Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Sejarah Nama Sanghyang Adi Buddha  (Read 69719 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline chingik

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 924
  • Reputasi: 44
Re: Sejarah Nama Sanghyang Adi Buddha
« Reply #45 on: 05 June 2008, 06:18:39 PM »
Quote
Mangnya anda tau apa aja yg diajarkan SB??Waw...Sila dan cinta kasih seperti kata suhu atas hanyalah permukaan aja...

wah....menganggap sila dan cinta kasih itu hanyalah permukaan saja? udah pada merasa hebat-hebat ya... hoho...

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.397
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Sejarah Nama Sanghyang Adi Buddha
« Reply #46 on: 05 June 2008, 09:38:02 PM »
hmm jadi itu intinya ?

Bukannya kebalikan yah ? karena masih kurang lalu  tidak menganggap hanya sila dan cinta kasih itu saja yang merupakan Ajaran sang Buddha. Masih banyak lagi yang harus dipelajari dan dipraktekkan.

Mohon maaf kalau membuat terkesan terasa hebat. Mohon petunjuknya. ^:)^
There is no place like 127.0.0.1

Offline williamhalim

  • Sebelumnya: willibordus
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.870
  • Reputasi: 134
  • Gender: Male
Re: Sejarah Nama Sanghyang Adi Buddha
« Reply #47 on: 06 June 2008, 08:35:28 AM »
Quote
Mangnya anda tau apa aja yg diajarkan SB??Waw...Sila dan cinta kasih seperti kata suhu atas hanyalah permukaan aja...

wah....menganggap sila dan cinta kasih itu hanyalah permukaan saja? udah pada merasa hebat-hebat ya... hoho...

Saya pikir kita harus dapat membedakan antara PRINSIP dan SIKAP.

PRINSIP adalah apa yg harus kita pelajari, apa yg harus dituju.
Prinsip adalah pemahaman intelektual kita yg kita pelajari melalui kitab suci, diskusi, buku, dll.
PRINSIP adalah kompas.

SIKAP adalah apa yg telah dapat kita terapkan.
SIKAP disesuaikan dengan kondisi keluarga, sosialisasi, dll.

Mencampuradukkan antara PRINSIP dan SIKAP, akan mempersulit diskusi kita.

Contohnya:
~ PRINSIP kita adalah Buddhism menawarkan pengikisan total dukkha
Jika ditanyakan: "Emang lu udah mengikis total dukkha?" <--- ini adalah mempertanyakan SIKAP atas PRINSIP, tidak tepat.
~ PRINSIP kita adalah "Menjaga sila sangat penting bagi kemajuan batin kita"
Jika bertanya: "Emang lu sudah bisa menjaga sila?" <--- pertanyaan ini tidak tepat, karena mempertanyakan SIKAP atas PRINSIP kita.

Kita wajib menyempurnakan PRINSIP kita dari saat ke saat, melalui buku2, diskusi, dll.
Dan juga, SIKAP hidup kita tentu harus mengacu kepada PRINSIP yg telah kita poles, namun tentu belum dapat kita jalankan secara sempurna (bahkan sikap kita terkadang masih jauh dari prinsip kita). Ini wajar.

--------------

Tujuan Buddhism adalah terbebasa dari dukkha, alias NIBBANA.
Ini adalah inti ajaran Buddhism, bagaimana merealisasinya, tentu diperlukan langkah2.
Mulai dari langkah yg paling kasar: Dalam bentuk yg kasat mata, yaitu tindakan yg bermoral (SILA) sampai dengan yg paling halus, yaitu mengamati reaksi batin atau ada yg menyebut vipassana.

::
Walaupun seseorang dapat menaklukkan beribu-ribu musuh dalam beribu kali pertempuran, namun sesungguhnya penakluk terbesar adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri (Dhammapada 103)

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.237
  • Reputasi: -14
  • Gender: Male
Re: Sejarah Nama Sanghyang Adi Buddha
« Reply #48 on: 07 June 2008, 07:15:06 PM »
Quote
wah....menganggap sila dan cinta kasih itu hanyalah permukaan saja? udah pada merasa hebat-hebat ya... hoho...

 ^:)^ ^:)^ ^:)^ Jika gitu apa ya?^^
Tidak kok,saya tidak merasa hebat sama sekali.... ^:)^ ^:)^ ^:)^ ^:)^
Cuma menurut hemat saya cinta kasih itu bisa menguatkan "aku" ,sesungguhnya seperti kata saudara willibordus bahwa,"Tujuan Buddhism adalah terbebas dari dukkha, alias NIBBANA."
Maka saya mengatakan bahwa sila dan cinta kasih hanyalah permukaan menuju NIBBANA,ketika "mencapai" nibbana segalanya akan runtuh....
_/\_

Salam,
Riky
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline GandalfTheElder

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.480
  • Reputasi: 75
  • Gender: Male
  • Exactly who we are is just enough (C. Underwood)
Re: Sejarah Nama Sanghyang Adi Buddha
« Reply #49 on: 02 October 2008, 06:32:09 AM »
Ini dulu saya dapet dari satu websitenya Buddhayana / Siddhi... kalau nggak salah....

Terus saya cari2 lagi, linknya hilang, tapi bisa dilihat di:
http://tetrageene.blogspot.com/2008/07/konsep-ketuhanan-dalam-agama-buddha.html

KONSEP KETUHANAN DALAM AGAMA BUDDHA

Dalam memahami mengulas mengenai konsep Ketuhanan dalam Agama Buddha. Suatu pertanyaan yang sering timbul, yaitu : Apa dalam Agama Buddha mengenal Ketuhanan ?” Pertanyaan tersebut timbul, tidaklah mengherankan. Dalam mengulas mengenai Ketuhanan, ada Beberapa kendala dalam pemahaman lebih lanjut tentang Ketuhanan, antara lain :

Penyebutan kata “Ketuhanan” tersebut tidak populer dan tidak dipakai sama sekali dalam pembabaran agama Buddha, seolah-olah tidak memikili ajaran tersebut ; Belum adanya pemahaman yang memadai dan jarang dibicarakan ; Kekacauan konseptual dalam lingkungan multi religius, umat Buddha tidak dapat menjauhkan diri dari berinteraksi secara aktif dengan umat agama lain. Di mana umat non Buddhis dengan mudah menyebut dan memonopoli kata ”Ketuhanan” di segala tempat dan segala waktu tanpa memperdulikan implikasinya dan ; tidak memiliki akses informasi yang langsung yang lengkap, leluasa dan otoritatif terhadap ajaran dokrinal agamanya dan secara tergesa-gesa ikut-ikutan meminjam konsep agama lain.

Agama Buddha menekankan Pragmatis, yaitu : Mengutamakan tindakan-tindakan cepat dan tepat yang lebih diperlukan di dalam menyelamatkan hidup seseorang yang tengah gawat dan bukan hal-hal lainnya yang kurang praktis, berbelit-belit, bertele-tele dan kurang penting. Buddha tidak pernah menghabiskan waktu untuk perkara-perkara spekulatif tentang alam semesta karena hal ini kecil nilainya bagi pengembangan spiritual menuju Kebahagiaan Sejati.

Hal ini dapat kita lihat pada kisah, orang yang tertembak anak panah beracun, yang menolak untuk mencabutnya sebelum dia tahu siapa yang memanahnya, kenapa panah itu ditembakkan, dari mana anak panah itu ditembakkan. Pada saat semua pertanyaannya terjawab, dia sudah akan mati lebih dahulu. (Cula-Malunkyovada Sutta, Majjhima Nikaya 63)

Sutra tersebut mengajarkan kita memiliki pemahaman yang rasional, efektif, efisien, cerdas dan bijaksana dalam kehidupan spiritual umat manusia agar tindakan cepat dan tepat segera diutamakan, tanpa membuang-buang waktu lagi

Dalam mengulas konsep tersebut kita tidak dapat melepaskan 4 (empat) rumusan Kebenaran, yaitu :

1. Ada awal - Ada akhir
Kebenaran ini menjelaskan ada awal dalam proses pembentukan, pembuatan dan kejadian. Seperti Pembuatan meja. Ada proses pengerjaan kayu-kayu dibentuk, dihubungkan dan difinishing sehingga terbentuk meja kayu dengan empat pondasinya atau bentuk desain lainnya. Ada Akhir dalam hal ini ada kehancuran, kelapukan. Jadi, dengan berjalannya proses waktu, meja tersebut dapat rusak, hancur atau diolah lagi dalam bentuk lainnya. Seperti meja tersebut dimakan rayap, dijadikan kayu bakar atau dijadikan pondasi. Maka pada saat bentuk berubah kita mengatakan akhir keberadaan dari apa yang kita namakan meja tersebut.

2. Ada Awal - Tanpa Akhir
Kebenaran jenis ini, seperti Bilangan asli yang selalu diawali dengan angka 1 dan angka selanjutnya tanpa batas. Kita tidak dapat mengakhiri pada angka tertentu. Meskipun penghitungannya angka tersebut sudah sedemikian besar.

3. Tanpa awal - Ada akhir
Kebenaran jenis ini, contohnya adalah keberadaan kehidupan manusia. Apabila kita telusuri awal keberadaan manusia kita tidak akan menemukan suatu jawaban yang pasti. Pada saat kita menarik kebelakang. Orang pasti memiliki ayah dan ibu. Ayah dan Ibu pun memiliki ayah dan ibunya lagi. Terus kita tarik baik dari sisi ibu maupun dari sisi ayah kita tidak akan menemukan titik yang tepat. Meskipun dalam agama tertentu. Ada keberadaan awal manusia.

Dalam hal ini karena keterbatasan dalam mencari awal permulaan maka dikatakan tanpa awal untuk mempermudah pemahaman lebih lanjut. Apabila kita memaksakan diri untuk menemukan jawabannya maka kita akan terjebak dalam spekulasi pandangan. Hal ini tentu akan banyak menghabiskan waktu dan tenaga. Sementara kehidupan kita adalah terbatas. Cepat atau lambat akan meninggalkan dunia ini.

Pengertian ada akhir, berati orang tersebut telah mencapai pencerahan sehingga tidak dilahirkan kembali.
Jadi, Sama sekali tidak ada alasan untuk menganggap bahwa segala sesuatu atau dunia ini harus memiliki suatu permulaan. Gagasan bahwa segala sesuatu harus memiliki permulaan benar-benar karena miskinnya pikiran kita."

4. Tanpa awal - Tanpa akhir
Kebenaran jenis ini dapat kita lihat dalam Udana Nikaya : “Ketahuilah Para Bhikkhu, Ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Wahai para Bhikkhu, apabila Tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.

Tetapi para Bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.

Kebenaran terakhir ini, seperti Nibbana yang memungkinkan kita untuk mencapai pembebasan.
Buddha telah mencapai Pencerahan Sempurna, dengan demikian Buddha menghayati dan memahami Ketuhanan dengan sempurna pula.

Buddha bersabda: “Ada Yang Tidak Terlahir, Yang Tidak Terjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak (Udana VIII:3).

Yang Mutlak = Asamkhata-Dhamma = Yang Tak Terkondisi. Dengan adanya Yang Tak Terkondisi (Asamkhata), maka manusia yang terkondisi (Samkhata) dapat mencapai kebebasan mutlak dari samsara.
Dengan adanya hukum Dharma, unsur IMANEN dari Ketuhanan YME tidak lenyap sama sekali, namun ajaran Buddha menekankan unsur TRANSENDEN dari Ketuhanan YME. Semua yang transenden adalah TIDAK TERKONSEPKAN, harus dipahami secara INTUITIF melalui PENCERAHAN, bukan melalui konsep.

Tak terelakkan, ketika kita bicara tentang konsep Ketuhanan, diperlukanlah: SEBUTAN. Salah satu sebutan: Adi-Buddha. Sebutan lain: Advaya, Diwarupa, Mahavairocana (kitab-kitab Buddhis bahasa Kawi), Vajradhara (Tibet: Kargyu & Gelug), Samantabhadra (Tibet: Nyingma), Adinatha (Nepal). Daftar ini tidak lengkap dan masih bisa diperpanjang lagi sesuai dengan kebutuhan
Ajaran-ajaran mengenai Adi Buddha telah lama dianut oleh leluhur-leluhur kita di tanah Jawa yang menganut aliran Buddha esoterik yang mendirikan candi borobudur serta candi-candi Buddhis lainnya.

Adi-Buddha = Realitas Tertinggi
Adi-Buddha = Kebenaran Mutlak.
Adi-Buddha = Ketuhanan Yang Maha Esa
Adi-Buddha = Dharmakaya


Dharmakaya: tubuh Dharma yang absolut, kekal, meliputi segalanya, tidak terbatasi oleh ruang dan waktu, ada dengan sendirinya, bebas dari pasangan yang berlawanan, bebas dari pertalian sebab-akibat.

Adi-Buddha bukan suatu personifikasi.
Adi-Buddha bukan sosok yang punya inti-ego (ego-conscious).
Adi-Buddha bukan Tuhan antropomorfik (menyerupai manusia).
Adi-Buddha bukan Tuhan antropopatis (berperasaan = manusia).


Apakah pengetahuan kita mengenai Adi-Buddha dapat menyelamatkan kita dari samsara?
OH, NO...!!!

Mengapa ?” Karena pengetahuan kita mengenai Adi-Buddha bersifat intelektual semata; bukan pengalaman intuitif langsung.  Selain itu karena kita masih harus berlatih sila dan semadi untuk mewujudkan kebijaksanaan. Tanpa melakukan ketiga hal ini, kita tidak akan terbebas dari Samsara.

Pandangan C. Wowor mengenai konsep Ketuhanan, beliau mengatakan bahwa Ketuhanan yang Maha Esa dalam agama Buddha, menurut ajaran dalam Tipitaka adalah Nibbana. Menurutnya Maha Brahma bukanlah Tuhan dalam versi Buddhis. Sebagaimana kutipan beliau dalam Brahmajala Sutta.

Pandangan Upasaka Saccako, dalam bukunya Konsep Ketuhanan dalam Agama Buddha, beliau menyebutkan : Nibbana adalah cita-cita tertinggi. Nibbana merupakan suatu keadaan ketika kita terbebaskan secara sempurna dari belenggu lahir-mati dan tanha ? Nirvana adalah kebalikan Samsara. Nibbana harus ditafsirkan sebagai berakhirnya segala manisfestasi dari tanha. Nibbana adalah akibat dari proses pembersihan hati dan pikiran secara total dan bukan sebaliknya sebab dari terjadinya proses itu ?

Dalam Anguttara Nikaya, Buddha menjelaskan ada 3 (tiga) pandangan yang berbeda yang dianut masyarakat luas pada masa kehidupannya. Salah satu di antaranya adalah pandangan bahwa baik penderitaan maupun kebahagiaan kedua-duanya berasal semata-mata dari seorang Tuhan Pencipta (Issaranimmanahetu). Menurut pandangan ini kita tidak lebih dari hasil karya seorang Tuhan Pencipta dan sebagai konsekuensinya, seluruh nasib dan takdir kita bergantung mutlak pada kehendaknya yang absolut. Dalam pandangan ini manusia tidak memiliki sedikit kebebasan lagi untuk menentukan nasib dan takdirnya sendiri.

Terhadap pandangan ini, Sakyamuni Buddha bersabda, “Jadi, karena diciptakan oleh seorang Tuhan yang maha tinggi, maka manusia akan menjadi pembunuh, pencuri, penjahat, pembohong, pemfitnah, penghina, pembual, pencemburu, pendendam dan orang yang keras kepala. Oleh karena bagi mereka yang berpandangan bahwa segala sesuatu adalah ciptaan seorang Tuhan, maka mereka tidak akan lagi mempunyai keinginan, ikhtiar ataupun untuk menghindar dari perbuatan lain. (Majjhima Nikaya II, Sutta no. 101).

Jika ada suatu makhluk yang merancang kehidupan dunia, kemuliaan dan kesengsaraan, tindakan baik dan tindakan jahat – maka manusia tidak lain adalah alat dari kehendaknya dan tentu makhluk itu yang bertanggung jawab (Jataka VI : 208).

SANGHYANG ADI BUDDHA adalah asal usul dari segala sesuatu yang ada di alam semesta, ia sendiri tanpa asal dan tanpa akhir, ada dengan sendirinya, tidak terhingga, Supreme dalam segala kondisi, conditionlesss, absolute, ada dimana-mana, esa tiada duanya, kekal abadi. Namun semua kata-kata indah dan besar itu tidak mampu melukiskan keadaannya yang sebenarnya dari Sanghyang Adi Buddha.

Apakah Adi Buddha tersebut ?

Adi Buddha tak dapat dikatakan sebagai zat Ilahi yang memiliki inti ego (ego conscious). Adi Buddha bukanlah Tuhan Antrofomorfik (menyerupai manusia) maupun Tuhan Antropopatis (memiliki perasaan dan emosi seperti manusia) yang membuat sebuah rencana dibenaknya, lalu berkeinginan untuk mewujudkannya dan dikemudian hari memutuskan untuk menilai baik tidaknya hasil karya itu – layaknya seorang arsitek yang memandangi gedung hasil ciptaannya sendiri untuk memuji atau mencela.

Dalam Literatur Mahayana dapat kita jumpai konsep pemahaman mengenai Ketuhanan tersebut. Dalam kitab Sutra Vimalakirti Nirdesa, disebutkan Dharma tertinggi adalah tak terkatakan.

Pendekatan pemahaman tersebut kita telusuri dalam Trikaya (tiga tubuh Kebuddhaa), yaitu :

1. Dharmakaya yang absolut
Yang Mutlak ini bersifat kekal, meliputi segalanya tidak dibatasi oleh ruang dan waktu bukan realitas personifikasi, esa, bebas dari pasangan yang berlawanan, ada dengan sendirinya, bebas dari pertalian sebab akibat. Tubuh Dharma ini disebut Tathagatagarbha.

2. Sambhogakaya
Tubuh rahmat atau tubuh cahaya sering dinyatakan perwujudan surgawi yang dapat dilihat oleh makhluk surga dan Boddhisatva.

3. Nirmanakaya
Tubuh perubahan yang dapat dilihat oleh manusia dan dipakai untuk mengajarkan manusia. Buddha Gotama yang mengajarkan kita memakai tubuh ini

Mengapa harus ada Adi Buddha

Adanya Adi Buddha merupakan penegasan yang penting, bahwa kehidupan ini bukanlah produk chaos, melainkan hasil dari tata kerja hierarki spiritual yang menghendakinya. Dengan adanya Adi Buddha kehidupan ini menjadi berarti dan dapat dimungkinkan untuk mencapai pencerahan dan kebuddhaan.

Bagaimana dengan pengaturan hukum alam semesta ?”
Ajaran Buddha mengenai asal alam semesta. Selaras dengan ilmu pengetahuan. Dalam Aganna Sutta, Buddha menggambarkan: alam semesta berulang kali mengalami kehancuran dan tersusun kembali selama masa yang tak terhitung; bumi ini bukanlah satu-satunya planet; ada gugus-gugus yang lebih besar, tatasurya, galaksi, mahagalaksi, dst, tanpa batas.  kehidupan pertama terbentuk di atas permukaan  air, kehidupan berangsur-angsur berevolusi dari organisme yang sederhana menjadi makin kompleks. Segala proses ini tidak berawal, tidak berakhir, dan berlangsung alamiah.

“Agama masa depan adalah agama kosmik. Melampaui Tuhan sebagai pribadi serta menghindari dogma dan teologi. Mencakup baik alamiah maupun spiritual, agama tersebut seharusnya didasarkan pada rasa keagamaan yang timbul dari pengalaman akan segala sesuatu yang alamiah dan spiritual, berupa kesatuan yang penuh arti. Ajaran Buddha menjawab gambaran ini. Jika ada agama yang akan memenuhi kebutuhan ilmu pengetahuan modern, itu adalah ajaran Buddha.” (Albert Einstein, 1939)

Sumber Pencantuman Ketuhanan

Konsep mengenai Adi Buddha dapat kita jumpai dalam
1. Kitab Namasangiti Karanda Vyuha.
2. Svayambu Purana
3. Maha Vairocanabhisambodhi Sutra
4. Guhya Samaya Sutra
5. Tattvasangraha Sutra dan
6. Paramadi Buddhodharta Sri Kalacakra Sutra.

Di Indonesia,
1. Kitab Namasangiti versi Chandrakirti dari Sriwijaya dan
2. Sanghyang Kamahayanikan pada jaman Pemerintahan Mpu Sindok.

 _/\_
The Siddha Wanderer
« Last Edit: 02 October 2008, 06:40:05 AM by GandalfTheElder »
Theravada is my root. This is the body of my practice.... It [Tibetan Buddhism]has given me my Compassion practice. Vajrayana is my thunder, my power. This is the heart of my practice..True wisdom is simple and full of lightness and humor. Zen is my no-self (??). This is the soul of my practice.

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.397
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Sejarah Nama Sanghyang Adi Buddha
« Reply #50 on: 02 October 2008, 08:03:51 AM »
memang topik ini nga akan ada habisnya.

dari sudut theravada ada menjelaskan "ketuhanan" dari udana, dari buddhayana ada menjelaskan dari sutra2x tertentu. Utk penjelasan itu saya ada bukunya yg ditulis oleh upasaka saccako itu tuh. yah beliau menyimpulkan dari sumber2x yg menyatakan "tak terkatakan" itu sebagai "sangyang adi buddha" dan secara langsung juga upasaka saccako menegasikan penjelasan dari pak cornelis wowor di bukunya ketuhanan dalam agama buddha. maksudnya pak wowor salah.

Buat saya sih keduanya hanya sedang menjelaskan (bisa juga dibaca melakukan pembenaran) tentang konsep Tuhan/Ketuhanan yang memang "penting" di indonesia.
There is no place like 127.0.0.1

cunda

  • Guest
Re: Sejarah Nama Sanghyang Adi Buddha
« Reply #51 on: 27 November 2008, 05:21:18 PM »
memang topik ini nga akan ada habisnya.

dari sudut theravada ada menjelaskan "ketuhanan" dari udana, dari buddhayana ada menjelaskan dari sutra2x tertentu. Utk penjelasan itu saya ada bukunya yg ditulis oleh upasaka saccako itu tuh. yah beliau menyimpulkan dari sumber2x yg menyatakan "tak terkatakan" itu sebagai "sangyang adi buddha" dan secara langsung juga upasaka saccako menegasikan penjelasan dari pak cornelis wowor di bukunya ketuhanan dalam agama buddha. maksudnya pak wowor salah.

Buat saya sih keduanya hanya sedang menjelaskan (bisa juga dibaca melakukan pembenaran) tentang konsep Tuhan/Ketuhanan yang memang "penting" di indonesia.



namaste suvatthi hotu

Umat Buddha kog jadi rajin ngurusin Tuhan, Tuhan kan bisa urus dirinya sendiri

Lebih baik urusin diri masing-masing deh supaya menjadi saddhava dan silava (ini aja susah)

selanjutnya terserah tuan

Thuti

Offline hartono238

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 295
  • Reputasi: 8
Re: Sejarah Nama Sanghyang Adi Buddha
« Reply #52 on: 28 November 2008, 06:15:04 AM »
memang topik ini nga akan ada habisnya.

dari sudut theravada ada menjelaskan "ketuhanan" dari udana, dari buddhayana ada menjelaskan dari sutra2x tertentu. Utk penjelasan itu saya ada bukunya yg ditulis oleh upasaka saccako itu tuh. yah beliau menyimpulkan dari sumber2x yg menyatakan "tak terkatakan" itu sebagai "sangyang adi buddha" dan secara langsung juga upasaka saccako menegasikan penjelasan dari pak cornelis wowor di bukunya ketuhanan dalam agama buddha. maksudnya pak wowor salah.

Buat saya sih keduanya hanya sedang menjelaskan (bisa juga dibaca melakukan pembenaran) tentang konsep Tuhan/Ketuhanan yang memang "penting" di indonesia.



namaste suvatthi hotu

Umat Buddha kog jadi rajin ngurusin Tuhan, Tuhan kan bisa urus dirinya sendiri

Lebih baik urusin diri masing-masing deh supaya menjadi saddhava dan silava (ini aja susah)

selanjutnya terserah tuan

Thuti

Akhirnya salah satu pelaku sejarah muncul menjawab, tapi kok jawaban selanjutnya terserah tuan ??:)

Offline pujianto

  • Teman
  • **
  • Posts: 76
  • Reputasi: 6
  • Buka pintu hati, emang ada pintunya?
Re: Sejarah Nama Sanghyang Adi Buddha
« Reply #53 on: 29 November 2008, 04:23:59 PM »
memang topik ini nga akan ada habisnya.

dari sudut theravada ada menjelaskan "ketuhanan" dari udana, dari buddhayana ada menjelaskan dari sutra2x tertentu. Utk penjelasan itu saya ada bukunya yg ditulis oleh upasaka saccako itu tuh. yah beliau menyimpulkan dari sumber2x yg menyatakan "tak terkatakan" itu sebagai "sangyang adi buddha" dan secara langsung juga upasaka saccako menegasikan penjelasan dari pak cornelis wowor di bukunya ketuhanan dalam agama buddha. maksudnya pak wowor salah.

Buat saya sih keduanya hanya sedang menjelaskan (bisa juga dibaca melakukan pembenaran) tentang konsep Tuhan/Ketuhanan yang memang "penting" di indonesia.



namaste suvatthi hotu

Umat Buddha kog jadi rajin ngurusin Tuhan, Tuhan kan bisa urus dirinya sendiri

Lebih baik urusin diri masing-masing deh supaya menjadi saddhava dan silava (ini aja susah)

selanjutnya terserah tuan

Thuti

Akhirnya salah satu pelaku sejarah muncul menjawab, tapi kok jawaban selanjutnya terserah tuan ??:)

karena jadi tuan bagi diri sendiri itu mungkin terjadi
tapi jadi tuhan gak mungkinlah


Semoga semua makhluk berbahagia

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.097
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Sejarah Nama Sanghyang Adi Buddha
« Reply #54 on: 10 January 2009, 09:14:13 PM »
oke begitulah indonesia kadang kadang pusing juga menjelaskan nya untuk orang luar mengenai kacamata pandang dari sisi indonesia nya.

Offline Louhankuo

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 3
  • Reputasi: 0
  • Gender: Male
Re: Sejarah Nama Sanghyang Adi Buddha
« Reply #55 on: 25 January 2009, 03:50:26 PM »
oke begitulah indonesia kadang kadang pusing juga menjelaskan nya untuk orang luar mengenai kacamata pandang dari sisi indonesia nya.

Ga juga, nih buktinya ada orang luar berkebangsaan Jerman yang mengerti Adi Buddha, Alexander Berzin.
Berikut kutipan dari website beliau, berzinarchives.com:

Some Common Features of Islam and Buddhism:
"........
In a natural way, this has then led the Muslim audiences to ask about Buddhism. In the various theological institutes I have visited in the Islamic world, the Islamic scholars have been very interested in the whole discussion of God. I had learned from my experience in Indonesia, which is an Islamic country, that there was no way that you say to an Islamic audience, “Buddhism doesn’t believe in God.” That would lead to the instant closing of the door. In Indonesia, there is a policy that five religions are accepted due to their belief in God: Judaism, Hinduism, Islam, Protestantism, Catholicism, and Buddhism. The Indonesian Buddhists had suggested Buddhism’s belief in God by speaking in terms of Adibuddha. This was from the Kalachakra (Cycle of Time) teachings, which had been spread to Indonesia a little more than a thousand years ago. Adibuddha means, literally, the first or primordial Buddha. The Indonesian Buddhists themselves didn’t have a full understanding of Adibuddha. But without explaining it, they said, “Here we have the equivalent of God.” Naturally, when I came to Indonesia, the Indonesian Buddhists asked me what Adibuddha actually meant. I explained to them that you could speak about it in terms of the clear light mind. In each person, this is the creator of our appearances, what we perceive; so in this sense it’s like a creator.

Using this general interpretation of Adibuddha, I was able to enter into dialogue with Islamic scholars in other countries. Islamic scholars have tended to be very open to this because in Islam, Allah is not personified. Likewise, this creative power within each mind – which might be seen as something like a creator god found in each person – also is not personified. ...."

http://www.berzinarchives.com/web/en/archives/study/islam/general/common_features_islam_buddhism.html?query=indonesia


Islamic-Buddhist Dialogue
".....
The primarily Muslim state of Indonesia officially permits six religions – Islam, Catholicism, Protestantism, Hinduism, Buddhism, and Confucianism – on the grounds that they all accept a creator God. In order to fulfill this requirement, Indonesian Buddhists posit Adibuddha, the primordial Buddha of The Kalachakra Tantra, as the creator. The Kalachakra teachings had flourished in Indonesia, especially during the late tenth century, as reported by Atisha during his visit. Nowadays, there is very little knowledge of those teachings there.

During a lecture tour of Indonesia in 1988, I had many discussions with Buddhist monks about the issue of God in Buddhism. Since Adibuddha can be interpreted as the clear light primordial consciousness, and since all appearances of samsara and nirvana are the play or “creation” of that mind, we concluded that there is no reason to feel uncomfortable in saying that Buddhism accepts a creator God. The fact that Buddhism asserts Adibuddha not to be an individual separate being, but something present in each sentient being, is just a matter of theological differences concerning the nature of God. Many Jewish, Christian, Islamic, and Hindu thinkers assert that God is abstract and present in all beings. As the Muslims say, “Allah has many names.”

Therefore, from my experience in Indonesia, I agreed, on the basis of Adibuddha, that Buddhism does accept a creator God, but with its own unique interpretation. Once this common ground was established, I was easily able to begin a comfortable dialogue with the Islamic theologians in Turkey. They invited me to return to their university later that year to lecture to the student body and faculty on Buddhism and the relation between Islam and Buddhism. ..."

http://www.berzinarchives.com/web/en/archives/study/islam/general/islamic_buddhist_dialog.html?query=indonesia

Offline Kelana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.226
  • Reputasi: 142
Re: Sejarah Nama Sanghyang Adi Buddha
« Reply #56 on: 26 January 2009, 10:22:57 AM »
Using this general interpretation of Adibuddha, I was able to enter into dialogue with Islamic scholars in other countries. Islamic scholars have tended to be very open to this because in Islam, Allah is not personified. Likewise, this creative power within each mind – which might be seen as something like a creator god found in each person – also is not personified. ...."
Perlu dipertanyakan dulu dengan kelompok Islam yang mana Alexander Berzin mengadakan dialog, karena Islam sendiri dibagi dalam beberapa mazab dari sunni sampai sufi, mayoritas konsep tuhan dalam Islam adalah tuhan (Allah) yang berpersonal, jika tidak maka tidak ada wahyu yang diturunkan.
GKBU
 
_/\_ suvatthi hotu


- finire -

Offline Louhankuo

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 3
  • Reputasi: 0
  • Gender: Male
Re: Sejarah Nama Sanghyang Adi Buddha
« Reply #57 on: 26 January 2009, 04:13:00 PM »
Using this general interpretation of Adibuddha, I was able to enter into dialogue with Islamic scholars in other countries. Islamic scholars have tended to be very open to this because in Islam, Allah is not personified. Likewise, this creative power within each mind – which might be seen as something like a creator god found in each person – also is not personified. ...."
Perlu dipertanyakan dulu dengan kelompok Islam yang mana Alexander Berzin mengadakan dialog, karena Islam sendiri dibagi dalam beberapa mazab dari sunni sampai sufi, mayoritas konsep tuhan dalam Islam adalah tuhan (Allah) yang berpersonal, jika tidak maka tidak ada wahyu yang diturunkan.


Pastilah kelompok Islam moderat yang mau berdialog dengan umat beragama lain. Tapi itu sudah bukan pokok persoalan. Dalam hal ini yang menjadi point of interest adalah apakah ada persamaan 'creator God' dalam Budhisme? Kalau itu memang dirasa perlu demi kehidupan bernegara suatu bangsa, ada! yaitu Adi Buddha. Apakah creator God ini menurunkan wahyu atau mencerahkan dari dalam adalah sudah menjadi persoalan keyakinan masing2 agama.  Buddhisme tegas meyakini bahwa Adi Buddha bukanlah personal. Bagaimana Dia sebagai creator adalah menurut persepsi dan keyakinan umat Buddha sendiri berdasarkan kitab sucinya. DEngan kata lain umat Buddha (di Indonesia) ya! meyakini adanya Tuhan sebagai pencipta TETAPI tidak dari sudut pandang yg sama dengan penganut agama lain (boleh dong). Bahkan mereka yang memandangnya sabagai personal pun memiliki konsepsi yang berbeda.

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Sejarah Nama Sanghyang Adi Buddha
« Reply #58 on: 26 January 2009, 08:14:09 PM »
Apakah segala sesuatunya harus ada awal terlebih dahulu?

Offline Xcript

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 137
  • Reputasi: 8
Re: Sejarah Nama Sanghyang Adi Buddha
« Reply #59 on: 01 August 2009, 01:31:14 AM »
Hai, saya newbie nih.
Saya mau tanya...
Trus relefansinya dengan negara
kita sekarang yang agak terbuka
gimana? apakah konsep ketuhanan
buddhis yang dibentuk seperti di
zaman kebangkitan itu sampai
sekarang masih tetap sesuai ?
Kesembuhan itu datang dari obat yang sangat pahit