Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi  (Read 74503 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

Offline No Pain No Gain

  • Sebelumnya: Doggie
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.796
  • Reputasi: 73
  • Gender: Male
  • ..............????
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #90 on: 26 July 2010, 12:19:27 AM »
Wow.. Ajahn Brahm minjemin Ingyastuti buku nih?? Wah kenal deket dong yah? :D

mksdnya dia minjam buku karangan Ajahn Bram dr seseorang..hahahaha..bukan dr Ajahn Bram
No matter how dirty my past is,my future is still spotless

Offline Jerry

  • Sebelumnya xuvie
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.212
  • Reputasi: 124
  • Gender: Male
  • Suffering is optional.. Pain is inevitable..
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #91 on: 26 July 2010, 12:40:22 AM »
Kita tunggu klarifikasinya aja, kali-kali emang dia dipinjemin Ajahn Brahm langsung ^-^
appamadena sampadetha

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.397
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #92 on: 02 September 2010, 09:51:38 AM »
Updating the article from http://www.leighb.com/jhanantp.htm
There is no place like 127.0.0.1

Offline Jerry

  • Sebelumnya xuvie
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.212
  • Reputasi: 124
  • Gender: Male
  • Suffering is optional.. Pain is inevitable..
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #93 on: 03 September 2010, 03:53:25 AM »
Berhasil ga kalo klik yang bagian "The Mystery of the Breath Nimitta by Bhikkhu Sona"? ??? Aye coba failed.
appamadena sampadetha

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.397
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #94 on: 03 September 2010, 05:01:28 AM »
itu barang lama tapi bagus juga. Dah dilokalin

http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=17877.0
There is no place like 127.0.0.1

Offline fabian c

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.095
  • Reputasi: 128
  • Gender: Male
  • 2 akibat pandangan salah: neraka atau rahim hewan
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #95 on: 03 September 2010, 08:59:43 AM »
Baru kemarin baca artikel dari Leigh Brasington, instruction for entering Jhana. http://www.leighb.com/jhana3.htm
Sekarang menjadi jelas mengapa persepsinya terhadap Jhana berbeda. Berikut kutipan dari sebagian artikelnya.

"If your practice is anapana-sati, there are additional signs to indicate you have arrived at access concentration. You may discover that the breath becomes very subtle; instead of a normal breath, you notice you are breathing very shallow. It may even seem that you've stopped breathing altogether. These are signs that you've arrived at access concentration. If the breath gets very shallow, and particularly if it feels like you've stopped breathing, the natural thing to do is to take a nice, deep breath and get it going again. Wrong!"

Ketika nafas menjadi sangat halus bahkan seolah-olah berhenti dikatakan oleh Leigh Brasington bahwa itu adalah Upacara Samadhi.  :)

Tidak mengherankan Jhana yang dia maksudkan tak ada nimitta, karena dia mengalihkan perhatian dari nafas ketika menjadi sangat halus. Padahal nafas yang menjadi sangat halus adalah pertanda bahwa konsentrasi mulai menjadi baik dan batin mulai menjadi tenang.

Tapi Upacara Samadhi? Masih jauh..... Dan yang lebih parah dia mengalihkan perhatian dari nafas ketika nafas sangat halus. Padahal seharusnya ia tetap memperhatikan nafas dan menjaga perhatian di titik sentuhan hidung. Hingga perlahan-lahan nafas terasa kembali, setelah melewati tahap ini maka ia mulai memasuki tahap konsentrasi yang lebih dalam.

Mungkin ada teman-teman yang mau memberi komentar?
 
_/\_




Tiga hal ini, O para bhikkhu dilakukan secara rahasia, bukan secara terbuka.
Bercinta dengan wanita, mantra para Brahmana dan pandangan salah.

Tiga hal ini, O para Bhikkhu, bersinar secara terbuka, bukan secara rahasia.
Lingkaran rembulan, lingkaran matahari serta Dhamma dan Vinaya Sang Tathagata

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.397
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #96 on: 03 September 2010, 09:52:26 AM »
masalahnya pada definisi "jhana" itu. rasanya kalau mau didebatkan tidak akan habis karena patokan definisi yg digunakan berbeda.

sama halnya kalau ditanya ke leigh pasti nanti yah bilang salah juga. sama kalo ditanya ke aye jg ;D
There is no place like 127.0.0.1

Offline Anshi

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 41
  • Reputasi: 1
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #97 on: 07 September 2010, 11:43:57 PM »
Salah satu faktor jhana adalah ekaggata (eka=tunggal, gata=keadaan, hal menuju). Dari cerita mereka yang pernah mengalami, saat memasuki jhana, mereka merasa seolah-olah tersedot (terserap pada, melengket pada) objek meditasinya. Tidak semua objek bisa membuat seseorang terserap (absorp) seperti ini. Objek yang bisa membuat seseorang terserap seperti inilah yang disebut sebagai nimitta --- istilah yang sepertinya baru muncul belakangan hari setelah parinibbana Buddha --- kalau ia masih berada dalam tataran rupa-jhana. Tetapi kalau ia sudah berada di tataran arupa-jhana, maka objek seperti ini tidak lagi disebut sebagai nimitta, hanya disebut objek meditasi saja. Nimitta secara harafiah berarti tanda, ciri, corak, penampakan. [Dalam sutta, nimitta  sering merujuk ke pengertian yang lain. Istilah yang mirip-mirip dengan pengertian istilah ini yang bisa ditemukan dalam sutta adalah saññā (persepsi). Tidak semua saññā adalah nimitta, tetapi nimitta dipengaruhi persepsi, oleh karena itu sering dikatakan ‘jangan menghiraukan bentuk dan warna dari nimitta karena nimitta bergantung pada persepsi seseorang’. Nimitta bisa di’main-main’kan pikiran.] Sehingga wajar, dalam tataran arupa-jhana tidak dikenal lagi apa yang disebut sebagai nimitta. Misalnya cahaya, tidak semua cahaya yang tampak pada saat sedang melakukan anapanassati bisa dikategorikan sebagai nimitta. Umumnya cahaya yang muncul di sekitar napas saja (di depan ujung hidung atau bibir bagian atas) yang dapat membuat batin terserap, oleh karena itu disebut nimitta. Sedangkan cahaya yang tampak di luar daerah itu termasuk cahaya yang tampak muncul dari tubuh sendiri disebut cahaya kebijaksanaan (paññālokā). Bagi mereka yang sudah mampu melihat kalāpa, dan mampu memilah-milah aneka jenis kalāpa, maka mereka akan menemukan bahwa baik nimitta maupun cahaya kebijaksanaan merupakan utuja-rūpa.

Offline Anshi

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 41
  • Reputasi: 1
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #98 on: 08 September 2010, 10:00:44 PM »
Pada saat seseorang sedang berada dalam jhana ia takkan tahu apa yang terjadi pada batin dan jasmaninya. Karena pada saat seseorang sedang berada di dalam jhana, berarti faktor ekaggata hadir. Kalau ada ekaggata berarti batin terpusat/menunggal dengan objek, tak dapat mengetahui yang lain. Hanya ketika ia sudah keluar dari jhana, barulah ia bisa melihat/mengetahui apa yang terjadi (termasuk faktor-faktor batin yang muncul) ketika berada di dalam jhana. Citta bisa mengetahui citta yang terdahulu. Jadi, misalnya seseorang ingin mengonfirmasi pada jhana keberapakah ia berada, maka begitu keluar dari jhana tersebut ia harus langsung memeriksa faktor-faktor jhana yang hadir dengan mengarahkan perhatian ke hadayavatthu. Batin memiliki momentum. Kalau jarak waktunya terlalu lama maka bisa jadi sudah tidak jelas lagi.

Lantas bagaimana menjelaskan kasus di mana seseorang saat sedang berada di dalam jhana (terutama jhana I) masih bisa terganggu suara? Ini disebabkan orang tersebut saat itu sudah tidak berada di dalam jhana lagi, terutama bagi seseorang yang belum mahir, masih sering keluar masuk jhana (bukan dengan kemauan sendiri).

‘‘Dasayime, bhikkhave, kaṇṭakā. Katame dasa? Pavivekārāmassa saṅgaṇikārāmatā kaṇṭako, asubhanimittānuyogaṃ anuyuttassa subhanimittānuyogo kaṇṭako, indriyesu guttadvārassa visūkadassanaṃ kaṇṭako, brahmacariyassa mātugāmūpacāro kaṇṭako,  paṭhamassa jhānassa saddo kaṇṭako, dutiyassa jhānassa vitakkavicārā kaṇṭakā, tatiyassa jhānassa pīti kaṇṭako, catutthassa jhānassa assāsapassāso kaṇṭako, saññāvedayitanirodhasamāpattiyā saññā ca vedanā ca kaṇṭako rāgo kaṇṭako doso kaṇṭako moho kaṇṭako. [AN v. 134/5]

“.......for the first jhana, noise is the thorn; for the second jhana, applied and sustained thought are a thorn; for the third jhana, rapture is a thorn .......”

Dari kutipan di atas bisa dilihat bahwa suara adalah duri bagi mereka yang berada di jhana I (penomoran berdasarkan sistem Sutta), vitakka-vicara adalah duri bagi mereka yang berada di jhana II, piti adalah duri bagi mereka yang berada di jhana III, dst. Jadi, bagi mereka yang betul-betul berada di jhana I, suara sudah tak ada lagi. Suara, tepatnya, dikatakan merupakan musuh terdekat dari jhana I (seringkali 5 nivarana juga disebut sebagai musuh terdekat jhana I). Karena bagi mereka yang berada di jhana I masih mudah melorot ke upacara-samadhi, di mana suara merupakan gangguan bagi mereka (mereka masih bisa mendengar suara). Demikian pula bagi mereka yang berada di jhana II, musuh terdekatnya adalah vitakka-vicara karena mereka masih mudah melorot ke jhana I (masih ada vitakka-vicara dalam jhana I).

Saat melakukan vipassana, agar bisa melihat fenomena batin dan jasmani dengan jelas (melihat masing-masing unsur rupa dan batin), seseorang harus masuk dalam jhana keempat terlebih dahulu. Dengan landasan konsentrasi yang sudah kuat itu barulah keluar dari jhana untuk bervipassana. Kalau landasan konsentrasi itu sudah semakin memudar (juga energinya sudah semakin terkuras) sehingga pelaksanaan vipassana sudah tidak efektif lagi maka orang tersebut harus masuk ke dalam jhana ke-4 lagi sehingga landasan konsentrasinya terbangun kembali (juga energinya sudah pulih kembali), lalu keluar dari jhana untuk bervipassana lagi. (Ini menurut sistem yang ada dalam Visuddhi-Magga.)

Untuk mengetahui apakah seseorang sudah mahir dalam jhana atau tidak, salah satu cara adalah melihat apakah orang tersebut mampu bertahan duduk lama tanpa bergerak dalam jangka waktu lama atau tidak? Misalnya 6 sampai 12 jam. Tetapi jangan dibalik ya, orang yang bisa duduk atau berbaring lama tanpa bergerak belum tentu sedang masuk jhana   :)

Tetapi bisa saja bagi mereka yang baru mampu memasuki jhana, mereka hanya bisa duduk selama 1 jam atau kurang. Kalau dilatih lebih lanjut, seharusnya bisa duduk lebih lama.

Khusus untuk jhana ke-4 dan di atasnya, kita bisa melihat apakah orang tersebut masih bernapas atau tidak?

Evam me sutam. Demikianlah yang telah kudengar ................ dari orang lain, bukan dari Sang Buddha sendiri, pun bukan dari pengalaman langsung diri saya. Semoga bermanfaat.

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.397
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #99 on: 09 September 2010, 07:37:47 AM »
potongan
Quote
‘‘Dasayime, bhikkhave, kaṇṭakā. Katame dasa? Pavivekārāmassa saṅgaṇikārāmatā kaṇṭako, asubhanimittānuyogaṃ anuyuttassa subhanimittānuyogo kaṇṭako, indriyesu guttadvārassa visūkadassanaṃ kaṇṭako, brahmacariyassa mātugāmūpacāro kaṇṭako,  paṭhamassa jhānassa saddo kaṇṭako, dutiyassa jhānassa vitakkavicārā kaṇṭakā, tatiyassa jhānassa pīti kaṇṭako, catutthassa jhānassa assāsapassāso kaṇṭako, saññāvedayitanirodhasamāpattiyā saññā ca vedanā ca kaṇṭako rāgo kaṇṭako doso kaṇṭako moho kaṇṭako. [AN v. 134/5]
sebenarnya adalah Anguttara Nikaya 10.73  [Dasakanipāta - ( 8 ) 3. Ākaṅkhavaggo]
There is no place like 127.0.0.1

Offline Anshi

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 41
  • Reputasi: 1
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #100 on: 09 September 2010, 09:40:47 PM »
Ya, saya pakai sistem yang merujuk ke terbitan PTS.

Offline fabian c

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.095
  • Reputasi: 128
  • Gender: Male
  • 2 akibat pandangan salah: neraka atau rahim hewan
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #101 on: 10 September 2010, 08:07:19 AM »
Pada saat seseorang sedang berada dalam jhana ia takkan tahu apa yang terjadi pada batin dan jasmaninya. Karena pada saat seseorang sedang berada di dalam jhana, berarti faktor ekaggata hadir. Kalau ada ekaggata berarti batin terpusat/menunggal dengan objek, tak dapat mengetahui yang lain. Hanya ketika ia sudah keluar dari jhana, barulah ia bisa melihat/mengetahui apa yang terjadi (termasuk faktor-faktor batin yang muncul) ketika berada di dalam jhana. Citta bisa mengetahui citta yang terdahulu. Jadi, misalnya seseorang ingin mengonfirmasi pada jhana keberapakah ia berada, maka begitu keluar dari jhana tersebut ia harus langsung memeriksa faktor-faktor jhana yang hadir dengan mengarahkan perhatian ke hadayavatthu. Batin memiliki momentum. Kalau jarak waktunya terlalu lama maka bisa jadi sudah tidak jelas lagi.

Lantas bagaimana menjelaskan kasus di mana seseorang saat sedang berada di dalam jhana (terutama jhana I) masih bisa terganggu suara? Ini disebabkan orang tersebut saat itu sudah tidak berada di dalam jhana lagi, terutama bagi seseorang yang belum mahir, masih sering keluar masuk jhana (bukan dengan kemauan sendiri).

‘‘Dasayime, bhikkhave, kaṇṭakā. Katame dasa? Pavivekārāmassa saṅgaṇikārāmatā kaṇṭako, asubhanimittānuyogaṃ anuyuttassa subhanimittānuyogo kaṇṭako, indriyesu guttadvārassa visūkadassanaṃ kaṇṭako, brahmacariyassa mātugāmūpacāro kaṇṭako,  paṭhamassa jhānassa saddo kaṇṭako, dutiyassa jhānassa vitakkavicārā kaṇṭakā, tatiyassa jhānassa pīti kaṇṭako, catutthassa jhānassa assāsapassāso kaṇṭako, saññāvedayitanirodhasamāpattiyā saññā ca vedanā ca kaṇṭako rāgo kaṇṭako doso kaṇṭako moho kaṇṭako. [AN v. 134/5]

“.......for the first jhana, noise is the thorn; for the second jhana, applied and sustained thought are a thorn; for the third jhana, rapture is a thorn .......”

Dari kutipan di atas bisa dilihat bahwa suara adalah duri bagi mereka yang berada di jhana I (penomoran berdasarkan sistem Sutta), vitakka-vicara adalah duri bagi mereka yang berada di jhana II, piti adalah duri bagi mereka yang berada di jhana III, dst. Jadi, bagi mereka yang betul-betul berada di jhana I, suara sudah tak ada lagi. Suara, tepatnya, dikatakan merupakan musuh terdekat dari jhana I (seringkali 5 nivarana juga disebut sebagai musuh terdekat jhana I). Karena bagi mereka yang berada di jhana I masih mudah melorot ke upacara-samadhi, di mana suara merupakan gangguan bagi mereka (mereka masih bisa mendengar suara). Demikian pula bagi mereka yang berada di jhana II, musuh terdekatnya adalah vitakka-vicara karena mereka masih mudah melorot ke jhana I (masih ada vitakka-vicara dalam jhana I).

Saat melakukan vipassana, agar bisa melihat fenomena batin dan jasmani dengan jelas (melihat masing-masing unsur rupa dan batin), seseorang harus masuk dalam jhana keempat terlebih dahulu. Dengan landasan konsentrasi yang sudah kuat itu barulah keluar dari jhana untuk bervipassana. Kalau landasan konsentrasi itu sudah semakin memudar (juga energinya sudah semakin terkuras) sehingga pelaksanaan vipassana sudah tidak efektif lagi maka orang tersebut harus masuk ke dalam jhana ke-4 lagi sehingga landasan konsentrasinya terbangun kembali (juga energinya sudah pulih kembali), lalu keluar dari jhana untuk bervipassana lagi. (Ini menurut sistem yang ada dalam Visuddhi-Magga.)

Untuk mengetahui apakah seseorang sudah mahir dalam jhana atau tidak, salah satu cara adalah melihat apakah orang tersebut mampu bertahan duduk lama tanpa bergerak dalam jangka waktu lama atau tidak? Misalnya 6 sampai 12 jam. Tetapi jangan dibalik ya, orang yang bisa duduk atau berbaring lama tanpa bergerak belum tentu sedang masuk jhana   :)

Tetapi bisa saja bagi mereka yang baru mampu memasuki jhana, mereka hanya bisa duduk selama 1 jam atau kurang. Kalau dilatih lebih lanjut, seharusnya bisa duduk lebih lama.

Khusus untuk jhana ke-4 dan di atasnya, kita bisa melihat apakah orang tersebut masih bernapas atau tidak?

Evam me sutam. Demikianlah yang telah kudengar ................ dari orang lain, bukan dari Sang Buddha sendiri, pun bukan dari pengalaman langsung diri saya. Semoga bermanfaat.


Bro Anshi yang baik, Visuddhi Magga bagian Ditthi Visuddhi Niddesa hal 679 menyatakan bahwa ada metode Samatha (serenity) ke Vippassana dan ada Vippassana murni (Vipassana langsung). Kedua metode ini nanti sebelum sampai pada Nama-rupa Parichedda nana akan melihat ke 4 unsur terlebih dahulu, secara singkat (Vipassana murni) atau secara detail (melalui Samatha).

Lebih lanjut Abhidhamma menyatakan untuk berlatih Vipassana bisa dipakai Jhana 1, 2, 3 atau 4 sebagai landasan.
Bila Vippassana murni langsung ber-Vipassana, tanpa harus memiliki Jhana, nanti bila konsentrasinya telah kuat, ia akan mampu mencapai pandangan terang (insight).
 
_/\_
« Last Edit: 10 September 2010, 08:12:07 AM by fabian c »
Tiga hal ini, O para bhikkhu dilakukan secara rahasia, bukan secara terbuka.
Bercinta dengan wanita, mantra para Brahmana dan pandangan salah.

Tiga hal ini, O para Bhikkhu, bersinar secara terbuka, bukan secara rahasia.
Lingkaran rembulan, lingkaran matahari serta Dhamma dan Vinaya Sang Tathagata

Offline Anshi

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 41
  • Reputasi: 1
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #102 on: 13 September 2010, 09:35:10 PM »
Apa yang Anda katakan, benar, Sdr. Fabian.
Keduanya bisa membawa seseorang mencapai kesucian.
Perbedaannya adalah, bagi mereka yang menapaki jalur samatha-vipassana bisa melihat lebih banyak, bisa membuktikan kebenaran Abhidhamma, bahwa apa yang diajarkan di dalam Abhidhamma benar adanya.

Offline padmakumara

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.317
  • Reputasi: 0
  • Gender: Female
  • mara devaputra
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #103 on: 13 September 2010, 10:52:13 PM »
pengen ikutan

ternyata bahasa inggris

sayang sekali padpad gk ngerti

haahaha
"Godaan sex merupakan bahaya terbesar dan merupakan penyebab banyak bencana.
Banyak hati yang hancur karena nafsu birahi."

Offline fabian c

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.095
  • Reputasi: 128
  • Gender: Male
  • 2 akibat pandangan salah: neraka atau rahim hewan
Re: Perbandingan jhana menurut beberapa guru dan interpretasi
« Reply #104 on: 14 September 2010, 11:52:58 AM »
Apa yang Anda katakan, benar, Sdr. Fabian.
Keduanya bisa membawa seseorang mencapai kesucian.
Perbedaannya adalah, bagi mereka yang menapaki jalur samatha-vipassana bisa melihat lebih banyak, bisa membuktikan kebenaran Abhidhamma, bahwa apa yang diajarkan di dalam Abhidhamma benar adanya.

Ya saya setuju dengan pendapat bro Anshi, jalur Vipassana murni/langsung tidak se-detil Vipassana melalui Samatha, oleh karena itu kadang-kadang meditator Vipassana murni setelah mencapai Sakadagami kadang melatih Samatha hingga mencapai Jhana kemudian beralih lagi ke Vipassana untuk melihat kekotoran-kekotoran yang halus untuk mencapai tingkat Anagami.

Tapi Mahasi Sayadaw dengar-dengar sepenuhnya melaksanakan Vipassana murni hingga mencapai tingkat kesucian Arahat tanpa melatih Jhana.

Menurut  Visuddhi Magga para Siswa Utama setelah melakukan Vipassana murni mencapai tingkat kesucian Arahat, Abhinna, Jhana dan Patisambhida muncul dengan sendirinya tanpa harus melatih terlebih dahulu, karena kemampuan-kemampuan tersebut pernah dilatih dalam kehidupan sebelumnya.
Contohnya Arahat Cula Panthaka.

 _/\_


« Last Edit: 14 September 2010, 11:58:19 AM by fabian c »
Tiga hal ini, O para bhikkhu dilakukan secara rahasia, bukan secara terbuka.
Bercinta dengan wanita, mantra para Brahmana dan pandangan salah.

Tiga hal ini, O para Bhikkhu, bersinar secara terbuka, bukan secara rahasia.
Lingkaran rembulan, lingkaran matahari serta Dhamma dan Vinaya Sang Tathagata