Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Menurut Pak Hud jalan mulia beruas 8 itu bisa membawa kebebasan tidak?  (Read 60581 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline hudoyo

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.919
  • Reputasi: 20
Menurut Pak Hud jalan mulia beruas 8 itu bisa membawa kebebasan tidak? (cuma nanya, jadi mau tahu gimana pandangan Pak Hud mengenai jalan beruas 8 ) :))

Menurut hemat saya, kalau orang melekat pada Jalan Mulia Berunsur Delapan ia akan tetap terbelenggu.
Karena sesungguhnya tidak ada jalan ... tidak ada tujuan ... tidak ada pantai seberang.
Nibbana itu sendiri berarti padam.

Salam,
Hudoyo

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.382
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
secara ultimitnya demikian sih pak hud, tapi secara relatifnya itu semua ada.

jadi kalau menjalankan jalan mulia berunsur 8, apakah bisa pak?
There is no place like 127.0.0.1

Offline williamhalim

  • Sebelumnya: willibordus
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.870
  • Reputasi: 134
  • Gender: Male
Mungkin perlu direnungkan:

Dengan tidak memenuhi salah satu unsur JMB-8, akankah bisa dicapai pencerahan?

::
Walaupun seseorang dapat menaklukkan beribu-ribu musuh dalam beribu kali pertempuran, namun sesungguhnya penakluk terbesar adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri (Dhammapada 103)

Offline Mr. Wei

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.074
  • Reputasi: 99
  • Gender: Male
Wah, pertanyaan saya dijadiin thread baru, jadi malu ;D

secara ultimitnya demikian sih pak hud, tapi secara relatifnya itu semua ada.

jadi kalau menjalankan jalan mulia berunsur 8, apakah bisa pak?

Bahasa Suhu ketinggian, aye gak bisa nangkep maksudnya...

Offline Hendra Susanto

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.198
  • Reputasi: 205
  • Gender: Male
  • haa...
IMO

jalan mulia berunsur delapan itu adalah bagian jalan menuju pemadaman itu sendiri, seperti monitor ama kibot masak mao pisah2

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.409
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
kenapa harus rumusnya jalan mulia berunsur 8, bukan 7 atau 9 ?
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline hudoyo

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.919
  • Reputasi: 20
secara ultimitnya demikian sih pak hud, tapi secara relatifnya itu semua ada.
jadi kalau menjalankan jalan mulia berunsur 8, apakah bisa pak?

Apa yang dimaksud dengan 'ultimate' dan 'relatif'?
Menurut hemat saya, pembebasan itu seperti proses digital, 'ya' atau 'tidak', 'bangun' atau 'bermimpi'; tidak ada pembebasan 'bertahap', sekalipun durasi pembebasan itu bisa 'sementara' bisa pula 'permanen'.
Pembebasan terjadi dalam sadar/vipassana; dalam vipassana tidak ada konsep: tidak ada 4 Kebenaran Mulia, tidak ada Jalan Mulia berunsur 8. 4KM dan JM8 itu dimaksudkan bagi mereka yang masih 'bermimpi', maksudnya masih berada dalam alam pikiran. Bila orang 'bangun', semua 'mimpi' itu lenyap.
Jadi sehubungan dengan pertanyaan Anda, kalau yang dimaksud dengan "menjalankan jalan mulia berunsur 8' itu adalah mengingat-ingat terus JMB-8 itu di dalam "latihan", jelas tidak bisa, itu bukan vipassana namanya.

Mungkin perlu direnungkan:
Dengan tidak memenuhi salah satu unsur JMB-8, akankah bisa dicapai pencerahan?
::

Pertanyaan ini pertanyaan teoretis.
Dalam vipassana tidak ada lagi JMB-8, tidak ada pemilahan menjadi 4, 8 dsb, semua itu kerja pikiran. Yang ada hanyalah sadar atau tidak sadar; tidak ada lagi teori-teori.

IMO
jalan mulia berunsur delapan itu adalah bagian jalan menuju pemadaman itu sendiri, seperti monitor ama kibot masak mao pisah2

Umat Buddha yang pada saat menjalankan vipassana HARUS MELEPASKAN konsep 4KM, JMB8 dsb dsb.
Umat non-Buddhis yang mau menjalankan vipassana TIDAK PERLU BELAJAR konsep 4 KM, JMB8 dsb dsb.

kenapa harus rumusnya jalan mulia berunsur 8, bukan 7 atau 9 ?

Itulah, ini pertanyaan yang polos ... bisa saja di zaman ini muncul orang tercerahkan dengan konsep pembebasan yang berbeda dengan yang terdapat dalam buddha-dhamma.

Sang Buddha sendiri sering kali meringkaskan ajarannya bukan dalam 4 kebenaran, melainkan cuma dua saja: "Para bhikkhu, saya mengajarkan dunia dan lenyapnya dunia", atau "Para bhikkhu, saya mengajarkan dukkha dan lenyapnya dukkha."

Atau bahkan dalam satu rumusan pendek saja: "Para bhikkhu, seperti samudra mempunyai satu rasa yaitu rasa asin, begitu pula ajaranku mempunyai satu rasa (esensi) yaitu rasa pembebasan."

Salam,
hudoyo
« Last Edit: 22 July 2008, 11:02:41 PM by hudoyo »

Offline Kelana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.226
  • Reputasi: 142
Jika pertanyaannya apakah jalan mulia beruas 8 itu bisa membawa kebebasan atau tidak, maka jawabannya jelas YA.  Disebut magga (jalan) karena itu adalah hal yang harus dilalui dalam menempuh suatu tujuan. Ketika kita mencapai di tujuan maka semuanya akan ditinggalkan termasuk jalan itu sendiri. Nah pada saat itulah bagi mereka yang telah mencapai tujuan muncul pernyataan "tidak ada jalan" karena mereka sudah tidak berjalan dan tidak berada di jalan lagi. Dan juga "tidak ada tujuan" karena tujuan yang ingin ia tuju sebelumnya sudah tercapai, dan  niat untuk menuju tujuan itu sudah tidak ada dengan sendirinya. Masalahnya banyak di antara kita  belum mau melangkah di jalan, jika pun sudah malah asik sendiri bermain dijalanan ataupun berhayal sudah sampai ditujuan atau juga malah keluar dari jalan atau juga berusaha terbang agar tidak menginjak jalan. :)
GKBU
 
_/\_ suvatthi hotu


- finire -

Offline Kelana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.226
  • Reputasi: 142
kenapa harus rumusnya jalan mulia berunsur 8, bukan 7 atau 9 ?

Biar pas bisa dibagi 2  :)) :hammer:
GKBU
 
_/\_ suvatthi hotu


- finire -

Offline hudoyo

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.919
  • Reputasi: 20
Jika pertanyaannya apakah jalan mulia beruas 8 itu bisa membawa kebebasan atau tidak, maka jawabannya jelas YA.  Disebut magga (jalan) karena itu adalah hal yang harus dilalui dalam menempuh suatu tujuan. Ketika kita mencapai di tujuan maka semuanya akan ditinggalkan termasuk jalan itu sendiri. Nah pada saat itulah bagi mereka yang telah mencapai tujuan muncul pernyataan "tidak ada jalan" karena mereka sudah tidak berjalan dan tidak berada di jalan lagi. Dan juga "tidak ada tujuan" karena tujuan yang ingin ia tuju sebelumnya sudah tercapai, dan  niat untuk menuju tujuan itu sudah tidak ada dengan sendirinya. Masalahnya banyak di antara kita  belum mau melangkah di jalan, jika pun sudah malah asik sendiri bermain dijalanan ataupun berhayal sudah sampai ditujuan atau juga malah keluar dari jalan atau juga berusaha terbang agar tidak menginjak jalan. :)

Saya punya pendapat yang berbeda dengan Anda. Sejak awal tidak ada tujuan apa pun, oleh karena itu tidak ada jalan. Yang ada hanyalah sadar akan saat sekarang, sadar akan corak kehidupan yang tidak pernah memuaskan (dukkha), tanpa mengharapkan apa pun, oleh karena si aku tidak mungkin melenyapkan dukkha, yang adalah dirinya sendiri. Sadar itu sendiri membawa perubahan radikal; tidak perlu menempuh jalan apa pun, yang hanya merupakan impian si aku. Masalahnya adalah banyak orang yang tidak mau sadar, karena asyik melekat pada si aku dan milikku dan agamaku, yang dianggapnya membahagiakan dan kekal. Di samping itu, ada pula orang yang sudah mulai sadar akan dukkha karena dia belajar agama Buddha sedikit, tapi tidak sadar bahwa dukkha bersumber pada si aku, sehingga si aku mencari jalan untuk keluar dari dukkha, si aku ingin mencapai kebahagiaan abadi, mencapai nibbana, yang adalah mustahil, karena pada dasarnya si aku itu sendiri adalah dukkha. Tanpa mengenali si aku, Jalan Mulia Berunsur Delapan di dalam agama Buddha hanyalah narkoba yang membuat umat Buddha puas diri, dan tidak benar-benar sadar. Itu bukan ajaran Sang Buddha.
 
Salam,
hudoyo
« Last Edit: 23 July 2008, 06:25:37 AM by hudoyo »

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Jika pertanyaannya apakah jalan mulia beruas 8 itu bisa membawa kebebasan atau tidak, maka jawabannya jelas YA.  Disebut magga (jalan) karena itu adalah hal yang harus dilalui dalam menempuh suatu tujuan. Ketika kita mencapai di tujuan maka semuanya akan ditinggalkan termasuk jalan itu sendiri. Nah pada saat itulah bagi mereka yang telah mencapai tujuan muncul pernyataan "tidak ada jalan" karena mereka sudah tidak berjalan dan tidak berada di jalan lagi. Dan juga "tidak ada tujuan" karena tujuan yang ingin ia tuju sebelumnya sudah tercapai, dan  niat untuk menuju tujuan itu sudah tidak ada dengan sendirinya. Masalahnya banyak di antara kita  belum mau melangkah di jalan, jika pun sudah malah asik sendiri bermain dijalanan ataupun berhayal sudah sampai ditujuan atau juga malah keluar dari jalan atau juga berusaha terbang agar tidak menginjak jalan. :)

Saya punya pendapat yang berbeda dengan Anda. Sejak awal tidak ada tujuan apa pun, oleh karena itu tidak ada jalan. Yang ada hanyalah sadar akan saat sekarang, sadar akan corak kehidupan yang tidak pernah memuaskan (dukkha), tanpa mengharapkan apa pun, oleh karena si aku tidak mungkin melenyapkan dukkha, yang adalah dirinya sendiri. Sadar itu sendiri membawa perubahan radikal; tidak perlu menempuh jalan apa pun, yang hanya merupakan impian si aku. Masalahnya adalah banyak orang yang tidak mau sadar, karena asyik melekat pada si aku dan milikku dan agamaku, yang dianggapnya membahagiakan dan kekal. Di samping itu, ada pula orang yang sudah mulai sadar akan dukkha karena dia belajar agama Buddha sedikit, tapi tidak sadar bahwa dukkha bersumber pada si aku, sehingga si aku mencari jalan untuk keluar dari dukkha, si aku ingin mencapai kebahagiaan abadi, mencapai nibbana, yang adalah mustahil, karena pada dasarnya si aku itu sendiri adalah dukkha. Tanpa mengenali si aku, Jalan Mulia Berunsur Delapan di dalam agama Buddha hanyalah narkoba yang membuat umat Buddha puas diri, dan tidak benar-benar sadar. Itu bukan ajaran Sang Buddha.
 
Salam,
hudoyo

bagaimana bisa untuk SADAR SAAT SEKARANG ?? Perlu latihan atau sekedar mengetahui teori-nya ??
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.850
  • Reputasi: 268
kenapa harus rumusnya jalan mulia berunsur 8, bukan 7 atau 9 ?

Menurut saya, formatnya 8 butir hanya untuk diingat saja. Mungkin di ajaran lain ada pedoman yang jumlahnya 5 atau 10, tetapi juga mencakup 8 faktor tersebut, bisa saja mencapai pembebasan. Jadi yang di Mahaparinibbana Sutta, yang diomongin bukan "format jalan mulia berunsur 8", tetapi format model apapun yang unsur2nya mencakup jalan mulia berunsur 8, akan membawa orang menuju pembebasan.


Quote
Dalam vipassana tidak ada lagi JMB-8, tidak ada pemilahan menjadi 4, 8 dsb, semua itu kerja pikiran. Yang ada hanyalah sadar atau tidak sadar; tidak ada lagi teori-teori.
Menurut teorinya, memang dalam meditasi (baik samatha maupun vipassana), teori harus ditinggalkan. Misalnya dalam Samatha, jika terus menerus 'menghitung' panca-nivarana, rasanya tidak akan mencapai jhana.


Quote
Tanpa mengenali si aku, Jalan Mulia Berunsur Delapan di dalam agama Buddha hanyalah narkoba yang membuat umat Buddha puas diri, dan tidak benar-benar sadar. Itu bukan ajaran Sang Buddha.

Yang membuat umat Buddha puas diri adalah pemahaman 8 Jalan mulia ataupun teori2 lainnya secara tidak benar. Jika mempelajari teori dengan benar, pasti tahu bahwa semua teori itu mengarahkan kita untuk melepas bahkan teori itu sendiri.
Punna Mantaniputta pernah mengatakan, "...Jika sang Bhagava mengajarkan pelepasan melalui satu jalan/pengetahuan, maka Sang Bhagava menunjukkan jalan pembebasan dengan cara 'menggenggam/melekat' pada satu jalan/pengetahuan".

Jadi, sebaiknya jangan disalahkan teorinya, tetapi cara pemahaman yang salah akan teori. Penyalahan terhadap teori tanpa mempelajari teori itu sendiri hanya menimbulkan sikap ekstrim lainnya, yang kita tahu misalnya beberapa orang memang sudah melihat teori dengan sikap antipati. Menurut saya, menggenggam dan membenci teori, sama2 tidak berguna.

« Last Edit: 23 July 2008, 02:49:26 PM by Kainyn_Kutho »

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Jika pertanyaannya apakah jalan mulia beruas 8 itu bisa membawa kebebasan atau tidak, maka jawabannya jelas YA.  Disebut magga (jalan) karena itu adalah hal yang harus dilalui dalam menempuh suatu tujuan. Ketika kita mencapai di tujuan maka semuanya akan ditinggalkan termasuk jalan itu sendiri. Nah pada saat itulah bagi mereka yang telah mencapai tujuan muncul pernyataan "tidak ada jalan" karena mereka sudah tidak berjalan dan tidak berada di jalan lagi. Dan juga "tidak ada tujuan" karena tujuan yang ingin ia tuju sebelumnya sudah tercapai, dan  niat untuk menuju tujuan itu sudah tidak ada dengan sendirinya. Masalahnya banyak di antara kita  belum mau melangkah di jalan, jika pun sudah malah asik sendiri bermain dijalanan ataupun berhayal sudah sampai ditujuan atau juga malah keluar dari jalan atau juga berusaha terbang agar tidak menginjak jalan. :)

Saya punya pendapat yang berbeda dengan Anda. Sejak awal tidak ada tujuan apa pun, oleh karena itu tidak ada jalan. Yang ada hanyalah sadar akan saat sekarang, sadar akan corak kehidupan yang tidak pernah memuaskan (dukkha), tanpa mengharapkan apa pun, oleh karena si aku tidak mungkin melenyapkan dukkha, yang adalah dirinya sendiri. Sadar itu sendiri membawa perubahan radikal; tidak perlu menempuh jalan apa pun, yang hanya merupakan impian si aku. Masalahnya adalah banyak orang yang tidak mau sadar, karena asyik melekat pada si aku dan milikku dan agamaku, yang dianggapnya membahagiakan dan kekal. Di samping itu, ada pula orang yang sudah mulai sadar akan dukkha karena dia belajar agama Buddha sedikit, tapi tidak sadar bahwa dukkha bersumber pada si aku, sehingga si aku mencari jalan untuk keluar dari dukkha, si aku ingin mencapai kebahagiaan abadi, mencapai nibbana, yang adalah mustahil, karena pada dasarnya si aku itu sendiri adalah dukkha. Tanpa mengenali si aku, Jalan Mulia Berunsur Delapan di dalam agama Buddha hanyalah narkoba yang membuat umat Buddha puas diri, dan tidak benar-benar sadar. Itu bukan ajaran Sang Buddha.
 
Salam,
hudoyo

menurut pak hudoyo, yang mana yang ajaran SANG BUDDHA ?? tolong kita kita "dicerahkan" ??
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline williamhalim

  • Sebelumnya: willibordus
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.870
  • Reputasi: 134
  • Gender: Male
Mungkin perlu direnungkan:
Dengan tidak memenuhi salah satu unsur JMB-8, akankah bisa dicapai pencerahan?

Pertanyaan ini pertanyaan teoretis.
Dalam vipassana tidak ada lagi JMB-8, tidak ada pemilahan menjadi 4, 8 dsb, semua itu kerja pikiran. Yang ada hanyalah sadar atau tidak sadar; tidak ada lagi teori-teori.


Betul sekali Pak Hud, dalam vipassana yg ada hanyalah 'kesadaran' (tidak hanya dalam meditasi duduk atau retret, tapi juga pada kehidupan sehari2)
Nah, pada saat 'sadar' tsb, atau ketika 'kesadaran' kita telah mulai meningkat dibanding sebelum latihan (vipassana), tau/tidak tau JMB-8, kenyataan yg terjadi adalah:
~ konsentrasi kita pasti mulai meningkat
~ pemahaman kita akan fenomena kehidupan pasti akan lebih tajam dibanding dulu
~ pikiran kita lebih bersih dibanding dulu
~ ucapan kita lebih sabar dan tidak sembarangan dibanding dulu
~ dstnya
Berarti mau/tidak mau, ternyata ktia telah melalui sila, samadhi, panna (8 JM) yg dirumuskan oleh Buddha.

Ini bukan teori, ini hasil pengalaman sendiri  ;D

::
« Last Edit: 23 July 2008, 01:54:37 PM by willibordus »
Walaupun seseorang dapat menaklukkan beribu-ribu musuh dalam beribu kali pertempuran, namun sesungguhnya penakluk terbesar adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri (Dhammapada 103)

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.964
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Pak Hud, dalam hal menjelaskan pendapat Bapak, sepertinya bahasa bapak cukup tinggi, jadi bagi umat biasa seperti kita-kita ini, agak membingungkan, coba pakai bahasa yang lebih sederhana, supaya kita-kita ini lebih gampang memahami, maklum kita ini siswa yang baru belajar ajaran Sang Buddha, jadi kalau dipakai bahasa yang bapak ngerti sendiri, tidak ketemu pemahamam yang bapak jelaskan dengan umat biasa yang baru belajar, sewaktu baca penjelasan yang pak Hud uraikan. Terima kasih
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.