Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Pertanyaan seputar Luanta Mahaboowa  (Read 26513 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline bond

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.666
  • Reputasi: 189
  • Buddhang Saranam Gacchami...
Re: Pertanyaan seputar Luanta Mahaboowa
« Reply #60 on: 28 November 2009, 10:33:38 AM »
[at] _/\_ Sdr Peacemind

Khotbah terhadap Upatissa? ??? Atau Khotbah Upatissa? :)

 [at] Om Bond

Ga masalah, kita sama2 dalam konteks menduga saja. Saya yakin tidak ada yg menjawab di sini melalui pengetahuan langsung. Dan pendapat yg manapun, tdk memengaruhi scr langsung thdp Luangta. Ini hanya sekadar tukar pendapat di forum saja. Terlepas dr Luangta seorang arahat atau bukan, pengabdian beliau thdp Dhamma bukan hal yg patut diabaikan, sebaliknya layak utk dihormati.
 _/\_

Saya pikir juga demikian   ;D  _/\_

Quote
Misal ketika arahat merasakan sakit mata, dan mengeluarkan airmata. Maka yang terjadi batinnya adalah tak tergoyahkan tapi rasa sakit tetap muncul dan bereaksi dengan keluarnya airmata. Sama halnya rasa bahagia yang muncul dan bereaksi pada simpul2 saraf tertentu hingga muncul airmata. Sementara yang mengetahui hanya menyadari saja dan tidak membiarkan rasa sakit atau rasa bahagia mempengaruhinya tetapi tidak ada kendali atas reaksi rupakhandha. Sama halnya memotong tangan pasti keluar darah.

Kalau kita melihat ke narasumber langsung, saat kakinya terluka oleh pecahan batu pun Sang Buddha tidak mengeluarkan airmata sbg reaksi. Begitu pula saat Maha-moggallana Thera dimassakan oleh para penjahat hingga sekarat. Atau Angulimala Thera yg dilempar batu oleh warga hingga konon 1 batu melesak masuk ke telinga dan merusak gendang telinganya? cmiiw yg terakhir ttg batu, kurang ingat.
Di sini dapat dilihat endurance mereka, para arahat, yang mampu menahankan apapun yg timbul dan terjadi dengan kesabaran dan upekkha. Jika hal2 demikian menyakitkan saja mereka dapat menahankan dengan sabar, apalagi yang menyenangkan seperti piti? Logikanya, lebih gampang keluar air mata karena dipukul atau krn gembira? Dan yg manapun, bukankah menunjukkan bahwa orang tsb terseret oleh perasaan yg timbul dan kurang mindful mengawasi batinnya? Dlm kalimat Anda di atas:

Kasus yang mas Jerry, bisa dikatakan bahwa jika karena hal2 yg menyebakan sakit(akusala Vipaka) dan direspon dengan airmata maka ini penyebabnya adalah kesedihan dan itu saja yang tertulis dalam Tipitaka yg tidak mungkin terjadi. Permasalahannya kasus Luangta tidak ada tertulis mengenai jika penyebabnya kebahagiaan. Jika alasannya upekha dan emosi. Maka ini tidak menjadi dasar dalam kasus seorang arahat. Seperti pertanyaan saya tentang Pilinda vacca yg berbicara kasar. Bisa dibayangkan jika umat awam dipanggil "hei sial, sini kamu" maka alasan kurang upekha dan kurang pengendalian diri dapat dijadikan alasan juga. Bahkan berbicara kasar pun dalam abhiddhamma saya yakin adalah akusala. Demikian Ananda yg membakar dirinya dan mempertunjukan abinna dihadapan umum. Tapi tentu ada pertimbangan lain yg patut dipikirkan lebih jauh.  Jika kembali kepada Pilinda, dalam hal ini ada penjelasan SB sehingga terlihat ada pengecualian. Tetapi sempat ada keraguan diantara bhikkhu hingga menanyakan hal ini kepada SB. Memang sakit lebih gampang mengeluarkan airmata, tapi respon rupakhanda ini sangat kompleks, sakit bisa keluar airmata, bahagia juga bisa dsb. Dan seorang yg tertembak pun bisa kesakitan dan tapi tidak keluar airmata pada umat awam, contoh lainnya kwan kong sewaktu dioperasi tanpa bius malah sambil baca buku lagi. Jadi ini mungkin tergantung perasaan dan respon indera yg paling dekat kesensitifannya. Contoh : jika yang kena kaki, umat awam pun bisa tahan sakit tanpa keluar airmata dan banyak kasusnya. Jadi saya rasa respon ini sangat kompleks. Sehingga jangan semua kondisi lallu digeneralisasi si A sakit aja tidak keluar airmata atau si A saja bahagia tidak keluar airmata tentu tidak demikian bukan.Sebenarnya yang harus diteliti kasus per kasus sesuai penyebabnya sehingga banyak ragam kasus pencapaian arahat ataupun perilaku arahat yg kadang terlihat nyeleneh. Bahkan Saya akan berbagi sedikit pengalaman ketika saya bermeditasi...saya pernah merasakan piti begitu hebat lalu dibarengi sukha..saat itu saya hanya mengamati dengan upekha dan kemudian piti hilang hanya ada sukha saja dan tetap saya sadari kemudian hanya ada keheningan saja saat itu dan hanya disadari dan setelah beberapa saat kemudian  keluar dari meditasi, saya lihat pipi saya basah karena keluar airmata airmata...Ada juga kasus dimana sahabat saya(muslim)memasuki upacara samadhi dan melihat nimitta dan piti muncul dengan kuatnya...ia langsung tidak tahan(tidak bisa upekha) karena begitu kuatnya piti akhirnya keluar dari meditasinya secara perlahan dan keluar airmata juga dan begitu dia mengingat kejadian pengalamannya dia langsung terisak2 karena kebahagiaan itu..hal itu ia ceritakan sendiri kepada saya dan dibanyak peserta retreat. Ia muridnya Pak Merta Ada. Dan pernah ikut retreat bersama Sayadaw U Aganna. Tentu saya pun tidak ingin menyimpulkan pengalaman ini sebagai suatu pembenaran tapi silakan diteliti. Yang saya lihat memang masalah ini kompleks sekali.
Quote
Masalahnya ketika airmata mengalir dia sedang memberikan dhammadesana, lalu dia langsung sadar bilang "oh... saya mengingat itu semua sampai airmata ini mengalir .....dsb"
Dalam kasus Raja Bhaddiya yg merasakan kebahagiaan luar biasa dr nibbana dan berulang kali mengucapkan, "O, bahagianya," tidak tercatat kalau beliau mengeluarkan airmata setitik pun. Ini bbrp kasus dlm Sutta yg dpt disimpulkan scr implisit bahwa arahat tdk lagi terpengaruh oleh perasaan sukha maupun dukkha. -->ini kalo dilihat logika umat awam dan abhidhamma pada putthujana. Kembali lagi pada pengecualian Pilinda Vacca berbicara kasar , maka saya katakan dia kurang sati..(tentu alasannya adalah Buddha sudah menjelaskan, jika tidak ada penjelasan maka apa respon kita?) dan Ananda mempertunjukan abinna dan membakar diri, dan Bhikkhu Channa mencapai arahat dengan bunuh diri. Khusus bhikkhu Channa kalau ingin disimpulkan secara awam, pasti sebelum arahat dia sudah minimal sotapanna pasti sudah tidak ada miccha ditthi untuk bunuh diri. Tapi koq bisa....inilah kompleksnya Dhamma dimana anda dan saya sama2 meraba ;))

Bagaimanapun, memang ada hal2 tertinggal tak terjelaskan eksplisit oleh Tipitaka seperti bagaimana bila seorang arahat mengeluarkan airmata? Oleh karena itu harus diteliti kembali bukan..?

Di sini, jawaban menyunat Kalama Sutta utk mengcounter Tipitaka sendiri saya kira tidak relevan. Karena Kalama Sutta mengajarkan tentang sikap menyelidiki dan tidak menerima begitu saja terhadap persoalan mengenai kamma dan punabbhava, ini dapat diketahui dari isi sutta tsb. Dan itu ditujukan bagi mereka yg belum memiliki keyakinan thdp Tiratana (baca: non-buddhist). Sedangkan bagi mereka yg memiliki keyakinan thdp Tiratana (baca: buddhist), rujukan yg dipakai seharusnya adl 4 Mahapadesa: kewibawaan utama.

Pernyataan kalama sutta untuk mengcounter Tipitaka sendiri bukan masalah relevan atau relevan tetapi saya melihatnya bahwa bukansemata2 karena apa yg tertulis dan tidak yang tertulis kita menjustifikasi kebenaran ataupun pencapaian seseorang. Artinya makna kedalaman Dhamma yang terkandung didalamnya. KAlau mau diperdebatkan secara scholar maka akan ada argumen, 4 mahapdesa kan juga tulisan :)), tapi bukan itu yg saya maksudkan. Semoga mas Jerry mengerti apa yg saya maksudkan. _/\_

Quote
Karena bisa saja ada kasus nantinya seorang arahat begitu pindapata, ada perumah tangga lagi masa-masakan yang menyengat misal bawang, lalu dia mengusap2 karena tidak tahan matanya perih, merah sampai menangis  tersedu2, apakah itu kategori juga hal yang tidak mungkin seorang arahat bersikap demikian. -->reaksi rupakhanda.

Atau disuatu perjalanan tanpa sengaja seorang arahat berjalan pindapata tiba2 segerombolan pendemo berlarian dan ditembak gas airmata oleh pendemo . Akhirnya arahat tersebut mengalami sesak nafas dan mengeluarkan airmata. bagaimana penjelasan sesuai jaman sekarang.?
Joking: Kalau arahatnya Luangta, pasti langsung keluar air mata. Saya cukup yakin itu. ;D

 :))

Mettacittena,
_/\_
« Last Edit: 28 November 2009, 10:40:19 AM by bond »
Natthi me saranam annam, Buddho me saranam varam, Etena saccavajjena, Sotthi te hotu sabbada

Offline bond

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.666
  • Reputasi: 189
  • Buddhang Saranam Gacchami...
Re: Pertanyaan seputar Luanta Mahaboowa
« Reply #61 on: 28 November 2009, 10:46:31 AM »
Ada satu kisah menarik dalam Dhammapada Atthakata:

Ada seorang samanera yang umurnya masih sangat muda (mungkin dibawah sepuluh tahun) tetapi telah mencapai tingkat kesucian Arahat. Suatu ketika beliau sedang mengipasi gurunya yang sedang beristirahat tidur.
Guru beliau rupanya pada waktu itu bermimpi, tanpa disadari tangannya menyodok kipas yang sedang dipegang oleh Samanera tersebut. sehingga menyebabkan kipas yang dipegang Samanera menusuk matanya sendiri.

Sebagai akibatnya bola mata Samanera keluar dari rongga matanya.
Samanera tidak mengeluh atau menangis, ia tetap melaksanakan tugasnya mengipas gurunya, sambil tangan yang satu menutupi rongga matanya yang berdarah, yang sudah tak ada bola matanya.

Ketika gurunya bangun lalu ia melihat Samanera sedang mengipasinya dengan tangan menutupi rongga matanya yang berdarah, lalu ia bertanya, "ada apa denganmu? mengapa matamu?" lalu Samanera menceritakan apa yang dialaminya, kepada gurunya.

Gurunya lalu merasa bersalah, (kalau tidak salah akhir ceritanya lalu berjuang dengan sungguh-sungguh hingga mencapai kesucian).

 _/\_

Bener mbah ngak nangis?  ;D

Logikanya gini saat ketusuk bola mata keluar sudah pasti airmata yang keluar bercampur darah... coba lihat susunan semua yg ada pada saraf mata, cairan bola mata dan bebagai hal yang menyebabkan cairan airmata--Bisa diteliti dari ilmu kedokteran. Ada ngak cerita arahat kelilipan. :))

Sayang saat itu tidak ada yg meneliti darahnya mengandung apa saja ;))

Dan ada kasus orang  keluar airmata darah. Kalau tidak salah kasusnya ditimur tengah. Gimana nih tanggapan mbah dan teman2 lainnya.
« Last Edit: 28 November 2009, 10:49:54 AM by bond »
Natthi me saranam annam, Buddho me saranam varam, Etena saccavajjena, Sotthi te hotu sabbada

Offline bond

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.666
  • Reputasi: 189
  • Buddhang Saranam Gacchami...
Re: Pertanyaan seputar Luanta Mahaboowa
« Reply #62 on: 28 November 2009, 11:01:02 AM »
Tambahan :

Sebenarnya kalo mau dibuktikan tentang Luangta gampang koq, semua Bhikkhu yang punya abinna dan disinyalir mencapai semua tingkatan ariya pugala...lalu dipanggil pula para dokter untuk memeriksa setiap reaksi tubuh terhadap batin/perasaan2 yang muncul. Lalu dijadikanlah objek peneilitian. Jadi ada sisi keilimiahannya dan spiritualnya.

 ;D

Natthi me saranam annam, Buddho me saranam varam, Etena saccavajjena, Sotthi te hotu sabbada

Offline fabian c

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.095
  • Reputasi: 128
  • Gender: Male
  • 2 akibat pandangan salah: neraka atau rahim hewan
Re: Pertanyaan seputar Luanta Mahaboowa
« Reply #63 on: 28 November 2009, 11:16:48 AM »
Sdr Bond yang baik,

Menurut Abhidhamma seorang Arahat batinnya sudah tak memiliki kemelekatan terhadap segala sesuatu yang muncul pada kelima khandha (panca khandha), bila ada sesuatu hal yang muncul dan memerlukan pemikiran maka Ia harus mengarahkan batinnya untuk berpikir, menganalisa dsbnya, semua ini tidak terjadi secara otomatis seperti pada Putthujana dan inilah yang dimaksud dalam Abhidhamma sebagai Kiriya

Seorang Arahat memiliki batin yang seimbang juga disebabkan ketidak melekatannya pada kelima khandha sehingga tidak merespon terhadap apapun yang muncul pada kelima khandha (kecuali) menginginkannya.

Sekedar gambaran: pada latihan Vipassana yang saya ikuti bahkan kita diajarkan oleh pembimbing harus sadar ketika hendak mengedipkan mata.

Bukan hanya kedipan mata, bahkan setiap arus batin yang muncul, apapun bentuknya berusaha untuk disadari. Pada Arahat semua respon terhadap gerakan batin selalu terjadi secara sadar tidak terjadi secara spontan atau otomatis, semua disadari jadi harus diarahkan. Seorang Arahat sadar ketika menutup mata atau membuka mata.

Seorang arahat melihat semua kejadian yang terjadi di alam semesta sebagai hal yang alami (natural). Ia selalu melihat segala sesuatu apa adanya. Ia sudah tak merespon (secara otomatis) Apapun bentuk-bentuk yang nampak maupun yang muncul pada batin.

Apakah ada keseimbangan batin bila muncul pikiran terharu misalnya: menyadari keagungan Sang Buddha, Dhamma dan Sangha? Atau ia merasa terharu pada kebaikan dan kemuliaan hati yang dilakukan seseorang kepadanya?

Akankah muncul suatu respon dalam bentuk perasaan terharu, bila seseorang yang penuh konsentrasi dan kesadaran melihat apapun yang muncul dalam dirinya tanpa menanggapi? Ini sebenarnya seiring diulas. Mari kita bertanya pada diri sendiri,  apakah suatu bentuk batin entah baik atau buruk, akan bertabah besar bila tak ditanggapi? Akankah suatu api bertambah besar bila tak disiram minyak atau bila tak ditambah bahan bakarnya?

Jangankan seorang Arahat yang luar biasa, sedangkan seorang meditator Vipassana (tentu yang sudah agak maju) bila mampu menyadari dengan cepat maka bentuk-bentuk batin seketika lenyap waktu disadari.

Dengan fakta yang dialami seorang meditator demikian, wajarkah bila ia kemudian menyatakan bahwa seorang Arahat tak mungkin menangis atau tertawa?

 _/\_

« Last Edit: 28 November 2009, 11:20:25 AM by fabian c »
Tiga hal ini, O para bhikkhu dilakukan secara rahasia, bukan secara terbuka.
Bercinta dengan wanita, mantra para Brahmana dan pandangan salah.

Tiga hal ini, O para Bhikkhu, bersinar secara terbuka, bukan secara rahasia.
Lingkaran rembulan, lingkaran matahari serta Dhamma dan Vinaya Sang Tathagata

Offline bond

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.666
  • Reputasi: 189
  • Buddhang Saranam Gacchami...
Re: Pertanyaan seputar Luanta Mahaboowa
« Reply #64 on: 28 November 2009, 11:43:22 AM »
Sdr Bond yang baik,

Menurut Abhidhamma seorang Arahat batinnya sudah tak memiliki kemelekatan terhadap segala sesuatu yang muncul pada kelima khandha (panca khandha), bila ada sesuatu hal yang muncul dan memerlukan pemikiran maka Ia harus mengarahkan batinnya untuk berpikir, menganalisa dsbnya, semua ini tidak terjadi secara otomatis seperti pada Putthujana dan inilah yang dimaksud dalam Abhidhamma sebagai Kiriya

Seorang Arahat memiliki batin yang seimbang juga disebabkan ketidak melekatannya pada kelima khandha sehingga tidak merespon terhadap apapun yang muncul pada kelima khandha (kecuali) menginginkannya.

Sekedar gambaran: pada latihan Vipassana yang saya ikuti bahkan kita diajarkan oleh pembimbing harus sadar ketika hendak mengedipkan mata.

Bukan hanya kedipan mata, bahkan setiap arus batin yang muncul, apapun bentuknya berusaha untuk disadari. Pada Arahat semua respon terhadap gerakan batin selalu terjadi secara sadar tidak terjadi secara spontan atau otomatis, semua disadari jadi harus diarahkan. Seorang Arahat sadar ketika menutup mata atau membuka mata.

Seorang arahat melihat semua kejadian yang terjadi di alam semesta sebagai hal yang alami (natural). Ia selalu melihat segala sesuatu apa adanya. Ia sudah tak merespon (secara otomatis) Apapun bentuk-bentuk yang nampak maupun yang muncul pada batin.

Apakah ada keseimbangan batin bila muncul pikiran terharu misalnya: menyadari keagungan Sang Buddha, Dhamma dan Sangha? Atau ia merasa terharu pada kebaikan dan kemuliaan hati yang dilakukan seseorang kepadanya?

Akankah muncul suatu respon dalam bentuk perasaan terharu, bila seseorang yang penuh konsentrasi dan kesadaran melihat apapun yang muncul dalam dirinya tanpa menanggapi? Ini sebenarnya seiring diulas. Mari kita bertanya pada diri sendiri,  apakah suatu bentuk batin entah baik atau buruk, akan bertabah besar bila tak ditanggapi? Akankah suatu api bertambah besar bila tak disiram minyak atau bila tak ditambah bahan bakarnya?

Jangankan seorang Arahat yang luar biasa, sedangkan seorang meditator Vipassana (tentu yang sudah agak maju) bila mampu menyadari dengan cepat maka bentuk-bentuk batin seketika lenyap waktu disadari.

Dengan fakta yang dialami seorang meditator demikian, wajarkah bila ia kemudian menyatakan bahwa seorang Arahat tak mungkin menangis atau tertawa?

 _/\_



Mbah Fabian yg baik,

penjelasan Ko Fabian sudah saya jawab termasuk kerancuannya pada tulisan2 diatas. smoga membacanya,tetapi mbah menghindar dari pertanyaan saya lho. ;D

Anggaplah saya orang yang ingin tahu/bodoh/serta keras kepala untuk tahu..tentu mbah kan lebih pengalaman..dan saya lihat mbah mengatakan memiliki alasan kuat untuk ini yang saya tafsirkan mbah memiliki suatu kepastian arahat tidak mungkin menangis... tetapi mengapa tidak menjawab pertanyaan saya  di hal Reply #2, bukankah itu penghindaran? Penjelasan diatas tidak menjadi valid kalau tidak menjawab dulu pertanyaan saya.
 
Umat awam tidak terikat vinaya bhikkhu, jadi ngak usah malu2 mbah.

Terima kasih

 _/\_

« Last Edit: 28 November 2009, 12:01:09 PM by bond »
Natthi me saranam annam, Buddho me saranam varam, Etena saccavajjena, Sotthi te hotu sabbada

Offline fabian c

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.095
  • Reputasi: 128
  • Gender: Male
  • 2 akibat pandangan salah: neraka atau rahim hewan
Re: Pertanyaan seputar Luanta Mahaboowa
« Reply #65 on: 28 November 2009, 01:20:15 PM »
Sdr Bond yang baik,

Menurut Abhidhamma seorang Arahat batinnya sudah tak memiliki kemelekatan terhadap segala sesuatu yang muncul pada kelima khandha (panca khandha), bila ada sesuatu hal yang muncul dan memerlukan pemikiran maka Ia harus mengarahkan batinnya untuk berpikir, menganalisa dsbnya, semua ini tidak terjadi secara otomatis seperti pada Putthujana dan inilah yang dimaksud dalam Abhidhamma sebagai Kiriya

Seorang Arahat memiliki batin yang seimbang juga disebabkan ketidak melekatannya pada kelima khandha sehingga tidak merespon terhadap apapun yang muncul pada kelima khandha (kecuali) menginginkannya.

Sekedar gambaran: pada latihan Vipassana yang saya ikuti bahkan kita diajarkan oleh pembimbing harus sadar ketika hendak mengedipkan mata.

Bukan hanya kedipan mata, bahkan setiap arus batin yang muncul, apapun bentuknya berusaha untuk disadari. Pada Arahat semua respon terhadap gerakan batin selalu terjadi secara sadar tidak terjadi secara spontan atau otomatis, semua disadari jadi harus diarahkan. Seorang Arahat sadar ketika menutup mata atau membuka mata.

Seorang arahat melihat semua kejadian yang terjadi di alam semesta sebagai hal yang alami (natural). Ia selalu melihat segala sesuatu apa adanya. Ia sudah tak merespon (secara otomatis) Apapun bentuk-bentuk yang nampak maupun yang muncul pada batin.

Apakah ada keseimbangan batin bila muncul pikiran terharu misalnya: menyadari keagungan Sang Buddha, Dhamma dan Sangha? Atau ia merasa terharu pada kebaikan dan kemuliaan hati yang dilakukan seseorang kepadanya?

Akankah muncul suatu respon dalam bentuk perasaan terharu, bila seseorang yang penuh konsentrasi dan kesadaran melihat apapun yang muncul dalam dirinya tanpa menanggapi? Ini sebenarnya seiring diulas. Mari kita bertanya pada diri sendiri,  apakah suatu bentuk batin entah baik atau buruk, akan bertabah besar bila tak ditanggapi? Akankah suatu api bertambah besar bila tak disiram minyak atau bila tak ditambah bahan bakarnya?

Jangankan seorang Arahat yang luar biasa, sedangkan seorang meditator Vipassana (tentu yang sudah agak maju) bila mampu menyadari dengan cepat maka bentuk-bentuk batin seketika lenyap waktu disadari.

Dengan fakta yang dialami seorang meditator demikian, wajarkah bila ia kemudian menyatakan bahwa seorang Arahat tak mungkin menangis atau tertawa?

 _/\_



Mbah Fabian yg baik,

penjelasan Ko Fabian sudah saya jawab termasuk kerancuannya pada tulisan2 diatas. smoga membacanya,tetapi mbah menghindar dari pertanyaan saya lho. ;D

Anggaplah saya orang yang ingin tahu/bodoh/serta keras kepala untuk tahu..tentu mbah kan lebih pengalaman..dan saya lihat mbah mengatakan memiliki alasan kuat untuk ini yang saya tafsirkan mbah memiliki suatu kepastian arahat tidak mungkin menangis... tetapi mengapa tidak menjawab pertanyaan saya  di hal Reply #2, bukankah itu penghindaran? Penjelasan diatas tidak menjadi valid kalau tidak menjawab dulu pertanyaan saya.
 
Umat awam tidak terikat vinaya bhikkhu, jadi ngak usah malu2 mbah.

Terima kasih

 _/\_



Saudara Bond yang baik,

Alasan mengapa saya tak mau menanggapi reply #2 adalah karena saya tak mau terlibat lebih jauh untuk mengungkapkan hal-hal yang kiranya menurut saya kurang tepat dilakukan oleh seorang Bhikkhu.

Diskusi dengan topik demikian bagi saya kurang nyaman.

Oleh karena itu saya tidak mau lebih jauh menanggapi diskusi ini bila akhirnya mengungkap hal-hal tsb lebih jauh, lebih baik diskusi diarahkan pada topik mengenai bagaimana keadaan batin seorang Arahat menurut Tipitaka/atthakata dan pengalaman meditator, apakah bisa menangis atau tidak, lalu dari sana masing-masing pembaca menilai sendiri.

Harap saudara Bond maklum, diwaktu saya masih semangat muda beberapa kali saya mengkultuskan bhikkhu, dan kemudian ternyata bhikkhu tersebut melakukan hal-hal yang tidak pantas.
Kemudian saya kecewa dan marah kepada bhikkhu tersebut. Oleh karena itu saya tak pernah lagi meng-kultuskan bhikkhu.

Oleh karena saya tak pernah lagi mengkultuskan bhikkhu maka bila ada bhikhu melakukan hal yang menurut saya tidak pantas maka saya dapat menerima dan memaklumi. Memaklumi maksudnya berkata dalam hati "yah itu hal yang wajar dilakukan bila seseorang batinnya belum sepenuhnya terbebaskan", Jadi... bila ada bhikkhu yang melakukan hal-hal yang tidak pantas saya tidak kecewa.

Saya teringat ada cerita yang terjadi di masa yang lampau, ada seseorang yang dijuluki "jiwa yang agung", suatu ketika ia berjalan dengan pengikutnya, kemudian di suatu tempat tiba-tiba muncul seseorang lalu meludahi mukanya didepan para pengikutnya. Tentu saja serentak para pengikut yang mengiringinya menangkap orang itu lalu ramai ramai akan memukulinya.

"Jiwa agung" lalu melerai dan menyuruh pengikutnya melepaskan orang itu. Dengan heran mereka bertanya "mengapa anda menyuruh kami melepaskan orang itu?"
Jawab sang jiwa agung, "yang diludahi adalah saya, seharusnya saya yang marah, saya yang diludahi saja tidak marah, mengapa kalian marah kepada dia? apakah dia meludahi kalian?".

Semoga ini menjadi bahan perenungan kita semua.

Oh ya yang dimaksud Jiwa agung tersebut adalah Mohandas Karamchand Gandhi atau yang lebih dikenal sebagai Mahatma Gandhi.

 _/\_
« Last Edit: 28 November 2009, 01:27:16 PM by fabian c »
Tiga hal ini, O para bhikkhu dilakukan secara rahasia, bukan secara terbuka.
Bercinta dengan wanita, mantra para Brahmana dan pandangan salah.

Tiga hal ini, O para Bhikkhu, bersinar secara terbuka, bukan secara rahasia.
Lingkaran rembulan, lingkaran matahari serta Dhamma dan Vinaya Sang Tathagata

Offline fabian c

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.095
  • Reputasi: 128
  • Gender: Male
  • 2 akibat pandangan salah: neraka atau rahim hewan
Re: Pertanyaan seputar Luanta Mahaboowa
« Reply #66 on: 28 November 2009, 01:45:15 PM »
Latar belakang Y.A. Pilinda vaccha, yang suka memanggil orang lain dengan sebutan "candala...candala..." disebabkan dalam kehidupan beliau yang lampau, selama 500 kelahiran beliau selalu terlahir di keluarga brahmana terpandang. Sehingga terbiasa memanggil orang dengan sebutan Candala...Candala... (outcaste...outcaste....)

Mungkin padanannya ceritanya demikian: ada seseorang yang terbiasa memanggil orang lain lu-gua....bahkan kepada orang yang jauh lebih tua umurnya dari dia. Mungkin kita beranggapan ini orang kok ngomong kasar terhadap orang yang jauh lebih tua daripada dia?

Tetapi bila kita tahu latar belakangnya bahwa, dari kecil ia terbiasa memanggil lu-gua terhadap semua orang, bahkan terhadap orang tuanya sendiri. Apakah ia bermaksud menghina ketika memanggil orang lain yang jauh lebih tua dari dia dengan lu-gua? Walaupun ia berbicara tanpa bermaksud kurang ajar umumnya kita tak dapat menerima kan?

Demikian juga dengan Y.A. Pilindavaccha, ia memanggil orang bukan dengan pikiran buruk, itu hanya kebiasaan yang mengakar.

 _/\_
« Last Edit: 28 November 2009, 01:51:50 PM by fabian c »
Tiga hal ini, O para bhikkhu dilakukan secara rahasia, bukan secara terbuka.
Bercinta dengan wanita, mantra para Brahmana dan pandangan salah.

Tiga hal ini, O para Bhikkhu, bersinar secara terbuka, bukan secara rahasia.
Lingkaran rembulan, lingkaran matahari serta Dhamma dan Vinaya Sang Tathagata

Offline bond

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.666
  • Reputasi: 189
  • Buddhang Saranam Gacchami...
Re: Pertanyaan seputar Luanta Mahaboowa
« Reply #67 on: 28 November 2009, 03:32:24 PM »
Sdr Bond yang baik,

Menurut Abhidhamma seorang Arahat batinnya sudah tak memiliki kemelekatan terhadap segala sesuatu yang muncul pada kelima khandha (panca khandha), bila ada sesuatu hal yang muncul dan memerlukan pemikiran maka Ia harus mengarahkan batinnya untuk berpikir, menganalisa dsbnya, semua ini tidak terjadi secara otomatis seperti pada Putthujana dan inilah yang dimaksud dalam Abhidhamma sebagai Kiriya

Seorang Arahat memiliki batin yang seimbang juga disebabkan ketidak melekatannya pada kelima khandha sehingga tidak merespon terhadap apapun yang muncul pada kelima khandha (kecuali) menginginkannya.

Sekedar gambaran: pada latihan Vipassana yang saya ikuti bahkan kita diajarkan oleh pembimbing harus sadar ketika hendak mengedipkan mata.

Bukan hanya kedipan mata, bahkan setiap arus batin yang muncul, apapun bentuknya berusaha untuk disadari. Pada Arahat semua respon terhadap gerakan batin selalu terjadi secara sadar tidak terjadi secara spontan atau otomatis, semua disadari jadi harus diarahkan. Seorang Arahat sadar ketika menutup mata atau membuka mata.

Seorang arahat melihat semua kejadian yang terjadi di alam semesta sebagai hal yang alami (natural). Ia selalu melihat segala sesuatu apa adanya. Ia sudah tak merespon (secara otomatis) Apapun bentuk-bentuk yang nampak maupun yang muncul pada batin.

Apakah ada keseimbangan batin bila muncul pikiran terharu misalnya: menyadari keagungan Sang Buddha, Dhamma dan Sangha? Atau ia merasa terharu pada kebaikan dan kemuliaan hati yang dilakukan seseorang kepadanya?

Akankah muncul suatu respon dalam bentuk perasaan terharu, bila seseorang yang penuh konsentrasi dan kesadaran melihat apapun yang muncul dalam dirinya tanpa menanggapi? Ini sebenarnya seiring diulas. Mari kita bertanya pada diri sendiri,  apakah suatu bentuk batin entah baik atau buruk, akan bertabah besar bila tak ditanggapi? Akankah suatu api bertambah besar bila tak disiram minyak atau bila tak ditambah bahan bakarnya?

Jangankan seorang Arahat yang luar biasa, sedangkan seorang meditator Vipassana (tentu yang sudah agak maju) bila mampu menyadari dengan cepat maka bentuk-bentuk batin seketika lenyap waktu disadari.

Dengan fakta yang dialami seorang meditator demikian, wajarkah bila ia kemudian menyatakan bahwa seorang Arahat tak mungkin menangis atau tertawa?

 _/\_



Mbah Fabian yg baik,

penjelasan Ko Fabian sudah saya jawab termasuk kerancuannya pada tulisan2 diatas. smoga membacanya,tetapi mbah menghindar dari pertanyaan saya lho. ;D

Anggaplah saya orang yang ingin tahu/bodoh/serta keras kepala untuk tahu..tentu mbah kan lebih pengalaman..dan saya lihat mbah mengatakan memiliki alasan kuat untuk ini yang saya tafsirkan mbah memiliki suatu kepastian arahat tidak mungkin menangis... tetapi mengapa tidak menjawab pertanyaan saya  di hal Reply #2, bukankah itu penghindaran? Penjelasan diatas tidak menjadi valid kalau tidak menjawab dulu pertanyaan saya.
 
Umat awam tidak terikat vinaya bhikkhu, jadi ngak usah malu2 mbah.

Terima kasih

 _/\_



Saudara Bond yang baik,

Alasan mengapa saya tak mau menanggapi reply #2 adalah karena saya tak mau terlibat lebih jauh untuk mengungkapkan hal-hal yang kiranya menurut saya kurang tepat dilakukan oleh seorang Bhikkhu.

Diskusi dengan topik demikian bagi saya kurang nyaman.

Oleh karena itu saya tidak mau lebih jauh menanggapi diskusi ini bila akhirnya mengungkap hal-hal tsb lebih jauh, lebih baik diskusi diarahkan pada topik mengenai bagaimana keadaan batin seorang Arahat menurut Tipitaka/atthakata dan pengalaman meditator, apakah bisa menangis atau tidak, lalu dari sana masing-masing pembaca menilai sendiri.

Harap saudara Bond maklum, diwaktu saya masih semangat muda beberapa kali saya mengkultuskan bhikkhu, dan kemudian ternyata bhikkhu tersebut melakukan hal-hal yang tidak pantas.
Kemudian saya kecewa dan marah kepada bhikkhu tersebut. Oleh karena itu saya tak pernah lagi meng-kultuskan bhikkhu.

Oleh karena saya tak pernah lagi mengkultuskan bhikkhu maka bila ada bhikhu melakukan hal yang menurut saya tidak pantas maka saya dapat menerima dan memaklumi. Memaklumi maksudnya berkata dalam hati "yah itu hal yang wajar dilakukan bila seseorang batinnya belum sepenuhnya terbebaskan", Jadi... bila ada bhikkhu yang melakukan hal-hal yang tidak pantas saya tidak kecewa.

Saya teringat ada cerita yang terjadi di masa yang lampau, ada seseorang yang dijuluki "jiwa yang agung", suatu ketika ia berjalan dengan pengikutnya, kemudian di suatu tempat tiba-tiba muncul seseorang lalu meludahi mukanya didepan para pengikutnya. Tentu saja serentak para pengikut yang mengiringinya menangkap orang itu lalu ramai ramai akan memukulinya.

"Jiwa agung" lalu melerai dan menyuruh pengikutnya melepaskan orang itu. Dengan heran mereka bertanya "mengapa anda menyuruh kami melepaskan orang itu?"
Jawab sang jiwa agung, "yang diludahi adalah saya, seharusnya saya yang marah, saya yang diludahi saja tidak marah, mengapa kalian marah kepada dia? apakah dia meludahi kalian?".

Semoga ini menjadi bahan perenungan kita semua.

Oh ya yang dimaksud Jiwa agung tersebut adalah Mohandas Karamchand Gandhi atau yang lebih dikenal sebagai Mahatma Gandhi.

 _/\_

Ko Fabian yg baik,

Dalam hal ini saya tidak mengkultuskan bhikkhu tetapi bila sebuah pernyataan yg pasti tentu harus bisa dipertanggungjawabkan didepan umum apabila itu juga diutarakan didepan umum. Saya tidak tau apa yg dimaksud mbah tidak ingin menungkapkan hal2 yang lebih jauh?
katakan itu hal yang kontroversi, maka apakah mbah pernah tinggal bersama Luangta, melihatnya sendiri, berdiskusi dengan dia? Jadi sebaiknya membuat alasan tanpa dasar apalagi Luangta bagian dari Sangha. Dengan kepastian pernyataan mbah bahwa Luangta pasti belum arahat bisa menyesatkan mereka yg masih minim pengetahuan Dhammanya dan jika isu itu bukan dilihat dengan mata kepala sendiri hanya karena desas-desus dan tidak sesuai kenyataan tentu mbah juga tau akibat bagi diri mbah sendiri. Saya sendiri telah menyaksikan sendiri tentang dia. Dan saya akan mempertanyakan hal yg sama bukan hanya karena Luangta saja..tetapi jika ada Bhikkhu yang diperlakukan tanpa dasar yang kuat dan cukup bukti. Saya pun senang berdiskusi dengan teman2 lain yang dengan jujur mengakui bahwa tidak sada seorang pun tau batin orang lain apalagi arahat. Sehingga diskusi hanya sebatas argumen2 biasa.

Ini contoh nyata implikasi yang tidak baik..

Quote
by maya devi

Dulu teman saya sempat terpengaruh dengan ucapan seorang moderator buddhis yang menyinggung tentang seorang yang mengaku arahat tetapi menangis.
Kita sama-sama tahu siapakah yang dimaksud sang moderator.
Saya kasihan melihat reaksi teman saya, sampe dia kehilangan kesempatan bertemu dengan Luangta. Ketika teman berkomentar saya cuma bilang coba aja ketemu, setelah ketemu dia pasti ga mampu berkomentar  

Lihat implikasi diatas.
sekalipun diforum terbuka ini dikembalikan diri masing2. Tapi orang yg mengatakan itu tetap ada andil pada kamma buruk. apalagi hal itu bukan fakta. Jika fakta maka harus dibuktikan . Jika tidak, itu suatu penghinaan terhadap  Sangha. Ingat Bhikkhu adalah simbol sangha, jika ia patut dicela maka harus ada bukti kuat. Dan Sangha di Thailand memiliki wewenang untuk itu. Boleh2 saja2 ada yang menanggap saya marah dan masih muda karena mengkultuskan tapi saya siap mengaku salah jika saya salah, dan saya siap menanggung apabila saya salah menilai nantinya ketika bukti kuat itu ada. Bagi saya mbah siapapun bhikkhu sama saja sebagai simbol sangha tapi jangan sembarangan ngomong. Bisa2 nanti ada yg bilang bhikkhu A begini dan bhikkhu B begitu.
Kalau mempertanyakan dengan semangat ehipasiko untuk mengetahui bagi saya adalah wajar.

Tapi ya sudahlah bagi saya setiap orang punya alasan dan selama tidak ada bukti kuat maka tetap tidak valid .

Semua keterangan mbah hanya mengambil keterangan Sang Buddha(Pillinda vacca), itu tidak menjawab pertanyaan saya, silakan baca yg teliti. Argumen mbah sudah terjawab jauh2 hari sebelum mbah menjawab dengan penjelasan yg klise.

Kedua kalau mau dibilang berdasarkan Tipitaka. Tetap tidak ada dalam Tipitaka mengenai kasus Luangta yg menjelaskan secara jelas. Semuanya hanyalah kasus nangis karena akusala citta yang muncul. Dan pertanya reply #2 juga bukan satu ada beberapa sampai terakhir  kasus Ananda. Mbah hanya berputar pada teori dan katanya guru meditator dsb..yang mana semuanya adalah penjelasan umum. Tipitaka pun tidak membuktikan penjelasan apapun dan katakan ada petunjuk masih kabur.Oleh karena itu jika tak ingin menjawab maka janganlah membuat pernyataan yang aneh2.
 [at] ko Fabian yang  baik dan all saya tidak marah jika orang menghina sangha atau Luangta tapi hanya mengingatkan sebagai sahabat. Apalagi kita disini semua buddhist, jika bukan Sangha yg terdiri dari bhikkhu siapa lagi yg bisa mempertahankan sekuat mereka mempertahankan Dhamma. Itu saja. Kalau saya terlihat keras dalam hal ini saya mohon maaf dan saya juga tidak akan memaksa lagi mbah untuk menjawab dan sepanjang itu pula argumen anda tentang Luangta tidak valid hanya sebuah dugaan2 saja.


Smoga maju dalam Dhamma
« Last Edit: 28 November 2009, 03:40:16 PM by bond »
Natthi me saranam annam, Buddho me saranam varam, Etena saccavajjena, Sotthi te hotu sabbada

Offline tesla

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.428
  • Reputasi: 125
  • Gender: Male
  • bukan di surga atau neraka, hanya di sini
Re: Pertanyaan seputar Luanta Mahaboowa
« Reply #68 on: 28 November 2009, 04:14:45 PM »
Dalam hal ini saya tidak mengkultuskan bhikkhu tetapi bila sebuah pernyataan yg pasti tentu harus bisa dipertanggungjawabkan didepan umum apabila itu juga diutarakan didepan umum. Saya tidak tau apa yg dimaksud mbah tidak ingin menungkapkan hal2 yang lebih jauh?
sekaligus menjawab kenapa saya meragukan Luanta, walaupun saya tadinya tidak mengatakan pasti. tetapi saya ingin memperjelas sedikit lebih jauh...

salah satu alasan adalah, Sang Buddha telah menegaskan, tentang mereka yg telah bebas, tidak ada lagi cara di dunia ini utk menjelaskannya :) Luan banyak bicara soal setelah nibbana (padam). apa Luanta lebih bijaksana daripada Buddha shg dapat menceritakan?
dibagian lain bahkan Sang Buddha mengatakan sesuatu yg diluar dunia, jika dijelaskan ujung2 hanya menghasilkan kekecewaan, krn penjelasan tsb tidak memiliki dasar (di dunia).

nah disini hanya pendapat saya saja:
seorang sekkha mungkin akan menceritakan pendapatnya yg lain shg menimbulkan kebinggungan bagi yg mendengarkan... namun arahat tidak akan, krn dia mengerti sangaaaaat jelas bahwa itu diluar dunia.
sekali lagi itu pun hanya spekulasi saya... jadi saya pun mungkin salah :)

Quote
by maya devi

Dulu teman saya sempat terpengaruh dengan ucapan seorang moderator buddhis yang menyinggung tentang seorang yang mengaku arahat tetapi menangis.
Kita sama-sama tahu siapakah yang dimaksud sang moderator.
Saya kasihan melihat reaksi teman saya, sampe dia kehilangan kesempatan bertemu dengan Luangta. Ketika teman berkomentar saya cuma bilang coba aja ketemu, setelah ketemu dia pasti ga mampu berkomentar 

tambahan: penggunaan kata "pasti" juga boleh diartikan sebagai penegasan...
jadi jgn dipersoalkan bahwa kata "pasti" adalah sebuah tuduhan serius...
bagaimanapun, yg mengucapkan kata "pasti" adalah satu sudut pandang (manusia) yg artinya adalah sebuah pandangan juga.

jika dipidanakan, ntar kata "pasti" bisa lenyap dari forum ini :)) (joke)
Lepaskan keserakahan akan kesenangan. Lihatlah bahwa melepaskan dunia adalah kedamaian. Tidak ada sesuatu pun yang perlu kau raup, dan tidak ada satu pun yang perlu kau dorong pergi. ~ Buddha ~

Offline bond

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.666
  • Reputasi: 189
  • Buddhang Saranam Gacchami...
Re: Pertanyaan seputar Luanta Mahaboowa
« Reply #69 on: 28 November 2009, 04:31:55 PM »
^
^

Ngak serius koq.... sama halnya tuduhan hanya penegasan untuk sebuah pandangan yg dikatakan pasti tetapi belum tentu benar juga kan . semuanya tidak ada yg pasti :)) yang pasti kalau terbukti.

Tentu Sang Buddha lebih jelas dalam menjelaskan.  perkataan Sang Buddha saja masih sering disalah artikan apalagi seorang Luangta, maka dengan kerendahan hati Luangta pun sering meminta maaf jika menimbulkan kebingungan karena tidak ada kata yg tepat untuk menjelaskan sesuatu yg abstrak.

Bahkan arahat2 dijaman Milinda Panha pun banyak yang tidak bisa menjawab pertanyaan raja Milinda kecuali YM Nagasena.

« Last Edit: 28 November 2009, 04:44:42 PM by bond »
Natthi me saranam annam, Buddho me saranam varam, Etena saccavajjena, Sotthi te hotu sabbada

Offline fabian c

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.095
  • Reputasi: 128
  • Gender: Male
  • 2 akibat pandangan salah: neraka atau rahim hewan
Re: Pertanyaan seputar Luanta Mahaboowa
« Reply #70 on: 28 November 2009, 05:29:47 PM »
Saudara Bond yang baik,

Mungkin ada baiknya saudara Bond bertanya kepada ahli-ahli abhidhamma mengenai hal ini. Kan ada ceu Lily ama bang Markos bisa dimintai pendapatnya sebagai referensi disini. Mungkinkah seorang Arahat tertawa atau menangis? Bedakan antara menangis dan keluar air mata (walaupun saya menduga bahwa keluar air mata juga mungkin ada perasaan yang terlibat).

Referensi mengenai Arahat bisa tertawa? tak ada disebutkan di sutta, tetapi di pelajaran Abhidhamma ada di jelaskan.

Inilah sebabnya saya mengatakan bahwa Abhidhamma merupakan bagian yang integral dari Tipitaka yang saling melengkapi. Karena banyak hal yang tak terjawab di Sutta.

Demikian juga tanpa sutta mungkin kita tak banyak tahu mengenai kisah Sang Buddha dan para Siswa.

 _/\_
Tiga hal ini, O para bhikkhu dilakukan secara rahasia, bukan secara terbuka.
Bercinta dengan wanita, mantra para Brahmana dan pandangan salah.

Tiga hal ini, O para Bhikkhu, bersinar secara terbuka, bukan secara rahasia.
Lingkaran rembulan, lingkaran matahari serta Dhamma dan Vinaya Sang Tathagata

Offline bond

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.666
  • Reputasi: 189
  • Buddhang Saranam Gacchami...
Re: Pertanyaan seputar Luanta Mahaboowa
« Reply #71 on: 28 November 2009, 06:22:53 PM »
Quote
Bedakan antara menangis dan keluar air mata (walaupun saya menduga bahwa keluar air mata juga mungkin ada perasaan yang terlibat).

Sudah diteliti belum mbah beda menangis dan keluar airmata?   arahat tidak ada perasaan yg terlibat ya dalam  reaksi rupakhanda?  ^-^



Quote
Inilah sebabnya saya mengatakan bahwa Abhidhamma merupakan bagian yang integral dari Tipitaka yang saling melengkapi. Karena banyak hal yang tak terjawab di Sutta.

Baiklah secara jelas anda telah mengakui bahwa banyak hal tidak terjawab dalam sutta. Sekarang nampaknya abhidhamma yang ingin digunakan....baiklah kalau begitu.

Sebaiknya mbah saja yang tanya pada ahli abhidhamma supaya sama2 mengerti secara berimbang. kalau saya sudah pernah tanya.
Tapi kalau mereka mau menerangkan kembali dengan sukarela, saya siap mendengarkan keterangan mereka.

 _/\_











« Last Edit: 28 November 2009, 06:33:46 PM by bond »
Natthi me saranam annam, Buddho me saranam varam, Etena saccavajjena, Sotthi te hotu sabbada

Offline bond

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.666
  • Reputasi: 189
  • Buddhang Saranam Gacchami...
Re: Pertanyaan seputar Luanta Mahaboowa
« Reply #72 on: 28 November 2009, 06:43:26 PM »
^
^
Thanks Samanera untuk referensinya.

Jadi ratap tangis = nangis tersedu-sedu? atau
ratap tangis = keluar airmata? atau
Keluar air mata belum tentu ratap tangis.tergantung sebabnya? atau

dan kalo dilihat urutannya "berubah tidak ada yang mampu memunculkan kesedihan, ratap tangis, penderitaan, stress dan keputus-asaan pada diriku. “ penyebabnya semuanya adalah akusala. So ?   ;D

Biasanya sih...ratap tangis itu berhubungan dengan kesedihan, penderitaan, stress dll.

Kalau menangis bahasa palinya apa dan ratap tangis bahasa palinya apa? dan keluar airmata bahasa palinya apa?


 _/\_





Tadi udah saya kutip, kok nggak lihat pertanyaan yang paling bawah..

Menangis = rodana. Bond menangis: Bond rodati. Bond menangis karena digigit anjing: Bond suṇakhena daṭṭho rodati. :D


Kata parideva telah diterjemahkan ke bahasa inggris sebagai lamentation. Visuddhimagga menerangkan bahwa parideva adalah kesedihan yang disertai dengan memukul-mukul dadanya. Jadi dengan jelas ini merupakan an act of crying.. Saya merasa cocok untuk menerjemahkan istilah parideva sebagai ratap tangis..

Kata assupātana bisa diterjemahkan sebgai keluar air mata. assu adalah air mata, pātana: jatuh.. assupātana yang secara literal adalah 'air mata yang jatuh', bisa dikatakan sebagai 'keluar air mata'.

Be happy.



Terima kasih atas bahasa palinya Samanera.

Smoga berbahagia slalu. _/\_
Natthi me saranam annam, Buddho me saranam varam, Etena saccavajjena, Sotthi te hotu sabbada

Offline fabian c

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.095
  • Reputasi: 128
  • Gender: Male
  • 2 akibat pandangan salah: neraka atau rahim hewan
Re: Pertanyaan seputar Luanta Mahaboowa
« Reply #73 on: 28 November 2009, 06:46:23 PM »
Saudara Bond yang baik,

Coba perhatikan kembali foto-foto tersebut, dan katakan pada saya sejujurnya, apakah ada ekspresi atau tidak di wajahnya?

Apakah seseorang yang sudah upekkha (karena tak melekat pada pancakhandha) seperti seorang Arahat, akan menunjukkan ekspresi bahagia, senang, sedih dlsbnya?
 
 _/\_
Tiga hal ini, O para bhikkhu dilakukan secara rahasia, bukan secara terbuka.
Bercinta dengan wanita, mantra para Brahmana dan pandangan salah.

Tiga hal ini, O para Bhikkhu, bersinar secara terbuka, bukan secara rahasia.
Lingkaran rembulan, lingkaran matahari serta Dhamma dan Vinaya Sang Tathagata

Offline marcedes

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.528
  • Reputasi: 70
  • Gender: Male
  • May All Being Happinesssssssss
Re: Pertanyaan seputar Luanta Mahaboowa
« Reply #74 on: 28 November 2009, 07:59:35 PM »
menurut foto sih, mbah fabian yg benar..awalnya sy kira menangis biasa saja....misalkan merasakan piti atau sukha luar biasa.
karena saya pernah melihat bikkhu thai yang sangat senior..sewaktu dibacakan sebuah bahasa pali tentang persembahan jubah,dsb-nya pada hari kathina, bikkhu itu meditasi dengan mata tertutup tapi air matanya keluar...
banyak umat tidak mengetahui, tapi saya melihat dengan pasti karena saya duduk, depan bikkhu tersebut dengan jarak 1 meter.
tapi bikkhu itu duduk seperti meditasi biasa,hanya saja air mata nya keluar....

beda dengan foto dalam buku tersebut....memang kelihatan Luanta menangis...bukan karena reaksi fisik[ seperti kena bawang ]

---------------------------------------------------------------------------------------------------
tapi, Luanta kan Sangha Thai, apabila Luanta berbohong pasti sudah di jatuhi hukuman vinaya oleh pihak sangha sana....
apalagi para bikkhu detektor kesucian banyak disitu. ;D

Ada penderitaan,tetapi tidak ada yang menderita
Ada jalan tetapi tidak ada yang menempuhnya
Ada Nibbana tetapi tidak ada yang mencapainya.

TALK LESS DO MOREEEEEE !!!