Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Tentang Membunuh  (Read 22504 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline The Ronald

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.233
  • Reputasi: 89
  • Gender: Male
Re: Tentang Membunuh
« Reply #45 on: 04 March 2014, 03:51:57 PM »
mercy killing..aku menurutku itu termasuk pembunuhan..krn jika di tanya..apakah kmu bermaksud membunuhnya..jawabannya pasti iya..walau ada 1001 alasan menyertainya....
...

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Tentang Membunuh
« Reply #46 on: 04 March 2014, 07:33:36 PM »
upaya kausalya? :o

Kalo Zen Master yang ada di posisi orang pintar, kira2 dia pake mikir panjang ngga ya? :P


Saya belum pernah baca kasus yang kira-kira seperti ini dalam sastra Mahayana, kalau ada sih, mau tahu juga pandangannya bagaimana.


Menurut Upaya Kausalya Sutra, Bodhisattva pada kehidupan lampau pernah membunuh seorang penjahat yang diketahui akan membunuh banyak orang. Dengan demikian, Bodhisattva menyelamatkan banyak nyawa walaupun ia sendiri harus menderita di neraka.

Kalo dikaitkan dengan kasus pastor di atas, mungkin Bodhisattva akan membunuh orang yang menyuruhnya memilih siapa yang dibunuh ;D
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Tentang Membunuh
« Reply #47 on: 04 March 2014, 07:39:06 PM »
mercy killing..aku menurutku itu termasuk pembunuhan..krn jika di tanya..apakah kmu bermaksud membunuhnya..jawabannya pasti iya..walau ada 1001 alasan menyertainya....


Untuk mercy killing ada kasus tertentu pasiennya sudah dinyatakan mati secara medis walaupun beberapa fungsi organnya masih ada (misalnya otaknya sudah tidak berfungsi tetapi jantungnya masih berdenyut). Kalo sudah dianggap mati seperti ini, ada yang berpendapat menghentikan fungsi organ tubuh yg masih bekerja itu bukan pembunuhan. Namun tentu saja, ini harus meninjau lagi definisi kematian secara Buddhis itu seperti apa....
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Shasika

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.152
  • Reputasi: 101
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Tentang Membunuh
« Reply #48 on: 04 March 2014, 08:11:47 PM »
Bagaimana jika kasusnya adalah si pasien ini denyutnya jantung sudah tidak ada selama 3 minggu, kemudian diikuti dengan brain-death (otak mati) pihak medis telah mengeluarkan pernyataan bahwa pasien  telah meninggal secara medis, dan pihak RS (diwakili dokter penanggung jawab pasien) telah memanggil pihak keluarga dan meminta seluruh kakak kandung pasien berikut istri dan anak2 untuk mencari orang pinter agar bisa membantu, karena adanya susuk sehingga mengakibatkan si pasien masih memiliki suhu tubuh 37C dan tensi 180/100.
I'm an ordinary human only

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.847
  • Reputasi: 268
Re: Tentang Membunuh
« Reply #49 on: 07 March 2014, 09:30:06 AM »
ok, memang sejalan dan sepertinya aneh kalo kita membahas yang 1 tapi mengabaikan lainnya.

pembahasan secara rinci pada point diatas dapat dibaca pada thread lain, sepertinya saya pernah baca di dc tapi lupa threadnya.
Ya, topik ini memang sepertinya pernah dibahas sekilas di thread lain. Di sini saya mau coba bahas lebih luas.


Quote
mercy killing, kasus sang pastor dan mungkin atas permintaan seorang untuk mengakhiri hidupnya karena alasan penderitaan. saya pahami ketika kita bertindak untuk itu dan berakibat kematian pada makhluk tersebut, itu sudah pembunuhan. atau kita menyetujui atau memilih dan atas hal tersebut ada makhluk yang mati karenanya maka itu juga masuk kategori sama, pembunuhan.

mungkin disini kita berbicara cetana yang didasarinya. dan kalau mau lebih melebar bisa juga di diskusikan kamma-vipakanya.
Secara teori kamma, memang cetana yang membedakan berat-ringannya akibat. Tapi di sini saya tidak berniat bahas seberapa berat/ringan akibat dari perbuatan, tapi apakah suatu perbuatan ini termasuk kusala/akusala.

Misalnya ada Arahant yang sedang disiksa dan pilihan yang kita miliki hanyalah membiarkannya mati perlahan dan sangat menderita, atau mercy-killing. Jika 5 point adalah mutlak, maka mercy killing di sini pasti akusala. Entah vipakanya adalah avici 1 kappa atau 15 menit, tetap saja perbuatan itu tidak ada manfaatnya, dan harus selalu dihindari.

Saya tertarik mencari tau pendapat member-member di sini, apakah pendapatnya seragam atau bervariasi, apakah ada seperti saya yang merasa janggal jika diterapkan dalam kasus tertentu, dll.

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.847
  • Reputasi: 268
Re: Tentang Membunuh
« Reply #50 on: 07 March 2014, 09:43:32 AM »
mercy killing..aku menurutku itu termasuk pembunuhan..krn jika di tanya..apakah kmu bermaksud membunuhnya..jawabannya pasti iya..walau ada 1001 alasan menyertainya....
Berarti pasti akusala dan harus dihindari, bukan?
-------

Menurut Upaya Kausalya Sutra, Bodhisattva pada kehidupan lampau pernah membunuh seorang penjahat yang diketahui akan membunuh banyak orang. Dengan demikian, Bodhisattva menyelamatkan banyak nyawa walaupun ia sendiri harus menderita di neraka.
Ada yah sutra-nya? Saya sering dengar ceritanya tapi tidak tau kalau itu dari sutra, kirain kisah-kisah tradisi seperti cerita inspirasi senar oleh pemusik lewat saat bodhisatta menjelang pencerahan.

Kalau pakai konsep akuntansi begini juga jadi lebih pelik lagi. Bagaimana kalau ternyata orang-orang yang akan dibunuh itu akan membunuh lebih banyak orang lagi. Jadi bunuh 1 menyelamatkan 99, tapi 99 masing-masing akan membunuh 100 orang. Akhirnya 99 terselamatkan, tapi 9900 + 1 orang jadi mati. Bukankah bodhisattva jadi penyebab bencana? Tidak juga, siapa tahu 9900 itu akan membunuh masing-masing 100 orang lagi ... <ad infinitum>
Tidak ada habisnya. Mending bom nuklir aja satu dunia.


Quote
Kalo dikaitkan dengan kasus pastor di atas, mungkin Bodhisattva akan membunuh orang yang menyuruhnya memilih siapa yang dibunuh ;D
Itu 'kan kalo bodhisattvanya jagoan atau sakti, di sini pastornya tidak berdaya juga (tidak seperti Priest Class di MMORPG) jadi pilihannya terbatas.


Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.847
  • Reputasi: 268
Re: Tentang Membunuh
« Reply #51 on: 07 March 2014, 09:50:16 AM »
Untuk mercy killing ada kasus tertentu pasiennya sudah dinyatakan mati secara medis walaupun beberapa fungsi organnya masih ada (misalnya otaknya sudah tidak berfungsi tetapi jantungnya masih berdenyut). Kalo sudah dianggap mati seperti ini, ada yang berpendapat menghentikan fungsi organ tubuh yg masih bekerja itu bukan pembunuhan. Namun tentu saja, ini harus meninjau lagi definisi kematian secara Buddhis itu seperti apa....
Ironisnya, secara medis tidak membunuh tapi secara Buddhis malah iya. Sebab kalau medis tinjau dari (batang) otak, sedangkan dari sisi Buddhis, landasan jasmani dari indriya pikiran ada di hadayavatthu.

Offline The Ronald

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.233
  • Reputasi: 89
  • Gender: Male
Re: Tentang Membunuh
« Reply #52 on: 07 March 2014, 09:57:01 AM »
Ironisnya, secara medis tidak membunuh tapi secara Buddhis malah iya. Sebab kalau medis tinjau dari (batang) otak, sedangkan dari sisi Buddhis, landasan jasmani dari indriya pikiran ada di hadayavatthu.

itu menurut theravada only..atau seluruh sekte.. masalah hadayavatthu...
...

Offline Rico Tsiau

  • Kebetulan terjoin ke DC
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.976
  • Reputasi: 117
  • Gender: Male
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Tentang Membunuh
« Reply #53 on: 07 March 2014, 10:25:54 AM »
Ya, topik ini memang sepertinya pernah dibahas sekilas di thread lain. Di sini saya mau coba bahas lebih luas.

Secara teori kamma, memang cetana yang membedakan berat-ringannya akibat. Tapi di sini saya tidak berniat bahas seberapa berat/ringan akibat dari perbuatan, tapi apakah suatu perbuatan ini termasuk kusala/akusala.


yang saya pahami termasuk akusala, terlibat dalam pembunuhan secara langsung (mercy killing, kasus pastor, dll) tetaplah akusala. sekelebat pikiran memilih mengakhiri hidup makhluk lain menurut saya adalah akusala. namun mungkin saja dalam hal ini disamping sekelebat pikiran tersebut ada dan atau didasari atas pikiran belas kasihan yang (mungkin saja) adalah kusala.

so pilih saja konsekwensi. saya pernah baca pepatah zen, "jika bukan aku yang masuk neraka, siapa lagi?" mungkin ini artinya anda sadar melakukan akusala, namun didasari atas belas kasihan = bisar aku masuk neraka, gak apa-apa yang penting bisa meringankan penderitaan makhluk tersebut.

Saya tertarik mencari tau pendapat member-member di sini, apakah pendapatnya seragam atau bervariasi, apakah ada seperti saya yang merasa janggal jika diterapkan dalam kasus tertentu, dll.

entahlah, tapi saya justru tidak melihat kejanggalannya dimana. menurut saya sejalan kok. hanya saja kita dihadapkan pada dilema2 atas pilihan yang sulit. pilihan menjadi peran utama dalam hal ini.

Offline The Ronald

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.233
  • Reputasi: 89
  • Gender: Male
Re: Tentang Membunuh
« Reply #54 on: 07 March 2014, 10:55:12 AM »
Ironisnya, secara medis tidak membunuh tapi secara Buddhis malah iya. Sebab kalau medis tinjau dari (batang) otak, sedangkan dari sisi Buddhis, landasan jasmani dari indriya pikiran ada di hadayavatthu.

tambahan..selain masalah handaya vathhu...  seperti jaman dulu sepertinya ga sulit koq menilai org ini udah mati atau belum..kemudian di bakar (setidak sesulit yg katanya buddhist jaman skrg...krn jaman itu biasanya berdasarkan pengetahuan umum saja), pengecualian di mahaparinibanna sutta
...

Offline Rico Tsiau

  • Kebetulan terjoin ke DC
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.976
  • Reputasi: 117
  • Gender: Male
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Tentang Membunuh
« Reply #55 on: 07 March 2014, 11:18:45 AM »
tambahan..selain masalah handaya vathhu...  seperti jaman dulu sepertinya ga sulit koq menilai org ini udah mati atau belum..kemudian di bakar (setidak sesulit yg katanya buddhist jaman skrg...krn jaman itu biasanya berdasarkan pengetahuan umum saja), pengecualian di mahaparinibanna sutta

ya setuju dengan yang ini.. nah sejalan jika mengacu pada 5 point di awal thread, yaitu mengetahui bahwa makhluk tersebut hidup atau tidak.

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.185
  • Reputasi: 61
  • Gender: Male
Re: Tentang Membunuh
« Reply #56 on: 07 March 2014, 11:26:05 AM »
Menurut Upaya Kausalya Sutra, Bodhisattva pada kehidupan lampau pernah membunuh seorang penjahat yang diketahui akan membunuh banyak orang. Dengan demikian, Bodhisattva menyelamatkan banyak nyawa walaupun ia sendiri harus menderita di neraka.

Kalo dikaitkan dengan kasus pastor di atas, mungkin Bodhisattva akan membunuh orang yang menyuruhnya memilih siapa yang dibunuh ;D

Walaupun memang dikatakan bahwa "Bodhisattva haruslah melanggar sila ketika situasi memaksa", tetapi dalam penjelasan yang saya terima, hal ini hanya boleh dilakukan oleh praktisi tingkat tinggi. Dagpo Rinpoche mengatakan harus sudah Bodhisattva tingkat 7. Pada tingkat ini motivasi melakukan sesuatu tidak tercemar oleh kepentingan diri sendiri dan hanya tergerak oleh welas asih. Pada tingkat ini juga, seseorang sudah tidak mungkin jatuh ke alam rendah, jadi tidak ada resiko besar.

Tapi pada tingkat ini juga, seorang bodhisattva harusnya punya abhinna yg hebat, dan bisa mencegah pembunuhan itu terjadi dengan kesaktian.

Yang ada di sutra, ia tidak mempunyai kesaktian. Tetapi tidak ada cara lain selain membunuh 1 orang itu untuk menyelamatkan 500 orang lain. Ia juga berpikir bahwa kalau dibiarkan, maka 1 orang ini akan masuk neraka karena perbuatan tersebut. Maka untuk menyelamatkan 500 orang dan 1 calon pembunuh, maka ia membunuh si calon pembunuh, dengan kesadaran penuh, dengan menerima resiko bahwa dia sendiri yang akan masuk neraka.

Dikatakan bahwa karena motivasinya benar, maka ia mendapatkan karma baik, bukan karma buruk dari perbuatan itu.
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Tentang Membunuh
« Reply #57 on: 07 March 2014, 11:49:54 AM »

-------
Ada yah sutra-nya? Saya sering dengar ceritanya tapi tidak tau kalau itu dari sutra, kirain kisah-kisah tradisi seperti cerita inspirasi senar oleh pemusik lewat saat bodhisatta menjelang pencerahan.

Yups, Upaya Kausalya Sutra (bukan Saddharmapundarika Sutra bab ttg Upaya Kausalya) merupakan teks Mahayana awal yang berasal dari abad pertama SM. Sedangkan kisah senar berasal dari Mahavastu Avadana, teks Vinaya dari aliran Mahasanghika Lokottaravada (walaupun isinya lebih bersifat Avadana/Apadana daripada Vinaya). #JustInfo #SorryOOT

Quote
Kalau pakai konsep akuntansi begini juga jadi lebih pelik lagi. Bagaimana kalau ternyata orang-orang yang akan dibunuh itu akan membunuh lebih banyak orang lagi. Jadi bunuh 1 menyelamatkan 99, tapi 99 masing-masing akan membunuh 100 orang. Akhirnya 99 terselamatkan, tapi 9900 + 1 orang jadi mati. Bukankah bodhisattva jadi penyebab bencana? Tidak juga, siapa tahu 9900 itu akan membunuh masing-masing 100 orang lagi ... <ad infinitum>
Tidak ada habisnya. Mending bom nuklir aja satu dunia.

Iya, kalo dibuat2 seperti itu mah gak ada habis2nya dong. Lebih baik satu orang tadi tidakdibunuh :hammer:

Quote
Itu 'kan kalo bodhisattvanya jagoan atau sakti, di sini pastornya tidak berdaya juga (tidak seperti Priest Class di MMORPG) jadi pilihannya terbatas.



Iya juga sih. Saya tidak liat videonya dan tidak pernah nonton film itu juga. Tetapi biasanya Bodhisattva memang selalu terlahir sebagai jagoan ;D
« Last Edit: 07 March 2014, 12:14:37 PM by Shinichi »
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Tentang Membunuh
« Reply #58 on: 07 March 2014, 12:19:07 PM »
Walaupun memang dikatakan bahwa "Bodhisattva haruslah melanggar sila ketika situasi memaksa", tetapi dalam penjelasan yang saya terima, hal ini hanya boleh dilakukan oleh praktisi tingkat tinggi. Dagpo Rinpoche mengatakan harus sudah Bodhisattva tingkat 7. Pada tingkat ini motivasi melakukan sesuatu tidak tercemar oleh kepentingan diri sendiri dan hanya tergerak oleh welas asih. Pada tingkat ini juga, seseorang sudah tidak mungkin jatuh ke alam rendah, jadi tidak ada resiko besar.

Tapi pada tingkat ini juga, seorang bodhisattva harusnya punya abhinna yg hebat, dan bisa mencegah pembunuhan itu terjadi dengan kesaktian.

Yang ada di sutra, ia tidak mempunyai kesaktian. Tetapi tidak ada cara lain selain membunuh 1 orang itu untuk menyelamatkan 500 orang lain. Ia juga berpikir bahwa kalau dibiarkan, maka 1 orang ini akan masuk neraka karena perbuatan tersebut. Maka untuk menyelamatkan 500 orang dan 1 calon pembunuh, maka ia membunuh si calon pembunuh, dengan kesadaran penuh, dengan menerima resiko bahwa dia sendiri yang akan masuk neraka.

Dikatakan bahwa karena motivasinya benar, maka ia mendapatkan karma baik, bukan karma buruk dari perbuatan itu.

Wah, apakah ini juga bisa menjadi pembenaran bagi seseorang yang menganggap dirinya praktisi tingkat tinggi lalu membunuh seorang penjahat untuk menyeberangkannya ke alam yang lebih baik?
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.185
  • Reputasi: 61
  • Gender: Male
Re: Tentang Membunuh
« Reply #59 on: 07 March 2014, 12:44:54 PM »
Wah, apakah ini juga bisa menjadi pembenaran bagi seseorang yang menganggap dirinya praktisi tingkat tinggi lalu membunuh seorang penjahat untuk menyeberangkannya ke alam yang lebih baik?

apapun bisa jadi pembenaran, apalagi sutra mahayana, sudah terlalu sering disalahgunakan

Sebenarnya ini peringatan. Kalau saya, saya sendiri merasa membangkitkan bodhicitta yang spontan saja tidak bisa, bagaimana mungkin bisa disebut bodhisattva? Bodhisattva level 0.1 (kira-kira) itu syaratnya membangkitkan bodhicitta spontan, tanpa dibuat-buat, tanpa perenungan.
Bodhisattva tingkat 7 melihat sunyata. Itu mirip dengan seorang Sotapanna melihat anatta dan nibbana.
Jadi sebenarnya ini peringatan, jangan mencoba-coba melakukan ini kalau belum mampu.

Kalau coba-coba trus dapat karma buruk.... yah tanggung sendiri di neraka
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra