//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: KRITIK BUAT SUMEDHO  (Read 86107 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -14
  • Gender: Male
Re: KRITIK BUAT SUMEDHO
« Reply #75 on: 02 September 2008, 08:48:58 PM »
"Riky, aku sudah lama berhenti. Kamulah yang masih terus berlari. Apa yang kamu cari? Berhentilah."
"Ryu,aku sudah lama berlari..Kamulah yang merasa sudah berhenti..Apa yang kamu cari?"
_/\_

Salam,
Riky
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.407
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: KRITIK BUAT SUMEDHO
« Reply #76 on: 02 September 2008, 08:49:09 PM »
Mutiara Kehidupan - 11 Januari - Belajar

Kapan Mungkin Belajar?

Menyelidik dan belajar adalah fungsi dari batin. Saya maksud dengan ‘belajar’ bukan sekadar memupuk ingatan atau mengumpulkan pengetahuan, melainkan kemampuan berpikir secara jernih dan waras tanpa ilusi, berangkat dari fakta dan bukan dari kepercayaan atau cita-cita. Tidak ada belajar jika pikiran berasal dari kesimpulan. Sekadar memperoleh informasi atau pengetahuan bukanlah belajar. Belajar menyiratkan kecintaan terhadap pemahaman dan kecintaan melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri. Belajar hanya mungkin jika tidak ada paksaan dalam bentuk apa pun. Dan paksaan mengambil banyak bentuk, bukan? Ada paksaan melalui pengaruh, melalui kelekatan atau ancaman, melalui dorongan persuasif, atau wujud-wujud halus dari ganjaran.

Kebanyakan orang mengira bahwa belajar didorong dengan pembandingan, padahal faktanya adalah kebalikannya. Pembandingan menghasilkan frustrasi dan hanya mendorong irihati, yang dinamakan kompetisi. Seperti bentuk-bentuk lain dari persuasi, pembandingan menghalangi belajar dan memupuk ketakutan.

[Dari: J. Krishnamurti - The Book of Life]
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.407
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: KRITIK BUAT SUMEDHO
« Reply #77 on: 02 September 2008, 08:50:19 PM »
Renungan Harian - 15 April '08 - Menjadi cahaya bagi diri sendiri...

Kita menyerahkan diri pada otoritas karena kita semua membutuhkan rasa aman secara batiniah ...

… Kita takut berpikir secara berbeda dari apa yang dikatakan oleh para pemimpin oleh karena kita mungkin kehilangan pekerjaan, dikucilkan, disingkirkan, atau disekap dalam kamp konsentrasi. Kita menyerahkan diri pada otoritas oleh karena kita semua membutuhkan rasa aman secara batiniah, dorongan untuk merasa pasti. Selama kita ingin merasa aman--dalam harta benda kita, dalam kekuasaan kita, dalam pikiran kita--kita memerlukan otoritas, dan kita harus menjadi pengikut. Dan di situlah terletak benih keburukan, oleh karena mau tidak mau hal itu membawa pada penghisapan manusia oleh manusia. Barang siapa yang sungguh-sungguh ingin menemukan apa kebenaran itu, apa Tuhan itu, tidak boleh memiliki otoritas, entah otoritas kitab, otoritas pemerintah, otoritas gambaran (image), atau otoritas pemuka agama; ia harus bebas secara total dari semua itu. Ini sangat sukar bagi kebanyakan dari kita, oleh karena ini berarti menjadi tidak aman, berdiri sepenuhnya sendiri, mencari, meraba-raba, tidak pernah puas, tidak pernah mencari sukses. Tetapi jika kita bereksperimen secara serius dengan itu, maka saya rasa kita akan menemukan bahwa sama sekali tidak diperlukan lagi menciptakan dan mengikuti otoritas, oleh karena ada sesuatu lain yang mulai bekerja--yang bukan hanya pernyataan verbal, melainkan fakta aktual. Orang yang terus-menerus bertanya, yang tidak punya otoritas, yang tidak mengikuti tradisi apa pun, buku atau guru mana pun, menjadi cahaya bagi dirinya sendiri.

J Krishnamurti - Hamburg, 1956, Talk 2
[Dari: JKrishnamurti.org - Daily Quote]

Semar:
Ini persis seperti yang dikatakan oleh Buddha Gautama: "Jadilah pelita bagi dirimu sendiri, berlindunglah pada dirimu sendiri, jangan berlindung kepada orang lain ..." ("Atta-dipa, atta-sarana, anannya-sarana ...")

Tetapi kalau mau jujur dan tidak menutup mata, lihatlah apa yang dilakukan oleh sebagian besar umat Buddha di dunia! ...
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline Forte

  • Sebelumnya FoxRockman
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 16.588
  • Reputasi: 458
  • Gender: Male
Re: KRITIK BUAT SUMEDHO
« Reply #78 on: 02 September 2008, 08:50:40 PM »
come on junkerrrrrrrrrrrrrrrrrrssssssssssssssssss :))

hm.. dirikan fox kingdom ga ya di sini :))


Fox Kingdom....
penjahat dataaannnnggggggggggggggg.............  <:-P <:-P <:-P
 :))

wakakakakaka.. welcome2.. :))
Everything can be taken from a man but one thing: the last of the human freedom—-to choose one’s attitude in any given set of circumstances, to choose one’s own way. - Viktor Frankl

Offline Forte

  • Sebelumnya FoxRockman
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 16.588
  • Reputasi: 458
  • Gender: Male
Re: KRITIK BUAT SUMEDHO
« Reply #79 on: 02 September 2008, 08:51:08 PM »
Renungan Harian - 15 April '08 - Menjadi cahaya bagi diri sendiri...

Kita menyerahkan diri pada otoritas karena kita semua membutuhkan rasa aman secara batiniah ...

… Kita takut berpikir secara berbeda dari apa yang dikatakan oleh para pemimpin oleh karena kita mungkin kehilangan pekerjaan, dikucilkan, disingkirkan, atau disekap dalam kamp konsentrasi. Kita menyerahkan diri pada otoritas oleh karena kita semua membutuhkan rasa aman secara batiniah, dorongan untuk merasa pasti. Selama kita ingin merasa aman--dalam harta benda kita, dalam kekuasaan kita, dalam pikiran kita--kita memerlukan otoritas, dan kita harus menjadi pengikut. Dan di situlah terletak benih keburukan, oleh karena mau tidak mau hal itu membawa pada penghisapan manusia oleh manusia. Barang siapa yang sungguh-sungguh ingin menemukan apa kebenaran itu, apa Tuhan itu, tidak boleh memiliki otoritas, entah otoritas kitab, otoritas pemerintah, otoritas gambaran (image), atau otoritas pemuka agama; ia harus bebas secara total dari semua itu. Ini sangat sukar bagi kebanyakan dari kita, oleh karena ini berarti menjadi tidak aman, berdiri sepenuhnya sendiri, mencari, meraba-raba, tidak pernah puas, tidak pernah mencari sukses. Tetapi jika kita bereksperimen secara serius dengan itu, maka saya rasa kita akan menemukan bahwa sama sekali tidak diperlukan lagi menciptakan dan mengikuti otoritas, oleh karena ada sesuatu lain yang mulai bekerja--yang bukan hanya pernyataan verbal, melainkan fakta aktual. Orang yang terus-menerus bertanya, yang tidak punya otoritas, yang tidak mengikuti tradisi apa pun, buku atau guru mana pun, menjadi cahaya bagi dirinya sendiri.

J Krishnamurti - Hamburg, 1956, Talk 2
[Dari: JKrishnamurti.org - Daily Quote]

Semar:
Ini persis seperti yang dikatakan oleh Buddha Gautama: "Jadilah pelita bagi dirimu sendiri, berlindunglah pada dirimu sendiri, jangan berlindung kepada orang lain ..." ("Atta-dipa, atta-sarana, anannya-sarana ...")

Tetapi kalau mau jujur dan tidak menutup mata, lihatlah apa yang dilakukan oleh sebagian besar umat Buddha di dunia! ...
semar.. petruk.. emang lagi main wayang yak :))
Everything can be taken from a man but one thing: the last of the human freedom—-to choose one’s attitude in any given set of circumstances, to choose one’s own way. - Viktor Frankl

Offline Forte

  • Sebelumnya FoxRockman
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 16.588
  • Reputasi: 458
  • Gender: Male
Re: KRITIK BUAT SUMEDHO
« Reply #80 on: 02 September 2008, 08:52:01 PM »
btw.. bagi2 GRP yuk..
yanti dah dapat GRP belum..
:))
Everything can be taken from a man but one thing: the last of the human freedom—-to choose one’s attitude in any given set of circumstances, to choose one’s own way. - Viktor Frankl

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.407
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: KRITIK BUAT SUMEDHO
« Reply #81 on: 02 September 2008, 08:52:35 PM »
Renungan Harian - 15 April '08 - Mengejar "ahimsa" ...

Apakah mengejar tanpa-kekerasan (ahimsa) membebaskan batin dari kekerasan?

Kita mengira ideal itu perlu. Tetapi apakah ideal membantu mendatangkan perubahan radikal dalam batin kita? Ataukah ideal hanya membuat kita bisa menunda-nunda, mendorong perubahan ke masa depan, dan dengan demikian menghindari perubahan yang radikal, segera? Jelas, selama kita mempunyai ideal, kita tidak pernah sungguh-sungguh berubah, melainkan berpegang pada ideal kita sebagai cara penundaan, menghindari perubahan segera yang begitu penting. Saya tahu, kebanyakan di antara kita menganggap bahwa ideal harus ada, oleh karena tanpa itu kita mengira tidak akan ada dorongan untuk berubah, dan kita akan membusuk, mampet. Tetapi saya mempertanyakan, apakah ideal mana pun pernah mentransformasikan cara berpikir kita. Mengapa kita memiliki ideal? Jika saya keras, apakah saya membutuhkan ideal tanpa-kekerasan? Saya tidak tahu apakah Anda pernah memikirkan hal ini. Jika saya keras--seperti kebanyakan dari kita dalam berbagai derajat--perlukah bagi saya untuk memiliki ideal tanpa-kekerasan? Apakah mengejar tanpa-kekerasan membebaskan batin dari kekerasan? Ataukah mengejar tanpa-kekerasan itu sendiri sesungguhnya menghalangi pemahaman akan kekerasan? Bagaimana pun juga, saya hanya bisa memahami kekerasan bila, dengan seluruh batin saya, saya memberikan perhatian saya sepenuhnya kepada masalah itu. Dan pada saat saya sepenuhnya memperhatikan dan memahami kekerasan, apa perlunya ideal tanpa-kekerasan? Saya rasa, mengejar ideal itu merupakan penghindaran, penundaan. Jika saya mau memahami kekerasan, saya harus memberikan seluruh batin saya kepadanya dan tidak membiarkan perhatian saya teralihkan oleh ideal tanpa-kekerasan.

J Krishnamurti - Hamburg, 1956, Talk 2
[Dari: JKrishnamurti.org - Daily Quote]

Hudoyo:

Kalau saya memikirkan ideal tanpa-kekerasan--sebagaimana diajarkan oleh agama-agama--maka saya tidak memperhatikan kekerasan dalam berbagi bentuknya--tersinggung, sakit hati, cemburu, irihati dsb--yang ada di dalam hati saya sendiri.

Analoginya, kalau saya selalu memikirkan & mendengungkan cinta kasih, saya tidak memperhatikan & memahami ketidaksenangan & kebencian yang ada dalam hati saya.

Pantesan :))
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -14
  • Gender: Male
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline Mr. Wei

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.074
  • Reputasi: 99
  • Gender: Male
Re: KRITIK BUAT SUMEDHO
« Reply #83 on: 02 September 2008, 08:53:06 PM »
Rik, uda donk, hentikan penyerangan ke Sumedho, uda ada 2 thread yang kayak gini neh...

G rasa Sumedho juga uda berpikir keras buat nyelesein masalah ini dengan baik... jangan disudutin terus.

G harap Riky mengerti :)

_/\_
Kalau anda berkata begitu maka asumsi saya bahwa Sumedho itu pengecut...
Lihatlah sudah berapa pernyataan saya dihapuskannya dan thread saya hilang dibuat nya...
Sedangkan posting2an lainnya?Seperti junkers dan penyerangan pribadi?
Saya sudah katakan bahwa dia telah buta!!

Salam,
Riky

Wew, maaf, tapi saya rasa Anda sudah buta oleh dosa (kebencian) dan emosi Anda sendiri.
Namun saya rasa Anda pasti akan menyangkal pendapat saya bahwa Anda sedang marah, atau dengan secara tidak langsung menyangkal dengan cara berkata bahwa saya sudah mencapai arahat (seperti yg terjadi pd Sdr. Hendra) dsb.

Kalau benar Anda sudah disikapi dengan tidak adil oleh Sdr. Sumedho, langkah yang Anda lakukan terlalu ekstrim, cobalah bertanya secara pribadi dengan fasilitas pm, atau yahoo messenger, tanyalah mengapa post2 Anda selalu dihapus dan mengapa yang lain tidak. Pasti sdr. Sumedho memiliki alasan yang logis mengenai hal ini, jangan terburu-buru berasumsi.

No offense to riky :)

Saya masih umat biasa, yang belum suci, namun mungkin saya bisa memberikan sedikit masukan kepada Anda, yang juga (bersama dengan teman-teman yang lain) sedang mengembangkan diri di dalam Dhamma.

Semoga riky selalu berbahagia

Semoga semua makhluk berbahagia

_/\_

Offline Forte

  • Sebelumnya FoxRockman
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 16.588
  • Reputasi: 458
  • Gender: Male
Re: KRITIK BUAT SUMEDHO
« Reply #84 on: 02 September 2008, 08:53:29 PM »
Renungan Harian - 15 April '08 - Mengejar "ahimsa" ...

Apakah mengejar tanpa-kekerasan (ahimsa) membebaskan batin dari kekerasan?

Kita mengira ideal itu perlu. Tetapi apakah ideal membantu mendatangkan perubahan radikal dalam batin kita? Ataukah ideal hanya membuat kita bisa menunda-nunda, mendorong perubahan ke masa depan, dan dengan demikian menghindari perubahan yang radikal, segera? Jelas, selama kita mempunyai ideal, kita tidak pernah sungguh-sungguh berubah, melainkan berpegang pada ideal kita sebagai cara penundaan, menghindari perubahan segera yang begitu penting. Saya tahu, kebanyakan di antara kita menganggap bahwa ideal harus ada, oleh karena tanpa itu kita mengira tidak akan ada dorongan untuk berubah, dan kita akan membusuk, mampet. Tetapi saya mempertanyakan, apakah ideal mana pun pernah mentransformasikan cara berpikir kita. Mengapa kita memiliki ideal? Jika saya keras, apakah saya membutuhkan ideal tanpa-kekerasan? Saya tidak tahu apakah Anda pernah memikirkan hal ini. Jika saya keras--seperti kebanyakan dari kita dalam berbagai derajat--perlukah bagi saya untuk memiliki ideal tanpa-kekerasan? Apakah mengejar tanpa-kekerasan membebaskan batin dari kekerasan? Ataukah mengejar tanpa-kekerasan itu sendiri sesungguhnya menghalangi pemahaman akan kekerasan? Bagaimana pun juga, saya hanya bisa memahami kekerasan bila, dengan seluruh batin saya, saya memberikan perhatian saya sepenuhnya kepada masalah itu. Dan pada saat saya sepenuhnya memperhatikan dan memahami kekerasan, apa perlunya ideal tanpa-kekerasan? Saya rasa, mengejar ideal itu merupakan penghindaran, penundaan. Jika saya mau memahami kekerasan, saya harus memberikan seluruh batin saya kepadanya dan tidak membiarkan perhatian saya teralihkan oleh ideal tanpa-kekerasan.

J Krishnamurti - Hamburg, 1956, Talk 2
[Dari: JKrishnamurti.org - Daily Quote]

Hudoyo:

Kalau saya memikirkan ideal tanpa-kekerasan--sebagaimana diajarkan oleh agama-agama--maka saya tidak memperhatikan kekerasan dalam berbagi bentuknya--tersinggung, sakit hati, cemburu, irihati dsb--yang ada di dalam hati saya sendiri.

Analoginya, kalau saya selalu memikirkan & mendengungkan cinta kasih, saya tidak memperhatikan & memahami ketidaksenangan & kebencian yang ada dalam hati saya.

Pantesan :))
kayak judul lagu.. Mengejar matahari aje :))
Everything can be taken from a man but one thing: the last of the human freedom—-to choose one’s attitude in any given set of circumstances, to choose one’s own way. - Viktor Frankl

Offline Forte

  • Sebelumnya FoxRockman
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 16.588
  • Reputasi: 458
  • Gender: Male
Re: KRITIK BUAT SUMEDHO
« Reply #85 on: 02 September 2008, 08:55:25 PM »
Rik, uda donk, hentikan penyerangan ke Sumedho, uda ada 2 thread yang kayak gini neh...

G rasa Sumedho juga uda berpikir keras buat nyelesein masalah ini dengan baik... jangan disudutin terus.

G harap Riky mengerti :)

_/\_
Kalau anda berkata begitu maka asumsi saya bahwa Sumedho itu pengecut...
Lihatlah sudah berapa pernyataan saya dihapuskannya dan thread saya hilang dibuat nya...
Sedangkan posting2an lainnya?Seperti junkers dan penyerangan pribadi?
Saya sudah katakan bahwa dia telah buta!!

Salam,
Riky

Wew, maaf, tapi saya rasa Anda sudah buta oleh dosa (kebencian) dan emosi Anda sendiri.
Namun saya rasa Anda pasti akan menyangkal pendapat saya bahwa Anda sedang marah, atau dengan secara tidak langsung menyangkal dengan cara berkata bahwa saya sudah mencapai arahat (seperti yg terjadi pd Sdr. Hendra) dsb.

Kalau benar Anda sudah disikapi dengan tidak adil oleh Sdr. Sumedho, langkah yang Anda lakukan terlalu ekstrim, cobalah bertanya secara pribadi dengan fasilitas pm, atau yahoo messenger, tanyalah mengapa post2 Anda selalu dihapus dan mengapa yang lain tidak. Pasti sdr. Sumedho memiliki alasan yang logis mengenai hal ini, jangan terburu-buru berasumsi.

No offense to riky :)

Saya masih umat biasa, yang belum suci, namun mungkin saya bisa memberikan sedikit masukan kepada Anda, yang juga (bersama dengan teman-teman yang lain) sedang mengembangkan diri di dalam Dhamma.

Semoga riky selalu berbahagia

Semoga semua makhluk berbahagia

_/\_
Offside ada gak ya.. jangan offence2 aja.. :))
Everything can be taken from a man but one thing: the last of the human freedom—-to choose one’s attitude in any given set of circumstances, to choose one’s own way. - Viktor Frankl

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -14
  • Gender: Male
Re: KRITIK BUAT SUMEDHO
« Reply #86 on: 02 September 2008, 08:56:53 PM »
Rik, uda donk, hentikan penyerangan ke Sumedho, uda ada 2 thread yang kayak gini neh...

G rasa Sumedho juga uda berpikir keras buat nyelesein masalah ini dengan baik... jangan disudutin terus.

G harap Riky mengerti :)

_/\_
Kalau anda berkata begitu maka asumsi saya bahwa Sumedho itu pengecut...
Lihatlah sudah berapa pernyataan saya dihapuskannya dan thread saya hilang dibuat nya...
Sedangkan posting2an lainnya?Seperti junkers dan penyerangan pribadi?
Saya sudah katakan bahwa dia telah buta!!

Salam,
Riky

Wew, maaf, tapi saya rasa Anda sudah buta oleh dosa (kebencian) dan emosi Anda sendiri.
Namun saya rasa Anda pasti akan menyangkal pendapat saya bahwa Anda sedang marah, atau dengan secara tidak langsung menyangkal dengan cara berkata bahwa saya sudah mencapai arahat (seperti yg terjadi pd Sdr. Hendra) dsb.
Apakah kurang pantas saya berkata anda sok tahu?Lihat jawaban saya pada pertanyaan anda di bawah ini.Saya mau lihat anda bisa berkata apa lagi...

Quote
Kalau benar Anda sudah disikapi dengan tidak adil oleh Sdr. Sumedho, langkah yang Anda lakukan terlalu ekstrim, cobalah bertanya secara pribadi dengan fasilitas pm, atau yahoo messenger, tanyalah mengapa post2 Anda selalu dihapus dan mengapa yang lain tidak. Pasti sdr. Sumedho memiliki alasan yang logis mengenai hal ini, jangan terburu-buru berasumsi.
Saya sudah berulang kali msn dengan saudara Sumedho dan jawabannya selalu tergantung dan mengalihkan perbicaraan dan saya telah berkata kepada dia bahwa saya akan mempostkan masalah ini pada BOARD KRITIK DAN SARAN,jelaskah sekarang?

Salam,
Riky
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -14
  • Gender: Male
Re: KRITIK BUAT SUMEDHO
« Reply #87 on: 02 September 2008, 08:58:02 PM »
[at]Felix selaku global moderator,
Karena saya adalah TS disini,saya mengajukan tuntutan kepada global moderator apabila ada nge junk dithread ini tolong dihapuskan dan diberi peringatan keras!!!

Salam,
Riky
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline Mr. Wei

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.074
  • Reputasi: 99
  • Gender: Male
Re: KRITIK BUAT SUMEDHO
« Reply #88 on: 02 September 2008, 08:59:06 PM »
Rik, uda donk, hentikan penyerangan ke Sumedho, uda ada 2 thread yang kayak gini neh...

G rasa Sumedho juga uda berpikir keras buat nyelesein masalah ini dengan baik... jangan disudutin terus.

G harap Riky mengerti :)

_/\_
Kalau anda berkata begitu maka asumsi saya bahwa Sumedho itu pengecut...
Lihatlah sudah berapa pernyataan saya dihapuskannya dan thread saya hilang dibuat nya...
Sedangkan posting2an lainnya?Seperti junkers dan penyerangan pribadi?
Saya sudah katakan bahwa dia telah buta!!

Salam,
Riky

Wew, maaf, tapi saya rasa Anda sudah buta oleh dosa (kebencian) dan emosi Anda sendiri.
Namun saya rasa Anda pasti akan menyangkal pendapat saya bahwa Anda sedang marah, atau dengan secara tidak langsung menyangkal dengan cara berkata bahwa saya sudah mencapai arahat (seperti yg terjadi pd Sdr. Hendra) dsb.
Apakah kurang pantas saya berkata anda sok tahu?Lihat jawaban saya pada pertanyaan anda di bawah ini.Saya mau lihat anda bisa berkata apa lagi...

Quote
Kalau benar Anda sudah disikapi dengan tidak adil oleh Sdr. Sumedho, langkah yang Anda lakukan terlalu ekstrim, cobalah bertanya secara pribadi dengan fasilitas pm, atau yahoo messenger, tanyalah mengapa post2 Anda selalu dihapus dan mengapa yang lain tidak. Pasti sdr. Sumedho memiliki alasan yang logis mengenai hal ini, jangan terburu-buru berasumsi.
Saya sudah berulang kali msn dengan saudara Sumedho dan jawabannya selalu tergantung dan mengalihkan perbicaraan dan saya telah berkata kepada dia bahwa saya akan mempostkan masalah ini pada BOARD KRITIK DAN SARAN,jelaskah sekarang?

Salam,
Riky

Redamkanlah dosa Anda dahulu.
Saya tidak mau menanggapi sama sekali, hanya akan memancing dosa Anda, dan saya takutnya akan memancing dosa saya (yang masih umat awam) juga.

No comment again.
Salam metta _/\_

^
^Nah...Kena deh... ;D
Memangnya acara TV :P

Salam,
Riky
iya.. ya.. acaranya dah jarang gw nonton tuh..
kan lumayan dapat duit gratis :))


Sekarang main lagi di ANTV, hari2 apa saya ga ingat .. heuhue ...

Guru g pernah masuk acara gituan lo, tapi yang om farhan punya, yang taxy itu :))

Offline 53121f4n71

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.111
  • Reputasi: 95
  • Gender: Female
  • semoga semua makhluk berbahagia
Re: KRITIK BUAT SUMEDHO
« Reply #89 on: 02 September 2008, 08:59:16 PM »
Renungan Harian - 15 April '08 - Mengejar "ahimsa" ...

Apakah mengejar tanpa-kekerasan (ahimsa) membebaskan batin dari kekerasan?

Kita mengira ideal itu perlu. Tetapi apakah ideal membantu mendatangkan perubahan radikal dalam batin kita? Ataukah ideal hanya membuat kita bisa menunda-nunda, mendorong perubahan ke masa depan, dan dengan demikian menghindari perubahan yang radikal, segera? Jelas, selama kita mempunyai ideal, kita tidak pernah sungguh-sungguh berubah, melainkan berpegang pada ideal kita sebagai cara penundaan, menghindari perubahan segera yang begitu penting. Saya tahu, kebanyakan di antara kita menganggap bahwa ideal harus ada, oleh karena tanpa itu kita mengira tidak akan ada dorongan untuk berubah, dan kita akan membusuk, mampet. Tetapi saya mempertanyakan, apakah ideal mana pun pernah mentransformasikan cara berpikir kita. Mengapa kita memiliki ideal? Jika saya keras, apakah saya membutuhkan ideal tanpa-kekerasan? Saya tidak tahu apakah Anda pernah memikirkan hal ini. Jika saya keras--seperti kebanyakan dari kita dalam berbagai derajat--perlukah bagi saya untuk memiliki ideal tanpa-kekerasan? Apakah mengejar tanpa-kekerasan membebaskan batin dari kekerasan? Ataukah mengejar tanpa-kekerasan itu sendiri sesungguhnya menghalangi pemahaman akan kekerasan? Bagaimana pun juga, saya hanya bisa memahami kekerasan bila, dengan seluruh batin saya, saya memberikan perhatian saya sepenuhnya kepada masalah itu. Dan pada saat saya sepenuhnya memperhatikan dan memahami kekerasan, apa perlunya ideal tanpa-kekerasan? Saya rasa, mengejar ideal itu merupakan penghindaran, penundaan. Jika saya mau memahami kekerasan, saya harus memberikan seluruh batin saya kepadanya dan tidak membiarkan perhatian saya teralihkan oleh ideal tanpa-kekerasan.

J Krishnamurti - Hamburg, 1956, Talk 2
[Dari: JKrishnamurti.org - Daily Quote]

Hudoyo:

Kalau saya memikirkan ideal tanpa-kekerasan--sebagaimana diajarkan oleh agama-agama--maka saya tidak memperhatikan kekerasan dalam berbagi bentuknya--tersinggung, sakit hati, cemburu, irihati dsb--yang ada di dalam hati saya sendiri.

Analoginya, kalau saya selalu memikirkan & mendengungkan cinta kasih, saya tidak memperhatikan & memahami ketidaksenangan & kebencian yang ada dalam hati saya.

Pantesan :))
kayak judul lagu.. Mengejar matahari aje :))


Mengejar Matahari?? sapa yg bisa tuh??
aku ksh GRP yg banyak deh...  :))
this too will pass