Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha  (Read 110087 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline 7 Tails

  • Sebelumnya RAIN
  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 864
  • Reputasi: 24
  • Gender: Male
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #30 on: 19 January 2009, 09:45:06 PM »
kalau pengertian yg dapat saya cerna

kalau tidak dimulai dari keinginan maka tidak ada cetana (kehendak)
atau aktivitas batin yg timbul tenggelamnya yg saya belum paham.
seperti ikrar calon sammasambuddha di depan buddha dipankara. bukan kah itu sudah termasuk sumpah sejati?
keinginan , kemelekatan menjadi sammasambuddha?

cita2 menjadi sammasambuddha kayanya mustahil. harus tunggu gak ada dhamma lagi baru bisa muncul.
ada dhamma saja , sudah susah, apa lagi belajar sendiri tanpa ada ajaran dhamma dari buddha.

bisa dijelasin lagi bos upasaka yg bukan botak :)) :))
ha... kalau bisa dengan bahasa yg lebih gampang buat pemula bos
nb: yg bukan botaknya samar2 disebelah :)) :))
korban keganasan

Offline yanfei

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 430
  • Reputasi: 12
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #31 on: 19 January 2009, 09:50:54 PM »
 [at]  upasaka mau nanya nih
diceritakan diawal mula bahwa keluarga kerajaan menikahi sesama saudara bukankah itu termasuk incest?

mohon pencerahannya  _/\_

Offline andry

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.115
  • Reputasi: 128
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #32 on: 19 January 2009, 09:55:19 PM »
cuma saran: kalau mau baca perjalanan/masa kappa dari seorang manusia hingga jadi buddha, dan ikrar2 dari lisan sampai benar2 tekad yg sudah dikukuhkan..
dapat d baca di buku"praktik dhamma menuju nibanna" karangan radhika abeysekara
Samma Vayama

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #33 on: 19 January 2009, 10:06:56 PM »
kalau pengertian yg dapat saya cerna

kalau tidak dimulai dari keinginan maka tidak ada cetana (kehendak)
atau aktivitas batin yg timbul tenggelamnya yg saya belum paham.
seperti ikrar calon sammasambuddha di depan buddha dipankara. bukan kah itu sudah termasuk sumpah sejati?
keinginan , kemelekatan menjadi sammasambuddha?

cita2 menjadi sammasambuddha kayanya mustahil. harus tunggu gak ada dhamma lagi baru bisa muncul.
ada dhamma saja , sudah susah, apa lagi belajar sendiri tanpa ada ajaran dhamma dari buddha.

bisa dijelasin lagi bos upasaka yg bukan botak :)) :))
ha... kalau bisa dengan bahasa yg lebih gampang buat pemula bos
nb: yg bukan botaknya samar2 disebelah :)) :))

7 Tails yang juga tidak botak...  ^-^

Keinginan itu lebih cocok diartikan sebagai kehendak. Dalam Buddhisme, kehendak disebut dengan istilah cetana. Kehendak atau niat ini adalah salah satu bentuk aktivitas batin. Dari proses munculnya kehendak (cetana) ini, maka seseorang sudah melakukan kamma (perbuatan).

Kehendak itu timbul karena adanya kontak antara 6 landasan indera kita dengan objeknya masing-masing. Dari kontak (phassa) ini, selanjutnya batin akan masuk ke dalam tahap pencerapan dan perasaan. Pencerapan dan perasaan bukanlah suatu perbuatan. Namun merupakan suatu perjalanan / stimulasi sistematis yang terjadi di batin kita, ketika kita indera kita mengenali dunia. Setelah melewati tahap itu, aktivitas batin kita akan sampai pada titik cetana / kehendak. Di titik ini, seseorang bisa mengarahkan kehendaknya pada hal yang baik, hal yang tidak baik ataupun hal yang netral. Kehendak ini akan tenggelam lagi; jika perbuatan sudah dilakukan, jika kehendak itu diurungkan oleh pertimbangan / kebijaksanaan, dan atau kehendak itu tenggelam karena batin kita lebih terfokus pada objek lain. Inilah contoh skenario timbul-tenggelamnya kehendak (cetana).

Tekad Pertapa Sumedha di depan Buddha Dipankara adalah satu bentuk addhitana. Addhitana adalah tekad kuat yang kita teguhkan, dan dalam lingkup kehendak yang luhur. Artinya, addhitana ini pun tidak terlepas dari aktivitas batin yang dinamakan kehendak. Dari tekad yang kuat ini, pada kehidupan-kehidupan selanjutnya, Sang Bodhisatta (calon Buddha Gotama) terus menjalani kehidupan dan terus mengembangkan kapasitasnya di dalam Dhamma. Tekad ini yang membuat seseorang untuk terus berjalan di jalur kebaikan dengan teguh.

Tidak ada yang mustahil di dunia ini selama kita mau berusaha dengan segenap kekuatan. Kalau Anda bertekad untuk menjadi Sammasambuddha kelak, itu juga mungkin bisa terwujud. Tetapi Anda harus memperjuangkannya, karena untuk mewujudkan cita-cita agung seperti itu tidaklah mudah...
« Last Edit: 19 January 2009, 10:17:59 PM by upasaka »

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #34 on: 19 January 2009, 10:11:31 PM »
[at] yanfei

Benar. Mereka melakukan pernikahan sedarah.

Offline yanfei

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 430
  • Reputasi: 12
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #35 on: 19 January 2009, 10:27:14 PM »
 [at] upasaka
kalo bener melakukan pernikahan sedarah berarti keturunannya gak bagus donk?

Offline 7 Tails

  • Sebelumnya RAIN
  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 864
  • Reputasi: 24
  • Gender: Male
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #36 on: 19 January 2009, 10:41:04 PM »
bos maksudnya cuma konsep yg berproses secara stimulasi terus menerus dengan pertimbangan yg telah bijaksana.
jadinya keinginan. keinginan yg ditambah dengan kebijaksanan dan paham secara bulat apa yg akan/ telah dipertimbangkan dengan tekad yg telah bijaksana penilaiannya tanpa kemelekatan. tapi bukan kayak robot soalnya manusia masi bisa mikir
ha.. jadi bukan keinginan yg asal sebut bukan.
apa benar yg saya tangkap bos.
korban keganasan

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #37 on: 19 January 2009, 10:42:30 PM »
[at] yanfei

Dalam teks Pali Kanon, tidak pernah disinggung bahwa ada keturunannya yang 'kurang bagus'. Di luar spekulasi awam, 'keturunan bagus' yang dihasilkan dari hubungan sedarah juga memiliki tingkat peluang yang cukup besar.

Di zaman dahulu, pernikahan sedarah adalah salah satu cara untuk menjaga kelangsungan kekuasaan kerajaan di garis darah biru saat itu. Di Mesir sendiri pada zaman Cleopatra, incest sangat sering dilakukan untuk memperoleh keturunan. Sepengetahuan saya, juga tidak ada keturunan yang 'kurang bagus' dari hasil incest sesama keluarga Cleopatra ini.

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #38 on: 19 January 2009, 10:49:12 PM »
[at] 7 Tails

Saya rasa lebih tepat bila kita menggunakan kata 'kehendak' (cetana), karena kata 'keinginan' bisa disimpulkan secara kasar sebagai 'nafsu-keinginan' (tanha). Dan perbedaannya adalah sangat kontras.

Apa yang Anda maksud itu kehendak untuk menjadi Sammasambuddha?

Offline markosprawira

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.449
  • Reputasi: 155
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #39 on: 20 January 2009, 01:24:12 PM »
adakah keinginan abadi
apa menjadi sammasambuddha adalah keinginan abadi? sesuatu yg kekal
sesuatu yg dicita citakan oleh seseorang. yg dilahirkan, mati, dilahirkan, mati lagi
sampai mencapai buddha.

7 Tails...  :)

Keinginan itu muncul dan diawali dari cetana (kehendak). Cetana adalah satu bentuk aktivitas batin yang timbul dan tenggelam karena faktor-faktor yang bersangkutan. Oleh karena itu, tidak ada keinginan yang abadi.

Pada hakikatnya, semua orang pada akhirnya akan bercita-cita untuk merealisasi Nibbana (Pembebasan)... Cita-cita untuk menjadi Sammasambuddha adalah cita-cita yang paling luhur. Dan untuk bisa mewujudkan hal ini, seseorang harus mengembangkan dirinya agar dapat memiliki kapasitas sebagai seseorang yang Teragung (Sammasambuddha). Ini adalah cita-cita yang paling sulit untuk diwujudkan, namun bukan berarti mustahil.

Ehm kalau saya boleh komentar sih, Tekad sebagaimana yg diucapkan oleh pertapa sumedha yg dinamakan dengan abhinihara-karana atau mulanidhana dimana pada saat itu, yg berperan dalam batin sumedha adalah "Dhamma Chanda"... Chanda = keinginan utk berbuat

berbeda dengan perbuatan dalam keseharian putthujhana yg didorong oleh Cetana/kehendak

Chanda termasuk dalam pakinnaka cetasika 6, yg hanya muncul jika kondisinya pas
sementara Cetana termasuk dalam sabbacittasadharana cetasika, yg selalu ada dalam setiap citta yg muncul....

Jadi begitu ada tekad dimana yg berperan adalah Chanda, pada saat itu juga sebenarnya ada Cetana

Kira2 seperti itulah proses batin mengenai Tekad Bodhisatta

semoga bermanfaat

metta

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #40 on: 20 January 2009, 01:30:41 PM »
[at] Markos

Terima kasih atas penjelasan lanjutnya yang diambil dari sudut pandang Abhidhamma... :)

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #41 on: 23 January 2009, 11:44:32 PM »
Yasa

Yasa adalah putera dari seorang pedagang yang kaya raya di Benares. Yasa hidup serba berkecukupan. Yasa hidup di tiga istananya yang dipenuhi berbagai macam hiburan dan dikelilingi oleh gadis-gadis cantik. Kehidupan Yasa sungguh diliputi oleh kesenangan duniawi. Namun suatu malam di musim hujan, Yasa terbangun pada larut malam. Di kamarnya ini Yasa melihat gadis-gadisnya tidur tergeletak di lantai dengan berbagai sikap. Yasa menjadi muak dan merasa seperti di ruangan yang penuh dengan mayat. Arena muak dan tidak tahan, Yasa pun memakai sandalnya dan pergi keluar dari istana dengan pikiran yang kacau. Kisah Yasa yang keluar dari istana ini mirip dengan kisah kaburnya Pangeran Siddhattha dari istana.

Yasa pun sampai di Taman Rusa Isipathana. Di sana Yasa berjumpa dengan Sang Buddha yang sedang bermeditasi jalan. Setelah Sang Buddha duduk di tempat-Nya, Sang Buddha pun menegur Yasa:

“Anak-Ku, Yasa, tempat ini tidak menakutkan. Tempat ini tidak mengerikan. Mari duduk di sini dan Aku akan mengajarimu Dhamma yang benar menuju Nibbana.”

Mendengar kata-kata Sang Buddha itu, Yasa pun menghampiri Sang Buddha dan memberi sikap hormat untuk kemudian duduk di sisi Sang Buddha. Kemudian Sang Buddha memberikan uraian Anupubbikatha, yaitu uraian yang menjelaskan pentingnya berdana, hidup dengan mengendalikan perbuatan, akibatnya yang bisa membuat seseorang bertumimbal lahir di alam dewa, dan pemahaman akan tidak berfaedahnya mengumbar nafsu duniawi; dan melepaskan ikatan duniawi untuk merealisasi Nibbana. Selanjutnya Sang Buddha melanjutkan uraian-Nya dengan membabarkan Empat Kebenaran Mulia. Setelah mendengarkan dengan seksama akan semua uraian Sang Buddha, Yasa pun mencapai tingkat kesucian Sotapanna.


Yasa memberi hormat kepada Sang Buddha

Keesokan harinya, istana tempat Yasa bertinggal dipenuhi keributan karena Yasa menghilang. Ibu Yasa, Sujata (wanita yang pernah memberi persembahan makan kepada Pertapa Gotama dahulu), amat panik dan melaporkan hal ini pada suaminya. Lalu Ayah Yasa memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mencari Yasa di segenap penjuru. Di lain pihak, Ayah Yasa sendiri juga pergi mencari Yasa. Dia pun sampai di Taman Tusa Isipathana. Dari kejauhan, Ayah Yasa melihat Sang Buddha. Mengetahui hal ini, Sang Buddha pun memakai kekuatan gaib-Nya untuk membuat Yasa yang sedang duduk di sisi-Nya agar tidak terlihat oleh orang lain. Tidak lama kemudian, Ayah Yasa menghampiri Sang Buddha dan bertanya :
“Buddha Yang Agung, apakah Engkau melihat anakku, Yasa?”

Sang Buddha kemudian berkata :
“Jika engkau ingin melihat anakmu, mari duduklah di sini, nanti engkau akan melihat anakmu, Yasa.”

Mendengar hal ini, Ayah Yasa menjadi gembira. Lalu dia memberi sikap hormat untuk kemudian duduk di sisi Sang Buddha. Setelah itu Sang Buddha memberikan uraian yang menjelaskan pentingnya berdana, hidup dengan mengendalikan perbuatan, akibatnya yang bisa membuat seseorang bertumimbal lahir di alam dewa, dan pemahaman akan tidak berfaedahnya mengumbar nafsu duniawi; dan melepaskan ikatan duniawi untuk merealisasi Nibbana. Selanjutnya Sang Buddha melanjutkan uraian-Nya dengan membabarkan Empat Kebenaran Mulia.

Setelah mendengarkan dengan seksama akan semua uraian Sang Buddha, Ayah Yasa pun mencapai tingkat kesucian Sotapanna. Dengan tegas kemudian Ayah Yasa berkata : “Aku berlindung kepada Buddha, Dhamma dan Sangha. Semoga Sang Bhagava* menerimaku sebagai upasaka mulai hari ini sampai akhir hidupku.”
Sang Buddha pun mengabulkannya, dan dengan demikian Ayah Yasa menjadi upasaka pertama yang berlindung pada Tiratana (Buddha, Dhamma dan Sangha). Selain itu, pada uraian Sang Buddha yang kedua kali ini mengenai Anupubbikatha dan Empat Kebenaran Mulia, Yasa yang berada di sisi Sang Buddha pun memahaminya dengan jelas sehingga mencapai tingkat kesucian Arahat.

Setelah itu, Sang Buddha menarik kembali kekuatan gaib-Nya sehingga Ayah Yasa dan Yasa dapat saling melihat satu sama lain. Ayah Yasa lalu menegur anaknya dan mendesak agar Yasa untuk segera pulang ke istana. Yasa menengok ke arah Sang Buddha, dan Sang Buddha pun berkata :
“Kepala Keluarga yang baik, beberapa waktu yang lalu Yasa memperoleh Mata Dhamma sebagaimana juga Anda memperolehnya pada hari ini. Namun hari ini Yasa berhasil menyingkirkan semua noda batin dan mencapai Pembebasan. Apakah mungkin Yasa kembali ke penghidupan duniawi dan menikmati kesenangan-kesenangan indera lagi?”

Ayah Yasa pun menjawab :
“Aku rasa memang tidak mungkin, dan inilah jalan hidupnya sekarang. Tapi saya mengundang Sang Bhagava untuk berkenan mengambil dana di rumahku bersama anakku sebagai pengiringnya.”

Sang Buddha menerima undangan ini dengan berdiam diri. Setelah memahami bahwa permohonannya diterima Sang Buddha, Ayah Yasa kemudian berpamitan dan memberi sikap hormat pada Sang Buddha dan berjalan memutar dengan Sang Buddha tetap di sisi kanannya. Setelah itu, Yasa pun memohon kepada Sang Buddha untuk ditahbiskan sebagi bhikkhu. Sang Buddha menahbiskan Yasa :
“Mari, Bhikkhu! Dhamma telah dibabarkan dengan sempurna. Jalanilah kehidupan suci.”

Karena Yasa sudah mencapai tingkat Arahat, maka Sang Buddha tidak mengucapkan “…dan akhirilah penderitaan” pada penahbisan itu. Dengan demikian pada waktu itu sudah ada tujuh orang yang merealisasikan Nibbana, termasuk Sang Buddha.


Keesokan harinya, Sang Buddha dan Yasa pergi ke istana Ayah Yasa dan kemudian dipersilahkan untuk masuk dan duduk di tempat yang telah dipersiapkan. Di sana mereka bertemu dengan Ibu dan isteri Yasa. Sang Buddha pun kembali menguraikan tentang pentingnya berdana, hidup dengan mengendalikan perbuatan, akibatnya yang bisa membuat seseorang bertumimbal lahir di alam dewa, dan pemahaman akan tidak berfaedahnya mengumbar nafsu duniawi; dan melepaskan ikatan duniawi untuk merealisasi Nibbana. Selanjutnya Sang Buddha melanjutkan uraian-Nya dengan membabarkan Empat Kebenaran Mulia. Dan setelah mendengar uraian Sang Buddha ini dengan seksama, mereka pun mencapai tingkat kesucian Sotapanna dan diterima menjadi upasika-upasika pertama yang berlindung pada Tiratana.

Setelah itu Sang Buddha dan Yasa pun dilayani dan dihidangkan dengan berbagai makanan yang lezat. Dan selesai bersantap siang, beberapa saat kemudian Sang Buddha dan Yasa pun kembali ke Taman Rusa Isipathana.

Berita heboh bahwa asa saat ini sudah menjadi bhikkhu tersebar luas di sekitar Benares. Di kota ini juga, Yasa memiliki empat orang sahabat yang kesemuanya juga merupakan anak dari pedagang kaya-raya. Keempat orang itu bernama Vimala, Subahu, Punnaji dan Gavampati. Mereka sangat penasaran dengan keadaan Yasa saat ini. Selain itu mereka juga sangat ingin mendengarkan uraian Dhamma dari Sang Buddha. Oleh karena itu, mereka berempat pun pergi mengunjungi Yasa di Taman Rusa Isipathana. Di sana, Yasa pun mengajak mereka semua untuk menghadap Sang Buddha. Sang Buddha pun memberikan uraian kepada mereka berempat tentang pentingnya berdana, hidup dengan mengendalikan perbuatan, akibatnya yang bisa membuat seseorang bertumimbal lahir di alam dewa, dan pemahaman akan tidak berfaedahnya mengumbar nafsu duniawi; dan melepaskan ikatan duniawi untuk merealisasi Nibbana. Selanjutnya Sang Buddha melanjutkan uraian-Nya dengan membabarkan Empat Kebenaran Mulia. Dan setelah mendengar uraian Sang Buddha ini dengan seksama, mereka semua pun mencapai tingkat kesucian Sotapanna. Setelah itu mereka berempat pun memohon pada Sang Buddha untuk ditahbiskan menjadi bhikkhu. Sang Buddha pun menerimanya, dan menahbiskan mereka berempat :
“Mari, Bhikkhu! Dhamma telah dibabarkan dengan sempurna. Jalanilah kehidupan suci dan akhirilah penderitaan.”

Setelah menahbiskan, Sang Buddha kembali memberikan penjelasan lanjut mengenai uraian-Nya. Dan dalam waktu yang singkat, mereka berempat pun dapat memahaminya dengan jelas sehingga mencapai tingkat kesucian Arahat. Dengan demikian, pada saat itu sudah ada sebelas orang yang merealisasikan Nibbana, termasuk Sang Buddha.

Selain keempat orang itu, Yasa masih memiliki lima puluh orang sahabat yang lain di Benares. Kelimapuluh orang sahabat Yasa ini pun berasal dari keluarga yang terhormat. Mereka semua mendengar bahwa sahabat-sahabat mereka sudah menjadi bhikkhu. Mereka semua sangat penasaran dengan keadaan Yasa dan keempat sahabat lainnya saat ini. Selain itu mereka semua juga sangat ingin mendengarkan uraian Dhamma dari Sang Buddha. Oleh karena itu, mereka semua pun pergi mengunjungi Yasa dan keempat sahabat lainnya di Taman Rusa Isipathana. Di sana, Yasa pun mengajak mereka semua untuk menghadap Sang Buddha. Sang Buddha pun memberikan uraian kepada mereka berlimapuluh tentang pentingnya berdana, hidup dengan mengendalikan perbuatan, akibatnya yang bisa membuat seseorang bertumimbal lahir di alam dewa, dan pemahaman akan tidak berfaedahnya mengumbar nafsu duniawi; dan melepaskan ikatan duniawi untuk merealisasi Nibbana. Selanjutnya Sang Buddha melanjutkan uraian-Nya dengan membabarkan Empat Kebenaran Mulia. Dan setelah mendengar uraian Sang Buddha ini dengan seksama, mereka semua pun mencapai tingkat kesucian Sotapanna. Setelah itu mereka berlimapuluh pun memohon pada Sang Buddha untuk ditahbiskan menjadi bhikkhu. Sang Buddha pun menerimanya, dan menahbiskan mereka semua :
“Mari, Bhikkhu! Dhamma telah dibabarkan dengan sempurna. Jalanilah kehidupan suci dan akhirilah penderitaan.”

Setelah menahbiskan, Sang Buddha kembali memberikan penjelasan lanjut mengenai uraian-Nya. Dan dalam waktu yang singkat, mereka berlimapuluh pun dapat memahaminya dengan jelas sehingga mencapai tingkat kesucian Arahat. Dengan demikian, pada saat itu sudah ada enam puluh satu orang yang merealisasikan Nibbana, termasuk Sang Buddha.
« Last Edit: 06 March 2010, 10:29:56 AM by upasaka »

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #42 on: 24 January 2009, 08:49:03 PM »
* Sang Bhagava = Sang Buddha
   Bhagava artinya "Yang Terberkahi" atau "Yang Mendapat Keuntungan Beraneka Warna"


Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #43 on: 03 February 2009, 09:58:35 PM »

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #44 on: 14 March 2009, 12:00:05 AM »
Setelah melewati tiga bulan masa kediaman musim hujan (vassana), Sang Buddha sudah berhasil membimbing 60 orang dalam jalan perealisasian Nibbana. Kemudian Sang Buddha bermaksud untuk membabarkan Dhamma kepada semua makhluk di dunia ini; tanpa memandang apakah mereka adalah dewa maupun manusia, tanpa memandang status sosial, tanpa memandang perbedaan jenis kelamin, tanpa memandang status finansial, tanpa memandang penampilan fisik, dan tanpa memandang tingkat intelegensial.

Sang Buddha bersabda :
“Para Bhikkhu, Aku telah terbebas dari semua ikatan-ikatan, baik yang bersifat jasmaniah maupun batiniah. Demikian pula kamu sekalian. Pergilah, para bhikkhu, demi kesejahteraan dan kebahagiaan banyak makhluk, atas dasar welas asih kepada dunia, demi kebaikan, kesejahteraan dan kebahagiaan para dewa dan manusia. Janganlah pergi berduaan ke tempat yang sama. Babarkanlah Dhamma yang indah pada awalnya, indah pada pertengahannya, dan indah pada akhirnya, dalam makna maupun isinya. Serukanlah penghidupan suci, yang sungguh sempurna dan murni. Ada makhluk-makhluk dengan sedikit debu di matanya. Jika tidak mendengar Dhamma, mereka akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh manfaat yang besar. Mereka adalah orang-orang yang mampu memahami Dhamma dengan sempurna. Aku sendiri akan pergi ke Senanigama di Uruvela untuk membabarkan Dhamma."

Demikianlah Sang Buddha mengutus keenampuluh siswa-Nya yang telah tercerahkan untuk mengembara dari satu tempat ke tempat lain demi kebahagiaan banyak makhluk. Ini adalah misionaris pertama dalam sejarah umat manusia. Mereka (para bhikkhu) menyebarluaskan Dhamma yang mulia atas dasar welas asih terhadap makhluk lain dan tanpa mengharapkan pamrih apa pun. Mereka membahagiakan orang dengan mengajarkan moralitas, memberikan bimbingan meditasi, serta menunjukkan manfaat dari penghidupan suci.


Sang Buddha mengutus 60 bhikkhu Arahanta untuk menjadi misionaris Dhamma
« Last Edit: 01 March 2010, 11:50:11 PM by upasaka »