Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha  (Read 112370 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #15 on: 07 January 2009, 09:14:29 PM »
Sang Buddha Tiba di Taman Rusa Isipathana

Setelah tiba di Benares, Sang Buddha kemudian memasuki wilayah Taman Rusa Isipathana. Dari kejauhan, kelima petapa itu melihat Sang Buddha berjalan menuju ke arah mereka. Salah seorang dari kelima petapa itu kemudian berkata:

“Kawan-kawan, lihat Petapa Gotama sedang memasuki taman. Dia adalah orang yang telah gagal dalam mencapai pencerahan, dan lebih menyukai penghidupan duniawi yang penuh dengan kekotoran. Sebaiknya kita tidak usah menyapanya, lagipula jangan memberi hormat padanya. Lebih baik jika dia mau duduk di sini, atau jika tidak mau dia juga boleh hanya berdiri saja.”

Ketika Sang Buddha semakin mendekat, mereka melihat ada sesuatu yang berbeda dan tidak sama seperti Petapa Gotama yang dahulu. Beliau kelihatan lebih mulia, agung, damai, bahagia, dan bersemangat. Secara tidak sadar, kelima petapa itu malah menyambut Sang Buddha dengan penuh hormat dan melupakan apa yang sudah mereka sepakati sebelumnya. Setelah mengambil tempat duduk yang berada lebih tinggi dari tempat duduk kelima orang petapa itu, Sang Buddha kemudian bersabda:

“O, Petapa, Aku telah menemukan jalan yang menuju ke keadaan terbebas dari semua unsur. Akan Ku-beritahukan kepadamu. Akan Ku-ajarkan kepadamu. Kalau engkau ingin mendengar, belajar dan melatih diri seperti yang akan Ku-ajarkan, maka dalam waktu singkat engkau pun dapat mengerti. Bukan nanti di kelak kemudian hari, tetapi sekarang juga dalam penghidupan ini, bahwa apa yang Ku-katakan itu adalah benar. Engkau dapat menyelami dan membuktikan sendiri keadaan itu yang berada di atas hidup dan mati. Dengan demikian tidak akan ada lagi usia tua, sakit dan mati.”

Kelima petapa itu terheran mendengar ucapan Sang Buddha. Salah satu dari mereka lalu berkata:

“Avuso* Gotama, sewaktu kami masih berdiam bersama Anda, Anda telah berlatih menyiksa diri dengan cara yang belum pernah dilakukan oleh semua orang di Jambudipa. Karena itu kami menganggap Anda sebagai guru kami. Namun Anda sendiri gagal dalam segala usaha itu. Setelah Anda kembali ke penghidupan duniawi dan tidak lagi melatih diri, kini Anda datang dengan mengatakan telah mencapai Pencerahan. Bagaimana mungkin Anda telah mencapainya?”

“Kamu keliru, o Petapa. Aku tidak pernah berhenti berusaha dan tidak pernah kembali ke penghidupan duniawi. Dengarlah apa yang Ku-katakan. Aku sesungguhnya telah memperoleh Kebijaksanaan Tertinggi, dan juga dapat mengajarkan padamu untuk memperoleh Kebijaksanaan tersebut.”

Setelah itu, kelima petapa itu bersedia untuk mendengarkan khotbah Sang Buddha. Khotbah ini dikenal dengan nama Dhammacakkappavattana Sutta (Khotbah Pemutaran Roda Dhamma). Khotbah ini berisi tentang pengertian akan dua pinggiran ekstrim dan Empat Kebenaran Mulia, serta dibabarkan Sang Buddha tepat pada saat purnamasidhi di Bulan Asadha.


“O Petapa, ada dua pinggiran ekstrim yang harus dihindari dalam kehidupan. Pinggiran ekstrim yang pertama adalah mengumbar nafsu-nafsu, yang bersifat rendah, hanya dilakukan oleh orang yang masih bergumul di penghidupan duniawi, tidak mulia, tidak berfaedah, dan hanya akan mengakibatkan penderitaan. Pinggiran ekstrim kedua adalah usaha untuk tidak lagi menikmati kebahagiaan (menyiksa diri), yang menimbulkan kesakitan hebat, tidak mulia, tidak berfaedah, dan hanya akan mengakibatkan penderitaan. Jalan Tengah dengan menghindari kedua pinggiran yang ekstrim telah Ku-selami, sehingga Ku-peroleh Pandangan Terang, Kebijaksanaan, Ketenangan, Pengetahuan tertinggi, Pencerahan Sempurna, Penerangan Agung, Nibbana.”


Khotbah Dhammacakkappavattana Sutta di Taman Rusa Isipathana

*avuso = sahabat, panggilan untuk bhikkhu yang lebih junior
« Last Edit: 06 March 2010, 10:36:41 AM by upasaka »

Offline Reenzia

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.199
  • Reputasi: 50
  • Gender: Female
  • The Wisdom ~
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #16 on: 07 January 2009, 09:16:43 PM »
perlu dipublikasikan kepada seluruh umat buddhist nih

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #17 on: 07 January 2009, 09:21:32 PM »
Dhammacakkappavattana Sutta

Sang Buddha membabarkan khotbah pertama-Nya ini di Taman Rusa Isipathana, di Varanasi (sekarang tempatnya dinamankan Sarnath, di Benares). Sang Buddha membabarkannya dengan panjang-lebar dan jelas sekali. Tetapi di bagian-bagian lain yang tidak terhitung jumlahnya, ajaran ini dibabarkan dan diterangkan berulang-ulang dengan lebih terperinci dan dengan berbagai macam cara. Empat Kebenaran Mulia:

1. Dukkha Ariyasacca
Artinya adalah Dukkha.

Kebenaran Mulia yang pertama berbunyi “dukkha”, umumnya oleh hampir semua orang menerjemahkannya sebagai “Kebenaran Mulia tentang penderitaan (duka)”. Dan jika mereka menarik kesimpulannya dalam pemahaman Buddhis, mereka mengartikannya bahwa penghidupan ini adalah penderitaan dan duka-lara. Penerjemahan yang salah ini menimbulkan kesalah-pahaman, sehingga banyak orang yang menilai bahwa Ajaran Buddha (Agama Buddha) adalah agama yang pesimis. Di sini dengan tegas dinyatakan bahwa Agama Buddha adalah agama yang tidak berlandaskan pada pandangan pesimis ataupun optimis, namun realistis. Yaitu satu ajaran yang mengajak dan mengajar kita untuk melihat hidup dan penghidupan dengan cara realistis. Ajaran Buddha melihat benda-benda dan segala sesuatunya dengan keadaan sewajarnya (jathabhutam) dan tidak menggambarkan secara keliru bahwa “hidup ini indah” (life is beautifull) atau menjalani hidup dengan pandangan bahwa “hidup ini tidak adil” (no justice in the world). Ajaran Buddha memberitahukan tentang semua keadaan sewajarnya tanpa menutup-nutupi kenyataan yang buruk ataupun mengeluarkan pandangan-pandangan yang dihasilkan dari imajinasi, namun merupakan hasil dari penelitian dan pembuktian intensif.

Tidak dapat disangkal bahwa kosakata dalam Bahasa Pali yang berbunyi “dukkha” yang dalam percakapannya sehari-hari berarti “derita”, “sakit”, “sedih”, “duka”, dan makna penderitaan lainnya. Kosakata ini adalah lawan dari kosakata “sukha” yang berarti “suka”, “senang”, “gembira”, “bahagia”, dan sebagainya. Namun kata “dukkha” yang dipakai dalam pengertian akan Kebenaran Mulia yang Pertama ini mengandung arti filosofis yang sangat luas. Kata “dukkha” dalam Kebenaran Mulia Pertama ini mengandung artian lain seperti “tidak memuaskan”, atau “ketidakpuasan”, dan masih banyak lagi. Karena sangat sulit untuk mencari kata substitusi dari “dukkha” ini, maka akan lebih bijaksana bila kita tetap menggunakan istilah “dukkha” ini daripada mencoba menggantinya dengan kata alternatif lain yang dapat menimbulkan polemik kelak.

Meski Sang Buddha mengatakan bahwa penghidupan ini adalah dukkha, namun bukan berarti penghidupan ini tanpa kebahagiaan. Sang Buddha menjelaskan bahwa di dunia ini ada dua macam kebahagiaan yang dapat dirasakan oleh semua makhluk, yaitu kebahagiaan fisik dan kebahagiaan batin (mental). Kebahagiaan fisik itu seperti kebahagiaan menjadi orang kaya, kebahagiaan menikmati makanan lezat, kebahagiaan mendengarkan lagu, kebahgiaan melihat lukisan, dan kebahagiaan-kebahagiaan lain yang memuaskan indria. Sedangkan kebahagiaan batin (mental) itu seperti kebahagiaan merasakan kebahagiaan makhluk lain, kebahagiaan melaksanakan penghidupan suci, kebahagiaan ketenangan batin saat bermeditasi, dan kebahagiaan-kebahagiaan lain yang memuaskan landasan mental. Namun semua kebahagiaan tersebut juga termasuk dalam dukkha. Bahkan keadaan “jhana” (keadaan mental yang sangat tenang, yang dapat dicapai dengan jalan meditasi tingkat tinggi) yang dapat membebaskan perasaan dari “sukha” (damai) dan “dukkha” (tidak puas), juga termasuk dalam kategori dukkha. Mengapa semuanya itu adalah dukkha? Sang Buddha menjelaskan:
 
“Semua kebahagiaan itu semu semata, akan berubah dan tidak kekal dan karenanya harus digolongkan dalam dukkha (anicca dukkha viparinama-dhamma).”
   
Dalam hubungan dengan penghidupan dan kebahagiaan dari hawa-hawa nafsu, Sang Buddha menjelaskan tiga hal yang berkaitan, antara lain:

<1> Perasaan tertarik atau kegembiraan (assada)
Perasaan ini muncul seperti pada saat Anda tertarik, suka atau merasa gembira kalau bertemu dan bersama dengan seseorang. Tidak harus sesama antara orang atau makhluk lainnya, namun juga dapat terjadi pada hal-hal lainnya; seperti rasa tertarik pada suatu tempat, makanan, lagu, aroma, dan sebagainya. Hal ini tentu sangat sering kita alami. Tetapi kegembiraan ini tidaklah bersifat kekal sebagaimana juga halnya dengan orang itu (objek); dan segala sesuatu yang membuatnya tertarik juga tidak kekal.

<2> Akibat yang tidak baik, atau perasaan tidak puas (adinava)
Perasaan ini muncul seperti pada saat Anda tidak dapat bertemu atau bersama dengan orang itu, yang tentu saja pasti dikarenakan oleh suatu sebab. Sama seperti asaada, perasaan ini juga dapat muncul karena pengaruh objek lainnya seperti tempat, makanan, lagu, aroma dan sebagainya. Anda akan menjadi kecewa dan mungkin Anda akan melakukan perbuatan yang tidak baik. Inilah yang dinamakan dengan adinava. Hal ini juga tentu sangat sering kita alami dalam penghidupan sehari-hari.

<3> Perasaan yang terbebas dan tidak terikat (nissarana)
Perasaan ini hanya muncul kepada orang yang tidak lagi terikat pada sesuatu lagi. Banyak orang yang memakai standar kebahagiaan bagi dirinya dengan sesuatu yang belum dimilikinya. Ketika sesuatu yang belum dimilikinya itu belum terpenuhi, maka ia akan menderita. Namun orang yang telah memiliki perasaan nissarana, ia sudah tidak terikat lagi pada sesuatu yang belum dimilikinya bahkan yang sudah dimilikinya.


Konsep-konsep dukkha dapat ditinjau dari tiga segi, yaitu:
1) Dukkha-dukkha (dukkha sebagai derita biasa)
Semua jenis penderitaan dan ketidakpuasan dalam penghidupan ini, seperti dilahirkan, terlapuk dan berusia tua, sakit, mati; berada dalam keadaan yang tidak menyenangkan; tertimpa musibah; terpisah dari orang atau sesuatu yang disayangi; keluh-kesah; kegagalan; kesedihan, dan semua bentuk derita fisik dan mental yang oleh umum dianggap sebagai derita dan sakit, adalah termasuk dalam golongan ini.

2) Viparinama-dukkha (dukkha sebagai akibat dari perubahan)
Suatu perasaan berbahagia, suatu keadaan bahagia dalam kehidupan adalah tidak kekal. Cepat atau lambat hal ini akan berubah dan perubahan ini akan menimbulkan kesedihan, derita, ketidakpuasan dan ketidakbahagiaan. Misalnya seseorang yang mencapai kesuksesan dan kekayaan yang melimpah, tidak selamanya akan bermandikan uang kebahagiaan. Suatu hari keadaannya pasti akan berubah, seperti akan ada masalah keuangan, masalah internal maupun eksternal perusahaan, mengalami kebangkrutan, atau setidaknya menghadapi batu sandungan lainnya yang merupakan akibat dari kesuksesannya. Termasuk pula kesedihan akibat berpisah dengan orang yang kita sayangi.

3) Sankhara-dukkha (dukkha sebagai akibat dari keadaan yang berkondisi)
Untuk segi ketiga ini tidaklah terlalu mudah dibabarkan dan dapat langsung dimengerti oleh orang awam. Segi ketiga ini adalah segi yang paling penting dalam Kebenaran Mulia Pertama ini. Untuk penjelasan akan sankhara-dukkha ini, diperlukan pembahasan secara analitis yang khusus terlebih dahulu tentang apa yang kita anggap sebagai “makhluk” atau “aku”. Namun secara garis besarnya adalah ketidakpuasan atau penderitaan yang berhubungan dengan Lima Kelompok Kehidupan (pancakkhandha). Seperti perasaan sedih karena tidak dapat menikmati makanan enak yang dipicu karena adanya indera pengecap yang merupakan salah satu dari Lima Kelompok Kehidupan (pancakkhandha).
« Last Edit: 08 January 2010, 09:17:17 AM by upasaka »

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #18 on: 07 January 2009, 09:25:19 PM »
2. Dukkha Samudaya
Artinya adalah Sumber Dukkha.

Kebenaran Mulia Kedua membahas sumber atau asal mula dukkha. Secara garis besar, dapat ditarik fakta bahwa; “Dukkha bersumber kepada tanha (nafsu keinginan yang tiada habisnya) yang menghasilkan kelangsungan kembali dan tumimbal lahir (punabhavika), yang terikat oleh hawa nafsu (nandiragasahagata), dan yang memperoleh kenikmatan baru di sana-sini (tatratatrabhinandini).”

Sumber dukkha adalah :
<1> Kehausan (nafsu keinginan yang tiada habisnya) akan kenikmatan hawa nafsu (kama-tanha)
Mencakup ketagihan akan kesenangan indria pada:
a. wujud-wujud fisik
b. suara-suara
c. wangi-wangian
d. rasa-rasa makanan
e. sentuhan-sentuhan
f. bentuk-bentuk pikiran

<2> Kehausan (nafsu keinginan yang tiada habisnya) akan kelangsungan kelahiran (bhava-tanha)
Mencakup ketagihan untuk terlahir kembali sebagai manusia yang berdasarkan pada kepercayaan yang mengatakan tentang adanya roh yang kekal (attavada). Keinginan untuk menuju surga atau neraka juga termasuk dalam kehausan ini. Keinginan untuk hidup abadi setelah kematian juga termasuk kehausan ini.

<3> Kehausan (nafsu keinginan yang tiada habisnya) akan tidak-kelangsungan atau pemusnahan diri (vibhava-tanha)
Mencakup ketagihan untuk memusnahkan diri yang berdasarkan kepercayaan yang mengatakan bahwa setelah manusia meninggal maka berakhirlah segala riwayat tiap-tiap manusia (ucchedaväda). Kehausan ini adalah keinginan untuk lenyap setelah kematian.


Keinginan (hawa nafsu) ini memperlihatkan diri dalam berbagai cara, yang merupakan sumber dari beraneka-ragam penderitaan dan kelangsungan hidup makhluk-makhluk. Namun jangan menganggap bahwa tanha sebagai sumber utama dan satu-satunya. Karena semua hal di alam Semesta ini bersifat relatif dan saling bergantung. Meski hawa nafsu (tanha) ini ditempatkan pada posisi sumber dukkha, pada hakikatnya untuk dapat timbul (samudaya), hawa nafsu (tanha) ini bergantung pada hal lainnya; yaitu perasaan, dan perasaan ini bergantung pada kontak, dan kontak pun masih bergantung pada kondisi lainnya. Dengan demikian hawa nafsu bukanlah satu-satunya sebab timbulnya dukkha. Meskipun tidak dapat disangkal memang hawa nafsu merupakan sebab nyata yang terdekat dan yang terpenting untuk dipahami. Namun kita tidak dapat mengesampingkan unsur lainnya yang membuat dukkha itu timbul, yaitu noda-noda dan kekotoran batin (kilesa, sasava-dhamma). Dan kesemuanya itu (hawa nafsu dan noda kekotoran batin) berpangkal pada avijja (ketidaktahuan). Avijja inilah yang menciptakan pemahaman-pemahaman keliru tentang “aku”. Dan pada skala penghidupan yang lebih luas, akhirnya merangsang tumbuhnya tiga akar keburukan; yaitu lobha (keserakahan), dosa (kebencian) dan moha (kebodohan batin). Perlu didefinisikan dengan jelas, tanha ini bukanlah hanya sebatas keinginan dan keterikatan kepada hawa nafsu, harta benda dan kekuasaan. Namun termasuk pula keinginan akan dan terikat pada ide-ide dan cita-cita, hasrat, pandangan hidup, opini-opini, teori-teori, konsepsi-konsepsi dan kepercayaan-kepercayaan (dhamma-tanha). Sang Buddha bersabda:

“Dunia ini membutuhkan, menginginkan dengan sangat dan kemudian terikat kepada tanha.”

Semua orang pasti mengakui bahwa semua kejahatan dan perselisihan di dunia ini bermula pada keinginan yang egoistis. Ini tidak sulit untuk dimengerti. Tapi bagaimana keinginan yang egoistis ini dapat mengakibatkan kelangsungan-kembali dan tumimbal lahir, mungkin tidaklah mudah untuk dipahami.

Kita mengetahui bahwa semua makhluk jelas membutuhkan makanan. Ada “empat macam makanan” (ahara) yang menjadi sebab atau kondisi yang harus dipenuhi agar makhluk-makhluk dapat lahir dan berlangsung, yaitu:
1. Makanan biasa atau makanan biologis (kabalinkarahara)
2. Kontak dari enam indria dengan dunia luar (phassahara)
3. Kesadaran (vinnanahara)
4. Kehendak atau kemauan (manosancetanahara)
    Manosancetanahara terdiri dari mano (batin), sanna (pencerapan) dan cetana (kehendak)

Ahara keempat merupakan kehendak untuk hidup, untuk lahir, untuk bertumimbal-lahir, untuk berlangsung dan untuk menjadi lebih sempurna. Ia menciptakan akar bagi kelahiran dan kelangsungan yang bergerak maju dengan perbuatan baik dan buruk (kusalakusala kamma). Sang Buddha pun bersabda:

“Siapa yang mengerti makanan dari cetana, ia juga akan mengerti tiga bentuk tanha (kehausan).”

Oleh karena itu, tanha (kehausan), kehendak, kehendak mental dan kamma semuanya mempunyai arti yang sama, yaitu kenginan atau kemauan untuk “ada”, untuk hidup, untuk hidup kembali, untuk lebih sempurna lagi, untuk berkembang lebih baik, untuk menghimpun lebih banyak lagi.

Inilah sebab timbulnya dukkha dan ini dapat ditemukan dalam "kelompok kehidupan" dari bentuk-bentuk pikiran. Ini merupakan ajaran Sang Buddha yang penting sekali. Kita harus mengerti dengan baik dan harus senantiasa ingat bahwa “sebab”, bibit dari timbulnya dukkha ada di dalam dukkha itu sendiri dan bukan berada di luarnya. Kita harus mempunyai pengertian yang sama dan selalu ingat bahwa “sebab”, bibit untuk menghentikan dukkha, untuk menyingkirkan dukkha secara total, juga terletak di dalam dukkha itu sendiri dan bukan berada di luarnya.
   
Istilah “kamma” (Bahasa Pali) atau “karma” (Bahasa Sansekerta) adalah istilah yang mempunyai arti khusus sebagai “perbuatan berkehendak”. Buah dari perbuatan itu disebut sebagai buah kamma (kamma-phala atau kamma-vipaka). Kehendak yang baik atau yang buruk akan mengakibatkan perbuatan baik atau yang buruk pula, sehingga menghasilkan buah kamma yang baik atau yang buruk pula. Nafsu keinginan, kehendak dan kamma yang baik atau yang buruk, semuanya akan menghasilkan kekuatan untuk berlangsung ke arah yang baik atau yang buruk. Baik dan buruk ini pun sebenarnya relatif karena ia bergerak di lingkaran samsara (lingkaran tumimbal-lahir). Suatu perbuatan dapat disebut perbuatan baik atau perbuatan buruk karena didasari atas niat dan wujud akibatnya (buah kamma). Buah kamma (akibat perbuatan) itu tidaklah pilih kasih, tidaklah merupakan hadiah atau berupa hukuman. Karena Hukum Kamma adalah satu hukum keseimbangan alam. Seorang Arahanta (orang yang telah mencapai tingkat kesucian tertinggi, mencapai Nibbana) meskipun berbuat sesuatu, tidak akan menimbun kamma karena beliau telah terbebas dari konsepsi tentang adanya “aku”, terbebas dari tanha (nafsu keinginan), terbebas dari segala macam noda dan kekotoran batin. Jadi selama avijja masih menyelubungi kita, kita akan terus membuat kamma yang akan menarik kita terus berputar di samsara.
« Last Edit: 08 January 2010, 09:29:51 AM by upasaka »

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #19 on: 07 January 2009, 09:28:55 PM »
3. Dukkha Nirodha
Artinya adalah Terhentinya Dukkha.

Jika semua hal yang menjadi penyebab dukkha sudah diketahui, maka kita pun dapat melihat celah di mana dukkha itu dapat ditembus. Untuk menyingkirkan dukkha secara total, kita harus menyingkirkan akar dukkha yang dinamakan tanha. Dengan menyingkirkan tanha (satu pokok dengan avijja), kita akan mencapai Nibbana. Apakah yang dimaksud dengan Nibbana? Banyak jawaban yang tidak menjelaskan secara tepat tentang makna Nibbana, karena memang Nibbana adalah satu kosakata yang menjelaskan tentang keadaan yang tidak ada di dunia ini. Sebab dunia ini bersifat dualistis, sedangkan Nibbana adalah non-dualistis. Karenanya tidak ada bahasa apa pun atau kalimat manapun yang dapat menjelaskan maknanya secara tepat. Biarpun tidak ada penjelasan yang dapat menjelaskannya, namun kita tetap memerlukan penjelasan akan Nibbana agar setidaknya dapat melihat seberkas gambarannya. Nibbana adalah padamnya nafsu keinginan, keadaan yang sepenuhnya terbebas, tidak ada rasa suka maupun duka, tidak berkondisi, tidak ada unsur-unsur yang melekat, tidak tercipta, tidak dilahirkan, yang mutlak dan terlepas dari segalanya.

Apakah “yang tidak tercipta” (Asankhata) itu? Itu adalah padamnya hawa nafsu (ragakkhayo), padamnya kebencian (dosakkhayo) dan padamnya kegelapan batin (mohakkhayo). Di antara sikap yang tercipta maupun yang tidak tercipta apa pun juga, viraga (sikap yang tidak terpengaruh) adalah sikap yang paling tinggi. Lenyapnya kesombongan, menghancurkan kehausan, membasmi ikatan-ikatan, memutuskan kelangsungan, padamnya tanha, tidak terpengaruh, terhenti, penghentian kelangsungan tumimbal lahir, itulah Nibbana.

Karena Nibbana sering digambarkan dengan istilah-istilah negatif, maka banyak orang yang menganggap bahwa Nibbana adalah penghancuran diri. Ini adalah salah, karena memang tidak ada “diri” yang dihancurkan. Semua unsur yang membuat “makhluk” ada akan terurai habis karena terlapuk, sakit dan mati. Dengan melatih kesadaran dan kewaspadaan serta menghancurkan avijja-tanha (asal mula dukkha), maka semua unsur itu akan terurai tak bersisa, seperti api yang padam. Dengan tercapainya keadaan itu, maka Nibbana haruslah dipandang sebagai pembebasan mutlak. Tidak akan ada lagi kelahiran, tidak akan ada lagi “surga” atau “neraka”. Semuanya, di sini, saat ini juga, pada kehidupan ini juga, kita dapat mencapai keadaan tak bersyarat itu. Namun jangan pula menganggap istilah ini sebagai hal yang positif. Positif dan negatif merupakan bagian dari dunia ini, yang mencerminkan sifat dualistis. Nibbana berada di luar itu semua. Nibbana adalah mutlak (absolute). Realisasi dari Nibbana adalah melihat semua benda dan hal lainnya menurut keadaan yang sewajarnya dan sebenarnya (yathabhutam), tanpa khayalan (ilusi maupun imajinasi) atau avijja (ketidaktahuan dan berpendapat keliru); sehingga tanha terkikis habis dan dukkha dilenyapkan. Kurang tepat pula bila ada pendapat yang menyatakan bahwa Nibbana adalah akibat (buah kamma) dari padamnya tanha-avijja atau hasil dari perbuatan baik yang dijalani dengan penghidupan suci. Karena sebagaimana yang sudah dijelaskan tadi, Nibbana adalah tak bersyarat, tidak tercipta dan mutlak. Nibbana bukanlah akibat dari perjuangan penyucian diri, ataupun sebab dari kebahagiaan tertinggi. Nibbana berada di luar sebab-akibat.

Menurut keberadaan khandha, Nibbana dapat dibagi dalam 2 jenis, yaitu:
<1> Saupadisesa-Nibbana
Nibbana yang masih bersisa. Yang dimaksud dengan bersisa ini adalah masih adanya pancakkhandha (lima kelompok kehidupan; jasmani, kesadaran, bentukan kehendak, pencerapan dan perasaan). Saupadisesa-Nibbana juga dapat dikatakan sebagai kondisi batin yang murni, tenang, dan seimbang.
<2> Anupadisesa-Nibbana
Nibbana tanpa sisa. Setelah meninggal dunia, seorang Arahanta akan mencapai anupadisesa-nibbana. Yaitu nibbana tanpa sisa atau Parinibbana. Di mana tidak ada lagi lima kelompok kehidupan,  tidak ada lagi sisa-sisa dan sebab-sebab dari suatu bentuk kemunculan. Sang Arahanta telah "memasuki" keadaan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Orang yang meninggal dunia setelah mencapai Nibbana (Parinibbana) adalah orang yang meninggal dunia dengan sempurna. Batinnya akan sangat damai menjelang nafas terakhirnya, semua pikirannya terfokus dan orang itu sadar betul dan waspada akan semua gejolak batinnya. Orang itu tidak lagi menimbun kamma yang dapat menyeretnya ke samsara. Batinnya damai, tenang, tidak terikat, penuh konsentrasi dan dengan sangat bersih merasakan segala unsur-unsur terurai sampai habis tak bersisa. Itulah yang terjadi pada orang yang Parinibbana. Setelah itu ia tidak akan merasakan lagi kelahiran, sakit, terlapuk (berusia tua), keluh-kesah, kebahagiaan, kesedihan dan kematian. Ia akan terlepas dari segala hal dualistis yang menjadi pembentuk di dunia ini. Itulah tujuan tertinggi dalam perealisasian Dhamma.

Sang Buddha bersabda:
“Di dalam badan jasmani yang tidak seberapa jengkal besarnya ini, Aku melihat dunia ini, timbulnya dunia ini, terhentinya dunia ini, dan jalan yang menuju ke terhentinya dunia ini.”
« Last Edit: 08 January 2010, 09:36:13 AM by upasaka »

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #20 on: 07 January 2009, 09:33:52 PM »
4. Magga
Artinya adalah Jalan yang Menuju ke Terhentinya Dukkha.

Jalan menuju terhentinya dukkha lebih dikenal dengan “Jalan Tengah” (Majjhima-patipada), karena jalan ini menghindari dua hal ekstirm, yaitu:
1) Mencari kebahagiaan dengan mengumbar dan memuaskan nafsu-nafsu indria
2) Mencari kebahagiaan dengan melakukan penyiksaan diri

Sebelum mencapai Pencerahan dan menjadi Buddha, Pangeran Siddhattha telah mencoba mendapatkan kebahagiaan melalui dua cara itu. Ketika Beliau menyadari bahwa kedua hal itu tidak berguna, maka melalui pemahaman dan observasi intensif-Nya, Beliau menemukan Jalan Tengah yang membawa-Nya menuju ke Kebahagiaan Sejati. Jalan Tengah ini lebih dikenal dengan istilah Jalan Mulia Beruas Delapan (Ariya Atthngika Magga), yang terdiri dari:
1. Samma Ditthi – Pengertian Benar
2. Samma Sankappa – Pikiran Benar
3. Samma Vaca – Ucapan Benar
4. Samma Kammanta – Perbuatan Benar
5. Samma Ajiva – Penghidupan Benar
6. Samma Vayama – Daya Upaya Benar
7. Samma Sati – Perhatian Benar
8. Samma Samadhi – Konsentrasi Benar

Jalan ini tidak harus dilaksanakan menurut nomor urutnya. Kedelapan ruas jalan ini dapat dilaksanakan bersamaan, dan memang harus dilaksanakan dan dikembangkan bersama agar terasa manfaatnya. Delapan Jalan Mulia ini dapat dibagi dalam tiga garis besar, yaitu:
1) Sila – tata hidup bersusila (moralitas)
2) Samadhi – disiplin mental (fokus)
3) Panna – integritas luhur (kebijaksanaan)
   

A. Sila

Sila mempunyai dasar pemikiran cinta-kasih universal (metta) dan rasa belas-kasih (karuna) terhadap semua makhluk. Ajaran Buddha yang mengajarkan untuk berbuat baik didasari atas hal ini, bukan karena berbuat baik untuk mengharapkan balasan setimpal atau “hadiah”. Sang Buddha mengajarkan bahwa untuk memperoleh kesempurnaan hidup, dua sifat luhur harus dikembangkan secara bersamaan, yaitu:
a) metta-karuna (cinta-kasih dan belas-kasihan)
b) panna (kebijaksanaan)

Metta-karuna mecakup cinta kasih, suka beramal, ramah-tamah, toleransi dan semua sifat luhur lainnya yang berhubungan dengan perasaan (emosi) atau sifat-sifat yang timbul dari kebaikan. Sedangkan panna ada hubungannya dengan intelek (kecerdasan) atau sifat-sifat yang timbul dari kedewasaan berpikir. Kalau metta-karuna dikembangkan dan dengan mengabaikan panna, maka orang tersebut akan menjadi baik hati yang kurang bijaksana. Namun kalau orang itu mengembangkan panna dan mengabaikan metta-karuna, maka orang itu akan menjadi orang cerdas yang kurang berbagi. Sang Buddha tidak pernah mengajarkan agar kita menjadi salah satu orang yang seperti itu. Sang Buddha mengajarkan kita untuk mengembangkan kedua sifat itu agar menjadi orang bijaksana yang baik. Sila yang berlandaskan cinta-kasih dan belas-kasihan ini meliputi tiga bagian dari Jalan Mulia Beruas Delapan, yaitu:

1) Ucapan Benar
Ucapan itu dapat dikatakan benar apabila telah memenuhi syarat-syarat berikut:
- ucapan itu memang benar adanya
- ucapan itu beralasan
- ucapan itu berfaedah (bermanfaat bila disampaikan)
- ucapan itu disampaikan tepat pada waktunya
Mengucapkan sesuatu dengan benar adalah hal yang mudah namun sulit untuk dilaksanakan. Sang Buddha sendiri selalu mengucapkan sesuatu dan berkata dengan benar. Orang yang menjalankan hal ini pasti akan selalu berbicara tentang hal yang benar, memakai kata-kata yang manis dan baik, memakai intonasi dan nada bicara yang sopan, serta mengucapkan sesuatu yang berfaedah. Jadi kalau ia tidak dapat mengutarakan sesuatu yang berguna, dengan sendirinya ia akan diam seribu bahasa.

2) Perbuatan Benar
Perbuatan benar bertujuan untuk mengembangkan perbuatan-perbuatan yang bersusila, terhormat dan menjauhkan diri dari keributan-keributan, dan menjalankan kehidupan yang tenang, bersih, bermoral dan dengan cara yang benar. Sang Buddha menerapkan Pancasila (5 Sila) yang umum untuk dijalankan dalam kehidupan berumah-tangga, yaitu :
- bertekad untuk melatih diri menghindari dari aktivitas membunuh
- bertekad untuk melatih diri menghindari dari aktivitas mengambil sesuatu yang tidak diberikan (mencuri)
- bertekad untuk melatih diri menghindari dari aktivitas berbohong, dan berbicara hal yang tidak baik
- bertekad untuk melatih diri menghindari dari aktivitas seks yang tidak baik
- bertekad untuk melatih diri menghindari dari mengonsumsi zat yang bisa melemahkan kesadaran
Dalam konteks kehidupan seorang bhikkhu, berhubungan seks sama sekali tidak diperbolehkan karena hal itu tidak sejalan dengan jalan penyucian diri. Seorang bhikkhu sendiri menjalankan 227 vinaya (peraturan), sedangkan seorang bhikkhuni menjalankan 311 vinaya (peraturan).

3) Penghidupan Benar
Ini berarti kita seharusnya menjalani hidup tanpa merugikan makhluk lain, alam sekitar, dan termasuk pula diri sendiri. Lima mata pencaharian tidak baik yang sebaiknya dihindari adalah:
- penipuan
- ketidak-setiaan
- penujuman
- kecurangan
- memungut bunga yang tinggi (praktik lintah darat)

Ada pula lima macam perdagangan yang sebaiknya dihindari:
- berdagang alat senjata
- berdagang makhluk hidup
- berdagang sesuatu yang berasal dari pengolahan terhadap bagian tubuh makhluk hidup (penganiayaan makhluk hidup)
- berdagang sesuatu atau hal yang dapat menimbulkan ketagihan atau menurunkan kesadaran
- berdagang racun atau makanan-minuman yang mengandung zat-zat berbahaya

Penghidupan benar adalah menjalani hidup dengan menyejahterakan makhluk lain, alam sekitar, dan diri sendiri, tanpa ada pihak yang dirugikan.
« Last Edit: 08 January 2010, 10:02:36 AM by upasaka »

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #21 on: 07 January 2009, 09:42:41 PM »
B. Samadhi

Disiplin mental adalah satu bentuk pengendalian diri melalui bentuk batin. Samadhi yang berlandaskan usaha dan keteguhan ini meliputi tiga bagian dari Jalan Mulia Beruas Delapan, yaitu:
1) Daya Upaya Benar
Ini berarti mengerahkan pikiran untuk:
- dengan sekuat tenaga mencegah munculnya unsur-unsur jahat dan yang tidak baik di dalam batin
- dengan sekuat tenaga berusaha untuk memusnahkan unsur-unsur jahat dan yang tidak baik di dalam batin
- dengan sekuat tenaga berusaha untuk membangkitkan unsur-unsur baik dan benar di dalam batin
- dengan sekuat tenaga memperkuat dan mengembangkan unsur-unsur baik dan benar di dalam batin

2) Perhatian Benar
Perhatian benar ini terdiri dari latihan pengembangan mental atau yang lebih dikenal dengan istilah meditasi (bhavana). Sang Buddha mengajarkan metode meditasi yang fokus pada tujuan akhirnya berupa Pencerahan. Seiring berkembangnya zaman, metode meditasi ini dapat dibagi ke dalam dua jenis, yaitu Samatha Bhavana dan Vipassana Bhavana.

Meditasi adalah inti ajaran Buddha. Tujuan akhir yang dibabarkan oleh Sang Buddha (Nibbana) dapat dicapai dengan jalan meditasi. Meditasi yang dapat diterapkan pada setiap aktivitas sehari-hari adalah meditasi perhatian murni, menyadari betul semua yang terjadi pada aktivitas itu sedang berlangsung. Namun untuk mencapai Nibbana kita harus melaksanakan meditasi dalam postur waspada. Posisi meditasi yang baik sesuai yang diajarkan Sang Buddha adalah duduk bersila dan tegak. Meditasi juga dapat dilakukan dengan berjalan penuh kewaspadaan.


Sang Buddha dalam sikap bermeditasi


A. Samatha Bhavana (Meditasi Ketenangan)

Samatha Bhavana merupakan pengembangan batin yang bertujuan untuk mencapai ketenangan. Dalam Samatha Bhavana, batin dipusatkan pada suatu objek. Pikiran tidak boleh berkeliaran kesana-kemari, pikiran tidak melamun dan atau mengembara tanpa tujuan. Dengan melaksanakan Samatha Bhavana, rintangan-rintangan batin tidak dapat dilenyapkan secara menyeluruh. Kekotoran batin hanya dapat diendapkan, seperti batu besar yang menekan rumput hingga tertidur di tanah. Dengan demikian, Samatha Bhavana hanya dapat mencapai tingkat-tingkat konsentrasi yang disebut jhana-jhana, dan mencapai berbagai kekuatan batin. Dalam jenis meditasi ini, terdapat empat puluh macam objek meditasi, yaitu:
– 10 kasina (wujud benda)
1.  Pathavi kasina = wujud tanah
2.  Apo kasina = wujud air
3.  Teja kasina = wujud api
4.  Vayo kasina = wujud udara atau angin
5.  Nila kasina = wujud warna biru
6.  Pita kasina = wujud warna kuning
7.  Lohita kasina = wujud warna merah
8.  Odata kasina = wujud warna putih
9.  Aloka kasina = wujud cahaya
10. Akasa kasina = wujud ruangan terbatas

Dalam kasina tanah, dapat dipakai perenungan sebuah kebun yang baru dicangkul atau segumpal tanah yang dibulatkan. Dalam kasina air, dapat dipakai perenungan sebuah telaga atau air yang ada di dalam ember. Dalam kasina api, dapat dipakai perenungan api yang menyala yang di depannya diletakkan seng yang berlobang. Dalam kasina angin, dapat dipakai perenungan angin yang berhembus di pohon-pohon atau badan. Dalam kasina warna, dapat dipakai perenungan benda-benda seperti bulatan dari kertas, kain, papan, atau bunga yang berwarna biru, kuning, merah, atau putih. Dalam kasina cahaya, dapat dipakai perenungan cahaya matahari atau bulan yang memantul di dinding atau di lantai melalui jendela dan lain-lain. Dalam kasina ruangan terbatas, dapat dipakai perenungan ruangan kosong yang mempunyai batas-batas disekelilingnya.

Disini, langkah perenungan harus kita pusatkan seluruh perhatiannya pada bulatan yang berwarna biru (misalnya). Selanjutnya, dengan memandang terus pada bulatan itu, kita harus berjuang agar pikiran tetap terjaga, waspada, dan sadar. Sementara itu, benda-benda di sekeliling bulatan tersebut seolah-olah lenyap, dan bulatan tersebut kelihatan menjadi makin semu dan akhirnya sebagai bayangan pikiran saja. Kini, walaupun mata dibuka atau ditutup, kita masih melihat bulatan biru itu di dalam pikirann, yang makin lama makin terang seperti bulatan dari rembulan.


– 10 asubha (wujud ketidak-indahan)
1.   Uddhumataka = wujud mayat yang membengkak
2.   Vinilaka = wujud mayat yang berwarna kebiru-biruan
3.   Vipubbaka = wujud mayat yang bernanah
4.   Vicchiddaka = wujud mayat yang terbelah di tengahnya
5.   Vikkahayitaka = wujud mayat yang digerogoti binatang-binatang
6.   Vikkhittaka = wujud mayat yang telah hancur lebur
7.   Hatavikkhittaka = wujud mayat yang busuk dan hancur
8.   Lohitaka = wujud mayat yang berlumuran darah
9.   Puluvaka = wujud mayat yang dikerubungi belatung
10. Atthika = wujud tengkorak

Dalam sepuluh asubha ini, kita akan merenungkan sesosok tubuh yang telah menjadi mayat, membengkak, membiru, bernanah, terbelah di tengahnya sehingga organ-organnya berceceran, dikoyak-koyak oleh burung gagak atau serigala, hancur dan membusuk, berlumuran darah, dikerubungi oleh lalat dan belatung, dan akhirnya merupakan tengkorak. Selanjutnya meditator menarik kesimpulan terhadap badannya sendiri; "tubuhku ini adalah kotoran yang terbungkus rapi, yang juga mempunyai sifat-sifat itu sebagai kodratnya". Di sinilah hendaknya kita memegang dengan teguh di dalam pikiran mengenai objek yang timbul, seperti gambaran pikiran mengenai mayat-mayat tadi. Diharapkan dengan menggunakan objek asubha ini dalam meditasi, meditator tidak lagi melekat pada keindahan tubuh jasmani yang semu. Karena setampan dan secantik apapun manusia, manusia tetaplah tulang-belulang dan kotoran-kotoran yang terbungkus rapi oleh kulit.


– 10 anussati (perenungan)
1.   Buddhanussati = perenungan terhadap Buddha
2.   Dhammanussati = perenungan terhadap Dhamma
3.   Sanghanussati = perenungan terhadap Sangha
4.   Silanussati = perenungan terhadap sila
5.   Caganussati = perenungan terhadap kebajikan
6.   Devatanussati = perenungan terhadap makhluk-makhluk agung atau para dewa
7.   Marananussati = perenungan terhadap kematian
8.   Kayagatasati = perenungan terhadap badan jasmani
9.   Anapanasati = perenungan terhadap pernapasan
10. Upasamanussati = perenungan terhadap Nibbana

Dalam Buddhanussati, kita merenungkan sembilan sifat Buddha. Kesembilan sifat Buddha tersebut adalah maha suci, telah mencapai penerangan sempurna, sempurna pengetahuan dan tingkah lakunya, sempurna menempuh jalan ke Nibbana, pengenal semua alam, pembimbing manusia yang tiada taranya, guru para dewa dan manusia, yang sadar, yang patut dimuliakan. Dalam Dhammanussati, kita merenungkan enam sifat Dhamma. Keenam sifat Dhamma itu adalah telah sempurna dibabarkan, nyata di dalam kehidupan, tak lapuk oleh waktu, mengundang untuk dibuktikan, menuntun ke dalam batin, dapat diselami oleh para bijaksana dalam batin masing-masing. Dalam Sanghanussati, kita merenungkan sembilan sifat Ariya-Sangha. Kesembilan sifat Ariya-Sangha itu adalah telah bertindak dengan baik, telah bertindak lurus, telah bertindak benar, telah bertindak patut, patut menerima persembahan, patut menerima tempat bernaung, patut menerima bingkisan, patut menerima penghormatan, lapangan untuk menanam jasa yang tiada taranya di alam semesta.

Dalam silanussati, kita merenungkan sila yang telah dilaksanakan, yang tidak patah, yang tidak ternoda, yang dipuji oleh para bijaksana, dan menuju pemusatan pikiran. Dalam caganussati, kita merenungkan kebajikan berdana yang telah dilaksanakan, yang menyebabkan musnahnya kekikiran. Dalam devatanussati, kita merenungkan makhluk-makhluk agung atau para dewa yang berbahagia, yang sedang menikmati hasil dari perbuatan baik yang telah dilakukannya. Dalam marananussati, kita merenungkan bahwa pada suatu hari kematian akan datang; bahwa tubuh ini akan diperebutkan oleh ulat-ulat, kutu, belatung, dan binatang lainnya yang hidup dengan ini; bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan, di mana, dan melalui apa orang akan meninggal, serta keadaan yang bagaimana setelah kematian. Dalam kayagatasati, kita merenungkan 32 bagian anggota tubuh, dari telapak kaki ke atas dan dari puncak kepala ke bawah, yang diselubungi kulit dan penuh kekotoran; bahwa di dalam badan ini terdapat rambut kepala, bulu badan, kuku, gigi, kulit, daging, urat, tulang, sumsum, ginjal, jantung, hati, selaput dada, limpa, paru-paru, usus, saluran usus, perut, kotoran, empedu, lendir, nanah, darah, keringat, lemak, air mata, minyak kulit, ludah, ingus, cairan sendi, air kencing, dan otak.

Dalam anapanasati, kita merenungkan keluar masuknya napas dengan penuh kesadaran. Dalam upasamanussati, kita merenungkan Nibbana, yaitu kondisi yang terbebas dari kekotoran batin, hancurnya keinginan, putusnya lingkaran tumimbal lahir.


– 4 appamanna (keadaan tidak terbatas)
1.   Metta = cinta-kasih yang universal, tanpa pamrih
2.   Karuna = belas-kasihan
3.   Mudita = perasaan simpati
4.   Upekkha = keseimbangan batin

Empat appamanna ini sering disebut juga sebagai Brahma-vihara (kediaman yang luhur). Dalam melaksanakan metta-bhavana, seseorang harus mulai dari dirinya sendiri, karena ia tidak mungkin dapat memancarkan cinta kasih sejati bila ia membenci dan meremehkan dirinya sendiri. Setelah itu, cinta kasih dipancarkan kepada orang tua, guru-guru, teman-teman laki-laki dan wanita sekaligus. Bagian yang tersulit adalah memancarkan cinta-kasih kepada musuh-musuh maupun makhluk-makhluk yang tidak kita sukai. Dalam hal ini mungkin timbul perasaan dendam atau sakit hati. Namun, hendaknya diusahakan untuk mengatasi kebencian itu dengan merenungkan sifat-sifat yang baik dari musuhnya dan jangan menghiraukan kejelekan-kejelekan yang ada padanya. Perlu diingat bahwa kebencian hanya dapat ditaklukkan dengan cinta kasih.

Dalam karuna-bhavana, kita memancarkan belas-kasihan kepada makhluk-makhluk yang sedang ditimpa kemalangan, diliputi kesedihan, kesengsaraan, dan penderitaan. Dalam mudita-bhavana, kita memancarkan perasaan simpati kepada makhluk-makhluk yang sedang bersuka-cita; turut berbahagia melihat kebahagiaan makhluk lain. Dalam upekkha-bhavana, kita akan merenungkan kondisi batin yang tetap tenang menghadapi suka dan duka, pujian dan celaan, untung dan rugi.

Metta (cinta-kasih) adalah kondisi batin yang berdiam ketika tidak ada lagi kebencian di dalam pikiran. Karuna (belas-kasih) adalah kondisi batin yang berdiam ketika tidak ada lagi keserakahan di dalam pikiran. Mudita (simpati) adalah kondisi batin yang berdiam ketika tidak ada lagi kemelekatan dan sifat egois di dalam pikiran. Upekkha (keseimbangan batin) adalah kondisi batin yang berdiam ketika tidak ada lagi ketidaktahuan (avijja) di dalam pikiran.


– 1 aharapatikulasanna (perenungan makanan menjijikan)
Dalam aharapatikulasanna, kita merenungkan bahwa makanan yang lezat adalah barang yang menjijikkan bila telah berada di dalam perut; bahwa apapun yang telah dimakan, diminum, dikunyah, dicicipi, semuanya akan berakhir sebagai kotoran (tinja) dan air seni (urine).


– 1 catudhatuvavatthana (analisa empat unsur jasmani)
Dalam catudhatuvavatthana, kita merenungkan bahwa di dalam badan jasmani terdapat empat unsur materi, yaitu :
1) Pathavi-dhatu (unsur tanah atau unsur padat) -> ialah segala sesuatu yang bersifat keras atau padat. Misalnya: rambut, tulang, kuku, gigi, dll.
2) Apo-dhatu (unsur air atau unsur cair) -> ialah segala sesuatu yang bersifat saling berhubungan antara satu dengan yang lain atau melekat. Misalnya: empedu, lendir, nanah, darah, dll.
3) Tejo-dhatu (unsur api atau unsur panas) -> ialah segala sesuatu yang bersifat panas-dingin (suhu). Misalnya: setelah selesai makan dan minum, atau bila sedang sakit, tubuh akan terasa panas-dingin (perubahan suhu tubuh).
4) Vayo-dhatu (unsur angin atau unsur gerak) -> ialah segala sesuatu yang bersifat bergerak. Misalnya: angin yang ada di dalam perut dan usus, angin yang keluar masuk waktu bernapas, dan lain-lain.


– 4 arupa (tanpa materi)
1.  Kasinugaghatimakasapannatti = objek ruangan yang sudah keluar dari kasina
2.  Akasanancayatana-citta = objek kesadaran yang tanpa batas
3.  Natthibhavapannati = objek kekosongan
4.  Akincannayatana-citta = objek bukan pencerapan pun tidak bukan pencerapan

Dalam kasinugaghatimakasapannati, batin yang telah memperoleh gambaran kasina dikembangkan ke dalam perenungan ruangan yang tanpa batas sambil membayangkan “ruang tanpa batas” dan kemudian gambaran kasina dihilangkan. Jadi, pikiran ditujukan kepada ruangan yang tanpa batas, dipusatkan di dalamnya, dan menembus tanpa batas. Dalam akasanancayatana-citta, ruangan yang tanpa batas itu ditembus dengan kesadaran sambil merenungkan "kesadaran adalah tak terbatas". Meditator harus berulang-ulang memikirkan penembusan ruangan itu dengan sadar, mencurahkan perhatiannya kepada hal tersebut.

Dalam natthibhavapannati, meditator harus mengarahkan perhatiannya pada kekosongan atau kehampaan dan tidak ada apa-apanya dari kesadaran terhadap ruangan yang tanpa batas itu. Meditator terus-menerus merenungkan "kekosongan / kehampaan dari ruang tak terbatas itu". Dalam akincannayatana-citta, meditator merenungkan keadaan kekosongan sebagai ketenangan atau kesejahteraan, dan setelah itu kembangkan pencapaian dari sisa unsur-unsur batin yang penghabisan, yaitu perasaan, pencerapan, bentuk-bentuk pikiran, dan kesadaran sampai batas kelenyapannya. Jadi, setelah kekosongan itu dicapai, maka kesadaran mengenai kekosongan itu dilepas, sehingga tidak ada pencerapan lagi.


B. Vipassana Bhavana (Meditasi Pandangan Terang)

Vipassana Bhavana menerapkan nama-rupa (batin-materi) atau pancakkhandha (faktor kehidupan, yaitu jasmani, pencerapan, kesadaran, perasaan dan pikiran) sebagai objeknya. Namun pada tahap permulaan, meditator bisa mengarahkan fokus kesadaran penuh pada anapanassati (keluar-masuknya nafas). Secara garis besar, perenungan terhadap batin-jasmani ini dapat dibagi menjadi 4 jenis, yaitu:
– Kaya-nupassana (perenungan terhadap tubuh)
– Vedana-nupassana (perenungan terhadap perasaan)
– Citta-nupasaana (perenungan terhadap keadaan batin atau kondisi mental)
– Dhamma-nupassana (perenungan terhadap bentuk-bentuk pikiran)

Pancakkhandha (lima kelompok faktor kehidupan) terdiri atas :
Rupa-khandha (kelompok jasmani), vedana-khandha (kelompok perasaan), sanna-khandha (kelompok pencerapan), sankhara-khandha (kelompok bentuk pikiran), dan vinnana-khandha (kelompok kesadaran). Pancakkhandha adalah kelompok penggerak kehidupan yang berada dalam satu fenomena yang disebut sebagai makhluk.

Empat macam satipatthana (empat macam perenungan) terdiri atas :
Kaya-nupassana (perenungan terhadap badan jasmani), vedana-nupassana (perenungan terhadap perasaan), citta-nupassana (perenungan terhadap pikiran), dan dhamma-nupassana (perenungan terhadap bentuk-bentuk pikiran). Empat macam satipatthana itu adalah pancakkhandha, atau nama dan rupa itu sendiri. Kaya nupassana adalah rupa-khandha, vedana-nupassana adalah vedana-khandha, citta-nupassana adalah vinnana-khandha dan dhamma-nupassana adalah pancakkhandha.

Di sini kita merenungkan sensasi badan jasmani, timbul-tenggelamnya perasaan, timbul-tenggelamnya kondisi mental dan bentuk-bentuk pikiran dengan sewajarnya. Dan dalam dhamma-nupassana, meditator merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari lima macam rintangan (nivarana), merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari lima kelompok faktor kehidupan (pancakkhandha), merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari enam landasan indriya dalam dan luar (dua belas ayatana), merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari tujuh faktor Penerangan Agung (satta bojjhanga), dan merenungkan bentuk-bentuk pikiran dari Empat Kebenaran Mulia (cattari ariya saccani).


3) Konsentrasi Benar
Konsentrasi benar adalah penerapan berkesinambungan dari perhatian itu pada suatu objek tanpa terpecahnya pikiran. Konsentrasi adalah praktik mengembangkan pemusatan pikiran pada satu objek tunggal, baik fisik maupun mental. Pikiran terserap total pada objek tanpa terpecah, goyang, cemas atau pusing. Konsentrasi ini akan menyejahterakan mental dan fisik sehingga memunculkan kenyamanan, kegembiraan dan ketenangan. Kemudian konsentrasi juga akan menyiapkan pikiran untuk melihat sesuatu sebagaimana adanya dan mencapai kebijaksanaan.

Konsentrasi benar juga dapat ditujukan pada tingkat jhana dalam meditasi. Dalam konteks yang lebih komprehensif, konsentrasi benar juga bisa merujuk pada Samatha Bhavana seperti yang sudah dijelaskan di atas.
« Last Edit: 08 January 2010, 10:18:21 AM by upasaka »

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #22 on: 07 January 2009, 09:48:32 PM »
C. PANNA

1) Pikiran benar
Pikiran benar adalah pikiran yang melepaskan kesenangan dunia, dan yang bebas dari kemelekatan serta sifat mementingkan diri sendiri (nekkhamasankappa). Pikiran yang penuh kemauan baik, cinta-kasih, kelemah-lembutan, dan yang bebas dari itikad jahat, kebencian, dan kemarahan (avyapadasankappa). Dan pikiran yang penuh belas-kasihan, dan yang bebas dari kekejaman dan kebengisan (avihimsasankappa).

2) Pemahaman benar
Pemahaman benar pada hakikatnya adalah pemahaman yang benar mengenai Empat Kebenaran Mulia, yaitu:
1. Kebenaran mulia tentang penderitaan
2. Kebenaran mulia tentang sebab penderitaan
3. Kebenaran mulia tentang terhentinya penderitaan
4. Kebenaran mulia tentang jalan menuju terhentinya penderitaan

Dalam pengembangannya, pemahaman benar ini masing-masing terdiri dari tiga tahap, yaitu:
1. Sacca nana, pengetahuan bahwa hal ini adalah kebenaran sejati
2. Kicca nana, pengetahuan bahwa fungsi tertentu dari kebenaran ini harus dijalankan
3. Kata nana, pengetahuan bahwa fungsi-fungsi tertentu dari kebenaran ini telah dijalankan

Dan bila ditilik lebih lanjut, pemahaman benar akan semuanya ini terdiri dari dua belas segi pandangan.
Pemahaman benar dapat dirinci lagi menjadi lima tingkat, yaitu:
1. Kammassakata sammaditthi
Berarti pengertian benar tentang keselarasan perbuatan (kamma niyama) yang pada pokoknya menerangkan bahwa setiap perbuatan akan memberikan akibat yang setimpal; dan setiap mahluk memiliki, mewarisi, terlahir, berhubungan dan terlindung oleh kammanya sendiri.

2. Vipassana sammaditthi
Pengertian benar yang timbul setelah penyadaran jeli terhadap jasmani dan batin (rupa dan nama dhamma) Pengertian benar ini tidak dapat diperoleh hanya melalui penghafalan kitab-kitab suci atau pun melalui kecerdasan otak, tetapi timbul dari pengamatan langsung terhadap aktivitas jasmani dan batin sehingga dapat menyadari sifatnya yang anicca, dukkha dan anatta.

3. Magga sammaditthi
Pengertian benar berupa pengetahuan dalam perenungan terhadap objek indria dan batin sebagaimana adanya sehingga merealisasi magga-nana (jalan pengetahuan).

4. Phala sammaditthi
Pengertian benar berupa pengetahuan dalam perenungan terhadap objek indera dan batin sebagaimana adanya sehingga merealisasi phala-nana (buah pengetahuan). Begitu penembusan magga-nana terealisasi, maka pasti langsung diikuti pula dengan phala-nana.

5. Paccavekkhana samaditthi
Pengertian benar berupa perenungan setelah phala-nana atas perealisasian yang telah dicapai.


Setelah itu Sang Buddha bersabda :



"Selama pandangan-Ku terhadap 4 Kebenaran Mulia tersebut masih belum jelas benar mengenai tiga seginya dan dua belas jalannya, Aku belum dapat menuntut dan menyatakan dengan pasti bahwa Aku telah mencapai Pencerahan Sempurna yang tiada bandingannya di alam-alam para dewa, mara, brahma, pertapa, brahmana dan manusia."

"Kini setelah pandangan-Ku terhadap 4 Kebenaran Mulia tersebut sudah jelas benar mengenai tiga seginya dan dua belas jalannya, Aku menyatakan dengan pasti bahwa Aku telah mencapai Pencerahan Sempurna yang tiada bandingannya di alam-alam para dewa, mara, brahma, pertapa, brahmana dan manusia."

"Dengan demikian timbul dalam diri-Ku Pandangan Terang dan Kebijaksanaan, bahwa Aku sekarang telah terbebas dari Samsara dan penghidupan-Ku sekarang ini merupakan penghidupan-Ku yang terakhir."


Kelima petapa mendengarkan dengan saksama dan membuka hati mereka terhadap ajaran Sang Buddha. Dan ketika khotbah itu tengah dibabarkan, pandangan tanpa noda dan murni terhadap Dhamma muncul dalam diri Kondanna. Ia memahami bahwa “apa pun yang muncul, pasti akan tenggelam (yam kinci samudayadhammam sabbam tam nirodhadhammam)”. Demikianlah, ia menembus Empat Kebenaran Mulia dan mencapai tataran kesucian pertama (Sotapatti) pada akhir pembabaran itu. Karena itulah, ia juga dikenal sebagai Annata Kondanna (Kondanna yang sudah mengetahui; paham). Lalu ia memohon penahbisan lanjut (upasampada) kepada Sang Buddha. Untuk itu, Sang Buddha menahbiskannya dengan berkata:

“Mari, Bhikkhu! Dhamma telah dibabarkan dengan sempurna. Jalanilah kehidupan suci dan akhirilah penderitaan”.

Dengan demikian, ia menjadi bhikkhu pertama dalam Buddhasasana yang melalui penahbisan “Ehi Bhikkhu Upasampada”.

Setelah itu, ketika ketiga petapa lainnya pergi menerima dana makanan, Sang Buddha memberikan bimbingan Dhamma kepada Vappa dan Bhaddiya. Mereka pun akhirnya mencapai tataran kesucian Sotapatti. Dengan segera mereka pun memohon untuk ditahbiskan juga sebagai bhikkhu. Keesokan harinya, Mahanama dan Assaji juga mencapai tingkat Sotapanna. Tanpa jeda lagi mereka juga memohon penahbisan lanjut dari Sang Buddha untuk menjadi bhikkhu. Dengan demikian, kelima petapa itu menjadi lima bhikkhu yang pertama, yang juga dikenal sebagai “Bhikkhu Pancavaggiya” Sejak saat itu, Persamuhan Bhikkhu (Sangha Bhikkhu) pun dibentuk.
« Last Edit: 08 January 2010, 10:23:32 AM by upasaka »

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #23 on: 07 January 2009, 09:57:25 PM »
Anattalakkhana Sutta

Setelah kelima bhikkhu itu mencapai tingkat Sotapanna, pada hari kelima Sang Buddha pun membabarkan Anattalakkhana Sutta (Khotbah Mengenai Tiadanya Inti Diri), yang dibabarkan sebagai tanya-jawab antara Sang Buddha dengan kelima siswa-Nya. Pada intinya, Sang Buddha menyatakan bahwa wujud (rupa), perasaan (vedanna), persepsi (sanna), bentukan kehendak (sankhara), dan kesadaran (vinnana) adalah selalu berubah; dan apa yang selalu berubah tidaklah memuaskan (dukkha).

Apa yang disebut sebagai makhluk itu? Tidakkah pernah terpikirkan bahwa makhluk itu sangat luar biasa? Jelas luar biasa! Karena ada “sesuatu” yang hidup, bergerak, dan dapat pula berkehendak. Pernahkah Anda mencoba untuk meneliti keadaannya? Kita tidak perlu repot-repot mencari objek penelitiannya, cukup diri kita sendiri yang dijadikan objeknya. Siapakah “aku”? Pernahkah Anda berpikir mengapa “aku” dapat hidup? Bagaimana keadaan “aku” sebelum hidup atau sebelum dilahirkan? Apa yang terjadi pada “aku” setelah meninggal? Mengapa “aku” seperti ini? Apakah “aku” yang dapat dilihat di cermin dan disentuh ini memang benar “aku”? Adakah yang bersifat individu permanen pada “aku” ini?

Sang Buddha menjelaskan :
"Tidak ada “aku” yang dapat ditemukan. “Aku” hanyalah kombinasi dari fisik dan mental yang selalu berada dalam keadaan bergerak dan berubah. “Aku” hanyalah berupa paduan-paduan dari berbagai unsur."

Apa yang disebut sebagai makhluk adalah satu fenomena yang mencakup Lima Kelompok Kehidupan, yaitu:

A. Kelompok kehidupan dalam bentuk materi (rupakkhandha)
Dalam kelompok ini termasuk empat mahabhuta, yaitu empat unsur yang terdiri dari unsur padat, cair, panas dan gerak. Termasuk pula benda-benda dan hal-hal yang berkaitan dengan mahabhuta itu sendiri, seperti enam landasan indria (mata, hidung, telinga, lidah, kulit dan pikiran) dengan objeknya masing-masing; dan juga pikiran, gagasan dan konsepsi yang berada dalam objek pikiran (dhammayatana). Rupakkhandha adalah keseluruhan bentuk-bentuk, baik yang berada dalam tubuh kita maupun objek sasarannya.

B. Kelompok kehidupan dalam bentuk perasaan (vedanakkhandha)
Dalam kelompok ini termasuk semua perasaan (perasaan bahagia, perasaan tidak bahagia dan juga perasaan bukan bahagia dan bukan tidak bahagia) yang timbul karena adanya kontak indria dengan dunia luar. Ada enam jenis perasaan, yaitu perasaan yang timbul dari kontak mata dengan wujud yang terlihat, telinga dengan suara yang terdengar, hidung dengan bebauan yang tercium, lidah dengan rasa yang terkecap, kulit dengan bentuk yang tersentuh, dan batin dengan objek pikiran (mental) yang terolah. Semua perasaan ini termasuk dalam kelompok ini. Untuk memperjelas dari apa yang disebut dengan perasaan (vedana), kita harus mengerti dulu apa yang dimaksud dengan pikiran (manas).

Yang pertama kita harus mengerti dengan baik bahwa “manas” bukanlah “jiwa” atau “roh” sebagai lawan dari badan jasmani. Ia juga sebuah indria layaknya seperti indria-indria lainnya. Manas (pikiran) dapat dikendalikan dan dikembangkan seperti indria lainnya. Masing-masing indria hanya memegang satu peranan bagi sang makhluk untuk mengenali dunianya. Contohnya: kita dapat melihat warna dengan mata, dan bukannya dapat melihat suara dengan mata. Semua objek indria yang dapat langsung kita kenali di dunia ini (seperti wujud, suara, bebauan, rasa dan bentuk) hanyalah sebagian dari isi dunia ini. Begitu pula gagasan, pikiran dan konsepsi. Mereka juga bagian dari dunia ini, dan mereka hanya dapat dikenali oleh indria batin (pikiran).

Harus disadari bahwa pikiran dan gagasan tidaklah berdiri sendiri. Pada hakikatnya mereka bergantung kepada dan timbul oleh pengalaman. Seorang yang dilahirkan buta tidak mempunyai ide (gambaran) tentang warna, kecuali melalui perbandingan gerak udara maupun suara yang dihasilkan dari warna-warna tersebut. Dengan demikian, pikiran (yang jika mengolah suatu objek dapat menimbulkan bentuk perasaan atau vedana) adalah salah satu dari keenam indria kita yang dapat dikendalikan, dikekang, dan diarahkan ke jalan menuju kesucian.

C. Kelompok kehidupan dalam bentuk persepsi (sannakkhandha)
Seperti dengan perasaan, persepsi pun terdiri dari enam jenis yang berhubungan dengan indria kita dengan objeknya masing-masing. Persepsi juga terjadi karena indria kita mengadakan kontak dengan dunia luar, baik yang merupakan objek fisik maupun objek mental.

D. Kelompok kehidupan dalam bentuk bentuk-bentukan kehendak (sankharakkhandha)
Kelompok ini mencakup semua kegiatan “kehendak” kita, atau yang dikenal dengan istilah kamma (perbuatan atau action). Untuk berbuat sesuatu, maka pada umumnya kita akan terlebih dahulu berkehendak. Kehendak (cetana) adalah satu bentuk kegiatan mental. Kehendak inilah yang mengarahkan pikiran kita untuk berbuat baik, berbuat buruk, ataupun berbuat netral. Seperti perasaan dan persepsi, kehendak ini juga terdiri dari enam jenis yang berhubungan dengan keenam indria kita dengan objeknya masing-masing. Perasaan dan persepsi bukan merupakan perbuatan, karenanya mereka tak akan menghasilkan buah kamma (akibat). Namun kegiatan kehendak yang dapat menimbulkan buah-kamma, misalnya:
   - manasikara (perhatian)
   - chanda (keinginan luhur; untuk berbuat)
   - adhimokkha (ketetapan hati)
   - saddha (keyakinan; setelah mengalami)
   - samadhi (disiplin mental)
   - panna (kebijaksanaan)
   - viriya (semangat; penuh usaha dan kepercayaan diri)
   - raga (hawa nafsu)
   - patigha (rasa dengki)
   - avijja (ketidaktahuan; mengenai makna kehidupan)
   - mana (keangkuhan)
   - sakkayaditthi (ide tentang “aku” yang kekal dan terpisah dari jasmani maupun batin), dll.

Semuanya terdapat 52 kegiatan mental yang dapat digolongkan dalam kelompok ini.

E. Kelompok kehidupan dalam bentuk kesadaran (vinnanakkhandha)
Kesadaran adalah reaksi yang mempunyai dasar salah satu dari keenam indria kita dengan objeknya masing-masing. Sebagaimana halnya dengan perasaan, persepsi dan bentuk-bentukan kehendak, kesadaran pun terdiri atas enam jenis yang berhubungan dengan keenam indria kita yang mengadakan kontak dengan objeknya masing-masing.

Kesadaran tidak dapat mengenali objeknya. Ia hanya merupakan kesadaran, yaitu kesadaran akan adanya objek. Misalnya kalau mata mendapatkan kontak dengan warna merah, kesadaran mata kita akan bangkit dan kita akan sadar akan adanya objek tersebut. Pada tingkat ini kita belum mengenal apa-apa. Pada tingkat persepsi, maka kita dapat mengenal objek itu sebagai warna merah. Persepsi yang membentuk konsep di pikiran tentang objek yang ditangkap oleh kesadaran. Persepsi yang akan memunculkan ingatan terhadap apa yang dikenali oleh kesadaran. Kesadaran mata hanya berarti bahwa satu bentuk atau objek telah terlihat. Begitu pula yang terjadi pada indria kita yang lain.

Kesadaran (vinnana) bukanlah “jiwa”, “roh” atau “aku”. Banyak yang menganggap bahwa kesadaran yang samalah yang keluar dan masuk berkeliling, sesuatu yang melakukan, yang merasakan dan yang mengalami akibat dari semua perbuatan. Dengan kata lain teori ini menduplikatkan makna roh dalam satu bentuk “kesadaran”. Teori ini sepenuhnya salah! Kesadaran itu timbul karena satu kondisi, tak ada kesadaran yang timbul tanpa kondisi. Kesadaran diberi nama dari kondisi yang menimbulkannya. Oleh karena ada mata dan objek yang terlihat oleh mata, maka timbullah kesadaran yang diberi nama “kesadaran mata”. Demikian pula kesadaran-kesadaran lain yang dikondisikan indria-indria lainnya.

Kita dapat memakai perumpamaan seperti api. Api yang menyala dari kayu diberi nama “api kayu”, api yang menyala dari jerami diberi nama “api jerami”. Api yang menyala dari kayu hanya menyala selama masih ada persediaan kayu dan padam kembali jika persediaan kayunya telah habis terbakar, karena kondisinya telah berubah. Namun api itu tidaklah melompat ke jerami (yang berada jauh dari kayu). Sang Buddha menerangkan bahwa kesadaran terkondisikan oleh benda (objek), perasaan, persepsi dan bentuk-bentukan kehendak, dan tak dapat timbul tanpa syarat-syarat tersebut.


Jika Lima Kelompok Kehidupan ini bekerjasama dalam satu kombinasi sebagai “satu mesin physio-psychologic”, maka kita akan mendapatkan ide tentang “aku” itu. Namun ini adalah ide palsu, suatu konsep yang tertutupi oleh ilusi kita sendiri.

 
“Hanya penderitaan yang ada, namun tak dapat dijumpai si penderita”
“Hanya perbuatan yang ada, tetapi tak ada si pembuat”



Tidak ada penggerak yang bergerak di belakang pergerakan itu, yang ada hanyalah pergerakan itu sendiri. Penghidupan ini bukan bergerak, namun penghidupan itu sendiri merupakan pergerakkan. Keduanya bukanlah hal yang berbeda. Dengan kata lain, tak terdapat si pemikir di belakang pikiran. Pikiran itu sendirilah yang berpikir.


“O, bhikkhu, bagaimana pendapatmu, apakah khandha itu kekal atau tidak kekal?”

“Mereka tidak kekal, Bhante.”

“Di dalam sesuatu yang tidak kekal, apakah terdapat kebahagiaan atau penderitaan?”

“Di sana terdapat penderitaan, Bhante.”

“Mengenai sesuatu yang tidak kekal dan penderitaan, ditakdirkan untuk musnah, apakah tepat kalau dikatakan bahwa hal itu adalah ‘milikku’, ‘aku’ dan ‘diriku’?”

“Tidak tepat, Bhante.”

“Karena kenyataannya memang demikian, maka pancakkhandha (5 kelompok kehidupan) yang lampau atau yang ada sekarang ini, kasar atau halus, menyenangkan atau tidak menyenangkan, jauh atau dekat, harus diketahui sebagai kelompok kehidupan semata.”

“Selanjutnya engkau harus melakukan perenungan dengan bijaksana bahwa semua itu bukanlah ‘milikmu’, ‘kamu’ atau ‘dirimu’ semata.”

“Siswa Yang Ariya setelah memahami uraian ini akan melihatnya dari segi itu. Setelah melihat dengan jelas, ia akan melihat kejijikan dari pancakkhandha tersebut. Setelah melihat kejijikannya, ia akan melepaskan nafsu-nafsu keinginan. Setelah melepaskan nafsu-nafsu keinginan, batinnya tidak lagi melekat pada apapun.”

“Karena tidak lagi melekat pada apapun, maka timbullah Pandangan Terang, sehingga ia mengetahui bahwa ia sudah terbebas dari lingkaran tumimbal-lahir. Kehidupan suci telah dilaksanakan dan selesailah tugas yang harus ia kerjakan.”



Mendengar kata-kata dari Sang Buddha, kelima bhikkhu tersebut menjadi gembira dan bahagia. Dan setelah Sang Buddha membabarkan khotbah ini, pikiran mereka terbebas dan kotoran batin, tanpa kemelekatan; sehingga mereka mencapai tataran Arahat.
« Last Edit: 08 January 2010, 10:41:04 AM by upasaka »

Offline iphi-iphi

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 31
  • Reputasi: 2
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #24 on: 08 January 2009, 10:18:20 PM »
komplit bgt....^^

Offline tula

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 482
  • Reputasi: 24
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #25 on: 18 January 2009, 11:59:23 AM »
terima kasih banyak kepada Upasaka ... :)

dari baca sampe abis (smoga gada yg terlewat)

ada beberpa yg aku dapet dan aku mau tanyakan :

- yg memberi nama rahula itu Pangeran Gotama sendiri ya , bukan ayah dari Pangeran gotama (soalnya versi dari Festival Buddhist yg perna di adain di sby PTC super mall, yg memberi nama rahula itu ayah nya pangeran gotama, kalo gasalah perna aku bikin thread ini jg beserta gambar per adegan)

Spoiler: ShowHide


Diorama 21


http://i38.photobucket.com/albums/e124/potobuket/DSC00025.jpg

Rahula

Ketika bertemu dengan pertapa dan menetapkan niatnya untuk menjadi pertapa, pangeran mendapat kabar dari istana bahwa putri Yashodara telah melahirkan seorang putra. Sesaat ketika mendengar berita ini, pangeran berkata "telah lahir suatu hambatan bagiku". Perkataan ini kemudian didengar oleh Sang Raja Sudhodhana yang kemudian memberikan nama anak pangeran Sidharta "Rahula" yang artinya adalah "hambatan".


- Pertapa Gotama mendapat kan "pengerertian tentang Hukum Kamma (Karma) dan Tumimbal Lahir (proses penerusan kehidupan)" dari Pertapa Alara Kalama, apakah hukum kamma dan tumimbal lahir yg diajarkan oleh pertama alara sama dengan yg diajarkan Buddha kpd murid2 nya dan kita warisi ini ?

- Pertapa Gotama mendapat kan “Bukan-Pencerapan dan Bukan Bukan-Pencerapan” dari Pertapa Uddaka Ramaputta

- Pertapa Gotama bertekad (berikrar, berjanji)  “Dengan disaksikan oleh Bumi, meskipun kulitku, urat-uratku dan tulang-tulangku akan musnah dan darahku habis menguap, aku bertekad untuk tidak bangun dari tempat ini sebelum memperoleh Penerangan Agung dan mencapai Nibbana.” apakah ini dapat disebut tekad boddhisatva ? (kalo iya beda banget ya ama boddhisatva2 yg lain)

- Kemudian Pertapa Gotama melaksanakan meditasi Anapanasati, yaitu meditasi dengan menggunakan objek keluar-masuknya nafas..... Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, Beliau menggunakan dan mengarahkan pikirannya ke ...... dst .... (beliau mengawali dengan Jhana, kemudian memanfaatkan kondisi yg di capai dari Jhana utk melakukan Vipassana)

- "demikian bersih sehingga seluruh tubuh-Nya mengeluarkan kilauan cahaya biru, kuning, merah, putih dan jingga. Selama minggu kelima, Sang Buddha bermeditasi di bawah Pohon Ajapala Nigrodha (Pohon Beringin), yang letaknya tidak jauh dari Pohon Bodhi" saya perna di beritahu sama temen nya mama saya (dia beragama kr****n), bahwa pohon bodhi yg sering di ungkit2 ama umat buddhis sebetulnya adalah sama saja dengna pohon beringin, cuman bedanya, pohon bodhi itu tidak ada sulur2 (seperti akar yg turun dari atas pohon), makannya sering disebut sebagai pohon beringin yg mandul, apakah hal ini bener ?




Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #26 on: 18 January 2009, 11:07:33 PM »
[at] tula

Q : yg memberi nama rahula itu Pangeran Gotama sendiri ya , bukan ayah dari Pangeran gotama (soalnya versi dari Festival Buddhist yg perna di adain di sby PTC super mall, yg memberi nama rahula itu ayah nya pangeran gotama, kalo gasalah perna aku bikin thread ini jg beserta gambar per adegan)
A : Pangeran Siddhattha melihat anaknya yang baru terlahir itu sebagai 'jeratan', karena kelahiran tersebut merupakan halangan baginya untuk segera menjalani kehidupan sebagai pertapa. Sebab Pangeran Siddhattha amat mencintai keluarga dan anaknya yang baru lahir itu, sehingga semakin sulit baginya untuk bisa melepaskan kemelekatan pada mereka semua... Setelah mengetahui apa yang diutarakan oleh Pangeran Siddhattha ketika mendengar berita itu, Raja Suddhodana kemudian terinspirasi dan akhirnya memberi nama bayi itu sebagai Rahula, yang berarti “belenggu”.

Q : Pertapa Gotama mendapat kan "pengerertian tentang Hukum Kamma (Karma) dan Tumimbal Lahir (proses penerusan kehidupan)" dari Pertapa Alara Kalama, apakah hukum kamma dan tumimbal lahir yg diajarkan oleh pertama alara sama dengan yg diajarkan Buddha kpd murid2 nya dan kita warisi ini ?
A : Sebelum menjadi Sammasambuddha, Pertapa Gotama sudah memahami akan konsep Hukum Kamma dan Tumimbal Lahir, seperti yang sudah dipahami pula oleh Pertapa Alara Kalama. Namun setelah mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi Sammasambuddha, beliau sudah memahami betul dengan sempurna akan konsep Hukum Kamma dan Tumimbal Lahir. Saat menjadi Buddha, beliau jauh lebih memahami akan kedua konsep ini dibanding pemahaman-Nya dahulu...

Q : Pertapa Gotama mendapat kan “Bukan-Pencerapan dan Bukan Bukan-Pencerapan” dari Pertapa Uddaka Ramaputta
A : Ya benar. Pertapa Gotama mencapai tingkat "bukan-pencerapan" dan "bukan bukan-pencerapan" melalui latihannya di bawah bimbingan Pertapa Uddaka Ramaputta.

Q : Pertapa Gotama bertekad (berikrar, berjanji)  “Dengan disaksikan oleh Bumi, meskipun kulitku, urat-uratku dan tulang-tulangku akan musnah dan darahku habis menguap, aku bertekad untuk tidak bangun dari tempat ini sebelum memperoleh Penerangan Agung dan mencapai Nibbana.” apakah ini dapat disebut tekad boddhisatva ? (kalo iya beda banget ya ama boddhisatva2 yg lain)
A : Karena saat itu Pertapa Gotama (yaitu sebagai calon Buddha) bertekad demikian, maka dapat kita konklusikan bahwa tekad itu adalah 'tekad seorang Bodhistava' juga... Perbedaan yang Anda komparasikan itu tidak bisa dijelaskan dengan beberapa ratus kata penjelasan saja. Hal ini sangat kompleks untuk dibahas, dan jawabannya akan kembali pada pemahaman Anda sendiri mengenainya. Yang jelas, konsep Bodhisatva ini cakupannya membentang luas dalam ruang-lingkup Buddhisme.

Q : Kemudian Pertapa Gotama melaksanakan meditasi Anapanasati, yaitu meditasi dengan menggunakan objek keluar-masuknya nafas..... Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, Beliau menggunakan dan mengarahkan pikirannya ke ...... dst .... (beliau mengawali dengan Jhana, kemudian memanfaatkan kondisi yg di capai dari Jhana utk melakukan Vipassana)
A : Jika kita berangkat dari pandangan orang awam (putthujana), memang begitulah kronologis yang diterapkan oleh Pertapa Gotama. Perlu Anda ingat bahwa Pertapa Gotama menerapkan metode meditasi yang komprehensif. Tidak ada pembagian meditasi menjadi metode Vipassana Bhavana ataupun metode Samatha Bhavana. Pengenalan akan metode Vipassana baru muncul sekitar 3 dekade yang lalu. Sedangkan menurut teks Tipitaka, Sang Buddha dan para pengikut-Nya justru cenderung menerapkan metode meditasi yang condong pada Samatha Bhavana. Namun dalam perealisasian Nibbana, Petapa Siddhattha memang menerapkan penyelaman hakikat dunia secara meditatif (insight).

Q : "demikian bersih sehingga seluruh tubuh-Nya mengeluarkan kilauan cahaya biru, kuning, merah, putih dan jingga. Selama minggu kelima, Sang Buddha bermeditasi di bawah Pohon Ajapala Nigrodha (Pohon Beringin), yang letaknya tidak jauh dari Pohon Bodhi" saya perna di beritahu sama temen nya mama saya (dia beragama kr****n), bahwa pohon bodhi yg sering di ungkit2 ama umat buddhis sebetulnya adalah sama saja dengna pohon beringin, cuman bedanya, pohon bodhi itu tidak ada sulur2 (seperti akar yg turun dari atas pohon), makannya sering disebut sebagai pohon beringin yg mandul, apakah hal ini bener ?
A : Pohon Bodhi (Bodhi Tree) dikenal dengan nama latin "Ficus Religiosa L", sedangkan Pohon Beringin (Banyan Tree) dikenal dengan nama latin "Ficus Benjamina". Keduanya adalah berbeda, namun masih dalam satu kerabat. Mungkin gambar berikut bisa memperjelas akan perbedaannya :

Pohon Bodhi: ShowHide


Pohon Beringin: ShowHide


Semoga bermanfaat...  :)

« Last Edit: 12 June 2009, 02:11:49 PM by upasaka »

Offline 7 Tails

  • Sebelumnya RAIN
  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 864
  • Reputasi: 24
  • Gender: Male
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #27 on: 19 January 2009, 01:19:32 AM »
adakah keinginan abadi
apa menjadi sammasambuddha adalah keinginan abadi? sesuatu yg kekal
sesuatu yg dicita citakan oleh seseorang. yg dilahirkan, mati, dilahirkan, mati lagi
sampai mencapai buddha.
korban keganasan

Offline tula

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 482
  • Reputasi: 24
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #28 on: 19 January 2009, 12:47:12 PM »
makaci penjelasannya :)

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #29 on: 19 January 2009, 09:27:52 PM »
adakah keinginan abadi
apa menjadi sammasambuddha adalah keinginan abadi? sesuatu yg kekal
sesuatu yg dicita citakan oleh seseorang. yg dilahirkan, mati, dilahirkan, mati lagi
sampai mencapai buddha.

7 Tails...  :)

Keinginan itu muncul dan diawali dari cetana (kehendak). Cetana adalah satu bentuk aktivitas batin yang timbul dan tenggelam karena faktor-faktor yang bersangkutan. Oleh karena itu, tidak ada keinginan yang abadi.

Pada hakikatnya, semua orang pada akhirnya akan bercita-cita untuk merealisasi Nibbana (Pembebasan)... Cita-cita untuk menjadi Sammasambuddha adalah cita-cita yang paling luhur. Dan untuk bisa mewujudkan hal ini, seseorang harus mengembangkan dirinya agar dapat memiliki kapasitas sebagai seseorang yang Teragung (Sammasambuddha). Ini adalah cita-cita yang paling sulit untuk diwujudkan, namun bukan berarti mustahil.