Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Majjhima Nikaya (Diskusi)  (Read 62747 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #15 on: 21 July 2010, 02:39:39 PM »
Lanjutan 10. Satipaṭṭhāna Sutta
----------------------------------------

(PERENUNGAN OBYEK-OBYEK PIKIRAN)

(1. Lima Rintangan)

36. “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran?  Di sini seorang bhikkhu berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran sehubungan dengan lima rintangan.  Dan bagaimanakah seorang bhikkhu berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran sehubungan dengan lima rintangan? Di sini, jika muncul keinginan indria dalam dirinya, seorang bhikkhu memahami: ‘Terdapat keinginan indria dalam diriku’; atau jika tidak ada keinginan indria dalam dirinya, ia memahami: ‘Tidak ada keinginan indria dalam diriku’; dan ia juga memahami bagaimana kemunculan keinginan indria yang belum mucul, dan bagaimana meninggalkan keinginan indria yang telah muncul, dan bagaimana ketidak-munculan di masa depan dari keinginan indria yang telah ditinggalkan.’

“Jika terdapat permusuhan dalam dirinya … Jika terdapat kelambanan dan ketumpulan dalam dirinya … Jika terdapat kegelisahan dan penyesalan dalam dirinya … Jika terdapat keragu-raguan dalam dirinya, seorang bhikkhu memahami: ‘Terdapat keragu-raguan dalam diriku’; atau jika tidak ada keragu-raguan dalam dirinya, ia memahmi: ‘Tidak ada keragu-raguan dalam diriku’; dan ia memahami bagaimana kemunculan keragu-raguan yang belum mucul, dan bagaimana meninggalkan keragu-raguan yang telah muncul, dan bagaimana ketidak-munculan di masa depan dari keragu-raguan yang telah ditinggalkan.’

(PANDANGAN TERANG)

37. “Dengan cara ini ia berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran secara internal, atau ia berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran secara eksternal, atau ia berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran secara internal dan eksternal. Atau ia berdiam merenungkan munculnya faktor-faktor obyek-obyek pikiran dalam obyek-obyek pikiran, atau ia berdiam merenungkan lenyapnya faktor-faktor obyek-obyek pikiran dalam obyek-obyek pikiran, atau ia berdiam merenungkan muncul dan lenyapnya faktor-faktor obyek-obyek pikiran dalam obyek-obyek pikiran. Atau penuh perhatian bahwa “ada obyek-obyek pikiran” muncul dalam dirinya hanya sejauh yang diperlukan bagi pengetahuan dan perhatian. Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apapun di dunia ini. Itu adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran sehubungan dengan kelima rintangan.

(2. Kelima kelompok Unsur Kehidupan)

38. “Kemudian, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran [61] sehubungan dengan kelima kelompok unsur kehidupan yang terpengaruh oleh kemelekatan.  Dan bagaimanakah seorang bhikkhu berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran sehubungan dengan kelima kelompok unsur kehidupan? Di sini seorang bhikkhu memahami: ‘Demikianlah bentuk materi, demikianlah asal mulanya, demikianlah lenyapnya; demikianlah perasaan, demikianlah asal mulanya, demikianlah lenyapnya; demikianlah persepsi, demikianlah asal mulanya, demikianlah lenyapnya; demikianlah bentukan-bentukan, demikianlah asal mulanya, demikianlah lenyapnya; demikianlah kesadaran, demikianlah asal mulanya, demikianlah lenyapnya.’

39. “Dengan cara inilah ia berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran secara internal, secara eksternal, dan secara internal dan eksternal … Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apapun di dunia ini. Itu adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran sehubungan dengan kelima kelompok unsur kehidupan yang terpengaruh oleh kemelekatan.

(3. Enam Landasan)

40. “Kemudian, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran sehubungan dengan enam landasan internal dan eksternal.  Dan bagaimanakah seorang bhikkhu berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran sehubungan dengan enam landasan internal dan eksternal? Di sini seorang bhikkhu memahami mata, ia memahami bentuk-bentuk, dan ia memahami belenggu-belenggu yang muncul dengan bergantung pada keduanya; dan ia juga memahami bagaimana munculnya belenggu yang belum muncul, dan bagaimana meninggalkan belenggu yang telah muncul, dan bagaimana ketidak-munculan di masa depan dari belenggu yang telah ditinggalkan.

“Ia memahami telinga, ia memahami suara-suara … Ia memahami hidung,m ia memahami bau-bauan … Ia memahami lidah, ia memahami rasa kecapan … Ia memahami badan, ia memahami obyek-obyek sentuhan … Ia memahami pikiran, ia memahami obyek-obyek pikiran, dan ia memahami belenggu-belenggu yang muncul dengan bergantung pada keduanya; dan ia juga memahami bagaimana munculnya belenggu yang belum muncul, dan bagaimana meninggalkan belenggu yang telah muncul, dan bagaimana ketidak-munculan di masa depan dari belenggu yang telah ditinggalkan.

41. “Dengan cara inilah ia berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran secara internal, secara eksternal, dan secara internal dan eksternal … Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apapun di dunia ini. Itu adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran sehubungan dengan enam landasan indria internal dan eksternal.

(4. Tujuh Faktor Pencerahan)

42. “Kemudian, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran sehubungan dengan ketujuh faktor pencerahan.  Dan bagaimanakah seorang bhikkhu berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran sehubungan dengan ketujuh faktor pencerahan? Di sini, jika ada faktor pencerahan perhatian dalam dirinya, seorang bhikkhu memahami: ‘Ada faktor pencerahan perhatian dalam diriku’; atau jika tidak ada faktor pencerahan perhatian dalam dirinya, ia memahami: [62] ‘Tidak ada faktor pencerahan perhatian dalam diriku’; dan ia juga memahami bagaimana munculnya faktor pencerahan perhatian yang belum muncul, dan bagaimana faktor pencerahan perhatian terpenuhi melalui pengembangan.

“Jika ada faktor pencerahan penyelidikan-kondisi-kondisi dalam dirinya  … Jika ada faktor pencerahan kegigihan dalam dirinya … Jika ada faktor pencerahan kegembiraan dalam dirinya … Jika ada faktor pencerahan ketenangan dalam dirinya … Jika ada faktor pencerahan konsentrasi dalam dirinya … Jika ada faktor pencerahan keseimbangan dalam dirinya, seorang bhikkhu memahami: ‘Ada faktor pencerahan keseimbangan dalam diriku’; atau jika tidak ada faktor pencerahan keseimbangan dalam dirinya, ia memahami: ‘Tidak ada faktor pencerahan keseimbangan dalam diriku’; dan ia juga memahami bagaimana munculnya faktor pencerahan keseimbangan yang belum muncul, dan bagaimana faktor pencerahan keseimbangan terpenuhi melalui pengembangan.

43. “Dengan cara inilah ia berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran secara internal, secara eksternal, dan secara internal dan eksternal … Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apapun di dunia ini. Itu adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran sehubungan dengan ketujuh faktor pencerahan.

(5. Empat Kebenaran Mulia)

44. “Kemudian, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran sehubungan dengan Empat Kebenaran Mulia.  Dan bagaimanakah seorang bhikkhu berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran sehubungan dengan Empat Kebenaran Mulia? Di sini seorang bhikkhu memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah asal-mula penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan.’

(PANDANGAN TERANG)

45. “Dengan cara ini ia berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran secara internal, atau ia berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran secara eksternal, atau ia berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran secara internal dan eksternal. Atau ia berdiam merenungkan munculnya faktor-faktor obyek-obyek pikiran dalam obyek-obyek pikiran, atau ia berdiam merenungkan lenyapnya faktor-faktor obyek-obyek pikiran dalam obyek-obyek pikiran, atau ia berdiam merenungkan muncul dan lenyapnya faktor-faktor obyek-obyek pikiran dalam obyek-obyek pikiran. Atau penuh perhatian bahwa “ada obyek-obyek pikiran” muncul dalam dirinya hanya sejauh yang diperlukan bagi pengetahuan dan perhatian. Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apapun di dunia ini. Itu adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran sehubungan dengan Empat Kebenaran Mulia.

(PENUTUP)

46. “Para bhikkhu, jika siapapun juga mengembangkan keempat landasan perhatian ini dengan cara demikian selama tujuh tahun, maka satu dari dua buah dapat diharapkan untuknya: pengetahuan akhir di sini dan saat ini, atau jika masih ada kemelekatan yang tersisa, tidak-kembali-lagi.

“Jangankan tujuh tahun, para bhikkhu. [63] Jika siapapun juga mengembangkan keempat landasan perhatian ini dengan cara demikian selama enam tahun … selama lima tahun … selama empat tahun …selama tiga tahun … selama dua tahun … selama satu tahun, maka satu dari dua buah dapat diharapkan untuknya: pengetahuan akhir di sini dan saat ini, atau jika masih ada kemelekatan yang tersisa, tidak-kembali-lagi.

“Jangankan satu tahun, para bhikkhu. Jika siapapun juga mengembangkan keempat landasan perhatian ini dengan cara demikian selama tujuh bulan … selama enam bulan … selama lima bulan … selama empat bulan …selama tiga bulan … selama dua bulan … selama satu bulan … selama setengah bulan, maka satu dari dua buah dapat diharapkan untuknya: pengetahuan akhir di sini dan saat ini, atau jika masih ada kemelekatan yang tersisa, tidak-kembali-lagi.

“Jangankan setengah bulan, para bhikkhu. Jika siapapun juga mengembangkan keempat landasan perhatian ini dengan cara demikian selama tujuh hari, maka satu dari dua buah dapat diharapkan untuknya: pengetahuan akhir di sini dan saat ini, atau jika masih ada kemelekatan yang tersisa, tidak-kembali-lagi.

47. “Adalah dengan merujuk pada hal inilah maka dikatakan: ‘Para bhikkhu, ini adalah jalan langsung untuk pemurnian makhluk-makhluk, untuk mengatasi dukacita dan ratapan, untuk lenyapnya kesakitan dan kesedihan, untuk pencapaian jalan sejati, untuk penembusan Nibbāna – yaitu, empat landasan perhatian.’”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas dan gembira mendengarkan kata-kata Sang Bhagavā.



Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.397
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #16 on: 21 July 2010, 02:49:07 PM »
1  Mūlapariyāya Sutta
Akar Segala Sesuatu




[1] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR.  Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Ukkaṭṭhā di Hutan Subhaga di bawah pohon sāla kerajaan. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu: “Para bhikkhu.”  – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

2. “Para bhikkhu, Aku akan mengajarkan sebuah khotbah kepada kalian tentang akar dari segala sesuatu.  Dengarkan dan perhatikanlah apa yang akan Kukatakan.” – “Baik, Yang Mulia,” para bhikkhu itu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

(Orang awam)

3. “Di sini, para bhikkhu, seorang biasa yang tidak terlatih,  yang tidak menghargai para mulia dan tidak terampil dan tidak disiplin dalam Dhamma mereka, yang tidak menghargai manusia sejati dan tidak terampil dan tidak disiplin dalam Dhamma mereka, memahami tanah sebagai tanah.  Setelah memahami tanah sebagai tanah, ia menganggap [dirinya sebagai] tanah, ia menganggap [dirinya] dalam tanah, ia menganggap [dirinya terpisah] dari tanah, ia menganggap tanah sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam tanah.  Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

4. “Ia memahami air sebagai air. Setelah memahami air sebagai air, ia menganggap [dirinya sebagai] air, ia menganggap [dirinya] dalam air, ia menganggap [dirinya terpisah] dari air, ia menganggap air sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam air. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

5. “Ia memahami api sebagai api. Setelah memahami api sebagai api, ia menganggap [dirinya sebagai] api, ia menganggap [dirinya] dalam api, ia menganggap [dirinya terpisah] dari api, ia menganggap api sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam api. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

6. “Ia memahami udara sebagai udara. Setelah memahami udara sebagai udara, ia menganggap [dirinya sebagai] udara, ia menganggap [dirinya] dalam udara, ia menganggap [dirinya terpisah] dari udara, ia menganggap udara sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam udara. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan. [2]

7. “Ia memahami makhluk-makhluk sebagai makhluk-makhluk.  Setelah memahami makhluk-makhluk sebagai makhluk-makhluk, ia membayangkan makhluk-makhluk, ia menganggap [dirinya] dalam makhluk-makhluk, ia menganggap [dirinya terpisah] dari makhluk-makhluk, ia menganggap makhluk-makhluk sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam makhluk-makhluk. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

8. “Ia memahami dewa-dewa sebagai dewa-dewa.  Setelah memahami dewa-dewa sebagai dewa-dewa, ia membayangkan dewa-dewa, ia menganggap [dirinya] dalam dewa-dewa, ia menganggap [dirinya terpisah] dari dewa-dewa, ia menganggap dewa-dewa sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam dewa-dewa. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

9. “Ia memahami Pajāpati sebagai Pajāpati.  Setelah memahami Pajāpati sebagai Pajāpati, ia membayangkan Pajāpati, ia menganggap [dirinya] dalam Pajāpati, ia menganggap [dirinya terpisah] dari Pajāpati, ia menganggap Pajāpati sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam Pajāpati. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

10. “Ia memahami Brahmā sebagai Brahmā.  Setelah memahami Brahmā sebagai Brahmā, ia membayangkan Brahmā, ia menganggap [dirinya] dalam Brahmā, ia menganggap [dirinya terpisah] dari Brahmā, ia menganggap Brahmā sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam Brahmā. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

11. “Ia memahami para dewa dengan cahaya gemilang sebagai para dewa dengan cahaya gemilang.  Setelah memahami para dewa dengan cahaya gemilang sebagai para dewa dengan cahaya gemilang, ia membayangkan para dewa dengan cahaya gemilang, ia menganggap [dirinya] dalam para dewa dengan cahaya gemilang, ia menganggap [dirinya terpisah] dari para dewa dengan cahaya gemilang, ia menganggap para dewa dengan cahaya gemilang sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam para dewa dengan cahaya gemilang. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

12. “Ia memahami para dewa dengan keagungan gemerlap sebagai para dewa dengan keagungan gemerlap.  Setelah memahami para dewa dengan keagungan gemerlap sebagai para dewa dengan keagungan gemerlap, ia membayangkan para dewa dengan keagungan gemerlap, ia menganggap [dirinya] dalam para dewa dengan keagungan gemerlap, ia menganggap [dirinya terpisah] dari para dewa dengan keagungan gemerlap, ia menganggap para dewa dengan keagungan gemerlap sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam para dewa dengan keagungan gemerlap. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

13. “Ia memahami para dewa dengan Buah Besar sebagai para dewa dengan Buah Besar.  Setelah memahami para dewa dengan Buah Besar sebagai para dewa dengan Buah Besar, ia membayangkan para dewa dengan Buah Besar, ia menganggap [dirinya] dalam para dewa dengan Buah Besar, ia menganggap [dirinya terpisah] dari para dewa dengan Buah Besar, ia menganggap para dewa dengan Buah Besar sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam para dewa dengan Buah Besar. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

14. “Ia memahami maharaja sebagai maharaja.  Setelah memahami maharaja sebagai maharaja, ia membayangkan maharaja, ia menganggap [dirinya] dalam maharaja, ia menganggap [dirinya terpisah] dari maharaja, ia menganggap maharaja sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam maharaja. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

15. “Ia memahami landasan ruang tanpa batas sebagai landasan ruang tanpa batas.  Setelah memahami landasan ruang tanpa batas sebagai landasan ruang tanpa batas,  ia menganggap [dirinya sebagai] landasan ruang tanpa batas, ia menganggap [dirinya] dalam landasan ruang tanpa batas, ia menganggap [dirinya terpisah] dari landasan ruang tanpa batas, ia menganggap landasan ruang tanpa batas sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam landasan ruang tanpa batas. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

16. “Ia memahami landasan kesadaran tanpa batas sebagai landasan kesadaran tanpa batas. Setelah memahami landasan kesadaran tanpa batas sebagai landasan kesadaran tanpa batas,  [3] ia menganggap [dirinya sebagai] landasan kesadaran tanpa batas, ia menganggap [dirinya] dalam landasan kesadaran tanpa batas, ia menganggap [dirinya terpisah] dari landasan kesadaran tanpa batas, ia menganggap landasan kesadaran tanpa batas sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam landasan kesadaran tanpa batas. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

17. “Ia memahami landasan kekosongan sebagai landasan kekosongan. Setelah memahami landasan kekosongan sebagai landasan kekosongan, ia menganggap [dirinya sebagai] landasan kekosongan, ia menganggap [dirinya] dalam landasan kekosongan, ia menganggap [dirinya terpisah] dari landasan kekosongan, ia menganggap landasan kekosongan sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam landasan kekosongan. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

18. “Ia memahami landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi sebagai landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. Setelah memahami landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi sebagai landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, ia menganggap [dirinya sebagai] landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, ia menganggap [dirinya] dalam landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, ia menganggap [dirinya terpisah] dari landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, ia menganggap landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

19. “Ia memahami yang terlihat sebagai yang terlihat.  Setelah memahami yang terlihat sebagai yang terlihat, ia menganggap [dirinya sebagai] yang terlihat, ia menganggap [dirinya] dalam yang terlihat, ia menganggap [dirinya terpisah] dari yang terlihat, ia menganggap yang terlihat sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam yang terlihat. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

20. “Ia memahami yang terdengar sebagai yang terdengar. Setelah memahami yang terdengar sebagai yang terdengar, ia menganggap [dirinya sebagai] yang terdengar, ia menganggap [dirinya] dalam yang terdengar, ia menganggap [dirinya terpisah] dari yang terdengar, ia menganggap yang terdengar sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam yang terdengar. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

21. “Ia memahami yang tercerap sebagai yang tercerap. Setelah memahami yang tercerap sebagai yang tercerap, ia menganggap [dirinya sebagai] yang tercerap, ia menganggap [dirinya] dalam yang tercerap, ia menganggap [dirinya terpisah] dari yang tercerap, ia menganggap yang tercerap sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam yang tercerap. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

22. “Ia memahami yang dikenali sebagai yang dikenali. Setelah memahami yang dikenali sebagai yang dikenali, ia menganggap [dirinya sebagai] yang dikenali, ia menganggap [dirinya] dalam yang dikenali, ia menganggap [dirinya terpisah] dari yang dikenali, ia menganggap yang dikenali sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam yang dikenali. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

23. “Ia memahami kesatuan sebagai kesatuan.  Setelah memahami kesatuan sebagai kesatuan, ia menganggap [dirinya sebagai] kesatuan, ia menganggap [dirinya] dalam kesatuan, ia menganggap [dirinya terpisah] dari kesatuan, ia menganggap kesatuan sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam kesatuan. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

24. “Ia memahami keragaman sebagai keragaman. Setelah memahami keragaman sebagai keragaman, ia menganggap [dirinya sebagai] keragaman, ia menganggap [dirinya] dalam keragaman, ia menganggap [dirinya terpisah] dari keragaman, ia menganggap keragaman sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam keragaman. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

25. “Ia memahami seluruhnya sebagai seluruhnya.  Setelah memahami seluruhnya sebagai seluruhnya, ia menganggap [dirinya sebagai] seluruhnya, [4] ia menganggap [dirinya] dalam seluruhnya, ia menganggap [dirinya terpisah] dari seluruhnya, ia menganggap seluruhnya sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam seluruhnya. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

26. “Ia memahami Nibbāna sebagai Nibbāna.  Setelah memahami Nibbāna sebagai Nibbāna, ia menganggap [dirinya sebagai] Nibbāna, [4] ia menganggap [dirinya] dalam Nibbāna, ia menganggap [dirinya terpisah] dari Nibbāna, ia menganggap Nibbāna sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam Nibbāna. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

(SISWA DALAM LATIHAN YANG LEBIH TINGGI)

27. “Para bhikkhu, seorang bhikkhu yang sedang dalam latihan yang lebih tinggi,  yang batinnya masih belum mencapai tujuan, dan yang masih bercita-cita untuk mencapai keamanan tertinggi dari belenggu, secara langsung mengetahui tanah sebagai tanah.  Setelah mengetahui tanah sebagai tanah, ia seharusnya tidak menganggap [dirinya sebagai] tanah, ia seharusnya tidak menganggap [dirinya] dalam tanah, ia seharusnya tidak menganggap [dirinya terpisah] dari tanah, ia seharusnya tidak menganggap tanah sebagai ‘milikku,’ ia seharusnya tidak bergembira dalam tanah. Mengapakah? Agar ia dapat memahaminya sepenuhnya, Aku katakan.

28-49. “Ia secara langsung mengetahui air sebagai air … Ia secara langsung mengetahui seluruhnya sebagai seluruhnya.

50. “Ia secara langsung mengetahui Nibbāna sebagai Nibbāna. Setelah mengetahui Nibbāna sebagai Nibbāna, ia seharusnya tidak menganggap [dirinya sebagai] Nibbāna, ia seharusnya tidak menganggap [dirinya] dalam Nibbāna, ia seharusnya tidak menganggap [dirinya terpisah] dari Nibbāna, ia seharusnya tidak menganggap Nibbāna sebagai ‘milikku,’ ia seharusnya tidak bergembira dalam Nibbāna. Mengapakah? Agar ia dapat memahaminya sepenuhnya, Aku katakan.

(ARAHANT – I)

51. “Para bhikkhu, seorang bhikkhu yang adalah seorang Arahant dengan noda-noda telah dihancurkan, yang telah menjalani kehidupan suci, telah melakukan apa yang harus dilakukan, telah menurunkan beban, telah mencapai tujuan sesungguhnya, telah menghancurkan belenggu-belenggu penjelmaan, dan sepenuhnya terbebas melalui pengetahuan tertinggi,  secara langsung mengetahui tanah sebagai tanah. Setelah secara langsung mengetahui tanah sebagai tanah, ia tidak menganggap [dirinya sebagai] tanah, ia tidak menganggap [dirinya] dalam tanah, ia tidak menganggap [dirinya terpisah] dari tanah, ia tidak menganggap tanah sebagai ‘milikku,’ ia tidak bergembira dalam tanah. Mengapakah? Karena ia telah memahami sepenuhnya, Aku katakan.
`
52-74. “Ia secara langsung mengetahui air sebagai air … Nibbāna sebagai Nibbāna … Mengapakah? Karena ia telah memahami sepenuhnya, Aku katakan.

(ARAHANT – II)

75. “Para bhikkhu, seorang bhikkhu yang adalah seorang Arahant … sepenuhnya terbebas melalui pengetahuan tertinggi, [5] secara langsung mengetahui tanah sebagai tanah. Setelah secara langsung mengetahui tanah sebagai tanah, ia tidak menganggap [dirinya sebagai] tanah, ia tidak menganggap [dirinya] dalam tanah, ia tidak menganggap [dirinya terpisah] dari tanah, ia tidak menganggap tanah sebagai ‘milikku,’ ia tidak bergembira dalam tanah. Mengapakah? Karena ia terbebaskan dari nafsu melalui hancurnya nafsu.

76-98. “Ia secara langsung mengetahui air sebagai air … Nibbāna sebagai Nibbāna … Mengapakah? Karena ia terbebaskan dari nafsu melalui hancurnya nafsu.

(ARAHANT – III)

99. “Para bhikkhu, seorang bhikkhu yang adalah seorang Arahant … sepenuhnya terbebas melalui pengetahuan tertinggi, secara langsung mengetahui tanah sebagai tanah. Setelah secara langsung mengetahui tanah sebagai tanah, ia tidak menganggap [dirinya sebagai] tanah, ia tidak menganggap [dirinya] dalam tanah, ia tidak menganggap [dirinya terpisah] dari tanah, ia tidak menganggap tanah sebagai ‘milikku,’ ia tidak bergembira dalam tanah. Mengapakah? Karena ia terbebaskan dari kebencian melalui hancurnya kebencian.

100-122. “Ia secara langsung mengetahui air sebagai air … Nibbāna sebagai Nibbāna … Mengapakah? Karena ia terbebaskan dari kebencian melalui hancurnya kebencian.

(ARAHANT – IV)

123. “Para bhikkhu, seorang bhikkhu yang adalah seorang Arahant … sepenuhnya terbebas melalui pengetahuan tertinggi, secara langsung mengetahui tanah sebagai tanah. Setelah secara langsung mengetahui tanah sebagai tanah, ia tidak menganggap [dirinya sebagai] tanah, ia tidak menganggap [dirinya] dalam tanah, ia tidak menganggap [dirinya terpisah] dari tanah, ia tidak menganggap tanah sebagai ‘milikku,’ ia tidak bergembira dalam tanah. Mengapakah? Karena ia terbebaskan dari kebodohan melalui hancurnya kebodohan

124-146. “Ia secara langsung mengetahui air sebagai air … Nibbāna sebagai Nibbāna … Mengapakah? Karena ia terbebaskan dari kebeodohan melalui hancurnya kebodohan.

(TATHĀGATA – I)

147. “Para bhikkhu, Sang Tathāgata,  yang sempurna dan tercerahkan sepenuhnya, secara langsung mengetahui tanah sebagai tanah. Setelah secara langsung mengetahui tanah sebagai tanah, Beliau tidak menganggap [dirinya sebagai] tanah, Beliau tidak menganggap [dirinya] dalam tanah, Beliau tidak menganggap [dirinya terpisah] dari tanah, Beliau tidak menganggap tanah sebagai ‘milikku,’ Beliau tidak bergembira dalam tanah. [6] Mengapakah? Karena Beliau telah memahami sepenuhnya hingga akhir, Aku katakan.

148-170. “Beliau secara langsung mengetahui air sebagai air … Nibbāna sebagai Nibbāna … Mengapakah? Karena Beliau telah memahami sepenuhnya hingga akhir, Aku katakan.

(TATHĀGATA – II)

171. “Para bhikkhu, Sang Tathāgata, yang sempurna dan tercerahkan sepenuhnya, secara langsung mengetahui tanah sebagai tanah. Setelah secara langsung mengetahui tanah sebagai tanah, Beliau tidak menganggap [dirinya sebagai] tanah, Beliau tidak menganggap [dirinya] dalam tanah, Beliau tidak menganggap [dirinya terpisah] dari tanah, Beliau tidak menganggap tanah sebagai ‘milikku,’ Beliau tidak bergembira dalam tanah. Mengapakah? Karena Beliau telah memahami bahwa kegembiraan adalah akar penderitaan, dan bahwa dengan itu [sebagai kondisi] maka ada kelahiran, dan bahwa dengan apapun yang terlahir itu, maka ada penuaan dan kematian.  Oleh karena itu, para bhikkhu, melalui kehancuran, peluruhan, pelenyapan, penghentian, dan pelepasan keinginan, Sang Tathāgata telah tercerahkan hingga pencerahan sempurna yang tertinggi, Aku katakan.

172-194. “Beliau secara langsung mengetahui air sebagai air … Nibbāna sebagai Nibbāna … Mengapakah? Karena Beliau telah memahami bahwa kegembiraan adalah akar penderitaan, dan bahwa dengan itu [sebagai kondisi] maka ada kelahiran, dan bahwa dengan apapun yang terlahir itu, maka ada penuaan dan kematian. Oleh karena itu, para bhikkhu, melalui kehancuran, peluruhan, pelenyapan, penghentian, dan pelepasan keinginan, Sang Tathāgata telah tercerahkan hingga pencerahan sempurna yang tertinggi, Aku katakan.

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Tetapi para bhikkhu itu tidak bergembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.


There is no place like 127.0.0.1

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #17 on: 21 July 2010, 02:54:21 PM »
urutannya jadi rusak, ayo kembalikan

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.397
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #18 on: 21 July 2010, 03:56:49 PM »
kennot. salah TS yg bikinnya gitu, resiko
There is no place like 127.0.0.1

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #19 on: 21 July 2010, 04:02:54 PM »
kennot. salah TS yg bikinnya gitu, resiko

padahal kan bisa bikin thread baru aja, then merge, payah nih...

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.407
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #20 on: 21 July 2010, 04:20:51 PM »
Pecat suhu =))
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline dhammadinna

  • Sebelumnya: Mayvise
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.626
  • Reputasi: 149
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #21 on: 21 July 2010, 04:31:11 PM »
edit nomornya aja... isinya juga kan beda-beda (gak saling sambung-menyambung)..

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.397
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #22 on: 21 July 2010, 04:33:00 PM »
kennot, kalau di merge itu sort by waktu post. jadi... samimawon


 [at] mayvise: ugh... selipin 1, maka harus geser semua satu persatu
There is no place like 127.0.0.1

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #23 on: 21 July 2010, 04:35:25 PM »
edit nomornya aja... isinya juga kan beda-beda (gak saling sambung-menyambung)..

edit nomor?
maksudnya Mulapariyaya Sutta jadi MN 10? :hammer:

Offline dhammadinna

  • Sebelumnya: Mayvise
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.626
  • Reputasi: 149
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #24 on: 21 July 2010, 04:41:37 PM »
Ya uda posting ulang aja.... thread ini dihapus. Toh tinggal copy-paste kan? ;D

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #25 on: 21 July 2010, 04:43:09 PM »
Ya uda posting ulang aja.... thread ini dihapus. Toh tinggal copy-paste kan? ;D

mau jadi relawan? silahkan

Offline dhammadinna

  • Sebelumnya: Mayvise
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.626
  • Reputasi: 149
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #26 on: 21 July 2010, 04:44:45 PM »
bolee... nanti sy editin yg salah-salah ketik sekalian (tapi setelah beresin "tugas lama" dulu)
« Last Edit: 21 July 2010, 04:47:23 PM by Mayvise »

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #27 on: 21 July 2010, 04:48:06 PM »
bolee... nanti sy editin yg salah-salah ketik dulu... (tp setelah beresin "tugas lama")

ingat... mulai dari postingan #2, jadi post #1 dibiarkan kosong aja, nanti mau ditambahkan TOC di post #1

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.850
  • Reputasi: 268
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #28 on: 21 July 2010, 04:57:08 PM »
bolee... nanti sy editin yg salah-salah ketik sekalian (tapi setelah beresin "tugas lama" dulu)

Kalau bisa lock dulu supaya ga ada posting yang mengganggu. Jadi  post 2 - 153 ga terputus.
Kalau mau bahas salah satunya, nanti di lain thread aja.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #29 on: 21 July 2010, 05:00:22 PM »
 [at] Kai, gak apa2 deh udah terlanjur, toh ntar mau dibikin thread baru yg lebih rapi