Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi  (Read 55252 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline char101

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 237
  • Reputasi: 13
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #60 on: 04 November 2009, 06:57:50 PM »
Quote
terjadi perbedaan demikian karena kedekatan dan keterkaitan erat dari sifat vitaka dan vicara sehingga dan biasanya ketika seseorang mulai meninggalkan vitaka dan secara otomatis vicara juga ditinggalkan. Lain halnya dengan piti yg memiliki sifat yg kontras dengan vitaka dan vicara. Jadi bisa dikatakan vitaka dan vicara hampir sama dengan pasangan kembar, tapi tidak persis sama.

Tapi apakah perbedaan menyebabkan sang meditator lebih sulit untuk mengeliminasi piti bersamaan dengan vitakka dan vicara....
Sebagai perbandingan, ular dan kalajengking hewan yang sangat berbeda, tapi sebenarnya sama jika kita melihatnya sebagai hewan yang berbahaya dan kita tidak ingin mereka ada di dalam rumah. Demikian juga sang meditator melihat vitakka, vicara, dan piti sebagai tidak stabil dan mengeliminasinya secara bersamaan.

Sebenarnya ini juga tanpa dasar bahwa vitakka, vicara, dan piti dieliminasi bersamaan tapi saya rasa ini hipotesis yang cukup memuaskan dalam arti sesuai dengan Visuddhimagga bahwa dari jhana pertama sang meditator loncat ke jhana ketiga pun tidak bertentangan dengan ajaran Ajahn Brahm bahwa jhana dicapai tahap demi tahap karena jhana kedua (eliminasi piti) sudah tercakup dalam eliminasi ketiga hal di atas.

Quote
Dan kedua dalam hal abhidhamma vs visudhimagga, pembahasan abhidhamma lebih detil kepada proses citta momen per momen saat tercapainya jhana demi jhana, sehingga faktor yg ditanggalkan juga lebih terperinci. sementara Visudhimagga lebih kepada sifat praktek pengalaman pencapaian jhana dan tidak membahas kedetilan proses cittanya.

Benar, tapi abhidhamma juga tidak mengajarkan bahwa dari jhana pertama harus mencapai jhana kedua dulu. Jadi kalau kita katakan ada mediatator yang tidak pernah memiliki citta jhana kedua dalam abhidhamma karena dari jhana pertama ia langsung mencapai jhana ketiga, ini juga tidak bertentangan dengan abhidhamma.

Offline char101

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 237
  • Reputasi: 13
Re: Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #61 on: 04 November 2009, 07:25:42 PM »
Terima kasih atas penjelasannya. Di chapter ini lebih dijelaskan fungsinya dalam penggunaan faktor2 yg diperlukan dalam memunculkan abinna dan kevasian. Seperti saya pernah tulis concern dalam meditasinya sehingga terlihat seperti skip. Tapi jika kita melihat melalui kacamata abhidhamma tentunya door to door. Dan ini bisa diamati melalui vipasanna.

Kacamata abhidhamma yang kita paka sama mereknya tidak ya ;)

Kalau bicara door-to-door saya tidak merasa abhidhamma mengatakan *harus* berurutan, dalam arti, seseorang ingin memunculkan citta jhana ketiga sebelumnya harus berada dalam citta jhana kedua. Mungkin Mr. Bond (James Bond ;D) punya referensi citta-vithi ketika seseorang pindah jhana.

Kecuali memang dijelaskan dalam sutta atau commentary bahwa memang faktor jhana hanya dapat dieliminasi satu persatu, maka saya rasa kita juga tidak dapat mengatakan bahwa pernyataan kalau faktor jhana dapat dieliminasi sekaligus adalah salah.

Quote
Smoga bermanfaat dan semoga pembahasan ini membuat kita semakin berehipasiko

Kalau begitu kita tunggu dulu Mr. Bond untuk mencapai jhana keempat lalu menceritakan kembali pengalamannya di sini  _/\_

Offline bond

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.666
  • Reputasi: 189
  • Buddhang Saranam Gacchami...
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #62 on: 04 November 2009, 07:39:50 PM »
Quote
terjadi perbedaan demikian karena kedekatan dan keterkaitan erat dari sifat vitaka dan vicara sehingga dan biasanya ketika seseorang mulai meninggalkan vitaka dan secara otomatis vicara juga ditinggalkan. Lain halnya dengan piti yg memiliki sifat yg kontras dengan vitaka dan vicara. Jadi bisa dikatakan vitaka dan vicara hampir sama dengan pasangan kembar, tapi tidak persis sama.

Tapi apakah perbedaan menyebabkan sang meditator lebih sulit untuk mengeliminasi piti bersamaan dengan vitakka dan vicara....
Sebagai perbandingan, ular dan kalajengking hewan yang sangat berbeda, tapi sebenarnya sama jika kita melihatnya sebagai hewan yang berbahaya dan kita tidak ingin mereka ada di dalam rumah. Demikian juga sang meditator melihat vitakka, vicara, dan piti sebagai tidak stabil dan mengeliminasinya secara bersamaan.

Sebenarnya ini juga tanpa dasar bahwa vitakka, vicara, dan piti dieliminasi bersamaan tapi saya rasa ini hipotesis yang cukup memuaskan dalam arti sesuai dengan Visuddhimagga bahwa dari jhana pertama sang meditator loncat ke jhana ketiga pun tidak bertentangan dengan ajaran Ajahn Brahm bahwa jhana dicapai tahap demi tahap karena jhana kedua (eliminasi piti) sudah tercakup dalam eliminasi ketiga hal di atas.

Ya memang tidak bertentangan. ini seperti melewati sebuah pintu tanpa mampir terlebih dahulu, karena dia tau pintu itu kurang menarik perhatian.

Quote
Dan kedua dalam hal abhidhamma vs visudhimagga, pembahasan abhidhamma lebih detil kepada proses citta momen per momen saat tercapainya jhana demi jhana, sehingga faktor yg ditanggalkan juga lebih terperinci. sementara Visudhimagga lebih kepada sifat praktek pengalaman pencapaian jhana dan tidak membahas kedetilan proses cittanya.

Benar, tapi abhidhamma juga tidak mengajarkan bahwa dari jhana pertama harus mencapai jhana kedua dulu. Jadi kalau kita katakan ada mediatator yang tidak pernah memiliki citta jhana kedua dalam abhidhamma karena dari jhana pertama ia langsung mencapai jhana ketiga, ini juga tidak bertentangan dengan abhidhamma.

Saya rasa jeda dari 1-3 ada citta jhana ke 2. Seperti kita melihat bola dan langsung tau itu bola. Tapi saya kira ini bukan masalah mendasar  Dan apa yg Anda katakan tidak adanya pertentangan adalah juga benar adanya.

Natthi me saranam annam, Buddho me saranam varam, Etena saccavajjena, Sotthi te hotu sabbada

Offline bond

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.666
  • Reputasi: 189
  • Buddhang Saranam Gacchami...
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #63 on: 04 November 2009, 07:46:40 PM »
Terima kasih atas penjelasannya. Di chapter ini lebih dijelaskan fungsinya dalam penggunaan faktor2 yg diperlukan dalam memunculkan abinna dan kevasian. Seperti saya pernah tulis concern dalam meditasinya sehingga terlihat seperti skip. Tapi jika kita melihat melalui kacamata abhidhamma tentunya door to door. Dan ini bisa diamati melalui vipasanna.

Kacamata abhidhamma yang kita paka sama mereknya tidak ya ;)

Kalau bicara door-to-door saya tidak merasa abhidhamma mengatakan *harus* berurutan, dalam arti, seseorang ingin memunculkan citta jhana ketiga sebelumnya harus berada dalam citta jhana kedua. Mungkin Mr. Bond (James Bond ;D) punya referensi citta-vithi ketika seseorang pindah jhana.

Kecuali memang dijelaskan dalam sutta atau commentary bahwa memang faktor jhana hanya dapat dieliminasi satu persatu, maka saya rasa kita juga tidak dapat mengatakan bahwa pernyataan kalau faktor jhana dapat dieliminasi sekaligus adalah salah.

Masalah dieliminasi sekaligus tentu tidak salah, tetapi pasti ada sedikit jeda. itulah yg saya maksudkan. Bagaimana bro?. Kalau mengacu pada tulisan teks detil saya rasa itu tidak ada(saya tidak hafal abhidhamma hanya tau secara garis besar saja), harus ditanya kepada Guru yg mahir dalam hal ini. Bagaimana pendapat pakar2 abhidhamma disini? ;D siapa tau ada hal2 yg baru bisa diketahui.   

Quote
Smoga bermanfaat dan semoga pembahasan ini membuat kita semakin berehipasiko

Kalau begitu kita tunggu dulu Mr. Bond untuk mencapai jhana keempat lalu menceritakan kembali pengalamannya di sini  _/\_
Mungkin bro bisa share dari pengalamannya  ;D
« Last Edit: 04 November 2009, 07:49:40 PM by bond »
Natthi me saranam annam, Buddho me saranam varam, Etena saccavajjena, Sotthi te hotu sabbada

Offline Peacemind

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 970
  • Reputasi: 74
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #64 on: 04 November 2009, 11:17:08 PM »
jadi mengapa sangBuddha mesti buang-buang waktu memasuki jhana secara berturut-turut?
dan setahu saya yg di puji Sangbuddha dalam jhana juga Kassapa.

Gak tahulah.. kenapa Sang Buddha kok gak langsung Parinibbana saja. :D Yap, dalam Kassapasamyutta, Sang Buddha telah begitu memuji kemampuan Maha Kassapa dalam pencapaian jhana. Namun di beberapa Sutta, beliau juga memuji murid2 lainnya seperti Bhikkhu Sariputta, Maha Mogallana, Anuruddha dan lain2. Sebagai contoh, dalam Anupadasutta dari Majjhimanikaya, kita mendapatkan bagaiman Sang Buddha memuji kemampuan Bhikkhu Sariputta dalam menganalisa faktor2 jhana.

Permisi ikutan nimbrung diskusi jhana, boleh ya….
Menarik sekali mengikuti pembahasan jhana. Saya masih pemula dalam meditasi, saya sering bertanya dalam hati bagaimana cara mencapai jhana yang mudah, yang tidak njlimet. Bila saya mengikuti pembahasan jhana kok berat sekali ya? sedang bagi saya yang rada O’on ini merasa seperti tidak sanggup mencapai jhana. Kemarin saya menemukan di buku Visuddhimagga, bahwa rasa bahagia mampu mengantar kita ke jhana, bahkan mampu terbang ke udara. Dari kisah tsb ada 2 orang yang diceritakan. Seorang anggota Sangha dan seorang Laywoman. Mungkin kalau anggota sangha bisa dibilang lebih mudah mengkonsentrasikan pikiran mengingat beliau2 bukan hal baru dalam hal meditasi, namun disini ada laywoman yang jelas2 sedang mengandung (notabene tidak menjalani hidup selibat) juga melihat usianya masih muda, kemungkinan tertarik dunia meditasi belum seberapa, namun diapun berhasil mencapai jhana dengan mudah. Sehingga di benak saya muncul pemikiran, bahwa teori2 yang njlimet itu, bila kita tidak mengerti (saking njlimetnya), tidak ada salahnya pengalaman ini bisa dicoba, mengingat ada laywoman yang sedang dalam kondisi hamilpun mampu melakukan.

Samaneri, seperti kata saudara Char, di cerita ini, yang dibahas bukan jhana, namun hanya pada pencapaian piti. Piti dan jhana harus dibedakan. Seseorang yang mencapai piti tidak selalu mencapai jhana, namun kalau seseorang mencapai jhana pertama dan kedua, ia juga akan mengalami piti.

Untuk mencapai jhana dengan cepat perlu sukha, keadaan yang berbeda dengan piti, karena sukha adalah penyebab terdekat samadhi. Mungkin bedanya kalau piti terasa di pikiran, kalau sukha (kebahagiaan) terasa di hati. Tapi sukha ketika meditasi muncul ketika 5 nivarana telah ditekan dan biar nivarana mudah ditekan seperti ditulis di Visuddhimagga, dengan cara mencari tempat yang sesuai, postur yang sesuai, dll (lupa sisanya hehe...)

Adakah referensi jika piti terasa di pikiran sedangkan sukha di hati? Thanks.

May you all be happy.

Offline char101

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 237
  • Reputasi: 13
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #65 on: 05 November 2009, 08:03:34 AM »
 [at] Mr. Bond

Quote
...Pasti ada sedikit jeda...

Kalau ada jeda mungkin, tapi kalau pasti saya rasa belum ada referensinya juga. Saya sih status quo aja deh ;D

 [at] Sdr. Peacemind

Quote
Adakah referensi jika piti terasa di pikiran sedangkan sukha di hati? Thanks.

Referensinya diri kita sendiri :) . Biasanya orang bilang perasaan ada di hati, sedangkan piti saya pikir karena cetasika ada di pikiran (di kepala?).

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #66 on: 05 November 2009, 08:11:35 AM »
[at] Sdr. Peacemind

Quote
Adakah referensi jika piti terasa di pikiran sedangkan sukha di hati? Thanks.

Referensinya diri kita sendiri :) . Biasanya orang bilang perasaan ada di hati, sedangkan piti saya pikir karena cetasika ada di pikiran (di kepala?).


Perasaan sejuk, panas, dingin, hidung gatal?

Offline bond

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.666
  • Reputasi: 189
  • Buddhang Saranam Gacchami...
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #67 on: 05 November 2009, 09:01:34 AM »
Quote
Kalau ada jeda mungkin, tapi kalau pasti saya rasa belum ada referensinya juga. Saya sih status quo aja deh Grin


 _/\_
Natthi me saranam annam, Buddho me saranam varam, Etena saccavajjena, Sotthi te hotu sabbada

Offline fabian c

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.095
  • Reputasi: 128
  • Gender: Male
  • 2 akibat pandangan salah: neraka atau rahim hewan
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #68 on: 06 November 2009, 06:25:40 PM »

Anumodana utk penjelasannya. Skrg, pertanyaan lebih lanjutnya bagaimana dng perpindahan dari Rupa Jhana 4 ke Arupa Jhana? Meninggalkan dunia bentuk menuju dunia tanpa bentuk? :)

Mettacittena
_/\_

Menurut saya, jawabannya akan sama seperti seseorang keluar dari jhana ke satu dan masuk ke jhana kedua. Salekkhasutta dari Majjhimanikaya dan juga beberapa sutta lain mengatakan demikian:

"idhekacco bhikkhu sabbaso rūpasaññānaṃ samatikkamā, paṭighasaññānaṃ atthaṅgamā, nānattasaññānaṃ amanasikārā, ‘ananto ākāso’ti ākāsānañcāyatanaṃ upasampajja vihareyya".

"Di sini, seorang bhikkhu, mengatasi semua persepsi bentuk (terdapat dalam rūpajhana), dengan lenyapnya persepsi2 tidak menyenangkan (faktor2 dalam rūpajhana), tanpa menghiraukan persepsi yang bermacam-macam, seseorang sadar terhadap angkasa / ruang yang tak terbatas, mencapai dan diam dalam landasan angkasa yang tak terbatas".

Jadi di sini, yang ada hanya meredam faktor2 yang ada dalam jhana ke empat dan mencapai arupajhana pertama -  ākāsānañcāyatana. Namun, bagi seseorang yang memiliki vasi (mastery) over Jhana, ia bisa masuk arupajhana kapan pun ia mau. Sebagai contoh, Bhikkhu Anuruddha dalam Cūlagosingasutta dari Majjhimanikāya mengklaim bahwa jika ia menghendaki, kapanpun ia mau, ia bisa masuk setiap jhana baik rupa maupun arupajhana ....Salah satu statemennya, ketika ditanya Sang BUddha, adalah sebagai berikut:

"Idha  mayaṃ,  bhante,  yāvadeva  ākaṇkhāma  sabbaso rūpasaññānaṃ samatikkamā, paṭighasaññānaṃ atthaṅgamā, nānattasaññānaṃ amanasikārā, ‘ananto ākāso’ti ākāsānañcāyatanaṃ upasampajja viharāma".

"Di sini, bhante, kapanpun kita mau, dengan mengatasi semua persepsi bentuk, dengan lenyapnya persepsi2 tidak menyenangkan, tanpa menghiraukan persepsi yang bermacam-macam, sadar terhadap angkasa / ruang yang tak terbatas, kami mencapai dan diam dalam landasan angkasa yang tak terbatas"

                                                 May u be happy
wah, setahu saya tidak ada dalam buddhism jhana loncat,,misalkan memasuki jhana 4...langsung dari nimitta langsung zap ke-4...

pasti melalui pintu-pintu 1-2-3-4, kemudian keluar nya pun 4-3-2-1...

kalau memang bisa lompat,buat apa SangBuddha dalam mahaparinibbana memasuki jhana secara berturut-turut?
superpower of mindfullnes buku AjahnBrahm, mengatakan hal serupa....yakni jhana itu harus berturut-turut seperti connection door....

dan lagi dalam jhana tidak bisa sekehendak hati memasuki jhana 2-3-4...dan di perumpamakan seperti lantai licin,..
dari mana bisa pindah, karena tekad awal sebelum memasuki jhana, semakin keras kekuatannya maka sampai pintu 4...kalau lemah yah paling pintu 2 atau 1 ataupun 3.

jadi dalam jhana 1 tidak bisa berpikir bahwa "saya mau ke jhana 2" >> ini mah bukan jhana menurut buku beliau.

Saudara Marcedes yang baik,

Setahu saya menurut Visuddhi magga ada 14 macam Vasi (keahlian yang perlu dilatih oleh seorang meditator untuk menimbulkan Abhinna) diantaranya adalah skipping jhana (yaitu loncat jhana).
Salah satu upasaka utama Sang Buddha yang telah mencapai tingkat kesucian Anagami, ketika berdebat dengan Nigantha Nataputta mengatakan bahwa, bila beliau mau beliau bisa langsung masuk ke Jhana yang lebih tinggi tanpa melalui Jhana pertama.  
Ini sejalan dengan posting teman-teman yang lain.

Referensinya kalau tidak salah ada di Samyutta Nikaya

Mengenai pernyataan Ajaahn Brahm saya rasa yang beliau maksud adalah Jhana harus dilewati satu demi satu oleh meditator pemula bukan untuk meditator yang sudah ahli.

Mengapa bisa loncat demikian? karena meditator tersebut telah menyingkirkan halangan-halangan sehingga menjadi ahli. Pada awal meditasipun juga demikian.

Seorang meditator yang awal meditasi harus memperhatikan keluar masuknya napas di hidung sampai muncul nimitta, tetapi bila meditator itu telah lebih ahli maka walaupun tanpa memperhatikan keluar masuknya napas di hidung, nimitta langsung muncul  dengan sendirinya begitu dia menutup mata untuk bermeditasi.

semoga sharing ini membantu menambah pengertian kita semua.

 _/\_
« Last Edit: 06 November 2009, 06:27:44 PM by fabian c »
Tiga hal ini, O para bhikkhu dilakukan secara rahasia, bukan secara terbuka.
Bercinta dengan wanita, mantra para Brahmana dan pandangan salah.

Tiga hal ini, O para Bhikkhu, bersinar secara terbuka, bukan secara rahasia.
Lingkaran rembulan, lingkaran matahari serta Dhamma dan Vinaya Sang Tathagata

Offline Peacemind

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 970
  • Reputasi: 74
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #69 on: 06 November 2009, 07:09:31 PM »
For Fabian C:

Setuju...!

Offline char101

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 237
  • Reputasi: 13
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #70 on: 06 November 2009, 08:24:05 PM »
Salah satu upasaka utama Sang Buddha yang telah mencapai tingkat kesucian Anagami, ketika berdebat dengan Nigantha Nataputta mengatakan bahwa, bila beliau mau beliau bisa langsung masuk ke Jhana yang lebih tinggi tanpa melalui Jhana pertama. 

Saya baru baca Cittasamyutta, S.iv.299, tentang percakapan Citta dengan Nigantha Nataputta, di situ tidak disebutkan Citta loncat langsung ke jhana-8. NN bertanya apakah Citta percaya kalau vitakka dan vicara bisa dihilangkan. Citta menjawab dia tidak percaya. Lalu dia bertanya kepada NN, mana yang lebih tinggi, pengetahuan atau kepercayaan. NN menjawab kepercayaan. Kemudia Ven. Citta menjelaskan dia bisa mencapai jhana pertama, kemudian jhana kedua (di sini vitakka dan vicara hilang), sampai jhana ke-4.

Offline Peacemind

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 970
  • Reputasi: 74
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #71 on: 06 November 2009, 08:56:01 PM »
Sebenarnya percakapan antara perumah tangga bernama Citta dan pertapa  Nigantha di Cittasaṃyutta kaitannya dengan jhana tidak berbeda dari pernyataan yang ada Cūlagosingasutta. Di Cittasaṃyutta ini pun, setelah Citta mengatakan bahwa pengetahuan lebih penting daripada kepercayaan, ia pun mengatakan bahwa kapan pun ia mau (yāvadeva   ākaṇkhāmi - 'kapanpun saya (Citta) mau'), ia bisa mencapai jhana pertama, kedua, ketiga dan keempat. Kalimat "yāvadeva ākaṇkhāmi" menunjukkan bahwa citta sudah memiliki vasi (mastery). Dan jika kita menerima analisa vasi dalamVisuddhimagga, tentu, skipping jhana telah dimiliki oleh Citta ini.

Be happy.

Offline char101

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 237
  • Reputasi: 13
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #72 on: 06 November 2009, 09:15:52 PM »
Sebenarnya percakapan antara perumah tangga bernama Citta dan pertapa  Nigantha di Cittasaṃyutta kaitannya dengan jhana tidak berbeda dari pernyataan yang ada Cūlagosingasutta. Di Cittasaṃyutta ini pun, setelah Citta mengatakan bahwa pengetahuan lebih penting daripada kepercayaan, ia pun mengatakan bahwa kapan pun ia mau (yāvadeva   ākaṇkhāmi - 'kapanpun saya (Citta) mau'), ia bisa mencapai jhana pertama, kedua, ketiga dan keempat. Kalimat "yāvadeva ākaṇkhāmi" menunjukkan bahwa citta sudah memiliki vasi (mastery). Dan jika kita menerima analisa vasi dalamVisuddhimagga, tentu, skipping jhana telah dimiliki oleh Citta ini.

Quote
"Well, venerable sir, to whatever extent I wish, secluded from sensual pleasures, secluded from unwholesome states, I enter and dwell in the first jhana, which is accompanied by thought and examination, with rapture and happiness born of seclusion. [299] Then, to whatever extent I with, with the subsiding of thought and examination..."

Ada beberapa hal yang menunjukkan bahwa pencapaian jhana Citta tersebut tidak loncat
(1) kata then di kalimat jhana kedua,
(2) jhana kedua disebutkan setelah jhana pertama,
(3) with the subsiding of thought and examination..., artinya thought dan examinationnya ada dulu, baru ditinggalkan, artinya ybs. mencapai jhana pertama dulu, lalu dengan meninggalkan vitakka dan vicara, memasuki jhana kedua

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.382
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #73 on: 06 November 2009, 09:28:44 PM »
saya jug tidak melihat ada indikasi meloncat

Quote
8. ßVenerable sir, when desired I seclude the mind from sensuality and demerit with reasoning and investigation and with pleasant joy born from seclusion, abide in the first high stage of mind. Venerable sir, when desired I overcome reasoning and investigation and with pleasant joy born from concentration abide in the second high stage of mind. Venerable sir, when desired with equanimity to joy and impartiality  re  abide in the third high stage of mind. Venerable sir, when desired I dispel pleasant and unpleasant states and  re fourth high stage of mind. Venerable sir, why should I, knowing and seeing thus, rely on the faith of other recluses and Brahmins, there is concentration without reasoning and investigation and there is cessation of reasoning and investigation. .

mungkin ada rujukan lain?
There is no place like 127.0.0.1

Offline Peacemind

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 970
  • Reputasi: 74
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #74 on: 06 November 2009, 10:24:09 PM »

Quote
"Well, venerable sir, to whatever extent I wish, secluded from sensual pleasures, secluded from unwholesome states, I enter and dwell in the first jhana, which is accompanied by thought and examination, with rapture and happiness born of seclusion. [299] Then, to whatever extent I with, with the subsiding of thought and examination..."

Ada beberapa hal yang menunjukkan bahwa pencapaian jhana Citta tersebut tidak loncat
(1) kata then di kalimat jhana kedua,
(2) jhana kedua disebutkan setelah jhana pertama,
(3) with the subsiding of thought and examination..., artinya thought dan examinationnya ada dulu, baru ditinggalkan, artinya ybs. mencapai jhana pertama dulu, lalu dengan meninggalkan vitakka dan vicara, memasuki jhana kedua

‘‘Ahaṃ kho, bhante, yāvadeva ākaṅkhāmi, vivicceva kāmehi vivicca akusalehi dhammehi savitakkaṃ savicāraṃ vivekajaṃ pītisukhaṃ paṭhamaṃ jhānaṃ upasampajja viharāmi. Ahaṃ kho, bhante, yāvadeva ākaṅkhāmi, vitakkavicārānaṃ vūpasamā…pe… dutiyaṃ jhānaṃ upasampajja viharāmi. Ahaṃ kho, bhante, yāvadeva ākaṅkhāmi, pītiyā ca virāgā…pe… tatiyaṃ jhānaṃ upasampajja viharāmi. Ahaṃ kho, bhante, yāvadeva ākaṅkhāmi, sukhassa ca pahānā…pe… catutthaṃ jhānaṃ upasampajja viharāmi."

Di atas saya ambil dari versi chaṭṭhasangayana. Jika kita melihat pernyataan yang menggunakan bahasa Pāli di atas, sebenarnya, istilah yang secara langsung berarti "then" tidak ada. Setiap kalimat yang merujuk pada pencapaian jhana, selalu diawali dengan kata 'ahaṃ kho' - 'I, indeed'. Kata 'then' tampaknya merupakan kata tambahan yang disisipkan si penerjemah.

Sebenarnya, analisa Sang Buddha atau murid2 Sang Buddha mengenai jhana selalu sama. Mereka selalu mengatakan, sebagai contoh mengenai jhana kedua seperti yang anda katakan, "with the subsiding thought and examination (vitakkavicārānaṃ vūpasamā).....". Jika karena hal ini seseorang harus masuk ke jhana pertama, baru kemudian masuk jhana kedua, maka skipping jhana tidak bisa diterima dan penjelasan dalam Visuddhimagga juga salah karena setiap penjelasan jhana di mana2 sama, baik di Pali kanon maupun kitab komentar.

Be happy.