Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Peringatan 10th Parinirwana Sukong  (Read 45197 times)

0 Members and 8 Guests are viewing this topic.

Offline andry

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.115
  • Reputasi: 128
Re: Peringatan 10th Parinirwana Sukong
« Reply #30 on: 21 April 2012, 05:08:13 PM »
kalau tidak diangkat judul yang menarik, tentunya bisa sepi
jd marketing strategic ya?
Samma Vayama

Offline dakota

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 22
  • Reputasi: -1
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Peringatan 10th Parinirwana Sukong
« Reply #31 on: 21 April 2012, 06:06:14 PM »
tanpa mengurangi sedikitpun hormat saya kepada anda atau pun ybs.
saya ingat kata2 dari kawan saya,
"hendaklah segala sesuatu itu baik,benar,bijaksana"

saya tidak ingin mendebatkan atau apapun itu namanya, katakanlah bila menuruti keinginan
bahwa kata2 parinirwana ilaha lumrah bagi org tiongkok di sana.

tp ini indonesia my men, apakah kata2 parinirwana ini sudah
tepat?
pas?
cocok?
baik?
benar?
bijaksana?

sedikit masukan dari saya. terima kasih atas penjelasannya


Wasalamualaikum

penggunaan istilah dalam tradisi negara lain yg lalu diadaptasi ke negara lainnya lagi adalah hal biasa.
'kan sudah diberikan contoh seperti RIP misalnya, apa itu dilarang hanya karena RIP hanya tradisi barat, sedgkan ini Indonesia my men
lagi pula itu hanya ungkapan konotatif.
sjauh ini ndak pernah masalah, cocok saja, baik2 saja, dan ga ada hubungan dgn masalah bijak ndak bijak.

 

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.963
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Peringatan 10th Parinirwana Sukong
« Reply #32 on: 21 April 2012, 07:49:32 PM »
penggunaan istilah dalam tradisi negara lain yg lalu diadaptasi ke negara lainnya lagi adalah hal biasa.
'kan sudah diberikan contoh seperti RIP misalnya, apa itu dilarang hanya karena RIP hanya tradisi barat, sedgkan ini Indonesia my men
lagi pula itu hanya ungkapan konotatif.
sjauh ini ndak pernah masalah, cocok saja, baik2 saja, dan ga ada hubungan dgn masalah bijak ndak bijak.

menurut bro dakota arti parinirwana apa sih ?
apakah dakota bisa mewakili TS atau panitia memberikan arti parinirwana yang dimaksud ?
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.963
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Peringatan 10th Parinirwana Sukong
« Reply #33 on: 21 April 2012, 07:53:23 PM »
jd marketing strategic ya?

ya kira2 begitulah

yang penting 'wah', urusan benar atau tidak benar adalah urusan belakangan, toh tidak merugikan orang lain kan (inilah anggapan para penggemarnya)
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline aryaputra

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 155
  • Reputasi: 1
  • Gender: Male
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Peringatan 10th Parinirwana Sukong
« Reply #34 on: 21 April 2012, 08:07:55 PM »
saya justru tidak tahu dan tidak punya kemampuan utk mengetahui seseorang itu Arahat atau bukan Arahat.
maka itu saya anggap sukong itu masih puthujana, sedangkan para penggemar sukong, kayaknya gampang sekali mengklaim sukong itu sudah Arahat ! yaitu  memperingati 10 th sukong parinirwana
Menurut saya, jika tidak tahu alangkah bijaksananya jika kita tidak  menilai.  Apakah ada perbedaan antara orang yg mengatakan "Sudah Parinirwana dengan orang yang mengatakan, masih puthujana"?  Sama-sama menganggap / mengasumsikan. Cuma beda pada konotasi. Yang satu menghormati pendahulunya, yg lain tidak menghormati pendahulunya.  _/\_
« Last Edit: 21 April 2012, 08:13:41 PM by aryaputra »
agak sulit untuk memahami bagaimana dunia ini ada tanpa suatu sebab pertama. TETAPI JAUH LEBIH SULIT UNTUK MEMAHAMI BAGAIMANA MUNGKIN SEBAB PERTAMA ITU BISA ADA PADA AWALNYA

Offline dakota

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 22
  • Reputasi: -1
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Peringatan 10th Parinirwana Sukong
« Reply #35 on: 21 April 2012, 08:32:38 PM »
menurut bro dakota arti parinirwana apa sih ?
apakah dakota bisa mewakili TS atau panitia memberikan arti parinirwana yang dimaksud ?

bro Adi Lim dak perlu nanya2 definisi lah seolah2 bro saja yg paling mengerti arti parinirwana.
sepertinya Anda mengabaikan penjelasan saya mengenai penggunaan makna konotatif utk menghormati almarhum dan itu sdh lumrah dalam
tradisi mahayana tiongkok atau boleh dibilang sdh merupakan tradisi bangsa tiongkok memberi "kedudukan" lbh tinggi utk orang meninggal.
Toh itu pun dlm tradisi mahayana, lalu anda sbg penganut tradisi lain apa hak anda menyalahkan praktik tradisi sekte lain?
 

Offline Choa

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 412
  • Reputasi: -12
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Peringatan 10th Parinirwana Sukong
« Reply #36 on: 21 April 2012, 08:34:54 PM »
Menurut saya, jika tidak tahu alangkah bijaksananya jika kita tidak  menilai.  Apakah ada perbedaan antara orang yg mengatakan "Sudah Parinirwana dengan orang yang mengatakan, masih puthujana"?  Sama-sama menganggap / mengasumsikan. Cuma beda pada konotasi. Yang satu menghormati pendahulunya, yg lain tidak menghormati pendahulunya.  _/\_

orang bijaksana setelah mendengar dhamma
hanya sedikit, anda salah satu yang sedikit itu

anumodana

Offline Choa

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 412
  • Reputasi: -12
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Peringatan 10th Parinirwana Sukong
« Reply #37 on: 21 April 2012, 08:36:42 PM »

menyebut bhiksu yg wafat sbg parinirwana adalah ucapan kebiasaan umum utk menghormati orang yg wafat bagi kalangan buddhis tiongkok. Semua orang tiongkok jg tau blm tentu orang itu benar2 parinirvana.  Ini adalah istilah yg bermakna konotatif ,bukan denotatif. Istilah lain utk menyebut orang meninggal di Tiongkok adalah "wangsheng" utk orang yg terlahir di alam bahagia, pdhal tidak semua orang dipercaya terlahir di alam bahagia.     
 Sama seperti menuliskan RIP di batu nisan , pdahal blm tentu semua orang mati dgn tenang.
RIP jg bermakna konotatif. Apa harus didebatin dulu orang yg mati itu sebenarnya tenang atau tidak tenang ?

semua adalah bentuk penghormatan belaka.

dan memang pantas bagi murid untuk mengatakan demikian

pujja ca pujja niyanam
etta mangalam muttamam

Offline aryaputra

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 155
  • Reputasi: 1
  • Gender: Male
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Peringatan 10th Parinirwana Sukong
« Reply #38 on: 21 April 2012, 08:49:11 PM »
tuh kan, jauh seblm the bo An ditahbiskan menjadi bhikkhu pun indonesia sudah memiliki perintis (pelopor, whatever the word's name) di era 1920'an.
Ini yang sudah tercatat dalam sejarah. Sebab awal juga belum diketahui pula.
jadi ada perbedaan makna kata perintis, pelopor dan penerus. Masih ada yang lain, yi: pencetus.
apa mangsudnya dengan "'bhikkhu' yang belum menjadi 'bhikkhu'" ?
Maaf, saya terbiasa menghormati yg lebih tua,  dengan tidak menyebut nama tanpa sebutan seperti pak, apalagi bhikkhu, dalam hal ini saya bingung menyebut nama Beliau, maka saya memilih sebutan Bhikkhu Ashin Jinarakhita sebelum menjadi bhikkhu, mohon dimengerti.
Sejarah mencatat bahwa agama Buddha mulai bangkit dalam artian banyak umat yg mulai mengerti ajaran Buddha dan berkembang setelah tahun 1955, sejak kedatangan kembali Bhikkhu Ashin Jinarakhita ke Indonesia dan mulai menyebarkan agama Buddha. 
Saat sebelum tahun 1955 yg berkembang adalah aliran Theosofi dan agama Buddha yg tergabung dalam Sam Kauw. Dan Bhikkhu Ashin Jinarakhitapun dahulu adalah penganut Theosofi dan Sam Kauw. Pada saat Beliau memotori Waisak di Borobudurpun masih aktif di Theosofi dan Sam Kauw'
Beliau menjadi samanerapun dalam tradisi Mahayana dengan gurunya Mahabhiksu Pen Cing. Sebelum akhirnya berangkat ke Burma menjadi samanera menurut cara Theravada dan sorenya diupasampada menjadi Bhikkhu dengan guru spriritualnya Y.A. Mahasi Sayadaw.
Sejarah mencatat perjalanan waktu.
Adanya Pro dan Kontra tidak mengubah sejarah.
Dalam Dammapadapun dikatakan, tidak jaman dahulu, sekarang ataupun akan datang ada orang yg selalu dicela ataupun dipuji.  _/\_
« Last Edit: 21 April 2012, 08:52:15 PM by aryaputra »
agak sulit untuk memahami bagaimana dunia ini ada tanpa suatu sebab pertama. TETAPI JAUH LEBIH SULIT UNTUK MEMAHAMI BAGAIMANA MUNGKIN SEBAB PERTAMA ITU BISA ADA PADA AWALNYA

Offline Mas Tidar

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.262
  • Reputasi: 82
  • Gender: Male
Re: Peringatan 10th Parinirwana Sukong
« Reply #39 on: 21 April 2012, 10:05:17 PM »

maaf diterima jika merasa bersalah ...

intinya, seharusnya Anda mengatakan pada saat pertama kali diadakan upacara (ritualan) di brobudur, si umat awam the bon An atau samanera xxx atau bhikkhu jinarakkhita disebutkan secara jelas posisinya dalam nilai2 spritual. ndak perlu sungkan kalau pada saat itu ybs masih umat awam.
apa benar yang dilakukan upara (ritualan) dilakukan secara buddhisme atau Theosofi?
Berhubung pada saat itu The Bon An masi umat awam jika ditilik pelaksanaan penahbisan dan pelaksanaan upacara ritualnya di brobudur.

sebut saja banyak catatan sejarah pada saat kedatangan bhikkhu Narada pertama kali hanya disebut "bhikkhu Narada" saja
setelah kedatangannya yang kedua baru disebut bhikkhu Narada Mahathera, sudah bervassa minimal 20 tahun, jadi kita sebagai umat awam bisa menelusuri kapan pentahbisannya.
pangeran sidharta sebelum menjadi buddha, melihat 4 kejadian yang menyebabkan beliau merenungkan hakikat tertinggi dalam kehidupan ini, ini contohnya.

sejarah mencatat perjalanan waktu, semakin jauh sejarah ditinggalkan bumbu penyedapnya juga semakin ditambah2, istilah tim marketing.
aynwei, negara burma sebagaimana negara asal pentahbisan bhikkhu jinarakkhita tidak mengenal waisak, "apa itu waisak / vesak ?",
mereka lebih mengenal water festival hehehehe...



Maaf, saya terbiasa menghormati yg lebih tua,  dengan tidak menyebut nama tanpa sebutan seperti pak, apalagi bhikkhu, dalam hal ini saya bingung menyebut nama Beliau, maka saya memilih sebutan Bhikkhu Ashin Jinarakhita sebelum menjadi bhikkhu, mohon dimengerti.
Sejarah mencatat bahwa agama Buddha mulai bangkit dalam artian banyak umat yg mulai mengerti ajaran Buddha dan berkembang setelah tahun 1955, sejak kedatangan kembali Bhikkhu Ashin Jinarakhita ke Indonesia dan mulai menyebarkan agama Buddha. 
Saat sebelum tahun 1955 yg berkembang adalah aliran Theosofi dan agama Buddha yg tergabung dalam Sam Kauw. Dan Bhikkhu Ashin Jinarakhitapun dahulu adalah penganut Theosofi dan Sam Kauw. Pada saat Beliau memotori Waisak di Borobudurpun masih aktif di Theosofi dan Sam Kauw'
Beliau menjadi samanerapun dalam tradisi Mahayana dengan gurunya Mahabhiksu Pen Cing. Sebelum akhirnya berangkat ke Burma menjadi samanera menurut cara Theravada dan sorenya diupasampada menjadi Bhikkhu dengan guru spriritualnya Y.A. Mahasi Sayadaw.
Sejarah mencatat perjalanan waktu.
Adanya Pro dan Kontra tidak mengubah sejarah.
Dalam Dammapadapun dikatakan, tidak jaman dahulu, sekarang ataupun akan datang ada orang yg selalu dicela ataupun dipuji.  _/\_
« Last Edit: 21 April 2012, 10:17:28 PM by Mas Tidar »
Saccena me samo natthi, Esa me saccaparamiti

"One who sees the Dhamma sees me. One who sees me sees the Dhamma." Buddha

Offline andry

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.115
  • Reputasi: 128
Re: Peringatan 10th Parinirwana Sukong
« Reply #40 on: 22 April 2012, 01:38:03 AM »
ya terserah anda mas/mis yg penting saya hanya mengingatkan , jangan menjerumuskan saja !
Samma Vayama

Offline andry

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.115
  • Reputasi: 128
Re: Peringatan 10th Parinirwana Sukong
« Reply #41 on: 22 April 2012, 01:51:10 AM »
baru ngeh ternyata suhu badra ruci yg ngadain nya...
ya gak aneh... emang nyentrik nih suhu....

gw kawatir dharma asli sang bhagawa makin tergeser
Samma Vayama

Offline aryaputra

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 155
  • Reputasi: 1
  • Gender: Male
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Peringatan 10th Parinirwana Sukong
« Reply #42 on: 22 April 2012, 06:29:18 AM »
intinya, seharusnya Anda mengatakan pada saat pertama kali diadakan upacara (ritualan) di brobudur, si umat awam the bon An atau samanera xxx atau bhikkhu jinarakkhita disebutkan secara jelas posisinya dalam nilai2 spritual. ndak perlu sungkan kalau pada saat itu ybs masih umat awam.
Terima kasih atas sarannya.
apa benar yang dilakukan upara (ritualan) dilakukan secara buddhisme atau Theosofi?
Berhubung pada saat itu The Bon An masi umat awam jika ditilik pelaksanaan penahbisan dan pelaksanaan upacara ritualnya di brobudur.

Sam Kauw adalah ajaran tiga agama di mana salah satunya agama Buddha, Theosofi adalah aliran yang mempelajari semua agama, termasuk Buddha, ajaran tersebut memberi tekanan pada persaudaraan antar manusia, tanpa membeda-bedakan bangsa maupun agama.

Bhikkhu Ashin Jinarakhita ketika masih umat awam bernama Tee Boan  An sekembalinya kuliah di Belanda (di sana Beliau mulai condong pada ajaran Sang Buddha), tahun 1951 memutuskan untuk menjadi anagarika dan giat memperkenalkan ajaran Buddha.
Tidak hanya di Jakarta bahkan ke daerah2, karena kapasitasnya sebagai wakil ketua Pemuda Theosofi.

Tahun 1953 Tee Boan An mencetus ide mengadakan waisak secara nasional di Borobudur, tahun2 sebelumnya telah beberapa kali diadakan perayaan waisak di candi itu, namun terbatas diikuti aktifis Theosofi.
Bersama rekan2nya undangan dibagikan kepada pejabat2 dan wakil2 negara tetangga yg mayoritas penduduknya Buddhist (kedutaan Burma, Srilanka, India, Singapura dan Thailand),  juga ke seluruh Indonesia.
Tee Boan An didukung oleh kalangan Teosofi, orang2 Jawa dan Sam Kauw.
Bahkan duta besar Srilanka menyuruh putrinya mengajarkan lantunan Jaya Mangala Gatha.

Tgl 22 Mei 1953 umat Buddha dan simpatisan Buddha sejumlah tiga ribu orang lebih merayakan upacara Waisak secara besar2an di Borobudur.
Peristiwa ini menjadi berita di koran2 dan menarik perhatian masyarakat. Menyadarkan masyarakat bahwa ajaran Sang Buddha dulu pernah berjaya di bumi Indonesia dan umatnya masih ada di Indonesia.

Ini adalah awal dari sejarah perjalanan menuju kebangkitan agama Buddha yg dipelopori Bhikkhu Ashin Jinarakhita di Indonesia.

Kadang opini yg kita dapat dari guru kita dan senior kita bersifat subjektiv. Kadang karena tidak suka atau tidak sependapat dengan orang kita, mata kita tertutup untuk melihat kebaikan orang tersebut, hanya melihat kejelekannya. Bahkan jika kita mempunyai kemampuan ingin mengubah sejarah yang menyangkut orang tersebut. Namun sejarah terbentuk oleh perjalanan waktu, bukan opini2 segelintir orang.  _/\_

aynwei, negara burma sebagaimana negara asal pentahbisan bhikkhu jinarakkhita tidak mengenal waisak, "apa itu waisak / vesak ?",
mereka lebih mengenal water festival hehehehe...

Apakah Burma  tidak mengenal waisak?
Sejujurnya saya baru tahu sekarang tentang informasi tersebut. Terima kasih atas informasinya.
Namun kenyataan ini tidak ada hubungannya dengan  perkembangan agama Buddha di Indonesia.
Yang kita utamakan adalah persamaan ajaran, bukan perbedaan.
Agama Buddha di Burma, Srilanka, Thailand dan Indonesia mempunyai perbedaan karena tradisi, namun itu  tidak menjadi masalah selama kita tidak terbelenggu untuk mempermasalahkannya. Yang penting inti ajarannya sama. Dan sama2 murid Sang Buddha. _/\_
« Last Edit: 22 April 2012, 06:55:23 AM by aryaputra »
agak sulit untuk memahami bagaimana dunia ini ada tanpa suatu sebab pertama. TETAPI JAUH LEBIH SULIT UNTUK MEMAHAMI BAGAIMANA MUNGKIN SEBAB PERTAMA ITU BISA ADA PADA AWALNYA

Offline Mas Tidar

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.262
  • Reputasi: 82
  • Gender: Male
Re: Peringatan 10th Parinirwana Sukong
« Reply #43 on: 22 April 2012, 07:56:07 AM »

sedari awal cerita2 sperti ini perlu ditulis secara runtut sehingga khalayak ramai mengerti apa yang terjadi saat itu
dan mengetahui posisi spiritual yang sedang dijalankan oleh ybs, kapasitas.

Quote
Terima kasih atas sarannya.
Sam Kauw adalah ajaran tiga agama di mana salah satunya agama Buddha, Theosofi adalah aliran yang mempelajari semua agama, termasuk Buddha, ajaran tersebut memberi tekanan pada persaudaraan antar manusia, tanpa membeda-bedakan bangsa maupun agama.

Bhikkhu Ashin Jinarakhita ketika masih umat awam bernama Tee Boan  An sekembalinya kuliah di Belanda (di sana Beliau mulai condong pada ajaran Sang Buddha), tahun 1951 memutuskan untuk menjadi anagarika dan giat memperkenalkan ajaran Buddha.
Tidak hanya di Jakarta bahkan ke daerah2, karena kapasitasnya sebagai wakil ketua Pemuda Theosofi.

Tahun 1953 Tee Boan An mencetus ide mengadakan waisak secara nasional di Borobudur, tahun2 sebelumnya telah beberapa kali diadakan perayaan waisak di candi itu, namun terbatas diikuti aktifis Theosofi.
Bersama rekan2nya undangan dibagikan kepada pejabat2 dan wakil2 negara tetangga yg mayoritas penduduknya Buddhist (kedutaan Burma, Srilanka, India, Singapura dan Thailand),  juga ke seluruh Indonesia.
Tee Boan An didukung oleh kalangan Teosofi, orang2 Jawa dan Sam Kauw.
Bahkan duta besar Srilanka menyuruh putrinya mengajarkan lantunan Jaya Mangala Gatha.

Tgl 22 Mei 1953 umat Buddha dan simpatisan Buddha sejumlah tiga ribu orang lebih merayakan upacara Waisak secara besar2an di Borobudur.
Peristiwa ini menjadi berita di koran2 dan menarik perhatian masyarakat. Menyadarkan masyarakat bahwa ajaran Sang Buddha dulu pernah berjaya di bumi Indonesia dan umatnya masih ada di Indonesia.


yang pasti ini terjadi di burma.
kalau daerah "Svarna bhumi" yang lain (Sri Langka (ceylon), thai, laos, vietnam, kamboja, malay) kami belum dapat mengkonfirmasi.
kemungkinan masalah politik, "agama" ini harus punya hari "besar"-nya, eventually waisak day.

Quote
Apakah Burma  tidak mengenal waisak?
Sejujurnya saya baru tahu sekarang tentang informasi tersebut. Terima kasih atas informasinya.
Namun kenyataan ini tidak ada hubungannya dengan  perkembangan agama Buddha di Indonesia.
Yang kita utamakan adalah persamaan ajaran, bukan perbedaan.
Agama Buddha di Burma, Srilanka, Thailand dan Indonesia mempunyai perbedaan karena tradisi, namun itu  tidak menjadi masalah selama kita tidak terbelenggu untuk mempermasalahkannya. Yang penting inti ajarannya sama. Dan sama2 murid Sang Buddha. _/\_
Saccena me samo natthi, Esa me saccaparamiti

"One who sees the Dhamma sees me. One who sees me sees the Dhamma." Buddha

Offline Mas Tidar

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.262
  • Reputasi: 82
  • Gender: Male
Re: Peringatan 10th Parinirwana Sukong
« Reply #44 on: 22 April 2012, 07:57:42 AM »

mengingatkan apa ?
jangan menjerumuskan apa ?

kalau ngomong yang jelas om, kami kagak ngerti mangsud-nya.

ya terserah anda mas/mis yg penting saya hanya mengingatkan , jangan menjerumuskan saja !
Saccena me samo natthi, Esa me saccaparamiti

"One who sees the Dhamma sees me. One who sees me sees the Dhamma." Buddha