Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Perasaan Bukan Aku Juga Bukan Diri-ku  (Read 23120 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Perasaan Bukan Aku Juga Bukan Diri-ku
« Reply #105 on: 19 June 2011, 11:35:21 PM »
Pembahasan yg menarik, terutama pada bagian mengubah perasaan sedih menjadi bahagia. Kebetulan akhir-akhir ini mood saya sedang jelek/frustasi, banyak masalah yang mendera saya. Yg saya tangkap dr pembahasan di atas adalah salah satu cara mengubah perasaan tsb adalah dengan adanya motivator/sugesti dr luar. Sekarang masalahnya, saya seorg yg tertutup dan jarang bergaul, sangat sedikit memiliki teman, maka tidak ada org lain yg dpt memotivasi saya; jadi bisakah kita memotivasi diri kita sendiri agar lepas dr mood jelek ini? Bagaimana caranya? Thx

Ps: Sekarang mood saya sudah kembali normal setelah membaca pembahasan2 di thread ini. Ini membuktikan hanya dengan tulisan2 di atas bs menjadi motivator saya. Tetapi saya tidak tahu berapa lama perasaan ini akan bertahan krn semuanya anicca. Jika mood jelek tsb datang lagi, saya tdk tahu tulisan2 di atas bs memotivasi saya lagi....

Keliru, Bro! Semua pembahasan saya adalah berkenaan dengan self-motivation, dragging, Self-Driven Transformation, self hypnosis, serta Rekonstruksi. Mengubah emosi sedih menjadi senang dengan cara berlari (jogging) pun sebenarnya merupakan teknik manipulasi emosi dan perasaan dari dalam (internal). Teknik ini secara gamblang menyajikan pandangan bahwa "emosi dan perasaan kita memiliki benang merah dengan fisik kita". Apa yang terjadi pada fisik dapat mempengaruhi psikis, dan apa yang terjadi pada psikis dapat mempengaruhi fisik.

Memotivasi diri sendiri adalah pekerjaan paling mudah sekaligus paling sulit. Jika kamu hanya membaca buku-buku motivasi, terinspirasi pada tokoh orang sukses, belajar Dhamma dengan serius, ataupun mengikuti seminar-seminar pengembangan diri; kamu pasti tidak akan bisa mencapai satu titik emas yang dinamakan "mampu memotivasi diri setiap saat". Yah, terkecuali kalau kamu sudah mencapai Pencerahan sehingga tidak diganggu suasana suka-duka lagi.

Coba perhatikan: "Bagaimana caranya para motivator selalu tampak bersemangat dalam hidupnya, seolah tidak pernah ada kelesuan semangat dalam hidupnya?"

^-^ Kalau kamu tahu, kamu sudah satu langkah menuju titik emas itu.

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Perasaan Bukan Aku Juga Bukan Diri-ku
« Reply #106 on: 19 June 2011, 11:35:35 PM »
Ikut nimbrung ya... :)

Soal betapa dalam hidup kita selalu diombang-ambing antara perasaan sedih dan bahagia, saya rasa menarik untuk melirik tulisan ini, meski bukan dari ajaran Buddhisme:

http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=6826.0

Semoga bermanfaat :)

Nah, Bro sobat-dharma ini sengingat saya juga tertarik pada Ilmu Psikologi. Coba dirangkum saja Bro apa pesan dari artikel tersebut! ;)

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Perasaan Bukan Aku Juga Bukan Diri-ku
« Reply #107 on: 19 June 2011, 11:35:48 PM »
membaca postingan om seniya saya seperti melihat diri saya beberapa tahun yang lalu..  ;D
sekarang udah agak jauh berbeda, tapi yang saya rasakan malah enakan menjadi orang yang tertutup, karna terkadang jika kita terlalu terbuka dan menceritakan apa saja yang kita rasakan (masalah/kesenangan) kepada orang lain, terkadang beberapa saat setelah itu malah terpikir 'seharusnya g perlu diceritakan'  ;D
orang yang tertutup mungkin bisa lebih waspada..  :)
ketika bisa menyimpannya sendiri maka akan lebih aman menurut saya, hanya butuh kesabaran aja, karna saya sering mengalami bahwa apapun perasaan itu nanti pasti akan berlalu juga, dan ketika bisa menyimpannya sendiri sampai akhirnya perasaan itu berubah malah ada satu kepuasan sendiri, 'nah tuh kan udah berubah, untung g dibilang sama siapa2'.. hehehhe....  ;D

tapi terkadang ketika kita menceritakan masalah yang sedang kita alami kepada orang lain, yang kita butuhkan sebenarnya adalah telinga untuk mendengar semua unek2 yang ingin kita keluarkan, bukan solusi ataupun nasehat bla..bla...bla... karna setelah ada tempat untuk bercerita dan berhasil menceritakan semua yang ingin kita sampaikan, maka rasa legapun akan muncul, walaupun g mendapatkan nasehat.  ;D

Tidak curhat sembarangan dan tidak membuka diri pada orang asing (bersosialisasi) itu adalah dua hal berbeda. Seorang yang tidak membuka diri pada orang asing, bisa saja merupakan orang yang suka curhat dengan orang-orang terdekatnya. Sedangkan seorang yang terbuka (supel) pun bisa tidak curhat sembarangan; misalnya saya. :D

Offline wang ai lie

  • Sebelumnya: anggia.gunawan
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.204
  • Reputasi: 72
  • Gender: Male
  • Terpujilah Sang Bhagava,Guru para Dewa dan Manusia
Re: Perasaan Bukan Aku Juga Bukan Diri-ku
« Reply #108 on: 19 June 2011, 11:37:57 PM »
membaca postingan om seniya saya seperti melihat diri saya beberapa tahun yang lalu..  ;D
sekarang udah agak jauh berbeda, tapi yang saya rasakan malah enakan menjadi orang yang tertutup, karna terkadang jika kita terlalu terbuka dan menceritakan apa saja yang kita rasakan (masalah/kesenangan) kepada orang lain, terkadang beberapa saat setelah itu malah terpikir 'seharusnya g perlu diceritakan'  ;D
orang yang tertutup mungkin bisa lebih waspada..  :)
ketika bisa menyimpannya sendiri maka akan lebih aman menurut saya, hanya butuh kesabaran aja, karna saya sering mengalami bahwa apapun perasaan itu nanti pasti akan berlalu juga, dan ketika bisa menyimpannya sendiri sampai akhirnya perasaan itu berubah malah ada satu kepuasan sendiri, 'nah tuh kan udah berubah, untung g dibilang sama siapa2'.. hehehhe....  ;D

tapi terkadang ketika kita menceritakan masalah yang sedang kita alami kepada orang lain, yang kita butuhkan sebenarnya adalah telinga untuk mendengar semua unek2 yang ingin kita keluarkan, bukan solusi ataupun nasehat bla..bla...bla... karna setelah ada tempat untuk bercerita dan berhasil menceritakan semua yang ingin kita sampaikan, maka rasa legapun akan muncul, walaupun g mendapatkan nasehat.  ;D

tetapi menjadi orang tertutup ada kekurangannya juga cc, orang tertutup kan menjadi orang yang mudah curiga tanpa sebab yang berlebihan, ada orang yang bisa melepaskan uneg2 dengan menulis untuk pribadinya sehingga perasaannya menjadi lega, tapi cenderung bersifat sementara, karena menurut saya orang tersebut belum mendapatkan solusi atau jalan keluar dari permasalahannya itu, jika mental dan emosi orang tersebut tidak kuat justru dapat mengakibatkan setress.
dan penyakit sebagian besar bukan berasal dari apa yang kita makan,  yang perlu kita ketahui adalah ternyata intinya adalah dipikiran.orang gila tidak pernah memikirkan dan menyangkakan apa yang dimakannya menjadikannya sakit karena memang tidak dapat memikirkannya. ternyata pikiran dan hatilah sumber penyakit itu, di saat kita setress,cemburu,gelisah,iri,egois,sakit hati,marah dan lain -lain yang mana semua bersumber dari hati dan pikiran itulah pemicu terbesar kita mengalami berbagai macam penyakit - penyakit .ringan maupun berat

oleh sebab itu kita masih membutuhkan orang lain untuk memberikan masukan ataupun pendapat , walaupun tidak semua permasalahan kita kemukakan, setidaknya mengurangi sedikit beban pikiran kita  :)

Namo Mahakarunikaya Avalokitesvaraya, Semoga dengan cepat saya mengetahui semua ajaran Dharma,berada dalam perahu Prajna,mencapai Sila, Samadhi, dan Prajna,berada dalam kediaman tanpa perbuatan,bersatu dengan Tubuh Agung Dharma

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Perasaan Bukan Aku Juga Bukan Diri-ku
« Reply #109 on: 19 June 2011, 11:43:13 PM »
Mood= ketertarikan pada sesuatu sedang meningkat.
Tidak mood= ketertarikan pada sesuatu sedang menurun.

Satu cara belum tentu cocok dengan orang lain. Jadi misal-nya jika seseorang sedang bersedih jika disuruh berolahraga maka itu bisa memanipulasi kesedihan. Menurut saya belum tentu. Itu mungkin akan berhasil pada orang yang menyenangi olahraga. Tapi pada orang yang tidak menyukai olahraga malah jadi tambah berat dan tidak nyaman saat dia melakukan seperti itu.

Jika bacaan merupakan hal yang menarik, bro koleksilah berbagai bacaan. Atau mendengarkan musik. Pokok-nya pada hal-hal yang bro senangi.

Tapi kalau saya pribadi sih, lebih suka merenung sendiri dan mencari solusi secepat-nya dari masalah yang saya hadapi. Ada untuk beberapa kasus yang terkadang menjadi kesenangan tersendiri dalam mencari solusi-nya.

Teknik jogging untuk meredakan rasa frustrasi ini bisa cocok di semua orang yang sehat secara mental dan fisik. Sebab ada korelasi sistem syaraf antara kinerja fisik dengan kinerja psikis.

Bukan olahraga yang saya tekankan di teknik ini. Namun, yang saya tekankan adalah "aktivitas menyenangkan yang memicu adrenalin sehingga adanya pelepasan hormon endorfin yang memicu euforia". Kalau tidak percaya, coba saja jogging atau berlari santai beberapa saat ketika dalam suasana sedih.

Bagaimana jika kita mengganti emosi sedih ke emosi lainnya, namun jangan emosi senang? Bisa juga! Misalkan ada seseorang punya ketakutan tersendiri dengan kematian atau penderitaan jasmani. Kita bisa membuatnya kaget atau mengancam dengan hal-hal berbau kekerasan fisik maupun kematian pada orang itu. Setelah melakukan teknik ini, lihat bagaimana reaksinya! Pasti rasa frustrasinya sudah berganti dengan rasa ketakutan dan terpukul (shocked).
« Last Edit: 19 June 2011, 11:49:26 PM by upasaka »

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Perasaan Bukan Aku Juga Bukan Diri-ku
« Reply #110 on: 19 June 2011, 11:45:54 PM »
tetapi menjadi orang tertutup ada kekurangannya juga cc, orang tertutup kan menjadi orang yang mudah curiga tanpa sebab yang berlebihan, ada orang yang bisa melepaskan uneg2 dengan menulis untuk pribadinya sehingga perasaannya menjadi lega, tapi cenderung bersifat sementara, karena menurut saya orang tersebut belum mendapatkan solusi atau jalan keluar dari permasalahannya itu, jika mental dan emosi orang tersebut tidak kuat justru dapat mengakibatkan setress.
dan penyakit sebagian besar bukan berasal dari apa yang kita makan,  yang perlu kita ketahui adalah ternyata intinya adalah dipikiran.orang gila tidak pernah memikirkan dan menyangkakan apa yang dimakannya menjadikannya sakit karena memang tidak dapat memikirkannya. ternyata pikiran dan hatilah sumber penyakit itu, di saat kita setress,cemburu,gelisah,iri,egois,sakit hati,marah dan lain -lain yang mana semua bersumber dari hati dan pikiran itulah pemicu terbesar kita mengalami berbagai macam penyakit - penyakit .ringan maupun berat

oleh sebab itu kita masih membutuhkan orang lain untuk memberikan masukan ataupun pendapat , walaupun tidak semua permasalahan kita kemukakan, setidaknya mengurangi sedikit beban pikiran kita  :)

Tidak semua orang yang tertutup adalah orang yang punya pemikiran-pemikiran negatif seperti itu, Bro.

Saya kenal banyak orang-orang tertutup di lingkungan saya. Dan sebagian besar mereka tertutup (membatasi sosialisasi atau tidak supel) karena mereka merasa tidak aman (insecure) dengan diri mereka sendiri. Jadi ketika bertemu dengan banyak orang, ada perasaan tidak nyaman dalam diri mereka. Oleh karena itu mereka menutup diri agar membatasi orang-orang asing masuk ke ranah privasi mereka.

Offline wang ai lie

  • Sebelumnya: anggia.gunawan
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.204
  • Reputasi: 72
  • Gender: Male
  • Terpujilah Sang Bhagava,Guru para Dewa dan Manusia
Re: Perasaan Bukan Aku Juga Bukan Diri-ku
« Reply #111 on: 19 June 2011, 11:50:54 PM »
Tidak semua orang yang tertutup adalah orang yang punya pemikiran-pemikiran negatif seperti itu, Bro.

Saya kenal banyak orang-orang tertutup di lingkungan saya. Dan sebagian besar mereka tertutup (membatasi sosialisasi atau tidak supel) karena mereka merasa tidak aman (insecure) dengan diri mereka sendiri. Jadi ketika bertemu dengan banyak orang, ada perasaan tidak nyaman dalam diri mereka. Oleh karena itu mereka menutup diri agar membatasi orang-orang asing masuk ke ranah privasi mereka.

bukankah itu termasuk curiga yang berlebihan bro  ;D
Namo Mahakarunikaya Avalokitesvaraya, Semoga dengan cepat saya mengetahui semua ajaran Dharma,berada dalam perahu Prajna,mencapai Sila, Samadhi, dan Prajna,berada dalam kediaman tanpa perbuatan,bersatu dengan Tubuh Agung Dharma

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Perasaan Bukan Aku Juga Bukan Diri-ku
« Reply #112 on: 20 June 2011, 12:14:02 AM »
bukankah itu termasuk curiga yang berlebihan bro  ;D

Itu bukan curiga. Orang yang merasa insecure dengan diri sendiri adalah orang yang tidak percaya diri; ditambah lagi jika dia tidak punya keterampilan sosial yang cukup tinggi untuk menghadapi berbagai situasi sosialisasi.

Offline wang ai lie

  • Sebelumnya: anggia.gunawan
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.204
  • Reputasi: 72
  • Gender: Male
  • Terpujilah Sang Bhagava,Guru para Dewa dan Manusia
Re: Perasaan Bukan Aku Juga Bukan Diri-ku
« Reply #113 on: 20 June 2011, 12:23:47 AM »
Itu bukan curiga. Orang yang merasa insecure dengan diri sendiri adalah orang yang tidak percaya diri; ditambah lagi jika dia tidak punya keterampilan sosial yang cukup tinggi untuk menghadapi berbagai situasi sosialisasi.

nah itu bro, kosa kata saya mentok, jadi saya kategorikan seperti itu  :))
Namo Mahakarunikaya Avalokitesvaraya, Semoga dengan cepat saya mengetahui semua ajaran Dharma,berada dalam perahu Prajna,mencapai Sila, Samadhi, dan Prajna,berada dalam kediaman tanpa perbuatan,bersatu dengan Tubuh Agung Dharma

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Perasaan Bukan Aku Juga Bukan Diri-ku
« Reply #114 on: 20 June 2011, 12:29:21 AM »
nah itu bro, kosa kata saya mentok, jadi saya kategorikan seperti itu  :))

;) Yup.

Offline Sostradanie

  • Sebelumnya: sriyeklina
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.794
  • Reputasi: 43
Re: Perasaan Bukan Aku Juga Bukan Diri-ku
« Reply #115 on: 20 June 2011, 02:32:47 AM »
Teknik jogging untuk meredakan rasa frustrasi ini bisa cocok di semua orang yang sehat secara mental dan fisik. Sebab ada korelasi sistem syaraf antara kinerja fisik dengan kinerja psikis.
Bukan olahraga yang saya tekankan di teknik ini. Namun, yang saya tekankan adalah "aktivitas menyenangkan yang memicu adrenalin sehingga adanya pelepasan hormon endorfin yang memicu euforia". Kalau tidak percaya, coba saja jogging atau berlari santai beberapa saat ketika dalam suasana sedih.
Aktivitas yang menyenangkan OK! Tapi jika jogging tidak semua orang bisa memberikan hasil yang sama. Bagimu mungkin itu cara yang cocok, tapi tidak bagi orang lain. Karena apa yang di pikiran orang lain tidak sama dengan di pikiran kita sendiri. Ketertarikan seseorang pada sesuatu itu berbeda.

Kamu bisa buktikan ini dengan uji coba sederhana, dengan waktu 1 menit juga cukup:
-Kumpulkan beberapa orang teman-mu. Dan suruh mereka menutup mata, minta mereka membayangkan sebuah mobil lengkap dengan bentuk dan warna-nya jika perlu dengan aksesoris yang diinginkan.

Hasil-nya sangat bervariasi. Merk mobilnya sama tapi warnanya beda. Aksesoris-nya beda.
Karena disaat mereka memilih, ada yang cenderung karena model ingin yang terbaru, ada yang cenderung dengan fungsi-nya, ada yang cenderung dengan kenyamanan-nya, dan ada yang cenderung keamanan mobil tersebut.
Tapi kebanyakan mereka memilih karena model. Rata-rata manusia seperti itu, sehingga pembuatan produk baru selalu diminati orang.

Sekarang kita balik ke jogging, saya tidak pernah mendapatkan manfaat menghilangkan rasa sedih dengan jogging. Karena jogging itu terasa membosankan buat saya. Dalam keadaan tidak sedih saja saya berat melakukan-nya. Apalagi disaat sedih. Tapi disaat saya gembira, saya sanggup melakukan-nya. Program fitnes saya dulu terganggu karena perasaan sedih. Dalam keadaan gembira saya bisa 1jam jogging di treadmill, dalam keadaan sedih 10 menit saja bertahan sudah hebat.

Tapi saya bisa mengalihkan ke hal lain. Contohnya:saya menyukai voli terutama jika dalam suasana pertandingan, rasa sedih itu bisa teralihkan sesaat. Menurut saya itu bisa berhasil karena voli butuh fokus perhatian lebih banyak dan berada dalam suasana mencari kemenangan. Yang membuat adrenalin terpacu. Berarti saya menyukai yang ada tantangan-nya.

Nah, jika menyukai tantangan seharusnya saya bersemangat di wahana dufan. Karena banyak tantangan-nya.Tapi yang terjadi ketika saya dulu pergi ke dufan dan ikut permainan-nya. Saya bukan gembira atau bersemangat, yang terjadi malah stress, gemetar dan pucat. Muntah saja yang tidak.
Kenapa? Karena ternyata saya tidak sanggup berada di ketinggian. Sejak saat itu saya tidak pernah tertarik untuk bermain disana.

Quote
Bagaimana jika kita mengganti emosi sedih ke emosi lainnya, namun jangan emosi senang? Bisa juga! Misalkan ada seseorang punya ketakutan tersendiri dengan kematian atau penderitaan jasmani. Kita bisa membuatnya kaget atau mengancam dengan hal-hal berbau kekerasan fisik maupun kematian pada orang itu. Setelah melakukan teknik ini, lihat bagaimana reaksinya! Pasti rasa frustrasinya sudah berganti dengan rasa ketakutan dan terpukul (shocked).
Anggap saja kejadian ini contoh-nya, seseorang mengalami frustasi berat karena barusan di PHK sama kekasih-nya. Dan dia berniat bunuh diri karena sudah tidak bersemangat dalam hidup. Sepanjang perjalanan pulang, dia sibuk memikirkan cara bunuh diri yang paling dramatis.
 Dan motor dikendarai-nya dengan kencang, maklumlah namanya juga lagi frustasi, tapi tiba-tiba motor-nya menjadi oleng karena ban-nya pecah mendadak. Pada situasi seperti itu dia secara reflek mempertahankan kemudi motornya supaya tidak jatuh, tapi tetap tak tertahankan akhirnya dia  jatuh dan terseret. Terbentur ke aspal tapi dia selamat. Hanya luka lecet saja. Disaat dia mengetahui dia selamat yang terjadi di pikiran-nya malah," Untung gue selamat!"  ;D

Inti yang ingin saya sampaikan, manusia itu terlalu bervariasi. Jadi tidak semua cara itu bisa cocok antara yang satu dengan yang lain.
« Last Edit: 20 June 2011, 02:34:55 AM by sriyeklina »
PEMUSNAHAN BAIK ADANYA (2019)

Offline 2nd

  • Tamu
  • *
  • Posts: 22
  • Reputasi: 0
  • Gender: Male
Re: Perasaan Bukan Aku Juga Bukan Diri-ku
« Reply #116 on: 20 June 2011, 08:38:19 AM »
;D Betul, sebab "gajah pink dengan belalai panjang" dapat dikonsepkan dengan gambar sehingga lebih mudah dipersepsikan. Sedangkan kata "jangan" sulit dikonsepkan dengan gambar.

Mengenai teknik "memberi kepastian" atau memberikan semangat pikiran positif, saya sudah pernah sedikit menyinggungnya di thread lain. Intinya, membangun pikiran positif tidak selamanya baik. Pada orang-orang yang memang sudah mempunyai kepercayaan diri, afirmasi pikiran positif bisa menguatkan semangat dan gairah baru. Namun pada orang-orang yang krisis kepercayaan diri (khususnya yang punya sifat melankolis kental), afirmasi pikiran positif justru bisa membuatnya makin frustrasi. Jadi afirmasi berpikir positif sebenarnya tidak tepat diterapkan oleh orang-orang yang bahkan kurang bisa memotivasi dirinya sendiri.

Seperti yang pernah dijawab oleh Ajahn Brahm saat interview dengan Desi Anwar: "Orang-orang berusaha berpikir positif saat dalam kekhawatiran atau kecemasan. Namun semakin mereka berpikir positif, justru mereka semakin frustrasi karena mereka tahu kalau mereka tidak bisa berpikir positif..."

Bro upasaka, tanya nih..
Bro upa mengatakan bahwa membangun pikiran positif tidak selamanya baik.. bisa di bantu menjelaskan lebih jauh? mengapa begitu dan kira2 contoh konkritnya bagaimana?..
terimakasih sebelumnya  _/\_

Offline marcedes

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.528
  • Reputasi: 70
  • Gender: Male
  • May All Being Happinesssssssss
Re: Perasaan Bukan Aku Juga Bukan Diri-ku
« Reply #117 on: 20 June 2011, 09:13:44 AM »
Bro upasaka, tanya nih..
Bro upa mengatakan bahwa membangun pikiran positif tidak selamanya baik.. bisa di bantu menjelaskan lebih jauh? mengapa begitu dan kira2 contoh konkritnya bagaimana?..
terimakasih sebelumnya  _/\_
kalau menurut saya contoh sederhana....kek adik teman ku yg sedikit miring ^^
karena dia mmg ada sedikit "miring/gila" mungkin karena dulu jatuh kali yah di tangga...nah pas ULTAH teman nya dia kagak di undang....
malah dia berpikir " sy tidak di undang karena saya vege" padahal tidak begitu kan?

kedua
jika anda seorang pengusaha, ketika anda berusaha memberikan term pembayaran kredit pada orang...jelas kita harus memikirkan sisi negatif..kalau positif terus( beranggapan bahwa costumer anda baik ) maka bangkrut lah anda.


maksud nya disini adalah sisi negatif dan positif itu harus kita imbangi....jangan jadi orang bodoh yg selalu beranggapan dunia ini hanya warna putih.
Ada penderitaan,tetapi tidak ada yang menderita
Ada jalan tetapi tidak ada yang menempuhnya
Ada Nibbana tetapi tidak ada yang mencapainya.

TALK LESS DO MOREEEEEE !!!

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Perasaan Bukan Aku Juga Bukan Diri-ku
« Reply #118 on: 20 June 2011, 10:40:58 AM »
Quote from: sriyeklina
Aktivitas yang menyenangkan OK! Tapi jika jogging tidak semua orang bisa memberikan hasil yang sama. Bagimu mungkin itu cara yang cocok, tapi tidak bagi orang lain. Karena apa yang di pikiran orang lain tidak sama dengan di pikiran kita sendiri. Ketertarikan seseorang pada sesuatu itu berbeda.

Seseorang yang bahkan tidak tertarik pada jogging pun bisa memanipulasi perasaannya dengan jogging.


Quote from: sriyeklina
Kamu bisa buktikan ini dengan uji coba sederhana, dengan waktu 1 menit juga cukup:
-Kumpulkan beberapa orang teman-mu. Dan suruh mereka menutup mata, minta mereka membayangkan sebuah mobil lengkap dengan bentuk dan warna-nya jika perlu dengan aksesoris yang diinginkan.

Hasil-nya sangat bervariasi. Merk mobilnya sama tapi warnanya beda. Aksesoris-nya beda.
Karena disaat mereka memilih, ada yang cenderung karena model ingin yang terbaru, ada yang cenderung dengan fungsi-nya, ada yang cenderung dengan kenyamanan-nya, dan ada yang cenderung keamanan mobil tersebut.
Tapi kebanyakan mereka memilih karena model. Rata-rata manusia seperti itu, sehingga pembuatan produk baru selalu diminati orang.

Dragging dengan metode visualisasi seperti di atas memang sangat bergantung pada imajinasi orang yang bersangkutan (dragger). Tapi di balik kelemahan metode ini, visualisasi yang diterapkan tepat sasaran bisa menjadi salah satu metode dragging yang paling efektif.
 

Quote from: sriyeklina
Sekarang kita balik ke jogging, saya tidak pernah mendapatkan manfaat menghilangkan rasa sedih dengan jogging. Karena jogging itu terasa membosankan buat saya. Dalam keadaan tidak sedih saja saya berat melakukan-nya. Apalagi disaat sedih. Tapi disaat saya gembira, saya sanggup melakukan-nya. Program fitnes saya dulu terganggu karena perasaan sedih. Dalam keadaan gembira saya bisa 1jam jogging di treadmill, dalam keadaan sedih 10 menit saja bertahan sudah hebat.

Tapi saya bisa mengalihkan ke hal lain. Contohnya:saya menyukai voli terutama jika dalam suasana pertandingan, rasa sedih itu bisa teralihkan sesaat. Menurut saya itu bisa berhasil karena voli butuh fokus perhatian lebih banyak dan berada dalam suasana mencari kemenangan. Yang membuat adrenalin terpacu. Berarti saya menyukai yang ada tantangan-nya.

Ada dua perbedaan mendasar antara metode jogging yang saya tekankan dengan penjelasan kamu di atas...

1. Dalam metode saya, jogging dilakukan untuk memanipulasi emosi negatif. Jogging dilakukan di tempat, waktu dan kondisi yang sesuai. Misalnya di tempat sejuk dengan pemandangan indah, pada pagi hari, bersama teman-teman. Sedangkan dalam cerita kamu, jogging kamu konsepkan dengan berlari santai dimanapun dan kapanpun saat emosi negatif muncul.

2. Dalam metode saya. jogging memang bukanlah jenis olahraga yang bisa dan disukai semua orang. Namun jogging bukan satu-satunya metode yang berdiri tunggal. Jogging harus dibantu dengan suasana kondusif, keadaan fisik yang sehat (tidak sakit), dan adanya kesadaran diri sendiri untuk lepas dari emosi negatif. Sedangkan jogging yang kamu konsepkan adalah sebuah olahraga yang sama sekali tidak menarik, sehingga jangankan untuk mempraktikkannya; kamu justru sudah mengeliminasinya dari salah satu hal yang bisa kamu lakukan saat emosi negatif muncul.


Quote from: sriyeklina
Nah, jika menyukai tantangan seharusnya saya bersemangat di wahana dufan. Karena banyak tantangan-nya.Tapi yang terjadi ketika saya dulu pergi ke dufan dan ikut permainan-nya. Saya bukan gembira atau bersemangat, yang terjadi malah stress, gemetar dan pucat. Muntah saja yang tidak.
Kenapa? Karena ternyata saya tidak sanggup berada di ketinggian. Sejak saat itu saya tidak pernah tertarik untuk bermain disana.

Kalau punya ketakutan pada ketinggian atau hal-hal ekstrim, yah jangan main seperti itu. Nanti hasilnya malah shocked. Dufan punya banyak wahana yang seru namun tidak ekstrim, mainkan saja wahana itu. Emosi kita akan berubah seiring dengan produksi hormon-hormon di dalam tubuh kita.


Quote from: sriyeklina
Anggap saja kejadian ini contoh-nya, seseorang mengalami frustasi berat karena barusan di PHK sama kekasih-nya. Dan dia berniat bunuh diri karena sudah tidak bersemangat dalam hidup. Sepanjang perjalanan pulang, dia sibuk memikirkan cara bunuh diri yang paling dramatis.

Dan motor dikendarai-nya dengan kencang, maklumlah namanya juga lagi frustasi, tapi tiba-tiba motor-nya menjadi oleng karena ban-nya pecah mendadak. Pada situasi seperti itu dia secara reflek mempertahankan kemudi motornya supaya tidak jatuh, tapi tetap tak tertahankan akhirnya dia  jatuh dan terseret. Terbentur ke aspal tapi dia selamat. Hanya luka lecet saja. Disaat dia mengetahui dia selamat yang terjadi di pikiran-nya malah," Untung gue selamat!"  ;D

Nah, contoh kisah di atas adalah salah satu contoh perubahan emosi dasar pada manusia karena faktor eksternal (bukan disengaja). ;D


Quote from: sriyeklina
Inti yang ingin saya sampaikan, manusia itu terlalu bervariasi. Jadi tidak semua cara itu bisa cocok antara yang satu dengan yang lain.

Memang benar. Dan oleh karena itu, dibutuhkan terapis, konsultan, ataupun instruktur untuk mengarahkan dan mengajarkan seseorang dalam mengendalikan dirinya secara penuh. ;D ;D

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Perasaan Bukan Aku Juga Bukan Diri-ku
« Reply #119 on: 20 June 2011, 10:59:24 AM »
Bro upasaka, tanya nih..
Bro upa mengatakan bahwa membangun pikiran positif tidak selamanya baik.. bisa di bantu menjelaskan lebih jauh? mengapa begitu dan kira2 contoh konkritnya bagaimana?..
terimakasih sebelumnya  _/\_

Di dalam artikel mengenai survei Joanne Wood yang saya cantumkan di postingan sebelumnya, di sana dijelaskan dengan detil mengapa positive thinking bisa menjadi hal yang destruktif.

Pada survei penelitian itu, Joanne Wood mengundang beberapa partisipan. Semua partisipan diminta untuk mengulang kalimat-kalimat pemikiran positif seperti "Saya adalah orang yang pantas dicintai.". Kalimat ini terus diulang selama empat menit, kemudian semua partisipan diwawancara dan perasaannya didiagnosa. Hasil yang didapat dari survei ini ada yang seperti diperkirakan banyak orang, namun ada juga hasil yang mengejutkan!

Bagi orang (partisipan) yang sudah memiliki kepercayaan diri, kalimat positive thinking itu membantunya mendapatkan motivasi sehingga membuat dirinya merasa lebih baik dan lebih mudah diterima orang lain. Sementara orang (partisipan) yang sejak awal sudah minder, kurang percaya diri, low self esteem; justru merasa semakin parah setelah mengucapkan kalimat itu. Bahkan orang-orang (partisipan) dari golongan ini memiliki kualitas emosi yang lebih buruk daripada orang-orang yang tidak menggunakan kalimat positive thinking itu.

Spoiler: ShowHide
“In brief, Wood suggested that people with low self-esteem are harmed by self-affirmation because they just don’t believe themselves to be lovable persons. Open declarative statements often trigger automatic counter-arguing. Someone who is overly self-critical and who says to herself “I am a lovable person,” might spontaneously sneer at her clumsy attempt at self-indoctrination. As a result, self-esteem goes down even further. Instead of pulling the person’s self-concept up, the positive self-statement now highlights the difference between the actual and the ideal self.”