//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Majjhima Nikaya (Diskusi)  (Read 66213 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Majjhima Nikaya (Diskusi)
« on: 20 July 2010, 05:00:10 PM »
Note: MN1 dipindahkan ke page 2 agar MN1 tidak muncul di setiap page.Detail update tentang MN disini
« Last Edit: 02 August 2010, 07:34:46 PM by Hendra Susanto »

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #1 on: 20 July 2010, 05:06:12 PM »
2  Sabbāsava Sutta
Segala noda




1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

2. “Para bhikkhu, Aku akan mengajarkan kepada kalian sebuah khotbah tentang pengendalian segala noda.  [7] Dengarkanlah dan perhatikanlah apa yang akan Aku katakan.” – “Baik, Yang Mulia,” para bhikkhu itu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

(RINGKASAN)

3. “Para Bhikkhu, Aku katakan bahwa hancurnya noda-noda adalah untuk seorang yang mengetahui dan melihat, bukan untuk seorang yang tidak mengetahui dan tidak melihat. Yang mengetahui dan melihat apakah? Perhatian bijaksana dan perhatian tidak bijaksana.  Ketika seseorang memperhatikan dengan tidak bijaksana, noda-noda yang belum muncul menjadi muncul dan noda-noda yang telah muncul menjadi bertambah. Ketika seseorang memperhatikan dengan bijaksana, noda-noda yang belum muncul tidak akan muncul dan noda-noda yang telah muncul ditinggalkan.

4. “Para bhikkhu, ada noda-noda yang harus ditinggalkan dengan melihat. Ada noda-noda yang harus ditinggalkan dengan mengendalikan. Ada noda-noda yang harus ditinggalkan dengan menggunakan. Ada noda-noda yang harus ditinggalkan dengan menahankan. Ada noda-noda yang harus ditinggalkan dengan menghindari. Ada noda-noda yang harus ditinggalkan dengan melenyapkan. Ada noda-noda yang harus ditinggalkan dengan mengembangkan.

(NODA-NODA YANG HARUS DITINGGALKAN DENGAN MELIHAT)

5. “Apakah noda-noda, para bhikkhu, yang harus ditinggalkan dengan melihat?  Di sini, para bhikkhu, seorang biasa yang tidak terlatih, yang tidak menghargai para mulia dan tidak terampil dan tidak disiplin dalam Dhamma mereka, yang tidak menghargai manusia sejati dan tidak terampil dan tidak disiplin dalam Dhamma mereka, tidak memahami hal-hal apa yang layak diperhatikan dan hal-hal apa yang tidak layak diperhatikan. Oleh karena itu, ia memperhatikan hal-hal yang tidak layak diperhatikan dan ia tidak memperhatikan hal-hal yang layak diperhatikan.

6. “Apakah hal-hal yang tidak layak untuk diperhatikan yang ia perhatikan? Yaitu hal-hal yang ketika ia memperhatikannya, maka noda-noda keinginan indria yang belum muncul menjadi muncul dalam dirinya dan noda-noda keinginan indria yang telah muncul menjadi bertambah, noda-noda penjelmaan yang belum muncul menjadi muncul dalam dirinya dan noda-noda penjelmaan yang telah muncul menjadi bertambah, noda-noda kebodohan yang belum muncul menjadi muncul dalam dirinya, dan noda-noda kebodohan yang telah muncul menjadi bertambah. Ini adalah hal-hal yang tidak layak diperhatikan yang ia perhatikan.  Dan apakah hal-hal yang layak untuk diperhatikan yang tidak ia perhatikan? Yaitu hal-hal yang ketika ia memperhatikannya, maka noda-noda keinginan indria yang belum muncul tidak muncul dalam dirinya dan noda-noda keinginan indria yang telah muncul ditinggalkan, noda-noda penjelmaan yang belum muncul tidak muncul dalam dirinya dan noda-noda penjelmaan yang telah muncul ditinggalkan, noda-noda kebodohan yang belum muncul tidak muncul dalam dirinya, dan noda-noda kebodohan yang telah muncul ditinggalkan. Ini adalah hal-hal yang layak diperhatikan yang tidak ia perhatikan. [8] Dengan memperhatikan hal-hal yang tidak layak diperhatikan dan dengan tiadk memperhatikan hal-hal yang layak diperhatikan, maka noda-noda yang belum muncul menjadi muncul dalam dirinya dan noda-noda yang telah muncul menjadi bertambah.

7. “Ini adalah bagaimana ia memperhatikan dengan tidak bijaksana: ‘Apakah aku ada di masa lampau? Apakah aku tidak ada di masa lampau? Apakah aku di masa lampau? Bagaimanakah aku di masa lampau? Setelah menjadi apa, kemudian menjadi apakah aku di masa lampau? Apakah aku aka nada di masa depan? Apakah aku akan tidak ada di masa depan? Akan menjadi apakah aku di masa depan? Akan bagaimanakah aku di masa depan? Setelah menjadi apa, kemudian menjadi apakah aku di masa depan? Atau kalau tidak demikian, ia kebingungan sehubungan dengan masa sekarang sebagai berikut: ‘Apakah aku ada? Apakah aku tidak ada? Apakah aku? Bagaimanakah aku? Dari manakah makhluk ini datang? Kemanakah makhluk ini akan pergi?’

8. “Ketika ia memperhatikan dengan tidak bijaksana seperti ini, satu dari enam pandangan muncul dalam dirinya.  Pandangan ‘ada diri bagiku’ muncul dalam dirinya sebagai benar dan kokoh; atau pandangan ‘tidak ada diri bagiku’ muncul dalam dirinya sebagai benar dan kokoh; atau pandangan ‘aku melihat diri dengan diri’ muncul dalam dirinya sebagai benar dan kokoh; atau pandangan ‘aku melihat bukan-diri dengan diri’ muncul dalam dirinya sebagai benar dan kokoh; atau pandangan ‘aku melihat diri dengan bukan-diri’ muncul dalam dirinya sebagai benar dan kokoh; atau kalau tidak demikian, ia memiliki beberapa pandangan sebagai berikut ini: ‘adalah diriku ini yang berbicara dan merasakan dan mengalami di sana-sini akibat dari perbuatan baik dan buruk; tetapi diriku ini adalah kekal, tetap ada, abadi, tidak tunduk pada perubahan, dan akan bertahan selamanya.’  Pandangan spekulatif ini, para bhikkhu, disebut rimba pandangan, belantara pandangan, pemutar-balikan pandangan, kebingungan pandangan, belenggu pandangan. Terbelenggu oleh belenggu pandangan, seorang biasa yang tidak terlatih tidak terbebas dari kelahiran, penuaan, dan kematian, dari dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan; ia tidak terbebas dari penderitaan, Aku katakan.

9. “Para bhikkhu, seorang siswa mulia yang terlatih baik, yang menghargai para mulia dan terampil dan disiplin dalam Dhamma mereka, yang menghargai manusia sejati dan terampil dan disiplin dalam Dhamma mereka, memahami hal-hal apa yang layak diperhatikan dan hal-hal apa yang tidak layak diperhatikan. Oleh karena itu, [9] ia tidak memperhatikan hal-hal yang tidak layak diperhatikan dan ia memperhatikan hal-hal yang layak diperhatikan.

10. “Apakah hal-hal yang tidak layak diperhatikan yang tidak ia perhatikan? Yaitu hal-hal yang ketika ia memperhatikannya, noda-noda keinginan indria yang belum muncul menjadi muncul … (seperti §6) … dan noda-noda kebodohan yang telah muncul menjadi bertambah. Ini adalah hal-hal yang tidak layak diperhatikan yang tidak ia perhatikan. Dan apakah hal-hal yang layak diperhatikan yang ia perhatikan? Yaitu hal-hal yang ketika ia memperhatikannya, noda-noda keinginan indria yang belum muncul tidak muncul … (seperti §6) … dan noda-noda kebodohan yang telah muncul ditinggalkan. Ini adalah hal-hal yang layak diperhatikan yang ia perhatikan. Dengan tidak memperhatikan hal-hal yang tidak layak diperhatikan dan dengan memperhatikan hal-hal yang layak diperhatikan, noda-noda yang belum muncul tidak muncul dalam dirinya dan noda-noda yang telah muncul ditinggalkan.

11. “Ia memperhatikan dengan bijaksana: ‘Ini adalah penderitaan’; ia memperhatikan dengan bijaksana: ‘Ini adalah asal-mula penderitaan’; ia memperhatikan dengan bijaksana: ‘Ini adalah lenyapnya penderitaan’; ia memperhatikan dengan bijaksana: ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan.’  Ketika ia memperhatikan dengan bijaksana seperti ini, tiga belenggu ditinggalkan dalam dirinya: pandangan akan diri, keragu-raguan, dan keterikatan pada peraturan dan upacara. Ini disebut noda-noda yang harus ditinggalkan dengan melihat.

(NODA-NODA YANG HARUS DITINGGALKAN DENGAN MENGENDALIKAN)

12. “Noda-noda apakah, para bhikkhu, yang harus ditinggalkan dengan mengendalikan?  Di sini seorang bhikkhu, merenungkan dengan bijaksana, berdiam dengan indria mata terkendali. Sementara noda-noda, kekesalan, dan demam muncul dalam diri seorang yang berdiam dengan indria mata tidak terkendali, sebaliknya tidak ada noda-noda, kekesalan, dan demam muncul dalam diri seorang yang berdiam dengan indria mata terkendali.  Merenungkan dengan bijaksana, ia berdiam dengan indria telinga terkendali … dengan indria hidung terkendali … dengan indria lidah terkendali … dengan indria badan terkendali … dengan indria pikiran terkendali … Sementara noda-noda, kekesalan, dan demam muncul dalam diri seorang yang berdiam dengan indria-indria tidak terkendali, [10] sebaliknya tidak ada noda-noda, kekesalan, dan demam muncul dalam diri seorang yang berdiam dengan indria-indria terkendali. Ini disebut noda-noda yang harus ditinggalkan dengan mengendalikan.

(NODA-NODA YANG HARUS DITINGGALKAN DENGAN MENGGUNAKAN)

13. “Noda-noda apakah, para bhikkhu, yang harus ditinggalkan dengan menggunakan?  Di sini seorang bhikkhu, merenungkan dengan bijaksana, menggunakan jubah hanya untuk perlindungan dari dingin, untuk perlindungan dari panas, untuk perlindungan dari kontak dengan lalat, nyamuk, angin, matahari, dan binatang-binatang melata, dan hanya bertujuan untuk menutupi bagian tubuh yang pribadi.

14. “Merenungkan dengan bijaksana, ia menggunakan dana makanan bukan untuk kenikmatan juga bukan untuk kesenangan juga bukan demi kecantikan  dan kemenarikan fisik, tetapi hanya untuk ketahanan dan kelangsungan badan ini, untuk mengakhiri ketidaknyamanan, dan untuk mendukung kehidupan suci, dengan pertimbangan: ‘Dengan demikian aku akan mengakhiri perasaan sebelumnya tanpa memunculkan perasaan baru dan aku akan menjadi sehat dan tanpa cela dan dapat hidup dengan nyaman.’

15. “Merenungkan dengan bijaksana, ia menggunakan tempat bernaung hanya untuk perlindungan dari dingin, untuk perlindungan dari panas, untuk perlindungan dari kontak dengan lalat, nyamuk, angin, matahari, dan binatang-binatang melata, dan hanya bertujuan untuk menangkis bahaya iklim dan untuk menikmati latihan.

16. “Merenungkan dengan bijaksana, ia menggunakan obat-obatan hanya untuk perlindungan dari penyakit yang telah muncul dan demi kesehatan

17. “Sementara noda-noda, kekesalan, dan demam muncul dalam diri seorang yang tidak menggunakan benda-benda kebutuhan seperti demikian, sebaliknya tidak ada noda-noda, kekesalan, dan demam muncul dalam diri seorang yang menggunakannya seperti demikian. Ini disebut noda-noda yang harus ditinggalkan dengan menggunakan.

(NODA-NODA YANG HARUS DITINGGALKAN DENGAN MENAHANKAN)

18. “Noda-noda apakah, para bhikkhu, yang harus ditinggalkan dengan menahankan? Di sini seorang bhikkhu, merenungkan dengan bijaksana, menahankan dingin dan panas, lapar dan haus, kontak dengan lalat, nyamuk, angin, matahari, dan binatang-binatang melata; ia menahankan kata-kata kasar, kata-kata yang tidak ramah dan perasaan jasmani yang menyakitkan, menyiksa, tajam, menusuk, tidak menyenangkan, menyusahkan, dan mengancam kehidupan yang timbul. Sementara noda-noda, kekesalan, dan demam muncul dalam diri seorang yang tidak menahankan hal-hal demikian, sebaliknya tidak ada noda-noda, kekesalan, dan demam muncul dalam diri seorang yang menahankan hal-hal demikian. Ini disebut noda-noda yang harus ditinggalkan dengan menahankan.

(NODA-NODA YANG HARUS DITINGGALKAN DENGAN MENGHINDARI)

19. “Noda-noda apakah, para bhikkhu, yang harus ditinggalkan dengan menghindari? Di sini seorang bhikkhu, merenungkan dengan bijaksana, menghindari gajah liar, kuda liar, sapi liar, anjing liar, ular, tungguln pohon, [11] semak berduri, jurang, ngarai, lubang kakus, saluran pembuangan. Merenungkan dengan bijaksana, ia menghindari duduk di tempat yang tidak sesuai, bepergian ke tempat yang tidak sesuai,  dan bergaul dengan teman-teman yang tidak baik, karena jika ia melakukan hal itu maka teman-teman bijaksana dalam kehidupan suci akan mencurigainya berperilaku buruk. Sementara noda-noda, kekesalan, dan demam muncul dalam diri seorang yang tidak menghindari hal-hal demikian, sebaliknya tidak ada noda-noda, kekesalan, dan demam muncul dalam diri seorang yang menghindari hal-hal demikian. Ini disebut noda-noda yang harus ditinggalkan dengan menghindari.

(NODA-NODA YANG HARUS DITINGGALKAN DENGAN MELENYAPKAN)

20. “Noda-noda apakah, para bhikkhu, yang harus ditinggalkan dengan melenyapkan? Di sini seorang bhikkhu, merenungkan dengan bijaksana, tidak mentolerir pikiran keinginan indria yang muncul; ia meninggalkannya, melenyapkannya, membunuhnya, dan membasminya. Ia tidak mentolerir pikiran permusuhan yang muncul … Ia tidak mentolerir pikiran kejam yang muncul … Ia tidak mentolerir kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat; ia meninggalkannya, melenyapkannya, membunuhnya, dan membasminya.  Sementara noda-noda, kekesalan, dan demam muncul dalam diri seorang yang tidak melenyapkan pikiran-pikiran ini, sebaliknya tidak ada noda-noda, kekesalan, dan demam muncul dalam diri seorang yang melenyapkannya. Ini disebut noda-noda yang harus ditinggalkan dengan melenyapkan.

(NODA-NODA YANG HARUS DITINGGALKAN DENGAN MENGEMBANGKAN)

21. “Noda-noda apakah, para bhikkhu, yang harus ditinggalkan dengan mengembangkan? Di sini seorang bhikkhu, merenungkan dengan bijaksana, mengembangkan faktor pencerahan perhatian, yang didukung oleh keterasingan, kebosanan, dan lenyapnya, dan matang dalam pelepasan. Ia mengembangkan faktor pencerahan penyelidikan kondisi-kondisi … faktor pencerahan kegigihan … faktor pencerahan kegembiraan … faktor pencerahan ketenangan … faktor pencerahan konsentrasi … faktor pencerahan keseimbangan, yang didukung oleh keterasingan, kebosanan, dan lenyapnya, dan matang dalam pelepasan.  Sementara noda-noda, kekesalan, dan demam muncul dalam diri seorang yang tidak mengembangkan faktor-faktor pencerahan ini, sebaliknya tidak ada noda-noda, kekesalan, dan demam muncul dalam diri seorang yang mengembangkannya. Ini disebut noda-noda yang harus ditinggalkan dengan mengembangkan.

(KESIMPULAN)

22. “Para bhikkhu, ketika bagi seorang bhikkhu noda-noda yang harus ditinggalkan dengan melihat telah ditinggalkan dengan melihat, ketika noda-noda yang harus ditinggalkan dengan mengendalikan telah ditinggalkan dengan mengendalikan, ketika noda-noda yang harus ditinggalkan dengan menggunakan telah ditinggalkan dengan menggunakan, ketika noda-noda yang harus ditinggalkan dengan menahankan telah ditinggalkan dengan menahankan, ketika noda-noda yang harus ditinggalkan dengan menghindari [12] telah ditinggalkan dengan menghindari, ketika noda-noda yang harus ditinggalkan dengan melenyapkan telah ditinggalkan dengan melenyapkan, ketika noda-noda yang harus ditinggalkan dengan mengembangkan telah ditinggalkan dengan mengembangkan – maka ia disebut seorang bhikkhu yang berdiam dengan terkendali oleh pengendalian segala noda. Ia telah memotong keinginan, menghancurkan belenggu-belenggu, dan dengan sepenuhnya menembus keangkuhan ia telah mengakhiri penderitaan.”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #2 on: 20 July 2010, 05:07:58 PM »
3  Dhammadāyāda Sutta
Pewaris dalam Dhamma



1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu: “Para bhikkhu.”  – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

2. “Para bhikkhu, jadilah pewarisKu dalam Dhamma, bukan pewarisKu dalam benda-benda materi. Demi belas kasihKu kepada kalian Aku berpikir: ‘Bagaimana para siswaKu dapat menjadi pewarisKu dalam Dhamma, bukan pewarisKu dalam benda-benda materi?’ Jika kalian menjadi pewarisKu dalam benda-benda materi, kalian akan dicela sebagai berikut: ‘para siswa Sang Guru hidup sebagai pewarisNya dalam benda-benda materi, bukan sebagai pewaris dalam Dhamma’; dan Aku akan dicela sebagai berikut: ‘para siswa Sang Guru hidup sebagai pewarisNya dalam benda-benda materi, bukan sebagai pewarisNya dalam Dhamma.’

“Jika kalian menjadi pewarisKu dalam Dhamma, bukan pewarisKu dalam benda-benda materi, maka kalian tidak akan dicela [seperti dikatakan]: ‘Para siswa Sang Guru hidup sebagai pewarisNya dalam Dhamma, bukan sebagai pewarisNya dalam benda-benda materi’; dan Aku tidak akan dicela [seperti dikatakan]: ‘Para siswa Sang Guru hidup sebagai pewarisNya dalam Dhamma, bukan sebagai pewarisNya dalam benda-benda materi.’ Oleh karena itu, para bhikkhu, jadilah pewarisKu dalam Dhamma, bukan pewarisKu dalam benda-benda materi. Demi belas kasihKu kepada kalian Aku berpikir: ‘Bagaimana para siswaKu dapat menjadi pewarisKu dalam Dhamma, bukan pewarisKu dalam benda-benda materi?’

3. “Sekarang, para bhikkhu, misalkan aku telah makan, menolak makanan tambahan, sudah kenyang, selesai, sudah cukup, telah memakan apa yang Kubutuhkan, dan ada makanan tersisa dan akan dibuang. Kemudian dua orang bhikkhu tiba [13] lapar dan lemah, dan Aku berkata kepada mereka: ‘Para bhikkhu, aku telah makan … telah memakan apa yang Kubutuhkan, tetapi masih ada makanan tersisa dan akan dibuang. Makanlah jika kalian menginginkan; jika kalian tidak memakannya maka Aku akan membuangnya ke mana tidak ada tumbuh-tumbuhan atau membuangnya ke air di mana tidak ada kehidupan.’ Kemudian seorang bhikkhu berpikir: ‘Sang Bhagavā telah makan … telah memakan apa yang Beliau butuhkan, tetapi masih ada makanan Sang Bhagavā yang tersisa dan akan dibuang; jika kami tidak memakannya maka Sang Bhagavā akan membuangnya … Tetapi hal ini telah dikatakan oleh Sang Bhagavā: “Para bhikkhu, jadilah pewarisKu dalam Dhamma, bukan pewarisKu dalam benda-benda materi.” Sekarang, makanan ini adalah salah satu benda materi. Bagaimana jika seandainya tanpa memakan makanan ini aku melewatkan malam dan hari ini dalam keadaan lapar dan lemah.’  Dan tanpa memakan makanan itu ia melewatkan malam dan hari itu dalam keadaan lapar dan lemah. Kemudian bhikkhu ke dua berpikir: ‘Sang Bhagavā telah makan … telah memakan apa yang Beliau butuhkan, tetapi masih ada makanan Sang Bhagavā yang tersisa dan akan dibuang … Bagaimana jika seandainya aku memakan makanan ini dan melewatkan malam dan hari ini tanpa merasa lapar dan lemah.’ Sekarang walaupun bhikkhu itu dengan memakan makanan itu melewatkan malam dan hari itu tanpa merasa lapar dan lemah, namun bhikkhu pertama lebih terhormat dan dipuji olehKu. Mengapakah? Karena hal itu dalam waktu lama akan berdampak pada keinginannya yang sedikit, kepuasan, kemurnian, kemudahan dalam disokong, dan membangkitkan kegigihannya.  Oleh karena itu, para bhikkhu, jadilah pewarisKu dalam Dhamma, bukan pewarisKu dalam benda-benda materi. Demi belas kasihKu kepada kalian Aku berpikir: ‘Bagaimana para siswaKu dapat menjadi pewarisKu dalam Dhamma, bukan pewarisKu dalam benda-benda materi?’”

4. Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Setelah mengatakan hal tersebut, Yang Sempurna bangkit dari dudukNya dan masuk ke kediamanNya. Segera setelah Beliau pergi, Yang Mulia Sāriputta memanggil para bhikkhu: “Teman-teman, para bhikkhu.” – “Teman,” mereka menjawab. [14] Yang Mulia Sāriputta berkata sebagai berikut:

5. “Teman-teman, dalam cara bagaimanakah para siswa Sang Guru yang hidup terasing tidak berlatih dalam keterasingan? Dan dalam cara bagaimanakah para siswa Sang Guru yang hidup terasing berlatih dalam keterasingan?”

“Sesungguhnya, teman, kami datang dari jauh untuk mempelajari makna pernyataan ini dari Yang Mulia Sāriputta. Baik sekali jika Yang Mulia Sāriputta sudi menjelaskan makna pernyataan ini. Setelah mendengarkannya darinya para bhikkhu akan mengingatnya.”

“Maka, teman-teman, dengarkan dan perhatikanlah apa yang akan aku katakan.”

“Baik, Teman,” para bhikkhu menjawab. Yang Mulia Sāriputta berkata sebagai berikut:

6. “Teman-teman, dalam cara bagaimanakah para siswa Sang Guru yang hidupo terasing tidak berlatih dalam keterasingan? Di sini para siswa Sang Guru yang hidup terasing tidak berlatih dalam keterasingan; mereka tidak meninggalkan apa yang Sang Guru beritahukan untuk ditinggalkan; mereka hidup dalam kemewahan, pemimpin dalam kemunduran, lengah dalam keterasingan.

“Dalam hal ini para bhikkhu senior dicela untuk tiga alasan.  Sebagai para siswa Sang Guru yang hidup terasing mereka tidak berlatih dalam keterasingan: mereka dicela untuk alasan pertama ini. Mereka tidak meninggalkan apa yang Sang Guru katakan kepada mereka untuk ditinggalkan: mereka dicela untuk alasan ke dua ini. Mereka hidup dalam kemewahan dan lalai, pemimpin dalam kemunduran, lengah dalam keterasingan: mereka dicela untuk alasan ke tiga ini. Para bhikkhu senior dicela untuk tiga alasan ini.

“Dalam hal ini para bhikkhu menengah dicela untuk tiga alasan. Sebagai para siswa Sang Guru yang hidup terasing mereka tidak berlatih dalam keterasingan: mereka dicela untuk alasan pertama ini. Mereka tidak meninggalkan apa yang Sang Guru katakan kepada mereka untuk ditinggalkan: mereka dicela untuk alasan ke dua ini. Mereka hidup dalam kemewahan dan lalai, pemimpin dalam kemunduran, lengah dalam keterasingan: mereka dicela untuk alasan ke tiga ini. Para bhikkhu menengah dicela untuk tiga alasan ini.

“Dalam hal ini para bhikkhu baru dicela untuk tiga alasan. Sebagai para siswa Sang Guru yang hidup terasing mereka tidak berlatih dalam keterasingan: mereka dicela untuk alasan pertama ini. Mereka tidak meninggalkan apa yang Sang Guru katakan kepada mereka untuk ditinggalkan: mereka dicela untuk alasan ke dua ini. Mereka hidup dalam kemewahan dan lalai, pemimpin dalam kemunduran, lengah dalam keterasingan: mereka dicela untuk alasan ke tiga ini. Para bhikkhu baru dicela untuk tiga alasan ini.

“Adalah dalam cara ini para siswa Sang Guru yang hidup terasing tidak berlatih dalam keterasingan.

7. “Dalam cara bagaimanakah, teman-teman, para siswa Sang Guru yang hidup terasing [15] berlatih dalam keterasingan? Di sini para siswa Sang Guru yang hidup terasing berlatih dalam keterasingan; mereka meninggalkan apa yang Sang Guru katakan kepada mereka untuk ditinggalkan; mereka tidak hidup dalam kemewahan dan tidak lalai, mereka tekun menghindari kemunduran, dan adalah pemimpin dalam keterasingan.

“Dalam hal ini para bhikkhu senior dipuji untuk tiga alasan. Sebagai para siswa Sang Guru yang hidup terasing mereka berlatih dalam keterasingan: mereka dipuji untuk alasan pertama ini. Mereka meninggalkan apa yang Sang Guru katakan kepada mereka untuk ditinggalkan: mereka dipuji untuk alasan ke dua ini. Mereka tidak hidup dalam kemewahan dan tidak lalai; mereka tekun menghindari kemunduran, dan adalah pemimpin dalam keterasingan.: mereka dipuji untuk alasan ke tiga ini. Para bhikkhu senior dipuji untuk tiga alasan ini.

“Dalam hal ini para bhikkhu menengah dipuji untuk tiga alasan. Sebagai para siswa Sang Guru yang hidup terasing mereka berlatih dalam keterasingan: mereka dipuji untuk alasan pertama ini. Mereka meninggalkan apa yang Sang Guru katakan kepada mereka untuk ditinggalkan: mereka dipuji untuk alasan ke dua ini. Mereka tidak hidup dalam kemewahan dan tidak lalai; mereka tekun menghindari kemunduran, dan adalah pemimpin dalam keterasingan.: mereka dipuji untuk alasan ke tiga ini. Para bhikkhu menengah dipuji untuk tiga alasan ini.

“Dalam hal ini para bhikkhu baru dipuji untuk tiga alasan. Sebagai para siswa Sang Guru yang hidup terasing mereka berlatih dalam keterasingan: mereka dipuji untuk alasan pertama ini. Mereka meninggalkan apa yang Sang Guru katakan kepada mereka untuk ditinggalkan: mereka dipuji untuk alasan ke dua ini. Mereka tidak hidup dalam kemewahan dan tidak lalai; mereka tekun menghindari kemunduran, dan adalah pemimpin dalam keterasingan.: mereka dipuji untuk alasan ke tiga ini. Para bhikkhu baru dipuji untuk tiga alasan ini.

“Dalam cara inilah para siswa Sang Guru yang hidup terasing berlatih dalam keterasingan.

8. “Teman-teman, kejahatan di sini adalah keserakahan dan kebencian.  Terdapat Jalan Tengah untuk meninggalkan keserakahan dan kebencian, menghasilkan penglihatan, menghasilkan pengetahuan, yang menuntun menuju kedamaian, menuju pengetahuan langsung, menuju pencerahan, menuju Nibbāna. Dan apakah Jalan Tengah itu? Adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan ini; yaitu, pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar. Ini adalah Jalan Tengah yang menghasilkan penglihatan, menghasilkan pengetahuan, yang menuntun menuju kedamaian, menuju pengetahuan langsung, menuju pencerahan, menuju Nibbāna.

9-15. “Kejahatan di sini adalah kemarahan dan dendam … sikap memandang rendah dan berkuasa … iri hati dan ketamakan … kecurangan dan penipuan … sifat keras kepala [16] dan kesombongan … keangkuhan dan kecongkakan … kepongahan dan kelalaian. Terdapat Jalan Tengah untuk meninggalkan keserakahan dan kebencian, menghasilkan penglihatan, menghasilkan pengetahuan, yang menuntun menuju kedamaian, menuju pengetahuan langsung, menuju pencerahan, menuju Nibbāna. Dan apakah Jalan Tengah itu? Adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan ini; yaitu, pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar. Ini adalah Jalan Tengah yang menghasilkan penglihatan, menghasilkan pengetahuan, yang menuntun menuju kedamaian, menuju pengetahuan langsung, menuju pencerahan, menuju Nibbāna.”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Yang Mulia Sāriputta. Para bhikkhu puas dan gembira mendengarkan kata-kata Yang Mulia Sāriputta.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #3 on: 20 July 2010, 05:09:26 PM »
4  Bhayabherava Sutta
Kekhawatiran dan Ketakutan




1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

2. Kemudian Brahmana Jāṇussoṇi  mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan Beliau. Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi dan berkata: “Guru Gotama, ketika para anggota keluarga meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah karena berkeyakinan pada Guru Gotama, apakah mereka mereka menjadikan Guru Gotama sebagai pemimpin mereka, penolong mereka, dan penuntun mereka? Dan apakah orang-orang ini mengikuti teladan Guru Gotama?”

“Begitulah, Brahmana, begitulah. ketika para anggota keluarga meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah karena berkeyakinan padaKu, mereka mereka menjadikanKu sebagai pemimpin mereka, penolong mereka, dan penuntun mereka. Dan orang-orang ini mengikuti teladanKu.”

“Tetapi, Guru Gotama, tempat tinggal di dalam rimba belantara yang terpencil di dalam hutan adalah sulit dijalankan, keterasingan adalah sulit dilatih, dan adalah sulit untuk menikmati kesunyian. Seseorang akan berpikir hutan pasti akan merampas pikiran seorang bhikkhu, jika ia tidak memiliki konsentrasi.” [17]

“Begitulah, Brahmana, begitulah. tempat tinggal di dalam rimba belantara yang terpencil di dalam hutan adalah sulit dijalankan, keterasingan adalah sulit dilatih, dan adalah sulit untuk menikmati kesunyian. Seseorang akan berpikir hutan pasti akan merampas pikiran seorang bhikkhu, jika ia tidak memiliki konsentrasi.

3. “Sebelum pencerahanKu, Sewaktu Aku masih menjadi seorang Bodhisatta yang belum tercerahkan, Aku juga mempertimbangkan demikian: “Tempat tinggal di dalam rimba belantara yang terpencil di dalam hutan adalah sulit dijalankan … hutan pasti akan merampas pikiran seorang bhikkhu, jika ia tidak memiliki konsentrasi.”

4. “Aku mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Ketika para petapa atau brahmana yang tidak murni dalam perbuatan jasmani mendatangi tempat tinggal di dalam rimba belantara yang terpencil di dalam hutan, maka karena cacat dari ketidak-murnian perbuatan jasmani mereka para petapa dan brahmana yang baik akan memunculkan kekhawatiran dan ketakutan yang tidak bermanfaat. Tetapi aku tidak mendatangi tempat tinggal di dalam rimba belantara yang terpencil di dalam hutan dengan perbuatan jasmani yang tidak murni. Aku murni dalam hal perbuatan jasmani. Aku mendatangi tempat tinggal di dalam rimba belantara yang terpencil di dalam hutan sebagai satu di antara para mulia dengan perbuatan jasmani yang murni.’ Melihat kemurnian perbuatan jasmani ini dalam diriKu, Aku menemukan penghiburan besar dalam menetap di dalam hutan.

5-7. “Aku mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Ketika para petapa atau brahmana yang tidak murni dalam ucapan … tidak murni dalam pikiran … tidak murni dalam penghidupan mendatangi tempat tinggal di dalam rimba belantara yang terpencil di dalam hutan …mereka memunculkan kekhawatiran dan ketakutan yang tidak bermanfaat. Tetapi … Aku murni dalam hal penghidupan. Aku mendatangi tempat tinggal di dalam rimba belantara yang terpencil di dalam hutan sebagai satu di antara para mulia dengan penghidupan yang murni.’ Melihat kemurnian penghidupan ini dalam diriKu, Aku menemukan penghiburan besar dalam menetap di dalam hutan.

8. “Aku mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Ketika para petapa atau brahmana yang iri-hati dan penuh nafsu … Aku tidak iri-hati …’ [18]

9. “’ … dengan pikiran permusuhan dan kecenderungan membenci … Aku memiliki pikiran cinta kasih …’

10. “’ … dikuasai oleh kelambanan dan ketumpulan … Aku adalah tanpa kelambanan dan ketumpulan …’

11. “’ … dikuasai oleh kegelisahan dan pikiran yang tidak tenang … Aku memiliki pikiran yang tenang …’

12. “’ … kebimbangan dan keraguan … Aku telah melampaui keraguan …’

13. “’[19]… memuji diri sendiri dan menghina orang lain … Aku tidak memuji diri sendiri dan menghina orang lain …’

14. “’ … tunduk pada ketakutan dan terror … Aku bebas dari kegentaran …’

15. “’ … menginginkan perolehan, penghormatan, dan kemasyhuran … Aku memiliki sedikit keinginan …’

16. “’ … malas dan membutuhkan kegigihan … Aku bersemangat …’

17. “’ … [20] tanpa perhatian dan tidak waspada … Aku kokoh dalam perhatian …’

18. “’ … tidak terkonsentrasi dan dengan pikiran mengembara … Aku memiliki konsentrasi …’

19. “Aku mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Ketika para petapa atau brahmana yang tanpa kebijaksanaan, bodoh dengan air liur menetes mendatangi tempat tinggal di dalam rimba belantara yang terpencil di dalam hutan, maka karena cacat dari ketiadaan kebijaksanaan, bodoh dengan aiu liur menetes para petapa dan brahmana yang baik akan memunculkan kekhawatiran dan ketakutan yang tidak bermanfaat. Tetapi aku tidak mendatangi tempat tinggal di dalam rimba belantara yang terpencil di dalam hutan dengan ke-tiada-an kebijaksanaan, tidak bodoh dengan aiu liur menetes. Aku memiliki kebijaksanaan.  Aku mendatangi tempat tinggal di dalam rimba belantara yang terpencil di dalam hutan sebagai satu di antara para mulia yang memiliki kebijaksanaan.’ Melihat kebijaksanaan ini dalam diriKu, Aku menemukan penghiburan besar dalam menetap di dalam hutan.

20. “Aku mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Ada malam-malam yang secara khusus sangat baik yaitu tanggal empat belas, tanggal lima belas, dan tanggal delapan setiap setengah bulan.  Sekarang bagaimana jika, pada malam-malam itu, Aku berdiam di tempat-tempat keramat, menakutkan seperti altar-altar di kebun, altar-altar dihutan, dan altar-altar pohon? Mungkin Aku akan menemui kekhawatiran dan ketakutan itu.’ Dan kemudian, pada malam-malam yang sangat baik itu yaitu tanggal empat belas, tanggal lima belas, dan tanggal delapan setiap setengah bulan, Aku berdiam di tempat-tempat keramat, menakutkan seperti altar-altar di kebun, altar-altar dihutan, dan altar-altar pohon. Dan sewaktu Aku berdiam di sana, seekor binatang buas akan muncul, atau seekor burung merak [21] akan mematahkan dahan, atau angin meniup dedaunan sehingga menimbulkan bunyi mendesau. Aku berpikir: ‘Bagaimana sekarang jika kekhawatiran dan ketakutan itu datang?’ Aku berpikir: ‘Mengapa Aku berdiam dengan selalu mengharapkan kekhawatiran dan ketakutan? Bagaimana jika Aku menaklukkan kekhawatiran dan ketakutan itu sambil mempertahankan postur yang sama dengan ketika ia mendatangiKu?’

“Sewaktu Aku berjalan, kekhawatiran dan ketakutan mendatangiKu; Aku tidak berdiri atau duduk atau berbaring hingga Aku telah menaklukkan kekhawatiran dan ketakutan itu. Ketika Aku berdiri, kekhawatiran dan ketakutan mendatangiKu; Aku tidak berjalan atau duduk atau berbaring hingga Aku telah menaklukkan kekhawatiran dan ketakutan itu. Ketika Aku duduk, kekhawatiran dan ketakutan mendatangiKu; Aku tidak berjalan atau berdiri atau berbaring hingga Aku telah menaklukkan kekhawatiran dan ketakutan itu. Ketika Aku berbaring, kekhawatiran dan ketakutan mendatangiKu; Aku tidak berjalan atau berdiri atau duduk hingga Aku telah menaklukkan kekhawatiran dan ketakutan itu.

21. “Terdapat, Brahmana, beberapa petapa dan brahmana yang melihat siang ketika malam dan melihat malam ketika siang. Aku katakan bahwa di pihak mereka ini adalah kediaman dalam khayalan. Tetapi aku melihat malam ketika malam dan siang ketika siang. Suatu ucapan benar, jika dikatakan sehubungan dengan siapapun: ‘Makhluk yang tidak tunduk pada khayalan telah muncul di dunia demi kesejahteraan dan kebahagiaan banyak makhluk, demi belas kasih terhadap dunia, demi kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan para dewa dan manusia,’ sesungguhnya adalah sehubungan dengan Aku ucapan benar itu diucapkan.

22. “Kegigihan tanpa lelah muncul dalam diriKu dan perhatian tanpa kendur terbentuk, tubuhku tenang dan tidak terganggu, pikiranku terkonsentrasi dan terpusat.

23. “Cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, Aku memasuki dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan kegembiraan dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan.

24. “Dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, Aku memasuki dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki keyakinan dan keterpusatan pikiran [22] tanpa awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan kegembiraan dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi.

25. “Dengan meluruhnya kegembiraan, Aku berdiam dalam keseimbangan, dan penuh perhatian dan waspada penuh, masih merasakan kenikmatan pada jasmani, Aku memasuki dan berdiam dalam jhāna ke tiga, yang sehubungan dengannya para mulia mengatakan: ‘Ia memiliki kediaman yang menyenangkan yang memiliki keseimbangan dan penuh perhatian.’

26. “Dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan, dan dengan kegembiraan dan kesedihan yang lenyap sebelumnya, Aku memasuki dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang memiliki bukan-kesakitan juga bukan-kenikmatan dan kemurnian perhatian karena keseimbangan.

27. “Ketika konsentrasi pikiranKu sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai keadaan tanpa-gangguan, Aku mengarahkannya pada pengetahuan perenungan kehidupan lampau.  Aku mengingat banyak kehidupan lampau, yaitu, satu kelahiran, dua kelahiran, tiga kelahiran, empat kelahiran, lima kelahiran, sepuluh kelahiran, dua puluh kelahiran, tiga puluh kelahiran, empat puluh kelahiran, lima puluh kelahiran, seratus kelahiran, seribu kelahiran, seratus ribu kelahiran, banyak kappa penyusutan-dunia, banyak kappa pengembangan-dunia, banyak kappa penyusutan-dan-pengembangan-dunia: ‘Di sana aku bernama itu, dari suku itu, dengan penampilan seperti itu, makananku seperti itu, pengalaman kesenangan dan kesakitanku seperti itu, umur kehidupanku selama itu; dan meninggal dunia dari sana, aku muncul kembali di tempat lain; dan di sana aku bernama itu, dari suku itu, dengan penampilan seperti itu, makananku seperti itu, pengalaman kesenangan dan kesakitanku seperti itu, umur kehidupanku selama itu; dan meninggal dunia dari sana, aku muncul kembali di sini.’ Demikianlah dengan segala aspek dan ciri-cirinya Aku mengingat banyak kehidupan lampau.

28. “Ini adalah pengetahuan sejati pertama yang dicapai olehKu pada jaga pertama malam itu. Kebodohan tersingkir dan pengetahuan sejati muncul, kegelapan tersingkir dan cahaya muncul, seperti yang terjadi dalam diri seorang yang berdiam dengan tekun, rajin dan teguh.

29. “Ketika konsentrasi pikiranKu sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai keadaan tanpa-gangguan, Aku mengarahkannya pada pengetahuan kematian dan kelahiran kembali makhluk-makhluk.  Dengan mata-dewa, yang murni dan melampaui manusia, Aku melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan buruk rupa, beruntung dan tidak beruntung. Aku memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut sesuai dengan perbuatan mereka: ‘Makhluk-makhluk ini yang berperilaku buruk dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, pencela para mulia, keliru dalam pandangan, memberikan dampak pandangan salah dalam perbuatan mereka, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah muncul kembali dalam kondisi buruk, di alam rendah, dalam kehancuran, bahkan di dalam neraka; tetapi makhluk-makhluk ini, yang berperilaku baik dalam jasmani, [23] ucapan, dan pikiran, bukan pencela para mulia, berpandangan benar, memberikan dampak pandangan benar dalam perbuatan mereka, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah muncul kembali di alam yang baik, bahkan di alam surga.’ Demikianlah dengan mata-dewa yang murni dan melampaui manusia, Aku melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan buruk rupa, beruntung dan tidak beruntung, Aku memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut sesuai dengan perbuatan mereka.

30. “Ini adalah pengetahuan sejati ke dua yang dicapai olehKu pada jaga ke dua malam itu. Kebodohan tersingkir dan pengetahuan sejati muncul, kegelapan tersingkir dan cahaya muncul, seperti yang terjadi dalam diri seorang yang berdiam dengan tekun, rajin dan teguh.

31. “Ketika konsentrasi pikiranKu sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai keadaan tanpa-gangguan, Aku mengarahkannya pada pengetahuan hancurnya noda-noda. Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah penderitaan’; Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah asal-mula penderitaan’; Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya penderitaan’; Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan.’ Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah noda-noda’; Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah asal-mula noda-noda’; Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya noda-noda’; Aku secara langsung mengetahui sebagaimana adanya: ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya noda-noda.’

32. “Ketika Aku mengetahui dan melihat demikian, batinKu terbebas dari noda keinginan indria, dari noda penjelmaan, dan dari noda kebodohan. Ketika terbebaskan, muncullah pengetahuan: ‘terbebaskan.’  Aku secara langsung mengetahui: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.’

33. “Ini adalah pengetahuan sejati ke tiga yang dicapai olehKu pada jaga ke tiga malam itu. Kebodohan tersingkir dan pengetahuan sejati muncul, kegelapan tersingkir dan cahaya muncul, seperti yang terjadi dalam diri seorang yang berdiam dengan tekun, rajin dan teguh.

34. “Sekarang, Brahmana, engkau mungkin berpikir: ‘Mungkin Petapa Gotama belum terbebas dari nafsu, kebencian, dan kebodohan bahkan sampai hari ini, sehingga Beliau masih mendatangi tempat tinggal di dalam rimba belantara yang terpencil di dalam hutan.’ Tetapi engkau jangan berpikir demikian. Adalah karena Aku melihat dua manfaat maka Aku masih mendatangi tempat tinggal di dalam rimba belantara yang terpencil di dalam hutan: Aku melihat kediaman yang menyenangkan bagi diriKu di sini dan saat ini, dan Aku berbelas kasih pada generasi mendatang.”

35. “Tentu saja, adalah karena Guru Gotama adalah seorang yang sempurna, seorang Yang Tercerahkan Sepenuhnya, maka Beliau berbelas kasihan pada generasi mendatang. [24] Menakjubkan, Guru Gotama! Menakjubkan, Guru Gotama! Guru Gotama telah menjelaskan Dhamma dalam berbagai cara, bagaikan menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan pada mereka yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan agar mereka yang memiliki penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Aku berlindung pada Guru Gotama dan pada Dhamma dan pada Sangha para bhikkhu. Sejak hari ini sudilah Guru Gotama mengingatku sebagai seorang pengikut awam yang telah menerima perlindungan dari Beliau seumur hidupku.”

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #4 on: 20 July 2010, 05:10:36 PM »
5  Anangaṇa Sutta
Tanpa Noda
[/size]




1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Yang Mulia Sāriputta memanggil para bhikkhu: “Teman-teman, para bhikkhu.” – “Teman,” mereka menjawab. Yang Mulia Sāriputta berkata sebagai berikut:

2. “Teman-teman, terdapat empat jenis orang yang ada di dunia ini.  Apakah empat ini? Di sini beberapa orang dengan noda tidak memahami sebagaimana adanya bahwa: ‘Aku memiliki noda dalam diriku.’ Di sini beberapa orang dengan noda memahami sebagaimana adanya bahwa: ‘Aku memiliki noda dalam diriku.’ Di sini beberapa orang tanpa noda tidak memahami sebagaimana adanya bahwa: ‘Aku tidak memiliki noda dalam diriku.’ Di sini beberapa orang tanpa noda memahami sebagaimana adanya bahwa: ‘Aku tidak memiliki noda dalam diriku.’

“Di sini, orang dengan noda yang tidak memahami sebagaimana adanya bahwa: ‘Aku memiliki noda dalam diriku’ disebut yang hina di antara kedua jenis orang dengan noda. Di sini, orang dengan noda yang memahami sebagaimana adanya bahwa: ‘Aku memiliki noda dalam diriku’ disebut yang mulia di antara kedua jenis orang dengan noda ini.

“Di sini, orang tanpa noda [25] yang tidak memahami sebagaimana adanya bahwa: ‘Aku tidak memiliki noda’ disebut yang hina di antara kedua jenis orang tanpa noda. Di sini, orang tanpa noda yang memahami sebagaimana adanya bahwa: ‘Aku tidak memiliki noda’ disebut yang mulia di antara kedua jenis orang tanpa noda ini.

3. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Mahā Moggallāna bertanya kepada Yang Mulia Sāriputta: “Sahabat Sāriputta, apakah penyebab dan alasan mengapa, di antara kedua jenis orang dengan noda ini, satu disebut orang hina dan satu disebut orang mulia? Apakah penyebab dan alasan mengapa, di antara kedua jenis orang tanpa noda ini, satu disebut orang hina dan satu disebut orang mulia?

4. “Di sini, Sahabat, ketika seorang dengan noda tidak memahami sebagaimana adanya bahwa: ‘Aku memiliki noda dalam diriku,’ maka dapat diharapkan bahwa ia tidak akan membangkitkan semangat, berusaha, atau memicu kegigihan untuk meninggalkan noda itu, dan bahwa ia akan mati dengan nafsu, kebencian, dan kebodohan, dengan noda, dengan batin yang kotor. Misalkan sebuah piring perunggu dibawa dari sebuah toko atau dari bengkel pandai besi dan piring itu berdebu dan ternoda, dan pemiliknya tidak menggunakannya juga tidak membersihkannya melainkan meletakkannya di sudut yang berdebu. Apakah piring perunggu itu akan semakin kotor dan ternoda?” – “Benar, Sahabat.” – “Demikian pula, Sahabat, ketika seorang dengan noda tidak memahami sebagaimana adanya bahwa: Aku memiliki noda dalam diriku,’ maka dapat diharapkan … bahwa ia akan mati … dengan batin yang kotor.

5. “Di sini, Sahabat, ketika seorang dengan noda memahami sebagaimana adanya bahwa: ‘Aku memiliki noda dalam diriku,’ maka dapat diharapkan bahwa ia akan membangkitkan semangat, berusaha, atau memicu kegigihan untuk meninggalkan noda itu, dan bahwa ia akan mati tanpa nafsu, kebencian, dan kebodohan, tanpa noda, dengan batin yang bersih. Misalkan sebuah piring perunggu dibawa dari sebuah toko atau dari bengkel pandai besi dan piring itu berdebu dan ternoda, dan pemiliknya telah membersihkannya dan tidak meletakkannya di sudut yang berdebu. [26] Apakah piring perunggu itu akan semakin bersih dan cemerlang?” – “Benar, Sahabat.” – “Demikian pula, Sahabat, ketika seorang dengan noda memahami sebagaimana adanya bahwa: Aku memiliki noda dalam diriku,’ maka dapat diharapkan … bahwa ia akan mati … dengan batin yang bersih.
 
6. “Di sini, Sahabat, ketika seorang yang tanpa noda tidak memahami sebagaimana adanya bahwa: ‘Aku tidak memiliki noda dalam diriku,’ maka dapat diharapkan bahwa ia akan memperhatikan gambaran keindahan,  bahwa dengan melakukan demikian maka nafsu akan menjangkiti pikirannya, dan bahwa ia akan mati dengan nafsu, kebencian, dan kebodohan, dengan noda, dengan batin yang kotor. Misalkan sebuah piring perunggu dibawa dari sebuah toko atau dari bengkel pandai besi dan piring itu bersih dan cemerlang, dan pemiliknya tidak menggunakannya juga tidak membersihkannya melainkan meletakkannya di sudut yang berdebu. Apakah piring perunggu itu akan semakin kotor dan ternoda?” – “Benar, Sahabat.” – “Demikian pula, Sahabat, ketika seorang yang tanpa noda tidak memahami sebagaimana adanya bahwa: Aku tidak memiliki noda dalam diriku,’ maka dapat diharapkan bahwa ia akan mati … dengan batin yang kotor.

7. “Di sini, Sahabat, ketika seorang yang tanpa noda memahami sebagaimana adanya bahwa: ‘Aku tidak memiliki noda dalam diriku,’ maka dapat diharapkan bahwa ia tidak akan memperhatikan gambaran keindahan, bahwa dengan tidak melakukan demikian maka nafsu tidak akan menjangkiti pikirannya, dan bahwa ia akan mati dengan keadaan tanpa nafsu, kebencian, dan kebodohan, tanpa noda, dengan batin yang bersih. Misalkan sebuah piring perunggu dibawa dari sebuah toko atau dari bengkel pandai besi dan piring itu bersih dan cemerlang, dan pemiliknya menggunakannya dan telah membersihkannya dan tidak meletakkannya di sudut yang berdebu. Apakah piring perunggu itu akan semakin bersih dan cemerlang?” – “Benar, Sahabat.” – “Demikian pula, Sahabat, ketika seorang yang tanpa noda memahami sebagaimana adanya bahwa: Aku tidak memiliki noda dalam diriku,’ maka dapat diharapkan … bahwa ia akan mati … dengan batin yang bersih. [27]

8. “Ini adalah penyebab dan alasan mengapa, di antara kedua jenis orang dengan noda ini, satu disebut orang hina dan satu disebut orang mulia. Ini adalah penyebab dan alasan mengapa, di antara kedua jenis orang tanpa noda ini, satu disebut orang hina dan satu disebut orang mulia.

9. “’Noda, noda,’ dikatakan, Sahabat, tetapi istilah untuk apakah kata ‘noda’ ini? ‘Noda,’ Sahabat, adalah istilah untuk bidang keinginan tidak bermanfaat yang buruk.

10. “Adalah mungkin bahwa seorang bhikkhu di sini berkehendak: ‘Jika aku melakukan pelanggaran, semoga para bhikkhu tidak mengetahui bahwa aku telah melakukan pelanggaran.’ Dan adalah mungkin bahwa para bhikkhu ternyata mengetahui bahwa bhikkhu itu melakukan pelanggaran. Sehingga ia menjadi marah dan tidak senang: ‘Para bhikkhu mengetahui bahwa aku telah melakukan pelanggaran.’ Kemarahan dan ketidak-senangan itu keduanya adalah noda.

11. “Adalah mungkin bahwa seorang bhikkhu di sini berkehendak: ‘Aku melakukan pelanggaran. Para bhikkhu sebaiknya menegurku secara pribadi, bukan di tengah-tengah Saṅgha.’ Dan adalah mungkin bahwa para bhikkhu menegur bhikkhu itu di tengah-tengah Saṅgha, dan bukan secara pribadi. Sehingga ia menjadi marah dan tidak senang: ‘Para bhikkhu menegurku di tengah-tengah Saṅgha, bukan secara pribadi’ Kemarahan dan ketidak-senangan itu keduanya adalah noda.

12. “Adalah mungkin bahwa seorang bhikkhu di sini berkehendak: ‘Aku melakukan pelanggaran. Seseorang yang setara denganku seharusnya menegurku, bukan seseorang yang tidak setara denganku.’ Dan adalah mungkin bahwa seorang bhikkhu yang tidak setara dengannya menegurnya, bukan seseorang yang setara dengannya. Sehingga ia menjadi marah dan tidak senang: ‘Seseorang yang tidak setara denganku menegurku, bukan seseorang yang setara denganku.’ Kemarahan dan ketidak-senangan itu keduanya adalah noda.

13. “Adalah mungkin bahwa seorang bhikkhu di sini berkehendak: ‘Oh semoga Sang Guru mengajarkan Dhamma kepada para bhikkhu dengan mengajukan serangkaian pertanyaan dariku, bukan dari bhikkhu lain!’ Dan adalah mungkin bahwa Sang Guru mengajarkan Dhamma kepada para bhikkhu dengan mengajukan serangkaian pertanyaan dari bhikkhu lain, [28] bukan dari bhikkhu itu. Sehingga ia menjadi marah dan tidak senang: ‘Guru mengajarkan Dhamma kepada para bhikkhu dengan mengajukan serangkaian pertanyaan dari bhikkhu lain, bukan dariku.’ Kemarahan dan ketidak-senangan itu keduanya adalah noda.

14. “Adalah mungkin bahwa seorang bhikkhu di sini berkehendak: ‘Oh semoga para bhikkhu memasuki desa untuk mengumpulkan dana makanan dengan menempatkanku di barisan paling depan, bukan bhikkhu lain!’  Dan adalah mungkin bahwa para bhikkhu memasuki desa untuk mengumpulkan dana makanan dengan menempatkan bhikkhu lain di barisan paling depan, bukan bhikkhu itu. Sehingga ia menjadi marah dan tidak senang: ‘para bhikkhu memasuki desa untuk mengumpulkan dana makanan dengan menempatkan bhikkhu lain di barisan paling depan, bukan aku.’ Kemarahan dan ketidak-senangan itu keduanya adalah noda.

15. “Adalah mungkin bahwa seorang bhikkhu di sini berkehendak: ‘Oh semoga aku memperoleh tempat duduk terbaik, air terbaik, makanan terbaik di ruang makan, bukan bhikkhu lain!’ Dan adalah mungkin bahwa bhikkhu lain memperoleh tempat duduk terbaik …

16. “Adalah mungkin bahwa seorang bhikkhu di sini berkehendak: ‘Oh semoga aku yang memberikan berkah di ruang makan setelah makan, bukan bhikkhu lain!’ Dan adalah mungkin bahwa bhikkhu lain yang memberikan berkah …

17-20. “Adalah mungkin bahwa seorang bhikkhu di sini berkehendak: ‘Oh semoga aku yang mengajarkan Dhamma kepada para bhikkhu … semoga aku yang mengajarkan Dhamma kepada para bhikkhunī … umat awam laki-laki … umat awam perempuan … yang berkunjung ke vihara, bukan bhikkhu lain!’ Dan adalah mungkin bahwa bhikkhu lain yang mengajarkan Dhamma [29] …

21-24. “Adalah mungkin bahwa seorang bhikkhu di sini berkehendak: ‘Oh semoga para bhikkhu … para bhikkhunī … umat awam laki-laki … umat awam perempuan … menghormati, menghargai, memuja, dan memuliakan aku, bukan bhikkhu lain!’ Dan adalah mungkin bahwa mereka menghormati … bhikkhu lain.

25-28. “Adalah mungkin bahwa seorang bhikkhu di sini berkehendak: ‘Oh semoga Aku adalah orang yang menerima jubah yang baik, [30] … makanan yang baik … tempat tinggal yang baik … obat-obatan yang baik … bukan bhikkhu lain!’ Dan adalah mungkin bahwa bhikkhu lain yang menerima obat-obatan yang baik, bukan bhikkhu itu. Sehingga ia menjadi marah dan tidak senang: ‘Bhikkhu lain yang menerima obat-obatan yang baik, bukan aku.’ Kemarahan dan ketidak-senangan itu keduanya adalah noda.

“‘Noda,’ Sahabat, adalah istilah untuk bidang keinginan tidak bermanfaat yang buruk.

29. “Jika bidang keinginan tidak bermanfaat yang buruk ini terlihat dan terdengar sebagai belum ditinggalkan dalam diri seorang bhikkhu, maka apakah ia adalah seorang penghuni hutan, sering bepergian ke tempat-tempat terpencil, seorang yang memakan dana makanan, yang berkunjung dari rumah ke rumah, pemakai jubah dari kain yang dibuang, pemakai jubah kasar,  namun temannya dalam kehidupan suci tetap tidak akan menghormati, menghargai, memuja, dan memuliakannya. Mengapakah? Karena bidang keinginan tidak bermanfaat yang buruk ini terlihat dan terdengar sebagai belum ditinggalkan dalam diri yang mulia tersebut.

“Misalkan sebuah mangkuk perunggu dibawa dari toko atau dari pengrajin besi dalam keadaan bersih dan cemerlang; dan pemiliknya meletakkan mayat ular atau anjing atau manusia ke dalamnya, dan menutupnya dengan sebuah mangkuk lainnya, berjalan ke pasar; orang-orang yang melihatnya berkata: ‘Apakah yang sedang engkau bawa bagaikan harta berharga?’ kemudian ia mengangkat penutupnya dan membukanya, mereka melihat ke dalam, dan segera setelah mereka melihatnya mereka menjadi terpengaruh oleh benda yang memuakkan, menjijikkan yang bahkan mereka yang sedang merasa lapar menjadi tidak ingin makan, apalagi yang sudah kenyang.

“Demikian pula, jika bidang keinginan tidak bermanfaat yang buruk ini terlihat dan terdengar sebagai belum ditinggalkan dalam diri seorang bhikkhu, maka apakah ia adalah seorang penghuni hutan … [31] … belum ditinggalkan dalam diri yang mulia tersebut.

30. “Jika bidang keinginan tidak bermanfaat yang buruk ini terlihat dan terdengar sebagai telah ditinggalkan dalam diri seorang bhikkhu, maka apakah ia adalah seorang penghuni desa, penerima undangan, pemakai jubah yang dipersembahkan oleh perumah tangga,  namun temannya dalam kehidupan suci tetap akan menghormati, menghargai, memuja, dan memuliakannya. Mengapakah? Karena bidang keinginan tidak bermanfaat yang buruk ini terlihat dan terdengar sebagai telah ditinggalkan dalam diri yang mulia tersebut.

“Misalkan sebuah mangkuk perunggu dibawa dari toko atau dari pengrajin besi dalam keadaan bersih dan cemerlang; dan pemiliknya meletakkan nasi yang bersih dan berbagai sop dan kuah ke dalamnya, dan menutupnya dengan sebuah mangkuk lainnya, berjalan ke pasar; orang-orang yang melihatnya berkata: ‘Apakah yang sedang engkau bawa bagaikan harta berharga?’ kemudian ia mengangkat penutupnya dan membukanya, mereka melihat ke dalam, dan segera setelah mereka melihatnya mereka menjadi terpengaruh oleh ras suka, berselera, dan menikmati yang bahkan mereka yang sudah merasa kenyang menjadi ingin makan, apalagi yang masih lapar.

“Demikian pula, Sahabat, jika bidang keinginan tidak bermanfaat yang buruk ini terlihat dan terdengar sebagai telah ditinggalkan dalam diri seorang bhikkhu, maka apakah ia adalah seorang penghuni desa … telah ditinggalkan dalam diri yang mulia tersebut.

31. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Mahā Moggallāna berkata kepada Yang Mulia Sāriputta: “Sebuah perumpamaan terpikirkan olehku, Sahabat Sāriputta.” – “Katakanlah, Sahabat Moggallāna.” – “Pada suatu ketika, Sahabat, aku sedang menetap di Bukit Benteng di Rājagaha. Pada suatu pagi, Aku merapikan jubah, dan membawa mangkuk dan jubah luarku, Aku memasuki Rājagaha untuk menerima dana makanan. Pada saat itu Samīti si putera pembuat kereta sedang menghaluskan bagian lingkaran roda dan Ājīvaka Paṇḍuputta, putera pembuat kereta sebelumnya, berdiri di dekat sana.  kemudian pemikiran ini muncul dalam pikiran Ājīvaka Paṇḍuputta: ‘Oh semoga Samīti si putera pembuat kereta ini dapat menghaluskan lengkungan ini, pilinan ini, kerusakan ini, dari lingkaran roda ini sehingga tanpa lengkungan, pilinan, atau cacat, dan menjadi hanya terdiri dari inti kayu yang murni saja.’ [32] Dan persis ketika pemikiran itu terlintas dalam pikirannya, pada saat yang sama Samitī si putera pembuat kereta menghaluskan lengkungan itu, pilinan itu, cacat itu, dari lingkaran roda itu. Kemudian Ājīvaka Paṇḍuputta, putera pembuat kereta sebelumnya, gembira dan ia mengungkapkan kegembiraannya: ‘Ia menghaluskannya seolah-olah ia mengetahui pikiranku dengan pikirannya!’

32. “Demikian pula, Sahabat, ada orang-orang yang tidak berkeyakinan dan telah meninggalkan kehidupan rumah tangga untuk menjalani kehidupan tanpa rumah bukan karena keyakinan melainkan untuk mencari penghidupan, yang curang, pendusta, pengkhianat, angkuh, kosong, tidak berarti, berbicara kasar, berbicara dengan tidak terkendali, indria-indria yang tidak terkendali, makan yang lebih dari secukupnya, tidak mempertahankan kesadaran, mengabaikan pertapaan, tidak menghargai latihan, hidup mewah, lengah, pemimpin dalam kemunduran, melalaikan keterasingan, malas, membutuhkan kegigihan, tidak penuh perhatian, tanpa kebijaksanaan, bodoh dengan air liur menetes. Yang Mulia Sāriputta dengan khotbahnya tentang Dhamma menghaluskan cacat-cacat mereka seolah-oleh ia mengetahui pikiranku dengan pikirannya!

“Tetapi terdapat para anggota keluarga yang telah meninggalkan keduniawian karena keyakinan dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah, yang tidak curang, pendusta, pengkhianat, angkuh, kosong, tidak berarti, berbicara kasar, atau berbicara dengan tidak terkendali; indria-indrianya terkendali, makan secukupnya, mempertahankan kesadaran, menutamakan pertapaan, sangat menghargai latihan, tidak hidup mewah, waspada, tekun menghindari kemunduran, pemimpin dalam keterasingan, bersemangat, teguh, kokoh dalam perhatian, sadar sepenuhnya, terkonsentrasi, dengan pikiran terpusat, memiliki kebijaksanaan, tidak bodoh dengan air liur menetes. Orang-orang ini, setelah mendengarkan khotbah dari Yang Mulia Sāriputta tentang Dhamma, meminumnya dan memakannya, sebagaimana adanya, melalui kata dan pikiran. Sungguh baik bahwa ia telah membantu teman-temannya dalam kehidupan suci untuk keluar dari kondisi tidak bermanfaat dan mengokohkan mereka dalam kondisi yang bermanfaat.

33. “Seperti halnya seorang perempuan – atau seorang laki-laki – muda, belia, menyukai hiasan, dengan kepala tercuci, setelah menerima kalung bunga teratai, melati, atau mawar, akan mengambilnya dengan kedua tangan dan meletakkannya di kepala, demikian pula terdapat para anggota keluarga yang telah meninggalkan keduniawian karena keyakinan … tidak bodoh dengan air liur menetes. Orang-orang ini, setelah mendengarkan khotbah dari Yang Mulia Sāriputta tentang Dhamma, meminumnya dan memakannya, sebagaimana adanya, melalui kata dan pikiran. Sungguh baik bahwa ia telah membantu teman-temannya dalam kehidupan suci untuk keluar dari kondisi tidak bermanfaat dan mengokohkan mereka dalam kondisi yang bermanfaat.”

Demikianlah kedua orang besar itu saling bergembira mendengarkan kata-kata baik satu sama lain.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #5 on: 21 July 2010, 09:47:42 AM »
6  Ākankheyya Sutta
Jika Seorang Bhikkhu Menghendaki



[33] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

2. “Para bhikkhu, berdiamlah dengan memiliki moralitas, memiliki Pātimokkha, terkendali dengan pengendalian Pātimokkha, sempurna dalam perilaku dan  tempat yang sering dikunjungi, dan melihat dengan takut pada kesalahan terkecil, berlatih dengan menjalankan aturan-aturan latihan.

3. “Jika seorang bhikkhu menghendaki: ‘Semoga aku disayangi dan disenangi oleh teman-temanku dalam kehidupan suci, dihormati dan dihargai oleh mereka,’ maka ia harus memenuhi aturan-aturan, menekuni ketenangan pikiran internal, tidak mengabaikan meditasi, memiliki pandangan terang, dan berdiam dalam gubuk kosong.

4. “Jika seorang bhikkhu menghendaki: ‘Semoga aku memperoleh jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan,’ maka ia harus memenuhi aturan-aturan …

5. “Jika seorang bhikkhu menghendaki: ‘Semoga pelayanan dari mereka yang mempersembahkan jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan kepadaku menghasilkan buah dan manfaat besar bagi mereka,’ maka ia harus memenuhi aturan-aturan …

6. “Jika seorang bhikkhu menghendaki: ‘Ketika kerabat dan sanak saudaraku yang telah meninggal dunia mengingatku dengan penuh keyakinan dalam pikiran mereka, semoga hal itu menghasilkan buah dan manfaat besar bagi mereka,’ maka ia harus memenuhi aturan-aturan …

7. “Jika seorang bhikkhu menghendaki: ‘Semoga aku menjadi penakluk ketidak-puasan dan kenikmatan, dan semoga ketidak-puasan dan kenikmatan tidak menaklukkan aku,’ maka ia harus memenuhi aturan-aturan …

8. “Jika seorang bhikkhu menghendaki: ‘Semoga aku menjadi penakluk kekhawatiran dan ketakutan, dan semoga kekhawatiran dan ketakutan tidak menaklukkan aku, semoga aku berdiam melampaui kekhawatiran dan ketakutan kapanpun munculnya’ maka ia harus memenuhi aturan-aturan …

9. “Jika seorang bhikkhu menghendaki: ‘Semoga aku menjadi seorang yang mencapai, tanpa kesulitan dan kesusahan, empat jhāna yang merupakan pikiran yang lebih tinggi dan memberikan kediaman yang menyenangkan di sini dan saat ini ,’ maka ia harus memenuhi aturan-aturan …

10. “Jika seorang bhikkhu menghendaki: ‘Semoga aku mengalami dengan jasmaniku dan berdiam dalam kebebasan yang damai dan tanpa materi, melampaui bentuk-bentuk,’ maka ia harus memenuhi aturan-aturan … [34]

11. “Jika seorang bhikkhu menghendaki: ‘Semoga aku, dengan hancurnya tiga belenggu, menjadi seorang pemasuk-arus, tidak lagi tunduk pada kejatuhan, pasti [mencapai pembebasan], menuju pencerahan,’ maka ia harus memenuhi aturan-aturan …

12. “Jika seorang bhikkhu menghendaki: ‘Semoga aku, dengan hancurnya tiga belenggu dan dengan melemahkan nafsu, kebencian, dan kebodohan, menjadi seorang yang-kembali-sekali, hanya kembali satu kali ke dunia ini untuk mengakhiri penderitaan,’ maka ia harus memenuhi aturan-aturan …

13. “Jika seorang bhikkhu menghendaki: ‘Semoga aku, dengan hancurnya lima belenggu yang lebih rendah, menjadi yang terlahir kembali secara spontan [alam murni] dan di sana mencapai Nibbāna akhir, tanpa pernah kembali dari alam itu,’ maka ia harus memenuhi aturan-aturan …

14. “Jika seorang bhikkhu menghendaki:  ‘Semoga aku mampu mengerahkan berbagai jenis kekuatan batin: dari satu menjadi banyak; dari banyak menjadi satu, semoga aku muncul dan lenyap; semoga aku mampu bepergian tanpa terhalangi oleh dinding, menembus tembok, menembus gunung seolah-olah menembus ruang kosong; semoga aku mampu menyelam masuk dan keluar dari tanah seolah-olah di dalam air; semoga aku mampu berjalan di atas air tanpa tenggelam seolah-olah di atas tanah; duduk bersila, semoga aku mampu bepergian di angkasa seperti burung; dengan tanganku semoga aku mampu menyentuh dan menepuk bulan dan matahari begitu kuat dan perkasa; semoga aku mampu mengerahkan kekuatan jasmani, hingga sejauh alam-Brahma,’ maka ia harus memenuhi aturan-aturan …

15. “Jika seorang bhikkhu menghendaki: ‘Semoga aku, dengan unsur telinga dewa, yang murni dan melampaui manusia, mendengar kedua jenis suara, surgawi dan manusia, yang jauh maupun dekat,’ maka ia harus memenuhi aturan-aturan …

16. “Jika seorang bhikkhu menghendaki: ‘Semoga aku memahami pikiran makhluk-makhluk lain, orang-orang lain, dengan melingkupi pikiran mereka dengan pikiranku. Semoga aku memahami pikiran yang terpengaruh nafsu sebagai terpengaruh nafsu dan pikiran yang tidak terpengaruh nafsu sebagai tidak terpengaruh nafsu; semoga aku memahami pikiran yang terpengaruh kebencian sebagai terpengaruh kebencian dan pikiran yang tidak terpengaruh kebencian sebagai tidak terpengaruh kebencian; semoga aku memahami pikiran yang terpengaruh kebodohan sebagai terpengaruh kebodohan dan pikiran yang tidak terpengaruh kebodohan sebagai tidak terpengaruh kebodohan; semoga aku memahami pikiran yang mengerut sebagai mengerut dan pikiran yang kacau sebagai kacau; semoga aku memahami pikiran luhur sebagai luhur dan pikiran tidak luhur sebagai tidak luhur; semoga aku memahami pikiran yang terbatas sebagai terbatas dan pikiran tidak terbatas sebagai tidak terbatas; semoga aku memahami pikiran terkonsentrasi sebagai terkonsentrasi [35] dan pikiran tidak terkonsentrasi sebagai tidak terkonsentrasi; semoga aku memahami pikiran yang terbebaskan sebagai terbebaskan dan pikiran yang tidak terbebaskan sebagai tidak terbebaskan,’ maka ia harus memenuhi aturan-aturan …

17. “Jika seorang bhikkhu menghendaki: ‘Semoga aku mampu mengingat banyak kehidupan lampau, yaitu, satu kelahiran, dua kelahiran … (seperti Sutta 4, §27) … Demikianlah beserta aspek-aspek dan ciri-cirinya semoga aku mengingat banyak kehidupan lampau,’ maka ia harus memenuhi aturan-aturan …

18. “Jika seorang bhikkhu menghendaki: ‘Semoga aku, dengan telinga dewa yang murni dan melampaui manusia, melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan buruk rupa, beruntung dan tidak beruntung, semoga aku memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut sesuai dengan perbuatan mereka: ‘ …(seperti Sutta 4, §29) …,’ maka ia harus memenuhi aturan-aturan …

19. “Jika seorang bhikkhu menghendaki: ‘Semoga aku, dengan menembus bagi diriku dengan pengetahuan langsung, di sini dan saat ini memasuki dan berdiam dalam kebebasan batin dan kebebasan melalui kebijaksanaan yang tanpa noda dengan hancurnya noda-noda, ’ [36] maka ia harus memenuhi aturan-aturan, menekuni ketenangan pikiran internal, tidak mengabaikan meditasi, memiliki pandangan terang, dan berdiam dalam gubuk kosong.

20. “Maka adalah merujuk pada hal ini maka dikatakan: ‘Para bhikkhu, berdiamlah dengan memiliki moralitas, memiliki Pātimokkha, terkendali dengan pengendalian Pātimokkha, sempurna dalam perilaku dan  tempat yang sering dikunjungi, dan melihat dengan takut pada kesalahan terkecil, berlatih dengan menjalankan aturan-aturan latihan.’”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas dan gembira mendengarkan kata-kata Sang Bhagavā.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #6 on: 21 July 2010, 09:52:50 AM »
7  Vatthūpama Sutta
Perumpamaan Kain



1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR.  Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

2. “Para bhikkhu, misalkan sehelai kain yang kotor dan bernoda, dan seorang pencelup mencelupnya ke dalam pewarna, apakah biru atau kuning atau merah atau merah muda; kain itu akan terlihat dicelup dengan tidak benar dan warnanya tidak murni. Mengapakah? Karena ketidak-murnian kain tersebut. Demikian pula, ketika batin kotor, maka alam tujuan yang tidak bahagialah yang dapat diharapkan.  Para bhikkhu, misalkan sehelai kain yang bersih dan cemerlang, dan seorang pencelup mencelupnya ke dalam pewarna, apakah biru atau kuning atau merah atau merah muda; kain itu akan terlihat dicelup dengan benar dan warnanya murni. Mengapakah? Karena kemurnian kain tersebut. Demikian pula, ketika batin bersih, maka alam tujuan yang bahagialah yang dapat diharapkan.

3. “Apakah, para bhikkhu, ketidak-sempurnaan yang mengotori batin?  Keiri-hatian dan keserakahan yang jahat adalah ketidak-sempurnaan yang mengotori batin.  Permusuhan … kemarahan … dendam … menghina … sikap menguasai … kecemburuan … ketamakan  … menipu …kecurangan … sifat keras kepala … kelancangan … keangkuhan … kesombongan … kepongahan … [37] … kelengahan adalah ketidak-sempurnaan yang mengotori batin.

4. “Mengetahui bahwa keiri-hatian dan keserakahan yang jahat adalah ketidak-sempurnaan yang mengotori batin, seorang bhikkhu meninggalkannya.  Mengetahui bahwa permusuhan … kelengahan adalah ketidak-sempurnaan yang mengotori batin, seorang bhikkhu meninggalkannya.

5. “Ketika seorang bhikkhu telah mengetahui bahwa keiri-hatian dan keserakahan yang jahat adalah ketidak-sempurnaan yang mengotori batin dan telah meninggalkannya; Ketika seorang bhikkhu telah mengetahui bahwa permusuhan … kelengahan adalah ketidak-sempurnaan yang mengotori batin dan telah meninggalkannya, ia memperoleh keyakinan sempurna dalam Sang Buddha sebagai berikut:  ‘Sang Buddha adalah sempurna, telah mencapai penerangan sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati dan perilaku, maha mulia, pengenal seluruh alam, pemimpin yang tanpa bandinganya bagi orang-orang yang harus dijinakkan, guru para dewa dan manusia, yang tercerahkan, terberkahi.’

6. “Ia memperoleh keyakinan dalam Dhamma sebagai berikut: ‘Dhamma telah dinyatakan dengan sempurna oleh Sang Bhagavā, terlihat di sini dan saat ini, efektif segera, mengundang untuk diselidiki, mengarah menuju kemajuan, untuk dialami oleh para bijaksana untuk diri mereka sendiri.’

7. “Ia memperoleh keyakinan dalam Sangha sebagai berikut: ‘Sangha para siswa Sang Bhagavā mempraktikkan jalan yang baik, mempraktikkan jalan yang lurus, mempraktikkan jalan sejati, mempraktikkan jalan yang benar, yaitu, empat pasang makhluk, delapan jenis individu; Sangha para siswa Sang Bhagavā ini layak menerima persembahan, layak menerima keramahan, layak menerima pemberian, layak menerima penghormatan, lahan jasa yang tiada bandingnya di dunia.’

8. “Ketika ia telah menghentikan, mengusir, membuang, meninggalkan, dan melepaskan [ketidak-sempurnaan batin] secara sebagian,  ia mempetimbangkan: ‘Aku memiliki keyakinan sempurna dalam Sang Buddha,’ dan ia memperoleh inspirasi dalam makna, memperoleh inspirasi dalam Dhamma,  memperoleh kegembiraan yang berhubungan dengan Dhamma. Ketika ia gembira, kegirangan meluap muncul dalam dirinya; dalam diri seorang yang girang, jasmaninya menjadi tenang; seorang yang jasmaninya tenang akan merasakan kenikmatan; dalam diri seorang yang merasa nikmat, pikirannya menjadi terkonsentrasi.

9. “Ia mempertimbangkan: ‘Aku memiliki keyakinan sempurna dalam Dhamma,’ dan ia memperoleh inspirasi dalam makna, memperoleh inspirasi dalam Dhamma, memperoleh kegembiraan yang berhubungan dengan Dhamma. Ketika ia gembira … pikirannya menjadi terkonsentrasi. [38]

10. “Ia mempertimbangkan: ‘Aku memiliki keyakinan sempurna dalam Sangha,’ dan ia memperoleh inspirasi dalam makna, memperoleh inspirasi dalam Dhamma, memperoleh kegembiraan yang berhubungan dengan Dhamma. Ketika ia gembira, … pikirannya menjadi terkonsentrasi.

11. “Ia mempertimbangkan: ‘[Ketidak-sempurnaan batin] telah dihentikan, diusir, dibuang, ditinggalkan dan dilepaskan olehku,’ dan ia memperoleh inspirasi dalam makna, memperoleh inspirasi dalam Dhamma, memperoleh kegembiraan yang berhubungan dengan Dhamma. Ketika ia gembira, kegirangan meluap muncul dalam dirinya; dalam diri seorang yang girang, jasmaninya menjadi tenang; seorang yang jasmaninya tenang akan merasakan kenikmatan; dalam diri seorang yang merasa nikmat, pikirannya menjadi terkonsentrasi.

12. “Para bhikkhu, jika seorang bhikkhu yang memiliki kualitas demikian, kondisi [konsentrasi] demikian, dan kebijaksanaan demikian  memakan makanan yang terdiri dari nasi pilihan bersama dengan berbagai kuah dan kari, bahkan hal itu tidak akan menjadi rintangan baginya.  Bagaikan sehelai kain yang kotor dan ternoda menjadi bersih dan cemerlang dengan bantuan air bersih, atau bagaikan emas yang menjadi murni dan cemerlang dengan bantuan pembakaran, demikian pula, jika seorang bhikkhu yang memiliki kualitas demikian … hal itu tidak akan menjadi rintangan baginya.

13. “Ia berdiam dengan melingkupi satu arah dengan pikiran cinta kasih,  demikian pula dengan arah ke dua, arah ke tiga, arah ke empat; demikian pula ke atas, ke bawah, ke sekeliling, dan ke segala penjuru, dan kepada semua makhluk seperti kepada dirinya sendiri, ia berdiam dengan melingkupi seluruh dunia dengan pikiran cinta kasih, berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa kekerasan dan tanpa permusuhan.

14-16. “Ia berdiam dengan melingkupi satu arah dengan pikiran belas kasian … dengan pikiran kegembiraan apresiatif … dengan pikiran seimbang,  demikian pula dengan arah ke dua, arah ke tiga, arah ke empat; demikian pula ke atas, ke bawah, ke sekeliling, dan ke segala penjuru, dan kepada semua makhluk seperti kepada dirinya sendiri, ia berdiam dengan melingkupi seluruh dunia dengan pikiran seimbang, berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa kekerasan dan tanpa permusuhan.

17. “Ia memahami bahwa: ‘Ada ini, ada yang rendah, ada yang mulia, dan di luar sana ada jalan membebaskan diri dari keseluruhan bidang persepsi ini.’

18. “Ketika ia menegtahui dan melihat demikian, batinnya terbebaskan dari noda keinginan indria, dari noda penjelmaan, dan dari noda kebodohan. Ketika terbebaskan muncullah pengetahuan: ‘Terbebaskan.’ Ia memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.’ [39] Para bhikkhu, bhikkhu ini disebut seorang yang mandi dengan mandi batin.”

19. Pada saat itu Brahmana Sundarika Bhāradvāja sedang duduk tidak jauh dari Sang Bhagavā. Kemudian ia berkata kepada Sang Bhagavā: “Tetapi apakah Guru Gotama pergi ke sungai Bāhukā untuk mandi?”

“Mengapa, brahmana, pergi ke sungai Bāhuka? Apa yang dapat dilakukan oleh sungai Bāhuka?”

“Guru Gotama, sungai Bāhuka dianggap oleh banyak orang dapat memberikan kebebasan, sungai itu dianggap oleh banyak orang dapat memberikan kebaikan, dan banyak yang mencuci perbuatan jahat mereka di sungai Bāhuka.”

20. Kemudian Sang Bhagavā menjawab Brahmana Sundarika Bhāradvāja dalam syair:

   “Bāhukā dan Adhikakkā,
   Gayā dan Sundarikā juga,
   Payāga dan Sarassatī,
   Dan arus Bahumatī -
   Si dungu boleh saja mandi selamanya di sana
   Namun tidak akan menyucikan perbuatan gelap mereka.

   Apakah yang dapat dibersihkan  oleh Sundarikā?
   Dan Payāga? Dan Bāhukā?
   Sungai-sungai itu tidak dapat memurnikan pelaku-kejahatan
   Seorang yang telah melakukan perbuatan-perbuatan kejam dan kasar

   Seseorang yang murni dalam batin selamanya memiliki
   Pesta musim semi, Hari Suci,
   Seorang yang baik dalam tindakan, seorang yang murni dalam batin
   Mengarahkan moralitasnya menuju kesempurnaan.

   Adalah di sini, brahmana, engkau harus mandi,
   Untuk menjadikan dirimu, sebuah perlindungan bagi semua makhluk.
   Dan jika engkau tidak mengucapkan kebohongan
   Juga tidak bekerja dengan mencelakai makhluk-makhluk hidup,
   Juga tidak mengambil apa yang tidak diberikan,
   Dengan keyakinan dan bebas dari ketamakan,
   Mengapa engkau perlu pergi ke Gayā?

21. Ketika ini dikatakan, brahmana Sundarika Bhāradvāja berkata: “Menakjubkan, Guru Gotama! Menakjubkan, Guru Gotama! Guru Gotama telah menjelaskan Dhamma dalam berbagai cara, bagaikan menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan pada mereka yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan agar mereka yang memiliki penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Aku berlindung pada Guru Gotama dan pada Dhamma dan pada Sangha para bhikkhu. Aku ingin menerima pelepasan keduniawian di bawah Guru Gotama, aku memohon penahbisan penuh.”

22. Dan Brahmana Sundarika Bhāradvāja menerima pelepasan keduniawian di bawah Sang Bhagavā, dan ia menerima penahbisan penuh. [40] dan segera, tidak lama setelah ia menerima penahbisan penuh, berdiam sendirian, mengasingkan diri, rajin, tekun, dan teguh, Yang Mulia Bhāradvāja, dengan menembus bagi dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, di sini dan saat ini memasuki dan berdiam dalam tujuan tertinggi kehidupan suci yang dicari oleh para anggota keluarga yang meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah. Ia secara langsung mengetahui: “Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.” Dan Yang Mulia Bhāradvāja menjadi satu di antara para Arahant.
« Last Edit: 21 July 2010, 09:56:05 AM by Indra »

Offline fabian c

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.095
  • Reputasi: 128
  • Gender: Male
  • 2 akibat pandangan salah: neraka atau rahim hewan
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #7 on: 21 July 2010, 01:24:25 PM »
Wuih.... Batara mengeluarkan sebagian ilmunya.....    ^-^

Tiga hal ini, O para bhikkhu dilakukan secara rahasia, bukan secara terbuka.
Bercinta dengan wanita, mantra para Brahmana dan pandangan salah.

Tiga hal ini, O para Bhikkhu, bersinar secara terbuka, bukan secara rahasia.
Lingkaran rembulan, lingkaran matahari serta Dhamma dan Vinaya Sang Tathagata

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.401
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #8 on: 21 July 2010, 01:38:32 PM »
akhirnyaa..... unicode juga...
There is no place like 127.0.0.1

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #9 on: 21 July 2010, 01:42:10 PM »
akhirnyaa..... unicode juga...

tolong edit bagian formating yg kurang indah

 [at]  all
bagi yg membaca, tolong diinformasikan jika ada error, TIA

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.401
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #10 on: 21 July 2010, 01:54:16 PM »
sudah secara explisit minta ke yumi utk scan. tolong bantuan teman2x yg lain jg
There is no place like 127.0.0.1

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #11 on: 21 July 2010, 01:58:55 PM »
8  Sallekha Sutta
Pemurnian



1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR.  Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

2. Kemudian, pada malam harinya, Yang Mulia Mahā Cunda bangkit dari meditasi dan mendatangi Sang Bhagavā. Setelah bersujud pada Sang Bhagavā ia duduk di satu sisi dan berkata kepada Beliau:

3. “Yang Mulia, berbagai pandangan muncul di dunia berkaitan dengan doktrin-doktrin tentang diri atau doktrin-doktrin tentang dunia.  Sekarang apakah meninggalkan dan melepaskan pandangan-pandangan itu terjadi dalam diri seorang bhikkhu yang memperhatikan hanya pada bagian permulaan [dari latihan meditatifnya]?”

“Cunda, sehubungan dengan berbagai pandangan muncul di dunia yang berkaitan dengan doktrin-doktrin tentang diri atau doktrin-doktrin tentang dunia: jika [obyek]  yang sehubungan dengannya pandangan-pandangan itu muncul, di mana pandangan-pandangan itu berlandaskan, dan di mana pandangan-pandangan itu diterapkan  dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai berikut: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku,’ maka meninggalkan dan melepaskan pandangan-pandangan itu terjadi.


(DELAPAN PENCAPAIAN)

4. “Adalah mungkin di sini, Cunda, bahwa dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, beberapa bhikkhu di sini masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan kegembiraan dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Ia mungkin berpikir bahwa: ‘Aku berdiam dalam pemurnian.’ Tetapi bukan pencapaian-pencapaian ini yang disebut ‘pemurnian’ dalam Disiplin Yang Mulia: ini disebut ‘kediaman yang menyenangkan di sini dan saat ini’ [41] dalam Disiplin Yang Mulia.

5. “Adalah mungkin di sini bahwa dengan tenangnya awal pikiran dan kelangsungan pikiran, beberapa bhikkhu di sini masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki keyakinan-diri dan keterpusatan pikiran tanpa awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan kegembiraan dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi. Ia mungkin berpikir bahwa: ‘Aku berdiam dalam pemurnian.’ Tetapi .. ini disebut ‘kediaman yang menyenangkan di sini dan saat ini’ dalam Disiplin Yang Mulia.

6. “Adalah mungkin di sini bahwa dengan meluruhnya kegembiraan, beberapa bhikkhu di sini masuk dan berdiam dalam keseimbangan, dan penuh perhatian dan penuh kewaspadaan, masih merasakan kesenangan pada jasmani, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga, yang sehubungan dengannya para mulia menyatakan: ‘Ia memiliki kediaman yang menyenangkan yang memiliki keseimbangan dan penuh perhatian.’ Ia mungkin berpikir bahwa: ‘Aku berdiam dalam pemurnian.’ Tetapi .. ini disebut ‘kediaman yang menyenangkan di sini dan saat ini’ dalam Disiplin Yang Mulia.

7. “Adalah mungkin di sini bahwa dengan meninggalkan kesenangan dan kesakitan, dan dengan lenyapnya sebelumnya kegembiraan dan kesedihan, beberapa bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāṅa ke empat, yang tanpa kesakitan juga tanpa kesenangan dan kemurnian perhatian karena keseimbangan. Ia mungkin berpikir bahwa: ‘Aku berdiam dalam pemurnian.’ Tetapi bukan pencapaian-pencapaian ini yang disebut ‘pemurnian’ dalam Disiplin Yang Mulia: ini disebut ‘kediaman yang menyenangkan di sini dan saat ini’ dalam Disiplin Yang Mulia.

8. “Adalah mungkin di sini bahwa dengan sepenuhnya melampaui persepsi bentuk, dengan lenyapnya persepsi kontak indria, dengan tanpa-perhatian pada keragaman persepsi, menyadari bahwa ‘ruang adalah tanpa batas,’ beberapa bhikkhu di sini masuk dan berdiam dalam landasan ruang tanpa batas. Ia mungkin berpikir bahwa: ‘Aku berdiam dalam pemurnian.’ Tetapi bukan pencapaian-pencapaian ini yang disebut ‘pemurnian’ dalam Disiplin Yang Mulia: ini disebut ‘kediaman yang menyenangkan ’ dalam Disiplin Yang Mulia.

9. “Adalah mungkin di sini bahwa dengan sepenuhnya melampaui landasan ruang tanpa batas, menyadari bahwa ‘kesadaran adalah tanpa batas,’ beberapa bhikkhu di sini masuk dan berdiam dalam landasan kesadaran tanpa batas. Ia mungkin berpikir bahwa: ‘Aku berdiam dalam pemurnian.’ Tetapi … ini disebut ‘kediaman yang menyenangkan’ dalam Disiplin Yang Mulia.

10. “Adalah mungkin di sini bahwa dengan sepenuhnya melampaui landasan kesadaran tanpa batas, menyadari bahwa ‘tidak ada apa-apa,’ beberapa bhikkhu di sini masuk dan berdiam dalam landasan kekosongan. Ia mungkin berpikir bahwa: ‘Aku berdiam dalam pemurnian.’ Tetapi … ini disebut ‘kediaman yang menyenangkan’ dalam Disiplin Yang Mulia.

11. “Adalah mungkin di sini bahwa dengan sepenuhnya melampaui landasan kekosongan, beberapa bhikkhu di sini masuk dan berdiam dalam landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. Ia mungkin berpikir bahwa: ‘Aku berdiam dalam pemurnian.’ [42] Tetapi bukan pencapaian-pencapaian ini yang disebut ‘pemurnian’ dalam Disiplin Yang Mulia: ini disebut ‘kediaman yang menyenangkan ’ dalam Disiplin Yang Mulia.

(PEMURNIAN)

12. Sekarang, Cunda, di sini pemurnian harus engkau praktikkan:

(1) ‘Orang lain akan bertindak kejam; kita tidak akan bertindak kejam di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(2) ‘Orang lain akan membunuh makhluk-makhluk hidup; kita harus menghindari pembunuhan makhluk-makhluk hidup di sini’; pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(3) ‘Orang lain akan mengambil apa yang tidak diberikan; kita harus menghindari tindakan mengambil apa yang tidak diberikan di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(4) ‘Orang lain tidak selibat; kita harus selibat di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(5)  ‘Orang lain akan mengatakan kebohongan; kita harus menghindari kebohongan di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(6)  ‘Orang lain akan berkata-kata jahat; kita harus menghindari berkata-kata jahat di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(7) ‘Orang lain akan berkata-kata kasar; kita harus menghindari berkata-kata kasar di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(8) ‘Orang lain akan bergosip; kita harus menghindari gosip di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(9) ‘Orang lain akan bersifat iri-hati; kita tidak boleh iri-hati di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(10) ‘Orang lain akan memiliki permusuhan; kita harus tanpa permusuhan di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(11) ‘Orang lain akan memiliki pandangan salah; kita harus memiliki pandangan benar di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(12) ‘Orang lain akan memiliki kehendak salah; kita harus memiliki kehendak benar di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(13) ‘Orang lain akan memiliki ucapan salah; kita harus memiliki ucapan benar di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(14) ‘Orang lain akan memiliki perbuatan salah; kita harus memiliki perbuatan benar di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(15) ‘Orang lain akan memiliki penghidupan salah di sini; kita harus memiliki penghidupan benar di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(16) ‘Orang lain akan memiliki usaha salah; kita harus memiliki usaha benar di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(17) ‘Orang lain akan memiliki perhatian salah; kita harus memiliki perhatian benar di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(18) ‘Orang lain akan memiliki konsentrasi salah; kita harus memiliki konsentrasi benar di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(19) ‘Orang lain akan memiliki pengetahuan salah; kita harus memiliki pengetahuan benar di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(20) ‘Orang lain akan memiliki pembebasan salah; kita harus memiliki pembebasan benar di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(21) ‘Orang lain akan dikuasai oleh kelambanan dan ketumpulan; kita harus terbebas dari kelambanan dan ketumpulan di sini’: (20) ‘Orang lain akan memiliki pembebasan salah; kita harus memiliki pembebasan benar di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(22) ‘Orang lain akan gelisah; kita tidak boleh gelisah di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(23) ‘Orang lain akan merasa ragu-ragu; kita harus melampaui keragu-raguan di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(24) ‘Orang lain akan marah; kita tidak boleh marah di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(25) ‘Orang lain akan dendam; kita tidak boleh dendam di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian. [43]
(26) ‘Orang lain akan merendahkan orang lain; kita tidak boleh merendahkan orang lain di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(27) ‘Orang lain akan menguasai orang lain; kita tidak boleh menguasai orang lain di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(28) ‘Orang lain akan merasa cemburu; kita tidak boleh cemburu di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(29) ‘Orang lain akan bersifat tamak; kita tidak boleh tamak di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(30) ‘Orang lain akan curang; kita tidak boleh curang di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(31) ‘Orang lain akan menipu’ kita tidak boleh menipu di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(32) ‘Orang lain akan keras-kepala; kita tidak boleh keras-kepala di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(33) ‘Orang lain akan sombong; kita tidak boleh sombong di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(34) ‘Orang lain akan sulit dinasihati; kita harus mudah dinasihati di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(35) ‘Orang lain akan memiliki teman-teman jahat; kita harus memiliki teman-teman baik di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(36) ‘Orang lain akan lalai; kita harus rajin di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(37) ‘Orang lain akan tidak berkeyakinan; kita harus berkeyakinan di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(38) ‘Orang lain akan tidak memiliki rasa malu; kita harus memiliki rasa malu di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(39) ‘Orang lain akan tidak memiliki rasa takut melakukan perbuatan jahat; kita harus takut melakukan perbuatan jahat di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(40) ‘Orang lain akan sedikit belajar; kita harus banyak belajar di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(41) ‘Orang lain akan malas; kita harus bersemangat di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(42) ‘Orang lain akan tanpa perhatian; kita harus kokoh dalam perhatian di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(43) ‘Orang lain akan tidak memiliki kebijaksanaan; kita harus memiliki kebijaksanaan di sini’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.
(44) ‘Orang lain akan terikat pada pandangan-pandangan mereka sendiri, menggenggamnya erat-erat, dan melepaskannya dengan susah-payah;  kita tidak boleh terikat pada pandangan-pandangan kita sendiri atau menggenggamnya erat-erat, melainkan harus melepaskannya dengan mudah’: pemurnian harus dipraktikkan demikian.

(KECENDERUNGAN PIKIRAN)

13. “Cunda, Aku katakan bahwa bahkan kecenderungan pikiran pada kondisi-kondisi bermanfaat adalah bermanfaat besar, apalagi tindakan-tindakan perbuatan dan ucapan yang selaras [dengan kondisi-kondisi pikiran demikian]?  Oleh Karena itu, Cunda:
(1) Pikiran harus cenderung pada: ‘Orang lain akan kejam; kita tidak boleh kejam di sini.’
(2) Pikiran harus cenderung pada: ‘Orang lain akan membunuh makhluk-makhluk hidupa; kita harus menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup di sini.
(3)-(43) Pikiran harus cenderung pada: …
(44) Pikiran harus cenderung pada: ‘Orang lain akan terikat pada pandangan-pandangan mereka sendiri, menggenggamnya erat-erat, dan melepaskannya dengan susah-payah; kita tidak boleh terikat pada pandangan-pandangan kita sendiri atau menggenggamnya erat-erat, melainkan harus melepaskannya dengan mudah.’

(PENGHINDARAN)

14. “Cunda, misalkan terdapat jalan setapak yang tidak rata dan ada jalan setapak lainnya yang rata untuk menghindari jalam setapak yang tidak rata; dan misalkan terdapat penyeberangan yang tidak rata dan ada penyeberangan lain yang rata untuk menghindari penyeberangan yang tidak rata. [44] demikian pula:

(1) Seseorang yang terbiasa kejam memiliki ketidak-kejaman untuk menghindarinya.
(2) Seseorang yang terbiasa membunuh makhluk-makhluk hidup memiliki penghindaran dari pembunuhan untuk menghindarinya.
(3) Seseorang yang terbiasa mengambil apa yang tidak diberikan memiliki penghindaran dari mengambil apa yang tidak diberikan untuk menghindarinya.
(4) Seorang yang tidak selibat memiliki selibat untuk menghindarinya.
(5) Seorang yang terbiasa berbohong memiliki penghindaran dari berbohong untuk menghindarinya.
(6) Seorang yang terbiasa berkata jahat memiliki penghindaran dari berkata jahat untuk menghindarinya.
(7) Seorang yang terbiasa berkata kasar memiliki penghindaran dari berkata kasar untuk menghindarinya.
(8) Seorang yang terbiasa bergosip memiliki penghindaran dari bergosip untuk menghindarinya.
(9) Seorang yang terbiasa iri-hati memiliki sifat tidak iri-hati untuk menghindarinya.
(10) Seorang yang terbiasa bermusuhan memiliki ketidak-bermusuhan untuk menghindarinya.
(11) Seorang yang terbiasa berpandangan salah memiliki pandangan benar untuk menghindarinya.
(12) Seorang yang terbiasa berkehendak salah memiliki kehendak benar untuk menghindarinya.
(13) Seorang yang terbiasa berucapan salah memiliki ucapan benar untuk menghindarinya.
(14) Seorang yang terbiasa berbuat salah memiliki perbuatan benar untuk menghindarinya.
(15) Seorang yang terbiasa berpenghidupan salah memiliki penghidupan benar untuk menghindarinya.
(16) Seorang yang terbiasa berusaha salah memiliki usaha benar untuk menghindarinya.
(17) Seorang yang terbiasa berperhatian salah memiliki perhatian benar untuk menghindarinya.
(18) Seorang yang terbiasa berkonsentrasi salah memiliki konsentrasi benar untuk menghindarinya.
(19) Seorang yang terbiasa berpengetahuan salah memiliki pengetahuan benar untuk menghindarinya.
(20) Seorang yang terbiasa berpembebasan salah memiliki pembebasan benar untuk menghindarinya.
(21) Seorang yang terbiasa dengan kelambanan dan ketumpulan memiliki kebebasan dari kelambanan dan ketumpulan untuk menghindarinya.
(22) Seorang yang terbiasa dengan kegelisahan memiliki ketidak-gelisahan untuk menghindarinya.
(23) Seorang yang terbiasa dengan keragu-raguan memiliki keadaan yang melampaui keragu-raguan untuk menghindarinya.
(24) Seorang yang terbiasa dengan kemarahan memiliki ketidak-marahan untuk menghindarinya.
(25) Seorang yang terbiasa dengan dendam memiliki ketidak-dendaman untuk menghindarinya.
(26) Seorang yang terbiasa merendahkan orang lain memiliki tidak-merendahkan orang lain untuk menghindarinya.
(27) Seorang yang terbiasa bersikap menguasai memiliki sikap tidak menguasai untuk menghindarinya.
(28) Seorang yang terbiasa cemburu memiliki ketidak-cemburuan untuk menghindarinya.
(29)  Seorang yang terbiasa tamak memiliki ketidak-tamakan untuk menghindarinya.
(30) Seorang yang terbiasa curang memiliki ketidak-curangan untuk menghindarinya.
(31) Seorang yang terbiasa menipu memiliki sikap tidak-menipu untuk menghindarinya.
(32) Seorang yang terbiasa bersifat keras-kepala memiliki ketidak-keras-kepalaan untuk menghindarinya.
(33) Seorang yang terbiasa bersifat sombong memiliki ketidak-sombongan untuk menghindarinya.
(34) Seorang yang terbiasa sulit dinasihati memiliki ketidak-sulitan untuk dinasihati untuk menghindarinya.
(35)  Seorang yang terbiasa bergaul dengan teman-teman jahat memiliki pergaulan dengan teman-teman baik untuk menghindarinya.
(36) Seorang yang terbiasa lalai memiliki kerajinan untuk menghindarinya.
(37) Seorang yang terbiasa tidak berkeyakinan memiliki keyakinan untuk menghindarinya.
(38) Seorang yang terbiasa tidak merasa malu memiliki rasa malu untuk menghindarinya.
(39) Seorang yang terbiasa merasa tidak takut melakukan kejahatan memiliki rasa takut melakukan kejahatan untuk menghindarinya.
(40) Seorang yang terbiasa sedikit belajar memiliki belajar banyak untuk menghindarinya.
(41) Seorang yang terbiasa malas memiliki bangkitnya semangat untuk menghindarinya.
(42)  Seorang yang terbiasa tanpa perhatian memiliki kekokohan perhatian untuk menghindarinya.
(43) Seorang yang terbiasa tanpa kebijaksanaan memiliki perolehan kebijaksanaan untuk menghindarinya.
(44) Seorang yang terikat pada pandangan-pandangan mereka sendiri, yang menggenggamnya erat-erat dan melepaskannya dengan susah-payah, memiliki ketidak-terikatan pada pandangan-pandangannya sendiri, tidak menggenggamnya erat-erat dan melepaskannya dengan mudah, untuk menghindarinya.

(JALAN MENGARAH KE ATAS)

15. “Cunda, seperti halnya semua kondisi-kondisi tidak bermanfaat mengarah ke bawah dan semua kondisi-kondisi bermanfaat mengarah ke atas, demikian pula:

(1) Seseorang yang terbiasa kejam memiliki ketidak-kejaman untuk mengarahkannya ke atas
(2) Seseorang yang terbiasa membunuh makhluk-makhluk hidup memiliki penghindaran dari pembunuhan untuk mengarahkannya ke atas.
(3-43) Seseorang yang terbiasa … untuk mengarahkannya ke atas
(44) Seorang yang terikat pada pandangan-pandangan mereka sendiri, yang menggenggamnya erat-erat [45] dan melepaskannya dengan susah-payah, memiliki ketidak-terikatan pada pandangan-pandangannya sendiri, tidak menggenggamnya erat-erat dan melepaskannya dengan mudah, untuk mengarahkannya ke atas.

(JALAN UNTUK MEMADAMKAN)

16. “Cunda, bahwa seseorang yang tenggelam dalam lumpur harus menarik seorang lainnya yang tenggelam dalam lumpur adalah tidak mungkin; bahwa seseorang yang tidak tenggelam dalam lumpur harus menarik seorang lainnya yang tenggelam dalam lumpur adalah mungkin. Bahwa seorang yang tidak jinak, tidak disiplin, [dengan kekotoran] belum padam, harus menjinakkan orang lain, mendisiplinkannya, dan membantunya memadamkan [kekotorannya] adalah tidak mungkin; Bahwa seorang yang jinak,  disiplin, [dengan kekotoran] telah padam, harus menjinakkan orang lain, mendisiplinkannya, dan membantunya memadamkan [kekotorannya] adalah mungkin.  Demikian pula:

(1) Seseorang yang terbiasa kejam memiliki ketidak-kejaman untuk memadamkannya.
(2) Seseorang yang terbiasa membunuh makhluk-makhluk hidup memiliki penghindaran dari pembunuhan untuk memadamkannya.
(3-43) Seseorang yang terbiasa … [46] … untuk memadamkannya.
(44) Seorang yang terikat pada pandangan-pandangan mereka sendiri, yang menggenggamnya erat-erat dan melepaskannya dengan susah-payah, memiliki ketidak-terikatan pada pandangan-pandangannya sendiri, tidak menggenggamnya erat-erat dan melepaskannya dengan mudah, untuk memadamkannya.

(PENUTUP)

17. “Maka, Cunda, jalan pemurnian telah diajarkan olehKu, jalan kecenderungan batin telah diajarkan olehKu, jalan penghindaran telah diajarkan olehKu, jalan pemadaman telah diajarkan olehKu.

18. “Apan yang harus dilakukan untuk para siswaNya demi belas kasih seorang guru yang mengutamakan kesejahteraan mereka dan memiliki belas kasihan pada mereka, telah Aku lakukan untukmu, Cunda.  Ada bawah pohon ini, gubuk kosong ini. Bermeditasilah, Cunda, jangan menunda atau engkau akan menyesalinya kelak. Ini adalah instruksi kami kepadamu.”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Yang Mulia Mahā Cunda merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Buddha.
« Last Edit: 21 July 2010, 02:01:03 PM by Indra »

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #12 on: 21 July 2010, 02:34:23 PM »
9  Sammādiṭṭhi Sutta
Pandangan Benar



1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Yang Mulia Sāriputta memanggil para bhikkhu: “Teman-teman, para bhikkhu.” – “Teman,” mereka menjawab. Yang Mulia Sāriputta berkata sebagai berikut:

2. “’Seorang yang berpandangan benar, seorang yang berpandangan benar,’ dikatakan, teman-teman. Dalam cara bagaimanakah seorang siswa mulia berpandangan benar, yang pandangannya lurus, yang memiliki keyakinan sempurna dalam Dhamma, dan telah sampai pada Dhamma sejati?”

“Sesungguhnya, teman, kami datang dari jauh untuk mempelajari makna pernyataan ini dari Yang Mulia Sāriputta. Baik sekali jika Yang Mulia Sāriputta sudi menjelaskan makna pernyataan ini. Setelah mendengarkannya darinya para bhikkhu akan mengingatnya.”

“Maka, teman-teman, dengarkan dan perhatikanlah apa yang akan aku katakan.”

“Baik, Teman,” para bhikkhu menjawab. Yang Mulia Sāriputta berkata sebagai berikut:

(YANG BERMANFAAT DAN YANG TIDAK BERMANFAAT)

3. “Ketika, teman-teman, seorang siswa mulia memahami yang tidak bermanfaat dan akar dari yang tidak bermanfaat, yang bermanfaat dan akar dari yang bermanfaat, [47] dengan cara itulah ia menjadi seorang yang berpandangan benar, yang pandangannya lurus, yang memiliki keyakinan sempurna dalam Dhamma, dan telah sampai pada Dhamma sejati ini.

4. “Dan apakah, teman-teman, yang tidak bermanfaat, apakah akar dari yang tidak bermanfaat, apakah yang bermanfaat, apakah akar dari yang bermanfaat? Membunuh makhluk-makhluk hidup adalah tidak bermanfaat; mengambil apa yang tidak diberikan adalah tidak bermanfaat; perilaku salah dalam kenikmatan indria adalah tidak bermanfaat; kebohongan adalah tidak bermanfaat; berkata-kata jahat adalah tidak bermanfaat; berkata-kata kasar adalah tidak bermanfaat; bergosip adalah tidak bermanfaat; ketamakan adalah tidak bermanfaat; permusuhan adalah tidak bermanfaat; pandangan salah adalah tidak bermanfaat. Ini disebut dengan yang tidak bermanfaat.

5. “Dan apakah akar dari yang tidak bermanfaat? Keserakahan adalah akar dari yang tidak bermanfaat; kebencian adalah akar dari yang tidak bermanfaat; kebodohan adalah akar dari yang tidak bermanfaat. Ini disebut dengan akar dari yang tidak bermanfaat.

6. “Dan apakah yang bermanfaat? Menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup adalah bermanfaat; menghindari mengambil apa yang tidak diberikan adalah bermanfaat; menghindari perilaku salah dalam kenikmatan indria adalah bermanfaat; menghindari kebohongan adalah bermanfaat; menghindari berkata-kata jahat adalah bermanfaat; menghindari berkata-kata kasar adalah bermanfaat; menghindari bergosip adalah bermanfaat; ketidak-tamakan adalah bermanfaat; tidak-bermusuhan dalah bermanfaat; pandangan benar adalah bermanfaat. Ini disebut dengan yang bermanfaat.

7. “Dan apakah akar dari yang  bermanfaat? Ketidak-serakahan adalah akar dari yang bermanfaat; ketidak-bencian adalah akar dari yang bermanfaat; ketidak-bodohan adalah akar dari yang bermanfaat. Ini disebut dengan akar dari yang bermanfaat.

8. “Ketika seorang siswa mulia telah memahami yang tidak bermanfaat dan akar dari yang tidak bermabnfaat, yang bermanfaat dan akar dari yang bermanfaat,  maka ia sepenuhnya meninggalkan kecenderungan tersembunyi pada nafsu, ia menghapuskan kecenderungan tersembunyi pada ketidak-senangan, ia memadamkan kecenderungan tersembunyi pada pandangan dan keangkuhan ‘Aku,’ dan dengan meninggalkan kebodohan dan membangkitkan pengetahuan sejati ia di sini dan saat ini mengakhiri penderitaan.  Dengan cara ini juga seorang siswa mulia menjadi seorang yang berpandangan benar, yang pandangannya lurus, yang memiliki keyakinan sempurna dalam Dhamma, dan telah sampai pada Dhamma sejati ini.”

(MAKANAN)

9. Dengan mengatakan, “Bagus, teman,” para bhhikkhu gembira mendengarkan kata-kata Yang Mulia Sāriputta. Kemudian mereka mengajukan pertanyaan lebih lanjut: “Tetapi, teman, adakah cara lain yang mana seorang siswa mulia menjadi berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini?” – “Ada, teman-teman.

10. “Ketika, teman-teman, seorang siswa mulia memahami makanan, asal-mula makanan, lenyapnya makanan dan jalan menuju lenyapnya makanan. Dengan cara itulah ia menjadi berpandangan benar … dan telah sampai pada [48] Dhamma sejati ini.

11. “Dan apakah makanan, apakah asal-mula makanan, apakah lenyapnya makanan, apakah jalan menuju lenyapnya makanan? Ada empat jenis makanan untuk memelihara makhluk-makhluk yang telah terlahir dan untuk menyokong mereka yang mencari kehidupan baru. Apakah empat ini? Yaitu: makanan fisik sebagai makanan, kasar atau halus; kontak sebagai yang ke dua; kehendak pikiran sebagai yang ke tiga; dan kesadaran sebagai yang ke empat.  Dengan munculnya keinginan maka muncul pula makanan. Dengan lenyapnya keinginan maka lenyap pula makanan. Jalan menuju lenyapnya makanan adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan ini; yaitu, pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar.

12. “Ketika seorang siswa mulia memahami makanan, asal-mula makanan, lenyapnya makanan dan jalan menuju lenyapnya makanan, maka ia sepenuhnya meninggalkan kecenderungan tersembunyi pada keserakahan, ia menghapuskan kecenderungan tersembunyi pada ketidak-senangan, ia memadamkan kecenderungan tersembunyi pada pandangan dan keangkuhan ‘Aku,’ dan dengan meninggalkan kebodohan dan membangkitkan pengetahuan sejati ia di sini dan saat ini mengakhiri penderitaan. Dengan cara ini juga seorang siswa mulia menjadi seorang yang berpandangan benar, yang pandangannya lurus, yang memiliki keyakinan sempurna dalam Dhamma, dan telah sampai pada Dhamma sejati ini.”

(EMPAT KEBENARAN MULIA)

13. Dengan mengatakan, “Bagus, teman,” para bhhikkhu gembira mendengarkan kata-kata Yang Mulia Sāriputta. Kemudian mereka mengajukan pertanyaan lebih lanjut: “Tetapi, teman, adakah cara lain yang mana seorang siswa mulia menjadi berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini?” – “Ada, teman-teman.

14. “Ketika, teman-teman, seorang siswa mulia memahami penderitaan, asal-mula penderitaan, lenyapnya penderitaan, dan jalan menuju lenyapnya penderitaan, dengan cara inilah ia menjadi seorang yang berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini.

15. “Dan apakah penderitaan, apakah asal-mula penderitaan, apakah lenyapnya penderitaan, apakah jalan menuju lenyapnya penderitaan? Kelahiran adalah penderitaan; penuaan adalah penderitaan; sakit adalah penderitaan; kematian adalah penderitaan; dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan adalah penderitaan; tidak memperoleh apa yang diinginkan adalah penderitaan; singkatnya, kelima kelompok unsur kehidupan yang terpengaruh oleh kemelekatan adalah penderitaan. Ini disebut penderitaan.

16. “Dan apakah asal-mula penderitaan? Yaitu keinginan, yang memperbarui penjelmaan, disertai oleh kenikmatan dan nafsu, dan kenikmatan akan ini dan itu; yaitu, keinginan akan kenikmatan indria [49], keinginan akan penjelmaan, dan keinginan untuk tidak menjelma. Ini disebut asal-mula penderitaan.

17. “Dan apakah lenyapnya penderitaan? Yaitu peluruhan tanpa sisa dan lenyapnya, terhentinya, terlepasnya, tertinggalnya, dan tertolaknya keinginan yang sama itu. Ini disebut lenyapnya penderitaan.

18. “Dan apakah jalan menuju lenyapnya penderitaan? Yaitu Jalan Mulia Berunsur Delapan ini; yaitu, pandangan benar … konsentrasi benar. Ini disebut jalan menuju lenyapnya penderitaan.

19. “Ketika seorang siswa mulia telah memahami penderitaan, asal-mula penderitaan, lenyapnya penderitaan, dan jalan menuju lenyapnya penderitaan … ia di sini dan saat ini mengakhiri penderitaan. Dengan cara itu juga seorang siswa mulia menjadi seorang yang berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini.”

(PENUAAN DAN KEMATIAN)

20. Dengan mengatakan, “Bagus, teman,” para bhhikkhu gembira mendengarkan kata-kata Yang Mulia Sāriputta. Kemudian mereka mengajukan pertanyaan lebih lanjut: “Tetapi, teman, adakah cara lain yang mana seorang siswa mulia menjadi berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini?” – “Ada, teman-teman.

21. “Ketika, teman-teman, seorang siswa mulia memahami penuaan dan kematian, asal-mula penuaan dan kematian, lenyapnya penuaan dan kematian, dan jalan menuju lenyapnya penuaan dan kematian, dengan cara itulah ia menjadi berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini.

22. “Dan apakah penuaan dan kematian, apakah asal-mula penuaan dan kematian, apakah lenyapnya penuaan dan kematian, apakah jalan menuju lenyapnya penuaan dan kematian? Penuaan makhluk-makhluk dalam berbagai urutan penjelmaan, usia tua, gigi tanggal, rambut memutih, kulit keriput, kehidupan menurun, indria-indria melemah – ini disebut penuaan. Berlalunya makhluk-makhluk dalam berbagai urutan makhluk-makhluk, kematiannya, terputusnya, lenyapnya, sekarat, selesainya waktu, hancurnya kelompok-kelompok unsur kehidupan,  terbaringnya tubuh – ini disebut kematian. Maka penuaan ini dan kematian ini adalah apa yang disebut dengan penuaan dan kematian. Dengan munculnya kelahiran maka muncul pula penuaan dan kematian. Dengan lenyapnya kealhiran maka lenyap pula penuaan dan kematian. Jalan menuju lenyapnya penuaan dan kematian adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan ini; yaitu, pandangan benar … konsentrasi benar.

23. “Ketika seorang siswa mulia memahami penuaan dan kematian, asal-mula penuaan dan kematian, lenyapnya penuaan dan kematian, dan jalan menuju lenyapnya penuaan dan kematian … ia di sini dan saat ini mengakhiri penderitaan. Dengan cara itu juga seorang siswa mulia menjadi berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini.”

(KELAHIRAN)

24. Dengan mengatakan, “Bagus, teman,” para bhhikkhu gembira mendengarkan kata-kata Yang Mulia Sāriputta. Kemudian mereka mengajukan pertanyaan lebih lanjut: “Tetapi, teman, adakah cara lain yang mana seorang siswa mulia menjadi berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini?” –  [50] “Ada, teman-teman.

25. “Ketika, teman-teman, seorang siswa mulia memahami kelahiran, asal-mula kelahiran, lenyapnya kelahiran, dan jalan menuju lenyapnya kelahiran, dengan cara itulah ia menjadi seorang yang berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini.

26. “Dan apakah kelahiran, apakah asal-mula kelahiran, apakah lenyapnya kelahiran, apakah jalan menuju lenyapnya kelahiran? Kelahiran makhluk-makhluk adalah berbagai urutan penjelmaan, akan terlahir, berdiam [dalam rahim], pembentukan, perwujudan kelompok-kelompok unsur kehidupan, memperoleh landasan-landasan kontak  - ini disebut kelahiran. Dengan munculnya penjelmaan maka muncul pula kelahiran. Dengan lenyapnya penjelmaan maka lenyap pula kelahiran. Jalan menuju lenyapnya kelahiran adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan ini; yaitu, pandangan benar … konsentrasi benar.

27. “Ketika seorang siswa mulia memahami kelahiran, asal-mula kelahiran, lenyapnya kelahiran, dan jalan menuju lenyapnya kelahiran … ia di sini dan saat ini mengakhiri penderitaan. Dengan cara itu juga seorang siswa mulia menjadi berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini.”

(MAKHLUK)

28. Dengan mengatakan, “Bagus, teman,” para bhhikkhu gembira mendengarkan kata-kata Yang Mulia Sāriputta. Kemudian mereka mengajukan pertanyaan lebih lanjut: “Tetapi, teman, adakah cara lain yang mana seorang siswa mulia menjadi berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini?” –  “Ada, teman-teman.

29. “Ketika, teman-teman, seorang siswa mulia memahami makhluk, asal-mula makhluk, lenyapnya makhluk, dan jalan menuju lenyapnya makhluk, dengan cara itulah ia menjadi seorang yang berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini.

30. “Dan apakah makhluk, apakah asal mula makhluk, apakah lenyapnya makhluk, apakah jalan menuju lenyapnya makhluk? Terdapat tiga jenis makhluk ini: makhluk alam indria, makhluk bermateri halus, dan makhluk tanpa materi.  Dengan munculnya kemelekatan maka muncul pula makhluk. Dengan lenyapnya kemelekatan maka lenyap pula makhluk. Jalan menuju lenyapnya makhluk adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan ini; yaitu, pandangan benar … konsentrasi benar.

31. “Ketika seorang siswa mulia memahami makhluk, asal-mula makhluk, lenyapnya makhluk, dan jalan menuju lenyapnya makhluk … ia di sini dan saat ini mengakhiri penderitaan. Dengan cara itu juga seorang siswa mulia menjadi berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini.”

(KEMELEKATAN)

32. Dengan mengatakan, “Bagus, teman,” para bhhikkhu gembira mendengarkan kata-kata Yang Mulia Sāriputta. Kemudian mereka mengajukan pertanyaan lebih lanjut: “Tetapi, teman, adakah cara lain yang mana seorang siswa mulia menjadi berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini?” –  “Ada, teman-teman.

33. “Ketika, teman-teman, seorang siswa mulia memahami kemelekatan, asal-mula kemelekatan, lenyapnya kemelekatan, dan jalan menuju lenyapnya kemelekatan, dengan cara itulah ia menjadi seorang yang berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini.

34. “Dan apakah kemelekatan, apakah asal-mula kemelekatan, apakah lenyapnya kemelekatan, apakah jalan menuju lenyapnya kemelekatan? Terdapat empat [51] jenis kemelekatan ini: kemelekatan pada kenikmatan indria, kemelekatan pada pandangan-pandangan, kemelekatan pada aturan dan upacara, dan kemelekatan pada doktrin diri.  Dengan munculnya keinginan maka muncul pula kemelekatan. Dengan lenyapnya keinginan maka lenyap pula kemelekatan. Jalan menuju lenyapnya kemelekatan adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan ini; yaitu, pandangan benar … konsentrasi benar.

35. “Ketika seorang siswa mulia memahami kemelekatan, asal-mula kemelekatan, lenyapnya kemelekatan, dan jalan menuju lenyapnya kemelekatan … ia di sini dan saat ini mengakhiri penderitaan. Dengan cara itu juga seorang siswa mulia menjadi berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini.”


--------------------------------------
***bersambung .....

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #13 on: 21 July 2010, 02:35:23 PM »
lanjutan Sammādiṭṭhi Sutta
-----------------------------------

(KEINGINAN)

36. Dengan mengatakan, “Bagus, teman,” para bhhikkhu gembira mendengarkan kata-kata Yang Mulia Sāriputta. Kemudian mereka mengajukan pertanyaan lebih lanjut: “Tetapi, teman, adakah cara lain yang mana seorang siswa mulia menjadi berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini?” –  “Ada, teman-teman.

37. “Ketika, teman-teman, seorang siswa mulia memahami keinginan, asal-mula keinginan, lenyapnya keinginan, dan jalan menuju lenyapnya keinginan, dengan cara itulah ia menjadi seorang yang berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini.

38. “Dan apakah keinginan, apakah asal-mula keinginan, apakah lenyapnya keinginan, apakah jalan menuju lenyapnya keinginan? Terdapat enam kelompok keinginan ini: keinginan akan bentuk-bentuk, keinginan akan suara-suara, keinginan akan bau-bauan, keinginan akan rasa kecapan, keinginan akan obyek-obyek sentuhan, keinginan akan obyek-obyek pikiran.  Dengan munculnya perasaan maka muncul pula keinginan. Dengan lenyapnya perasaan maka lenyap pula keinginan. Jalan menuju lenyapnya keinginan adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan ini; yaitu, pandangan benar … konsentrasi benar.

39. “Ketika seorang siswa mulia memahami keinginan, asal-mula keinginan, lenyapnya keinginan, dan jalan menuju lenyapnya keinginan … ia di sini dan saat ini mengakhiri penderitaan. Dengan cara itu juga seorang siswa mulia menjadi berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini.”

(PERASAAN)

40. Dengan mengatakan, “Bagus, teman,” para bhhikkhu gembira mendengarkan kata-kata Yang Mulia Sāriputta. Kemudian mereka mengajukan pertanyaan lebih lanjut: “Tetapi, teman, adakah cara lain yang mana seorang siswa mulia menjadi berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini?” –  “Ada, teman-teman.

41. “Ketika, teman-teman, seorang siswa mulia memahami perasaan, asal-mula perasaan, lenyapnya perasaan, dan jalan menuju lenyapnya perasaan, dengan cara itulah ia menjadi seorang yang berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini.

42. “Dan apakah perasaan, apakah asal-mula perasaan, apakah lenyapnya perasaan, apakah jalan menuju lenyapnya perasaan? Terdapat enam kelompok perasaan ini: perasaan yang muncul dari kontak-mata, perasaan yang muncul dari kontak-telinga, perasaan yang muncul dari kontak-hidung, perasaan yang muncul dari kontak-lidah, perasaan yang muncul dari kontak-badan, perasaan yang muncul dari kontak-pikiran. Dengan munculnya kontak maka muncul pula perasaan. Dengan lenyapnya kontak maka lenyap pula perasaan. Jalan menuju lenyapnya perasaan adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan ini; yaitu, pandangan benar … konsentrasi benar. [52]

43. “Ketika seorang siswa mulia memahami perasaan, asal-mula perasaan, lenyapnya perasaan, dan jalan menuju lenyapnya perasaan … ia di sini dan saat ini mengakhiri penderitaan. Dengan cara itu juga seorang siswa mulia menjadi berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini.”

(KONTAK)

44. Dengan mengatakan, “Bagus, teman,” para bhhikkhu gembira mendengarkan kata-kata Yang Mulia Sāriputta. Kemudian mereka mengajukan pertanyaan lebih lanjut: “Tetapi, teman, adakah cara lain yang mana seorang siswa mulia menjadi berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini?” –  “Ada, teman-teman.

45. “Ketika, teman-teman, seorang siswa mulia memahami kontak, asal-mula kontak, lenyapnya kontak, dan jalan menuju lenyapnya kontak, dengan cara itulah ia menjadi seorang yang berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini.

46. “Dan apakah kontak, apakah asal-mula kontak, apakah lenyapnya kontak, apakah jalan menuju lenyapnya kontak? Terdapat enam kelompok kontak ini: kontak-mata, kontak-telinga, kontak-hidung, kontak-lidah, kontak-badan, kontak-pikiran.  Dengan munculnya enam landasan maka muncul pula kontak. Dengan lenyapnya enam landasan maka lenyap pula kontak. Jalan menuju lenyapnya kontak adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan ini; yaitu, pandangan benar … konsentrasi benar.

47. “Ketika seorang siswa mulia memahami kontak, asal-mula kontak, lenyapnya kontak, dan jalan menuju lenyapnya kontak … ia di sini dan saat ini mengakhiri penderitaan. Dengan cara itu juga seorang siswa mulia menjadi berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini.”

(ENAM LANDASAN)

48. Dengan mengatakan, “Bagus, teman,” para bhhikkhu gembira mendengarkan kata-kata Yang Mulia Sāriputta. Kemudian mereka mengajukan pertanyaan lebih lanjut: “Tetapi, teman, adakah cara lain yang mana seorang siswa mulia menjadi berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini?” –  “Ada, teman-teman.

49. “Ketika, teman-teman, seorang siswa mulia memahami enam landasan, asal-mula enam landasan, lenyapnya enam landasan, dan jalan menuju lenyapnya enam landasan, dengan cara itulah ia menjadi seorang yang berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini.

50. “Dan apakah enam landasan, apakah asal-mula enam landasan, apakah lenyapnya enam landasan, apakah jalan menuju lenyapnya enam landasan? Terdapat enam landasan ini: landasan-mata, landasan-telinga, landasan-hidung, landasan-lidah, landasan-badan, landasan-pikiran.  Dengan munculnya batin-jasmani maka muncul pula enam landasan. Dengan lenyapnya batin-jasmani maka lenyap pula enam landasan. Jalan menuju lenyapnya enam landasan adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan ini; yaitu, pandangan benar … konsentrasi benar.

51. “Ketika seorang siswa mulia memahami enam landasan, asal-mula enam landasan, lenyapnya enam landasan, dan [53] jalan menuju lenyapnya enam landasan … ia di sini dan saat ini mengakhiri penderitaan. Dengan cara itu juga seorang siswa mulia menjadi berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini.”

(BATIN-JASMANI)

52. Dengan mengatakan, “Bagus, teman,” para bhhikkhu gembira mendengarkan kata-kata Yang Mulia Sāriputta. Kemudian mereka mengajukan pertanyaan lebih lanjut: “Tetapi, teman, adakah cara lain yang mana seorang siswa mulia menjadi berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini?” –  “Ada, teman-teman.

53. “Ketika, teman-teman, seorang siswa mulia memahami batin-jasmani, asal-mula batin-jasmani, lenyapnya batin-jasmani, dan jalan menuju lenyapnya batin-jasmani, dengan cara itulah ia menjadi seorang yang berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini.

54. “Dan apakah batin-jasmani, apakah asal-mula batin-jasmani, apakah lenyapnya batin-jasmani, apakah jalan menuju lenyapnya batin-jasmani? Perasaan, persepsi, kehendak, kontak, dan perhatian – ini disebut batin. Empat unsur utama dan bentuk materi yang diturunkan dari empat unsur utama – ini disebut jasmani. Maka batin ini dan jasmani ini adalah apa yang disebut batin-jasmani. Dengan munculnya kesadaran maka muncul pula batin-jasmani. Dengan lenyapnya kesadaran maka lenyap pula batin-jasmani. Jalan menuju lenyapnya batin-jasmani adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan ini; yaitu, pandangan benar … konsentrasi benar.

55. “Ketika seorang siswa mulia memahami batin-jasmani, asal-mula batin-jasmani, lenyapnya batin-jasmani, dan jalan menuju lenyapnya batin-jasmani … ia di sini dan saat ini mengakhiri penderitaan. Dengan cara itu juga seorang siswa mulia menjadi berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini.”

(KESADARAN)

56. Dengan mengatakan, “Bagus, teman,” para bhhikkhu gembira mendengarkan kata-kata Yang Mulia Sāriputta. Kemudian mereka mengajukan pertanyaan lebih lanjut: “Tetapi, teman, adakah cara lain yang mana seorang siswa mulia menjadi berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini?” –  “Ada, teman-teman.

57. “Ketika, teman-teman, seorang siswa mulia memahami kesadaran, asal-mula kesadaran, lenyapnya kesadaran, dan jalan menuju lenyapnya kesadaran, dengan cara itulah ia menjadi seorang yang berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini.

58. “Dan apakah kesadaran, apakah asal-mula kesadaran, apakah lenyapnya kesadaran, apakah jalan menuju lenyapnya kesadaran? Terdapat enam kelompok kesadaran ini: kesadaran-mata, kesadaran-telinga, kesadaran-hidung, kesadaran-lidah, kesadaran-badan, kesadaran-pikiran.  Dengan munculnya bentukan-bentukan maka muncul pula kesadaran. Dengan lenyapnya bentukan-bentukan maka lenyap pula kesadaran. Jalan menuju lenyapnya kesadaran adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan ini; yaitu, pandangan benar … konsentrasi benar.

59. “Ketika seorang siswa mulia memahami kesadaran, asal-mula kesadaran, lenyapnya kesadaran, dan jalan menuju lenyapnya kesadaran [54] … ia di sini dan saat ini mengakhiri penderitaan. Dengan cara itu juga seorang siswa mulia menjadi berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini.”

(BENTUKAN-BENTUKAN)

60. Dengan mengatakan, “Bagus, teman,” para bhhikkhu gembira mendengarkan kata-kata Yang Mulia Sāriputta. Kemudian mereka mengajukan pertanyaan lebih lanjut: “Tetapi, teman, adakah cara lain yang mana seorang siswa mulia menjadi berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini?” –  “Ada, teman-teman.

61. “Ketika, teman-teman, seorang siswa mulia memahami bentukan-bentukan, asal-mula bentukan-bentukan, lenyapnya bentukan-bentukan, dan jalan menuju lenyapnya bentukan-bentukan, dengan cara itulah ia menjadi seorang yang berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini.

62. “Dan apakah bentukan-bentukan, apakah asal-mula bentukan-bentukan, apakah lenyapnya bentukan-bentukan, apakah jalan menuju lenyapnya bentukan-bentukan? Terdapat tiga jenis bentukan-bentukan ini: bentukan jasmani, bentukan ucapan, bentukan pikiran.  Dengan munculnya kebodohan maka muncul pula bentukan-bentukan. Dengan lenyapnya kebodohan maka lenyap pula bentukan-bentukan. Jalan menuju lenyapnya bentukan-bentukan adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan ini; yaitu, pandangan benar … konsentrasi benar.

63. “Ketika seorang siswa mulia memahami bentukan-bentukan, asal-mula bentukan-bentukan, lenyapnya bentukan-bentukan, dan jalan menuju lenyapnya bentukan-bentukan … ia di sini dan saat ini mengakhiri penderitaan. Dengan cara itu juga seorang siswa mulia menjadi berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini.”

(KEBODOHAN)

64. Dengan mengatakan, “Bagus, teman,” para bhhikkhu gembira mendengarkan kata-kata Yang Mulia Sāriputta. Kemudian mereka mengajukan pertanyaan lebih lanjut: “Tetapi, teman, adakah cara lain yang mana seorang siswa mulia menjadi berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini?” –  “Ada, teman-teman.

65. “Ketika, teman-teman, seorang siswa mulia memahami kebodohan, asal-mula kebodohan, lenyapnya kebodohan, dan jalan menuju lenyapnya kebodohan, dengan cara itulah ia menjadi seorang yang berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini.

66. “Dan apakah kebodohan, apakah asal-mula kebodohan, apakah lenyapnya kebodohan, apakah jalan menuju lenyapnya kebodohan? Tidak mengetahui penderitaan, tidak mengetahui asal-mula penderitaan, tidak mengetahui lenyapnya penderitaan, tidak mengetahui jalan menuju lenyapnya penderitaan – ini disebut kebodohan. Dengan munculnya noda-noda maka muncul pula kebodohan. Dengan lenyapnya noda-noda maka lenyap pula bentukan kebodohan. Jalan menuju lenyapnya kebodohan adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan ini; yaitu, pandangan benar … konsentrasi benar.

67. “Ketika seorang siswa mulia memahami kebodohan, asal-mula kebodohan, lenyapnya kebodohan, dan jalan menuju lenyapnya kebodohan … ia di sini dan saat ini mengakhiri penderitaan. Dengan cara itu juga seorang siswa mulia menjadi berpandangan benar … dan telah sampai pada Dhamma sejati ini.”

(NODA-NODA)

68. Dengan mengatakan, “Bagus, teman,” para bhhikkhu gembira mendengarkan kata-kata Yang Mulia Sāriputta. Kemudian mereka mengajukan pertanyaan lebih lanjut: “Tetapi, teman, adakah cara [55] lain yang mana seorang siswa mulia menjadi berpandangan benar, yang pandangannya lurus, yang memiliki keyakinan sempurna dalam Dhamma, dan telah sampai pada Dhamma sejati ini?” –  “Ada, teman-teman.

69. “Ketika, teman-teman, seorang siswa mulia memahami noda-noda, asal-mula noda-noda, lenyapnya noda-noda, dan jalan menuju lenyapnya noda-noda, dengan cara itulah ia menjadi seorang yang berpandangan benar, yang pandangannya lurus, yang memiliki keyakinan sempurna dalam Dhamma, dan telah sampai pada Dhamma sejati ini.

70. “Dan apakah noda-noda, apakah asal-mula noda-noda, apakah lenyapnya noda-noda, apakah jalan menuju lenyapnya noda-noda? Ada tiga noda ini: noda keinginan indria, noda penjelmaan, dan noda kebodohan. Dengan munculnya kebodohan maka muncul pula noda-noda.  Dengan lenyapnya kebodohan maka lenyap pula bentukan noda-noda. Jalan menuju lenyapnya makanan adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan ini; yaitu, pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar.

71. “Ketika seorang siswa mulia memahami noda-noda, asal-mula noda-noda, lenyapnya noda-noda, dan jalan menuju lenyapnya noda-noda,  maka ia sepenuhnya meninggalkan kecenderungan tersembunyi pada nafsu, ia menghapuskan kecenderungan tersembunyi pada ketidak-senangan, ia memadamkan kecenderungan tersembunyi pada pandangan dan keangkuhan ‘Aku,’ dan dengan meninggalkan kebodohan dan membangkitkan pengetahuan sejati ia di sini dan saat ini mengakhiri penderitaan. Dengan cara ini juga seorang siswa mulia menjadi seorang yang berpandangan benar, yang pandangannya lurus, yang memiliki keyakinan sempurna dalam Dhamma, dan telah sampai pada Dhamma sejati ini.”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Yang Mulia Sāriputta. Para bhikkhu gembira mendengarkan kata-kata Yang Mulia Sāriputta.
« Last Edit: 21 July 2010, 02:40:30 PM by Indra »

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #14 on: 21 July 2010, 02:38:37 PM »
10  Satipaṭṭhāna Sutta
Landasan-landasan Perhatian




1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR.  Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di negeri Kuru di sebuah kota Kuru bernama Kammāsadhamma.  Di sana Sang Bhagavā memanggil para bhikkhu: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

2. “Para bhikkhu, ini adalah jalan langsung  untuk pemurnian makhluk-makhluk [56], untuk mengatasi dukacita dan ratapan, untuk lenyapnya kesakitan dan kesedihan, untuk pencapaian jalan sejati, untuk penembusan Nibbāna – yaitu, empat landasan perhatian.

3. “Apakah empat ini? Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu  berdiam dengan merenungkan jasmani sebagai jasmani, tekun, dengan penuh kewaspadaan, dan pernuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan akan dunia.  Ia berdiam dengan merenungkan perasaan sebagai perasaan, tekun, dengan penuh kewaspadaan, dan pernuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan akan dunia. Ia berdiam dengan merenungkan pikiran sebagai pikiran, tekun, dengan penuh kewaspadaan, dan pernuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan akan dunia. Ia berdiam dengan merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran, tekun, dengan penuh kewaspadaan, dan pernuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan akan dunia.

(PERENUNGAN JASMANI)

(1. Perhatian pada Pernafasan)

4. “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani? Di sini, seorang bhikkhu, pergi ke hutan atau ke bawah pohon atau ke sebuah gubuk kosong, duduk; setelah duduk bersila, menegakkan tubuhnya, dan menegakkan perhatian di depannya, penuh perhatian ia menarik nafas, penuh perhatian ia mengembuskan nafas. Menarik nafas panjang, ia memahami: ‘Aku menarik nafas panjang’; atau mengembuskan nafas panjang, ia memahami: ‘Aku mengembuskan nafas panjang.’ Menarik nafas pendek, ia memahami: ‘Aku menarik nafas pendek’; atau mengembuskan nafas pendek, ia memahami: ‘Aku mengembuskan nafas pendek.’  Ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas mengalami keseluruhan tubuh [nafas]’; ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas mengalami keseluruhan tubuh [nafas].’  Ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas menenangkan bentukan jasmani’; Ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas menenangkan bentukan jasmani.’  Bagaikan seorang pemain akrobat yang terampil atau muridnya, ketika melakukan putaran panjang, memahami: ‘Aku melakukan putaran panjang’; atau ketika melakukan putaran pendek, memahami: ‘Aku melakukan putaran pendek’; demikian pula, menarik nafas panjang, seorang bhikkhu memahami: ‘Aku menarik nafas panjang’ … ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas menenangkan bentukan jasmani.’

(PANDANGAN TERANG)

5. “Dengan cara ini ia berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal, atau ia berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani secara eksternal, atau ia berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal dan eksternal.  Atau ia berdiam merenungkan munculnya faktor-faktor jasmani dalam jasmani, atau ia berdiam merenungkan lenyapnya faktor-faktor jasmani dalam jasmani, atau ia berdiam merenungkan muncul dan lenyapnya faktor-faktor jasmani dalam jasmani.  Atau penuh perhatian bahwa “ada jasmani” muncul dalam dirinya hanya sejauh yang diperlukan bagi pengetahuan dan perhatian.  Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apapun di dunia ini. Itu adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani.

(2. Empat Postur)

6. “Kemudian, para bhikkhu, ketika berjalan, seorang bhikkhu memahami: ‘Aku sedang berjalan’; ketika berdiri, ia memahami: ‘Aku sedang berdiri’; ketika duduk, [57] ia memahami: ‘Aku duduk’; ketika berbaring, ia memahami: ‘Aku sedang berbaring’; atau ia memahami sebagaimana adanya bagaimanapun tubuhnya berposisi.

7. “Dengan cara ini ia berdiam dengan merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal, eksternal, dan secara internal dan eksternal … dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apapun di dunia ini. Itu adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani.

(3. Penuh kewaspadaan)

8. “Kemudian, para bhikkhu, seorang bhikkhu adalah seorang yang bertindak dengan penuh kewaspadaan ketika berjalan maju atau mundur;  yang bertindak dengan penuh kewaspadaan ketika melihat ke depan atau ke belakang; yang bertindak dengan penuh kewaspadaan ketika menunduk atau menegakkan badannya; yang bertindak dengan penuh kewaspadaan ketika mengenakan jubahnya dan membawa jubah luar dan mangkuknya; yang bertindak dengan penuh kewaspadaan ketika makan, minum, mengunyah makanan, dan mengecap; yang bertindak dengan penuh kewaspadaan ketika buang air besar dan buang air kecil; yang bertindak dengan penuh kewaspadaan ketika berjalan, berdiri, duduk, tidur, bangun, berbicara, dan berdiam diri.

9. “Dengan cara inilah ia berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal, secara eksternal, dan secara internal dan eksternal … Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apapun di dunia ini. Itu juga adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani.

(4. Kejijikan – Bagian-bagian Tubuh)

10. ‘Kemudian, seorang bhikkhu memeriksa jasmani yang sama ini dari telapak kaki ke atas dan dari ujung rambut ke bawah, terbungkus oleh kulit, sebagai dipenuhi kotoran: ‘Di dalam jasmani ini terdapat rambut-kepala, bulu-badan, kuku, gigi, kulit, daging, urat, tulang, sumsum, ginjal, jantung, hati, sekat rongga dada, limpa, paru-paru, usus besar, usus kecil, isi perut, tinja, empedu, dahak, nanah, darah, keringat, lemak, air mata, minyak, ludah, ingus, cairan sendi, dan air kencing.’  Bagaikan ada sebuah karung, yang terbuka di kedua ujungnya, penuh dengan berbagai jenis biji-bijian seperti beras-gunung, beras merah, buncis, kacang polong, padi-padian, dan nasi putih, dan seorang yang berpenglihatan baik membuka karung itu dan memeriksanya:’ Ini adalah beras-gunung, Ini adalah beras-merah, Ini adalah buncis, Ini adalah kacang polong, Ini adalah padi-padian, ini adalah nasi putih’, demikian pula seorang bhikkhu memeriksa jasmani ini ... sebagai dipenuhi kotoran: “Di dalam jasmani ini terdapat rambut kepala … dan air kecing.’

11. “Dengan cara inilah ia berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal, secara eksternal, dan secara internal dan eksternal … Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apapun di dunia ini. Itu juga adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani.

(5. Unsur-unsur)

12. ‘Kemudian, seorang bhikkhu memeriksa jasmani yang sama ini, bagaimanapun dimanapun ia berada, bagaimanapun posisinya, sebagai terdiri dari unsure-unsur: ‘Dalam jasmani ini terdapat unsur tanah, unsur-air, unsur-api, unsur-angin.’  [58] Bagaikan seorang tukang daging yang terampil atau pembantunya, setelah menyembelih seekor sapi, duduk di persimpangan jalan dengan daging yang telah dipotong dalam beberapa bagian; demikianlah seorang bhikkhu memeriksa jasmani yang sama ini … dalam dalah unsur-unsur: ‘Dalam jasmani ini terdapat unsur tanah, unsur-air, unsur-api, unsur-angin.’

13. “Dengan cara inilah ia berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal, secara eksternal, dan secara internal dan eksternal … Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apapun di dunia ini. Itu juga adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani.

(6-14. Perenungan Sembilan Tanah Pekuburan)

14. ‘Kemudian, para bhikkhu, seolah-olah ia melihat mayat yang dibuang di tanah pekuburan,    satu, dua atau tiga hari setelah meninggal dunia, membengkak, memucat, dengan cairan menetes, seorang bhikkhu membandingkan jasmani yang sama ini dengan mayat itu sebagai berikut: ‘Jasmani ini juga memiliki sifat yang sama, jasmani ini akan menjadi seperti mayat itu, jasmani ini tidak terbebas dari takdir itu.’

15. “Dengan cara inilah ia berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal, secara eksternal, dan secara internal dan eksternal … Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apapun di dunia ini. Itu juga adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani.

16. “Kemudian, seolah-olah ia melihat mayat yang dibuang di tanah pekuburan, dimakan oleh burung gagak, elang, nasar, anjing, serigala, atau berbagai jenis ulat, seorang bhikkhu membandingkan jasmani ini dengan mayat itu sebagai berikut: “Jasmani ini juga memiliki sifat yang sama, jasmani ini akan menjadi seperti mayat itu, jasmani ini tidak terbebas dari takdir itu.’

17. “ … Itu juga adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani.

18-24. “Kemudian, seolah-olah ia melihat mayat yang dibuang di tanah pekuburan, kerangka tulang dengan daging dan darah, yang terangkai oleh urat … kerangka tulang tanpa daging yang berlumuran darah, yang terangkai oleh urat … kerangka tulang tanpa daging dan darah, yang terangkai oleh urat … tulang belulang yang tercerai berai berserakan ke segala arah – di sini tulang lengan, di sana tulang kaki, di sini tulang kering, di sana tulang paha, di sini tulang pinggul, di sana tulang punggung, di sini tulang rusuk, di sana tulang dada, di sini tulang lengan, di sana tulang bahu, di sini tulang leher, di sana tulang rahang, di sini gigi, di sana tengkorak - seorang bhikkhu membandingkan jasmani ini dengan mayat itu sebagai berikut: “Jasmani ini juga memiliki sifat yang sama, jasmani ini akan menjadi seperti mayat itu, jasmani ini tidak terbebas dari takdir itu.’

25. “ … Itu juga adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani.

26-30. “Kemudian, seolah-olah ia melihat mayat yang dibuang di tanah pekuburan, tulangnya memutih, berwarna seperti kulit-kerang …, tulang-belulangnya menumpuk, setelah lebih dari setahun …, tulang-belulangnya hancur dan remuk menjadi debu [59], eorang bhikkhu membandingkan jasmani ini dengan mayat itu sebagai berikut: “Jasmani ini juga memiliki sifat yang sama, jasmani ini akan menjadi seperti mayat itu, jasmani ini tidak terbebas dari takdir itu.’


(PANDANGAN TERANG)

31. “Dengan cara ini ia berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal, atau ia berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani secara eksternal, atau ia berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal dan eksternal. Atau ia berdiam merenungkan munculnya faktor-faktor jasmani dalam jasmani, atau ia berdiam merenungkan lenyapnya faktor-faktor jasmani dalam jasmani, atau ia berdiam merenungkan muncul dan lenyapnya faktor-faktor jasmani dalam jasmani. Atau penuh perhatian bahwa “ada jasmani” muncul dalam dirinya hanya sejauh yang diperlukan bagi pengetahuan dan perhatian. Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apapun di dunia ini. Itu juga adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani.


(PERENUNGAN PERASAAN)

32. “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan perasaan sebagai perasaan?  Di sini, ketika merasakan suatu perasaan menyenangkan, seorang bhikkhu memahami: ‘Aku merasakan perasaan menyenangkan’; ketika merasakan perasaan menyakitkan, ia memahami: ‘Aku merasakan perasaan menyakitkan’; ketika merasakan perasaan yang bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan, ia memahami: ‘Aku merasakan perasaan yang bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan.’ Ketika merasakan perasaan duniawi yang menyenangkan, ia memahami: ‘Aku memahami perasaan duniawi yang menyenangkan’; Ketika merasakan perasaan non-duniawi yang menyenangkan, ia memahami: ‘Aku memahami perasaan non-duniawi yang menyenangkan’; ketika merasakan perasaan duniawi yang menyakitkan, ia memahami: ‘Aku memahami perasaan duniawi yang menyakitkan’; ketika merasakan perasaan non-duniawi yang menyakitkan, ia memahami: ‘Aku memahami perasaan non-duniawi yang menyakitkan’; ketika merasakan perasaan duniawi yang bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan, ia memahami: ‘Aku memahami perasaan duniawi yang bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan’; ketika merasakan perasaan non-duniawi yang bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan, ia memahami: ‘Aku memahami perasaan non-duniawi yang bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan.’

(PANDANGAN TERANG)

33. “Dengan cara ini ia berdiam merenungkan perasaan sebagai perasaan secara internal, atau ia berdiam merenungkan perasaan sebagai perasaan secara eksternal, at
au ia berdiam merenungkan perasaan sebagai perasaan secara internal dan eksternal. Atau ia berdiam merenungkan munculnya faktor-faktor perasaan dalam perasaan, atau ia berdiam merenungkan lenyapnya faktor-faktor perasaan dalam perasaan, atau ia berdiam merenungkan muncul dan lenyapnya faktor-faktor perasaan dalam perasaan.  Atau penuh perhatian bahwa “ada perasaan” muncul dalam dirinya hanya sejauh yang diperlukan bagi pengetahuan dan perhatian. Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apapun di dunia ini. Itu adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan perasaan sebagai perasaan.

(PERENUNGAN PIKIRAN)

34. “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan pikiran sebagai pikiran?  Di sini seorang bhikkhu memahami pikiran yang terpengaruh nafsu sebagai pikiran yang terpengaruh nafsu dan pikiran yang tidak terpengaruh nafsu sebagai pikiran yang tidak terpengaruh nafsu. Ia memahami pikiran yang terpengaruh kebencian sebagai pikiran yang terpengaruh kebencian dan pikiran yang tidak terpengaruh kebencian sebagai pikiran yang tidak terpengaruh kebencian. Ia memahami pikiran yang terpengaruh kebodohan sebagai pikiran yang terpengaruh kebodohan dan pikiran yang tidak terpengaruh kebodohan sebagai pikiran yang tidak terpengaruh kebodoha. Ia memahami pikiran yang mengerut sebagai pikiran yang mengerut dan pikiran yang kacau sebagai pikiran yang kacau. Ia memahami pikiran yang luhur sebagai pikiran yang luhur dan pikiran yang tidak luhur sebagai pikiran yang tidak luhur; semoga aku memahami pikiran yang terbatas sebagai pikiran yang terbatas dan pikiran yang tidak terbatas sebagai pikiran yang tidak terbatas. Ia memahami pikiran terkonsentrasi sebagai pikiran terkonsentrasi dan pikiran tidak terkonsentrasi sebagai pikiran tidak terkonsentrasi. Ia memahami pikiran yang terbebaskan sebagai pikiran yang terbebaskan dan pikiran yang tidak terbebaskan sebagai pikiran yang tidak terbebaskan.

(PANDANGAN TERANG)

35. “Dengan cara ini ia berdiam merenungkan pikiran sebagai pikiran secara internal, atau ia berdiam merenungkan pikiran sebagai pikiran secara eksternal, atau ia berdiam merenungkan pikiran sebagai pikiran secara internal dan eksternal. Atau ia berdiam merenungkan munculnya faktor-faktor pikiran dalam pikiran, [60] atau ia berdiam merenungkan lenyapnya faktor-faktor pikiran dalam pikiran, atau ia berdiam merenungkan muncul dan lenyapnya faktor-faktor pikiran dalam pikiran.  Atau penuh perhatian bahwa “ada pikiran” muncul dalam dirinya hanya sejauh yang diperlukan bagi pengetahuan dan perhatian. Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apapun di dunia ini. Itu adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan pikiran sebagai pikiran.


--------------------------
*** Bersambung ...

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #15 on: 21 July 2010, 02:39:39 PM »
Lanjutan 10. Satipaṭṭhāna Sutta
----------------------------------------

(PERENUNGAN OBYEK-OBYEK PIKIRAN)

(1. Lima Rintangan)

36. “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran?  Di sini seorang bhikkhu berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran sehubungan dengan lima rintangan.  Dan bagaimanakah seorang bhikkhu berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran sehubungan dengan lima rintangan? Di sini, jika muncul keinginan indria dalam dirinya, seorang bhikkhu memahami: ‘Terdapat keinginan indria dalam diriku’; atau jika tidak ada keinginan indria dalam dirinya, ia memahami: ‘Tidak ada keinginan indria dalam diriku’; dan ia juga memahami bagaimana kemunculan keinginan indria yang belum mucul, dan bagaimana meninggalkan keinginan indria yang telah muncul, dan bagaimana ketidak-munculan di masa depan dari keinginan indria yang telah ditinggalkan.’

“Jika terdapat permusuhan dalam dirinya … Jika terdapat kelambanan dan ketumpulan dalam dirinya … Jika terdapat kegelisahan dan penyesalan dalam dirinya … Jika terdapat keragu-raguan dalam dirinya, seorang bhikkhu memahami: ‘Terdapat keragu-raguan dalam diriku’; atau jika tidak ada keragu-raguan dalam dirinya, ia memahmi: ‘Tidak ada keragu-raguan dalam diriku’; dan ia memahami bagaimana kemunculan keragu-raguan yang belum mucul, dan bagaimana meninggalkan keragu-raguan yang telah muncul, dan bagaimana ketidak-munculan di masa depan dari keragu-raguan yang telah ditinggalkan.’

(PANDANGAN TERANG)

37. “Dengan cara ini ia berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran secara internal, atau ia berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran secara eksternal, atau ia berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran secara internal dan eksternal. Atau ia berdiam merenungkan munculnya faktor-faktor obyek-obyek pikiran dalam obyek-obyek pikiran, atau ia berdiam merenungkan lenyapnya faktor-faktor obyek-obyek pikiran dalam obyek-obyek pikiran, atau ia berdiam merenungkan muncul dan lenyapnya faktor-faktor obyek-obyek pikiran dalam obyek-obyek pikiran. Atau penuh perhatian bahwa “ada obyek-obyek pikiran” muncul dalam dirinya hanya sejauh yang diperlukan bagi pengetahuan dan perhatian. Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apapun di dunia ini. Itu adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran sehubungan dengan kelima rintangan.

(2. Kelima kelompok Unsur Kehidupan)

38. “Kemudian, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran [61] sehubungan dengan kelima kelompok unsur kehidupan yang terpengaruh oleh kemelekatan.  Dan bagaimanakah seorang bhikkhu berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran sehubungan dengan kelima kelompok unsur kehidupan? Di sini seorang bhikkhu memahami: ‘Demikianlah bentuk materi, demikianlah asal mulanya, demikianlah lenyapnya; demikianlah perasaan, demikianlah asal mulanya, demikianlah lenyapnya; demikianlah persepsi, demikianlah asal mulanya, demikianlah lenyapnya; demikianlah bentukan-bentukan, demikianlah asal mulanya, demikianlah lenyapnya; demikianlah kesadaran, demikianlah asal mulanya, demikianlah lenyapnya.’

39. “Dengan cara inilah ia berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran secara internal, secara eksternal, dan secara internal dan eksternal … Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apapun di dunia ini. Itu adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran sehubungan dengan kelima kelompok unsur kehidupan yang terpengaruh oleh kemelekatan.

(3. Enam Landasan)

40. “Kemudian, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran sehubungan dengan enam landasan internal dan eksternal.  Dan bagaimanakah seorang bhikkhu berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran sehubungan dengan enam landasan internal dan eksternal? Di sini seorang bhikkhu memahami mata, ia memahami bentuk-bentuk, dan ia memahami belenggu-belenggu yang muncul dengan bergantung pada keduanya; dan ia juga memahami bagaimana munculnya belenggu yang belum muncul, dan bagaimana meninggalkan belenggu yang telah muncul, dan bagaimana ketidak-munculan di masa depan dari belenggu yang telah ditinggalkan.

“Ia memahami telinga, ia memahami suara-suara … Ia memahami hidung,m ia memahami bau-bauan … Ia memahami lidah, ia memahami rasa kecapan … Ia memahami badan, ia memahami obyek-obyek sentuhan … Ia memahami pikiran, ia memahami obyek-obyek pikiran, dan ia memahami belenggu-belenggu yang muncul dengan bergantung pada keduanya; dan ia juga memahami bagaimana munculnya belenggu yang belum muncul, dan bagaimana meninggalkan belenggu yang telah muncul, dan bagaimana ketidak-munculan di masa depan dari belenggu yang telah ditinggalkan.

41. “Dengan cara inilah ia berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran secara internal, secara eksternal, dan secara internal dan eksternal … Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apapun di dunia ini. Itu adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran sehubungan dengan enam landasan indria internal dan eksternal.

(4. Tujuh Faktor Pencerahan)

42. “Kemudian, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran sehubungan dengan ketujuh faktor pencerahan.  Dan bagaimanakah seorang bhikkhu berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran sehubungan dengan ketujuh faktor pencerahan? Di sini, jika ada faktor pencerahan perhatian dalam dirinya, seorang bhikkhu memahami: ‘Ada faktor pencerahan perhatian dalam diriku’; atau jika tidak ada faktor pencerahan perhatian dalam dirinya, ia memahami: [62] ‘Tidak ada faktor pencerahan perhatian dalam diriku’; dan ia juga memahami bagaimana munculnya faktor pencerahan perhatian yang belum muncul, dan bagaimana faktor pencerahan perhatian terpenuhi melalui pengembangan.

“Jika ada faktor pencerahan penyelidikan-kondisi-kondisi dalam dirinya  … Jika ada faktor pencerahan kegigihan dalam dirinya … Jika ada faktor pencerahan kegembiraan dalam dirinya … Jika ada faktor pencerahan ketenangan dalam dirinya … Jika ada faktor pencerahan konsentrasi dalam dirinya … Jika ada faktor pencerahan keseimbangan dalam dirinya, seorang bhikkhu memahami: ‘Ada faktor pencerahan keseimbangan dalam diriku’; atau jika tidak ada faktor pencerahan keseimbangan dalam dirinya, ia memahami: ‘Tidak ada faktor pencerahan keseimbangan dalam diriku’; dan ia juga memahami bagaimana munculnya faktor pencerahan keseimbangan yang belum muncul, dan bagaimana faktor pencerahan keseimbangan terpenuhi melalui pengembangan.

43. “Dengan cara inilah ia berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran secara internal, secara eksternal, dan secara internal dan eksternal … Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apapun di dunia ini. Itu adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran sehubungan dengan ketujuh faktor pencerahan.

(5. Empat Kebenaran Mulia)

44. “Kemudian, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran sehubungan dengan Empat Kebenaran Mulia.  Dan bagaimanakah seorang bhikkhu berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran sehubungan dengan Empat Kebenaran Mulia? Di sini seorang bhikkhu memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah asal-mula penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan.’

(PANDANGAN TERANG)

45. “Dengan cara ini ia berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran secara internal, atau ia berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran secara eksternal, atau ia berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran secara internal dan eksternal. Atau ia berdiam merenungkan munculnya faktor-faktor obyek-obyek pikiran dalam obyek-obyek pikiran, atau ia berdiam merenungkan lenyapnya faktor-faktor obyek-obyek pikiran dalam obyek-obyek pikiran, atau ia berdiam merenungkan muncul dan lenyapnya faktor-faktor obyek-obyek pikiran dalam obyek-obyek pikiran. Atau penuh perhatian bahwa “ada obyek-obyek pikiran” muncul dalam dirinya hanya sejauh yang diperlukan bagi pengetahuan dan perhatian. Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apapun di dunia ini. Itu adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran sehubungan dengan Empat Kebenaran Mulia.

(PENUTUP)

46. “Para bhikkhu, jika siapapun juga mengembangkan keempat landasan perhatian ini dengan cara demikian selama tujuh tahun, maka satu dari dua buah dapat diharapkan untuknya: pengetahuan akhir di sini dan saat ini, atau jika masih ada kemelekatan yang tersisa, tidak-kembali-lagi.

“Jangankan tujuh tahun, para bhikkhu. [63] Jika siapapun juga mengembangkan keempat landasan perhatian ini dengan cara demikian selama enam tahun … selama lima tahun … selama empat tahun …selama tiga tahun … selama dua tahun … selama satu tahun, maka satu dari dua buah dapat diharapkan untuknya: pengetahuan akhir di sini dan saat ini, atau jika masih ada kemelekatan yang tersisa, tidak-kembali-lagi.

“Jangankan satu tahun, para bhikkhu. Jika siapapun juga mengembangkan keempat landasan perhatian ini dengan cara demikian selama tujuh bulan … selama enam bulan … selama lima bulan … selama empat bulan …selama tiga bulan … selama dua bulan … selama satu bulan … selama setengah bulan, maka satu dari dua buah dapat diharapkan untuknya: pengetahuan akhir di sini dan saat ini, atau jika masih ada kemelekatan yang tersisa, tidak-kembali-lagi.

“Jangankan setengah bulan, para bhikkhu. Jika siapapun juga mengembangkan keempat landasan perhatian ini dengan cara demikian selama tujuh hari, maka satu dari dua buah dapat diharapkan untuknya: pengetahuan akhir di sini dan saat ini, atau jika masih ada kemelekatan yang tersisa, tidak-kembali-lagi.

47. “Adalah dengan merujuk pada hal inilah maka dikatakan: ‘Para bhikkhu, ini adalah jalan langsung untuk pemurnian makhluk-makhluk, untuk mengatasi dukacita dan ratapan, untuk lenyapnya kesakitan dan kesedihan, untuk pencapaian jalan sejati, untuk penembusan Nibbāna – yaitu, empat landasan perhatian.’”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas dan gembira mendengarkan kata-kata Sang Bhagavā.



Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.401
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #16 on: 21 July 2010, 02:49:07 PM »
1  Mūlapariyāya Sutta
Akar Segala Sesuatu




[1] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR.  Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Ukkaṭṭhā di Hutan Subhaga di bawah pohon sāla kerajaan. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu: “Para bhikkhu.”  – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

2. “Para bhikkhu, Aku akan mengajarkan sebuah khotbah kepada kalian tentang akar dari segala sesuatu.  Dengarkan dan perhatikanlah apa yang akan Kukatakan.” – “Baik, Yang Mulia,” para bhikkhu itu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

(Orang awam)

3. “Di sini, para bhikkhu, seorang biasa yang tidak terlatih,  yang tidak menghargai para mulia dan tidak terampil dan tidak disiplin dalam Dhamma mereka, yang tidak menghargai manusia sejati dan tidak terampil dan tidak disiplin dalam Dhamma mereka, memahami tanah sebagai tanah.  Setelah memahami tanah sebagai tanah, ia menganggap [dirinya sebagai] tanah, ia menganggap [dirinya] dalam tanah, ia menganggap [dirinya terpisah] dari tanah, ia menganggap tanah sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam tanah.  Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

4. “Ia memahami air sebagai air. Setelah memahami air sebagai air, ia menganggap [dirinya sebagai] air, ia menganggap [dirinya] dalam air, ia menganggap [dirinya terpisah] dari air, ia menganggap air sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam air. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

5. “Ia memahami api sebagai api. Setelah memahami api sebagai api, ia menganggap [dirinya sebagai] api, ia menganggap [dirinya] dalam api, ia menganggap [dirinya terpisah] dari api, ia menganggap api sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam api. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

6. “Ia memahami udara sebagai udara. Setelah memahami udara sebagai udara, ia menganggap [dirinya sebagai] udara, ia menganggap [dirinya] dalam udara, ia menganggap [dirinya terpisah] dari udara, ia menganggap udara sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam udara. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan. [2]

7. “Ia memahami makhluk-makhluk sebagai makhluk-makhluk.  Setelah memahami makhluk-makhluk sebagai makhluk-makhluk, ia membayangkan makhluk-makhluk, ia menganggap [dirinya] dalam makhluk-makhluk, ia menganggap [dirinya terpisah] dari makhluk-makhluk, ia menganggap makhluk-makhluk sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam makhluk-makhluk. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

8. “Ia memahami dewa-dewa sebagai dewa-dewa.  Setelah memahami dewa-dewa sebagai dewa-dewa, ia membayangkan dewa-dewa, ia menganggap [dirinya] dalam dewa-dewa, ia menganggap [dirinya terpisah] dari dewa-dewa, ia menganggap dewa-dewa sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam dewa-dewa. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

9. “Ia memahami Pajāpati sebagai Pajāpati.  Setelah memahami Pajāpati sebagai Pajāpati, ia membayangkan Pajāpati, ia menganggap [dirinya] dalam Pajāpati, ia menganggap [dirinya terpisah] dari Pajāpati, ia menganggap Pajāpati sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam Pajāpati. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

10. “Ia memahami Brahmā sebagai Brahmā.  Setelah memahami Brahmā sebagai Brahmā, ia membayangkan Brahmā, ia menganggap [dirinya] dalam Brahmā, ia menganggap [dirinya terpisah] dari Brahmā, ia menganggap Brahmā sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam Brahmā. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

11. “Ia memahami para dewa dengan cahaya gemilang sebagai para dewa dengan cahaya gemilang.  Setelah memahami para dewa dengan cahaya gemilang sebagai para dewa dengan cahaya gemilang, ia membayangkan para dewa dengan cahaya gemilang, ia menganggap [dirinya] dalam para dewa dengan cahaya gemilang, ia menganggap [dirinya terpisah] dari para dewa dengan cahaya gemilang, ia menganggap para dewa dengan cahaya gemilang sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam para dewa dengan cahaya gemilang. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

12. “Ia memahami para dewa dengan keagungan gemerlap sebagai para dewa dengan keagungan gemerlap.  Setelah memahami para dewa dengan keagungan gemerlap sebagai para dewa dengan keagungan gemerlap, ia membayangkan para dewa dengan keagungan gemerlap, ia menganggap [dirinya] dalam para dewa dengan keagungan gemerlap, ia menganggap [dirinya terpisah] dari para dewa dengan keagungan gemerlap, ia menganggap para dewa dengan keagungan gemerlap sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam para dewa dengan keagungan gemerlap. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

13. “Ia memahami para dewa dengan Buah Besar sebagai para dewa dengan Buah Besar.  Setelah memahami para dewa dengan Buah Besar sebagai para dewa dengan Buah Besar, ia membayangkan para dewa dengan Buah Besar, ia menganggap [dirinya] dalam para dewa dengan Buah Besar, ia menganggap [dirinya terpisah] dari para dewa dengan Buah Besar, ia menganggap para dewa dengan Buah Besar sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam para dewa dengan Buah Besar. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

14. “Ia memahami maharaja sebagai maharaja.  Setelah memahami maharaja sebagai maharaja, ia membayangkan maharaja, ia menganggap [dirinya] dalam maharaja, ia menganggap [dirinya terpisah] dari maharaja, ia menganggap maharaja sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam maharaja. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

15. “Ia memahami landasan ruang tanpa batas sebagai landasan ruang tanpa batas.  Setelah memahami landasan ruang tanpa batas sebagai landasan ruang tanpa batas,  ia menganggap [dirinya sebagai] landasan ruang tanpa batas, ia menganggap [dirinya] dalam landasan ruang tanpa batas, ia menganggap [dirinya terpisah] dari landasan ruang tanpa batas, ia menganggap landasan ruang tanpa batas sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam landasan ruang tanpa batas. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

16. “Ia memahami landasan kesadaran tanpa batas sebagai landasan kesadaran tanpa batas. Setelah memahami landasan kesadaran tanpa batas sebagai landasan kesadaran tanpa batas,  [3] ia menganggap [dirinya sebagai] landasan kesadaran tanpa batas, ia menganggap [dirinya] dalam landasan kesadaran tanpa batas, ia menganggap [dirinya terpisah] dari landasan kesadaran tanpa batas, ia menganggap landasan kesadaran tanpa batas sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam landasan kesadaran tanpa batas. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

17. “Ia memahami landasan kekosongan sebagai landasan kekosongan. Setelah memahami landasan kekosongan sebagai landasan kekosongan, ia menganggap [dirinya sebagai] landasan kekosongan, ia menganggap [dirinya] dalam landasan kekosongan, ia menganggap [dirinya terpisah] dari landasan kekosongan, ia menganggap landasan kekosongan sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam landasan kekosongan. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

18. “Ia memahami landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi sebagai landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. Setelah memahami landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi sebagai landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, ia menganggap [dirinya sebagai] landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, ia menganggap [dirinya] dalam landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, ia menganggap [dirinya terpisah] dari landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, ia menganggap landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

19. “Ia memahami yang terlihat sebagai yang terlihat.  Setelah memahami yang terlihat sebagai yang terlihat, ia menganggap [dirinya sebagai] yang terlihat, ia menganggap [dirinya] dalam yang terlihat, ia menganggap [dirinya terpisah] dari yang terlihat, ia menganggap yang terlihat sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam yang terlihat. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

20. “Ia memahami yang terdengar sebagai yang terdengar. Setelah memahami yang terdengar sebagai yang terdengar, ia menganggap [dirinya sebagai] yang terdengar, ia menganggap [dirinya] dalam yang terdengar, ia menganggap [dirinya terpisah] dari yang terdengar, ia menganggap yang terdengar sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam yang terdengar. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

21. “Ia memahami yang tercerap sebagai yang tercerap. Setelah memahami yang tercerap sebagai yang tercerap, ia menganggap [dirinya sebagai] yang tercerap, ia menganggap [dirinya] dalam yang tercerap, ia menganggap [dirinya terpisah] dari yang tercerap, ia menganggap yang tercerap sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam yang tercerap. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

22. “Ia memahami yang dikenali sebagai yang dikenali. Setelah memahami yang dikenali sebagai yang dikenali, ia menganggap [dirinya sebagai] yang dikenali, ia menganggap [dirinya] dalam yang dikenali, ia menganggap [dirinya terpisah] dari yang dikenali, ia menganggap yang dikenali sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam yang dikenali. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

23. “Ia memahami kesatuan sebagai kesatuan.  Setelah memahami kesatuan sebagai kesatuan, ia menganggap [dirinya sebagai] kesatuan, ia menganggap [dirinya] dalam kesatuan, ia menganggap [dirinya terpisah] dari kesatuan, ia menganggap kesatuan sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam kesatuan. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

24. “Ia memahami keragaman sebagai keragaman. Setelah memahami keragaman sebagai keragaman, ia menganggap [dirinya sebagai] keragaman, ia menganggap [dirinya] dalam keragaman, ia menganggap [dirinya terpisah] dari keragaman, ia menganggap keragaman sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam keragaman. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

25. “Ia memahami seluruhnya sebagai seluruhnya.  Setelah memahami seluruhnya sebagai seluruhnya, ia menganggap [dirinya sebagai] seluruhnya, [4] ia menganggap [dirinya] dalam seluruhnya, ia menganggap [dirinya terpisah] dari seluruhnya, ia menganggap seluruhnya sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam seluruhnya. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

26. “Ia memahami Nibbāna sebagai Nibbāna.  Setelah memahami Nibbāna sebagai Nibbāna, ia menganggap [dirinya sebagai] Nibbāna, [4] ia menganggap [dirinya] dalam Nibbāna, ia menganggap [dirinya terpisah] dari Nibbāna, ia menganggap Nibbāna sebagai ‘milikku,’ ia bergembira dalam Nibbāna. Mengapakah? Karena mereka belum sepenuhnya memahaminya, Aku katakan.

(SISWA DALAM LATIHAN YANG LEBIH TINGGI)

27. “Para bhikkhu, seorang bhikkhu yang sedang dalam latihan yang lebih tinggi,  yang batinnya masih belum mencapai tujuan, dan yang masih bercita-cita untuk mencapai keamanan tertinggi dari belenggu, secara langsung mengetahui tanah sebagai tanah.  Setelah mengetahui tanah sebagai tanah, ia seharusnya tidak menganggap [dirinya sebagai] tanah, ia seharusnya tidak menganggap [dirinya] dalam tanah, ia seharusnya tidak menganggap [dirinya terpisah] dari tanah, ia seharusnya tidak menganggap tanah sebagai ‘milikku,’ ia seharusnya tidak bergembira dalam tanah. Mengapakah? Agar ia dapat memahaminya sepenuhnya, Aku katakan.

28-49. “Ia secara langsung mengetahui air sebagai air … Ia secara langsung mengetahui seluruhnya sebagai seluruhnya.

50. “Ia secara langsung mengetahui Nibbāna sebagai Nibbāna. Setelah mengetahui Nibbāna sebagai Nibbāna, ia seharusnya tidak menganggap [dirinya sebagai] Nibbāna, ia seharusnya tidak menganggap [dirinya] dalam Nibbāna, ia seharusnya tidak menganggap [dirinya terpisah] dari Nibbāna, ia seharusnya tidak menganggap Nibbāna sebagai ‘milikku,’ ia seharusnya tidak bergembira dalam Nibbāna. Mengapakah? Agar ia dapat memahaminya sepenuhnya, Aku katakan.

(ARAHANT – I)

51. “Para bhikkhu, seorang bhikkhu yang adalah seorang Arahant dengan noda-noda telah dihancurkan, yang telah menjalani kehidupan suci, telah melakukan apa yang harus dilakukan, telah menurunkan beban, telah mencapai tujuan sesungguhnya, telah menghancurkan belenggu-belenggu penjelmaan, dan sepenuhnya terbebas melalui pengetahuan tertinggi,  secara langsung mengetahui tanah sebagai tanah. Setelah secara langsung mengetahui tanah sebagai tanah, ia tidak menganggap [dirinya sebagai] tanah, ia tidak menganggap [dirinya] dalam tanah, ia tidak menganggap [dirinya terpisah] dari tanah, ia tidak menganggap tanah sebagai ‘milikku,’ ia tidak bergembira dalam tanah. Mengapakah? Karena ia telah memahami sepenuhnya, Aku katakan.
`
52-74. “Ia secara langsung mengetahui air sebagai air … Nibbāna sebagai Nibbāna … Mengapakah? Karena ia telah memahami sepenuhnya, Aku katakan.

(ARAHANT – II)

75. “Para bhikkhu, seorang bhikkhu yang adalah seorang Arahant … sepenuhnya terbebas melalui pengetahuan tertinggi, [5] secara langsung mengetahui tanah sebagai tanah. Setelah secara langsung mengetahui tanah sebagai tanah, ia tidak menganggap [dirinya sebagai] tanah, ia tidak menganggap [dirinya] dalam tanah, ia tidak menganggap [dirinya terpisah] dari tanah, ia tidak menganggap tanah sebagai ‘milikku,’ ia tidak bergembira dalam tanah. Mengapakah? Karena ia terbebaskan dari nafsu melalui hancurnya nafsu.

76-98. “Ia secara langsung mengetahui air sebagai air … Nibbāna sebagai Nibbāna … Mengapakah? Karena ia terbebaskan dari nafsu melalui hancurnya nafsu.

(ARAHANT – III)

99. “Para bhikkhu, seorang bhikkhu yang adalah seorang Arahant … sepenuhnya terbebas melalui pengetahuan tertinggi, secara langsung mengetahui tanah sebagai tanah. Setelah secara langsung mengetahui tanah sebagai tanah, ia tidak menganggap [dirinya sebagai] tanah, ia tidak menganggap [dirinya] dalam tanah, ia tidak menganggap [dirinya terpisah] dari tanah, ia tidak menganggap tanah sebagai ‘milikku,’ ia tidak bergembira dalam tanah. Mengapakah? Karena ia terbebaskan dari kebencian melalui hancurnya kebencian.

100-122. “Ia secara langsung mengetahui air sebagai air … Nibbāna sebagai Nibbāna … Mengapakah? Karena ia terbebaskan dari kebencian melalui hancurnya kebencian.

(ARAHANT – IV)

123. “Para bhikkhu, seorang bhikkhu yang adalah seorang Arahant … sepenuhnya terbebas melalui pengetahuan tertinggi, secara langsung mengetahui tanah sebagai tanah. Setelah secara langsung mengetahui tanah sebagai tanah, ia tidak menganggap [dirinya sebagai] tanah, ia tidak menganggap [dirinya] dalam tanah, ia tidak menganggap [dirinya terpisah] dari tanah, ia tidak menganggap tanah sebagai ‘milikku,’ ia tidak bergembira dalam tanah. Mengapakah? Karena ia terbebaskan dari kebodohan melalui hancurnya kebodohan

124-146. “Ia secara langsung mengetahui air sebagai air … Nibbāna sebagai Nibbāna … Mengapakah? Karena ia terbebaskan dari kebeodohan melalui hancurnya kebodohan.

(TATHĀGATA – I)

147. “Para bhikkhu, Sang Tathāgata,  yang sempurna dan tercerahkan sepenuhnya, secara langsung mengetahui tanah sebagai tanah. Setelah secara langsung mengetahui tanah sebagai tanah, Beliau tidak menganggap [dirinya sebagai] tanah, Beliau tidak menganggap [dirinya] dalam tanah, Beliau tidak menganggap [dirinya terpisah] dari tanah, Beliau tidak menganggap tanah sebagai ‘milikku,’ Beliau tidak bergembira dalam tanah. [6] Mengapakah? Karena Beliau telah memahami sepenuhnya hingga akhir, Aku katakan.

148-170. “Beliau secara langsung mengetahui air sebagai air … Nibbāna sebagai Nibbāna … Mengapakah? Karena Beliau telah memahami sepenuhnya hingga akhir, Aku katakan.

(TATHĀGATA – II)

171. “Para bhikkhu, Sang Tathāgata, yang sempurna dan tercerahkan sepenuhnya, secara langsung mengetahui tanah sebagai tanah. Setelah secara langsung mengetahui tanah sebagai tanah, Beliau tidak menganggap [dirinya sebagai] tanah, Beliau tidak menganggap [dirinya] dalam tanah, Beliau tidak menganggap [dirinya terpisah] dari tanah, Beliau tidak menganggap tanah sebagai ‘milikku,’ Beliau tidak bergembira dalam tanah. Mengapakah? Karena Beliau telah memahami bahwa kegembiraan adalah akar penderitaan, dan bahwa dengan itu [sebagai kondisi] maka ada kelahiran, dan bahwa dengan apapun yang terlahir itu, maka ada penuaan dan kematian.  Oleh karena itu, para bhikkhu, melalui kehancuran, peluruhan, pelenyapan, penghentian, dan pelepasan keinginan, Sang Tathāgata telah tercerahkan hingga pencerahan sempurna yang tertinggi, Aku katakan.

172-194. “Beliau secara langsung mengetahui air sebagai air … Nibbāna sebagai Nibbāna … Mengapakah? Karena Beliau telah memahami bahwa kegembiraan adalah akar penderitaan, dan bahwa dengan itu [sebagai kondisi] maka ada kelahiran, dan bahwa dengan apapun yang terlahir itu, maka ada penuaan dan kematian. Oleh karena itu, para bhikkhu, melalui kehancuran, peluruhan, pelenyapan, penghentian, dan pelepasan keinginan, Sang Tathāgata telah tercerahkan hingga pencerahan sempurna yang tertinggi, Aku katakan.

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Tetapi para bhikkhu itu tidak bergembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.


There is no place like 127.0.0.1

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #17 on: 21 July 2010, 02:54:21 PM »
urutannya jadi rusak, ayo kembalikan

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.401
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #18 on: 21 July 2010, 03:56:49 PM »
kennot. salah TS yg bikinnya gitu, resiko
There is no place like 127.0.0.1

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #19 on: 21 July 2010, 04:02:54 PM »
kennot. salah TS yg bikinnya gitu, resiko

padahal kan bisa bikin thread baru aja, then merge, payah nih...

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.407
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #20 on: 21 July 2010, 04:20:51 PM »
Pecat suhu =))
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline dhammadinna

  • Sebelumnya: Mayvise
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.626
  • Reputasi: 149
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #21 on: 21 July 2010, 04:31:11 PM »
edit nomornya aja... isinya juga kan beda-beda (gak saling sambung-menyambung)..

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.401
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #22 on: 21 July 2010, 04:33:00 PM »
kennot, kalau di merge itu sort by waktu post. jadi... samimawon


 [at] mayvise: ugh... selipin 1, maka harus geser semua satu persatu
There is no place like 127.0.0.1

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #23 on: 21 July 2010, 04:35:25 PM »
edit nomornya aja... isinya juga kan beda-beda (gak saling sambung-menyambung)..

edit nomor?
maksudnya Mulapariyaya Sutta jadi MN 10? :hammer:

Offline dhammadinna

  • Sebelumnya: Mayvise
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.626
  • Reputasi: 149
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #24 on: 21 July 2010, 04:41:37 PM »
Ya uda posting ulang aja.... thread ini dihapus. Toh tinggal copy-paste kan? ;D

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #25 on: 21 July 2010, 04:43:09 PM »
Ya uda posting ulang aja.... thread ini dihapus. Toh tinggal copy-paste kan? ;D

mau jadi relawan? silahkan

Offline dhammadinna

  • Sebelumnya: Mayvise
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.626
  • Reputasi: 149
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #26 on: 21 July 2010, 04:44:45 PM »
bolee... nanti sy editin yg salah-salah ketik sekalian (tapi setelah beresin "tugas lama" dulu)
« Last Edit: 21 July 2010, 04:47:23 PM by Mayvise »

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #27 on: 21 July 2010, 04:48:06 PM »
bolee... nanti sy editin yg salah-salah ketik dulu... (tp setelah beresin "tugas lama")

ingat... mulai dari postingan #2, jadi post #1 dibiarkan kosong aja, nanti mau ditambahkan TOC di post #1

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.850
  • Reputasi: 268
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #28 on: 21 July 2010, 04:57:08 PM »
bolee... nanti sy editin yg salah-salah ketik sekalian (tapi setelah beresin "tugas lama" dulu)

Kalau bisa lock dulu supaya ga ada posting yang mengganggu. Jadi  post 2 - 153 ga terputus.
Kalau mau bahas salah satunya, nanti di lain thread aja.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #29 on: 21 July 2010, 05:00:22 PM »
 [at] Kai, gak apa2 deh udah terlanjur, toh ntar mau dibikin thread baru yg lebih rapi

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.850
  • Reputasi: 268
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #30 on: 21 July 2010, 05:05:19 PM »
[at] Kai, gak apa2 deh udah terlanjur, toh ntar mau dibikin thread baru yg lebih rapi
Iya, itu maksudnya untuk thread yang baru. Kalau yang ini sih sudah terlanjur ga urut.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #31 on: 21 July 2010, 05:10:17 PM »
 [at]  sumedho,

bagaimana caranya supaya bisa menampilkan footnote juga, spt di dcpedia?

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.401
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #32 on: 21 July 2010, 05:34:04 PM »
utk footnote,cannot.

mending dipecah2 perbagian atau setiap 10 supaya kgk kepanjangan
There is no place like 127.0.0.1

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #33 on: 21 July 2010, 05:36:45 PM »
akan di pecah jadi 3 thread dengan komposisi: 50,50,52 sesuai Vagganya

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #34 on: 21 July 2010, 06:04:52 PM »
 [at] Mayvise, terima kasih atas tawaran bantuannya, tapi terpaksa saya tolak, karena saya tetap harus jadi TS agar dapat terus mengupdate thread tsb.

Offline dhammadinna

  • Sebelumnya: Mayvise
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.626
  • Reputasi: 149
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #35 on: 22 July 2010, 07:14:21 AM »
^ ^ ^ oo oke oke.. :)
« Last Edit: 22 July 2010, 07:21:02 AM by Mayvise »

Offline dhammadinna

  • Sebelumnya: Mayvise
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.626
  • Reputasi: 149
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #36 on: 22 July 2010, 01:13:04 PM »
Di thread MN yang baru, bagus juga tuh kalo bisa dibikin hyperlink. Jadi kalo mau baca sutta tertentu, tinggal klik di daftar isi...

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #37 on: 22 July 2010, 01:22:59 PM »
Di thread MN yang baru, bagus juga tuh kalo bisa dibikin hyperlink. Jadi kalo mau baca sutta tertentu, tinggal klik di daftar isi...

rencananya begitu, tapi sayang gak bisa edit lagi, jadi saya serahkan ke pihak yg berwenang aja

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.401
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #38 on: 22 July 2010, 03:57:30 PM »
kalau oke, nati dirimu menjadi yg berwenang. mau disini atau di board penerjemahan?
There is no place like 127.0.0.1

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #39 on: 22 July 2010, 04:54:14 PM »
kalau oke, nati dirimu menjadi yg berwenang. mau disini atau di board penerjemahan?

cukup di thread yg dimaksud aja

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.407
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #40 on: 25 July 2010, 07:28:21 PM »
footnotenya belakangan di masukin?
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #41 on: 25 July 2010, 07:31:46 PM »
yg itu aja gak ada yg baca, apalagi footnote yg membosankan

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.407
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #42 on: 25 July 2010, 07:40:14 PM »
yg itu aja gak ada yg baca, apalagi footnote yg membosankan
=)) =)) =))
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.401
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #43 on: 25 July 2010, 07:46:36 PM »
biarlah bagian tempel footnote nanti bagian aye.... *kebayang 1 sutta aja 60 footnotenya, harus dipasang langsung ditiap bagian*
There is no place like 127.0.0.1

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.407
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #44 on: 25 July 2010, 10:26:59 PM »
biarlah bagian tempel footnote nanti bagian aye.... *kebayang 1 sutta aja 60 footnotenya, harus dipasang langsung ditiap bagian*
kasih semangat aja deh aye mah =))

Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #45 on: 25 July 2010, 10:29:32 PM »

biarlah bagian tempel footnote nanti bagian aye.... *kebayang 1 sutta aja 60 footnotenya, harus dipasang langsung ditiap bagian*

baik hati sekali, ok jadi gue sisain bagian footnote, kebetulan itu bagian kelemahan gue. jangan sampe menjilat ludah sendiri ya

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.401
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #46 on: 26 July 2010, 09:07:23 AM »
iya, nanti ditempel waktu di dcpedia seperti di DN. jgn lupa diselipin kode footnote
There is no place like 127.0.0.1

Offline Hendra Susanto

  • Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.198
  • Reputasi: 205
  • Gender: Male
  • haa...
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #47 on: 26 July 2010, 10:22:18 AM »
semoga berhasil :jempol:

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.401
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #48 on: 26 July 2010, 10:28:33 AM »
kalau buat pdf nya ato dicetak, ta' serahkan sama yg ahli deh  ^
There is no place like 127.0.0.1

Offline Hendra Susanto

  • Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.198
  • Reputasi: 205
  • Gender: Male
  • haa...
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #49 on: 26 July 2010, 10:35:40 AM »
kalau buat pdf nya ato dicetak, ta' serahkan sama yg ahli deh  ^

materinya donk mana haa... mainkan pdf dulu dech, setelah SN selesai kita sambil2 ngumpulin dana ini utk dicetak, mungkin 2011 - 2012... gak tau dach kita masih idup atau kagak :))

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #50 on: 26 July 2010, 10:37:11 AM »
semoga berhasil :jempol:

pasti berhasil tapi entah kapan...

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.401
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #51 on: 26 July 2010, 12:01:39 PM »
^ pls kasih si haa
There is no place like 127.0.0.1

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #52 on: 26 July 2010, 12:07:48 PM »
^ pls kasih si haa

silahkan ambil di http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,17327.0.html
minus Footnote yg katanya ente mau garap

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #53 on: 26 July 2010, 12:08:54 PM »
kalau buat pdf nya ato dicetak, ta' serahkan sama yg ahli deh  ^

materinya donk mana haa... mainkan pdf dulu dech, setelah SN selesai kita sambil2 ngumpulin dana ini utk dicetak, mungkin 2011 - 2012... gak tau dach kita masih idup atau kagak :))

gak perlu cetak2an lagi deh, publish di DCPedia aja, GRATIS

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.401
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #54 on: 26 July 2010, 12:10:44 PM »
aye bilang kan garapnya buat dcpedia aja. kita tetep pake pdf deh. buat yg pake e-reader bisa baca jg tanpa koneksi internet. Hasil penerawangan, it's gonna be the tomorrow thingy
There is no place like 127.0.0.1

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #55 on: 26 July 2010, 12:14:39 PM »
biarlah bagian tempel footnote nanti bagian aye.... *kebayang 1 sutta aja 60 footnotenya, harus dipasang langsung ditiap bagian*

Offline Hendra Susanto

  • Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.198
  • Reputasi: 205
  • Gender: Male
  • haa...
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #56 on: 26 July 2010, 12:21:22 PM »
kalau buat pdf nya ato dicetak, ta' serahkan sama yg ahli deh  ^

materinya donk mana haa... mainkan pdf dulu dech, setelah SN selesai kita sambil2 ngumpulin dana ini utk dicetak, mungkin 2011 - 2012... gak tau dach kita masih idup atau kagak :))

gak perlu cetak2an lagi deh, publish di DCPedia aja, GRATIS

ada keterbatasan utk hal ini... tp menimbang kondisi skr... jadinya bohwat...

kirimin gw yang komplit... (+ footnote)

Offline Yi FanG

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 238
  • Reputasi: 30
  • Gender: Female
  • Namo Buddhaya...
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #57 on: 26 July 2010, 10:16:14 PM »
1  Mūlapariyāya Sutta
Akar Segala Sesuatu


[1] 1. Pada suatu ketika, Sang Bhagavā
“Para bhikkhu.”“Yang Mulia,”

2. Kukatakan.”“Baik

3. “Di sini, Para bhikkhu
tidak terlatih, []yang
Dhamma mereka, []yang
sebagai tanah. []Setelah
sebagai ‘milikku’, []ia bergembira
tanah. []Mengapakah? []Karena

4. sebagai ‘milikku’, []ia bergembira

5. sebagai ‘milikku’, []ia bergembira

6. sebagai ‘milikku’, []ia bergembira

7. sebagai ‘milikku’, []ia bergembira

8. dewa-dewa. []Setelah memahami
sebagai ‘milikku’, []ia bergembira

9. sebagai Pajāpati. [][]Setelah
sebagai ‘milikku’, []ia bergembira

10. sebagai Brahmā. []Setelah
sebagai ‘milikku’, []ia bergembira

11. sebagai ‘milikku’, []ia bergembira

12. gemerlap. []Setelah memahami
 gemerlap sebagai ‘milikku’, ia

13. sebagai ‘milikku’, ia bergembira

14. sebagai ‘milikku’, ia bergembira

15. tanpa batas. []Setelah
tanpa batas, []ia menganggap
sebagai ‘milikku’, ia bergembira

16. sebagai ‘milikku’, ia bergembira

17. sebagai ‘milikku’, ia bergembira

18. bukan-persepsi, []ia menganggap
sebagai ‘milikku’, ia bergembira

19. yang terlihat. []Setelah memahami
sebagai ‘milikku’, ia bergembira

20. sebagai ‘milikku’, ia bergembira

21. sebagai ‘milikku’, ia bergembira

22. sebagai ‘milikku’, ia bergembira

23. sebagai kesatuan. []Setelah
sebagai ‘milikku’, ia bergembira

24. sebagai ‘milikku’, ia bergembira

25. sebagai seluruhnya. []Setelah
seluruhnya, [][4] ia menganggap
sebagai ‘milikku’, ia bergembira

26. sebagai Nibbāna. []Setelah
sebagai ‘milikku’, ia bergembira

27. lebih tinggi, []yang batinnya
sebagai tanah. []Setelah
sebagai ‘milikku’, ia

50. sebagai ‘milikku’, ia

51. kehidupan suci, []telah
tertinggi, []secara langsung
sebagai ‘milikku’, ia

75. sebagai ‘milikku’, ia

99. sebagai ‘milikku’, ia

123. sebagai ‘milikku’, ia

124-146. dari kebeodohan

147. Sang Tathāgata, []yang sempurna
sebagai ‘milikku’, Beliau

171. sepenuhnya, []secara langsung
sebagai ‘milikku’, Beliau
dan kematian. []Oleh karena itu, Para bhikkhu

172-194. Oleh karena itu, Para bhikkhu

"Dhamma has a value beyond all wealth and should not be sold like goods in a market place."

Offline Yi FanG

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 238
  • Reputasi: 30
  • Gender: Female
  • Namo Buddhaya...
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #58 on: 26 July 2010, 10:42:56 PM »
2  Sabbāsava Sutta
Segala Noda

1. Pada suatu ketika, Sang Bhagavā
bhikkhu.”“Yang Mulia

2. segala noda. [][7] Dengarkanlah
katakan.”“Baik, Yang Mulia,”

3. “Para bhikkhu, Aku
tidak bijaksana. []Ketika seseorang memperhatikan dengan tidak
Ketika seseorang memperhatikan dengan bijaksana

5. “Apakah noda-noda, Para bhikkhu,
dengan melihat? []Di sini, Para bhikkhu,
tidak layak diperhatikan. []Oleh karena itu, ia memperhatikan
dan ia tidak memperhatikan

6. Yaitu hal-hal yan g ketika ia memperhatikannya
Yaitu hal-hal yan g ketika ia memperhatikannya
[8] Dengan memperhatikan hal
dan dengan tidak memperhatikan

7. memperhatikan

8. “Ketika ia memperhatikan
muncul dalam dirinya. []Pandangan
sebagai benar dan kukuh
sebagai benar dan kukuh
sebagai benar dan kukuh
sebagai benar dan kukuh
sebagai benar dan kukuh
bertahan selamanya.’ []Pandangan spekulatif ini, Para bhikkhu,
pemutarbalikan pandangan,

9. [9] ia tidak memperhatikan
ia memperhatikan

10. ketika ia memperhatikannya
ketika ia memperhatikannya
Dengan tidak memperhatikan
dan dengan memperhatikan

11. “Ia memperhatikan dengan bijaksana
memperhatikan dengan bijaksana
memperhatikan dengan bijaksana
memperhatikan dengan bijaksana
memperhatikan dengan bijaksana

12. “Noda-noda apakah, Para bhikkhu,
dengan mengendalikan? []Di sini

13. “Noda-noda apakah, Para bhikkhu,
dengan menggunakan? []Di sini

14. demi kecantikan []dan kemenarikan

18. “Noda-noda apakah, Para bhikkhu,
kata-kata yang tidak ramah, dan perasaan

19. “Noda-noda apakah, Para bhikkhu,
ular, tungguln pohon, [11]

20. “Noda-noda apakah, Para bhikkhu,
tidak mentoleransiir 
tidak mentoleransiir
tidak mentoleransiir
tidak mentoleransiir
membasminya. []Sementara noda-noda

21. “Noda-noda apakah, Para bhikkhu,
dalam pelepasan. []Sementara

22. dengan mengembangkanmaka ia
keangkuhan, ia





 
"Dhamma has a value beyond all wealth and should not be sold like goods in a market place."

Offline Yi FanG

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 238
  • Reputasi: 30
  • Gender: Female
  • Namo Buddhaya...
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #59 on: 26 July 2010, 11:43:27 PM »
3  Dhammadāyāda Sutta
Pewaris dalam Dhamma

1. []Pada suatu ketika, Sang Bhagavā
bhikkhu.”“Yang Mulia,” mereka
menjawab. []Sang Bhagavā

2. jadilah pewaris-Ku dalam Dhamma, bukan pewaris-Ku dalam
belas kasih-Ku kepada kalian, Aku berpikir: ‘Bagaimana para siswa-Ku dapat
menjadi pewaris-Ku dalam Dhamma, bukan pewaris-Ku dalam benda-benda materi’?’ Jika
menjadi pewaris-Ku
sebagai berikut: ‘Para siswa
sebagai pewaris-Nya dalam benda-benda
sebagai berikut: ‘Para siswa
sebagai pewaris-Nya dalam benda-benda materi, bukan sebagai pewaris-Nya dalam Dhamma’.

“Jika kalian menjadi pewaris-Ku dalam Dhamma, bukan pewaris-Ku dalam benda-benda materi, maka kalian tidak akan dicela [seperti dikatakan]: ‘Para siswa Sang Guru hidup sebagai pewaris-Nya dalam Dhamma, bukan sebagai pewaris-Nya dalam benda-benda materi’; dan Aku tidak akan dicela [seperti dikatakan]: ‘Para siswa Sang Guru hidup sebagai pewaris-Nya dalam Dhamma, bukan sebagai pewaris-Nya dalam benda-benda materi’. Oleh karena itu, Para bhikkhu, jadilah pewaris-Ku dalam Dhamma, bukan pewaris-Ku dalam benda-benda materi. Demi belas kasih-Ku kepada kalian, Aku berpikir: ‘Bagaimana para siswa-Ku dapat menjadi pewaris-Ku dalam Dhamma, bukan pewaris-Ku dalam benda-benda materi’?

3. “Sekarang, Para bhikkhu
dua orang bhikkhu tiba, [13] lapar dan lemah
memakannya,maka Aku
mana tidak ada kehidupan’. Kemudian
memakannya, maka Sang
jadilah pewaris-Ku dalam Dhamma, bukan pewaris-Ku dalam
keadaan lapar dan lemah’.
merasa lapar dan lemah’. Sekarang, walaupun bhikkhu itu
dipuji oleh-Ku. Mengapakah
kegigihannya. []Oleh karena itu, Para bhikkhu
, jadilah pewaris-Ku dalam Dhamma, bukan pewaris-Ku dalam benda-benda materi. Demi belas kasih-Ku kepada kalian, Aku berpikir: ‘Bagaimana para siswa-Ku dapat menjadi pewaris-Ku dalam Dhamma, bukan pewaris-Ku dalam benda-benda materi’?”

4. dari duduk-Nya dan masuk ke kediaman-Nya.
para bhikkhu.”“Teman,”

5. “Sesungguhnya, Teman, kami datang
darinya, para bhikkhu
Maka, Teman-teman, dengarkan

6. Sang Guru yang hidupo terasing
Di sini,para siswa Sang
“Dalam hal ini,para bhikkhu
untuk tiga alasan. []Sebagai
yang hidup terasing, mereka

“Dalam hal ini,para bhikkhu
yang hidup terasing, mereka

7. bagaimanakah, Teman-teman
keterasingan? Di sini, para

“Dalam hal ini, para bhikkhu
yang hidup terasing, mereka
keterasingan.: mereka dipuji

“Dalam hal ini, para bhikkhu
yang hidup terasing, mereka
keterasingan.: mereka dipuji

“Dalam hal ini, para bhikkhu
yang hidup terasing, mereka
keterasingan.: mereka dipuji

8. kebencian. []Terdapat Jalan
"Dhamma has a value beyond all wealth and should not be sold like goods in a market place."

Offline Yi FanG

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 238
  • Reputasi: 30
  • Gender: Female
  • Namo Buddhaya...
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #60 on: 27 July 2010, 12:49:07 AM »
ralat

3  Dhammadāyāda Sutta
Pewaris dalam Dhamma

1. []Pada suatu ketika, Sang Bhagavā
bhikkhu.”“Yang Mulia,” mereka
menjawab. []Sang Bhagavā

2. jadilah pewaris-Ku dalam Dhamma, bukan pewaris-Ku dalam
belas kasih-Ku kepada kalian, Aku berpikir: ‘Bagaimana para siswa-Ku dapat
menjadi pewaris-Ku dalam Dhamma, bukan pewaris-Ku dalam benda-benda materi’? Jika
menjadi pewaris-Ku
sebagai berikut: ‘Para siswa
sebagai pewaris-Nya dalam benda-benda
sebagai berikut: ‘Para siswa
sebagai pewaris-Nya dalam benda-benda materi, bukan sebagai pewaris-Nya dalam Dhamma’.

“Jika kalian menjadi pewaris-Ku dalam Dhamma, bukan pewaris-Ku dalam benda-benda materi, maka kalian tidak akan dicela [seperti dikatakan]: ‘Para siswa Sang Guru hidup sebagai pewaris-Nya dalam Dhamma, bukan sebagai pewaris-Nya dalam benda-benda materi’; dan Aku tidak akan dicela [seperti dikatakan]: ‘Para siswa Sang Guru hidup sebagai pewaris-Nya dalam Dhamma, bukan sebagai pewaris-Nya dalam benda-benda materi’. Oleh karena itu, Para bhikkhu, jadilah pewaris-Ku dalam Dhamma, bukan pewaris-Ku dalam benda-benda materi. Demi belas kasih-Ku kepada kalian, Aku berpikir: ‘Bagaimana para siswa-Ku dapat menjadi pewaris-Ku dalam Dhamma, bukan pewaris-Ku dalam benda-benda materi’?

3. “Sekarang, Para bhikkhu
dua orang bhikkhu tiba, [13] lapar dan lemah
memakannya, maka Aku
mana tidak ada kehidupan’. Kemudian
memakannya, maka Sang
jadilah pewaris-Ku dalam Dhamma, bukan pewaris-Ku dalam
keadaan lapar dan lemah’.
merasa lapar dan lemah’. Sekarang, walaupun bhikkhu itu
dipuji oleh-Ku. Mengapakah
kegigihannya. []Oleh karena itu, Para bhikkhu
, jadilah pewaris-Ku dalam Dhamma, bukan pewaris-Ku dalam benda-benda materi. Demi belas kasih-Ku kepada kalian, Aku berpikir: ‘Bagaimana para siswa-Ku dapat menjadi pewaris-Ku dalam Dhamma, bukan pewaris-Ku dalam benda-benda materi’?”

4. dari duduk-Nya dan masuk ke kediaman-Nya.
para bhikkhu.”“Teman,”

5. “Sesungguhnya, Teman, kami datang
darinya, para bhikkhu
Maka, Teman-teman, dengarkan

6. Sang Guru yang hidupo terasing
Di sini, para siswa Sang
 
“Dalam hal ini, para bhikkhu
untuk tiga alasan. []Sebagai
yang hidup terasing, mereka

“Dalam hal ini, para bhikkhu
yang hidup terasing, mereka

“Dalam hal ini, para bhikkhu
yang hidup terasing, mereka

“Dalam hal ini, para bhikkhu
yang hidup terasing, mereka

7. bagaimanakah, Teman-teman
keterasingan? Di sini, para

“Dalam hal ini, para bhikkhu
yang hidup terasing, mereka
keterasingan.: mereka dipuji

“Dalam hal ini, para bhikkhu
yang hidup terasing, mereka
keterasingan.: mereka dipuji

“Dalam hal ini, para bhikkhu
yang hidup terasing, mereka
keterasingan.: mereka dipuji

8. kebencian. []Terdapat Jalan
« Last Edit: 27 July 2010, 12:53:13 AM by Yi FanG »
"Dhamma has a value beyond all wealth and should not be sold like goods in a market place."

Offline Yi FanG

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 238
  • Reputasi: 30
  • Gender: Female
  • Namo Buddhaya...
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #61 on: 27 July 2010, 12:59:35 AM »
1  Mūlapariyāya Sutta

123. melalui hancurnya kebodohan.


2  Sabbāsava Sutta

16. hanya untuk perlindungan dari penyakit yang telah muncul dan demi kesehatan.
"Dhamma has a value beyond all wealth and should not be sold like goods in a market place."

Offline Yi FanG

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 238
  • Reputasi: 30
  • Gender: Female
  • Namo Buddhaya...
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #62 on: 28 July 2010, 01:38:30 AM »
4  Bhayabherava Sutta
Kekhawatiran dan Ketakutan
[/b]

1. Pada suatu ketika, Sang

2. apakah mereka mereka menjadikan

begitulah. Kketika para anggota
berkeyakinan pada-Ku, mereka
orang ini mengikuti teladan-Ku.”

begitulah. Ttempat tinggal di dalam

3.  “Sebelum pencerahan-Ku, sSewaktu Aku masih

4. karena cacat dari ketidakmurnian
mereka, para petapa dan
Tetapi Aaku tidak mendatangi
jasmani yang murni’. Melihat
jasmani ini dalam diri-Ku, Aku

5-7. terpencil di dalam hutan …[] mereka
penghidupan yang murni’. Melihat
dalam diri-Ku, Aku menemukan

8. brahmana yang iri hati
… Aku tidak iri hati ….’ [18]

9. “‘  … dengan pikiran permusuhan dan kecenderungan membenci … Aku memiliki  pikiran cinta kasih …’

10. “‘ … dikuasai oleh

11. “‘ … dikuasai oleh

12. “‘ … kebimbangan dan keraguan
 
13. “‘ … memuji diri sendiri

14. “‘ … tunduk pada ketakutan dan terror …

15. “‘ … menginginkan perolehan, penghormatan

16. “‘ … malas dan membutuhkan 

17. “‘ … [20] tanpa perhatian dan tidak waspada … Aku kuokuoh dalam

18. “‘ … tidak terkonsentrasi dan dengan pikiran

19. bodoh dengan airu liur menetes,
bodoh dengan airu liur menetes
Aku memiliki kebijaksanaan.[] Aku mendatangi
memiliki kebijaksanaan’. Melihat kebijaksanaan ini dalam diri-Ku,

20. sangat baik, yaitu tanggal empat belas
altar-altar di[]hutan,
kekhawatiran dan ketakutan itu’. Dan
sangat baik itu, yaitu tanggal empat belas
ketika ia mendatangi-Ku?’

dan ketakutan mendatangi-Ku; Aku
dan ketakutan mendatangi-Ku
dan ketakutan mendatangi-Ku
dan ketakutan mendatangi-Ku

21. dengan siapa[]pun: ‘Makhluk
dewa dan manusia’, sesungguhnya adalah sehubungan dengan Aku, ucapan benar itu diucapkan.

22. muncul dalam diri-Ku dan

25. dengannya, para mulia mengatakan: ‘Ia memiliki kediaman yang menyenangkan yang memiliki keseimbangan dan penuh perhatian’.

27. “Ketika konsentrasi pikiran-Ku sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari ketidaksempurnaan, lunak, lentur, kuokuoh, dan mencapai keadaan tanpa-gangguan, Aku mengarahkannya pada pengetahuan perenungan kehidupan lampau. [] Akumengingat banyak
kembali di sini’. Demikianlah
ciri-cirinya, Aku

28. pertama yang dicapai oleh-Ku pada jaga
berdiam dengan tekun, rajin, dan teguh.

29. . “Ketika konsentrasi pikiran-Ku sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari ketidaksempurnaan, lunak, lentur, kuokuoh, dan mencapai keadaan tanpa-gangguan, Aku mengarahkannya pada pengetahuan kematian dan kelahiran kembali makhluk-makhluk.[] Dengan
alam surga’. Demikianlah

30. ke dua yang dicapai oleh-Ku
tekun, rajin, dan teguh.

31. “Ketika konsentrasi pikiran-Ku sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari ketidaksempurnaan, lunak, lentur, kuokuoh, dan mencapai keadaan tanpa-gangguan, Aku
menuju lenyapnya penderitaan’. Aku secara
‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya noda-noda’.

32. demikian, batin-Ku terbebas
‘terbebaskan’. []Aku secara langsung
kondisi makhluk apa pun’.

33. sejati ke tiga yang dicapai oleh-Ku pada jaga
tekun, rajin, dan teguh.

34. rimba belantara yang terpencil di dalam hutan’. Tetapi engkau jangan berpikir demikian. Adalah karena Aku melihat dua manfaat, maka Aku masih

35. Sejak hari ini, sudilah Guru Gotama mengingatku sebagai seorang pengikut awam yang telah menerima
« Last Edit: 28 July 2010, 01:42:31 AM by Yi FanG »
"Dhamma has a value beyond all wealth and should not be sold like goods in a market place."

Offline Yumi

  • Sebelumnya snailLcy
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.353
  • Reputasi: 123
  • Gender: Female
  • Good morning, Sunshine..
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #63 on: 28 July 2010, 08:44:42 PM »
1  Mūlapariyāya Sutta

171.  dan bahwa dengan apa pun yang terlahir itu

172-194. dan bahwa dengan apa pun yang terlahir itu


2  Sabbāsava Sutta

8. kesakitan, kesedihan, dan keputusasaan


4  Bhayabherava Sutta

2. Kemudian Brahmana Jāṇussoṇi []mendatangi

begitulah. Kketika para anggota
berkeyakinan pada-Ku, mereka mereka menjadikan-Ku sebagai pemimpin mereka
orang ini mengikuti teladan-Ku.”

3.  “Sebelum pencerahan-Ku, sewaktu Aku masih

5-7. terpencil di dalam hutan …[]mereka

9. Aku memiliki []pikiran cinta kasih

19. ...
Aku memiliki kebijaksanaan. []Aku mendatangi

20. di[]hutan, dan altar-altar pohon. Dan sewaktu

27. ...
kehidupan lampau. []Aku mengingat banyak

29. ...
kelahiran kembali makhluk-makhluk. []Dengan

32. ...
‘terbebaskan’. []Aku secara langsung
Para bhikkhu, fajar berwarna kuning keemasan adalah pertanda awal terbitnya matahari.
Demikian pula, kesempurnaan sila adalah awal timbulnya Jalan Mulia Berunsur Delapan.
~Silasampada Sutta - Suryapeyyala~

Offline dhammadinna

  • Sebelumnya: Mayvise
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.626
  • Reputasi: 149
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #64 on: 29 July 2010, 10:36:53 AM »
 [at]  Yumi n Yi Fang, kenapa gak minta naskahnya ke Indra? jadi setelah diedit, kirim via imel. Setelah itu Indra tinggal posting. Sepertinya kalo begitu lebih mudah ya? Nanti yang mana yang diedit, diberi warna di naskah itu.

Offline Hendra Susanto

  • Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.198
  • Reputasi: 205
  • Gender: Male
  • haa...
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #65 on: 29 July 2010, 10:44:25 AM »
perhatian, klo kirim ke gw nanti jgn model gini ya ;D kirimnya model biasa yang selama ini dilakukan... ha

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya
« Reply #66 on: 29 July 2010, 08:30:01 PM »
 [at] Yumi+Yi Fang,

hold dulu dan jangan dilanjutkan untuk sementara, minggu depan saya akan kirimkan docnya, jadi bisa langsung di edit di dokumennya, sekarang saya masih melakukan sedikit revisi.

Offline dhammadinna

  • Sebelumnya: Mayvise
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.626
  • Reputasi: 149
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #67 on: 24 August 2010, 03:10:13 PM »
Hanya mau bilang aja, sepertinya kalo revisinya di thread ini aja atau dibuat thread baru khusus untuk revisi, lebih bagus sih. Jadi bukan di thread intinya. Soalnya kayak di Majjhima Nikaya bagian 1 (lima puluh kotbah pertama), sepertinya kurang afdol aja. Saran aja sih... ;D
« Last Edit: 24 August 2010, 03:15:02 PM by Mayvise »

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #68 on: 24 August 2010, 03:12:43 PM »
Hanya mau bilang aja, sepertinya kalo revisinya di thread ini aja atau dibuat thread baru khusus untuk revisi, lebih bagus sih. Jadi bukan di thread intinya. Soalnya kayak di Majjhima Nikaya bagian 1 (lima puluh kotbah pertama), sepertinya kurang afdol aja. Saran aja sih... ;D

setuju, memang agak membingungkan pembaca sih, sampe gak jelas yg mana postingan ori dan mana yg hasil editan, tapi terserah pihak yg berwajib aja deh

Offline Hendra Susanto

  • Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.198
  • Reputasi: 205
  • Gender: Male
  • haa...
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #69 on: 24 August 2010, 03:51:09 PM »
pada dasarnya editan bentuknya tata bahasa indo. tp demi kenyamanan para pemirsa, baik akan saya pisah...

Offline Yumi

  • Sebelumnya snailLcy
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.353
  • Reputasi: 123
  • Gender: Female
  • Good morning, Sunshine..
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #70 on: 09 October 2010, 01:46:47 PM »
ko hendra, bbrp hr ini saya tdk bs ol DC melalui kompi, jd editing tdk bs dilanjutkan by posting. Biar ga mengulur wkt, saya email ko aja gmn?
Para bhikkhu, fajar berwarna kuning keemasan adalah pertanda awal terbitnya matahari.
Demikian pula, kesempurnaan sila adalah awal timbulnya Jalan Mulia Berunsur Delapan.
~Silasampada Sutta - Suryapeyyala~

Offline Hendra Susanto

  • Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.198
  • Reputasi: 205
  • Gender: Male
  • haa...
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #71 on: 11 October 2010, 08:55:08 AM »
ko hendra, bbrp hr ini saya tdk bs ol DC melalui kompi, jd editing tdk bs dilanjutkan by posting. Biar ga mengulur wkt, saya email ko aja gmn?

coba terus sampe bisa... ;D

Offline Yumi

  • Sebelumnya snailLcy
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.353
  • Reputasi: 123
  • Gender: Female
  • Good morning, Sunshine..
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #72 on: 15 February 2011, 11:14:52 PM »
[at]  ko indra/ko hendra,
sutta "76.  Sandaka Sutta: Kepada Sandaka" tolong dipost dunk..
Para bhikkhu, fajar berwarna kuning keemasan adalah pertanda awal terbitnya matahari.
Demikian pula, kesempurnaan sila adalah awal timbulnya Jalan Mulia Berunsur Delapan.
~Silasampada Sutta - Suryapeyyala~

Offline andry

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.118
  • Reputasi: 128
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #73 on: 16 April 2011, 12:50:31 PM »
MAHARAHULOVADA SUTTA

10. “Apakah, Rahula, elemen api itu? Elemen api bisa bersifat  internal atau eksternal. Apakah elemen api internal? Apa pun yang internal, ada pada diri sendiri, merupakan api, bersifat api, dan dilekati, yaitu, yang menyebabkan orang hangat, menua, dan termakan, dan yang melaluinya maka apa yang dimakan, diminum, dikonsumsi, dan dicicipi menjadi sepenuhnya tercerna, atau apa pun lainya yang apa pun lainnya yang internal, ada pada diri sendiri,merupakan api, bersifat api, dan dilekati: ini disebut elemen api internal. Baik elemen api internal maupun eksternal hanyalah elemen api semata. Dan itu seharusnya dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan yang benar demikian: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.” Jika orang melihatnya demikian sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan yang benar, maka orang itu menjadi tidak-tertarik pada elemen api dan membuat pikirannya tidak-bernafsu terhadap elemen api.

11. “Apakah, Rahula, elemen udara itu?  Elemen udara bisa bersifat  internal atau eksternal. Apakah elemen udara internal? Apa pun yang internal, ada pada diri sendiri, merupakan udara, bersifat udara, dan dilekati, yaitu, angin ke atas, angin ke bawah, angin di dalam perut, angin di dalam usus, angin yang bergerak di tangan dan kaki, nafas-masuk dan nafas-keluar, atau apa pun lainnya yang yang internal, ada apa diri sendiri,merupakan udara, bersifat udara, dan dilekati: ini disebut elemen udara internal. Baik elemen udara internal maupun eksternal hanyalah elemen udara semata. Dan itu seharusnya dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan yang benar demikian: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.” [423] Jika orang melihatnya demikian sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan yang benar, maka orang itu menjadi tidak-tertarik pada elemen udara dan membuat pikirannya tidak-bernafsu terhadap elemen udara.



adakah kawan2 yg dapat membantu
1. sehubungan dengan: elemen api.(yg di bold) adakah yg lebih memahami? agar bisa di terangkan dengan bahasa yang dapat saya mengerti

2. sehubungan dengan elemen udara (yg di bold), maksud konotasi [angin ke atas, angin ke bawah]
apakah angin pada konotasi harafiah? jadi sama dengan angin ke arah kiri- angin ke arah kanan ??

THX
Samma Vayama

Offline Yumi

  • Sebelumnya snailLcy
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.353
  • Reputasi: 123
  • Gender: Female
  • Good morning, Sunshine..
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #74 on: 04 May 2011, 01:12:11 PM »
adakah kawan2 yg dapat membantu
1. sehubungan dengan: elemen api.(yg di bold) adakah yg lebih memahami? agar bisa di terangkan dengan bahasa yang dapat saya mengerti

2. sehubungan dengan elemen udara (yg di bold), maksud konotasi [angin ke atas, angin ke bawah]
apakah angin pada konotasi harafiah? jadi sama dengan angin ke arah kiri- angin ke arah kanan ??

THX


[at]  kering,
sederhananya tubuh ini ibarat kompor yg bisa menghasilkan panas, makanan yg masuk mengalami proses oksidasi, dibakar sampai tersisa ampas berupa urin/tinja. kalo angin ke atas ke bawah terasa saat diafragma naik turun, nafas masuk dari hidung turun ke bawah, saat dihembuskan nafasnya keluar naik ke atas. begitu yg kupahami..  ;D



43  Mahāvedalla Sutta
Rangkaian panjang Tanya-Jawab

“Perbedaannya, teman, antara kebijaksanaan dan kesadaran, bahwa kondisi-kondisi ini tergabung, bukan terpisah, adalah: kebijaksanaan harus dikembangkan, kesadaran harus dipahami sepenuhnya.”

adakah yg bisa membantu saya memahami yg di bold biru?
Para bhikkhu, fajar berwarna kuning keemasan adalah pertanda awal terbitnya matahari.
Demikian pula, kesempurnaan sila adalah awal timbulnya Jalan Mulia Berunsur Delapan.
~Silasampada Sutta - Suryapeyyala~

Offline dhammadinna

  • Sebelumnya: Mayvise
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.626
  • Reputasi: 149
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #75 on: 14 November 2012, 09:19:13 AM »
saya liat, MN akan diterbitkan...

Majjhima Nikaya 18 (madhupindika sutta - khotbah bola madu)
http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,17327.0/message,278450.html

Quote
[...]
15. “Teman-teman, ketika Sang Bhagavā bangkit dari duduknya dan memasuki kediamanNya setelah memberikan ringkasan singkat tanpa menjelaskan maknanya secara terperinci, yaitu: ‘Para bhikkhu, sehubungan dengan sumber melalui mana persepsi dan gagasan [yang muncul dari] proliferasi pikiran yang menyerang seseorang: jika tidak ada apapun di sana yang menggembirakan, yang disambut dan digenggam, maka ini adalah akhir dari kecenderungan tersembunyi pada nafsu … ini adalah akhir dari penggunaan tongkat dan senjata … di sini kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat lenyap tanpa sisa,’ aku memahami maknanya secara terperinci sebagai berikut:

Spoiler: ShowHide
16. “Dengan bergantung pada mata dan bentuk-bentuk, maka muncul kesadaran-mata. Pertemuan ketiga ini adalah kontak. Dengan kontak sebagai kondisi maka ada perasaan. Apa yang ia rasakan, itulah yang ia kenali. [112] Apa yang ia kenali, itulah yang ia pikirkan. Apa yang ia pikirkan, itulah yang diproliferasikan oleh pikiran. Dengan apa yang ia proliferasikan secara pikiran sebagai sumber, persepsi dan gagasan [yang muncul dari] proliferasi pikiran menyerang seseorang sehubungan dengan bentuk-bentuk masa lampau, masa depan dan masa sekarang yang dikenali melalui mata.

“Dengan bergantung pada telinga dan suara-suara … Dengan bergantung pada hidung dan bau-bauan … Dengan bergantung pada lidah dan rasa kecapan … Dengan bergantung pada badan dan obyek-obyek sentuhan … Dengan bergantung pada pikiran dan obyek-obyek pikiran, maka muncul kesadaran-pikiran. Pertemuan ketiga ini adalah kontak. Dengan kontak sebagai kondisi maka ada perasaan. Apa yang ia rasakan, itulah yang ia kenali. Apa yang ia kenali, itulah yang ia pikirkan. Apa yang ia pikirkan, itulah yang diproliferasikan oleh pikiran. Dengan apa yang ia proliferasikan secara pikiran sebagai sumber, persepsi dan gagasan yang [muncul dari] proliferasi pikiran menyerang seseorang sehubungan dengan obyek-obyek pikiran masa lampau, masa depan dan masa sekarang yang dikenali melalui pikiran.

17. “Ketika ada mata, bentuk, dan kesadaran-mata, maka adalah mungkin untuk menunjukkan manifestasi kontak.  Ketika ada manifestasi kontak, maka adalah mungkin untuk menunjukkan manifestasi perasaan. Ketika ada manifestasi perasaan, maka adalah mungkin untuk menunjukkan manifestasi persepsi. Ketika ada manifestasi persepsi, maka adalah mungkin untuk menunjukkan manifestasi pemikiran. Ketika ada manifestasi pemikiran, maka adalah mungkin untuk menunjukkan manifestasi penyerangan oleh persepsi dan gagasan [yang muncul dari] proliferasi pikiran.

“Ketika ada telinga, suara, dan kesadaran-telinga … Ketika ada hidung, bau-bauan, dan kesadaran-hidung … Ketika ada lidah, rasa kecapan, dan kesadaran-lidah … Ketika ada badan, obyek sentuhan, dan kesadaran-badan … Ketika ada pikiran, obyek pikiran, dan kesadaran-pikiran … adalah mungkin untuk menunjukkan manifestasi penyerangan oleh persepsi dan gagasan [yang muncul dari] proliferasi pikiran.

18. “Ketika tidak ada mata, tidak ada bentuk, dan tidak ada kesadaran-mata, maka adalah tidak mungkin untuk menunjukkan manifestasi kontak. Ketika tidak ada manifestasi kontak, maka adalah tidak mungkin untuk menunjukkan manifestasi perasaan. Ketika tidak ada manifestasi perasaan, maka adalah tidak mungkin untuk menunjukkan manifestasi persepsi. Ketika tidak ada manifestasi persepsi, maka adalah tidak mungkin untuk menunjukkan manifestasi pemikiran. Ketika tidak ada manifestasi pemikiran, maka adalah tidak mungkin untuk menunjukkan manifestasi penyerangan oleh persepsi dan gagasan [yang muncul dari] proliferasi pikiran.

[...]

kata "proliferasi", tolong dicantumkan pengertiannya menurut KBBI di catatan kaki ya, karena kata itu tidak umum (biar pembaca lebih ngerti).

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #76 on: 14 November 2012, 11:12:16 AM »
saya liat, MN akan diterbitkan...

Majjhima Nikaya 18 (madhupindika sutta - khotbah bola madu)
http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,17327.0/message,278450.html

kata "proliferasi", tolong dicantumkan pengertiannya menurut KBBI di catatan kaki ya, karena kata itu tidak umum (biar pembaca lebih ngerti).

kata ini memang sudah dijelaskan dalam catatan kaki

169) Proliferasi (papañca), menurut MA, ini adalah aktivitas pikiran yang diatur oleh keinginan dan pandangan. Penjelasan lebih lanjut sehubungan dengan kata penting ini, baca n.229.


229) Interpretasi atas paragraf yang tersamar ini berpusat pada kata papañca dan kata majemuk papañca-saññā-sankhā. Ñm menerjemahkan papañca sebagai “keberagaman” dan papañca-saññā-sankhā sebagai “perhitungan mengenai persepsi keberagaman.” Akan tetapi, sepertinya persoalan utama yang ditunjukkan dengan kata papañca bukanlah “keberagaman,” yang mungkin cukup sesuai jika bidang indria itu sendiri memperlihatkan keragaman, tetapi kecenderungan imajinasi kaum duniawi untuk meledak dalam pencurahan komentar pikiran yang menghalangi pengenalan data. Dalam suatu pembahasan penembusan, Concept and Reality in Early Buddhism, Bhiikhu Ñāṇananda menjelaskan papañca sebagai “proliferasi konseptual,” dan saya mengikutinya dengan menggantikan “keberagaman” dari Ñm menjadi “proliferasi”. Komentar mengidentifikasikan timbulnya proliferasi ini sebagai tiga faktor – keinginan, keangkuhan, dan pandangan – yang karenanya pikiran menjadi “membubuhi” pengalaman dengan meginterpretasikannya dengan sebutan “milikku,” “aku,” dan “diriku.” Papañca dengan demikian adalah berhubungan dekat dengan maññanā, “menganggap,” dalam MN 1 – baca n.6.

Kata majemuk papañca-saññā-sankhā lebih rumit. YM Ñāṇananda menginterpretasikannya sebagai “konsep-konsep yang dikarakteristikkan oleh pikiran yang cenderung berkembang,” tetapi penjelasan ini masih belum memasukkan kata saññā. MA mengemas sankhā dengan koṭṭhāsa, “bagian,” dan mengatakan bahwa saññā adalah persepsi yang berhubungan dengan papañca ataupun papañca itu sendiri. Saya sependapat dengan Ñāṇananda dalam menganggap sankhā lebih sebagai berarti konsep atau gagasan (“Perhitungan” dari Ñm adalah terlalu literal) daripada bagian. Keputusan saya memperlakukan saññā-sankhā sebagai kata majemuk dvanda, “persepsi dan gagasan,” mungkin akan dipertanyakan, tetapi karena ungkapan saññā-sankhā jarang muncul dalam Kanon dan tidak pernah dianalisa secara verbal, maka tidak ada terjemahan yang benar-benar melampaui keragu-raguan. Pada Interpretasi alternatif dari komponennya, ungkapan itu mungkin dapat diterjemahkan “gagasan-gagasan [yang muncul dari] proliferasi persepsi” atau “gagagasan-gagasan persepsi [yang muncul dari] proliferasi.”

Lanjutannya akan menjelaskan bahwa proses kognisi itu sendiri adalah “sumber yang melaluinya persepsi dan gagasan [yang timbul dari] proliferasi pikiran menyerang seseorang.” Jika dalam proses kognisi tersebut tidak ada yang disenangi, disambut, atau digenggam, maka kecenderungan tersembunyi pada kekotoran-kekotoran akan berakhir.

Offline dhammadinna

  • Sebelumnya: Mayvise
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.626
  • Reputasi: 149
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #77 on: 14 November 2012, 01:04:49 PM »
^ ^ ^ oo uda ada toh... detil banget... Dulu saya cari arti kata "proliferasi" di KBBI:
 
pro·li·fe·ra·si n Bio 1 pembiakan yg subur; 2 perbanyakan bentuk yg sama, terutama sel dan kista yg abnormal; 3 pertumbuhan dan pertambahan sel yg sangat cepat (dl keadaan abnormal)

yang saya tangkap, ya artinya berkembangnya pemikiran (dengan sangat cepat dan banyak). Kalo baca catatan kaki di atas, saya malah agak bingung, mungkin karena saking detilnya. Kening sampe agak berkerut bacanya ;D

Dan saya tetap mengusulkan untuk mencantumkan catetan kaki tambahan (dari KBBI) di bagian bawah halaman tersebut (selain catatan kaki di belakang buku seperti biasa)..
« Last Edit: 14 November 2012, 01:18:44 PM by dhammadinna »

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #78 on: 14 November 2012, 02:17:13 PM »
kalo terjemahannya diambil dari KBBI, nanti pembaca malah makin bingung,, "Pembiakan yang subur???" ;D
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #79 on: 20 January 2013, 07:42:56 PM »
Sepertinya sebelumnya udah ada beberapa perbaikan yang sama, entah belum di update lagi atau bagaimana.
Teksnya saya ambil dari http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,17327.0.html.

Kelompok Khotbah Tentang Akar (Mūlapariyāyavagga)

3  Dhammadāyāda Sutta - Pewaris dalam Dhamma
Spoiler: ShowHide
Quote
2. “Para bhikkhu, jadilah pewarisKu dalam Dhamma, bukan pewarisKu dalam benda-benda materi. Demi belas kasihKu kepada kalian Aku berpikir: ‘Bagaimanakah agar para siswaKu dapat menjadi pewarisKu dalam Dhamma, bukan pewarisKu dalam benda-benda materi?’ Jika kalian menjadi pewarisKu dalam benda-benda materi, bukan menjadi pemwarisKu dalam Dhamma, maka kalian akan dicela sebagai berikut: ‘para siswa Sang Guru hidup sebagai pewarisNya dalam benda-benda materi, bukan sebagai pewaris dalam Dhamma’; dan Aku akan dicela sebagai berikut: ‘para siswa Sang Guru hidup sebagai pewarisNya dalam benda-benda materi, bukan sebagai pewarisNya dalam Dhamma.’
"P" kapital, kelebihan huruf 'm'.

Quote
3. “Sekarang, para bhikkhu, misalkan aku telah makan, menolak makanan tambahan, sudah kenyang, selesai, sudah cukup, telah memakan apa yang Kubutuhkan, dan ada makanan tersisa dan akan dibuang. Kemudian dua orang bhikkhu tiba [13] lapar dan lemah, dan Aku berkata kepada mereka: ‘Para bhikkhu, aku telah makan … telah memakan apa yang Kubutuhkan, tetapi masih ada makanan tersisa dan akan dibuang. ....
"A" kapital.

Quote
5. “Teman-teman, dalam cara bagaimanakah para siswa Sang Guru yang hidup terasing tidak berlatih dalam keterasingan? Dan dalam cara bagaimanakah para siswa Sang Guru yang hidup terasing berlatih dalam keterasingan?”

“Sesungguhnya, teman, kami datang dari jauh untuk mempelajari makna pernyataan ini dari Yang Mulia Sāriputta. Baik sekali jika Yang Mulia Sāriputta sudi menjelaskan makna pernyataan ini. Setelah mendengarkannya darinya para bhikkhu akan mengingatnya.”

“Maka, teman-teman, dengarkan dan perhatikanlah pada apa yang akan kukatakan.”
lebih enak bacanya kalo tanpa kata 'pada'.


4  Bhayabherava Sutta - Kekhawatiran dan Ketakutan
Spoiler: ShowHide
Quote
2. Kemudian Brahmana Jāṇussoṇi  mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan Beliau. Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi dan berkata: “Guru Gotama, ketika para anggota keluarga meninggalkan kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah karena berkeyakinan pada Guru Gotama, apakah mereka mereka menjadikan Guru Gotama sebagai pemimpin mereka, penolong mereka, dan penuntun mereka? Dan apakah orang-orang ini mengikuti teladan Guru Gotama?”

Quote
35. “Tentu saja, adalah karena Guru Gotama adalah seorang yang sempurna, seorang Yang Tercerahkan Sepenuhnya, maka Beliau berbelas kasihan pada generasi mendatang. [24] Menakjubkan, Guru Gotama! Menakjubkan, Guru Gotama! Guru Gotama telah menjelaskan Dhamma dalam berbagai cara, bagaikan menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan pada mereka yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan agar mereka yang memiliki penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Aku berlindung pada Guru Gotama dan ,pada Dhamma dan pada Sangha para bhikkhu. Sejak hari ini sudilah Guru Gotama mengingatku sebagai seorang pengikut awam yang telah menerima perlindungan dari Beliau seumur hidupku.”
kalo bisa kata "dan" nya diganti dengan tanda "koma" aja.


5  Anangaṇa Sutta - Tanpa Noda
Spoiler: ShowHide
Quote
11. “Adalah mungkin bahwa seorang bhikkhu di sini berkehendak: ‘Jika aku melakukan pelanggaran. Para bhikkhu sebaiknya menegurku secara pribadi, bukan di tengah-tengah Saṅgha.’ Dan adalah mungkin bahwa para bhikkhu menegur bhikkhu itu di tengah-tengah Saṅgha, dan bukan secara pribadi. Sehingga ia menjadi marah dan tidak senang: ‘Para bhikkhu menegurku di tengah-tengah Saṅgha, bukan secara pribadi’(.) Kemarahan dan ketidak-senangan itu keduanya adalah noda.
tanda titiknya kurang.

Quote
31. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Mahā Moggallāna berkata kepada Yang Mulia Sāriputta: “Sebuah perumpamaan terpikirkan olehku, Sahabat Sāriputta.” – “Katakanlah, Sahabat Moggallāna.” – “Pada suatu ketika, Sahabat, aku sedang menetap di Bukit Benteng di Rājagaha. Pada suatu pagi, Aku merapikan jubah, dan dengan membawa mangkuk dan jubah luarku, Aku memasuki Rājagaha untuk menerima dana makanan. Pada saat itu Samīti si putera pembuat kereta sedang menghaluskan bagian lingkaran roda dan Ājīvaka Paṇḍuputta, putera pembuat kereta sebelumnya, berdiri di dekat sana. kemudian pemikiran ini muncul dalam pikiran Ājīvaka Paṇḍuputta: .....
"K" kapital.

Quote
32. “Demikian pula, Sahabat, ada orang-orang yang tidak berkeyakinan dan telah meninggalkan kehidupan rumah tangga untuk menjalani kehidupan tanpa rumah bukan karena keyakinan melainkan untuk mencari penghidupan, yang curang, pendusta, pengkhianat, angkuh, kosong, pongah, berbicara kasar, berbicara lepas, indria-indria yang tidak terjaga, makan berlebihan, tidak menekuni keawasan, mengabaikan pertapaan, tidak menghargai latihan, hidup mewah, lengah, pemimpin dalam kemunduran, melalaikan keterasingan, malas, kekurangan kegigihan, tidak penuh perhatian, tidak penuh kewaspadaan, tanpa kebijaksanaan, bodoh dengan air liur menetes. Yang Mulia Sāriputta dengan khotbahnya tentang Dhamma menghaluskan cacat-cacat mereka seolah-oleh ia mengetahui pikiranku dengan pikirannya!
salah ketik "seolah-olah".


6  Ākankheyya Sutta - Jika Seorang Bhikkhu Menghendaki
Spoiler: ShowHide
Quote
14. “Jika seorang bhikkhu menghendaki:  ‘Semoga aku mampu mengerahkan berbagai jenis kekuatan batin: dari satu menjadi banyak; dari banyak menjadi satu, semoga aku muncul dan lenyap; semoga aku mampu bepergian tanpa terhalangi oleh dinding, menembus tembok, menembus gunung seolah-olah menembus ruang kosong; semoga aku mampu menyelam masuk dan keluar dari tanah seolah-olah di dalam air; semoga aku mampu berjalan di atas air tanpa tenggelam seolah-olah di atas tanah; duduk bersila, semoga aku mampu bepergian di angkasa seperti burung; dengan tanganku semoga aku mampu menyentuh dan menepuk bulan dan matahari begitu kuat dan perkasa; semoga aku mampu mengerahkan kekuatan jasmani, hingga sejauh alam-Brahma,’ maka ia harus memenuhi aturan-aturan …
Sepertinya "Alam Brahma", tapi agak ragu.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama geografi yang diikuti nama diri geografi.


7  Vatthūpama Sutta - Perumpamaan Kain
Spoiler: ShowHide
Quote
14-16. “Ia berdiam dengan melingkupi satu arah dengan pikiran belas kasihan … dengan pikiran kegembiraan altruistis … dengan pikiran seimbang,  demikian pula  arah ke dua, demikian pula arah ke tiga, demikian pula arah ke empat; demikian pula ke atas, ke bawah, ke sekeliling, dan ke segala penjuru, dan kepada semua makhluk seperti kepada dirinya sendiri, ia berdiam dengan melingkupi seluruh dunia dengan pikiran seimbang, berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa permusuhan dan tanpa niat buruk.
Awalan "ke-" tidak dipisah pada bilangan yang menyatakan jumlah dan pada bilangan ordinal. Misalnya: Keempat anak tersebut sedang bersenang-senang. Ia adalah anak kesatu.


8  Sallekha Sutta - Pemurnian
Spoiler: ShowHide
Quote
4. “Adalah mungkin di sini, Cunda, bahwa dengan cukup terasing dari kenikmatan-kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan kegembiraan dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Ia mungkin berpikir bahwa: ‘Aku berdiam dalam pemurnian.’ Tetapi bukan pencapaian-pencapaian ini yang disebut ‘pemurnian’ dalam Disiplin Yang Mulia: ini disebut ‘kediaman yang menyenangkan di sini dan saat ini’ [41] dalam Disiplin Yang Mulia.
imo, "Disiplin yang Mulia"
kalo "Disiplin Yang Mulia" pas baca kesannya seperti Disiplin Sang Buddha. Yang Mulia = panggilan untuk Sang Buddha oleh para bhikkhu.

Quote
13. “Cunda, Aku katakan bahwa bahkan kecondongan pikiran pada kondisi-kondisi bermanfaat adalah bermanfaat besar, apalagi tindakan-tindakan perbuatan dan ucapan yang selaras [dengan keadaan pikiran demikian]?  Oleh Karena itu, Cunda:
"k" tidak kapital.

Quote
14. “Cunda, misalkan terdapat jalan setapak yang tidak rata dan ada jalan setapak lainnya yang rata untuk menghindari jalan setapak yang tidak rata; dan misalkan terdapat penyeberangan yang tidak rata dan ada penyeberangan lain yang rata untuk menghindari penyeberangan yang tidak rata. [44] demikian pula:
"D" kapital.

Quote
16. “Cunda, bahwa seseorang yang tenggelam dalam lumpur harus menarik seorang lainnya yang tenggelam dalam lumpur adalah tidak mungkin; bahwa seseorang yang tidak tenggelam dalam lumpur harus menarik seorang lainnya yang tenggelam dalam lumpur adalah mungkin. Bahwa seorang yang tidak jinak, tidak disiplin, [dengan kekotoran] belum padam, harus menjinakkan orang lain, mendisiplinkannya, dan membantunya memadamkan [kekotorannya] adalah tidak mungkin; Bahwa seorang yang jinak,  disiplin, [dengan kekotoran] telah padam, harus menjinakkan orang lain, mendisiplinkannya, dan membantunya memadamkan [kekotorannya] adalah mungkin.  Demikian pula:
struktur kalimatnya lebih enak kalau begini:
"Cunda, adalah tidak mungkin bahwa seseorang yang tenggelam dalam lumpur harus menarik seorang lainnya yang tenggelam dalam lumpur; adalah mungkin bahwa .... "


9  Sammādiṭṭhi Sutta - Pandangan Benar
Spoiler: ShowHide
Quote
2. “’Seorang yang berpandangan benar, seorang yang berpandangan benar,’ dikatakan, teman-teman. Dalam cara bagaimanakah seorang siswa mulia berpandangan benar, yang pandangannya lurus, yang memiliki keyakinan sempurna dalam Dhamma, dan telah sampai pada Dhamma sejati?”

“Sesungguhnya, teman, kami datang dari jauh untuk mempelajari makna pernyataan ini dari Yang Mulia Sāriputta. Baik sekali jika Yang Mulia Sāriputta sudi menjelaskan makna pernyataan ini. Setelah mendengarkannya darinya para bhikkhu akan mengingatnya.”
jika "nya" menunjuk pada Yang Mulia Sāriputta, maka penggunaan kata ganti "nya" tersebut kurang cocok.
karna seolah-olah menunjuk pada orang lain diluar percakapan itu.
lebih baik jika tetap ditulis "Setelah mendengarnya dari Yang Mulia Sāriputta, para bhikkhu akan mengingatnya."

Quote
11. “Dan apakah makanan, apakah asal-mula makanan, apakah lenyapnya makanan, apakah jalan menuju lenyapnya makanan? Ada empat jenis makanan untuk memelihara makhluk-makhluk yang telah terlahir dan untuk menyokong mereka yang mencari kehidupan baru. Apakah empat ini? Yaitu: makanan fisik sebagai makanan, kasar atau halus; kontak sebagai yang ke dua; kehendak pikiran sebagai yang ke tiga; dan kesadaran sebagai yang ke empat.  Dengan munculnya keinginan maka muncul pula makanan. Dengan lenyapnya keinginan maka lenyap pula makanan. Jalan menuju lenyapnya makanan adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan ini; yaitu, pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar.
"kedua", "ketiga", "keempat", disambung.
« Last Edit: 20 January 2013, 07:52:55 PM by hemayanti »
"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #80 on: 21 January 2013, 09:37:39 PM »
Kelompok Khotbah Tentang Akar (Mūlapariyāyavagga)

tentang penulisan judulnya
Quote
1  Mūlapariyāya Sutta  - Akar Segala Sesuatu
2  Sabbāsava Sutta  -  Segala Noda
3  Dhammadāyāda Sutta  -  Pewaris dalam Dhamma
4  Bhayabherava Sutta  -  Kekhawatiran dan Ketakutan
5  Anangaṇa Sutta  -  Tanpa Noda
6  Ākankheyya Sutta  -  Jika Seorang Bhikkhu Menghendaki
7  Vatthūpama Sutta  -  Perumpamaan Kain
8  Sallekha Sutta  -  Pemurnian
9  Sammādiṭṭhi Sutta  -  Pandangan Benar
10  Satipaṭṭhāna Sutta  -  Landasan-landasan Perhatian
Spoiler: ShowHide
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam judul buku, majalah, surat kabar, dan makalah, kecuali kata tugas seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.
Misalnya:
Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.
Dia adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan.
Ia menyelesaikan makalah "Asas-Asas Hukum Perdata".
"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.850
  • Reputasi: 268
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #81 on: 25 January 2013, 06:41:02 PM »
3  Dhammadāyāda Sutta - Pewaris dalam Dhamma
Spoiler: ShowHide
"P" kapital, kelebihan huruf 'm'.
"A" kapital.
lebih enak bacanya kalo tanpa kata 'pada'.

Memang tidak mengubah makna, tapi menggunakan 'pada' agar lebih konsisten dengan buku aslinya.

Quote
4  Bhayabherava Sutta - Kekhawatiran dan Ketakutan
Spoiler: ShowHide
kalo bisa kata "dan" nya diganti dengan tanda "koma" aja.

Sama juga, buku asli memakai "Buddha ... and Dhamma ... and Sangha ..."

Quote
6  Ākankheyya Sutta - Jika Seorang Bhikkhu Menghendaki
Spoiler: ShowHide
Sepertinya "Alam Brahma", tapi agak ragu.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama geografi yang diikuti nama diri geografi.

Bukan "Alam-Brahma" karena "Brahma" di sini bukan tempat spesifik, sama seperti misalnya 'sarang macan' juga bisa menunjukkan letak geografis tertentu tapi bukan nama spesifik. "Brahma" sendiri pakai kapital karena memang merujuk pada sosok yang dimuliakan.

Quote
7  Vatthūpama Sutta - Perumpamaan Kain
Spoiler: ShowHide
Awalan "ke-" tidak dipisah pada bilangan yang menyatakan jumlah dan pada bilangan ordinal. Misalnya: Keempat anak tersebut sedang bersenang-senang. Ia adalah anak kesatu.

"Keempat anak tersebut sedang bersenang-senang." < benar
"Ia adalah anak ke satu." < seharusnya


Quote
8  Sallekha Sutta - Pemurnian
Spoiler: ShowHide
imo, "Disiplin yang Mulia"
kalo "Disiplin Yang Mulia" pas baca kesannya seperti Disiplin Sang Buddha. Yang Mulia = panggilan untuk Sang Buddha oleh para bhikkhu.
[/quote]
Di sini memang tidak bermakna "Mulia" menjelaskan "Disiplin" ("Disiplin yang Mulia"), namun merujuk pada "Disiplin" yang dijalankan oleh "Yang Mulia" (para ariya), jadi memang dibiarkan "Disiplin Yang Mulia".


Quote
struktur kalimatnya lebih enak kalau begini:
"Cunda, adalah tidak mungkin bahwa seseorang yang tenggelam dalam lumpur harus menarik seorang lainnya yang tenggelam dalam lumpur; adalah mungkin bahwa .... "

Kasus yang sama, penerjemahan ini berusaha 'setia' pada gaya bahasa yang digunakan oleh buku asli, jadi meminimalisasi perubahan struktur kecuali jika memang keterbatasan tata bahasa berpotensi pada pergeseran makna.

Quote
9  Sammādiṭṭhi Sutta - Pandangan Benar
[spoiler]jika "nya" menunjuk pada Yang Mulia Sāriputta, maka penggunaan kata ganti "nya" tersebut kurang cocok.
karna seolah-olah menunjuk pada orang lain diluar percakapan itu.
lebih baik jika tetap ditulis "Setelah mendengarnya dari Yang Mulia Sāriputta, para bhikkhu akan mengingatnya."
Sama seperti kasus di atas. "Having heard it from him ..."

:jempol:

Terusin yah, sis hema. Lumayan nih tambahan 'mata'. ;D


3  Dhammadāyāda Sutta  -  Pewaris dalam Dhamma
"Dalam" di sini juga diterjemahkan dari "in", jadi termasuk kata depan.
« Last Edit: 25 January 2013, 06:43:54 PM by Kainyn_Kutho »

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #82 on: 25 January 2013, 07:29:52 PM »
"Keempat anak tersebut sedang bersenang-senang." < benar
"Ia adalah anak ke satu." < seharusnya
nah yang ini jujur saya juga masih ragu om, tapi dari referensi hasil googling kemarin ketemunya begitu.  ;D
mungkin om kainyn punya referensi lain yang bisa dijadikan acuan. :)

Quote
Sama seperti kasus di atas. "Having heard it from him ..."
tapi "him" disini kan mengacu pada YM. Sariputta om, jadi IMO gak ada salahnya kalo diganti jadi YM. Sariputta. :)

Quote
3  Dhammadāyāda Sutta  -  Pewaris dalam Dhamma
"Dalam" di sini juga diterjemahkan dari "in", jadi termasuk kata depan.
nah ini juga, direferensi hanya tertulis:
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam judul buku, majalah, surat kabar, dan makalah, kecuali kata tugas seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.

saya biasanya lihat disini om : http://id.wikisource.org/wiki/Pedoman_Umum_Ejaan_Bahasa_Indonesia_yang_Disempurnakan
"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #83 on: 25 January 2013, 08:35:31 PM »
Kelompok Auman Singa (Sīhanādavagga)

11  Cūḷasīhanāda Sutta (Khotbah pendek tentang Auman Singa)
Spoiler: ShowHide
Quote
2. “Para bhikkhu, hanya di sini terdapat seorang petapa, hanya di sini terdapat petapa ke dua, hanya di sini terdapat petapa ke tiga, hanya di sini terdapat petapa ke empat. Doktrin-doktrin dari yang lain adalah kosong [64] dari petapa: itu adalah bagaimana kalian dapat dengan benar mengaumkan auman singa kalian.

3. “Adalah mungkin, para bhikkhu, bahwa para pengembara sekte lain menanyakan: ‘Tetapi atas kekuatan [argumen] apakah atau dengan dukungan [otoritas] apakah Yang Mulia berkata demikian?’ Para petapa sekte lain yang bertanya demikian dapat dijawab dengan cara ini: ‘Teman-teman, empat hal telah dinyatakan kepada kami oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna; setelah melihat hal ini dalam diri kami, kami mengatakan: “hanya di sini terdapat seorang petapa, hanya di sini terdapat petapa ke dua, hanya di sini terdapat petapa ke tiga, hanya di sini terdapat petapa ke empat. Doktrin-doktrin dari yang lain adalah kosong dari petapa.”  .....
disimpan dulu sebelum dapat referensi yang baru.

Quote
5. “Para pengembara dari sekte lain yang bertanya demikian dapat dijawab seperti ini: ‘Bagaimanakah, teman-teman, apakah tujuannya satu atau banyak?’ jika menjawab dengan benar, maka para pengembara dari sekte lain akan menjawab: ‘Teman-teman, tujuannya adalah satu bukan banyak.’ .....
‘Tetapi, teman-teman, apakah tujuan itu untuk seorang yang bergembira dan menikmati proliferasi, atau untuk seorang yang tidak bergembira dalam dan tidak menikmati proliferasi?’ Jika menjawab dengan benar, maka para pengembara dari sekte lain akan menjawab: ‘Teman-teman, tujuan itu adalah untuk seorang yang tidak bergembira dalam dan tidak menikmati proliferasi, bukan untuk seorang yang menyenangi dan menikmati proliferasi.’
lebih enak kalau :
‘Tetapi, teman-teman, apakah tujuan itu untuk seorang yang bergembira dan menikmati proliferasi, atau untuk seorang yang tidak bergembira dalam proliferasi dan tidak menikmatinya?’ Jika menjawab dengan benar, maka para pengembara dari sekte lain akan menjawab: ‘Teman-teman, tujuan itu adalah untuk seorang yang tidak bergembira dalam proliferasi dan tidak menikmatinya, bukan untuk seorang yang menyenangi dan menikmatinya.’
kecuali jika tetap ingin mempertahankan sesuai teks aslinya, tapi selama tidak mengubah makna menurutku sih gpp. ;D

Quote
14. “Para bhikkhu, ketika seorang Tathāgata, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, mengaku mampu mengemukakan pemahaman penuh atas segala jenis kemelekatan, Beliau secara lengkap menggambarkan pemahaman penuh atas segala jenis kemelekatan: beliau menggambarkan pemahaman penuh atas kemelekatan pada kenikmatan indria, kemelekatan pada pandangan, kemelekatan pada ritual dan upacara, dan kemelekatan pada doktrin diri.


12  Mahāsīhanāda Sutta (Khotbah panjang tentang Auman Singa)
Spoiler: ShowHide
Quote
2. Pada saat itu Sunakkhatta, putera Licchavi, baru saja meninggalkan Dhamma dan Disiplin ini.  Ia mengemukakan pernyataan di hadapan sekumpulan penduduk Vesālī: “Petapa Gotama tidak memiliki kondisi yang melampaui manusia, tidak memiliki keluhuran dalam hal pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia.  Petapa Gotama mengajarkan Dhamma [hanya sekadar] menggunakan logika, mengikuti jalur pencarianNya sendiri saat muncul dalam diriNya, dan ketika Beliau mengajarkan Dhamma kepada orang lain, Dhamma itu menuntunnya ,jika ia mempraktikkannya, menuju kehancuran total penderitaan.”

3. Kemudian, pada pagi harinya, Yang Mulia Sāriputta merapikan jubah, dan dengan membawa mangkuk dan jubah luarnya, memasuki Vesālī untuk menerima dana makanan. Kemudian ia mendengar Sunakkhatta, putera Licchavi, mengemukakan pernyataan di hadapan sekumpulan penduduk Vesālī. Ketika ia telah menerima dana makanan dan telah kembali dari perjalanan itu, setelah makan, ia menghadap Sang Bhagavā, dan setelah bersujud, ia duduk di satu sisi dan memberitahu Sang Bhagavā tentang apa yang dikatakan oleh Sunakkhatta.
seharusnya "putra" bukan "putera.
put·ra n 1 anak laki-laki raja; 2 anak kandung; 3 anak laki-laki; 4 khusus (untuk) laki-laki: ia menjadi juara untuk lomba lari 100 m --;
tanda komanya salah posisi. ;D


Quote
4. [Sang Bhagavā berkata:] “Sāriputta, orang sesat Sunakkhatta sedang marah dan kata-katanya diucapkan karena marah. Dengan berniat untuk mendiskreditkan Sang Tathāgata, sebaliknya ia malah memuji Beliau; [69] karena adalah pujian terhadap Sang Tathāgata dengan mengatakan tentang Beliau: ‘Ketika Beliau mengajarkan Dhamma kepada orang lain, Dhamma itu menuntunnya, jika ia mempraktikkannya, menuju kehancuran total penderitaan.’
kata yang tidak umum, kecuali ada tambahan catatan kakinya.

Quote
6. “Dan ia tidak akan pernah berpendapat tentangKu sesuai dengan Dhamma: ‘Bahwa Sang Bhagavā menikmati berbagai jenis kekuatan batin: dari satu Beliau menjadi banyak; dari banyak Beliau menjadi satu, Beliau muncul dan lenyap; Beliau bepergian tanpa terhalangi oleh dinding, menembus tembok, menembus gunung seolah-olah menembus ruang kosong; Beliau menyelam masuk dan keluar dari tanah seolah-olah di dalam air; Beliau berjalan di atas air tanpa tenggelam seolah-olah di atas tanah; duduk bersila, Beliau bepergian di angkasa seperti burung; dengan tanganNya Beliau menyentuh dan menepuk bulan dan matahari begitu kuat dan perkasa; Beliau mengerahkan kekuatan jasmani, hingga sejauh
.....

30. “Aku ingat pernah mendekati ratusan kelompok para mulia … ratusan kelompok para brahmana … ratusan kelompok para perumah tangga … ratusan kelompok para petapa … ratusan kelompok para dewa di alam surga Empat Raja Dewa … ratusan kelompok para dewa di alam surga Tiga Puluh Tiga, … ratusan kelompok para pengikut Māra … ratusan  kelompok para Brahmā. Dan Aku pernah duduk bersama mereka di sana dan berbicara dengan mereka dan berbincang-bincang dengan mereka, namun Aku melihat tidak ada dasar untuk berpikir bahwa ketakutan atau rasa segan akan menghampiriKu. Dan melihat tidak adanya dasar untuk itu, Aku berdiam dengan aman, tanpa ketakutan, dan dengan berani. [73]alam-Brahma.’
sama seperti penjelasan dibagian 1, jika memang surga termasuk nama geografi.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama geografi yang diikuti nama diri geografi.

Quote
36. (2) “Aku memahami alam binatang, dan jalan dan cara yang mengarah menuju alam binatang. Dan Aku juga memahami bagaimana seseorang yang telah memasuki jalan ini akan, setelah hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul kembali di alam binatang.
"akan" nya pindah kebelakang aja:
(2) “Aku memahami alam binatang, dan jalan dan cara yang mengarah menuju alam binatang. Dan Aku juga memahami bagaimana seseorang yang telah memasuki jalan ini, setelah hancurnya jasmani, setelah kematian, akan muncul kembali di alam binatang.

Quote
36. (6) “Aku memahami Nibbāna, dan jalan dan cara yang mengarah menuju NIbbāna. [74] Dan Aku juga memahami bagaimana seseorang yang telah memasuki jalan ini akan, dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, di sini dan saat ini masuk dan berdiam dalam kebebasan pikiran dan kebebasan melalui kebijaksanaan yang tanpa noda dengan hancurnya noda-noda
tanda titik diakhir kalimatnya hilang.

posisi kata "akan" disana terlihat menggantung.
sama seperti yang sebelumnya, mungkin lebih baik:
(6) “Aku memahami Nibbāna, dan jalan dan cara yang mengarah menuju NIbbāna. [74] Dan Aku juga memahami bagaimana seseorang yang telah memasuki jalan ini, dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, di sini dan saat ini akan masuk dan berdiam dalam kebebasan pikiran dan kebebasan melalui kebijaksanaan yang tanpa noda dengan hancurnya noda-noda.
tapi "akan masuk" juma kedengaran agak rancu.  :-?
terserah deh, mana bagusnya.

Quote
45. “Beginilah pertapaanKu, Sāriputta, bahwa Aku bepergian dengan telanjang, menolak kebiasaan-kebiasaan, menjilat tanganKu, tidak datang ketika dipanggil, tidak berhenti ketika diminta; Aku tidak menerima makanan yang dibawa atau makanan yang secara khusus dipersiapkan atau suatu undangan makan; Aku tidak menerima dari kendi, dari mangkuk, melintasi ambang pintu, terhalang tongkat kayu, terhalang alat penumbuk, dari dua orang yang sedang makan bersama, dari perempuan hamil, dari perempuan yang sedang menyusui, dari perempuan yang sedang berbaring bersama laki-laki, dari mana terdapat pengumuman pembagian makanan, dari mana seekor anjing sedang menunggu, dari mana lalat beterbangan; Aku tidak menerima ikan atau daging, Aku tidak meminum minuman keras, anggur, atau minuman fermentasi. Aku mendatangi satu rumah, satu suap; aku mendatangi dua [78] rumah, dua suap; … Aku mendatangi tujuh rumah, tujuh suap. Aku makan satu mangkuk sehari, dua mangkuk sehari … tujuh mangkuk sehari; Aku makan sekali dalam sehari, sekali dalam  dua hari … sekali dalam tujuh hari, dan seterusnya hingga sekali setiap dua minggu; aku berdiam menjalani praktik makan pada interval waktu yang telah ditentukan.
kalo mau, kata "interval" bisa diganti dengan "jangka".

Quote
52.  “Sāriputta, ada petapa dan brahmana tertentu yang doktrin dan pandangannya seperti ini: ‘Pemurnian muncul melalui makanan.’  Mereka mengatakan: ‘Ayo kita hidup dari memakan buah kola,’ dan mereka memakan buah kola, mereka memakan tepung kola, mereka meminum air buah kola, dan mereka membuat berbagai jenis ramuan buah kola. Sekarang Aku ingat pernah memakan satu buah kola sehari. Sāriputta, engkau mungkin berpikir bahwa buah kola pada masa itu lebih besar, namun engkau tidak boleh menganggapnya demikian; buah kola pada masa itu berukuran sama seperti sekarang. Karena memakan satu buah kola sehari, tubuhKu menjadi sangat kurus. Karena makan begitu sedikit anggota-anggota tubuhku menjadi seperti tanaman merambat atau batang bambu. Karena makan begitu sedikit punggungku menjadi seperti kuku unta. Karena makan begitu sedikit tonjolan tulang punggungku menonjol bagaikan untaian tasbih. Karena makan begitu sedikit tulang rusukKu menonjol karena kurus seperti kasau dari sebuah lumbung tanpa atap. Karena makan begitu sedikit bola mataKu masuk jauh ke dalam lubang mata, terlihat seperti kilauan air yang jauh di dalam sumur yang dalam. Karena makan begitu sedikit kulit kepalaKu mengerut dan layu bagaikan buah labu pahit yang mengerut dan layu oleh angin dan matahari. Karena makan begitu sedikit kulit perutku menempel pada tulang punggungKu;

Quote
61. “Ada petapa dan brahmana tertentu yang doktrin dan pandangannya seperti ini: ‘Pemurnian muncul melalui pemujaan api.’ Tetapi adalah tidak mungkin menemukan jenis api yang belum pernah Kusembah dalam perjalanan yang panjang ini, ketika aku menjadi seorang raja mulia atau seorang brahmana yang makmur.

62. “Sāriputta, ada petapa dan brahmana tertentu yang doktrin dan pandangannya seperti ini: ‘Selama orang baik ini masih muda, seorang pemuda berambut hitam dengan berkah kemudaannya, dalam tahap utama kehidupannya, maka selama itu ia sempurna dalam kebijaksanaan cerahnya. Tetapi ketika orang baik ini tua, berusia lanjut, terbebani tahun demi tahun, jompo, dan sampai pada tahap akhir, berumur delapan puluh, Sembilan puluh,


13  Mahādukkhakkhandha Sutta (Khotbah Panjang tentang Kumpulan Penderitaan)
Spoiler: ShowHide
Quote
4. kemudian para bhikkhu itu tidak menyetujui juga tidak membantah kata-kata para pengembara itu. Dengan tanpa melakukan kedua hal itu mereka bangkit dari duduk dan pergi, dengan berpikir: “Kami akan memahami makna dari kata-kata ini di hadapan Sang Bhagavā.”

Quote
11. “Kemudian lagi, dengan kenikmatan indria sebagai penyebab, kenikmatan indria sebagai sumber, kenikmatan indria sebagai dasar, penyebabnya hanyalah kenikmatan indria, raja berselisih dengan raja, para mulia berselisih dengan para mulia, brahmana berselisih dengan brahmana, perumah tangga berselisih dengan perumah tangga, ibu berselisih dengan anak, anak berselisih dengan ibu, ayah berselisih dengan anak, anak berselisih dengan ayah, saudara laki-laki berselisih dengan saudara laki-laki, saudara laki-laki berselisih dengan saudara perempuan, saudara perempuan berselisih dengan saudara laki-laki, teman berselisih dengan teman. Dan di sini dalam perselisihan, percekcokan, pertengkaran, mereka saling menyerang satu sama lain dengan tinju, bongkahan tanah, tongkat kayu, atau pisau, yang mana mereka menimbulkan kematian atau penderitaan mematikan. Ini juga adalah bahaya sehubungan dengan kenikmatan indria, kumpulan penderitaan yang terlihat di sini dan saat ini ... penyebabnya hanyalah kenikmatan indria.
kata "tinju" mungkin bisa diganti dengan "pukulan"

Quote
18. (i) “Dan apakah, para bhikkhu, kepuasan sehubungan dengan bentuk materi? Misalkan terdapat seorang gadis dari kasta ksatria atau kasta brahmana atau perumah tangga, berusia lima belas atau enam belas tahun, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek, tidak terlalu kurus juga tidak terlalu gemuk, kulitnya tidak terlalu gelap juga tidak terlalu cerah. Apakah kecantikan dan kemenarikannya sedang berada pada puncaknya?” – “Benar, Yang Mulia.” – “kenikmatan dan kegembiraan yang bergantung pada kecantikan dan kemenarikan itu adalah kepuasan sehubungan dengan bentuk materi.
seharusnya "kesatria" bukan "ksatria"
ke·sat·ria n 1 orang (prajurit, perwira) yg gagah berani; pemberani; 2 kasta kedua dl masyarakat Hindu; kasta bangsawan atau kasta prajurit

Quote
19. (ii) “Dan apakah, para bhikkhu, bahaya sehubungan dengan bentuk materi? Kemudian seseorang melihat perempuan yang sama di sini pada usia delapan puluh, Sembilan puluh, atau seratus tahun, tua, bungkuk seperti kerangka atap, terlipat, ditopang oleh tongkat, berjalan terhuyung-huyung, lemah, kemudaannya sirna, giginya tanggal, rambutnya memutih, rambutnya rontok, gundul, keriput, dengan seluruh tubuh berbisulan. Bagaimana menurut kalian, para bhikkhu? Apakah kecantikan dan kemenarikannya sebelumnya lenyap dan bahayanya menjadi nyata?” – “Benar, Yang Mulia.” – “Para bhikkhu, ini adalah bahaya sehubungan dengan bentuk materi.
tambahan kata "yang" untuk menjelaskan yang sebelumnya.
jadi "kemenarikan yang sebelumnya".

Quote
32. (i) “Dan apakah, para bhikkhu, kepuasan sehubungan dengan perasaan? Di sini, para bhikkhu, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan kegembiraan dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan.  Pada saat itu ia tidak menghendaki  penderitaannya sendiri, atau penderitaan orang lain, atau penderitaan keduanya. [90] pada saat itu ia hanya merasakan perasaan yang bebas dari penderitaan. Kepuasan tertinggi sehubungan dengan perasaan adalah kebebasan dari penderitaan, Aku katakan.


14  Cūḷadukkhakkhandha Sutta (Khotbah Pendek tentang Kumpulan Penderitaan)
Spoiler: ShowHide
Quote
6-14. “Dan apakah kepuasan sehubungan dengan kenikmatan indria? Mahānāma, ada lima utas kenikmatan indria ini ... (seperti Sutta 13, §§7-15) ... Ini adalah juga bahaya sehubungan dengan kenikmatan indria, kumpulan penderitaan dalam kehidupan mendatang, dengan kenikmatan indria sebagai penyebab, kenikmatan indria sebagai sumber, kenikmatan indria sebagai dasar, penyebabnya hanyalah kenikmatan indria.
seharusnya "Ini juga adalah", seperti Sutta 13, §§7-15.

Quote
15. “Sekarang, Mahānāma, pada suatu ketika Aku sedang menetap di Rājagaha di Gunung Puncak Nasar. Pada saat itu sejumlah Nigaṇṭha yang sedang menetap di Batu Hitam di lereng Isigili sedang mempraktikkan latihan berdiri terus-menerus, menolak tempat duduk, dan mengalami perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk karena usaha itu.
"L" kapital pada lereng Isigili.


15  Anumāna Sutta (Kesimpulan)
Spoiler: ShowHide
Quote
7. “sekarang, teman-teman, seorang bhikkhu harus memeriksa dirinya sebagai berikut:
(1) ‘Apakah aku memiliki keinginan jahat dan apakah aku dikuasai oleh keinginan jahat?’ jika, ketika ia memeriksa dirinya, ia mengetahui: ‘Aku memiliki keinginan jahat, aku dikuasai oleh keinginan jahat,’ maka ia harus berusaha untuk meninggalkan kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat itu. Tetapi jika, ketika ia memeriksa dirinya, ia mengetahui: ‘Aku tidak memiliki keinginan jahat, aku tidak dikuasai oleh keinginan jahat,’ maka ia dapat berdiam dengan bahagia dan gembira, berlatih siang dan malam dalam kondisi-kondisi bermanfaat.


16  Cetokhila Sutta (Belantara dalam Batin)
Spoiler: ShowHide
Quote
7. “Kemudian, seorang bhikkhu marah dan tidak senang dengan teman-temannya dalam kehidupan suci, penuh kekesalan dan tidak berperasaan terhadap mereka, dan dan dengan demikian pikirannya tidak condong pada semangat, ketekunan, kegigihan, dan usaha. Ketika pikirannya tidak condong pada semangat, ketekunan, kegigihan, dan usaha, itu adalah belantara ke lima dalam pikiran yang belum ia tinggalkan.
kata "dan" double.
termasuk kata ke dua, ke tiga, ke empat, dst. tapi ditangguhkan dulu.

Quote
18. “Kemudian, seorang bhikkhu adalah tanpa keraguan, tanpa ketidak-pastian, tanpa kebimbangan, dan tanpa ketidak-yakinan pada latihan … Ketika pikirannya condong pada semangat … itu adalah belantara ke empat dalam pikiarn yang telah ia tinggalkan.

"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #84 on: 25 January 2013, 08:48:15 PM »
lanjutan....

17  Vanapattha Sutta (Hutan Belantara)
Spoiler: ShowHide
Quote
4. “Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu menetap di hutan belantara. Sewaktu menetap di sana perhatiannya yang belum kokoh tidak menjadi kokoh, pikirannya yang tidak terkonsentrasi tidak menjadi terkonsentrasi, noda-nodanya yang belum dihancurkan juga tidak terhancurkan, ia tidak mencapai keamanan tertinggi dari belenggu yang belum dicapai; namun kebutuhan hidup yang harus diperoleh oleh seseorang yang meninggalkan keduniawian … mudah diperoleh. Bhikkhu itu harus mempertimbangkan: ‘Aku menetap di hutan belantara ini. Sewaktu menetap di sini perhatianku yang belum kokoh tidak menjadi kokoh … aku tidak mencapai keamanan tertinggi dari belenggu yang belum dicapai; namun  kebutuhan hidup yang harus diperoleh oleh seseorang yang meninggalkan keduniawian … mudah diperoleh. Akan tetapi, aku tidak meninggalkan kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah demi jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan. Terlebih lagi, Sewaktu menetap di sini perhatianku yang belum kokoh tidak menjadi kokoh … aku tidak mencapai keamanan tertinggi dari belenggu yang belum dicapai.’ Setelah merenungkan demikian bhikkhu itu harus pergi dari hutan belantara itu; ia seharusnya tidak terus menetap di sana.

5. “Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu menetap di hutan belantara. Sewaktu menetap di sana perhatiannya yang belum kokoh menjadi kokoh, pikirannya yang tidak terkonsentrasi menjadi terkonsentrasi, noda-nodanya yang belum dihancurkan menjadi terhancurkan, ia mencapai keamanan tertinggi dari belenggu; namun kebutuhan hidup yang harus diperoleh oleh seseorang yang meninggalkan keduniawian … sulit diperoleh. Bhikkhu itu harus mempertimbangkan: [106] ‘Aku menetap di hutan belantara ini. Sewaktu menetap di sini perhatianku yang belum kokoh menjadi kokoh … aku mencapai keamanan tertinggi dari belenggu; namun  kebutuhan hidup yang harus diperoleh oleh seseorang yang meninggalkan keduniawian … sulit diperoleh. Akan tetapi, aku tidak meninggalkan kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah demi jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan. Terlebih lagi, Sewaktu menetap di sini perhatianku yang belum kokoh menjadi kokoh … aku mencapai keamanan tertinggi dari belenggu yang belum dicapai.’ Bhikkhu itu harus terus menetap di hutan belantara itu; ia seharusnya tidak pergi.


18  Madhupiṇḍika Sutta (Bola Madu)
Spoiler: ShowHide
Quote
6. kemudian, pada malam harinya, Sang Bhagavā bangkit dari meditasi dan berjalan menuju Taman Nigrodha, di mana Beliau duduk di tempat yang telah disediakan untukNya dan memberitahukan kepada para bhikkhu tentang apa yang telah terjadi. Kemudian seorang bhikkhu bertanya kepada Sang Bhagavā:

Quote
12. [Yang Mulia Mahā Kaccāna menjawab:] “Teman-teman, ini seperti seseorang yang memerlukan inti kayu, mencari inti kayu, berkeliling mencari inti kayu, berpikir bahwa inti kayu harus dicari di antara dahan dan dedaunan dari sebatang pohon besar yang memiliki inti kayu, setelah ia melewatkan akar dan batang. Dan demikian pula dengan kalian, para mulia, bahwa kalian berpikir bahwa aku dapat ditanya tentang makna dari hal ini, setelah kalian melewati Sang Bhagavā ketika kalian berhadapan dengan Sang Guru. Dalam hal mengetahui, Sang Bhagavā tahu; dalam hal melihat, Beliau melihat; Beliau adalah penglihatan, Beliau adalah pengetahuan, Beliau adalah Dhamma, Beliau adalah yang suci;  Beliau adalah yang mengucapkan, yang menyatakan, pembabar makna, pemberi Keabadian, Raja Dhamma, Sang Tathāgata. Itu adalah waktunya ketika kalian seharusnya menanyakan maknanya kepada Sang Bhagavā. Sebagaimana Beliau menjelaskan, demikianlah kalian harus mengingatnya.”
memang kapital yah? mengacu pada Nibbana?

Quote
22. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Ānanda berkata kepada Sang Bhagavā: “Yang Mulia, bagaikan seseorang yang keletihan dan lemah karena lapar dan menemukan bola madu,  pada saat memakannya ia akan menemukan rasa yang manis dan lezat; demikian pula, Yang Mulia, bhikkhu manapun yang penuh perhatian, pada saat menyelidiki dengan kebijaksanaan atas makna dari khotbah Dhamma ini, akan merasa puas dan berkeyakinan dalam batin. Yang mulia, apakah nama dari khotbah Dhamma ini?


19  Dvedhāvitakka Sutta (Dua Jenis Pikiran)
Spoiler: ShowHide
Quote
12. “Bagaikan pada bulan terakhir musim panas, ketika semua hasil panen telah dibawa ke dalam desa-desa, [117] seorang penggembala sapi menjaga sapi-sapinya sambil duduk di bawah sebatang pohon atau di ruang terbuka, karena ia hanya perlu memperhatikan bahwa sapi-sapinya ada di sana; demikian pula, aku hanya perlu memperhatikan bahwa kondisi-kondisi itu ada di sana.

Quote
24. “Ini adalah pengetahuan sejati ke tiga yang Kucapai pada jaga ke tiga malam itu. Kebodohan tersingkir dan pengetahuan sejati muncul, kegelapan tersingkir dan cahaya muncul, seperti yang terjadi dalam diri seorang yang berdiam dengan tekun, rajin dan bersungguh-sungguh.
sama seperti sebelumnya, maaf diulang-ulang, masih ragu.


20  Vitakkasaṇṭhāna Sutta (Pelenyapan Pikiran-pikiran Kacau)
Spoiler: ShowHide
Quote
3. (i) “Di sini, para bhikkhu, ketika seorang bhikkhu sedang memperhatikan beberapa gambaran, dan karena gambaran itu muncul dalam dirinya pikiran jahat yang tidak bermanfaat yang berhubungan dengan keinginan, dengan kebencian, dan dengan kebodohan, maka ia harus memperhatikan gambaran lain yang berhubungan dengan apa yang bermanfaat.
......
8. “Para bhikkhu,  ketika seorang bhikkhu sedang memperhatikan beberapa gambaran, dan karena gambaran itu muncul dalam dirinya pikiran jahat yang tidak bermanfaat yang berhubungan dengan keinginan, dengan kebencian, dan dengan kebodohan, kemudian ketika ia memperhatikan gambaran lain yang bermanfaat, maka pikiran jahat yang tidak bermanfaat ditinggalkan dalam dirinya dan mereda, dan dengan ditinggalkannya pikiran-pikiran itu maka pikirannya menjadi kokoh secara internal, tenang, menjadi terpusat, dan terkonsentrasi. .....
pertama kali baca dibagian itu sempat salah paham, bisa bermakna ganda (ambigu):
1. karena gambaran itu muncul dalam dirinya
2. karena gambaran itu, muncul dalam dirinya
menurut pemahamanku, makna yang sebenarnya adalah yang kedua, jadi bolehlah kalo ditambahkan tanda koma (,) disana.
"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #85 on: 25 January 2013, 08:58:01 PM »

kata yang tidak umum, kecuali ada tambahan catatan kakinya.

dis·kre·dit /diskrédit/ v, men·dis·kre·dit·kan v (berusaha untuk) menjelekkan atau memperlemah kewibawaan seseorang atau satu pihak tertentu: selebaran berupa pamflet gelap itu bertujuan ~ Pemerintah

kata itu sah terdapat dalam KBBI, kenapa harus diberikan penjelasan? kami tidak bermaksud untuk memproduksi buku pelajaran Bahasa Indonesia di sini.

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #86 on: 25 January 2013, 10:03:17 PM »
dis·kre·dit /diskrédit/ v, men·dis·kre·dit·kan v (berusaha untuk) menjelekkan atau memperlemah kewibawaan seseorang atau satu pihak tertentu: selebaran berupa pamflet gelap itu bertujuan ~ Pemerintah

kata itu sah terdapat dalam KBBI, kenapa harus diberikan penjelasan? kami tidak bermaksud untuk memproduksi buku pelajaran Bahasa Indonesia di sini.
^:)^
"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.993
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #87 on: 26 January 2013, 09:40:29 AM »
Spoiler: ShowHide

Sepertinya sebelumnya udah ada beberapa perbaikan yang sama, entah belum di update lagi atau bagaimana.
Teksnya saya ambil dari http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,17327.0.html.

Kelompok Khotbah Tentang Akar (Mūlapariyāyavagga)

3  Dhammadāyāda Sutta - Pewaris dalam Dhamma
[spoiler]"P" kapital, kelebihan huruf 'm'.
"A" kapital.
lebih enak bacanya kalo tanpa kata 'pada'.


4  Bhayabherava Sutta - Kekhawatiran dan Ketakutan
Spoiler: ShowHide
kalo bisa kata "dan" nya diganti dengan tanda "koma" aja.


5  Anangaṇa Sutta - Tanpa Noda
Spoiler: ShowHide
tanda titiknya kurang.
"K" kapital.
salah ketik "seolah-olah".


6  Ākankheyya Sutta - Jika Seorang Bhikkhu Menghendaki
Spoiler: ShowHide
Sepertinya "Alam Brahma", tapi agak ragu.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama geografi yang diikuti nama diri geografi.


7  Vatthūpama Sutta - Perumpamaan Kain
Spoiler: ShowHide
Awalan "ke-" tidak dipisah pada bilangan yang menyatakan jumlah dan pada bilangan ordinal. Misalnya: Keempat anak tersebut sedang bersenang-senang. Ia adalah anak kesatu.


8  Sallekha Sutta - Pemurnian
Spoiler: ShowHide
imo, "Disiplin yang Mulia"
kalo "Disiplin Yang Mulia" pas baca kesannya seperti Disiplin Sang Buddha. Yang Mulia = panggilan untuk Sang Buddha oleh para bhikkhu.
"k" tidak kapital.
"D" kapital.
struktur kalimatnya lebih enak kalau begini:
"Cunda, adalah tidak mungkin bahwa seseorang yang tenggelam dalam lumpur harus menarik seorang lainnya yang tenggelam dalam lumpur; adalah mungkin bahwa .... "


9  Sammādiṭṭhi Sutta - Pandangan Benar
Spoiler: ShowHide
jika "nya" menunjuk pada Yang Mulia Sāriputta, maka penggunaan kata ganti "nya" tersebut kurang cocok.
karna seolah-olah menunjuk pada orang lain diluar percakapan itu.
lebih baik jika tetap ditulis "Setelah mendengarnya dari Yang Mulia Sāriputta, para bhikkhu akan mengingatnya."
"kedua", "ketiga", "keempat", disambung.



boleh nih diperbantukan
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.850
  • Reputasi: 268
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #88 on: 26 January 2013, 10:31:26 AM »
nah yang ini jujur saya juga masih ragu om, tapi dari referensi hasil googling kemarin ketemunya begitu.  ;D
mungkin om kainyn punya referensi lain yang bisa dijadikan acuan. :)
Ga ada. Ini bagian dari pelajaran sekolah yang selalu saya aplikasikan sampai sekarang. ;D


Quote
tapi "him" disini kan mengacu pada YM. Sariputta om, jadi IMO gak ada salahnya kalo diganti jadi YM. Sariputta. :)
Betul, seperti saya bilang, itu tidak mengubah makna, tapi sebisa mungkin disamakan dengan teks aslinya.


Quote
nah ini juga, direferensi hanya tertulis:
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam judul buku, majalah, surat kabar, dan makalah, kecuali kata tugas seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk yang tidak terletak pada posisi awal.

saya biasanya lihat disini om : http://id.wikisource.org/wiki/Pedoman_Umum_Ejaan_Bahasa_Indonesia_yang_Disempurnakan
Kata tugas tidak terbatas pada enam kata di atas saja, tapi termasuk preposisi yang menunjukkan tempat, waktu, maksud, atau sebab. "Heirs in Dhamma" diterjemahkan menjadi "Pewaris dalam Dhamma" di mana "dalam" ini sebagai preposisi penunjuk tempat (abstrak) yaitu 'Dhamma', bukan "dalam" dalam artian kata sifat ("laut dalam") atau lainnya, jadi tetap tidak kapital.


Offline Kelana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.226
  • Reputasi: 142
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #89 on: 26 January 2013, 12:46:02 PM »

7  Vatthūpama Sutta - Perumpamaan Kain
Spoiler: ShowHide
Awalan "ke-" tidak dipisah pada bilangan yang menyatakan jumlah dan pada bilangan ordinal. Misalnya: Keempat anak tersebut sedang bersenang-senang. Ia adalah anak kesatu.


Saya kebiasaan menulis kedua, ketiga atau ke-2, ke-3. Tapi baru tahu alasannya tadi bahwa penulisan ke- juga bisa terpisah jika menujuk pada tempat atau arah, cth:  ia pergi ke dua arah yang berbeda. Kalau menunjukkan jumlah baru disambung atau pakai tanda sambung (-)
GKBU
 
_/\_ suvatthi hotu


- finire -

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.850
  • Reputasi: 268
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #90 on: 26 January 2013, 03:40:21 PM »
Kalau disambung dengan numerik pakai dash ("ke-3"), tapi untuk yang huruf, jika disambung saya lihat membingungkan.
Contoh: Karpet ada di lantai kedua gedung tersebut.
-karpet ada di satu gedung, lantai II
-karpet ada di dua gedung, masing-masing di lantai

Mungkin ada yang mau bantu?

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.401
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #91 on: 26 January 2013, 07:09:51 PM »
karpet ada di lantai kedua gedung tersebut -> kumpulan - jadi dua-duanya

kalo karpet ada di lantai ke dua gedung tersebut -> di lantai ke 2
There is no place like 127.0.0.1

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.850
  • Reputasi: 268
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #92 on: 28 January 2013, 09:24:10 AM »
karpet ada di lantai kedua gedung tersebut -> kumpulan - jadi dua-duanya

kalo karpet ada di lantai ke dua gedung tersebut -> di lantai ke 2
Iya, emang djaman doeloe kaya'nya begini, tapi sekarang kok panduannya digabung yah?

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #93 on: 28 January 2013, 11:40:19 AM »

Offline dhammadinna

  • Sebelumnya: Mayvise
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.626
  • Reputasi: 149
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #94 on: 28 January 2013, 11:44:48 AM »
Tentang "ke"... Bagaimana kalo begini:

7  Vatthūpama Sutta - Perumpamaan Kain

Awalan "ke-" tidak dipisah pada bilangan yang menyatakan jumlah dan pada bilangan ordinal. Misalnya: Keempat anak tersebut sedang bersenang-senang. Ia adalah anak kesatu.

Ceritanya, kan ada 4 orang anak yang sedang bersenang-senang. IMHO, bisa ditulis begini saja:

"Mereka sedang bersenang-senang"


Karena 'mereka' menunjukkan 'semua anak'. Jadi tidak perlu menulis 'keempat anak'.

Kalau disambung dengan numerik pakai dash ("ke-3"), tapi untuk yang huruf, jika disambung saya lihat membingungkan.
Contoh: Karpet ada di lantai kedua gedung tersebut.
-karpet ada di satu gedung, lantai II
-karpet ada di dua gedung, masing-masing di lantai

Mungkin ada yang mau bantu?

-karpet ada di satu gedung, lantai II

--> karpet ada di lantai ke-2 gedung tersebut.

-karpet ada di dua gedung, masing-masing di lantai

--> karpet ada di dua gedung tersebut, atau karpet ada di gedung-gedung tersebut.

Offline dhammadinna

  • Sebelumnya: Mayvise
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.626
  • Reputasi: 149
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #95 on: 28 January 2013, 11:52:11 AM »
http://tanja.portalbahasa.com/kedua-atau-ke-dua

iya juga ya.. digabung juga ga masalah sebenarnya...

- anak keempat

- keempat anak

----> tidak ambigu.

Kalo,

- lantai kedua (karpet ada di lantai kedua di gedung tersebut)

- kedua gedung (di kedua gedung tersebut ada karpet) ;D

- kasus lain... (di gedung kedua ada karpet)
« Last Edit: 28 January 2013, 11:58:16 AM by dhammadinna »

Offline M14ka

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.821
  • Reputasi: 94
  • Gender: Female
  • Live your best life!! ^^
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #96 on: 28 January 2013, 11:55:10 AM »
Kalau disambung dengan numerik pakai dash ("ke-3"), tapi untuk yang huruf, jika disambung saya lihat membingungkan.
Contoh: Karpet ada di lantai kedua gedung tersebut.
-karpet ada di satu gedung, lantai II
-karpet ada di dua gedung, masing-masing di lantai

Mungkin ada yang mau bantu?

sepertinya pilihan yg 1, krn karpet emang biasa di lantai...  :hammer:

Offline M14ka

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.821
  • Reputasi: 94
  • Gender: Female
  • Live your best life!! ^^
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #97 on: 28 January 2013, 12:00:05 PM »
http://basasin.blogspot.com/2008/12/kalimat-ambigu-bermakna-ganda.html

Biar ga ambigu mungkin bisa ditulis karpet ada di lantai-kedua gedung tersebut? Atau di lantai kedua di gedung tersebut.
« Last Edit: 28 January 2013, 12:02:04 PM by M14ka »

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #98 on: 28 January 2013, 12:19:45 PM »
sebenarnya soal karpet ini ada di sutta apa sih?

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #99 on: 28 January 2013, 12:26:53 PM »
Kalau disambung dengan numerik pakai dash ("ke-3"), tapi untuk yang huruf, jika disambung saya lihat membingungkan.
Contoh: Karpet ada di lantai kedua gedung tersebut.
-karpet ada di satu gedung, lantai II
-karpet ada di dua gedung, masing-masing di lantai

Mungkin ada yang mau bantu?
hmmm... sepertinya memang g ada aturan kalo huruf pake tanda sambung om.
ternyata memang bisa ambigu yah maknanya, tapi saya merasa lebih pas dengan makna yang pertama.
karpet ada di lantai-kedua gedung tersebut.
karpet sebagai Subjek ditulis terlebih dulu.
lantai-kedua sebagai Objek
dan gedung sebagai keterangan.

kalo untuk maksud yang kedua "karpet ada di dua gedung, masing-masing di lantai"
seharusnya ditulis Di kedua gedung itu terdapat karpet.

atau seperti saran cc miaka juga boleh.
tapi sebenarnya ini bukan masalah karpet,  ;D
tapi penulis ke- apakah dipisah atau sambung, atau bagaimana.

sebenarnya soal karpet ini ada di sutta apa sih?
:hammer:
bukan masalah karpetnya om, tapi "ke" nya.
« Last Edit: 28 January 2013, 12:36:07 PM by hemayanti »
"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #100 on: 28 January 2013, 12:27:40 PM »
http://tanja.portalbahasa.com/kedua-atau-ke-dua
Quote
Kedua. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (mis. pihak ketiga) atau kumpulan (mis. kesebelas pemain). Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya abad XXI.

Kata ke memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, ke biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila Dua adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, ke Dua.
dari sini jelas kan, "ke" tetap disambung, kecuali yang menunjukkan tempat.
"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #101 on: 28 January 2013, 01:08:59 PM »
kalau ini bukan sedang mendiskusikan Majjhima Nikaya, apa gak salah diskusinya di sini? karena saya lihat judul thread ini adalah " Majjhima Nikaya (Diskusi)"

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #102 on: 01 February 2013, 02:11:00 PM »
Kelompok Perumpamaan (Opammavagga)

21  Kakacūpama Sutta - Perumpamaan Gergaji
Spoiler: ShowHide
Quote
6. “Phagguna, tidaklah selayaknya bagimu, seorang anggota keluarga yang telah meninggalkan keduniawian karena keyakinan dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, bergaul terlalu akrab dengan para bhikkhunī. Oleh karena itu, jika seseorang mencela para bhikkhunī itu di hadapanmu, maka engkau harus meninggalkan segala keinginan dan pikiran yang berlandaskan pada kehidupan rumah tangga. Dan di sini engkau harus berlatih sebagai berikut: ‘Pikiranku tidak akan terpengaruh, dan aku tidak akan mengucapkan kata-kata kasar; aku akan berdiam dengan berbelas kasih demi kesejahteraannya, dengan pikiran cinta kasih, tanpa kebencian dalam pikiran.’ Demikianlah engkau harus berlatih, Phagguna.

“Jika seseorang menyerang para bhikkhunī itu dengan tangan, dengan bongkahan tanah, dengan tongkat, atau dengan pisau di hadapanmu, maka engkau harus meninggalkan segala keinginan dan pikiran yang berlandaskan pada kehidupan rumah tangga. Dan di sini engkau harus berlatih sebagai berikut: ‘Pikiranku tidak akan terpengaruh …’ Jika seseorang mencela di hadapanmu, maka engkau harus meninggalkan segala keinginan dan pikiran yang berlandaskan pada kehidupan rumah tangga. Dan di sini engkau harus berlatih sebagai berikut: ‘Pikiranku tidak akan terpengaruh …’ Jika seseorang menyerangmu itu dengan tangan, dengan bongkahan tanah, dengan tongkat, atau dengan pisau [124],
menyerangmu itu?

Quote
9. .....
“Kemudian Kālī si pembantu, dengan darah menetes dari kepalanya yang terluka, mengadukan majikannya kepada para tetangga: ‘Lihat, nyonya-nyonya, perbuatan nyonya yang baik! Lihat, nyonya-nyonya, perbuatan nyonya yang lembut! Lihat, nyonya-nyonya, perbuatan nyonya yang cinta damai! Bagaimana mungkin ia menjadi marah dan tidak senang pada pembantu satu-satunya karena bangun terlambat? Bagaimana mungkin ia mengambil penggilingan, memukulnya di kepala, dan melukai kepalanya?’ kemudian berita buruk sehubungan dengan Nyonya Vedehikā menyebar sebagai berikut: “Nyonya Vedehikā adalah orang yang kasar, Nyonya Vedehikā adalah orang yang kejam, Nyonya Vedehikā adalah orang yang tanpa belas kasihan.”
Kapital


22  Alagaddūpama Sutta - Perumpamaan Ular
Spoiler: ShowHide
Quote
8. ....
“Bagus, para bhikkhu, bagus sekali bahwa kalian memahami Dhamma yang Kuajarkan seperti demikian. Karena dalam banyak khotbah Aku telah menyebutkan bagaimana hal-hal yang merintangi adalah rintangan, dan bagaimana hal-hal itu mampu merintangi seseorang yang menekuninya. Aku telah mengatakan bagaimana kenikmatan indria memberikan sedikit kepuasan, banyak penderitaan, dan banyak keputus-asaan, dan betapa besarnya bahaya di dalamnya. Dengan perumpamaan tulang-belulang … dengan perumpamaan kepala ular, Aku telah mengatakan … betapa besarnya bahaya di dalamnya. Tetapi Bhikkhu Ariṭṭha ini, yang dulunya adalah seorang pemburu nasar, salah memahami kita dengan dengan pandangan salahnya dan melukai dirinya sendiri dan menimbun banyak keburukan; hal ini akan menuntun menuju bencana dan penderitaan orang sesat ini untuk waktu yang lama.

Quote
10. ....
“Misalkan seseorang yang memerlukan seekor ular, mencari seekor ular, mengembara untuk mencari seekor ular, melihat seekor ular besar dan menangkap gulungannya atau ekornya, ular itu akan berbalik dan menggigit tangannya atau lengannya atau anggota tubuh lainnya. [134] dan karena itu ia akan mengalami kematian atau penderitaan mematikan. Mengapakah? Karena ia menangkap ular itu dengan cara yang salah. Demikian pula, di sini beberapa orang sesat mempelajari Dhamma … Mengapakah? Karena menggenggam secara keliru pada ajaran-ajaran itu.
Kapital

Quote
18. Ketika hal ini dikatakan, seorang bhikkhu bertanya kepada Sang Bhagavā: “Yang Mulia, dapatkah muncul gangguan terhadap apa yang tidak ada secara eksternal?”

“Mungkin saja, bhikkhu,” Sang Bhagavā berkata. “Di sini, bhikkhu, beberapa orang berpikir: ‘aduh, aku memilikinya! Aduh, aku tidak lagi memilikinya! Aduh, semoga aku memilikinya! Aduh, aku tidak mendapatkannya!’ Kemudian ia berdukacita, bersedih, dan meratap, ia menangis sambil memukul dadanya dan menjadi kebingungan. Demikianlah bagaimana kemunculan gangguan terhadap apa yang tidak ada secara eksternal.”
Quote
18. Ketika hal ini dikatakan, seorang bhikkhu bertanya kepada Sang Bhagavā: “Yang Mulia, dapatkah muncul gangguan terhadap apa yang tidak ada secara eksternal?”

“Mungkin saja, bhikkhu,” Sang Bhagavā berkata. “Di sini, bhikkhu, beberapa orang berpikir: ‘aduh, aku memilikinya! Aduh, aku tidak lagi memilikinya! Aduh, semoga aku memilikinya! Aduh, aku tidak mendapatkannya!’ Kemudian ia berdukacita, bersedih, dan meratap, ia menangis sambil memukul dadanya dan menjadi kebingungan. Demikianlah bagaimana kemunculan gangguan terhadap apa yang tidak ada secara eksternal.”
Kapital

Quote
25. “Para bhikkhu, jika ada diri, maka apakah ada yang menjadi milik dirin bagiku?”  – “Ada, Yang Mulia.” – “Atau, jika ada yang menjadi milik diri, maka apakah diri padaku?” - “Ada, Yang Mulia.” – “Para bhikkhu, karena diri dan apa yang menjadi milik diri tidak dipahami sebagai benar dan pasti, maka sudut pandang atas pandangan ini, yaitu, ‘Apa yang menjadi diri adalah dunia, setelah kematian aku akan kekal, bertahan selamanya, abadi, tidak berubah; aku akan bertahan selamanya.’ – bukankah ini jelas adalah ajaran yang sepenuhnya dungu?”
jawabannya “Ada, Yang Mulia.”
pertanyaan yang benar seharusnya "apakah ada diri padaku?"


23  Vammika Sutta - Gundukan Sarang Semut
Spoiler: ShowHide
Quote
2. “Bhikkhu, bhikkhu, gundukan sarang semut ini berasap pada malam hari dan menyala pada siang hari.

“Brahmana itu berkata sebagai berikut: ‘Galilah dengan pisau, wahai engkau yang bijaksana.’ Setelah Menggali dengan pisau, sang bijaksana melihat sebuah palang: ‘Sebuah palang, O Yang Mulia.’
bukan Kapital.


24  Rathavinīta Sutta - Barisan Kereta
Spoiler: ShowHide
Quote
2. Kemudian sejumlah bhikkhu yang berasal dari negeri asal [Sang Bhagavā],  yang melewatkan musim hujan di sana, menghadap Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi. Sang Bhagavā bertanya kepada mereka: ‘Para bhikkhu, siapakah yang di negeri asal[Ku] yang dihormati oleh para bhikkhu si sana, oleh teman-temannya dalam kehidupan suci, sebagai berikut: ‘Memiliki sedikit keinginan, ia berbicara kepada para bhikkhu tentang keinginan yang sedikit; puas terhadap dirinya sendiri, ia berbicara kepada para bhikkhu tentang kepuasan; hidup terasing, ....
"di"

Quote
8. Kemudian, Pada malam harinya, Yang Mulia Sāriputta bangkit dari meditasi, mendatangi Yang Mulia Puṇṇa Mantāṇiputta, dan saling bertukar sapa dengannya. Ketika ramah tamah itu berakhir, ia duduk di satu sisi dan berkata kepada Yang Mulia Puṇṇa Mantāṇiputta:
"pada"


25  Nivāpa Sutt - Umpan
Spoiler: ShowHide
Quote
6. ....
“Tetapi kemudian pemburu rusa itu dan para pengikutnya mempertimbangkan: ‘Rusa-rusa kelompok ke empat ini licik dan cerdik bagaikan tukang sihir. Mereka memakan umpan yang diletakkan tanpa kita mengetahui bagaimana mereka datang dan pergi. Bagaimana jika kami mengelilingi umpan ini lebih luas dengan pagar dari dahan-dahan; kemudian mungkin kami dapat menemukan tempat tinggal rusa kelompok ke tiga ini, ke mana mereka bersembunyi.’ Demikianlah mereka melakukan hal itu, tetapi mereka tidak menemukan tempat tinggal rusa kelompok ke empat, ke mana mereka bersembunyi. Kemudian si pemburu rusa dan para pengikutnya mempertimbangkan: ‘Jika kami menakuti rusa kelompok ke empat ini, karena ketakutan mereka akan memperingatkan yang lain, dan karenanya kelompok-kelompok rusa akan meninggalkan umpan yang telah kami letakkan. Bagaimana jika kami membiarkan rusa kelompok ke empat ini.’ Mereka melakukan hal itu. Dan demikianlah bagaimana rusa kelompok ke empat itu berhasil terbebaskan dari kekuatan dan kekuasaan pemburu rusa itu.
tiga atau empat?
"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #103 on: 01 February 2013, 02:13:40 PM »
Kelompok Perumpamaan (Opammavagga)

26  Ariyapariyesanā Sutta - Pencarian Mulia
Spoiler: ShowHide
Quote
2. Kemudian, pada pagi harinya, Sang Bhagavā merapikan jubah, dan dengan membawa mangkuk dan jubah luarNya, pergi ke Sāvatthī untuk menerima dana makanan. Kemudian sejumlah bhikkhu mendatangi Yang Mulia Ānanda dan berkata kepadanya: “Teman Ānanda, telah lama sejak kami mendengar Dhamma dari mulut Sang Bhagavā. Baik sekali jika kami dapat mendengar khotbah demikian, teman Ānanda.” – ‘Kalau begitu, silahkan para mulia pergi ke pertapaan brahmana Rammaka. Mungkin kalian akan mendengarkan khotbah Dhamma dari mulut Sang Bhagavā sendiri.” – “Baik, teman,” mereka menjawab.
"Brahmana Rammaka"

Quote
12. “Dan apakah pencarian mulia? Di sini seseorang yang tunduk pada kelahiran, setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada kelahiran, [163] mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tidak terlahirkan, Nibbāna; dengan dirinya tunduk pada penuaan, setelah setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada penuaan,  mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tidak mengalami penuaan, Nibbāna; dengan dirinya tunduk pada penyakit, setelah setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada penyakit,  mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tidak mengalami penyakit, Nibbāna; dengan dirinya tunduk pada kematian, setelah setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada kematian,  mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tanpa kematian, Nibbāna; dengan dirinya tunduk pada dukacita, setelah setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada dukacita,  mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tanpa dukacita, Nibbāna; dengan dirinya tunduk pada kekotoran, setelah setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada kekotoran, mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tanpa kekotoran, Nibbāna. Ini adalah pencarian mulia.

Quote
14. “Kemudian, sewaktu Aku masih muda, seorang pemuda berambut hitam memiliki berkah kemudaan, dalam tahap kehidupan utama, walaupun ibu dan ayahku menginginkan sebaliknya dan menangis dengan wajah basah oleh air mata, Aku mencukur rambut dan janggutKu, mengenakan jubah kuning, dan pergi meninggalkan kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.
Kapital

Quote
15. ....
“Aku merenungkan: ‘Bukan hanya sekadar keyakinan saja maka Āḷāra Kālāma menyatakan: “Dengan menembusnya untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung, Aku memasuki dan berdiam dalam Dhamma ini.” Āḷāra Kālāma pasti berdiam dengan mengetahui dan melihat Dhamma ini.’ Kemudian Aku mendatangi Āḷāra Kālāma dan bertanya: ‘Teman Kālāma, dalam cara bagaimanakah engkau menyatakan bahwa dengan menembusnya untuk dirimu sendiri dengan pengetahuan langsung engkau masuk dan berdiam dalam Dhamma ini?’ sebagai jawaban ia menyatakan landasan kekosongan.
tidak kapital

Quote
“Aku dengan cepat memasuki dan berdiam dalam Dhamma dengan menembusnya untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung. Kemudian Aku mendatangi Āḷāra Kālāma dan bertanya: ‘Teman Kālāma, apakah dengan cara ini engkau menyatakan bahwa engkau masuk dan berdiam dalam Dhamma ini dengan menembusnya untuk dirimu sendiri dengan pengetahuan langsung?’ – ‘Demikianlah, teman.’ – ‘Adalah dengan cara ini, teman, bahwa Aku juga masuk dan berdiam dalam Dhamma ini dengan menembusnya untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung.’ – ‘Suatu keuntungan bagi kita, teman, suatu keuntungan besar bagi kita bahwa kita memiliki seorang mulia demikian bagi teman-teman kita dalam kehidupan suci. jadi Dhamma yang kunyatakan telah kumasuki dan berdiam di dalamnya dengan menembusnya untuk diriku sendiri dengan pengetahuan langsung adalah juga Dhamma yang engkau masuki dan berdiam di dalamnya dengan menembusnya untuk dirimu sendiri dengan pengetahuan langsung. [165] Dan Dhamma yang engkau masuki dan berdiam di dalamnya dengan menembusnya untuk dirimu sendiri dengan pengetahuan langsung adalah Dhamma yang kunyatakan telah aku masuki dan berdiam di dalamnya dengan menembusnya untuk diriku sendiri dengan pengetahuan langsung. Jadi Engkau mengetahui Dhamma yang kuketahui dan aku mengetahui Dhamma yang Engkau ketahui. Sebagaimana aku, demikian pula Engkau; sebagaimana Engkau, demikian pula aku. Marilah, teman, mari kita memimpin komunitas ini bersama-sama.
Kapital
Demikian juga di paragraf 16

Quote
17. “Masih dalam pencarian, para bhikkhu, terhadap apa yang bermanfaat, mencari kondisi tertinggi dari kedamaian tertinggi, Aku mengembara secara bertahap melewati Negeri Magadha hingga akhirnya Aku sampai di Senānigama di dekat Uruvelā. [167] di sana Aku melihat sepetak tanah yang nyaman, hutan yang indah dengan aliran sungai yang jernih dengan pantai yang halus dan menyenangkan dan di dekat sana terdapat sebuah desa sebagai sumber dana makanan. Aku merenungkan: ‘Ini adalah sepetak tanah yang nyaman, ini adalah hutan yang indah dengan aliran sungai yang jernih dengan pantai yang halus dan menyenangkan dan di dekat sana terdapat sebuah desa sebagai sumber dana makanan. Ini akan membantu usaha seseorang yang bersungguh-sungguh untuk berusaha.’ Dan Aku duduk di sana berpikir: ‘Ini akan membantu usaha.’
Kapital

Quote
18. “Kemudian, para bhikkhu, dengan diriku sendiri tunduk pada kelahiran, setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada kelahiran, mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tidak terlahirkan, Nibbāna, Aku mencapai keamanan tertinggi dari belenggu yang tidak terlahirkan, Nibbāna; dengan diriku sendiri tunduk pada penuaan, setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada penuaan, mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tidak mengalami penuaan, Nibbāna, Aku mencapai keamanan tertinggi dari belenggu yang tidak mengalami penuaan, Nibbāna; dengan diriku sendiri tunduk pada penyakit, setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada penyakit, mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tidak mengalami penyakit, Nibbāna, Aku mencapai keamanan tertinggi dari belenggu yang tidak mengalami penyakit, Nibbāna; dengan diriku sendiri tunduk pada kematian, setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada kematian, mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tanpa kematian, Nibbāna, Aku mencapai keamanan tertinggi dari belenggu yang tanpa kematian, Nibbāna; dengan diriku sendiri tunduk pada dukacita, setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada dukacita, mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tanpa dukacita, Nibbāna, Aku mencapai keamanan tertinggi dari belenggu yang tanpa dukacita, Nibbāna; dengan diriku sendiri tunduk pada kekotoran, setelah memahami bahaya dalam apa yang tunduk pada kekotoran, mencari keamanan tertinggi dari belenggu yang tanpa kekotoran, Nibbāna, Aku mencapai keamanan tertinggi dari belenggu yang tanpa kekotoran, Nibbāna. Pengetahuan dan penglihatan muncul padaKu: ‘KebebasanKu tidak tergoyahkan; ini adalah kelahiranKu yang terakhir; sekarang tidak ada lagi penjelmaan makhluk yang baru.’
Kapital.

Quote
21. ....
Kemudian Brahmā Sahampati berpikir: ‘Sang Bhagavā telah memenuhi permohonanku untuk mengajarkan Dhamma.’ Dan setelah memberi hormat kepadaKu, dengan aku tetap di sisi kanannya, ia seketika lenyap dari sana.
Kapital.

Quote
24. “Aku merenungkan: ‘Kepada siapakah pertama kali Aku mengajarkan Dhamma? Siapakah yang akan memahami Dhamma ini dengan cepat?’ Kemudian Aku berpikir: ‘Para bhikkhu dari kelompok lima yang melayaniKu sewaktu aku menjalani usahaku telah sangat membantu.  Bagaimana jika Aku mengajarkan Dhamma pertama kali kepada mereka.’ Kemudian Aku berpikir: ‘Di manakah para bhikkhu dari kelompok lima itu menetap?’ Dan dengan mata dewa, yang murni dan melampaui manusia, Aku melihat bahwa mereka sedang menetap di Benares di Taman Rusa di Isipatana.
Kapital.

Quote
25. “Kemudian, para bhikkhu, ketika Aku telah menetap di Uruvelā selama yang Aku inginkan, Aku melakukan perjalanan secara bertahap menuju Benares. Antara Gayā dan tempat pencerahan, Ājīvaka Upaka melihatKu dalam perjalanan itu dan berkata: ‘Teman, indriaMu cerah, warna kulitMu bersih dan cemerlang. Di bawah siapakah engkau meninggalkan keduniawian, teman? Siapakah guruMu? Dhamma siapakah yang Engkau [171] anut? Aku menjawab Ājīvaka Upaka dalam syair:
Kapital.

Quote
26. “Kemudian, para bhikkhu, dengan berjalan secara bertahap, Aku akhirnya sampai di Benares, Taman Rusa di Isipatana, dan Aku mendekati para bhikkhu dari kelompok lima. Dari jauh Para bhikkhu melihatKu mendekat, dan mereka sepakat: ‘Teman-teman, telah datang Petapa Gotama yang hidup dalam kemewahan, yang telah meninggalkan usahaNya, dan kembali kepada kemewahan. Kita tidak perlu memberi hormat kepadanya atau bangkit menyambutnya atau menerima mangkuk dan jubah luarNya. Tetapi sebuah tempat duduk boleh disediakan untukNya. Jika Ia menginginkan, Ia boleh duduk.’ Akan tetapi, ketika Aku mendekat, para bhikkhu itu tidak dapat mempertahankan kesepakatan mereka. Salah seorang datang menyambutKu dan mengambil mangkuk dan jubah luarKu, yang lain menyiapkan tempat duduk, dan yang lain lagi menyediakan air untuk membasuh kakiKu; akan tetapi mereka menyapaKu dengan nama dan sebagai ‘teman.’
"p" tidak kapital
"N" kapital

Quote
29. “Aku berhasil meyakinkan para bhikkhu dari kelompok lima.  Kemudian Aku kadang-kadang memberikan instruksi kepada dua bhikkhu sementara tiga lainnya mengumpulkan dana makanan, dan kami berenam bertahan hidup dari apa yang dibawa kembali oleh ketiga bhikkhu dari perjalanan mereka menerima dana makanan. kadang-kadang Aku memberikan instruksi kepada tiga bhikkhu sementara dua lainnya mengumpulkan dana makanan, dan kami berenam bertahan hidup dari apa yang dibawa kembali oleh kedua bhikkhu dari perjalanan mereka menerima dana makanan.
Kapital.

Quote
31. “Para bhikkhu, terdapat lima utas kenikmatan indria ini.  Apakah lima ini? Bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan, dan disukai, berhubungan dengan keinginan indria, dan merangsang nafsu. suara-suara yang dikenali oleh telinga … bau-bauan yang dikenali oleh hidung … rasa kecapan yang dikenali oleh lidah … obyek-obyek sentuhan yang dikenali oleh badan yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan, dan disukai, berhubungan dengan keinginan indria, dan merangsang nafsu. Ini adalah lima utas kenikmatan indria.
Kapital


27  Cūḷahatthipadopama Sutta - Khotbah pendek tentang Perumpamaan Jejak Kaki Gajah
Spoiler: ShowHide
Quote
4. “Tuan, aku telah melihat di sini para mulia terpelajar tertentu yang cerdas, memiliki pengetahuan tentang ajaran-ajaran lain, setajam para penembak pembelah rambut; mereka mengembara, sebagaimana seharusnya, meruntuhkan pandangan-pandangan lain dengan ketajaman kecerdasan mereka. Ketika mereka mendengar: ‘Petapa Gotama akan mengunjungi desa-desa atau kota itu,’ mereka menyusun pertanyaan sebagai berikut: ‘Kami akan menemui Petapa Gotama dan mengajukan pertanyaan ini kepada Beliau. Jika ia ditanya seperti ini, maka Beliau akan menjawab seperti ini, dan kemudian kami akan menbantah ajarannya dengan cara ini; dan jika ia ditanya seperti itu, maka Beliau akan menjawab seperti itu, dan kemudian kami akan menbantah ajarannya dengan cara itu.’
"Ia" kapital
"ajaranNya" kapital
"membantah"

Quote
7. “Kemudian, aku telah melihat para petapa terpelajar tertentu yang cerdas ... mereka tidak jadi mengajukan pertanyaan kepada Beliau, jadi bagaimana mereka dapat membantah ajaran Beliau? Dalam kenyataannya, mereka malah memohon agar Petapa Gotama mengizinkan mereka meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dan Beliau memberikan pelepasan keduniawian kepada mereka. Tidak lama setelah mereka meninggalkan keduniawian, dengan berdiam sendirian, terasing, rajin, tekun, dan teguh, dengan menembusnya untuk diri mereka sendiri dengan pengetahuan langsung mereka di sini dan saat ini masuk dan berdiam dalam tujuan tertinggi kehidupan suci yang dicari oleh para anggota keluarga yang meninggalkan kehidupan tanpa rumah menuju kehidupan rumah tangga.
kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.

Quote
10. “Brahmana, misalkan seorang pemburu gajah yang cerdas memasuki hutan gajah dan melihat di dalam hutan itu jejak kaki gajah yang besar, panjang dan lebar. Ia tidak akan langsung berkesimpulan: ‘Sungguh, ini adalah gajah jantan yang besar.’ Mengapakah? Karena dalam suatu hutan gajah terdapat gajah-gajah betina kecil yang meninggalkan jejak kaki yang besar, dan ini mungkin salah satu jejaknya. Ia mengikuti jejak itu dan melihat di hutan gajah itu terdapat sebuah jejak kaki gajah besar, panjang dan lebar, dan beberapa guratan tinggi. Seorang pemburu gajah yang cerdas tidak akan langsung berkesimpulan: ‘Sungguh, ini adalah gajah jantan yang besar.’ Mengapakah? Karena dalam suatu hutan gajah terdapat gajah-gajah betina yang tinggi dan memiliki gigi yang panjang dan meninggalkan jejak-jejak yang besar, dan ini mungkin salah satu jejaknya. Ia mengikuti jejak itu lebih jauh dan melihat di hutan gajah itu terdapat sebuah jejak kaki gajah besar, panjang dan lebar, dan beberapa guratan tinggi dan tanda yang berasal dari goresan gading. Seorang pemburu gajah yang cerdas tidak akan langsung berkesimpulan: ‘Sungguh, ini adalah gajah jantan yang besar.’ Mengapakah? Karena dalam suatu hutan gajah terdapat gajah-gajah betina yang tinggi dan memiliki gading dan meninggalkan jejak-jejak yang besar, dan ini mungkin salah satu jejaknya. Ia mengikuti jejak itu lebih jauh dan melihat di hutan gajah itu terdapat sebuah jejak kaki gajah besar, panjang dan lebar, dan beberapa geuratan tinggi dan tanda yang berasal dari goresan gading, dan dahan-dahan yang patah. Dan ia melihat gajah jantan itu di bawah sebatang pohon atau di tempat terbuka, berjalan, duduk, atau berbaring. Ia sampai pada kesimpulan: ‘Ini adalah gajah jantan besar itu.’

Quote
11. “Demikian pula, [179] Brahmana, di sini Seorang Tathāgata muncul di dunia, sempurna, tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, mulia, pengenal segala alam, pemimpin yang tanpa bandingan bagi orang-orang yang harus dijinakkan, guru para dewa dan manusia, tercerahkan, terberkahi. Beliau menyatakan pada dunia ini bersama dengan para dewa, Māra, dan Brahmā, pada generasi ini bersama dengan para petapa dan brahmana, para raja dan rakyatnya, yang telah Beliau tembus oleh dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung. Beliau mengajarkan Dhamma yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah di akhir, dengan makna dan kata-kata yang benar, dan Beliau mengungkapkan kehidupan suci yang murni dan sempurna.
"seorang Tathāgata"
"diriNya"

Quote
12.  “Seorang perumah tangga atau putera perumah tangga atau seseorang yang terlahir dalam salah satu kasta lainnya mendengar Dhamma itu. Setelah mendengar Dhamma ia memperoleh keyakinan pada Sang Tathāgata. Dengan memiliki keyakinan itu, ia merenungkan sebagai berikut:

Quote
13. “Setelah meninggalkan keduniawian dan memiliki latihan dan gaya hidup kebhikkhuan, meninggalkan pembunuhan makhluk-makhluk hidup, ia menghindari pembunuhan makhluk-makhluk hidup; dengan tongkat pemukul dan senjata disingkirkan, lembut dan baik hati, ia berdiam dengan berbelas kasih pada semua makhluk. Dengan meninggalkan perbuatan mengambil apa yang tidak diberikan, ia menghindari perbuatan mengambil apa yang tidak diberikan; mengambil hanya apa yang diberikan, menerima hanya apa yang diberikan, dengan tidak mencuri ia berdiam dalam kemurnian. Meninggalkan kehidupan tidak-selibat, ia melaksanakan hidup selibat, hidup terpisah, menghindari praktik vulgar hubungan seksual.

“Dengan meninggalkan ucapan salah, ia menghindari ucapan salah; ia mengatakan kebenaran, terikat pada kebenaran, dapat dipercaya dan dapat diandalkan, seorang yang bukan penipu dunia. Dengan menghindari ucapan fitnah, ia menghindari ucapan fitnah; ia tidak mengulangi di tempat lain apa yang telah ia dengar di sini dengan tujuan untuk memecah-belah [orang-orang itu] dari orang-orang ini,
bukan "meninggalkan" ya?
« Last Edit: 01 February 2013, 02:19:20 PM by hemayanti »
"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #104 on: 01 February 2013, 02:14:03 PM »
Kelompok Perumpamaan (Opammavagga)

28  Mahāhatthipadopama Sutta - Khotbah panjang tentang Perumpamaan Jejak Kaki Gajah
Spoiler: ShowHide
Quote
2. “Teman-teman, bagaikan jejak kaki makhluk hidup apapun juga yang berjalan dapat masuk ke dalam jejak kaki gajah, dan dengan demikian jejak kaki gajah dinyatakan sebagai pemimpinnya karena ukurannya yang besar; demikian pula, semua kondisi-kondisi bermanfaat dalam dimasukkan dalam Empat Kebenaran Mulia.  Dalam empat apakah? Dalam kebenaran mulia tentang penderitaan, [185] dalam kebenaran mulia tentang asal-mula penderitaan, dalam kebenaran mulia lenyapnya penderitaan, dan dalam kebenaran mulia tentang jalan menuju lenyapnya penderitaan.
"dalam" atau "dapat"?

Quote
28. “Bentuk materi dalam apa yang telah muncul demikian adalah termasuk dalam kelompok unsur materi yang terpengaruh oleh kemelekatan.  Perasaan dalam apa yang telah muncul demikian adalah termasuk dalam kelompok unsur perasaan yang terpengaruh oleh kemelekatan. Persepsi dalam apa yang telah muncul demikian adalah termasuk dalam kelompok unsur persepsi yang terpengaruh oleh kemelekatan. Bentukan-bentukan dalam apa yang telah muncul demikian adalah termasuk dalam kelompok unsur bentukan-bentukan yang terpengaruh oleh kemelekatan. Kesadaran dalam apa yang telah muncul demikian adalah termasuk dalam kelompok unsur kesadaran yang terpengaruh oleh kemelekatan. Ia memahami sebagai berikut: ‘Sungguh, ini adalah bagaimana terjadinya kebersamaan, pertemuan, dan berkumpulnya hal-hal ke dalam lima kelompok unsur kehidupan yang terpengaruh oleh kemelekatan ini. Sekarang ini telah dikatakan oleh Sang Bhagavā: “Seorang yang melihat [191] kemunculan bergantungan melihat Dhamma; seorang yang melihat Dhamma melihat kemunculan bergantungan melihat Dhamma.


29  Mahāsāropama Sutta - Khotbah panjang tentang Perumpamaan Inti Kayu
Spoiler: ShowHide
Quote
5. “Di sini, para bhikkhu, beberapa anggota keluarga meninggalkan keduniawian karena keyakinan dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dengan merenungkan: ‘Aku adalah korban kelahiran, penuaan, dan kematian, korban dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan; Aku adalah korban penderitaan, mangsa bagi penderitaan. Akhir dari keseluruhan kumpulan penderitaan ini pasti dapat diketahui.’ Ketika ia telah meninggalkan keduniawian demikian, ia memperoleh keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran. Ia tidak senang dengan keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran itu, dan tujuannya belum terpenuhi … Karena rajin, ia mencapai pencapaian moralitas. Ia tidak senang akan pencapaian moralitas itu, dan tujuannya belum terpenuhi … Karena rajin, ia mencapai pencapaian konsentrasi. Ia senang akan pencapaian konsentrasi itu, tetapi tujuannya belum terpenuhi.  Ia tidak, karena hal itu, memuji dirinya sendiri dan mencela orang lain. Ia tidak menjadi mabuk dengan pencapaian konsentrasi itu; ia tidak mengembangkan kelengahan dan tidak jatuh dalam kelengahan. Karena rajin, ia mencapai pengetahuan dan penglihatan.  Ia senang dengan pengetahuan dan penglihatan tersebut dan tujuannya terpenuhi. Karena hal itu ia memuji dirinya sendiri dan mencela orang lain sebagai berikut: ‘Aku hidup dengan mengetahui dan melihat, tetapi para bhikkhu lain ini tidak mengetahui dan tidak melihat.’ Ia menjadi mabuk dengan pengetahuan dan penglihatan itu, mengembangkan kelengahan, jatuh dalam kelengahan, dan karena lengah, ia hidup dalam penderitaan.
.....
6. “Di sini, para bhikkhu, beberapa anggota keluarga meninggalkan keduniawian karena keyakinan dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dengan merenungkan: ‘Aku adalah korban kelahiran, penuaan, dan kematian, korban dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan; Aku adalah korban penderitaan, mangsa bagi penderitaan. Akhir dari keseluruhan kumpulan penderitaan ini pasti dapat diketahui.’ Ketika ia telah meninggalkan keduniawian demikian, ia memperoleh keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran. Ia tidak senang dengan keuntungan, kehormatan, dan kemasyhuran itu, dan tujuannya belum terpenuhi … Karena rajin, ia mencapai pencapaian moralitas. Ia senang akan pencapaian moralitas itu, tetapi tujuannya belum terpenuhi … Karena rajin, ia mencapai pencapaian konsentrasi. Ia senang akan pencapaian konsentrasi itu, tetapi tujuannya belum terpenuhi.  Karena rajin, ia mencapai pengetahuan dan penglihatan. Ia senang akan pengetahuan dan penglihatan itu, tetapi tujuannya belum terpenuhi.  Ia tidak, karena hal itu, memuji dirinya sendiri dan mencela orang lain. Ia tidak menjadi mabuk dengan pengetahuan dan penglihatan itu; ia tidak mengembangkan kelengahan dan tidak jatuh dalam kelengahan. Karena rajin, ia mencapai kebebasan terus-menerus. Dan adalah tidak mungkin bagi bhikkhu itu untuk terjatuh dari kebebasan terus-menerus itu.
tidak senang atau senang?
sama seperti sutta 30 paragraf 11
"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #105 on: 10 February 2013, 10:42:19 AM »
Kelompok Panjang Berpasangan (Mahāyamakavagga)
31  Cūḷagosinga Sutta - Khotbah Pendek di Gosinga
Spoiler: ShowHide
Quote
7. “Yang Mulia, sehubungan dengan hal itu, aku berpikir: ‘adalah suatu keuntungan bagiku, adalah keuntungan besar bagiku, bahwa aku hidup bersama dengan teman-teman demikian dalam kehidupan suci.’ Aku mempertahankan perbuatan jasmani cinta kasih terhadap para mulia itu baik secara terbuka maupun secara pribadi; Aku mempertahankan ucapan cinta kasih terhadap para mulia itu baik secara terbuka maupun secara pribadi; Aku mempertahankan pikiran cinta kasih terhadap para mulia itu baik secara terbuka maupun secara pribadi.  Aku mempertimbangkan: ‘Mengapa Aku tidak [207] mengesampingkan apa yang ingin kulakukan dan melakukan apa yang para mulia ini ingin lakukan?’ kemudian aku mengesampingkan apa yang ingin kulakukan dan melakukan apa yang para mulia ini ingin lakukan. Kami berbeda secara jasmani, Yang Mulia, tetapi kami satu dalam pikiran.”
[...]
20. Setelah mereka menyertai Sang Bhagavā, hingga jarak tertentu dan kembali lagi, Yang Mulia [210] Nandiya dan Yang Mulia Kimbila bertanya kepada Yang Mulia Anuruddha: “Pernahkah kami melaporkan kepada Yang Mulia Anuruddha bahwa kami telah mencapai kediaman dan pencapaian itu yang oleh Yang Mulia Anuruddha, di hadapan Sang Bhagavā, katakan berasal dari kami hingga pada hancurnya noda-noda?”

“Para Mulia tidak pernah melaporkan kepadaku bahwa mereka telah mencapai kediaman dan pencapaian itu. Namun dengan melingkupi pikiran para mulia dengan pikiranku, Aku mengetahui bahwa mereka telah mencapai kediaman dan pencapaian itu. Dan dewa juga telah melaporkan kepadaku: ‘Para mulia ini telah mencapai kediaman dan pencapaian itu.’ Maka aku mengatakannya ketika secara langsung ditanya oleh Sang Bhagavā.”
"a" tidak kapital


34  Cūḷagopālaka Sutta - Khotbah Pendek tentang Penggembala Sapi
Spoiler: ShowHide
semua kata "sungai Gangga" menjadi "Sungai Gangga"
dan "negeri Videha" menjadi "Negeri Videha"


Spoiler: ShowHide
35  Cūḷasaccaka Sutta - Khotbah Pendek kepada Saccaka
Quote
2. Pada saat itu Saccaka putera Nigaṇṭha sedang menetap Di Vesālī, seorang pendebat dan pembicara cerdas yang dianggap oleh banyak orang sebagai orang suci.  ia membuat pernyataan di hadapan kumpulan orang-orang Vesālī: “Aku tidak melihat ada petapa atau brahmana, pemimpin suatu aliran, pemimpin suatu kelompok, guru dari suatu kelompok, bahkan seorang yang mengaku telah sempurna dan tercerahkan sempurna, yang tidak terguncang, menggigil, dan gemetar, dan ketiaknya berkeringat jika ia terlibat dalam perdebatan denganku. Bahkan jika aku berdebat dengan tiang yang mati, tiang itu akan terguncang, menggigil, dan gemetar jika tiang terlibat dalam perdebatan denganku, apalagi manusia?”
"di Vesali"
"I" kapital
semua kata "putera" pada paragraf selanjutnya menjadi "putra"

Quote
5. Pada saat itu lima ratus Licchavi berkumpul di dalam sebuah aula pertemuan untuk suatu urusan. Kemudian Saccaka putera Nigaṇṭha mendatangi mereka dan berkata: “Marilah, para Licchavi yang baik, datanglah! Hari ini akan ada suatu perdebatan antara aku dan Petapa Gotama. Jika Petapa Gotama mempertahankan di depanku apa yang telah dipertahankan di depanku oleh salah satu siswa terkenalNya, bhikkhu bernama Assaji, maka bagaikan seorang kuat dapat mencengkeram seekor domba jantan berbulu lebat pada bulunya dan menariknya berputar, demikian pula dalam perdebatan itu aku akan menarik Petapa Gotama ke sana dan menarik Beliau ke sini dan menariknya berputar. Bagaikan seorang pembuat minuman keras yang kuat dapat melemparkan sebuah panci minuman besar ke dalam tangki air yang dalam, dan dengan memegang salah satu ujungnya, menariknya ke sana dan menariknya ke sini dan menariknya berputar, demikian pula dalam perdebatan itu aku akan menarik Petapa Gotama ke sana dan menarik Beliau ke sini dan menariknya berputar. Bagaikan seorang pengaduk minuman keras yang kuat [229] dapat memegang tepi saringan dan mengguncangnya ke bawah dan mengguncangnya ke atas dan mengguncangnya ke segala arah, demikian pula dalam perdebatan itu aku akan mengguncang Petapa Gotama ke atas dan mengguncang Beliau ke bawah dan mengguncang Beliau ke segala arah. Dan bagaikan seekor gajah berumur enam puluh tahun mencebur ke dalam kolam dan menikmati permainan mencuci rami, demikian pula aku akan menikmati permainan mencuci rami dengan Petapa Gotama.  Marilah, para Licchavi yang baik, datanglah! Hari ini akan ada suatu perdebatan antara aku dan Petapa Gotama.”
"N" kapital merujuk pada Sang Buddha

Quote
10. “Sebuah perumpamaan muncul padaku, Guru Gotama.”

“Jelaskanlah, Aggivessana,” Sang Bhagavā berkata.

“Seperti halnya ketika benih dan tanaman, apapun jenisnya, tumbuh, berkembang, dan matang, semuanya terjadi dengan bergantung pada tanah, berlandaskan pada tanah; dan seperti halnya pekerjaan keras, apapun jenisnya, yang dilakukan, semua dilakukan dengan bergantung pada tanah, berlandaskan pada tanah – demikian pula, Guru Gotama, seseorang memiliki bentuk materi sebagai diri, dan berlandaskan pada bentuk materi itu ia menghasilkan kebajikan atau kejahatan. Seseorang memiliki perasaan sebagai diri, dan berlandaskan pada perasaan ia menghasilkan kebajikan atau kejahatan. Seseorang memiliki persepsi sebagai diri, dan berlandaskan pada persepsi ia menghasilkan kebajikan atau kejahatan. Seseorang memiliki bentukan=bentukan sebagai diri, dan berlandaskan pada bentukan-bentukan ia menghasilkan kebajikan atau kejahatan. Seseorang memiliki kesadaran sebagai diri, dan berlandaskan pada kesadaran ia menghasilkan kebajikan atau kejahatan.”
garis datar "-"

Quote
12. “Maka, Aggivessana, aku akan mengajukan pertanyaan kepadamu sebagai jawaban. Jawablah dengan apa yang menurutmu benar. [231] Bagaimana menurutmu, Aggivessana? Apakah seorang raja agung yang sah – misalnya, Raja Pasenadi dari Kosala atau Raja Ajātasattu Vedehiputta dari Magadha – akan menjalankan kekuasaannya untuk mengeksekusi mereka yang harus dieksekusi, menghukum mereka yang harus dihukum, dan mengusir mereka yang harus diusir?”

“Guru Gotama, seorang raja agung yang sah – misalnya, Raja Pasenadi dari Kosala atau Raja Ajātasattu Vedehiputta dari Magadha – akan menjalankan kekuasaannya untuk mengeksekusi mereka yang harus dieksekusi, menghukum mereka yang harus dihukum, dan mengusir mereka yang harus diusir. Karena bahkan komunitas [oligarki]  seperti para Vajji ini para Malla menjalankan menjalankan kekuasaannya untuk mengeksekusi mereka yang harus dieksekusi, menghukum mereka yang harus dihukum, dan mengusir mereka yang harus diusir; apalagi raja mulia yang sah seperti Raja Pasenadi dari Kosala atau Raja Ajātasattu Vedehiputta dari Magadha. Ia akan menjalankannya, Guru Gotama, dan ia selayaknya menjalankannya.”
double kata "mejalankan"

Quote
27. Ketika hal ini dikatakan, Saccaka putera Nigaṇṭha [236] menjawab: “Guru Gotama, kami sungguh berani dan lancang berpikir bahwa kami dapat menyerang Guru Gotama dalam perdebatan. Seseorang dapat menyerang seekor gajah gila dan selamat, namun ia tidak dapat menyerang Guru Gotama dan selamat. Seseorang dapat menyerang kobaran api yang menyala-nyala dan selamat, namun ia tidak dapat menyerang Guru Gotama dan selamat. Seseorang dapat menyerang seekor ular berbisa yang mengerikan dan selamat, namun ia tidak dapat menyerang Guru Gotama dan selamat. kami sungguh berani dan lancang berpikir bahwa kami dapat menyerang Guru Gotama dalam perdebatan.
"K" kapital


36  Mahāsaccaka Sutta - Khotbah Panjang kepada Saccaka
Spoiler: ShowHide
Quote
2. Pada saat itu, di pagi hari, Sang Bhagavā telah merapikan jubah dan telah mengambil mangkuk dan jubah luarnya, hendak memasuki Vesālī untuk menerima dana makanan.
"N" kapital

Quote
3. Kemudian, ketika Saccaka putera Nigaṇṭha sedang berjalan sambil berolah-raga, ia tiba di Aula Beratap Lancip di Hutan Besar.  Dari jauh Yang Mulia Ānanda melihat kedatangannya dan berkata kepada Sang Bhagavā: “Yang Mulia, Saccaka putera Nigaṇṭha, seorang pendebat dan pembicara yang cerdas yang dianggap oleh banyak orang sebagai orang suci, sedang datang ke sini. Ia ingin mendiskreditkan Sang Buddha, Dhamma, dan Sangha. Baik sekali jika Bhagavā sudi duduk sebentar demi belas kasihan.”  Sang Bhagavā duduk di tempat yang telah dipersiapkan. Kemudian Saccaka putera Nigaṇṭha mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan Beliau. Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi dan berkata kepada Sang Bhagavā:
semua kata "putera" menjadi "putra"

Quote
17. “Sekarang ketiga perumpamaan ini muncul padaKu secara spontan yang belum pernah terdengar sebelumnya.
[...]
Ini adalah perumpamaan pertama yang muncul padaku secara spontan yang belum pernah terdengar sebelumnya.

18. “Kemudian, Aggivessana, perumpamaan ke dua muncul padaKu secara spontan yang belum pernah terdengar sebelumnya.
[...]
Ini adalah perumpamaan ke dua yang muncul padaku secara spontan, yang belum pernah terdengar sebelumnya.
"K" kapital

Quote
19. “Kemudian, Aggivessana, perumpamaan ke tiga muncul padaKu [242] secara spontan, yang belum pernah terdengar sebelumnya. Misalkan terdapat sebatang kayu kering terletak di atas tanah kering yang jauh dari air, dan seseorang datang dengan sebatang kayu-api, dengan berpikir: ‘Aku akan menyalakan api, aku akan menghasilkan panas.’ Bagaimana menurutmu, Aggivessana? Dapatkah orang itu menyalakan api dan menghasilkan panas dengan menggosokkan kayu api dengan kayu kering yang terletak di atas tanah kering yang jauh dari air?”

“Dapat, Guru Gotama. Mengapa? Karena kayu itu adalah kayu kering, dan kayu itu terletak di atas tanah kering yang jauh dari air.”

“Demikian pula, Aggivessana, sehubungan dengan para petapa dan brahmana itu yang masih hidup dengan jasmani yang terasing dari kenikmatan indria, dan yang keinginan indrianya, cintanya, ketergila-gilaannya, dahaganya, dan demamnya akan kenikmatan indria telah sepenuhnya ditinggalkan dan ditekan secara internal, bahkan jika para petapa dan brahmana baik itu merasakan perasaan-perasaan yang menyakitkan, menyiksa, menusuk karena usaha, mereka akan mampu mencapai pengetahuan dan penglihatan dan pencerahan tertinggi; dan bahkan jika para petapa dan brahmana baik itu tidak merasakan perasaan-perasaan yang menyakitkan, menyiksa, menusuk karena usaha, mereka akan mampu mencapai pengetahuan dan penglihatan dan pencerahan tertinggi.  Ini adalah perumpamaan ke tiga yang muncul padaku secara spontan, yang belum pernah terdengar sebelumnya. Ini adalah tiga perumpamaan yang muncul padaku secara spontan yang belum pernah terdengar sebelumnya.
"K" kapital
kalimatnya double.

Quote
20.  “Aku berpikir: ‘Bagaimana jika, dengan mengertakkan gigiku dan menekan lidahku ke langit-langit mulutku, aku menekan, mendesak, dan menggilas pikiran dengan pikiran.’ Maka dengan gigiku dikertakkan dan lidahku menekan langit-langit mulut, aku menekan, mendesak, dan menggilas pikiran dengan pikiran. Sewaktu aku melakukan demikian, keringat menetes dari ketiakKu. Bagaikan seorang kuat mampu mencengkeram seorang yang lebih lemah pada kepala atau bahunya dan menekannya, mendesaknya, dan menggilasnya, demikian pula, gigiku terkatup dan lidahku menekan langit-langit mulut, aku menekan, mendesak, dan menggilas pikiran dengan pikiran, dan keringat menetes dari ketiakKu. Tetapi walaupun kegigihan yang tidak kenal lelah telah dibangkitkan dalam diriKu dan perhatian yang tidak mengendur telah kokoh, tubuhku kelelahan [243] dan tidak tenang karena Aku terlalu letih oleh usaha yang menyakitkan. Tetapi perasaan menyakitkan demikian yang muncul padaKu tidak menyerbu pikiranKu dan tidak menetap di sana.
"K" dan "A" kapital, merujuk pada Sang Buddha.
demikian juga paragraf2 selanjutnya.

Quote
30. “Aku berpikir: ‘Para petapa atau brahmana manapun di masa lampau telah mengalami perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk Karena usaha ini, ini adalah yang terjauh, tidak ada yang melampaui ini. Dan para petapa atau brahmana manapun di masa depan akan mengalami perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk Karena usaha ini, ini adalah yang terjauh, tidak ada yang melampaui ini. Dan para petapa atau brahmana manapun di masa sekarang mengalami perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk Karena usaha ini, ini adalah yang terjauh, tidak ada yang melampaui ini. Tetapi melalui latihan keras yang menyiksa ini Aku tidak mencapai kondisi melampaui manusia apapun, keluhuran apapun dalam pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia. Apakah ada jalan lain menuju pencerahan?”
"k" tidak kapital

Quote
33. “Aku mempertimbangkan: ‘Tidaklah mudah untuk mencapai kenikmatan demikian dengan badan yang sangat kurus. Bagaimana jika Aku memakan sedikit makanan padat – sedikit nasi dan bubur.’ Dan Aku memakan sedikit makanan padat – sedikit nasi dan bubur. Pada saat itu lima bhikkhu melayaniku, dengan berpikir: ‘Jika Petapa Gotama kita mencapai kondisi yang lebih tinggi, Beliau akan memberitahu kita.’ Tetapi ketika Aku memakan nasi dan bubur, kelima bhikkhu itu menjadi jijik dan meninggalkan Aku, dengan berpikir: ‘Petapa Gotama sekarang hidup dalam kemewahan; ia telah meninggalkan usahaNya dan kembali pada kemewahan.’

34. “Ketika Aku telah memakan sedikit makanan padat dan memperoleh kembali kekuatanKu, maka dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, Aku masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan kegembiraan dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Tetapi perasaan menyenangkan yang muncul padaKu itu tidak menyerbu pikiranku dan tidak menetap di sana.

35-37. “Dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, Aku masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua ... Dengan meluruhnya kegembiraan ... Aku masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga ... Dengan  meninggalkan kenikmatan dan kesakitan ... Aku masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat ... Tetapi perasaan menyenangkan yang muncul padaKu itu tidak menyerbu pikiranku dan tidak menetap di sana.

[...]

39. “Ini adalah pengetahuan sejati pertama yang dicapai olehKu pada jaga pertama malam itu. Kebodohan tersingkir dan pengetahuan sejati muncul, kegelapan tersingkir dan cahaya muncul, seperti yang terjadi dalam diri seorang yang berdiam dengan tekun, rajin dan bersungguh-sungguh. Tetapi perasaan menyenangkan yang muncul padaKu itu tidak menyerbu pikiranku dan tidak menetap di sana.

[...]

41. “Ini adalah pengetahuan sejati ke dua yang dicapai olehKu pada jaga ke dua malam itu. Kebodohan tersingkir dan pengetahuan sejati muncul, [249] kegelapan tersingkir dan cahaya muncul, seperti yang terjadi dalam diri seorang yang berdiam dengan tekun, rajin dan bersungguh-sungguh. Tetapi perasaan menyenangkan yang muncul padaKu itu tidak menyerbu pikiranku dan tidak menetap di sana.

[...]

44. “Ini adalah pengetahuan sejati ke tiga yang dicapai olehKu pada jaga ke tiga malam itu. Kebodohan tersingkir dan pengetahuan sejati muncul, kegelapan tersingkir dan cahaya muncul, seperti yang terjadi dalam diri seorang yang berdiam dengan tekun, rajin dan bersungguh-sungguh. Tetapi perasaan menyenangkan yang muncul padaKu itu tidak menyerbu pikiranku dan tidak menetap di sana.

[..]

46. “Aku ingat, Aggivessana, di bulan terakhir musim panas, ketika kembali dari perjalanan menerima dana makanan, setelah makan Aku menggelar jubah luarku yang dilipat empat, dan berbaring pada sisi kananKu, Aku jatuh tertidur dengan penuh perhatian dan penuh kewaspadaan.”
"K" kapital

Quote
48. Ketika hal ini dikatakan, Saccaka putera Nigaṇṭha berkata: “Sungguh menakjubkan, Guru Gotama, sungguh mengagumkan bagaimana ketika Guru Gotama menerima kata-kata sindiran lagi dan lagi, diserang oleh ucapan yang tidak sopan, warna kulitNya menjadi cerah dan raut wajahnya jernih, seperti yang seharusnya diharapkan dari seorang yang sempurna dan tercerahkan sempurna. Aku ingat, Guru Gotama, ketika terlibat perdebatan dengan Pūraṇa Kassapa, dan kemudian ia berbicara berbelit-belit, mengalihkan permbicaraan, dan menunjukkan kemarahan, kebencian, dan kekesalan. Tetapi ketika Guru Gotama menerima kata-kata sindiran lagi dan lagi, diserang oleh ucapan yang tidak sopan, warna kulitNya menjadi cerah dan raut wajahnya jernih, seperti yang seharusnya diharapkan dari seorang yang sempurna dan tercerahkan sempurna. Aku ingat, Guru Gotama, ketika terlibat perdebatan dengan Makkhali Gosāla ... Ajita Kesakambalin ... Pakudha Kaccāyana ... Sañjaya Belaṭṭhiputta ... Nigaṇṭha Nātaputta, [251] dan berbicara berbelit-belit, mengalihkan permbicaraan, dan menunjukkan kemarahan, kebencian, dan kekesalan. Tetapi ketika Guru Gotama menerima kata-kata sindiran lagi dan lagi, diserang oleh ucapan yang tidak sopan, warna kulitNya menjadi cerah dan raut wajahnya jernih, seperti yang seharusnya diharapkan dari seorang yang sempurna dan tercerahkan sempurna. Dan sekarang, Guru Gotama, kami pergi. Kami sibuk dan banyak hal yang harus kami lakukan.”
"N" kapital
"Sañjaya Belaṭṭhaputta"
"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #106 on: 10 February 2013, 10:43:12 AM »
Kelompok Panjang Berpasangan (Mahāyamakavagga)
38  Mahātaṇhāsankhaya Sutta - Khotbah Panjang tentang Hancurnya Keinginan
Spoiler: ShowHide
2. Pada saat itu suatu pandangan sesat telah muncul pada seorang bhikkhu bernama Sāti, putera seorang nelayan, sebagai berikut: “Seperti Dhamma yang kupahami yang diajarkan oleh Sang Bhagavā, adalah kesadaran yang sama ini yang berlanjut dan mengembara di sepanjang lingkaran kelahiran, bukan yang lain.”
semua kata "putera" --> "putra"

Quote
5. Kemudian Sang Bhagavā memanggil seorang bhikkhu: “Pergilah, [258] bhikkhu, beritahu BHikkhu Sāti, putera seorang nelayan atas namaKu bahwa Sang Guru memanggilnya.” – “Baik, Yang Mulia,” ia menjawab, dan ia mendatangi Bhikkhu Sāti dan memberitahunya: Sang Guru memanggilmu, Teman Sāti.”
"h"

Quote
21. “’Dengan lenyapnya kelahiran, maka lenyap pula penuaan dan kematian’: demikianlah dikatakan. Sekarang, para bhikkhu, apakah penuaan dan kematian lenyap dengan lenyapnya kelahiran atau tidak, atau begaimanakah kalian memahaminya dalam  kasus ini?”

“Penuaan dan kematian lenyap dengan lenyapnya kelahiran, Yang Mulia. Demikianlah kami memahaminya dalam kasus ini:’Dengan lenyapnya kelahiran, maka lenyap pula penuaan dan kematian.’”

“’Dengan lenyapnya penjelmaan, maka lenyap pula kelahiran’ … ‘Dengan lenyapnya kemelekatan, maka lenyap pula penjelmaan’ … ‘Dengan lenyapnya keinginan, maka lenyap pula kemelekatan’ … Dengan lenyapnya perasaan, maka lenyap pula keinginan’ … ‘Dengan lenyapnya kontak, maka lenyap pula perasaan’ [264] … ‘Dengan lenyapnya enam landasan, maka lenyap pula kontak’ … ‘Dengan lenyapnya batin-jasmani, maka lenyap pula enam landasan’ … ‘Dengan lenyapnya kesadaran, maka lenyap pula batin-jasmani’ … ‘Dengan lenyapnya bentukan-bentukan, maka lenyap pula kesadaran’ … ’Dengan lenyapnya kebodohan, maka lenyap pula bentukan-bentukan’: demikianlah dikatakan. Sekarang, para bhikkhu, apakah bentukan-bentukan lenyap dengan lenyapnya kebodohan atau tidak, atau begaimanakah kalian memahaminya dalam  kasus ini?”
"bagaimanakah"


39  Mahā-Assapura Sutta - Khotbah Panjang di Assapura
Spoiler: ShowHide
Quote
21. “Ketika konsentrasi pikirannya sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai keadaan tanpa-gangguan, ia mengarahkannya pada pengetahuan hancurnya noda-noda. ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah penderitaan’; … ‘Ini adalah asal-mula penderitaan’; … ‘Ini adalah lenyapnya penderitaan’; … ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan.’; … ‘Ini adalah noda-noda’; … ‘Ini adalah asal-mula noda-noda’; … ‘Ini adalah lenyapnya noda-noda’ … ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya noda-noda.’
"I" kapital


40  Cūḷa-Assapura Sutta - Khotbah Pendek di Assapura
Spoiler: ShowHide
Quote
6. [...]
“Jika dengan ketelanjangan seorang petapa telanjang yang tamak meninggalkan ketamakan ... Jika dengan berlumuran tanah dan debu ... Jika dengan melakukan ritual mandi... Jika dengan menetap di bawah pohon ... Jika dengan menetap di ruang terbuka ... jika dengan terus-menerus berdiri ... Jika dengan makan pada interval waktu yang telah ditentukan ... Jika dengan membaca mantera ... Jika dengan berambut kusut ... [283] ... dan itulah sebabnya mengapa Aku tidak mengatakan bahwa status petapa datang dari seorang petapa berambut kusut hanya karena berambut kusut.
"Jika"
"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #107 on: 10 February 2013, 03:12:22 PM »

"Sañjaya Belaṭṭhaputta"

ini sumbernya dari mana?

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
« Last Edit: 10 February 2013, 06:28:56 PM by hemayanti »
"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #109 on: 11 February 2013, 06:18:29 AM »
http://dhammacitta.org/dcpedia/DN_2:_S%C4%81ma%C3%B1%C3%B1aphala_Sutta

Majjhima Nikaya diterjemahkan dari sumber dan penerjemah yg berbeda dengan Digha Nikaya

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #110 on: 11 February 2013, 10:32:21 PM »
Kelompok Pendek Berpasangan (Cūḷayamakavagga)
41  Sāleyyaka Sutta - Brahmana Sālā
Spoiler: ShowHide
Quote
2. para brahmana perumah tangga dari Sālā mendengar: “Petapa Gotama, putera Sakya yang meninggalkan keduniawian dari suku Sakya, telah mengunjungi negeri Kosala bersama banyak Sangha para bhikkhu dan telah tiba di Sālā. Sekarang berita baik sehubungan dengan Guru Gotama telah menyebar sebagai berikut: ....
"P" kapital
"putra"


44  Cūḷavedalla Sutta - Rangkaian pendek Tanya-Jawab
Spoiler: ShowHide
Quote
29. “Yang Mulia, apakah pasangan dari perasaan menyenangkan?”
[...]
“Teman Visākha, engkau melewati batas mengajukan pertanyaan terlalu jauh, engkau tidak mampu menangkap batasan pertanyaan-pertanyaan.  Karena kehidupan suci, teman Visākha, berlandaskan dpada Nibbāna, memuncak dalam Nibbāna, berakhir dalam Nibbāna. Jika engkau menghendaki, teman Visākha, temuilah Sang Bhagavā dan tanyakan kepada Beliau mengenai makna ini. Sebagaimana Sang Bhagavā menjelaskan kepadamu, demikianlah engkau harus mengingatnya.”


47  Vīmaṁsaka Sutta - Penyelidik
Spoiler: ShowHide
Quote
12. “Jika ditanya, ‘Ada atau tidakkah terdapat pada Sang Tathāgata kondisi campuran apapun yang dapat dikenali melalui mata atau melalui telinga?’S Sang Tathāgata akan menjawab: ‘Tidak ada kondisi campuran apapun yang dapat dikenali melalui mata atau melalui telinga yang dapat ditemukan pada Sang Tathāgata.’


49  Brahmanimantanika Sutta - Undangan Brahmā
Spoiler: ShowHide
Quote
6. “Ketika hal ini dikatakan, Aku memberitahu Māra: ‘Aku mengenalmu, Sang Jahat. Jangan berpikir: “Ia tidak mengenalku.” Engkau adalah Māra, si Jahat, dan Brahmā dan kelompok Brahmā dan para pengikut Kelompok Brahmā semuanya telah jatuh ke dalam genggamanmu, mereka telah jatuh ke dalam kekuatanMu. Engkau, si Jahat, berpikir: “Yang ini juga telah jatuh ke dalam genggamanku, yang ini juga telah jatuh ke dalam kekuatanKu.”; tetapi Aku tidak jatuh ke dalam genggamanmu, Sang Jahat, Aku tidak jatuh ke dalam kekuatanmu.’
"mu" dan "ku" tidak kapital --> murujuk pada Mara

Quote
7. “Ketika hal ini dikatakan, Brahmā Baka berkata kepadaKu: ‘Tuan, aku mengatakan yang kekal sebagai kekal, [328] yang bertahan selamanya sebagai bertahan selamanya, yang abadi sebagai abadi, yang seluruhnya sebagai seluruhnya, yang tidak tunduk pada kematian sebagai tidak tunduk pada kematian, yang tidak terlahir juga tidak menua juga tidak mati juga tidak meninggal dunia juga tidak muncul kembali sebagai tidak terlahir juga tidak menua juga tidak mati juga tidak meninggal dunia juga tidak muncul kembali; dan ketika tidak ada jalan membebaskan diri dari hal-hal ini, aku mengatakan tidak ada jalan membebaskan diri dari hal-hal ini. Sebelum Engkau, Bhikkhu, terdapat para petapa dan brahmana di dunia ini yang menjalani pertapaan seumur hidupMu. Mereka mengetahui, jika ada jalan membebaskan diri, maka ada jalan membebaskan diri, dan ketika tidak ada jalan membebaskan diri, maka tidak ada jalan membebaskan diri. Maka, Bhikkhu, aku memberitahukan kepadamu: Engkau tidak akan menemukan jalan membebaskan diri, dan akhirnya Engkau hanya akan menemui kelelahan dan kekecewaan. Jika engkau menggenggam tanah, maka engkau akan dekat denganku, dalam wilayahku, melakukan kehendakku dan menghukum untukku.  Jika engkau menggenggam air ... api ... udara ... makhluk-makhluk ... para dewa ... Pajāpati ... Brahmā, maka engkau akan dekat denganku, dalam wilayahku, melakukan kehendakku dan menghukum untukku.’
"Mu" --> merujuk pada Sang Buddha

Quote
26. “’Tuan, aku akan menghilang dari hadapanMu.’

“Menghilanglah dari hadapanKu jika engkau mampu, Brahmā.’

“Kemudian Brahmā Baka, dengan berkata: ‘Aku akan menghilang dari hadapan Petapa Gotama, Aku akan menghilang dari hadapan Petapa Gotama,’ tidak mampu menghilang. Kemudian Aku berkata: ‘Brahmā, Aku akan menghilang dari hadapanmu.’

“Menghilanglah dari hadapanKu jika engkau mampu, Tuan.’

“Kemudian Aku mengerahkan kekuatan batin sehingga Brahmā dan kelompok Brahmā dan para pengikut kelompok Brahmā dapat mendengar suaraKu namun tidak dapat melihatKu. Setelah aku menghilang, Aku mengucapkan syair ini:
"ku" tidak kapital --> merujuk pada Brahma
"Aku"

Quote
29. “Kemudian Māra si Jahat menguasai salah satu pengikut Kelompok Brahmā, dan berkata kepadaKu: ‘Tuan, jika itu adalah apa yang Engkau ketahui, jika itu adalah apa yang telah engkau temukan, janganlah Engkau menuntun para siswa [awam] atau mereka yang meninggalkan keduniawian, janganlah Engkau mengajarkan Dhamma kepada para siswa [awam] atau mereka yang meninggalkan keduniawian, janganlah Engkau membangkitkan kerinduan pada para siswa [awam] atau mereka yang meninggalkan keduniawian.
"Engkau"


50 Māratajjanīya Sutta - Teguran kepada Māra
Spoiler: ShowHide
Quote
[332] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Yang Mulia Mahā Moggallāna sedang menetap di negeri Bhagga di Suṁsumāragira di Hutan Bhesakaḷā, Taman Rusa.
"N" kapital

Quote
8. “Pernah terjadi suatu ketika, Yang Jahat, aku adalah Māra bernama Dūsi,  dan aku memiliki saudara perempuan bernama Kāli. Engkau adalah puteranya, maka engkau adalah keponakanku,
(titik)

Quote
13. “Kemudian, Yang Jahat, Māra Dūsi menguasai para brahmana perumah tangga, dengan mengatakan kepada mereka: “Marilah, caci, maki, cela, dan ganggulah para bhikkhu bermoral dan berkarakter baik; dan mungkin ketika mereka dicaci, dimaki, dicela, dan diganggu oleh kalian, beberapa perubahan akan terjadi dalam pikiran mereka di mana Māra Dūsi akan memperoleh kesempatan.’ Kemudian, ketika Māra Dūsi telah menguasai para brahmana perumah tangga, mereka mencaci, memaki, mencela, dan mengganggu para bhikkhu bermoral dan berkarakter baik sebagai berikut:  ‘Para petapa berkepala gundul ini, budak-budak berkulit gelap keturunan kaki Leluhur,  mengaku: “Kami adalah meditator, kami adalah meditator!” dan dengan bahu membungkuk, kepala menunduk, dan seluruh tubuh lemas, mereka bermeditasi, mengulangi meditasi, melampaui meditasi, dan bermeditasi secara keliru.  Seperti halnya seekor burung hantu yang menghinggapi sebuah dahan menunggu seekor tikus, bermeditasi, mengulangi meditasi, melampaui meditasi, dan bermeditasi secara keliru, atau seperti halnya seekor serigala di tepi sungai menunggu ikan,  bermeditasi, mengulangi meditasi, melampaui meditasi, dan bermeditasi secara keliru, atau seperti halnya seekor kucing, menunggu seekor tikus di lorong atau saluran pembuangan atau tempat sampah, bermeditasi, mengulangi meditasi, melampaui meditasi, dan bermeditasi secara keliru, atau seperti halnya seekor keledai yang tanpa beban, berdiri di dekat tiang pintu atau tempat sampah atau saluran pembuangan, bermeditasi, mengulangi meditasi, melampaui meditasi, dan bermeditasi secara keliru, demikian pula, Para petapa berkepala gundul ini, budak-budak berkulit gelap keturunan kaki Leluhur, mengaku: “Kami adalah meditator, kami adalah meditator!” dan dengan bahu membungkuk, kepala menunduk, dan seluruh tubuh lemas, mereka bermeditasi, mengulangi meditasi, melampaui meditasi, dan bermeditasi secara keliru.’  Sekarang, Yang Jahat, pada masa itu sebagian besar manusia, ketika mati, muncul kembali setelah hancurnya jasmani, setelah kematian, dalam kondisi buruk, di alam yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka. [335]
"p" tidak kapital


Bagian 1 selesai. :)
"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #111 on: 20 February 2013, 07:24:21 PM »
KELOMPOK TENTANG PERUMAH TANGGA (GAHAPATIVAGGA)
51  Kandaraka Sutta - Kepada Kandaraka
Spoiler: ShowHide
Quote
[339] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Campā di tepi Danau Gaggarā bersama sejumlah besar Sangha para bhikkhu. Kemudian Pessa, putera penungangg gajah, dan Kandaraka si pengembara mendatangi Sang Bhagavā. Pessa, setelah bersujud kepada Sang Bhagavā, duduk di satu sisi, sementara Kandaraka saling bertukar sapa dengan Sang Bhagavā, dan setelah ramah-tamah ini berakhir, ia berdiri di satu sisi.  Sambil berdiri di sana, ia mengamati Sangha para bhikkhu yang sedang duduk dalam keheningan sepenuhnya,  dan kemudian ia berkata kepada Sang Bhagavā:
"putra" di paragraf dan sutta setelahnya juga.

Quote
4. Ketika hal ini dikatakan, Pessa, putera penunggang gajah, berkata: “Sungguh menakjubkan, Yang Mulia, Sungguh mengagumkan betapa baiknya empat landasan perhatian telah dibabarkan oleh Sang Bhagavā: untuk pemurnian makhluk-makhluk, untuk mengatasi dukacita dan ratapan, untuk lenyapnya kesakitan dan kesedihan, untuk pencapaian jalan sejati, untuk penembusan Nibbāna. Karena, Yang Mulia, kami para umat awam berbaju-putih juga dari waktu ke waktu juga berdiam dengan pikiran kami kokoh dalam empat landasan perhatian ini.  Di sini, Yang Mulia, kami berdiam dengan merenungkan jasmani sebagai jasmani … perasaan sebagai perasaan … pikiran sebagai pikiran … obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan akan dunia. Sungguh menakjubkan, Yang Mulia, Sungguh mengagumkan betapa di tengah-tengah kekusutan, kecurangan, dan muslihat manusia, Sang Bhagavā mengetahui kesejahteraan dan bahaya pada makhluk-makhluk. Karena manusia adalah kekusutan sedangkan binatang lebih terbuka. Yang Mulia, aku dapat menunggang seekor gajah yang harus dijinakkan, dan dalam waktu selama yang diperlukan untuk berjalan bolak-balik di Campā, gajah itu akan memperlihatkan segala jenis tipu daya, muslihat, ketidak-jujuran, dan kecurangan [yang mampu ia lakukan].  Tetapi mereka yang disebut budak, kurir, dan pelayan kami berperilaku dalam satu cara melalui jasmaninya, dalam cara lain melalui ucapannya, sementara pikirannya bekerja dalam cara lain lagi. Sungguh menakjubkan, Yang Mulia, Sungguh mengagumkan betapa di tengah-tengah kekusutan, kecurangan, dan muslihat manusia, Sang Bhagavā mengetahui kesejahteraan dan bahaya pada makhluk-makhluk. Karena manusia adalah kekusutan sedangkan binatang lebih terbuka.”
"s" tidak kapital

Quote
6. “Tetapi, Pessa, mengapakah tiga yang pertama tidak memuaskan pikiranmu?”

“Yang Mulia, jenis orang yang menyiksa dirinya dan melakukan praktik menyiksa dirinya, menyiksa dan melukai dirinya walaupun ia menginginkan kesenangan dan menjauhi kesakitan; itulah sebabnya jenis orang ini tidak memuaskan pikiranku. Dan jenis orang yang menyiksa makhluk lain dan melakukan praktik menyiksa makhluk lain, menyiksa dan melukai makhluk lain yang menginginkan kesenangan dan menjauhi kesakitan; itulah sebabnya jenis orang ini tidak memuaskan pikiranku. Dan jenis orang yang menyiksa dirinya dan melakukan praktik menyiksa dirinya, dan ia juga menyiksa makhluk lain dan melakukan praktik menyiksa makhluk lain, menyiksa dan melukai dirinya dan makhluk lain, yang mana keduanya menginginkan kesenangan dan menjauhi kesakitan; itulah sebabnya jenis orang ini tidak memuaskan pikiranku. [342] Tetapi jenis orang yang tidak menyiksa dirinya dan tidak melakukan praktik menyiksa dirinya, dan ia juga tidak menyiksa makhluk lain dan tidak melakukan praktik menyiksa makhluk lain; yang, karena tidak menyiksa dirinya dan orang kain, ia di sini dan saat ini tidak merasa lapar, padam, dan sejuk, dan ia berdiam dengan mengalami kebahagiaan, setelah ia sendiri menjadi suci – ia tidak menyiksa dan melukai dirinya maupun makhluk lain, yang mana keduanya menginginkan kesenangan dan menjauhi kesakitan. Itulah sebabnya jenis orang ini memuaskan pikiranku. Dan sekarang, Yang Mulia, kami pergi. Kami sibuk dan banyak urusan yang harus dilakukan.”

[...]

28. “Ini, para bhikkhu, disebut jenis orang yang yang tidak menyiksa dirinya dan tidak melakukan praktik menyiksa dirinya, dan ia juga tidak menyiksa makhluk lain dan tidak melakukan praktik menyiksa makhluk lain [349] – seorang yang, karena tidak menyiksa dirinya dan orang kain, ia di sini dan saat ini tidak merasa lapar, padam, dan sejuk, dan ia berdiam dengan mengalami kebahagiaan, setelah ia sendiri menjadi suci.”
"lain"

Quote
7. Segera setelah ia pergi, Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu, Pesa, putera penunggang gajah, adalah seorang bijaksana, ia memiliki kebijaksanaan luas. Jika ia duduk sedikit lebih lama hingga Aku membabarkan kepadanya secara terperinci tentang ke empat jenis orang ini, ia akan sangat beruntung. Namun ia tetap sudah memperoleh manfaat besar bahkan sebanyak ini.”

“Ini adalah saatnya, Bhagavā, ini adalah waktu, Yang Mulia, bagi Sang Bhagabā untuk membabarkan secara terperinci tentang ke empat jenis orang ini, para bhikkhu akan mengingatnya.”
"Sang Bhagavā"


52  Aṭṭhakanāgara Sutta - Orang dari Aṭṭhakanāgara
Spoiler: ShowHide
Quote
4. “Di sini, perumah tangga, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan kegembiraan dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Ia merenungkan dan memahami sebagai berikut: ‘Jhāna pertama ini adalah terkondisi dan dihasilkan melalui kehendak.  Tetapi apapun yang terkondisi dan dihasilkan melalui kehendak adalah tidak kekal, tunduk pada lenyapnya.’ Jika ia kokoh dalam hal itu, ia mencapai hancurnya noda-noda.  Tetapi jika ia tidak mencapai hancurnya noda-noda karena keinginan pada Dhamma itu, kegembiraan dalam Dhamma itu,  maka dengan hancurnya lima belenggu yang lebih rendah ia menjadi seorang yang muncul secara spontan [di Alam Murni] dan di sana akan mencapai Nibbāna akhir tanpa pernah kembali ke alam ini.

“Ini adalah satu hal yang dinyatakan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat, sempurna dan terceerahkan sempurna, di mana jika seorang bhikkhu berdiam dengan rajin, tekun, dan teguh, maka pikirannya yang belum terbebaskan menjadi terbebaskan, noda-nodanya yang belum dihancurkan menjadi dihancurkan, dan ia mencapai keamanan tertinggi dari belenggu yang belum ia capai sebelumnya.
koreksi yang sama di paragraf 14


53  Sekha Sutta - Siswa dalam Latihan yang Lebih Tinggi
Spoiler: ShowHide
Quote
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di negeri Sakya di Kapilavatthu di Taman Nigrodha.
"N" kapital

Quote
5. Kemudian, setalah Sang Bhagavā memberikan instruksi, mendorong, membangkitkan semangat, dan menggembirakan orang-orang Sakya Kapilavatthu dengan khotbah Dhamma sepanjang malam, Beliau berkata kepada Yang Mulia Ānanda: “Ānanda, babarkanlah kepada orang-orang Sakya Kapilavatthu tentang siswa dalam latihan yang lebih tinggi yang telah memasuki sang jalan.  PunggungKu tidak nyaman. Aku akan beristirahat.”

Quote
9. “Dan bagaimanakah seorang siswa mulia makan secukupnya? Di sini, dengan merenungkan dengan bijaksana, seorang siswa mulia memakan makanan bukan untuk kesenangan juga bukan untuk mabuk juga bukan demi kecantikan dan kemenarikan fisik, tetapi hanya untuk ketahanan dan kelangsungan tubuh ini, untuk mengakhiri ketidak-nyamanan, untuk menunjang kehidupan suci, dengan mempertimbangkan: ‘Dengan demikian aku akan mengakhiri perasaan lama tanpa membangkitkan perasaan baru dan aku akan menjadi sehat dan tanpa cela dan dapat hidup dalam kenyamanan.’ Itu adalah bagaiman seorang siswa mulia makan secukupnya.


54  Potaliya Sutta - Kepada Potaliya
Spoiler: ShowHide
Quote
3. Potaliya si perumah tangga, sewaktu berjalan mondar-mandir untuk berolah-raga, mengenakan pakaian lengkap dengan payung dan sandal, juga pergi ke hutan itu, dan setelah memasuki hutan, ia mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan Beliau. Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia berdiri di satu sisi. Sang Bhagavā berkata kepadanya: ‘Ada tempat duduk, perumah tangga, duduklah jika engkau menginginkan.’”

Ketika hal ini dikatakan, perumah tangga Potaliya berpikir: ‘Petapa Gotama memanggilku dengan ‘perumah tangga,’” dan marah serta tidak senang, ia berdiam diri.

Untuk ke dua kalinya Sang Bhagavā berkata kepadanya: “Ada tempat duduk, perumah tangga, duduklah jika engkau menginginkan.” Dan untuk ke dua kalinya tangga Potaliya berpikir: ‘Petapa Gotama memanggilku denga ‘perumah tangga,’” dan marah serta tidak senang, ia berdiam diri.

Untuk ke tiga kalinya Sang Bhagavā berkata kepadanya: “Ada tempat duduk, perumah tangga, duduklah jika engkau menginginkan.” Dan untuk ke tiga kalinya tangga Potaliya berpikir: ‘Petapa Gotama memanggilku sebagai ‘perumah tangga,’” dan marah serta tidak senang, ia berkata kepada Sang Bhagavā: [360] “Guru Gotama, adalah tidak selayaknya juga tidak tepat bahwa Engkau memanggilku dengan ‘perumah tangga.’”
"perumah tangga"

Quote
10. “’Dengan dukungan tanpa merampas dan tanpa keserakahan, maka merampas dan keserakahan ditinggalkan.] demikianlah dikatakan ...
"D" kapital

Quote
26. “Mengagumkan, Guru Gotama! Mengagumkan, Guru Gotama! Guru Gotama telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara, seolah-olah Beliau menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan bagi yang tersesat, atau menyalakan pelita adalam kegelapan agar mereka yang memiliki penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Aku berlindung pada Guru Gotama dan pada Dhamma dan pada Sangha para bhikkhu. Sejak hari ini sudilah Guru Gotama mengingatku sebagai seorang umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.”


55  Jīvaka Sutta - Kepada Jīvaka
Spoiler: ShowHide
semua kata putera --> "putra"
Quote
7. “Ya, Yang Mulia. Aku telah mendengar ini, Yang Mulia: ‘Brahmā berdiam dalam cinta kasih.’ Yang Mulia, Sang Bhagavā adalah bukti terlihat akan hal itu; karena Sang Bhagavā berdiam dalam cinta-kasih.”

“Jivaka, nafsu apapun juga, [370] kebencian apapun juga, kebodohan apapun juga yang karenanya niat buruk dapat muncul telah ditinggalkan oleh Sang Tathāgata, terpotong di akarnya, dibuat seperti tunggul pohon palem, telah disingkirkan sehingga tidak mungkin muncul kembali di masa depan.  Jika apa yang engkau katakan adalah merujuk pada hal itu, maka menyetujuinya.”
"maka menyetujuinya" atau "maka Aku menyetujuinya" ?

Quote
7. “Ya, Yang Mulia. Aku telah mendengar ini, Yang Mulia: ‘Brahmā berdiam dalam keseimbangan.’ Yang Mulia, Sang Bhagavā adalah bukti terlihat akan hal itu; karena Sang Bhagavā berdiam dalam keseimbangan.”

“Jivaka, nafsu apapun juga, kebencian apapun juga, kebodohan apapun juga yang karenanya niat buruk dapat muncul telah ditinggalkan oleh Sang Tathāgata, terpotong di akarnya, dibuat seperti tunggul pohon palem, telah disingkirkan sehingga tidak mungkin muncul kembali di masa depan.  Jika apa yang engkau katakan adalah merujuk pada hal itu, maka menyetujuinya.” [371]
paragraf ke 11, bukan 7 lagi.
"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #112 on: 20 February 2013, 07:26:34 PM »
56  Upāli Sutta - Kepada Upāli
Spoiler: ShowHide
Quote
4. Kemudian Nigaṇṭha Dīgha Tapassī bertanya kepada Sang Bhagavā: “Dan Engkau, Teman Gotama, berapa banyakkah jenis tongkat yang digambarkan olehMu sebagai pelaksanaan perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan buruk?”

“Tapassī, Sang Tathāgata tidak menggunakan penggambaran ‘tongkat, tongkat’; Nigaṇṭha Nātaputta biasanya menggunakan penggambaran ‘perbuatan, perbuatan.’”
"Sang Tathāgata"

Quote
7. Ketika hal ini dikatakan, perumah tangga Upāli berkata kepada Nigaṇṭha Nātaputta: “Bagus, bagus, Yang Mulia, [di pihak] Dīgha Tapassī! Yang Mulia Tapassī telah menjawab Petapa Gotama seperti seorang siswa yang telah diajarkan dengan baik yang memahami ajaran gurunya dengan benar. Apalah artinya tongkat pikiran yang halus bila dibandingkan dengan tongkat jasmani yang kasar? Sebaliknya, tongkat jasmani adalah yang paling tercela bagi pelaksanaan perbuatan buruk, dalam melakukan perbuatan buruk, sedangkan tongkat ucapan dan tongkat pikiran tidak terlalu tercela. Sekarang, Yang Mulia, aku akan pergi dan membantah doktrin Petapa Gotama berdasarkan pada pernyataan ini. Jika Petapa Gotama di hadapanku mempertahankan apa yang Yang Mulia Dīgha Tapassī membuat Beliau mempertahankan, maka bagaikan seorang kuat  mencengkeram seekor domba jantan berbulu lebat pada bulunya dan menariknya berputar, demikian pula dalam perdebatan itu aku akan menarik Petapa Gotama ke sana dan menarik Beliau ke sini dan menariknya berputar. Bagaikan seorang pembuat minuman keras yang kuat dapat melemparkan sebuah panci minuman besar ke dalam tangki air yang dalam, dan dengan memegang salah satu sudutnya, menariknya ke sana dan menariknya ke sini dan menariknya berputar, demikian pula dalam perdebatan itu aku akan menarik Petapa Gotama ke sana dan menarik Beliau ke sini dan menariknya berputar. Bagaikan seorang pengaduk minuman keras yang kuat dapat memegang tepi saringan dan mengguncangnya ke bawah dan mengguncangnya ke atas dan mengguncangnya ke segala arah, demikian pula dalam perdebatan itu aku akan mengguncang Petapa Gotama ke bawah [375] dan mengguncang Beliau ke bawah dan mengguncang Beliau ke segala arah. Dan bagaikan seekor gajah berumur enam puluh tahun mencebur ke dalam kolam dan menikmati permainan mencuci rami, demikian pula aku akan menikmati permainan mencuci rami dengan Petapa Gotama. Yang Mulia, aku akan pergi dan membantah doktrin Petapa Gotama berdasarkan pada pernyataan ini..”

“Pergilah, perumah tangga, dan bantahlah doktrin Petapa Gotama berdasarkan pada pernyataann ini. Apakah aku yang membantah doktrin Petapa Gotama atau Nigaṇṭha Dīgha Tepassī atau engkau sendiri.”
"Nya"
Tepassī atau Tapassī? (kasus yang sama di paragraf-paragraf selanjutnya)

Quote
9. “Baik, Yang Mulia,” perumah tangga Upāli menjawab, dan ia bangkit dari duduknya, dan setelah bersujud kepada Nigaṇṭha Nātaputta, dengan ia di sisi kanannya, ia pergi mendatangi Sang Bhagavā di Hutan Mangga pāvārika. [376] Di sana, setelah bersujud kepada Sang Bhagavā, ia duduk di satu sisi dan bertanya kepada Sang Bhagavā: “Yang Mulia, apakah Nigaṇṭha Dīghā Tapassī datang ke sini?”
"P" kapital

Quote
11. “Bagaimana menurutmu, perumah tangga? Di sini beberapa Nigaṇṭha mungkin mengalami kesusahan, menderita, dan sakit keras (dengan penyakit yang membutuhkan perawatan dengan air dingin, yang tidak diperbolehkan oleh sumpahnya] dan ia akan menolak air dingin [walaupun menginginkannya] dan hanya menggunakan air panas [yang diperbolehkan dan dengan demikian menjaga sumpanya secara jasmani dan ucapan.] Karena tidak mendapatkan air dingin maka ia akan mati. Sekarang, perumah tangga, di manaakah Nigaṇṭha Nātaputta menggambarkan kelahiran kembalinya [terjadi]?”
"sumpahnya"
"manakah"

Quote
15. “Yang Mulia, aku merasa puas dan senang sejak perumpamaan Bhagavā yang pertama. Namun demikian, aku pikir aku harus membantah Sang Bhagavā seperti itu karena aku ingin mendengarkan dari Sang Bhagavā berbagai solusi atas permasalahan. Mengagumkan, Yang Mulia! Mengagumkan, Yang Mulia! Guru Gotama telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara, seolah-olah Beliau menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan bagi yang tersesat, atau menyalakan pelita adalam kegelapan agar mereka yang memiliki penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Yang Mulia, Aku berlindung pada Sang Bhagavā [379] dan pada Dhamma dan pada Sangha para bhikkhu. Sudilah Bhagavā mengingatku sebagai seorang umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.”

Quote
26. “sungguh menguntungkan sekali sihir pengalihan itu, Yang Mulia, sungguh baik sekali sihir pengalihan itu!  Yang Mulia,
"S" kapital

Quote
29. “Dalam hal ini, Yang Mulia, dengarlah siswa siapa aku ini:

  [...]

   Bebas dari kebingungan, Beliau berdiam dalam kepuasan,
   Menolak perolehan duniawi, wadah kegembiraan;
   Seorang manusia yang telah menyelesaikan tugas Pertapaan,
   Seorang yang membawa jasmani terakhirnya;
   Belaiu sama sekali tanpa tanding dan sama sekali tanpa noda:
   Beliau adalah Sang Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.

   Beliau bebas dari keragu-raguan dan terampil,
   Yang mendisiplinkan dan pemimpin yang unggul.
   Tidak seorangpun melampaui kualitas-kualitasnya yang gilang-gemilang;
   Tanpa bimbang, Beliau adalah penerang;
   Setelah mematahkan keangkuhan, Beliau adalah pahlawan:
   Beliau adalah Sang Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.

   Sang Pemimpin kelompok, Beliau tidak terukur,
   Kedalamamnya tidak terukur, Beliau mencapai keheningan;
   Pemberi keamanan, pemilik pengetahuan,
   Beliau berdiri dalam Dhamma, dengan batin terkendali;
   Setelah mengatasi segala belenggu, Beliau terbebaskan:
   Beliau adalah Sang Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.

   Gajah yang bersih tanpa noda, hidup di tempat terpencil,
   Dengan belenggu-belenggu seluruhnya dihancurkan, sepenuhnya terbebas;
   Terampil dalam berdiskusi, penuh dengan kebijaksanaan,
   Panjinya telah diturunkan,  Beliau tidak lagi bernafsu;
   Setelah menjinakkan dirinya sendiri, Beliau tidak lagi berproliferasi:
   Beliau adalah Sang Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.

   Yang terbaik di antara para petapa,  tanpa rencana curang,
   Memperoleh tiga pengetahuan, mencapai kesucian;
   Batinnya dibersihkan, seorang yang menguasai khotbah,
   Beliau selalu hidup dalam ketenangan, penemu pengetahuan;
   Yang pertama dari semua pemberi, Beliau selalu mampu:
   Beliau adalah Sang Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.

[...]

   Beliau telah mematahkan keinginan dan menjadi Yang Tercerahkan,
   Memghalau segala kabut, sepenuhnya tanpa noda;
   Yang paling layak menerima persembahan, makhluk yang paling perkasa,
   Orang yang paling sempurna, melampaui penghormatan;
   Terbaik dalam kemegahan, mencapai puncak keagungan:
   Beliau adalah Sang Bhagavā, dan aku adalah siswaNya.
"Nya"


57  Kukkuravatika Sutta - Petapa Berperilaku-Anjing
Spoiler: ShowHide
Quote
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di negeri Koliya di mana terdapat sebuah pemukiman Koliya bernama Haliddavasana.

2. Kemudian Puṇṇa, putera Koliya, seorang petapa berperilaku sapi, dan Seniya, seorang petapa telanjang berperilaku-anjing,
"N"
semua kata "putra"

Quote
2. [...]
“Baiklah, Puṇṇa, karena Aku tidak dapat membujukmu ketika Aku mengatakan: ‘Cukup, Puṇṇa, biarkanlah demikian. Jangan menanyakan hal itu kepadaKu.’ Oleh karena itu aku akan menjawabmu.
"Aku"
di paragraf 4 juga

Quote
13. Tetapi Seniya, si petapa telanjang berperilaku anjing berkata kepada Sang Bhagavā: “Mengagumkan, Yang Mulia, mengagumkan, Yang Mulia! Sang Bhagavā telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara, seolah-olah Beliau menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan bagi yang tersesat, atau menyalakan pelita adalam kegelapan agar mereka yang memiliki penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Aku berlindung pada Guru Gotama dan pada Dhamma dan pada Sangha para bhikkhu. Aku ingin menerima pelepasan keduniawian di bawah Sang Bhagavā, aku ingin menerima penahbisan penuh.”

Quote
15. “Kemudian Seniya si petapa telanjang berperilaku anjing menerima pelepasan keduniawian di bawah Sang Bhagavā, dan ia menerima penahbisa penuh. Dan segera, tidak lama setelah penahbisan penuhnya, dengan berdiam sendirian, terasing, [392] rajin, tekun, dan teguh, Yang Mulia Seniya, dengan menembusnya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, di sini dan saat ini masuk dan berdiam dalam tujuan tertinggi kehidupan suci yang dicari oleh para anggota keluarga yang meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah. Ia secara langsung mengetahui: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.’ Dan Yang Mulia Seniya menjadi salah satu di antara para Arahant.


58  Abhayarājakumāra Sutta - Kepada Pangeran Abhaya
Spoiler: ShowHide
Quote
3. “Pergilah, Pangeran, bantahlah doktrin Petapa Gotama, dan berita baik tentangmu akan menyebar sebagai berikut: ‘Pangeran Abhaya telah membantah doktrin Petapa Gotama, yang begitu berkuasa dan perkasa.’”

“Tetapi bagaimanakah, Yang Mulia, aku membantah doktrinNya?”

“Pergilah, Pangeran, temui Petapa Gotama dan katakan: ‘Yang Mulia, apakah Sang Tathāgata akan mengucapkan kata yang tidak disukai dan tidak menyenangkan bagi orang lain?’ Jika ketika ditanya demikian, Petapa Gotama menjawab: ‘Sang Tathāgata, Pangeran, akan mengucapkan kata yang tidak disukai dan tidak menyenangkan bagi orang lain,’ maka katakan kepada Beliau: ‘Kalau begitu, Yang Mulia, apakah perbedaan antara Engkau dan seorang biasa? Karena seorang biasa juga akan mengucapkan kata yang tidak disukai dan tidak menyenangkan bagi orang lain.’ Tetapi jika ketika ditanya demikian, Petapa Gotama menjawab: ‘Sang Tathāgata, Pangeran, tidak akan mengucapkan kata [393] yang tidak disukai dan tidak menyenangkan bagi orang lain,’ maka katakan kepada Beliau: ‘Kalau begitu, Yang Mulia, mengapa engkau mengatakan tentang Devadatta: “Devadatta ditakdirkan terlahir di alam sengsara, Devadatta ditakdirkan terlahir di neraka, Devadatta akan tetap [berada di neraka] selama satu kappa, Devadatta tidak dapat diselamatkan”? Devadatta marah dan tidak senang dengan kata-kataMu itu.’ Jika Petapa Gotama diajukan kedua pertanyaan bertanduk ganda ini olehmu, Beliau tidak akan mampu memuntahkannya atau menelannya. Seperti sebatang paku besi yang tersangkut di tenggorokan seseorang, ia tidak akan mampu memuntahkannya atau menelannya; demikian pula, Pangeran, jika Petapa Gotama diajukan kedua pertanyaan bertanduk ganda ini olehmu, Beliau tidak akan mampu memuntahkannya atau menelannya.
"Engkau"

Quote
4. “Baik, Yang Mulia,” Pangeran Abhaya menjawab. Kemudian ia bangkit dari duduknya, dan setelah bersujud pada Nigaṇṭha Nātaputta, dengan Nigaṇṭha Nātaputta tetap di sisi kanannya, ia pergi dan menghadap Sang Bhagavā. Setelah bersujud pada Sang Bhagavā, ia duduk di satu sisi, menatap matahari, dan berpikir: “Sudah terlambat hari ini untuk membantah doktrin Sang Bhagavā. Aku akan membantah doktrin Sang Bhagavā di rumahku sendiri besok.” Kemudian ia berkata kepada Sang Bhagavā: “Yang Mulia, sudilah Sang Bhagavā bersama dengan tiga lainnya menerima undangan makan dariku besok.” Sang Bhagavā menerima dengan berdiam diri.
yang bagian ini mau tanya, "tiga lainnya" itu maksudnya siapa ya?

Quote
8. “Demikian pula, Pangeran, kata-kata yang diketahui oleh Sang Tathāgata sebagai tidak benar, tidak tepat, dan tidak bermanfaat, dan juga yang tidak disukai dan tidak menyenangkan bagi orang lain: kata-kata demikian tidak diucapkan oleh Sang Tathāgata. kata-kata yang diketahui oleh Sang Tathāgata sebagai benar, tepat, tetapi tidak bermanfaat, dan juga yang tidak disukai dan tidak menyenangkan bagi orang lain: kata-kata demikian tidak diucapkan oleh Sang Tathāgata. kata-kata yang diketahui oleh Sang Tathāgata sebagai benar, tepat, dan bermanfaat, tetapi tidak disukai dan tidak menyenangkan bagi orang lain: Sang Tathāgata mengetahui waktunya untuk mengucapkan kata-kata itu.  kata-kata yang diketahui oleh Sang Tathāgata sebagai tidak benar, tidak tepat, dan tidak bermanfaat, tetapi disukai dan menyenangkan bagi orang lain: kata-kata demikian tidak diucapkan oleh Sang Tathāgata. kata-kata yang diketahui oleh Sang Tathāgata sebagai benar, tepat, tetapi tidak bermanfaat, dan disukai dan menyenangkan bagi orang lain: kata-kata demikian tidak diucapkan oleh Sang Tathāgata. kata-kata yang diketahui oleh Sang Tathāgata sebagai benar, tepat, dan bermanfaat, dan juga yang disukai dan menyenangkan bagi orang lain: Sang Tathāgata mengetahui waktunya untuk mengucapkan kata-kata itu. Mengapakah? Karena Sang Tathāgata berbelas kasihan pada makhluk-makhluk.”
"K" kapital


60  Apaṇṇaka Sutta - Ajaran yang Tidak Dapat Dibantah
Spoiler: ShowHide
Quote
2. para brahmana perumah tangga di Sālā mendengar: “Petapa Gotama, putera Sakya yang meninggalkan keduniawian dari suku Sakya,
"P" kapital
"putra"

Quote
13. (A) “Para perumah tangga, ada beberapa petapa dan brahmana yang menganut doktrin dan pandangan sebagai berikut:  ‘Ketika seseorang melakukan atau menyuruh orang lain melakukan, ketika seseorang melukai atau menyuruh orang melukai, ketika seseorang menyiksa atau menyuruh orang lain menjatuhkan siksaan, ketika seseorang menyebabkan dukacita atau menyuruh orang lain menyebabkan dukacita, ketika seseorang menindas atau menyuruh orang lain melakukan penindasan, ketika seseorang mengintimidasi atau menyuruh orang lain mengintimidasi, ketika seseorang membunuh makhluk-makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, mendobrak masuk ke rumah, merampas kekayaan, melakukan perampokan, penyerangan di jalan raya, menggoda istri orang lain, mengucapkan kebohongan – maka tidak ada kejahatan yang dilakukan oleh si pelaku. Jika, dengan roda berpisau, seseorang mengubah makhluk-makhluk hidup di bumi ini menjadi sekumpulan daging, menjadi gunung daging, karena hal ini maka tidak ada kejahatan atau akibat kejahatan. Jika seseorang berjalan di sepanjang tepi selatan sungai Gangga membunuh dan membantai, melukai dan menyuruh orang lain melukai, menyiksa dan menyuruh orang lain menjatuhkan siksaan, karena hal ini maka tidak ada kejahatan dan tidak ada akibat kejahatan. Jika seseorang berjalan di sepanjang tepi utara sungai Gangga memberikan persembahan dan menyuruh orang lain memberikan persembahan, karena hal ini maka tidak ada jasa kebajikan dan tidak ada akibat dari jasa kebajikan. Dengan memberi, dengan menjinakkan diri sendiri, dengan pengendalian, dengan mengucapkan kebenaran, maka tidak ada jasa kebajikan dan tidak ada akibat dari jasa kebajikan.’
"Sungai Gangga"

Quote
15. (A.i) “Sekarang, para perumah tangga, dari para petapa dan brahmana yang menganut doktrin dan pandangan bahwa: ‘Ketika seseorang melakukan atau menyuruh orang lain melakukan ... maka tidak ada jasa kebajikan dan tidak ada akibat dari jasa kebajikan,’ dapat diharapkan bahwa mereka akan menghindari tiga kondisi bermanfaat ini, yaitu, perilaku jasmani benar, perilaku ucapan benar, dan perilaku pikiran benar, dan bahwa meraka akan menjalani dan mempraktikkan tiga kondisi tidak bermanfaat, yaitu, perilaku jasmani salah, perilaku ucapan salah, dan perilaku pikiran salah. Mengapakah? Karena para petapa dan brahmana itu tidak melihat bahaya, kemunduran, dan kekotoran dalam kondisi-kondisi tidak bermanfaat, juga mereka tidak melihat berkah pelepasan keduniawian dan aspek pembersihan dalam kondisi-kondisi bermanfaat.
koreksi yang sama di paragraf 18 dan 26.

Quote
39. Orang jenis apakah, para perumah tangga, yang tidak menyiksa dirinya dan tidak melakukan praktik menyiksa dirinya, dan ia juga tidak menyiksa makhluk lain dan tidak melakukan praktik menyiksa makhluk lain – seorang yang, karena tidak menyiksa dirinya dan orang kain, ia di sini dan saat ini tidak merasa lapar, padam, dan sejuk, dan ia berdiam dengan mengalami kebahagiaan, setelah ia sendiri menjadi suci?i suci?

Quote
57. Ketika hal ini dikatakan, para brahmana perumah tangga dari Sālā berkata kepada Sang Bhagavā: “Mengagumkan, Guru Gotama! Mengagumkan, Guru Gotama! Guru Gotama telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara, seolah-olah Beliau menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan bagi yang tersesat, atau menyalakan pelita adalam kegelapan agar mereka yang memiliki penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Kami berlindung pada Guru Gotama dan pada Dhamma dan pada Sangha para bhikkhu. Sejak hari ini sudilah Guru Gotama menerima kami sebagai umat-umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.”
"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #113 on: 20 February 2013, 08:23:57 PM »
yang bagian ini mau tanya, "tiga lainnya" itu maksudnya siapa ya?

Sutta tidak menyebutkan siapa "tiga lainnya" itu, jadi mustahil untuk bisa mengetahuinya, tapi informasi itu sepertinya tidak penting dalam sutta ini, yg perlu diketahui adalah bahwa Pangeran Abhaya mengundang Sang Buddha plus tiga orang bhikkhu untuk menerima dana makanan. siapa tiga itu sptnya Pangeran Abhaya juga tidak peduli, biarlah Sang Buddha sendiri yang menentukan.

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #114 on: 14 March 2013, 08:02:11 AM »
KELOMPOK TENTANG PARA BHIKKHU (BHIKKHUVAGGA)
61  Ambalaṭṭhikārāhulovāda Sutta - Nasihat kepada Rāhula di Ambalaṭṭhika
Spoiler: ShowHide
Quote
18. “Rāhula, petapa dan brahmana mana pun di masa lampau telah memurnikan dalam perbuatan jasmani, perbuatan ucapan, dan perbuatan pikiran mereka, semuanya melakukannya dengan merefleksikan berulang-ulang seperti demikian. petapa dan brahmana mana pun di masa depan yang akan memurnikan dalam perbuatan jasmani, perbuatan ucapan, dan perbuatan pikiran mereka, semuanya akan melakukannya dengan merefleksikan berulang-ulang seperti demikian. petapa dan brahmana mana pun di masa sekarang
"P" kapital


62  Mahārāhulovāda Sutta - Khotbah Panjang Nasihat kepada Rāhula
Spoiler: ShowHide
Quote
2. Kemudian, pada suatu pagi, Sang Bhagavā merapikan jubah, dan membawa mangkuk dan jubah luarnya, pergi ke Sāvatthī untuk menerima dana makanan. Yang Mulia Rāhula juga [421] merapikan jubah, dan membawa mangkuk dan jubah luarnya, mengikuti persis di belakang Sang Bhagavā.
"N" kapital

Quote
3. Kemudian Sang Bhagavā melihat ke belakang dan berkata kepada Yang Mulia Rāhula sebagai berikut:  “Rāhula, segala jenis bentuk materi apakah di masa lampau, di masa depan, atau di masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau dekat, semua bentuk materi harus dilihat sebagaimana adanya sengan kebijaksanaan benar sebagai berikut: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan milikku.’”
"dengan"

Quote
6. Kemudian, pada malam harinya, Yang Mulia Rahula bangkit dari meditasinya dan menghadap Sang Bhagaā. Setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi dan bertanya kepada Sang Bhagavā:
"Bhagavā"

Quote
12. “Apakah, Rāhula, unsur ruang?  Unsur ruang dapat berupa internal maupun eksternal. Apakah unsur udara internal?
"ruang"

Quote
13. “Rāhula, kembangkanlah meditasi yang seperti tanah; karena jika engkau mengembangkan meditasi yang seperti tanah, maka kontak-kontak yang menyenangkan dan tidak menyenangkan yang telah muncul tidak akan menyerbu batinmu dan menetap di sana.  seperti halnya orang-orang .....

14. “Rāhula, kembangkanlah meditasi yang seperti air; karena jika engkau mengembangkan meditasi yang seperti air, maka kontak-kontak yang menyenangkan dan tidak menyenangkan yang telah muncul tidak akan menyerbu batinmu dan menetap di sana. seperti halnya orang-orang mencuci benda-benda yang bersih dan benda-benda yang kotor, tinja, air kencing, ludah, nanah, dan darah ke tanah, dan air tidak menolak, malu, dan jijik karena hal itu, demikian pula, [424] Rāhula, kembangkanlah meditasi yang seperti air; karena jika engkau mengembangkan meditasi yang seperti air, maka kontak-kontak yang menyenangkan dan tidak menyenangkan yang telah muncul tidak akan menyerbu batinmu dan menetap di sana.
"S" kapital, di paragraf 15, 16, dan 17 juga.
"ke tanah" atau "air"?

Quote
30. “Rāhula, itu adalah bagaimana perhatian pada pernafasan dikembangkan dan dilatih, sehingga berbuah besar dan bermanfaat besar. Ketika perhatian pada pernafasan dikembangkan dan dilatih dengan cara ini, [426] maka bahkan nafas masuk dan nafas keluar terakhir dapat diketahui pada saat lenyapnya, bukan tidak diketahui.”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Yang Mulia Rāhula merasa puasa dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
"puas"


64  Mahāmālunkya Sutta - Khotbah Panjang kepada Mālunkyāputta
Spoiler: ShowHide
Quote
15. “Kemudian, dengan sepenuhnya melampaui landasan kesadaran tanpa batas, menyadari bahwa ‘tidak ada apa-apa,’ seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam landasan kekosongan.

“Apapun yang ada di sana dari bentuk materi, perasaan, persepsi, bentukan-bentukan, dan kesadaran, ia melihat kondisi-kondisi itu sebagai tidak kekal, sebagai penderitaan, sebagai penyakit, sebagai tumor, sebagai duri, sebagai bencana, sebagai malapetaka, sebagai makhluk asing, sebagai kehancuran, sebagai kehampaan, sebagai bukan diri. Ia mengalihkan pikirannya dari kondisi-kondisi tersebut dan mengarahkannya kepada unsur keabadian sebagai berikut: ‘ini damai, ini luhur, yaitu, tenangnya segala bengukan, lepasnya segala kemelekatan, hancurnya keinginan, kebosanan, lenyapnya, Nibbāna.
"bentukan"

Quote
16.  “Yang Mulia, jika ini adalah jalan, cara untuk meninggalkjan kelima belenggu yang lebih rendah, maka bagaimanakah beberapa bhikkhu di sini [dikatakan] mencapai kebebasan pikiran dan beberapa [dikatakan] mencapai kebebasan melalui kebijaksanaan?”
"meninggalkan"


65  Bhaddāli Sutta - Kepada Bhaddāli
Spoiler: ShowHide
Quote
11. “Bagaimana menurutmu, Bhaddāli? Misalkan seorang bhikkhu di sini adalah seorang yang terbebaskan-dalam-kedua-cara,  dan Aku berkata kepadanya: ‘Mari, bhikkhu, jadilah papan bagiku untuk menyeberangi lumpur.’ Akankah ia menyeberang sendiri,  atau akankah ia melakukan sebaliknya, atau akankah ia mengatakan ‘Tidak’?”

“Tidak, Yang Mulia.”

“Bagaimana menurutmu, Bhaddāli? Misalkan seorang bhikkhu di sini adalah seorang yang terbebaskan-melalui-kebijaksanaan ... seorang penglihat-jasmani ... seorang yang-mencapai-pandangan ... seorang yang-terbebaskan-melalui-keyakinan ... seorang pengkut-Dhamma ...
"pengikut", di paragraf 12 juga.

Quote
13. .....

“Tentu saja, Bhaddāli, suatu pelanggaran menguasaimu, seperti seorang dungu, bingung, dan melakukan kesalahan besar, ketika suatu peraturan latihan ditetapkan olehKu, ketika Sangha para bhikkhu menjalani latihan, engkau menyatakan penolakanmu untuk menuruti peraturan. Tetapi karena engkau melihat pelanggaranmu seperti demikian dan melakukan perbaikan sesuai Dhamma, maka kami memaafkan engkau; karena adalah kemajuan dalam Disiplin Yang Mulia ketika seseorang melihat pelanggaran seperti demikian dan melakukan pelanggaran sesuai Dhamma dengan menjalani pengendalian di masa depan.
melakukan pelanggaran sesuai Dhamma dengan menjalani pengendalian di masa depan?

Quote
33. “Bhaddāli, misalkan seorang pelatih kuda yang cerdas memperoleh seekor kuda muda dari keturunan murni yang baik. Pertama-tama ia membuatnya terbiasa mengenakan tali kekang. Sewaktu kuda muda itu dibiasakan mengenakan tali kekang, karena ia melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, ia memperlilhatkan perlawanan, menggeliat, dan memberontak, namun melalui pengulangan terus-menerus dan latihan secara bertahap, ia menjadi tenang dalam tindakan tersebut.
"memperlihatkan"

Quote
34. “Demikian pula, Bhaddāli, ketika seorang bhikkhu memiliki sepuluh kualitas, ia layak menerima pemberian, layak menerima keramahan, layak menerima persembahan, layak menerima penghormatan, ladang menanam jasa yang tanpa bandingnya di dunia. Apakah sepuluh ini? Di sini, Bhaddāli, seorang bhikkhu memiliki pandangan benar seorang yang melampaui latihan,  kehendak benar seorang yang melampaui latihan, ucapan benar seorang yang melampaui latihan, perbuatan benar seorang yang melampaui latihan, penghidupan benar seorang yang melampaui latihan, usaha benar seorang yang melampaui latihan, [447] perhatian benar seorang yang melampaui latihan, konsentrasi benar seorang yang melampaui latihan, pengetahuan beanr seorang yang melampaui latihan, dan kebebasan benar seorang yang melampaui latihan.  Ketika seorang bhikkhu memiliki sepuluh kualitas, ia layak menerima pemberian, layak menerima keramahan, layak menerima persembahan, layak menerima penghormatan, ladang menanam jasa yang tanpa bandingnya di dunia.”
"benar"


66  Laṭukikopama Sutta - Perumpamaan Burung Puyuh
Spoiler: ShowHide
Quote
11. ....
– baginya adalah adalah tali yang lunak, lemah, lapuk dan tanpa inti.’ Apakah orang itu berkata dengan benar?”

Quote
12. “Misalkan, Udāyin, ada seorang perumah tangga kaya atau putera perumah tangga kaya,
"putra"  ;D

Quote
15. “Di sini, Udāyin, seseorang mempraktikkan jalan untuk meninggalkan perolehan, untuk melepaskan perolehan. Ketika ia mempraktikkan jalan itu, ingatan dan kehendak yang berhubungan dengan perolehan menyerbunya. Ia tidak menerimanya; ia meninggalkannya, melenyapkannya, menyingkirkannya, dan memusnahkannya. Orang demikian juga Kusebut terbelenggu, bukan tidak terbelenggu. Mengapakah? Karena Aku telah mengetahui keberagaman indria tertentu dalam diri orang ini.
"tidak terbelenggu, bukan terbelenggu"

Quote
18. “Ada, Udāyin, lima utas kenikmatan indria. Apakah lima ini? Bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata yang yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Suara-suara yang dikenali oleh telinga ... bau-bauan yang dikenali oleh hidung ... rasa kecapan yang dikenali oleh lidah ... obyek-obyek sentuhan yang dikenali oleh badan yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Ini adalah lima utas kenikmatan indria.


67  Cātumā Sutta - Di Cātumā
Spoiler: ShowHide
Quote
6. Pada saat itu para Sakya di Cātumā sedang berkumpul di aula pertemuan mereka untu suatu urusan. Dari jauh melihat kedatangan para bhikkhu, mereka mendatang para bhikkhu itu dan bertanya: “Kemana kalian akan pergi, Para Mulia?”
"untuk"


68  Naḷakapāna Sutta - Di Naḷakapāna
Spoiler: ShowHide
Quote
5. “Bagus, bagus, Anuruddha! Adalah selayaknya bagi kalian anggota-anggota keluarga yang telah meninggalkan keduniawian karena keyakinan dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah untuk bergenbira di dalam kehidupan suci.
"bergembira"

Quote
7. “Bagaimana, Anuruddha, apakah kalian semua berpikir tentang Aku sebagai berikut: ‘Sang Tathāgata belum meninggalkan noda-noda yang mengotori, yang membawa penjelmaan baru, memberikan kesulitan, matang dalam penderitaan, dan menuntun menuju kelahiran, penuaan, dan kematian di masa depan. Itulah sebabnya mengapa Sang Tathāgata menggunakan sesuatu setelah merenungkan, mempertahankan sesuatu lainnya setelah merenungkan, menghindari sesuatu lainnya lagi setelah merenungkan, dan melenyapkan sesuatu lainnya lagi setelah merenungkan.’?”

“Tidak, Yang Mulia, kami berpikir tentang Sang Bhagavā sebagai berikut: ‘Sang Tathāgata telah meninggalkan noda-noda yang mengotori, yang membawa penjelmaan baru, memberikan kesulitan, matang dalam penderitaan, dan manuntun menuju kelahiran,
"menuntun"

Quote
14. “Di sini seorang bhikkhunī mendengar sebagai berikut: ‘Bhikkhu bernama itu telah meninggal dunia; Sang Bhagavā telah menyatakan tentang dirinya: “Ia mencapai pengetahuan akhir.”’
"Bhikkhu" atau "bhikkhunī" ?


69  Gulissāni Sutta - Gulissāni
Spoiler: ShowHide
Quote
9. “Ketika seorang bhikkhu penghuni hutan mengunjungi Sangha dan menetap di dalam Sangha, ia harus mudah dikoreksi dan harus bergaul dengan tema-teman yang baik. Jika ia sulit dikoreksi dan bergaul dengan teman-teman yang buruk, maka akan ada di antara mereka yang mengatakan tentangnya: ‘Apakah yang telah diperoleh Yang Mulia penghuni hutan ini dengan menetap sendirian di dalam hutan, melakukan apa yang ia sukai, karena ia sulit dikoreksi dan bergaul dengan teman-teman yang buruk?’ Karena akan ada di antara mereka yang mengatakan hal ini tentangnya, maka seorang bhikkhu penghuni hutan yang telah datang mengunjungi Sangha dan menetap di dalam Sangha harus mudah dikoreksi dan harus bergaul dengan tema-teman yang baik.
"teman-temannya"


70  Kīṭāgiri Sutta - Di Kīṭāgiri
Spoiler: ShowHide
Quote
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menegmbara di negeri Kāsi bersama dengan sejumlah besar Sangha para bhikkhu. Di sana Beliau berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut:
"mengembara"

Quote
3. kemudian, ketika Sang Bhagavā mengembara secara bertahap di negeri Kāsi, akhirnya Beliau tiba di sebuah kota Kāsi bernama Kīṭāgiri. Di sana Beliau menetap di kota Kāsi ini, Kīṭāgiri.
"K" kapital

Quote
6. Kemudian Sang Bhagavā berkata seorang bhikkhu sebagai berikut: “Pergilah, bhikkhu, beritahu para bhikkhu yang dipimpin oleh Assaji dan Punabbasuka atas namaKu bahwa Sang Guru memanggil mereka.”

“Baik, Yang Mulia,” mereka menjawab, dan ia mendatangi para bhikkhu yang dipimpin oleh Assaji dan Punabbasuka dan memberitahu mereka: “Sang Guru memanggil kalian, teman-teman.”
"berkata kepada seorang bhikkhu" ?

"mereka" atau "ia" ?
kan cuma seorang. ;D

Quote
15. “Orang jenis apakah yang-terbebaskan-dalam-kedua-cara? Di sini seseorang menyentuh dengan tubuhnya dan berdiam dalam kebebasan-kebebasan yang damai dan tanpa-materi, melampaui bentuk-bentuk, dan noda-nodanya dihancurkan melalui penglihatannya dengan kebijaksanaan. Orang jenis ini disebut seorang yang yang-terbebaskan-dalam-kedua-cara.  Aku tidak mengatakan tentang bhikkhu demikian bahwa ia masih harus melakukan tugas dengan tekun. Mengapakah? Ia telah melakukan tugas mereka dengan tekun; ia tidak lagi mampu menjadi lalai.
"ia telah melakukan tugas mereka" ?

Quote
16. “Orang jenis apakah yang-terbebaskan-melalui-kebijaksanaan? Di sini seseorang tidak menyentuh dengan tubuhnya dan tidak berdiam dalam kebebasan-kebebasan yang damai dan tanpa-materi, melampaui bentuk-bentuk, tetapi noda-nodanya dihancurkan melalui penglihatannya dengan kebijaksanaan. Orang jenis ini disebut seorang yang yang-terbebaskan-melalui-kebijaksanaan.  [478] Aku tidak mengatakan tentang bhikkhu demikian bahwa ia masih harus melakukan tugas dengan tekun. Mengapakah? Ia telah melakukan tugas mereka dengan tekun; ia tidak lagi mampu menjadi lalai.
"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."

Offline dhammadinna

  • Sebelumnya: Mayvise
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.626
  • Reputasi: 149
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #115 on: 14 March 2013, 09:24:03 AM »
Bagaimana kalau naskah doc-nya dikasih ke Hemayanti?

Jadi sis Hema lebih mudah ngeditnya...

Naskah yang dikasih ke Hemayanti tsb, adalah naskah yang sudah diedit oleh Yumi dan Yi Fang. Jadi bisa dicek lagi oleh Hema (tapi diberi warna jika ada perubahan).

Karena setau saya, Yumi dan Yi Fang sudah edit MN. Dan jika kesalahan yang sama diperbaiki dua kali (jadinya kerja dua kali).

Pertama, lebih mudah bagi sis Hemayanti, kedua lebih mudah saat (Hendra Susanto??) mengedit final MN.
« Last Edit: 14 March 2013, 09:26:40 AM by dhammadinna »

Offline sanjiva

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.091
  • Reputasi: 101
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #116 on: 14 March 2013, 03:27:22 PM »
Bagaimana kalau naskah doc-nya dikasih ke Hemayanti?

Jadi sis Hema lebih mudah ngeditnya...

Naskah yang dikasih ke Hemayanti tsb, adalah naskah yang sudah diedit oleh Yumi dan Yi Fang. Jadi bisa dicek lagi oleh Hema (tapi diberi warna jika ada perubahan).

Karena setau saya, Yumi dan Yi Fang sudah edit MN. Dan jika kesalahan yang sama diperbaiki dua kali (jadinya kerja dua kali).

Pertama, lebih mudah bagi sis Hemayanti, kedua lebih mudah saat (Hendra Susanto??) mengedit final MN.

Setuju, kontribusi Hemayanti gw akui untuk tracing error naskahnya.  ^:)^
«   Ignorance is bliss, but the truth will set you free   »

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #117 on: 14 March 2013, 03:39:13 PM »
Bagaimana kalau naskah doc-nya dikasih ke Hemayanti?

Jadi sis Hema lebih mudah ngeditnya...

Naskah yang dikasih ke Hemayanti tsb, adalah naskah yang sudah diedit oleh Yumi dan Yi Fang. Jadi bisa dicek lagi oleh Hema (tapi diberi warna jika ada perubahan).

Karena setau saya, Yumi dan Yi Fang sudah edit MN. Dan jika kesalahan yang sama diperbaiki dua kali (jadinya kerja dua kali).

Pertama, lebih mudah bagi sis Hemayanti, kedua lebih mudah saat (Hendra Susanto??) mengedit final MN.

Setuju, kontribusi Hemayanti gw akui untuk tracing error naskahnya.  ^:)^

repotnya kami belum menemukan cara jitu untuk melakukan editing secara keroyokan, karena resiko pekerjaan editor yg satu akan di-overwrite oleh editor lain. persoalan spelling adalah yg paling sederhana dan paling mudah terdeteksi dalam pekerjaan editing, tapi editing bukan sekedar persoalan spelling-checking. tapi kami akan mempertimbangkan hal ini dan berusaha mencari solusinya

Offline sl99

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 409
  • Reputasi: 33
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #118 on: 24 March 2013, 09:03:03 AM »
Keroyokan pakai google doc?

Kendalanya jika yg edit tidak punya koneksi internet.
Vaya dhamma sankhara, appamadena sampadetha

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #119 on: 26 March 2013, 07:12:22 PM »
om indra, ada bagian yg hilang d sutta 79, dari paragraf 14 langsung 21.
"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #120 on: 26 March 2013, 07:17:09 PM »
om indra, ada bagian yg hilang d sutta 79, dari paragraf 14 langsung 21.

skip aja

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #121 on: 26 March 2013, 07:27:25 PM »
skip aja
salah, maksudnya sutta 78.
tpi sepertinya gak hilang, suttanya memang udah selesai.
nah, reply ke 41 di MN 2 itu agak aneh, kayaknya bagian dari sutta 79 yg salah tempat.
"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #122 on: 26 March 2013, 07:28:42 PM »
salah, maksudnya sutta 78.
tpi sepertinya gak hilang, suttanya memang udah selesai.
nah, reply ke 41 di MN 2 itu agak aneh, kayaknya bagian dari sutta 79 yg salah tempat.

yg di thread itu bukan yg akan diterbitkan, dan saya tidak bisa meng-edit lagi

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #123 on: 18 April 2013, 08:17:49 AM »
KELOMPOK TENTANG PARA PENGEMBARA (PARIBBĀJAKAVAGGA)
71  Tevijjavacchagotta Sutta - Kepada Vacchagotta tentang Tiga Pengetahuan Sejati
Spoiler: ShowHide
Quote
6. “Yang Mulia, Bagaimanakah seharusnya aku menjawan sehingga aku mengatakan apa yang telah dikatakan oleh Sang Bhagavā, dan tidak salah memahamiNya dengan apa yang berlawanan dengan fakta? Bagaimakah aku menjelaskan sesuai dengan Dhamma sedemikian sehingga tidak memberikan landasan bagi celaan yang dapat ditarik dari pernyataanku?”


72  Aggivacchagotta Sutta - Kepada Vacchagotta tentang Api
Spoiler: ShowHide
Quote
16. “Ketika seorang bhikkhu terbebaskan demikian, Guru Gotama, di manakah ia muncul kembali [setelah kematian]?”

“Istilah ‘muncul kembali’ tidak berlaku, Vaccha.”

“Jadi apakah ia tidak muncul kembhali, Guru Gotama?”

“Istilah ‘tidak muncul kembali’ tidak berlaku, Vaccha.”

“Jadi apakah ia muncul kembali juga tidak muncul kembhali, Guru Gotama?”

Quote
22. “Mengagumkan, Guru Gotama! Mengagumkan, Guru Gotama! Guru Gotama telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara, seolah-olah Beliau menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan bagi yang tersesat, atau menyalakan pelita adalam kegelapan [489]


73  Mahāvacchagotta Sutta - Khotbah Panjang kepada Vacchagotta
Spoiler: ShowHide
Quote
13. “Guru Gotama, jika hanya Guru Gotama yang sempurna dalam Dhamma ini, namun tidak ada bhikkhu yang sempurna, [492] maka kehidupan suci ini menjadi tidak lengkap dalam hal itu; tetapi karena Guru Gotama dan para bhikkhu sempurna dalam Dhamma ini, maka dengan demikian kehidupan suci ini menjadi lengkap dalam hal itu. jika hanya Guru Gotama dan para bhikkhu yang sempurna dalam Dhamma ini,
Kapital, semua kata "jika" di awal kalimat pada paragraf 13.

Quote
15. “Mengagumkan, Guru Gotama! Mengagumkan, Guru Gotama! Guru Gotama telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara, seolah-olah Beliau menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan bagi yang tersesat, atau menyalakan pelita adalam kegelapan agar mereka yang memiliki penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk.


74  Dīghanakha Sutta - Kepada Dīghanakha
Spoiler: ShowHide
Quote
10. “Terdapat, Aggivessana, tiga jenis perasaan: perasaan menyenangkan, perasaan menyakitkan, dan perasaan bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan. Pada saat seseorang merasakan perasaan menyenangkan, ia tidak merasakan perasaan menyakitkan atau perasaan bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan; pada saat seseorang merasakan perasaan menyakitkan, ia tidak merasakan perasaan menyenangkan atau perasaan bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan; Pada saat seseorang merasakan perasaan bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan, ia tidak merasakan perasaan menyenangkan atau perasaan menyakitkan; pada saat itu ia hanya merasakan perasaan perasaan bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan.


75  Māgandiya Sutta - Kepada Māgandiya
Spoiler: ShowHide
Quote
9. “Bagaimana menurutmu, Māgandiya? Di sini seseorang [504] sebelumnya menikmati bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata yang yang diharapkan, diinginkan,

Quote
“Bagaimana menurutmu, Māgandiya? Di sini seseorang sebelumnya menikmati suara-suara yang dikenali oleh telinga ... bau-bauan yang dikenali oleh hidung ... rasa kecapan yang dikenali oleh lidah ... obyek-obyek sentuhan yang dikenali oleh badan yang yang diharapkan, diinginkan,

Quote
10. “Māgandiya, sebelumnya ketika Aku menjalani kehidupan rumah tangga, Aku menikmati, memiliki lima utas kenikmatan indria: dengan bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata … suara-suara yang dikenali oleh telinga ... bau-bauan yang dikenali oleh hidung ... rasa kecapan yang dikenali oleh lidah ... obyek-obyek sentuhan yang dikenali oleh badan yang yang diharapkan, diinginkan,

Quote
11. “Misalkan, Māgandiya, seorang perumah tangga atau putera perumah tangga kaya, dengan banyak harta kekayaan, dan memiliki lima utas kenikmatan indria, ia menikmati bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata … suara-suara yang dikenali oleh telinga ... bau-bauan yang dikenali oleh hidung ... rasa kecapan yang dikenali oleh lidah ... obyek-obyek sentuhan yang dikenali oleh badan yang yang diharapkan, diinginkan,

Quote
12. “Demikian pula, Māgandiya, sebelumnya ketika Aku menjalani kehidupan rumah tangga, Aku menikmati, memiliki lima utas kenikmatan indria: dengan bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata … suara-suara yang dikenali oleh telinga ... bau-bauan yang dikenali oleh hidung ... rasa kecapan yang dikenali oleh lidah ... obyek-obyek sentuhan yang dikenali oleh badan yang yang diharapkan, diinginkan,

Quote
18. ......
“Bagus, Māgandiya, Aku juga belum pernah melihat atau mendengar seorang raja atau seorang menteri raja menikmati, dan memiliki lima utas kenikmatan indria yang, tanpa meninggalkan keinginann akan kenikmatan indria,

Quote
19. ......
Kemi juga pernah mendengar sebelumnya para pengembara yang adalah para guru dan guru-guru dari para guru mengatakan hal ini, dan ini selaras, Guru Gotama.”

Quote
22. “Aku berkeyakinan pada Guru Gotama sebagai berikut: ‘Guru Gotama mampu mengajarkan Dhamma kepadaku sedemikian sehingga aku dapat mengetahui kesehatan dan melihat Nibbāna.’”

“Māgandiya, misalkan ada seorang yang buta sejak lahir yang tidak dapat melihat bentuk-bentuk yang gelap dan terang … atau matahari dan bulan. Kemudian teman-teman dan sahabatnya, sanak saudara dan kerabatnya, akan membawa seorang tabib untuk mengobatinya. Tabib itu akan meracik obat untuknya, namun dengan obat itu penglihatan orang itu tidak muncul atau tidak menjadi murni. Bagaimana menurutmu, Māgandiya, apakah tabib itu mendapatkan kelelahhan dan kekecewaan?”

Quote
26. Ketika hal ini dikatakan, Pengembara Māgandiya berkata: “Mengagumkan, Guru Gotama! Mengagumkan, Guru Gotama! Guru Gotama telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara, seolah-olah Beliau menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan bagi yang tersesat, atau menyalakan pelita adalam kegelapan agar mereka yang memiliki penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Aku berlindung pada Guru Gotama dan pada Dhamma dan pada Sangha para bhikkhu. Aku ingin menerima pelepasan keduniawian di bawah Guru Gotama, aku ingin menerima penahbisan penuh.”
"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #124 on: 18 April 2013, 08:17:59 AM »
76  Sandaka Sutta - Kepada Sandaka
Spoiler: ShowHide
Quote
3. Kemudian, pada suatu pagi, Sang Bhagavā merapikan jubah, dan membawa mangkuk dan jubah luarnya, pergi menuju Rājagaha untuk menerima dana makanan. Kemudian Beliau berpikir: “Masih terlalu pagi untuk pergi menerima dana makanan di Rājagaha. Bagaimana jika Aku mendatangi Pengembara Sakuludāyin di Taman Suaka Merak, taman para pengembara.”
"Nya"

Quote
5. ....
Sekarang di antara para petapa dan brahmana mulia ini, para pemimpin sekte ini … yang dianggap oleh banyak orang sebagai orang suci, siapakah yang yang dihormati, dihargai, dipuja, dan dimuliakan oleh para siswanya? Dan bagaimanakah, menghormati dan menghargainya, apakah mereka hidup dengan bergantung padanya?’

Paragraf 6 nya gak ada.

Quote
“Dan beberapa berkata sebagai berikut: ‘Petapa Gotama ini adalah pemimpin sekte, pemimpin kelompok, guru dari suatu kelompok, pendiri suatu sekte yang terkenal dan termasyhur yang dianggap oleh banyak orang sebagai orang suci.
......
Setelah menjadi palayan vihara atau umat awam, mereka menerima dan menjalankan lima peraturan. Demikianlah Petapa Gotama dihormati, dihargai, dipuja, dan dimuliakan oleh para siswanya, dan para siswanya  hidup dengan bergantung padanya, dengan menghormati dan menghargainya.’”

Quote
7. “Tetapi, Udāyin, berapa banyakkah kualitas yang engkau lihat dalam diriku yang karenanya para siswaKu menghormati, menghargai, memuja, dan memuliakanKu, dan hidup dengan bergantung padaKu, dengan menghormati dan menghargaiKu?”
"K" kapital

Quote
15. “Kemudian, Udāyin, Aku telah menyatakan kepada para siswaKu jalan untuk mengembangkan empat landasan perhatian.  Di sini seorang bhikkhu berdiam dengan merenungkan jasmani sebagai jasmani, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan terhadap dunia. Ia berdiam dengan merenungkan perasaan sebagai perasaan … Ia berdiam dengan merenungkan pikiran sebagai pikiran … Ia berdiam dengan merenungkjan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan terhadap dunia. Dan dengan demikian banyak siswaKu berdiam setelah mencapai pemenuhan dan kesempurnaan pengetahuan langsung.

Quote
22. “Kemudian, Udāyin, Aku telah menyatakan kepada para siswaKu jalan untuk mengembangkan delapan pembebasan ini.  Dengan memiliki bentuk materi, seseorang melihat bentuk-bentuk: ini adalah pembebasan pertama. Tidak melihat bentuk secara internal, ia melihat bentuk secara eksternal: ini adalah pembebasan ke dua. Ia bertekad hanya pada yang indah: ini adalah pembebasan ke tiga. [13] Dengan sepenuhnya melampaui persepsi bentuk, dengan lenyapnya persepsi kontak indria, dengan tanpa-perhatian pada keragaman persepsi, manyadari bahwa ‘ruang adalah tanpa batas,

Quote
28. “Kemudian, para bhikkhu, dengan meninggalkan kesenangan dan kesakitan, dan dengan pelenyapan sebelumnya kegembiraan dan kesedihan, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan dan kemurnian perhatian karena keseimbangan. Ia duduk dengan meliputi tubuh ini dengan pikiran yang murni dan cerah, sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya yang tidak terliputi oleh pikiran yang murni dan cerah. Bagaikan seorang yang duduk dan ditutupi dengan kain putih dari kepala ke bawah, sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya [278] yang tidak tertutupi oleh kain putih itu; demikianlah, seorang bhikkhu duduk dengan dengan meliputi tubuh ini dengan pikiran yang murni dan cerah, sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya [17] yang tidak terliputi oleh pikiran yang murni dan cerah itu. Dan dengan demikian banyak siswaKu berdiam setelah mencapai pemenuhan dan kesempurnaan pengetahuan langsung.

Quote
32. “Kemudian, Udāyin, Aku telah menyatakan kepada para siswaKu jalan yang mana dengan unsur telinga dewa, yang murni dan melampaui manusia, mereka mendengar kedua jenis suara, suara surgawi dan manusia, suara yang jauh maupun dekat. Bagaikan seorang peniup terumpet yang terampil dapat membuat tiupannya terdengar di empat penjuru tanpa kesulitan; demikian pula, Aku telah menyatakan kepada para siswaKu jalan yang mana dengan unsur telinga dewa … jauh maupun dekat. Dan dengan demikian banyak siswaKu berdiam setelah mencapai pemenuhan dan kesempurnaan pengetahuan langsung.
"trompet"

Quote
35. “Kemudian, Udāyin, Aku telah menyatakan kepada para siswaKu jalan yang mana dengan mata-dewa, yang murni dan melampaui manusia, mereka melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan buruk rupa, kaya dan miskin. mereka memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut sesuai dengan perbuatan mereka:
"M" kapital

Quote
(19. Hancurnya Noda-Noda)

35. “Kemudian, Udāyin, Aku telah menyatakan kepada para siswaKu jalan yang mana dengan menembusnya untuk diri mereka sendiri dengan pengetahuan langsung,
paragraf 36


77  Mahāsakuludāyi Sutta - Khotbah Panjang kepada Sakuludāyin
Spoiler: ShowHide
Quote
3. Kemudian, pada suatu pagi, Sang Bhagavā merapikan jubah, dan membawa mangkuk dan jubah luarnya, pergi menuju Rājagaha untuk menerima dana makanan. Kemudian Beliau berpikir: “Masih terlalu pagi untuk pergi menerima dana makanan di Rājagaha. Bagaimana jika Aku mendatangi Pengembara Sakuludāyin di Taman Suaka Merak, taman para pengembara.”
"Nya"

Quote
5. ....
Sekarang di antara para petapa dan brahmana mulia ini, para pemimpin sekte ini … yang dianggap oleh banyak orang sebagai orang suci, siapakah yang yang dihormati, dihargai, dipuja, dan dimuliakan oleh para siswanya? Dan bagaimanakah, menghormati dan menghargainya, apakah mereka hidup dengan bergantung padanya?’

paragraf 6 gak ada.

Quote
9. ....
“Misalkan, Udāyin, para siswaKu menghormati, menghargai, memuja, dan memuliakanKu, dan hidup dengan bergantung padaKu, dengan menghormati dan menghargaiKu, dengan pikiran: ‘Petapa Gotama puas dengan segala jenis jubah dan memuji kepuasan atas segala jenis jubah.’ Sekarang ada siswa-siswaKu yang adalah pemakai jubah dari kain buangan, pemakai jubah kasar; mereka mengumpulkan potongan kain dari tanah pekuburan, dari tumpukan sampah, atau dari took-toko,

Quote
15. “Kemudian, Udāyin, Aku telah menyatakan kepada para siswaKu jalan untuk mengembangkan empat landasan perhatian.  Di sini seorang bhikkhu berdiam dengan merenungkan jasmani sebagai jasmani, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan terhadap dunia. Ia berdiam dengan merenungkan perasaan sebagai perasaan … Ia berdiam dengan merenungkan pikiran sebagai pikiran … Ia berdiam dengan merenungkjan obyek-obyek pikiran sebagai obyek-obyek pikiran, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan terhadap dunia. Dan dengan demikian banyak siswaKu berdiam setelah mencapai pemenuhan dan kesempurnaan pengetahuan langsung.

Quote
17. “Kemudian, Udāyin, Aku telah menyatakan kepada para siswaKu jalan untuk mengembangkan empat landasan kekuatan batin. Di sini seorang bhikkhu mengembangkan landasan kekuatan batin yang terdapat dalam konsentrasi yang muncul dari semangat dan usaha penuh tekad. Ia mengembangkan landasan kekuatan batin yang terdapat dalam konsentrasi yang muncul dari kegigihan dan usaha penuh tekad. Ia mengembangkan landasan kekuatan batin yang terdapat dalam konsentrasi yang muncul dari [kemurnian] pikiran dan usaha penuh tekad. Ia mengembangkan landasan kekuatan batin yang terdapat dalam konsentrasi yang muncul dari penyelidilan dan usaha penuh tekad. Dan dengan demikian banyak siswaKu berdiam setelah mencapai pemenuhan dan kesempurnaan pengetahuan langsung.

Quote
28. “Kemudian, para bhikkhu, dengan meninggalkan kesenangan dan kesakitan, dan dengan pelenyapan sebelumnya kegembiraan dan kesedihan, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan dan kemurnian perhatian karena keseimbangan. Ia duduk dengan meliputi tubuh ini dengan pikiran yang murni dan cerah, sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya yang tidak terliputi oleh pikiran yang murni dan cerah. Bagaikan seorang yang duduk dan ditutupi dengan kain putih dari kepala ke bawah, sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya [278] yang tidak tertutupi oleh kain putih itu; demikianlah, seorang bhikkhu duduk dengan dengan meliputi tubuh ini dengan pikiran yang murni dan cerah, sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya [17] yang tidak terliputi oleh pikiran yang murni dan cerah itu. Dan dengan demikian banyak siswaKu berdiam setelah mencapai pemenuhan dan kesempurnaan pengetahuan langsung.

Quote
32. “Kemudian, Udāyin, Aku telah menyatakan kepada para siswaKu jalan yang mana dengan unsur telinga dewa, yang murni dan melampaui manusia, mereka mendengar kedua jenis suara, suara surgawi dan manusia, suara yang jauh maupun dekat. Bagaikan seorang peniup terumpet yang terampil dapat membuat tiupannya terdengar di empat penjuru tanpa kesulitan; demikian pula, Aku telah menyatakan kepada para siswaKu jalan yang mana dengan unsur telinga dewa … jauh maupun dekat. Dan dengan demikian banyak siswaKu berdiam setelah mencapai pemenuhan dan kesempurnaan pengetahuan langsung.

Quote
35. “Kemudian, Udāyin, Aku telah menyatakan kepada para siswaKu jalan yang mana dengan mata-dewa, yang murni dan melampaui manusia, mereka melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan buruk rupa, kaya dan miskin. mereka memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut sesuai dengan perbuatan mereka:
"M" kapital


78  Samaṇamaṇḍikā Sutta - Samaṇamaṇḍikaputta
Spoiler: ShowHide
Quote
4. si tukang kayu Pañcakanga mendatang Pengembara Uggāhamāna dan saling bertukar sapa dengannya. [24] Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi. Kemudian Pengembara Uggāhamāna berkata kepadanya:
"S" kapital  ;D

Quote
8. “Kalau begitu, Tukang kayu, maka seorang bayi yang lembut yang berbaring telungkup adalah terampil dalam apa yang bermanfaat, sempurna dalam apa yang bermanfaat, seorang petapa tak-terkalahkan yang mencapai pencapaian tinggi, menurut pernyataan Pengembara Uggāhamāna. Karena seorang bayi yang lembut yang berbaring telungkup bahkan tidak memiliki gagasan ‘jasmani,’ jadi bagaimana ia melakukan perbuatan buruk jasmani yang lebih dari sekadar menggeliat? Seorang bayi yang lembut yang berbaring telungkup bahkan tidak memiliki gagasan ‘ucapan,’ jadi bagaimana ia mengucapkan ucapan buruk melebihi rengekan? Seorang bayi yang lembut yang berbaring telungkup bahkan tidak memiliki gagasan ‘kehendak,’ jadi bagaimana ia memiliki kehendak buruk melebihi merajuk? Seorang bayi yang lembut yang berbaring telungkup bahkan tidak memiliki gagasan ‘penghidupan,’ jadi bagaimana [25] ia bagaimana melakukan penghidupan buruk yang melebihi menyusu pada dada ibunya? Kalau begitu, Tukang kayu, maka seorang bayi yang lembut yang berbaring telungkup adalah terampil dalam apa yang bermanfaat … menurut pernyataan Pengembara Uggāhamāna.

Quote
11. ....
“Dan di manakah kebiasaan-kebiasaan bermanfaat ini lenyap tanpa sisa? Lenyapnya disebutkan: di sini seorang bhikkhu bermoral, tetapi ia tidak mengidentifikan diri dengan moralitasnya, dan ia memahami sebagaimana adanya kebebasan pikiran dan kebebasan melalui kebijaksanaan itu di mana kebiasaan-kebiasaan bermanfaat itu lenyap tanpa sisa.

Quote
“Dan bagaimanakah ia mempraktikkan jalan menuju lenyapnya kebiasaan-kebiasaan bermanfaat? Di sini seorang bhikkhu membangkitkan semangat untuk tidak memunculkan kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat yang belum muncul … untuk mempertahankan kelangsungan, ketidak-lenyapan, memperkuat, meningkatkan, dan memenuhi dengan pengembangan kondisi-kondisi yang bermanfaat yang telah muncul, dan ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengerahkan pikirannya, dan berupaya. Seorang yang berlatih demikian mempraktikkan jalan menuju lenyapnya kebiasaan-kebiasaan bermanfaat.
kalimat yang di bold bermakna positif, sama dengan paragraf 10.
paragraf 11 tentang lenyapnya kebiasaan-kebiasaan bermanfaat, seharusnya bermakna negatif.
kasus yang sama di paragraf 13

Quote
13. .....
“Dan dari manakah kehendak-kehendak bermanfaat ini berasal-mula? Asal-mulanya disebutkan: kehendak-kehendak bermanfaat ini harus dikatakan bermula dari persepsi. Persepsi apakah? Akan tetapi persepsi ada banyak, bervariasi, dan terdiri dari banyak aspek, ada persepsi pelepasan keduniawian, persepsi tanp niat buruk, dan persepsi tanpa-kekejaman. Kehendak-kehendak bermanfaat berasal-mula dari ini.


79  Cūḷasakuludāyi Sutta - Khotbah Pendek kepada Sakuludāyin
Spoiler: ShowHide
Quote
2. Kemudian, pada suatu pagi, Sang Bhagavā merapikan jubah, dan membawa mangkuk dan jubah luarnya, pergi menuju Rājagaha untuk menerima dana makanan. Kemudian Beliau berpikir: “Masih terlalu pagi untuk pergi menerima dana makanan di Rājagaha. Bagaimana jika Aku mendatangi Pengemabara Sakuludāyin di Taman Suaka Merak, taman para pengembara.”

Quote
22. “Bagaimana menurutmu, Udāyin? Pada saat ia meninggalkan membunuh makhluk-makhluk hidup dan menghindari makhluk-makhluk hidup, apakah dirinya merasakan hanya kenikmatan atau merasakan baik kenikmatan maupun kesakitan?”
menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup?

Quote
45. Ketika hal ini dikatakan, Pengembara Sakuludāyin berkata kepada Sang Bhagavā: “Mengagumkan, Guru Gotama! Mengagumkan, Guru Gotama! Guru Gotama telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara, seolah-olah Beliau menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan bagi yang tersesat, atau menyalakan pelita adalam kegelapan agar mereka yang memiliki penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Aku berlindung pada Guru Gotama dan pada Dhamma dan pada Sangha para bhikkhu. Aku ingin menerima pelepasan keduniawian di bawah Guru Gotama, aku ingin menerima penahbisan penuh.”


80 Vekhanassa Sutta - Kepada Vekhanassa
Spoiler: ShowHide
Quote
12. “Kaccāna, ada lima utas kenikmatan indria ini.  Apakah lima ini? Bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata yang yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Suara-suara yang dikenali oleh telinga ... bau-bauan yang dikenali oleh hidung ... rasa kecapan yang dikenali oleh lidah ... obyek-obyek sentuhan yang dikenali oleh badan [43] yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Ini adalah lima utas kenikmatan indria.
"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #125 on: 18 April 2013, 09:12:16 AM »
KELOMPOK PARA RAJA (RĀJAVAGGA)
81  Ghaṭīkāra Sutta - Ghaṭīkāra si Pengrajin Tembikar
Spoiler: ShowHide
Quote
6. ....
“Suatu hari si pengrajin tembikar Ghaṭīkāra berkata kpada si murid brahmana Jotipāla sebagai berikut: ‘Sahabatku Jotipāla, marilah kita pergi menemui Sang Bhagavā Kassapa, yang sempurna dan tercerahkan sempurna. Menurutku adalah baik sekali menemui Sang Bhagavā itu yang sempurna dan tercerahkan sempurna.’ Murid brahmana Jotipāla menjawab: ‘Cukup, sahabatku Ghaṭīkāra, apa gunanya menemui petapa berkepala gundul itu?’

Quote
10. ....
“Kemudian Sang Bhagavā Kassapa, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, memberikan instruksi, mendorong, membangkitkan semangat, dan menggembirakan Ghaṭīkāra si pengrajin tembikar dan Jotipāla di murid braahmana dengan pembabaran Dhamma. Di akhir pembabaran itu, setelah merasa senang dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā Kassapa, mereka bangkit dari duduk dan setelah bersujud kepada Sang Bhagavā Kassapa, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, mereka pergi.


82 Raṭṭhapāla Sutta - Tentang Raṭṭhapala
Spoiler: ShowHide
Quote
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang mengembara di negeri Kusu bersama dengan sejumlah besar Sangha para bhikkhu, dan akhirnya Beliau tiba di suatu pemukiman Kuru bernama Thullakoṭṭhita.

Quote
4. Pada saat itu seorang anggota keluarga bernama Raṭṭhapāla, putera seorang kepala suku di Thullakoṭṭhita itu, sedang duduk di tengah-tengah pertemuan itu.  Kemudian ia berpikir: “Seperti yang kupahami dari Dhamma yang diajarkan oleh Sang Bhagavā, tidaklah mudah sambil menetap di rumah menjalani kehidupan suci, yang sepenuhnya murni dan sempurna bagaikan kulit kerang yang digosok. Bagaimana jika aku mencukur rambut dan janggutku, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan kedunaiwian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah.”

Quote
6. Segera setelah mereka pergi, Raṭṭhapāla mendatangi Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi dan berkata kepada Sang Bhagavā: “Yang Mulia, seperti yang kupahami dari Dhamma yang diajarkan oleh Sang Bhagavā, tidaklah mudah sambil menetap di rumah menjalani kehidupan suci, yang sepemuhnya murni dan sempurna bagaikan kulit kerang yang digosok. Yang Mulia, aku ingin mencukur rambut dan janggutku, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan kedunaiwian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah. Aku ingin menerima pelepasan keduniawian di bawah Sang Bhagavā, aku ingin menerima penahbisan penuh.”

Quote
7. Kemudian Raṭṭhapāla bangkit dari duduknya, dan setelah bersujud kepada Sang Bhagavā, ia pergi, dengan Beliau tetap di sisi kanannya. Ia menghadap orangtuanya dan memberitahu mereka: “Ibu dan ayah, seperti yang kupahami dari Dhamma yang diajarkan oleh Sang Bhagavā, tidaklah mudah sambil menetap di rumah menjalani kehidupan suci, yang sepemuhnya murni dan sempurna bagaikan kulit kerang yang digosok. Aku ingin mencukur rambut dan janggutku, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah. Izinkanlah aku meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah.”

Quote
9. Kemudian orangtua Raṭṭhapāla mendatangi teman-temannya dan berkata: “Anak-anak, Raṭṭhāpala berbaring di lantai, setelah berkata: ‘Di sini aku akan mati atau menerima pelepasan keduniawian.’ Marilah, anak-anak, datangilah Raṭṭhapāla dan katakan kepadanya: ‘Teman Raṭṭhapāla, engkau adalah putera tunggal orangtuamu … Bangunlah, teman Raṭṭhapāla, makan, minum, dan hiburlah dirimu … [59] bagaimana mungkin orangtuamu mengizinkan engkau meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah selagi engkau masih hidup?”
"nya" yang merujuk pada Raṭṭhapāla, mungkin bisa dipertimbangkan untuk diganti dengan "Raṭṭhapāla" saja.
pas awal baca agak bingung, seolah2 "nya" itu adalah teman-teman orangtua Raṭṭhapāla. ::)

Quote
10. Kemudian teman-teman Raṭṭhapāla mendatanginya dan berkata: “Teman Raṭṭhapāla, engkau adalah putera tunggal orangtuamu, yang disayangi dam dicintai.

Quote
11. Kemudian teman-teman Raṭṭhapāla mendatang orangtuanya dan berkata kepada mereka: “Ibu dan ayah, Raṭṭhāpala berbaring di lantai, setelah berkata:

Quote
25. ....
Pemburu rusa memasang perangkap
   Tetapi sang rusa tidak terjebak;
   Kami memakan umpan dan sekarang pergi
   Meninggalkan di pemburu yang meratap.”
mungkin "si" ya?

Quote
28. Kemudian, dengan berkata: “Bagikanlah semua makanan yang telah dipersiapkan di sana,” Raja Koravya mempersiapkan sejumlah kereta, dan mengendarai salah satunya, dengan disertai oleh banyak kereta, ia pergi keluar dari Thullakjoṭṭhita dengan kemegahan penuh seorang raja untuk menemui Yang Mulia Raṭṭhapāla.
kelebihan "j"

Quote
33. “Dan apakah kehilangan sanak saudara? Di sini, Guru Raṭṭhapāla, seseorang memiliki banyak teman dan sahabat, sanak saudara dan kerabat. Perlahan-lahan sanak saudaranya itu menyusut. Ia mempertimbangkan sebagai berikut: “Sebelumnya aku memiliki banyak teman dan sahabat, sanak saudara dan kerabat. Perlahan-lahan sanak saudaranya itu menyusut. Tidaklah mudah bagiku untuk memperoleh kekayaan yang belum diperoleh … [68] …
kenapa jadi kekayaan? :-?


83  Makhādeva Sutta - Raja Makhādeva
Spoiler: ShowHide
Quote
2. Kemudian di suatu tempat tertentu, Beliau tersenyum. Yang Mulia Ānanda berpikir: “Apakah alasannya, apakah sebabnya, Sang Bhagavā tersenyun?

Quote
13. “Suatu ketika, Ānanda, ketika para dewa Tiga-Puluh-Tiga [79] mengadakan pertemuan di Aula Sudhamma, diskusi berikut ini muncul di antara mereka: ‘Suatu keuntungan, tuan-tuan, bagi penduduk Videha, suatu keuntungan besar bagi penduduk Videha bahwa raja mereka Raja Nimi adalah seorang raja yang adil yang memerintah sesuai dengan Dhamma, seorang raja besar yang mantap dalam Dhamm.

Quote
13. ....
“Raja Nimi menerima dengan berdiam diri. Kemudian, secepat seorang kuat merenungkan lengannya yang tertekuk atau menekuk lengannya yang terentang, Sakka, penguasa para dewa, lenyap dari hadapan Raja Nimi adn muncul di antara para dewa Tiga-Puluh-Tiga.

Quote
21. ....
[83] usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar. Ini adalah praktik baik yang dimulai olehKu saat ini, yang menuntun menuju kekecewaan sepenuhnya, menuju kebosanan sepenuhnya, menuju lenyapnya sepenuhnya, menuju kedamaian sepenuhnya, menuju pengetahuan langsung, penuju pencerahan sempurna, menuju Nibbāna.

“Ānanda, Aku katakan kepadamu: lanjutkanlah praktik baik yang dimulai olehKu ini dan jangan menjadi orang terakhir. Ānanda, jika ada dua orang yang hidup bersama, ia yang di bawah siapa melakukan pelanggaran atas praktik yang baik ini – ia adalah orang terakhir di antara keduanya. Oleh karena itu, Ānanda, aku katakan kepadamu: Lanjutkanlah praktik yang baik yang dimulai olehku ini dan janganlah menjadi orang terakhir.”
"A" dan "K" kapital


84  Madhurā Sutta - Di Madhurā
Spoiler: ShowHide
Quote
“Bagaimana menurutmu, Baginda? Jika seorang brahmana makmur dalam kekayaan, hasil panen, perak, atau emas, adakah para brahmana yang akan bangun sebelum dirinya dan tidur setelah dirinya, yang ingin melayaninya, yang beruaha menyenangkannnya dan berkata-kata manis dengannya, dan adakah para pedagang, para pekerja, dan para mulia [85] yang akan melakukan hal serupa?”

“Pasti ada, Guru Kaccāna.”

“Bagaimana menurutmu, Baginda? Jika seorang pedagang makmur dalam kekayaan, hasil panen, perak, atau emas, adakah para pedagang yang akan bangun sebelum dirinya dan tidur setelah dirinya, yang ingin melayaninya, yang beruaha menyenangkannnya dan berkata-kata manis dengannya, dan adakah para pekerja, para mulia, dan para brahmana yang akan melakukan hal serupa?”

“Pasti ada, Guru Kaccāna.”

“Bagaimana menurutmu, Baginda? Jika seorang pekerja makmur dalam kekayaan, hasil panen, perak, atau emas, adakah para pekerja yang akan bangun sebelum dirinya dan tidur setelah dirinya, yang ingin melayaninya, yang beruaha menyenangkannnya dan berkata-kata manis dengannya, dan adakah para mulia, para brahmana, dan para pedagang yang akan melakukan hal serupa?”

Quote
6. “Bagaimana menurutmu, Baginda? Misalkan seorang mulia menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari perilaku salah dalam kenikmatan indria, menghindari ucapan salah, menghindari ucapan jahat, menghindari ucapan kasar, dan menghindari gossip, dan tidak tamak, memiliki pikiran tanpa niat buruk, dan menganut pandangan benar. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, apakah ia [sewajarnya] muncul kembali di alam yang bahagia, bahkan di alam surga, atau sebaliknya, atau bagaimanakah menurutmu mengenai hal ini?”
paragraf 7

paragraf 9 gak ada.

Quote
“Kami akan menghormatinya, Guru Kaccāna, atau kami akan bangkit ketika ia datang, atau mengundangnya untuk duduk; atau kami akan mengundangnya untuk menerima persembahan jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan; atau kami akan mengatur penjagaan, pertahanan, dan perlindungan yang sesuai hukum untuknya. Mengapakah? Karena is telah kehilangan statusnya yang sebelumnya sebagai seorang mulia, dan hanya dikenal sebagai seorang petapa.”

“Bagaimana menurutmu, Baginda? Misalkan seorang brahmana … seorang pedagang … seorang pekerja, setelah mencukur rambut dan janggutnya … dan menjalani hidup selibat, bermoral, berkarakter baik. Bagaimanakah engkau memperlakukannya?

“Kami akan menghormatinya, Guru Kaccāna, atau kami akan bangkit ketika ia datang, atau mengundangnya untuk duduk; atau kami akan mengundangnya untuk menerima persembahan jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan; atau kami akan mengatur penjagaan, pertahanan, dan perlindungan yang sesuai hukum untuknya. Mengapakah? Karena is telah kehilangan statusnya yang sebelumnya sebagai seorang brahmana ... seorang pedagang ... seorang pekerja, dan hanya dikenal sebagai seorang petapa.”

Quote
10. “Ketika hal ini dikatakan, Raja Avantiputta dari Madhurā berkata kepada Yang Mulia Mahā Kaccāna: “Mengagumkan, Guru Kaccāna! Mengagumkan, Guru Kaccāna! Guru Kaccāna telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara, seolah-olah ia menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan bagi yang tersesat, atau menyalakan pelita adalam kegelapan agar mereka yang memiliki penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Aku berlindung pada Guru Kaccāna dan pada Dhamma dan pada Sangha para bhikkhu. Sejak hari ini sudilah Guru Kaccāna mengingatku sebagai seorang umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.”


85  Bodhirājakumāra Sutta - Kepada Pangeran Bodhi
Spoiler: ShowHide
Quote
[91] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di negeri Bhagga di Suṁsumāragira di Hutan Bhesakaḷā, Taman Rusa.
"Negeri"

Quote
56. ....
“Yang Mulia, bahkan jika ia memiliki salah satu kekuarangan itu, maka ia tidak akan dapat mempelajarinya dariku, apa lagi lima?”

Quote
57. “Bagaimana menurutmu, Pangeran? Misalkan seseorang datang ke sini dengan pikiran: [95] ‘Pangeran Bodhi mengetahui seni menggunakan tongkat kendali ketika menunggang seekor gajah; aku akan mempelajari seni itu darinya.’ Jika ia memiliki keyakinan, ia dapat mencapai apa yang dapat dicapai oleh seseorang yang memiliki keyakinan; Jika ia bebas dari penyakit, ia dapat mencapai apa yang dapat dicapai oleh seseorang yang bebas dari penyakit; jika ia jujur dan tulus, ia tidak dapat mencapai apa yang dapat dicapai oleh seseorang yang jujur dan tulus;

Quote
60. ....
“Jangan berkata begitu, Sañjikāputta, jangan berkata begitu. Aku mendengar dan mengetahui ini dari mulut ibuku: [97] Pernah pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Kosambi di Taman Ghosita. Kemudian ibuku, yang sedang hamil, mendatangi Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi dan berkata kepada Beliau: ‘Yang Mulia, pangeran atau puteri dalam rahimku, yang manapun itu, berlindung pada Sang Bhagavā dan pada Dhamma dan pada Sangha para bhikkhu. Sudilah Sang Bhagavā mengingat [anak ini] sebagai seorang umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.’
"putri"


86  Angulimāla Sutta - Tentang Angulimāla
Spoiler: ShowHide
Quote
9. Kemudian pada tengah hari itu Raja Pasenadi dari Kosala keluar dari Sāvatthī bersama dengan lima ratus orang prajurit dan pergi menuju taman. Ia berkendara sejauh yang bisa dilalui keretanya, dan kemudian turun dari kereta dan melanjutkan dengan berjalan kaki menuju Sang Bhagavā. [101] setelah bersujud kepada Sang Bhagavā, ia duduk di satu sisi, dan Sang Bhagavā berkata kepadanya: “Ada apa, Baginda? Apakah Raja Seniya Bimbisara dari Magadha menyerangmu, atau para Licchavi dari Vesāli, atau raja-raja kejam lainnya?”
"S" kapital

Quote
10. ”Yang Mulia, Raja Seniya Bimbisara dari Magadha tidak menyerangku, juga tidak para Licchavi dari Vesāli, juga tidak raja-raja kejam lainnya. Tetapi ada seorang penjahat di wailayahku bernama Angulimāla, yang adalah seorang pembunuh, dengan tangan darah, kejam, tanpa belas kasihan terhadap makhluk-makhluk hidup. Desa-desa, kota-kota, dan wilayah-wilayah dihancurkan olehnya. Ia terus-menerus membunuh orang dan ia menggunakan jari korbannya sebagai kalung. Aku tidak akan bisa menangkapnya, Yang Mulia.”

Quote
13. Yang Mulia Angulimāla sebelumnya adalah seorang penghuni hutan, pemakan dana makanan, pemakai jubah dari kain terbuang, dan membatasi dirinya dengan tiga jubah. Ia menjawab: “Cukup, Baginda, tiga jubahku sudah lengkap.”

Raja Pasenadi kemudian kembali ke Sang Bhagavā, dan setelah memberi hormat kepada Beliau, ia duduk di satu sisi dan berkata: “Sungguh menakjubkan, Yang Mulia, sungguh mengagumkan bagaimana Bhagavā menjinakkan yang belum jinak, membawa kedamaian bagi yang tidak damai, dan menuntun ke Nibbāna bagi mereka yang belum mencapai Nibbāna. Yang Mulia, kami sendiri tidak mampu menjinakkannya dengan kekerasan dan senjata., namun Sang Bhagavā menjinakkannya tanpa menggunakan kekerasan dan senjata. Dan sekarang, Yang Mulia, kami pamit. Kami sibuk dan banyak yang harus dikerjakan.”
titik atau koma?

Quote
16. Tidak lama, berdiam sendirian, mengasingkan diri, rajin, tekun, dan teguh, Yang mulia Angulimāla,
"Mulia"


87  Piyajātika Sutta - Terlahir dari Mereka yang Disayangi
Spoiler: ShowHide
Quote
3. Kemudian perumah tangga itu mendatangi Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi. Sang Bhagavā berkata kepadanya: “Perumah tangga, indria-indriamu tidak seperti indria-indria mereka yang mengendalikan pikirannya. Indra-indriamu tidak sewajarnya.”

Quote
4. Pada saat itu beberapa orang penjudi sedang bermain dadu tidak jauh dari Sang Bhagavā. Kemudian perumah tangga itu mendatangi para penjudi itu dan berkata: “Baru saja, tuan-tuan, [107] aku mendatangi Petapa Gotama, dan setelah bersujud kepada Beliau, aku duduk di satu sisi. Ketika aku talah melakukan demikian, Petapa Gotama berkata kepadaku:

Quote
8. “Dapat dipahami dari ini, Brahmana, bagaimana dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan ditimbulkan dari mereka yang disayangi, muncul dari mereka yang disayangi. Suatu ketika di Sāvatthī yang sama ini ada seorang wanita yang ibunya meninggal dunia. Karena kematian ibunya, ia menjadi gila, menjadi tidak waras, dan berkeliaran dari jelan ke jalan dan dari persimpangan ke persimpangan, dengan mengatakan: ‘Apakah kalian melihat ibuku? Apakah kalian melihat ibuku?’ [109]
di paragraf 9-14 dan 15-21 juga.


88  Bāhitika Sutta - Mantel
Spoiler: ShowHide
Quote
5. “Bagik, Baginda,” orang itu menjawab, dan ia m

Quote
6. Yang Mulia Ānanda menerima dengan berdiam diri. Kemudian Raja Pasenadi dari Kosala menunggang gajahnya sejauh gajah itu dapat pergi, dan kemudian ia turun dan mendatangi Yang Mulia Ānanda dengan berjalan kaki. Setelah bersujud kepadanya, ia berdiri di satu sisi dan berkata kepada Yang Mulia Ānanda: ’Yang Mulia, jika Yang Mulia Ānanda tidak memiliki urusan mendesak, mungkin Yang Mulia Ānanda sudi mendatangi tepi sungai Aciravati, demi belas kasihan.
"S" kapital

Quote
9. “Sungguh mengagumkan, Yang Mulia, sungguh menakjubkan! Karena apa yang tidak mampu kami capai dengan sebuah pertanyaan telah dicapai oleh Yang Mulia Ānanda dengan jawaban atas pertanyaan tersebut. Kami tidak mengenali sesuatu yang tidak berharga dalam pujian dan celaan orang lain yang diucapkan oleh orang-orang dungu, yang mengucapkan dengan tanpa menyelidiki dan mengevaluasi; tetapi kami mengenalinya sebagai berharga pujian dan celaan orang-orang lain yang diucapkan oleh orang-orang bijaksana, cerdas dan pintar yang mengucapkan setelah menyelidiki dan mengevaluasi.
"tidak mengenali sesuatu yang tidak berharga" artinya kan mengenali sesuatu yang berharga dalam pujian dan celaan orang lain yang diucapkan oleh orang-orang dungu, yang mengucapkan dengan tanpa menyelidiki dan mengevaluasi.
Mungkin maksudnya "mengenali sesuatu yang tidak berharga" atau "tidak mengenali sesuatu yang berharga"  ::)


89 Dhammacetiya Sutta - Monumen Dhamma
Spoiler: ShowHide
Quote
3. Kemudian Raja Pasenadi dari Kosala menaiki sebuah kereta kerajaan, dan disertai dengan kereta-kereta lainnya, pergi dari nagaraka menuju pemukiman Sakya di Medaḷumpa. Ia tiba di sana ketika hari masih siang dan melanjutkan perjalanan menuju taman. Ia berkendara sejauh jalan yang dapat dilalui kereta-kereta dan kemudian turun dari keretanya dan memasuki taman dengan berjalan kaki.
paragraf ke 6.
"Nagaraka"

Quote
10. “Yang Mulia, aku menyimpulkan menurut Dhamma tentang Sang Bhagavā: ‘Sang Bhagavā telah mencapai Penerangan Sempurna, Dhamma telah dibabarkan dengan sempurna, Sangha siswa Sang Bhagavā mempraktikkan jalan yang benar.’ Sekarang, Yang Mulia, aku melihat beberapa petapa dan brahmana yang menjalani kehidupan suci terbatas selama sepuluh tahun, dua puluh tahun, tiga puluh tahun, atau empat puluh tahun, dan kemudian belakangan aku melihat mereka berpenampilan rapi dan dengan hiasan indah, dengan rambut dan janggut tercukur rapi, menikmati dan memiliki lima utas kenikmatan idnria.

Quote
11. “Kemudian, Yang Mulia, para raja bertengkar dengan para raja, para mulia dengan para mulia, para brahmana dengan para brahmana, para perumah tangga dengan para perumah tangga, ibu bertengkar dengan puteranya, putera dengan ibunya, ayah dengan puteranya, putera dengan ayahnya, saudara laki-laki bertengkar dengan saudara laki-laki, saudara laki-laki dengan saudara perempuan, saudara perempuan dengan saudara laki-laki, teman dengan teman.
laki-laki atau perempuan?


90 Kaṇṇakatthala Sutta - Di Kaṇṇakatthala
Spoiler: ShowHide
Quote
14. .....
“Demikian pula, Jenderal, para dewa yabng masih tunduk pada niat-buruk dan yang kembali ke alam [manusia] ini bahkan tidak dapat melihat para dewa yang tidak lagi tunduk pada niat-buruk dan yang tidak kembali lagi ke alam [manusia] ini; jadi bagaimana mungkin mereka menjatuhkan atau mengusir mereka dari tempat itu?
"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #126 on: 18 April 2013, 09:54:09 AM »
KELOMPOK PARA BRAHMANA (BRĀHMAṆAVAGGA)
91 Brahmāyu Sutta - Brahmāyu
Spoiler: ShowHide
Quote
4. Pada saat itu Brahmana Brahmāyu memiliki seorang murid brahmana bernama Uttara yang menguasai Tiga Veda ... mahir dalam filosofi alam dan dalam tanda-tanda manusia luar biasa. Ia berkata kepada muridnya: “Muridku Uttara, Petapa Gotama, putera Sakya yang meninggalkan keduniawian dari suku Sakya, telah mengembara di negeri Videha bersama dengan sejumlah besar para bhikkhu, berjumlah lima ratus bhikkhu ...
"N" kapital ;D

Quote
5. “Tetapi bagaimanakah aku mengetahuinya, Tuan, apakah berita yang menyebar tentangnya benar atau tidak, dan apakah Guru Gotama adalah seorang yang seperti ini atau bukan?”

“Muridku Uttara, tiga puluh dua tanda Manusia Luar Biasa telah diturunkan dalam syair-syair pujian kita, dan Manusia Luar Biasa yang memiliki tanda-tanda itu hanya memiliki dua takdir yang mungkin, tidak ada yang lain.  Jika ia menjalani kehidupan rumah tangga, maka ia akan menjadi seorang Raja Pemutar-Roda, seorang raja yang adil yang memerintah sesuai Dhamma, penguasa keempat penjuru, maha-panakluk, yang telah menstabilkan negerinya dan memiliki tujuh pusaka. Ia memiliki tujuh pusaka ini: Pusaka-roda, pusaka-gajah, pusaka-kuda, pusaka-permata, pusaka-perempuan, pusaka-pelayan, dan pusaka-penasihat sebagai yang ke tujuh.  Anak-anaknya, yang lebih dari seribu, berani dan gagah perkasa, dan menggilas bala tentara lainnya; di seluruh bumi ini yang dibatasi oleh samudera, ia memerintah tanpa menggunakan tongkat, tanpa senjata, dengan menggunakan Dhamma. Tetapi jika ia meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah, maka ia akan menjadi Yang Sempurna, seorang Yang Tercerahkan Sempurna, yang menyingkapkan selubung dunia.  Tetapi aku, muridku Uttara, adalah pemberi syair-syair pujian; engkau adalah penerimanya.”
"samudra"

Quote
8. Kemudian murid brahmana Uttara berpikir: “Petapa Gotama memiliki ketiga puluh dua tanda seorang Manusia Luar Biasa. Bagaimana jika aku mengikuti Petapa Gotama dan mengamati perilakunya?”

Kemudian ia mengikuti Sang Bhagavā selama tujuh bulan bagaikan bayangan, tidak pernah meninggalkanNya. Di akhir tujuh bulan itu di negeri Videha, ....
"B" kapital

Quote
10. “Ketika Beliau berjalan, Beliau melangkahkan kaki kanan terlebih dulu. Beliau tidak melangkahkan kakiNya terlalu jauh atau terlalu dekat. Beliau tidak berjalan terlalu cepat juga tidak terlalu lambat. Beliau berjalan tanpa kedua lututnya saling beradu. Beliau berjalan tanpa mengangkat atau menurunkan pahanya, dan tanpa merapatkan atau merenggangkannya.
"Nya"
semuanya kata "nya" yang merujuk kepada Sang Buddha.

Quote
24. Kemudian, dalam pengembaraanNya, Sang Bhagavā akhirnya tiba di Mithilā. Di sana Sang Bhagavā menetap di Hutan Mangga Makhādeva. Para brahmana perumah tangga di Mithilā mendengar: [141] “Petapa Gotama, putera Sakya yang meninggalkan keduniawian dari suku Sakya, telah mengembara di negeri Videha ....

Quote
37. Kemudian ia berkata kepada Sang Bhagavā: “Mengagumkan, Guru Gotama! Mengagumkan, Guru Gotama! Guru Gotama telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara, seolah-olah Beliau menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan bagi yang tersesat, atau menyalakan pelita adalam kegelapan ....


92 Sela Sutta - Kepada Sela
Spoiler: ShowHide
Quote
3. Kemudian Petapa berambut kusut Keṇiya mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan Beliau, dan ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi. Sang Bhagavā memberikan instruksi, mendorong, membangkitkan semangat, dan menggembirakannya dengan khotbah Dhamma. Kemudian, setelah diberikan instruksi, didorong, dibangkitkan semangatnya, dan digembirakan oleh Sang Bhagavā dengan khotbah Dhamma, petapa berambut kusut Keṇiya berkata kepada Sang Bhagavā: “Sudilah Guru Gotama bersama dengan Sangha para bhikkhu menerime persembahan makanan dariku besok.”

Ketika hal ini dikatakan, Sang Bhagava berkata kepadanya: “Sangha para bhikkhu berjumlah besar, Keṇiya, [104] terdiri dari seribu dua ratus lima puluh bhikkhu, dan engkau berkeyakinan penuh pada para brahmana.”

Untuk ke dua kalinya petapa berambut kusut Keṇiya berkata kepada Sang Bhagavā: “Walaupun Sangha para bhikkhu berjumlah besar, Guru Gotama, terdiri dari seribu dua ratus lima puluh bhikkhu, dan walaupun aku berkeyakinan penuh pada para brahmana, namun sudilah Guru Gotama bersama dengan Sangha para bhikkhu menerime persembahan makanan dariku besok.” Untuk ke dua kalinya Sang Bhagavā berkata kepadanya: “Sangha para bhikkhu berjumlah besar, Keṇiya …”

Quote
10. Kemudian Brahmana Sela berpikir: “Bahkan kata ‘Buddha’ saja sulit terdengar di dunia ini. Sekarang tiga puluh dua tanda Manusia Luar Biasa telah diturunkan dalam syair-syair pujian kita, dan Manusia Luar Biasa yang memiliki tanda-tanda itu hanya memiliki dua takdir yang mungkin, tidak ada yang lain. Jika ia menjalani kehidupan rumah tangga, maka ia akan menjadi seorang Raja Pemutar-Roda, seorang raja yang adil yang memerintah sesuai Dhamma, penguasa keempat penjuru, maha-panakluk, ....

Quote
15. Kemudian Brahmana Sela berpikir: “Petapa Gotama memiliki ketiga puluh dua tanda Manusia Luar Biasa; tanda-tanda itu lengkap, bukan tidak lengkap. Tetapi aku tidak tahu apakah Beliau adalah Buddha atau bukan. Akan tetapi, aku telah mendengar dari para para sesepuh brahmana yang lanjut usia ....


93  Assalāyana Sutta - Kepada Assalāyana
Spoiler: ShowHide
Quote
11. ....
Bagaimana menurutmu, Assalāyana? Ketika api dinyalakan dan panas dihasilkan oleh seseorang dalam kelompok pertama, apakah api itu memiliki kobaran, warna, dan cahaya, dan apakah mungkin untuk menggunakannya sebagai fungsi api, sementara ketika api dinyalan dan panas dihasilkan oleh seseorang dari kelompok ke dua, api itu tidak memiliki kobaran, tanpa warna, dan tanpa cahaya, dan tidak mungkin menggunakannya sebagai fungsi api?”

Quote
14. “Bagaimana menurutmu, Assalāyana? Misalkan seekor kuda betina dikawinkan denagn seekor keledai jantan, dan seekor anak kuda terlahir sebagai akibatnya. Apakah anak kuda itu disebut seekor kuda mengikuti sang ibu atau seekor keledai mengikuti sang ayah?”

Quote
18, “Suatu ketika, Assalāyana, ketika tujuh petapa brahmana sedang berdiskusi di dalam sebuah gubuk daun di dalam hutan, pandangan sesat ini muncul pada mereka: ‘Para Brahmana adalah kasta tertinggi ... [155] ... pewaris Brahmā.’ Petapa Devala si Gelap mendengar hal ini.  Kemudian ia merapikan rambut dan janggutnya, mengenakan pakaian berwarna kuning, memakai sandal besar, dan memegang tongkat emas, ia muncul di halaman gubuk ketujuh petapa brahmana itu. Kemudian, selagi berjalan mondar-mandir di halaman gubuk ketujuh petapa brahmana itu, Petapa Devala si Gelap berkata sebagai berikut: ‘Kemanakah para petapa brahmana mulia itu pergi? Kemanakah para petapa brahmana mulia itu pergi?’ Kemudian ketujuh petapa brahmana itu berpikir: ‘Siapakah yang berjalan mondar-mandir di halaman gubuk ketujuh petapa brahmana seperti orang dusun dan mengatakan: “Kemanakah para petapa brahmana mulia itu pergi? Kemanakah para petapa brahmana mulia itu pergi?” mari kita mengutuknya!’ Kemudian ketujuh petapa brahmaan itu mengutuk petapa Devala si Gelap sebagai berikut: ....

Quote
19. Ketika hal ini dikatakan, murid brahmana Assalāyana berkata kepada Sang Bhagavā: “Mengagumkan, Guru Gotama! Mengagunkan, Guru Gotama! ... (seperti Sutta 91, §37)  ... Mulai hari ini sudilah Guru Gotama mengingatkan sebagai seorang umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.”


94  Ghoṭamukha Sutta - Kepada Ghoṭamukha
Spoiler: ShowHide
Quote
31. Ketika hal ini dikatakan, Brahmana Ghoṭamukha berkata kepada Yang Mulia Udena: “Mengagumkan, Guru Udena! Mengagumkan, Guru Udena! Guru Udena telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara, seolah-olah Beliau menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan bagi yang tersesat, atau menyalakan pelita adalam kegelapan  ....

Quote
11. “Jika kami mendengar bahwa Guru Gotama berada sepuluh liga jauhnya, maka kami akan pergi sejauh sepuluh liga untuk menemui Guru Gotama, yang sempurna dan tercerahkan sempurna. Jika kami mendengar bahwa Guru Gotama berada dua puluh liga ... tiga puluh liga ... empat puluh liga ... lima puluh liga ... seratus liga, [163] maka kami akan pergi sejauh sertus liga untuk menemui Guru Gotama, yang sempurna dan tercerahkan sempurna. Tetapi karena Guru Gotama telah mencapai Nibbāna akhir, maka kami berlindung pada Guru Gotama itu, dan kepada Dhamma, dan kepada Sangha para bhikkhu. Sejak hari ini sudilah Guru Udena mengingatku sebagai seorang umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.
kenapa paragraf 11 nyasar diantara 32 dan 33?


95 Cankī Sutta - Bersama Cankī
Spoiler: ShowHide
Quote
[164] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR.  Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang mengembara di negeri Kosala bersama dengan sejumlah besar Sangha para bhikkhu, dan akhirnya Beliau tiba di sebuah desa brahmana Kosala bernama Opasāda. Di sana Sang Bhagavā menetap di Hutan Para Dewa,  Hutan Pohon-Sāla di utara Opāsada.

Quote
6. “Tuan, ada Petapa Gotama, putera Sakya yang meninggalkan keduniawian dari suku Sakya, yang sedang mengembara di negeri Kosala … (seperti Sutta 91, §3) … Mereka pergi menemui Guru Gotama.”

Quote
13. “Bagaimanakah, Bhāradvāja, di antara para brahmana adakah bahkan seorang brahamana yang mengatakan sebagai berikut: ‘Aku mengetahui ini, aku melihat ini: hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah’?” – “Tidak, Guru Gotama.”

Quote
20. “Ketika ia telah menyelidikinya dan telah melihat bahwa ia murni dari kondisi-kondisi yang berdasarkan pada kebodohan, kemudian ia berkeyakinan padanya; dengan penuh keyakinan ia mengunjunginya dan memberikan penghormatan kepadanya; setelah memberikan penghormatan, ia mendengarkan; ketika ia mendengarkan, ia mendengar Dhamma; setelah mendengar Dhamma, ia menghafalnya dan meneliti makna dari ajaran yang telah ia hafalkan; ketika ia meneliti makna maknanya, ia memperoleh penerimaan atas ajaran-ajran itu melalui perenungan; ....

Quote
31. “Tetapi apakah, Guru Gotama, yang paling membantu dalam mengunjungi? Kami bertanya kepada Guru Gotama tentang hal yang paling membantu dalam mengunjungi.”
paragraf 33


96 Esukārī Sutta - Kepada Esukārī
Spoiler: ShowHide
Quote
8. ....
“Di sini, Brahmana, seseorang yang rupawan … seseorang yang kaya mungkin membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah. Oleh karena itu Aku tidak mengatakan bahwa seseorang adalah lebih baik karena ia rupawan … karena ia kaya. Tetapi juga, Brahmana, seseorang yang rupawan … seseorang yang kaya … mungkin menghindari membunuh mangkuk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar. Oleh karena itu [180] Aku tidak mengatakan bahwa seseorang adalah lebih buruk karena ia rupawan … karena ia kaya.

Quote
13. “Jika, Brahmana, seseorang dari kasta mulia meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah, dan setelah menemukan Dhamma dan Disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, ia menghindari membunuh mangkuk-makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari perilaku salah dalam kenikmatan indria, menghindari ucapan salah, menghindari ucapan jahat, menghindari ucapan kasar, dan menghindari gossip, dan tidak tamak, memiliki pikiran tanpa niat buruk, dan menganut pandangan benar, maka ia adalah seorang yang menyelesaikan jalan yang benar, Dhamma yang bermanfaat.

Jika, Brahmana, seseorang dari kasta brahmana meninggalkan keduniawian … Jika seseorang dari kasta pedagang meninggalkan keduniawian … Jika seseorang dari kasta pekerja meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah, dan setelah menemukan Dhamma dan Disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, ia menghindari membunuh mangkuk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar, maka ia adalah seorang yang menyelesaikan jalan yang benar, Dhamma yang bermanfaat.[182]

Quote
14. .....
“Demikian pula, Brahmana, jika seseorang dari kasta mulia meninggalkan keduniawian … (ulamgi §13) … ia adalah seorang yang menyelesaikan jalan yang benar, Dhamma yang bermanfaat.
di paragraf 15 dan 16 juga.


97 Dhānañjāni Sutta - Kepada Dhānañjāni
Spoiler: ShowHide
Quote
16. “Bagaimana menurutmu, Dhānañjāni? Siapakah yang lebih baik Seorang yang demi orangtuanya berperilaku berlawanan dengan Dhamma, berperilaku tidak jujur, atau seorang yang demi orangtuanya berperilaku sesuai dengan Dhamma, berperilaku jujur?”

Quote
17-25. “Bagaimana menurutmu, Dhānañjāni? Siapakah yang lebih baik Seorang yang demi istri dan anak-anaknya … [189] ...
"s" nya kenapa kapital? ;D

Quote
31. ....
Kemudian Yang Mulia Sāriputta berpikir: “Para brahmana ini membaktikan diri pada alam-Brahma. Bagaimana jika aku mengajarkan kepada Brahmana Dhānañjāni jalan menuju alam Brahmā?” [Dan ia berkata:] “Dhānañjāni, aku akan mengajarkan kepadamu jalan menuju alam Brahmā. Dengarkan dan perhatikanlah pada apa yang akan aku katakana.” – “Baik, Yang Mulia,” ia menjawab. [195] Yang Mulia berkata sebagai berikut:


98 Vāseṭṭha Sutta - Kepada Vāseṭṭha
Spoiler: ShowHide
Quote
63. Seseorang yang memiliki tiga pengetahuan,
Dmai, dengan segala penjelmaan dihancurkan:
Kenalilah ia demikian, O Vāseṭṭha,
Sebagai Brahmā dan Sakka bagi mereka yang tidak memahami.”


99 Subha Sutta - Kepada Subha
Spoiler: ShowHide
Quote
4. “Guru Gotama, para brahmana mengatakan sebagai berikut: ‘Perumah tangga menyempurnakan jalan yang benar, Dhamma yang bermanfaat. Seorang yang meninggalkan keduniawian [dan menjalani kehidupan tanpa rumah] tidak meyempurnakan jalan yang benar, Dhamma yang bermanfaat.’ Apakah yang Guru Gotama katakan sehubungan dengan hal ini?”
tidak menyempurnakan jalan yang benar?

Quote
8. “Guru Goatama, para brahmana menetapkan lima hal bagi pelaksanaan kebajikan, untuk menyempurnakan yang bermanfaat.”

Quote
16. Sekarang ada lima utas kenikmatan indria ini, murid. Apakah lima ini? Bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata yang yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu.

Quote
22. Ketika hal ini dikatakan, murid brahmana Subha, putera Todeyya, berkata kepada Sang Bhagavā: “Guru Gotama, aku telah mendengar bahwa Petapa Gotama mengetahui jalan menuju alam-Brahma.”

“Bagaimana menurutmu, murid? Apakah desa Naḷakāra dekat dari sini, tidak jauh dari sini?”

“Ya, Tuan, desa Naḷakāra dekat dari sini, tidak jauh dari sini.”

“Bagaimana menurutmu, murid? Misalkan ada seseorang yang dilahirkan dan dibesarkan di desa Naḷakāra, dan segera setelah ia meninggalkan Naḷakāra mereka menanyalan kepadanya tentang jalan menuju desa itu. Apakah orang itu akan lambat atau ragu-ragu dalam menjawabnya?”

“Tidak, Guru Gotama. Mengapakah? Karena orang itu dilahirkan dan dibesarkan di Naḷakāra, dan mengenal dengan baik semua jalan menuju desa itu.”

“Bagaimanapun juga, seseorang yang dilahirkan dan dibesarkan di desa Naḷakāra [207] mungkin saja lambat atau ragu-ragu dalam menjawab ketika ditanya tentang jalan menuju desa itu, tetapi seorang Tathāgata, ketika ditanya tentang alam-Brahma atau jalan menuju alam-Brahma, tidak akan pernah lambat atau ragu-ragu dalam menjawab. Aku memahami, Brahmā, murid, dan Aku memahami alam-Brahma, dan Aku memahami jalan menuju alam-Brahma, dan Aku memahami bagaimana seseorang belatih agar muncul kembali di alam-Brahma.”
"D" kapital

paragraf 24-27 : "trompet"

Quote
28. Ketika hal ini dikatakan, murid brahmana Subha, putera Todeyya, berkata kepada Sang Bhagavā: “Mengagumkan, Guru Gotama! Mengagumkan, Guru Gotama! Guru Gotama telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara, seolah-olah Beliau menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan bagi yang tersesat, atau menyalakan pelita adalam kegelapan ....


100  Sangārava Sutta - Kepada Sangārava
Spoiler: ShowHide
Quote
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang mengembara di negeri Kosala bersama dengan sejumlah besar Sangha para bhikkhu.

Quote
3. ....

“Baik, Tuan,” brahman perempuan Dhānañjāni menjawab.

Quote
4. Kemudian, setelah mengembara secara bertahap di negeri Kosala, Sang Bhagavā akhirnya tiba di Caṇḍalakappa. Di Caṇḍalakappa Sang Bhagavā menetap di Hutan Mangga milik para brahmana suku Todeyya.

Quote
43. Ketika hal ini dikatakan, murid brahmana Sangārava berkata kepada Sang Bhagavā: “Mengagumkan, Guru Gotama! Mengagumkan, Guru Gotama! Guru Gotama telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara, seolah-olah Beliau menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan bagi yang tersesat, atau menyalakan pelita adalam kegelapan


MN II Selesai
"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #127 on: 04 May 2013, 08:27:02 AM »
Majjhima Nikaya, Bagian III (Lima puluh khotbah terakhir)

KELOMPOK DI DEVADAHA (DEVADAHAVAGGA)
101  Devadaha Sutta - Di Devadaha
Spoiler: ShowHide
Quote
[214] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap negeri Sakya di mana terdapat sebuah pemukiman Sakya bernama Devadaha. Di sana Sang Bhagavā memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:
menetap di Negeri Sakya

Paragraf ke 9 gak ada.

Quote
21. “’Jadi sepertinya, Teman Nigaṇṭha, bahwa adalah tidak mungkin bahwa suatu perbuatan [yang akibatnya] harus dialami di sini dan saat ini dapat, melalui pengerahan dan usaha keras, menjadi perbuatan [yang akibatnya] dialami dalam kehidupan mendatang, …
mungkin kata “bahwa” nya di pilih satu aja.
Tapi tergantung teks aslinya juga sih. ;D

Quote
22. ……
(4) “Jika kenikmatan dan kesakitan yang sedang dirasakan adalah disebabkan oleh kelompok [di antara enam kelompok kelahiarn],  maka para Nigaṇṭha pasti berasal dari kelompok yang buruk, karena mereka saat ini merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk.
Di paragraph 46 juga.


102  Pañcattaya Sutta - Lima dan Tiga
Spoiler: ShowHide
Quote
10. “Sang Tathāgata, para bhikkhu, memahami hal ini sebagai berikut: ‘Para petapa dan brahmana baik itu yang menjelaskan diri sebagai bukan memiliki persepsi juga bukan tidak memiliki persepsi dan tidak rusak setelah kematian menggambarkan diri itu, yang bukan memiliki juga bukan tidak memiliki persepsi dan tidak rusak setelah kematian, sebagai materi ... atau bukan materi juga bukan bukan-materi. Jika petapa atau brahmana manapun menjelaskan bahwa memasuki landasan ini terjadi melalui bentukan-bantukan sehubungan dengan apa yang dilihat, didengar, dicerap  ……


104  Sāmagāma Sutta - Di Sāmagāma
Spoiler: ShowHide
Quote
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di negeri Sakya di Sāmagāma.

Quote
6. “Terdapat, Ānanda, enam akar perselisihan ini.  Apakah enam ini? Di sini, Ānanda, seorang bhikkhu marah dan kesal. Bhikkhu demikian berdiam tanpa menghormati dan tanpa menghargai Sang Guru, Dhamma, dan Sangha, dan ia tidak memenuhi latihan. Seorang bhikkhu yang tidak menghormati dan tidak menghargai Sang Guru, Dhamma, dan Sangha, [246] dan yang tidak memenuhi latihan, menciptakan perselisihan dalam Sangha, yang dapat mengakibatkan bahaya dan ketidak-bahagiaan banyak makhluk, menghasilkan kehilangan, kemalangan, dan penderitaan para dewa dan manusia. Sekarang jika engkau melihat akar perselisihan demikian apakah dalam dirimu atau secara eksternal, maka engkau harus berusaha untuk meninggalkan akar perselisihan yang buruk yang sama itu. dan jika engkau tidak melihat akar perselisihan demikian apakah dalam dirimu atau secara eksternal, …

7-11. “Kemudian, seorang bhikkhu bersikap meremehkan dan congkak … iri dan tamak … curang dan menipu … berkeinginan jahat dan berpandangan salah, dan melepaskannya dengan susah-payah. Bhikkhu demikian berdiam tanpa menghormati dan tanpa menghargai Sang Guru, Dhamma, dan Sangha, dan ia tidak memenuhi latihan. Seorang bhikkhu yang tidak menghormati dan tidak menghargai Sang Guru, Dhamma, dan Sangha, dan yang tidak memenuhi latihan, menciptakan perselisihan dalam Sangha, yang dapat mengakibatkan bahaya dan ketidak-bahagiaan banyak makhluk, menghasilkan kehilangan, kemalangan, dan penderitaan para dewa dan manusia. Sekarang jika engkau melihat akar perselisihan demikian apakah dalam dirimu atau secara eksternal, maka engkau harus berusaha untuk meninggalkan akar perselisihan yang buruk yang sama itu. dan jika engkau tidak melihat akar

14. “Dan bagaimanakah terjadinya penghapusan perkara melalui konfrontasi?  Di sini para bhikkhu berselisih: ‘Ini adalah Dhamma,’ atau ‘Ini bukan Dhamma,’ atau ‘Ini adalah Disiplin,’ atau ‘Ini bukan Disiplin.’ Para bhikkhu itu harus berkumpul bersama dalam kerukunan. Kemudian, setelah berkumpul, tuntunan Dhamma harus ditetapkan.  Begitu tuntunan Dhamma telah ditetapkan, perkara itu harus diselesaikan sedemikian sehingga sesuai dengan tuntunan Dhamma itu. demikianlah penghapusan perkara melalui konfrontasi. Dan demikianlah terjadinya penyelesaian perkara-perkara di sini dengan penghapusan perkara melalui konfrontasi.

15. “Dan bagaimanakah terjadinya pendapat mayoritas? Jika para bhikkhu itu tidak dapat menyelesaikan perkara itu di dalam tempat kediaman itu, maka mereka harus mendatangi tempat kediaman di mana terdapat lebih banyak bhikkhu. Di sana, mereka semuanya harus berkumpul bersama dalam kerukunan. Kemudian, setelah berkumpul, tuntunan Dhamma harus ditetapkan. Begitu tuntunan Dhamma telah ditetapkan, perkara itu harus diselesaikan sedemikian sehingga sesuai dengan tuntunan Dhamma itu. demikianlah pendapat mayoritas. Dan demikianlah terjadinya penyelesaian perkara-perkara di sini dengan penghapusan perkara melalui pendapat mayoritas.
Kapital.

Quote
19. …..  ‘Aku ingat, Teman-teman, telah melakukan pelanggaran berat itu, pelanggaran yang melibatkan kejatuhan atau yang berbatasan dengan kejatuhan. Aku bergurau, aku hanya meracau, ketika aku mengatakan bahwa aku tidak ingat telah melakukan melakukan pelanggaran berat itu, pelanggaran yang melibatkan kejatuhan atau yang berbatasan dengan kejatuhan.’ Demikianlah terjadinya pernyataan karakter buruk atas seseorang. Dan demikianlah terjadinya penyelesaian perkara-perkara di sini dengan pernyataan karakter buruk atas seseorang. [250]

Quote
20. “Dan bagaimanakah terjadinya menutup dengan rumput?  Di sini ketika para bhikkhu telah bertengkar dan bercekcok dan berselisih, mereka mungkin telah mengatakan atau melakukan banyak hal yang tidak selayaknya bagi seorang petapa. Para bhikkhu itu harus berkumpul bersama dalam kerukunan. Kemudian, setelah mereka berkumpul, seorang bhikkhu yang bijaksana di antara para bhikkhu yang memihak salah satu pihak bangkit dari duduknya, dan setelah merapikan jubahnya di salah satu bahunya, ia merangkapkan tangan, dan mengundang Sangha sebagai berikut: ‘Mohon Yang Mulia Sangha mendengarkan aku. Ketika kami bertengkar dan bercekcok dan berselisih, kami telah mengatakan atau melakukan banyak hal yang tidak selayaknya bagi seorang petapa. Jika Sangha menyetujui, maka demi kabaikan para mulia ini dan demi kebaikanku, …..


105  Sunakkhatta Sutta - Kepada Sunakkhatta
Spoiler: ShowHide
 
Quote
4. “Aku telah mendengar, Yang Muklia, bahwa sejumlah bhikkhu telah menyatakan pengetahuan akhir di hadapan Sang Bhagavā. Apakah mereka benar-benar telah mencapainya atau adakah beberapa bhikkhu di sini yang menyatakan pengetahuan akhir karena menilai diri mereka terlalu tinggi?”

Quote
8. “Adalah mungkin, Sunakkhatta, bahwa seseorang di sini mungkin berhasrat pada hal-hal materi duniawi.  Ketika seseorang berhasrat pada hal-hal materi duniawi, hanya pembicaraan sehubungan dengan hal itu yang menarik perhatiannya, dan pikiran dan renungannya selaras dengan hal-hal itu, dan ia bergaul dengan orang-orang sejenis, dan ia mendapatkan kepuasan dalam hal-hal itu. tetapi ketika pembicaraan mengenai ketenangan sedang berlangsung, ia tidak mendengarkannya atau mengarahkan pikirannya untuk memahaminya. Ia tidak bergaul dengan orang demikian, dan ia tidak mendapatkan kepuasan dalam hal itu.

9. “Misalkan, Sunakkhatta, seseorang telah lama meninggalkan desa atau kota asalnya, dan ia bertemu dengan orang lain yang baru saja meninggalkan desa atau kota itu. ia akan menanyakan kepada orang itu apakah para penduduk desa atau kota itu selamat, makmur, ……

10. “Adalah mungkin, Sunakkhatta, bahwa seseorang di sini mungkin berhasrat pada ketenangan.  Ketika seseorang berhasrat pada ketenangan, hanya pembicaraan sehubungan dengan hal itu yang menarik perhatiannya, dan pikiran dan renungannya selaras dengan hal-hal itu, dan ia bergaul dengan orang-orang sejenis, dan ia mendapatkan kepuasan dalam hal-hal itu. tetapi ketika pembicaraan mengenai hal-hal materi duniawi sedang berlangsung, ia tidak mendengarkannya atau mengarahkan pikirannya untuk memahaminya. Ia tidak bergaul dengan orang demikian, dan ia tidak mendapatkan kepuasan dalam hal itu.

19. “Misalkan, Sunakkhatta, seseorang terluka oleh anak panah beracun, dan teman-teman dan sahabatnya, sanak saudara dan kerabatnya, membawa seorang ahli bedah. Ahli bedah itu membedah luka itu dengan pisau, memeriksa anak panah itu dengan alat periksa, [257] kemudian ia mencabut anak panah itu dan mengeluarkan cairan beracun dengan meninggalkan sisa-sisa racun itu. karena berpikir bahwa tidak ada sisa-sisa racun yang tertinggal,  ia berkata: ‘Tuan, anak panah telah dicabut dari tubuhmu; cairan beracun telah dikeluarkan tanpa meninggalkan sisa, dan tidak dapat mencelakaimu. Makanlah hanya makanan-makanan yang layak; jangan memakan makanan yang tidak layak agar luka itu tidak bernanah. Dari waktu ke waktu cucilah luka itu dan dari waktu ke waktu olesi luka itu agar nanah dan darah tidak menutupi luka itu. Jangan berjalan terpapar oleh angin dan matahari agar debu dan tanah tidak menginfeksi luka itu. rawatlah luka itu, Tuan, dan uruslah luka itu hingga sembuh.’
Kapital


106  Āneñjasappāya Sutta - Jalan menuju Ketenangan
Spoiler: ShowHide

Quote
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR.  Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di negeri Kuru di mana terdapat sebuah pemukiman Kuru bernama Kammāsadhamma. Di sana Sang Bhagava memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:
Negeri Kuru

Quote
6. ….. Ini, para bhikkhu, dinyatakan sebagai cara ke pertama yang mengarah pada landasan kekosongan.

Quote
(LANDASAN BUKAN PERSEPSI JUGA BUKAN BUKAN-PERSEPSI)

6. “Kemudian, para bhikkhu,
Paragraf 9


107  Gaṇakamoggallāna Sutta - Kepada Gaṇaka Moggallāna
Spoiler: ShowHide

Quote
6. “Ketika, [3] Brahmana, bhikkhu itu telah terkendali dalam hal makanan, kemudian Sang Tathāgata mendisiplinkannya lebih lanjut: ‘Marilah, Bhikkhu, tekunilah kewaspadaan. Selama siang hari, selagi berjalan mondari-mandir dan duduk, …..

Quote
7. “Ketika, Brahmana, bhikkhu itu telah menekuni kewaspadaan, kemudian Sang Tathāgata mendisiplinkannya lebih lanjut: ‘Marilah, Bhikkhu, milikilah perhatian penuh dan kewaspadaan penuh. Bertindaklan dalam kewaspadaan penuh ketika berjalan maju dan mundur; bertindaklah dalam kewaspadaan penuh ketika melihat ke depan dan melihat ke belakang; bertindaklah dalam kewaspdaan penuh ketika menekuk dan meregangkan bagian-bagian tubuhmu; bertindaklah dalam kewaspdaan penuh ketika mengenakan jubah dan membawa jubah luar dan mangkukmu; bertindaklah dalam kewaspdaan penuh ketika makan, minum, mengunyah makanan dan mengecap; bertindaklah dalam kewaspdaan penuh ketika buang air besar dan buang air kecil; bertindaklah dalam kewaspdaan penuh ketika berjalan, bediri, duduk, jatuh tertidur, bangun tidur, berbicara, dan berdiam diri.’

Quote
13. “Guru Gotama, karena Nibbāna ada dan jalan menuju Nibbāna ada dan Guru Gotama juga ada sebagai penuntun, apakah sebab dan alasan mengapa, ketika para siswa Guru Gotama dinasihati demikian, diberikan instruksi demikian oleh Beliau, beberapa di antara mereka mencapai Nibbāna, tujun tertinggi, dan beberapa lainnya tidak mencapainya?”

Quote
14. …….
“Bagaimana menurutmu, Brahmana? Misalkan seseorang yang hendak pergi ke Rājagaha mendatangimu dan berkata: “Tuan, aku hendak pergi ke Rājagaha, tunjukkanlah kepadaku jalan menuju Rājagaha.’ Kemudian engkau memberitahunya: ‘Sekarang, Tuan, jalan ini menuju Rājagaha. Ikutilah selama beberapa saat dan engkau akan sampai di sebuah desa tertentu, jalanlah sedikit lebih jauh dan engkau akan sampai di sebuh pemukiman tertentu, jalanlah sedikit lebih jauh dan engkau akan sampai di Rājagaha dengan taman-taman, hutan, padang rumput, dan kolam-kolam yang indah.’ Kemudian, setelah dinasihati dan diberikan instruksi demikian olehmu, ia mengambil jalan yang salah dan pergi menuju ke barat. Kemudian orang ke dua yang hendak pergi ke Rājagaha mendatangimu dan berkata: “Tuan, aku hendak pergi ke Rājagaha, tunjukkanlah kepadaku jalan menuju Rājagaha.’ Kemudian engkau memberitahunya: ‘Sekarang, Tuan, jalan ini menuju Rājagaha. Ikutilah selama beberapa saat … dan engkau akan sampai di Rājagaha dengan taman-taman, hutan, padang rumput, dan kolam-kolam yang indah.’ Kemudian, setelah dinasihati dan diberikan instruksi demikian olehmu, ia tiba dengan selamat di Rājagaha. Sekarang, Brahmana, karena Rājagaha ada dan jalan menuju Rājagaha ada, dan engkau juga ada sebagai penuntun, apakah sebab dan alasan mengapa, ketika orang-orang itu yang telah dunasihati dan diberikan instruksi demikian olehmu, seorang mengambil jalan yang salah dan pergi ke barat dan seorang lainnya sampai dengan selamat di Rājagaha?” [6]


109  Mahāpuṇṇama Sutta - Khotbah Panjang di Malam Purnama
Spoiler: ShowHide

Quote
14. …..
Kemudian Sang Bhagavā, dengan pikiranNya mengetahui pikiran bhikkhu tersebut, berkata kepada bhikkhu itu sebagai berikut: “Adalah mungkin, para bhikkhu, seseorang sesat di sini, yang bodoh dan dungu, dengan pikirannya yang dikuasai oleh keinginan, akan berpikir bahwa ia dapat melampaui pengajaran Sang Guru sebagai berikut: ‘Jadi, sepertinya, bentuk materi adalah bukan diri … kesadaran adalah bukan diri. Kalau begitu, diri apakah, yang melakukan perbuatan sebagai akibat dari apa yang dilakukan oleh apa yang bukan diri?’ Sekarang, para bhikkhu, kalian telah dilatih olehKu melalui Tanya jawab pada berbagai kesempaatn sehubungan dengan berbagai hal.


110  Cūḷapuṇṇama Sutta - Khotbah Pendek di Malam Purnama
Spoiler: ShowHide

Quote
13. “Seorang bukan manusia sejati itu – yang memiliki kualitas-kualitas buruk demikian, yang bergaul sebagai seorang bukan manusia sejati, berbicara sebagai seorang bukan manusia sejati, bertindak sebagai seorang bukan manusia sejati, menganut pandangan-pandangan sebagai seorang bukan manusia sejati, dan memberikan persembahan sebagai seorang bukan manusia sejati demikiaqn – ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, akan muncul kembali di alam tujuan kelahiran  seorang bukan manusia sejati. Dan apakah alam tujuan kelahiran seorang bukan manusia sejati? Adalah neraka atau alam binatang.

Quote
16. “Dan bagaimanakah seorang bukan manusia sejati memiliki kualitas-kualitas baik? Di sini seorang bukan manusia sejati memiliki keyakinan, memiliki rasa malu, memiliki rasa takut akan pelanggaran; ia terlatih, bersemangat, penuh perhatian, dan bijaksana. Itu adalah bagaimana seorang manusia sejati memiliki kualitas-kualitas baik.

17. “Dan bagaimanakah seorang bukan manusia sejati bergaul sebagai seorang manusia sejati? Di sini seorang manusia sejati memiliki para petapa dan brahmana yang memiliki keyakinan, memiliki rasa malu, memiliki rasa takut akan pelanggaran; yang terlatih, bersemangat, penuh perhatian, dan bijaksana, sebagai teman-temannya. Itu adalah bagaimana seorang manusia sejati bergaul sebagai seorang manusia sejati.

"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #128 on: 04 May 2013, 09:15:06 AM »
KELOMPOK SATU DEMI SATU (ANUPADAVAGGA)

111  Anupada Sutta - Satu demi Satu Bermunculan
Spoiler: ShowHide

Quote
[25] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap Di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:
di Sāvatthī


112  Chabbisodhana Sutta - Enam Kemurnian
Spoiler: ShowHide

Quote
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap Di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

Quote
3. “Kata-kata bhikkhu itu tidak perlu disetujui atau tidak disetujui. Dengan tanpa menyetujui atau tidak menyetujui, sebuah pertanyaan harus diajukan: ‘Teman, ada empat jenis pengungkapan yang dengan benar dinyatakan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna. Apakah empat ini? Seseorang mengatakan yang dilihat seperti apa yang dilihat; ia mengatakan yang didengar seperti apa yang didengar; ia mengatakan yang dicerap seperti apa yang dicerap; ia mengatakan yang dikenal seperti apa yang dikenal.  [30] ini, Teman, adalah empat jenis pengungkapan yang dengan benar dinyatakan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat, yang sempurna dan tercerahkan sempurna. Bagaimanakah Yang Mulia mengetahui, bagaimanakah ia melihat, sehubungan dengan keempat jenis pengungkapan ini, sehingga melalui ketidak-melekatan pikirannya terbebaskan dari noda-noda?’
Kapital


113  Sappurisa Sutta - Manusia Sejati
Spoiler: ShowHide

Quote
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap Di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

Quote
9-20. …..

“Tetapi seorang manusia sejati mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Bukanlah karena menjadi seorang yang makan satu kali sehari maka kondisi-kondisi keserakahan, kebencian, atau kebodohan dihancurkan. Bahkan jika seseorang bukanlahh seorang yang makan satu kali sehari, …..

Quote
22-24. “Terlebih lagi, dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, seorang bukan manusia sejati masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua ... Dengan meluruhnya kegembiraan ... ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga ... Dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan ... ia masuk dan berdian dalam jhāna ke empat ...

25. “Terlebih lagi, dengan sepenuhnya melampaui persepsi bentuk, dengan lenyapnya persepsi kontak indria, dengan tanpa-perhatian pada persepsi keberragaman, menyadari bahwa ‘ruang adalah tanpa batas,’ seorang bukan manusia sejati masuk dan berdiam dalam landasan ruang tanpa batas ...


114  Sevitabbāsevitabba Sutta - Yang Harus Dilatih dan Tidak Boleh Dilatih
Spoiler: ShowHide

Quote
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap Di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

Quote
3. “Para bhikkhu,  Perilaku jasmani ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perilaku jasmani adalah salah satu atau yang lainnya.  Perilaku ucapan ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perilaku ucapan adalah salah satu atau yang lainnya. Perilaku pikiran ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan perilaku pikiran adalah salah satu atau yang lainnya. Kecenderungan pikiran ada dua jenis, Aku katakan: yang harus dilatih dan yang tidak boleh dilatih. Dan Kecenderungan pikiran adalah salah satu atau yang lainnya. [46] ….

Quote
4. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Sāriputta berkata kepada Sang Bhagavā: “Yang Mulia, aku memahami secara terperinci makna dari ucapan Sang Bhagavā, yang diucapkan secara ringkas tanpa menjelaskan maknanya secara terprinci, sebagai berikut:

Quote
11. ……

“Dan perolehan kepribadian yang bagaimanakah yang menjadi penyebab bagi berkurangnya kondisi-kondisi yang tidak bermanfaat dan bertambahnya kondisi-kondisi yang bermanfaat dalam diri seseorang yang melatihnya? Ketika seseorang membentuk suatu perolehan kepribadian yang bebas dari penderitaan, maka kondisi-kondisi tidak bermanfaat berkurang dan kondisi-kondisi bermanfaat bertambah dalam dirinya, memungkinkannya pencapaian kemuliaan.
kalimatnya kedengaran agak aneh, seperti ada kata yang kurang kalau dibandingkan dengan kalimat lawannya “menghalanginya dari pencapaian kemuliaan”

Quote
12. “Yang Mulia, aku memahami secara terperinci makna dari ucapan Sang Bhagavā, yang diucapkan secara ringkas tanpa menjelaskan maknanya secara terprinci, seperti demikian.”
koreksi yang sama di paragraf 23, 30, 40, dan 49.

Quote
14-20. [54,55] (Dalam paragraf-paragraf ini Sang Buddha mengulangi kata demi kata dari §§5-11, dengan menggantikan “Yang Mulia” menjadi “Sāriputta” dan oleh “oleh Sang Bhagavā” menjadi “olehKu.”)


115  Bahudhātuka Sutta - Banyak Jenis Unsur
Spoiler: ShowHide

Quote
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap Di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

 
116  Isigili Sutta - Isigili: Kerongkongan Para Petapa
Spoiler: ShowHide

Quote
[68] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR.  Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap Di Rājagaha, di Isigili – Kerongkongan Para Petapa. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

Quote
3. “Dulunya ada nama lain, sebutan lain, untuk Gunung Isigili – Kerongkongan Para Petapa itu. karena di masa lalu lima ratus paccekabuddha  …..
Kapital

Quote
6. ……

   Kāḷa, Upakāḷa, Vijita, dan Jita;
   Anga, dan panga, dan Gutijjita juga;
   Passin menaklukkan perolehan, akar penderitaan;
   Aparājita menaklukkan kekuatan Māra.

……

   Jeta, Jayanta, Paduma, dan Uppala,
   Padumuttara, Rakkhita, dan pabbata, [71]
   Mānatthaddha yang agung, Vītarāga
   Dan Kaṇha yang tercerahkan dengan pikiran terbebaskan.
Kapital


117  Mahācattarisaka Sutta - Empat Puluh Besar
Spoiler: ShowHide

Quote
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap Di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

Quote
17, “Dan apakah, para bhikkhu, ucapan salah? Kebohongan, ucapan jahat, ucapan kasar, dan gossip: ini adalah ucapan salah.
“gosip”

Quote
37. “Para bhikkhu, jika petapa atau brahmana manapun berpikir bahwa Khotbah Dhamma tentang Empat Puluh Besar ini harus dicela dan ditolak, maka ada sepuluh kesimpulan sah dari pernyataan mereka yang memberikan dasar untuk mencela mereka di sini dan saat ini. Jika yang mulia itu mencela pandangan benar, maka ia tentu menghormati dan memuji para petapa dan brahmana yang memiliki pandangan salah. Jika yang mulia itu mencela kehendak benar, [78] maka ia tentu menghormati dan memuji para petapa dan brahmana yang memiliki kehendak salah. Jika yang mulia itu mencela ucapan benar … perbuatan benar … penghidupan benar … usaha benar … perhatian benar … konsentrasi benar … pengetahuan benar … pembebasan benar, maka ia tentu menghormati dan memuji para petapa dan brahmana yang memiliki pembebasan salah. jika petapa atau brahmana manapun berpikir bahwa Khotbah Dhamma tentang Empat Puluh Besar ini harus dicela dan ditolak, maka ada sepuluh kesimpulan sah dari pernyataan mereka yang memberikan dasar untuk mencela mereka di sini dan saat ini.
Kapital

Quote
38. “Para bhikkhu, bahkan para guru dari Okkala, Vassa dan Bhañña,  yang menganut doktrin non-kausaliotas, doktrin tidak-berbuat, dan doktrin nihilisme, tidak akan berpikir bahwa Khotbah Dhamma tentang Empat Puluh Besar ini harus dicela dan ditolak. Mengapakah? Karena takut disalahkan, diserang, dan dibantah.


118  Ānāpānasati Sutta - Perhatian pada Pernafasan
Spoiler: ShowHide

Quote
15. “Para bhikkhu, ketika perhatian pada pernafasan dikembangkan dan dilatih, maka hal itu berbuah besar dan bermanfaat besar. Ketika perhatian pada pernafasan dikembangkan dan dilatih, maka hal itu memenuhi empat landasan perhatian. Ketika empat landasan perhatian dikembangkan dan dilatih, maka hal itu memenuhi tujuh faktor pencerahan. Ketika tujuh faktor pencerahan dikembangkan dan dilatih, maka hakl itu memenuhi pengetahuan dan pembebasan sejati.

Quote
19. “Ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan mengalami kegembiraan’; ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan mengalami kegembiraan.’  Ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan mengalami kenikmatan’; [83] ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan mengalami kenikmatan.’ Ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan mengalami bentukan batin; ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan mengalami bentukan batin.’ Ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan menenangkan bentukan batin; ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan menenangkan bentukan batin.’

……

25. “Para bhikkhu, kapan pun [84] seorang bhikkhu berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas panjang dengan mengalami kegembiraan’’ berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan mengalami kegembiraan’; berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan mengalami kegembiraan’; berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan mengalami kegembiraan’; berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan mengalami bentukan batin; berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan mengalami bentukan batin;  ……
kalau berdasarkan paragraf 19, maka kata “panjang” tidak ada, dan “kegembiraan” seharusnya “kenikmatan”.

Quote
26. “Para bhikkhu, kapan pun seorang bhikkhu berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas panjang dengan mengalami pikiran’’ berlatih sebagai berikut: …….

27. “Para bhikkhu, kapan pun seorang bhikkhu berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas panjang dengan merenungkan ketidak-kekalan’’ …..


119  Kāyagatāsati Sutta - Perhatian pada Jasmani
Spoiler: ShowHide

Quote
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap Di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Quote
21. “Kemudian, para bhikkhu, dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan, dan dengan pelenyapan sebelumnya kegembiraan dan kesedihan, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang memiliki bukan-kesakitan-juga-bukan-kenikmatan dan kemurnian perhatian karena keseimbangan. Ia duduk dengan meliputi tubuh ini dengan pikiran yang murni dan cerah, sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya yang tidak terliputi oleh pikiran yang murni dan cerah. Bagaikan seorang yang duduk dan ditutupi dengan kain putih dari kepala ke bawah, sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya yang tidak tertutupi oleh kain putih itu; demikian pula, seorang bhikkhu duduk dengan dengan meliputi tubuh ini dengan pikiran yang murni dan cerah, sehingga tidak ada bagian dari tubuhnya yang tidak terliputi oleh pikiran yang murni dan cerah itu. Ketika ia berdiam demikian dengan rajin ... Ini juga adalah bagaimana seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani.

Quote
22. “Para bhikkhu, siapa pun juga yang telah mengembangkan dan melatih perhatian pada jasmani telah memasukkan ke dalam dirinya kondisi-kondisi bermanfaat apapun juga yang berhubungan dengan pengetahuan sejati.  Seperti halnya siapa pun juga yang memperluas pikirannya menjangkau samudera raya telah memasukkan dalam pikirannya sungai-sungai apapun juga yang mengalir ke samudera; demikian pula, siapa pun juga yang telah mengembangkan dan melatih perhatian pada jasmani telah memasukkan ke dalam dirinya kondisi-kondisi bermanfaat apapun juga yang berhubungan dengan pengetahuan sejati.
“samudra”


120  Sankhārupapatti Sutta - Kemunculan Kembali Melalui Aspirasi
Spoiler: ShowHide

Quote
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap Di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

Quote
13-16. “Kemudian, seorang bhikkhu memiliki keyakinan … kebijaksanaan. Ia mendengar bahwa Brahmā Dua Ribu … Brahmā Tiga Ribu … Brahmā Empat Ribu … Brahmā Lima Ribu berumur panjang, rupawan, dan menikmati kebahagiaan luar biasa. Sekarang Brahmā Lima Ribu berdiam dengan bertekad meliputi satu sistem dunia lima ribu alam, dan ia berdiam dengan bertekad meliputi makhluk-makhluk yang telah muncul kembali di sana. bagaikan seseorang dengan penglihatan baik meletakkan lima butir biji kecil di tangannya dan memeriksanya, demikianlah Brahmā Lima Ribu berdiam dengan ……
Kapital

Quote
33-36. “Kemudian, seorang bhikkhu memiliki keyakinan … kebijaksanaan. Ia mendengar bahwa para dewa di alam landasan ruang tanpa batas … para dewa di alam landasan kesadaran tanpa batas … para dewa di alam landasan kekosongan … para dewa di alam bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi Ia berpikir: ‘Oh, semoga ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ….
Tanda titiknya hilang

"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #129 on: 04 May 2013, 10:20:55 AM »
KELOMPOK TENTANG KEKOSONGAN (SUÑÑATAVAGGA)

121  Cūḷasuññata Sutta - Khotbah Pendek tentang Kekosongan
Spoiler: ShowHide

Quote
3. “Yang Mulia, pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di negeri Sakya di mana terdapat sebuah pemukiman Sakya bernama Nagaraka. …

“Tentu saja, Ānanda, engkau mendengar hal itu dengan benar, mempelajarinya dengan benar, memperhatikannya dengan benar, mengingatnya dengan benar. Seperti sebelumnya, Ānanda, demikian pula sekarang aku juga sering berdiam dalam kekosongan.
kapital

Quote
11. “Kemudian, Ānanda, seorang bhikkhu - dengan tidak memperhatikan persepsi landasan kekosongan, tidak menuruti persepsi landasan bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi – menuruti ketergantungan tunggal pada konsentrasi pikiran tanpa gambaran. Pikirannya memasuki konsentrasi pikiran tanpa gambaran itu dan memperoleh keyakinan, kekokohan, dan tekad. Ia memahami: ‘Konsentrasi pikiran tanpa gambaran ini adalah terkondisi dan dihasilkan melalui kehendak. Tetapi apapun hjuga yang terkondisi dan dihasilkan melalui kehendak adalah tidak kekal, tunduk pada lenyapnya.’  ….

Quote
13. “Ānanda, para petapa dan brahmana manapun di masa lampau yang telah masuk dan berdiam dalam kekosongan yang murni, mulia, tidak terlampaui, semuanya telah masuk dan berdiam dalam kekosongan yang murni, mulia, tidak terlampaui yang sama ini. para petapa dan brahmana manapun di masa depan yang akan masuk dan berdiam dalam kekosongan yang murni, mulia, tidak terlampaui, semuanya akan masuk dan berdiam dalam kekosongan yang murni, mulia, tidak terlampaui yang sama ini. para petapa dan brahmana manapun di masa sekarang yang masuk dan berdiam dalam kekosongan yang murni, mulia, tidak terlampaui, semuanya masuk dan berdiam dalam kekosongan yang murni, mulia, tidak terlampaui yang sama ini. Oleh karena itu, Ānanda, engkau harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami akan masuk dan berdiam dalam kekosongan yang murni, mulia, tidak terlampaui.’”
Kapital


122  Mahāsuññata Sutta - Khotbah Panjang tentang Kekosongan
Spoiler: ShowHide

Quote
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR.  Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di negeri Sakya di Kapilavatthu di Taman Nigrodha.

Quote
2. …..

“Yang Mulia, banyak tempat-tempat peristirahatan dipersiapkan di kediaman Kāḷakhemaka orang Sakya. Aada banyak bhikkhu menetap di sana. ini adalah waktunya bagi kami untuk membuat jubah, Yang Mulia.”
kapital

Quote
11. “ketika seorang bhikkhu berdiam demikian, …..

12. “ketika seorang bhikkhu berdiam demikian, ……

13. “ketika seorang bhikkhu berdiam demikian, [114] …..
Kapital

Quote
14. “Ānanda, terdapat lima utas kenikmatan indria ini.  Apakah lima ini? Bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Suara-suara yang dikenali oleh telinga ... bau-bauan yang dikenali oleh hidup ... rasa kecapan yang dikenali oleh lidah ... obyek-obyek sentuhan yang dikenali oleh badan yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terhubung dengan kenikmatan indria, dan merangsang nafsu. Ini adalah lima utas kenikmatan indria.

Quote
15. “Di sini seorang bhikkhu harus terus-menerus memeriksa npikirannya sebagai berikut: ….

Quote
20. “Ānanda, seorang siswa seharusnya tidak mendekati Sang Guru demi khotbah-khotbah, syair-syari, dan penjelasan-penjelasan. Mengapakah? Sejak lama, Ānanda, engkau telah mempelajari ajaran-ajaran, menghafalkannya, membacanya secara lisan, memeriksanya dengan pikiran,m dan menembusnya dengan baik melalui pandangan. Tetapi pembicaraan-pembicaraan demikian yang membahas tentang kemurnian, yang mendukung kebebasan pikiran, dan yang menuntun menuju kekecewaan sepenuhnya, kebosanan sepenuhnya, lenyapnya, kedamaian, pengetahuan langsung, pencerahan, dan Nibbāna, yaitu, pembicaraan tentang keinginan yang sedikit, tentang kepuasan, kesendirian, keterasingan dari menyarakat, pembangkitan kegigihan, moralitas, konsentrasi, kebijaksanaan, kebebasan, pengetahuan dan penglihatan kebebasan: demi pembicaraan demikian maka seorang siswa seharusnya mendekati Sang Guru bahkan jika ia disuruh pergi.

Quote
21. “Karena hal ini, Ānanda, kegagalan seorang guru dapat terjadi, kegagalam seorang murid dapat terjadi, dan kegagalan seorang yang menjalani kehidupan suci dapat terjadi.

Quote
25. “Oleh karena itu, Ānanda, perlakukanlah Aku sebagai teman, bukan sebagai musuh. Itu akan menuntun menuju kesejahteraan dan kebahagiaanmu untuk waktu yang lama. Dan bagaimanakah para siswa memperlakukan gurunya sebagai musuh, bukan sebagai teman? Di sini, Ānanda, dengan berbelas kasihan dan mengusahakan kesejahteraan mereka, Sang Guru mengajarkan Dhamma kepada para siswaNya demi belas kasihan: ‘Ini adalah demi kesejahteraan kalian, ini aadlah demi kebahagiaan kalian.’ Para siswaNya tidak ingin mendengarkan atau mengarahkan pikiran mereka untuk memahami; mereka melakukan kekeliruan dan berpaling dari Pengajaran Sang Guru. Demikianlah para siswa memperlakukan Sang Guru sebagai musuh, bukan sebagai teman.


123  Acchariya-abbhūta Sutta - Mengagumkan dan Menakjubkan
Spoiler: ShowHide

Quote
2. Pada saat itu sejumlah bhikkhu sedang duduk di aula pertemuam, di mana mereka berkumpul setelah kembali dari perjalanan menerima dana makanan, setelah makan, ketika diskusi ini muncul di antara mereka: “Sungguh mengagumkan, Teman-teman, sungguh menakjubkan, betapa sakti dan berkuasanya Sang Tathāgata! Karena Beliau mampu mengetahui tentang para Buddha masa lampau – yang mencapai Nibbāna akhir, memotong [kekusutan] proliferasi, mematahkan siklus, mengakhiri lingkaran, dan mengatasi segala penderitaan – bahwa kelahiran para Bhagavā itu adalah seperti demikian, nama mereka adalah demikian, suku mereka adalah deikian, moralitas mereka adalah denikian, kondisi [konsentrasi] mereka adalah demikian, kebijaksanaan mereka adalah demikian, kediaman mereka [di dalam pencapaian] adalah demikian, kebebasan mereka adalah demikian. 

…….

Kemudian Sang Bhagavā berkaat kepada Yang Mulia Ānanad: “Kalau begitu, Ānanda, jelaskanlah dengan lebih lengkap tentang kualitas-kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Tathāgata.”

Quote
7. …… “Sesungguhnya, Tuan, ada makhluk-makhluk lain yang terlahir kembali di sini!” Dan sepuluh ribu sistem dunia ini bergoyang dan bergoncang dan bergetar, dan di sana juga muncul cahaya terang yang tidak terukur melampaui kemegahan para dewa.’ Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā.
“berguncang”

Quote
9. “Aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Sang Bhagavā sendiri: ‘Ketika Sang Bodhisatta telah memasuki rahim ibunya, sang ibu menjadi sungguh-sungguh bermoral, menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, perilaku salah dalam kenikmatan indria, kebohongan, dan anggur, meniman keras, dan minuman memabukkan, yang menjadi landasan kelengahan.’ Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā. [121]

Quote
21. …..
“Sesungguhnya, Tuan, ada makhluk-makhluk lain yang terlahir kembali di sini!” Dan sepuluh ribu sistem dunia ini bergoyang dan bergoncang dan bergetar, dan di sana juga muncul cahaya terang yang tidak terukur melampaui kemegahan para dewa ... Ini juga kuingat sebagai satu kualitas mengagumkan dan menakjubkan dari Sang Bhagavā.”


124  Bakkula Sutta - Bakkula
Spoiler: ShowHide

Quote
38. “Teman, selama tujuh hari setelah meninggalkan keduniawian aku memakan dana makanan dari desa sebagai seorang penghutang; pada hari ke delapan pengetahuan akhir muncul.”

[Bahwa selama tujuh hari Yang Mulia Bakkula memakan dana makanan dari desa sebagai seorang penghutang, and pada hari ke delapan pengetahuan akhir muncul – ini juga kami ingat sebagai satu kualitas yang mengagumkan dan menakjubkan dari Yang Mulia Bakkula.]


125  Dantabhūmi Sutta - Tingkatan Kejinakan
Spoiler: ShowHide
 
Quote
8. “Misalkan  terdapat dua ekor gajah, kuda, atau sapi yang dapat dijinakkan yang telah jinak dan disiplin, dan dua ekor gajah, kuda, atau sapi yang dapat dijinakkan yang tidak jinak dan tidak disiplin. Bagaimana menurutmu, Baginda? Apakah kedua ekor gajah, kuda, atau sapi yang dapat dijinakkan yang telah jinak dan disiplin, karena jinak, memiliki perilaku yang jinak, apakah mereka akan sampai pada tingkat yang jinak?” -“Benar, Yang Mulia.” – “Tetapi Apakah kedua ekor gajah, kuda, atau sapi yang dapat dijinakkan yang tidak jinak dan tidak disiplin, karena tidak jinak, memiliki perilaku yang jinak, apakah mereka akan sampai pada tingkat yang jinak, seperti dua ekor gajah, kuda, atau sapi yang dapat dijinakkan yang telah jinak dan disiplin?” – “Tidak, Yang Mulia.” – “Demikian pula, Aggivessana, adalah tidak mungkin bahwa Pangeran Jayasena, yang hidup di tengah-tengah kenikmatan indria ... dapat mengetehahui, melihat, atau menembus apa yang harus diketahui melalui pelepasan keduniawian, dilihat melalui pelepasan keduniawian, dicapai melalui pelepasan keduniawian, ditembus melalui pelepasan keduniawian.
“jinak” atau “tidak jinak” ?

Quote
11. “Aggivessana, jika kedua perumpamaan ini telah terpikirkan olehmu [sehubungan] dengan Pangeran jayasena, maka ia akan secara spontan berkeyakinan padamu, dan karena berkeyakinan, maka ia akan memperlihatkan keyakinannya kepadamu.”
Kapital

Quote
[132] 12. ……

“Kemudian si penjinak gajah melatih gajah itu lebih jauh lagi sebagai berikut: 'Berdiri, duduk!’ Ketika gajah raja itu mematuhi perintah si penjinaknya untuk berdiri dan duduk dan melaksanakan instruksinya, si penjinak gajah melatihnya lebih jauh sebagai berikut: ‘Maju, mundur!’ Ketika gajah raja itu mematuhi perintah si penjinaknya untuk berjalan maju dan mundur dan melaksanakan instruksinya, si penjinak gajah melatihnya lebih jauh dalam tugas yang disebut ketenangan. Ia mengikatkan sebilah papan besar pada belalainya; seorang laki-laki dengan tombak di tangan duduk di lehernya; orang-orang dengan tombak di tanagn mengelilinginya di segala sisi; ….

Quote
13-14. “Demikian pula,m Aggivessana, seorang Tathāgata muncul di dunia ini, sempurna, tercerahkan sempurna ... (seperti Sutta 51, §§12-13) ... ia mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah. Adalah dengan cara ini seorang siswa mulia keluar ke ruang terbuka; karena para dewa dan manusia melekat pada kelima utas kenikmatan indria.

Quote
19. “Ketika, Aggivessana, siswa mulia itu telah menekuni kewaspadaan, secukupnya, kemudian Sang Tathāgata mendisiplinkannya lebih jauh: ‘Marilah, Bhikkhu, milikilah perhatian dan kewaspadaan penuh. Bertindaklah dengan penuh keaspadaan ketika berjalan maju dan mundur ... ketika melihat ke depan dan ke belakang ... ketika menekuk dan merentangkan bagian-bagian tubuh ... ketika mengenakan jubah dan membawa jubah luar dan mangkukmu ... ketika makan, minum, mengunyah makanan, dan mengecap ... ketika buang air besar dan buang air kecil ... ketika berjalan, berdiri, duduk, tertidur, terjaga, berbicara, dan berdiam diri.’

Quote
20. “Ketika, Aggivessana, siswa mulia itu telah memiliki perhatian dan kewaspadaan penuh, kemudian Sang Tathāgata mendisiplinkannya lebih jauh: ‘Marilah, Bhikkhu, datangilang tempat tinggal terasing: hutan, bawah pohon, gunung, jurang, gua di lereng gunung, tanah pekuburan, belantara, ruang terbuka, tumpukan jerami.’

Quote
30. “Bhikkhu itu mampu menahankan dingin dan panas, lapar dan haus, dan kontak dengan lalat, nyamuk, angin, matahari, dan binatang-binatang melata; ia menahankan ucapan-kasar, kata-kata yang tidak menyenangkan dan perasaan [137] jasmani yang telah muncul yang menyakitkan, menyiksan, tajam, menusuk, tidak menyenangkan, menyusahkan, dan mengancam kehidupan. ….

"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: Majjhima Nikaya (Diskusi)
« Reply #130 on: 04 May 2013, 10:23:50 AM »
126  Bhūmija Sutta - Bhūmija
Spoiler: ShowHide

Quote
15. ….. Demikian pula petapa dan brahmana manapun yang memiliki pandangan benar [143] ... mereka juga akan dapat memperoleh buah  Mengapakah? Karena [jalan benar] adalah metode yang benar untuk memperoleh buah.

Quote
17. “Misalkan seseorang memerlukan mentega, mencari mentega, berkeliling mencari mentega, menuangkan dadih ke dalam gentong susu dan mengaduknya dengan pengaduk susu. Kemudian, jika ia beraspirasi … jika ia tidak beraspirasi … jika ia beraspirasi dan juga tidak beraspirasi … jika ia bukan beraspirasi juga bukan tidak beraspirasi dan melakukan demikian, ia juga akan dapat memperoleh mentega. Mengapakah? Karena [cara melakukan demikian] bukanlah metode yang benar untuk memperoleh mentega. Demikian pula petapa dan brahmana manapun yang memiliki pandangan benar ... mereka juga akan dapat memperoleh buah apapun. Mengapakah? Karena [jalan benar] bukanlah metode yang benar untuk memperoleh buah.
“adalah”

Quote
19. “Bhūmija, jika keempat perumpamaan ini telah terpikirkan olehmu [sehubungan] dengan Pangeran jayasena, maka ia akan secara spontan berkeyakinan padamu, dan karena berkeyakinan, maka ia akan memperlihatkan keyakinannya kepadamu.”


127  Anuruddha Sutta - Anuruddha
Spoiler: ShowHide

Quote
3. Kemudian, ketika malam berlalu, pada pagi harinya, Yang Mulia Anuruddha merapikan jubah, dan dengan membawa mangkuk dan jubah luarnya, ia pergi menuju rumah Pañcakanga dan duduk di tempat yang telah dipersiapkan. Kemudian, dengan tangannya sendiri, Tukang Kayu Pañcakanga melayani Yang Mulia Anuruddha dengan berbagai jenis makanan baik. Kemudian, ketika Yang Mulia Anuruddha telah selesai makan dan telah menggeser mangkuknya ke sampung. Tukang Kayu Pañcakanga mengambil bangku rendah dan duduk di satu sisi, dan berkata kepada Yang Mulia Anuruddha.

Quote
14. …..

“Sehubungan dengan hal itu, Teman Kaccāna, aku akan mengajukan pertanyaan kepadamu sebagai jawaban. Jawablah sesuai dengan apa yang menurutmu benar. Bagaimana menurutmu, Teman Kaccāna? Ketika seorang bhikkhu berdiam dengan melingkupi suatu wilayah seluas bawah sebatang pohon, meliputinya sebagai luhur, dan seorang bhikkhu lainnya bhikkhu berdiam dengan melingkupi suatu wilayah seluas bawah dua atau tiga batang pohon, meliputinya sebagai luhur – yang manakah dari kedua pengembangan pikiran ini yang lebih luhur?” – “Yang ke dua, Yang Mulia.”

Quote
16. …..

“Sehubungan dengan hal itu, Teman Kaccāna, aku akan memberikan perumpamaan, karena seorang bijaksana di sini memahami makna dari suatu pernyataan melalui perumpamaan. Misalkan sebuah lampu minyak menyala dari minyak yang tidak murni dan sumbu yang tidak murni; karena ketidak-murnian minyak dan sumbunya lampu itu menyala dengan suram. Demikian pula, di sini seoramg bhikkhu berdiam dengan melingkupi dan meliputi …..

“Misalkan sebuah lampu minyak menyala dari minyak yang  murni dan sumbu yang murni; karena kemurnian minyak dan sumbunya lampu itu menyala dengan tidak suram. Demikian pula, di sini seoramg bhikkhu berdiam dengan …..

Quote
17. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Abhiya Kaccāna berkata kepada Yang Mulia Anuruddha: “Bagus, Yang Mulia Anuruddha. Yang Mulia Anuruddha tidak mengatakan: ‘Demikianlah yang kudengar’ atau ‘Semestinya demikian.’ Melainkan, Yang Mulia Anuruddha mengatakan: ‘Para dewa ini adalah seeprti ini dan para dewa itu adalah seperti itu.’ aku berpikir, Yang Mulia, bahwa Yang Mulia Anuruddha pasti sebelumnya telah bergaul dengan para dewa itu dan berbicara dengan mereka dan berbincang-bincang dengan mereka.”


128  Upakkilesa Sutta - Ketidak-sempurnaan
Spoiler: ShowHide

Quote
6.    …..
   Mereka tidak mengetahui
   Bahwa di sini kita harus mengendalikan diri sendiri.
   Tetapi mereka yang bijaksana yang menyadari ini
   Seketika menakhiri segala permusuhan mereka.

Quote
7. Kemudian, setelah mengucapkan syair-syair ini sambil berdiri, Sang Bhagavā pergi menuju desa Bālakaloṇakāra. Pada saat itu [155] Yang Mulia Bhagu sedang menetap di desa Bālakaloṇakāra. Ketika dari kejauhan Yang Mulia Bhagu melihat kedatangan Sang Bhagavā, ia mempersiapkan tempat duduk dan air untuk mencuci kaki. Sang Bhagavā duduk di tempat yang telah dipersiapkan dan mencuci kakinya. Yang Mulia Bhāgu bersujdu kepada Sang Bhagavā dan duduk di satu sisi, Sang Bhagavā berkata kepadanya: “Kuharap engkau dalam keadaan baik, Bhikkhu, Kuharap engkau cukup nyaman, Kuharap engkau tidak mengalami kesulitan dalam memperoleh dana makanan.”

Quote
14. “Yang Mulia, sehubungan dengan hal itu, siapapun dari kami yang kembali pertama kali dari desa dengan membawa dana makanan akan menyiapkan tempat duduk, menyediakan air minum dan air untuk mencuci, dan meletakkan tempat sampah di tempatnya. Siapapun dari kami yang kembali terakhir kali akan memakan makanan apapun yang tersisa, jika ia menginginkan; kalau tidak ia akan membuangnya di tempat di mana tidak ada tanaman atau membuangnya ke air yang mana tidak terdapat kehidupan. Ia menyingkirkan tempat duduk dan air minum dan air untuk mencuci. Ia mencuci tempat sampah setelah mencucinya, dan ia menyapu ruang makan. ….
??

Quote
17. “Ketika, Anuruddha, aku sedang berdiam dengan rajin, tekun, dan teguh, Aku melihat cahaya dan penampakan bentuk-bentuk. ….
Kapital, sama di paragraf 18-29.

Quote
29. “Ketika, Anuruddha, aku sedang berdiam dengan rajin, tekun, dan teguh, Aku melihat cahaay terbatas dan melihat bentuk-bentuk terbatas; …..

Quote
30. “Ketika, [162] Anuruddha, Aku memahami bahwa keragu-raguan adalah suatu ketidak-sempurnaan pikiran dan telah meninggalkan keragu-raguan, suatu ketidak-sempurnaan pikiran; ketika Aku memahami bahwa kurangnya perhatian adalah suatu ketidak-sempurnaan pikiran dan telah meninggalkan kurangnya perjatian ... meninggalkan kelambanan dan ketumpulan ...

Quote
32.