Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Pertanyaan seputar Luanta Mahaboowa  (Read 26503 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline bond

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.666
  • Reputasi: 189
  • Buddhang Saranam Gacchami...
Pertanyaan seputar Luanta Mahaboowa
« on: 25 November 2009, 08:13:16 PM »
Quote
Quote
memang benar , Luanta menangis seperti yg dilihat di foto,itu seperti terbawa perasaan....awalnya saya curiga apa benar sih beliau "arahat"

tapi apa 1 bikkhu Thailand. mengatakan pada saya...
" di Thai ilmu-ilmu gaib itu sangat tinggi,apabila Luanta mengatakan bahwa  dirinya-arahat...tentu banyak yg mau "TES",benar atau tidak....
dan lagi jika bohong, pastilah umur nya pendek....
apalagi raja Thai pernah namsakara sama beliau, tentu raja tidak asal datang ke penjual kecap tanpa bukti...
kemungkinan raja sudah menanyakan kebenaran tersebut pada "sangharaja Thai[somdet nanasamvara]"

saya juga pernah ketemu dengan Bhante bourkry, beliau jika ada hal lucu, beliau tertawa kok...tapi tidak tertawa terbahak-bahak...senyum-senyum khas beliau lah...kek senyum nya AjahnChah....

Ikut nambahin ah... dan sekedar share aja ....^-^
Apa yg ada di buku arahat magga-phala mengenai pencapaian beliau adalah tentang yg terakhir saja, jadi bukan langsung hap...Kalau dibaca teliti, ada sesuatu yg mengkonfirmasi yg pasti ada kaitannya dalam sutta dan abhidhamma...(tapi biarlah waktu yg menjelaskan)
Seperti Bahiya adalah arahat tercepat, apakah ini langsung? kelihatan saja langsung  ;D

Saudara Bond yang baik, saya mengerti bahwa saudara sangat mengagumi beliau. Yang saya baca disana tidak tersirat beliau sudah Anagami pada saat itu.

Om Fabian yang baik pula, memang tidak dijelaskan beliau sudah anagami, itu yg diceritakan hanya sepenggal sebelum pencapaian akhir. Banyak bhikkhu lainnya yang saya kagumi juga koq...seperti Paauk, Ajahn Brahm, Ajahn Chah, Ajahn Mun, Bhante Pannavaro, Mahasi, Bhante Thitaketuko dll.Dan sangha pada umumnya.


Quote
Kalaupun saat menangis Luangta Mahaboowa belum mencapai arahat, bagaimana dengan sekarang?. Kalau tidak salah kejadian itu sekitar 2002-2004. Ada yg bisa memastikan kondisi batin beliau sekarang atau pencapaian ariya apa yg dicapai beliau? ingat hukum anicca..dan sayang sekali Sang Buddha sudah tidak ada lagi secara fisik, jika ada maka kemungkinan seperti kasus Pilinda Vacca dan Bhikkhu arahat yg bunuh diri bisa terpecahkan.
Kalau saya pribadi ngak tau...hanya saya percaya saja dia Arahat. Tapi yang ngak percaya juga ngak apa-apa, itulah indahnya dinamika perbedaan pandangan pada putthujana.

saya tak mau berspekulasi mengenai yang sekarang. Pada waktu itu beliau pasti bukan Arahat.

Kalau waktu beliau menangis  saya no comment karena tidak tau persis secara keseluruhan kecuali saya seorang Buddha. Nah maksudnya saya untuk pertanyaan saya untuk semuanya tidak mbah Fabian aja, adalah agar kita menilai orang bukan karena masa lalunya karena suatu kontroversinya saja tetapi saat kini, ada kalanya orang khilaf, bahkan arahat pun bisa melakukan kesalahan kecil.

Quote
Yang terakhir... Di Thailand tentu banyak bhikkhu yg mahir, bahkan Luangta pun sering memuji koleganya (murid2 Ajahn Mun lainnya) dan sekarang tentu juga banyak bhikkhu yg luar biasa hebat tetapi mengapa ia juga sangat dihormati dan dicintai seluruh rakyat Thailand dan Kerajaan Thailand. Apakah seorang Luangta tidak ada ujian2 apa yg ia nyatakan? Bahkan kemanapun Luangta pergi pemerintah Thai dengan sukarela mengawal beliau sekalipun tidak ia inginkan. Jadi kalau lewat jalan darat , sudah seperti presiden lewat. Mengapa bisa demikian?yang pasti dan saya ketahui langsung bahwa beliau dianggap sebagai asset negara yg harus dijaga dengan sangat baik.
Kemegahan yang didapat seorang bhikkhu bukan karena dia Arahat atau bukan.

Betul mbah, tapi tentu ada hal yg luar biasa bukan?

Quote
Di dalam Wat Barn Tad tempat beliau tinggal ada Kuti khusus Putri Raja Thailand dan putri raja Thai tersebut dalam setahun pasti retreat disana. Kuti putri raja tersebut adalah terbaik diantara kuti2 bhikkhu, termasuk kuti Luangta kalah bagus. Beliau hanya tinggal pada kuti yg sederhana.
Dan perlu di ketahui bahwa Luangta memiliki andil dalam pemulihan krisis ekonomi Thailand saat 1998 dengan meminta seluruh rakyat Thai mengumpulkan emas untuk disumbangkan pada pemerintah Thailand. Bahkan terakhir ketika saya bertemu beliau umat2 Thai meminta agar Luangta dijaga kesehatannya agar panjang umur. Dan umat meminta Luangta menjadi kepala proyek rumah sakit(simbolis) untuk para bhikkhu dan dapat dipergunakan secara umum juga, agar para bhikkhu dirawat secara layak. Kalau kita pernah mendengar bagaimana Ajahn Brahm dirawat di rumah sakit Thai, mungkin itu salah satu alasan mengapa rumah sakit untuk bhikkhu dibuat.

Apakah karena hal ini kita menduga beliau Arahat? Saya tak mau berkomentar hal miring lainnya mengenai pengumpulan sumbangan emas pada waktu krisis moneter tersebut.

Tentu itu bukan patokannya juga bahwa dia sebagai arahat, cuma kita sebagai putthujana hendaknya tidak melihat kesalahan/kelalaian jika itu memang salah atau lalai sebagai justifikasi selamanya. Ada juga suatu sisi yg mulia apalagi beliau kan juga latihannya tidak sembrono dibandingkan kita.

 Kalau mengenai hal miring lainnya tentang pengumpulan emas...saya tidak tau...yang pasti kalo yg sudah menilai dia miring atau antipati apapun bisa ditulis miring,dan yang pasti dari pengumpulan itu hasil nyatanya sukses. Tapi ini bukan tentang ko Fabian ya(bagi saya mbah lebih berpengalaman dalam hal meditasi dari saya  ;D)...jadi sekedar share aja..


Quote
Sekali lagi apapun komentar2 miring orang tentang Luangta. Saya hanya bisa mengatakan he is a HOLY GREAT MAN. datang dan lihatlah langsung pengabdian beliau terhadap Dhamma. Apa yg telah kita lakukan dibandingkan beliau ?

Saya kira ini tidak relevan, saya hanya mengatakan seseorang yang masih menangis bukan Arahat.


Mbah pernyataan diatas sekali lagi tidak dimaksudkan untuk mbah...jangan salah paham dulu nih...kan saya uda bilang kalo dibilang belum arahat juga tidak mengapa karena itulah keindahan perbedaan pendapat putthujhana. Miring disini yg saya maksudkan adalah bila seseorang menjudgment bahwa dia adalah bhikkhu yg menyesatkan kira2 begitu arti yg saya maksud. ^-^

Quote
dan tidak saja beliau tetapi para bhikkhu yang berjuang dalam Dhamma. Yang pasti kalau saya sendiri hanya putthujana yg masih meraba-raba kebenaran yg masih terombang-ambing dengan ketidakpastian. Saya merasa harus menyatakan ini semua agar kita lebih waspada membicarakan orang2 yg sudah lebih lanjut berlatih apalagi disinyalir ariya pugala dengan semangat ehipasiko.

Saudara Bond yang baik,  saya tidak mengatakan beliau bukan Ariya Puggala, saya hanya mengatakan bahwa menurut Tipitaka orang menangis pasti bukan Arahat, entah bhikkhu atau umat awam. .

Kembali lagi bukan dimaksudkan ke mbah, ini hanya pernyataan informatif sebagai nasihat. Saya tau mbah ada tulis dia bukan arahat, tetapi  pernah ngomong dan tulis bahwa beliau mungkin ariya pugala.

Quote
Mengenai Ajahn Brahm dan Thanisaro jika mereka menulis hanya melalui jhana ada kemungkinan mereka berbicara berdasarkan pengalaman pribadi yg dikaitkan dengan sutta.
Mungkin ya...mungkin tidak... we don't know..

Quote
Sorry OOT _/\_
Saya juga mohon maaf jika pernyataan sya mengenai Luangta Mahaboowa menyinggung perasaan saudara Bond.  ^:)^

Santai aja om, saya hanya ingin memberikan berita berimbang, bisa dibayangkan bila seorang sudah melatih susah payah, lalu diberitakan hal yg tidak sesuai hingga membentuk opini umum apalagi timbul akusala citta bagi pembaca, tentu situasi ini tidak menguntungkan bukan..(hukum kamma)
Karena saya telah melihat dengan mata kepala saya sendiri mengenai perilaku beliau lalu saya bandingkan dengan perilaku Luangpu Santiwarayan  dan ada Luangpu Lee yg juga dipercaya sebagai arahat(dalam hal ini saya tidak mengajak pembaca untuk percaya tapi buktikan sendiri)hampir semuanya memiliki ciri khas yg hampir sama. Bayangkan jika ada setiap bhikkhu yg kontroversi dimana kita belum hidup bersama dan melihat langsung perilakunya lalu meneliti lebih lanjut dan hanya dari buku atau orang lain dan desas-desus lalu menyimpulkan maka suasana ini tidak kondusif. Dan ini tidak berlaku tentang Luangta saja, tetapi juga Bhikkhu lainnya. Bisa dibayangkan mereka yg minim pengetahuan Dhamma terbawa pada suatu pandangan yg mana kita sebagai puthujana belum tentu benar, apa yg terjadi.Syukur kalau mereka cukup dewasa menyikapi apalagi ini forum terbuka. Tapi semua ini tidak ada maksud mengkritik mbah Fabian, sebagai tukar pikiran santai aja.  Dan saya jujur katakan pada saat saya sudah bertemu Luangta pun saya masih ragu, tetapi setelah melihat perilaku, pandangan dan diteliti dengan berbagai sutta dan ini memakan waktu 1-2 bulan barulah saya memiliki keyakinan. Dan disamping itu jauh sebelum saya tau yang namanya Luangta bahkan DC,  saya ada pengalaman unik tersendiri tentang beliau. Sehingga apa yang saya katakan ini adalah juga suatu pengalaman langsung tanpa ada niat terhadap orang lain untuk percaya pada saya tapi berharap direnungkan untuk kebaikan bersama.
Kalau ada salah kata saya juga minta maaf mbah ^:)^

 _/\_




« Last Edit: 25 November 2009, 09:49:25 PM by bond »
Natthi me saranam annam, Buddho me saranam varam, Etena saccavajjena, Sotthi te hotu sabbada

Offline fabian c

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.095
  • Reputasi: 128
  • Gender: Male
  • 2 akibat pandangan salah: neraka atau rahim hewan
Pertanyaan seputar Luanta Mahaboowa
« Reply #1 on: 26 November 2009, 01:21:19 AM »
Quote
Quote
memang benar , Luanta menangis seperti yg dilihat di foto,itu seperti terbawa perasaan....awalnya saya curiga apa benar sih beliau "arahat"

tapi apa 1 bikkhu Thailand. mengatakan pada saya...
" di Thai ilmu-ilmu gaib itu sangat tinggi,apabila Luanta mengatakan bahwa  dirinya-arahat...tentu banyak yg mau "TES",benar atau tidak....
dan lagi jika bohong, pastilah umur nya pendek....
apalagi raja Thai pernah namsakara sama beliau, tentu raja tidak asal datang ke penjual kecap tanpa bukti...
kemungkinan raja sudah menanyakan kebenaran tersebut pada "sangharaja Thai[somdet nanasamvara]"

saya juga pernah ketemu dengan Bhante bourkry, beliau jika ada hal lucu, beliau tertawa kok...tapi tidak tertawa terbahak-bahak...senyum-senyum khas beliau lah...kek senyum nya AjahnChah....

Ikut nambahin ah... dan sekedar share aja ....^-^
Apa yg ada di buku arahat magga-phala mengenai pencapaian beliau adalah tentang yg terakhir saja, jadi bukan langsung hap...Kalau dibaca teliti, ada sesuatu yg mengkonfirmasi yg pasti ada kaitannya dalam sutta dan abhidhamma...(tapi biarlah waktu yg menjelaskan)
Seperti Bahiya adalah arahat tercepat, apakah ini langsung? kelihatan saja langsung  ;D

Saudara Bond yang baik, saya mengerti bahwa saudara sangat mengagumi beliau. Yang saya baca disana tidak tersirat beliau sudah Anagami pada saat itu.

Om Fabian yang baik pula, memang tidak dijelaskan beliau sudah anagami, itu yg diceritakan hanya sepenggal sebelum pencapaian akhir. Banyak bhikkhu lainnya yang saya kagumi juga koq...seperti Paauk, Ajahn Brahm, Ajahn Chah, Ajahn Mun, Bhante Pannavaro, Mahasi, Bhante Thitaketuko dll.Dan sangha pada umumnya.


Quote
Kalaupun saat menangis Luangta Mahaboowa belum mencapai arahat, bagaimana dengan sekarang?. Kalau tidak salah kejadian itu sekitar 2002-2004. Ada yg bisa memastikan kondisi batin beliau sekarang atau pencapaian ariya apa yg dicapai beliau? ingat hukum anicca..dan sayang sekali Sang Buddha sudah tidak ada lagi secara fisik, jika ada maka kemungkinan seperti kasus Pilinda Vacca dan Bhikkhu arahat yg bunuh diri bisa terpecahkan.
Kalau saya pribadi ngak tau...hanya saya percaya saja dia Arahat. Tapi yang ngak percaya juga ngak apa-apa, itulah indahnya dinamika perbedaan pandangan pada putthujana.

saya tak mau berspekulasi mengenai yang sekarang. Pada waktu itu beliau pasti bukan Arahat.

Kalau waktu beliau menangis  saya no comment karena tidak tau persis secara keseluruhan kecuali saya seorang Buddha. Nah maksudnya saya untuk pertanyaan saya untuk semuanya tidak mbah Fabian aja, adalah agar kita menilai orang bukan karena masa lalunya karena suatu kontroversinya saja tetapi saat kini, ada kalanya orang khilaf, bahkan arahat pun bisa melakukan kesalahan kecil.

Quote
Yang terakhir... Di Thailand tentu banyak bhikkhu yg mahir, bahkan Luangta pun sering memuji koleganya (murid2 Ajahn Mun lainnya) dan sekarang tentu juga banyak bhikkhu yg luar biasa hebat tetapi mengapa ia juga sangat dihormati dan dicintai seluruh rakyat Thailand dan Kerajaan Thailand. Apakah seorang Luangta tidak ada ujian2 apa yg ia nyatakan? Bahkan kemanapun Luangta pergi pemerintah Thai dengan sukarela mengawal beliau sekalipun tidak ia inginkan. Jadi kalau lewat jalan darat , sudah seperti presiden lewat. Mengapa bisa demikian?yang pasti dan saya ketahui langsung bahwa beliau dianggap sebagai asset negara yg harus dijaga dengan sangat baik.
Kemegahan yang didapat seorang bhikkhu bukan karena dia Arahat atau bukan.

Betul mbah, tapi tentu ada hal yg luar biasa bukan?

Quote
Di dalam Wat Barn Tad tempat beliau tinggal ada Kuti khusus Putri Raja Thailand dan putri raja Thai tersebut dalam setahun pasti retreat disana. Kuti putri raja tersebut adalah terbaik diantara kuti2 bhikkhu, termasuk kuti Luangta kalah bagus. Beliau hanya tinggal pada kuti yg sederhana.
Dan perlu di ketahui bahwa Luangta memiliki andil dalam pemulihan krisis ekonomi Thailand saat 1998 dengan meminta seluruh rakyat Thai mengumpulkan emas untuk disumbangkan pada pemerintah Thailand. Bahkan terakhir ketika saya bertemu beliau umat2 Thai meminta agar Luangta dijaga kesehatannya agar panjang umur. Dan umat meminta Luangta menjadi kepala proyek rumah sakit(simbolis) untuk para bhikkhu dan dapat dipergunakan secara umum juga, agar para bhikkhu dirawat secara layak. Kalau kita pernah mendengar bagaimana Ajahn Brahm dirawat di rumah sakit Thai, mungkin itu salah satu alasan mengapa rumah sakit untuk bhikkhu dibuat.

Apakah karena hal ini kita menduga beliau Arahat? Saya tak mau berkomentar hal miring lainnya mengenai pengumpulan sumbangan emas pada waktu krisis moneter tersebut.

Tentu itu bukan patokannya juga bahwa dia sebagai arahat, cuma kita sebagai putthujana hendaknya tidak melihat kesalahan/kelalaian jika itu memang salah atau lalai sebagai justifikasi selamanya. Ada juga suatu sisi yg mulia apalagi beliau kan juga latihannya tidak sembrono dibandingkan kita.

 Kalau mengenai hal miring lainnya tentang pengumpulan emas...saya tidak tau...yang pasti kalo yg sudah menilai dia miring atau antipati apapun bisa ditulis miring,dan yang pasti dari pengumpulan itu hasil nyatanya sukses. Tapi ini bukan tentang ko Fabian ya(bagi saya mbah lebih berpengalaman dalam hal meditasi dari saya  ;D)...jadi sekedar share aja..


Quote
Sekali lagi apapun komentar2 miring orang tentang Luangta. Saya hanya bisa mengatakan he is a HOLY GREAT MAN. datang dan lihatlah langsung pengabdian beliau terhadap Dhamma. Apa yg telah kita lakukan dibandingkan beliau ?

Saya kira ini tidak relevan, saya hanya mengatakan seseorang yang masih menangis bukan Arahat.


Mbah pernyataan diatas sekali lagi tidak dimaksudkan untuk mbah...jangan salah paham dulu nih...kan saya uda bilang kalo dibilang belum arahat juga tidak mengapa karena itulah keindahan perbedaan pendapat putthujhana. Miring disini yg saya maksudkan adalah bila seseorang menjudgment bahwa dia adalah bhikkhu yg menyesatkan kira2 begitu arti yg saya maksud. ^-^

Quote
dan tidak saja beliau tetapi para bhikkhu yang berjuang dalam Dhamma. Yang pasti kalau saya sendiri hanya putthujana yg masih meraba-raba kebenaran yg masih terombang-ambing dengan ketidakpastian. Saya merasa harus menyatakan ini semua agar kita lebih waspada membicarakan orang2 yg sudah lebih lanjut berlatih apalagi disinyalir ariya pugala dengan semangat ehipasiko.

Saudara Bond yang baik,  saya tidak mengatakan beliau bukan Ariya Puggala, saya hanya mengatakan bahwa menurut Tipitaka orang menangis pasti bukan Arahat, entah bhikkhu atau umat awam. .

Kembali lagi bukan dimaksudkan ke mbah, ini hanya pernyataan informatif sebagai nasihat. Saya tau mbah ada tulis dia bukan arahat, tetapi  pernah ngomong dan tulis bahwa beliau mungkin ariya pugala.

Quote
Mengenai Ajahn Brahm dan Thanisaro jika mereka menulis hanya melalui jhana ada kemungkinan mereka berbicara berdasarkan pengalaman pribadi yg dikaitkan dengan sutta.
Mungkin ya...mungkin tidak... we don't know..

Quote
Sorry OOT _/\_
Saya juga mohon maaf jika pernyataan sya mengenai Luangta Mahaboowa menyinggung perasaan saudara Bond.  ^:)^

Santai aja om, saya hanya ingin memberikan berita berimbang, bisa dibayangkan bila seorang sudah melatih susah payah, lalu diberitakan hal yg tidak sesuai hingga membentuk opini umum apalagi timbul akusala citta bagi pembaca, tentu situasi ini tidak menguntungkan bukan..(hukum kamma)
Karena saya telah melihat dengan mata kepala saya sendiri mengenai perilaku beliau lalu saya bandingkan dengan perilaku Luangpu Santiwarayan  dan ada Luangpu Lee yg juga dipercaya sebagai arahat(dalam hal ini saya tidak mengajak pembaca untuk percaya tapi buktikan sendiri)hampir semuanya memiliki ciri khas yg hampir sama. Bayangkan jika ada setiap bhikkhu yg kontroversi dimana kita belum hidup bersama dan melihat langsung perilakunya lalu meneliti lebih lanjut dan hanya dari buku atau orang lain dan desas-desus lalu menyimpulkan maka suasana ini tidak kondusif. Dan ini tidak berlaku tentang Luangta saja, tetapi juga Bhikkhu lainnya. Bisa dibayangkan mereka yg minim pengetahuan Dhamma terbawa pada suatu pandangan yg mana kita sebagai puthujana belum tentu benar, apa yg terjadi.Syukur kalau mereka cukup dewasa menyikapi apalagi ini forum terbuka. Tapi semua ini tidak ada maksud mengkritik mbah Fabian, sebagai tukar pikiran santai aja.  Dan saya jujur katakan pada saat saya sudah bertemu Luangta pun saya masih ragu, tetapi setelah melihat perilaku, pandangan dan diteliti dengan berbagai sutta dan ini memakan waktu 1-2 bulan barulah saya memiliki keyakinan. Dan disamping itu jauh sebelum saya tau yang namanya Luangta bahkan DC,  saya ada pengalaman unik tersendiri tentang beliau. Sehingga apa yang saya katakan ini adalah juga suatu pengalaman langsung tanpa ada niat terhadap orang lain untuk percaya pada saya tapi berharap direnungkan untuk kebaikan bersama.
Kalau ada salah kata saya juga minta maaf mbah ^:)^

 _/\_





Saudara Bond yang baik,
Saya rasa saya tidak pernah beranggapan bahwa seorang bhikkhu menangis adalah sesat
atau seorang bhikkhu marah-marah jahat, sama-sekali tidak demikian, menangis, tertawa dan marah-marah adalah hal yang wajar bagi orang yang belum sepenuhnya terbebaskan.

Saya hanya menekankan bahwa menangis tidak akan terjadi pada Arahat.
Sama tidak mungkinnya seorang Arahat tertawa terbahak-bahak.

Menangis karena persepsi, tertawa juga karena persepsi, seorang Arahat tak pernah mempersepsikan segala sesuatu (atau mengkonsepkan segala sesuatu), karena batinnya senantiasa melihat segala sesuatu apa adanya. Jadi tak mungkin Arahat menangis atau tertawa.
Semoga menjadi jelas.

 _/\_
« Last Edit: 26 November 2009, 01:22:57 AM by fabian c »
Tiga hal ini, O para bhikkhu dilakukan secara rahasia, bukan secara terbuka.
Bercinta dengan wanita, mantra para Brahmana dan pandangan salah.

Tiga hal ini, O para Bhikkhu, bersinar secara terbuka, bukan secara rahasia.
Lingkaran rembulan, lingkaran matahari serta Dhamma dan Vinaya Sang Tathagata

Offline bond

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.666
  • Reputasi: 189
  • Buddhang Saranam Gacchami...
Pertanyaan seputar Luanta Mahaboowa
« Reply #2 on: 26 November 2009, 09:27:27 AM »
Quote
by Fabian
Saudara Bond yang baik,
Saya rasa saya tidak pernah beranggapan bahwa seorang bhikkhu menangis adalah sesat
atau seorang bhikkhu marah-marah jahat, sama-sekali tidak demikian, menangis, tertawa dan marah-marah adalah hal yang wajar bagi orang yang belum sepenuhnya terbebaskan.

Ko Fabian yg baik,

Saya tidak pernah mengatakan mbah beranggapan demikian....yang saya tulis adalah bersifat informatif dan umum serta ada penjelasan tidak dimaksudkan kepada mbah. Coba mbah baca pelan2 pernyataan saya dengan jelas dibawah ini dan saya garis bawahi :


"Mbah pernyataan diatas sekali lagi tidak dimaksudkan untuk mbah...jangan salah paham dulu nih...kan saya uda bilang kalo dibilang belum arahat juga tidak mengapa karena itulah keindahan perbedaan pendapat putthujhana. Miring disini yg saya maksudkan adalah bila seseorang menjudgment bahwa dia adalah bhikkhu yg menyesatkan kira2 begitu arti yg saya maksud.[/b]" chuckle

Quote
Saya hanya menekankan bahwa menangis tidak akan terjadi pada Arahat.
Sama tidak mungkinnya seorang Arahat tertawa terbahak-bahak.

Menangis karena persepsi, tertawa juga karena persepsi, seorang Arahat tak pernah mempersepsikan segala sesuatu (atau mengkonsepkan segala sesuatu), karena batinnya senantiasa melihat segala sesuatu apa adanya. Jadi tak mungkin Arahat menangis atau tertawa.
Semoga menjadi jelas.

Mbah mau tanya, mbah mengatakan Luangta menangis bukan arahat karena ekspresi luar atau memang telah melihat seluruh proses batin saat itu terjadi pada diri Luangta? Dan Luangta sendiri telah menjelaskan alasannya. Tapi tak mengapa kalau mbah tidak bisa menerima alasan itu.

Saya juga mau tanya Mbah ada arahat yang berbicara kasar contoh Pilinda vacca yang suka memanggil orang dengan sebutan 'wretch' atau orang malang/kasta rendah bukankah ini juga sering terjadi pada orang yg belum arahat . Tetapi SB dengan pasti menjelaskan mengapa Pilinda Vacca demikian tanpa mencelanya sama sekali bahkan memaklumi. Dan yang dilihat SB itu adalah kondisi batin saat itu. Katakan Pilinda Vacca ada pada sekarang, tidak ada SB yg menjelaskan dan tidak ada di Tipitaka. Apakah mbah juga berkesimpulan bahwa Pilinda Vacca juga bukan arahat? atau no comment?

Yang Kedua. Arahat yg bunuh diri, jika itu terjadi pada saat sekarang dan tidak ada SB yang menjelaskan dan tentunya dan pasti tidak tertulis dalam Tipitaka, bahkan Sariputta pun tidak tahu bhikkhu itu sudah arahat dan melarangnya. maka apa pendapat mbah Fabian tentang Bhikkhu arahat yang bunuh diri itu jika itu terjadi saat kini? Apakah pendapat mbah Fabian, apakah mengatakan juga bahwa Bhikkhu arahat yang bunuh diri itu bukan arahat karena tidak ada di Tipitaka atau mengatakan dia bukan arahat karena tidak upekha terhadap rasa sakit atau no comment..?

Arahat yang bunuh diri itu kalau tidak salah karena ia ingin mengakhiri rasa sakit yang berkepanjangan, pertanyaan kritisnya kenapa ngak biarkan sampai mati dengan sendirinya? berarti batinnya belum upekha dong----> ini kalau kita mau menilai secara awam.

Bunuh diri adalah hal yg paling tidak lazim dan tak ada satu agamapun yg menganjurkan ataupun secara sistim sosial kemasyarakatan pada umumnya. Bahkan Berbicara kasar tanpa melihat situasi kondisi adalah kurang bijaksana, apakah Pilinda Vacca juga kurang bijaksana?

Kedua contoh yang saya berikan lebih ekstrem dari Arahat menangis....sama halnya secara awam kita bisa menilai menangis karena persepsi.
dsb....tapi benarkah demikian 100% kita memastikan seperti SB memastikan.
?

Dan kedua apakah seorang arahat tidak bisa berpersepsi jika dikehendaki, seperti mengatakan 'ini manis' atau itu 'pahit' kalau jawabanya upekha terhadap persepsi kembali kepada arahat bunuh diri yg tidak upekha terhadap rasa sakit, atau kurang bijaksananya Pilinda Vacca.

Saya pribadi menyikapi dengan no comment. Sekalipun saya percaya Luangta Arahat itu sebatas keyakinan saya dari hati yang terdalam. Sama halnya umat awam yang memiliki keyakinan pada Buddha dan arahat2nya pada jaman Sang Buddha, sekalipun umat itu tidak tahu persis batin Buddha tapi mereka mengerti melalui hati mereka. Demikian terhadap  Luangta sebagai Sangha termasuk Bhikkhu2 lainnya.

mettacitena, _/\_




Natthi me saranam annam, Buddho me saranam varam, Etena saccavajjena, Sotthi te hotu sabbada

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.565
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Pertanyaan seputar Luanta Mahaboowa
« Reply #3 on: 26 November 2009, 09:52:23 AM »
Quote
Arahat yang bunuh diri itu kalau tidak salah karena ia ingin mengakhiri rasa sakit yang berkepanjangan, pertanyaan kritisnya kenapa ngak biarkan sampai mati dengan sendirinya? berarti batinnya belum upekha dong----> ini kalau kita mau menilai secara awam

Ada referensi mengenai ini Bro? sepanjang sutta+komentar yang saya pernah baca, semua kasus bunuh diri dilakukan sebelum pencapaian Arahat, dan menjadi Arahat sesaat sebelum meninggal dunia

Offline bond

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.666
  • Reputasi: 189
  • Buddhang Saranam Gacchami...
Re: Pertanyaan seputar Luanta Mahaboowa
« Reply #4 on: 26 November 2009, 10:02:54 AM »
Quote
Arahat yang bunuh diri itu kalau tidak salah karena ia ingin mengakhiri rasa sakit yang berkepanjangan, pertanyaan kritisnya kenapa ngak biarkan sampai mati dengan sendirinya? berarti batinnya belum upekha dong----> ini kalau kita mau menilai secara awam

Ada referensi mengenai ini Bro? sepanjang sutta+komentar yang saya pernah baca, semua kasus bunuh diri dilakukan sebelum pencapaian Arahat, dan menjadi Arahat sesaat sebelum meninggal dunia


Ok, itu ada yang menerangkan dan tertulis dalam sutta. Dan memang saya pernah baca dan demikian alasannya. Karena saat itu Sang Buddha yang menjelaskan prosesnya kan? Tapi bila hal itu terjadi pada saat sekarang dan berarti dan tentunya tidak tertulis di Tipitaka? lalu apa respon kita?.

Dan kalaupun itu dijadikan pembenaran, nantinya ada bhikkhu bunuh diri lalu mengatakan demikianlah cara untuk mencapai kerahatan. Unik juga ya...he..he

Bagaimana dengan Pilinda Vacca jika terjadi pada saat ini?
Natthi me saranam annam, Buddho me saranam varam, Etena saccavajjena, Sotthi te hotu sabbada

Offline chingik

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 924
  • Reputasi: 44
Re: Pertanyaan seputar Luanta Mahaboowa
« Reply #5 on: 26 November 2009, 12:12:28 PM »
Luanta Mahaboowa kalo bagian dari pesamuan Sangha Mahayana mungkin tidak akan timbul kontroversi. hehe..
Karena dalam MahaParinirvana Sutra , Y.A MahaKasyapa juga turut menangis ketika menerima kabar Sang Buddha telah Mahaparinirvana.


 

Offline bond

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.666
  • Reputasi: 189
  • Buddhang Saranam Gacchami...
Re: Pertanyaan seputar Luanta Mahaboowa
« Reply #6 on: 26 November 2009, 12:36:39 PM »
^
^

:))

Boleh juga kalo di tulis di thread mahayana referensi Mahakasyapa menangis(biar ada hot topik). Hanya nampaknya ada perbedaan dalam mengapa menangisnya...

Kalo prinsip jalan tengahnya nanti muncul aliran baru Mahatherayana. ^-^

« Last Edit: 26 November 2009, 12:38:59 PM by bond »
Natthi me saranam annam, Buddho me saranam varam, Etena saccavajjena, Sotthi te hotu sabbada

Offline chingik

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 924
  • Reputasi: 44
Re: Pertanyaan seputar Luanta Mahaboowa
« Reply #7 on: 26 November 2009, 12:42:10 PM »
^
^

:))

Boleh juga kalo di tulis di thread mahayana.

Kalo prinsip jalan tengahnya nanti muncul aliran baru Mahatherayana. ^-^


hm..boleh dipertimbangkan..haha
kecenderungan saya, mengagumi Mahayana sekaligus Theravada. Kontradiktif kah? Ga juga, enjoy aja.. malah.. ;D

Offline tesla

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.428
  • Reputasi: 125
  • Gender: Male
  • bukan di surga atau neraka, hanya di sini
Re: Pertanyaan seputar Luanta Mahaboowa
« Reply #8 on: 26 November 2009, 03:21:55 PM »
Quote
Arahat yang bunuh diri itu kalau tidak salah karena ia ingin mengakhiri rasa sakit yang berkepanjangan, pertanyaan kritisnya kenapa ngak biarkan sampai mati dengan sendirinya? berarti batinnya belum upekha dong----> ini kalau kita mau menilai secara awam

Ada referensi mengenai ini Bro? sepanjang sutta+komentar yang saya pernah baca, semua kasus bunuh diri dilakukan sebelum pencapaian Arahat, dan menjadi Arahat sesaat sebelum meninggal dunia

bhikkhu Channa... suttanya saya lupa... jika ada yg berkondisi tolong dipostkan...

Luanta Mahaboowa kalo bagian dari pesamuan Sangha Mahayana mungkin tidak akan timbul kontroversi. hehe..
Karena dalam MahaParinirvana Sutra , Y.A MahaKasyapa juga turut menangis ketika menerima kabar Sang Buddha telah Mahaparinirvana.


 
saya sih tidak meragukan arahat kalau menangis,
tetapi lebih meragukan penjelasan nibbana dari Luangta tentang citta setelah nibbana...
Lepaskan keserakahan akan kesenangan. Lihatlah bahwa melepaskan dunia adalah kedamaian. Tidak ada sesuatu pun yang perlu kau raup, dan tidak ada satu pun yang perlu kau dorong pergi. ~ Buddha ~

Offline marcedes

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.528
  • Reputasi: 70
  • Gender: Male
  • May All Being Happinesssssssss
Re: Pertanyaan seputar Luanta Mahaboowa
« Reply #9 on: 26 November 2009, 04:14:53 PM »
tahukah alasan mengapa Luanta menyampaikan apa yang ia capai?

mari kita simak Lohicca sutta.
Quote
[224] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Suatu ketika, Sang Bhagavà sedang mengunjungi Kosala bersama lima ratus bhikkhu, dan, sampai di Sàlavatikà, Beliau menetap di sana. Dan pada saat itu, Brahmana Lohicca sedang menetap di Sàlavatikà, tempat yang ramai, banyak rumput, kayu, air, dan jagung, yang dianugerahkan kepadanya oleh Raja Pasenadi dari Kosala sebagai anugerah kerajaan lengkap dengan kekuasaan kerajaan.
2. Saat itu, suatu pemikiran buruk muncul dalam benak Lohicca: ‘Andaikan seorang petapa atau Brahmana menemukan suatu ajaran yang baik,232 setelah menemukannya, ia tidak harus menyatakannya kepada orang lain; karena apakah yang dapat dilakukan seseorang untuk orang lain? Bagaikan seseorang, setelah memutuskan belenggu lama, membuat belenggu yang baru. Aku menyatakan bahwa hal demikian adalah suatu perbuatan buruk yang berakar pada kemelekatan, karena apakah yang dapat dilakukan seseorang untuk orang lain?’
3. Kemudian Lohicca mendengar bahwa Petapa Gotama telah tiba di Sàlavatikà, dan bahwa sehubungan dengan Sang Bhagavà, suatu berita baik telah beredar … (seperti Sutta 4, paragraf 2). [225] ‘Dan sesungguhnya adalah baik sekali menemui Arahat demikian.’

Quote
9. Maka Sang Bhagavà datang ke kediaman Lohicca, dan duduk di tempat [227] yang telah disediakan. Lohicca secara pribadi melayani Sang Buddha dan para bhikkhu dengan berbagai makanan keras dan lunak hingga mereka puas dan kenyang. Ketika Sang Bhagavà menarik tangan-Nya dari mangkuk, Lohicca mengambil bangku kecil dan duduk di satu sisi. Kemudian Sang Bhagavà berkata kepadanya: ‘Lohicca, benarkah bahwa suatu pikiran jahat muncul dalam benakmu … (seperti paragraf 2)?’ ‘Benar, Yang Mulia Gotama.’
dan sang buddha menjawab

10. ‘Bagaimana menurutmu, Lohicca? Bukankah engkau menetap di Sàlavatikà?’ ‘Ya, Yang Mulia Gotama.’ ‘Sekarang, jika seseorang mengatakan: “Brahmana Lohicca menetap di Sàlavatikà, dan ia menikmati seluruh buah dan penghasilan dari Sàlavatikà, tidak membaginya kepada siapa pun” – Bukankah orang yang mengatakan hal ini akan menjadi sumber bahaya bagi wargamu?’ ‘Ia dapat menjadi sumber bahaya, Yang Mulia Gotama.’
‘Dan dengan demikian, apakah ia memerhatikan kesejahteraan mereka atau tidak?’ ‘Tidak, Yang Mulia Gotama.’
‘Dan, dengan tidak memerhatikan kesejahteraan mereka, apakah hatinya dipenuhi cinta kasih terhadap mereka, ataukah kebencian?’ ‘Kebencian, Yang Mulia Gotama.’
‘Dan dengan hati penuh kebencian, apakah ada pandangan salah ataukah pandangan benar?’ ‘Pandangan salah, Yang Mulia Gotama.’ [228]
‘Tetapi, Lohicca, Aku menyatakan bahwa pandangan salah akan mengarah menuju salah satu dari dua alam tujuan kelahiran – neraka atau alam binatang.233’
Ada penderitaan,tetapi tidak ada yang menderita
Ada jalan tetapi tidak ada yang menempuhnya
Ada Nibbana tetapi tidak ada yang mencapainya.

TALK LESS DO MOREEEEEE !!!

Offline bond

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.666
  • Reputasi: 189
  • Buddhang Saranam Gacchami...
Re: Pertanyaan seputar Luanta Mahaboowa
« Reply #10 on: 26 November 2009, 05:22:59 PM »
MN 144: Channovada Sutta(Advice to Venerable Channa.)

I heard thus.

At one time the Blessed One lived in the squirrels’ sanctuary in the bamboo grove in Rajagaha. At that time, venerable Sariputta, venerable Mahacunda and venerable Channa lived on the Gijjha peak. At that time venerable Channa was seriously ill. Venerable Sariputta getting up from his seclusion in the evening approached venerable Mahacunda and said. ‘Friend, Chunda, let’s approach venerable Channa to inquire about his health.’ Venerable Mahacunda accepting venerable Sariputta’s suggestion, both approached venerable Channa. After exchanging friendly greetings with venerable Channa they sat on a side and venerable Sariputta said. ‘ Friend, Channa, how are you feeling? Would you survive? Are the unpleasant feelings decreasing or increasing? Do the feelings show the increasing end or the decreasing end?’

‘Friend, Sariputta, I do not feel well, will not survive. My unpleasant feelings are severe and increasing, not decreasing. The unpleasant feelings are increasing until the end. Friend, Sariputta, my top hurts a lot. I feel as though a strong man was giving me a headdress with a strong headband. I do not feel well and will not survive. My unpleasant feelings are severe and increasing, not decreasing. The unpleasant feelings are increasing until the end. Friend, Sariputta, my belly hurts a lot as though a lot of air was turning about in my belly. I feel as though a clever butcher or his apprentice was carving my belly with a sharp butcher’s knife I do not feel well and will not survive. My unpleasant feelings are severe and increasing, not decreasing. The unpleasant feelings are increasing until the end. Friend, Sariputta, there is a lot of burning in my body. I feel as though two strong men taking me by my hands and feet are pulling me to a pit of burning embers and are scorching and burning me. I do not feel well and will not survive. My unpleasant feelings are severe and increasing, not decreasing. The unpleasant feelings are increasing until the end. Friend, Sariputta, I will take a weapon to end life.’

‘Friend, Channa, do not take a weapon, do survive. We desire that you survive. If venerable Channa does not get suitable nourishment, I will find them for venerable Channa. If venerable Channa does not get suitable medical requisites, I will find them for venerable Channa.. If venerable Channa does not have a suitable attendant, I will attend to venerable Channa. Friend, Channa, do not take a weapon, do survive. We desire that you survive.

‘Friend, Sariputta, it is not that I’m in want of suitable nourishment, or suitable medical requisites, or a suitable attendant, yet my duties by the Teacher are done long ago, with pleasure and not with displeasure.

Friend, Sariputta, for a disciple who has done his duties by the Teacher pleasantly, there is nothing wrong if he takes a weapon to end life, remember it as that.’

‘Friend Channa, I will ask a certain question if venerable Channa would volunteer to explain.’

‘Friend, Sariputta, ask, I will explain.’

‘Friend, Channa, is your reflection, eye, eye-consciousness, and things cognizable by eye consciousness, are me, I’m in them, they are self? Is your reflection, ear, ear-consciousness, and things cognizable by ear -consciousness, are me, I’m in them and they are self? Is your reflection, nose, nose-consciousness, and things cognizable by nose-consciousness, are me, I’m in them, they are self? Is your reflection, tongue, tongue-consciousness, and things cognizable by tongue-consciousness, are me, I’m in them, they are self? Is your reflection, body, body-consciousness, and things cognizable by body-consciousness, are me, I’m in them, they are self? Is your reflection, mind, mind-consciousness, and things cognizable by mind-consciousness, are me, I’m in them, they are self?

‘Friend, Sariputta, eye, eye-consciousness, and things cognizable by eye consciousness, are not me, I’m not in them, they are not self. Friend, Sariputta, ear, ear-consciousness, and things cognizable by ear -consciousness, are not me, I’m not in them, they are not self. Friend, Sariputta, nose, nose-consciousness, and things cognizable by nose-consciousness, are not me, I’m not in them, they are not self. Friend, Sariputta, tongue, tongue-consciousness, and things cognizable by tongue-consciousness, are not me, I’m not in them, they are not self. Friend, Sariputta, body, body-consciousness, and things cognizable by body-consciousness, are not me, I’m not in them, they are not self Friend, Sariputta, mind, mind-consciousness, and things cognizable by mind-consciousness, are not me, I’m not in them, they are not self.’

‘Friend, Channa, seeing what in the eye, eye-consciousness and things cognizable by eye-consciousness do you realize, eye, eye-consciousness and things cognizable by eye consciousness are not me, I’m not in them and they are not self? ‘Friend, Channa, seeing what in the ear, ear-consciousness and things cognizable by ear-consciousness do you realize, ear, ear-consciousness and things cognizable by ear consciousness are not me, I’m not in them and they are not self? ‘Friend, Channa, seeing what in the nose nose-consciousness and things cognizable by nose-consciousness do you realize, nose, nose-consciousness and things cognizable by nose consciousness are not me, I’m not in them and they are not self? ‘Friend, Channa, seeing what in taste, taste-consciousness and things cognizable by taste-consciousness do you realize, taste, taste-consciousness and things cognizable by taste-consciousness are not me, I’m not in them and they are not self? ‘Friend, Channa, seeing what in the body, body-consciousness and things cognizable by body-consciousness do you realize, body, body-consciousness and things cognizable by body-consciousness are not me, I’m not in them and they are not self? ‘Friend, Channa, seeing what in the mind, mind-consciousness and things cognizable by mind-consciousness do you realize, mind, mind-consciousness and things cognizable by mind-consciousness are not me, I’m not in them and they are not self?

‘Friend, Sariputta seeing the cessation of the eye, eye-consciousness and things cognizable by eye-consciousness I realized, eye, eye-consciousness and things cognizable by eye consciousness are not me, I’m not in them and they are not self. Friend, Sariputta, seeing the cessation of ear, ear-consciousness and things cognizable by ear-consciousness I realized, ear, ear-consciousness and things cognizable by ear consciousness are not me, I’m not in them and they are not self. Friend, Sariputta seeing cessation of the nose, nose-consciousness and things cognizable by nose-consciousness, I realized, nose, nose-consciousness and things cognizable by nose consciousness are not me, I’m not in them and they are not self. Friend, Sariputta, seeing the cessation of taste, taste-consciousness and things cognizable by taste-consciousness I realized, taste, taste-consciousness and things cognizable by taste-consciousness are not me, I’m not in them and they are not self. Friend, Sariputta, seeing the cessation of the body, body-consciousness and things cognizable by body-consciousness I realized, body, body-consciousness and things cognizable by body-consciousness are not me, I’m not in them and they are not self. Friend, Sariputta, seeing the cessation of the mind, mind-consciousness and things cognizable by mind-consciousness I realized, mind, mind-consciousness and things cognizable by mind-consciousness are not me, I’m not in them and they are not self’

Then venerable Mahacunda said to venerable Channa. ‘Friend, Channa, constant attention should be given to this too in the dispensation of the Blessed One. To the settled there is change, to the not settled there is no change. (*1) When there is no change, there is delight. (*2) When there is delight, there is no inclination. (*3) When there is no inclination, there is no coming and going. (*4) When there is no coming and going, there is no disappearing and appearing (*5)When there is no disappearing and appearing, there is no here or there, or in between. (*6) That is the end of unpleasantness.

Venerable Sariputta and venerable Mahcunda having advised venerable Channa, in this manner got up from their seats and went away. Soon after they had gone venerable Channa took a weapon and put an end to his life. Then venerable Sariputta approached the Blessed One, worshipped, sat on a side and said.’Venerable sir, venerable Channa has put an end to his life, what are his movements after death?’

‘Sariputta, wasn’t the faultlessness of the bhikkhu Channa declared in your presence?’

‘Venerable sir, in Pabbajira, the village of the Vajjii’s, the families of venerable Channa’s friends, well -wishers and earlier relations live.’

‘Sariputta, there may be the families of venerable Channa’s friends, well-wishers and earlier relatives, I say, there is no fault to that extent. Sariputta, if someone gives up this body and seizes another, I say it is a fault. In the bhikkhu that fault is not apparent. Bhikkhu Channa took his life faultlessly.’

The Blessed One said thus and venerable Sariputta delighted in the words of the Blessed One.

Natthi me saranam annam, Buddho me saranam varam, Etena saccavajjena, Sotthi te hotu sabbada

Offline bond

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.666
  • Reputasi: 189
  • Buddhang Saranam Gacchami...
Re: Pertanyaan seputar Luanta Mahaboowa
« Reply #11 on: 26 November 2009, 05:28:25 PM »
Satu lagi ketika Ananda membakar dirinya pada saat parinibbana. Apakah itu tindakan bunuh diri.?
Natthi me saranam annam, Buddho me saranam varam, Etena saccavajjena, Sotthi te hotu sabbada

Offline Peacemind

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 970
  • Reputasi: 74
Re: Pertanyaan seputar Luanta Mahaboowa
« Reply #12 on: 26 November 2009, 06:29:02 PM »
MN 144: Channovada Sutta(Advice to Venerable Channa.)

I heard thus.

At one time the Blessed One lived in the squirrels’ sanctuary in the bamboo grove in Rajagaha. At that time, venerable Sariputta, venerable Mahacunda and venerable Channa lived on the Gijjha peak. At that time venerable Channa was seriously ill. Venerable Sariputta getting up from his seclusion in the evening approached venerable Mahacunda and said. ‘Friend, Chunda, let’s approach venerable Channa to inquire about his health.’ Venerable Mahacunda accepting venerable Sariputta’s suggestion, both approached venerable Channa. After exchanging friendly greetings with venerable Channa they sat on a side and venerable Sariputta said. ‘ Friend, Channa, how are you feeling? Would you survive? Are the unpleasant feelings decreasing or increasing? Do the feelings show the increasing end or the decreasing end?’

‘Friend, Sariputta, I do not feel well, will not survive. My unpleasant feelings are severe and increasing, not decreasing. The unpleasant feelings are increasing until the end. Friend, Sariputta, my top hurts a lot. I feel as though a strong man was giving me a headdress with a strong headband. I do not feel well and will not survive. My unpleasant feelings are severe and increasing, not decreasing. The unpleasant feelings are increasing until the end. Friend, Sariputta, my belly hurts a lot as though a lot of air was turning about in my belly. I feel as though a clever butcher or his apprentice was carving my belly with a sharp butcher’s knife I do not feel well and will not survive. My unpleasant feelings are severe and increasing, not decreasing. The unpleasant feelings are increasing until the end. Friend, Sariputta, there is a lot of burning in my body. I feel as though two strong men taking me by my hands and feet are pulling me to a pit of burning embers and are scorching and burning me. I do not feel well and will not survive. My unpleasant feelings are severe and increasing, not decreasing. The unpleasant feelings are increasing until the end. Friend, Sariputta, I will take a weapon to end life.’

‘Friend, Channa, do not take a weapon, do survive. We desire that you survive. If venerable Channa does not get suitable nourishment, I will find them for venerable Channa. If venerable Channa does not get suitable medical requisites, I will find them for venerable Channa.. If venerable Channa does not have a suitable attendant, I will attend to venerable Channa. Friend, Channa, do not take a weapon, do survive. We desire that you survive.

‘Friend, Sariputta, it is not that I’m in want of suitable nourishment, or suitable medical requisites, or a suitable attendant, yet my duties by the Teacher are done long ago, with pleasure and not with displeasure.

Friend, Sariputta, for a disciple who has done his duties by the Teacher pleasantly, there is nothing wrong if he takes a weapon to end life, remember it as that.’

‘Friend Channa, I will ask a certain question if venerable Channa would volunteer to explain.’

‘Friend, Sariputta, ask, I will explain.’

‘Friend, Channa, is your reflection, eye, eye-consciousness, and things cognizable by eye consciousness, are me, I’m in them, they are self? Is your reflection, ear, ear-consciousness, and things cognizable by ear -consciousness, are me, I’m in them and they are self? Is your reflection, nose, nose-consciousness, and things cognizable by nose-consciousness, are me, I’m in them, they are self? Is your reflection, tongue, tongue-consciousness, and things cognizable by tongue-consciousness, are me, I’m in them, they are self? Is your reflection, body, body-consciousness, and things cognizable by body-consciousness, are me, I’m in them, they are self? Is your reflection, mind, mind-consciousness, and things cognizable by mind-consciousness, are me, I’m in them, they are self?

‘Friend, Sariputta, eye, eye-consciousness, and things cognizable by eye consciousness, are not me, I’m not in them, they are not self. Friend, Sariputta, ear, ear-consciousness, and things cognizable by ear -consciousness, are not me, I’m not in them, they are not self. Friend, Sariputta, nose, nose-consciousness, and things cognizable by nose-consciousness, are not me, I’m not in them, they are not self. Friend, Sariputta, tongue, tongue-consciousness, and things cognizable by tongue-consciousness, are not me, I’m not in them, they are not self. Friend, Sariputta, body, body-consciousness, and things cognizable by body-consciousness, are not me, I’m not in them, they are not self Friend, Sariputta, mind, mind-consciousness, and things cognizable by mind-consciousness, are not me, I’m not in them, they are not self.’

‘Friend, Channa, seeing what in the eye, eye-consciousness and things cognizable by eye-consciousness do you realize, eye, eye-consciousness and things cognizable by eye consciousness are not me, I’m not in them and they are not self? ‘Friend, Channa, seeing what in the ear, ear-consciousness and things cognizable by ear-consciousness do you realize, ear, ear-consciousness and things cognizable by ear consciousness are not me, I’m not in them and they are not self? ‘Friend, Channa, seeing what in the nose nose-consciousness and things cognizable by nose-consciousness do you realize, nose, nose-consciousness and things cognizable by nose consciousness are not me, I’m not in them and they are not self? ‘Friend, Channa, seeing what in taste, taste-consciousness and things cognizable by taste-consciousness do you realize, taste, taste-consciousness and things cognizable by taste-consciousness are not me, I’m not in them and they are not self? ‘Friend, Channa, seeing what in the body, body-consciousness and things cognizable by body-consciousness do you realize, body, body-consciousness and things cognizable by body-consciousness are not me, I’m not in them and they are not self? ‘Friend, Channa, seeing what in the mind, mind-consciousness and things cognizable by mind-consciousness do you realize, mind, mind-consciousness and things cognizable by mind-consciousness are not me, I’m not in them and they are not self?

‘Friend, Sariputta seeing the cessation of the eye, eye-consciousness and things cognizable by eye-consciousness I realized, eye, eye-consciousness and things cognizable by eye consciousness are not me, I’m not in them and they are not self. Friend, Sariputta, seeing the cessation of ear, ear-consciousness and things cognizable by ear-consciousness I realized, ear, ear-consciousness and things cognizable by ear consciousness are not me, I’m not in them and they are not self. Friend, Sariputta seeing cessation of the nose, nose-consciousness and things cognizable by nose-consciousness, I realized, nose, nose-consciousness and things cognizable by nose consciousness are not me, I’m not in them and they are not self. Friend, Sariputta, seeing the cessation of taste, taste-consciousness and things cognizable by taste-consciousness I realized, taste, taste-consciousness and things cognizable by taste-consciousness are not me, I’m not in them and they are not self. Friend, Sariputta, seeing the cessation of the body, body-consciousness and things cognizable by body-consciousness I realized, body, body-consciousness and things cognizable by body-consciousness are not me, I’m not in them and they are not self. Friend, Sariputta, seeing the cessation of the mind, mind-consciousness and things cognizable by mind-consciousness I realized, mind, mind-consciousness and things cognizable by mind-consciousness are not me, I’m not in them and they are not self’

Then venerable Mahacunda said to venerable Channa. ‘Friend, Channa, constant attention should be given to this too in the dispensation of the Blessed One. To the settled there is change, to the not settled there is no change. (*1) When there is no change, there is delight. (*2) When there is delight, there is no inclination. (*3) When there is no inclination, there is no coming and going. (*4) When there is no coming and going, there is no disappearing and appearing (*5)When there is no disappearing and appearing, there is no here or there, or in between. (*6) That is the end of unpleasantness.

Venerable Sariputta and venerable Mahcunda having advised venerable Channa, in this manner got up from their seats and went away. Soon after they had gone venerable Channa took a weapon and put an end to his life. Then venerable Sariputta approached the Blessed One, worshipped, sat on a side and said.’Venerable sir, venerable Channa has put an end to his life, what are his movements after death?’

‘Sariputta, wasn’t the faultlessness of the bhikkhu Channa declared in your presence?’

‘Venerable sir, in Pabbajira, the village of the Vajjii’s, the families of venerable Channa’s friends, well -wishers and earlier relations live.’

‘Sariputta, there may be the families of venerable Channa’s friends, well-wishers and earlier relatives, I say, there is no fault to that extent. Sariputta, if someone gives up this body and seizes another, I say it is a fault. In the bhikkhu that fault is not apparent. Bhikkhu Channa took his life faultlessly.’

The Blessed One said thus and venerable Sariputta delighted in the words of the Blessed One.



Dalam sutta ini, memang tampak bahwa Bhikkhu Channa bunuh diri setelah beliau mencapai arahat. Akan tetapi, kitab komentar dari Sutta ini menjelaskan bahwa sesungguhnya beliau mencapai arahat sesaat setelah ia memotong tenggorokannya dengan pisau.. Saat mencoba bunuh diri, ia belum mencapai arahat.

Satu lagi ketika Ananda membakar dirinya pada saat parinibbana. Apakah itu tindakan bunuh diri.?
sepertinya memang bunuh diri... Namun yang menjadi pertanyaan adalah yang dibunuh "diri" yang mana? Hehehe....

Offline bond

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.666
  • Reputasi: 189
  • Buddhang Saranam Gacchami...
Re: Pertanyaan seputar Luanta Mahaboowa
« Reply #13 on: 26 November 2009, 06:30:05 PM »
Quote
saya sih tidak meragukan arahat kalau menangis,
tetapi lebih meragukan penjelasan nibbana dari Luangta tentang citta setelah nibbana...

Mengenai citta setelah nibbana. Banyak yg salah kaprah tentang pandangan Luangta Mahaboowa terhadap masalah ini. Semua trah/murid Ajahn Mun yg utama dalam tradisi dhutangga selalu menggunakan kata " CITTA" daripada menggunakan  kata "NAMA"  bahkan kadangkala menggunakan kata CITTA sebagai citta itu sendiri , saya pun tidak tahu alasannya. Tetapi pernah dibahas dalam penjelasan Luangta.  Sehingga kalau kita membaca tulisan Luangta atau pun murid utama Ajahn Mun berbicara tentang citta harus diperhatikan konteks kalimatnya agar tidak terjebak pada pengertian yg salah tentang citta . Kedua, audience saat Luangta berbicara adalah umat awam yg tidak semuanya mengerti bahasa kitab suci Tipitaka. Sehingga kata citta digunakan agar dimengerti.


Quote
Jadi kondisi nibbana akan dicapai pada saat seseorang terbebas dari kilesa

Dari sini akan muncul istilah saupadisesa nibbana yaitu padamnya kilesa secara total tapi pancakhanda masih ada
Dan Anupadisesa dimana padamnya kilesa secara total, dan padamnya pancakhanda

secara singkat, padamnya pancakhanda dapat diilustrasikan seperti ini:
Mahluk itu terdiri dari :
1. Nama khanda
2. Nama Dhamma
3. Rupa khanda
4. Rupa Dhamma

Pada Nibbana hanya ada Nama Dhamma saja (Nama/batin secara kebenaran), sementara nama dan rupa khandanya musnah   http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,8515.0.html  ---->diskusi abhidhamma
                                          

Lalu ada hubungannya dengan :

Quote
Terus terang saya baru mendengar bahwa nāmadhamma dan nāmakkhandha berbeda dari satu sama lain. Istilah nāmadhamma sendiri sangat jarang ditemukan dalam Abhidhamma. Tapi ada satu kutipan yang mungkin ada hubungannya dengan pertanyaan anda. Kutipan ini bukan saya ambil dari Abhidhamma melainkan dari Sutta.

      Jika kita lihat pernyataan yang diambil dari Suttapiṭaka, salah satu definisi nibbāna adalh sebagai berikut:

‘Viññāṇaṃ anidassanaṃ, anantaṃ sabbatopabhaṃ;
Ettha āpo ca pathavī, tejo vāyo na gādhati.
Ettha dīghañca rassañca, aṇuṃ thūlaṃ subhāsubhaṃ;
Ettha nāmañca rūpañca, asesaṃ uparujjhati;
Viññāṇassa nirodhena, etthetaṃ uparujjhatī’ti".       ----- (Kevaṭṭasuttaṃ--Tīradassisakuṇupamā)

Yang bisa diterjemahkan sebagai berikut:

“(Dimana) kesadaran tanpa tanda (signless), tanpa batas dan seluruhnya bercahaya;
Di sini, air, tanah, api dan udara tidak memiliki tempat berpijak.
Di sini, panjang, pendek, kecil, besar, indah dan buruk,
Mental dan materi lenyap tanpa sisa;
Dengan lenyapnya kesadaran, di sini, semua lenyap.”

        Di atas ada dua macam viññāna. Pertama viññāna yang masih eksis dalam nibbāna. Viññana ini memiliki tiga keistimewaan, yakni anidassanaṃ, anantaṃ dan sabbatopabhaṃ. Viññana kedua adalah viññāna yang lenyap. Kitab komentar telah membedakan kedua viññāna ini. Viññāna pertama adalah nama lain dari nibbāna (viññāṇaṃ nibbānassetaṃ nāmaṃ), sedangkan viññāna kedua diidentifikasi sebagai abhisaṅkhāraviññāṇa (conditioned viññāna) atau singkatnya ini adalalh viññāṇa yang muncul karena kondisi. Jika kita menerima konsep nāmadhamma yang masih eksis dalam nibbāna, maka viññāṇaṃ anidassanaṃ anantaṃ sabbatopabhaṃ  bisa dikatakan sebagai nāmadhamma. Sementara itu, viññāna kedua yang lenyap adalah viññānakkhandha / nāmakkhandha yang lenyap dalam nibbāna.

referensi berikutnya adalah arahat magga phala jika dibaca teliti ada hal tersirat tentang definisi nibbana diatas. lalu juga baca Luangta ini London yg bisa didownload di www.luangta.com



sekalian menjawab beberapa teman yg pernah mengajukan pertanyaan tentang kemunculan arahat dalam pengalaman meditasi Ajahn Mun, Luangta Mahaboowa sudah menjelaskannya sebagai SAMADHI NIMITTA. Bisa dibaca di buku Legendaris pengalaman spritual Ajahn Mun.

selamat diteliti, diresapi....hasilnya dikembalikan kepada diri masing2 dalam memahami Dhamma.

 _/\_



Natthi me saranam annam, Buddho me saranam varam, Etena saccavajjena, Sotthi te hotu sabbada

Offline The Ronald

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.233
  • Reputasi: 89
  • Gender: Male
Re: Pertanyaan seputar Luanta Mahaboowa
« Reply #14 on: 26 November 2009, 06:32:07 PM »
Satu lagi ketika Ananda membakar dirinya pada saat parinibbana. Apakah itu tindakan bunuh diri.?
http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,7699.95/wap2.html

BY:markosprawira
Quote
dear bro,

ada 5 cara seorang arahat sebelum parinibbana....

salah satunya adalah dalam kondisi sedang mempertunjukkan abhinna.

Kondisi lainnya adalah :
- sedang dalam jhana
- merenungkan jhana
- merenungkan kilesa yg sudah dibasmi, dsbnya

jadi sebenarnya, parinibbana dalam kondisi batin sedang berada dalam abhinna, hanya merupakan salah satu kondisi batin sebelum meninggalnya (maranasanna vitthi) arahat

semoga bs bermanfaat yah


ingin menambahkan bagaimana proses batin parinibbana seorang arahat secara lengkapnya yaitu :

Semua Arahat tidak pari-nibbana melalui pancadvara maranasannavitthi tetapi melalui manodvara maransannavitthi saja
Pun tidak akan ada Kamma Aramanna, Nimitta Aramanna dan Gati Nimitta Aramanna

Proses batin sebelum kematian (maranasannavitthi) seorang Arahat dibagi menjadi 5 yaitu :
1. Kamajavanamaranasanna-vitthi : cuti citta (pikiran yg mengakhiri kehidupan) yg timbul dari Javana yg menjadi Mahakiriya.
Ini merupakan Pari-Nibbana yg biasa terjadi
2. Jhanasamanantara-vitthi : cuti citta yg timbul dari Jhanasamapatti-vitthi
3. Paccavekkhanasamanantara-vitthi : cuti citta yg timbul dari Vitthi yg merenungkan Jhana
4. Abhinnasamanantara-vitthi : cuti citta yg timbul dari Abhinna-vitthi yg sedang mempertunjukkan abhinna/kesaktian ---> ini yg ada pada cerita diatas
5. Jivitasamasisi : cuti citta yg timbul dari perenungan magga, phala, nibbana dan kilesa yg sudah dibasmi

Jadi sebenarnya pari nibbana seorang arahat secara umum justru merupakan peralihan dari kama javana yg ada pada mahluk non arahat, menjadi mahakiriya javana

semoga bisa bermanfaat yah
...