News:

Semoga anda berbahagia _/\_

Main Menu

Recent posts

#21
Mahayana / Re: Sila Bodhisattva , 18 UTAM...
Last post by xenocross - 24 February 2026, 02:22:15 PM
15. Dengan sengaja, keliru menyatakan telah mencapai realisasi, misalnya sunyata.
Berbohong menyatakan, "saya telah menembus kebenaran tertinggi" [kesunyataan]. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Lebih jauh, putra keluarga baik, di masa depan akan ada bodhisattva pemula, perumah tangga atau ditahbiskan (sebagai anggota sanggha), yang akan membaca, mengulang, dan melafalkan sutra yang mengandung makna mendalam tentang kekosongan. Sutra - sutra mahayana ini adalah objek pengertian bagi bodhisattva yang hanya membutuhkan sedikit usaha, dan yang adalah makhluk dengan kecerdasan agung, dihiasi <telah mencapai> dharani, kesabaran, konsentrasi meditatif, dan tahapan (tingkat bodhisattva)
Setelah mengulang mereka (sutra-sutra), mereka mengajarkan sutra-sutra ini dengan luas pada orang lain. Mereka berkata, "Aku telah memahami ajaran ini dengan kecerdasanku sendiri; Aku mengajarkannya padamu dengan cara ini karena aku berwelas asih. Maka kamu harus bermeditasi pada Dharma yang mendalam ini supaya kamu dapat melihatnya secara langsung dan kamu juga akan dapat melihat kebijaksaan primordial, seperti yang dapat kulakukan sekarang"
Bukannya mengatakan, "Aku belum mencapai Dharma yang paling mendalam ini, tetapi mengajarkannya hanya dengan membacakannya", mereka mempromosikan diri mereka sendiri demi mendapatkan keuntungan dan kehormatan. Maka, di mata para Tathagata, Arahat, Buddha Yang Tercerahkan Sempurna di tiga masa, para Bodhisattva Mahasattva, dan makhluk-makhluk suci, mereka telah ternoda oleh kesalahan. Sebuah pelanggaran berat telah terjadi. Setelah menipu para dewa dan manusia dengan menggunakan Mahayana, bagi para bodhisattva tersebut bahkan tidak akan ada kendaraan shravaka yang diajarkan Buddha , apalagi untuk Mahayana, atau realisasi khusus yang menjadi pintu gerbang memasuki Mahayana, atau pencerahan yang lengkap sempurna yang tiada tara.
"Analoginya adalah seperti seseorang yang mengembara di daerah liar terpencil, dimana dia menderita karena kelaparan, kehausan, dan kelelahan. Dia kemudian mendekati sebuah pohon, ingin memakan buahnya. Tetapi, mengabaikan pohon dengan aroma wangi dan buah yang enak, ia malah memanjat pohon beracun yang berbuah tanpa rasa, dan memakan buah beracun. Dengan melakukan itu dia menyebabkan kematiannya sendiri. Bodhisattva pemula yang melakukan pelanggaran keenam dikatakan seperti orang di analogi ini"
"Maka, jika bodhisattva pemula yang telah mendapatkan kelahiran sebagai manusia yang sulit didapatkan ini tinggal dengan seorang teman spiritual dan berharap memasuki mahayana, tetapi malah memuji diri sendiri dan menjelek-jelekkan orang lain demi mendapatkan keuntungan, kehormatan, dan popularitas, mereka melakukan pelanggaran serius. Karena pelanggaran akar ini, semua orang bijaksana akan mengkritik mereka dan mereka akan pergi ke alam rendah. Tidak ada ksatria, brahmana, waisya, atau sudra yang akan mengandalkan orang demikian. Siapapun yang mengandalkan orang demikian pastilah tidak bijaksana. Ini adalah pelanggaran akar keenam dari bodhisattva pemula. (Akasagarbha Sutra)

16. Menerima sesuatu yang dicuri dari Triratna. Atau mendenda / menghukum seorang bhiksu
Menjatuhkan denda kepada praktisi-praktisi yang mengambil penahbisan dan menerima apa yang telah dipersembahkan atau yang tadinya hendak dipersembahkan kepada Sang Triratna. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Lebih jauh lagi, putra berbudi, di masa depan para raja (Ksatria) akan mempunyai Menteri dan Penasehat yang jahat, prajurit yang jahat, dan tabib yang jahat – orang-orang dungu yang kaya dan berkuasa, yang bangga dengan keahliannya. Terlihat melibatkan diri dalam banyak perbuatan bajik seperti berdana, mereka akan menjadi sombong dan angkuh karena perbuatan memberi mereka.
Didorong oleh arogansi dan kesombongan, mereka akan menyebabkan perpecahan diantara Ksatria, dan juga perpecahan diantara monastik dan Ksatria. Didukung oleh Ksatria, mereka bahkan akan menghukum para praktisi yang ditahbiskan, merampok mereka dengan cara menjatuhkan denda. Lalu, karena dianiaya demikian, para praktisi yang ditahbiskan ini akan mencuri dari siapapun, atau sangha lokal, atau sangha di empat penjuru, dan tempat pemujaan (stupa) manapun, dan memberi apa yang mereka telah curi untuk membayar denda.
Dan orang-orang jahat ini kemudian akan mempersembahkan uang /barang-barang ini kepada Ksatria. Kedua tindakan ini menjadi pelanggaran utama. Ini adalah pelanggaran utama ketujuh [bagi bodhisattva pemula]. (Akasagarbha Sutra)

17. Membuat peraturan yang memberatkan atau membahayakan
Menyebabkan seseorang meninggalkan meditasi ketenangan batin dan menyerahkan benda-benda milik ahli meditasi kepada mereka yang melafalkan doa-doa.
Ini adalah pelanggaran-pelanggaran utama, sebab-sebab bagi makhluk untuk terlahir kembali di neraka besar. Akuilah kesalahan-kesalahan ini dalam mimpi, dengan berdiri di hadapan Arya Akashagarbha. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Lebih jauh lagi, para Ksatria jahat ini bersama-sama dengan praktisi monastik melakukan pelanggaran seperti ini. Mereka menyatakan Dharma yang murni sebagai bukan Dharma, dan mengatakan apa yang bukan Dharma sebagai Dharma, sehingga meninggalkan Dharma sejati. Mereka tidak menjaga disiplin sila dari sutra dan vinaya, tidak juga mereka menjalankan ajaran luar (Tirthika), tidak juga ajaran agung (Buddhadharma).
Setelah meninggalkan latihan mereka dalam cinta kasih (metta), welas asih agung (mahakaruna), dan penyempurnaan kebijaksanaan (prajnaparamita), dan juga latihan mereka dalam cara mahir (upayakausalya) dan latihan-latihan yang diajarkan di dalam sutra-sutra, mereka menetapkan tugas-tugas untuk komunitas monastik yang tidak berhubungan dengan aktivitas bajik [yang telah disebutkan sebelumnya] demi merugikan para bhiksu.
Karena tugas-tugas seperti itu telah ditetapkan, para bhiksu dirugikan. Mereka meninggalkan praktek meditasi ketenangan batin (samatha) dan pandangan terang (vipasyana). Niat-niat jelek meningkat di dalam diri para meditator itu, dan sebagai hasilnya mereka tidak dapat menenangkan emosi mereka yang belum terkendali. Karena [pikiran jelek] ini tidak teredam, para bhiksu ini merosot dalam hal motivasi, dispilin moral (sila), perilaku, dan pandangan. Karenanya, mereka menjadi lengah, dan menjadi semakin lengah lagi, dan disiplin moral (sila) mereka merosot.
Walaupun mereka bukan [lagi] seorang monastik, mereka berpura-pura [masih] menjadi monastik, dan walaupun mereka tidak menjalankan kehidupan suci, mereka berpura-pura [menjalankannya]. Mereka serupa keledai, dan mereka menjelaskan Dharma dengan sangat jelas. Ketika mereka telah dihormati dan dimuliakan besar-besaran oleh para Ksatria dan pengikutnya dan telah menerima persembahan mereka, mereka [bhiksu jahat itu] mengkritik, di depan para perumahtangga, bhiksu-bhiksu yang mempraktekkan meditasi dengan rajin.
Dan para Ksatria beserta rombongan pengikutnya menjadi marah pada bhiksu-bhiksu yang rajin bermeditasi, dan menghina mereka.
Jika sokongan dan benda-benda materi yang seharusnya diberikan kepada bhiksu-bhiksu yang rajin mempraktekkan meditasi [malah kemudian] dipersembahkan kepada bhiksu-bhiksu yang melafalkan doa-doa, pada poin ini, maka kedua tindakan [dari monastik dan penderma] menjadi pelanggaran utama. Mengapa? Karena bhiksu yang melatih meditasi adalah orang suci, tetapi mereka yang hanya melafalkan doa dan mengajar orang lain tidak. Para bhiksu yang bermeditasi telah menjadi wadah bagi konsentrasi meditatif, dharani, kesabaran, dan tahapan.
Mereka telah menjadi makhluk suci yang pantas untuk menerima persembahan; mereka telah menjadi wadah suci. Mereka menyinari dunia dan menunjukkan jalan, membebaskan makhluk-makhluk  dari dunia karma dan klesha dan menempatkan mereka pada Jalan menuju akhir penderitaan.
Putra berbudi, karena mereka tidak mempunyai rasa bersalah pada tindakan tersebut dan tidak takut pada akibatnya, ini adalah pelanggaran utama kedelapan bagi bodhisattva pemula. Ketika bodhisattva pemula melakukan pelanggaran-pelanggaran ini, mereka kehilangan semua akar kebajikan yang telah dikumpulkan sebelumnya. Mereka telah menjadi 'terkalahkan', akan kehilangan kebahagiaan alam-alam tinggi dan kebahagiaan pembebasan, dan telah menipu diri mereka sendiri. (Akasagarbha Sutra)


18. Meninggalkan bodhicitta
Meninggalkan batin pencerahan. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Singkatnya, hanya ada dua hal yang menyebabkan seseorang kehilangan ikrar etika bodhisattva otentik yang telah diambil: sepenuhnya meninggalkan aspirasi untuk mencapai pencerahan yang lengkap sempurna yang tiada tara; dan melakukan perbuatan yang serupa dengan 'kekalahan' (parajika) dengan faktor- faktor pengikat. (Bodhisattvabhumi, Asanga)
Bodhisattva Nyanajina bertanya kepada Buddha, "Bhagavan, kapankah seorang Bodhisattva disebut melakukan pelanggaran?"
Buddha memberitahukan kepada Bodhisattva Nyanajina, "Putra yang berbudi, jika seorang Bodhisattva menganut Dharma dari para Shravaka dan Pratyekabuddha, maka ia telah melakukan pelanggaran berat, walaupun ia telah menjalankan Pratimoksa,  hanya makan buah-buahan dan rumput-rumputan selama ratusan ribu kalpa dan bisa tabah menerima baik pujian maupun celaan dari mahkluk hidup. Putra yang berbudi, seperti halnya kaum Shravaka tidak bisa mencapai Nirvana dalam kehidupan ini apabila mereka melakukan pelanggaran berat, maka demikian juga Bodhisattva tidak akan memperoleh Anuttara-samyak-sambodhi apabila mereka tidak menghilangkan Dharma Shravaka dan Pratyekabuddha yang telah dianut, tidak melepaskannya dan tidak menyesali perbuatannya. Adalah tidak mungkin bagi Bodhisattva ini untuk mendapatkan Buddhadharma [selama ia tetap berpikiran seperti itu]. (Upayakausalya Sutra)

#22
Mahayana / Re: Sila Bodhisattva , 18 UTAM...
Last post by xenocross - 24 February 2026, 02:17:24 PM
8.     Melakukan lima perbuatan keji.
Melakukan lima kejahatan besar. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Lebih jauh, seorang ksatria melakukan pelanggaran utama keempat dengan melakukan salah satu dari lima kejahatan besar ini: dengan sengaja membunuh ibu sendiri, membunuh ayah, membunuh shravaka, arahat, atau Sang Bhagava; memecah belah Sangha; atau dengan sengaja dan dengan niat jahat menyebabkan seorang Tathagata, Arahat, Buddha yang tercerahkan lengkap sempurna berdarah.
......
Terakhir, bagi seorang Menteri untuk melakukan satu atau lebih dari lima kejahatan besar adalah pelanggaran utama kelima. (Akasagarbha Sutra)

9.           Menganut pandangan salah
Berpegang pada pandangan yang salah. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
"Lebih jauh, jika seorang Ksatria mendukung filosofi ketiadaan sebab dan akibat, menyangkal keberadaan kehidupan mendatang, memeluk sepuluh perbuatan tidak bajik dan menjalankannya, dan juga mempengaruhi banyak orang lain untuk mengikuti sepuluh perbuatan tidak bajik, memanipulasi mereka, menyemangati mereka dan membawa mereka untuk melakukannya; perbuatan ini adalah pelanggaran utama kelima [bagi Ksatria] (Akasagarbha Sutra)

10. Menghancurkan desa dan kota dan sebagainya

Menghancurkan sebuah tempat atau wilayah. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Menghancurkan sebuah desa, wilayah, atau kota, adalah pelanggaran utama kedua [bagi Menteri] (Akasagarbha Sutra)

11. Menjelaskan sunyata kepada mereka yang tidak siap.
Menjelaskan kesunyataan kepada mereka yang belum siap mendengarkannya. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Ada makhluk-makhluk yang lahir di dunia yang penuh gangguan dan lima ketidakmurnian karena mereka melakukan perbuatan jahat di masa lampau. Mereka bertumpu pada seorang sahabat spiritual dan mendengarkan ajaran Mahayana yang paling mendalam, dikarenakan adanya akar kebajikan kecil yang mereka miliki. Walaupun mereka melakukannya dengan sedikit pengertian, para putra keluarga baik ini membangkitkan aspirasi untuk mencapai pencerahan lengkap sempurna yang tak tertandingi.
Beberapa bodhisattva pemula diantara mereka mendengarkan kumpulan sutra yang menjelaskan kekosongan yang terdalam, membaca dan menuliskannya. Di hadapan makhluk-makhluk lain yang mengertinya sama sedikitnya dengan yang disebutkan sebelumnya, mereka mengulang sutra-sutra ini dengan rinci dalam kata-kata dan makna, sebagaimana mereka telah dengar dan pahami.
Ketika makhluk-makhluk biasa yang tidak matang, yang belum menjalani latihan keras, mendengar sutra yang amat dalam tersebut, mereka menjadi sangat takut dan ngeri. Karena mereka takut, mereka berbalik dari [aspirasi untuk] mencapai pencerahan yang lengkap sempurna yang tak tertandingi, dan beraspirasi untuk [memasuki] kendaraan shravaka. Ini adalah pelanggaran akar pertama bagi seorang bodhisattva pemula.
Putra keluarga berbudi, karena pelanggaran akar ini, mereka akan kehilangan akar kebajikan yang sebelumnya telah mereka dapatkan. Mereka akan berada dalam keadaan 'terkalahkan' dan akan kehilangan kebahagiaan kelahiran alam tinggi dan kebahagiaan kebebasan. Mereka akan mengkhianati bodhicitta mereka, batin pencerahan, dan pergi ke alam rendah.
Misalnya seperti ini. Sama halnya, contohnya, seseorang mengarungi lautan luas dalam tahap-tahap, dengan cara yang sama bodhisattva juga harus pertama-tama mengetahui [kapasitas] makhluk lain, kecenderungan mereka dan sifat-sifat mereka. Sesuai dengan watak dan kecenderungan bodhisattva pemula lain, mereka harus mengajarkan dharma langkah demi langkah. (Akasagarbha Sutra)

12. Menyebabkan orang lain meninggalkan Mahayana
Mengalihkan tujuan seseorang yang hendak  mencapai Kebuddhaan yang lengkap sempurna. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Lebih jauh lagi, beberapa bodhisattva pemula mungkin mengatakan pada beberapa orang:
"Engkau tidak mampu untuk menerapkan latihan enam kesempurnaan (paramita). Engkau tidak dapat mewujudkan dan dengan lengkap merealisasi pencerahan lengkap sempurna yang tiada banding. Karena itu, cepat-cepatlah alihkan pikiranmu kepada kendaraan Shravaka atau kendaraan Pratyekabuddha dan engkau akan dengan segera dengan pasti terbebaskan dari samsara."
Mengatakan kata-kata ini adalah pelanggaran akar kedua bagi bodhisattva pemula. (Akasagarbha Sutra)

13. Menyebabkan orang lain melepaskan Ikrar Pratimoksa mereka dan memasuki Mahayana
Menyebabkan seseorang sepenuhnya melepaskan Ikrar Pratimoksa dan memasuki Mahayana, [sebagai pengganti disiplin sila dan vinaya]. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Lebih jauh lagi, beberapa bodhisattva pemula mungkin mengatakan pada beberapa orang:
"Oh, apa gunanya melatih vinaya pembebasan pribadi, disiplin moral, dan perilaku baik? Engkau seharusnya segera membangkitkan pikiran yang beraspirasi untuk pencerahan yang lengkap sempurna yang tiada banding dan mempelajari Mahayana. Kemudian, bahkan tindakan jahat paling kecil yang telah engkau lakukan dengan tubuh, ucapan, dan pikiran karena didorong oleh klesha akan dimurnikan, dan mereka tidak akan berbuah."
Mengatakan kata-kata ini adalah pelanggaran akar ketiga bagi bodhisattva pemula. . (Akasagarbha Sutra)

14. Meremehkan Kendaraan yang lebih kecil dan menyebabkan orang lain berperilaku demikian.
Mempertahankan pandangan bahwa Kendaraan-kendaraan praktisi yang masih berlatih tidak memungkinkan seseorang untuk mengatasi kemelekatan dan seterusnya, dan menyebabkan orang lain memiliki pandangan yang sama. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Lebih jauh lagi, putra keluarga baik, seorang bodhisattva pemula mungkin akan berkata : "Putra berbudi, hindarilah ajaran-ajaran dari kendaraan shravaka! Jangan mendengarkannya, jangan membacanya, dan jangan mengajarkannya pada orang lain. Putra berbudi, hindarilah ajaran kendaraan shravaka! Mereka (ajaran shravaka) adalah alasan penyebab anda tidak mampu mendapatkan hasil yang unggul, penyebab anda tidak dapat menghapuskan noda batin. Maka, yakinlah pada ajaran-ajaran Mahayana. Dengarkanlah, pelajarilah, dan ajarkanlah ajaran-ajaran Mahayana. Dengan demikian maka anda tidak akan pergi menuju ke alam rendah, anda tidak akan memasuki jalan menuju alam rendah, dan dengan cepat anda akan mencapai keadaan pencerahkan lengkap sempurna yang tak tertandingi."
Jika kata-kata ini diucapkan dan sang pendengar berbuat seperti yang diinstruksikan dan mengambil pandangan seperti demikian, maka kedua tindakan tersebut menyebabkan pelanggaran akar. Ini adalah pelanggaran akar ke-4 dari bodhisattva pemula. (Akasagarbha Sutra)
#23
Mahayana / Sila Bodhisattva , 18 UTAMA
Last post by xenocross - 24 February 2026, 02:16:08 PM
Sila Bodhisattva, 18 Pelanggaran Utama, versi tradisi Tibet.
Kumpulan kutipan sumber akar.


Kumpulan sumber akar untuk 18 Pelanggaran Utama (Parajika) yang mematahkan Sila Bodhisattva

1. Memuji diri sendiri dan merendahkan orang lain
Dikarenakan kemelekatan kuat terhadap materi dan reputasi, memuji diri sendiri dan merendahkan orang lain adalah sebuah pelanggaran utama seorang bodhisattva. (Bodhisattvabhumi, Asanga)
Karena kemelekatan untuk mendapatkan keuntungan dan ketenaran, Engkau memuji diri sendiri dan meremehkan orang lain. (Bodhisattvasamvaravimsaka, Chandragomin.)
Memuji kualitas diri sendiri dengan harapan mendapatkan keuntungan, reputasi, dan pujian, serta mencemarkan nama orang lain. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Lebih jauh, seorang bodhisattva pemula mungkin adalah seorang munafik, memikirkan satu hal tetapi mengklaim hal lain. Mereka juga mungkin menyebarkan dan menulis ajaran Mahayana, dan demi mendapatkan keuntungan dan kehormatan mereka mungkin melafalkan bait-bait tersebut, mengulang, menghapal, membaca, dan menjelaskan mereka, dan bahkan mengajarkan pada orang lain hal-hal yang mereka hanya dengar sebelumnya, mengatakan, "saya adalah pengikut Mahayana; tetapi orang lain bukan."
Karena mereka mencari keuntungan dan kehormatan, mereka menjadi cemburu dan marah ketika orang lain dihargai dan dihormati. Menyebut nama orang lain, mereka merendahkan, menghina, dan menjelek-jelekkan orang lain, dan malah memuji diri sendiri. Karena kecemburuan, mereka mengatakan, "Saya mempunyai kualitas unggul."
Perbuatan ini adalah pelanggaran dan membuat mereka kehilangan kebahagiaan dari Mahayana. Maka ini dipandang sebagai pelanggaran yang sangat serius yang membawa kelahiran di alam rendah. Analoginya adalah seperti sekelompok orang yang ingin pergi ke pulau permata dan mengarungi samudera luas dengan perahu, tetapi perahu tersebut hancur di tengah lautan. Dengan cara yang sama, walaupun para bodhisattva pemula ini ingin menyebrangi samudera luas Mahayana, mereka menghancurkan perahu keyakinan mereka dan berpisah dari kekuatan penting kebijaksanaan ketika mereka berbohong karena iri hati. Karena itu, bodhisattva pemula melakukan pelanggaran yang sangat berat ketika mereka berbohong karena iri hati. (Akasagarbha Sutra)
Ada empat prinsip yang, ketika ditemukan dalam seorang bodhisattva, menjaganya dari penyimpangan sehingga ia bisa terus maju ke tujuan....., kebanggaannya terkikis, ia meredam kecemburuan dan keserakahan, ketika ia melihat kesuksesan orang lain pikirannya dipenuhi kebahagiaan. (Manjusribuddhakshetragunavyuhalankara Sutra)

2. Tidak memberi harta atau dharma
Mempunyai benda-benda dan ketika memilikinya, dikuasai oleh kemelekatan, karena kekerasan hati menolak untuk memberikan benda materi pada pemohon yang terlantar, yang tidak memiliki makanan, pelindung, pendukung, dan yang memohon dengan cara yang benar, atau menolah untuk membagikan ajaran Dharma kepada mereka yang tertarik pada Dharma dan yang memintanya dengan cara yang benar dikarenakan kepelitan mengenai Dharma, adalah perbuatan pelanggaran utama bagi bodhisattva. (Bodhisattvabhumi, Asanga)
Bagi mereka yang kesusahan karena tidak memiliki pelindung, didorong oleh kekikiran, tidak memberikan kekayaan ataupun Dharma. (Bodhisattvasamvaravimsaka, Chandragomin.)

3. Menolak permintaan maaf seseorang atau; karena marah menyerang orang lain.
Seorang bodhisattva, tidak mengurangi kemarahannya tetapi malahan membiarkan klesha meningkat dan mengucapkan perkataan kejam, dan setelah dikuasai kemarahan, memukul makhluk hidup lain dengan tangan kosong, batu, atau tongkat, melukai mereka atau menyakiti mereka dengan cara apapun, dan ketika orang lain meminta maaf, hanya membuat kekesalannya meningkat, tidak mendengarkan, tidak menerima [permintaan maaf], dan tidak melepaskan kemarahannya – adalah sebuah pelanggaran utama seorang bodhisattva. (Bodhisattvabhumi, Asanga)
Tidak mendengarkan orang lain walaupun mereka meminta maaf, dan karena kemarahan menyerang orang lain. (Bodhisattvasamvaravimsaka, Chandragomin.)

4. Menyangkal Mahayana dan menyebarkan doktrin keliru
Menyangkal kumpulan sutra-sutra bodhisattva, berdasarkan inisiatif sendiri atau mengikuti contoh seseorang; membaktikan diri pada doktrin keliru, menghormati doktrin keliru, menjelaskan doktrin keliru, dan mendesak orang lain untuk mempraktikkan doktrin keliru tersebut, adalah sebuah pelanggaran utama bagi bodhisattva. (Bodhisattvabhumi, Asanga)
Menyangkal ajaran Mahayana dan menyebarkan doktrin-doktrin yang menyesatkan. (Bodhisattvasamvaravimsaka, Chandragomin.)
Terpengaruh oleh klesha diri sendiri atau orang lain, menjelaskan doktrin-doktrin keliru. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)

5. Mencuri milik Triratna.[/b]
Mengambil apa yang menjadi milik Sang Triratna. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Bodhisattva Maitreya bertanya, "Yang Terberkahi, makhluk hidup yang ternoda oleh pelanggaran utama kehilangan akar kebajikan mereka dan ditakdirkan untuk lahir di alam rendah. Mereka berada dalam keadaan 'terkalahkan' dan akan kehilangan kebahagiaan dewa dan manusia. Tetapi putra keluarga berbudi ini membawa makhluk-makhluk ini untuk mendapatkan kebahagiaan alam tinggi dan pembebasan. Apakah tepatnya pelanggaran-pelanggaran ini?"
Yang Terberkahi menjawab, "Putra keluarga berbudi, ada lima pelanggaran utama untuk seorang [kasta] Ksatria yang mempunyai otoritas kerajaan. Dengan melakukan yang manapun dari pelanggaran utama ini, seorang [kasta] Ksatria yang mempunyai otoritas kerajaan akan kehilangan semua akar kebajikan yang sebelumnya telah dihimpun, dan akan berada dalam keadaan 'terkalahkan'. Orang tersebut akan kehilangan kebahagiaan dewa dan manusia, dan akan pergi ke alam rendah.
Apakah lima pelanggaran ini? Putra keluarga berbudi, untuk seorang [kasta] Ksatria yang mempunyai otoritas kerajaan, mencuri dari tempat pemujaan (stupa), mencuri dari apa yang telah dipersembahkan pada Sangha lokal ataupun Sangha di empat penjuru, atau mendorong orang lain untuk mencuri hal itu; ini adalah pelanggaran utama pertama [bagi ksatria]." 
"Maitreya, pelanggaran bagi seorang Menteri juga ada lima. Apakah lima ini?  Mencuri dari tempat pemujaan (stupa), atau mencuri dari apa yang telah dipersembahkan pada Sangha di empat penjuru; adalah pelanggaran utama pertama bagi seorang Menteri."  (Akasagarbha Sutra)

6. Menolak Dharma yg murni
Menolak Dharma suci Sang Muni. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
"Memaksa seseorang untuk meninggalkan Dharma, apakah itu instruksi mengenai pembebasan pasti Shravaka, instruksi mengenai pembebasan pasti Pratyekabuddha, atau instruksi mengenai pembebasan pasti Mahayana, dan juga menciptakan halangan terhadap Ajaran, atau menyembunyikan mereka; semua ini adalah pelanggaran utama kedua [bagi ksatria]."
"Lebih jauh lagi, bagi seorang Menteri, memaksa seseorang untuk meninggalkan Dharma, apakah itu instruksi mengenai pembebasan pasti Shravaka, instruksi mengenai pembebasan pasti Pratyekabuddha, atau instruksi mengenai pembebasan pasti Mahayana, dan juga menciptakan halangan terhadap Ajaran, atau menyembunyikan mereka; ini adalah pelanggaran utama ketiga [bagi Menteri]" (Akasagarbha Sutra)
"Di dalam kitab suci Sarvadharmavaipulyasamgraha Sutra ada satu lagi kejahatan yang diuraikan:
"Halus, O Manjusri, halangan bagi kebajikan yang datang dari menolak Dharma. Dalam satu kasus  seseorang memuji prinsip-prinsip yang ditetapkan oleh Tathagata, sementara di kasus lain dia mengatakan celaan; dia menolak Dharma. Dengan melakukannya, dia menolak Sang Tathagata, dan menolak Dharma, dan melecehkan Sangha. Orang tersebut yang berkata [tentang Dharma], 'aturan ini sesuai, yang itu tidak sesuai' benar-benar menolak Dharma.
Saya tidak pernah membabarkan Dharma dalam bagian-bagian terpisah, satu untuk Kendaraan Shravaka, satu untuk Kendaraan Pratyekabuddha, satu untuk Kendaraan Agung. Karena itu mereka adalah anak-anak kebingungan yang membuat pemisahan seperti ini dalam Dharma-Ku, dengan mengatakan 'Ini masuknya ke Kendaraan Shravaka, yang itu ke Kendaraan Pratyekabuddha, dan yang itu milik Kendaraan Bodhisattva.' Dia yang mengatakan ini menolak Dharma dengan menyatakannya sebagai terbagi-bagi.  Demikian pula orang yang mengatakan, 'Poin Dharma ini adalah masuk kategori Disiplin Bodhisattva, poin berikutnya tidak.' (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)

7. Menyita jubah, atau menyerang, atau memenjarakan, atau memaksa lepas jubah seorang bhiksu.
Menyita jubah seorang bhiksu, menyerang dirinya, memenjarakan atau mengurungnya, memecatnya, walaupun dia seorang bhiksu yang tidak menjaga ikrar dengan baik. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Mengambil dengan paksa jubah kuning dari mereka yang demi Buddha telah mencukur rambut dan jangut mereka dan memakai jubah kuning – apakah mereka menjaga sila atau tidak, apakah mereka menjalankan disiplin (vinaya) atau tidak – sehingga membuat mereka menjadi perumahtangga; menerapkan hukuman fisik pada mereka, memenjarakan mereka, atau membunuh mereka; semua ini adalah pelanggaran utama ketiga [bagi seorang Ksatria]
Lebih jauh lagi, bagi seorang Menteri, menyakiti mereka yang telah menerima penahbisan dengan [di dalam Dharma dan Vinaya] Sang Bhagava, apakah mereka menjaga sila atau tidak, apakah mereka menjalankan disiplin (vinaya) atau tidak, mengambil paksa jubah kuning mereka sehingga membuat mereka menjadi perumahtangga, menghukum mereka secara fisik, memenjarakan mereka atau mengambil nyawa mereka; semua ini adalah pelanggaran utama keempat [bagi seorang Menteri] (Akasagarbha Sutra)
Lagi, di dalam kitab suci Kshitigarbha ditulis:
"O Brahma perkasa, dia yang telah ditahbiskan dalam nama-Ku, tetapi telah jatuh ke dalam jalur kejahatan dan tak bermoral, dan walaupun terkenal sebagai seorang Bhiksu tetapi  adalah manusia kosong, bukan samana sesungguhnya walaupun berpura-pura sebagai petapa, bukan orang selibat walaupun mengaku selibat, pecah, jatuh, dikalahkan oleh banyak kesalahan, walaupun demikian bhiksu tersebut yang jahat dan berdosa dapat saja sampai hari ini menjadi pengajar bagi dewa dan manusia, yea, bagi semua yang adalah wadah kebajikan, dia mungkin saja menjadi Kalyanamitra [Guru].
Dan di setiap saat dia adalah objek yang tidak pantas. Tetapi karena tiada rambut di kepala dan dagunya, karena penampilannya yang memakai jubah kuning, walaupun ini dilakukan hanya untuk berpura-pura, dia mungkin saja masih menumbuhkan akar kebajikan pada teman-temannya dan menunjukkan mereka jalan menuju keselamatan. Karena itu, siapapun yang telah ditahbiskan dalam namaku, apakah mereka bajik atau tidak, dalam kasusnya Aku tidak mengizinkan kaisar atau raja, bahkan yang berpihak pada keadilan, untuk melakukan pada orang ini mencambuknya, atau memenjarakannya, atau memotong anggota tubuhnya, atau menghukum mati dia; apalagi yang tidak adil.
Di kitab yang sama dikatakan: "Siapapun yang melukai orang yang telah ditahbiskan dalam nama Buddha dan berada dalam Jalan Pencerahan atau wadah ajaran menuju pencerahan, mereka menjadi pelanggar besar di mata semua Buddha di masa lalu, masa sekarang, dan masa depan; akar kebajikan mereka terbuang dan himpunan kebajikannya terbakar habis; dan mereka berada dalam jalan menuju neraka." (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
Di dalam Pravrajyantaraya Sutra lagi sebuah kejahatan diulas:
"Ada empat hal, O Mahanama, yang jika dilakukan seorang perumahtangga, dia akan terlahir di waktu yang tidak menguntungkan. Yaitu dia akan terlahir buta, atau bodoh, atau bisu, atau sebagai Candala....... hermaprodit, kasim, budak permanen, wanita, anjing, babi, keledai, unta, atau ular berbisa. Apa saja empat ini?
Kasus pertama, Mahanama,  seorang perumahtangga menghalangi pikiran untuk meninggalkan keduniawian, atau untuk menerima pentahbisan, atau mengikuti Jalan Mulia yang telah dibabarkan oleh Buddha di masa lalu terhadap makhluk lain. Ini adalah hal pertama.
Lagi, seorang perumahtangga karena kemelekatan pada harta kekayaan atau kemelekatan pada anaknya, tidak meyakini hukum karma, menyebabkan halangan pada pentahbisan anak lelaki, anak perempuan, istri, atau pada anggota keluarganya, karena posisinya sebagai kepala rumah tangga. Inilah hal kedua.
Ada dua lainnya: Melecehkan Dharma, dan kemarahan terhadap petapa dan brahmana. (Shiksha-Samuccaya, Shantideva)
#24
Mahayana / Re: Perbedaan mahayana dan the...
Last post by xenocross - 24 February 2026, 11:26:02 AM
Quote from: Vani on 31 October 2020, 10:43:30 PMMaaf saya masih awam sekali, saya mau tanya kalau saya umat mahayana tetapi membaca paritta theravada apa boleh?

boleeh sekali
#25
Sutra Mahayana / Ārya Mahā Gaṇapati Hṛdaya Dhār...
Last post by xenocross - 24 February 2026, 09:59:18 AM
Ada yang pernah minta saya menerjemahkan. Daripada hanya bermanfaat untuk sedikit orang, saya bagikan saja disini.
==================

Syarat.
1.   Membuat arca. Tidak ada batasan dalam material. Pembuatan sehari semalam. Jika diwarnai, jangan memakai bahan hewani. Tinggi tidak melebihi 3, 5, atau 7 inci. Jangan biarkan banyak orang melihat saat membuat. Bakarlah dupa, tetaplah bersih, dan jangan makan lima makanan berbau menyengat.
2.   Di ruang bersih, buat teras/ mandala, ukuran diameter 1,5 cubit, tinggi satu jari, ditaburi tanah kuning. Jika tidak, buat altar kayu.
3.   Arca menghadap ke barat, pelaku ritual menghadap ke timur. Letakkan dua vas berharga, dan bunga colza kuning, bakar dupa , jika tidak ada, bakar kayu wangi evergreen dengan aloe/ agaru; persembahan adalah kue, bubur nasi susu, pil pembahagia, campuran ghee dan madu, lobak, kue keripik, buah, dan berbagai macam persembahan, untuk disajikan tiga kali sehari
4.   Guru ritual mengenakan pakaian putih, murid semua harus memakai pakaian murni, jika tidak mereka tidak boleh memuja. Jangan meniup api dengan mulut, tetapi dengan kipas. Orang – orang yang tidak boleh mendekat:  orang tanpa keyakinan, rumah dengan kematian dan kelahiran, budak lelaki dan perempuan, semua perempuan, biksu yang hanya gelarnya saja, [yang hanya mengaku] samanera dan murid pengikut ajaran non buddhis. Bantal duduk, ember, dan sendok, semua alat ini murni dan bersih
5.   Guru membangkitkan hati penuh welas asih pada semua makhluk, murni di dalam dan di luar. Tempat duduknya terbuat dari rumput kusa. Ia mengucapkan Kata Kata Sempurna dari Ganapati Emas, tangan membentuk mudra sesuai: menggabungkan dua tangan dalam "mengikat di luar dengan jari telunjuk bergabung di atas" (lihat gambar). Dalam harmoni tubuh, ucapan, dan batin, ia mengucapkan:
"Namo stu te ~~~(Mantra Hati Ganapati)

Melafalkan ini tiga kali sehari, seratus kali setiap sesi, ia memuja selama tiga hari tiga malam, atau tujuh hari tujuh malam.
6.   Jika ada setan sulit ditaklukan, putarlah benang putih dan dimantrai. Setiap siklus, satu simpul, sampai 9 simpul, pakailah di tangan kiri, semua setan akan terikat.
7.   Yang melakukan dharma ini tidak boleh melakukan selingkuh, mengatakan kata kata gegabah, atau penipuan bodoh. Makanan ini tidak boleh: rue, rapeseed/ rapa, bawang putih, coriander/ ketumbar, dan lima makanan berbau menyengat.
Lagi, dia tidak boleh masuk ke rumah orang berduka, rumah baru saja melahirkan anak. Jangan bergaul dengan orang jahat.

=============================================

Ārya Mahā Gaṇapati Hṛdaya Dhāraṇi Sutra

namo bhagavate āryamahāgaṇapatihṛdayāya |
namo ratnatrayāya ||

Demikianlah yang telah kudengar. Pada suatu waktu, Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagriha, di Puncak Burung Nasar, bersama dengan perkumpulan besar biksu: empat ribu lima ratus biksu dan banyak Bodhisatwa Mahasatwa. Pada waktu itu Yang Terberkahi berkata kepada Yang Mulia Ananda:
"Ananda, siapapun, putra atau putri dari silsilah tercerahkan, yang mengingat, melafalkan, mendapatkan, dan menyebarkan "[Mantra] Hati Ganapati", keberhasilan semua kegiatannya akan menjadi miliknya."

oṃ namo 'stu te mahāgaṇapataye svāhā
oṃ gaḥ gaḥ gaḥ gaḥ gaḥ gaḥ gaḥ gaḥ .
oṃ namo gaṇapataye svāhā .
oṃ gaṇādhipataye svāhā .
oṃ gaṇeśvarāya svāhā .
oṃ gaṇapatipūjitāya svāhā .
oṃ kaṭa kaṭa maṭa maṭa dara dara vidara vidara hana hana gṛhṇa gṛhṇa dhāva dhāva bhañja bhañja jambha jambha tambha tambha stambha stambha moha moha deha deha dadāpaya dadāpaya dhanasiddhi me prayaccha .
oṃ rudrāvatārāya svāhā .
oṃ adbhutavindukṣubhitacittamahāhāsam āgacchati .
mahābhayamahābalaparākramāya mahāhastidakṣiṇāya dadāpaya svāhā .
oṃ namo 'stu te mahāgaṇapataye svāhā .
oṃ gaḥ gaḥ gaḥ gaḥ gaḥ gaḥ gaḥ gaḥ .
oṃ namo gaṇapataye svāhā .
oṃ gaṇeśvarāya svāhā .
oṃ gaṇādhipataye svāhā .
oṃ gaṇapatipūjitāya svāhā .
oṃ suru suru svāhā .
oṃ turu turu svāhā .
oṃ muru muru svāhā .

"Ini, Ananda, adalah "Hati Ganapati".
 "Siapapun putra atau putri silsilah tercerahkan, apakah itu biksu atau biksuni, upasaka atau upasika, yang mengerjakan aktivitas misalnya ritual [memanggil makhluk suci dengan mantra], memuja tiga permata, berpergian ke negeri lain, pergi ke istana raja, atau bersembunyi; seharusnya setelah memuja Buddha Yang Terberkahi, mempraktekan tujuh kali mantra hati Arya Ganapati: untuknya semua kegiatan akan diselesaikan; tidak ada keraguan tentang ini! Dia seharusnya selamanya mengakhiri semua pertentangan dan pertengkaran, kekerasan, dan iri hati, dan menjadi seluruhnya tenang. Hari demi hari menuruti aturan dan berpraktik tujuh kali penuh: akan muncul keberuntungan bagi orang mulia ini! Ketika dia datang ke istana raja akan ada kebaikan besar. Dia akan menjadi penyimpan apa yang didengar. Tidak akan ada penyakit parah pada tubuhnya. Tidak akan pernah ia lahir sebagai tara-pradaksina atau sebagai lebah yang rendah: tiada yang lain yang akan terjadi padanya kecuali Batin Pencerahan. Dalam setiap kelahiran dia akan mengingat kelahiran [lampaunya]."
Demikian Yang Terberkahi bersabda, dan setelah menerima [ajaranNya], para biksu ini, para Bodhisatwa Mahasatwa ini dan seluruh hadirin, dunia beserta para dewa, manusia, asura, garuda, dan gandarva bersukacita pada ucapan Yang Terberkahi.
Hati dari Yang Mulia Maha Ganapati telah selesai.
======================================================

sumber:
https://www.persee.fr/docAsPDF/befeo_0336-1519_1988_num_77_1_1749.pdf
http://www.virtualvinodh.com/writings/mantras/arya-maha-ganapati

 
Ganapati.png
 
#26
Mahayana / Makhluk dr Sukhavati yg turun ...
Last post by Tobi - 02 January 2026, 01:41:31 PM
Makhluk dari alam Sukhavati yang turun ke dunia untuk menyelamatkan makhluk dari penderitaan lewat kemampuan reinkarnasi/manifestasi ke berbagai alam kehidupan apakah semuanya memiliki konsentrasi samadhi sempurna?
#27
Seremonial / Re: Happy DC resurrection and ...
Last post by Arya Karniawan - 02 November 2025, 05:27:13 PM
Quote from: Indra on 31 October 2025, 05:02:34 PMgue geraham duluan

Dicabut ama dokter atau knp om? 🤣
#28
Studi Sutta/Sutra / Re: Brahmavihara / Kediaman Lu...
Last post by seniya - 01 November 2025, 03:46:43 PM
Quote from: FZ on 01 November 2025, 12:54:18 PMPertama-tama, cinta kasih perlu dikembangkan terlebih dahulu ke diri sendiri : Semoga saya bahagia, terbebas dari penderitaan, atau semoga saya terbebas dari permusuhan, penderitaan dan kecemasan. Namun apakah hal ini tidak bertentangan kah dengan sutta dan vibhanga ?

Formulasi 4 brahmavihara dalam sutta adalah sbb (misalnya dalam AN 4.125):

QuoteIdha, bhikkhave, ekacco puggalo mettāsahagatena cetasā ekaṁ disaṁ pharitvā viharati, tathā dutiyaṁ tathā tatiyaṁ tathā catutthaṁ. Iti uddhamadho tiriyaṁ sabbadhi sabbattatāya sabbāvantaṁ lokaṁ mettāsahagatena cetasā vipulena mahaggatena appamāṇena averena abyāpajjena pharitvā viharati.

Di sini, para bhikkhu, seseorang berdiam dengan meliputi satu arah dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, demikian pula arah ke dua, arah ke tiga, dan arah ke empat. Demikian pula ke atas, ke bawah, ke sekeliling, dan ke segala penjuru, dan kepada semua makhluk seperti kepada diri sendiri, ia berdiam dengan meliputi seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, luas, luhur, tanpa batas, tanpa permusuhan, tanpa niat buruk.

Praktik mengarahkan cinta kasih kepada diri sendiri berasal dari kata "sabbattatāya" yang diterjemahkan sebagai "kepada semua makhluk seperti kepada diri sendiri". Tetapi dalam beberapa pembacaan teks Pali kata ini dibaca sebagai "sabbatthatāya" yang berarti "dengan segala cara", sehingga ada yang menganggap praktik mengembangkan cinta kasih kepada diri sendiri tidak sesuai dengan sutta.

Menurut Bhikkhu Analayo dalam tulisannya berjudul "Immeasurable Meditations and Mindfulness", kemungkinan pembacaan yang lebih tepat adalah "sabbatthatāya" (dengan segala cara), namun bukan berarti praktik mengarahkan cinta kasih kepada diri sendiri tidak bermanfaat dan salah, melainkan ini bukan satu-satunya cara pengembangan metta:

QuoteThe idea of directing mettā to oneself might be related to a particular term used in the standard Pāli description of the meditative radiation. Different editions of the Pāli discourses vary in the spelling of this term, which can occur either as sabbatthatāya or as sabbattatāya. The difference involves a single letter, which is either an aspirated th or else an unaspirated t (after sabbat- and before -atāya). An aspirated and an unaspirated consonant can easily be confused with each other. The meaning of the two terms, however, is quite different. The first mentioned reading sabbatthatāya conveys the sense "in every way." The other reading sabbattatāya, which is the version accepted by the Visuddhimagga (Vism 308), can convey the sense "to all as to oneself ."

    In the standard description of the radiation, the term in question occurs between sabbadhi, "everywhere," and sabbāvantaṃ lokaṃ, "the entire world." The repetition of near synonyms occurs with high frequency in oral Pāli texts, making it fairly probable that the term under discussion expresses a meaning closely similar to what precedes and what follows it. This supports the sense "in every way" as the more likely reading. In fact, the alternative idea "to all as to oneself" does not seem to be attested anywhere else in the Pāli discourses (Maithrimurthi 1999). A comparative study of parallels to Pāli descriptions of the boundless radiation confirms the impression that the original idea would have been "in every way" (Anālayo 2015). Given that the Visuddhimagga opts for the other reading, the variant "to all as to oneself" might have triggered, or else at least supported, the arising of the idea that the practice should be directed toward oneself.

    From the viewpoint of the meditative radiation, the idea of directing mettā and compassion to oneself does not seem to be required, as a practitioner cultivating the radiation will anyway be fully immersed in the respective immeasurable or boundless state. It would not be possible to pervade all directions with a mind imbued with mettā or compassion without being affected by such pervasion oneself. This makes it fairly probable that the perceived need to include oneself would have arisen only once the meditation practice came to rely on the employment of other individuals as the object. In such a situation, it would be more natural for the idea to arise that oneself must be explicitly included among the recipients.

    Whatever may be the final word on the exact stages in the development under discussion here, there can be little doubt that the meditative approach to mettā and compassion by way of taking four individuals as one's objects, proceeding from oneself to a friend, a neutral person, and then a hostile person, is a later element. This does not mean that there is anything wrong with it. The wide-spread appeal of this form of practice testifies to its practical value. However, it does mean that this mode of practice need not be considered the only possible way to go about the meditative cultivation of mettā and compassion.

Baca juga diskusi dengan topik yang sama di forum Suttacentral:

https://discourse.suttacentral.net/t/why-does-almost-everyone-teach-the-brahmaviharas-wrong/23883
#29
Studi Sutta/Sutra / Re: Brahmavihara / Kediaman Lu...
Last post by FZ - 01 November 2025, 01:21:18 PM
MELEPASKAN KEBENCIAN - 3

Namun jika belum bisa meredakan kebencian, maka dia bisa mengingat kualitas baik dari orang yang dibenci / tidak disukai

Quote from: AN 5.162. Pelenyapan Kekesalan (2)Yang Mulia Sāriputta berkata kepada para bhikkhu: "Teman-teman, para bhikkhu!"

"Teman," para bhikkhu itu menjawab. Yang Mulia Sāriputta berkata sebagai berikut:

"Teman, ada lima cara ini untuk melenyapkan kekesalan yang dengannya seorang bhikkhu harus sepenuhnya melenyapkan kekesalan yang muncul terhadap siapa pun. Apakah lima ini? (1) Di sini, perilaku jasmani seseorang tidak murni, tetapi perilaku ucapannya murni; seseorang harus melenyapkan kekesalan terhadap orang demikian. (2) Perilaku ucapannya tidak murni, tetapi perilaku jasmaninya murni; seseorang juga harus melenyapkan kekesalan terhadap orang demikian. (3) Perilaku jasmani dan perilaku ucapannya tidak murni, tetapi dari waktu ke waktu ia mendapatkan bukaan pikiran, ketenteraman pikiran; seseorang juga harus melenyapkan kekesalan terhadap orang demikian. (4) Perilaku jasmani dan perilaku ucapannya tidak murni, dan ia tidak mendapatkan bukaan pikiran, ketenteraman pikiran dari waktu ke waktu; seseorang juga harus melenyapkan kekesalan terhadap orang demikian. (5) Perilaku jasmani dan perilaku ucapannya murni, dan dari waktu ke waktu ia mendapatkan bukaan pikiran, ketenteraman pikiran; seseorang juga harus melenyapkan kekesalan terhadap orang demikian.

(1) "Bagaimanakah, teman-teman, kekesalan dilenyapkan terhadap orang yang perilaku jasmaninya tidak murni tetapi perilaku ucapannya murni? Misalkan seorang bhikkhu pemakai jubah kain potongan melihat sepotong kain di tepi jalan. Ia akan menginjaknya dengan kaki kirinya, menghamparkannya dengan kaki kanannya, merobek bagian yang utuh, dan mengambilnya; demikian pula, ketika perilaku jasmani orang lain tidak murni tetapi perilaku ucapannya murni, pada saat itu seseorang seharusnya tidak memperhatikan ketidak-murnian perilaku jasmaninya melainkan harus memperhatikan kemurnian perilaku ucapannya. Dengan cara ini kekesalan terhadap orang itu harus dilenyapkan.

(2) "Bagaimanakah, teman-teman, kekesalan dilenyapkan terhadap orang yang perilaku ucapannya tidak murni, tetapi perilaku jasmaninya murni? Misalkan terdapat sebuah kolam yang tertutup oleh ganggang dan tanaman air. Seseorang datang, didera dan dilanda panas, letih, dahaga, dan terik matahari. Ia akan terjun ke dalam kolam, menyingkirkan ganggang dan tanaman air dengan tangannya, meminum air dengan menangkupkan tangannya, dan kemudian pergi; demikian pula, ketika perilaku ucapan orang lain tidak murni tetapi perilaku jasmaninya murni, pada saat itu seseorang seharusnya tidak memperhatikan ketidak-murnian perilaku ucapannya melainkan harus memperhatikan kemurnian perilaku jasmaninya. Dengan cara ini kekesalan terhadap orang itu harus dilenyapkan.

(3) "Bagaimanakah, teman-teman, kekesalan dilenyapkan terhadap orang yang perilaku jasmani dan perilaku ucapannya tidak murni tetapi yang dari waktu ke waktu mendapatkan bukaan pikiran, ketenteraman pikiran? Misalkan ada sedikit air dalam sebuah genangan. Kemudian seseorang datang, didera dan dilanda panas, letih, dahaga, dan terik matahari. Ia akan berpikir: 'Ada sedikit air dalam genangan ini. Jika aku mencoba untuk meminumnya dengan menangkupkan tanganku atau menggunakan wadah, maka aku akan mengacaukannya, mengganggunya, dan membuatnya tidak dapat diminum. Biarlah aku merangkak dengan keempat tangan dan kaki, menghirupnya bagaikan seekor sapi, dan pergi.' Kemudian ia merangkak pada keempat tangan dan kakinya, menghirupnya bagaikan seekor sapi, dan pergi. Demikian pula, ketika perilaku jasmani dan perilaku ucapan orang lain tidak murni tetapi dari waktu ke waktu ia mendapatkan bukaan pikiran, ketenteraman pikiran, pada saat itu seseorang seharusnya tidak memperhatikan ketidak-murnian perilaku jasmani dan ucapannya, melainkan harus memperhatikan bukaan pikiran, ketenteraman pikiran, yang ia dapatkan dari waktu ke waktu. Dengan cara ini kekesalan terhadap orang itu harus dilenyapkan.

(4) "Bagaimanakah, teman-teman, kekesalan dilenyapkan terhadap orang yang perilaku jasmani dan perilaku ucapannya tidak murni, dan yang tidak mendapatkan bukaan pikiran, ketenteraman pikiran dari waktu ke waktu? Misalkan seorang yang sakit, menderita, sakit keras sedang melakukan perjalan di sepanjang jalan raya, dan desa terakhir di belakangnya dan desa berikutnya di depannya keduanya berjauhan. Ia tidak akan memperoleh makanan dan obat-obatan yang sesuai atau perawat yang kompeten; ia tidak akan dapat [bertemu] kepala desa. Seorang lainnya yang melakukan perjalanan di sepanjang jalan raya itu mungkin bertemu dengannya dan membangkitkan belas kasihan, simpati, dan keprihatinan lembut padanya, dengan berpikir: 'Oh, semoga orang ini memperoleh makanan yang sesuai, obat-obatan yang sesuai, dan seorang perawat yang kompeten! Semoga ia dapat [bertemu] dengan kepala desa! Karena alasan apakah? Agar orang ini tidak menemui kemalangan dan bencana di sini.' Demikian pula, ketika perilaku jasmani dan perilaku ucapan orang lain tidak murni, dan ia dari waktu ke waktu tidak mendapatkan bukaan pikiran, ketenteraman pikiran, pada saat itu seseorang harus membangkitkan belas kasihan, simpati, dan keprihatinan lembut padanya, dengan berpikir, 'Oh, semoga Yang Mulia ini meninggalkan perilaku buruk melalui jasmani dan mengembangkan perilaku baik melalui jasmani; semoga ia meninggalkan perilaku buruk melalui ucapan dan mengembangkan perilaku baik melalui ucapan; semoga ia meninggalkan perilaku buruk melalui pikiran dan mengembangkan perilaku baik melalui pikiran! Karena alasan apakah? Agar, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia tidak akan terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan yang buruk, di alam rendah, di neraka.' Dengan cara ini kekesalan terhadap orang itu harus dilenyapkan.

(5) "Bagaimanakah, teman-teman, kekesalan dilenyapkan terhadap orang yang perilaku jasmani dan perilaku ucapannya murni dan yang dari waktu ke waktu mendapatkan bukaan pikiran, ketenteraman pikiran? Misalkan terdapat sebuah kolam dengan air yang jernih, manis, dan sejuk, bersih, dengan tepian yang landai, sebuah tempat yang menyenangkan di bawah keteduhan berbagai pepohonan. Kemudian seseorang datang, didera dan dilanda panas, letih, dahaga, dan terik matahari. Setelah terjun ke dalam kolam itu, ia akan mandi dan minum, dan kemudian, setelah keluar dari sana, ia akan duduk atau berbaring di bawah keteduhan sebatang pohon di sana. Demikian pula, ketika perilaku jasmani dan perilaku ucapan orang lain murni dan yang dari waktu ke waktu mendapatkan bukaan pikiran, ketenteraman pikiran, pada saat itu seseorang harus memperhatikan kemurnian perilaku jasmaninya, memperhatikan kemurnian perilaku ucapannya, dan memperhatikan bukaan pikiran, ketenteraman pikiran, yang ia dapatkan dari waktu ke waktu. Dengan cara ini kekesalan terhadap orang itu harus dilenyapkan. Teman-teman, melalui seseorang yang menginspirasi keyakinan dalam berbagai cara, maka pikiran memperoleh keyakinan.

"Ini, teman-teman, adalah kelima cara itu untuk melenyapkan kekesalan yang dengannya seorang bhikkhu harus sepenuhnya melenyapkan kekesalan yang muncul terhadap siapa pun."

Namun jika kebencian masih terus muncul, maka bisa menggunakan syair berikut sebagai renungan

Quote"Misalkan seorang musuh telah menyakitimu Sekarang di dalam wilayah kekuasaannya, Mengapa engkau sendiri juga berusaha menyakiti Pikiranmu? — Itu bukan wilayah kekuasaannya.

Dengan air mata engkau meninggalkan keluargamu. Mereka dahulu telah baik dan menolongmu. Lalu mengapa tidak meninggalkan musuhmu, Yaitu kemarahan yang justru mencelakaimu?

Kemarahan yang engkau pelihara ini Menggerogoti akar-akar Dari semua kebajikan yang kau jaga— Siapakah yang begitu bodoh melakukan itu?

Orang lain berbuat tercela, Lalu engkau marah—Bagaimana bisa begitu? Apakah engkau juga hendak meniru Jenis perbuatan yang ia lakukan?

Misalkan orang lain, untuk mengganggu, Mengejekmu dengan perbuatan hina, Mengapa engkau biarkan amarah muncul, Dan melakukan seperti yang ia inginkan darimu?

Jika engkau marah, mungkin saja Ia akan menderita, mungkin juga tidak; Namun dengan luka yang dibawa amarah Engkau pasti tersiksa sekarang juga.

Bila musuh, dibutakan oleh amarah, Berjalan di jalan menuju celaka, Apakah dengan marah engkau juga hendak Mengikuti mereka langkah demi langkah?

Jika engkau disakiti musuh Karena amarah yang timbul darimu, Maka padamkanlah amarah itu, sebab mengapa Engkau harus tersiksa tanpa alasan?

Karena segala keadaan hanya sekejap adanya, Kumpulan-kumpulan (unsur jasmani & batin) Yang telah melakukan perbuatan hina itu Sudah lenyap—lalu kepada apa engkau marah?

Siapakah yang bisa disakiti oleh dia Yang hendak menyakiti orang lain, Namun orang itu sudah tiada di hadapannya? Kehadiranmu yang menjadi sebab sakit; Lalu mengapa engkau marah kepadanya?"

Jika kebencian juga tidak mereda, maka perlu direnungkan bahwa kenyataannya, diri dan orang lain adalah pemilik karmanya sendiri
#30
Studi Sutta/Sutra / Re: Brahmavihara / Kediaman Lu...
Last post by FZ - 01 November 2025, 01:01:02 PM
MELEPASKAN KEBENCIAN - 2

Quote from: SN 7.2. AkkoSutta - Caci MakiPada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Rājagaha di Hutan Bambu, Taman Suaka Tupai. Brahmana Akkosaka Bhāradvāja, Bhāradvāja si pemaki, mendengar: "Dikatakan bahwa brahmana dari suku Bhāradvāja telah meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah di bawah Petapa Gotama." Dengan marah dan tidak senang, ia mendatangi Sang Bhagavā dan mencaci dan mencerca Beliau dengan kata-kata kasar.

Ketika ia telah selesai berbicara, Sang Bhagavā berkata kepadanya: "Bagaimana menurutmu, brahmana? Apakah teman-teman dan sahabat-sahabat, sanak keluarga dan saudara, juga para tamu datang mengunjungimu?"

"Kadang-kadang mereka datang berkunjung, Guru Gotama."

"Apakah engkau mempersembahkan makanan atau kudapan kepada mereka?"

"Kadang-kadang aku melakukannya, Guru Gotama."

"Tetapi jika mereka tidak menerimanya darimu, maka milik siapakah makanan-makanan itu?"

"Jika mereka tidak menerimanya dariku, maka makanan-makanan itu tetap menjadi milikku."

"Demikian pula, brahmana, kami—yang tidak mencaci siapa pun, yang tidak memarahi siapa pun, yang tidak mencerca siapa pun—menolak menerima darimu cacian dan kemarahan dan makian yang engkau lepaskan kepada kami. Itu masih tetap milikmu, brahmana! Itu masih tetap milikmu, brahmana!

"Brahmana, seseorang yang mencaci orang yang mencacinya, yang memarahi orang yang memarahinya, yang mencerca orang yang mencercanya—ia dikatakan memakan makanan, memasuki pertukaran. Tetapi kami tidak memakan makananmu; kami tidak memasuki pertukaran. Itu masih tetap milikmu, brahmana! Itu masih tetap milikmu, brahmana!"

"Raja dan para pengikutnya memahami bahwa Petapa Gotama adalah seorang Arahant, namun Guru Gotama masih bisa marah."

Sang Bhagavā:

"Bagaimana mungkin kemarahan muncul dalam diri seorang yang tidak memiliki kemarahan, Dalam diri seorang yang jinak berpenghidupan benar. Dalam diri seorang yang terbebaskan oleh pengetahuan sempurna, Dalam diri seorang yang stabil yang berdiam dalam kedamaian?

"Seseorang yang membalas seorang pemarah dengan kemarahan Dengan cara demikian, membuat segala sesuatu menjadi lebih buruk bagi dirinya sendiri. Tanpa membalas seorang pemarah dengan kemarahan, Seseorang memenangkan pertempuran yang sulit dimenangkan.

"Ia berlatih demi kesejahteraan kedua belah pihak– Dirinya dan orang lain– Ketika, mengetahui bahwa musuhnya marah, Ia dengan penuh perhatian mempertahankan kedamaiannya.

"Ketika ia memperoleh penyembuhan bagi kedua belah pihak– Dirinya dan orang lain– Orang-orang yang menganggapnya dungu Adalah tidak terampil dalam Dhamma."

Ketika hal ini dikatakan, brahmana Akkosaka Bhāradvāja berkata kepada Sang Bhagavā: "Menakjubkan, Guru Gotama! ... Aku berlindung pada Guru Gotama, dan pada Dhamma, dan pada Bhikkhu Saṅgha. Bolehkah aku menerima pelepasan keduniawian di bawah Guru Gotama, bolehkah aku menerima penahbisan yang lebih tinggi?"

Kemudian brahmana dari suku Bhāradvāja menerima pelepasan keduniawian di bawah Sang Bhagavā, ia menerima penahbisan yang lebih tinggi. Dan segera, tidak lama setelah penahbisannya, berdiam sendirian. Yang Mulia Bhāradvāja menjadi salah satu di antara para Arahant.

Quote from: AN 7.64 Kodhanasutta"Para bhikkhu, ada tujuh hal ini yang memuaskan dan menguntungkan seorang musuh yang menghadapi seorang laki-laki atau perempuan yang marah. Apakah tujuh ini?

(1) "Di sini, para bhikkhu, seorang musuh menghendaki musuhnya: 'Semoga ia menjadi berpenampilan buruk!' Karena alasan apakah? Seorang musuh tidak senang pada penampilan baik musuhnya. Ketika seorang yang marah dikuasai dan ditindas oleh kemarahan, walaupun ia mungkin mandi dengan baik, diminyaki dengan baik, dengan rambut dan janggutnya dicukur rapi, berpakaian putih, tetap saja ia berpenampilan buruk. Ini adalah hal pertama yang memuaskan dan menguntungkan seorang musuh yang menghadapi seorang laki-laki atau perempuan yang marah.

(2) "Kemudian, seorang musuh menghendaki musuhnya: 'Semoga ia tidak tidur lelap!' Karena alasan apakah? Seorang musuh tidak senang ketika musuhnya tidur lelap. Ketika seorang yang marah dikuasai dan ditindas oleh kemarahan, walaupun ia mungkin tidur di atas dipan beralaskan permadani, selimut, dan alas, dengan penutup dari kulit rusa, dengan kanopi dan guling di kedua sisinya, tetap saja ia tidak tidur lelap. Ini adalah hal ke dua yang memuaskan dan menguntungkan seorang musuh yang menghadapi seorang laki-laki atau perempuan yang marah.

(3) "Kemudian, seorang musuh menghendaki musuhnya: 'Semoga ia tidak berhasil!' Karena alasan apakah? Seorang musuh tidak senang pada keberhasilan musuhnya. Ketika seorang yang marah dikuasai dan ditindas oleh kemarahan, jika ia memperoleh apa yang berbahaya, ia berpikir: 'Aku telah memperoleh apa yang bermanfaat,' dan jika ia memperoleh apa yang bermanfaat, ia berpikir: 'Aku telah memperoleh apa yang berbahaya.' Ketika, dengan dikuasai kemarahan, ia memperoleh hal-hal yang bertentangan ini, hal-hal itu akan mengarah pada bahaya dan penderitaan baginya untuk waktu yang lama. Ini adalah hal ke tiga yang memuaskan dan menguntungkan seorang musuh yang menghadapi seorang laki-laki atau perempuan yang marah.

(4) "Kemudian, seorang musuh menghendaki musuhnya: 'Semoga ia tidak menjadi kaya!' Karena alasan apakah? Seorang musuh tidak senang pada kekayaan musuhnya. Ketika seorang yang marah dikuasai dan ditindas oleh kemarahan, raja-raja akan menyerahkan kepada bendahara kerajaan segala kekayaan yang telah ia peroleh melalui usaha bersemangat, yang dikumpulkan dengan kekuatan tangannya, yang didapatkan dengan keringat di keningnya, kekayaan yang baik yang diperoleh dengan baik. Ini adalah hal ke empat yang memuaskan dan menguntungkan seorang musuh yang menghadapi seorang laki-laki atau perempuan yang marah.

(5) "Kemudian, seorang musuh menghendaki musuhnya: 'Semoga ia tidak menjadi termasyhur!' Karena alasan apakah? Seorang musuh tidak senang pada kemasyhuran musuhnya. Ketika seorang yang marah dikuasai dan ditindas oleh kemarahan, ia kehilangan segala kemasyhuran yang telah ia peroleh melalui kewaspadaan. Ini adalah hal ke lima yang memuaskan dan menguntungkan seorang musuh yang menghadapi seorang laki-laki atau perempuan yang marah.

(6) "Kemudian, seorang musuh menghendaki musuhnya: 'Semoga ia tidak memiliki teman!' Karena alasan apakah? Seorang musuh tidak senang jika musuhnya memiliki teman. Ketika seorang yang marah dikuasai dan ditindas oleh kemarahan, maka teman-teman dan sahabatnya, sanak saudara dan anggota keluarganya, menghindarinya dari jauh. Ini adalah hal ke enam yang memuaskan dan menguntungkan seorang musuh yang menghadapi seorang laki-laki atau perempuan yang marah.

(7) "Kemudian, seorang musuh menghendaki musuhnya: 'Dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, semoga ia terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan yang buruk, di alam rendah, di neraka!' Karena alasan apakah? Seorang musuh tidak senang jika musuhnya pergi ke alam tujuan yang baik. Ketika seorang yang marah dikuasai dan ditindas oleh kemarahan, ia melakukan perbuatan buruk melalui jasmani, ucapan, dan pikiran. Sebagai akibatnya, dengan masih dikuasai oleh kemarahan, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan yang buruk, di alam rendah, di neraka. Ini adalah hal ke tujuh yang memuaskan dan menguntungkan seorang musuh yang menghadapi seorang laki-laki atau perempuan yang marah.

"Ini adalah ketujuh hal itu yang memuaskan dan menguntungkan seorang musuh yang menghadapi seorang laki-laki atau perempuan yang marah."

Orang yang marah berpenampilan buruk; ia juga tidak tidur lelap; setelah memperoleh sesuatu yang bermanfaat, ia menganggapnya berbahaya.

Orang yang marah dikuasai oleh kemarahan, setelah membunuh melalui jasmani dan ucapan, menimbulkan kehilangan kekayaan.

Menjadi gila karena kemarahan ia memperoleh reputasi buruk. Sanak saudaranya, teman-temannya, dan mereka yang ia sayangi menghindari orang yang marah.

Kemarahan adalah penyebab bahaya; kemarahan memicu kerusuhan. Orang-orang tidak mengenali bahaya yang telah muncul dari dalam.

Orang yang marah tidak mengetahui apa yang baik; orang yang marah tidak melihat Dhamma. Hanya ada kebutaan dan kegelapan pekat, ketika kemarahan menguasai seseorang.

Ketika seorang yang marah menimbulkan kerusakan, apakah dengan mudah atau dengan susah-payah, kelak, ketika kemarahannya sirna, ia menjadi tersiksa seolah-olah terbakar api.

Ia menunjukkan sikap melawan seperti api di puncak yang berasap. Ketika kemarahannya menyebar ke luar, orang-orang menjadi marah karenanya.

Ia tidak memiliki rasa malu terhadap kesalahan, ucapannya tidak penuh hormat; seorang yang dikuasai kemarahan tidak memiliki pulau [keselamatan] sama sekali.

Aku akan memberitahukan kepada kalian tentang perbuatan-perbuatan yang menghasilkan siksaan. Dengarkanlah sebagaimana adanya, jauh dari mereka yang baik:

Seorang yang marah membunuh ayahnya; seorang yang marah membunuh ibunya sendiri; seorang yang marah membunuh seorang brahmana; seorang yang marah membunuh seorang duniawi.

Seorang duniawi yang marah membunuh ibunya, perempuan baik yang memberikannya kehidupan, seorang yang darinya ia diberi makan dan yang menunjukkan dunia ini kepadanya.

Orang-orang itu, seperti diri sendiri, masing-masing paling menyayangi diri mereka sendiri; namun mereka yang marah membunuh diri mereka sendiri dalam berbagai cara ketika mereka kebingungan sehubungan dengan berbagai persoalan.

Beberapa orang membunuh diri mereka sendiri dengan pedang; beberapa orang yang kebingungan menelan racun; beberapa orang menggantung diri mereka dengan tali; beberapa orang [terjun] ke dalam jurang di gunung.

Perbuatan-perbuatan yang melibatkan penghancuran kemajuan dan perbuatan-perbuatan yang menyebabkan kematian mereka sendiri: ketika melakukan perbuatan-perbuatan demikian mereka tidak tahu bahwa kekalahan muncul dari kemarahan.

Demikianlah jerat kematian yang tersembunyi dalam pikiran telah mengambil wujud kemarahan. Seseorang harus memotongnya melalui pengendalian-diri, kebijaksanaan, kegigihan, dan pandangan [benar].

Orang yang bijaksana harus melenyapkan [kualitas] tidak bermanfaat ini. Dengan cara demikianlah seseorang harus berlatih dalam Dhamma: tidak memberi jalan pada sikap melawan.

Bebas dari kemarahan, kesengsaraan mereka sirna, bebas dari delusi, tidak lagi ketagihan, jinak, setelah meninggalkan kemarahan, mereka yang tanpa noda mencapai nibbāna.

Jika dengan merenungkan sutta di atas, bisa membuat kebencian mereda, itu sangat baik.