Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...  (Read 409854 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

Offline coedabgf

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 946
  • Reputasi: -2
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #270 on: 31 March 2009, 10:40:58 AM »
nanti yah sis yul aye jawab, tunggu jawaban yang laen.  :P
iKuT NGeRumPI Akh..!

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.850
  • Reputasi: 268
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #271 on: 31 March 2009, 10:47:02 AM »
saya mau nanya dong, sehubungan dengan pertanyaannya bro ryu..lagu pendupaan yang banyak dinyanyikan di vihara mahayana dan terkadang dinyanyikan oleh suhu, kan ada kalimat seperti ini...'saat pujianku telah melimpah_limpah, para Buddha menampakkan dirinya, aum vajra dupe aum.'..
Apa benar para Buddha akan menampakkan diri jika kita memuji para Buddha sampai melimpah2?
Mohon pencerahannya ya


Kalau pendapat saya pribadi, sepertinya bukan karena puji2an itu menyenangkan Buddha, tetapi karena devosi/pengabdiannya yang sungguh-sungguh. Kalau dalam kisah-kisah Theravada, orang yang mengasingkan diri menjaga sila tanpa cela selama 4 bulan, menjaga api upacara tidak padam, akan dikunjungi oleh Brahma. Kalau saya lihat, Brahma di sini menghargai kualitas moralitas & pengabdian orang itu sehingga bersedia mengunjunginya.

Barangkali, demikian juga maksud penampakan Buddha dalam nyanyian itu. Kalau mau lebih jelas, mungkin bisa ditanyakan ke yang mengerti.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #272 on: 31 March 2009, 11:03:06 AM »
saya mau nanya dong, sehubungan dengan pertanyaannya bro ryu..lagu pendupaan yang banyak dinyanyikan di vihara mahayana dan terkadang dinyanyikan oleh suhu, kan ada kalimat seperti ini...'saat pujianku telah melimpah_limpah, para Buddha menampakkan dirinya, aum vajra dupe aum.'..
Apa benar para Buddha akan menampakkan diri jika kita memuji para Buddha sampai melimpah2?
Mohon pencerahannya ya


Mungkin maksudnya, bahwa kita melakukan pujian melalui praktek dhamma, dan oleh karena itu, kita dikatakan melihat Dhamma, bukankah mrk yg melihat Dhamma berarti juga melihat Buddha?

namun ada yg lebih mencengangkan pada baris, "Para Buddha yang sedang bermusyawarah" kok spt anggota DPR?


Offline nyanadhana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.903
  • Reputasi: 77
  • Gender: Male
  • Kebenaran melampaui batas persepsi agama...
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #273 on: 31 March 2009, 11:15:19 AM »
saya mau nanya dong, sehubungan dengan pertanyaannya bro ryu..lagu pendupaan yang banyak dinyanyikan di vihara mahayana dan terkadang dinyanyikan oleh suhu, kan ada kalimat seperti ini...'saat pujianku telah melimpah_limpah, para Buddha menampakkan dirinya, aum vajra dupe aum.'..
Apa benar para Buddha akan menampakkan diri jika kita memuji para Buddha sampai melimpah2?
Mohon pencerahannya ya


Kalau pendapat saya pribadi, sepertinya bukan karena puji2an itu menyenangkan Buddha, tetapi karena devosi/pengabdiannya yang sungguh-sungguh. Kalau dalam kisah-kisah Theravada, orang yang mengasingkan diri menjaga sila tanpa cela selama 4 bulan, menjaga api upacara tidak padam, akan dikunjungi oleh Brahma. Kalau saya lihat, Brahma di sini menghargai kualitas moralitas & pengabdian orang itu sehingga bersedia mengunjunginya.

Barangkali, demikian juga maksud penampakan Buddha dalam nyanyian itu. Kalau mau lebih jelas, mungkin bisa ditanyakan ke yang mengerti.


kan lagu juga bikinan pemusiknya yang belum tentu sudah cerah.

kalo Para Buddha bermusyawarah keknya diambil dari Taoisme dimana para dewa2 sendiri suka bermusyawarah di depan Raja Langit.
Sadhana is nothing but where a disciplined one, the love, talks to one’s own soul. It is nothing but where one cleans his own mind.

Offline purnama

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.309
  • Reputasi: 73
  • Gender: Male
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #274 on: 31 March 2009, 03:52:51 PM »
Dalam filsafat Mahayana, nirwana tidak pernah dikonsepkan sebagai pemadaman, biasanya dijelaskan sebagai pengalaman langsung mengenai realitas kosmis. Tidak ada yang harus dihancurkan: nirwana bukan menghancurkan hal-hal negative seperti napsu, kebencian, serta khayalan dan menggantinya dengan hal positif seperti ketenangan, bela rasa, dan sadar diri. Proses pengembangan moral ini mutlak untuk diperbaiki sebelum nirwana. Di nirwana, tidak ada perbedaan antara napsu dan ketenangan atau antara kebencian dan belas kasih karena pemikiran dualistic seperti itu telah teratasi.

Mungkin karena berharap untuk menekankan perbedaan interpretasi ini, disamping ‘nirwana’, para guru Mahayana sering kali menggunakan istilah seperti bodhi, jue(kesadaran), Zen Rhu, dan Buddhahood untuk mencerminkan pencerahan. Penjelasan dalam Zen Budhisme bahkan bersifat lebih langsung dengan istilah seperti sifat Alamiah Buddha dan Wajah Sebenarnya.

Pengalaman pencerahan Buddha dijelaskan secara apa adanya seperti kejadian yang sebenarnya dalam bagian naratif literature budhisme seperti The Garland Sutra (Hua Yen Cing atau Avatamsaka Sutra) dan Lotus Sutra (Lien Hua Jing atau Saddharma Pundharika sutra). Contohnya, Garland Sutra (Hua Yen Cing atau Avatamsaka Sutra) mengatakan:
Quote:
Ketika Buddha pertama kali mencapai pencerahaan, seluruh dunia menjadi dimurnikan, dihiasi dengan segala jenis permata dan bunga serta wewangian beraroma manis mengisi setiap sudutnya. Bunga-bunga merambat menganyam diri sendiri di sekeliling Buddha dan pada mereka terikat permata yang ajaib: emas,perak, batu tembus cahaya, batu akik, tembaga, batu karang, dan batu ambar yang berwarna kuning sawo. Dari daun dan ranting pohon terpancar cahaya yang bersinar terang. Perubahan ini dibawa oleh kekuatan supranatural misterius dari sang Buddha.

Keindahan realitas kosmis yang sulit diterima oleh orang biasa dialami dalam keadaan pencerahan yang dikenal sebagai ‘samadhi cermin laut’ dalam Budhisme Mahayana (aliran )Hua Yen, dan sama dengan ‘manifestasi cermin realitas’ yang dijelaskan dalam bab 4.

Dalam Vimalakirti Sutra, pencerahan yang dialami dalam keadaan Samadhi yang lain yang dikenal sebagai ‘realitas cermin yang kosong’ dijabarkan sebagai ‘Gerbang Spiritual dari Non-dualisme’, pintu gerbang menuju Dharma saat semua yang berseberangan terpecahkan. Di sini, pencerahan merupakan pengalaman langsung realitas kosmis sebagai sang Absolut, ketika tidak ada dualitas, dan saat semua pembedaan lenyap.

Aspek yang tidak dapat dibedakan serta dipisahkan dari realitas kosmis yang dialami di nirwana, secara gambling dijelaskan dalam Heart Sutra yang sangat terkenal (Ban Ruo Xin Jing atau Prajnaparamita Hridaya Sutra), meskipun banyak orang yang telah membacanya mungkin tidak menyadari maksudnya karena bahasanya yang terlalu ringkas:
Semua fenomena atau kenyataan duniawi memiliki karakteristik kekosongan: tidak muncul, tidak berhenti, tidak kotor, tidak murni, tidak menambah, tidak memecah. Oleh karena itu, dalam kekosongan tidak ada bentuk, tidak ada perasaan, tidak ada pikiran, tidak ada aktivitas, dan tidak sadar.

Secara singkat, penjelasan diatas menjelaskan bahwa dalam nirwana, orang yang telah mengalami pencerahan sadar bahwa semua dharma, realitas mutlak mereka, adalah kosong, tidak nyata. Oleh karena itu, dalam aspek rohani realitas kosmis tidak ada dharma yang timbul atau berhenti, tidak ada kenyataan yang kotor atau murni, dan tidak ada Buddha yang ditambahkan ke atau orang biasa yang dibisahkan dari keseluruhan saat orang biasa menjadi Buddha. Ini dikarenakan realitas kosmis dalam aspek rohani tidak terpisahkan dan tidak terbedakan, kosong dari semua bentuk terpisah, persepsi, pemikiran, aktivitas, dan kesadaran.

Hal yang berkaitan dengan perbedaan mereka mengenai konsep nirwana adalah pandangan para penganut Theravada dan Mahayana pada keselamatan. Para penganut Theravada yang mempercayai mentah-mentah bahwa nirwana itu terpisah dari samsara dan dicapai saat faktor-faktor negatif seperti kerinduan, kemelekatan, dan penderitaan dihilangkan, meyakini bahwa keselamatan merupakan masalah pribadi, bahwa setiap orang harus mencapai pencerahan mereka sendiri. Di sisi lain, para penganut Mahayana sangat meyakini bahwa nirwana dan samsara itu sebenarnya sama. Yang tampak berbeda sebenarnya adalah salah satu perspektif spiritual. Ketika realitas dilihat dari perspektif rohani, kita mengalami nirwana, ketika realitas dialami dari perspektif jasmani, kita mengalami samsara. Oleh karena realitas kosmis merupakan suatu kesatuan suci diluar semua dualitas, para penganut Mahayana meyakini bahwa keselamatan merupakan tanggung jawab kosmis.

Bentuk ideal Theravada adalah arahat, Makhluk yang paling berharga, sementara dalam Mahayana yang ideal adalah Bodhisattva, Makhluk yang dapat merasakan pencerahan. Oleh karena arahat hanya memperhatikan pencerahan pribadinya, ia sering digambarkan sebagai sosok dingin dan tanpa emosi, Sementara Bodhisattva yang bersumpah untuk bekerja demi keselamatan dunia terlihat suka menolong dan welas asih.

Theravada menerima Buddha Gautama sebagai sang Buddha, yang berarti satu-satunya Buddha dalam era kita, meskipun mereka juga menerima Buddha-Buddha lainnya dalam era yang lain sebelum dan setelah gautama. Para penganut Mahayana juga menerima Buddha Gautama ( Shakyamuni Buddha) sebagai Sang Buddha, yang berarti Buddha pertama dan yang paling penting dalam masa kita, juga mengenal Buddha-Buddha yang lain dari masa yang lain namun sebagai tambahan mereka meyakini bahwa sebenarnya sudah ada Buddha lain yang tidak terhitung sepanjang zaman dan ada Buddha lain yang jumlahnya juga tidak terhitung pada saat ini. Baik penganut Theravada dan Mahayana mendefinisikan Buddha sebagai orang yang mendapatkan pencerahan. Dengan demikian, perbedaannya tidak terletak pada definisinya, namun pada interpretasi mereka pada apa yang menyebabkan pencerahan. Para pengikut Theravada meyakini bahwa Buddha Gautama merupakan satu-satunya yang mendapatkan pencerahan sempurna sementara para pengikut Mahayana meyakini bahwa setiap orang, termasuk yang bukan manusia, dapat mencapai pencerahan sempurna – suatu pandangan yang mungkin lebih mendekati ajaran Gautama, jika tidak ia tidak akan mendedikasikan seluruh masa hidupnya sebagai manusia untuk tujuan ini. Di lain pihak, Vajrayana menempatkan lebih banyak penekanan pada Buddha Vairocana (personifikasi dari realitas kosmis Buddha Gautama), meskipun yang terakhir masih dianggap sebagai Buddha ada masa kini.

Dengan memikirkan bahwa para penganut Theravada menganggap bahwa pencapaian nirwana eksklusif untuk Buddha Gautama, sungguh mengejutkan bahwa konsep mereka mengenai nirwana kurang begitu ‘megah’ dibandingkan dengan para penganut Mahayana. Oleh karena itu, sering dikatakan bahwa Budhisme Theravada memiliki sasaran Nirwana, sementara Budhisme Mahayana memiliki sasaran Buddhahood, menjadi Buddha. Dengan kata lain dikatakan bahwa dalam Theravada, saat seseorang telah mencapai pencerahan berarti ia telah memadamkan semua keinginannya, penderitaan, dan ilusinya, dan mencapai suatu keadaan mental yang penuh dengan kebahagiaan tinggi. Dalam Mahayana, mencapai pencerahan berarti bahwa seseorang telah membebaskan dirinya dari keterbatasan imajinasi tubuh fisiknya dan menyadari bahwa ia sebenarnya berada dalam keseluruhan kosmos!

Oleh karena para guru Mahayana menyadari bahwa orang berada pada tingkat pengembangan spiritual yang berbeda, mereka telah merancang banyak dan bermacam-macam arti untuk membantu orang-orang itu mencapai pencerahan. Bagi mereka yang kurang memiliki pemahaman intelektual atau kemampuan spiritual, praktik penyembahan (seperti berdoa pada Buddha dan Bodhisattva) akan meningkatkan jasa spiritual mereka dalam kehidupan di masa mendatang. Yang lain mungkin mengucapkan nama Amitabha Buddha agar dilahirkan kembali dalam tanah Buddha untuk perbaikan berikutnya. Yang lebih maju secara spiritual dapat menggunakan meditasi yang hening dan kusuk untuk mencapai pencerahan dalam kehidupan ini. Metode yang semakin cepat dan semakin langsung, namun tidak harus selalu termudah adalah Zen.

__________________
Negeri-Buddha yang satu terbuat dari tujuh permata, negeri-Buddha yang lain seluruhnya penuh dengan bunga teratai; negeri-Buddha yang satu seperti istana dewa Mahesvara, negeri-Buddha yang lain menyerupai cermin kristal, di mana berbagai negeri-buddha di sepuluh penjuru terpantulkan di sana.
(Amitayur Dyana Sutra)

Offline purnama

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.309
  • Reputasi: 73
  • Gender: Male
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #275 on: 31 March 2009, 03:54:16 PM »
refrensimya dari Sangha Mahayana Indonesia lok !

saya mau nanya dong, sehubungan dengan pertanyaannya bro ryu..lagu pendupaan yang banyak dinyanyikan di vihara mahayana dan terkadang dinyanyikan oleh suhu, kan ada kalimat seperti ini...'saat pujianku telah melimpah_limpah, para Buddha menampakkan dirinya, aum vajra dupe aum.'..
Apa benar para Buddha akan menampakkan diri jika kita memuji para Buddha sampai melimpah2?
Mohon pencerahannya ya


Kalau pendapat saya pribadi, sepertinya bukan karena puji2an itu menyenangkan Buddha, tetapi karena devosi/pengabdiannya yang sungguh-sungguh. Kalau dalam kisah-kisah Theravada, orang yang mengasingkan diri menjaga sila tanpa cela selama 4 bulan, menjaga api upacara tidak padam, akan dikunjungi oleh Brahma. Kalau saya lihat, Brahma di sini menghargai kualitas moralitas & pengabdian orang itu sehingga bersedia mengunjunginya.

Barangkali, demikian juga maksud penampakan Buddha dalam nyanyian itu. Kalau mau lebih jelas, mungkin bisa ditanyakan ke yang mengerti.


kan lagu juga bikinan pemusiknya yang belum tentu sudah cerah.

kalo Para Buddha bermusyawarah keknya diambil dari Taoisme dimana para dewa2 sendiri suka bermusyawarah di depan Raja Langit.

Ngak juga bro

Offline naviscope

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.084
  • Reputasi: 48
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #276 on: 31 March 2009, 04:04:39 PM »
^
^
^
atas & atas nya lg

eeeewwwww............ panjangggggg

bentar, gw pelan2 cerna.....
Tinggalkan masa lalu, lepaskan beban akan masa depan, tidak terikat dengan yang sekarang maka kamu akan merasakan kedamain batin.

Leave the past alone, do not worry about the future, do not cling to the present and you will achieve calm.

Offline purnama

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.309
  • Reputasi: 73
  • Gender: Male
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #277 on: 31 March 2009, 04:22:47 PM »
kalo Para Buddha bermusyawarah keknya diambil dari Taoisme dimana para dewa2 sendiri suka bermusyawarah di depan Raja Langit. ====> beda konsep Bro. Kalo saya baca dari buku Taoisme. ada perbedaan Tao dengan mahayana sedikit. Dalam konsep tao Dewa dewa tao lebih melapor ke raja langit, Atau di kenal sebagai Hi Tian Shang di bukan Thay siang Lo Cin Bro. Emang secara garis besar TSLC saya singkat ;D, adalah maha dewa. Tapi Yang bertangung jawab atas kedamaian bumu itu Kaisar langit. So jadi ada perbedaan tipis disini.
 

Offline Kelana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.226
  • Reputasi: 142
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #278 on: 01 April 2009, 08:35:35 AM »
".....The Bhagavant said to Shariputra: "Do you know that if you travel westwards from here, passing a hundred thousand kotis of nayutas of Buddha-lands, you come to the land called 'Utmost Bliss,' where there is a Bhagavant named 'Amitayus' or 'Amitabha' with ten titles, including Tathagata, Arhat and Samyaksambuddha. He is living there at this very moment, teaching the profound and wonderful Dharma to sentient beings to give them supreme benefit and bliss......"

(Sukhāvatīvyūhaḥ Sutra)


Ada yang bisa menjelaskan terutama kalimat yang dibold??

 _/\_
GKBU
 
_/\_ suvatthi hotu


- finire -

Offline nyanadhana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.903
  • Reputasi: 77
  • Gender: Male
  • Kebenaran melampaui batas persepsi agama...
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #279 on: 01 April 2009, 08:56:32 AM »
kalo Para Buddha bermusyawarah keknya diambil dari Taoisme dimana para dewa2 sendiri suka bermusyawarah di depan Raja Langit. ====> beda konsep Bro. Kalo saya baca dari buku Taoisme. ada perbedaan Tao dengan mahayana sedikit. Dalam konsep tao Dewa dewa tao lebih melapor ke raja langit, Atau di kenal sebagai Hi Tian Shang di bukan Thay siang Lo Cin Bro. Emang secara garis besar TSLC saya singkat ;D, adalah maha dewa. Tapi Yang bertangung jawab atas kedamaian bumu itu Kaisar langit. So jadi ada perbedaan tipis disini.
 

maksud gw,cara bermusyawarah...bukan soal lapor melapor....
Sadhana is nothing but where a disciplined one, the love, talks to one’s own soul. It is nothing but where one cleans his own mind.

Offline nyanadhana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.903
  • Reputasi: 77
  • Gender: Male
  • Kebenaran melampaui batas persepsi agama...
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #280 on: 01 April 2009, 08:58:01 AM »
".....The Bhagavant said to Shariputra: "Do you know that if you travel westwards from here, passing a hundred thousand kotis of nayutas of Buddha-lands, you come to the land called 'Utmost Bliss,' where there is a Bhagavant named 'Amitayus' or 'Amitabha' with ten titles, including Tathagata, Arhat and Samyaksambuddha. He is living there at this very moment, teaching the profound and wonderful Dharma to sentient beings to give them supreme benefit and bliss......"

(Sukhāvatīvyūhaḥ Sutra)


Ada yang bisa menjelaskan terutama kalimat yang dibold??

 _/\_


Ten titles of Amitabha = Tathagata Arhat Samyaksambuddha

Samakan dengan versi Pali

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

juga merupakan titel dari Sakyamuni Buddha.
Sadhana is nothing but where a disciplined one, the love, talks to one’s own soul. It is nothing but where one cleans his own mind.

Offline sabdo palon

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 18
  • Reputasi: 1
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #281 on: 01 April 2009, 03:07:54 PM »
".....The Bhagavant said to Shariputra: "Do you know that if you travel westwards from here, passing a hundred thousand kotis of nayutas of Buddha-lands, you come to the land called 'Utmost Bliss,' where there is a Bhagavant named 'Amitayus' or 'Amitabha' with ten titles, including Tathagata, Arhat and Samyaksambuddha. He is living there at this very moment, teaching the profound and wonderful Dharma to sentient beings to give them supreme benefit and bliss......"

(Sukhāvatīvyūhaḥ Sutra)


Ada yang bisa menjelaskan terutama kalimat yang dibold??

 _/\_


Ten titles of Amitabha = Tathagata Arhat Samyaksambuddha

Samakan dengan versi Pali

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

juga merupakan titel dari Sakyamuni Buddha.

Apakah ini tidak membingungkan? dalam Theravada Arahat adalah telah mencapai kesucian, Sammasambuddha artinya sama.
Arahat adalah Savaka Buddha, seorang Sammasambuddha dikatakan telah mencapai tingkat kesucian Arahat.

Dari Mahayana dikatakan Arahat belum mencapai Buddha lantas mengapa disebutkan bersama dengan Samyak Sambuddha? mengapa disejajarkan dengan Samyak Sambuddha?

Bingung... aku bingung.....

Offline nyanadhana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.903
  • Reputasi: 77
  • Gender: Male
  • Kebenaran melampaui batas persepsi agama...
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #282 on: 01 April 2009, 03:21:35 PM »
".....The Bhagavant said to Shariputra: "Do you know that if you travel westwards from here, passing a hundred thousand kotis of nayutas of Buddha-lands, you come to the land called 'Utmost Bliss,' where there is a Bhagavant named 'Amitayus' or 'Amitabha' with ten titles, including Tathagata, Arhat and Samyaksambuddha. He is living there at this very moment, teaching the profound and wonderful Dharma to sentient beings to give them supreme benefit and bliss......"

(Sukhāvatīvyūhaḥ Sutra)


Ada yang bisa menjelaskan terutama kalimat yang dibold??

 _/\_


Ten titles of Amitabha = Tathagata Arhat Samyaksambuddha

Samakan dengan versi Pali

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

juga merupakan titel dari Sakyamuni Buddha.

Apakah ini tidak membingungkan? dalam Theravada Arahat adalah telah mencapai kesucian, Sammasambuddha artinya sama.
Arahat adalah Savaka Buddha, seorang Sammasambuddha dikatakan telah mencapai tingkat kesucian Arahat.

Dari Mahayana dikatakan Arahat belum mencapai Buddha lantas mengapa disebutkan bersama dengan Samyak Sambuddha? mengapa disejajarkan dengan Samyak Sambuddha?

Bingung... aku bingung.....

dalam diri seorang SammasamBuddha, ia juga seorang Arahat, ia juga seorang Tathagatha, ia juga seorang Samyaksambuddha, ini adalah kualitas batin seorang Sammasambuddha. namun seorang Arahat tentu bukan seorang Sammasambuddha.
« Last Edit: 01 April 2009, 03:24:15 PM by nyanadhana »
Sadhana is nothing but where a disciplined one, the love, talks to one’s own soul. It is nothing but where one cleans his own mind.

Offline bukeksiansu

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 12
  • Reputasi: 2
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #283 on: 01 April 2009, 03:28:45 PM »

Apakah anda pernah bermeditasi?Dlm bermeditasi, kita mengenal istilah dengan "meluaskan" dan "memfokus"kan.Coba saja anda meruncingkan konsentrasi untuk "mendeteksi" berbagai Tanah Suci yg ada dlm kosmos ini, rasanya anda akan dapat merasakannya.


Menarik sekali. Saya ingin mencoba, di kitab Mahayana manakah bro Edward mengutip kata-kata "meluaskan" dan "memfokuskan"? untuk mendeteksi tanah suci?

Offline naviscope

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.084
  • Reputasi: 48
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #284 on: 01 April 2009, 03:33:21 PM »
^
^
^
mencoba menjawab ya

mgkn yg di kamsud bro edward, vipasyana aliran tanah suci
ada dua belas tingkat vipasyana (ada shortcut nya loh, soalnya susah bangettttsssss....) setelah lulus 12 tingkat vipasyana
bisa dilanjut ke vipasyana ke 13, dst....

Amitayur Dhyana Sutra (Sutra 16 metode untuk meditasi)
« Last Edit: 01 April 2009, 03:35:17 PM by naviscope »
Tinggalkan masa lalu, lepaskan beban akan masa depan, tidak terikat dengan yang sekarang maka kamu akan merasakan kedamain batin.

Leave the past alone, do not worry about the future, do not cling to the present and you will achieve calm.