Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Perasaan Bukan Aku Juga Bukan Diri-ku  (Read 28190 times)

0 Members and 3 Guests are viewing this topic.

Offline Sostradanie

  • Sebelumnya: sriyeklina
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.219
  • Reputasi: 43
Re: Perasaan Bukan Aku Juga Bukan Diri-ku
« Reply #90 on: 19 June 2011, 11:32:04 AM »
saya pernah ikut pelatihan yang serupa.. dan kebetulan saya mengalami hal yang serupa juga..
awal bersemangat.. lama2 juga kembali normal.. saya kemudian memikirkan kenapa itu terjadi..

penyebabnya menurut saya kira2 ada beberapa
- tidak ada sesuatu hal yang menggebrak sehingga berani bertindak ekstrim..
teman saya itu berani, karena dia harus menghidupi istri dan anaknya..
- mental block
perasaan tidak mampu.. ah saya tidak mungkin bisa dll
- comfort zone
saat ini gw sudah nyaman.. buat apa susah2..

tapi menurut saya yang paling utama adalah yang pertama.. yaitu tidak ada sesuatu yang menggebrak.. Desire itu kadang kala penting sebagai penggebrak.. Sekedar share, saya mengikuti pelatihan itu awal ditanyakan
- apa keinginan saya ?
- apakah saya benar2 menginginkannya ?
waktu itu saya memiliki keinginan.. namun karena saya tidak bener2 menginginkannya (baca : hal ini menyebabkan counter balik dan melemahkan sugesti juga), makanya saya gagal..

Ada kisah juga pada saat pelatihan, di mana memang para motivator tersebut menggali semua aspek dalam diri.. kami disuruh menggambar apa yang kami inginkan dan bercerita.. yang paling saya ingat, ada seorang ibu yang menggambar dia mengantar anaknya ke sekolah.. dan ketika dia bercerita.. dia menangis.. dia begitu ingin menemani anaknya.. namun selalu terkendala waktu karena wanita karir.. dan pada malam "pencerahan", dia bertekad untuk resign dan mengambil kerjaan yang jauh lebih sulit.. demi 1 tujuan.. mencapai financial freedom.. agar bisa menemani anaknya tanpa terikat waktu.. 
Kalau saya menilai sih, dan dari beberapa kali saya mengikuti seminar dan 'kami' membuat pelatihan di group. Orang yang biasa memakai logika jarang termotivasi, orang yang lebih sering memakai perasaan lebih mudah termotivasi.

Dan setelah tidak berhasil kita selalu mencari alasan kenapa tidak berhasil  ;D




PEMUSNAHAN BAIK ADANYA (2019)

Offline Forte

  • Sebelumnya FoxRockman
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 16.588
  • Reputasi: 458
  • Gender: Male
Re: Perasaan Bukan Aku Juga Bukan Diri-ku
« Reply #91 on: 19 June 2011, 11:37:22 AM »
Kalau saya menilai sih, dan dari beberapa kali saya mengikuti seminar dan 'kami' membuat pelatihan di group. Orang yang biasa memakai logika jarang termotivasi, orang yang lebih sering memakai perasaan lebih mudah termotivasi.

Dan setelah tidak berhasil kita selalu mencari alasan kenapa tidak berhasil  ;D
yeah bisa jadi..
namun IMHO, kita perlu intropeksi (bukan mencari alasan ya) kenapa kita tidak berhasil.
Hal ini berguna untuk mengumpulkan sebanyak mungkin informasi penyebab2 kegagalan untuk ditindaklanjuti lebih lanjut..
Kalau mencari alasan, itu tidak dianjurkan, karena sifatnya menyalahkan faktor external.
Everything can be taken from a man but one thing: the last of the human freedom—-to choose one’s attitude in any given set of circumstances, to choose one’s own way. - Viktor Frankl

Offline wang ai lie

  • Sebelumnya: anggia.gunawan
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.204
  • Reputasi: 72
  • Gender: Male
  • Terpujilah Sang Bhagava,Guru para Dewa dan Manusia
Re: Perasaan Bukan Aku Juga Bukan Diri-ku
« Reply #92 on: 19 June 2011, 11:45:57 AM »
kalau melihat keterangan sis di atas, kalau saya tidak salah menarik kesimpulan , semua tergantung dari "kesadaran" jika kita dalam "kesadaran" maka dalam pikiran kita cenderung menolak segala sugesti atau segala bentuk pikian yang di coba untuk di tanamkan kedalam pikiran kita , maaf jika salah  ;D
Namo Mahakarunikaya Avalokitesvaraya, Semoga dengan cepat saya mengetahui semua ajaran Dharma,berada dalam perahu Prajna,mencapai Sila, Samadhi, dan Prajna,berada dalam kediaman tanpa perbuatan,bersatu dengan Tubuh Agung Dharma

Offline Sostradanie

  • Sebelumnya: sriyeklina
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.219
  • Reputasi: 43
Re: Perasaan Bukan Aku Juga Bukan Diri-ku
« Reply #93 on: 19 June 2011, 12:05:21 PM »
yeah bisa jadi..
namun IMHO, kita perlu intropeksi (bukan mencari alasan ya) kenapa kita tidak berhasil.
Hal ini berguna untuk mengumpulkan sebanyak mungkin informasi penyebab2 kegagalan untuk ditindaklanjuti lebih lanjut..
Kalau mencari alasan, itu tidak dianjurkan, karena sifatnya menyalahkan faktor external.
Yah, saya setuju dengan yang ini. Tapi pada umum-nya orang mencari penyebab kegagalan bukan untuk menindak lanjuti supaya berhasil. Tapi untuk membuat dia menerima kenapa dia harus gagal.

Jika secara sains bro, bagian manakah yang bekerja dalam diri kita tentang hal ini? Ada artikel yang saya temukan :

Agar lebih menarik, maka mari kita lihat kerja emosi kecewa ini di dalam otak kita. Kita akan membahas hasil-hasil penelitian di bidang neurosains. Bagian otak yang bernama prefrontal cortex adalah bagian otak yang selalu men-scan setiap detik-detik kehidupan kita. Bagian otak ini letaknya dibalik dahi Anda. Bagian ini ibarat mata ketiga Anda yang selalu memantau setiap detik kehidupan Anda. Seperti yang kita ketahui, otak kita bekerja dengan cara menciptakan hubungan-hubungan antar sel otak (antar neuron). Hubungan antar neuron ini tercipta dengan bantuan sejenis zat kimia yang disebut neurotransmitter, atau zat kimia yang berfungsi menyampaikan pesan dari satu syaraf ke syaraf lainnya. Salah satu neurotransmitter di dalam otak kita adalah dopamin. Neurotransmitter dopamin ini merupakan neurohormon yang berperan mengatur emosi-emosi kita; suatu senyawa molekul yang menciptakan perasaan-perasaan kita.

Jika dopamin diproduksi dalam jumlah yang banyak, maka Anda akan merasa senang dan bahagia. Akan tetapi jika jumlah dopamin berkurang di dalam otak Anda, maka Anda akan merasa sedih dan kecewa. Nah, bagaimana sih kerja neuron-neuron dopamin ini? Mari kita lihat penelitian yang dilakukan oleh Wolfram Schultz dari Universitas Cambridge. Tanpa sengaja Schultz, menemukan kerja neuron dopamin ini pada eksperimen pemberian hadiah kepada kera-kera percobaannya. Dalam penelitiannya, Schultz membunyikan suatu suara keras, menunggu beberapa detik, dan kemudian memberikan beberapa tetes jus apel ke mulut seekor kera. Awalnya, neuron dopamin ini bergerak ketika tetes-tetes jus apel tersebut diberikan. Namun, hanya dengan beberapa kali percobaan saja, kera-kera itu menunjukkan aktivatas neuron dopamin yang menarik. Hanya cukup dengan membunyikan suara keras saja, neuron-neuron dopamin yang sama akan mulai bergerak, bukan lagi bergerak di saat mendapatkan hadiah berupa tetes-tetes jus apel.

Dalam penelitiannya, Schultz melihat pola kerja yang sangat menarik pada neuron dopamin kera-kera tersebut. Cara kerja neuron dopamin lebih mirip kepada aktivitas mem-prediksi hadiah ketimbang benar-benar mendapatkan hadiah tersebut. Menariknya lagi, kera-kera yang diberi hadiah berupa makanan tanpa membunyikan suara keras sebelumnya, menunjukkan aktivitas neuron dopamin yang mulai bergerak sesaat sebelum mereka betul-betul mendapatkan makanan tersebut. Dengan kata lain, neuron dopamin mereka bekerja dan mulai memprediksi – bahwa mereka akan mendapatkan makanan sebentar lagi – sebelum mereka betul-betul mendapatkan makanan. Cara kerja sistem ini menyangkut EKSPEKTASI (harapan), dan membuat pola berdasarkan pengalaman: jika ini, maka itu. Jika bel dibunyikan, maka mereka mem-prediksi bahwa sebentar lagi akan segera mendapatkan makanan. Dan jika prediksi kera-kera tersebut benar, maka sejumlah besar dopamin akan keluar dan hal ini akan menimbulkan perasaan senang dan membahagiakan.

Namun ketika prediksi kera-kera tersebut keliru (kera-kera tersebut mendengar suara keras, tapi dalam penantian, kera-kera tersebut tidak mendapatkan sama sekali tetes-tetes jus), maka jumlah gerakan-gerakan neuron dopaminnya akan menurun. Dan hal ini akan menyebabkan jumlah dopamin berkurang, dan akan melahirkan kesedihan dan kekecewaan. Dengan kata lain, telah terjadi salah prediksi. Neuron-neuron dopamin mendapatkan sinyal salah prediksi.

Setelah melalui serangkaian pengalaman yang begitu banyak, maka kera-kera ini pada akhirnya mahir melakukan prediksi dengan tepat. Dengan kata lain, neuron-neuron dopamin mereka telah membuat pola-pola prediksi yang baru dan akurat, setelah membandingkan serangkaian prediksi yang benar dan prediksi yang keliru. Dan pola-pola neuron dopamin ini terjadi pada level bawah sadar. Artinya, terjadi tanpa si kera menyadarinya. Pada akhirnya, kera-kera ini mengetahui, bahwa jika situasinya berjalan sempurna, maka neuron-neuron dopamin akan bergerak dan memberikan sensasi kesenangan, dan akhirnya mereka akan mendapatkan hadiah. Namun, jika situasinya tidak berjalan sebagaimana mestinya, maka sel-sel otak ini langsung mengirimkan sinyal salah prediksi, dan berhenti mengeluarkan dopamin. Hal ini akan menimbulkan suatu perasaan sedih dan kecewa, atau mungkin juga suatu kecemasan.


Apakah artikel ini benar?
PEMUSNAHAN BAIK ADANYA (2019)

Offline Sostradanie

  • Sebelumnya: sriyeklina
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.219
  • Reputasi: 43
Re: Perasaan Bukan Aku Juga Bukan Diri-ku
« Reply #94 on: 19 June 2011, 12:13:18 PM »
kalau melihat keterangan sis di atas, kalau saya tidak salah menarik kesimpulan , semua tergantung dari "kesadaran" jika kita dalam "kesadaran" maka dalam pikiran kita cenderung menolak segala sugesti atau segala bentuk pikian yang di coba untuk di tanamkan kedalam pikiran kita , maaf jika salah  ;D
Menurut saya bukan karena mutlak dalam kesadaran, tapi cara seseorang dalam memproses persepsi yang dia terima.

Saya tidak bisa termotivasi karena saya tidak menghayati pembicaraan motivator tersebut. Tapi saya sibuk menganalisa perkataan yang dia ucapkan. Saya sibuk memperhatikan mimik wajahnya dan bahasa tubuh-nya saat berbicara.

Dan Sang Buddha yang hidup beribu tahun yang lalu sudah mengetahui tentang hal ini. Dia mengetahui kecenderungan makhluk yang jadi pendengar-nya. Sang Buddha tidak perlu ikut seminar.  ;D
PEMUSNAHAN BAIK ADANYA (2019)

Offline wang ai lie

  • Sebelumnya: anggia.gunawan
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.204
  • Reputasi: 72
  • Gender: Male
  • Terpujilah Sang Bhagava,Guru para Dewa dan Manusia
Re: Perasaan Bukan Aku Juga Bukan Diri-ku
« Reply #95 on: 19 June 2011, 12:23:25 PM »
Menurut saya bukan karena mutlak dalam kesadaran, tapi cara seseorang dalam memproses persepsi yang dia terima.

Saya tidak bisa termotivasi karena saya tidak menghayati pembicaraan motivator tersebut. Tapi saya sibuk menganalisa perkataan yang dia ucapkan. Saya sibuk memperhatikan mimik wajahnya dan bahasa tubuh-nya saat berbicara.

Dan Sang Buddha yang hidup beribu tahun yang lalu sudah mengetahui tentang hal ini. Dia mengetahui kecenderungan makhluk yang jadi pendengar-nya. Sang Buddha tidak perlu ikut seminar.  ;D
itulah yang saya maksud dengan"kesadaran" sis, jika kita menghayati apa yang dikatakan motivator saya anggap kita sudah di luar dari "kesadaran" ;D
Namo Mahakarunikaya Avalokitesvaraya, Semoga dengan cepat saya mengetahui semua ajaran Dharma,berada dalam perahu Prajna,mencapai Sila, Samadhi, dan Prajna,berada dalam kediaman tanpa perbuatan,bersatu dengan Tubuh Agung Dharma

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Perasaan Bukan Aku Juga Bukan Diri-ku
« Reply #96 on: 19 June 2011, 12:28:35 PM »
Pembahasan yg menarik, terutama pada bagian mengubah perasaan sedih menjadi bahagia. Kebetulan akhir-akhir ini mood saya sedang jelek/frustasi, banyak masalah yang mendera saya. Yg saya tangkap dr pembahasan di atas adalah salah satu cara mengubah perasaan tsb adalah dengan adanya motivator/sugesti dr luar. Sekarang masalahnya, saya seorg yg tertutup dan jarang bergaul, sangat sedikit memiliki teman, maka tidak ada org lain yg dpt memotivasi saya; jadi bisakah kita memotivasi diri kita sendiri agar lepas dr mood jelek ini? Bagaimana caranya? Thx

Ps: Sekarang mood saya sudah kembali normal setelah membaca pembahasan2 di thread ini. Ini membuktikan hanya dengan tulisan2 di atas bs menjadi motivator saya. Tetapi saya tidak tahu berapa lama perasaan ini akan bertahan krn semuanya anicca. Jika mood jelek tsb datang lagi, saya tdk tahu tulisan2 di atas bs memotivasi saya lagi....
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline wang ai lie

  • Sebelumnya: anggia.gunawan
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.204
  • Reputasi: 72
  • Gender: Male
  • Terpujilah Sang Bhagava,Guru para Dewa dan Manusia
Re: Perasaan Bukan Aku Juga Bukan Diri-ku
« Reply #97 on: 19 June 2011, 12:37:37 PM »
Pembahasan yg menarik, terutama pada bagian mengubah perasaan sedih menjadi bahagia. Kebetulan akhir-akhir ini mood saya sedang jelek/frustasi, banyak masalah yang mendera saya. Yg saya tangkap dr pembahasan di atas adalah salah satu cara mengubah perasaan tsb adalah dengan adanya motivator/sugesti dr luar. Sekarang masalahnya, saya seorg yg tertutup dan jarang bergaul, sangat sedikit memiliki teman, maka tidak ada org lain yg dpt memotivasi saya; jadi bisakah kita memotivasi diri kita sendiri agar lepas dr mood jelek ini? Bagaimana caranya? Thx

Ps: Sekarang mood saya sudah kembali normal setelah membaca pembahasan2 di thread ini. Ini membuktikan hanya dengan tulisan2 di atas bs menjadi motivator saya. Tetapi saya tidak tahu berapa lama perasaan ini akan bertahan krn semuanya anicca. Jika mood jelek tsb datang lagi, saya tdk tahu tulisan2 di atas bs memotivasi saya lagi....
mohon maaf bro seniya , menurut saya teman itu ada dan teman bro pun banyak (kan ada teman-teman di DC  :D) , tetapi kadang seorang teman tidak berani memberikan pendapat jika tidak di minta, jika bro meminta pasti seorang teman akan berusaha memberikan solusi atau motivasi untuk bro,  :) adakalanya kita harus sedikit terbuka jika kita ada masalah kepada teman, tidak harus di tread via PM pun bisa  ;D , jika saya sedang dalam posisi mood jelek , saya pasti akan mencoba mencari solusinya , apa itu dengan membuka2 forum DC, PM teman di DC untuk bertanya , atau membuat celoteh2 yang bisa mengeluarkan segala pikiran2 / beban saya .  _/\_ semoga segala permasalahan bro seniya bisa cepat terselesaikan
Namo Mahakarunikaya Avalokitesvaraya, Semoga dengan cepat saya mengetahui semua ajaran Dharma,berada dalam perahu Prajna,mencapai Sila, Samadhi, dan Prajna,berada dalam kediaman tanpa perbuatan,bersatu dengan Tubuh Agung Dharma

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Perasaan Bukan Aku Juga Bukan Diri-ku
« Reply #98 on: 19 June 2011, 12:44:24 PM »
mohon maaf bro seniya , menurut saya teman itu ada dan teman bro pun banyak (kan ada teman-teman di DC  :D) , tetapi kadang seorang teman tidak berani memberikan pendapat jika tidak di minta, jika bro meminta pasti seorang teman akan berusaha memberikan solusi atau motivasi untuk bro,  :) adakalanya kita harus sedikit terbuka jika kita ada masalah kepada teman, tidak harus di tread via PM pun bisa  ;D , jika saya sedang dalam posisi mood jelek , saya pasti akan mencoba mencari solusinya , apa itu dengan membuka2 forum DC, PM teman di DC untuk bertanya , atau membuat celoteh2 yang bisa mengeluarkan segala pikiran2 / beban saya .  _/\_ semoga segala permasalahan bro seniya bisa cepat terselesaikan

Hehehehe... maksud saya bukan saya gak ad teman di forum ini, tetapi di dunia nyata saya ini gak punya banyak teman... :)
Terima kasih atas motivasinya.... :)
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline williamhalim

  • Sebelumnya: willibordus
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.870
  • Reputasi: 134
  • Gender: Male
Re: Perasaan Bukan Aku Juga Bukan Diri-ku
« Reply #99 on: 19 June 2011, 01:01:54 PM »
Pembahasan yg menarik, terutama pada bagian mengubah perasaan sedih menjadi bahagia. Kebetulan akhir-akhir ini mood saya sedang jelek/frustasi, banyak masalah yang mendera saya. Yg saya tangkap dr pembahasan di atas adalah salah satu cara mengubah perasaan tsb adalah dengan adanya motivator/sugesti dr luar. Sekarang masalahnya, saya seorg yg tertutup dan jarang bergaul, sangat sedikit memiliki teman, maka tidak ada org lain yg dpt memotivasi saya; jadi bisakah kita memotivasi diri kita sendiri agar lepas dr mood jelek ini? Bagaimana caranya? Thx

Ps: Sekarang mood saya sudah kembali normal setelah membaca pembahasan2 di thread ini. Ini membuktikan hanya dengan tulisan2 di atas bs menjadi motivator saya. Tetapi saya tidak tahu berapa lama perasaan ini akan bertahan krn semuanya anicca. Jika mood jelek tsb datang lagi, saya tdk tahu tulisan2 di atas bs memotivasi saya lagi....

Yg di bold tebal,
Itu artinya kita mengubah sudut pandang kita terhadap suatu kondisi.
Cara kita memandang suatu kondisi akan menentukan bahagia/derita kita.

Jadi, bukan kondisi2 luar yg menentukan kesengsaraan kita, melainkan pikiran kita sendiri.

Banyak2 mempelajari Dhamma, merenunginya dan implementasi dalam keseharian terus menerus, sedikit demi sedikit pasti akan meningkatkan kualitas hidup kita.

::
Walaupun seseorang dapat menaklukkan beribu-ribu musuh dalam beribu kali pertempuran, namun sesungguhnya penakluk terbesar adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri (Dhammapada 103)

Offline Sostradanie

  • Sebelumnya: sriyeklina
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.219
  • Reputasi: 43
Re: Perasaan Bukan Aku Juga Bukan Diri-ku
« Reply #100 on: 19 June 2011, 02:15:28 PM »
Pembahasan yg menarik, terutama pada bagian mengubah perasaan sedih menjadi bahagia. Kebetulan akhir-akhir ini mood saya sedang jelek/frustasi, banyak masalah yang mendera saya. Yg saya tangkap dr pembahasan di atas adalah salah satu cara mengubah perasaan tsb adalah dengan adanya motivator/sugesti dr luar. Sekarang masalahnya, saya seorg yg tertutup dan jarang bergaul, sangat sedikit memiliki teman, maka tidak ada org lain yg dpt memotivasi saya; jadi bisakah kita memotivasi diri kita sendiri agar lepas dr mood jelek ini? Bagaimana caranya? Thx

Ps: Sekarang mood saya sudah kembali normal setelah membaca pembahasan2 di thread ini. Ini membuktikan hanya dengan tulisan2 di atas bs menjadi motivator saya. Tetapi saya tidak tahu berapa lama perasaan ini akan bertahan krn semuanya anicca. Jika mood jelek tsb datang lagi, saya tdk tahu tulisan2 di atas bs memotivasi saya lagi....

Mood= ketertarikan pada sesuatu sedang meningkat.
Tidak mood= ketertarikan pada sesuatu sedang menurun.

Satu cara belum tentu cocok dengan orang lain. Jadi misal-nya jika seseorang sedang bersedih jika disuruh berolahraga maka itu bisa memanipulasi kesedihan. Menurut saya belum tentu. Itu mungkin akan berhasil pada orang yang menyenangi olahraga. Tapi pada orang yang tidak menyukai olahraga malah jadi tambah berat dan tidak nyaman saat dia melakukan seperti itu.

Jika bacaan merupakan hal yang menarik, bro koleksilah berbagai bacaan. Atau mendengarkan musik. Pokok-nya pada hal-hal yang bro senangi.

Tapi kalau saya pribadi sih, lebih suka merenung sendiri dan mencari solusi secepat-nya dari masalah yang saya hadapi. Ada untuk beberapa kasus yang terkadang menjadi kesenangan tersendiri dalam mencari solusi-nya.
PEMUSNAHAN BAIK ADANYA (2019)

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Perasaan Bukan Aku Juga Bukan Diri-ku
« Reply #101 on: 19 June 2011, 06:22:20 PM »
Mood= ketertarikan pada sesuatu sedang meningkat.
Tidak mood= ketertarikan pada sesuatu sedang menurun.

Satu cara belum tentu cocok dengan orang lain. Jadi misal-nya jika seseorang sedang bersedih jika disuruh berolahraga maka itu bisa memanipulasi kesedihan. Menurut saya belum tentu. Itu mungkin akan berhasil pada orang yang menyenangi olahraga. Tapi pada orang yang tidak menyukai olahraga malah jadi tambah berat dan tidak nyaman saat dia melakukan seperti itu.

Jika bacaan merupakan hal yang menarik, bro koleksilah berbagai bacaan. Atau mendengarkan musik. Pokok-nya pada hal-hal yang bro senangi.

Tapi kalau saya pribadi sih, lebih suka merenung sendiri dan mencari solusi secepat-nya dari masalah yang saya hadapi. Ada untuk beberapa kasus yang terkadang menjadi kesenangan tersendiri dalam mencari solusi-nya.


Thx atas sarannya, sis....

Soal istilah "mood" di sini saya maksudkan sbg "suasana hati" alias perasaan itu sendiri. Mungkin penggunaan istilah saya yg kurang tepat.... :)
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.284
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Re: Perasaan Bukan Aku Juga Bukan Diri-ku
« Reply #102 on: 19 June 2011, 06:52:47 PM »
Ikut nimbrung ya... :)

Soal betapa dalam hidup kita selalu diombang-ambing antara perasaan sedih dan bahagia, saya rasa menarik untuk melirik tulisan ini, meski bukan dari ajaran Buddhisme:

http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=6826.0

Semoga bermanfaat :)



Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: Perasaan Bukan Aku Juga Bukan Diri-ku
« Reply #103 on: 19 June 2011, 10:38:24 PM »
Pembahasan yg menarik, terutama pada bagian mengubah perasaan sedih menjadi bahagia. Kebetulan akhir-akhir ini mood saya sedang jelek/frustasi, banyak masalah yang mendera saya. Yg saya tangkap dr pembahasan di atas adalah salah satu cara mengubah perasaan tsb adalah dengan adanya motivator/sugesti dr luar. Sekarang masalahnya, saya seorg yg tertutup dan jarang bergaul, sangat sedikit memiliki teman, maka tidak ada org lain yg dpt memotivasi saya; jadi bisakah kita memotivasi diri kita sendiri agar lepas dr mood jelek ini? Bagaimana caranya? Thx

Ps: Sekarang mood saya sudah kembali normal setelah membaca pembahasan2 di thread ini. Ini membuktikan hanya dengan tulisan2 di atas bs menjadi motivator saya. Tetapi saya tidak tahu berapa lama perasaan ini akan bertahan krn semuanya anicca. Jika mood jelek tsb datang lagi, saya tdk tahu tulisan2 di atas bs memotivasi saya lagi....

membaca postingan om seniya saya seperti melihat diri saya beberapa tahun yang lalu..  ;D
sekarang udah agak jauh berbeda, tapi yang saya rasakan malah enakan menjadi orang yang tertutup, karna terkadang jika kita terlalu terbuka dan menceritakan apa saja yang kita rasakan (masalah/kesenangan) kepada orang lain, terkadang beberapa saat setelah itu malah terpikir 'seharusnya g perlu diceritakan'  ;D
orang yang tertutup mungkin bisa lebih waspada..  :)
ketika bisa menyimpannya sendiri maka akan lebih aman menurut saya, hanya butuh kesabaran aja, karna saya sering mengalami bahwa apapun perasaan itu nanti pasti akan berlalu juga, dan ketika bisa menyimpannya sendiri sampai akhirnya perasaan itu berubah malah ada satu kepuasan sendiri, 'nah tuh kan udah berubah, untung g dibilang sama siapa2'.. hehehhe....  ;D

tapi terkadang ketika kita menceritakan masalah yang sedang kita alami kepada orang lain, yang kita butuhkan sebenarnya adalah telinga untuk mendengar semua unek2 yang ingin kita keluarkan, bukan solusi ataupun nasehat bla..bla...bla... karna setelah ada tempat untuk bercerita dan berhasil menceritakan semua yang ingin kita sampaikan, maka rasa legapun akan muncul, walaupun g mendapatkan nasehat.  ;D
"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Perasaan Bukan Aku Juga Bukan Diri-ku
« Reply #104 on: 19 June 2011, 11:35:05 PM »
teknik ini banyak digunakan oleh mentor2 motivasi.. intinya selalu menggunakan sugesti yang tidak menggunakan kata tidak / jangan.. karena dikatakan ketika menerima sugesti.. yang ditangkap duluan bukan kata jangan / tidaknya :
contoh :
JANGAN bayangkan gajah warna pink berbelalai panjang..
ketika membaca statement ini, mungkin kita akan membayangkan gajah pink berbelalai panjang.. (saya pribadi membayangkan bona dari majalah bobo yang sering saya baca ketika masih kecil :))) setelah itu baru JANGAN.. makanya sugesti ini biasanya gagal..
Banyak orang tua juga yang tidak mengerti.. seperti ketika melihat anaknya lari2.. dengan panik mengatakan : Nak.. jangan lari2 nanti terjatuh.." Statement ini sebenarnya meminta anak supaya makin berlari dan terjatuh..

Makanya diajarkan untuk mengganti dengan kalimat yang bermakna sama / apa yang kita inginkan..
1. Jangan lari2 nanti jatuh = Jalanlah pelan2
2. Jangan merokok = Lebih baik ngunyah permen aja..
dst

Sedikit tambahan, dari sekian banyak :
2. Mental block
Hal yang paling penting dalam sugesti adalah ada tidaknya mental block. Mental block ini umumnya pandangan yang salah / sifatnya negatif dan menyebabkan sugesti positif gagal .. Maka paling awal yang biasa dilakukan adalah merubuhkan mental block..
- Si A perokok berat.. setiap hari dia menghabiskan 2 bungkus rokok.. dan pola ini sudah masuk ke pikirannya, bahwa dia "idealnya" harus menghabiskan 2 bungkus rokok.. dan ketika diminta berhenti.. pikirannya menolak perintahnya karena "keidealan" tadi..
- Si B seorang sales yang baru masuk kerja.. Dia akan kesulitan menjual ketika ada mental block, ah saya kan pemalu.. saya tidak akan pernah bisa menjual barang..

Jadi solusinya.. ajak bicara H2H, hancurkan temboknya..

3. Beri kepastian yang bisa diterima dan beri penekanan pada sugesti
Pikiran akan bingung jika tidak ada batasan kepastian.. makanya sugesti yang tidak pasti juga akan cenderung gagal..
Si B yang ingin menjual barang tadi.. Dia harus menggunakan sugesti yang memberi kepastian dan penekanan pada sugesti tsb.
Contoh :
- Saya hari ini PASTI BISA menjual XXX SEBANYAK 5 BUAH
- Saya BERTEKAD menjual XXX 5 buah.

Di statement di atas diberi kepastian, bahwa menjual XXX sebanyak 5 buah, ada penekanan untuk memainkan emosi (PASTI BISA/BERTEKAD), dan kepastiannya juga harus bisa diterima.. oleh karena itu saya tidak menyarankan untuk men-sugesti
- Saya hari ini PASTI BISA menjual XXX SEBANYAK 100 BUAH kalau yang disugesti merasa 100 itu tidak mampu.. (kenapa ? balik lagi ke mental block)

;D Betul, sebab "gajah pink dengan belalai panjang" dapat dikonsepkan dengan gambar sehingga lebih mudah dipersepsikan. Sedangkan kata "jangan" sulit dikonsepkan dengan gambar.

Mengenai teknik "memberi kepastian" atau memberikan semangat pikiran positif, saya sudah pernah sedikit menyinggungnya di thread lain. Intinya, membangun pikiran positif tidak selamanya baik. Pada orang-orang yang memang sudah mempunyai kepercayaan diri, afirmasi pikiran positif bisa menguatkan semangat dan gairah baru. Namun pada orang-orang yang krisis kepercayaan diri (khususnya yang punya sifat melankolis kental), afirmasi pikiran positif justru bisa membuatnya makin frustrasi. Jadi afirmasi berpikir positif sebenarnya tidak tepat diterapkan oleh orang-orang yang bahkan kurang bisa memotivasi dirinya sendiri.

Seperti yang pernah dijawab oleh Ajahn Brahm saat interview dengan Desi Anwar: "Orang-orang berusaha berpikir positif saat dalam kekhawatiran atau kecemasan. Namun semakin mereka berpikir positif, justru mereka semakin frustrasi karena mereka tahu kalau mereka tidak bisa berpikir positif..."