Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: story of life  (Read 43156 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -14
  • Gender: Male
Re: story of life
« Reply #90 on: 20 December 2008, 01:01:09 PM »
:)
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline aitristina

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.758
  • Reputasi: 52
  • Gender: Female
  • every1 is #1...
Re: story of life
« Reply #91 on: 25 March 2009, 11:22:26 AM »
  (Renungan) Saat-Saat Saya Tidak Bahagia
Posted by: "JuanEk Halim" juan.halim [at] yahoo.com   juan.halim
Mon Mar 23, 2009 5:13 am (PDT)


--- On Thu, 3/19/09, Juan Ek Halim <juan.halim [at] gmail. com> wrote:
From: Juan Ek Halim <juan.halim [at] gmail. com>
Subject: Saat-Saat Saya Tidak Bahagia
To:
Date: Thursday, March 19, 2009, 7:11 PM








aku telah banyak menderita, aku telah mengalami banyak hal-hal tidak
menyenangkan. . tapi apakah definisi “tidak bahagia” menurut saya ??
jika kita tahu penyebab ketidak bahagiaan kita.. maka baru ada
kemungkinan kita bisa mengupayakan kebahagiaan. . Tetapi sekali lagi
ingin saya tekankan, pada akhirnya bukan upaya kita yang mengantar kita
menuju kebahagiaan.
aku terus mengumpulkan berbagai fakta tentang diri saya.. ya, semua
ini tentang saya, jadi maaf aja pemirsa kalo kalian merasa bosan dengan
artikel tentang saya.. karena saya hanya bisa mengumpulkan fakta2 yang
autentik tentang saya..
saat2 aku tidak bahagia, adalah saat2 :
- aku tidak bisa mengekspresikan diriku sendiri alias aku tidak bisa
menjadi diri sendiri. Berada dalam suatu lingkungan dimana kita sulit
mengekspresikan diri kita dan menjadi diri kita sendiri akan membuat
kita sengsara.
- saat2 aku melawan kata hatiku.. ya, saat2 aku sudah mendengar
dengan jelas isi hatiku, tapi aku tidak bertindak dan tidak berani
melakukan seperti apa yang benar2 diinginkan oleh hatiku.
- saat2 aku “hanya” bersandar dengan logikaku.. saat2 aku hanya
mengandalkan otak ini untuk menyelesaikan masalah. Saat2 aku banyak
melakukan perhitungan, apakah untung atau rugi nih.. Banyak sekali
permasalahan terutama tentang perasaan, jiwa dan kehidupan yang tidak
bisa diselesaikan dengan logika. Aku menjadi tumpul dan tidak berdaya.
- saat2 aku “mulai” menyalahkan orang lain atas nasibku.. keaadaan
malah semakin memburuk, aku tidak melihat permasalahan sebenarnya dan
aku semakin jauh dari solusi, aku tidak mengupayakan untuk memperbaiki
keadaan yg buruk.
- saat2 aku “bermalas2an”, makan, tidur dan tidak mengerjakan sesuatu yang berguna / bermanfaat.
- saat2 aku “mendengar” pertengkaran orang tuaku.. sejak kecil aku
sudah trauma, tapi sekarang aku telah memandang dengan hambar.. karena
bagaimanapun mereka adalah manusia yang masih belajar.
- saat2 dimana aku merasa “sendirian”.. saya merasa tidak ada sandaran..

- saat2 dimana aku tidak dapat beristirahat dengan baik dan bangun2 dengan perasaan kusut..
oke, kira2 fakta yang terkumpul tentang saya adalah demikian, bagaimana dengan Anda ?
Life is about living...

Offline aitristina

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.758
  • Reputasi: 52
  • Gender: Female
  • every1 is #1...
Re: story of life
« Reply #92 on: 27 March 2009, 10:43:07 AM »
  Renungan .... pelacur atau Pejuang
Posted by: "JuanEk Halim" juan.halim [at] yahoo.com   juan.halim
Wed Mar 25, 2009 4:49 pm (PDT)


--- On Wed, 3/25/09, Juan Ek Halim <juan.halim [at] gmail. com> wrote:
From: Juan Ek Halim <juan.halim [at] gmail. com>
Subject: Renungan .... pelacur atau Pejuang
To:
Date: Wednesday, March 25, 2009, 7:25 PM

** filmnya belum diputar di bioskop2 di Jakarta tapi udah rame di

bicarakan di festival film internasional. Kalo ngga salah kemaren di bawa

ke

Berlin. Merinding bacanya...tragis. .**

Dengan tubuhnya yang gempal perempuan itu memecah batu, dengan tubuhnya

yang

tebal ia seorang pelacur.

Namanya Nur Hidayah, 35 tahun, kelahiran Tulungagung, Jawa Timur. Ia

seorang

isteri yang ditinggalkan suami, (meskipun mereka belum bercerai), ia ibu

dari lima anak yang praktis yatim.

Tiap pagi, setelah Tegar, anaknya yang berumur enam tahun, berangkat ke

sekolah dengan ojek, Nur datang ke tempat kerjanya. Di sana ia mengangkut

batu, kemudian memecah-mecahnya, untuk dijual ke pemborong bangunan. Nova,

empat tahun, anak bungsunya, selalu dibawanya. Nur bekerja sekitar lima jam

sampai tengah hari.

Lalu ia pulang. Tegar akan sudah kembali ke rumah kontrakan mereka, dan Nur

bisa bermain dengan kedua anak itu. Sampai pukul tiga sore.

Matahari sudah mulai turun, ketika Nur membawa kedua anaknya ke tempat

penitipan milik Ibu In, yang ia bayar Rp 20 ribu sehari. Lalu ia berdandan:

memasang lipstik tebal, berpupur, mengenakan baju terbaik. Lepas manghrib,

ia naik ojek dari kampung Mujang itu ke Gunung Bolo, 45 menit jaraknya

dengan sepeda motor.

Di kegelapan malam di tempat tinggi yang jadi kuburan Cina itu, Nur

menjajakan seks. Ia menjual tubuhnya.

Ia tak memilih pekerjaan itu. Sutrisno, suaminya, yang menikah dengan

perempuan lain, tak memberinya nafkah. Ia bertemu dengan lelaki itu di

tahun

1992 dalam bis ke Trenggalek. Mereka saling tertarik, dan Sutrisno

menemukan

lowongan buat Nur di Pabrik Rokok "Semanggi" di Kediri. Pekerjaan

mengelinting sigaret itu hanya dijalaninya dua bulan. Nur hamil. Ia harus

menikah.

Ia pun jadi isteri seorang suami yang menghabiskan waktunya di meja judi

dan

botol ciu. Tak ada penghasilan. Tak ada pengharapan. Setelah anak yang

kelima lahir, dalam keadaan putus-asa, Nur ikut ajakan tetangganya, seorang

pelacur di Gunung Bolo. Ia bergabung dengan sekitar 80 pekerja seks di

tempat itu, dan jadi sahabat Mira, yang lebih muda setahun tapi sudah

hampir

separuh usianya menyewakan kelamin. Mereka menghabiskan malam mereka

mencari

konsumen di pekuburan Cina itu. Tarif: Rp 10 ribu sepersetubuhan.

"Pernah ada pengalaman yang membuat Mbak Nur senang, selama ini, ketika

melayani tamu?"

"Ah, ya ndak ada," jawabnya.

Tapi suara itu tak getir. Nur, juga Mira, bukanlah keluh yang pahit. Dalam

film dokumenter yang dibuat Ucu Agustina - salah satu dari *Pertaruhan* ,

empat karya dokumenter tentang perempuan yang layak beredar luas di

Indonesia kini -- kedua pelacur itu berbicara tentang hidup mereka seperti

seorang pedagang kecil (atau guru mengaji yang miskin) berbicara tentang

kerja mereka sehari-hari.

Bahkan dengan kalem mereka, sebagai undangan Kalayna Shira Foundation yang

memproduksi *Pertaruhan* , duduk bersama peserta Jakarta International Film

Festival di sebuah kafe di Grand Indonesia - seakan-akan *mall megah *itu

bukan negeri ajaib dalam mimpi seorang Tulungagung. Ketika saya menemui

mereka di tempat minum Goethe Haus pekan lalu, Mira duduk seperti di warung

yang amat dikenalnya, dengan rokok yang terus menyala (tapi ia menolak

minum

bir) dan Nur memeluk Nova yang dibawanya ikut ke Jakarta.

Haruskah Mira, Nur, merasa lain: nista? Produser, sutradara, dan aktivis

perempuan yang menjamu mereka tak membuat para pelacur itu asing dan rikuh.

Bahkan Tegar dan Nova diurus panitia seakan-akan kemenakan sendiri - dan

dengan kagum saya melihat sebuah generasi Indonesia yang menolak sikap

orang

tua dan guru agama mereka. Mira dan Nur tak akan mereka kirim ke neraka, di

mana pun neraka itu. Ucu Agustina, 32 tahun, sutradara dokumenter ini,

telah

berjalan jauh. Ia lulus dari di IAIN di tahun 2000 setelah enam tahun di

pesantren Darunnajah di Jakarta, di mana murid perempuan bahkan dilarang

membaca Majalah *femina*. Ia kini tahu, agama tak berdaya menghadapi Nur

dan

kaumnya.

Di Tulungagung terdapat sekitar 16 tempat pelacuran. Ada dua yang legal,

yang tiap Ramadhan harus tutup. Tapi sia-sia: di tiap bulan puasa pula para

pelacur yang kehilangan tempat kerja datang antara lain ke Gunung Bolo.

Pekerja di tempat itu bertambah 50%.

Dan bagaimana agama akan punya arti bila tak memandang dengan hormat ke

wajah Nur: seorang ibu yang mengais dari Nasib untuk mengubah hidup

anak-anaknya? "Mereka harus sekolah, mereka ndak boleh mengulangi hidup

emak

mereka", Nur berkata, berkali-kali.

Dengan memecah batu ia dapat Rp 400 ribu sebulan, dengan melacur ia

rata-rata dapat Rp 30 ribu semalam. Dengan itu ia bisa mengirim Tegar ke

sebuah TK ka****k sambil membantu hidup anak-anaknya yang lain yang ia

titipkan di rumah seorang saudara.Nur tegak di atas kakinya sendiri. Ia

contoh yang baik "dialektika" yang disebut Walter Benjamin: seorang

pelacur

-- seorang pemilik alat produksi dan sekaligus alat produksi itu sendiri,

seorang penjaja (*Verkäuferin* ) dan barang yang dijajakan (*Ware*) dalam

satu tubuh. Ia buruh; ia bukan pelacur.

Bagi saya ia "Ibu Indonesia Tahun 2008".

Setidaknya ia kisah tentang harapan dalam hidup yang remang-remang. Memang

tuan dan nyonya yang bermoral mengutuknya. Memang polisi merazianya dan

para

preman memungut paksa uang dari jerih payah di Gunung Bolo itu. Tapi Nur

tahu bagaimana tabah. Kebaikan-hati bukan mustahil. Tegar diberi keringanan

membayar uang sekolah di TK ka****k itu. Tiap bulan ke Gunung Bolo, seperti

ke belasan tempat pelacuran di Tulungagung itu, datang tim dari CESMID,

organisasi lokal yang dengan cuma-cuma memeriksa kesehatan mereka. Dan ke

rumah penitipan Ibu In secara teratur datang Mbak Sri untuk membantu Tegar

berbahasa Inggris dan mengerti bilangan.

Terkadang Nur berbicara tentang Tuhan (ia belum melupakan-Nya) . Ia

menyebut-Nya "Yang di Atas". Mungkin itu untuk menunjuk sesuatu yang

jauh -

tapi justru tak merisaukannya, karena manusia, yang di bawah, tetap

berharga: bernilai dalam kerelaannya.

*Goenawan Mohamad*
Life is about living...

Offline PIKOCHAN RAPTOR

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 261
  • Reputasi: -2
  • Gender: Male
  • SSBS
Re: story of life
« Reply #93 on: 05 May 2011, 06:38:35 PM »
nmpng lwt Sis/Bro  _/\_
SSBS  _/\_
 [at]  Perjalanan seribu mil diawali dengan sebuah langkah.
 [at]  Sebuah batu permata tak bisa dipoles tanpa gesekan, seperti halnnya seorang manusia disempurnakaan dengan cobaan hidup.

Offline aitristina

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.758
  • Reputasi: 52
  • Gender: Female
  • every1 is #1...
Re: story of life
« Reply #94 on: 20 May 2011, 11:24:10 AM »
kok ada iklan l;ewat juga di DC wkwkkw

nmpng lwt Sis/Bro  _/\_
SSBS  _/\_
Life is about living...

Offline ming_l16ht

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 114
  • Reputasi: 5
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: story of life
« Reply #95 on: 04 September 2013, 09:10:21 AM »

 _/\_ Namo Buddhaya

Saya dapatkan cerita ini dari teman saya di fb... semoga bisa menjadi sebuah perenungan buat kita dengan teman kita.
seandainya re-post saya mohon maaf...

 _/\_ Namo Buddhaya

•• Mengumpulkan Kembali Kapas ••

Suatu hari ada seorg pebisnis muda yg sgt kaya n sering ke luar kota utk menjalankan bisnisnya itu. Suatu saat dia terkena pergaulan yg salah. Dia mulai sering bermain judi. Mulanya hny taruhan kecil2an namun dia tak dpt menahan nafsu utk menang n mengembalikan uangnya.
Ia semakin gelap mata n akhirnya jatuh miskin.
Org luar tak mengetahui kebiasaannya berjudi. Sehingga dia menutupinya dgn menyebarkan fitnah bhw dia bangkrut krna sahabatnya yg menggelapkan uangnya. Kabar itu semakin menyebar sehingga sahabatnya itu jatuh sakit. Ia sangat menderita krna selalu dikucilkan oleh masyarakat sekitarnya.

Pebisnis itu tak mengira kalau perbuatannya akan berdampak spti ini. Dan Dia pun segera menemui temannya itu utk meminta maaf. "Sobat, aku mengaku salah. Tak sehrsnya aku melakukan ini. Sungguh aku menyesal n minta maaf. Apa yg hrs kulakukan utk menebus kesalahan yg tlh aku perbuat?"
Temannya menjwb dgn lemah, "Ada 2 permintaanku. Pertama, tolong ambil sebuah bantal n bawalah ke atap rumah. Kemudian keluarkanlah kapas dari dlm bantal itu n terbangkanlah kapas2 itu".
Meskipun bingung apa maksudnya, pebisnis itu pun langsung melakukannya n kemudian kembali, "Aku sdh melakukannya. Lalu apa permintaan keduamu?", ucap pebisnis itu.
"Sekrg kumpulkan kapas2 yg kau sebarkan tadi", jawab temannya.
"Maaf sobat, itu tdk mungkin dapat dilakukan".
"Begitu jg dgn berita bohong yg tlh kau sebarkan, berita itu takkan berakhir hanya dgn permintaan maaf dan penyesalanmu saja", kata temannya.
Pebisnis itu pun langsung menangis n memeluk teman nya sambil berulang kali mengucapkan kata maaf.


*** Tak semua masalah bisa diselesaikan dgn kata MAAF. Seblm berbuat, pikirkan dgn matang, jgn sampai menyesal dikemudian hari.
« Last Edit: 04 September 2013, 09:14:12 AM by ming_l16ht »
Give a Man a Fish, Feed Him For a Day
Teach a Man How to Fish, Feed Him For a Lifetime