Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Just My Little Thought  (Read 37780 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline neutral

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.510
  • Reputasi: 89
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Just My Little Thought
« Reply #45 on: 11 August 2013, 12:16:37 PM »
cuman perasaan anda  ;D
Be it one day or a hundred day..Say good bye..it's hearbeat..no one ever prepared

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Just My Little Thought
« Reply #46 on: 11 August 2013, 12:40:16 PM »
cuman perasaan anda  ;D

Yeah, just my little thought...

Thx sis :)
« Last Edit: 11 August 2013, 12:42:46 PM by ariyakumara »
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline cumi polos

  • Sebelumnya: Teko
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.129
  • Reputasi: 82
  • Gender: Male
  • mohon transparansinya
Re: Just My Little Thought
« Reply #47 on: 11 August 2013, 05:01:08 PM »
Udah lama gak update thread ini, so this is it.... ;D

Semalam menjelang tidur entah apa sebabnya tiba-tiba perasaan yang tidak enak seperti sesuatu yang buruk telah terjadi pada orang yang kusayangi. Saat itu jam 10.30 malam adikku belum pulang dari rumah temannya. Aku berpikir mungkin terjadi sesuatu padanya. Tenyata tidak, tak lama kemudian ia pulang dan tidak terjadi apa2 pada dirinya. Jadi, keluargaku tidak mengalami apa2 malam itu. Mengherankan, tetapi perasaan tidak hilang sampai akhirnya aku tertidur.

Aku pikir itu mungkin hanya perasaan saja, bukan apa2. Tetapi hari ini jam 10.30 tadi pagi tiba-tiba perasaan tidak enak itu muncul kembali. Pagi ini aku berniat berdana makanan kepada para bhikkhu dan aku pun pergi berdana makanan jam 11 siang tadi. Disertai perasaan tidak enak tersebut, aku melimpahkan jasa2 agar jasa kebajikan yang kulakukan dapat melindungi diriku dan orang-orang yang kucintai. Tetapi perasaan tsb tidak hilang begitu saja. Sampai akhirnya aku melakukan beres2 rumah bersama keluargaku, perasaan itu perlahan-lahan lenyap.

Mungkin ini hanya bentukan pikiran (sankhara) yang muncul, bertahan sebentar, dan lenyap.....
kemungkinan dgn berdana makanan...karma buruknya tidak jadi nongol...cuma yg nongol adalah perasaan tidak enak...

coba cari tao...penyebab2 apa saja yg membuat karma buruk tidak nongol...
merryXmas n happyNewYYYY 2018

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Just My Little Thought
« Reply #48 on: 11 August 2013, 05:52:57 PM »
kemungkinan dgn berdana makanan...karma buruknya tidak jadi nongol...cuma yg nongol adalah perasaan tidak enak...

coba cari tao...penyebab2 apa saja yg membuat karma buruk tidak nongol...


Gak mungkin karma buruk bisa dinetralisir, tetapi memang bisa dikurangi efeknya:

Anguttara Nikaya 3.100 Lonaphala Sutta: Segumpal Garam

“Para bhikkhu, jika seseorang mengatakan sebagai berikut: ‘Seseorang mengalami kamma dengan cara yang persis sama dengan cara ia melakukannya,’ dalam kasus demikian maka tidak ada menjalani kehidupan spiritual dan tidak ada kesempatan yang terlihat untuk sepenuhnya mengakhiri penderitaan.<546> Tetapi jika seseorang mengatakan sebagai berikut: ‘Ketika seseorang melakukan kamma, maka hal itu akan dialami dalam cara tertentu, ia mengalalami akibatnya dalam cara itu,’ dalam kasus itu maka menjalani kehidupan spiritual adalah mungkin dan suatu kesempatan terlihat untuk sepenuhnya mengakhiri penderitaan.<547>

“Di sini, para bhikkhu, seseorang telah melakukan kamma buruk yang sepele namun hal itu mengarahkannya menuju neraka, sedangkan seorang lainnya di sini melakukan kamma yang sepele yang persis sama namun hal itu dialami dalam kehidupan ini, bahkan tanpa sedikit [sisa] yang terlihat, apalagi banyak [sisa].

“Orang jenis apakah yang melakukan kamma buruk yang sepele yang mengarahkannya menuju neraka? Di sini, seseorang tidak terkembang dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan; ia terbatas dan memiliki karakter rendah,<548> dan ia berdiam dalam penderitaan.<549> Ketika orang demikian melakukan kamma buruk yang sepele, maka itu akan mengarahkannya menuju neraka.

“Orang jenis apakah yang melakukan kamma buruk yang sepele yang persis sama namun hal itu dialami dalam kehidupan ini, bahkan tanpa sedikit [sisa] yang terlihat, apalagi banyak [sisa]? Di sini, seseorang terkembang dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan. Ia tidak terbatas dan memiliki karakter mulia, dan ia berdiam tanpa batas.<550> Ketika orang demikian melakukan kamma buruk yang sepele yang persis sama, maka hal itu dialami dalam kehidupan ini, bahkan tanpa sedikit [sisa] yang terlihat, apalagi banyak [sisa].<551> [250]

(1) “Misalkan seseorang menjatuhkan segumpal garam ke dalam semangkuk kecil air. Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu? Apakah gumpalan garam itu membuat sedikit air dalam mangkuk<552> itu menjadi asin dan tidak dapat diminum?”

“Benar, Bhante. Karena alasan apakah? Karena air di dalam mangkuk itu terbatas, dengan demikian gumpalan garam itu akan membuatnya asin dan tidak dapat diminum.”

“Tetapi misalkan seseorang menjatuhkan segumpal garam ke dalam sungai Gangga. Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu? Apakah gumpalan garam itu membuat sungai Gangga itu menjadi asin dan tidak dapat diminum?”

“Tidak, Bhante. Karena alasan apakah? Karena sungai Gangga berisikan banyak air dengan demikian gumpalan garam itu tidak akan membuatnya asin dan tidak dapat diminum.”

“Demikian pula, para bhikkhu, seseorang di sini telah melakukan kamma buruk yang sepele namun hal itu mengarahkannya menuju neraka, sedangkan seorang lainnya di sini melakukan kamma buruk yang sepele yang persis sama namun hal itu dialami dalam kehidupan ini, bahkan tanpa sedikit [sisa] yang terlihat, apalagi banyak [sisa].

“Orang jenis apakah yang melakukan kamma buruk yang sepele yang mengarahkannya menuju neraka? Di sini, seseorang tidak terkembang dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan. Ketika orang demikian melakukan kamma buruk yang sepele, maka itu akan mengarahkannya menuju neraka.

“Orang jenis apakah yang melakukan kamma buruk yang sepele yang persis sama namun hal itu dialami dalam kehidupan ini, bahkan tanpa sedikit [sisa] yang terlihat, apalagi banyak [sisa]? Di sini, seseorang terkembang dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan. Ketika orang demikian melakukan kamma buruk yang sepele yang persis sama, maka hal itu dialami dalam kehidupan ini, bahkan tanpa sedikit [sisa] yang terlihat, apalagi banyak [sisa].

(2) “Di sini, para bbhikkhu, seseorang dipenjara karena [mencuri] setengah kahāpaṇa, satu kahāpaṇa, [251] atau seratus kahāpaṇa,<553> sedangkan seorang lainnya tidak dipenjara karena [mencuri] sejumlah uang yang sama.

“Orang jenis apakah yang dipenjara karena [mencuri] setengah kahāpaṇa, satu kahāpaṇa, atau seratus kahāpaṇa? Di sini, seseorang yang miskin, dengan sedikit harta dan kekayaan. Orang seperti itu akan dipenjara karena [mencuri] setengah kahāpaṇa, satu kahāpaṇa, atau seratus kahāpaṇa.

“Orang jenis apakah yang tidak dipenjara karena [mencuri] setengah kahāpaṇa, satu kahāpaṇa, atau seratus kahāpaṇa? Di sini, seseorang yang kaya, dengan banyak harta dan kekayaan. Orang seperti itu tidak akan dipenjara karena [mencuri] setengah kahāpaṇa, satu kahāpaṇa, atau seratus kahāpaṇa.

“Demikian pula, para bhikkhu, seseorang di sini telah melakukan kamma buruk yang sepele namun hal itu mengarahkannya menuju neraka, sedangkan seorang lainnya di sini melakukan kamma yang sepele yang persis sama namun hal itu dialami dalam kehidupan ini, bahkan tanpa sedikit [sisa] yang terlihat, apalagi banyak [sisa].

“Orang jenis apakah yang melakukan kamma buruk yang sepele yang mengarahkannya menuju neraka? Di sini, seseorang tidak terkembang dalam jasmani … dan kebijaksanaan. Ketika orang demikian melakukan kamma buruk yang sepele, maka itu akan mengarahkannya menuju neraka.

“Orang jenis apakah yang melakukan kamma buruk yang sepele yang persis sama namun hal itu dialami dalam kehidupan ini, bahkan tanpa sedikit [sisa] yang terlihat, apalagi banyak [sisa]? Di sini, seseorang terkembang dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan. Ketika orang demikian melakukan kamma buruk yang sepele yang persis sama, maka hal itu dialami dalam kehidupan ini, bahkan tanpa sedikit [sisa] yang terlihat, apalagi banyak [sisa].

(3) “Para bhikkhu, ambil kasus seorang pedagang domba atau tukang daging, [252] yang dapat mengeksekusi, memenjarakan, mendenda, atau setidaknya menghukum seseorang yang mencuri seekor dombanya tetapi tidak dapat melakukannya kepada orang lain yang mencuri dombanya.

“Orang jenis apakah<554> yang dapat dieksekusi, dipenjara, didenda, atau setidaknya dihukum oleh si pedagang domba atau tukang daging karena mencuri seekor domba? Seorang yang miskin, dengan sedikit harta dan kekayaan. Si pedagang domba atau tukang daging dapat mengeksekusi, memenjarakan, mendenda, atau setidaknya menghukum seorang demikian karena mencuri dombanya.

“Orang jenis apakah yang tidak dapat dieksekusi, dipenjara, didenda, atau setidaknya dihukum oleh si pedagang domba atau tukang daging karena mencuri seekor domba? Seorang yang kaya, dengan banyak uang dan kekayaan, seorang raja atau menteri kerajaan. Si pedagang domba atau tukang daging tidak dapat mengeksekusi, memenjarakan, mendenda, atau setidaknya menghukum seorang demikian karena mencuri dombanya. Ia hanya dapat memohon kepadanya: ‘Tuan, kembalikanlah dombaku atau bayarlah.’

“Demikian pula, para bhikkhu, seseorang di sini telah melakukan kamma buruk yang sepele namun hal itu mengarahkannya menuju neraka, sedangkan seorang lainnya di sini melakukan kamma yang sepele yang persis sama namun hal itu dialami dalam kehidupan ini, bahkan tanpa sedikit [sisa] yang terlihat, apalagi banyak [sisa].

“Orang jenis apakah yang melakukan kamma buruk yang sepele yang mengarahkannya menuju neraka? Di sini, seseorang tidak terkembang dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan; ia terbatas dan memiliki karakter rendah, dan ia berdiam dalam penderitaan. Ketika orang demikian [253] melakukan kamma buruk yang sepele, maka itu akan mengarahkannya menuju neraka.

“Orang jenis apakah yang melakukan kamma buruk yang sepele yang persis sama namun hal itu dialami dalam kehidupan ini, bahkan tanpa sedikit [sisa] yang terlihat, apalagi banyak [sisa]? Di sini, seseorang terkembang dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan. Ia tidak terbatas dan memiliki karakter mulia, dan ia berdiam tanpa batas. Ketika orang demikian melakukan kamma buruk yang sepele yang persis sama, maka hal itu dialami dalam kehidupan ini, bahkan tanpa sedikit [sisa] yang terlihat, apalagi banyak [sisa].

“Jika, para bhikkhu, seseorang mengatakan sebagai berikut: ‘Seseorang mengalami kamma dengan cara yang persis sama dengan cara ia melakukannya,’ dalam kasus demikian maka tidak ada menjalani kehidupan spiritual dan tidak ada kesempatan yang terlihat untuk sepenuhnya mengakhiri penderitaan. Tetapi jika seseorang mengatakan sebagai berikut: ‘Ketika seseorang melakukan kamma, maka hal itu akan dialami dalam cara tertentu, ia mengalalami akibatnya dalam cara itu,’ dalam kasus itu maka menjalani kehidupan spiritual adalah mungkin dan suatu kesempatan terlihat untuk sepenuhnya mengakhiri penderitaan.”

http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,23775.msg433766.html#msg433766
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Shasika

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.152
  • Reputasi: 101
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Just My Little Thought
« Reply #49 on: 11 August 2013, 08:26:09 PM »
Beruntung sekali anda mendapat feeling duluan, sehingga anda bisa mengantisisapi (antipasi) dengan berdana kepada sangha, kita semua udah tahu bahwa umat Buddha itu amat BERUNTUNG sekali, karena PAHAM dengan jelas bagaimana menghindari kamma buruk, yaitu BERDANA.
I'm an ordinary human only

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Just My Little Thought
« Reply #50 on: 11 August 2013, 09:06:21 PM »
Beruntung sekali anda mendapat feeling duluan, sehingga anda bisa mengantisisapi (antipasi) dengan berdana kepada sangha, kita semua udah tahu bahwa umat Buddha itu amat BERUNTUNG sekali, karena PAHAM dengan jelas bagaimana menghindari kamma buruk, yaitu BERDANA.

Sadhu... sadhu... sadhu... _/\_
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline cumi polos

  • Sebelumnya: Teko
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.129
  • Reputasi: 82
  • Gender: Male
  • mohon transparansinya
Re: Just My Little Thought
« Reply #51 on: 12 August 2013, 07:45:23 AM »
Beruntung sekali anda mendapat feeling duluan, sehingga anda bisa mengantisisapi (antipasi) dengan berdana kepada sangha, kita semua udah tahu bahwa umat Buddha itu amat BERUNTUNG sekali, karena PAHAM dengan jelas bagaimana menghindari kamma buruk, yaitu BERDANA.
lebih baik lagi begitu ada kesempatan lakukan berdana...
tidak menunggu sampai firasat gak enak...
merryXmas n happyNewYYYY 2018

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Just My Little Thought
« Reply #52 on: 12 August 2013, 10:04:38 AM »
 [at] cumpol:
Seharusnya memang spt itu... :)
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Just My Little Thought
« Reply #53 on: 19 October 2013, 02:11:24 PM »
Semalam pembicaraan di sebuah group BB menimbulkan pemikiran tersendiri bagiku. Yang menjadi pokok pembicaraan adalah seputar pertanyaan "Apakah uang itu penting?" dan umumnya orang-orang menjawab "Walaupun uang itu bukan segalanya, uang itu penting karena uang dapat memenuhi kebutuhan kita, menaikkan martabat/harga diri (prestise) kita di mata orang-orang, memenuhi keinginan kita, dst." Tentu saja pandangan secara Buddhis tidak mempermasalahkan uang karena uang hanyalah alat/objek untuk memenuhi keinginan indera. Keinginan indera yang tidak pernah terpuaskan itu sendirilah yang menjadi sumber masalah.

Lalu timbul pertanyaan dalam benakku, "Sampai kapan kita mengumpulkan uang/harta?". Pandangan secara Buddhis sudah jelas tentang hal ini, namun kali ini aku hanya menulis dari pandangan pribadiku sendiri. Sebuah potongan lirik lagu Mandarin yang cukup jadul menginspirasi pemikiranku ini:

"Ketika kamu sudah berada di puncak dunia, mengapa kamu berusaha menggapai langit biru?
Akan lebih baik jika kamu beristirahat.
"


Setiap orang memiliki puncak dunia masing-masing; ada yang mencapai puncaknya pada usia belia, ada yang mencapainya pada usia pertengahan, ada yang mencapainya pada usia senja, atau mungkin ada yang tidak pernah mencapainya sama sekali. Bagi kita yang belum mencapai puncak dunia, anggaplah saat ini sudah berada di puncak dunia. Pandanglah mereka yang masih di bawah sana. Lebih banyak mereka yang masih di bawah kita. Ibarat mendaki gunung, semakin ke atas semakin sedikit orang yang dapat ditemui, sanggupkah kita menahan kesendirian di atas sana?

Oleh sebab itu, jika sudah berada di puncak dunia, untuk apakah menggapai langit lagi?
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Mengantar Nenek yang Tersesat di Jalan
« Reply #54 on: 03 November 2013, 02:16:43 PM »
Tadi siang sepulang dari vihara dan kelenteng (karena hari ini cwee it ada teman yang ngajak ke kelenteng sehabis dari kebaktian di vihara), ketika melewati jalan kecil (lorong) yang menuju ke arah rumah, terlihat seorang nenek yang rambutnya sudah putih semua tengah kebingungan. Saya menghampiri sang nenek tsb dan ternyata sang nenek sedang mencari arah jalan keluar dari lorong tsb menuju jalan raya. "Mau mencari ojek untuk kelenteng", begitu kata sang nenek dalam bahasa Chinese (Teo chew kalo gak salah). Karena merasaa kasihan, saya antar nenek tersebut ke jalan raya.

Sampai di depan lorong ternyata jalan sepi gak ada ojek. Saya ragu mau meninggalkan sang nenek sendirian di sana mencari ojek, jadi saya tanya: "Nenek mau ke kelenteng mana?".

"Kelenteng yang di sana", jari sang nenek menunjuk ke arah tertentu (yang menurut saya adalah jalan menuju suatu kelenteng yang saya tahu daerahnya).

"Kelenteng di daerah Koni?"

"Bukan."

"Kampung Manggis?"

"Bukan. Tapi yang di sana", jawabnya sembari menunjuk ke arah tertentu tsb. Karena saya cuma tahu 2 kelenteng itu, saya bertanya:

"Nenek tahu jalannya?"

"Tahu."

"Kalo gitu saya antar saja," kataku tanpa berpikir panjang.

Saya membonceng sang nenek ke arah yang ditunjuknya. Ketika ada jalan yang berbelok, saya tanya ke arah mana, beliau menunjuk ke arah jalan yang menurutnya menuju kelenteng tsb. Tetapi ternyata nenek itu udah pikun. Setengah jam kami hanya berputar-putar tidak tentu arah. Akhirnya ia menunjuk ke arah persimpangan. Ketika sampai di persimpangan tsb, beliau bingung mau ke arah mana. Persimpangan itu kalo belok kiri atau lurus bisa ke salah kelenteng yang saya maksud di atas, tetapi sang nenek menjawab bukan.

Kemudian nenek itu meminta diturunkan di persimpangan itu saja, biar ia cari ojek sendiri. Saya pikir, kalo beliau tidak ingat arah jalannya, bagaimana mungkin tukang ojek mau mengantarnya ke tujuan. Akhirnya saya antar sang nenek kembali ke jalan di mana kami bertemu pertama kali. Sampai di sana, sang nenek mengucapkan terima kasih dan berjalan pulang ke rumahnya yang berada di dekat sana.

Sambil menatap kepergian sang nenek, dalam hati saya berkata: "Kapok gw, lain kali kalo ada nenek yang tersesat langsung antar pulang saja ke rumahnya...." :hammer:
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline cumi polos

  • Sebelumnya: Teko
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.129
  • Reputasi: 82
  • Gender: Male
  • mohon transparansinya
Re: Just My Little Thought
« Reply #55 on: 03 November 2013, 07:13:35 PM »
sebaiknya dibonceng pula biar bisa berkenalan dgn cucu2 nya yg cantik.. :-[
merryXmas n happyNewYYYY 2018

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Just My Little Thought
« Reply #56 on: 03 November 2013, 10:06:54 PM »
sebaiknya dibonceng pula biar bisa berkenalan dgn cucu2 nya yg cantik.. :-[

Oh iya ya. Kenapa gak kepikiran ke sana....  ::)
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Shasika

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.152
  • Reputasi: 101
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Just My Little Thought
« Reply #57 on: 03 November 2013, 10:21:40 PM »
Semalam pembicaraan di sebuah group BB menimbulkan pemikiran tersendiri bagiku. Yang menjadi pokok pembicaraan adalah seputar pertanyaan "Apakah uang itu penting?" dan umumnya orang-orang menjawab "Walaupun uang itu bukan segalanya, uang itu penting karena uang dapat memenuhi kebutuhan kita, menaikkan martabat/harga diri (prestise) kita di mata orang-orang, memenuhi keinginan kita, dst." Tentu saja pandangan secara Buddhis tidak mempermasalahkan uang karena uang hanyalah alat/objek untuk memenuhi keinginan indera. Keinginan indera yang tidak pernah terpuaskan itu sendirilah yang menjadi sumber masalah.

Lalu timbul pertanyaan dalam benakku, "Sampai kapan kita mengumpulkan uang/harta?". Pandangan secara Buddhis sudah jelas tentang hal ini, namun kali ini aku hanya menulis dari pandangan pribadiku sendiri. Sebuah potongan lirik lagu Mandarin yang cukup jadul menginspirasi pemikiranku ini:

"Ketika kamu sudah berada di puncak dunia, mengapa kamu berusaha menggapai langit biru?
Akan lebih baik jika kamu beristirahat.
"


Setiap orang memiliki puncak dunia masing-masing; ada yang mencapai puncaknya pada usia belia, ada yang mencapainya pada usia pertengahan, ada yang mencapainya pada usia senja, atau mungkin ada yang tidak pernah mencapainya sama sekali. Bagi kita yang belum mencapai puncak dunia, anggaplah saat ini sudah berada di puncak dunia. Pandanglah mereka yang masih di bawah sana. Lebih banyak mereka yang masih di bawah kita. Ibarat mendaki gunung, semakin ke atas semakin sedikit orang yang dapat ditemui, sanggupkah kita menahan kesendirian di atas sana?

Oleh sebab itu, jika sudah berada di puncak dunia, untuk apakah menggapai langit lagi?
Hahahaaaa...Ga sangkaaa...ternyata topik kita menarik dalam hati anda, baguslah.... :jempol:
UANG BUKAN SEGALANYA, walau untuk kita hidup butuh uang, tapi apalah arti uang bila kita miskin hati....yang penting kita kaya hati.... ;D


Tadi siang sepulang dari vihara dan kelenteng (karena hari ini cwee it ada teman yang ngajak ke kelenteng sehabis dari kebaktian di vihara), ketika melewati jalan kecil (lorong) yang menuju ke arah rumah, terlihat seorang nenek yang rambutnya sudah putih semua tengah kebingungan. Saya menghampiri sang nenek tsb dan ternyata sang nenek sedang mencari arah jalan keluar dari lorong tsb menuju jalan raya. "Mau mencari ojek untuk kelenteng", begitu kata sang nenek dalam bahasa Chinese (Teo chew kalo gak salah). Karena merasaa kasihan, saya antar nenek tersebut ke jalan raya.

Sampai di depan lorong ternyata jalan sepi gak ada ojek. Saya ragu mau meninggalkan sang nenek sendirian di sana mencari ojek, jadi saya tanya: "Nenek mau ke kelenteng mana?".

"Kelenteng yang di sana", jari sang nenek menunjuk ke arah tertentu (yang menurut saya adalah jalan menuju suatu kelenteng yang saya tahu daerahnya).

"Kelenteng di daerah Koni?"

"Bukan."

"Kampung Manggis?"

"Bukan. Tapi yang di sana", jawabnya sembari menunjuk ke arah tertentu tsb. Karena saya cuma tahu 2 kelenteng itu, saya bertanya:

"Nenek tahu jalannya?"

"Tahu."

"Kalo gitu saya antar saja," kataku tanpa berpikir panjang.

Saya membonceng sang nenek ke arah yang ditunjuknya. Ketika ada jalan yang berbelok, saya tanya ke arah mana, beliau menunjuk ke arah jalan yang menurutnya menuju kelenteng tsb. Tetapi ternyata nenek itu udah pikun. Setengah jam kami hanya berputar-putar tidak tentu arah. Akhirnya ia menunjuk ke arah persimpangan. Ketika sampai di persimpangan tsb, beliau bingung mau ke arah mana. Persimpangan itu kalo belok kiri atau lurus bisa ke salah kelenteng yang saya maksud di atas, tetapi sang nenek menjawab bukan.

Kemudian nenek itu meminta diturunkan di persimpangan itu saja, biar ia cari ojek sendiri. Saya pikir, kalo beliau tidak ingat arah jalannya, bagaimana mungkin tukang ojek mau mengantarnya ke tujuan. Akhirnya saya antar sang nenek kembali ke jalan di mana kami bertemu pertama kali. Sampai di sana, sang nenek mengucapkan terima kasih dan berjalan pulang ke rumahnya yang berada di dekat sana.

Sambil menatap kepergian sang nenek, dalam hati saya berkata: "Kapok gw, lain kali kalo ada nenek yang tersesat langsung antar pulang saja ke rumahnya...." :hammer:
Duuhhh...kasihan sekali si nenek ini, seharusnya anda mengantar ke klenteng yang anda tahu sambil bilang ama nenek, "Nek, ini udah sampai ke klenteng tempat nenek mau kunjungi" sehingga anda tidak sia2 hanya putar2 dan tidak jadi ke klenteng. Setelah nenek berdoa ke klenteng sapa tahu nenek itu jelmaan Dewi Kwan Im dan memberikan anda jodoh  ^-^
I'm an ordinary human only

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Just My Little Thought
« Reply #58 on: 04 November 2013, 07:51:48 AM »
Hahahaaaa...Ga sangkaaa...ternyata topik kita menarik dalam hati anda, baguslah.... :jempol:
UANG BUKAN SEGALANYA, walau untuk kita hidup butuh uang, tapi apalah arti uang bila kita miskin hati....yang penting kita kaya hati.... ;D

Kaya hati saja tdk cukup kalo tdk kaya harta
Kaya harta saja tdk cukup kalo tdk kaya hati
;D

Quote
Duuhhh...kasihan sekali si nenek ini, seharusnya anda mengantar ke klenteng yang anda tahu sambil bilang ama nenek, "Nek, ini udah sampai ke klenteng tempat nenek mau kunjungi" sehingga anda tidak sia2 hanya putar2 dan tidak jadi ke klenteng. Setelah nenek berdoa ke klenteng sapa tahu nenek itu jelmaan Dewi Kwan Im dan memberikan anda jodoh  ^-^

Sang nenek kayaknya udh lupa kelenteng yg mana. Kalo saya turunkan di satu kelenteng trus dia bil bukan, sama aja keliling2 lg. Waktu diantar pulang, dia malah minta diantar ke rmh saudaranya di pasar. Cpddd.....
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline dato' tono

  • Sebelumnya: dhanuttono
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.612
  • Reputasi: 99
  • Gender: Male
  • Namo Buddhaya...
Re: Just My Little Thought
« Reply #59 on: 04 November 2013, 09:54:06 AM »
nanggung amat, anter ke rumah nenek itu sekalian, napa tinggal di pinggir jalan...

#mikir negatif dikit
1. pas km anter nenek itu plng, si nenek menunjukan arah ke rmh nya, setelah km ikuti, ternyata ke arah kuburan, gmn tuh ? ;D

2. jgn2 si nenek adalah mahluk halus alam rendah/mahluk alam dewa yg menyamar, nguji kebaikan mu... kyak di sinetron2 gtu ;D

3. jgn2 si nenek adalah crew reality show "tolong", berhub km ga anter ke kelenteng dan meninggalkan di pinggir jlan, km ga dpt uang 5jt :))
Sesuai benih yang ditabur, demikian lah buah yang di tuai, penanam kebajikan akan memperoleh kebahagiaan.