Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...  (Read 409799 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

Offline Kelana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.226
  • Reputasi: 142
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #2235 on: 05 January 2013, 11:43:56 PM »
Bang Kelana,
nibbana memang memiliki dua makna spt yg anda sebutkan di atas, tapi parinibbana hanya memiliki satu makna yaitu anupadisesa-nibbana. jadi IMO pertanyaan dari Bang Dilbert itu sudah cukup eksplisit, dan seharusnya dijawab dengan jawaban yg tegas.

Benar, Sdr. Indra saya juga melihatnya cukup eksplisit, untuk itu saya meminta Sdr. Dilbert menegaskan kembali agar lebih jelas, bukan untuk saya tapi untuk yang lain yang mungkin tidak sadar.  :)
GKBU
 
_/\_ suvatthi hotu


- finire -

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.963
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #2236 on: 06 January 2013, 06:32:21 AM »
Benar, Sdr. Indra saya juga melihatnya cukup eksplisit, untuk itu saya meminta Sdr. Dilbert menegaskan kembali agar lebih jelas, bukan untuk saya tapi untuk yang lain yang mungkin tidak sadar:)

susah memang menyadarkan yang berlum tersadarkan 
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline Kelana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.226
  • Reputasi: 142
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #2237 on: 06 January 2013, 05:07:36 PM »
susah memang menyadarkan yang berlum tersadarkan 
Seperti yang kita ketahui bersama, Sdr. Adi, bahwa tidak ada orang lain yang bisa menyelamatkan, menyadarkan seseorang kecuali diri sendiri yang bersangkutan. Orang lain hanya sebagai pemicu saja.

GKBU
 
_/\_ suvatthi hotu


- finire -

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #2238 on: 07 January 2013, 01:52:32 PM »
Benar, Sdr. Indra saya juga melihatnya cukup eksplisit, untuk itu saya meminta Sdr. Dilbert menegaskan kembali agar lebih jelas, bukan untuk saya tapi untuk yang lain yang mungkin tidak sadar.  :)

parinibbana yang dimaksud adalah anupadisesa nibbana (nibbana tanpa sisa).
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #2239 on: 07 January 2013, 01:55:41 PM »
Silakan dibaca ulang, sudah dijawab: Adi Buddha.

Salam.  _/\_

Kalau dalam konsep ajaran yang menggunakan referensi Pali Kanon, maka setelah parinibbana (anupadisesa nibbana), maka tidak ada lagi khanda yang ter-sankhara (mengalami bentukan), jadi yang berpikir itu apa dan siapa ?

Kalau konsep-nya Mahayana, yah balik lagi ke Trikaya... dan seperti-nya memang ada perbedaan cukup prinsipil dan mendasar antara pengajaran berdasarkan Pali Kanon (baca : Theravada) dan Mahayana. Sehingga di dalam Mahayana (baca : Saddharmapundarika sutra), Buddha Sakyamuni di ajaran Mahayana meng-klaim bahwa diri-NYA sudah mencapai ke-buddha-an berkalpa2 yang lampau, sehingga episode pencapaian ke-buddha-an di bawah pohon bodhi adalah pengulangan donk ?
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline Sunya

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 876
  • Reputasi: -16
  • Nothing, but your perception ONLY
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #2240 on: 07 January 2013, 04:56:32 PM »
Kalau dalam konsep ajaran yang menggunakan referensi Pali Kanon, maka setelah parinibbana (anupadisesa nibbana), maka tidak ada lagi khanda yang ter-sankhara (mengalami bentukan), jadi yang berpikir itu apa dan siapa ?

Kalau konsep-nya Mahayana, yah balik lagi ke Trikaya... dan seperti-nya memang ada perbedaan cukup prinsipil dan mendasar antara pengajaran berdasarkan Pali Kanon (baca : Theravada) dan Mahayana. Sehingga di dalam Mahayana (baca : Saddharmapundarika sutra), Buddha Sakyamuni di ajaran Mahayana meng-klaim bahwa diri-NYA sudah mencapai ke-buddha-an berkalpa2 yang lampau, sehingga episode pencapaian ke-buddha-an di bawah pohon bodhi adalah pengulangan donk ?

Yang Anda jelaskan benar, dalam aliran tertentu memang didefinisikan sedemikian rupa. Dalam Mahayana, kondisi tercerahkan demikian (maaf tidak saya sebutkan agar tidak ada polemik) sesungguhnya seperti "tidur" (sesuai dengan penjelasan Anda di atas tentang 'terhentinya' khanda). Masih dalam konteks Mahayana, seorang Samma Sambuddha-lah yang kemudian membangunkan "si tidur" ini agar menempuh jalan Bodhisattva-Mahasattva.

Jadi sesungguhnya tidak ada pertentangan antara satu aliran dengan yang lain, karena masing-masing aliran memiliki tujuan berbeda.

Berhubung Anda tampaknya memahami konsep Trikaya serta Kebuddhaan Sakyamuni yang "seperti sandiwara", maka saya jelaskan sedikit tentang konsep Kebuddhaan Mahayana, khususnya Anuttara Samyak Sambodhi.

Dalam Kebuddhaan itu sendiri, secara hakikat sebenarnya semua kosong, dalam arti kita tidak memiliki jati diri, identitas, ataupun label apa-apa (termasuk gelar Samma-Sambuddha, Bodhisattva, Arahat, Manusia, Dewa, dsb). Semua itu dilihat sebagai 'peran' (makanya dalam filosofi Jawa yang terpengaruh kerajaan-kerajaan Buddhis, sering disebut "Hidup seperti panggung sandiwara"). Jadi selama siapa pun itu, masih terikat dengan pencapaian yang dialami-Nya, sesungguhnya dia belum menyadari hakikat keberadaan (hidup) yang sesungguhnya, yaitu bebas, tak ada belenggu (ikatan) termasuk pencapaian itu sendiri.

Dalam konsep Mahayana juga, semua bentuk kenikmatan maupun kegaiban bisa diwujudkan (umumnya digambarkan lewat pembentukan Sukhavati oleh Buddha tertentu). Kemampuan itu tidak terbayangkan oleh pikiran yang terbelenggu (sankhara), karena sifat dari Adi Buddha itu sendiri unlimited (tak terbatas) kemampuannya (tidak diberi huruf kapital karena kata sifat).

Makhluk terbelenggu yang menganggap potensinya hanya sebesar yang mampu dipikirkannya, karena itu apapun itu (bentuk kejahatan maupun kesucian) selalu diinterpretasikan sebagai satu sosok yang kekal abadi (seperti Buddha dan Nibbana misalnya), serta harus ada 'sosok' yang mengalami. Padahal, dengan adanya 'sosok', justru keberadaan kita yang tiada identitas hakiki jadi tidak optimal, ibaratnya kita hanya mengidentifikasikan diri kita sebagai guru les bahasa, padahal di luar itu kita juga bisa menyandang gelar anak, profesor, sarjana, pengusaha, dsb (seperti halnya multi-status atau multi-profesi).

Kira-kira demikian yang bisa saya jelaskan. Apa yang saya jelaskan bukan bersifat akademis (sesuai literatur/referensi tertentu), tapi saya jamin keabsahannya (dari segi pengalaman maupun sumber yang mengajarkannya).

Yang jelas (kalau boleh sedikit berbagi), nirwana atau lautan dharmakaya (Tubuh Semua Buddha) itu jauh lebih nikmat dan membahagiakan dari yang pernah didefinisikan di buku-buku. Tentu semua ini menanti untuk dibuktikan. Semoga semua bisa menyadari dan merasakannya.

Salam bahagia penuh kedamaian.  _/\_

Offline Sunya

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 876
  • Reputasi: -16
  • Nothing, but your perception ONLY
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #2241 on: 07 January 2013, 05:08:10 PM »
Teruntuk Sdr. Dilbert yang berbahagia, coba renungkan sejenak; mengapa ucapan Sabbe Satta Bhavantu Sukkhitattha lebih umum diucapkan daripada "Semoga semua makhluk menjadi Buddha atau Arahat"? Ucapan kedua itu malah hampir tidak terdengar sama sekali.

Jadi, pada prinsipnya secara umum memang ajaran Buddha menekankan pembahagiaan semua makhluk, di atas segala pencapaian atau konsep kesucian lainnya. Sebab, pada hakikatnya memang yang dibebaskan itu tidak lain dan tidak bukan hanyalah bentukan.

Ini memang ekstrim, seperti (seolah-olah) saya mengatakan makhluk itu tidak ada (nihil), tapi bukan itu maksudnya. Kita ada, itu sudah jelas, terbukti dengan saya yang mengetik, serta membaca tulisan di forum ini. Saya ada, itu sudah tidak akan diperdebatkan. Tapi keberadaan saya yang 'Terkondisi' ini lho yang dimaksud sebagai penderitaan, ketidakmaksimalan, atau disebut secara umum sebagai dukkha (ketidakpuasan).

Makanya, bagi saya pribadi ajaran Buddha tidak ada yang bertentangan, semua tergantung konteks dan sudut pandang saja.

Anda mengerti sedikit Pali Kanon, atau mungkin juga mempelajari beberapa aliran. Bila ada kerancuan atau kebingungan Anda selama ini, mari kita diskusikan dan semoga mendapatkan titik temu (agar pelatihan diri bisa lebih maksimal).

Oke, selamat menjalani hidup dengan bahagia. Salam sejahtera.  _/\_

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #2242 on: 07 January 2013, 05:35:35 PM »
Choa is back

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.963
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #2243 on: 07 January 2013, 08:44:22 PM »
Choa is back

yakinkah master lalat menjelma master belut !
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.963
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #2244 on: 07 January 2013, 08:50:46 PM »
Yang Anda jelaskan benar, dalam aliran tertentu memang didefinisikan sedemikian rupa. Dalam Mahayana, kondisi tercerahkan demikian (maaf tidak saya sebutkan agar tidak ada polemik) sesungguhnya seperti "tidur" (sesuai dengan penjelasan Anda di atas tentang 'terhentinya' khanda). Masih dalam konteks Mahayana, seorang Samma Sambuddha-lah yang kemudian membangunkan "si tidur" ini agar menempuh jalan Bodhisattva-Mahasattva.

Jadi sesungguhnya tidak ada pertentangan antara satu aliran dengan yang lain, karena masing-masing aliran memiliki tujuan berbeda.

jika berbeda tentunya ada pertentangan jangan dipaksakan utk tidak bertentangan.
masalahnya perlukah atau tidak jika perbedaan dipertentangkan !
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #2245 on: 08 January 2013, 11:34:26 AM »
Teruntuk Sdr. Dilbert yang berbahagia, coba renungkan sejenak; mengapa ucapan Sabbe Satta Bhavantu Sukkhitattha lebih umum diucapkan daripada "Semoga semua makhluk menjadi Buddha atau Arahat"? Ucapan kedua itu malah hampir tidak terdengar sama sekali.

Bukan-kah Mahayana yang ikrar-nya akan membawa semua makhluk mencapai ke-buddha-an ?
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.963
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #2246 on: 09 January 2013, 05:22:58 AM »
Teruntuk Sdr. Dilbert yang berbahagia, coba renungkan sejenak; mengapa ucapan Sabbe Satta Bhavantu Sukkhitattha lebih umum diucapkan daripada "Semoga semua makhluk menjadi Buddha atau Arahat"? Ucapan kedua itu malah hampir tidak terdengar sama sekali.


Bukan-kah Mahayana yang ikrar-nya akan membawa semua makhluk mencapai ke-buddha-an ?

harusnya level arahat lebih rendah dibandingkan level bodisatwa,
kok bisa menyebut pencapaian terakhir Arahat !, begitukah ?  ;D
« Last Edit: 09 January 2013, 05:34:59 AM by adi lim »
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline Sunya

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 876
  • Reputasi: -16
  • Nothing, but your perception ONLY
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #2247 on: 09 January 2013, 06:48:42 AM »
Bukan-kah Mahayana yang ikrar-nya akan membawa semua makhluk mencapai ke-buddha-an ?

Rekan Dilbert yang berbahagia, secara harfiah Mahayana berarti Kendaraan Besar (Great Vehicle).

Dalam hal ini, ikrar Mahayana di atas dapat berarti; saya mencapai Kebuddhaan, dia/mereka juga mencapai Kebuddhaan. Sampai disini setuju?

Nah, dalam konsep lebih dalam (Mahayana), setiap makhluk yang sudah mencapai Kebuddhaan, memiliki Buddha Field sendiri (area aktivitas Buddha, atau disebut juga Tanah Buddha - Buddha Ksetra).

Dalam Buddha Ksetra tersebut, tugas/misi Buddha yang bersangkutan adalah membuat makhluk-makhluknya mencapai kebahagiaan (termasuk salah satunya mencapai kondisi Buddha itu sendiri; baik Arahat maupun Samma-Sambuddha).

Karena semesta ini paralel (setiap Buddha punya lingkup pengaruh tersendiri, atau umat awam sering berucap bahwa dalam satu semesta makro tidak bisa ada dua Buddha), maka sebenarnya setiap Buddha punya rekam jejak tersendiri, yang mana itu merupakan hasil perjalanan-Nya selama masih menjadi makhluk terkondisi.

Maksudnya (dalam pengertian lebih mudah): Anda dan segala perbuatan Anda selama kalpaan masa, melintasi waktu dan ruang yang sifatnya relatif (bukan linear) tapi terkait (Paticcasamuppada), kelak semua perjalanan Anda itulah (baik maupun buruk) yang akan Anda warisi sebagai bentuk semesta tempat Anda beraktivitas Kebuddhaan (Buddha Ksetra).

Nah (ini potensial jadi perdebatan), sesungguhnya makhluk dalam semesta Anda itu nantinya sunya (tidak memiliki sifat hakiki), mereka merupakan hasil (kreasi/ciptaan) Anda sendiri selama kalpaan masa Anda berpetualang di dunia kehidupan (31 alam, 33, atau 6 tergantung literatur).

Ini secara implisit juga menjawab kenapa ada makhluk yang "digaji" di neraka untuk menyiksa para terpidana (makhluk yang dihukum). Ini juga menjelaskan banyak fenomena kenapa ada wujud Bodhisattva yang berbeda (misalnya Avalokitesvara sebagai pria dan wanita), ada yang bisa melihat roh Ayahnya, Leluhur, setan yang mengganggu, sedangkan yang lain tidak. Setiap interkorelasi antar-makhluk itu bersifat independen, dalam artian yang Anda alami sesuai karma Anda, walau kita bersaudara belum tentu saya menyaksikan yang Anda saksikan (misalnya dihantui arwah nenek moyang meminta diselamatkan, menjelaskan kondisinya di alam penderitaan, dsb).

Dan sesungguhnya, ini yang akan jadi perdebatan... sosok yang Anda tolong dan ajari dharma sekarang bisa saja sudah Buddha.

Jujur saja, hal itu jarang diungkap kepada publik (umat awam). Tapi berhubung kita di konteks Mahayana saya buka sedikit (bila ada perdebatan tidak konstruktif, tidak saya lanjutkan).

Ini juga menjelaskan, bagaimana seorang Samma-Sambuddha bisa mengetahui jauh ke depan (misalnya sosok Devadatta yang sesungguhnya 'telah' menjadi Pacekka Buddha di area Ksetra lain, diungkapkan secara terkondisi sebagai "akan menjadi Buddha suatu saat" oleh Sakyamuni Buddha sewaktu menjalani kondisi sebagai Sidharta Gautama).

Makanya, sudah saya katakan sejak awal... semua itu sunya. Saya saja tidak nyata, bagaimana Anda dan yang lain bisa nyata... :)

Bila bingung, ini indikasi cukup jauh dari memahami, tidak akan diteruskan lagi. Bila ada respon konstruktif, boleh kita lanjutkan. Salam.  _/\_

Offline Sunya

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 876
  • Reputasi: -16
  • Nothing, but your perception ONLY
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #2248 on: 09 January 2013, 06:59:12 AM »
Nah, tentang membawa semua makhluk menjadi Buddha, sebenarnya tidak ada makhluk yang dibawa. Bagaimana bisa dibawa, wong semua cuma peran?

Analogi mudah seperti ini: Anda dengan kostum Anda, berperan sebagai Winnie The Pooh, dalam suatu teater yang juga ada peran lain, serta juga lingkungan (analogi semesta/dunia).

Jika ada yang berkata bahwa Winnie The Pooh bisa diselamatkan dan menjadi guru atau insinyur suatu hari, tentu ini jadi rancu, karena "bukankah Winnie adalah sebuah karakter saja, yang dimainkan dan dibawakan sesuai dengan skenario (karma)?"

Bukan begitu?

Itulah peran. Semua skhanda yang kita miliki sekarang membuat kita jadi memiliki peran (kondisi). Ini tak luput (tak bisa dihindari oleh siapapun) termasuk pada Buddha Gautama sendiri (memiliki kisah hidup tersendiri, baik maupun buruk dari berbagai sudut pandang).

Jadi, mengantar semua makhluk menjadi Buddha? :)

Tidak ada yang dibawa, tidak ada yang dicapai, apalagi yang membawa dan mencapai. Jika masih "ada" berarti belum mencapai dan dicapai. :)

Salam. Semoga dimengerti.  _/\_

Offline Kelana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.226
  • Reputasi: 142
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #2249 on: 09 January 2013, 11:04:00 AM »
kalau quote anda ini : "Bila sahaloka tersebut murni (bebas dari makhluk menderita)"... dimana ada dunia yang bebas dari makhluk menderita ?


kalau quote anda ini : "Bila sahaloka tersebut murni (bebas dari makhluk menderita)"... dimana ada dunia yang bebas dari makhluk menderita ?

Hanya sebagai intermezo.
Kita tahu bahwa ada ajaran yang mengatakan sarva samskara dukha (sabbe sankhara dukkha), semua yang terbentuk dari perpaduan unsur adalah dukkha. Ini berarti loka apapun memiliki sifat dukkha. Sahaloka sendiri berarti dunia (bumi) yang tidak kekal.

Dalam Mahayana yang saya ketahui, mengenal sukhavati, ini pun adalah alam bentukan. Adalah salah jika dikatakan sukhavati adalah nirvana (dalam konteks realitas tertinggi bukan kondisi batin) bebas dari dukkha. Ada banyak sutra yang menjelaskan bagaimana isi sukhavati yang terdapat sungai, pohon dan terpenting adalah masih adanya makhluk-makhluk yang berlatih dharma. Ini berarti masih ada kekotoran batin yang tersisa. Beberapa di antara makhluk tersebut juga dipastikan akan dilahirkan kembali. Lagi pula kalau kita berpegang pada prinsip error: "isi=kosong, kosong=isi" maka sukhavati=dukhavati.

Jadi tidak ada loka yang benar-benar bebas dari dukkha karena lokanya sendiri sifatnya adalah dukkha.
GKBU
 
_/\_ suvatthi hotu


- finire -