Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: story of life  (Read 44765 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Hikoza83

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.296
  • Reputasi: 60
  • Gender: Male
  • panda is so cute... ^-^
Re: story of life
« Reply #75 on: 27 May 2008, 08:18:01 PM »
Hua Tuo, Sang Tabib Mujarab


   Nama Hua Tuo sudah tidak asing lagi dalam dunia pengobatan China kuno. Dialah yang pertama kali mengembangkan teknik pembedahan dan akupunktur. Kami sajikan biografi Hua Tuo untuk Anda.

(.or.id) - Hua Tuo, atau biasa disebut juga Yun Hua, berasal dari Pei Guo Jiao (sekarang Haoxian, Provinsi Anhui, China). Dia adalah seorang dokter medis yang terkemuka di China Kuno dan terkenal dengan julukan "Tabib Mujarab".

Hua Tuo tidak mengejar ketenaran maupun uang. Malahan ia mencurahkan dirinya untuk mempelajari pengobatan. Ia sangat terampil dalam berbagai macam bidang pengobatan --suatu fakta yang merefleksikan kemajuan ilmu pengobatan di abad ke-2 di China. Hua Tuo sudah terlihat sangat pandai sejak masa belianya. Ayahnya meninggal saat dia masih berusia 7 tahun. Karena keluarganya miskin, ibunya memutuskan untuk mengirim Hua Tuo untuk belajar pengobatan kepada dr. Cai, seorang teman dekat ayahnya.

Hua Tuo pergi ke kota dan bertemu dengan dr. Cai. Setelah ia mengutarakan keinginannya menjadi seorang dokter pengobatan, dr. Cai berpikir pada dirinya sendiri, "Ayah Hua Tuo adalah teman saya. Jika saya tidak mengambilnya sebagai murid, orang-orang di kota akan berpikir bahwa saya adalah orang yang memutuskan hubungan dengan keluarganya setelah seorang teman meninggal, dan memperlakukan teman tanpa kesetiaan." Saya sebaiknya mengambilnya sebagai murid. Bagaimanapun, saya harus mengetes anak itu untuk menentukan apakah ia memang ditakdirkan untuk pengobatan."

Dokter Cai melihat beberapa muridnya sedang mengumpulkan daun mulberi di halaman belakang, tetapi mereka mendapat kesulitan untuk mencapai daun di dahan tertinggi ketika memanjat pohon. Ia memutuskan ini akan menjadi tes pertama untuk Hua Tuo. Ia bertanya pada Hua Tuo, "Bisakah kamu memikirkan cara untuk mengumpulkan daun dari dahan tertinggi di pohon itu?" Hua Tuo berkata dengan percaya diri, "Oh, itu mudah." Hua Tuo meminta sepotong tali, dan mengikatkan batu kecil di ujung tali tersebut. Ia melemparkan tali itu di sekeliling dahan tertinggi dan berhasil mengumpulkan semua daun di dahan itu, melengkung karena berat dari batu.

Selanjutnya, dr. Cai melihat dua ekor kambing sedang berkelahi dengan mata mereka yang memerah. Tidak ada seorang pun yang bisa memisahkan kedua kambing ini. Ia memutuskan ini akan menjadi tes kedua untuk Hua Tuo. Ia berkata "Hua Tuo, bisakah kamu memisahkan kedua kambing ini?" Hua Tuo segera menjawab, "Tentu saja". Ia mengambil rumput memenuhi kedua tangannya dan meletakkannya di sebelah kambing tersebut di kedua sisi. Kambing-kambing itu telah lapar karena berkelahi, maka mereka segera berlari untuk menikmati rumput tersebut. Perkelahian itu berhenti bahkan tanpa perlu diusahakan. Sangat kagum dengan kepandaian Hua Tuo, dr. Cai dengan gembira menerimanya sebagai murid.

Hua Tuo belajar sangat rajin sejak permulaan. Dia menitikberatkan pada praktik klinis sesungguhnya dan akhirnya menjadi seorang dokter legendaris pada dinasti Han Timur. Bahkan setelah ia mendapat reputasi sebagai seorang dokter pengobatan, ia tidak pernah membeda-bedakan pasiennya. Ia akan menyediakan jasanya ke mana pun ia pergi. Ia memperlihatkan sebuah jiwa yang mulia dengan mengobati penyakit dan menyelamatkan nyawa.

Ia belajar pengobatan seumur hidupnya. Ia mengembangkan teori pengobatan yang inovatif dan teknik pengobatan yang mengagumkan dalam berbagai bidang pengobatan, termasuk pengobatan luar, dalam, ginekologi, akupunktur, parasitolog, dan terapi fisik sebagai pengobatan medis. Ia juga sangat terampil dalam pembedahan. Sesungguhnya, ia adalah dokter pertama yang melakukan operasi pembedahan perut dalam sejarah kedokteran China. Untuk mengurangi sakit akibat pembedahan pasien, ia menemukan bubuk Ma Fei San, yang digunakan untuk pembiusan seluruh badan. Seribu enam ratus tahun kemudian, bangsa Eropa mulai menggunakan obat bius untuk operasi pada permulaan abad 19.

MENEMUKAN TEKNIK PEMBEDAHAN

Pernah suatu ketika Hua Tuo berlari menghampiri seseorang yang sedang mendorong gerobak di jalanan. Orang itu kondisi penyakitnya sangat parah, mukanya pucat pasi. Napasnya pendek dan cepat; terlihat sangat tidak sehat. Hua Tuo mendekatinya untuk mencari tahu apakah ia menderita kolik di perutnya. Hua Tuo dengan segera mendiagnosanya sebagai peradangan usus buntu yang harus segera dibedah. Orang itu meminum Ma Fei San dan segera terbius. Hua Tuo membedah perutnya, membuang bagian usus yang terinfeksi, membersihkan bagian dalamnya, menutup lukanya dengan beberapa jahitan, dan terakhir mengoleskan salep yang akan mengurangi peradangan dan mempercepat pertumbuhan jaringan. Pasien itu sembuh dalam beberapa hari dan luka bedahannya sembuh dengan sangat cepat. Cerita ini membuktikan efek pengobatan Ma Fei San, juga pemahaman Hua Tuo akan anatomi.

Hua Tuo juga telah terbukti sebagai dokter kandungan yang andal. Buku pada periode akhir dinasti Han mencatat sebuah kasus medis kompleks yang berhasil ditanganinya dengan sukses. Jenderal Li meminta pengobatan medis untuk istrinya. Setelah memeriksa nadinya, Hua Tuo memberitahu bahwa penyebab penyakitnya adalah karena istrinya terluka dalam masa kehamilan dan gagal mengeluarkan janinnya. Jenderal Li mengatakan memang betul, selama hamil pernah terluka, tapi janinnya sudah rontok. Hua Tuo mengatakan, menurut pengamatan dari denyut nadi, janinnya belum terlepas. Jenderal Li ragu-ragu dan tidak percaya akan hasil diagnosanya, jadi saat itu Hua Tuo tidak bisa memberikan pengobatan apa pun.

Setelah lewat 100 hari, kondisi istri Li berubah menjadi parah, lalu Hua Tuo diundang lagi untuk memeriksanya. Setelah memeriksa nadinya, Hua Tuo berkata, "Denyut nadinya sama seperti pada saat kunjungan terakhir saya. Ini adalah apa yang saya pikir terjadi. Istrimu mengandung sepasang janin kembar dalam perutnya. Janin yang pertama lahir mati dan menyebabkan pendarahan yang terlalu banyak dari si ibu, sehingga janin keduanya tidak dapat dilahirkan. Janin itu telah mati dalam perutnya. Ia membusuk dan menempel di suatu tempat dekat tulang belakang." Untuk megeluarkan janin itu, Hua Tuo mencoba dengan jalan dilahirkan. Pertama-tama, ia memberikan akupunktur untuk istri Li dan memberikan resep obat-obatan herbal. Tak lama kemudian, istri Li memulai kelahiran, namun tetap tidak dapat mengeluarkan janinnya. Hua Tuo menjelaskan bahwa memang sulit untuk mengeluarkan janin yang sudah mati dengan persalinan normal. Janin itu harus dikeluarkan dengan tangan. Hua Tuo memberi tahu seorang wanita di rumah jenderal itu bagaimana cara mengeluarkan janin mati itu dari tubuh istri Li.

GERAKAN LIMA HEWAN

Inovasi dalam bidang akupunktur juga ditemukan oleh Hua Tuo. Pernah suatu ketika seorang pasien mencari pengobatan medis darinya karena ia mempunyai masalah dengan kakinya dan tidak dapat berjalan. Setelah mengecek nadinya, Hua Tuo menotok beberapa titik akupunktur di punggungnya, dan memberi 7 tusukan akupunktur di tiap titik. Pasien dengan cepat sudah dapat berjalan setelah pengobatan. Berdasarkan pengalamannya sendiri dalam akupunktur, ia menemukan "Titik Akupunktur Jia Ji", sebuah titik akupunktur yang mengapit tulang belakang. Orang-orang di kemudian hari menyebut titik akupunktur tersebut sebagai "Titik Hua Tuo"

Hua Tuo juga menemukan seperangkat latihan yang dianamakan, "Gerakan 5 Hewan" yang mengambil gerakan dari 5 macam hewan, yaitu macan, rusa, beruang, monyet, dan burung. Latihan ini menjadi sangat populer di zamannya. Salah satu murid Hua Tuo, yaitu Wupu, secara terus-menerus berlatih "Gerakan 5 Hewan" menurut yang diajarkan oleh gurunya. Bahkan dalam umurnya yang 90-an, Wupu tetap sangat kuat dan sehat dengan pendengaran dan pengelihatan yang tajam, serta gigi yang baik.

Hua Tuo menempati posisi penting dalam sejarah pengobatan Cina atas teknik medisnya yang hebat, juga semangatnya dalam menolong dan menyelamatkan orang lain.

(Sumber : http://www.zhengjian.org)
« Last Edit: 27 May 2008, 08:27:17 PM by Hikoza83 »
Aku akan melaksanakannya dengan tubuhku,
Karena apa gunanya hanya membaca kata-kata belaka?
Apakah mempelajari obat-obatan saja
Dapat menyembuhkan yang sakit?
[Bodhicaryavatara, Bodhisattva Shantideva]

Offline Hikoza83

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.296
  • Reputasi: 60
  • Gender: Male
  • panda is so cute... ^-^
Re: story of life
« Reply #76 on: 05 August 2008, 11:21:49 AM »
Dalam Sebuah Diskusi...
Penulis : Anonymous

Bila seseorang menulis sesuatu, menyindir, menghasut, menggangu, mencaci maki, dan berbuat sesuatu yang tidak menyenangkan, kenapa kamu mau bergusar hati, menuruti kesenangan si pengoda ?

Dengan berpikir bahwa ia telah memenangkan suatu pertempuran ketika ia membalas mencaci maki dengan ucapan kasar, tetapi dengan mengetahui bagaimana harus bersabar, dan dengan tidak membalas, itulah yang membuat seseorang menjadi menang.

Jika seseorang membabi buta dalam marahnya.. menulis sesuatu, menyindir, menghasut, menggangu, memaki, mencerca atau berbuat sesuatu yang tidak menyenangkan, yang dapat menyerang dirimu sewaktu-waktu. Mengapa kamu mau meniru perbuatannya, memelihara kebencian didalam hatimu ?

Nafasmu tersendat menahan hawa amarah, kesal, dan mukamu pasti tegang diliputi kemarahan, kemudian bagaimana keinginanmu, apakah akan berbuat jahat seperti dia?

Kemarahan dan kebencian dari seseorang, telah membawa kamu dalam kegelisahan, bahkan hanyut sampai alam mimpi…..benci itulah yang harus kamu hancurkan, mengapa kamu menghamburkan waktu, energi dan pikiran mu dengan bersusah payah tanpa sebab.

Dalam kemarahan kamu berbuat sesuatu yang jahat atau tidak terhadap dia, ….

Anda sendiri sekurang-kurangnya merasa tersiksa, oleh kebencian yang timbul dalam dirimu.

Sebenarnya-lah, kamu bermain-main dengan kebencian yang akan membawa kehancuran sampai ke dasarnya, pada kehidupan baik yang ingin kamu jalankan. Tidakkah menjadi suatu kebodohan yang lebih besar?

Ibarat Keluargamu yang telah kamu bina dengan kasih sayang, suatu ketika, kamu tinggalkan mereka dalam kesedihan. Mengapa kamu tidak tinggalkan musuhmu “Si Benci” yang telah memberi kamu banyak penderitaan ?

Seperti saat menjelang waktu, sebentar hilang yang lainpun lenyap, itu – lima skhanda*– yang menyiksa kamu.. kepada siapa lagi kamu akan marah ?

* Jasmani – Perasaan – Pencerapan – Bentuk mental dan Kesadaran.

Jika seseorang membenci orang lain, siapakah yang menderita, jika bukan dirinya sendiri, diri sendirilah sebagai penyebab penderitaan, mengapa kamu harus membenci orang lain?

Mengetahui bahwa orang lain sedang marah, seseorang yang tetap berhati-hati dan tenang bertindak untuk kepentingannya dan untuk kepentingan orang lain juga. Ia adalah penyembuh baik bagi dirinya maupun juga orang lain. Ia dianggap sebagai si bodoh hanya oleh mereka yang tidak memahami Dhamma.
Aku akan melaksanakannya dengan tubuhku,
Karena apa gunanya hanya membaca kata-kata belaka?
Apakah mempelajari obat-obatan saja
Dapat menyembuhkan yang sakit?
[Bodhicaryavatara, Bodhisattva Shantideva]

Offline Hikoza83

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.296
  • Reputasi: 60
  • Gender: Male
  • panda is so cute... ^-^
Re: story of life
« Reply #77 on: 04 September 2008, 12:32:42 PM »
Titiek Puspa
Oleh : Team Andriewongso.com
Senin, 25-Agustus-2008; 08:41:00 WIB

Siapa yang kenal sosok nenek cantik yang masih lincah di usia kepala tujuhnya ini? Yah, dia adalah Titiek Puspa. Perempuan yang masih sangat bugar di usia lebih dari 70 tahun ini memang sudah dianggap sebagai legenda artis sepanjang zaman di kalangan pemusik tanah air. Betapa tidak, puluhan bahkan ratusan karyanya, telah mencetak hits di tembang nasional. Baik sebagai penyanyi dan pencipta lagu, kemampuan Titiek Puspa sudah tak diragukan lagi. Ia juga sudah bermain di berbagai judul film. Artis junior dan senior juga sering memakai lagu ciptaannya untuk menjadi batu loncatan melariskan album musiknya.

Di usia yang makin senja, Titiek selalu saja tampil enerjik di setiap kesempatan. Kini, selain dunia keartisan, ia juga sukses membesarkan usaha katering. Ia pun selalu tampil rendah hati pada setiap orang yang dijumpainya. Itulah yang membuatnya mampu bertahan hingga kini. Bahkan, demi menghormati kiprahnya, beberapa artis muda sempat membuatkan persembahan album musik, "A tribute to Titiek" bagi nenek kelahiran Tanjung Kalimantan Selatan 1 November 1937 ini.

Kesuksesan memang sudah direngkuh dan berhasil dipertahankan Titiek hingga kini. Tapi, jika melihat perjuangannya di dunia tarik suara, barangkali orang baru akan memaklumi mengapa ia bisa bertahan hingga sekarang. Perempuan yang punya nama kecil Soemarti ini masa kecilnya justru dilarang oleh orangtuanya untuk jadi penyanyi. Namun, karena dorongan teman dan tekadnya yang bulat, ia diam-diam ikut festival nyanyi dengan nama samaran Titiek Puspo. Titiek diambil dari nama panggilannya, sedangkan Puspo adalah nama ayahnya, Tugeno Puspowidjojo. Panggilan inilah yang justru belakangan melesatkan namanya ke belantika musik negeri.

Saat memulai perjuangannya sebagai penyanyi, kala itu ada sebuah ajang musik bernama Bintang Radio dan Televisi. Ajang tersebut adalah sebuah batu loncatan bagi banyak artis untuk naik ke puncak, dikenal, dan membuat rekaman. Beberapa kali, Titiek juga berupaya melalui jalur lomba tersebut untuk mencapai mimpinya menjadi penyanyi ternama. Sayang, ia tak pernah berhasil menjadi juara utama.

Hebatnya, kekalahan justru makin membulatkan tekadnya untuk berjuang meraih yang terbaik. Untuk  menggapai jalur popularitas, Titiek pun menempuh jalur pentas dari panggung ke panggung. Sebuah perjuangan berat karena ia harus lebih intens "menawarkan suaranya" ke mana-mana agar bisa dikenal.

Dan, rupanya jalur independen melalui panggung ini sepertinya memang telah jadi jalan sukses bagi nenek 14 cucu ini. Kiprahnya di panggung bersama Orkes Simphony Djakarta pimpinan Sjaiful Bachri kala itu mengantarkannya menjadi penyanyi yang cukup laris. Apalagi, sejak sang ayah--sebelum meninggal dunia--telah mengijinkan Titiek berkiprah di dunia tarik suara.

Sejak saat itu, karier Titiek terus naik. Ia kemudian juga dikenal sebagai pencipta lagu-lagu yang banyak menyoroti kemanusiaan. Banyak lagu yang diinspirasikan dari rasa empati dan simpati yang sangat dalam kepada setiap manusia yang terpojok. Misalnya saja lagu tentang kehidupan cinta manusia (dalam lagu Cinta dan Jatuh Cinta), persahabatan (Bing), empati kepada kaum pinggiran seperti pekerja seks komersial (Kupu-kupu Malam), hingga ke sikap patriotik bela negara (Pantang Mundur dan Ayah).

Perjalanan karier Titiek Puspa adalah gambaran sebuah komitmen dan perjuangan pantang menyerah. Ia membuktikan pada orangtuanya, bahwa menyanyi mampu jadi jalan hidup yang membawa kebaikan padanya. Kini, dengan semua raihan tersebut, Titiek juga justru semakin rendah hati sehingga bisa diterima oleh semua kalangan. Sungguh, sebuah gambaran perjuangan dan sikap seorang ‘pemenang' yang patut diteladani siapa saja.

Sumber : http://www.andriewongso.com/awartikel-1846-Success_Story-Titiek_Puspa
Aku akan melaksanakannya dengan tubuhku,
Karena apa gunanya hanya membaca kata-kata belaka?
Apakah mempelajari obat-obatan saja
Dapat menyembuhkan yang sakit?
[Bodhicaryavatara, Bodhisattva Shantideva]

Offline Hikoza83

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.296
  • Reputasi: 60
  • Gender: Male
  • panda is so cute... ^-^
Re: story of life
« Reply #78 on: 04 September 2008, 12:52:29 PM »
Belajarlah Lentur Laksana Air
Oleh : Sucipto Ajisaka
Kamis, 04-September-2008; 09:20:22 WIB

Men are soft and supple dead, they are stiff and hard. Plants are born tender and pliant, dead, they are brittle and dry. Thus whoever is stiff and inflexible is a disciple of death. Whoever is soft and yielding is a disciple of life. The hard and stiff will be broken. The soft and supple will prevail. (Manusia itu lembut dan luwes, yang mati itu kaku dan keras. Tanaman dilahirkan lunak dan lentur, yang mati itu rapuh dan kering. Maka siapapun yang kaku dan tidak fleksibel adalah murid dari kematian. Siapapun yang lunak dan mengalah adalah murid dari kehidupan. Yang keras dan kaku akan hancur. Yang lembut dan luwes akan menang.)- Lao-tzu -

Dalam buku saya "Becoming a Magnet of Luck : 10 Faktor yang Menjadikan Anda Magnet Keberuntungan" disebutkan bahwa fleksibilitas, kelenturan atau keluwesan merupakan salah satu faktor yang menjadikan seseorang lebih beruntung dalam kehidupannya dibandingkan dengan orang yang kaku dan terpaku. Yang lentur akan menang, yang kaku akan kalah dan mati, seperti kata Lao-Tzu berabad-abad yang lalu. Apalagi di zaman yang begitu cepat berubah ini, kelenturan menjadi semakin penting agar kita bisa tetap bertahan dan bertumbuh (survive and grow).

Lalu apa sih fleksibel itu ? Secara sederhana, fleksibel berarti lentur, luwes, bisa diganti-ganti, tidak kaku, mudah menyesuaikan diri. Tetapi lentur bukan berarti plin plan atau tak punya pendirian, melainkan lentur yang tegas atau dengan kata lain mudah menyesuaikan diri namun tetap asertif dan berwibawa.

Menurut pendapat saya, ada tiga dimensi fleksibilitas yang bisa terjadi. Yang pertama, kita perlu tetap fleksibel terhadap keinginan, tujuan atau sasaran yang telah kita canangkan. Tujuan atau sasaran yang telah kita rencanakan bukanlah ‘harga mati' yang tidak boleh ditawar, walaupun pada hakekatnya lebih baik kita memiliki tujuan yang jelas dalam hidup ini dibandingkan dengan tidak memiliki tujuan sama sekali. Artinya goal setting atau well formed outcome harus tetap memperhatikan flexibility.

Fleksibilitas yang kedua adalah kita perlu fleksibel dalam hal cara atau strategi mencapai tujuan tertentu. Dengan kata lain, tujuannya tetap sama tetapi caranya bisa kita ubah-ubah. Bila cara A tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya, maka cobalah cara B, begitu seterusnya.

Sedangkan dimensi yang ketiga, kita perlu fleksibel dalam arti fisik kita, penampilan kita atau keadaan fisiologis kita. Fleksibilitas secara fisik berarti kita rileks, tidak tegang, tidak stress, kalem, ‘mengalir' dengan lentur, santai tapi serius atau yang sejenisnya.

Air adalah contoh yang paling sempurna dari suatu kelenturan. Ketika ia mengalir secara normal di sungai, ia mengalir dengan penuh kelenturan. Ia tidak pernah memaksa batu karang agar minggir meninggalkan tempatnya. Ia tetap membiarkan sebatang pohon tetap berdiri tegak dengan akar-akarnya. Ia juga tak terlalu peduli dengan penghalang-penghalang yang lain. Namun air tetap mengalir dan bisa mencapai tujuannya. Ia berhasil melewati semua penghalangnya. Air begitu lentur. Ia bisa meresap ke dalam tanah, pori-pori kayu, lapisan kertas, udara dan masih banyak yang lain. Ia bisa sangat cair, lunak dan bisa juga keras seperi es batu.

Air bisa bening atau keruh. Ia bisa menyatu dengan cairan yang lain tapi memisahkan diri dengan minyak. Ia mudah menyesuaikan diri dengan wadah dimana ia berada. Ia tidak melakukan perlawanan. Tapi jangan dikira ia lemah. Ia sanggup menghanyutkan kayu atau membawa onggokan sampah ke hilir. Jika perlu, ia bahkan bisa menghanyutkan rumah atau menenggelamkan sebuah pulau sekalipun. Air juga sangat tekun. Dengan perlahan tapi pasti, tetesannya yang kecil akan mampu melubangi batu pualam yang keras.Air adalah sumber keberuntungan. Ketika bertemu api, ia memadamkan dan mendinginkan panasnya. Ketika bertemu angin, ia menyejukkan dan menahan lajunya. Ketika bertemu tanah, ia menyuburkan dan membasahi yang kerontang. Ketika bertemu makhluk hidup, ia menghidupkan dan menyegarkan mereka.Umpama pasukan perang, air tidak mengalahkan, tapi juga tidak mengalah.

Mungkin mirip dengan falsafah Jawa "digdaya tanpo aji, nglurug tanpo bolo, menang tanpo ngasoraske" yang berarti "sakti tanpa ilmu kesaktian, datang tanpa pasukan, menang tanpa mengalahkan." Umpama pendekar kung fu, ia mirip jurus Tai Chi. Keperkasaannya melawan musuh bukan ditentukan oleh otot-otot yang tegang atau kekakuannya, melainkan oleh kelenturan gerakan tangan, kaki dan seluruh tubuhnya. Ia menundukkan kekerasan dengan kelembutan. Ia mengikuti dan menyesuaikan diri dengan gerakan lawan. Sang pendekar bergerak dengan gemulai, seolah tak bertenaga, tapi sangat dahsyat tenaganya. Ia mampu mengatasi kekuatan satu ton hanya dengan beberapa ratus kilo tenaga saja.

Itulah kekuatan kelenturan yang seimbang. Oleh sebab itu, maka belajarlah dari kelenturan air. Lentur yang seimbang. Lentur yang penuh ketegasan. Maka hidup Anda akan selalu dipenuhi dengan kesuksesan dan keberuntungan.

Wish You Always Luck. (SA). *) Sucipto Ajisaka adalah seorang Trainer & Consultant, penulis buku laris "Becoming a Magnet of Luck : 10 Faktor yang Menjadikan Anda Magnet Keberuntungan". Blog : http://SuciptoAjisaka.com; e-mail sucipto.aji [at] gmail.com
Sumber : http://www.andriewongso.com/awartikel-1898-Artikel_Anda-Belajarlah_Lentur_Laksana_Air
Aku akan melaksanakannya dengan tubuhku,
Karena apa gunanya hanya membaca kata-kata belaka?
Apakah mempelajari obat-obatan saja
Dapat menyembuhkan yang sakit?
[Bodhicaryavatara, Bodhisattva Shantideva]

Offline Hikoza83

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.296
  • Reputasi: 60
  • Gender: Male
  • panda is so cute... ^-^
Re: story of life
« Reply #79 on: 04 September 2008, 01:06:39 PM »
The Law Of Attraction
Oleh : Leman
Rabu, 03-September-2008; 09:04:46 WIB

Barang yang sama jenisnya berkumpul bersama

Benda yang sejenis atau orang yang berpandangan yang sama, keahlian yang sama, status yang sama akan berada dalam satu kelompok yang sama.

Pada Periode Negara-negara Berperang, hidup seorang pelajar bernama Chunyu Kun yang sangat terkenal reputasinya. Chunyu Kun terkenal karena dalam karirnya berhasil memberikan kritikan dan masukan atau solusi atas kebijakan pemerintah. Ia bahkan sering dikirim ke luar negeri oleh raja Xuang dari negara Qi, dalam misi-misi diplomatik.

Suatu ketika, raja membutuhkan tambahan orang-orang yang berbakat dan setingkat kemampuan dengan Chunyu Kun untuk memperkuat pemerintahannya. Raja pun memanggil Chunyu Kun untuk menyampaikan keinginannya.

Keesok harinya, raja sangat terkejut ketika Chunyu Kun membawa tujuh orang yang mempunyai bakat dan potensi yang luar biasa. Masih merasa terkagum-kagum dengan kemampuan Chunyu Kun menghimpun orang-orang tersebut, raja pun berkata, "Selama ini saya sulit mendapatkan orang-orang yang bijak dan berpotensi luar biasa."

"Saya diberitahukan bahwa, seorang akan sangat beruntung bila ia bisa mendapatkan satu orang yang sangat berpotensi dalam seribu meter persegi; dan hanya akan menemukan satu orang bijak dalam seratus tahun."

Chunyu Kun pun menjelaskan,"Tidak dapat dikatakan demikian juga. Burung yang sejenis selalu terbang atau bertempat tinggal bersama. Binatang yang sama akan berkumpul dan hidup bersama-sama. Begitu juga dengan tanaman."

"Baginda akan kesulitan menemukan tanaman obat seperti chái hú atau jié gěng di rawa-rawa atau dataran rendah. Tetapi tanaman obat ini mudah ditemukan di punggung gunung Liang Fu. Karena di sana tanaman-tanaman sejenis tumbuh. Jadi, benda yang sama jenisnya akan berkumpul bersama-sama."

"Karena saya temasuk orang yang berbakat, berkemampuan tinggi, maka tidak sulit untuk menemukan orang-orang bijak disekeliling saya. Dan sungguh tepat, baginda menugaskan tanggung jawab ini kepada saya."

Dengan nada yang sedikit bangga, Chunyu Kun melanjutkan, "Bahkan saya bisa membawakan yang lebih banyak lagi, jika baginda menghendakinya."

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sesuai dengan kaidah Hukum daya tarik menarik (like attracts like), maka benda yang sejenis atau orang yang berpandangan yang sama, keahlian yang sama, atau status yang sama akan berada dalam satu kelompok yang sama. Oleh sebab itu, siapa Anda sesungguhnya, akan menentukan siapa yang akan tertarik kepada Anda. Jadi siapa yang menjadi pengikut Anda tidak ditentukan yang Anda inginkan, melainkan siapa Anda sesungguhnya.

Seorang pemimpin yang mempunyai pandangan yang positif ia juga akan menarik pengikut yang mempunyai pandangan yang positif. Seorang pemimpin yang mempunyai semangat, motivasi, bergairah, ia juga akan menarik pengikut menjadi bersemangat, termotivasi dan bergairah. Seorang pemimpin yang suka gosip maka ia juga akan menarik pengikut yang sama. Orang yang maunya bermain-main saja, maka ia akan berkumpul bersama mereka yang sifatnya sama, dan seterusnya.

Oleh sebab itu seorang pemimpin harus menjadi teladan, contoh yang baik untuk bawahannya. Rasanya, sangat sulit menemukan orang yang mempunyai pandangan positif, melihat dunia ini penuh dengan tantangan menarik dan harapan bila berkumpul dengan orang yang hanya bisa mengeluh melulu.

Bisa saja orang-orang yang mengikuti Anda mempunyai beberapa karakter yang berbeda, tetapi kalau ditelaah lebih dalam, pasti ditemukan beberapa sifat, karakter dan persamaan dengan Anda. Seperti; hobi, latar belakang keluarga, pengalaman hidup, pendidikan, kebiasaan atau sikap, nilai-nilai dan beberapa persamaan lainnya.

Jika Anda merasa sikap bawahan Anda kurang berkenan, coba dulu Anda periksa sikap Anda sendiri sebelum menyalahkan orang lain. Jika Anda sebagai orang tua, dan mendapati anak Anda bersikap kasar, cobolah renungkan sikap dan tingkah laku Anda.

Salam Sukses Untuk Anda

Leman Yap
Kisah di atas diambil dari buku: "The Best of Chinese Leadership Wisdoms"
Sumber : http://www.andriewongso.com/awartikel-1891-Artikel_Tetap-The_Law_Of_Attraction
Aku akan melaksanakannya dengan tubuhku,
Karena apa gunanya hanya membaca kata-kata belaka?
Apakah mempelajari obat-obatan saja
Dapat menyembuhkan yang sakit?
[Bodhicaryavatara, Bodhisattva Shantideva]

Offline Hikoza83

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.296
  • Reputasi: 60
  • Gender: Male
  • panda is so cute... ^-^
Re: story of life
« Reply #80 on: 04 September 2008, 01:13:23 PM »
Tidak Dapat Memilah Ukuran Ubi Kayu
Oleh : Andrew Ho
Selasa, 26-Agustus-2008; 09:22:32 WIB

Seorang pemuda miskin berusaha mencari pekerjaan. Setelah berusaha, ia diterima bekerja di sebuah ladang ubi kayu. Gaji yang bakal ia terima cukup besar ditambah dengan fasilitas makanan dan tempat tinggal. Pekerjaan pemuda itupun tergolong mudah karena hanya membagi ubi kayu itu menjadi 3 kelompok, yaitu sedang, kecil dan besar kedalam 3 kotak besar yang telah disediakan.

Setelah memberikan perintah kerja, sang pemilik kebun meninggalkan tempat itu. Tengah hari sang pemilik kembali ke kebun untuk memberi kesempatan pada sang pemuda makan siang. Tetapi ia sangat heran melihat 3 kotak itu masih kosong. Sementara pemuda itu hanya berdiam diri sambil memandangi tumpukan ubi kayu.

Pemilik kebun langsung bertanya mengapa dia belum bekerja? Dengan gugup pemuda itu bangkit dari duduknya dan berkata, "Tuan, saya tidak bisa membedakan ubi kayu mana yang kecil, sedang dan besar." Pemilik kebun terlihat sangat kecewa mendengar jawaban pemuda itu.

Pesan:

Dalam kehidupan ini kita diberi banyak pilihan dan peluang yang menguntungkan entah itu kecil atau besar. Kita harus pandai menghargai setiap peluang yang kita dapatkan dengan semangat juang tinggi. "Jika kita tidak bisa menghargai kesempatan yang diberikan, seseorang pasti akan terus hidup dalam kebingungan dan tidak mungkin berhasil," kata William Shakespeare.

Dalam kisah diatas disebutkan bahwa pemuda tersebut mendapatkan peluang yang sangat potensial. Tetapi ia menyia-nyiakan kesempatan tersebut karena tidak mencoba membuka hati dan mata dengan berusaha bekerja sebaik mungkin. Ia tidak bersedia melihat dan menerima kesempatan tersebut sebagai anugrah teristimewa dari Tuhan YME.

Maka bijaksanalah pada hidup, dengan menghargai setiap detil kesempatan dalam kehidupan kita. Disaat sulit, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Jika kita tidak mau berusaha, maka kesempatan itu akan hilang begitu saja. Hal ini hanya akan menciptakan penyesalan yang tidak berguna. Tetapi bila kita menghargai kesempatan yang kecil maka ia akan menjadi peluang yang besar.


*Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku bestseller.
Kunjungi websitenya di : www.andrewho-uol.com
Sumber : http://www.andriewongso.com/awartikel-1851-Artikel_Tetap-Tidak_Dapat_Memilah_Ukuran_Ubi_Kayu
Aku akan melaksanakannya dengan tubuhku,
Karena apa gunanya hanya membaca kata-kata belaka?
Apakah mempelajari obat-obatan saja
Dapat menyembuhkan yang sakit?
[Bodhicaryavatara, Bodhisattva Shantideva]

Offline Hikoza83

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.296
  • Reputasi: 60
  • Gender: Male
  • panda is so cute... ^-^
Re: story of life
« Reply #81 on: 04 September 2008, 01:24:53 PM »
Bulu Angsa
Oleh : Haryo Ardito
Senin, 25-Agustus-2008; 08:21:29 WIB

Pada abad ke sebelas ketika itu Bao Zheng seorang hakim yang dikenal adil dan bijaksana pada jaman Dinasti Song Utara sedang menangani sebuah kasus fitnah yang dilakukan oleh seorang warga kota Kaifeng di Provinsi Henan karena persaingan usaha. Pria separuh baya itu telah terbukti menyebarkan kata-kata fitnah yang sangat merugikan pengusaha lainnya.

Didalam persidangan Hakim Bao menjatuhkan hukuman denda sebesar seratus tael perak dan jika tak sanggup membayar maka sebagai gantinya harus mendekam di penjara selama satu tahun.

Pria terdakwa itu menangis tersedu-sedu mohon ampun seraya meminta keringanan hukuman.

"Baiklah" kata Hakim Bao "Kamu akan mendapatkan keringanan hukuman namun ada syarat yang harus kamu lakukan."

"Apa itu yang mulia?" Tanya pria itu penuh harap.

Hakim Bao meminta para pengawal untuk membawa pria itu ke sebuah dataran diatas sebuah bukit dimana angin berhembus dingin dan kencang.

Kemudian salah satu pengawal mengeluarkan sebuah kantung kecil berisi segenggam bulu angsa.

"Bulu-bulu angsa ini akan disebarkan dan tugas kamu adalah mengumpulkan sebanyak-banyaknya bulu-bulu angsa itu, setiap helai bulu angsa bernilai satu tael perak.

Saat kantung dibuka, maka bulu-bulu angsa itu langsung beterbangan tinggi disapu angin yang bertiup sangat kencang. Pria itu bergegas berlari kesana kemari berusaha menangkap bulu-bulu angsa itu.

Alhasil setelah beberapa jam, pria itu hanya memegang dua helai bulu angsa ditangannya. Dengan lunglai pria itu pun menerima keputusan hukuman yang telah dijatuhkan oleh Hakim Bao.

"Bulu-bulu angsa itu ibarat kata-kata yang telah kau ucapkan, seperti halnya bulu-bulu angsa yang beterbangan dan sungguh tidak mudah untuk ditangkap kembali, sama dengan kata-kata yang terlanjur kau keluarkan dari mulutmu, sungguh sulit untuk menariknya kembali" kata Hakim Bao

"Lain kali berhati-hatilah dalam berucap" kata Hakim Bao menutup persidangan.

Sumber : http://www.andriewongso.com/awartikel-1843-Artikel_Tetap-Bulu_Angsa
Aku akan melaksanakannya dengan tubuhku,
Karena apa gunanya hanya membaca kata-kata belaka?
Apakah mempelajari obat-obatan saja
Dapat menyembuhkan yang sakit?
[Bodhicaryavatara, Bodhisattva Shantideva]

Offline Hikoza83

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.296
  • Reputasi: 60
  • Gender: Male
  • panda is so cute... ^-^
Re: story of life
« Reply #82 on: 10 September 2008, 08:30:43 AM »
Kentang Busuk
Author : Unknown

Suatu ketika, ada seorang guru yang meminta murid-muridnya untuk membawa satu kantung plastik bening ke sekolah. Lalu, ia meminta setiap anak untuk memasukkan beberapa kentang di dalamnya. Setiap anak, diminta untuk memasukkan sebuah kentang, untuk setiap orang yang tak mau mereka maafkan.

Mereka diminta untuk menuliskan nama orang itu, dan mencantumkan tanggal di dalamnya. Ada beberapa anak yang memiliki kantung yang ringan, walau banyak juga yang memiliki plastik kelebihan beban.

Mereka diminta untuk membawa kantung bening itu siang dan malam. Kemana saja, harus mereka bawa, selama satu minggu penuh. Kantung itu, harus ada di sisi mereka kala tidur, di letakkan di meja saat belajar, dan ditenteng saat berjalan.

Lama-kelamaan kondisi kentang itu makin tak menentu. Banyak dari kentang itu yang membusuk dan mengeluarkan bau yang tak sedap. Hampir semua anak mengeluh dengan pekerjaan ini. Akhirnya, waktu satu minggu itu selesai.

Dan semua anak, agaknya banyak yang memilih untuk membuangnya daripada menyimpannya terus menerus. Pekerjaan ini, setidaknya, memberikan hikmah spiritual yang besar sekali buat anak-anak. Suka-duka saat membawa-bawa kantung yang berat, akan menjelaskan pada mereka, bahwa, membawa beban itu,sesungguhnya sangat tidak menyenangkan. Memaafkan, sebenarnya, adalah pekerjaan yang lebih mudah, daripada membawa semua beban itu kemana saja kita melangkah.

Ini adalah sebuah perumpamaan yang baik tentang harga yang harus kita bayar untuk sebuah kepahitan yang kita simpan, dan dendam yang kita genggam terus menerus. Getir, berat, dan meruapkan aroma yang tak sedap,bisa jadi, itulah nilai yang akan kita dapatkan saat memendam amarah dan kebencian.

Sering kita berpikir, memaafkan adalah hadiah bagi orang yang kita beri maaf. Namun, kita harus kembali belajar, bahwa, pemberian itu, adalah juga hadiah buat diri kita sendiri. Hadiah, untuk sebuah kebebasan.

Kebebasan dari rasa tertekan, rasa dendam, rasa amarah, dan kedegilan hati.
Aku akan melaksanakannya dengan tubuhku,
Karena apa gunanya hanya membaca kata-kata belaka?
Apakah mempelajari obat-obatan saja
Dapat menyembuhkan yang sakit?
[Bodhicaryavatara, Bodhisattva Shantideva]

Offline Hikoza83

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.296
  • Reputasi: 60
  • Gender: Male
  • panda is so cute... ^-^
Re: story of life
« Reply #83 on: 10 September 2008, 08:36:51 AM »
Lepaskan Kepalanmu
Author : Unknown

Di suatu hutan hiduplah sekelompok monyet. Pada suatu hari, tatkala mereka tengah bermain, tampak oleh mereka sebuah toples kaca berleher panjang dan sempit yang bagian bawahnya tertanam di tanah. Di dasar toples itu ada kacang yang sudah dibubuhi dengan aroma yang disukai monyet. Rupanya toples itu adalah perangkap yang ditaruh di sana oleh seorang pemburu.

Salah seekor monyet muda mendekat dan memasukkan tangannya ke dalam toples untuk mengambil kacang-kacang tersebut. Akan tetapi tangannya yang terkepal menggenggam kacang tidak dapat dikeluarkan dari sana karena kepalan tangannya lebih besar daripada ukuran leher toples itu. Monyet ini meronta-ronta untuk mengeluarkan tangannya itu, namun tetap saja gagal.

Seekor monyet tua menasihati monyet muda itu: “Lepaskanlah kepalanmu atas kacang-kacang itu! Engkau akan bebas dengan mudah!” Namun monyet muda itu tidak mengindahkan anjuran tersebut, tetap saja ia bersikeras menggenggam kacang itu.

Beberapa saat kemudian, sang pemburu datang dari kejauhan. Sang monyet tua kembali meneriakkan nasihatnya: “Lepaskanlah kepalanmu sekarang juga agar engkau bebas!” Monyet muda itu ketakutan, namun tetap saja ia bersikeras untuk mengambil kacang itu. Akhirnya, ia tertangkap oleh sang pemburu.

Demikianlah, kadang kita juga sering mencengkeram dan tidak rela melepaskan hal-hal yang sepatutnya kita lepaskan: kemarahan, kebencian, iri hati, ketamakan, dan sebagainya. Apabila kita tetap tak bersedia melepas, tatkala kematian datang “menangkap” kita, semuanya akan terlambat sudah.

Bukankah lebih mudah jika kita melepaskan setiap masalah yang lampau, dan menatap hari esok dengan lebih cerah? Bukankah dunia akan menjadi lebih indah jika kita bisa melepaskan “kepalan” kita dan membagi kebahagiaan dengan orang lain?
Aku akan melaksanakannya dengan tubuhku,
Karena apa gunanya hanya membaca kata-kata belaka?
Apakah mempelajari obat-obatan saja
Dapat menyembuhkan yang sakit?
[Bodhicaryavatara, Bodhisattva Shantideva]

Offline Hikoza83

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.296
  • Reputasi: 60
  • Gender: Male
  • panda is so cute... ^-^
Re: story of life
« Reply #84 on: 22 September 2008, 06:13:49 PM »
Cinta Tanpa Syarat

Sewaktu saya masih berumur 13 thn, ayah saya memanggil dan mengatakan sesuatu yang mengubah hidup saya. Kami berdua berada di dalam mobilnya yang tua dan usang, di pinggir jalan London, Dia memutar badannya kearah saya dan berkata : "Nak, apapun yang kamu lakukan dalam hidupmu, ketahuilah, pintu rumahku akan selalu terbuka untukmu"

Saya hanyalah remaja belia pada saat itu. Saya tidak benar mengerti apa yang dimaksudkan ayah, tapi saya tahu itu adalah sesuatu yang penting, maka saya selalu mengigatnya. Ayah meninggal dunia tiga tahun kemudian.

Ketika saya menjadi bikkhu di Thailand, saya kembali memikirkan kata ayah. Rumah kami saat itu hanyalah sebuah flat kecil miskin di London, bukan sebuah rumah yang bagus untuk dibukakan pintunya. Tetapi saya menyadari bahwa bukan itu maksud ayah sebenarnya. Apa yang terkandung di dalam kata-kata ayah, seperti sebuah permata yang terbungkus kain, adalah sebuah ungkapan cinta paling jernih yang pernah saya dengar.
"Nak, apapun yang kamu lakukan dalam hidupmu, ketahuilah, pintu rumahku akan selalu terbuka untukmu"

Ayah saya menawarkan cinta tanpa syaratnya. Tidak ada maksud tersembunyi. Saya adalah putranya, cukup itu saja. Begitu indah, Begitu Nyata, Dan ...... Dia bersungguh-sungguh.

Diperlukan keberanian dan kebikjasanaan untuk mengatakan hal tersebut kepada orang lain, untuk membuka pintu hati Anda kepada seseorang, tanpa embel-embel "jika". Mungkin kita berpikir mereka akan mengambil keuntungan dari kita, tapi bukan begitu, tidak demikian menurut pengalaman saya. Sewaktu anda menerima cinta semacam itu dari orang lain, itu bagaikan menerima hadiah paling berharga. Anda menghargainya, menyimpan dengan baik dan menjaganya supaya jangan pernah sampai hilang. Jika Anda bersungguh-sungguh dan itu datang dari dalam hati anda, orang itu akan menyambut kedepan, bukan mundur, untuk mengapai cinta Anda.

Cerita diatas dikutip dari BUKU :
"Membuka Pintu Hati", Judul Asli "Opening the door of your Heart"
Penulis : Ajahn Brahm
Penerbit : KARANIYA (www.karaniya.com), ehipassiko (www.ehipassiko.net)
Aku akan melaksanakannya dengan tubuhku,
Karena apa gunanya hanya membaca kata-kata belaka?
Apakah mempelajari obat-obatan saja
Dapat menyembuhkan yang sakit?
[Bodhicaryavatara, Bodhisattva Shantideva]

Offline Hikoza83

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.296
  • Reputasi: 60
  • Gender: Male
  • panda is so cute... ^-^
Dua Bata Jelek
« Reply #85 on: 26 September 2008, 06:20:48 AM »
Dua Bata Jelek

Setelah kami membeli tanah untuk vihara kami pada tahun 1983, kami jatuh bangkrut. Kami terjerat hutang. Tidak ada bangunan diatas tanah itu, pun tidak sebah gubuk. Pada minggu2 pertama kami tidur diatas pintu tua yang kami beli murah dari pasar loak. Kami menganjalnya dengan batu bata pada setiap sudutnya.

Kami hanyalah bikkhu miskin yang memerlukan sebuah bangunan. Kami tak mampu membayar tukang, jadi saya harus belajar cara pertukang. Sedangkan saya sebelumnya adalah fisikawan teoritis dan guru SMU, tidak bekerja kasar. Setelah beberapa tahun, saya menjadi cukup terampil bertukang, bahkan saya menjuluki tim saya sebagai BBC ( Buddhist Building Company).

Sebagai seorang bikkhu, saya memiliki kesabaran dan waktu sebanyak yang saya perlukan. Saya pastikan setiap batu bata trpasang sempurna. Akhirnya saya menyelesaikan tembok batu saya yang pertama dan berdiri dibaliknya untuk mengaguminya. Saat itulah saya menperhatikan - Oh, Tidak! Tidak ! saya telah keliru menyusun dua batu bata, sehingga tampak miring, mereka terlihat jelek sekali.

Saya telah membuat kesalahan dan saya telah menjadi gundah gulan. Saya bermaksud menbongkarnya tetapi kepala vihara bilang tidak perlu, biarkan saja temboknya sperti itu.

Suatu vihara ada seorang yang berkunjung, dia melihatnya "Itu sebuah tembok yang indah", ia berkomentar dengan santai. Saya terkejut dan bertanya kembali "Apakah Anda tidak melihat dua batu bata jelek yang merusak keseluruhan tembok itu?"

Ucapan dia selanjutnya telah mengubah keseluruhan pandangan saya terhadap tembok ini. Dia berkata "Ya, saya melihat dua bata jelek itu, tetapi saya juga dapat melihat 998 batu bata yang bagus'

Saya tertegun. Untuk pertama kalinya dalam lebih tiga bulan saya baru mampu melihat batu bata lainnya selain dua bata jelek itu. Diatas, dibawah, sebelah kiri, sebelah kanan adalah batu bata yang bagus dan sempurna. Lebih dari itu, jumlah bata yang terpasang sempurna, jauh lebih banyak daripada dua bata jelak itu.

Berapa banyak orang memutuskan hubungan atau bercerai karena semua melihat dari diri pasangannya adalah "dua bata jelek"?
Berapa banyak yang dari diri kita mengalami depresi karena melihat kedalam diri kita hanyalah "dua bata jelek"?

Cerita diatas dikutip dari BUKU :
"Membuka Pintu Hati", Judul Asli "Opening the door of your Heart"
Penulis : Ajahn Brahm
Penerbit : KARANIYA (www.karaniya.com), ehipassiko (www.ehipassiko.net)
Aku akan melaksanakannya dengan tubuhku,
Karena apa gunanya hanya membaca kata-kata belaka?
Apakah mempelajari obat-obatan saja
Dapat menyembuhkan yang sakit?
[Bodhicaryavatara, Bodhisattva Shantideva]

Offline Hikoza83

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.296
  • Reputasi: 60
  • Gender: Male
  • panda is so cute... ^-^
Ajahn Brahm : Pengadilan Kemarahan
« Reply #86 on: 10 October 2008, 12:32:04 PM »
Ajahn Brahm : Pengadilan Kemarahan

Marah bukanlah respon yang cerdas. Orang bijak selalu bahagia, dan orang bahagia tidak pernah marah. Marah, terutamanya adalah tidak masuk akal.

Dalam rangka mengungkapkan kemarahan Anda, pertama-tama anda harus mencari pembenaran bagi diri Anda sendiri. Anda harus meyakinkan diri bahwa marah itu pantas, tepat, benar. Di dalam proses batin yang marah, seolah-olah sedang terjadi sebuah pengadilan dalam pikiran Anda.

Terdakwa berdiri diatas panggung pengadilan dalam pikiran Anda, Anda adalah jaksa penuntutnya. Anda tahu mereka bersalah, tetapi supaya adil, Anda harus menbuktikannya kepada hakim, kepada hati nurani Anda terlebih dahulu. Anda lalu meluncur kedalam rekontruksi "kejahatan" yang melawan anda.

Anda menuduhkan segala jenis kedengkian, sifat bermuka dua, dan niat buruk di balik semua perbuatan terdakwa. Anda mengungkit kembali semua kejahatan mereka pada masa silam untuk meyakinkan hati nurani anda bahwa mereka tak pantas untuk dikasihani.

Dalam pengadilan nyata, terdakwa juga punya pengacara yang diizinkan untuk bersuara. Tetapi dalam pengadilan bathin, Anda dalam sedang proses menbenarkan kemarahan Anda. Jadi tidak ada pengacara untuk membela terdakwa. Dalam argumentasi yang berat sebelah, Anda sudah menbangun kasus yang meyakinkan Dan itu sudah lumayan bagus, Dan sudah pastinya Anda sebagai si Jaksa penuntut lah yang menang. Dan HAKIM yang diwakili oleh Hati anda akan mengetok palu dan memutuskan si terdakwa B E R S A L A H. Dan sekarang barulah kita merasa tidak masalah atau boleh saja kita marah kepada mereka.

Beberapa tahun yang lampau inilah proses yang saya alami terjadi dalam pikiran saya bilamana saya marah. Dan sekarang saya sadar itu tidaklah adil. JADI lain kali ketika saya ingin marah kepada seseorang, saya diam sejenak untuk menbiarkan "pengacara" pembela terdakwa menyatakan pembelaannya. Saya merenungkan alasan-alasan dan penjelasan masuk akal tentang perilaku terdakwa. Saya mementingkan indahnya pemberian maaf. Sungguh malangnya orang yang masih diliputi oleh kebodohan tersebut. Saya menemukan bahwa suara hati tidak lagi menbolehkan adanya putusan bersalah. jadilah tidak mungkin untuk menghakimi perilaku orang lain. Kemarahan, karena tak dicari pembenarannya, akhirnya kelaparan dan mati.

Cerita diatas dikutip dari BUKU :
"Membuka Pintu Hati", Judul Asli "Opening the door of your Heart"
Penulis : Ajahn Brahm
Penerbit : KARANIYA (www.karaniya.com), ehipassiko (www.ehipassiko.net)
Aku akan melaksanakannya dengan tubuhku,
Karena apa gunanya hanya membaca kata-kata belaka?
Apakah mempelajari obat-obatan saja
Dapat menyembuhkan yang sakit?
[Bodhicaryavatara, Bodhisattva Shantideva]

Offline Hikoza83

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.296
  • Reputasi: 60
  • Gender: Male
  • panda is so cute... ^-^
Re: story of life
« Reply #87 on: 21 October 2008, 06:29:08 PM »
Xuan Zhang :
Cendikiawan Muda pada Zaman Dinasti Tang

Seorang biksu muda pada masa Dinasti Tang melakukan perjalanan ke India untuk belajar agama Buddha. Dialah yang menerjemahkan naskah-naskah kitab suci ke dalam bahasa Mandarin.

(.or.id) - Nama Sun Go Kong bagi masyarakat kita sudah tidak asing lagi. Sebuah stasiun televisi swasta pernah menayangkan film serial "Kera Sakti" ini sampai berulang-ulang. Sun Go Kong dikenal karena kesaktiannya melawan segala jenis siluman. Selain dia, tokoh sentral lainnya dalam film ini adalah biksu Tong yang selalu mengendalikannya selama perjalanannya ke Barat mencari kitab suci.

Pertanyaannya, apakah tokoh Hsuan-tsang yang dalam cerita serial "Kera Sakti" terkenal sebagai biksu Tong itu benar-benar pernah hidup di Tiongkok? Dari beberapa literatur yang ada menunjukkan bahwa tokoh Hsuan-tsang ini adalah seorang biksu yang ditasbihkan pada umur 13 tahun dan hidup di Tiongkok sekitar tahun 602-664, dikenal juga dengan nama aslinya Chen-I, mendapatkan gelar San-Tsang atau Mu-Ch'a-T'i-P'o (Moksadeva) atau Yuan-tsang (di Jepang dikenal dengan nama Genjo). Beliau tercatat sebagai biksu dan penziarah dari Tiongkok yang terbesar sepanjang sejarah dan hidup pada masa Dinasti Tang (618-907), yang menunggang kuda melakukan perjalanan ke India melewati Himalaya selama 4 tahun perjalanan (dalam usia 23 tahun).

Beliau sempat tinggal selama 10 tahun di India untuk mempelajari dan menerjemahkan berbagai kitab Sansekerta Tripitaka ke dalam bahasa China, dan kembali ke Tiongkok pada tahun 645 dengan membawa pulang 658 teks agama Buddha dan berbagai sutra Mahayana. Karya terjemahannya dan juga tulisan perjalanannya ke Asia Tengah dan India yang penuh dengan data yang akurat merupakan suatu fakta sejarah tak ternilai bagi para sejarawan dan arkeologis saat ini. Nama beliau dapat disejajarkan dengan para sesepuh Mahayana (Tripitaka Master) seperti Mahadeva, Asvaghosa, Nagarjuna, Atisa, Vasubandhu, Bodhidharma, Shanti-Deva, Asanga, Arya-Deva, Tao-An, Kumarajiva, Kobo-Daishi termasuk Buddhaghosa (Theravada).

Mengembara ke India

Terlahir dalam keluarga cendekiawan turun-temurun yang menganut paham Confucianis di mana atas pengaruh kakaknya yang menyenangi agama Buddha, akhirnya mereka berdua melakukan perjalanan ke Ch'ang-an dan kemudian ke Ssu-ch'uan (sekarang Szechwan) guna menghindari konflik politik yang terjadi. Semasa berada di Ssu-ch'uan, Hsuan-tsang mulai mempelajari filosofi Buddhis tetapi menemukan banyak sekali perbedaan dan kontradiksi dari berbagai kitab yang dibacanya. Karena tidak menemukan jawaban yang memuaskan dari gurunya, akhirnya beliau memutuskan untuk pergi ke India.

Hsuan-tsang muda melakukan perjalanan ke utara di Padang Pasir Takla Mak'an melewati sumber mata air Turfan, Karashar, Kucha, Tashkent dan Samarkand untuk kemudian memasuki Gerbang Besi Bactria, melewati pegunungan Hindu Kush sampai ke Kapisha, Gandhara, dan Kashmir di sebelah Tenggara India. Dari sana beliau menaiki perahu menjelajahi sepanjang Sungai Gangga sampai ke Mathura, dan mencapai tanah suci agama Buddha di bagian timur Sungai Gangga pada 633. Hsuan-tsang mulai mengunjungi berbagai tempat keramat yang berkaitan dengan kehidupan sang Buddha di sepanjang sungai Timur sampai Barat.

Kemudian sebagian besar waktunya dihabiskan di Nalanda (pimpinan universitas saat itu adalah Silabhadra yang bergelar 'Mustika Kebenaran') yang merupakan satu-satunya pusat pengkajian Buddha yang terbesar saat itu. Hsuan-tsang muda mempelajari bahasa Sansekerta, filsafat Buddhis dan filsafat India. Sewaktu berada di India, Hsuan-tsang terkenal akan kecendekiawanannya, sehingga raja yang berkuasa di India bagian utara, Raja Harsa menemui secara pribadi untuk memberikan penghargaan kepadanya. Akhirnya dengan bantuan dari Raja Harsa, beliau dapat menyelesaikan tugasnya dan kembali ke Tiongkok (tahun 643) dengan fasilitas yang disediakan oleh Raja berupa 20 ekor kuda yang membawa 527 peti naskah.

Kembali ke Tiongkok

Hsuan-tsang kembali ke Ch'ang-an (ibu kota negara T'ang) pada 645 setelah meninggalkan negaranya selama 16 tahun. Beliau disambut dengan meriah di ibu kota dan beberapa hari kemudian di depan khalayak ramai, Raja menawarkan posisi menteri di pemerintahan dengan pertimbangan bahwa Hsuan-tsang mempunyai pengalaman luas di berbagai negara asing. Namun terdorong oleh niatnya yang besar untuk mengabdi dalam Buddha, beliau menolak secara halus penawaran Raja tsb. Hsuan-tsang menghabiskan sisa waktunya dengan menerjemahkan sekitar 657 naskah yang dikemas dalam 520 peti (literatur lain menuturkan 527 peti) yang dibawanya kembali dari India.

Beliau menyelesaikan 73 naskah (literatur lain menyebutkan 75 naskah) yang terbagi atas 1,330 bagian, di mana sebagian besar merupakan rujukan utama dalam Tripitaka Mahayana seperti Prajnaparamita Hrdaya Sutra, naskah Yogacara, Madhyamaka dan naskah Vasubandhu yakni Trimsika atau dikenal juga dengan nama Vijnaptimatrasiddhi. Selain itu terdapat juga naskah dari sejumlah sekte lainnya seperti dari Hinayana, Theravada, Vinaya, Mahasanghika dan Risalah, termasuk naskah pengetahuan umum dan naskah tata bahasa.

Pokok-pokok Pikirannya

Karya Hsuan-tsang lebih berdasarkan filsafat ajaran Yogacara (Vijnanavada/Wei-shih cung) yang dikembangkan oleh Asanga dan Vasabhandhu, di mana bersama dengan muridnya K'uei-chi (632-682) mendirikan sekte Wei-shih (Hanya Kesadaran/Vijnana) yang tertuang dalam karya Hsuan-tsang , Ch'eng-wei-shih-lun (Treatise on the Establishment of the Doctrine of Consciousness Only) yang menjelaskan bagaimana bisa terdapat suatu dunia emperikal yang umum untuk setiap individu yang memiliki badan dan penyerapan yang berbeda dapat merupakan pembentuk pikiran bersama terhadap suatu tujuan tertentu. Menurut Hsuan-tsang, benih karma universal yang tersimpan dalam gudang kesadaran (alayavijnana) merupakan pembentuk umum dan benih karma tertentu sebagai pembentuk pembeda masing-masing individu.

Pokok utama ajaran ini mengatakan bahwa seluruh dunia ini terbentuk karena pikiran. Bentuk-bentuk tampak luar adalah tidak nyata (maya), tidak ada yang nyata diluar pikiran. Pendapat umum tentang adanya bentuk luar hanyalah disebabkan konsepsi yang salah dimana dapat dihilangkan dengan proses meditasi yang menarik kembali semua bentuk luar yang bersifat maya tersebut (semacam vipassana bhavana). Benih karma merupakan pembentuk pancaskandha yang terkumpul dalam gudang kesadaran dimana membentuk pikiran atas keberadaan dunia luar berdasarkan persepsi dan cita. Gudang kesadaran inilah yang harus disucikan dari dualitas subyek-obyek dan keberadaan yang maya dengan menempatkannya pada alam kemurnian yang dapat disamakan dengan kenyataan atau kesamaan yang menunjukkan sifat dasar dari semua benda sesuai apa yang telah ditentukan (tathata). Alam kesadaran inilah yang dicapai oleh para Bodhisattva sebagaimana tercermin dari konsep Trikaya.

Perkembangan Ajaran

Pokok pikiran ajaran tersebut sempat populer pada masa kehidupan Hsuan-tsang dan K'uei-chi , tetapi karena filsafat dan terminologi ajaran tersebut yang kurang dimengerti dan sulit dicerna secara umum, demikian juga bentuk pemahaman yang berkaitan dengan analisa pikiran dan perasaan merupakan suatu hal yang asing bagi tradisi di Tiongkok saat itu, maka dengan meninggalnya Hsuan-tsang dan K'uei-chi, sekte ini pun akhirnya mengalami kemerosotan. Pada saat meninggalnya Hsuan-tsang, Raja T'ang mengumumkan hari berkabung nasional selama tiga hari guna menghormati segala pengorbanan yang telah dilakukan oleh Hsuan-tsang yang ditunjukkan oleh pengabdiannya yang tanpa pamrih dalam mengembangkan Buddhisme di Tiongkok.

Tercatat dalam beberapa literatur bahwa pada masa kehidupan Hsuan-tsang, terdapat seorang biksu Jepang yang bernama Dosho sempat singgah ke Tiongkok pada tahun 653 dan belajar di bawah bimbingan Hsuan-tsang, di mana sesudah menyelesaikan pelajarannya, biksu Dosho kembali ke Jepang untuk mengenalkan doktrin tersebut, dan kemudian menjadi terkenal akan Vihara Gongo. Selama abad ke-7 dan ke-8, sekte ini dikenal dengan nama Hosso (Fa-hsiang) dan merupakan sekte yang paling mempengaruhi semua sekte Buddhis yang ada di Jepang sampai saat ini. Biksu Dosho merupakan biksu pertama di Jepang yang jasadnya dikremasikan secara Buddhis. Selain di Jepang, ajaran Hsuan-tsang juga menyebar ke Korea.

Selain melakukan penerjemahan naskah-naskah, Hsuan-tsang juga menulis cerita perjalanannya ke Barat (India) yang diberi judul Ta-T'ang Hsi-yu-chi (Catatan Perjalanan ke Barat semasa Dinasti T'ang Agung), merupakan suatu catatan dari berbagai negara yang dilewatinya sewaktu melakukan perjalanan ke Barat mengambil kitab suci.

Sumber : http://www..or.id/k_10_art_02.htm
Aku akan melaksanakannya dengan tubuhku,
Karena apa gunanya hanya membaca kata-kata belaka?
Apakah mempelajari obat-obatan saja
Dapat menyembuhkan yang sakit?
[Bodhicaryavatara, Bodhisattva Shantideva]

Offline Mr. Bagus

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 349
  • Reputasi: 12
  • Gender: Male
  • Sedang Apa
Re: story of life
« Reply #88 on: 24 November 2008, 06:00:05 PM »
bagus, bagus, bagus :jempol:
:x Persepsi yang saya dapat dari pengalaman saya sendiri sebagai orang buta tidak bisa dibandingkan dengan orang yang melihat dengan terang. >:)<

Offline Mr. Bagus

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 349
  • Reputasi: 12
  • Gender: Male
  • Sedang Apa
Re: story of life
« Reply #89 on: 25 November 2008, 04:05:50 PM »
Penumpang yang Bijak
Author: kata pembicara di vihara sih dari internet

Saya sampaikan dengan gaya saya, ya.

Suatu ketika ada seorang pemuda duduk di sebuah halte antar kota di Paris. Ia sedang menunggu bus untuk jurusan kota C. Tak berapa lama, bus yang menuju kota A tiba dan berhenti di halte tempat pemuda tersebut duduk. Tak berapa lama, seorang wanita tua dengan sigap turun dan duduk di sebelah pemuda tersebut. Bus tersebut pun pergi.

Dengan hangat si pemuda menyapa wanita tua itu.
"Nenek hendak ke mana?" tanyanya.
'Saya hendak pulang, rumah saya di kota A' jawab wanita tua itu dengan ramah.
Si pemuda termenung sesaat kemudian dengan heran bertanya "Lho, bukannya bus tadi menuju kota A, nek?"
'Ya. Bus tersebut memang menuju ke kota saya' jawabnya pelan.
"Lalu mengapa nenek turun dan menunggu bus berikutnya?" tanya si pemuda tambah heran. (saudara-saudara yg membacanya juga ikut heran ga? hihi ;D soalnya saya sendiri awalnya juga heran, malah saya berpikir apa nenek ini sudah pikun :hammer: )
'Di halte sebelumnya bus berhenti untuk menaikkan penumpang yaitu seorang pemuda, saya melihat ia dengan susah payah memegang besi pegangan di atas kepalanya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya memegang dan mengepit tongkat yg digunakannya sebagai alat bantu berjalan. Sewaktu bus berjalan, saya melihatnya sangat kesulitan dalam berdiri. Namun karena tidak ada seorang penumpang pun yg berdiri untuk memberi tempatnya maka saya  memutuskan untuk memberinya tempat untuk duduk. Tapi bila saya memberinya tempat duduk sementara saya berdiri maka penumpang lain akan merasa malu kepada nenek-nenek seperti saya. Dan pemuda yang berdiri pun akan menolak tawaran saya. Jadi saya pura-pura berdiri dan menuju pintu bus sehingga tidak ada yang dikecewakan, lagi pula saya masih bisa menuju kota A dengan bus berikutnya.' ujar wanita tua tersebut dengan sinar mata bahagia.
"saya ikut bermudita citta atas kebajikan yg dilandasi kebijaksanaan nenek" sahut si pemosting (hehehe :P , akhirnya ikut Mr. Bagus ikut tampil dalam cerita ini  :-[  8) )
mohon maaf pada penceramah di vihara, cerita ini saya ceritakan menggunakan Mr. Bagus version 1.1 ^:)^

Dalam rangka mensukseskan Pilkada, saya mencalonkan diri jadi Caleg di dhammacitta ini, mohon dukungan tiap rakyat Dhammacitta. 1 suara GRP sudah cukup dari seluruh rakyat DC  ^:)^  :-? adalah kebahagian bagi saya jika 1254 total members memberi 1 GRP hihi
ket: 1254 berdasarkan quick count menu members  :>-
:x Persepsi yang saya dapat dari pengalaman saya sendiri sebagai orang buta tidak bisa dibandingkan dengan orang yang melihat dengan terang. >:)<