengan ajaran lain. Kepada umat Kalama, Buddha sudah mengatakan "kitab belum tentu benar". Lalu kenapa kita sendiri malah ngotot kitab harus benar?

Umat lain boleh klaim kitabnya PASTI GA ADA SALAH, karena ditulis dengan intervensi mahluk adikuasa. Ajaran Buddha tidak demikian. Semua kitab hanyalah sebuah pesan berantai dari manusia ke manusia lainnya, yang tentu saja sarat dengan kesalahan (walaupun maknanya belum tentu salah). Itulah sebabnya semua kitab dimulai dengan "evam me suttam" ("demikianlah yang kudengar").




Menarik juga pertanyaannya...

Bagi saya, kekeliruan penulisan seperti itu bukan menjadi hal yang memarginalkan esensi dari ajaran agama itu. Bahkan tidak peduli apakah Buddha Gotama itu pernah hidup atau hanya sebuah karangan fiksi, namun yang jelas esensi ajaran (Buddhisme) itu masih cukup sahid. Dan itulah yang saya jadikan pedoman, dan alasan mengapa sampai saat ini saya masih berjalan di Buddhadhamma.
Setuju sekali. Ajaran Buddha selalu mengembalikan kebenaran pada diri masing-masing, bukan pada buku. Itulah esensi Buddha-dhamma. Jadi memang Buddhisme bukan ajaran "kitab-sentrisme".



dalam minggu ini, udah beberapa kali Kalama Sutta ini kembali digunakan..... mungkin lagi rame lagi utk mengkritisi Tipitaka nih he3.....

Bro Kai, harus diingat bhw Kalama Sutta menyatakan dengan jelas bukan masalah kitabnya, atau Kembalikan pada kebenaran pribadi namun ke bagaimana suatu hal itu bisa membawa manfaat bagi perkembangan batin.....

itu yg jelas2 disebut dalam Kalama Sutta mengenai kerugian dari LDM dan keuntungan dari terbebas dari LDM
source : samaggiphala.or.id

Jadi yg ditelaah bukannya kitabnya melainkan bagaimana manfaat dari kitab itu terhadap pengikisan LDM

Kitab itu adalah peta, utk menunjukkan arah ke pengikisan LDM tapi peta itu sendiri bukan tujuan
Sama seperti telunjuk yang digunakan utk menunjuk bulan tapi telunjuk itu bukanlah bulan

Hanya org bodoh yg bilang telunjuk = bulan, atau peta = tujuan

Jadi bukan peta atau telunjuk yg salah, si pelaksananya itulah yg salah.......

Begini ko, Kalau petanya salah bagaimana, masa mau di pegang terus ga mungkin kan, sipelaksana sudah mengikuti peta itu dengan benar pun belum tentu ketujuan yang benar ;D

Gimana tau bener salah, bro?

Nah itulah yang sebenarnya inti dari Kalama Sutta yaitu dengan mempraktekkan apakah isi dari kitab itu benar bisa mengikis LDM, atau cuma bohongan doang

Jadi dikembaliin ke batin masing2 mengenai hasil praktek dari kitab itu, bukan dilogika dengan kondisi pikiran kita saat ini yg masih diliputi lobha tebeeel banget.....

Ini yg orang bnyk salah persepsi seolah2 Kalama Sutta menganjurkan bhw kalau ga cocok ama diri sendiri, yah ga usah diterima.....

Semoga bisa memperjelas yah.......

metta

Offline markosprawira

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.449
  • Reputasi: 155
Re: Pertanyaan kritis mengenai theravada menurut pandangan yg berbeda.
« Reply #148 on: 10 June 2009, 09:05:24 AM »
dalam minggu ini, udah beberapa kali Kalama Sutta ini kembali digunakan..... mungkin lagi rame lagi utk mengkritisi Tipitaka nih he3.....

Bro Kai, harus diingat bhw Kalama Sutta menyatakan dengan jelas bukan masalah kitabnya, atau Kembalikan pada kebenaran pribadi namun ke bagaimana suatu hal itu bisa membawa manfaat bagi perkembangan batin.....

itu yg jelas2 disebut dalam Kalama Sutta mengenai kerugian dari LDM dan keuntungan dari terbebas dari LDM
source : samaggiphala.or.id

Jadi yg ditelaah bukannya kitabnya melainkan bagaimana manfaat dari kitab itu terhadap pengikisan LDM

Kitab itu adalah peta, utk menunjukkan arah ke pengikisan LDM tapi peta itu sendiri bukan tujuan
Sama seperti telunjuk yang digunakan utk menunjuk bulan tapi telunjuk itu bukanlah bulan

Hanya org bodoh yg bilang telunjuk = bulan, atau peta = tujuan

Jadi bukan peta atau telunjuk yg salah, si pelaksananya itulah yg salah.......


Yang menjadi fokus saya di sini adalah sikap seseorang terhadap kitab sucinya (dalam hal ini, Tipitaka), bukan pada Tipitakanya itu sendiri. Sebetulnya yang ingin saya sampaikan adalah bahwa kemelekatan pada kitab suci adalah sumber dari penderitaan, sementara melihat kesalahan sebagai kesalahan, adalah awal dari kebebasan.

Perkembangan bathin seseorang ditentukan oleh kematangan bathin masing-masing. Perkembangan bathin sendiri sangat subjektif, dan sangat susah dinilai oleh orang lain. Bagi sebagian orang, kalau hafal Tipitaka, bathinnya sudah mantap. Bagi sebagian orang lain, kalau meditasinya tahan 10 jam non-stop, bathinnya sudah mantap. Kebenarannya, siapa yang tahu? Itulah sebabnya saya katakan semua itu dikembalikan pada pribadi masing-masing. Bagi orang yang melekat pada kitab, maka kitab adalah "foto" berisi sebuah gambaran ideal. Ketika mengetahui foto itu ternyata salah atau palsu, maka "habislah" dia. Kalama Sutta mengajarkan agar menyikapi kitab sebagai cermin. Cermin itu boleh buram atau retak, namun jika kita bisa melihat refleksi diri kita di cermin itu, jelek sebagai jelek, bagus sebagai bagus, untuk diperbaiki di masa depan, maka itulah yang dinamakan bermanfaat.

Nah itu udah saya sebut diatas khan bro.......

Hanya orang bodoh yg menganggap peta sebagai tujuan, atau menganggap telunjuk sebagai bulan
Pada wkt dia melekat pada peta itu, berarti dia sudah menjadi orang bodoh yang menganggap kitab itu sebagai "tujuannya", bahwa dia sudah di tujuan dengan kitab itu

Diskusi seperti ini minggu lalu sedang dibahas di milis tetangga, dengan bro Wi Tjong

Kitab memang seperti peta yang menunjukkan atau seperti yang anda sebut bisa seperti cermin yang merefleksikan
Tapi ada (atau bs disebut banyak) yang kebablasan yang melepas peta/cermin itu walau belum sampai di pantai seberang.....

Kondisi ini membuat dia/mereka berpikir "Kitab itu tidak cocok untukku jadi tidak usah digunakan"

Senang diskusi dengan Bro Kai karena sudah jelas apa yang anda maksudkan.....  ;)

metta  _/\_

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.749
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Pertanyaan kritis mengenai theravada menurut pandangan yg berbeda.
« Reply #149 on: 10 June 2009, 10:30:49 AM »
yah, soal nama dibahas lageee. kan para dewa pakai bahasa cuma atu, dev vani. jadi wajar aja morpheus = perubahan = xxx = yyy = zzz

ada nama jelita, pretty, ramani, dll, dsb, tapi artinya sama aja
kayaknya bukan tuh om...
dari 10000 tata surya yg hadir itu yg diaddress semuanya dewa lokal kok...
tapi saya udah puas kok ama penjelasannya. bisa aje emang cuman yg lokal2 doang yg diaddress. pan tuan rumah. atau kebagian duduk di depan kata bang kelana. masalah ginian kan selalu ada penjelasannya :)
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path