//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: BAGAIMANA UNTUK MENJADI SEORANG BHIKKHU ???  (Read 4956 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline cumi polos

  • Sebelumnya: Teko
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.129
  • Reputasi: 82
  • Gender: Male
  • mohon transparansinya
Re: BAGAIMANA UNTUK MENJADI SEORANG BHIKKHU ???
« Reply #15 on: 15 September 2015, 11:55:21 PM »
boleh tahu

umur?

pernah pacaran/hubungan intim?

kira2 berapa lama dorongan jadi bhikkhu ada?

apakah seseorang dpt menjalankan winaya bhiku tanpa menjadi bhiku ?
spt test drive gitu ? apakah ini solusi lumayan ?
merryXmas n happyNewYYYY 2018

Offline juanpedro

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 949
  • Reputasi: 48
  • Gender: Male
Re: BAGAIMANA UNTUK MENJADI SEORANG BHIKKHU ???
« Reply #16 on: 17 September 2015, 12:15:58 PM »
apakah seseorang dpt menjalankan winaya bhiku tanpa menjadi bhiku ?
spt test drive gitu ? apakah ini solusi lumayan ?
lo bukannya tu sama dengan pabbajja samanera? :-?

penasaran ama motifnya TS... apakah memang genuine apa seperti kata bro sl99, pelarian.

Offline Lex Chan

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.435
  • Reputasi: 134
  • Gender: Male
  • Love everybody, not every body...
Re: BAGAIMANA UNTUK MENJADI SEORANG BHIKKHU ???
« Reply #17 on: 17 September 2015, 03:16:25 PM »

Terima Kasih sebelumnya saudara Lex
apakah anda yg bisa menunjukkan caranya ?? dimana dan siapa yang bisa saya hubungi?

Untuk informasi mengenai Pabbajja Samanera, biasanya bisa diperoleh di vihara / cetiya terdekat.

Jika ada kesempatan bertemu dengan bhikkhu atau samanera, juga boleh ditanyakan.
“Give the world the best you have and you may get hurt. Give the world your best anyway”
-Mother Teresa-

Offline gotama

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 5
  • Reputasi: 0
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: BAGAIMANA UNTUK MENJADI SEORANG BHIKKHU ???
« Reply #18 on: 20 September 2015, 03:11:23 AM »
boleh tahu

umur?

pernah pacaran/hubungan intim?

kira2 berapa lama dorongan jadi bhikkhu ada?

27
Pernah dan pernah
Sudah sekitar 3-4 thn belakangan ini :D

Offline gotama

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 5
  • Reputasi: 0
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: BAGAIMANA UNTUK MENJADI SEORANG BHIKKHU ???
« Reply #19 on: 20 September 2015, 03:18:00 AM »
lo bukannya tu sama dengan pabbajja samanera? :-?

penasaran ama motifnya TS... apakah memang genuine apa seperti kata bro sl99, pelarian.

Genuine. Kalo dibilang pelarian juga bisa. Karena melarikan diri dari tanggung jawab merawat ortu dimasa tua. Inilah yg wa takutkan. Karena gua takut akan jadi masalah dikemudian hari. Sebagai anak w juga pengen rawat mereka di hari tua. Makanya w buat thread ini utk minta masukan diterusi niat gua ato enggak

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.993
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: BAGAIMANA UNTUK MENJADI SEORANG BHIKKHU ???
« Reply #20 on: 23 September 2015, 12:35:43 PM »
saran latihan jadi samanera dulu
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline Lex Chan

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.435
  • Reputasi: 134
  • Gender: Male
  • Love everybody, not every body...
Re: BAGAIMANA UNTUK MENJADI SEORANG BHIKKHU ???
« Reply #21 on: 24 September 2015, 12:07:32 PM »
Genuine. Kalo dibilang pelarian juga bisa. Karena melarikan diri dari tanggung jawab merawat ortu di masa tua. Inilah yg wa takutkan. Karena gua takut akan jadi masalah di kemudian hari. Sebagai anak w juga pengen rawat mereka di hari tua. Makanya w buat thread ini utk minta masukan diterusi niat gua ato enggak

Saya pikir tergantung dari niat utama. Yang manakah yang lebih kuat, lepas dari dukkha atau kah melarikan diri dari tanggung jawab untuk merawat ortu? Adakah win-win solution?

Saya pernah mendengar sharing dari dua orang yang juga ingin menjadi bhikkhu. Yang cukup menarik adalah mereka mendapatkan nasihat yang mirip dari dua orang bhikkhu yang berbeda, kira2 begini intinya: "Jadilah perumah tangga dulu, menikah, dan punya anak. Jika memang sudah waktunya untuk menjadi bhikkhu, kamu akan tahu sendiri."

Catatan: nasihat itu tidak berlaku umum, tetapi spesifik untuk kedua umat awam itu. Walaupun demikian, barangkali alternatif ini juga boleh dijadikan pertimbangan.
“Give the world the best you have and you may get hurt. Give the world your best anyway”
-Mother Teresa-

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.354
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: BAGAIMANA UNTUK MENJADI SEORANG BHIKKHU ???
« Reply #22 on: 24 September 2015, 12:27:30 PM »
Genuine. Kalo dibilang pelarian juga bisa. Karena melarikan diri dari tanggung jawab merawat ortu dimasa tua. Inilah yg wa takutkan. Karena gua takut akan jadi masalah dikemudian hari. Sebagai anak w juga pengen rawat mereka di hari tua. Makanya w buat thread ini utk minta masukan diterusi niat gua ato enggak

Merawat ortu juga merupakan salah satu kewajiban seorang anak, apalagi jika orang tuanya sudah jombo. Pada masa Buddha Kassapa (Buddha sebelum Gotama saat ini) ada seorang perumah tangga bernama Ghatikara yang bekerja sebagai pembuat tembikar, temannya Jotipala (yang merupakan Bodhisatta Gotama pada kehidupan masa Buddha Kassapa) setelah bertemu dengan Buddha Kassapa memutuskan untuk menjadi bhikkhu, tetapi Ghatikara tidak karena ingin merawat orang tuanya yang sudah jompo. Namun demikian, Ghatikara tetap bisa berlatih sebagai umat awam dan mencapai kesucian Anagami:

10. “Kemudian Ghaṭīkāra si pengrajin tembikar dan Jotipāla si murid brahmana mendatangi Sang Bhagavā Kassapa, yang sempurna dan tercerahkan sempurna. Ghaṭīkāra, setelah bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi, sementara Jotipāla saling bertukar sapa dengan Beliau, dan ketika ramah-tamah itu berakhir, ia juga duduk di satu sisi. Kemudian Ghaṭīkāra berkata kepada Sang Bhagavā Kassapa, yang sempurna dan tercerahkan sempurna: ‘Yang Mulia, ini adalah murid brahmana Jotipāla, temanku, sahabat baikku. Sudilah Sang Bhagavā mengajarkan Dhamma kepadanya.’

“Kemudian Sang Bhagavā Kassapa, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, memberikan instruksi, mendorong, membangkitkan semangat, dan menggembirakan Ghaṭīkāra si pengrajin tembikar dan Jotipāla si murid brahmana dengan pembabaran Dhamma. Di akhir pembabaran itu, setelah merasa senang dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā Kassapa, mereka bangkit dari duduk dan setelah bersujud kepada Sang Bhagavā Kassapa, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, mereka pergi.

11. “Kemudian Jotipāla bertanya kepada Ghaṭīkāra: ‘Setelah engkau mendengarkan Dhamma ini, Sahabatku Ghaṭīkāra, mengapa engkau tidak meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah?’ – ‘Sahabatku Jotipāla, tidakkah engkau tahu bahwa aku harus menyokong kedua orangtuaku yang jompo dan buta?’ – ‘Kalau begitu, sahabatku Ghaṭīkāra, aku akan meninggalkan keduniawian kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.’

12. “Kemudian Ghaṭīkāra si pengrajin tembikar dan Jotipāla si murid brahmana mendatangi Sang Bhagavā Kassapa, yang sempurna dan tercerahkan sempurna. [49] Setelah bersujud kepada Beliau, mereka duduk di satu sisi dan Ghaṭīkāra si pengrajin tembikar berkata kepada Sang Bhagavā Kassapa, yang sempurna dan tercerahkan sempurna: ‘Yang Mulia, ini adalah murid brahmana Jotipāla, temanku, sahabat baikku. Sudilah Sang Bhagavā memberikannya pelepasan keduniawian.’ Dan murid brahmana Jotipāla menerima pelepasan keduniawian dari Sang Bhagavā Kassapa, yang sempurna dan tercerahkan sempurna dan ia menerima penahbisan penuh.

13. “Kemudian tidak lama setelah Jotipāla si murid brahmana menerima penahbisan penuh, setengah bulan setelah ia menerima penahbisan penuh, Sang Bhagavā Kassapa, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, setelah menetap di Vebhalinga selama yang Beliau kehendaki, melakukan perjalanan menuju Benares. Dengan mengembara secara bertahap, akhirnya Beliau tiba di Benares, dan di sana Beliau menetap di Taman Rusa Isipatana.

14. “Kemudian Raja Kikī dari Kāsi mendengar: ‘Sepertinya Sang Bhagavā Kassapa, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, telah tiba di Benares dan menetap di Taman Rusa di Isipatana.’ Maka ia menyiapkan sejumlah kereta kerajaan, dan dengan mengendarai kereta kerajaan, ia pergi keluar dari Benares dengan segala kemegahan kerajaan untuk menemui Sang Bhagavā Kassapa, yang sempurna dan tercerahkan sempurna. Ia berkendara hingga sejauh jalan yang dapat dilalui oleh kereta, dan kemudian ia turun dari keretanya dan melanjutkan dengan berjalan kaki ke tempat Sang Bhagavā Kassapa, yang sempurna dan tercerahkan sempurna. Setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi dan Sang Bhagavā Kassapa, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, memberikan instruksi, mendorong, membangkitkan semangat, dan menggembirakan Raja Kikī dari Kāsi dengan pembabaran Dhamma.

15. “Pada akhir pembabaran itu, Raja Kikī dari Kāsi berkata: [50] ‘Yang Mulia, sudilah Sang Bhagavā bersama Sangha para bhikkhu menerima makanan dariKu besok.’ Dan Sang Bhagavā Kassapa, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, menerima dengan berdiam diri. Kemudian, mengetahui bahwa Sang Bhagavā Kassapa, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, telah menerima, ia bangkit dari duduknya dan setelah bersujud kepada Beliau, dengan Beliau tetap di sisi kanannya, ia pergi.

16. “Kemudian, ketika malam telah berlalu, Raja Kikī dari Kāsi mempersiapkan berbagai jenis makanan di tempat kediamannya – beras merah yang tersimpan dalam ikatan dan beras yang kehitaman dipisahkan, bersama dengan banyak kuah dan kari – dan ketika waktunya tiba, ia mengumumkan kepada Sang Bhagavā Kassapa, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, sebagai berikut: ‘Waktunya telah tiba, Yang Mulia, makanan telah siap.’

17. “Kemudian, pada pagi harinya, Sang Bhagavā Kassapa, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, merapikan jubah, dan dengan membawa mangkuk dan jubah luarnya, Beliau pergi bersama dengan Sangha para bhikkhu menuju kediaman Raja Kikī dari Kāsi dan duduk di tempat yang telah dipersiapkan. Kemudian, dengan tangannya sendiri, Raja Kikī dari Kāsi melayani Sangha para bhikkhu yang dipimpin oleh Sang Buddha dengan berbagai jenis makanan baik hingga kenyang. Ketika Sang Bhagavā Kassapa, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, telah selesai makan dan telah menggeser mangkuknya ke samping, Raja Kikī dari Kāsi mengambil bangku yang rendah, duduk di satu sisi dan berkata: ‘Yang Mulia, Sudilah Sang Bhagavā menerima dariku tempat tinggal selama musim hujan di Benares; akan ada pelayanan kepada Sangha.’ – ‘Cukup, Baginda, tempat tinggal selama musim hujan telah tersedia untukKu.’

“Untuk ke dua dan ke tiga kalinya Raja Kikī dari Kāsi berkata: ‘Yang Mulia, Sudilah Sang Bhagavā menerima dariku tempat tinggal selama musim hujan di Benares; itu akan sangat membantu Sangha.’ – ‘Cukup, Baginda, tempat tinggal selama musim hujan telah tersedia untukKu.’

“Sang raja berpikir: ‘Sang Bhagavā Kassapa, [51] yang sempurna dan tercerahkan sempurna, tidak menerima dariku tempat tinggal selama musim hujan di Benares,’ dan ia menjadi sangat kecewa dan sedih.

18. “Kemudian ia berkata: ‘Yang Mulia, apakah Engkau memiliki penyokong yang lebih baik daripada aku?‘ – ‘Benar, Baginda. Ada sebuah kota niaga yang bernama Vebhalinga di mana seorang pengrajin tembikar bernama Ghaṭīkāra menetap. Ia adalah penyokongKu, penyokong utamaKu. Sekarang engkau, Baginda, berpikir: “Sang Bhagavā Kassapa, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, tidak menerima dariku tempat tinggal selama musim hujan di Benares,” dan engkau menjadi sangat kecewa dan sedih; tetapi si pengrajin tembikar Ghaṭīkāra tidak dan tidak akan demikian. Pengrajin tembikar Ghaṭīkāra telah berlindung pada Sang Buddha, Dhamma, dan Sangha. Ia menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari melakukan perilaku salah dalam kenikmatan indria, menghindari mengucapkan ucapan salah, dan menghindari anggur, minuman keras, dan minuman memabukkan, yang menjadi dasar bagi kelengahan. Ia memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha, dan ia memiliki moralitas yang disukai oleh para mulia. Ia terbebas dari keragu-raguan mengenai penderitaan, mengenai asal-mula penderitaan, mengenai lenyapnya penderitaan, dan mengenai jalan menuju lenyapnya penderitaan. Ia hanya makan satu kali dalam sehari, ia menjalani kehidupan selibat, ia bermoral, berkarakter baik. Ia telah meninggalkan permata dan emas, ia telah meninggalkan emas dan perak. Ia tidak menggali tanah untuk memperoleh tanah liat dengan alat penggali maupun dengan tangannya sendiri; apa yang runtuh dari tepi sungai atau yang digali oleh tikus-tikus, ia bawa ke rumah dengan menggunakan alat pengangkut; ketika ia telah membuat sebuah kendi ia berkata: “Silakan siapapun yang menginginkannya meletakkan beras pilihan atau biji-bijian pilihan atau kacang pilihan, dan silahkan ia mengambil apapun yang ia inginkan.”[5] Ia menyokong kedua orangtuanya yang jompo dan buta. [52] Setelah menghancurkan lima belenggu yang lebih rendah, ia menjadi seorang yang akan muncul kembali secara spontan [di Alam Murni] dan di sana mencapai Nibbāna akhir tanpa pernah kembali dari alam itu.


Selengkapnya bisa dibaca di MN 81 Ghatikara Sutta
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline juanpedro

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 949
  • Reputasi: 48
  • Gender: Male
Re: BAGAIMANA UNTUK MENJADI SEORANG BHIKKHU ???
« Reply #23 on: 25 September 2015, 08:34:38 AM »
Genuine. Kalo dibilang pelarian juga bisa. Karena melarikan diri dari tanggung jawab merawat ortu dimasa tua. Inilah yg wa takutkan. Karena gua takut akan jadi masalah dikemudian hari. Sebagai anak w juga pengen rawat mereka di hari tua. Makanya w buat thread ini utk minta masukan diterusi niat gua ato enggak
imo, kalo masih pengen ngrawat ya rawatlah mereka sampai mereka meninggal. 

 

anything