Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Tentang Membunuh  (Read 37888 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.849
  • Reputasi: 268
Re: Tentang Membunuh
« Reply #60 on: 07 March 2014, 01:37:20 PM »
itu menurut theravada only..atau seluruh sekte.. masalah hadayavatthu...
Hadayavatthu bahkan tidak muncul dalam Abhidhamma pitaka Mahavihara, baru muncul pada Atthasalini, sudah jauh sekali dari jaman pra-sektarian. Jadi sepertinya memang khas Theravada.

tambahan..selain masalah handaya vathhu...  seperti jaman dulu sepertinya ga sulit koq menilai org ini udah mati atau belum..kemudian di bakar (setidak sesulit yg katanya buddhist jaman skrg...krn jaman itu biasanya berdasarkan pengetahuan umum saja), pengecualian di mahaparinibanna sutta
Dalam kasus normal yah memang tentu tidak sulit. Tapi juga ada di mana mata awam tidak bisa bedakan seperti di Mahaparinibbana sutta (yang masih untung karena ada Anuruddha) atau yang mirip yaitu kasus Aggasavaka Buddha Kassapa, Sanjiva yang dibakar oleh orang-orang yang lewat, dan Pacceka-Buddha yang dibakar oleh kelompok Samavati (di masa lampaunya).

-------

yang saya pahami termasuk akusala, terlibat dalam pembunuhan secara langsung (mercy killing, kasus pastor, dll) tetaplah akusala. sekelebat pikiran memilih mengakhiri hidup makhluk lain menurut saya adalah akusala. namun mungkin saja dalam hal ini disamping sekelebat pikiran tersebut ada dan atau didasari atas pikiran belas kasihan yang (mungkin saja) adalah kusala.

so pilih saja konsekwensi. saya pernah baca pepatah zen, "jika bukan aku yang masuk neraka, siapa lagi?" mungkin ini artinya anda sadar melakukan akusala, namun didasari atas belas kasihan = bisar aku masuk neraka, gak apa-apa yang penting bisa meringankan penderitaan makhluk tersebut.

entahlah, tapi saya justru tidak melihat kejanggalannya dimana. menurut saya sejalan kok. hanya saja kita dihadapkan pada dilema2 atas pilihan yang sulit. pilihan menjadi peran utama dalam hal ini.
Ya, namanya juga opini, maka tentu ada yang merasa janggal, dan tentu ada juga yang merasa baik-baik saja. Maka ada yang betah di satu agama, ada yang tidak cocok. Dengan mengetahui pendapat umum juga bisa dijadikan bahan pembelajaran dalam kehidupan, seperti contoh kasus di atas, kalau orang lagi setengah mati karena susuk, sebaiknya tidak meminta bantuan ke Buddhis, misalnya.



Offline The Ronald

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.233
  • Reputasi: 89
  • Gender: Male
Re: Tentang Membunuh
« Reply #61 on: 07 March 2014, 02:05:37 PM »
yah..untuk mahaparinibanna sutta untung ada YM.Anurunddha... dlm kasus biasa seh.. sepertinya butuh vonis dokter dah cukup..kecuali yg di vonis..sedang keluar masuk jhana..mungkin jd ga tepat vonisnya...tp itu rare banget...
...

Offline juanpedro

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 949
  • Reputasi: 48
  • Gender: Male
Re: Tentang Membunuh
« Reply #62 on: 07 March 2014, 05:35:14 PM »
Hadayavatthu bahkan tidak muncul dalam Abhidhamma pitaka Mahavihara, baru muncul pada Atthasalini, sudah jauh sekali dari jaman pra-sektarian. Jadi sepertinya memang khas Theravada.
Dalam kasus normal yah memang tentu tidak sulit. Tapi juga ada di mana mata awam tidak bisa bedakan seperti di Mahaparinibbana sutta (yang masih untung karena ada Anuruddha) atau yang mirip yaitu kasus Aggasavaka Buddha Kassapa, Sanjiva yang dibakar oleh orang-orang yang lewat, dan Pacceka-Buddha yang dibakar oleh kelompok Samavati (di masa lampaunya).

-------
Ya, namanya juga opini, maka tentu ada yang merasa janggal, dan tentu ada juga yang merasa baik-baik saja. Maka ada yang betah di satu agama, ada yang tidak cocok. Dengan mengetahui pendapat umum juga bisa dijadikan bahan pembelajaran dalam kehidupan, seperti contoh kasus di atas, kalau orang lagi setengah mati karena susuk, sebaiknya tidak meminta bantuan ke Buddhis, misalnya.
setuju :P


Offline melody

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 31
  • Reputasi: 3
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Tentang Membunuh
« Reply #63 on: 08 March 2014, 12:45:10 PM »
Iya, mirip tapi sebetulnya sangat berbeda.
Jadi dibanding kasus ikan, kesamaannya adalah:
1. Sama-sama mengetahui dan sadar bahwa perbuatannya menyebabkan kematian makhluk
2. Perbuatan dilakukan

Perbedaannya adalah dalam kasus ikan, tujuannya adalah ikan mati dan disantap, sedangkan dalam kasus si pastor tujuannya adalah sebagian mati agar sebagian lain hidup. Apakah hal ini yang menyebab satunya disebut pembunuhan dan satunya lagi bukan pembunuhan?

Mengenai "tunjuk atau tidak, tetap akan ada yang dibunuh" ini tidaklah relevan sebab kita tidak mengetahui masa depan. Bisa saja si prajurit Nazinya cuma bercanda, atau 5 detik kemudian kalau si pastor ga milih, langsung sakit jantung dan mati. Ikannya juga mungkin aja waktu mau dibunuh lompat ke selokan dan ngabur, berarti karena dipilih, malah jadi ter-fang-sheng.

kasusnya hampir sama dengan dokter yang menyuruh suami harus memilih antara ibu atau anak yang diselamatkan, tapi menurut saya pastur tersebut memilih bukan berarti berniat membunuh tapi diancam n tindakan memilih bukan berarti ada usaha untuk menjalankan niat membunuh karena bisa saja ia berharap prajuritnya cuma menggertak.

Berarti pasti akusala dan harus dihindari, bukan?
-------
Ada yah sutra-nya? Saya sering dengar ceritanya tapi tidak tau kalau itu dari sutra, kirain kisah-kisah tradisi seperti cerita inspirasi senar oleh pemusik lewat saat bodhisatta menjelang pencerahan.

Kalau pakai konsep akuntansi begini juga jadi lebih pelik lagi. Bagaimana kalau ternyata orang-orang yang akan dibunuh itu akan membunuh lebih banyak orang lagi. Jadi bunuh 1 menyelamatkan 99, tapi 99 masing-masing akan membunuh 100 orang. Akhirnya 99 terselamatkan, tapi 9900 + 1 orang jadi mati. Bukankah bodhisattva jadi penyebab bencana? Tidak juga, siapa tahu 9900 itu akan membunuh masing-masing 100 orang lagi ... <ad infinitum>
Tidak ada habisnya. Mending bom nuklir aja satu dunia.

Itu 'kan kalo bodhisattvanya jagoan atau sakti, di sini pastornya tidak berdaya juga (tidak seperti Priest Class di MMORPG) jadi pilihannya terbatas.



jadi kalo mis ketemu ada orang mo bom bunuh diri lebih baik diam pasrah aja ya? Tidak harus membunuh tapi kalau ada yang menyelamatkan sekumpulan orang dr bom itu, apakah nanti dihitung bagaimana kalo kumpulan orang yang diselamatkan ternyata mau membunuh juga? Sepertinya tidak harus dihitung sampai begitu.
« Last Edit: 08 March 2014, 12:55:39 PM by melody »

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.849
  • Reputasi: 268
Re: Tentang Membunuh
« Reply #64 on: 10 March 2014, 10:03:07 AM »
kasusnya hampir sama dengan dokter yang menyuruh suami harus memilih antara ibu atau anak yang diselamatkan, tapi menurut saya pastur tersebut memilih bukan berarti berniat membunuh tapi diancam n tindakan memilih bukan berarti ada usaha untuk menjalankan niat membunuh karena bisa saja ia berharap prajuritnya cuma menggertak.
Bagi saya pribadi, memang sebuah perbuatan disebut 'membunuh' tidak bisa ditentukan secara sederhana seperti penerapan 5 kriteria mutlak. Tapi itu 'kan opini pribadi saya.

Dalam teori Buddhis, melakukan hal dengan sadar dan sengaja terhadap makhluk yang hasilnya adalah kematian makhluk tersebut disebut membunuh, terlepas dari motivasi dan situasi yang melatar-belakanginya. Dan benar, jika saya memilih dokter kandungan yang kebetulan Buddhis, saya akan tanyakan mengenai ini. Karena jika dalam kasus komplikasi harus memilih mengorbankan salah satu, misalnya ibu/anak, atau anak1/anak2 (dalam kasus kembar {siam}), takutnya si dokter ternyata Sotapanna dan membiarkan kamma saja yang bekerja.


Quote
jadi kalo mis ketemu ada orang mo bom bunuh diri lebih baik diam pasrah aja ya? Tidak harus membunuh tapi kalau ada yang menyelamatkan sekumpulan orang dr bom itu, apakah nanti dihitung bagaimana kalo kumpulan orang yang diselamatkan ternyata mau membunuh juga? Sepertinya tidak harus dihitung sampai begitu.
Memang perhitungan yang absurd. IMO, "penyalahan" cenderung oversimplify dan "pembenaran" cenderung overcomplicate. Saya pribadi tidak cocok keduanya.

Dan kembali lagi, di sini saya hanya mau tahu pemahaman masing-masing orang di sini terhadap definisi pembunuhan, jadi bukan mau "menetapkan" mana benar dan salah, mana kusala dan akusala. Sangat wajar bahwa kusala menurut satu orang adalah akusala bagi orang lain.


Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Tentang Membunuh
« Reply #65 on: 10 March 2014, 11:37:23 AM »
citta anda-lah yang menentukan. Jadi seperti apa citta anda ketika peristiwa itu terjadi, itu-lah yang terjadi...
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline The Ronald

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.233
  • Reputasi: 89
  • Gender: Male
Re: Tentang Membunuh
« Reply #66 on: 10 March 2014, 06:50:03 PM »

Dalam teori Buddhis, melakukan hal dengan sadar dan sengaja terhadap makhluk yang hasilnya adalah kematian makhluk tersebut disebut membunuh, terlepas dari motivasi dan situasi yang melatar-belakanginya. Dan benar, jika saya memilih dokter kandungan yang kebetulan Buddhis, saya akan tanyakan mengenai ini. Karena jika dalam kasus komplikasi harus memilih mengorbankan salah satu, misalnya ibu/anak, atau anak1/anak2 (dalam kasus kembar {siam}), takutnya si dokter ternyata Sotapanna dan membiarkan kamma saja yang bekerja.


klo dari sudut pandang lain.. kek milih anatara anak/ibu yg harus di selamatkan.. "bukan mengorbankan" anak atau ibu, tp lebih condong mana yg di prioritaskan..seandainya 2-2 bisa yah 2-2..tp yg diselamatkan pertama yg mana..tidak ada niat untuk membunuh yg di selamatkan belakangan...

yah mirip2 juga klo ada 2-3 org tengelam.. dan kmu 1-1nya yg bisa berenang, dan punya kemampuan selamatkan 1,2 org sebelum akhirnya capek... org yg ke 3 ga terselamtkan bukan di "bunuh" kmu...krn memang ga berniat gitu
...

Offline btj

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 183
  • Reputasi: 5
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Tentang Membunuh
« Reply #67 on: 11 March 2014, 11:26:50 AM »
Jadi menurut saya kasus pastur tersebut bukanlah termasuk pembunuhan dilihat dari sisi sang pastur. Yang membunuh adalah prajuritnya.

Dari sisi pastur, mirip seperti kisah gempa bumi yang melibatkan 2 orang anak tertimpa beton reruntuhan di mana tim penyelamat memberikan pilihan kepada ibu kedua anak itu utk memilih anak mana yang mau diselamatkan (karena jika diangkat betonnya ke salah satu sisi akan mencelakakan (paling tinggi resikonya adalah mematikan) salah satu anaknya.

Dan ternyata sang Ibu dengan berat hati memilih menyelamatkan yang putra.
Tapi ternyata putrinya tidak mati (dikira mati) dan ditinggal begitu saja...
Andaikan mati maka menurut saya sang ibu tidaklah berniat membunuh putrinya.

Pilihan yang diberikan oleh team penyelamat sangat mendesak waktu gempa terjadi.
Jika tidak segera memutuskan, bisa-bisa membiarkan dua nyawa melayang.

Sang ibu yang maunya menyelamatkan keduanya dengan berat hati  mengatakan "selamatkan yang putra saja" bukan "korbankan yang putri saja".

Andaikan sang pastur menjawab, "jangan bunuh anak kecil", bukan berarti dia menyuruh prajurit untuk membunuh yang dewasa kan, jadi lebih sulit lagi kita mengatakan bahwa pastur tersebut terlibat dalam pembunuhan tersebut dibandingkan jika sang pastur menjawab "tembak yang dewasanya" ?

Offline melody

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 31
  • Reputasi: 3
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Tentang Membunuh
« Reply #68 on: 11 March 2014, 11:48:14 AM »
Bagi saya pribadi, memang sebuah perbuatan disebut 'membunuh' tidak bisa ditentukan secara sederhana seperti penerapan 5 kriteria mutlak. Tapi itu 'kan opini pribadi saya.

Dalam teori Buddhis, melakukan hal dengan sadar dan sengaja terhadap makhluk yang hasilnya adalah kematian makhluk tersebut disebut membunuh, terlepas dari motivasi dan situasi yang melatar-belakanginya. Dan benar, jika saya memilih dokter kandungan yang kebetulan Buddhis, saya akan tanyakan mengenai ini. Karena jika dalam kasus komplikasi harus memilih mengorbankan salah satu, misalnya ibu/anak, atau anak1/anak2 (dalam kasus kembar {siam}), takutnya si dokter ternyata Sotapanna dan membiarkan kamma saja yang bekerja.
mis prajurit tsb juga mengancam, jika tidak memilih, maka semua mati. Maka bila pasturnya tidK memilih berarti dia membunuh juga? karena ia sadar bila ia tidak memilih hasilnya adalah kematian makhluk yang lebih bnyak. Gimana kalo gt?

Quote
Memang perhitungan yang absurd. IMO, "penyalahan" cenderung oversimplify dan "pembenaran" cenderung overcomplicate. Saya pribadi tidak cocok keduanya.

Dan kembali lagi, di sini saya hanya mau tahu pemahaman masing-masing orang di sini terhadap definisi pembunuhan, jadi bukan mau "menetapkan" mana benar dan salah, mana kusala dan akusala. Sangat wajar bahwa kusala menurut satu orang adalah akusala bagi orang lain.
Kalau menurut saya Bodhisatva tersebut melakukan akusala dengan membunuh makanya masuk neraka tapi juga ada kusalanya dari niatnya menyelamatkan orang. n saya tidak paham tentang kusala akusala yang mengacu pada opini orang tapi acuan saya menurut teori Buddhis.

"Jika kamu sedang duduk ditaman dan ada seseorang yang lari ketakutan dan kemudian beberapa menit kemudian ada seseorang yang membawa pisau dan menghampiri kamu dan bertanya kearah mana orang yang tadi pergi, kamu akan katakan yang sebenarnya atau membohonginya?
Jika saya memiliki alasan yang kuat untuk curiga bahwa orang yang kedua itu akan melakukan hal buruk pada orang yang pertama saya akan, sebagai seorang Buddhis yang cerdas dan perhatian, saya tidak akan ragu untuk berdusta. Telah kita katakan sebelumnya bahwa salah satu faktor yang menentukan apakah itu perbuatan baik atau buruk adalah niatnya. Niatnya untuk menyelamatkan jiwa adalah berkali-kali lipat lebih positif dibandingkan mengatakan sebuah kebohongan dalam kasus seperti ini. Jika berbohong, minum minuman keras atau bahkan mencuri tapi dapat menyelamatkan jiwa, saya akan melakukannya. Saya selalu dapat memperbaiki kesalahan karena melanggar Sila tetapi saya tidak akan pernah mengembalikan kehidupan setelah hilang. Meskipun demikian, seperti yang telah dikatakan sebelumnya, mohon jangan menganggap ini sebagai ijin untuk melanggar Sila. Sila harus dipraktekkan dengan penuh perhatian dan hanya dilanggar dalam kasus-kasus ekstrim saja."

Offline sl99

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 408
  • Reputasi: 33
  • Gender: Male
Re: Tentang Membunuh
« Reply #69 on: 11 March 2014, 05:03:03 PM »
Yang umum beredar tentang uraian pembunuhan (panatipata) adalah:
1. Ada makhluk hidup
2. Mengetahui adanya makhluk tersebut
3. Niat untuk membunuh
4. Tindakan membunuh dilakukan
5. Makhluk yang dimaksud mati oleh tindakan pembunuhan itu
NB: Referensinya lupa, kalau ada yang tahu mungkin bisa bantu

Yang ingin saya tanyakan apakah istilah "membunuh" ini mencakup semua tindakan sadar mengetahui konsekwensi 'jika saya lakukan tindakan ini, maka makhluk ini akan mati', ataukah ada pengecualian yang berdasarkan faktor lain?



Ngarang cerita ah:

Umat: Saya mau dana makanan untuk bhante, bhante mau makan ayam atau bebek? Kalo bhante gak milih saya potong dua-duanya.

Kira-kira apa jawaban si bhante? Kalo dia diam saja, apakah dia ikut membunuh?
Dan yang pasti si bhante gak akan makan itu dana :)
Vaya dhamma sankhara, appamadena sampadetha

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Tentang Membunuh
« Reply #70 on: 11 March 2014, 05:30:38 PM »
mis prajurit tsb juga mengancam, jika tidak memilih, maka semua mati. Maka bila pasturnya tidK memilih berarti dia membunuh juga? karena ia sadar bila ia tidak memilih hasilnya adalah kematian makhluk yang lebih bnyak. Gimana kalo gt?
Kalau menurut saya Bodhisatva tersebut melakukan akusala dengan membunuh makanya masuk neraka tapi juga ada kusalanya dari niatnya menyelamatkan orang. n saya tidak paham tentang kusala akusala yang mengacu pada opini orang tapi acuan saya menurut teori Buddhis.

"Jika kamu sedang duduk ditaman dan ada seseorang yang lari ketakutan dan kemudian beberapa menit kemudian ada seseorang yang membawa pisau dan menghampiri kamu dan bertanya kearah mana orang yang tadi pergi, kamu akan katakan yang sebenarnya atau membohonginya?
Jika saya memiliki alasan yang kuat untuk curiga bahwa orang yang kedua itu akan melakukan hal buruk pada orang yang pertama saya akan, sebagai seorang Buddhis yang cerdas dan perhatian, saya tidak akan ragu untuk berdusta. Telah kita katakan sebelumnya bahwa salah satu faktor yang menentukan apakah itu perbuatan baik atau buruk adalah niatnya. Niatnya untuk menyelamatkan jiwa adalah berkali-kali lipat lebih positif dibandingkan mengatakan sebuah kebohongan dalam kasus seperti ini. Jika berbohong, minum minuman keras atau bahkan mencuri tapi dapat menyelamatkan jiwa, saya akan melakukannya. Saya selalu dapat memperbaiki kesalahan karena melanggar Sila tetapi saya tidak akan pernah mengembalikan kehidupan setelah hilang. Meskipun demikian, seperti yang telah dikatakan sebelumnya, mohon jangan menganggap ini sebagai ijin untuk melanggar Sila. Sila harus dipraktekkan dengan penuh perhatian dan hanya dilanggar dalam kasus-kasus ekstrim saja."

Gimana jawaban Buddha ketika ketemu Pangeran Lichavi yang mencari-cari seorang penyanyi yang telah mencuri perhiasan mereka ?
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline melody

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 31
  • Reputasi: 3
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Tentang Membunuh
« Reply #71 on: 12 March 2014, 09:42:45 AM »
Gimana jawaban Buddha ketika ketemu Pangeran Lichavi yang mencari-cari seorang penyanyi yang telah mencuri perhiasan mereka ?

Tidak tahu, knp?

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Tentang Membunuh
« Reply #72 on: 12 March 2014, 10:55:30 AM »
Tidak tahu, knp?

Dhammapada, V:6. Kisah Tiga Puluh Bhikkhu Dari Paveyyakab

Dalam perjalanan dari Uruvela ke Benares, pada suatu hari Sang Buddha tiba di perkebunan kapas dan beristirahat di bawah sebatang pohon yang rindang. Tidak jauh dari tempat itu, tiga puluh orang pemuda sedang bermain-main yang diberi nama Bhaddavaggiya. Dua puluh sembilan orang sudah menikah, hanya seorang belum. Ia rnembawa seorang pelacur. Selagi mereka sedang bermain-main dengan asyik, pelacur tersebut menghilang dengan membawa pergi perhiasan yang mereka letakkan di satu tempat tertentu.

Setelah tahu apa yang terjadi, mereka mencari pelacur tersebut. Melihat Sang Buddha duduk di bawah pohon, mereka menanyakan, apakah Sang Buddha melihat seorang wanita lewat di dekat situ. Atas pertanyaan Sang Buddha, mereka menceritakan apa yang telah terjadi.

Kemudian Sang Buddha berkata, “Oh, Anak-anak muda, cobalah pikir, yang mana yang lebih penting. Menemukan dirimu sendiri atau menemukan seorang pelacur?” Setelah mereka menjawab bahwa lebih penting menemukan diri mereka sendiri, maka Sang Buddha kemudian berkhotbah tentang Anupubbikatha dan Empat Kesunyataan Mulia. Mereka semua memperoleh Mata Dhamma dan mohon ditahbiskan menjadi bhikkhu. Setelah ditahbiskan, mereka dikirim ke tempat-tempat jauh untuk mengajarkan Dhamma.
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline melody

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 31
  • Reputasi: 3
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Tentang Membunuh
« Reply #73 on: 12 March 2014, 11:45:56 AM »
Dhammapada, V:6. Kisah Tiga Puluh Bhikkhu Dari Paveyyakab

Dalam perjalanan dari Uruvela ke Benares, pada suatu hari Sang Buddha tiba di perkebunan kapas dan beristirahat di bawah sebatang pohon yang rindang. Tidak jauh dari tempat itu, tiga puluh orang pemuda sedang bermain-main yang diberi nama Bhaddavaggiya. Dua puluh sembilan orang sudah menikah, hanya seorang belum. Ia rnembawa seorang pelacur. Selagi mereka sedang bermain-main dengan asyik, pelacur tersebut menghilang dengan membawa pergi perhiasan yang mereka letakkan di satu tempat tertentu.

Setelah tahu apa yang terjadi, mereka mencari pelacur tersebut. Melihat Sang Buddha duduk di bawah pohon, mereka menanyakan, apakah Sang Buddha melihat seorang wanita lewat di dekat situ. Atas pertanyaan Sang Buddha, mereka menceritakan apa yang telah terjadi.

Kemudian Sang Buddha berkata, “Oh, Anak-anak muda, cobalah pikir, yang mana yang lebih penting. Menemukan dirimu sendiri atau menemukan seorang pelacur?” Setelah mereka menjawab bahwa lebih penting menemukan diri mereka sendiri, maka Sang Buddha kemudian berkhotbah tentang Anupubbikatha dan Empat Kesunyataan Mulia. Mereka semua memperoleh Mata Dhamma dan mohon ditahbiskan menjadi bhikkhu. Setelah ditahbiskan, mereka dikirim ke tempat-tempat jauh untuk mengajarkan Dhamma.

Tidak ada pangeran Licchali dan penyanyi di atas. Kalau ada orang bawa pisau bertanya pada om dilbert apakah om bakal menjawab manakah yang lebih penting, mencari orang itu atau dirimu sendiri? Kalau dimarahi "jangan bertele2, jawab sekarang atau kubunuh" gimana?

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: Tentang Membunuh
« Reply #74 on: 12 March 2014, 11:57:03 AM »
Dhammapada, V:6. Kisah Tiga Puluh Bhikkhu Dari Paveyyakab

Dalam perjalanan dari Uruvela ke Benares, pada suatu hari Sang Buddha tiba di perkebunan kapas dan beristirahat di bawah sebatang pohon yang rindang. Tidak jauh dari tempat itu, tiga puluh orang pemuda sedang bermain-main yang diberi nama Bhaddavaggiya. Dua puluh sembilan orang sudah menikah, hanya seorang belum. Ia rnembawa seorang pelacur. Selagi mereka sedang bermain-main dengan asyik, pelacur tersebut menghilang dengan membawa pergi perhiasan yang mereka letakkan di satu tempat tertentu.

Setelah tahu apa yang terjadi, mereka mencari pelacur tersebut. Melihat Sang Buddha duduk di bawah pohon, mereka menanyakan, apakah Sang Buddha melihat seorang wanita lewat di dekat situ. Atas pertanyaan Sang Buddha, mereka menceritakan apa yang telah terjadi.

Kemudian Sang Buddha berkata, “Oh, Anak-anak muda, cobalah pikir, yang mana yang lebih penting. Menemukan dirimu sendiri atau menemukan seorang pelacur?” Setelah mereka menjawab bahwa lebih penting menemukan diri mereka sendiri, maka Sang Buddha kemudian berkhotbah tentang Anupubbikatha dan Empat Kesunyataan Mulia. Mereka semua memperoleh Mata Dhamma dan mohon ditahbiskan menjadi bhikkhu. Setelah ditahbiskan, mereka dikirim ke tempat-tempat jauh untuk mengajarkan Dhamma.
emangnya kita bisa memberi jawaban yang sama spt sang buddha??
kok jd ga nyambung ya..
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_