Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...  (Read 409842 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Tan

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 510
  • Reputasi: 31
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #405 on: 13 April 2009, 10:57:22 PM »
ANDA:

Begini mas Tan, terus terang pengetahuan saya mengenai Mahayana minim sekali, sebelumnya saya pernah diskusi dengan member-member yang lain, mereka mengatakan bahwa seorang Buddha bisa kembali ke dunia sebagai pangeran Siddharta, bila benar yang dikatakan demikian, maka seorang Buddha tentu belum terbebas dari kelahiran dan kematian.

Ini sama halnya dengan dewa dan Brahma, yang menganggap para dewa sekali waktu turun menjelma kembali untuk menolong umat manusia.


TAN:

Oke. Perbedaan ini terjadi karena T tidak menerima konsep trikaya atau Tiga Tubuh Buddha. Oleh karena itu, tentu saja diskusi tidak akan nyambung. Penganut T tidak akan bisa menerima bahwa seorang Buddha dapat memanifestasikan dirinya lagi di dunia ini (seperti yang diulas dalam Sutra Saddharmapundarika). Sebagai penganut M, saya menerima konsep Trikaya jadi saya juga menerima pandangan bahwa seorang Buddha dapat "menjelma" lagi di dunia. Hanya saja "penjelmaan" seorang Buddha ke dunia ini berbeda dengan para makhluk lainnya. Yang tampil "menjelma" di dunia ini adalah nirmanakaya atau "tubuh jelmaan" seorang Buddha. Namun apakah Tubuh Dharma (Dharmakaya) berpindah? Jawabnya tidak! Ibaratnya adalah bayangan matahari di danau atau sungai. Kita melihat bayangan matahari di sungai, tetapi apakah matahari benar-benar masuk ke sungai. Jawabannya tidak. Ini adalah sekedar analogi saja. Agar tidak salah paham, saya perlu menyatakan bahwa saya tidak hendak menyamakan Buddha dengan matahari.
Nah, selama Anda tidak menerima konsep trikaya yang khas Mahayana, tentu saja Anda tidak akan memahami hal itu. Diskusi lebih lanjut tidak dapat dilakukan dan akan menemui kebuntuan. Banyak orang memperdebatkan benar dan salahnya trikaya. Tetapi masalahnya ikan-ikan yang sama-sama belum pernah melihat daratan dapat memperdebatkan daratan? Saya malas terlibat dalam diskusi semacam itu.

ANDA:

1. Dewa dan Brahma tidak mati, karena ia hidup di alamnya.
2. Mereka tidak hidup karena ia telah mati di dunia ini dan terlahir kembali disana.
3. Mereka tidak tidak mati. Mereka bukan tidak mati karena mereka tak bisa dikatakan tak mati
4. Mereka tidak tidak hidup. Mereka bukan tak hidup karena mereka tak bisa dikatakan tidak hidup.

Jadi Dewa dan Brahma juga pas untuk deskripsi ini. Dan ini selaras dengan pemikiran bahwa Buddha bisa terlahir kembali ke dunia sebagai pangeran Sidharta (ada member lain yang mengatakan bahwa pangeran Siddharta pada hakekatnya sudah Buddha ketika terlahir sebagai anak raja Suddhodana).


TAN:

Kalau memang dapat diterapkan baik pada dewa Brahma ataupun Buddha Amitabha masalahnya kenapa? Dua hal bisa pas dengan definisi2 yang sama, tetapi tidak berarti bahwa keduanya identik!
Contoh: makhluk dengan empat alat gerak, mempunyai dua mata yang di depan, mempunyai tulang belakang, berkembang biak secara vivipar (melahirkan anak).
Nah, manusia dan monyet sama-sama pas dengan definisi di atas. Apakah manusia = monyet? Jadi argumen Anda di atas, tetap tidak dapat dipergunakan untuk mendukung pandangan bahwa Amitabha = Brahma.
Kedua, Brahma atau dewa mungkin dapat menjelma di dunia, tetapi pertanyaannya ketika suatu oknum dewa terlahir di alam manusia, apakah dia masih ada lagi di surganya?
Ini beda dengan "menjelma"nya seorang Buddha. Karena adanya konsep trikaya (Dharmakaya, Nirmanakaya, dan Sambhogakaya), Tubuh Dharma (Dharmakaya) tidak mengalami perpindahan sama sekali. Oleh karena itu, Beliau disebut Tathagata (Rulai). Jadi jelas saya tidak melihat adanya kesamaan antara Brahma dan konsep Buddhologi menurut paham Mahayana.
Saya akan berikan analogi lagi. Seorang bebas (dalam artian tidak sedang menjalani hukuman pidana pemenjaraan) boleh mengunjungi lembaga kemasyarakatan atau penjara, contohnya rohaniwan yang mengadakan pelayanan di penjara. Mereka bebas datang dan pergi. Begitu pula seorang Buddha yang telah bebas. Ruang dan waktu bukan lagi hambatan bagi mereka. Mengatakan bahwa seorang Buddha tidak dapat "menjelmakan" diri lagi jelas membatasi hakekat Kebuddhaan itu sendiri. Seorang Buddha dapat terjun ke selokan atau comberan tanpa mengotori diriNya lagi. Tetapi penjelmaan seorang Buddha itu beda dengan para makhluk samsara. Ini adalah konsep Mahayana yang tidak terdapat dalam T. Saya tidak memaksa penganut T menerima hal ini. Marilah kita praktikkan jalan Dharma kita masing-masing dengan baik.

ANDA:

Mengapa hakekat sejati keBuddhaan tak bisa diterangkan oleh kata-kata dan logika konvensional? bukankah kita bisa memakai analogi untuk mengungkapkan hakekat sejati keBuddhaan? Saya rasa hakekat sejati keBuddhaan masih bisa diterangkan, yang tak bisa diterangkan "taste" nya itu, karena kita harus mencapai/mengalami sendiri (seperti yang mas Tan katakan sendiri, dalam perumpamaan ikan yang mencapai daratan).
Apakah tak ada keterangan di sutra-sutra M mengenai pencapaian keBuddhaan? Bagaimana keadaannya?

TAN:

Penggunaan analogi sah-sah saja. Tetapi yang terpenting adalah penyelaman terhadap "taste" nibanna yang sejati. Bagaimana kita dapat menyelami "taste" nibanna yang sejati? Apakah dengan berkutat pada definisi, logika konvensional, buku-buku, studi pustaka, atau perdebatan tanpa akhir?

ANDA:

Saya tak pernah mengatakan bahwa mas Tan mengerti atau menyelami Dharma, yang saya maksudkan mas Tan lebih mengerti daripada saya mengenai konsep M.

TAN:

Tidak juga. Saya masih sangat dangkal pengetahuannya. Masih kalah jauh dengan yang lain. Saya tidak ada apa2nya dan masih belajar. Dalam Buddhadharma saya masih seperti anak kecil yang sok tahu. Mohon maaf kalau saya nampak terkesan sok tahu. Mohon Anda sudi memaafkan anak kecil yang sok tahu ini.

NB:

Mohon maaf kalau bahasanya agak acak2an. Warnetnya mau tutup.

Metta,

Tan





« Last Edit: 13 April 2009, 10:59:47 PM by Tan »

Offline Tan

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 510
  • Reputasi: 31
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #406 on: 13 April 2009, 11:04:02 PM »
Yang saya sukai dari ajaran BUDDHA (khususnya aliran T), bahwa tidak terdapat pernyataan-pernyataan metafisis yang tidak dapat dibayangkan ataupun "diharamkan" untuk dapat dimengerti dengan pameo pameo bahwa TIDAK DAPAT "DIKATAKAN" SEBELUM MEREALISASIKAN-NYA... PERTANYAAN LANJUTAN, darimana kita tahu SEORANG INDIVIDU MEREALISASIKAN KE-BUDDHA-AN (walaupun mengikuti ajaran M) kalau BUKAN DARI PENGAKUAN DIRI SENDIRI. DAN JIKA ADA YANG MENGAKU, APAKAH BISA DI-PERCAYA ?

TAN:

Seorang sah-sah saja mengatakan dirinya telah mencapai Kebuddhaan. Tetapi kita bisa menilai dari tindak tanduk pribadi yang mengaku dirinya telah mencapai Kebuddhaan. Namun hal ini bukan sesuatu yang harus dipercaya atau diimani seperti dalam agama lain. Kalau tidak percaya lantas masuk neraka. Anda tidak percaya bahwa Buddha Sakyamuni telah mencapai Kebuddhaan juga tidak masalah. Buddhisme berpusat pada Dharmanya. Saya sendiri tidak peduli apakah Buddha Sakyamuni telah merealisasi Kebuddhaan atau belum. Yang saya tahu, Dharma sungguh baik dan bermanfaat. Itu saja.
Suatu fenomena sebenarnya "bisa" dikatakan sebelum seseorang merealisasinya. Tetapi masalahnya apa yang dikatakan atau DIDEFINISIKAN DENGAN KATA-KATA itu tidaklah mewakili "kesejatian" fenomena tersebut. Bisakah Anda menjelaskan rasa mangga pada orang yang belum pernah makan mangga, sehingga ia sungguh-sungguh mengerti rasa mangga? Mendefinisikan rasa mangga dengan kata-kata adalah sah-sah saja. Tetapi realita yang dituangkan dengan kata-kata itu tidak mewakili hakikat sejati rasa mangga. Hal ini telah diulas dengan gamblang dalam Sutra Samdhinirmocana.


Jadi menurut saya, ketika ada yang menyatakan bahwa kondisi nibbana itu tidak dapat diceritakan ? menurut saya, SALAH BESAR, dengan jelas sekali bahwa kondisi nibbana adalah kondisi yang aLOBHA, aMOHA dan aDOSA. Sudah tahu kriteria nibbana, sekarang tinggal pelaksanaannya... dan pelaksanaannya yang sulit...

TAN:

Apa yang Anda katakan itu ada diulas dalam buku karya Kalupahana tentang filsafat Buddhis. Memang dalam kanon Pali, nibanna didefinisikan secara negatif, yakni dengan menggunakan kalimat ingkaran (awalan "a" yang artinya "tidak"); seprti alobha, amoha, adosa, dan lain-lain. Tetapi masalah apakah sederet definisi seperti alobha, amoha, adosa, dan lain-lain itu telah mewakili nibanna? Menurut saya nibanna yang sejati tidak dapat didefinisikan dengan kata2 secara sempurna. Kata-kata adalah kata-kata dan nibanna adalah nibanna.

Metta,

Tan

Offline truth lover

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 392
  • Reputasi: 3
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #407 on: 14 April 2009, 09:32:03 AM »
TAN:

Oke. Perbedaan ini terjadi karena T tidak menerima konsep trikaya atau Tiga Tubuh Buddha. Oleh karena itu, tentu saja diskusi tidak akan nyambung. Penganut T tidak akan bisa menerima bahwa seorang Buddha dapat memanifestasikan dirinya lagi di dunia ini (seperti yang diulas dalam Sutra Saddharmapundarika). Sebagai penganut M, saya menerima konsep Trikaya jadi saya juga menerima pandangan bahwa seorang Buddha dapat "menjelma" lagi di dunia. Hanya saja "penjelmaan" seorang Buddha ke dunia ini berbeda dengan para makhluk lainnya. Yang tampil "menjelma" di dunia ini adalah nirmanakaya atau "tubuh jelmaan" seorang Buddha. Namun apakah Tubuh Dharma (Dharmakaya) berpindah? Jawabnya tidak! Ibaratnya adalah bayangan matahari di danau atau sungai. Kita melihat bayangan matahari di sungai, tetapi apakah matahari benar-benar masuk ke sungai. Jawabannya tidak. Ini adalah sekedar analogi saja. Agar tidak salah paham, saya perlu menyatakan bahwa saya tidak hendak menyamakan Buddha dengan matahari.
Nah, selama Anda tidak menerima konsep trikaya yang khas Mahayana, tentu saja Anda tidak akan memahami hal itu. Diskusi lebih lanjut tidak dapat dilakukan dan akan menemui kebuntuan. Banyak orang memperdebatkan benar dan salahnya trikaya. Tetapi masalahnya ikan-ikan yang sama-sama belum pernah melihat daratan dapat memperdebatkan daratan? Saya malas terlibat dalam diskusi semacam itu.

TL:

Mas Tan, coba perhatikan postingan saya, apakah saya mempertentangkan M dengan T? malah kelihatannya mas Tan yang tidak konsisten, selalu mempertentangkan M dengan T, padahal mas Tan sendiri menyetujui agar jangan melihat M dari sudut pandang T. Ini kedua kali mas Tan membandingkan M dengan T.

Dewa dan Brahma konsep M mengenai keBuddhaan tidak saya bandingkan dengan T, tetapi menurut saya mirip dengan dewa-dewa Hindu yang sekali waktu menjelma menjadi manusia, atau  yang turun ke Bumi untuk mnyelamatkan domba-domba yang tersesat.

TAN:

Kalau memang dapat diterapkan baik pada dewa Brahma ataupun Buddha Amitabha masalahnya kenapa? Dua hal bisa pas dengan definisi2 yang sama, tetapi tidak berarti bahwa keduanya identik!
Contoh: makhluk dengan empat alat gerak, mempunyai dua mata yang di depan, mempunyai tulang belakang, berkembang biak secara vivipar (melahirkan anak).
Nah, manusia dan monyet sama-sama pas dengan definisi di atas. Apakah manusia = monyet? Jadi argumen Anda di atas, tetap tidak dapat dipergunakan untuk mendukung pandangan bahwa Amitabha = Brahma.
Kedua, Brahma atau dewa mungkin dapat menjelma di dunia, tetapi pertanyaannya ketika suatu oknum dewa terlahir di alam manusia, apakah dia masih ada lagi di surganya?
Ini beda dengan "menjelma"nya seorang Buddha. Karena adanya konsep trikaya (Dharmakaya, Nirmanakaya, dan Sambhogakaya), Tubuh Dharma (Dharmakaya) tidak mengalami perpindahan sama sekali. Oleh karena itu, Beliau disebut Tathagata (Rulai). Jadi jelas saya tidak melihat adanya kesamaan antara Brahma dan konsep Buddhologi menurut paham Mahayana.
Saya akan berikan analogi lagi. Seorang bebas (dalam artian tidak sedang menjalani hukuman pidana pemenjaraan) boleh mengunjungi lembaga kemasyarakatan atau penjara, contohnya rohaniwan yang mengadakan pelayanan di penjara. Mereka bebas datang dan pergi. Begitu pula seorang Buddha yang telah bebas. Ruang dan waktu bukan lagi hambatan bagi mereka. Mengatakan bahwa seorang Buddha tidak dapat "menjelmakan" diri lagi jelas membatasi hakekat Kebuddhaan itu sendiri. Seorang Buddha dapat terjun ke selokan atau comberan tanpa mengotori diriNya lagi. Tetapi penjelmaan seorang Buddha itu beda dengan para makhluk samsara. Ini adalah konsep Mahayana yang tidak terdapat dalam T. Saya tidak memaksa penganut T menerima hal ini. Marilah kita praktikkan jalan Dharma kita masing-masing dengan baik.

TL:

Manusia beda dengan monyet, ini benar. Manusia ada kemiripan dengan monyet, ini juga benar. Apakah kita kesal atau menerima persamaan kita dengan monyet? Ini terserah pribadi masing-masing individu. Kita marah atau menerima toh realitas yang sebenarnya tak berubah.

Mengenai konsep Trikaya khususnya Dharmakaya? Disini bukan saya menerima atau tidak menerima, apakah saya harus menerima sesuatu karena tertulis di kitab suci atau karena petinggi agamanya yang mengatakan demikian? Oleh karena itu sebaiknya mas Tan yang menjelaskan, bukankah sudah saya katakan bahwa pengetahuan saya sangat minim?
Mengerti lebih dahulu maka penerimaan menjadi lebih mudah kan?

Mengenai Buddha yang menjelma kembali, itu bukan saya yang mengatakan, itu berdasarkan kitab suci M kan? (tolong dikoreksi bila saya salah) Saya hanya membandingkan penjelmaan ini dengan kitab suci Hindu dan juga Perjanjian Baru kr****n, yaitu penjelmaan untuk menebus dosa umat manusia. (tolong jangan diperlebar, batasi hanya pada penjelmaannya).

TAN:

Penggunaan analogi sah-sah saja. Tetapi yang terpenting adalah penyelaman terhadap "taste" nibanna yang sejati. Bagaimana kita dapat menyelami "taste" nibanna yang sejati? Apakah dengan berkutat pada definisi, logika konvensional, buku-buku, studi pustaka, atau perdebatan tanpa akhir?

CL:

Mas Tan straight to the point saja: adakah keterangan mengenai kebuddhaan dan sifat Nirvana pada buku-buku M? bila ada dimana dan bagaimana? Supaya diskusi kita tidak mengambang tanpa arah.

Terima kasih dan saya sangat menghargai keterangan mas Tan.

Metta.
« Last Edit: 14 April 2009, 09:48:33 AM by truth lover »
The truth, and nothing but the truth...

Offline Tan

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 510
  • Reputasi: 31
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #408 on: 14 April 2009, 05:25:45 PM »
TL:

Mas Tan, coba perhatikan postingan saya, apakah saya mempertentangkan M dengan T? malah kelihatannya mas Tan yang tidak konsisten, selalu mempertentangkan M dengan T, padahal mas Tan sendiri menyetujui agar jangan melihat M dari sudut pandang T. Ini kedua kali mas Tan membandingkan M dengan T.

Dewa dan Brahma konsep M mengenai keBuddhaan tidak saya bandingkan dengan T, tetapi menurut saya mirip dengan dewa-dewa Hindu yang sekali waktu menjelma menjadi manusia, atau  yang turun ke Bumi untuk mnyelamatkan domba-domba yang tersesat.

TAN:

Maaf, bukan mempertentangkan antara T dan M. Saya hanya menanggapi berdasarkan apa yang Anda tanyakan. Kalau Anda menganggap saya mempertentangkan T dan M, maka kemungkina Anda salah tafsir terhadap apa yang saya uraikan sebelumnya.
Oke. Kalau mau dianggap mirip antara dewa yang menjelma jadi manusia mungkin memang ada miripnya. Saya pakai kata "mungkin" karena saya tidak banyak tahu bagaimana proses penjelmaaan suatu makhluk adikodrati seperti yang Anda ungkapkan di atas. Anda sendiri mengatakan bahwa segala sesuatu atau persamaan atau perbedaannya, bukan? Hanya saja, "penjelmaan" itu tidak sepenuhnya sama. Kita sepakati saja bahwa memang ada kemiripannya. Tetapi sesuatu yang mirip tidak selamanya identik bukan?

TL:

Manusia beda dengan monyet, ini benar. Manusia ada kemiripan dengan monyet, ini juga benar. Apakah kita kesal atau menerima persamaan kita dengan monyet? Ini terserah pribadi masing-masing individu. Kita marah atau menerima toh realitas yang sebenarnya tak berubah.

Mengenai konsep Trikaya khususnya Dharmakaya? Disini bukan saya menerima atau tidak menerima, apakah saya harus menerima sesuatu karena tertulis di kitab suci atau karena petinggi agamanya yang mengatakan demikian? Oleh karena itu sebaiknya mas Tan yang menjelaskan, bukankah sudah saya katakan bahwa pengetahuan saya sangat minim?
Mengerti lebih dahulu maka penerimaan menjadi lebih mudah kan?

Mengenai Buddha yang menjelma kembali, itu bukan saya yang mengatakan, itu berdasarkan kitab suci M kan? (tolong dikoreksi bila saya salah) Saya hanya membandingkan penjelmaan ini dengan kitab suci Hindu dan juga Perjanjian Baru kr****n, yaitu penjelmaan untuk menebus dosa umat manusia. (tolong jangan diperlebar, batasi hanya pada penjelmaannya).

TAN:

Bukankah saya sudah mengulas panjang lebar tentang "penjelmaan" tadi? Saya sudah menguraikan tentang Tiga Tubuh Buddha, yakni Dharmakaya, Samboghakaya, dan Nirmanakaya. Ini merupakan acuan untuk menjelaskan mengenai "manifestasi" seorang Buddha menurut  Mahayana. Nirmanakaya adalah Tubuh Jelmaan. Sedangkan Samboghakaya secara harafiah berarti Tubuh Pahala. Seorang Buddha dapat memanifestasikan diriNya dalam miliaran nirmanakaya, sementara itu Dharmakayanya tidak perlu berpindah tempat sama sekali, karena Dharmakaya atau Tubuh Dharma itu omnipresence (maha hadir). Mungkin analoginya adalah matahari (selaku Dharmakaya), sinar matahari (Sambhogakaya), dan bayangan matahari di air (Nirmanakaya). Dengan demikian, seorang Buddha dapat "menjelma" di mana saja dan sebagai apa saja, tetapi Dharmakaya-nya tidak bergerak ke manapun. Ini adalah konsep Mahayana. Saya menerima konsep ini karena menurut saya sangat logis dan masuk akal. Mengapa sangat logis dan masuk akal? Marilah kita cermati alasan2 berikut ini:

1.Seorang Buddha telah mengumpulkan paramita yang tak terhitung jumlahnya (silakan lihat kitab Buddhacarita - Fo Shuo Xing Chan, Lalitavistara Sutra, Sutra Damamukanidana - Xianyujing, dll). Seorang Buddha telah menyempurnakan maitri karunanya melalui tingkatan-tingkatan Boddhisattva (diulas di Sutra Dashabhumika - bagian kumpulan Avatamsaka). Dengan demikian, tidak mungkin setelah ia memasuki Nirvana Tanpa Sisa, Beliau berhenti memancarkan energi belas kasihNya terhadap para makhluk. Tidak mungkin energi paramita-paramita itu berhenti begitu saja. Kalau dengan memasuki Nirvana Tanpa Sisa seorang Buddha tidak memiliki dan tidak dapat memancarkan belas kasih lagi, paramita-paramita yang dilakukannya akan menjadi sia-sia; dengan asumsi bahwa maitri karuna yang sejati itu tak terbatas dan tak terkatakan. Maitri karuna sejati tidak dapat mengatakan, "Oke sampai di sini saja saya menolong kamu." Maitri karuna seorang Buddha itu tak dapat berakhir, beda dengan maitri karuna manusia biasa: "Ada uang abang disayang. Tak ada uang abang ditendang."

2.Orang yang telah bebas tentunya dapat pergi ke mana saja, bukan? Karena itu, bagi saya sangat masuk akal pandangan bahwa seorang Buddha masih dapat "pergi" atau "masuk" lagi ke dunia samsara. Hanya saja "masuk" atau "menjelma"nya Beliau ke dalam samsara itu bukan didasari oleh lobha, dosa, dan moha. Kalau dikatakan bahwa seorang Buddha tidak dapat "menjelma," maka nirvana akan menjadi semacam penjara yang "membatasi" seorang yang telah mencapai pencerahan. Banyak orang dari agama lain yang memahami nirvana semacam ini jadi menyalah artikan bahwa nirvana adalah penjara. Padahal nirvana adalah suatu kondisi, yang melambangkan pembebasan sejati.
Analoginya adalah sebagai berikut. Penjahat harus masuk penjara karena kesalahannya. Tetapi orang bebas (dalam artian bebas dari hukum pidana penjara) boleh berkunjung ke penjara dan setelah itu keluar lagi. Ia datang ke penjara bukan karena kesalahannya dan tidak harus ke sana. Ia datang ke penjara untuk menghibur dan menasihati para narapidana.
Tentu saja, sang Buddha masih dapat datang mengunjungi "penjara" kita ini. Hanya saja dengan cara yang berbeda dengan kita-kita "terlahir" di penjara ini. Beliau hadir bukan karena lobha, dosa, mohanya, melainkan karena maitri karuna Beliau. Konsep Trikaya dapat menjelaskan bagaimana "Kebuddhaan" hadir di samsara ini.

3.Nirvana dan samsara adalah identik menurut Mahayana.

Nah, demikian uraian saya mengenai konsep Buddhologi dalam Mahayana? Apakah uraian saya di atas mempertentangkan antara M dan T? Saya tidak merasa demikian. Bahkan saya tidak pakai kata "T" sama sekali. Silakan Anda cek. Tentu saja penjelasan saya masih jauh dari sempurna, karena keterbatasan waktu dan tempat.

CL:

Mas Tan straight to the point saja: adakah keterangan mengenai kebuddhaan dan sifat Nirvana pada buku-buku M? bila ada dimana dan bagaimana? Supaya diskusi kita tidak mengambang tanpa arah.

Terima kasih dan saya sangat menghargai keterangan mas Tan.

TAN:

Tentu ada donk. Banyak sekali. Bisa cek di Sutra Avatamsaka, Lankavatara, Saddharmapundarika, Srimaladevisimhanada, Mahaparinirvana, dll.
Di sastra juga banyak, antara lain: Mahayana Uttara Tantra Sashtra, Cheng Wei Shi Lun (karya Xuanzang), Madhyamakasashtra (karya Nagarjuna), dll.
Anda saya sarankan membaca naskah2 di atas, karena saya tidak ada waktu untuk menguraikannya. Lagipula membaca langsung dari sumbernya lebih baik bukan?

Amiduofo,

Tan






Offline naviscope

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.084
  • Reputasi: 48
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #409 on: 14 April 2009, 05:28:20 PM »
ami to fo juga

saudara Tan, emang manttafffff
Tinggalkan masa lalu, lepaskan beban akan masa depan, tidak terikat dengan yang sekarang maka kamu akan merasakan kedamain batin.

Leave the past alone, do not worry about the future, do not cling to the present and you will achieve calm.

Offline Tan

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 510
  • Reputasi: 31
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #410 on: 14 April 2009, 05:33:51 PM »
TAMBAHAN:

4. Saya menganggap konsep Buddha atau makhluk adikodrati apapun yang sudi menjelma ke dunia yang sarat penderitaan ini sebagai sesuatu yang baik secara filosofis. Ini mencerminkan ajaran tentang kepedulian. Ini menjadi teladan bagi saya untuk lebih peduli pada orang lain, terutama mereka yang menderita. Jadi terlepas dari apakah benar2 ada Buddha atau makhluk adikodrati yang menjelma, ajaran semacam ini memiliki makna yang baik.

Amiduofo,

Tan

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #411 on: 14 April 2009, 05:50:44 PM »

TAN:

Maaf, bukan mempertentangkan antara T dan M. Saya hanya menanggapi berdasarkan apa yang Anda tanyakan. Kalau Anda menganggap saya mempertentangkan T dan M, maka kemungkina Anda salah tafsir terhadap apa yang saya uraikan sebelumnya.
Oke. Kalau mau dianggap mirip antara dewa yang menjelma jadi manusia mungkin memang ada miripnya. Saya pakai kata "mungkin" karena saya tidak banyak tahu bagaimana proses penjelmaaan suatu makhluk adikodrati seperti yang Anda ungkapkan di atas. Anda sendiri mengatakan bahwa segala sesuatu atau persamaan atau perbedaannya, bukan? Hanya saja, "penjelmaan" itu tidak sepenuhnya sama. Kita sepakati saja bahwa memang ada kemiripannya. Tetapi sesuatu yang mirip tidak selamanya identik bukan?


TAN:

Bukankah saya sudah mengulas panjang lebar tentang "penjelmaan" tadi? Saya sudah menguraikan tentang Tiga Tubuh Buddha, yakni Dharmakaya, Samboghakaya, dan Nirmanakaya. Ini merupakan acuan untuk menjelaskan mengenai "manifestasi" seorang Buddha menurut  Mahayana. Nirmanakaya adalah Tubuh Jelmaan. Sedangkan Samboghakaya secara harafiah berarti Tubuh Pahala. Seorang Buddha dapat memanifestasikan diriNya dalam miliaran nirmanakaya, sementara itu Dharmakayanya tidak perlu berpindah tempat sama sekali, karena Dharmakaya atau Tubuh Dharma itu omnipresence (maha hadir). Mungkin analoginya adalah matahari (selaku Dharmakaya), sinar matahari (Sambhogakaya), dan bayangan matahari di air (Nirmanakaya). Dengan demikian, seorang Buddha dapat "menjelma" di mana saja dan sebagai apa saja, tetapi Dharmakaya-nya tidak bergerak ke manapun. Ini adalah konsep Mahayana. Saya menerima konsep ini karena menurut saya sangat logis dan masuk akal. Mengapa sangat logis dan masuk akal? Marilah kita cermati alasan2 berikut ini:

1.Seorang Buddha telah mengumpulkan paramita yang tak terhitung jumlahnya (silakan lihat kitab Buddhacarita - Fo Shuo Xing Chan, Lalitavistara Sutra, Sutra Damamukanidana - Xianyujing, dll). Seorang Buddha telah menyempurnakan maitri karunanya melalui tingkatan-tingkatan Boddhisattva (diulas di Sutra Dashabhumika - bagian kumpulan Avatamsaka). Dengan demikian, tidak mungkin setelah ia memasuki Nirvana Tanpa Sisa, Beliau berhenti memancarkan energi belas kasihNya terhadap para makhluk. Tidak mungkin energi paramita-paramita itu berhenti begitu saja. Kalau dengan memasuki Nirvana Tanpa Sisa seorang Buddha tidak memiliki dan tidak dapat memancarkan belas kasih lagi, paramita-paramita yang dilakukannya akan menjadi sia-sia; dengan asumsi bahwa maitri karuna yang sejati itu tak terbatas dan tak terkatakan. Maitri karuna sejati tidak dapat mengatakan, "Oke sampai di sini saja saya menolong kamu." Maitri karuna seorang Buddha itu tak dapat berakhir, beda dengan maitri karuna manusia biasa: "Ada uang abang disayang. Tak ada uang abang ditendang."

2.Orang yang telah bebas tentunya dapat pergi ke mana saja, bukan? Karena itu, bagi saya sangat masuk akal pandangan bahwa seorang Buddha masih dapat "pergi" atau "masuk" lagi ke dunia samsara. Hanya saja "masuk" atau "menjelma"nya Beliau ke dalam samsara itu bukan didasari oleh lobha, dosa, dan moha. Kalau dikatakan bahwa seorang Buddha tidak dapat "menjelma," maka nirvana akan menjadi semacam penjara yang "membatasi" seorang yang telah mencapai pencerahan. Banyak orang dari agama lain yang memahami nirvana semacam ini jadi menyalah artikan bahwa nirvana adalah penjara. Padahal nirvana adalah suatu kondisi, yang melambangkan pembebasan sejati.
Analoginya adalah sebagai berikut. Penjahat harus masuk penjara karena kesalahannya. Tetapi orang bebas (dalam artian bebas dari hukum pidana penjara) boleh berkunjung ke penjara dan setelah itu keluar lagi. Ia datang ke penjara bukan karena kesalahannya dan tidak harus ke sana. Ia datang ke penjara untuk menghibur dan menasihati para narapidana.
Tentu saja, sang Buddha masih dapat datang mengunjungi "penjara" kita ini. Hanya saja dengan cara yang berbeda dengan kita-kita "terlahir" di penjara ini. Beliau hadir bukan karena lobha, dosa, mohanya, melainkan karena maitri karuna Beliau. Konsep Trikaya dapat menjelaskan bagaimana "Kebuddhaan" hadir di samsara ini.

3.Nirvana dan samsara adalah identik menurut Mahayana.

Nah, demikian uraian saya mengenai konsep Buddhologi dalam Mahayana? Apakah uraian saya di atas mempertentangkan antara M dan T? Saya tidak merasa demikian. Bahkan saya tidak pakai kata "T" sama sekali. Silakan Anda cek. Tentu saja penjelasan saya masih jauh dari sempurna, karena keterbatasan waktu dan tempat.


TAN:

Tentu ada donk. Banyak sekali. Bisa cek di Sutra Avatamsaka, Lankavatara, Saddharmapundarika, Srimaladevisimhanada, Mahaparinirvana, dll.
Di sastra juga banyak, antara lain: Mahayana Uttara Tantra Sashtra, Cheng Wei Shi Lun (karya Xuanzang), Madhyamakasashtra (karya Nagarjuna), dll.
Anda saya sarankan membaca naskah2 di atas, karena saya tidak ada waktu untuk menguraikannya. Lagipula membaca langsung dari sumbernya lebih baik bukan?

Amiduofo,

Tan


Jika Nirvana dan Samsara itu tidak berbeda (terlepas dari dualisme), darimana adanya maitri karuna yang sejati itu tak terbatas dan tak terkatakan, yang terus menerus di pancarkan, bahkan setelah seorang BUDDHA merealisasikan nibbana tanpa sisa...

INKONSISTEN...
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline lophenk

  • Sebelumnya: 4kupak
  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 685
  • Reputasi: 28
  • Gender: Male
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #412 on: 15 April 2009, 03:01:40 PM »
Namo Amithofo ,

Buddha Amitabha .. siapakah Engkau , benarkah tanah suciMu jauh di sebelah barat sana ?
setiap hari setiap saat aku selalu menyebut namamu, apakah aku bodoh ? apakah aku melekat ?
yg kurasakan semakin aku nien semakin terasa kedamaian di batin ini ... batin ini spt penuh dgn cahaya kebajikan , rasanya tanah suciMu tdk jauh disana , tp ada di sini dibatin ini.
bagaimanakah menjelaskan apa yg dirasakan batin ini ??

_/\_

 
thanks Buddha...

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #413 on: 15 April 2009, 04:18:47 PM »
Quote from: Tan
1.Seorang Buddha telah mengumpulkan paramita yang tak terhitung jumlahnya (silakan lihat kitab Buddhacarita - Fo Shuo Xing Chan, Lalitavistara Sutra, Sutra Damamukanidana - Xianyujing, dll). Seorang Buddha telah menyempurnakan maitri karunanya melalui tingkatan-tingkatan Boddhisattva (diulas di Sutra Dashabhumika - bagian kumpulan Avatamsaka). Dengan demikian, tidak mungkin setelah ia memasuki Nirvana Tanpa Sisa, Beliau berhenti memancarkan energi belas kasihNya terhadap para makhluk. Tidak mungkin energi paramita-paramita itu berhenti begitu saja. Kalau dengan memasuki Nirvana Tanpa Sisa seorang Buddha tidak memiliki dan tidak dapat memancarkan belas kasih lagi, paramita-paramita yang dilakukannya akan menjadi sia-sia; dengan asumsi bahwa maitri karuna yang sejati itu tak terbatas dan tak terkatakan. Maitri karuna sejati tidak dapat mengatakan, "Oke sampai di sini saja saya menolong kamu." Maitri karuna seorang Buddha itu tak dapat berakhir, beda dengan maitri karuna manusia biasa: "Ada uang abang disayang. Tak ada uang abang ditendang."

Saya juga ingin berdiskusi... :)

Sepertinya memang ada perbedaan goal antara Theravada dengan Mahayana. Meski kata "Nibbana" (T) dan "Nirvana" (M) sama-sama merujuk pada makna Pembebasan Sempurna, namun saya sering melihat ada perbedaan fundamental di antara kedua konsep ini. Jika Aliran Theravada dan Mahayana sama-sama memegang konsep anicca-dukkha-anatta, seharusnya Nibbana dan Nirvana adalah Pembebasan Mutlak. Pembebasan Mutlak ini adalah kondisi yang berada di luar hidup-mati.

Pembebasan ini seharusnya adalah kondisi tak bersyarat. Bagaimana mungkin orang yang telah terbebas masih memiliki sisa (baca : bisa memancarkan belas-kasih lagi). Jadi Nirvana itu Pembebasan Mutlak atau Pembebasan yang Bersyarat?


Quote from: Tan
2.Orang yang telah bebas tentunya dapat pergi ke mana saja, bukan? Karena itu, bagi saya sangat masuk akal pandangan bahwa seorang Buddha masih dapat "pergi" atau "masuk" lagi ke dunia samsara. Hanya saja "masuk" atau "menjelma"nya Beliau ke dalam samsara itu bukan didasari oleh lobha, dosa, dan moha. Kalau dikatakan bahwa seorang Buddha tidak dapat "menjelma," maka nirvana akan menjadi semacam penjara yang "membatasi" seorang yang telah mencapai pencerahan. Banyak orang dari agama lain yang memahami nirvana semacam ini jadi menyalah artikan bahwa nirvana adalah penjara. Padahal nirvana adalah suatu kondisi, yang melambangkan pembebasan sejati.
Analoginya adalah sebagai berikut. Penjahat harus masuk penjara karena kesalahannya. Tetapi orang bebas (dalam artian bebas dari hukum pidana penjara) boleh berkunjung ke penjara dan setelah itu keluar lagi. Ia datang ke penjara bukan karena kesalahannya dan tidak harus ke sana. Ia datang ke penjara untuk menghibur dan menasihati para narapidana.
Tentu saja, sang Buddha masih dapat datang mengunjungi "penjara" kita ini. Hanya saja dengan cara yang berbeda dengan kita-kita "terlahir" di penjara ini. Beliau hadir bukan karena lobha, dosa, mohanya, melainkan karena maitri karuna Beliau. Konsep Trikaya dapat menjelaskan bagaimana "Kebuddhaan" hadir di samsara ini.

Orang yang telah merealisasi Pembebasan (Nibbana / Nirvana) sudah tidak dapat lagi ditemukan dalam bentuk 'orang' atau 'pribadi'. Wujud personal itu terbelenggu oleh anicca-dukkha-anatta. Bila orang yang dikatakan sudah merealisasi Pembebasan itu masih bisa ditemukan dalam bentuk 'orang' atau 'pribadi', maka orang itu sesungguhnya belum merealisasi Pembebasan.

Orang yang terbebas pun adalah orang yang tidak lagi terikat oleh dualisme duniawi ini. Selama masih berada di lingkup jagad raya, maka dualisme akan selalu ada. Orang yang terbebas tidak akan lagi masuk atau keluar. Karena masuk atau keluar adalah sifat dualistis. Dan hal itu tidak kongruen dengan sifat Nibbana / Nirvana yang dalam konsep sejatinya dikatakan absolut.

NB : Orang yang dapat seenaknya keluar-masuk itu bukan orang yang bebas, itu hanyalah orang yang memiliki izin keluar-masuk. Orang yang bebas itu seharusnya tidak dibatasi ruangan atau apapun (tidak perlu keluar-masuk).


Quote from: Tan
3.Nirvana dan samsara adalah identik menurut Mahayana.

Jika Nirvana dan samsara adalah identik, berarti dalam pandangan Mahayana secara jelas menyatakan bahwa Nirvana adalah 'tempat' / 'ruang' ? Apakah benar demikian?

Jika Nirvana memang adalah tempat / ruang / alam, maka sudah seharusnya Nirvana pun tunduk di bawah Panca Niyama (5 Hukum Tertib Kosmis), Tilakkhana (anicca-dukkha-anatta), Paticcasamuppada (Sebab-Musabab yang saling Bergantung), 4 Kebenaran Ariya.

Jika Nirvana bukanlah tempat, lantas mengapa Nirvana identik dengan samsara? Apakah Nirvana itu yang mengkondisikan samsara, atau samsara yang mengkondisikan Nirvana?

Lantas jika memang identik, mengapa orang yang telah merealisasi Nirvana dikatakan tidak ingin memasuki Nirvana tanpa sisa? Bukankah Nirvana dan samsara saling berkaitan, sehingga orang yang telah merealisasi Nirvana memang tidak akan bisa memasuki Nirvana tanpa sisa?


Quote from: Tan
4. Saya menganggap konsep Buddha atau makhluk adikodrati apapun yang sudi menjelma ke dunia yang sarat penderitaan ini sebagai sesuatu yang baik secara filosofis. Ini mencerminkan ajaran tentang kepedulian. Ini menjadi teladan bagi saya untuk lebih peduli pada orang lain, terutama mereka yang menderita. Jadi terlepas dari apakah benar2 ada Buddha atau makhluk adikodrati yang menjelma, ajaran semacam ini memiliki makna yang baik.

Amiduofo,

Tan

Secara filosofis memang baik sekali. Namun fakta dunia dengan jelas menunjukkan hanya diri kita sendiri yang bisa menolong diri sendiri (dalam merealisasi Pembebasan). Tidak ada juru selamat yang bisa memberikan tiket VIP ke Nirvana. Ini ibarat papan billboard raksasa yang bertuliskan : "Sadarlah! Lihat dirimu sendiri. Hanya Anda yang dapat menolong dirimu sendiri."

Anda sendiri meragukan apakah benar ada Buddha atau makhluk adikodrati yang menjelma...

Kisah Santa Clause yang memberi hadiah pada anak yang manis juga memiliki filosofi tinggi. Di luar fakta apakah Santa Clause itu benar ada atau tidak ada, saya melihat bahwa kisah ini pantas diteladani oleh para orang tua. Meski kisah ini hanyalah isapan jempol untuk anak-anak.

_/\_

« Last Edit: 15 April 2009, 04:21:09 PM by upasaka »

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #414 on: 15 April 2009, 10:18:51 PM »
[at] upasaka...

GRP Sent...
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline Tan

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 510
  • Reputasi: 31
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #415 on: 15 April 2009, 10:29:41 PM »
ANDA:

Jika Nirvana dan Samsara itu tidak berbeda (terlepas dari dualisme), darimana adanya maitri karuna yang sejati itu tak terbatas dan tak terkatakan, yang terus menerus di pancarkan, bahkan setelah seorang BUDDHA merealisasikan nibbana tanpa sisa...

INKONSISTEN...

TAN:

Justru sebaliknya, Bang. SANGAT KONSISTEN. Jika seseorang telah merealisasi kesamaan nirvana dan samsara, maka ia akan dapat memancarkan maitri karuna yang sejati. Bagi dia sudah tak ada segala bentuk pembedaan. Dualisme telah hilang. Sekarang saya balik bertanya, kemana perginya semua paramita yang ditimbun seorang Buddha saat Beliau masih menempuh jalan Bodhisattva? Saya melihat Anda menganut pandangan nihilisme penuh, karena yakin bahwa setelah seorang Buddha parinirvana, kekuatan maitri karunanya ikut musnah total. Ini bertolak belakang dengan pandangan sains bahwa materi tidak dapat diciptakan dan tak dapat dimusnahkan, melainkan materi hanya dapat ditransformasikan menjadi materi lainnya. Justru saya melihat pandangan Mahayana ini lebih sesuai dengan sains modern.
Saya balik pula bertanya, seorang Buddha dapat mengingat kehidupan lampaunya hingga sejauh yang Beliau inginkan. Pertanyaan saya, di manakan ingatan atau memori atas masa lampau itu tersimpan? Berarti bukankah ada suatu gudang penyimpanan yang ada terus menerus selama berkalpa2? Terus setelah seorang Buddha parinirvana ke manakah perginya "gudang" tersebut. Kalau tidak ada "gudang" itu, bagaimana seorang Buddha dapat merekoleksi kembali kehidupannya hingga jutaan kalpa yang lampau? Mohon penjelasannya secara jelas. Sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih.

Amiduofo,

Tan

Offline Tan

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 510
  • Reputasi: 31
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #416 on: 15 April 2009, 10:37:15 PM »
Karena jawaban Sdr. Upasaka sangag panjang terpaksa saya potong2.

JAWABAN KEPADA UPASAKA 1

Upasaka:

Saya juga ingin berdiskusi...

Sepertinya memang ada perbedaan goal antara Theravada dengan Mahayana. Meski kata "Nibbana" (T) dan "Nirvana" (M) sama-sama merujuk pada makna Pembebasan Sempurna, namun saya sering melihat ada perbedaan fundamental di antara kedua konsep ini. Jika Aliran Theravada dan Mahayana sama-sama memegang konsep anicca-dukkha-anatta, seharusnya Nibbana dan Nirvana adalah Pembebasan Mutlak. Pembebasan Mutlak ini adalah kondisi yang berada di luar hidup-mati.

Pembebasan ini seharusnya adalah kondisi tak bersyarat. Bagaimana mungkin orang yang telah terbebas masih memiliki sisa (baca : bisa memancarkan belas-kasih lagi). Jadi Nirvana itu Pembebasan Mutlak atau Pembebasan yang Bersyarat?

TAN:

Baik! Kata Anda tak bersyarat bukan? Jika Pembebasan Mutlak itu "tidak bisa memancarkan belas kasih lagi" bukankah itu adalah syarat juga? Di sini ada kontradiksi terhadap pernyataan Anda. Anda melepaskan nirvana dari satu syarat tetapi melekatkan padanya suatu syarat lainnya. Masalahnya tidak menjadi selesai, malah berputar2 lagi di hal itu-itu saja. Menurut saya pembebasan mutlak tak bersyarat itu justru adakah kesanggupan untuk memancarkan maitri karuna secara murni tanpa bias2 lobha, dosa, dan moha. Kita tidak dapat mencintai orang lain dengan sungguh2 karena masih diliputi bias-bias lobha, dosa, dan moha. Semua kebajikan kita pada orang sedikit banyak pasti diliputi oleh pertimbangan2 ego betapapun halusnya itu. Adalah ironis bila setelah seseorang mengikis lobha, dosa, dan moha, ia tak dapat lagi memancarkan belas kasih pada makhluk lain. Padahal belas kasih semacam itu adalah belas kasih yang secara logis merupakan maitri karuna sejati. Pandangan bahwa setelah seseorang mencapai nirvana, ia tak dapat lagi memancarkan belas kasih, menurut hemat saya adalah tidak masuk akal.

(bersambung ke jilid 2)

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #417 on: 15 April 2009, 10:49:13 PM »
ANDA:

Jika Nirvana dan Samsara itu tidak berbeda (terlepas dari dualisme), darimana adanya maitri karuna yang sejati itu tak terbatas dan tak terkatakan, yang terus menerus di pancarkan, bahkan setelah seorang BUDDHA merealisasikan nibbana tanpa sisa...

INKONSISTEN...

TAN:

Justru sebaliknya, Bang. SANGAT KONSISTEN. Jika seseorang telah merealisasi kesamaan nirvana dan samsara, maka ia akan dapat memancarkan maitri karuna yang sejati. Bagi dia sudah tak ada segala bentuk pembedaan. Dualisme telah hilang. Sekarang saya balik bertanya, kemana perginya semua paramita yang ditimbun seorang Buddha saat Beliau masih menempuh jalan Bodhisattva? Saya melihat Anda menganut pandangan nihilisme penuh, karena yakin bahwa setelah seorang Buddha parinirvana, kekuatan maitri karunanya ikut musnah total. Ini bertolak belakang dengan pandangan sains bahwa materi tidak dapat diciptakan dan tak dapat dimusnahkan, melainkan materi hanya dapat ditransformasikan menjadi materi lainnya. Justru saya melihat pandangan Mahayana ini lebih sesuai dengan sains modern.
Saya balik pula bertanya, seorang Buddha dapat mengingat kehidupan lampaunya hingga sejauh yang Beliau inginkan. Pertanyaan saya, di manakan ingatan atau memori atas masa lampau itu tersimpan? Berarti bukankah ada suatu gudang penyimpanan yang ada terus menerus selama berkalpa2? Terus setelah seorang Buddha parinirvana ke manakah perginya "gudang" tersebut. Kalau tidak ada "gudang" itu, bagaimana seorang Buddha dapat merekoleksi kembali kehidupannya hingga jutaan kalpa yang lampau? Mohon penjelasannya secara jelas. Sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih.

Amiduofo,

Tan

buat apa lagi semua paramita ketika dualisme nirvana dan samsara sudah tidak ada ? bukankah ini INKONSISTEN...
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #418 on: 15 April 2009, 10:53:08 PM »
Karena jawaban Sdr. Upasaka sangag panjang terpaksa saya potong2.

JAWABAN KEPADA UPASAKA 1

Upasaka:

Saya juga ingin berdiskusi...

Sepertinya memang ada perbedaan goal antara Theravada dengan Mahayana. Meski kata "Nibbana" (T) dan "Nirvana" (M) sama-sama merujuk pada makna Pembebasan Sempurna, namun saya sering melihat ada perbedaan fundamental di antara kedua konsep ini. Jika Aliran Theravada dan Mahayana sama-sama memegang konsep anicca-dukkha-anatta, seharusnya Nibbana dan Nirvana adalah Pembebasan Mutlak. Pembebasan Mutlak ini adalah kondisi yang berada di luar hidup-mati.

Pembebasan ini seharusnya adalah kondisi tak bersyarat. Bagaimana mungkin orang yang telah terbebas masih memiliki sisa (baca : bisa memancarkan belas-kasih lagi). Jadi Nirvana itu Pembebasan Mutlak atau Pembebasan yang Bersyarat?

TAN:

Baik! Kata Anda tak bersyarat bukan? Jika Pembebasan Mutlak itu "tidak bisa memancarkan belas kasih lagi" bukankah itu adalah syarat juga? Di sini ada kontradiksi terhadap pernyataan Anda. Anda melepaskan nirvana dari satu syarat tetapi melekatkan padanya suatu syarat lainnya. Masalahnya tidak menjadi selesai, malah berputar2 lagi di hal itu-itu saja. Menurut saya pembebasan mutlak tak bersyarat itu justru adakah kesanggupan untuk memancarkan maitri karuna secara murni tanpa bias2 lobha, dosa, dan moha. Kita tidak dapat mencintai orang lain dengan sungguh2 karena masih diliputi bias-bias lobha, dosa, dan moha. Semua kebajikan kita pada orang sedikit banyak pasti diliputi oleh pertimbangan2 ego betapapun halusnya itu. Adalah ironis bila setelah seseorang mengikis lobha, dosa, dan moha, ia tak dapat lagi memancarkan belas kasih pada makhluk lain. Padahal belas kasih semacam itu adalah belas kasih yang secara logis merupakan maitri karuna sejati. Pandangan bahwa setelah seseorang mencapai nirvana, ia tak dapat lagi memancarkan belas kasih, menurut hemat saya adalah tidak masuk akal.

(bersambung ke jilid 2)

Jadi Apa/Siapa yang memancarkan belas kasih tersebut (ketika sudah merealisasikan nibbana tanpa sisa) ?
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Re: Pertanyaan kritis mengenai Mahayana menurut pandangan yg berbeda...
« Reply #419 on: 15 April 2009, 10:56:24 PM »


Orang yang telah merealisasi Pembebasan (Nibbana / Nirvana) sudah tidak dapat lagi ditemukan dalam bentuk 'orang' atau 'pribadi'. Wujud personal itu terbelenggu oleh anicca-dukkha-anatta. Bila orang yang dikatakan sudah merealisasi Pembebasan itu masih bisa ditemukan dalam bentuk 'orang' atau 'pribadi', maka orang itu sesungguhnya belum merealisasi Pembebasan.

Orang yang terbebas pun adalah orang yang tidak lagi terikat oleh dualisme duniawi ini. Selama masih berada di lingkup jagad raya, maka dualisme akan selalu ada. Orang yang terbebas tidak akan lagi masuk atau keluar. Karena masuk atau keluar adalah sifat dualistis. Dan hal itu tidak kongruen dengan sifat Nibbana / Nirvana yang dalam konsep sejatinya dikatakan absolut.

NB : Orang yang dapat seenaknya keluar-masuk itu bukan orang yang bebas, itu hanyalah orang yang memiliki izin keluar-masuk. Orang yang bebas itu seharusnya tidak dibatasi ruangan atau apapun (tidak perlu keluar-masuk).



Dikatakan "keluar-masuk", sebenarnya adalah analogi belaka. Justru karena Nirvana absolut, maka orang yang merealisasi nibbana dapat berada di mana-mana pada saat bersamaan dia tidak ada di mana-mana. Justru aneh sekali jika kita menganggap nirvana absolut, dengan tetap berpandangan bahwa samsara dan nirvana adalah dualitas yang berbeda. Jika nirvana dan samsara adalah dua realitas yang berdiri sendiri-sendiri, maka nirvana itu sendiri pasti berada dalam dualitas. Justru karena nirvana adalah absolut maka ia tidak bisa dipisahkan dengan samsara sekaligus tidak bisa dianggap sebagai esensi yang sama. Sebab "beda" dan "sama" sekali lagi merupakan konstruksi duniawi.

 


 "Sadarlah! Lihat dirimu sendiri. Hanya Anda yang dapat menolong dirimu sendiri."



Kontradiksinya, diri justru yang sering menghambat seseorang merealisasi nirvana. Karena terjebak pandangan ini, kita kemudian berpikir bahwa nirvana bisa direalisasi dengan kehendak dan usaha diri. Pada dasarnya, orang yang menyerahkan upayanya pada "diri" ataupun "bantuan yang lain" pada dasarnya menempuh jalan berbeda menuju arah yang sama. Seseorang yang pada awalnya mengandalkan tekad diri sendiri, pada suatu titik di jalan dia harus menanggalkan bahwa usaha dari diri yang berlebihan justru menghambat pencapaian nirvana. Karena bagaimanapun "diri" adalah wujud dari ego yang harus dilepaskan. Begitu juga yang mengandalkan metode "bantuan yang lain" pada satu titik pencapaian realisasi tertentu ia menyadari bahwa "tidak ada jarak antara yang dibantu dan membantu", sehingga akhirnya ia harus juga melepaskan "yang lain" dari pandangannya. Oleh karena itu dalam Mahayana selalu dikatakan "Sifat Kebuddhaan telah ada di dalam diri setiap makhluk hidup," hanya yang sadar disebut sebagai Buddha, yang tidak sadar yang disebut sebagai awam. Dalam jalan menuju realisasi Nibbana, seseorang akan melepaskan dikotomi antara "diri/aku" dengan "yang lain", maka apa bedanya antara memulai dengan "kemampuan diri sendiri" atau "dengan memohon bantuan yang lain", keduanya jika dilakukan dengan praktik yang benar akan menuju hasil yang sama baiknya. Sebaliknya jika keduanya dilakukan dengan praktik yang salah akan menuju hasil yang buruk.
Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek