Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi  (Read 74499 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Peacemind

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 970
  • Reputasi: 74
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #30 on: 31 October 2009, 07:44:32 AM »
Ralat: "Nad dikutipan di atas, pada jhana kedua, yang lenyap bukan hanya vitakkavicārā saja tapi juga vacīsaṅkhara, karena memang kedua hal ini bukan hal yang sama", menjadi "Nah dikutipan di atas, pada jhana kedua, yang lenyap bukan hanya vitakkavicārā saja tapi juga vacīsaṅkhara, karena memang kedua hal ini merupakan hal yang sama". Thanks.

Offline Peacemind

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 970
  • Reputasi: 74
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #31 on: 31 October 2009, 10:08:54 AM »
For Dhamma friend, Jerry:

Mengenai pandangan anda bahwa vipassana bisa mengarah pada jhana, saya mempunyai opini tersendiri. Kita tahu bahwa dalam tujuan utama praktik vipassana adalah untuk melenyapkan kekotoran batin. Saya berpendapat ketika pikiran seorang praktisi vipassana bebas dari 5 rintangan batin atau ketika kekotoran2 batinnya berkurang, ia bisa mengarahkan pikirannya pada jhana dan berkonsentrasi pada satu obyek.  Namn saya masih berpikir bahwa jhana tidak bisa dicapai PADA SAAT seseorang mengamati muncul dan lenyapnya obyek yang berbeda2 (setidaknya untuk puthujjana) ketika seseorang mempraktikkan vipassana. Namun KONDISI BATIN yang bebas dari 5 rintangan batin atau kekotoran2 batin lainnya yang dicapai melalui vipassana bisa digunakan seseorang untuk mengarahkan pikirannya kepada pencapaian jhana. Ini hanya pendapat saja dan saya juga tidak menutup pendapt2 lain juga.  :D :D

Namun demikian, ada satu buku menarik yang ditulis oleh Bhikkhu Katukurunde Ñānananda berjudul, “The Magic of the Mind”. Beliau telah membedakan jhana yang dicapai oleh orang biasa dan sekha dengan arahat. Dikatakn bahwa seorang arahat bisa mencapai jhana tanpa harus memusatkan pikirannya terhadap satu obyek. Ini karena seorang arahat telah bebas dari segala kemelekatan, dan papañca (mental proliferation), juga karena arahat telah melihat melalui abhiññā muncul dan lenyapnya fenomena. Karena perbedaaan jhana ini lah, dewa pun bahkan tidak tahu obyek apa yang digunakan seorang arahat untuk mencapai jhana. Beliau mencatat beberapa bukti dan salh satuya terdapat dalam Saddhasutta, AN, V, hal. 323 versi PTS. Di sini ada dua macam orang. Pertama seseorang yang mencapai jhana tergantung pada obyek, kedua tidak tergantung pada obyek. Yang terakhir adalh jhana seorang arahat, sebagai berikut:

So neva pathaviṃ nissāya jhāyati, na āpaṃ nissāya jhāyati, na tejaṃ nissāya jhāyati, na vāyaṃ nissāya jhāyati, na ākāsānañcāyatanaṃ nissāya jhāyati, na viññāṇañcāyatanaṃ nissāya jhāyati, na ākiñcaññāyatanaṃ nissāya jhāyati, na nevasaññānāsaññāyatanaṃ nissāya jhāyati, na idhalokaṃ nissāya jhāyati, na paralokaṃ nissāya jhāyati, yampidaṃ diṭṭhaṃ sutaṃ mutaṃ viññātaṃ pattaṃ pariyesitaṃ anuvicaritaṃ manasā, tampi nissāya na jhāyati; jhāyati ca pana. Evaṃ jhāyiñca pana, saddha, bhadraṃ purisājānīyaṃ saindā devā sabrahmakā sapajāpatikā ārakāva namassanti –

    ‘‘Namo te purisājañña, namo te purisuttama;
    Yassa te nābhijānāma, yampi nissāya jhāyasī’’ti.

Ia (arahat) mencapai jhana tanpa bergantung pada obyek tanah, air, api, udara, landasan angkasa tanpa batas, landasan kesadaran tanpa batas, landasan kekosongan, landasan bukan persepsi atau bukan non-persepsi. Ia mencapai jhana bukan di dunia ini atau di dunia lain. Apapun yang terlihat, terdengar, terasa, terpikir, tercapai, dicari dan dipikir melalui pikiran – ia tidak bergantung pada obyek2 demikian untuk mencapai jhana, tetapi ia masih mencapai jhana. Lebih lanjut, O, Saddha, kepadanya yang mencapai jhana demikian, para dewa bersama-sama raja mereka, dan para brahma bersama-sama permaisuri mereka, menghormati mereka dari  jauh;

    “Kami menghormat anda, manusia murni,
     Kami menghormat anda, manusia utama;
     Apapun obyek yang anda gunakan untuk mencapai jhana,
     Kami sungguh tidak tahu”.

Jadi bisa disimpulkan bahwa bagi seorang arahat, ia bisa mencapai jhana melalui vipassana atau hanya dengan melihat muncul dan lenyapnya fenomena tanpa harus melekat dengan satu pun obyek. Untuk memperjelas ini, saya anjurkan anda untuk membaca buku yang saya sebutkan di atas. Juga satu buku Bhikkhu Katukurunde Ñānananda lainnya, “The Concept and Reality”. I find very interesting here especially how it is possible jhana can be attained without holding any object. That is a real great and wonder thing that can be done by an arahant!

Tentang supra-normal powers yang dicapai melalui pengembangan jhana, memang dalam sutta2 Sang Buddha tidak mengatakn bahwa seseorang harus keluar dari Jhana ketika menjelaskan pencapaian2 kekuatan batin (abhiññā). Seseorang harus keluar dari jhana sebelum mengembangkan kekuatan2 demikian, sebenarnya dijelaskan dalm kitab komentar dan Visuddhimagga secara detil. Visuddhimagga mengatakn, sebagai contoh, bahwa ketika seseorang mau menciptakan tubuhnya menjadi lebih dari satu, ia hendaknya keluar dari jhana dan masuk ke preliminary meditation dan membuat aspirasi untuk menciptakn tubuhnya lebih dari satu. Memang ini bisa diperdebatkan karena ini hanya terdapat dalam Kitab Komentar. Namun jika untuk mencapai kemampuan2 tersebut seseorang masih berada dalam jhana ke-empat, yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana seseorang beraspirasi atau berpikir untuk merubah dirinya menjadi satu, atau ingin melihat pikiran orang lain (cetopariyañana), atau mengingat masa lampau? Padahal dalam jhana ke-empat, vitakkavicārā yang menjadi basis untuk berpikir sudah lenyap. Apakah ia tidak usah berpikir atau membuat aspirasi untuk mengembangkan kekuatan2 tersebut sehingga seseorang tetap berada dalam jhana ke-empat? Ataukah, apakah kekuatan2 demikian akan muncul sendirinya ketika seseorang berada dalam jhana ke-empat? Ini juga merupakan pertanyaan2 yang memerlukan solusi.

May u be happy.


Offline hendrako

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.244
  • Reputasi: 60
  • Gender: Male
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #32 on: 31 October 2009, 08:40:13 PM »
Mungkin hal di atas di-istilahkan dengan sebutan:

Maggasiddhi-Jhana: Dengan hanya melaksanakan pengembangan pandangan terang (Vipassana-Bhavana), kemudian menjadi Arahat dan memperoleh Jhana hasil dari kesucian pikiran dan karma dari kehidupan yang lalu.

(Sumber: Kamus Baru Buddha Dhamma)
yaa... gitu deh

Offline Tekkss Katsuo

  • Sebelumnya wangsapala
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.611
  • Reputasi: 34
  • Gender: Male
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #33 on: 31 October 2009, 11:10:01 PM »
Jhana memang luar biasaaa...

 _/\_

Offline Jerry

  • Sebelumnya xuvie
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.212
  • Reputasi: 124
  • Gender: Male
  • Suffering is optional.. Pain is inevitable..
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #34 on: 01 November 2009, 01:51:21 AM »
_/\_ Sdr Peacemind

Spt biasa, poin2 yg disepakati tdk saya tuliskan lg menghindari tulisan yg terlalu panjang.
Ah syukur saya baca lebih lanjut dan melihat ralat Anda utk vitakka-vicara dan vacisankhara. :)

It's OK, nevermind.. Salah paham masih bisa diluruskan. Itu tak terelakkan dlm diskusi berbentuk tulisan begini di forum. :)

Anumodana, terima kasih utk penjelasan tambahannya mengenai khanikasamadhi dan sankharupekkha-nana ini. Jika sankharupekkha-nana sudah dekat dg nibbana, apakah itu berarti telah melampaui tingkat kesucian sotapanna dan yg lainnya? :)

Soal 5 rintangan batin yg lenyap utk "sementara". Saya kira ini menjadi poin yg krusial juga. Jika kita perhatikan lebih detil pd bagian Dhammanupassana, ttg 5rintangan. Di sana dikatakan:
- ketika terdapat rintangan 'anu' dlm dirinya dia mengetahui bahwa 'rintangan 'anu' ada dlm diriku.'
- ketika tidak terdapat rintangan 'anu' dlm dirinya dia mengetahui bahwa rintangan 'anu' didak ada dlm diriku.
- dia memahami bagaimana munculnya rintangan 'anu' yg belum muncul.
- dia memahami bagaimana lenyapnya rintangan 'anu' yg telah muncul.
- dia memahami bagaimana ketidakmunculan di masa mendatang dr rintangan 'anu' yg belum muncul.

Soal Anupada, maksudnya interpretasi Sdr Peacemind yg mana yah? Yup, utk benar2 tahu ya harus alami dulu.

Yup, sebenarnya pendapat saya juga tidaklah mutlak demikian. Jd sebuah dilema jg dlm diskusi, kepanjangan jadinya OOT, sedangkan tdk lengkap berpotensi salah tanggap. Untungnya saya berdiskusi dg rekan se-Dhamma yg berbaik hati selalu menuntun dan memaklumi saya. :)
BTT, Jika kita lihat dari Satipatthana Sutta misal, terlihat stlh kondisi 5 rintangan disingkirkan, batin dibawa pada kulminasi faktor2 Sambojjhanga yg didalamnya mengandung pula faktor2 Jhana. Tapi dlm Sutta lain ada pula yg lalu dikembangkan pada pencapaian Jhana melalui 4 satipatthana ini. Kembali ke awal, ini semua berbeda bergantung pd pilihan dan kecenderungan2 org tsb dan Sang Buddhalah yg mengetahui scr sempurna ttg ini. Yg sama hanya 1, rasa pembebasannya. :)

Tambahan lg pendapat saya mengapa bisa mencapai Jhana adlh krn Jhana diidentikkan dengan samma-samadhi sbg nama lainnya dlm JMB8.
Pd kesimpulan akhir Satipatthana Sutta dikatakan bahwa jika dipraktekkan dg benar maka ada 2 hasil: entah Arahatta magga&phala, atau Anagami magga&phala. Sedangkan dlm 1 sutta dikatakan Sang Buddha bahwa: sotapanna dan sakadagami adl mereka yg sempurna dlm sila, anagami adl mereka yg sempurna dlm sila dan samadhi dan arahat adl mereka yg sempurna dlm sila samadhi panna. Dari sutta, YA Anuruddha, ketika bbrp kali ditanyakan pencapaian kekuatan abhinna beliau, beliau menjawab bahwa semua itu didapat melalui pengembangan dan pengolahan Satipatthana.
Sejak dulu juga jika Sang Buddha menyuruh siswanya bermeditasi, dikatakan beliau 'praktekkan Jhana' bukannya 'praktekkan samatha' atau 'praktekkan vipassana.' Ini alasan terdahulu saya melalui tulisan Bhante Thanissaro menganggap samatha-vipassana adl kualitas dlm batin kita, bgmn cara kita bereaksi thdp fenomena.

Thanks utk referensi2nya rekan se-Dhamma saya yg baik.. Tapi mungkin agak kesulitan utk memperoleh dlm bahasa Indo yah.. Nanti saya akan cari jika sempat. :)
Oya, krn kita membahas Jhana, sambil tetap menyertakan semangat penyelidikan dhamma hendaknya masing2 kita mengingat pula ttg Acintita Sutta mengenai 4 acinteyya sbg rambu2.
Kalau menurut saya, dia harus membuat aspirasi, ini spt analogi dlm Unnabhabrahmana Sutta yg pernah Bro Peacemind berikan pd saya. Tanpa aspirasi pergi ke taman, ya muter2 di tempat doang kali.. :)
Sebenernya masih panjang, tapi mungkin 1 per 1 aja kita kupas perlahan2. So, till then..

Mettacittena
_/\_
appamadena sampadetha

Offline Peacemind

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 970
  • Reputasi: 74
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #35 on: 01 November 2009, 10:18:34 AM »
For my Dhamma friend, Jerry,

Yap, memang sulit untuk menentukan kebenarannya jika kita masih berkutat melalui logika. Padahal, Sang Buddha dengan jelas mengatakan bahwa apa yang telah beliau capai tidak bisa dipahami melalui logika (adhigato kho myāyaṃ dhammo....atakkāvacaro...). :D :D :D Jadi untuk lebih memahaminya, memang harus merealisasinya.

Dalam Visuddhimagga dan kitab2 komentar, setelah seseorang mencapai Sankharaupekkhañāna, ia harus melanjutkan meditasinya untuk mencapai anulomañāna dan dilanjutkan ke gotrabhuñāna. Dalam gotrabhuñāna, seseorang mencapai kesucian sotapanna dan untuk pertama kalinya ia merealisasi nibbāna. Jadi Saṅkharaupekkhañāna dicapai sebelum seseorang mencapai kesucian sotapanna.

Tentang Anupada sutta, interprestasi saya terletak pada opini bahwa faktor2 jhana yang diceritakan dalam sutta ini bisa dimengerti muncul dan lenyapnya oleh Bhikkhu Sariputta, namun sangat sulit untuk bhikkhu2 lainnya. Namun, tentu saya juga nggak menutup kemungkinan bahwa orang lain pun bisa.

Yap, saya pernah membaca tentang pernyataan Bhikkhu Anuruddha yang mengatakan bahwa kekuatan batin yang beliau miliki berasal dari pengembangn satipaṭṭhāna. Bagi saya, seperti yang saya jelaskan di komen awal, tujuan satipaṭṭhāna (sering diidentifikasikan sebagai vipassana) adalh untuk melenyapkan kekotoran batin, dan batin yang bersih karena praktik kesadaran ini sangat membantu seseorang untuk mengembangkan jhana.

Anda benar bahwa Sang Buddha sangat sering menyuruh para muridnya untuk mengembangkan jhana. Namun ada beberapa sutta di mana Sang BUddha menganjurkan para muridnya untuk mengembangkan kontemplasi yang mana bisa dikategorikan sebagai  praktik vipassana. Girimanandasutta dari Anguttaranikāya, dan Dvayatānupassanāsutta dari Suttanipāta adalah dua di antaranya. Sebagai contoh, dalam Girimanandasutta, Sang Buddha mengatakan:

"Idhānanda, bhikkhu araññagato vā rukkhamūlagato vā suññāgāragato vā iti paṭisañcikkhati – ‘rūpaṃ aniccaṃ, vedanā aniccā, saññā aniccā, saṅkhārā aniccā, viññāṇaṃ anicca’nti."

"Di sini, O, Ānanda, seorang bhikkhu yang pergi ke hutan, ke bawah pohon atau ke rumah kosong, hendaknya merenungkan - 'bentuk adalah tidak kekal, perasaan2 adalh tidak kekal, persepsi2 adalah tidak kekal, bentuk2 pikiran adalah tidak kekal, kesadaran adalh tidak kekal'".

Yap, anda benar, kita memang harus ingat tentang empat hal yang tidak bisa dipikirkan, salah satunya adalah pikiran seorang yang mencapai jhana (Jhāyissa,  bhikkhave,  jhānavisayo acinteyyo,  na  cintetabbo). :D Thanks, for this reminding,

                                                       May u be happy ever

Offline marcedes

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.528
  • Reputasi: 70
  • Gender: Male
  • May All Being Happinesssssssss
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #36 on: 01 November 2009, 11:37:07 AM »
Padahal dalam jhana ke-empat, vitakkavicārā yang menjadi basis untuk berpikir sudah lenyap. Apakah ia tidak usah berpikir atau membuat aspirasi untuk mengembangkan kekuatan2 tersebut sehingga seseorang tetap berada dalam jhana ke-empat? Ataukah, apakah kekuatan2 demikian akan muncul sendirinya ketika seseorang berada dalam jhana ke-empat? Ini juga merupakan pertanyaan2 yang memerlukan solusi.

May u be happy.


menurut beberapa text book, seseorang berniat mengeluarkan abhinna[dalam hal ini membagi tubuh] itu setelah masuk keluar jhana 4.
tapi kalau bicara kesaktian, tuh damien menembuskan uang logam ke botol pakai objek apa ya?.....
Ada penderitaan,tetapi tidak ada yang menderita
Ada jalan tetapi tidak ada yang menempuhnya
Ada Nibbana tetapi tidak ada yang mencapainya.

TALK LESS DO MOREEEEEE !!!

Offline Jerry

  • Sebelumnya xuvie
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.212
  • Reputasi: 124
  • Gender: Male
  • Suffering is optional.. Pain is inevitable..
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #37 on: 01 November 2009, 12:30:31 PM »
menurut beberapa text book, seseorang berniat mengeluarkan abhinna[dalam hal ini membagi tubuh] itu setelah masuk keluar jhana 4.
ya, tp itu penambahan belakangan. kalau berdasarkan yg Sang Buddha jelaskan tdk demikian. paling jelasnya sih utk Jhana, jika stlh mencapai lalu kita mendapatkan pengetahuan supranormal, maka itu Jhana. jika belum, kemungkinannya masih 50:50.

tapi kalau bicara kesaktian, tuh damien menembuskan uang logam ke botol pakai objek apa ya?.....
biar ga oot dr 'pembahasan jhana', ini ga perlu dibahas ya.. atau dithread lain saja.
appamadena sampadetha

Offline Jerry

  • Sebelumnya xuvie
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.212
  • Reputasi: 124
  • Gender: Male
  • Suffering is optional.. Pain is inevitable..
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #38 on: 01 November 2009, 02:47:34 PM »
_/\_ Sdr Peacemind

IMO, tergantung konteksnya beberapa bisa beberapa lagi tidak. Krn jalan tengah bukan mentok pd tahap logika pikiran puthujjana tapi melebihi lagi.

Ic.. Ada sedikit perbedaan terminologi kalau begitu. Saya sih beranggapan seorg sotapanna telah melihat, tapi belum merealisasi. Jadi masih lumayan jauh dr Nibbana. Hanya saja sudah pd point 'no turning back' - sedang meluncur - dan ada garansi 'pasti' nibbana. ;D

Memang benar, ada bbrp lain yg saya tau yg Sang Buddha menjelaskan demikian. Mengambil kesimpulan dr berbagai khotbah Sang Buddha.. IMO, Sang Buddha menjelaskan dhamma scr progresif step by step berdasarkan kecocokan kondisi pendengarnya. Tidak mungkin utk ukuran anak SD lsg diajari kalkulus. Dan tidak perlu lagi bagi mahasiswa jurusan teknik tingkat akhir diajari ulang mengenai IPA dasar.
Demikian pula, kontemplasi itu adl landasan bagi pengembangan konsentrasi awal (vitakka-vicara). Setelahnya, konsentrasi dikembangkan hingga mahir. Sedangkan bagi yg sudah mahir, Sang Buddha mengajarkan aspek penting utk melihat fenomena sbgmn adanya dan melepaskan drnya, merealisasi nibbana. Spt kasus Bahiya misalnya, cukup dg kata2 singkat saja nibbana terealisasi. Tapi itu pd kasus Bahiya! Gmn kalau hendak menyamaratakan semua pengalaman dan persepsi manusia2 yg berbeda utk dicocokkan pd standar 'Bahiya'? Bisa2 malah jadi 'Bahaya' nanti.. ^-^

Sama-sama, reminder penting agar pembahasan tetap pd koridor yg benar yaitu Jhana. :)
Menurut Sdr Peacemind bagaimana? Apakah seseorg yg dlm Jhana 1 utk mencapai Jhana 2 harus keluar terlebih dahulu dr state Jhana 1?

mettacittena
_/\_
appamadena sampadetha

Offline Peacemind

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 970
  • Reputasi: 74
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #39 on: 01 November 2009, 04:21:01 PM »
Dhamma friend, Jerry:

Menurut saya sih, kalau seseorang sudah menguasai (vasi: mastery) pencapaian2 jhana, ia tidak DIHARUSKAN  keluar dari jhana pertama dulu, kembali ke alam indriawi dan baru kemudian masuk ke jhana ke dua. Istilah 'keluar-masuk jhana', menurut pendapat saya, hanya karena perubahan jhana tersebut, seperti dari jhana pertama berubah jhana kedua, dan gap antara jhana pertama dan kedua dikatakn sebagai keluar dari jhana pertama dan masuk ke jhana kedua. Yang ada hanya meredamnya beberapa faktor jhana pertama yang mengkondisikan seseorang untuk mencapai jhana kedua. Dikatakan demikian:

"Vitakkavicārānaṃ vūpasamā ajjhattaṃ sampasādanaṃ cetaso ekodibhāvaṃ avitakkaṃ avicāraṃ samādhijaṃ pītisukhaṃ dutiyaṃ jhānaṃ upasampajja vihāsiṃ.

Bisa diterjemahkan:

"Dengan meredamnya vitakkavicāra (dua faktor jhana pertama), tanpa vitakkavicāra, dengan pikiran menyatu dan tenang, seseorang mencapai dan tinggal dalam jhana kedua, yang disertai kegiuran dan kesukaan muncul karena samādhi".

Jadi tanpa harus kembali ke dunia luar, asalkan vitakka dan vicārā sudah lenyap, seseorang langsung mencapai jhana kedua. Tentu, jika kita melihat beberaap sutta dan juga cerita2 para bhikkhu kuno, seseorang yang sudah memliliki vasi,bisa langsung keluar dulu dari jhana tertentu dan langsung mencapai jhana kedua, ketiga atau jhana2 tinggi lainnya.

                                             May u be happy

Offline pannadevi

  • Samaneri
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.960
  • Reputasi: 103
  • Gender: Female
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #40 on: 01 November 2009, 04:29:13 PM »
btw if u dont mind wld u like to help our stagnants' question abt the 4 great standard, u can do click at uposatha in this link http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,8639.60.html, im much thankful ur kindness.

may u always keeping well n happy

may all beings be happy

mettacittena,

Bro Peacemind yg sy hormati,
salam sejahtera selalu,

saya masih menanti tanggapan anda utk pertanyaan yg sy beri tanda biru dg penebalan.
seblm n sesdhnya diucapkan terima kasih. anumodana.

mettacittena,

Offline char101

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 237
  • Reputasi: 13
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #41 on: 02 November 2009, 08:00:53 AM »
...Sometime I have to go far far away or sometime I go to jungle seeing monkey for long time, and that will not be suitable to be moderator or adviser or anything with this condition.

Umm... what you do when you meet the monkeys?

Offline Peacemind

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 970
  • Reputasi: 74
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #42 on: 02 November 2009, 11:10:10 AM »

Umm... what you do when you meet the monkeys?

When I see monkeys in the jungle, normally, I contemplate within myself 'how lucky I am to be human!' By being a monkey, it is impossible for a person to develop one's mind. If you ever notice the behaviour of monkeys, you will see how they behave. They don't have  mindfulness at all. They live uncontrolled. What they do is only sex, eating, sleeping, fighting and playing. For them, life is for those things. They cannot go beyond. This is why the life of human is so precious... Dullabho manussapatilabho - to be human is rare thing! Seeing monkey and contemplating the fortune to be human, the mind will be filled with joy which in turn supports me to sit comfortably in the jungle, alone, enjoying the present moment,the present breath, surrendering myself to the nature...
« Last Edit: 03 November 2009, 05:02:33 PM by Indra »

Offline Peacemind

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 970
  • Reputasi: 74
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #43 on: 02 November 2009, 11:39:33 AM »

Anumodana utk penjelasannya. Skrg, pertanyaan lebih lanjutnya bagaimana dng perpindahan dari Rupa Jhana 4 ke Arupa Jhana? Meninggalkan dunia bentuk menuju dunia tanpa bentuk? :)

Mettacittena
_/\_

Menurut saya, jawabannya akan sama seperti seseorang keluar dari jhana ke satu dan masuk ke jhana kedua. Salekkhasutta dari Majjhimanikaya dan juga beberapa sutta lain mengatakan demikian:

"idhekacco bhikkhu sabbaso rūpasaññānaṃ samatikkamā, paṭighasaññānaṃ atthaṅgamā, nānattasaññānaṃ amanasikārā, ‘ananto ākāso’ti ākāsānañcāyatanaṃ upasampajja vihareyya".

"Di sini, seorang bhikkhu, mengatasi semua persepsi bentuk (terdapat dalam rūpajhana), dengan lenyapnya persepsi2 tidak menyenangkan (faktor2 dalam rūpajhana), tanpa menghiraukan persepsi yang bermacam-macam, seseorang sadar terhadap angkasa / ruang yang tak terbatas, mencapai dan diam dalam landasan angkasa yang tak terbatas".

Jadi di sini, yang ada hanya meredam faktor2 yang ada dalam jhana ke empat dan mencapai arupajhana pertama -  ākāsānañcāyatana. Namun, bagi seseorang yang memiliki vasi (mastery) over Jhana, ia bisa masuk arupajhana kapan pun ia mau. Sebagai contoh, Bhikkhu Anuruddha dalam Cūlagosingasutta dari Majjhimanikāya mengklaim bahwa jika ia menghendaki, kapanpun ia mau, ia bisa masuk setiap jhana baik rupa maupun arupajhana ....Salah satu statemennya, ketika ditanya Sang BUddha, adalah sebagai berikut:

"Idha  mayaṃ,  bhante,  yāvadeva  ākaṇkhāma  sabbaso rūpasaññānaṃ samatikkamā, paṭighasaññānaṃ atthaṅgamā, nānattasaññānaṃ amanasikārā, ‘ananto ākāso’ti ākāsānañcāyatanaṃ upasampajja viharāma".

"Di sini, bhante, kapanpun kita mau, dengan mengatasi semua persepsi bentuk, dengan lenyapnya persepsi2 tidak menyenangkan, tanpa menghiraukan persepsi yang bermacam-macam, sadar terhadap angkasa / ruang yang tak terbatas, kami mencapai dan diam dalam landasan angkasa yang tak terbatas"

                                                 May u be happy

Offline bond

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.666
  • Reputasi: 189
  • Buddhang Saranam Gacchami...
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #44 on: 03 November 2009, 10:34:43 AM »
Kalau menurut Ajahn Brahm dari jhana 1 masuk jhana ke dua dst seperti memasuki satu pintu demi pintu berikutnya .
Natthi me saranam annam, Buddho me saranam varam, Etena saccavajjena, Sotthi te hotu sabbada