Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi  (Read 71009 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

Offline marcedes

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.528
  • Reputasi: 70
  • Gender: Male
  • May All Being Happinesssssssss
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #45 on: 03 November 2009, 11:55:31 PM »

Anumodana utk penjelasannya. Skrg, pertanyaan lebih lanjutnya bagaimana dng perpindahan dari Rupa Jhana 4 ke Arupa Jhana? Meninggalkan dunia bentuk menuju dunia tanpa bentuk? :)

Mettacittena
_/\_

Menurut saya, jawabannya akan sama seperti seseorang keluar dari jhana ke satu dan masuk ke jhana kedua. Salekkhasutta dari Majjhimanikaya dan juga beberapa sutta lain mengatakan demikian:

"idhekacco bhikkhu sabbaso rūpasaññānaṃ samatikkamā, paṭighasaññānaṃ atthaṅgamā, nānattasaññānaṃ amanasikārā, ‘ananto ākāso’ti ākāsānañcāyatanaṃ upasampajja vihareyya".

"Di sini, seorang bhikkhu, mengatasi semua persepsi bentuk (terdapat dalam rūpajhana), dengan lenyapnya persepsi2 tidak menyenangkan (faktor2 dalam rūpajhana), tanpa menghiraukan persepsi yang bermacam-macam, seseorang sadar terhadap angkasa / ruang yang tak terbatas, mencapai dan diam dalam landasan angkasa yang tak terbatas".

Jadi di sini, yang ada hanya meredam faktor2 yang ada dalam jhana ke empat dan mencapai arupajhana pertama -  ākāsānañcāyatana. Namun, bagi seseorang yang memiliki vasi (mastery) over Jhana, ia bisa masuk arupajhana kapan pun ia mau. Sebagai contoh, Bhikkhu Anuruddha dalam Cūlagosingasutta dari Majjhimanikāya mengklaim bahwa jika ia menghendaki, kapanpun ia mau, ia bisa masuk setiap jhana baik rupa maupun arupajhana ....Salah satu statemennya, ketika ditanya Sang BUddha, adalah sebagai berikut:

"Idha  mayaṃ,  bhante,  yāvadeva  ākaṇkhāma  sabbaso rūpasaññānaṃ samatikkamā, paṭighasaññānaṃ atthaṅgamā, nānattasaññānaṃ amanasikārā, ‘ananto ākāso’ti ākāsānañcāyatanaṃ upasampajja viharāma".

"Di sini, bhante, kapanpun kita mau, dengan mengatasi semua persepsi bentuk, dengan lenyapnya persepsi2 tidak menyenangkan, tanpa menghiraukan persepsi yang bermacam-macam, sadar terhadap angkasa / ruang yang tak terbatas, kami mencapai dan diam dalam landasan angkasa yang tak terbatas"

                                                 May u be happy
wah, setahu saya tidak ada dalam buddhism jhana loncat,,misalkan memasuki jhana 4...langsung dari nimitta langsung zap ke-4...

pasti melalui pintu-pintu 1-2-3-4, kemudian keluar nya pun 4-3-2-1...

kalau memang bisa lompat,buat apa SangBuddha dalam mahaparinibbana memasuki jhana secara berturut-turut?
superpower of mindfullnes buku AjahnBrahm, mengatakan hal serupa....yakni jhana itu harus berturut-turut seperti connection door....

dan lagi dalam jhana tidak bisa sekehendak hati memasuki jhana 2-3-4...dan di perumpamakan seperti lantai licin,..
dari mana bisa pindah, karena tekad awal sebelum memasuki jhana, semakin keras kekuatannya maka sampai pintu 4...kalau lemah yah paling pintu 2 atau 1 ataupun 3.

jadi dalam jhana 1 tidak bisa berpikir bahwa "saya mau ke jhana 2" >> ini mah bukan jhana menurut buku beliau.
« Last Edit: 03 November 2009, 11:58:54 PM by marcedes »
Ada penderitaan,tetapi tidak ada yang menderita
Ada jalan tetapi tidak ada yang menempuhnya
Ada Nibbana tetapi tidak ada yang mencapainya.

TALK LESS DO MOREEEEEE !!!

Offline Peacemind

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 970
  • Reputasi: 74
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #46 on: 04 November 2009, 01:34:10 AM »
wah, setahu saya tidak ada dalam buddhism jhana loncat,,misalkan memasuki jhana 4...langsung dari nimitta langsung zap ke-4...

pasti melalui pintu-pintu 1-2-3-4, kemudian keluar nya pun 4-3-2-1...

kalau memang bisa lompat,buat apa SangBuddha dalam mahaparinibbana memasuki jhana secara berturut-turut?
superpower of mindfullnes buku AjahnBrahm, mengatakan hal serupa....yakni jhana itu harus berturut-turut seperti connection door....

dan lagi dalam jhana tidak bisa sekehendak hati memasuki jhana 2-3-4...dan di perumpamakan seperti lantai licin,..
dari mana bisa pindah, karena tekad awal sebelum memasuki jhana, semakin keras kekuatannya maka sampai pintu 4...kalau lemah yah paling pintu 2 atau 1 ataupun 3.

jadi dalam jhana 1 tidak bisa berpikir bahwa "saya mau ke jhana 2" >> ini mah bukan jhana menurut buku beliau.

       Saya yakin bahwa Ajahn Brahmavamso berbicara sesuai dengan pengalaman beliau. Namun kita pun harus ingat bahwa pengalaman setiap orang tidak harus sama. Sesuai dengan pengalaman beliau, seseorang tidak bisa meloncat, sebagai contoh, dari Jhana pertama ke Jhana ketiga. Akan tetapi, Cūlagosinga Sutta menyebutkan bahwa Bhikkhu Anuruddha dan dua orang kawannya memiliki kemampuan demikian. Jika anda berpendapat hal tersebut tidak mungkin karena Sang Buddha sendiri masuk dan keluar jhana secara berurutan sebelum mencapai parinibbāna, mengapa di sutta yang sy sebutkan tadi Sang Buddha justru memuji kemampuan ketiga muridnya itu?

        Dalam Visuddhimagga bagian Iddhividha-niddesa, seseorang yang memiliki vasi (mastery) terhadap jhana, dikatakn memiliki 14 macam kemampuan. Beberapa di antaranya adalah:

1.   Jhānānuloma (pencapaian jhana2 secara berurutan ke atas). Artinya, seseorang mencapai jhana secara berurutan dari jhana pertama ke jhana kedua, ketiga dan seterusnya.
2.   Jhānapaṭiloma (pencapaian jhana secara reverse / berbalik). Artinya, seseorang mencapai jhana dari jhana kedelapan, kemudian masuk ketujuh, keenam dan seterusnya.
3.   Jhānānulomapaṭiloma (pencapaian jhana secara berurutan dan berbalik). Seseorang mencapai jhana dari jhana pertama ke jhana2 di atas sesuai dengan urutan dan kemudian dari yang paling tinggi secara berurutan turun ke jhana terendah.
4.   Jhānukkantika (melompat / skipping the jhana).
Vasi yang keempat inilah yang sangat relevan dengan apa yang saya katakn di atas. Dalam Visuddhimagga, dikatakan demikian:

“Pathavīkasiṇe  pana paṭhamaṃ jhānaṃ samāpajjitvā tattheva tatiyaṃ samāpajjati, tato tadeva ugghāṭetva  ākāsānañcāyatanaṃ,  tato  ākiñcaññāyatananti  evaṃ kasiṇaṃ anukkamitvā jhānasseva ekantarikabhāvena ukkamanaṃ jhānukkantikaṃ nāma”.
 
       Yang bisa diterjemahkan sebagai berikut:

“Setelah mencapai Jhana pertama melalui obyek tanah, ia langsung masuk ke jhana ketiga melalui obyek yang sama. Setelah meninggalkan (obyek kasina di jhana ketiga), ia langsung mencapai landasan ruang tanpa batas. Setelah itu, ia mencapai landasan ruang tak terbatas, ia mencapai landasan kekosongan”.

        Nah di sini, sangat jelas bahwa seseorang yang memiliki vasi khususnya Jhānukkantika bisa melompat dari jhana pertama ke jhana ketiga, dari jhana ketiga langsung ke arupajhana pertama, dari arupajhana pertama langsung ke arupajhana ketiga.

Be happy.

Offline marcedes

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.528
  • Reputasi: 70
  • Gender: Male
  • May All Being Happinesssssssss
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #47 on: 04 November 2009, 09:38:54 AM »
wah, setahu saya tidak ada dalam buddhism jhana loncat,,misalkan memasuki jhana 4...langsung dari nimitta langsung zap ke-4...

pasti melalui pintu-pintu 1-2-3-4, kemudian keluar nya pun 4-3-2-1...

kalau memang bisa lompat,buat apa SangBuddha dalam mahaparinibbana memasuki jhana secara berturut-turut?
superpower of mindfullnes buku AjahnBrahm, mengatakan hal serupa....yakni jhana itu harus berturut-turut seperti connection door....

dan lagi dalam jhana tidak bisa sekehendak hati memasuki jhana 2-3-4...dan di perumpamakan seperti lantai licin,..
dari mana bisa pindah, karena tekad awal sebelum memasuki jhana, semakin keras kekuatannya maka sampai pintu 4...kalau lemah yah paling pintu 2 atau 1 ataupun 3.

jadi dalam jhana 1 tidak bisa berpikir bahwa "saya mau ke jhana 2" >> ini mah bukan jhana menurut buku beliau.

       Saya yakin bahwa Ajahn Brahmavamso berbicara sesuai dengan pengalaman beliau. Namun kita pun harus ingat bahwa pengalaman setiap orang tidak harus sama. Sesuai dengan pengalaman beliau, seseorang tidak bisa meloncat, sebagai contoh, dari Jhana pertama ke Jhana ketiga. Akan tetapi, Cūlagosinga Sutta menyebutkan bahwa Bhikkhu Anuruddha dan dua orang kawannya memiliki kemampuan demikian. Jika anda berpendapat hal tersebut tidak mungkin karena Sang Buddha sendiri masuk dan keluar jhana secara berurutan sebelum mencapai parinibbāna, mengapa di sutta yang sy sebutkan tadi Sang Buddha justru memuji kemampuan ketiga muridnya itu?

        Dalam Visuddhimagga bagian Iddhividha-niddesa, seseorang yang memiliki vasi (mastery) terhadap jhana, dikatakn memiliki 14 macam kemampuan. Beberapa di antaranya adalah:

1.   Jhānānuloma (pencapaian jhana2 secara berurutan ke atas). Artinya, seseorang mencapai jhana secara berurutan dari jhana pertama ke jhana kedua, ketiga dan seterusnya.
2.   Jhānapaṭiloma (pencapaian jhana secara reverse / berbalik). Artinya, seseorang mencapai jhana dari jhana kedelapan, kemudian masuk ketujuh, keenam dan seterusnya.
3.   Jhānānulomapaṭiloma (pencapaian jhana secara berurutan dan berbalik). Seseorang mencapai jhana dari jhana pertama ke jhana2 di atas sesuai dengan urutan dan kemudian dari yang paling tinggi secara berurutan turun ke jhana terendah.
4.   Jhānukkantika (melompat / skipping the jhana).
Vasi yang keempat inilah yang sangat relevan dengan apa yang saya katakn di atas. Dalam Visuddhimagga, dikatakan demikian:

“Pathavīkasiṇe  pana paṭhamaṃ jhānaṃ samāpajjitvā tattheva tatiyaṃ samāpajjati, tato tadeva ugghāṭetva  ākāsānañcāyatanaṃ,  tato  ākiñcaññāyatananti  evaṃ kasiṇaṃ anukkamitvā jhānasseva ekantarikabhāvena ukkamanaṃ jhānukkantikaṃ nāma”.
 
       Yang bisa diterjemahkan sebagai berikut:

“Setelah mencapai Jhana pertama melalui obyek tanah, ia langsung masuk ke jhana ketiga melalui obyek yang sama. Setelah meninggalkan (obyek kasina di jhana ketiga), ia langsung mencapai landasan ruang tanpa batas. Setelah itu, ia mencapai landasan ruang tak terbatas, ia mencapai landasan kekosongan”.

        Nah di sini, sangat jelas bahwa seseorang yang memiliki vasi khususnya Jhānukkantika bisa melompat dari jhana pertama ke jhana ketiga, dari jhana ketiga langsung ke arupajhana pertama, dari arupajhana pertama langsung ke arupajhana ketiga.

Be happy.

jadi mengapa sangBuddha mesti buang-buang waktu memasuki jhana secara berturut-turut?
dan setahu saya yg di puji Sangbuddha dalam jhana juga Kassapa.
Ada penderitaan,tetapi tidak ada yang menderita
Ada jalan tetapi tidak ada yang menempuhnya
Ada Nibbana tetapi tidak ada yang mencapainya.

TALK LESS DO MOREEEEEE !!!

Offline pannadevi

  • Samaneri
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.960
  • Reputasi: 103
  • Gender: Female
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #48 on: 04 November 2009, 09:53:45 AM »
Permisi ikutan nimbrung diskusi jhana, boleh ya….
Menarik sekali mengikuti pembahasan jhana. Saya masih pemula dalam meditasi, saya sering bertanya dalam hati bagaimana cara mencapai jhana yang mudah, yang tidak njlimet. Bila saya mengikuti pembahasan jhana kok berat sekali ya? sedang bagi saya yang rada O’on ini merasa seperti tidak sanggup mencapai jhana. Kemarin saya menemukan di buku Visuddhimagga, bahwa rasa bahagia mampu mengantar kita ke jhana, bahkan mampu terbang ke udara. Dari kisah tsb ada 2 orang yang diceritakan. Seorang anggota Sangha dan seorang Laywoman. Mungkin kalau anggota sangha bisa dibilang lebih mudah mengkonsentrasikan pikiran mengingat beliau2 bukan hal baru dalam hal meditasi, namun disini ada laywoman yang jelas2 sedang mengandung (notabene tidak menjalani hidup selibat) juga melihat usianya masih muda, kemungkinan tertarik dunia meditasi belum seberapa, namun diapun berhasil mencapai jhana dengan mudah. Sehingga di benak saya muncul pemikiran, bahwa teori2 yang njlimet itu, bila kita tidak mengerti (saking njlimetnya), tidak ada salahnya pengalaman ini bisa dicoba, mengingat ada laywoman yang sedang dalam kondisi hamilpun mampu melakukan.

Visuddhimagga, page 141-142.[First Jhana]

95.  uplifting happiness can be powerful enough to levitate the body and make it spring up into the air.  For this was what happened to the elder Maha-Tissa, resident at Punnavallika.  He went to the shrine terrace on the evening of the full-moon day.  Seeing the moonlight, he faced in the direction of the great shrine [at Anuradhapura], thingking ‘At this very hour assemblies are worshipping at the Great Shrine!’ By means of objects formerly seen [there] he aroused uplifting happiness with the Enlightened One as object, and he rose into the air like a painted ball bounced off a plastered floor and alighted on the terrace of the Great Shrine.
96. and this was what happened to the daughter of a clan in the village of vattakalaka near the Girikandaka Monastery when she sprang up into the air owing to strong uplifting happiness with the Enlightened One as object.  As her parents were about to go to the monastery in the evening, it seems, in order to hear Dhamma, they told her :’My dear, you are expecting a child; you cannot go out an unsuitable time.  We shall hear the Dhamma and gain merit for you’. So they went out.  And though she wanted to go too, she could not well object to what they said.  She stepped out of the house onto the balcony and stood looking at the Akasacetiya Shrine at Girikandaka lit by the moon.  She saw the offering of lamps at the shrine, and the four communities as they circumambulated it to the right after making their offerings of flowers and perfumes; and she heard the sound of massed recital by the community of bhikkhus.  Then she thought :’how lucky they are to be able to go to the monastery and wander round such a shrine terrace and listen to such sweet preaching of Dhamma!’.  Seeing the shrine as a mound of pearls and arousing uplifting happiness, she sprang up into the air, and before her parents arrived she came down from the air into the shrine terrace, where she paid homage and stood listening to the Dhamma.
97. when the parents arrived, they asked her, ‘what road did you come by?’, she said, ‘I came through the air, not by the road’, and when they told her, ‘My dear, those whose cankers are destroyed come through the air.  But how did you come?’, she replied :’As I was standing looking at the shrine in the moonlight a strong sense of happiness arose in me with the Enlightened One as its object.  Then I knew no more whether I was standing or sitting , but only that I was springing up into the air with the sign that I had grasped, and I came to rest on this shrine terrace’.
   So uplifting happiness can be powerful enough to levitate the body, make it spring up into the air.


Karena member DC beragam, disini saya berusaha menerjemahkan kedalam bhs.Indonesia maaf jika terjemahan jauh dari sempurna, karena keterbatasan saya (mohon dikoreksi donk terjemahan saya, thanks)

95. Mengangkat kebahagiaan bisa merupakan kekuatan yg cukup utk mengapungkan tubuh dan terbang diudara. Hal ini terjadi pada YM. Bhikkhu Maha Tissa, tinggal di Punnavallika.  Di suatu sore hari bulan purnama beliau ke pelataran stupa, ketika sedang memandang sinar bulan purnama, beliau menghadap kearah Maha Stupa di Anuradhapura, beliau berpikir ‘saat ini sekarang para Majelis (perkumpulan para Bhikkhu) sedang melakukan penghormatan di Maha Stupa’. Dengan masih memikirkan hal tsb dengan obyek Sang Buddha yg sebelumnya beliau telah bertemu, kebahagiaan muncul, dan membuat beliau menjulang ke udara seperti bola yang terpental dari lantai dan mendarat di pelataran Maha Stupa.
96. hal ini pula terjadi pada anak perempuan suatu suku dari desa Vattakalaka dekat Vihara Girikandaka ketika dia menjulang ke udara dampak dari mengangkat perasaan bahagia dengan obyek Sang Buddha. Disuatu sore hari mertuanya pergi ke Vihara untuk mendengarkan dhamma desana, mereka berkata kepadanya: ‘Menantuku, kamu sedang hamil, kamu tidak dapat bepergian untuk waktu yang tidak mendukung. Kami akan mendengar dhamma desana dan melakukan kebajikan untuk mu.’ Kemudian mereka berangkat.  Walaupun dia ingin pergi juga, tetapi tidak dapat diwujudkan karena mertuanya telah mengatakan. Dia naik ke balkon rumah dan berdiri sambil memandang Stupa Akasacetiya di Girikandaka dibantu sinar bulan purnama. Dia melihat lilin persembahan di Stupa, dan 4 orang Bhikkhu yg pradaksina dengan bahu menghadap kanan setelah mereka melakukan persembahan bunga-bunga dan pewangian (dupa wangi); dan dia mendengar alunan paritta yg dibaca oleh para Bhikkhu.  Kemudian dia berpikir :’betapa beruntungnya mereka dapat pergi ke Vihara, pradaksina dipelataran Stupa dan mendengar indahnya dhamma desana!’ Sambil memandang Stupa seperti gumpalan mutiara telah membangkitkan kebahagiaan, dia menjulang ke udara dan sebelum mertuanya tiba dia telah turun dari udara ke pelataran Stupa, ditempat dimana dia melakukan penghormatan dan mendengarkan dhamma desana.
97. ketika mertuanya tiba, mereka bertanya kepadanya, ‘kamu datang lewat jalan mana?’, dia menjawab,’saya datang dari udara, tidak lewat jalan’, kemudian mertuanya berkata kepadanya,’menantuku, hanya mereka yg telah bebas dari kekotoran bathin (Arahat) saja yg mampu terbang. Bagaimana hal ini terjadi padamu?’, dia menjawab,’suatu kekuatan yg muncul dari rasa bahagia yang timbul saat mengingat Sang Buddha ketika saya sedang berdiri memandangi Stupa dalam sinar bulan. Kemudian saya ketahui telah tidak berdiri atau duduk tetapi menjulang ke udara dengan perasaan kebahagiaan yg masih menyelimuti saya datang ke pelataran Stupa ini’.
Jadi mengangkat kebahagiaan  dapat menjadi kekuatan yg cukup untuk mengapungkan tubuh, membuat tubuh menjulang ke udara.

Sehingga yg menarik saya adalah hal ini, bahwa siapapun dia, mampu menembus jhana, bahkan yg secara tidak sengaja, karena wanita ini tidak sedang duduk meditasi, tidak sedang melatih diri, tidak sedang mengkondisikan diri utk menembus jhana itupun mampu melakukan.

Pertanyaan saya,
1.   Apakah ini disebabkan timbunan kebajikan beliau2, sehingga dg amat mudahnya menembus jhana?
2.   Apakah beliau2 ini sebenarnya dulu dikelahiran lampau telah mencapai jhana?
3.   Bagi pemula hal ini seperti hembusan angin segar, bahwa kita semua mampu menembus jhana, tapi apakah memang benar  demikian ?

Terima kasih bagi yg bersedia menanggapi saya. Seblm n sesdhnya saya ucapkan anumodana.

May all beings be happy

Mettacittena,
« Last Edit: 04 November 2009, 09:58:06 AM by pannadevi »

Offline char101

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 237
  • Reputasi: 13
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #49 on: 04 November 2009, 10:23:09 AM »
Sehingga yg menarik saya adalah hal ini, bahwa siapapun dia, mampu menembus jhana, bahkan yg secara tidak sengaja, karena wanita ini tidak sedang duduk meditasi, tidak sedang melatih diri, tidak sedang mengkondisikan diri utk menembus jhana itupun mampu melakukan.

Pertanyaan saya,
1.   Apakah ini disebabkan timbunan kebajikan beliau2, sehingga dg amat mudahnya menembus jhana?
2.   Apakah beliau2 ini sebenarnya dulu dikelahiran lampau telah mencapai jhana?
3.   Bagi pemula hal ini seperti hembusan angin segar, bahwa kita semua mampu menembus jhana, tapi apakah memang benar  demikian ?

Saya rasa ceritanya bukan tentang ybs. mencapai jhana tapi tentang uplifting hapiness (rasa senang yang mampu mengangkat). Piti yang timbul ketika jhana itu level di atasnya lagi yang rapturous happiness.

Kalau cerita tentang "gampang"-nya mencapai jhana itu ada di bagian apo-kasina (air).

Quote
Here too, when someone has had practice in previous [lives], the sign arises for him in water that is not made up, such as pool, a lake, a lagoon, or the ocean as in the case of the Elder Cula-Siva. The venerable once, it seems, thought to abandon gain and honour and live a secluded life. He boarded a ship at Mahatittha (Mannar) and sailed to Jambudipa (India). As he gazed at the ocean meanwhile the kasina sign, the counterpart of the ocean, arose in him.

Offline bond

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.666
  • Reputasi: 189
  • Buddhang Saranam Gacchami...
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #50 on: 04 November 2009, 11:02:23 AM »
Sebenarnya Jhānukkantika memang dibilang skip/ langsung. Tetapi jika dilihat secara proses detilnya sebenarnya tidak demikian. Karena kecepatannya dikatakan 'skip' padahal tetap melewati pintu2 sebelumnya. Sama halnya seperti Mogalana ketika menghadapi Naga yg ganas dan SB hanya membiarkan YM. Mogalana yg menghadapinya karena kemampuan vasi Jhanukkantika ini beliaulah yg terbaik, terbaik diantara murid SB. Dalam sekejap langsung masuk jhana 4 dan kemudian bertekad dst.

Ini berhubungan dengan Vasi. Analoginya ketika seseorang dapat melompat sejauh 2 meter, tentunya dia tetap melewati pemandangan/fase yg dilewati. Tetapi karena kemampuan lompatan yg jauh seakan-akan semua itu ter skip.

Lalu dimana perbedaan dengan ketiga vasi  (Jhānānuloma,Jhānapaṭiloma , Jhānānulomapaṭiloma).

Bisa diumpamakan jika kita akan menuju kota F dengan mobil/perjalanan darat tentu melewati kota A,B,C,D,E,dan F satu persatu dan kemudian kembali lagi.

Dalam hal Jhanukkantika maka dengan menggunakan helikopter/pesawat yang langsung menuju kota F. Yang mana sebenarnya kota A s/d E terlewati tetapi tidak menjadi concern dalam perjalanan itu/meditasi.

Sama halnya Jhanukkantika digunakan untuk kasus2 tertentu seperti kasus YM. Mogalana diatas. Maka vasi ini sangat diperlukan.

Metacitena  _/\_
« Last Edit: 04 November 2009, 11:06:36 AM by bond »
Natthi me saranam annam, Buddho me saranam varam, Etena saccavajjena, Sotthi te hotu sabbada

Offline Sunkmanitu Tanka Ob'waci

  • Sebelumnya: Karuna, Wolverine, gachapin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.807
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
  • 会いたい。
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #51 on: 04 November 2009, 11:34:06 AM »
Yup, saya ingat ketikan Mogalana menundukkan Nagaraja Nandopananda, yang bersangkutan adalah yang terbaik.
HANYA MENERIMA UCAPAN TERIMA KASIH DALAM BENTUK GRP
Fake friends are like shadows never around on your darkest days

Offline pannadevi

  • Samaneri
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.960
  • Reputasi: 103
  • Gender: Female
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #52 on: 04 November 2009, 03:35:31 PM »
Sehingga yg menarik saya adalah hal ini, bahwa siapapun dia, mampu menembus jhana, bahkan yg secara tidak sengaja, karena wanita ini tidak sedang duduk meditasi, tidak sedang melatih diri, tidak sedang mengkondisikan diri utk menembus jhana itupun mampu melakukan.

Pertanyaan saya,
1.   Apakah ini disebabkan timbunan kebajikan beliau2, sehingga dg amat mudahnya menembus jhana?
2.   Apakah beliau2 ini sebenarnya dulu dikelahiran lampau telah mencapai jhana?
3.   Bagi pemula hal ini seperti hembusan angin segar, bahwa kita semua mampu menembus jhana, tapi apakah memang benar  demikian ?

Saya rasa ceritanya bukan tentang ybs. mencapai jhana tapi tentang uplifting hapiness (rasa senang yang mampu mengangkat). Piti yang timbul ketika jhana itu level di atasnya lagi yang rapturous happiness.

Kalau cerita tentang "gampang"-nya mencapai jhana itu ada di bagian apo-kasina (air).

Quote
Here too, when someone has had practice in previous [lives], the sign arises for him in water that is not made up, such as pool, a lake, a lagoon, or the ocean as in the case of the Elder Cula-Siva. The venerable once, it seems, thought to abandon gain and honour and live a secluded life. He boarded a ship at Mahatittha (Mannar) and sailed to Jambudipa (India). As he gazed at the ocean meanwhile the kasina sign, the counterpart of the ocean, arose in him.

Bro Char101 yg sy hormati,
salam sejahtera selalu,

sejak anda merespon pertama kali tanggapan ttg Nyanaponika kpd sy dan senior sy otomatis merespon dlm bhs inggris, seketika itu saya merasa anda adalah senior saya yg satunya lagi, tapi setelah sekarang beliau muncul dg nama aslinya, jadi saya juga agak sedikit bingung, namun jika dilihat respon anda ttg monkey in the jungle kpd beliau senior saya itu,saya kembali melihat kalian adalah senior saya, krn itu juga adalah salah satu topic favorite mereka jk diskusi, jadi saya semakin yakin anda senior saya. semoga anda benar senior saya yg sedang study di srilanka sini. jika memang benar terimalah my respect bow to u rev.

yang saya beri tanda penebalan dan berwarna biru itu yg menjadi perhatian saya, karena wanita tsb bisa dibilang hanya beberapa saat saja tiba2 telah menjulang ke langit, jika beliau tidak memiliki timbunan kebajikan masa lampaunya atau pernah jhana masa lampaunya, apakah hal ini memungkinkan? karena seperti sy yg masih pemula lebih2 mengarah ke rada Oon itu, jadi tertarik. jika benar demikian, salah satu trik spy cepat menembus jhana kita buat seluruh konsentrasi kita sepenuh hati dlm keadaan bahagia yg sungguh2 luar biasa. bisakah hal ini ?

klo ttg Elder Cula-Siva krn pengaruh previous life beliau, jadi klo kayak kita yg tdk bisa mengingat kelahiran masa lampau jadi kurang semangat...(wahh...saya bakalan ga mudah jhana nihh...kurang lebih bisa timbul pikiran demikian) saya rasa semua dari kita sekarang ini agak sedikit tertinggal dibanding mereka, amat banyak sekali jaman mereka mampu mengingat kelahiran masa lampau mereka. jadi menurut anda dengan keterbatasan ingatan kita ini (tdk ingat masa lampau) kira2 dg cara diatas bisa ga?

mohon maaf banyak nanya, krn sy membutuhkan banyak belajar dari anda semua...
anumodana atas perhatian anda smg masih bersedia memberikan lagi jawaban kpd saya.

may u always keeping well n happy

mettacittena,

Offline Sunkmanitu Tanka Ob'waci

  • Sebelumnya: Karuna, Wolverine, gachapin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.807
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
  • 会いたい。
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #53 on: 04 November 2009, 03:56:22 PM »
sesuatu muncul karena penyebabnya ada. demikian juga samaneri, orang biasa bisa mencapai jhana bila ada penyebabnya.
gak usah dipusingkan seseorang mencapai jhana dengan cepat atau lambat, karena saya yakin tidak akan terpikirkan. lebih baik berusaha mempraktekkan sendiri.
HANYA MENERIMA UCAPAN TERIMA KASIH DALAM BENTUK GRP
Fake friends are like shadows never around on your darkest days

Offline pannadevi

  • Samaneri
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.960
  • Reputasi: 103
  • Gender: Female
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #54 on: 04 November 2009, 04:18:29 PM »
sesuatu muncul karena penyebabnya ada. demikian juga samaneri, orang biasa bisa mencapai jhana bila ada penyebabnya.
gak usah dipusingkan seseorang mencapai jhana dengan cepat atau lambat, karena saya yakin tidak akan terpikirkan. lebih baik berusaha mempraktekkan sendiri.

Bro Gachapin yang baik,
salam sejahtera selalu my bro in dhamma,

anda benar...memang tidak terpikirkan....dan benar juga yg penting praktek...

kalo membaca teori berat2 bagi pemula agak berat, tapi klo ada cerita kisah nyata yg menarik setidaknya ada sedikit info...

jk yg diceritakan sll berkaitan ttg murid utama Sang Buddha (Ven.Sariputta dan Ven.Maha Moggalana)...sesuai sutta ini dan itu...otomatis kita mikir mereka telah sempurna, sedang dari cerita kisah nyata, jelas2 wanita tsb tidak sedang memposisikan diri meditasi, jadi disini yg menarik, bhw sedang tidak memposisikan diri sedang meditasi. namun menembus jhana. dan mampu terbang...(kayak nya sulit dijaman modern sekarang, kecuali pake SQ kalo ke Singapore, misalnya).

jadi cukup aja sekian ya...anumodana Bro Gachapin my bro in dhamma...

may u always keeping well n happy

mettacittena,

Offline char101

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 237
  • Reputasi: 13
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #55 on: 04 November 2009, 04:37:43 PM »
sejak anda merespon pertama kali tanggapan ttg Nyanaponika kpd sy dan senior sy otomatis merespon dlm bhs inggris, seketika itu saya merasa anda adalah senior saya yg satunya lagi, tapi setelah sekarang beliau muncul dg nama aslinya, jadi saya juga agak sedikit bingung, namun jika dilihat respon anda ttg monkey in the jungle kpd beliau senior saya itu,saya kembali melihat kalian adalah senior saya, krn itu juga adalah salah satu topic favorite mereka jk diskusi, jadi saya semakin yakin anda senior saya. semoga anda benar senior saya yg sedang study di srilanka sini. jika memang benar terimalah my respect bow to u rev.

Bukan saya ;D

Quote
yang saya beri tanda penebalan dan berwarna biru itu yg menjadi perhatian saya, karena wanita tsb bisa dibilang hanya beberapa saat saja tiba2 telah menjulang ke langit, jika beliau tidak memiliki timbunan kebajikan masa lampaunya atau pernah jhana masa lampaunya, apakah hal ini memungkinkan? karena seperti sy yg masih pemula lebih2 mengarah ke rada Oon itu, jadi tertarik. jika benar demikian, salah satu trik spy cepat menembus jhana kita buat seluruh konsentrasi kita sepenuh hati dlm keadaan bahagia yg sungguh2 luar biasa. bisakah hal ini ?

Saya juga tidak tahu ;D , tapi piti yang muncul (mungkin bahasa inggrisnya excitement) tentunya luar biasa sampai bisa mengangkat badan seperti itu. Ini jadi masalah personalitas, untuk sampai ke personalitas tertentu kan banyak faktor, budaya, keluarga, pengalaman hidup, dsb. Saya rasa Samaneri agak terlalu menghubungkan hal ini dengan jhana. Menurut saya Buddhaghosa di sini hanya menjelaskan tentang piti, bukan jhana, agar orang mengerti apa yang dimaksud dengan piti dan jenis-jenisnya.

Untuk mencapai jhana dengan cepat perlu sukha, keadaan yang berbeda dengan piti, karena sukha adalah penyebab terdekat samadhi. Mungkin bedanya kalau piti terasa di pikiran, kalau sukha (kebahagiaan) terasa di hati. Tapi sukha ketika meditasi muncul ketika 5 nivarana telah ditekan dan biar nivarana mudah ditekan seperti ditulis di Visuddhimagga, dengan cara mencari tempat yang sesuai, postur yang sesuai, dll (lupa sisanya hehe...)

Quote
klo ttg Elder Cula-Siva krn pengaruh previous life beliau, jadi klo kayak kita yg tdk bisa mengingat kelahiran masa lampau jadi kurang semangat...(wahh...saya bakalan ga mudah jhana nihh...kurang lebih bisa timbul pikiran demikian) saya rasa semua dari kita sekarang ini agak sedikit tertinggal dibanding mereka, amat banyak sekali jaman mereka mampu mengingat kelahiran masa lampau mereka. jadi menurut anda dengan keterbatasan ingatan kita ini (tdk ingat masa lampau) kira2 dg cara diatas bisa ga?

Saya rasa kisah Cula Siva itu bukan mengingat masa lampau, ybs. hanya mengingat nimitta-nya saja dari objek yang pernah dilatihnya sampai mencapai Jhana. Masalah jhana seperti hal lainnya dalam hidup kita harus memberikan usaha yang sesuai dengan hasil yang diinginkan, dan karena jhana juga hasil yang besar kita perlu memberikan usaha yang besar pula. Khusus jhana ini seperti tidur, semakin kita ingin mencapainya semakin jauh kita darinya. Jadi kalau saya sih mungkin lupakan jhana dan fokus ke objek meditasi.

Offline marcedes

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.528
  • Reputasi: 70
  • Gender: Male
  • May All Being Happinesssssssss
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #56 on: 04 November 2009, 05:22:44 PM »
Sebenarnya Jhānukkantika memang dibilang skip/ langsung. Tetapi jika dilihat secara proses detilnya sebenarnya tidak demikian. Karena kecepatannya dikatakan 'skip' padahal tetap melewati pintu2 sebelumnya. Sama halnya seperti Mogalana ketika menghadapi Naga yg ganas dan SB hanya membiarkan YM. Mogalana yg menghadapinya karena kemampuan vasi Jhanukkantika ini beliaulah yg terbaik, terbaik diantara murid SB. Dalam sekejap langsung masuk jhana 4 dan kemudian bertekad dst.

Ini berhubungan dengan Vasi. Analoginya ketika seseorang dapat melompat sejauh 2 meter, tentunya dia tetap melewati pemandangan/fase yg dilewati. Tetapi karena kemampuan lompatan yg jauh seakan-akan semua itu ter skip.

Lalu dimana perbedaan dengan ketiga vasi  (Jhānānuloma,Jhānapaṭiloma , Jhānānulomapaṭiloma).

Bisa diumpamakan jika kita akan menuju kota F dengan mobil/perjalanan darat tentu melewati kota A,B,C,D,E,dan F satu persatu dan kemudian kembali lagi.

Dalam hal Jhanukkantika maka dengan menggunakan helikopter/pesawat yang langsung menuju kota F. Yang mana sebenarnya kota A s/d E terlewati tetapi tidak menjadi concern dalam perjalanan itu/meditasi.

Sama halnya Jhanukkantika digunakan untuk kasus2 tertentu seperti kasus YM. Mogalana diatas. Maka vasi ini sangat diperlukan.

Metacitena  _/\_
nah, saya juga berpikir demikian......
Ada penderitaan,tetapi tidak ada yang menderita
Ada jalan tetapi tidak ada yang menempuhnya
Ada Nibbana tetapi tidak ada yang mencapainya.

TALK LESS DO MOREEEEEE !!!

Offline char101

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 237
  • Reputasi: 13
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #57 on: 04 November 2009, 06:15:00 PM »
Menurut saya jhana bisa diloncati tanpa bertentangan dengan ajaran Ajahn Brahm bahwa jhana dilewati door to door.

Visuddhimagga tidak mengajarkan meloncati jhana dari upacara samadhi langsung masuk jhana keempat, tapi dari jhana pertama ke jhana ketiga, dari jhana ketiga ke arupa.

Dari jhana pertama loncat ke jhana ketiga artinya vitakka, vicara, dan piti dieliminasi sekaligus. Secara implisit, ini termasuk jhana kedua, hanya dilakukan dengan satu tahap dengan jhana ketiga. Kalau kita lihat di abhidhamma dimana rupa jhana ada 5 sedangkan di sutta ada 4, karena ada orang yang hanya bisa mengeliminasi vittaka dulu baru vicara tapi di sutta vitakka dan vicara dieliminasi sekaligus. Artinya faktor-faktor jhana bisa dieliminasi sekaligus.

Jadi mungkin saja dengan skill yang telah diperoleh, tugas yang kompleks bisa dilakukan dalam satu tahap dalam hal ini mengliminasi vittaka, vicara, dan piti secara bersamaan dan mengeliminasi sukha dan mengubah objek menjadi arupa secara bersamaan. Menurut saya ini sesuai dengan judulnya yaitu mengembangkan keahlian jhana, karena seperti kita lihat pada kasus 5 jhana, orang yang skillful dapat mengeliminasi vittaka dan vicara sekaligus tapi orang yang kurang skillful hanya dapat mengeliminasi satu-satu. Jadi dengan bertambahnya skill seseorang, orang tersebut dapat melalukan hal yang lebih kompleks. Hal ini juga sesuai dengan yang kita temui sehari-hari, dimana orang yang lebih ahli dapat melakukan hal yang lebih kompleks.

Offline bond

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.666
  • Reputasi: 189
  • Buddhang Saranam Gacchami...
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #58 on: 04 November 2009, 06:28:17 PM »
^
^

Bisakah tulis disini mengenai cara memasuki jhana pertama langsung ke jhana ke 3, dan dari ke 3 langsung ke arupa menurut visudhimagga?

Setau saya perbedaan vitaka dan vicara yg dieliminasi menurut visudhimagga adalah jhana 2 (vitaka dan vicara tidak ada) tetapi menurut abhidhamma dijadikan jhana 2 dan 3 (jhana 2 -->vitaka tidak ada, dan jhana 3-->vicara tidak ada)

terjadi perbedaan demikian karena kedekatan dan keterkaitan erat dari sifat vitaka dan vicara sehingga dan biasanya ketika seseorang mulai meninggalkan vitaka dan secara otomatis dan tidak lama kemudian vicara juga ditinggalkan. Lain halnya dengan piti yg memiliki sifat yg kontras dengan vitaka dan vicara. Jadi bisa dikatakan vitaka dan vicara hampir sama dengan pasangan kembar, tapi tidak persis sama. Seperti penopang( to stick on) dan penahan atau maintain .



Dan kedua dalam hal abhidhamma vs visudhimagga, pembahasan abhidhamma lebih detil kepada proses citta momen per momen saat tercapainya jhana demi jhana, sehingga faktor yg ditanggalkan juga lebih terperinci. sementara Visudhimagga lebih kepada sifat praktek pengalaman pencapaian jhana dan tidak membahas kedetilan proses cittanya.

 _/\_
« Last Edit: 04 November 2009, 06:40:59 PM by bond »
Natthi me saranam annam, Buddho me saranam varam, Etena saccavajjena, Sotthi te hotu sabbada

Offline char101

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 237
  • Reputasi: 13
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #59 on: 04 November 2009, 06:39:05 PM »
Bisakah tulis disini mengenai cara memasuki jhana pertama langsung ke jhana ke 3, dan dari ke 3 langsung ke arupa menurut visudhimagga?

Tidak dijelaskan secara detil di Visuddhimagga

Quote
[(1) THE KINDS OF SUPERNORMAL POWER]

If a meditator wants to begin performing the transformation by supernormal power described as 'Having been one, he becomes many', etc., he must achieve the eight attainments in each the eight kasinas ending with the white kasina. He must also have complete control of his mind in the following fourteen ways:...

...

(vii) He skips alternate jhanas without skipping the kasinas in the following way: having first attained the first jhana in the earth kasina, he attains the third jhana in that same kasina, and after that, having removed [the kasina (Ch. X, pp. 6), he attains] the base consisting of boundless space, after that the base consisting of nothingness. THis is called skipping jhanas. And that based on the water kasina, etc., should be construed similarly.

Hal. 370 terjemahan Nanamoli

bond says  :  Terima kasih atas penjelasannya. Di chapter ini lebih dijelaskan fungsinya dalam penggunaan faktor2 yg diperlukan dalam memunculkan abinna dan kevasian. Seperti saya pernah tulis concern dalam meditasinya sehingga terlihat seperti skip. Tapi jika kita melihat melalui kacamata abhidhamma tentunya door to door. Dan ini bisa diamati melalui vipasanna.

Apabila seseorang ingin melatih skipping jhana, meditator harus mahir dalam hal memasuki jhana secara berurutan dan reverse berurutan kecuali dulunya super sakti  ;D

Smoga bermanfaat dan semoga pembahasan ini membuat kita semakin berehipasiko  _/\_
« Last Edit: 04 November 2009, 07:35:03 PM by bond »