Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan  (Read 324464 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.847
  • Reputasi: 268
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #45 on: 19 June 2009, 11:36:53 AM »
kata-kata anda sama dengan saudara coedabgf,
apakah harus sampai mencapai sotapanna-arahat untuk mengerti dhamma? tanpa itu semua...sekarang lebih baik di lihat langsung.
ketika kita memakan garam dan dengan kondisi sadar mengetahui rasa garam "asin"
apakah masih harus meragukan rasa dari garam itu.
apakah meragukan kondisi sadar dari diri sendiri?

salam metta.

Mengerti Buddha-dhamma? Semua orang bisa mengerti Buddha-dhamma. Merealisasikan Buddha-dhamma? Itu kapasitas para ariya.

Saya berikan contoh Kisa Gotami, salah satu kisah favorit saya.
Apakah dalam kisah Kisa Gotami, ia hanya satu-satunya orang yang tahu bahwa semua orang pasti mati? Jelas tidak. Semua orang juga tahu (makanya menertawakan dia). Lalu mengapa hanya Kisa Gotami yang merealisasi Sotapatti-phala?
Sekarang saya tahu, anda juga tahu, bahwa semua orang pasti mati, tanpa perlu cari biji sawi keliling kota. Anda sudah Sotapanna? Kalau anda memang Sotapanna, berarti lupakan saja semuanya karena saya memang tidak seharusnya berdebat dengan anda.
Tetapi kalau anda belum Sotapanna, saya mau bertanya: anda tahu dhamma yang sama juga dimengerti oleh Kisa Gotami, mengapa Kisa Gotami saat itu mencapai Sotapanna, sedangkan anda tidak?


Offline johan3000

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 11.554
  • Reputasi: 219
  • Gender: Male
  • Crispy Lotus Root
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #46 on: 19 June 2009, 12:59:38 PM »
Quote
Kainyn_Kutho
...
Mungkin bagi anda nyambung, silahkan saja. Bagi saya pribadi, saya tidak cocok dengan orang yang memberikan peta jalan mundur. Ajaran Buddha dimulai dari menyadari Dukkha, bukan keinginan mengejar Kebahagiaan.

Kenapa Buddha tidak mempromosikan kebahagiaan ?

udah jelas... itu cuma kebahagiaan duniawi, dan bisa menjadi masalah kalau anda melekat di kebagiaan tsb. Kebahagiaan tsb adalah hasil samping dari tujuan. Sedangkan tujuan utama adalah melenyapkan/menghentikan Dhukka.

Makanya Dhukka diletakkan point no.1 dan tidak menyebutkan kata bahagia.

bagaimana menurut yg lain ?
Nagasena : salah satu dari delapan penyebab matangnya kebijaksanaan dgn seringnya bertanya

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.847
  • Reputasi: 268
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #47 on: 19 June 2009, 01:13:25 PM »
Kenapa Buddha tidak mempromosikan kebahagiaan ?

udah jelas... itu cuma kebahagiaan duniawi, dan bisa menjadi masalah kalau anda melekat di kebagiaan tsb. Kebahagiaan tsb adalah hasil samping dari tujuan. Sedangkan tujuan utama adalah melenyapkan/menghentikan Dhukka.

Makanya Dhukka diletakkan point no.1 dan tidak menyebutkan kata bahagia.

bagaimana menurut yg lain ?

Ya, betul sekali. Pola pikir "mengejar kebahagiaan" adalah pola pikir duniawi, sedangkan kebahagiaan yang "melampaui duniawi" adalah terhentinya dukkha. Terhentinya dukkha dimulai dari mengetahui apa itu dukkha, bukan apa itu kebahagiaan.

Offline J.W

  • Sebelumnya: Jinaraga, JW. Jinaraga
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.864
  • Reputasi: 103
  • Gender: Male
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #48 on: 19 June 2009, 02:24:51 PM »
Quote
Kainyn_Kutho
...
Mungkin bagi anda nyambung, silahkan saja. Bagi saya pribadi, saya tidak cocok dengan orang yang memberikan peta jalan mundur. Ajaran Buddha dimulai dari menyadari Dukkha, bukan keinginan mengejar Kebahagiaan.

Kenapa Buddha tidak mempromosikan kebahagiaan ?

udah jelas... itu cuma kebahagiaan duniawi, dan bisa menjadi masalah kalau anda melekat di kebagiaan tsb. Kebahagiaan tsb adalah hasil samping dari tujuan. Sedangkan tujuan utama adalah melenyapkan/menghentikan Dhukka.

Makanya Dhukka diletakkan point no.1 dan tidak menyebutkan kata bahagia.

bagaimana menurut yg lain ?

 :jempol: :jempol: :jempol:

Offline Mr.Jhonz

  • Sebelumnya: Chikennn
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.164
  • Reputasi: 148
  • Gender: Male
  • simple life
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #49 on: 19 June 2009, 03:01:42 PM »
Quote
Kainyn_Kutho
...
Mungkin bagi anda nyambung, silahkan saja. Bagi saya pribadi, saya tidak cocok dengan orang yang memberikan peta jalan mundur. Ajaran Buddha dimulai dari menyadari Dukkha, bukan keinginan mengejar Kebahagiaan.

Kenapa Buddha tidak mempromosikan kebahagiaan ?

udah jelas... itu cuma kebahagiaan duniawi, dan bisa menjadi masalah kalau anda melekat di kebagiaan tsb. Kebahagiaan tsb adalah hasil samping dari tujuan. Sedangkan tujuan utama adalah melenyapkan/menghentikan Dhukka.

Makanya Dhukka diletakkan point no.1 dan tidak menyebutkan kata bahagia.

bagaimana menurut yg lain ?
apakah karena dunia sudah berubah(sebenarnya pola pikir manusia yg berubah)..
Sehingga jika anda sekarang meletakan dukha di point 1,maka anda akan dicemooh,dan di vonis pemistik...
Makanya si bhikku barat ini meletakan kebahagian dipoint 1,
agar dapat memberikan kesan pertama yg menarik(karena tuntutan zaman),

Apalagi individu zaman sekarang,lebih mengejar sesuatu yg lebih real,yg langsung dapat dirasakan,lebih mengutamakan kebahagian duniawi..ambil contoh pratek perdukunan,walaupun zaman sekarang perkembangan teknologi sudah sangat maju(bayi tabung,cloning,dll) dan beberapa agama dgn tegas mengharamkan pratek perdukunan
tapi hal2 yang masi berbau mistis;santet,pasang susuk,pesugihan,mak erot... Masi menjamur di masyarakat,

jadi kesimpulannya si bhikku barat itu cuma mengikuti perkembangan zaman,alias beradaptasi dgn lingkungan...
Tapi kenyataannya perkembangan buddhis di dunia barat berkembang pesat,jika dibandingan perkembangan buddhis diasia...

CMIIW
buddha; "berjuanglah dengan tekun dan perhatian murni"

Offline marcedes

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.528
  • Reputasi: 70
  • Gender: Male
  • May All Being Happinesssssssss
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #50 on: 19 June 2009, 03:36:27 PM »
Quote
Jadi, Sang Buddha mengajarkan:
(1) Dukkha
(2) Penyebab Dukkha
(3) Lenyapnya Dukkha
(4) Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha

dan Ajahn Brahm mengajarkan:
(1) Kebahagiaan (Lenyapnya Dukkha)
(2) Jalan Menuju Kebahagiaan (Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha)
(3) Tidak adanya Kebahagiaan (Dukkha)
(4) Penyebab tidak adanya Kebahagiaan (Penyebab Dukkha).

Alasan beliau, ini adalah siasat bagi promosi Buddhisme di Barat, karena orang Barat sering bilang Buddhisme itu agama pesimistik.
kalau saya melihat nya nyambung kok...walau pintu masuk berbeda...

pernah ada cerita dimana seorang yang menjadi bikkhu untuk mengejar gadis surgawi yang di tampakkan oleh buddha....akan tetapi se-iring berlatih akhirnya orang tersebut mengerti dan tidak meminta janji sang buddha untuk -nya.
bukankah sama saja, motivasi awal mengejar kebahagiaan akan tetapi akhir nya mengerti tentang dukkha.^^

salam metta.


Mungkin bagi anda nyambung, silahkan saja. Bagi saya pribadi, saya tidak cocok dengan orang yang memberikan peta jalan mundur. Ajaran Buddha dimulai dari menyadari Dukkha, bukan keinginan mengejar Kebahagiaan.

Mengenai kisah Thera Nanda, sepupu Buddha yang dijanjikan bidadari kaki merah, yang menyebabkan perubahan adalah rasa malu dari Nanda. Rasa malu yang ditimbulkan dari penghinaan rekan-rekan bhikkhu begitu besar sehingga menekan nafsunya. Jadi memang bukan karena mengejar-ngejar bidadari (kebahagiaan) itu, lalu tiba-tiba nafsu hilang dan jadi arahat. Ketika seseorang menyadari dukkha, maka penghentian nafsu adalah mungkin. Ketika penghentian nafsu ada, maka keengganan dan kebebasan dari belenggu adalah mungkin.

Dan kembali lagi, kapasitas saya dalam dhamma, dibandingkan dengan Buddha, setetes air banding samudera pun masih kurang cocok perbandingannya. Oleh karena itu saya tidak memberikan dhamma dengan menyuruh orang menghadap matahari, mengusap wajah sambil berkata "Rajoharanam" kemudian membenarkan metode itu dengan mengatakan, "Buddha juga dulu begitu".

Sang Buddha bertanya kepada Nanda, "Siapakah yang lebih cantik, putri Janapadakalyani atau para dewi yang berdiri di hadapanmu itu?"

"Tentu saja mereka jauh lebih cantik dibandingkan dengan putri Janapadakalyani," jawab Nanda.

Sang Buddha berkata lagi kepada Nanda, "Apabila engkau tekun dalam mempraktekkan Dhamma, Aku berjanji untuk membantumu memiliki dewi-dewi itu."

Mendengar pernyataan itu, Nanda tertarik dan sekali lagi berjanji akan mematuhi Sang Buddha.

Bhikkhu-bhikkhu yang lain menertawakan Nanda, dengan berkata bahwa ia seperti orang bayaran, yang mempraktekkan Dhamma demi memperoleh wanita cantik, dan sebagainya.

Nanda merasa sangat tertekan dan malu. Karena itu dalam kesendirian, ia mencoba dengan keras mempraktekkan Dhamma, dan akhirnya mencapai tingkat kesucian arahat.

Sebagai seorang arahat, batinnya bebas dari semua ikatan dan keinginan. Dan Sang Buddha juga bebas dari janji-Nya kepada Nanda. Semua ini telah diketahuiNya sejak awal.


--------------
menurut saya relatif sekali pandangan AjahnBrahm,
disitu Ajahn memakai cara agar dunia barat lebih gampang menerima buddhis mengenai dukkha.

sama seperti Buddha memakai cara memperlihatkan dan menawarkan bidadari cantik...
tetapi sei-iring orang belajar buddha dhamma, mereka sendiri akan mengetahui.....

kalau pandangan anda bahwa Ajahn mengajarkan secara terbalik yah itu hak anda....yah moggo.
kalau saya berpandangan dimana Ajahn berusaha membuat dunia barat tertarik belajar buddhism.....
dan ketika se-iring belajar disitu mereka akan mengetahui yg sebenarnya.

salam metta.
« Last Edit: 19 June 2009, 03:58:13 PM by marcedes »
Ada penderitaan,tetapi tidak ada yang menderita
Ada jalan tetapi tidak ada yang menempuhnya
Ada Nibbana tetapi tidak ada yang mencapainya.

TALK LESS DO MOREEEEEE !!!

Offline marcedes

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.528
  • Reputasi: 70
  • Gender: Male
  • May All Being Happinesssssssss
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #51 on: 19 June 2009, 03:47:16 PM »
kata-kata anda sama dengan saudara coedabgf,
apakah harus sampai mencapai sotapanna-arahat untuk mengerti dhamma? tanpa itu semua...sekarang lebih baik di lihat langsung.
ketika kita memakan garam dan dengan kondisi sadar mengetahui rasa garam "asin"
apakah masih harus meragukan rasa dari garam itu.
apakah meragukan kondisi sadar dari diri sendiri?

salam metta.

Mengerti Buddha-dhamma? Semua orang bisa mengerti Buddha-dhamma. Merealisasikan Buddha-dhamma? Itu kapasitas para ariya.

Saya berikan contoh Kisa Gotami, salah satu kisah favorit saya.
Apakah dalam kisah Kisa Gotami, ia hanya satu-satunya orang yang tahu bahwa semua orang pasti mati? Jelas tidak. Semua orang juga tahu (makanya menertawakan dia). Lalu mengapa hanya Kisa Gotami yang merealisasi Sotapatti-phala?
Sekarang saya tahu, anda juga tahu, bahwa semua orang pasti mati, tanpa perlu cari biji sawi keliling kota. Anda sudah Sotapanna? Kalau anda memang Sotapanna, berarti lupakan saja semuanya karena saya memang tidak seharusnya berdebat dengan anda.
Tetapi kalau anda belum Sotapanna, saya mau bertanya: anda tahu dhamma yang sama juga dimengerti oleh Kisa Gotami, mengapa Kisa Gotami saat itu mencapai Sotapanna, sedangkan anda tidak?
saudara kaiyin,
paramatha dhamma, itu banyak yang harus direalisasikan....bukan berarti merealisasikan 1 saja semua menjadi bisa....
misalkan dalam mencapai tingkat sotapanna disitu menghancurkan 3 belenggu..

andaikata seseorang telah menghancurkan belenggu tentang miccha-dhitti saja..apakah bisa dikatakan diri-nya belum menghancurkan miccha-dhitti yang sesungguh-sungguh-nya walau karena belum mencapai sotapatti?

apakah rasa garam itu "asin" dan yang menyatakan adalah asin adalah hanya kapasitas para ariya?
well,well......
anak SD saja jika sadar rasa garam adalah "asin" maka anak SD juga telah menembus sebuah paramatha dhamma.

masalah kisah gotami, memang semua orang tahu mesti mati akan tetapi ( ketika di-ingatkan )
misalkan masalah dukkha....tentang 4KM
coba tanyakan pada orang awam yg hidup nyaman, apakah kamu sedang menderita?
mereka tentu akan menjawab "tidak, saya bahagia kok"

tetapi ketika kita mengingatkan bahwa kamu akan menderita tua, menderita sakit, menderita kematian...barulah disadari nya "oh iya masih ada dukkha"
apakah pada saat dijawab "saya bahagia" itu mengatakan bahwa orang tersebut tidak mengetahui akan menderita tua,sakit,mati?

orang bersenang-senang dengan apa yang dimiliki-nya hingga lupa akan kematian, namun ketika berhadapan dengan kematian, dirinya baru mengetahui realita.
tetapi ketika masih bersenang-senang, orang tersebut juga mengetahui bahwa diri-nya pasti akan mati...

btw,kita membahas paramatha dhamma dari awal,bukan penembusan akan buddha-dhamma.
penembusan buddha-dhamma itu sama memang dengan merealisasikan paramatha dhamma...
akan tetapi "paramatha dhamma itu cakupannya luas"

garam rasa asin tidak pernah dibahas sebagai buddha-dhamma ( ajaran buddha ) karena ajaran buddha mengajarkan bagaimana merealisasikan kebahagiaan....
sedangkan yang saya bahas disini merealisasikan paramatha dhamma.....atau kebenaran absolut.

kalau kita membahas penembusan paramatha dhamma tentang ajaran buddha, memang disitu hanya orang ariya yang telah merealisasikan akan tetapi.......seperti yang saya katakan..
buddha dhamma bukan hanya mengajarkan 1.

ada 10 belenggu  yg harus dihancurkan, dan jika kita menghancurkan 1 saja...walau belum 9  nya, tetap saja merealisasikan buddha dhamma sebagai paramatha dhamma.

jadi kata "merealisasikan" disini merealisasikan 1 saja atau semua, karena kalau "semua" yang anda maksudkan yah jelas pasti tidak connect karena dari awal saya membahas merealisasikan 1 saja.
karena kalau merealisasikan "semua" saya juga setuju dgn anda....

salam metta.
« Last Edit: 19 June 2009, 04:02:10 PM by marcedes »
Ada penderitaan,tetapi tidak ada yang menderita
Ada jalan tetapi tidak ada yang menempuhnya
Ada Nibbana tetapi tidak ada yang mencapainya.

TALK LESS DO MOREEEEEE !!!

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.847
  • Reputasi: 268
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #52 on: 19 June 2009, 04:27:17 PM »
apakah karena dunia sudah berubah(sebenarnya pola pikir manusia yg berubah)..
Sehingga jika anda sekarang meletakan dukha di point 1,maka anda akan dicemooh,dan di vonis pemistik...
Makanya si bhikku barat ini meletakan kebahagian dipoint 1,
agar dapat memberikan kesan pertama yg menarik(karena tuntutan zaman),

Apalagi individu zaman sekarang,lebih mengejar sesuatu yg lebih real,yg langsung dapat dirasakan,lebih mengutamakan kebahagian duniawi..ambil contoh pratek perdukunan,walaupun zaman sekarang perkembangan teknologi sudah sangat maju(bayi tabung,cloning,dll) dan beberapa agama dgn tegas mengharamkan pratek perdukunan
tapi hal2 yang masi berbau mistis;santet,pasang susuk,pesugihan,mak erot... Masi menjamur di masyarakat,

jadi kesimpulannya si bhikku barat itu cuma mengikuti perkembangan zaman,alias beradaptasi dgn lingkungan...
Tapi kenyataannya perkembangan buddhis di dunia barat berkembang pesat,jika dibandingan perkembangan buddhis diasia...

CMIIW

Jika benar bahwa sekarang lebih cocok begitu, maka semboyan "Dhamma tidak lapuk oleh waktu" cuma omong kosong. Jika dhamma memang berubah-ubah, maka tidak beda pula dengan aliran Maitreya yang mengatakan dhamma Buddha Gotama udah "basi".

Melihat perkembangan ajaran Buddha, bukan semata-mata dari jumlah umatnya. Kalau memang mau cuma dari jumlah umat, sekalian beri jaminan Tavatimsa atau paling tidak "mantra Buddha Hoki pencari uang"  atau takut-takuti dengan Avici, dan juga jangan lupa sering2 jelekin agama orang lain biar kesannya nomor 1. Saya jamin jumlahnya bertambah. Namun dengan cara itu, apakah bisa dikatakan Buddhisme berkembang?

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.847
  • Reputasi: 268
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #53 on: 19 June 2009, 04:40:28 PM »
menurut saya relatif sekali pandangan AjahnBrahm,
disitu Ajahn memakai cara agar dunia barat lebih gampang menerima buddhis mengenai dukkha.

sama seperti Buddha memakai cara memperlihatkan dan menawarkan bidadari cantik...
tetapi sei-iring orang belajar buddha dhamma, mereka sendiri akan mengetahui.....

kalau pandangan anda bahwa Ajahn mengajarkan secara terbalik yah itu hak anda....yah moggo.
kalau saya berpandangan dimana Ajahn berusaha membuat dunia barat tertarik belajar buddhism.....
dan ketika se-iring belajar disitu mereka akan mengetahui yg sebenarnya.

salam metta.

Ya, seperti dulu pernah saya bahas. Kalau saya nanti nyebarin Buddhisme di kaum Gypsy, mata pencaharian benar saya taruh di nomor 8, sila ke 2 pancasila saya taruh di sila ke 6 (hanya dilakukan saat athasila).
Kalau saya menyebarkan dhamma di kalangan penjagal, maka samma sankappa saya taruh di nomor 8, sila pertama pancasila, saya taruh di nomor 6 (lagi2 hanya pada saat athasila).


Bagaimana? Mungkin sekalian di kalangan orang-orang yang membenci tubuh mereka sendiri, diajarkan Jhana mundur dari Arupa-Jhana ke Rupa-Jhana?


Offline Shining Moon

  • Sebelumnya: Yuri-chan, Yuliani Kurniawan
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.148
  • Reputasi: 131
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #54 on: 19 June 2009, 05:01:20 PM »
Ehm...
What ever you may said, but for me, ajahn brahm has so much metta...
Life is beautiful, let's rock and roll..

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.847
  • Reputasi: 268
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #55 on: 19 June 2009, 05:18:42 PM »
saudara kaiyin,
paramatha dhamma, itu banyak yang harus direalisasikan....bukan berarti merealisasikan 1 saja semua menjadi bisa....
misalkan dalam mencapai tingkat sotapanna disitu menghancurkan 3 belenggu..

andaikata seseorang telah menghancurkan belenggu tentang miccha-dhitti saja..apakah bisa dikatakan diri-nya belum menghancurkan miccha-dhitti yang sesungguh-sungguh-nya walau karena belum mencapai sotapatti?

Kalau menurut saya, semua dhamma termasuk samma-ditthi dan miccha-ditthi bukanlah paramatha dhamma, itu tetaplah kebenaran relatif. Paramatha dhamma hanyalah satu, kalau boleh di-numerik-kan. Ketika seseorang merealisasikannya, maka ia melihat pandangan salah sebagai pandangan salah, pandangan benar sebagai pandangan benar, namun ia sudah bukan lagi keduanya. Pandangan apa pun sudah tidak memiliki landasan dalam bathinnya. Itu yang disebut "telah menyeberangi arus dan meninggalkan rakit".


Quote
apakah rasa garam itu "asin" dan yang menyatakan adalah asin adalah hanya kapasitas para ariya?
well,well......
anak SD saja jika sadar rasa garam adalah "asin" maka anak SD juga telah menembus sebuah paramatha dhamma.
Rasa garam itu asin adalah paramatha dhamma? Coba tanyakan pada mereka yang tidak memiliki indera pengecap.


Quote
masalah kisah gotami, memang semua orang tahu mesti mati akan tetapi ( ketika di-ingatkan )
misalkan masalah dukkha....tentang 4KM
coba tanyakan pada orang awam yg hidup nyaman, apakah kamu sedang menderita?
mereka tentu akan menjawab "tidak, saya bahagia kok"

tetapi ketika kita mengingatkan bahwa kamu akan menderita tua, menderita sakit, menderita kematian...barulah disadari nya "oh iya masih ada dukkha"
apakah pada saat dijawab "saya bahagia" itu mengatakan bahwa orang tersebut tidak mengetahui akan menderita tua,sakit,mati?

orang bersenang-senang dengan apa yang dimiliki-nya hingga lupa akan kematian, namun ketika berhadapan dengan kematian, dirinya baru mengetahui realita.
tetapi ketika masih bersenang-senang, orang tersebut juga mengetahui bahwa diri-nya pasti akan mati...
Lalu mengapa ketika orang diingatkan dan sadar, tidak jadi Sotapanna pada saat itu?


Quote
btw,kita membahas paramatha dhamma dari awal,bukan penembusan akan buddha-dhamma.
penembusan buddha-dhamma itu sama memang dengan merealisasikan paramatha dhamma...
akan tetapi "paramatha dhamma itu cakupannya luas"

garam rasa asin tidak pernah dibahas sebagai buddha-dhamma ( ajaran buddha ) karena ajaran buddha mengajarkan bagaimana merealisasikan kebahagiaan....
sedangkan yang saya bahas disini merealisasikan paramatha dhamma.....atau kebenaran absolut.
kalau kita membahas penembusan paramatha dhamma tentang ajaran buddha, memang disitu hanya orang ariya yang telah merealisasikan akan tetapi.......seperti yang saya katakan..
buddha dhamma bukan hanya mengajarkan 1.
Kembali lagi, bagi saya Paramatha Dhamma hanya satu, dan tidak bisa dibahas, tidak bisa dibagi-ilmukan, hanya bisa ditembus oleh diri sendiri dengan pengembangan kebijaksanaan. Itulah mengapa saya tidak pernah bahas meditasi dan pengalaman meditasi.
Yang bisa dibahas adalah kebenaran relatif yang bisa mengarahkan orang pada penembusan kebenaran mutlak. Rasa garam adalah asin tidak dibahas oleh Buddha karena kebenaran relatif itu tidak mengarahkan orang pada penembusan. Kecuali mungkin jika ada yang mempunyai kecenderungan tertentu akan garam (sepert halnya kain kotor pada Cula-Panthaka).


Quote
ada 10 belenggu  yg harus dihancurkan, dan jika kita menghancurkan 1 saja...walau belum 9  nya, tetap saja merealisasikan buddha dhamma sebagai paramatha dhamma.

jadi kata "merealisasikan" disini merealisasikan 1 saja atau semua, karena kalau "semua" yang anda maksudkan yah jelas pasti tidak connect karena dari awal saya membahas merealisasikan 1 saja.
karena kalau merealisasikan "semua" saya juga setuju dgn anda....

salam metta.
Ini juga berbeda dengan pendapat saya. Jika seseorang merealisasikan kebenaran mutlak, maka meski ada penghalang lainnya, ia tidak akan mundur. Demikianlah ia disebut seorang ariya. Saya juga tidak selalu menggunakan tolok ukur 10 belenggu ataupun membahas penembusan seorang ariya, karena bahkan walau hanya membahas teorinya pun, sungguh sulit sekali mendeskripsikan fenomena bathin seseorang, apalagi hancurnya belenggu tersebut. Saya beri contoh seorang Pacceka Buddha, adalah susah sekali (kalau bukan tidak mungkin) membahas jalan pikirannya ketika menembus paramatha Dhamma, walaupun hanya sebatas teori. Membahas hal-hal itu, tidak mungkin terhindar dari spekulasi.

Jadi kalau anda mau berdiskusi dengan saya, terpaksa saya katakan saya hanya mampu membahas bagian yang saya sebut sebagai kebenaran relatif itu. Itu juga yang saya katakan pada umat lain ketika bertanya pada saya tentang "nibbana" yang mutlak.



Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.847
  • Reputasi: 268
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #56 on: 19 June 2009, 05:22:34 PM »
Ehm...
What ever you may said, but for me, ajahn brahm has so much metta...

I never said he is a bad person. In fact, I helped my friends translating his talk and recommend his book.
Doesn't mean I have to agree with him for all he said, or to prefer his teaching than Buddha's teaching. The same way I do towards other great bhikkhus.


Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.407
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #57 on: 19 June 2009, 07:14:55 PM »
Ehm...
What ever you may said, but for me, ajahn brahm has so much metta...

I never said he is a bad person. In fact, I helped my friends translating his talk and recommend his book.
Doesn't mean I have to agree with him for all he said, or to prefer his teaching than Buddha's teaching. The same way I do towards other great bhikkhus.


   
Agree, just like ajahn chan call insect exterminator to kill insect, not the action that seems wise (pake google translate nih ;D =)) )
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline Jerry

  • Sebelumnya xuvie
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.212
  • Reputasi: 124
  • Gender: Male
  • Suffering is optional.. Pain is inevitable..
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #58 on: 19 June 2009, 07:50:45 PM »
kata-kata anda sama dengan saudara coedabgf,
apakah harus sampai mencapai sotapanna-arahat untuk mengerti dhamma? tanpa itu semua...sekarang lebih baik di lihat langsung.
ketika kita memakan garam dan dengan kondisi sadar mengetahui rasa garam "asin"
apakah masih harus meragukan rasa dari garam itu.
apakah meragukan kondisi sadar dari diri sendiri?

salam metta.

Mengerti Buddha-dhamma? Semua orang bisa mengerti Buddha-dhamma. Merealisasikan Buddha-dhamma? Itu kapasitas para ariya.
Sory koreksi dikit bro Kainyn :)
IMO, kurang cocok yah pemakaian bahasanya. Seolah2 merealisasikan Buddha dhamma adl eksklusif bagi para ariya. Saat orang awam merealisasikan Buddha-dhamma itulah orang tsb adalah ariya. Jadi bukan karena ariya maka bisa merealisasikan Buddha-dhamma, melainkan merealisasikan Buddha-dhamma maka disebut ariya.

_/\_
appamadena sampadetha

Offline Mr.Jhonz

  • Sebelumnya: Chikennn
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.164
  • Reputasi: 148
  • Gender: Male
  • simple life
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #59 on: 19 June 2009, 08:12:29 PM »
Om kainy
anumodana atas pandangan om tentang 4kesunyataan mulia diatas,jangan diperpanjang lagi...

Pertanyaan selanjutnnya,
kita tahu bahwa sang buddha tidak pernah mengajarkan kita untuk meminta2,tidak pernah mengajarkan kita untuk menjadi pengemis,dan sang buddha selalu mengajarkan kita untuk mengandalkan diri sendiri,
kenyataannya,di sebagian besar kalanggan buddhis masih terjadi praktek meminta-minta...
Parahnya,praktek meminta-minta ini diajarkan oleh guru2 besar,sehingga praktek meminta(make a wish) ini sudah menjadi bagian dari buddhisme..
Yang jadi masalah,jika kita coba memberi pengertian kepada mereka,mereka malah menyerang balik,dengan mengatakan kita fanatik,sampai menyerang aliran  buddhis tertentu...
Bagaimana pandangan om kainy mengenai masalah ini...
buddha; "berjuanglah dengan tekun dan perhatian murni"