Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Mengapa Meditasi memberikan Karma Baik tertinggi?  (Read 12778 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Auchan-Vriconella

  • Teman
  • **
  • Posts: 73
  • Reputasi: 4
Re: Mengapa Meditasi memberikan Karma Baik tertinggi?
« Reply #60 on: 11 January 2012, 05:24:43 PM »
ayo temn2 kk cc ibu bpk om tante dedek,pd md2..mdit itu bikin nagihh dn uenakkk tenan :P 8)
 _/\_
Agama saya sangat sederhana. Agama saya adalah Kebajikan.

Ingat !!! Tidak mendapatkan apa yang kamu inginkan, kadang2 adalah sebuah berkah.

Jika kamu ingin orang lain bahagia, praktekan welas asih. Jika kamu sendiri mau bahagia, praktekan welas asih.

~Dalai Lama~

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.749
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Mengapa Meditasi memberikan Karma Baik tertinggi?
« Reply #61 on: 11 January 2012, 05:34:48 PM »
Ada orang yang hanya memerlukan sedikit teori untuk mempraktikkan, tapi ada juga yang memerlukan 'asupan' intelektual yang banyak sebelum yakin untuk proses 'de-learning' itu. Saya lihat orang yang skeptik cenderung pada type ke dua. Sampai ia mengerti secara intelektual bahwa apa yang dijalaninya itu 'tidak merugikan', maka ia baru melakukannya. Bagaimana instruksi untuk melakukannya itu memang sangat sederhana dan bisa dilakukan tanpa tahu teori detail. Lalu bagaimana teori detail berguna bagi orang yang belum meditasi?

Tidak ada teori dan intelektual dalam meditasi, ini saya sangat setuju. Namun teori dan intelektual itu diperlukan untuk penjelasan di luar meditasi. Seperti berenang itu, ada orang trauma karena pernah tenggelam, lalu tidak mau menyentuh kolam. Kita tidak bisa bilang, 'yang penting cemplung dulu, alami dulu airnya', karena itu bukan penjelasan, bukan jaminan yang meyakinkan. Kita bisa mengajarkan teori ke mana-mana seperti anatomi, berat jenis, dan lain-lain yang meyakinkan bahwa kita bisa mengapung kalau kita tetap tenang dan mengatur nafas, sebabnya karena begini-begitu. Setelah yakin, adalah mungkin bahwa orang itu bisa memiliki dorongan dan keberanian untuk cemplung lagi ke kolam. Tidak ada aplikasi teori pengukuran berat jenis waktu berenang, tidak ada pengamatan anatomi waktu berenang, yang ada hanya mengikuti instruksi saja. Namun apakah teori tidak berguna?

Yang bro morph maksud, menurut saya adalah yang saya sebut 'teori salah', yaitu teori yang tidak tepat guna, seperti anak TK belum kenal angka, dikasih perkalian matriks, akhirnya jadinya hafalan bukan pengertian operasinya. Karena penyampaian tidak tepat, ia mengerti dengan salah, dan otomatis menerapkannya dengan salah. Baik 'teori salah' dan 'praktik salah', keduanya adalah tidak bermanfaat.
berlawanan dengan pendapat anda, menurut saya orang yang skeptik atau meragukan segala sesuatu justru lebih cocok untuk melakukan eksperimen dan praktik sendiri ketimbang mempelajari terlalu banyak teori secara mendetail. semua yang dibacanya dari buku juga sifatnya spekulatif dan bisa salah. bisa saja dia sudah merasa yakin dengan sebuah teori ini tidak merugikan, begitu dipraktekkan ternyata kenyataannya berbeda. seseorang yg skeptik itu seharusnya open, netral, tidak ada prasangka atau prejudice apapun...

dalam analogi belajar berenang tadi, saya tidak menyebutkan "langsung nyebur", saya hanya menyebutkan "basah". demikianlah tahap-tahap belajar berenang. si praktisi mulai bereksperimen, mengalami apa itu air, apa itu basah, menyentuh air dengan tangan dan kakinya, merasakan dinginnya air. setelah mendapat pengalaman kecil ini, si praktisi mendapatkan sedikit kesimpulan mengenai sifat2 air dan bagaimana aksi tubuh mempengaruhi air. dia mulai masuk ke tempat dangkal, merasakan berjalan di air dangkal, sedikit lebih dalam, merasakan air yg bergerak akibat kayuhan tangan dan kaki, merasakan beratnya gerakan tangan, merasakan tubuh yang "ringan", mengalami rasanya meniupkan nafas di dalam air, mengalami rasanya mencelupkan kepala di air, dst dst...

saya merasa demikian pula dengan meditasi. sedikit demi sedikit bereksperimen, si praktisi mengambil kesimpulan kecil-kecilan (namun tidak melekati), bereksperimen, mengambil kesimpulan, eksperimen, mengambil kesimpulan. sebuah proses mengamati dan belajar yang terus-menerus, mengalami transformasi batin dari yang terkecil sampai kepada yang lebih tinggi. tidak melekat dan terus praktik.

mohon anggap ini sebagai diskusi, karena saya sendiri juga tidak bisa memastikan kebenarannya untuk semua orang. apa yg saya tulis di atas adalah hasil pengalaman sendiri, hasil wawancara dari beberapa teman meditator, yg berhasil maupun yg tidak. dari sana ada pola yang bisa saya simpulkan, pola yang konsisten, yg sudah saya share di atas.

mungkin saja anda benar, yg berbahaya adalah teori yg over dosis, yang dihafalkan secara membuta. kalo menurut saya, apabila seseorang mempelajari terlalu banyak teori, secara otomatis, tanpa sadar, batinnya akan mengingat-ingat, mengantisipasi dan proses mencocok-cocokkan akan berlangsung sewaktu bermeditasi.
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.850
  • Reputasi: 268
Re: Mengapa Meditasi memberikan Karma Baik tertinggi?
« Reply #62 on: 11 January 2012, 07:06:51 PM »
berlawanan dengan pendapat anda, menurut saya orang yang skeptik atau meragukan segala sesuatu justru lebih cocok untuk melakukan eksperimen dan praktik sendiri ketimbang mempelajari terlalu banyak teori secara mendetail. semua yang dibacanya dari buku juga sifatnya spekulatif dan bisa salah. bisa saja dia sudah merasa yakin dengan sebuah teori ini tidak merugikan, begitu dipraktekkan ternyata kenyataannya berbeda. seseorang yg skeptik itu seharusnya open, netral, tidak ada prasangka atau prejudice apapun...
Saya pikir kalau orang tidak tahu lalu mencoba, itu bukan skeptik, tapi cenderung nekad. Orang yang skeptik tulen dan objektif akan terbuka pada potensi bagus, juga potensi jeleknya. Memang bukan berarti skeptik demikian langsung berpaling mencari teori. Tidak juga. Tapi kebanyakan tidak juga langsung melakukannya, melainkan melakukan penelitian seperti mengamati perubahan orang-orang yang menjalani meditasi. Atau ada juga yang melakukan, tapi tidak total mengikutinya, tapi mencoba sedikit pada batas yang menurutnya dapat diterima, membuktikan sebagian, sampai menurutnya 'aman', baru menjalankan benar2 sesuai instruksi.

Banyak jenis orang skeptik, dan walaupun tidak ke teori, mereka cenderung pada logika dan intelektualnya, sebelum benar-benar mau 'berserah' pada instruksi meditasi. Yang mau 'berserah' pada instruksi biasanya yang sedikit banyak sudah tahu dasarnya atau punya keyakinan tertentu pada gurunya. Ia punya 'indikator' lain dalam menjalankannya, bukan sama sekali awam terhadap meditasi.


Quote
dalam analogi belajar berenang tadi, saya tidak menyebutkan "langsung nyebur", saya hanya menyebutkan "basah". demikianlah tahap-tahap belajar berenang. si praktisi mulai bereksperimen, mengalami apa itu air, apa itu basah, menyentuh air dengan tangan dan kakinya, merasakan dinginnya air. setelah mendapat pengalaman kecil ini, si praktisi mendapatkan sedikit kesimpulan mengenai sifat2 air dan bagaimana aksi tubuh mempengaruhi air. dia mulai masuk ke tempat dangkal, merasakan berjalan di air dangkal, sedikit lebih dalam, merasakan air yg bergerak akibat kayuhan tangan dan kaki, merasakan beratnya gerakan tangan, merasakan tubuh yang "ringan", mengalami rasanya meniupkan nafas di dalam air, mengalami rasanya mencelupkan kepala di air, dst dst...

saya merasa demikian pula dengan meditasi. sedikit demi sedikit bereksperimen, si praktisi mengambil kesimpulan kecil-kecilan (namun tidak melekati), bereksperimen, mengambil kesimpulan, eksperimen, mengambil kesimpulan. sebuah proses mengamati dan belajar yang terus-menerus, mengalami transformasi batin dari yang terkecil sampai kepada yang lebih tinggi. tidak melekat dan terus praktik.
Iya, ini salah satu pendekatan yang mungkin. Seperti definisi saya yang 'mencoba sebatas yang bisa diterimanya'. Nah, guru yang baik itu mengetahui sebatas mana nalar dan intelektual muridnya, sehingga bisa 'mendorong' sebatas maksimal yang bisa diterima tapi tidak sampai menimbulkan reaksi penolakan.


Quote
mohon anggap ini sebagai diskusi, karena saya sendiri juga tidak bisa memastikan kebenarannya untuk semua orang. apa yg saya tulis di atas adalah hasil pengalaman sendiri, hasil wawancara dari beberapa teman meditator, yg berhasil maupun yg tidak. dari sana ada pola yang bisa saya simpulkan, pola yang konsisten, yg sudah saya share di atas.

mungkin saja anda benar, yg berbahaya adalah teori yg over dosis, yang dihafalkan secara membuta. kalo menurut saya, apabila seseorang mempelajari terlalu banyak teori, secara otomatis, tanpa sadar, batinnya akan mengingat-ingat, mengantisipasi dan proses mencocok-cocokkan akan berlangsung sewaktu bermeditasi.
Ya, tentu saja ini adalah diskusi, masih belum ada 100% kesimpulan pasti. :)
Betul, memang selalu ada kecenderungan membandingkan. Selain itu juga, kadang karena kecenderungan orang berbeda, biarpun kita telah benar menjalankannya, pengalaman belum tentu sama dengan teori (benar) yang dipelajari. Untuk itu memang instruksi yang benar atau mendengarkan sharing pengalaman orang lain dan diskusi, juga penting.

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.964
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Mengapa Meditasi memberikan Karma Baik tertinggi?
« Reply #63 on: 12 January 2012, 06:02:00 AM »
ayo temn2 kk cc ibu bpk om tante dedek,pd md2..mdit itu bikin nagihh dn uenakkk tenan :P 8)
 _/\_

hasilnya kayak ym choa, bagaimana ?
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline Sostradanie

  • Sebelumnya: sriyeklina
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.794
  • Reputasi: 43
Re: Mengapa Meditasi memberikan Karma Baik tertinggi?
« Reply #64 on: 28 May 2019, 07:04:35 PM »
Topik - topik sakit kepala untuk keledai. Dari ajaran Sang Buddha yang  berinti kan 4Kebenaran mulia.Berkisar tentang dukha.

Maka meditasi lah salah 1 praktek yang berfungsi Membebaskan dari Dukha . Tidak ada perbuatan lebih tinggi dari meditasi yang dapat Membebaskan.
PEMUSNAHAN BAIK ADANYA (2019)