Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha  (Read 112884 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Jerry

  • Sebelumnya xuvie
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.212
  • Reputasi: 124
  • Gender: Male
  • Suffering is optional.. Pain is inevitable..
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #105 on: 11 January 2010, 12:14:07 AM »
Tergantung perkembangan sistem etika pada jaman tsb. Apakah manusia purba tidak berpakaian adalah dosa? ;D
appamadena sampadetha

Offline Sostradanie

  • Sebelumnya: sriyeklina
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.219
  • Reputasi: 43
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #106 on: 11 January 2010, 01:12:50 AM »
Tergantung perkembangan sistem etika pada jaman tsb. Apakah manusia purba tidak berpakaian adalah dosa? ;D

makasih udah ngasih pendapat.pertanyaan saya selanjutnya.apakah dosa itu diukur dari etika?berarti pada jaman dahulu itu dibenarkan pernikahan saudara?saya minta infonya yang bisa saya baca,mana tau ada diajarkan oleh sang buddha.maklum,saya belum tau apa-apa soal buddha...
PEMUSNAHAN BAIK ADANYA (2019)

Offline The Ronald

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.233
  • Reputasi: 89
  • Gender: Male
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #107 on: 11 January 2010, 07:10:57 AM »
tidak, dosa di ukur dari niat, hmm perasaan gak ada sutta yg mengajarkan kawinlah dgn saudara mu ..

tentang pola berpakaian..adalah presepsi manusia ttg dosa... presepsi tsb berdasarkan kebiasaan, jika semua org melakukan hal yg sama..maka hal itu adalah benar... tapi bukan cara mengetahui mana dosa dan mana yg bukan dosa
yg mendasari dosa , adalah niat buruk..., baik karena iri hari, serakah, marah , benci , napsu, dll
« Last Edit: 11 January 2010, 07:33:10 AM by The Ronald »
...

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #108 on: 11 January 2010, 12:50:39 PM »
Di kerajaan itulah, mereka menikah di antara sesama saudara, kecuali Putri yang tertua menikah dengan Raja dari Devadha.

Ada yang saya ingin tanyakan.apakah menikah dengan saudara itu dosa??????????

Tergantung perkembangan sistem etika pada jaman tsb. Apakah manusia purba tidak berpakaian adalah dosa? ;D

makasih udah ngasih pendapat.pertanyaan saya selanjutnya.apakah dosa itu diukur dari etika?berarti pada jaman dahulu itu dibenarkan pernikahan saudara?saya minta infonya yang bisa saya baca,mana tau ada diajarkan oleh sang buddha.maklum,saya belum tau apa-apa soal buddha...

Pertama-tama, ada pemahaman yang berbeda antara Agama Buddha dengan agama lain mengenai istilah "dosa". Dalam agama lain, "dosa" berarti perbuatan jahat, perbuatan najis, ataupun hal kotor yang dilarang oleh Tuhan. Sedangkan dalam Agama Buddha, "dosa" adalah kosakata dari Bahasa Pali yang mengandung arti sebagai "kebencian"; termasuk pula mencakup semua aktivitas menolak. Membenci orang lain, membenci suatu negara; dalam pandangan Agama Buddha merupakan bentuk dari dosa. Tidak menyukai pelajaran Matematika, tidak senang karena hujan turun; dalam pandangan Agama Buddha juga merupakan bentuk dari dosa.

Menikah antar sesama saudara kandung bukan merupakan perbuatan tercela. Di bawah ikatan pernikahan, sepasang suami-istri bersikap sebagai pasangan hidup; hubungan mereka bisa dikatakan sebagai interaksi antar saudara. Bahkan ketika sepasang pria dan wanita menikah; secara ikatan keluarga, mereka juga "mendapatkan" orangtua yang baru (ayah dan ibu mertua). Ini menunjukkan bahwa sepasang suami-istri bisa dikatakan sebagai "saudara". Tanyakanlah pada teman Anda yang sudah berkeluarga. Jika mereka adalah pasangan yang harmonis, mereka akan bersikap atau pernah berkomentar bahwa dalam keseharian, mereka sudah seperti saudara dekat.

Berangkat dari pemahaman ini, bisa kita lihat bahwa pernikahan antar saudara kandung pun sebenarnya tidak bermasalah. Tetapi dari segi biologi, pernikahan sedarah rentang menyebabkan kelainan genetik pada keturunannya. Meskipun ada juga beberapa kasus yang tidak mendapat dampak dari resiko kelainan genetik ini. Selain itu, secara etika masyarakat, pernikahan sedarah dilihat sebagai perbuatan tercela. Apalagi pengaruh dari agama lain yang mendiskreditkan pernikahan sedarah. Di India pada masa itu, pernikahan antar saudara biasa hanya dilakukan oleh kaum bangsawan. Dengan tujuan untuk menjaga kemurnian darah biru dan menjaga tahta kerajaan di dalam silsilah keluarga. Tentunya tradisi seperti ini sudah mulai ditinggalkan pada masa kini.

Dalam Agama Buddha, suatu perbuatan disebut terpuji atau tercela berdasarkan niatnya. Jika suatu perbuatan didasari niat buruk, maka sekecil apapun keburukan yang dilakukan; tetaplah dilihat sebagai perbuatan tercela. Sebaliknya jika suatu perbuatan didasari niat baik, maka sekecil apapun kebaikan yang dilakukan; tetaplah dilihat sebagai perbuatan terpuji.

Sang Buddha tidak pernah menganjurkan menikah antar sesama saudara. Sang Buddha lebih menaruh konsentrasi pengajaran-Nya ke bidang spiritual, yakni realitas kehidupan dan jalan untuk mencapai kebahagiaan tertinggi. Mengenai Kebenaran, Sang Buddha menjelaskan 2 jenis Kebenaran, yaitu:

1) Kebenaran relatif (Sammuti Sacca)
Yaitu kebenaran yang terkondisikan oleh keadaan waktu, tempat dan persepsi masyarakat. Misalnya: di suatu negeri, membunuh orang yang memberontak adalah benar. Tapi di negeri yang lain, kebenaran itu bisa saja dinyatakan sebagai kesalahan.

2) Kebenaran sejati (Paramattha Sacca)
Yaitu kebenaran yang sifatnya sejati dan tidak akan berubah kapan pun, di mana pun dan oleh siapa pun. Misalnya: fakta bahwa dunia ini adalah tidak kekal (anicca), tidak memuaskan (dukkha) dan tanpa substansi inti (anatta).

Offline Sostradanie

  • Sebelumnya: sriyeklina
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.219
  • Reputasi: 43
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #109 on: 11 January 2010, 06:40:11 PM »
Terima kasih atas jawabannya.Saya jadi lebih memahami.Dan jangan bosan yah kalau saya banyak bertanya.Karena selama ini dalam hidup saya.Banyak sekali pertanyaan yg tidak dapat jawabannya.Saya udah berusaha mencari dan bertanya dengan berbagai teman bahkan yang berbeda agama.Baik yang mendalami(yang khusus membagi warta dll) atau tidak mendalami.Mereka semua pasti memberikan jawaban.Tapi dihati dan pikiran saya merasa tidak klop.seperti ada yang kurang.dan hati ini tetap mencari jawaban terus.Contoh:ada yang berkata kepada saya,pindahlah agama.jika kamu masuk maka semua dosamu akan dihapuskan.dan saat akhir nanti kamu akan diselamatkan.saya cuma berpikir bahwa semua agama itu sama.semuanya hampir mirip.cuma cara menyembahnya aja yang beda.dan yang saya cari jawaban dan kebenaran yang mungkin cocok dihati saya.
PEMUSNAHAN BAIK ADANYA (2019)

Offline Sostradanie

  • Sebelumnya: sriyeklina
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.219
  • Reputasi: 43
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #110 on: 11 January 2010, 06:51:44 PM »
saya pernah bertanya,kalau pernikahan saudara itu dosa.bagaimana dengan anak adam?bagaimana mereka berkembang biak sampai kita menjadi turunannya?tentu nikah dengan saudara kandung sendiri?jawaban yang paling sering saya dengar kalau udah makin rumit yang saya tanyakan,kita ini hanya manusia yang terbatas.jadi terkadang ada hal-hal yang memang jadi misteri Tuhan.Intinya:jangan banyak tanya,jalani aja apa yang diperintahkan oleh kita sebagai umatnya.
PEMUSNAHAN BAIK ADANYA (2019)

Offline The Ronald

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.233
  • Reputasi: 89
  • Gender: Male
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #111 on: 11 January 2010, 07:00:01 PM »
saya pernah bertanya,kalau pernikahan saudara itu dosa.bagaimana dengan anak adam?bagaimana mereka berkembang biak sampai kita menjadi turunannya?tentu nikah dengan saudara kandung sendiri?jawaban yang paling sering saya dengar kalau udah makin rumit yang saya tanyakan,kita ini hanya manusia yang terbatas.jadi terkadang ada hal-hal yang memang jadi misteri Tuhan.Intinya:jangan banyak tanya,jalani aja apa yang diperintahkan oleh kita sebagai umatnya.

jawaban org yg malas mikir...
...

Offline Sostradanie

  • Sebelumnya: sriyeklina
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.219
  • Reputasi: 43
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #112 on: 12 January 2010, 02:05:10 AM »
sekarang saya ingin mengetahui tentang takdir atau nasib menurut pandangan buddha?apakah ada hubungannya dalam karma?dalam cerita diatas ada yang meramal atau melihat masa depan pangeran siddhattha.kalau dia tidak jadi raja di raja maka dia akan jadi sang buddha.kesan yang saya dapat,berarti jalan hidupnya udah ditentukan atau udah digariskan.

dulu sedari kecil,saya udah biasa mendengar perkataan udah nasib kita hidup begini.emang udah takdir.atau sering juga ibu saya mengeluh:apalah dosanya sampai dia harus jalani seperti ini?saya mempercayai itu semua.dan jika ketemu rintangan maka ikutlah kebiasaan perkataan ibu.cuma saya lebih parah bicaranya,saya malah menyalahkan Tuhan.Tuhan,engkau sungguh tidak adil.

dan saya tidak bisa menerima bahwa memang ini takdir saya.saya tidak mau percaya dengan ramalan.bahkan saya tidak ingin mendengar ramalan.makin bertambah umur dan banyak yang dijalani dalam hidup.tentu terjadi proses perubahan dalam cara berpikir.

saya terkadang membaca buku-buku yang menurut saya menarik untuk dipelajari.dan saya coba jalani dan praktekkan.terutama tentang keyakinan.banyak yang terjadi dalam perubahan hidup saya.

dan saya sering bicara dengan orang-orang yang sering mengeluhkan tentang hidupnya kepada saya terutama dalam ekonomi.Tuhan ga akan bisa merubah nasibmu,Dia adil kok dan selalu membantu kita tapi melalui orang lain,melalui keadaan disekeliling kita.dan ada cara-caranya.Tapi kita harus jeli melihat peluang yang datang padamu.......dan banyak lagi kata saya yang lainnya.yang kalau diketik,bisa jadi ceramah yang membosankan buat yang baca..he..he..

saya sekarang lebih sering berpikir bahwa hidup itu pilihan.tidak benar kalau kita emang diberi nasib buruk atau baik.kalau kita menghadapi masalah,saya lebih sering berpikir itu emang rintangan.kalau kita bisa lewati rintangan itu,baru kita layak menerima yang ingin kita capai.
karena emang ada hukum alam yang tidak bisa dibantah dan harus diikuti.contoh:semua yang dilempar ke atas pasti jatuh kebawah.contoh lain:orang yang bisa angkat besi 100kg,dia pasti harus melewati tahap demi tahap sehingga ototnya berkembang dan sampailah pada bentuk dan kekuatan otot untuk angkat 100kg.
 
biasanya saya cuma bertanya,tapi sekarang saya sekaligus mengungkapkan pikiran saya.jadi saya bisa sekalian mendengar dimana yang kurang tepat dalam prinsip saya.saya tunggu masukkannya...
PEMUSNAHAN BAIK ADANYA (2019)

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #113 on: 12 January 2010, 01:21:27 PM »
sekarang saya ingin mengetahui tentang takdir atau nasib menurut pandangan buddha?apakah ada hubungannya dalam karma?dalam cerita diatas ada yang meramal atau melihat masa depan pangeran siddhattha.kalau dia tidak jadi raja di raja maka dia akan jadi sang buddha.kesan yang saya dapat,berarti jalan hidupnya udah ditentukan atau udah digariskan.

dulu sedari kecil,saya udah biasa mendengar perkataan udah nasib kita hidup begini.emang udah takdir.atau sering juga ibu saya mengeluh:apalah dosanya sampai dia harus jalani seperti ini?saya mempercayai itu semua.dan jika ketemu rintangan maka ikutlah kebiasaan perkataan ibu.cuma saya lebih parah bicaranya,saya malah menyalahkan Tuhan.Tuhan,engkau sungguh tidak adil.

dan saya tidak bisa menerima bahwa memang ini takdir saya.saya tidak mau percaya dengan ramalan.bahkan saya tidak ingin mendengar ramalan.makin bertambah umur dan banyak yang dijalani dalam hidup.tentu terjadi proses perubahan dalam cara berpikir.

saya terkadang membaca buku-buku yang menurut saya menarik untuk dipelajari.dan saya coba jalani dan praktekkan.terutama tentang keyakinan.banyak yang terjadi dalam perubahan hidup saya.

dan saya sering bicara dengan orang-orang yang sering mengeluhkan tentang hidupnya kepada saya terutama dalam ekonomi.Tuhan ga akan bisa merubah nasibmu,Dia adil kok dan selalu membantu kita tapi melalui orang lain,melalui keadaan disekeliling kita.dan ada cara-caranya.Tapi kita harus jeli melihat peluang yang datang padamu.......dan banyak lagi kata saya yang lainnya.yang kalau diketik,bisa jadi ceramah yang membosankan buat yang baca..he..he..

saya sekarang lebih sering berpikir bahwa hidup itu pilihan.tidak benar kalau kita emang diberi nasib buruk atau baik.kalau kita menghadapi masalah,saya lebih sering berpikir itu emang rintangan.kalau kita bisa lewati rintangan itu,baru kita layak menerima yang ingin kita capai.
karena emang ada hukum alam yang tidak bisa dibantah dan harus diikuti.contoh:semua yang dilempar ke atas pasti jatuh kebawah.contoh lain:orang yang bisa angkat besi 100kg,dia pasti harus melewati tahap demi tahap sehingga ototnya berkembang dan sampailah pada bentuk dan kekuatan otot untuk angkat 100kg.
 
biasanya saya cuma bertanya,tapi sekarang saya sekaligus mengungkapkan pikiran saya.jadi saya bisa sekalian mendengar dimana yang kurang tepat dalam prinsip saya.saya tunggu masukkannya...

Dalam pandangan Buddhisme, setiap manusia adalah sang arsitek bagi nasibnya sendiri. Sebelum terlahir menjadi Siddhattha Gotama, beliau telah melewati banyak kelahiran menjadi orang-orang besar. Beliau telah melakukan banyak perbuatan bajik, mengembangkan kebijaksanaan; sehingga semua kualitas ini membawanya ke kehidupan yang mulia. Beliau telah menyusun nasib hidupnya sendiri, sehingga pada suatu waktu beliau terlahir menjadi Siddhattha Gotama.

Dalam pandangan Buddhisme, semua kamma (perbuatan) yang pernah ditanam cenderung akan berbuah. Semua perbuatan mulianya dahulu telah mengakibatkan beliau mendapat takdir untuk terlahir sebagai seorang pangeran. Tidak hanya itu, kualitas kebajikan dan kebijaksanaan yang dikembangkannya membuat jalan hidupnya menjadi terarah. Siddhattha Gotama terlahir dengan 32 tanda manusia luar biasa. Orang yang memiliki 32 tanda ini, memiliki jalan hidup yang pasti. Bila orang ini ingin hidup di duniawi, maka orang yang memiliki 32 tanda ini akan menjadi raja dari semua raja di dunia ini (Cakkavati). Namun bila orang yang memiliki 32 tanda ini meninggalkan kehidupan duniawi, maka beliau akan menjadi seorang Sammasambuddha (orang yang tercerahkan melalui usahanya sendiri, dan kemudian akan membabarkan ajarannya kepada khalayak ramai).

Dalam pandangan Buddhisme, ada beberapa hal yang akan terjadi dan tidak bisa ditolak kehadirannya. Hal ini dikarenakan kematangan kamma, sehingga membuahkan akibat (vipaka) yang tak bisa dihindari. Misalnya seseorang telah membunuh kedua orangtuanya. Karena perbuatan ini, orang ini akan ke neraka setelah meninggal dunia. Setelah kehidupan di alam neraka berakhir, dia akan mengarungi kehidupan sebagai makhluk lainnya. Suatu waktu ketika dia terlahir menjadi manusia, dia berhasil menjadi orang sukses dan baik hati. Namun sayang, orang ini sudah memiliki perjalanan kehidupan (nasib) yang suram pada akhirnya. Dan dia tidak bisa menghindarinya. Meski orang ini baik hati, namun orang ini mati mengenaskan di tangan para perampok. Dalam pandangan Buddhisme, kematian mengenaskan ini bisa saja dikarenakan perbuatan buruknya di masa lampau. Salah satu penyebabnya adalah karena dahulu dia pernah membunuh kedua orangtuanya.

Namun bukan berarti nasib tidak bisa diperbaiki. Beberapa akibat perbuatan (vipaka) yang tidak terlalu berat, bisa ditanggulangi dengan menambah perbuatan baik. Sehingga nasib kita pun bergerak lebih cerah, dan bencana pun tidak mendatangi kita. Sang Buddha memberikan perumpamaan yang baik untuk hal ini:

"Anggap saja hidup kita adalah sebuah kolam. Jika kita berbuat kebajikan, maka anggaplah kita menuangkan air ke dalam kolam. Jika kita berbuat keburukan, maka anggaplah kita menaburkan garam ke dalam kolam. Orang yang banyak berbuat kebajikan, akan menikmati kebahagiaan. Sedangkan orang yang banyak berbuat keburukan, akan mendapatkan kemalangan. Bila kita menambah kebajikan (air), maka garam di dalam kolam itu tidak akan terasa asin lagi. Namun bila kita terus menambah keburukan (garam), maka air di dalam kolam itu akan terasa asin".
« Last Edit: 12 January 2010, 01:48:02 PM by upasaka »

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #114 on: 12 January 2010, 01:21:32 PM »
Terima kasih atas jawabannya.Saya jadi lebih memahami.Dan jangan bosan yah kalau saya banyak bertanya.Karena selama ini dalam hidup saya.Banyak sekali pertanyaan yg tidak dapat jawabannya.Saya udah berusaha mencari dan bertanya dengan berbagai teman bahkan yang berbeda agama.Baik yang mendalami(yang khusus membagi warta dll) atau tidak mendalami.Mereka semua pasti memberikan jawaban.Tapi dihati dan pikiran saya merasa tidak klop.seperti ada yang kurang.dan hati ini tetap mencari jawaban terus.Contoh:ada yang berkata kepada saya,pindahlah agama.jika kamu masuk maka semua dosamu akan dihapuskan.dan saat akhir nanti kamu akan diselamatkan.saya cuma berpikir bahwa semua agama itu sama.semuanya hampir mirip.cuma cara menyembahnya aja yang beda.dan yang saya cari jawaban dan kebenaran yang mungkin cocok dihati saya.

Tidak apa-apa. Semoga Anda bisa mendapat banyak jawaban dari Forum DhammaCitta ini. :)

Kalau semua agama sama; kenapa ada agama yang menyatakan bahwa jalan keselamatan hanya ada di agamanya saja, kenapa ada agama yang menyatakan bahwa Tuhan mengizinkan umatnya untuk membunuh orang lain yang keluar dari agamanya, kenapa ada agama yang menyatakan bahwa agama lain adalah agama berhala. :)

Kalau semua agama adalah sama, seharusnya pola pikir, ajaran, tujuan, dan konsep yang disajikan juga sama. Tetapi Anda bisa melihat bahwa setiap agama pasti berbeda. Satu agama saja bisa melahirkan banyak aliran. Karena itu, bila Anda ingin mempelajari suatu agama; pelajarilah isi kitab agamanya. Jangan hanya percaya dari apa yang dikatakan cendekiawan atau umat dari agama tersebut.

Bila Anda ingin mencari jawaban yang pas dengan akal sehat Anda, maka Anda harus berangkat dari pola pikir bebas. Anggap saja Anda tidak terikat oleh konsep agama apa pun. Tugas Anda sekarang adalah mencoba menganalisa konsep-konsep agama yang diwejangkan. Dalam konteks ini adalah Anda menganalisa Agama Buddha. Semoga Anda bisa mendapatkan banyak jawaban yang memuaskan.

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #115 on: 12 January 2010, 01:21:38 PM »
saya pernah bertanya,kalau pernikahan saudara itu dosa.bagaimana dengan anak adam?bagaimana mereka berkembang biak sampai kita menjadi turunannya?tentu nikah dengan saudara kandung sendiri?jawaban yang paling sering saya dengar kalau udah makin rumit yang saya tanyakan,kita ini hanya manusia yang terbatas.jadi terkadang ada hal-hal yang memang jadi misteri Tuhan.Intinya:jangan banyak tanya,jalani aja apa yang diperintahkan oleh kita sebagai umatnya.

Jika selama ini Anda menelan dogma secara bulat-bulat, maka cobalah untuk melepaskan semua itu. Anda harus berpikir sebagai seorang pemikir bebas (free thinker), tidak terkungkung oleh suatu konsep agama apa pun. Dengan demikian Anda memiliki kans untuk mengenal realita sesuai akal sehat.

Biasa orang pada umumnya selalu memakai pola pikir tautologisme. Yaitu pola pikir analisa yang melompat ke ujung tanpa ada korelasi yang sistematis. Seperti pertanyaan: "Kenapa pernikahan sedarah itu dilarang oleh agama x?" Jawabannya: "Karena Tuhan yang menyatakannya". Dan pertanyaan pun selesai. Pola pikir seperti ini adalah pola pikir yang menghambat tumbuhnya kebijaksanaan seseorang. Jika segala sesuatu selalu diberikan ultimatum bahwa ini adalah pernyataan Tuhan, maka selamanya orang itu tidak akan berani melihat dunia. Hidupnya selalu di bawah bayang-bayang dogma.

Belajarlah untuk meneliti realita dari setiap kata. Jika ada orang yang menyatakan: "Itu semua perintah Tuhan"... Maka Anda perlu menganalisa setiap katanya.

Apa itu artinya "itu"? Seperti apa "itu"?
Apa artinya "semua"? Bagaimanakah "semua" itu?
Apa itu "perintah"? Apakah kriterian dari "perintah" itu ?
Siapa itu "Tuhan"? Apakah "Tuhan" memang seperti yang dikisahkan kitab-kitab?

Offline exam

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 533
  • Reputasi: 9
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #116 on: 12 January 2010, 01:24:33 PM »
saya pernah bertanya,kalau pernikahan saudara itu dosa.bagaimana dengan anak adam?bagaimana mereka berkembang biak sampai kita menjadi turunannya?tentu nikah dengan saudara kandung sendiri?jawaban yang paling sering saya dengar kalau udah makin rumit yang saya tanyakan,kita ini hanya manusia yang terbatas.jadi terkadang ada hal-hal yang memang jadi misteri Tuhan.Intinya:jangan banyak tanya,jalani aja apa yang diperintahkan oleh kita sebagai umatnya.

Jika selama ini Anda menelan dogma secara bulat-bulat, maka cobalah untuk melepaskan semua itu. Anda harus berpikir sebagai seorang pemikir bebas (free thinker), tidak terkungkung oleh suatu konsep agama apa pun. Dengan demikian Anda memiliki kans untuk mengenal realita sesuai akal sehat.

Biasa orang pada umumnya selalu memakai pola pikir tautologisme. Yaitu pola pikir analisa yang melompat ke ujung tanpa ada korelasi yang sistematis. Seperti pertanyaan: "Kenapa pernikahan sedarah itu dilarang oleh agama x?" Jawabannya: "Karena Tuhan yang menyatakannya". Dan pertanyaan pun selesai. Pola pikir seperti ini adalah pola pikir yang menghambat tumbuhnya kebijaksanaan seseorang. Jika segala sesuatu selalu diberikan ultimatum bahwa ini adalah pernyataan Tuhan, maka selamanya orang itu tidak akan berani melihat dunia. Hidupnya selalu di bawah bayang-bayang dogma.

Belajarlah untuk meneliti realita dari setiap kata. Jika ada orang yang menyatakan: "Itu semua perintah Tuhan"... Maka Anda perlu menganalisa setiap katanya.

Apa itu artinya "itu"? Seperti apa "itu"?
Apa artinya "semua"? Bagaimanakah "semua" itu?
Apa itu "perintah"? Apakah kriterian dari "perintah" itu ?
Siapa itu "Tuhan"? Apakah "Tuhan" memang seperti yang dikisahkan kitab-kitab?

AGREEEEE

Offline exam

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 533
  • Reputasi: 9
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #117 on: 12 January 2010, 01:28:30 PM »
tidak, dosa di ukur dari niat, hmm perasaan gak ada sutta yg mengajarkan kawinlah dgn saudara mu ..

tentang pola berpakaian..adalah presepsi manusia ttg dosa... presepsi tsb berdasarkan kebiasaan, jika semua org melakukan hal yg sama..maka hal itu adalah benar... tapi bukan cara mengetahui mana dosa dan mana yg bukan dosa
yg mendasari dosa , adalah niat buruk..., baik karena iri hari, serakah, marah , benci , napsu, dll


Kalau di jaman dulu
dimana seorang masyarakat mengorbankan anak2 utk dewa mereka
apakah tidak dosa, krn mereka tidak berniat buruk ?  :)

Offline The Ronald

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.233
  • Reputasi: 89
  • Gender: Male
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #118 on: 12 January 2010, 03:50:31 PM »
yah menurut org jaman dulu seh ga dosa..soalnya mungkin biasa
tp sebenarnya dosa..karena melakukan pembunuhan

ohh.. tentang niatnya... yah?
jelas niatnya salah... yg mengorbankan ingin keselamatan, kekayaan, kejayaan, kemakmuran, bagi dia..tp tidak bagi anaknya
serakah kali yah  di tambah kebodohan.. apa lagi yah dasarnya??
« Last Edit: 12 January 2010, 04:01:57 PM by The Ronald »
...

Offline Sostradanie

  • Sebelumnya: sriyeklina
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.219
  • Reputasi: 43
Re: Perjalanan Hidup Siddhattha Gotama menjadi Sang Buddha
« Reply #119 on: 12 January 2010, 04:58:02 PM »
Terima kasih atas jawabannya.Saya jadi lebih memahami.Dan jangan bosan yah kalau saya banyak bertanya.Karena selama ini dalam hidup saya.Banyak sekali pertanyaan yg tidak dapat jawabannya.Saya udah berusaha mencari dan bertanya dengan berbagai teman bahkan yang berbeda agama.Baik yang mendalami(yang khusus membagi warta dll) atau tidak mendalami.Mereka semua pasti memberikan jawaban.Tapi dihati dan pikiran saya merasa tidak klop.seperti ada yang kurang.dan hati ini tetap mencari jawaban terus.Contoh:ada yang berkata kepada saya,pindahlah agama.jika kamu masuk maka semua dosamu akan dihapuskan.dan saat akhir nanti kamu akan diselamatkan.saya cuma berpikir bahwa semua agama itu sama.semuanya hampir mirip.cuma cara menyembahnya aja yang beda.dan yang saya cari jawaban dan kebenaran yang mungkin cocok dihati saya.

Tidak apa-apa. Semoga Anda bisa mendapat banyak jawaban dari Forum DhammaCitta ini. :)

Kalau semua agama sama; kenapa ada agama yang menyatakan bahwa jalan keselamatan hanya ada di agamanya saja, kenapa ada agama yang menyatakan bahwa Tuhan mengizinkan umatnya untuk membunuh orang lain yang keluar dari agamanya, kenapa ada agama yang menyatakan bahwa agama lain adalah agama berhala. :)

Kalau semua agama adalah sama, seharusnya pola pikir, ajaran, tujuan, dan konsep yang disajikan juga sama. Tetapi Anda bisa melihat bahwa setiap agama pasti berbeda. Satu agama saja bisa melahirkan banyak aliran. Karena itu, bila Anda ingin mempelajari suatu agama; pelajarilah isi kitab agamanya. Jangan hanya percaya dari apa yang dikatakan cendekiawan atau umat dari agama tersebut.

Bila Anda ingin mencari jawaban yang pas dengan akal sehat Anda, maka Anda harus berangkat dari pola pikir bebas. Anggap saja Anda tidak terikat oleh konsep agama apa pun. Tugas Anda sekarang adalah mencoba menganalisa konsep-konsep agama yang diwejangkan. Dalam konteks ini adalah Anda menganalisa Agama Buddha. Semoga Anda bisa mendapatkan banyak jawaban yang memuaskan.

Benar sekali kata anda.
Tapi dalam kamus saya,semua agama itu sama dan itu untuk saya pribadi.Mungkin kata-kata saya diatas kurang lengkap.

Kenapa bagi saya sama tapi menurut anda atau orang lain tidak?karena tiap orang punya pandangan berbeda dalam mengartikan sesuatu atau mengambil hikmah dalam satu hal dan satu kejadian dll.saya yakin anda SANGAT TAHU itu.saya juga yakin anda juga tau maksud kata-kata saya ketika mengatakan semua agama sama.dan saya heran kenapa anda berkata atau membalikkan pertanyaan seperti itu kepada saya?yang saya yakin juga anda udah punya jawabannya.kejutan buat saya pada hari ini.untung saya tidak kena serangan jantung..he..he...

Saya akan coba menjelaskan.Disaat saya mengetahui sesuatu,prosesnya berikutnya pasti dipikirkan.Dalam berpikir itu terjadi pemilahan yang menurut saya benar atau tidak.Jika menurut saya tidak,maka yang saya dengar itu masuk dalam tong sampah.tapi kalau menurut saya benar berikutnya diproses di hati nurani(ini istilah bagi saya sendiri).Apakah hati saya menentang atau menerima hal itu?kalau hati saya menerima maka itu udah klop.tapi kalau hati menolak maka saya jadi bingung.dan khusus untuk hal yang membingungkan itu masuk dalam daftar menunggu.yang begitu ada kesempatan akan saya cari lagi jawabannya.

Contohnya Sering terdengar seperti aksi meledakkan diri dan membuat banyak korban yang tak bersalah meninggal. mereka berdalih itu demi membela kebenaran.karena membela agama.Dan umumnya yang dikomentari pasti agamanya.Kalau saya berpikir bukan agamanya yang menyuruh.Bukan ajarannya yang salah.Tapi umatnya yang terkadang memanfaatkan untuk suatu kepentingan.Bisa politik dan banyak lainnya.Terkadang agama juga seperti parpol.Mencari pengikut terbanyak.Dan ajaran itu mungkin saja udah tidak asli lagi seperti awalnya.Mungkin juga udah ada dirubah karena suatu kepentingan pribadi pada waktu dulunya.Atau kr hal lainnya.

Aliran dan agama yang benar,tidak pernah memberikan perintah.Bunuhlah sesamamu manusia.Tapi emang ada juga aliran sesat.Bahkan sembahyangpun disuruh bugil.Dan itu bersembahyang dengan cara berkumpul bersama antara pria dan wanita.Supaya kita dalam keadaan bersih spt kita baru lahir.Mereka mengalasankan bahwa Tuhan Maha Penyayang.Kita adalah anak Tuhan.Apakah mungkin Tuhan itu menyakiti anaknya sendiri?Sedangkan kita saja tidak mau menyakiti anak kita.Apalagi Tuhan Yang Maha Pengasih dan lagi Penyayang.Jadi neraka itu tidak ada.

Kalau secara logika itu masuk akal.Tapi dihati atau batin saya tidak bisa menerima.Sebenarnya itu aliran yang menyenangkan.Tapi saya ga tau kenapa batin saya menolak,saya merasa bukan ini yang saya cari
dan kenapa batin saya selalu berkata bahwa kita terlahir pasti punya 1tujuan.dan itu menjadi pertanyaan terpenting bagi saya.dan terus saya cari.bukankah itu yang pertama saya tanyakan pada anda(mod upasaka)

Dalam keseharian,banyak yang saya lihat abu-abu.Bisa jadi hitam dan bisa jadi putih.Jadi yah harus pandai-pandailah.

PEMUSNAHAN BAIK ADANYA (2019)