//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Kontradiksi sehubungan dengan perumah tangga yang mencapai kesucian Arahat  (Read 35520 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
1. Kita tentu pernah mendengar atau membaca bahwa Raja Suddhodana, Ayah Sang Buddha, berhasil mencapai kesucian Arahat sesaat sebelum meninggal dunia tanpa menjadi bhikkhu.

2. menurut MN 71 Tevijjavacchagotta Sutta, terjadi dialog antara Vacchagotta dengan Sang Buddha sebagai berikut

Vaccha: “Guru Gotama, adakah perumah tangga yang, tanpa meninggalkan belenggu kerumahtanggaan, pada saat meninggal dunia telah mengakhiri penderitaan?”

Sang Buddha: “Vaccha, tidak ada perumah tangga yang, tanpa meninggalkan belenggu kerumahtanggaan, pada saat saat meninggal dunia telah mengakhiri penderitaan.”

Tampak adanya kontradiksi Antara Poin 1 dan Poin 2 ini,

Bagaimana rekan-rekan menjelaskan hal ini? mohon tanggapan.

_/\_

Offline Jerry

  • Sebelumnya xuvie
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.212
  • Reputasi: 124
  • Gender: Male
  • Suffering is optional.. Pain is inevitable..
Pertama, harus dicek dulu sumber otentik dari yang menceritakan bahwa Suddhodhana mencapai arahat sebagai perumah tangga.
appamadena sampadetha

Offline hendrako

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.244
  • Reputasi: 60
  • Gender: Male
1. Kita tentu pernah mendengar atau membaca bahwa Raja Suddhodana, Ayah Sang Buddha, berhasil mencapai kesucian Arahat sesaat sebelum meninggal dunia tanpa menjadi bhikkhu.

2. menurut MN 71 Tevijjavacchagotta Sutta, terjadi dialog antara Vacchagotta dengan Sang Buddha sebagai berikut

Vaccha: “Guru Gotama, adakah perumah tangga yang, tanpa meninggalkan belenggu kerumahtanggaan, pada saat meninggal dunia telah mengakhiri penderitaan?”

Sang Buddha: “Vaccha, tidak ada perumah tangga yang, tanpa meninggalkan belenggu kerumahtanggaan, pada saat saat meninggal dunia telah mengakhiri penderitaan.”

Tampak adanya kontradiksi Antara Poin 1 dan Poin 2 ini,

Bagaimana rekan-rekan menjelaskan hal ini? mohon tanggapan.

_/\_

Kalimat Sang Buddha di atas tidak menyebutkan perumah tangga saja,
tetapi perumahtangga yang tanpa meninggalkan belenggu kerumahtanggaan.
Pertanyaannya adalah apakah ada perumahtangga yang meninggalkan belenggu rumahtangga?
Apakah yang disebut dengan belenggu rumah tangga?
yaa... gitu deh

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Pertama, harus dicek dulu sumber otentik dari yang menceritakan bahwa Suddhodhana mencapai arahat sebagai perumah tangga.

kisah ini terdapat dalam RAPB, tapi saya tidak menemukan "sumber otentik" itu.

maaf saya edit dengan menambahkan kata "tidak"
« Last Edit: 18 August 2010, 11:45:49 PM by Indra »

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
1. Kita tentu pernah mendengar atau membaca bahwa Raja Suddhodana, Ayah Sang Buddha, berhasil mencapai kesucian Arahat sesaat sebelum meninggal dunia tanpa menjadi bhikkhu.

2. menurut MN 71 Tevijjavacchagotta Sutta, terjadi dialog antara Vacchagotta dengan Sang Buddha sebagai berikut

Vaccha: “Guru Gotama, adakah perumah tangga yang, tanpa meninggalkan belenggu kerumahtanggaan, pada saat meninggal dunia telah mengakhiri penderitaan?”

Sang Buddha: “Vaccha, tidak ada perumah tangga yang, tanpa meninggalkan belenggu kerumahtanggaan, pada saat saat meninggal dunia telah mengakhiri penderitaan.”

Tampak adanya kontradiksi Antara Poin 1 dan Poin 2 ini,

Bagaimana rekan-rekan menjelaskan hal ini? mohon tanggapan.

_/\_

Kalimat Sang Buddha di atas tidak menyebutkan perumah tangga saja,
tetapi perumahtangga yang tanpa meninggalkan belenggu kerumahtanggaan.
Pertanyaannya adalah apakah ada perumahtangga yang meninggalkan belenggu rumahtangga?
Apakah yang disebut dengan belenggu rumah tangga?


saya memahami "tidak meninggalkan belenggu rumah tangga" = "tidak meninggalkan keduniawian" = "tidak menjadi bhikkhu", bagaimana menurut anda?

Offline Jerry

  • Sebelumnya xuvie
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.212
  • Reputasi: 124
  • Gender: Male
  • Suffering is optional.. Pain is inevitable..
Pertama, harus dicek dulu sumber otentik dari yang menceritakan bahwa Suddhodhana mencapai arahat sebagai perumah tangga.
kisah ini terdapat dalam RAPB, tapi saya menemukan "sumber otentik" itu
Sumber otentik selain RAPB? Di Sutta-Vinaya berdasarkan kalimat Sang Buddha sendiri? Tolong dong dikasih bocorannya. ;)
appamadena sampadetha

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Pertama, harus dicek dulu sumber otentik dari yang menceritakan bahwa Suddhodhana mencapai arahat sebagai perumah tangga.
kisah ini terdapat dalam RAPB, tapi saya menemukan "sumber otentik" itu
Sumber otentik selain RAPB? Di Sutta-Vinaya berdasarkan kalimat Sang Buddha sendiri? Tolong dong dikasih bocorannya. ;)

mohon agar jangan menganggap bahwa TS berkewajiban memberikan semua referensi, TS membuka suatu topik tentu karena membutuhkan jawaban. jadi kalau anda punya bukti sebaliknya, mohon anda sudi mengungkapkan di sini.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
ada ralat di sini
Pertama, harus dicek dulu sumber otentik dari yang menceritakan bahwa Suddhodhana mencapai arahat sebagai perumah tangga.

kisah ini terdapat dalam RAPB, tapi saya tidak menemukan "sumber otentik" itu.

maaf saya edit dengan menambahkan kata "tidak"

Offline hendrako

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.244
  • Reputasi: 60
  • Gender: Male
1. Kita tentu pernah mendengar atau membaca bahwa Raja Suddhodana, Ayah Sang Buddha, berhasil mencapai kesucian Arahat sesaat sebelum meninggal dunia tanpa menjadi bhikkhu.

2. menurut MN 71 Tevijjavacchagotta Sutta, terjadi dialog antara Vacchagotta dengan Sang Buddha sebagai berikut

Vaccha: “Guru Gotama, adakah perumah tangga yang, tanpa meninggalkan belenggu kerumahtanggaan, pada saat meninggal dunia telah mengakhiri penderitaan?”

Sang Buddha: “Vaccha, tidak ada perumah tangga yang, tanpa meninggalkan belenggu kerumahtanggaan, pada saat saat meninggal dunia telah mengakhiri penderitaan.”

Tampak adanya kontradiksi Antara Poin 1 dan Poin 2 ini,

Bagaimana rekan-rekan menjelaskan hal ini? mohon tanggapan.

_/\_

Kalimat Sang Buddha di atas tidak menyebutkan perumah tangga saja,
tetapi perumahtangga yang tanpa meninggalkan belenggu kerumahtanggaan.
Pertanyaannya adalah apakah ada perumahtangga yang meninggalkan belenggu rumahtangga?
Apakah yang disebut dengan belenggu rumah tangga?


saya memahami "tidak meninggalkan belenggu rumah tangga" = "tidak meninggalkan keduniawian" = "tidak menjadi bhikkhu", bagaimana menurut anda?

Terus terang saya masih bingung.
Sebelumnya, bagaimana dengan definisi Bhikku, apakah petapa lain yang bukan termasuk Sanggha Buddha dapat dikatakan sebagai Bhikku? Contohnya guru pangeran Siddhata.
yaa... gitu deh

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
saya memahami "tidak meninggalkan belenggu rumah tangga" = "tidak meninggalkan keduniawian" = "tidak menjadi bhikkhu", bagaimana menurut anda?

Menurut saya, definisi dari "tidak meninggalkan belenggu rumah tangga" salah satunya adalah masih melekat pada keluarga. Jadi perumah tangga yang tidak melekat pada keluarga sebenarnya bisa mencapai tingkat Arahat.

Untuk kepastian definisi frasa tersebut, ada baiknya kita langsung merujuk pada teks Pali; dan mohon kesediaan Sam Peacemind, Sam Dhammasiri atau Sam Pannadevi mengalih-bahasakannya...

Offline Juice_alpukat

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 734
  • Reputasi: 11
  • Gender: Male
SETUJU SAMA JAWAPAN HENDRAKO..BRAVO..

Offline hendrako

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.244
  • Reputasi: 60
  • Gender: Male
SETUJU SAMA JAWAPAN HENDRAKO..BRAVO..
:-[
Sori bro, saya masih belum menjawab tapi masih bertanya.  ;D 
yaa... gitu deh

Offline Jerry

  • Sebelumnya xuvie
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.212
  • Reputasi: 124
  • Gender: Male
  • Suffering is optional.. Pain is inevitable..
Pertama, harus dicek dulu sumber otentik dari yang menceritakan bahwa Suddhodhana mencapai arahat sebagai perumah tangga.
kisah ini terdapat dalam RAPB, tapi saya menemukan "sumber otentik" itu
Sumber otentik selain RAPB? Di Sutta-Vinaya berdasarkan kalimat Sang Buddha sendiri? Tolong dong dikasih bocorannya. ;)

mohon agar jangan menganggap bahwa TS berkewajiban memberikan semua referensi, TS membuka suatu topik tentu karena membutuhkan jawaban. jadi kalau anda punya bukti sebaliknya, mohon anda sudi mengungkapkan di sini.
Well, saya tadi hanya berpendapat alangkah baiknya bila dipaparkan dan dikaji bersama member forum bila ada sumber otentiknya.

Kalau menurut saya, seorang perumah tangga memiliki kewajiban: kewajiban terhadap anak, kewajiban terhadap orang tua, kewajiban terhadap pasangan, kewajiban terhadap orang-orang di sekeliling, kewajiban mempertahankan aset, dan kewajiban2 lain yang semuanya ini melibatkan 'bhava-tanha' 'vibhava-tanha' & 'mana' secara mutlak tanpa dapat dihindari.

Hanya ketika perumah tangga melepas belenggu rumah tangga, maka kadar dari belenggu-belenggu ini lebih berkurang kadarnya atau lebih melemah dibanding yang ada pada perumah tangga lainnya.

Jawaban Sang Buddha adalah tidak ada perumah tangga yang tanpa meninggalkan belenggu rumah tangga, pada saat meninggal mengakhiri penderitaan. Tetapi bagaimana apabila ditanyakan "Apakah ada perumah tangga yang meninggalkan belenggu rumah tangga, pada saat meninggal telah mengakhiri penderitaan?" Menurut saya jawaban untuk ini adalah mungkin-mungkin saja. Karena ada belenggu atau tidak, adalah tergantung pada pikiran kita.
Jika Raja Suddhodhana setelah mendengar khotbah dan merealisasi kesucian lalu dalam pikirannya menyerahkan dan melepaskan semua kepemilikan dan status beliau maka mungkin saja beliau meninggal tanpa menjadi bhikkhu.
appamadena sampadetha

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Pertama, harus dicek dulu sumber otentik dari yang menceritakan bahwa Suddhodhana mencapai arahat sebagai perumah tangga.
kisah ini terdapat dalam RAPB, tapi saya menemukan "sumber otentik" itu
Sumber otentik selain RAPB? Di Sutta-Vinaya berdasarkan kalimat Sang Buddha sendiri? Tolong dong dikasih bocorannya. ;)

mohon agar jangan menganggap bahwa TS berkewajiban memberikan semua referensi, TS membuka suatu topik tentu karena membutuhkan jawaban. jadi kalau anda punya bukti sebaliknya, mohon anda sudi mengungkapkan di sini.
Well, saya tadi hanya berpendapat alangkah baiknya bila dipaparkan dan dikaji bersama member forum bila ada sumber otentiknya.

Kalau menurut saya, seorang perumah tangga memiliki kewajiban: kewajiban terhadap anak, kewajiban terhadap orang tua, kewajiban terhadap pasangan, kewajiban terhadap orang-orang di sekeliling, kewajiban mempertahankan aset, dan kewajiban2 lain yang semuanya ini melibatkan 'bhava-tanha' 'vibhava-tanha' & 'mana' secara mutlak tanpa dapat dihindari.

Hanya ketika perumah tangga melepas belenggu rumah tangga, maka kadar dari belenggu-belenggu ini lebih berkurang kadarnya atau lebih melemah dibanding yang ada pada perumah tangga lainnya.

Jawaban Sang Buddha adalah tidak ada perumah tangga yang tanpa meninggalkan belenggu rumah tangga, pada saat meninggal mengakhiri penderitaan. Tetapi bagaimana apabila ditanyakan "Apakah ada perumah tangga yang meninggalkan belenggu rumah tangga, pada saat meninggal telah mengakhiri penderitaan?" Menurut saya jawaban untuk ini adalah mungkin-mungkin saja. Karena ada belenggu atau tidak, adalah tergantung pada pikiran kita.
Jika Raja Suddhodhana setelah mendengar khotbah dan merealisasi kesucian lalu dalam pikirannya menyerahkan dan melepaskan semua kepemilikan dan status beliau maka mungkin saja beliau meninggal tanpa menjadi bhikkhu.


kalau begitu, kita bergeser dulu ke masalah interpretasi kutipan sutta tersebut, apakah memang yg spt di-bold itu?, sepertinya saya memang perlu meminta bantuan kedua samanera + samaneri untuk memberikan interpretasinya sesuai Pali

Offline hendrako

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.244
  • Reputasi: 60
  • Gender: Male
Pertama, harus dicek dulu sumber otentik dari yang menceritakan bahwa Suddhodhana mencapai arahat sebagai perumah tangga.
kisah ini terdapat dalam RAPB, tapi saya menemukan "sumber otentik" itu
Sumber otentik selain RAPB? Di Sutta-Vinaya berdasarkan kalimat Sang Buddha sendiri? Tolong dong dikasih bocorannya. ;)

mohon agar jangan menganggap bahwa TS berkewajiban memberikan semua referensi, TS membuka suatu topik tentu karena membutuhkan jawaban. jadi kalau anda punya bukti sebaliknya, mohon anda sudi mengungkapkan di sini.
Well, saya tadi hanya berpendapat alangkah baiknya bila dipaparkan dan dikaji bersama member forum bila ada sumber otentiknya.

Kalau menurut saya, seorang perumah tangga memiliki kewajiban: kewajiban terhadap anak, kewajiban terhadap orang tua, kewajiban terhadap pasangan, kewajiban terhadap orang-orang di sekeliling, kewajiban mempertahankan aset, dan kewajiban2 lain yang semuanya ini melibatkan 'bhava-tanha' 'vibhava-tanha' & 'mana' secara mutlak tanpa dapat dihindari.

Hanya ketika perumah tangga melepas belenggu rumah tangga, maka kadar dari belenggu-belenggu ini lebih berkurang kadarnya atau lebih melemah dibanding yang ada pada perumah tangga lainnya.

Jawaban Sang Buddha adalah tidak ada perumah tangga yang tanpa meninggalkan belenggu rumah tangga, pada saat meninggal mengakhiri penderitaan. Tetapi bagaimana apabila ditanyakan "Apakah ada perumah tangga yang meninggalkan belenggu rumah tangga, pada saat meninggal telah mengakhiri penderitaan?" Menurut saya jawaban untuk ini adalah mungkin-mungkin saja. Karena ada belenggu atau tidak, adalah tergantung pada pikiran kita.
Jika Raja Suddhodhana setelah mendengar khotbah dan merealisasi kesucian lalu dalam pikirannya menyerahkan dan melepaskan semua kepemilikan dan status beliau maka mungkin saja beliau meninggal tanpa menjadi bhikkhu.


kalau begitu, kita bergeser dulu ke masalah interpretasi kutipan sutta tersebut, apakah memang yg spt di-bold itu?, sepertinya saya memang perlu meminta bantuan kedua samanera + samaneri untuk memberikan interpretasinya sesuai Pali

Lebih baik begitu, biar lebih jelas.
yaa... gitu deh

 

anything