Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: membunuh akhirya menjadi kebiasaan  (Read 35251 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline NagaSena

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 134
  • Reputasi: -6
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #45 on: 26 November 2012, 11:51:04 AM »
sudah di jelaskan syarat terjadi pembunuhan (dipost oleh Nona Hemayanti), tolong dibaca lagi jika kurang jelas

ini tulisan sy :

" Ya sy Tahu, yang sebutkan itu adalah SYARAT bukan inti pertanyaan yg sy MaksudKan. Tanpa PENGECUALIAN. Tapi apakah tidak ada Faktor pertimbangan Lain diluar itu semua, Bahwa ada kondisi dimana seseorang itu Harus Dgn terpaksa melakukan pembunuhan Jika sudah pada tingkat mengkhawatirkan (Bukan karna Benci) ?  Dan bukanKah Karma itu adil membunuh Nyamuk/Serangga lainnya Bukankah tidak sebanding dengan membunuh Monyet atau anjing atau binatang lain Karna Nyamuk Tidak memiliki Darah... Hukum Dunia saja Membunuh Berencana dan Tidak, Beda Hukumannya tohh... "

Ada 5 syarat, Berarti Jika salah satu tidak terpenuhi bararti tidak timbul karma burukKan  :-?

Quote
at. Nagasena
ada terjadi suatu pembunuhan tentunya ada niat karena Dosa (kebencian)
tidak ada niat membunuh karena cinta kasih.

Sy kira sangat Frontal skali jika semua suatu pembunuhan sudah psti karna ada niat Kebencian. Bukankah Niat itu timbul dari adanya Sabab Musababnya atau Alasannya yang berdasar mengapa melakukan hal tersebut?

Quote
kenyataannya anda membunuh hewan karena memang anda terganggu/terusik dengan kenyamanan dan takut akan efek dari gigitan dari serangga (nyamuk/serangga lainnya).
Apakah yang anda tulis diatas itu termasuk kedalam kata Benci, maknanya sama dgn kebencian?

Quote
Jika memang ada pembunuhan serangga, anda juga tidak akan dihukum oleh polisi atau aparat berkuasa, tapi ada konsekuensi2 akibat sering 'berlatih membunuh' walaupun hewan serangga.
Dan juga jangan membenarkan perbuatan pembunuhan itu dengan alasan pembunuhan dengan cinta kasih   ;D
Tidak ada istilah alasan membunuh dgn kasih sayang, Yang ada adalah keadaan kondisi yg melakukan tersebut bukan karna benci tapi menyadari bahwa pada tinggkat tertentu nyamuk itu berbahaya.

Trimsss..

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #46 on: 26 November 2012, 11:52:45 AM »

Apakah Seorang tentara membunuh Karna BENCI, sy rasa Tidak Juga.
ada Perbuatan yang diLakukan bukan karna Benci Tapi Kondisi dan situasi yang memungkinan hal tersebut dimna sudah tidak ada pilihan lain. Jadi Tidak melulu dgn atas dasar benci.
Seorang Buddhist tahu  seminimal mungkn tidak lakukan pembunuhan sekalipun itu nyamuk atau semut. Justru Hal tersbut dilakukan sudah dlm tingkat mengkhawatirkan. mungkin nyamuk hanya ada 3 atau 4 ekor saja tidak masalah. Khan sy ada tulis Juga, Jika sudah dalam tingkat mengkhawatirkan (nyamuk Berkembangbiak/banyak) apa harus berdiam diri. BukanKah ada istilah, mencegah Lebih Baik dari mengobati  ;D ;D
nah, kalau bukan atas dasar benci lantas atas dasar apa dong??
semua perbuatan yang dikehendaki memiliki akarnya, untuk kasus ini berakar pada apakah perbuatan membunuh nyamuk ini?

mungkin anda mengira benci itu hanyalah perasaan yang ada dalam bentuk kasar(terlihat) saja...
ada perasaan benci yang sangat halus yang mungkin tidak anda sadari ketika anda melakukan pembunuhan pd nyamuk (atau karena kebiasaan sudah membunuh, udah gak berasa lagi)..
mungkin karena anda tidak menyadarinya anda mengira tidak ada rasa benci didalamnya....
« Last Edit: 26 November 2012, 11:56:28 AM by will_i_am »
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #47 on: 26 November 2012, 12:04:02 PM »
Ada 5 syarat, Berarti Jika salah satu tidak terpenuhi bararti tidak timbul karma burukKan  :-?
disebutkan bahwa proses kamma itu acinteyya (diluar jangkauang pikiran manusia biasa).
tidak ada yang tau apakah pada saat itu timbul atau tidak timbul kamma buruk.
yang jelas kalau melihat proses pikiran yang begitu cepat dan penjelasan tentang timbulnya kamma dalam abidhamma, besar kemungkinan pada saat itu walaupun belum terjadi pembunuhan tapi kamma sudah terjadi.
kamma bukan cuma melalui perbuatan, tapi juga pikiran, dan ucapan.
5 syarat itu adalah aturan sila (perbuatan), pada saat kapan suatu perbuatan disebut membunuh (pelanggaran sila 1) yaitu pada saat kelima faktor diatas terpenuhi.
"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."

Offline NagaSena

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 134
  • Reputasi: -6
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #48 on: 26 November 2012, 01:01:08 PM »
Jadi krn apa donk?

Silahkan Baca dgn Teliti koment sy, anda menjawab tapi tidak mengerti dari maksud yg sy Tulis  :o

ada Perbuatan yang diLakukan bukan karna Benci Tapi Kondisi dan situasi yang memungkinan hal tersebut dimna sudah tidak ada pilihan lain. Jadi Tidak melulu dgn atas dasar benci.

Quote
Terpaksa juga bisa aja atas dasar benci kok. Mungkin di satu sisi tentara merasa terpaksa demi kebaikan, pdhal di sisi lain membunuh krn benci....  :P

Nah sperti yg sy katakan bahwa membunuh itu Dasarnya atas alasan apa, apa sebab musababnya.. Tidak ada orang melakukan pembunuhan jika Tidak ada alasannya. Ya jelas klo terpaksa atas dasar Benci yg itu karma buruknya full bahkan cepat berbuah, Nah sy katakan juga ada terpaksa yg Bukan karna Benci juga Kan.. ^-^

Quote
Ga ada yg melarang kk membunuh kok, cm hrs sadar aja kl membunuh tetap aja karma buruk kk... mencegah sebaiknya dimulai dr membersihkan tempat penampungan air, ventilasi dipasang kawat, dll.....

Ya memang ngak ada yg Melarang, Sy sudah katakan bahwa membunuh nyamuk ada karma buruknya Tapi apakah besar karma buruk membunuh serangga sama dibanding dgn membunuh bintang lainnya, pasti beda kan kadarnya. dan sy juga bertanya apakah membunuh itu dlm ajaran Buddha tanpa pengecualian artinya dgn alasan apapun tetap saja karma buruk Tanpa memperhitungkan situasi dan kondisi mengapa pembunuhan itu dilakukan dan sy mintakan rujukan dalil2nya dari sutta yg ada. Bukan syarat2 terjadinya pembunuhan itu

« Last Edit: 26 November 2012, 01:08:17 PM by NagaSena »

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #49 on: 26 November 2012, 01:09:44 PM »
logikanya:
1. anda melihat banyak nyamuk disekitar rumah anda
2. anda merasa terganggu karena nyamuknya terlalu banyak
3. anda membunuh nyamuk karena tidak mau anak anda digigit nyamuk

merasa terganggu = tidak ingin sesuatu terjadi seperti demikian = penolakan = Dosa

hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline M14ka

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.821
  • Reputasi: 94
  • Gender: Female
  • Live your best life!! ^^
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #50 on: 26 November 2012, 01:19:14 PM »
Silahkan Baca dgn Teliti koment sy, anda menjawab tapi tidak mengerti dari maksud yg sy Tulis  :o

ada Perbuatan yang diLakukan bukan karna Benci Tapi Kondisi dan situasi yang memungkinan hal tersebut dimna sudah tidak ada pilihan lain. Jadi Tidak melulu dgn atas dasar benci.

Nah sperti yg sy katakan bahwa membunuh itu Dasarnya atas alasan apa, apa sebab musababnya.. Tidak ada orang melakukan pembunuhan jika Tidak ada alasannya. Ya jelas klo terpaksa atas dasar Benci yg itu karma buruknya full bahkan cepat berbuah, Nah sy katakan juga ada terpaksa yg Bukan karna Benci juga Kan.. ^-^
Ini krn terpaksa kan? Kl terpaksa berarti krn mau membela kepentingan diri sendiri ---> egois menurutku ada sedikit kebencian jg disana.... ^-^

Quote
Ya memang ngak ada yg Melarang, Sy sudah katakan bahwa membunuh nyamuk ada karma buruknya Tapi apakah besar karma buruk membunuh serangga sama dibanding dgn membunuh bintang lainnya, pasti beda kan kadarnya. dan sy juga bertanya apakah membunuh itu dlm ajaran Buddha tanpa pengecualian artinya dgn alasan apapun tetap saja karma buruk Tanpa memperhitungkan situasi dan kondisi mengapa pembunuhan itu dilakukan dan sy mintakan rujukan dalil2nya dari sutta yg ada. Bukan syarat2 terjadinya pembunuhan itu
Meski beda kadar kl sering dilakukan lama" jadi besar loh kk... Kadar mau kecil atau besar tetap aja karma buruk....  :P

Offline NagaSena

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 134
  • Reputasi: -6
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #51 on: 26 November 2012, 01:27:25 PM »
nah, kalau bukan atas dasar benci lantas atas dasar apa dong??
semua perbuatan yang dikehendaki memiliki akarnya, untuk kasus ini berakar pada apakah perbuatan membunuh nyamuk ini?
Sy kira tidak ada orang membunuh nyamuk klo hanya ada 3 atau 4 nyamuk, tapi jika sudah pada tahap "TERTENTU"  membunuh nyamuk pasti dilakukan, bukan..!!

Quote
mungkin anda mengira benci itu hanyalah perasaan yang ada dalam bentuk kasar(terlihat) saja...
ada perasaan benci yang sangat halus yang mungkin tidak anda sadari ketika anda melakukan pembunuhan pd nyamuk (atau karena kebiasaan sudah membunuh, udah gak berasa lagi)..
mungkin karena anda tidak menyadarinya anda mengira tidak ada rasa benci didalamnya....

Seseorang Sebelum melakukan pembunuhan itu pasti ada alasannya , Nah mnurut sy alasannya itu yang bisa diterima atau tidak, Kan sy sudah katakan jika sudah pada titik dimna Mengkhawatirkan, berkembangbiak apaKah pembunuhan itu didasarkan atas semata-mata hanya karna Benci saja, Khan Tidak seperti itu.

Offline bluppy

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.163
  • Reputasi: 65
  • Gender: Female
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #52 on: 26 November 2012, 01:29:52 PM »
Tapi apakah besar karma buruk membunuh serangga sama dibanding dgn membunuh bintang lainnya, pasti beda kan kadarnya. dan sy juga bertanya apakah membunuh itu dlm ajaran Buddha tanpa pengecualian artinya dgn alasan apapun tetap saja karma buruk Tanpa memperhitungkan situasi dan kondisi mengapa pembunuhan itu dilakukan dan sy mintakan rujukan dalil2nya dari sutta yg ada.

belum ketemu suttanya
tapi kalau ttg kadar membunuh binatang yg berbeda
sudah ada di thread ini
http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,2343.msg34017.html#msg34017

ttg membunuh juga
http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,698.0.html

http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,20613.msg358763.html#msg358763

http://www.accesstoinsight.org/lib/authors/bodhi/wheel282.html

1. The First Precept: Abstinence from Taking Life
The first of the five precepts reads in Pali, Panatipata veramani sikkhapadam samadiyami; in English, "I undertake the training rule to abstain from taking life." Here the word pana, meaning that which breathes, denotes any living being that has breath and consciousness. It includes animals and insects as well as men, but does not include plants as they have only life but not breath or consciousness. The word "living being" is a conventional term, an expression of common usage, signifying in the strict philosophical sense the life faculty (jivitindriya). The word atipata means literally striking down, hence killing or destroying. Thus the precept enjoins abstinence (veramani) from the taking of life. Though the precept's wording prohibits the killing of living beings, in terms of its underlying purpose it can also be understood to prohibit injuring, maiming, and torturing as well.

The Pali Buddhist commentaries formally define the act of taking life thus: "The taking of life is the volition of killing expressed through the doors of either body or speech, occasioning action which results in the cutting off of the life faculty in a living being, when there is a living being present and (the perpetrator of the act) perceives it as a living being"[6]

The first important point to note in this definition is that the act of taking life is defined as a volition (cetana). Volition is the mental factor responsible for action (kamma); it has the function of arousing the entire mental apparatus for the purpose of accomplishing a particular aim, in this case, the cutting off of the life faculty of a living being. The identification of the transgression with volition implies that the ultimate responsibility for the act of killing lies with the mind, since the volition that brings about the act is a mental factor. The body and speech function merely as doors for that volition, i.e., as channels through which the volition of taking life reaches expression. Killing is classified as a bodily deed since it generally occurs via the body, but what really performs the act of killing is the mind using the body as the instrument for actualizing its aim.

A second important point to note is that killing need not occur directly through the body. The volition to take life can also express itself through the door of speech. This means that the command to take life, given to others by way of words, writing, or gesture, is also considered a case of killing. One who issues such a commend becomes responsible for the action as soon as it achieves its intention of depriving a being of life.

A complete act of killing constituting a full violation of the precept involves five factors: (1) a living being; (2) the perception of the living being as such; (3) the thought or volition of killing; (4) the appropriate effort; and (5) the actual death of the being as a result of the action. The second factor ensures that responsibility for killing is incurred only when the perpetrator of the act is aware that the object of his action is a living being. Thus if we step on an insect we do not see, the precept is not broken because the perception or awareness of a living being is lacking. The third factor ensures that the taking of life is intentional. Without the factor of volition there is no transgression, as when we kill a fly while intending simply to drive it away with our hand. The fourth factor holds that the action must be directed to the taking of life, the fifth that the being dies as a result of this action. If the life faculty is not cut off, a full violation of the precept is not incurred, though in harming or injuring living beings in any way its essential purpose will be violated.

The taking of life is distinguished into different types by way of its underlying motivation. One criterion for determining the motivation is the defilement principally responsible for the action. Acts of killing can originate from all three unwholesome roots -- from greed, hatred, and delusion. As the immediate cause concomitant with the act of killing, hatred together with delusion functions as the root since the force which drives the act is the impulse to destroy the creature's life, a form of hatred. Any of the three unwholesome roots, however, can serve as the impelling cause or decisive support (upanissaya paccaya) for the act, operating over some span of time. Though greed and hatred are always mutually exclusive at a single moment, the two can work together at different moments over an extended period to occasion the taking of life. Killing motivated primarily by greed is seen in such cases as killing in order to gain material benefits or high status for oneself, to eliminate threats to one's comfort and security, or to obtain enjoyment as in hunting and fishing for sport. Killing motivated by hatred is evident in cases of vicious murder where the motive is strong aversion, cruelty, or jealousy. And killing motivated by delusion can be seen in the case of those who perform animal sacrifices in the belief that they are spiritually wholesome or who kill followers of other religions with the view that this is a religious duty.

Acts of taking life are differentiated by way of their degree of moral gravity. Not all cases of killing are equally blameworthy. All are unwholesome, a breach of the precept, but the Buddhist texts make a distinction in the moral weight attached to different kinds of killing.

The first distinction given is that between killing beings with moral qualities (guna) and killing beings without moral qualities. For all practical purposes the former are human beings, the latter animals, and it is held that to kill a fellow human being is a more serious matter ethically than to kill an animal. Then within each category further distinctions are drawn. In the case of animals the degree of moral gravity is said to be proportional to the animal, to kill a larger animal being more blameworthy than to kill a smaller one. Other factors relevant to determining moral weight are whether the animal has an owner or is ownerless, whether it is domestic or wild, and whether it has a gentle or a vicious temperament. The moral gravity would be greater in the former three alternatives, less in the latter three. In the killing of human beings the degree of moral blame depends on the personal qualities of the victim, to kill a person of superior spiritual stature or one's personal benefactors being more blameworthy than to kill a less developed person or one unrelated to oneself. The three cases of killing selected as the most culpable are matricide, parricide, and the murder of an arahat, a fully purified saint.


Another factor determinative of moral weight is the motivation of the act. This leads to a distinction between premeditated murder and impulsive killing. The former is murder in cold blood, intended and planned in advance, driven either by strong greed or strong hatred. The latter is killing which is not planned in advance, as when one person kills another in a fit of rage or in self-defense. Generally, premeditated murder is regarded as a graver transgression than impulsive killing, and the motivation of hatred as more blameworthy than the motivation of greed. The presence of cruelty and the obtaining of sadistic pleasure from the act further increase its moral weight.

Other factors determinative of moral gravity are the force of the defilements accompanying the act and the amount of effort involved in its perpetration, but limitations of space prohibit a full discussion of their role.


Sy kira tidak ada orang membunuh nyamuk klo hanya ada 3 atau 4 nyamuk, tapi jika sudah pada tahap "TERTENTU"  membunuh nyamuk pasti dilakukan, bukan..!!

Seseorang Sebelum melakukan pembunuhan itu pasti ada alasannya , Nah mnurut sy alasannya itu yang bisa diterima atau tidak, Kan sy sudah katakan jika sudah pada titik dimna Mengkhawatirkan, berkembangbiak apaKah pembunuhan itu didasarkan atas semata-mata hanya karna Benci saja, Khan Tidak seperti itu.

setiap org melakukan sesuatu perbuatan pasti ada alasannya masing2
kalau bro nagasena memilih membunuh nyamuk atau tidak membunuh nyamuk
dengan alasan apapun, itukan pilihan masing2
jadi it's up to you, it's your choice

« Last Edit: 26 November 2012, 01:32:28 PM by bluppy »

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #53 on: 26 November 2012, 01:32:21 PM »
Memang bukan semata-mata hny krna benci saja, bnyk faktor lain kok(sy jg g pernah blg cuma karena benci saja)
Tapi bukan berarti tdk ada faktor benci kan?
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline NagaSena

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 134
  • Reputasi: -6
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #54 on: 26 November 2012, 01:42:30 PM »
Ini krn terpaksa kan? Kl terpaksa berarti krn mau membela kepentingan diri sendiri ---> egois menurutku ada sedikit kebencian jg disana.... ^-^
Meski beda kadar kl sering dilakukan lama" jadi besar loh kk... Kadar mau kecil atau besar tetap aja karma buruk....  :P
Terpaksa dgn asalanya yg Benar sy rasa tidak sepenuhnya salah, sy Kira ada benci atau tidak tergantung individu masing2 malakukan hal tersebut dgn dasar apa.  ;D
Jadi Besar, memang!!!Makanya Guru Buddha mengajarkan Pula banyak berbuat kebaikan tohhh....

Offline M14ka

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.821
  • Reputasi: 94
  • Gender: Female
  • Live your best life!! ^^
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #55 on: 26 November 2012, 01:47:40 PM »
Terpaksa dgn asalanya yg Benar sy rasa tidak sepenuhnya salah, sy Kira ada benci atau tidak tergantung individu masing2 malakukan hal tersebut dgn dasar apa.  ;D
Jadi Besar, memang!!!Makanya Guru Buddha mengajarkan Pula banyak berbuat kebaikan tohhh....

Mgkn menurut kk ga ada kebencian, tapi bagi nyamuk tsb gmn, mgkn aja nyamuknya yg lg jalan", trus tb" kk bunuh krn terpaksa... Apa saudara" nyamuk tsb ga sedih yaa....  ::) :P :P

Offline NagaSena

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 134
  • Reputasi: -6
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #56 on: 26 November 2012, 02:01:53 PM »
logikanya:
1. anda melihat banyak nyamuk disekitar rumah anda
2. anda merasa terganggu karena nyamuknya terlalu banyak
3. anda membunuh nyamuk karena tidak mau anak anda digigit nyamuk

merasa terganggu = tidak ingin sesuatu terjadi seperti demikian = penolakan = Dosa

sy kira tidak perlu semua nyamuk disekitar rumah kita yg dibunuh  ;D umur nyamuk hanya 7 hari khan...

Point No. 3 diatas, Sy kira itu rasa khawatir bukan rasa Benci sama nyamuk... Jadi mnrurut sy yang paling mempengaruhi tindakan membunuh itu didorong dengan perasaan dan niat sperti apa..

Klo Benci itu, Liat Kucing lewat tanpa mencuri ikan didapur tau2 Langsung Dibunuh aja dehhh..  :):)

Offline M14ka

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.821
  • Reputasi: 94
  • Gender: Female
  • Live your best life!! ^^
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #57 on: 26 November 2012, 02:07:05 PM »
Dulu aku pernah punya pemikiran n pertanyaan sama kaya kk kok....
Cb baca ini.... ;D http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,20313.225.html

Offline NagaSena

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 134
  • Reputasi: -6
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #58 on: 26 November 2012, 02:09:39 PM »
Mgkn menurut kk ga ada kebencian, tapi bagi nyamuk tsb gmn, mgkn aja nyamuknya yg lg jalan", trus tb" kk bunuh krn terpaksa... Apa saudara" nyamuk tsb ga sedih yaa....  ::) :P :P

Prasangka Buruk si Nyamuknya  itu :)) :))
songong jga tuh nyamukk... nanti ngadu ke HAB, Hak Azasi Bintang  ;D ;D

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: membunuh akhirya menjadi kebiasaan
« Reply #59 on: 26 November 2012, 03:54:05 PM »
sulit juga yah...
"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."