Semoga anda berbahagia 
Quote from: Vani on 31 October 2020, 10:43:30 PMMaaf saya masih awam sekali, saya mau tanya kalau saya umat mahayana tetapi membaca paritta theravada apa boleh?
Quote from: Indra on 31 October 2025, 05:02:34 PMgue geraham duluan
Quote from: FZ on 01 November 2025, 12:54:18 PMPertama-tama, cinta kasih perlu dikembangkan terlebih dahulu ke diri sendiri : Semoga saya bahagia, terbebas dari penderitaan, atau semoga saya terbebas dari permusuhan, penderitaan dan kecemasan. Namun apakah hal ini tidak bertentangan kah dengan sutta dan vibhanga ?
QuoteIdha, bhikkhave, ekacco puggalo mettāsahagatena cetasā ekaṁ disaṁ pharitvā viharati, tathā dutiyaṁ tathā tatiyaṁ tathā catutthaṁ. Iti uddhamadho tiriyaṁ sabbadhi sabbattatāya sabbāvantaṁ lokaṁ mettāsahagatena cetasā vipulena mahaggatena appamāṇena averena abyāpajjena pharitvā viharati.
Di sini, para bhikkhu, seseorang berdiam dengan meliputi satu arah dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, demikian pula arah ke dua, arah ke tiga, dan arah ke empat. Demikian pula ke atas, ke bawah, ke sekeliling, dan ke segala penjuru, dan kepada semua makhluk seperti kepada diri sendiri, ia berdiam dengan meliputi seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, luas, luhur, tanpa batas, tanpa permusuhan, tanpa niat buruk.
QuoteThe idea of directing mettā to oneself might be related to a particular term used in the standard Pāli description of the meditative radiation. Different editions of the Pāli discourses vary in the spelling of this term, which can occur either as sabbatthatāya or as sabbattatāya. The difference involves a single letter, which is either an aspirated th or else an unaspirated t (after sabbat- and before -atāya). An aspirated and an unaspirated consonant can easily be confused with each other. The meaning of the two terms, however, is quite different. The first mentioned reading sabbatthatāya conveys the sense "in every way." The other reading sabbattatāya, which is the version accepted by the Visuddhimagga (Vism 308), can convey the sense "to all as to oneself ."
In the standard description of the radiation, the term in question occurs between sabbadhi, "everywhere," and sabbāvantaṃ lokaṃ, "the entire world." The repetition of near synonyms occurs with high frequency in oral Pāli texts, making it fairly probable that the term under discussion expresses a meaning closely similar to what precedes and what follows it. This supports the sense "in every way" as the more likely reading. In fact, the alternative idea "to all as to oneself" does not seem to be attested anywhere else in the Pāli discourses (Maithrimurthi 1999). A comparative study of parallels to Pāli descriptions of the boundless radiation confirms the impression that the original idea would have been "in every way" (Anālayo 2015). Given that the Visuddhimagga opts for the other reading, the variant "to all as to oneself" might have triggered, or else at least supported, the arising of the idea that the practice should be directed toward oneself.
From the viewpoint of the meditative radiation, the idea of directing mettā and compassion to oneself does not seem to be required, as a practitioner cultivating the radiation will anyway be fully immersed in the respective immeasurable or boundless state. It would not be possible to pervade all directions with a mind imbued with mettā or compassion without being affected by such pervasion oneself. This makes it fairly probable that the perceived need to include oneself would have arisen only once the meditation practice came to rely on the employment of other individuals as the object. In such a situation, it would be more natural for the idea to arise that oneself must be explicitly included among the recipients.
Whatever may be the final word on the exact stages in the development under discussion here, there can be little doubt that the meditative approach to mettā and compassion by way of taking four individuals as one's objects, proceeding from oneself to a friend, a neutral person, and then a hostile person, is a later element. This does not mean that there is anything wrong with it. The wide-spread appeal of this form of practice testifies to its practical value. However, it does mean that this mode of practice need not be considered the only possible way to go about the meditative cultivation of mettā and compassion.
Quote from: AN 5.162. Pelenyapan Kekesalan (2)Yang Mulia Sāriputta berkata kepada para bhikkhu: "Teman-teman, para bhikkhu!"
"Teman," para bhikkhu itu menjawab. Yang Mulia Sāriputta berkata sebagai berikut:
"Teman, ada lima cara ini untuk melenyapkan kekesalan yang dengannya seorang bhikkhu harus sepenuhnya melenyapkan kekesalan yang muncul terhadap siapa pun. Apakah lima ini? (1) Di sini, perilaku jasmani seseorang tidak murni, tetapi perilaku ucapannya murni; seseorang harus melenyapkan kekesalan terhadap orang demikian. (2) Perilaku ucapannya tidak murni, tetapi perilaku jasmaninya murni; seseorang juga harus melenyapkan kekesalan terhadap orang demikian. (3) Perilaku jasmani dan perilaku ucapannya tidak murni, tetapi dari waktu ke waktu ia mendapatkan bukaan pikiran, ketenteraman pikiran; seseorang juga harus melenyapkan kekesalan terhadap orang demikian. (4) Perilaku jasmani dan perilaku ucapannya tidak murni, dan ia tidak mendapatkan bukaan pikiran, ketenteraman pikiran dari waktu ke waktu; seseorang juga harus melenyapkan kekesalan terhadap orang demikian. (5) Perilaku jasmani dan perilaku ucapannya murni, dan dari waktu ke waktu ia mendapatkan bukaan pikiran, ketenteraman pikiran; seseorang juga harus melenyapkan kekesalan terhadap orang demikian.
(1) "Bagaimanakah, teman-teman, kekesalan dilenyapkan terhadap orang yang perilaku jasmaninya tidak murni tetapi perilaku ucapannya murni? Misalkan seorang bhikkhu pemakai jubah kain potongan melihat sepotong kain di tepi jalan. Ia akan menginjaknya dengan kaki kirinya, menghamparkannya dengan kaki kanannya, merobek bagian yang utuh, dan mengambilnya; demikian pula, ketika perilaku jasmani orang lain tidak murni tetapi perilaku ucapannya murni, pada saat itu seseorang seharusnya tidak memperhatikan ketidak-murnian perilaku jasmaninya melainkan harus memperhatikan kemurnian perilaku ucapannya. Dengan cara ini kekesalan terhadap orang itu harus dilenyapkan.
(2) "Bagaimanakah, teman-teman, kekesalan dilenyapkan terhadap orang yang perilaku ucapannya tidak murni, tetapi perilaku jasmaninya murni? Misalkan terdapat sebuah kolam yang tertutup oleh ganggang dan tanaman air. Seseorang datang, didera dan dilanda panas, letih, dahaga, dan terik matahari. Ia akan terjun ke dalam kolam, menyingkirkan ganggang dan tanaman air dengan tangannya, meminum air dengan menangkupkan tangannya, dan kemudian pergi; demikian pula, ketika perilaku ucapan orang lain tidak murni tetapi perilaku jasmaninya murni, pada saat itu seseorang seharusnya tidak memperhatikan ketidak-murnian perilaku ucapannya melainkan harus memperhatikan kemurnian perilaku jasmaninya. Dengan cara ini kekesalan terhadap orang itu harus dilenyapkan.
(3) "Bagaimanakah, teman-teman, kekesalan dilenyapkan terhadap orang yang perilaku jasmani dan perilaku ucapannya tidak murni tetapi yang dari waktu ke waktu mendapatkan bukaan pikiran, ketenteraman pikiran? Misalkan ada sedikit air dalam sebuah genangan. Kemudian seseorang datang, didera dan dilanda panas, letih, dahaga, dan terik matahari. Ia akan berpikir: 'Ada sedikit air dalam genangan ini. Jika aku mencoba untuk meminumnya dengan menangkupkan tanganku atau menggunakan wadah, maka aku akan mengacaukannya, mengganggunya, dan membuatnya tidak dapat diminum. Biarlah aku merangkak dengan keempat tangan dan kaki, menghirupnya bagaikan seekor sapi, dan pergi.' Kemudian ia merangkak pada keempat tangan dan kakinya, menghirupnya bagaikan seekor sapi, dan pergi. Demikian pula, ketika perilaku jasmani dan perilaku ucapan orang lain tidak murni tetapi dari waktu ke waktu ia mendapatkan bukaan pikiran, ketenteraman pikiran, pada saat itu seseorang seharusnya tidak memperhatikan ketidak-murnian perilaku jasmani dan ucapannya, melainkan harus memperhatikan bukaan pikiran, ketenteraman pikiran, yang ia dapatkan dari waktu ke waktu. Dengan cara ini kekesalan terhadap orang itu harus dilenyapkan.
(4) "Bagaimanakah, teman-teman, kekesalan dilenyapkan terhadap orang yang perilaku jasmani dan perilaku ucapannya tidak murni, dan yang tidak mendapatkan bukaan pikiran, ketenteraman pikiran dari waktu ke waktu? Misalkan seorang yang sakit, menderita, sakit keras sedang melakukan perjalan di sepanjang jalan raya, dan desa terakhir di belakangnya dan desa berikutnya di depannya keduanya berjauhan. Ia tidak akan memperoleh makanan dan obat-obatan yang sesuai atau perawat yang kompeten; ia tidak akan dapat [bertemu] kepala desa. Seorang lainnya yang melakukan perjalanan di sepanjang jalan raya itu mungkin bertemu dengannya dan membangkitkan belas kasihan, simpati, dan keprihatinan lembut padanya, dengan berpikir: 'Oh, semoga orang ini memperoleh makanan yang sesuai, obat-obatan yang sesuai, dan seorang perawat yang kompeten! Semoga ia dapat [bertemu] dengan kepala desa! Karena alasan apakah? Agar orang ini tidak menemui kemalangan dan bencana di sini.' Demikian pula, ketika perilaku jasmani dan perilaku ucapan orang lain tidak murni, dan ia dari waktu ke waktu tidak mendapatkan bukaan pikiran, ketenteraman pikiran, pada saat itu seseorang harus membangkitkan belas kasihan, simpati, dan keprihatinan lembut padanya, dengan berpikir, 'Oh, semoga Yang Mulia ini meninggalkan perilaku buruk melalui jasmani dan mengembangkan perilaku baik melalui jasmani; semoga ia meninggalkan perilaku buruk melalui ucapan dan mengembangkan perilaku baik melalui ucapan; semoga ia meninggalkan perilaku buruk melalui pikiran dan mengembangkan perilaku baik melalui pikiran! Karena alasan apakah? Agar, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia tidak akan terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan yang buruk, di alam rendah, di neraka.' Dengan cara ini kekesalan terhadap orang itu harus dilenyapkan.
(5) "Bagaimanakah, teman-teman, kekesalan dilenyapkan terhadap orang yang perilaku jasmani dan perilaku ucapannya murni dan yang dari waktu ke waktu mendapatkan bukaan pikiran, ketenteraman pikiran? Misalkan terdapat sebuah kolam dengan air yang jernih, manis, dan sejuk, bersih, dengan tepian yang landai, sebuah tempat yang menyenangkan di bawah keteduhan berbagai pepohonan. Kemudian seseorang datang, didera dan dilanda panas, letih, dahaga, dan terik matahari. Setelah terjun ke dalam kolam itu, ia akan mandi dan minum, dan kemudian, setelah keluar dari sana, ia akan duduk atau berbaring di bawah keteduhan sebatang pohon di sana. Demikian pula, ketika perilaku jasmani dan perilaku ucapan orang lain murni dan yang dari waktu ke waktu mendapatkan bukaan pikiran, ketenteraman pikiran, pada saat itu seseorang harus memperhatikan kemurnian perilaku jasmaninya, memperhatikan kemurnian perilaku ucapannya, dan memperhatikan bukaan pikiran, ketenteraman pikiran, yang ia dapatkan dari waktu ke waktu. Dengan cara ini kekesalan terhadap orang itu harus dilenyapkan. Teman-teman, melalui seseorang yang menginspirasi keyakinan dalam berbagai cara, maka pikiran memperoleh keyakinan.
"Ini, teman-teman, adalah kelima cara itu untuk melenyapkan kekesalan yang dengannya seorang bhikkhu harus sepenuhnya melenyapkan kekesalan yang muncul terhadap siapa pun."
Quote"Misalkan seorang musuh telah menyakitimu Sekarang di dalam wilayah kekuasaannya, Mengapa engkau sendiri juga berusaha menyakiti Pikiranmu? — Itu bukan wilayah kekuasaannya.
Dengan air mata engkau meninggalkan keluargamu. Mereka dahulu telah baik dan menolongmu. Lalu mengapa tidak meninggalkan musuhmu, Yaitu kemarahan yang justru mencelakaimu?
Kemarahan yang engkau pelihara ini Menggerogoti akar-akar Dari semua kebajikan yang kau jaga— Siapakah yang begitu bodoh melakukan itu?
Orang lain berbuat tercela, Lalu engkau marah—Bagaimana bisa begitu? Apakah engkau juga hendak meniru Jenis perbuatan yang ia lakukan?
Misalkan orang lain, untuk mengganggu, Mengejekmu dengan perbuatan hina, Mengapa engkau biarkan amarah muncul, Dan melakukan seperti yang ia inginkan darimu?
Jika engkau marah, mungkin saja Ia akan menderita, mungkin juga tidak; Namun dengan luka yang dibawa amarah Engkau pasti tersiksa sekarang juga.
Bila musuh, dibutakan oleh amarah, Berjalan di jalan menuju celaka, Apakah dengan marah engkau juga hendak Mengikuti mereka langkah demi langkah?
Jika engkau disakiti musuh Karena amarah yang timbul darimu, Maka padamkanlah amarah itu, sebab mengapa Engkau harus tersiksa tanpa alasan?
Karena segala keadaan hanya sekejap adanya, Kumpulan-kumpulan (unsur jasmani & batin) Yang telah melakukan perbuatan hina itu Sudah lenyap—lalu kepada apa engkau marah?
Siapakah yang bisa disakiti oleh dia Yang hendak menyakiti orang lain, Namun orang itu sudah tiada di hadapannya? Kehadiranmu yang menjadi sebab sakit; Lalu mengapa engkau marah kepadanya?"
Quote from: SN 7.2. AkkoSutta - Caci MakiPada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Rājagaha di Hutan Bambu, Taman Suaka Tupai. Brahmana Akkosaka Bhāradvāja, Bhāradvāja si pemaki, mendengar: "Dikatakan bahwa brahmana dari suku Bhāradvāja telah meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah di bawah Petapa Gotama." Dengan marah dan tidak senang, ia mendatangi Sang Bhagavā dan mencaci dan mencerca Beliau dengan kata-kata kasar.
Ketika ia telah selesai berbicara, Sang Bhagavā berkata kepadanya: "Bagaimana menurutmu, brahmana? Apakah teman-teman dan sahabat-sahabat, sanak keluarga dan saudara, juga para tamu datang mengunjungimu?"
"Kadang-kadang mereka datang berkunjung, Guru Gotama."
"Apakah engkau mempersembahkan makanan atau kudapan kepada mereka?"
"Kadang-kadang aku melakukannya, Guru Gotama."
"Tetapi jika mereka tidak menerimanya darimu, maka milik siapakah makanan-makanan itu?"
"Jika mereka tidak menerimanya dariku, maka makanan-makanan itu tetap menjadi milikku."
"Demikian pula, brahmana, kami—yang tidak mencaci siapa pun, yang tidak memarahi siapa pun, yang tidak mencerca siapa pun—menolak menerima darimu cacian dan kemarahan dan makian yang engkau lepaskan kepada kami. Itu masih tetap milikmu, brahmana! Itu masih tetap milikmu, brahmana!
"Brahmana, seseorang yang mencaci orang yang mencacinya, yang memarahi orang yang memarahinya, yang mencerca orang yang mencercanya—ia dikatakan memakan makanan, memasuki pertukaran. Tetapi kami tidak memakan makananmu; kami tidak memasuki pertukaran. Itu masih tetap milikmu, brahmana! Itu masih tetap milikmu, brahmana!"
"Raja dan para pengikutnya memahami bahwa Petapa Gotama adalah seorang Arahant, namun Guru Gotama masih bisa marah."
Sang Bhagavā:
"Bagaimana mungkin kemarahan muncul dalam diri seorang yang tidak memiliki kemarahan, Dalam diri seorang yang jinak berpenghidupan benar. Dalam diri seorang yang terbebaskan oleh pengetahuan sempurna, Dalam diri seorang yang stabil yang berdiam dalam kedamaian?
"Seseorang yang membalas seorang pemarah dengan kemarahan Dengan cara demikian, membuat segala sesuatu menjadi lebih buruk bagi dirinya sendiri. Tanpa membalas seorang pemarah dengan kemarahan, Seseorang memenangkan pertempuran yang sulit dimenangkan.
"Ia berlatih demi kesejahteraan kedua belah pihak– Dirinya dan orang lain– Ketika, mengetahui bahwa musuhnya marah, Ia dengan penuh perhatian mempertahankan kedamaiannya.
"Ketika ia memperoleh penyembuhan bagi kedua belah pihak– Dirinya dan orang lain– Orang-orang yang menganggapnya dungu Adalah tidak terampil dalam Dhamma."
Ketika hal ini dikatakan, brahmana Akkosaka Bhāradvāja berkata kepada Sang Bhagavā: "Menakjubkan, Guru Gotama! ... Aku berlindung pada Guru Gotama, dan pada Dhamma, dan pada Bhikkhu Saṅgha. Bolehkah aku menerima pelepasan keduniawian di bawah Guru Gotama, bolehkah aku menerima penahbisan yang lebih tinggi?"
Kemudian brahmana dari suku Bhāradvāja menerima pelepasan keduniawian di bawah Sang Bhagavā, ia menerima penahbisan yang lebih tinggi. Dan segera, tidak lama setelah penahbisannya, berdiam sendirian. Yang Mulia Bhāradvāja menjadi salah satu di antara para Arahant.
Quote from: AN 7.64 Kodhanasutta"Para bhikkhu, ada tujuh hal ini yang memuaskan dan menguntungkan seorang musuh yang menghadapi seorang laki-laki atau perempuan yang marah. Apakah tujuh ini?
(1) "Di sini, para bhikkhu, seorang musuh menghendaki musuhnya: 'Semoga ia menjadi berpenampilan buruk!' Karena alasan apakah? Seorang musuh tidak senang pada penampilan baik musuhnya. Ketika seorang yang marah dikuasai dan ditindas oleh kemarahan, walaupun ia mungkin mandi dengan baik, diminyaki dengan baik, dengan rambut dan janggutnya dicukur rapi, berpakaian putih, tetap saja ia berpenampilan buruk. Ini adalah hal pertama yang memuaskan dan menguntungkan seorang musuh yang menghadapi seorang laki-laki atau perempuan yang marah.
(2) "Kemudian, seorang musuh menghendaki musuhnya: 'Semoga ia tidak tidur lelap!' Karena alasan apakah? Seorang musuh tidak senang ketika musuhnya tidur lelap. Ketika seorang yang marah dikuasai dan ditindas oleh kemarahan, walaupun ia mungkin tidur di atas dipan beralaskan permadani, selimut, dan alas, dengan penutup dari kulit rusa, dengan kanopi dan guling di kedua sisinya, tetap saja ia tidak tidur lelap. Ini adalah hal ke dua yang memuaskan dan menguntungkan seorang musuh yang menghadapi seorang laki-laki atau perempuan yang marah.
(3) "Kemudian, seorang musuh menghendaki musuhnya: 'Semoga ia tidak berhasil!' Karena alasan apakah? Seorang musuh tidak senang pada keberhasilan musuhnya. Ketika seorang yang marah dikuasai dan ditindas oleh kemarahan, jika ia memperoleh apa yang berbahaya, ia berpikir: 'Aku telah memperoleh apa yang bermanfaat,' dan jika ia memperoleh apa yang bermanfaat, ia berpikir: 'Aku telah memperoleh apa yang berbahaya.' Ketika, dengan dikuasai kemarahan, ia memperoleh hal-hal yang bertentangan ini, hal-hal itu akan mengarah pada bahaya dan penderitaan baginya untuk waktu yang lama. Ini adalah hal ke tiga yang memuaskan dan menguntungkan seorang musuh yang menghadapi seorang laki-laki atau perempuan yang marah.
(4) "Kemudian, seorang musuh menghendaki musuhnya: 'Semoga ia tidak menjadi kaya!' Karena alasan apakah? Seorang musuh tidak senang pada kekayaan musuhnya. Ketika seorang yang marah dikuasai dan ditindas oleh kemarahan, raja-raja akan menyerahkan kepada bendahara kerajaan segala kekayaan yang telah ia peroleh melalui usaha bersemangat, yang dikumpulkan dengan kekuatan tangannya, yang didapatkan dengan keringat di keningnya, kekayaan yang baik yang diperoleh dengan baik. Ini adalah hal ke empat yang memuaskan dan menguntungkan seorang musuh yang menghadapi seorang laki-laki atau perempuan yang marah.
(5) "Kemudian, seorang musuh menghendaki musuhnya: 'Semoga ia tidak menjadi termasyhur!' Karena alasan apakah? Seorang musuh tidak senang pada kemasyhuran musuhnya. Ketika seorang yang marah dikuasai dan ditindas oleh kemarahan, ia kehilangan segala kemasyhuran yang telah ia peroleh melalui kewaspadaan. Ini adalah hal ke lima yang memuaskan dan menguntungkan seorang musuh yang menghadapi seorang laki-laki atau perempuan yang marah.
(6) "Kemudian, seorang musuh menghendaki musuhnya: 'Semoga ia tidak memiliki teman!' Karena alasan apakah? Seorang musuh tidak senang jika musuhnya memiliki teman. Ketika seorang yang marah dikuasai dan ditindas oleh kemarahan, maka teman-teman dan sahabatnya, sanak saudara dan anggota keluarganya, menghindarinya dari jauh. Ini adalah hal ke enam yang memuaskan dan menguntungkan seorang musuh yang menghadapi seorang laki-laki atau perempuan yang marah.
(7) "Kemudian, seorang musuh menghendaki musuhnya: 'Dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, semoga ia terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan yang buruk, di alam rendah, di neraka!' Karena alasan apakah? Seorang musuh tidak senang jika musuhnya pergi ke alam tujuan yang baik. Ketika seorang yang marah dikuasai dan ditindas oleh kemarahan, ia melakukan perbuatan buruk melalui jasmani, ucapan, dan pikiran. Sebagai akibatnya, dengan masih dikuasai oleh kemarahan, dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, ia terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan yang buruk, di alam rendah, di neraka. Ini adalah hal ke tujuh yang memuaskan dan menguntungkan seorang musuh yang menghadapi seorang laki-laki atau perempuan yang marah.
"Ini adalah ketujuh hal itu yang memuaskan dan menguntungkan seorang musuh yang menghadapi seorang laki-laki atau perempuan yang marah."
Orang yang marah berpenampilan buruk; ia juga tidak tidur lelap; setelah memperoleh sesuatu yang bermanfaat, ia menganggapnya berbahaya.
Orang yang marah dikuasai oleh kemarahan, setelah membunuh melalui jasmani dan ucapan, menimbulkan kehilangan kekayaan.
Menjadi gila karena kemarahan ia memperoleh reputasi buruk. Sanak saudaranya, teman-temannya, dan mereka yang ia sayangi menghindari orang yang marah.
Kemarahan adalah penyebab bahaya; kemarahan memicu kerusuhan. Orang-orang tidak mengenali bahaya yang telah muncul dari dalam.
Orang yang marah tidak mengetahui apa yang baik; orang yang marah tidak melihat Dhamma. Hanya ada kebutaan dan kegelapan pekat, ketika kemarahan menguasai seseorang.
Ketika seorang yang marah menimbulkan kerusakan, apakah dengan mudah atau dengan susah-payah, kelak, ketika kemarahannya sirna, ia menjadi tersiksa seolah-olah terbakar api.
Ia menunjukkan sikap melawan seperti api di puncak yang berasap. Ketika kemarahannya menyebar ke luar, orang-orang menjadi marah karenanya.
Ia tidak memiliki rasa malu terhadap kesalahan, ucapannya tidak penuh hormat; seorang yang dikuasai kemarahan tidak memiliki pulau [keselamatan] sama sekali.
Aku akan memberitahukan kepada kalian tentang perbuatan-perbuatan yang menghasilkan siksaan. Dengarkanlah sebagaimana adanya, jauh dari mereka yang baik:
Seorang yang marah membunuh ayahnya; seorang yang marah membunuh ibunya sendiri; seorang yang marah membunuh seorang brahmana; seorang yang marah membunuh seorang duniawi.
Seorang duniawi yang marah membunuh ibunya, perempuan baik yang memberikannya kehidupan, seorang yang darinya ia diberi makan dan yang menunjukkan dunia ini kepadanya.
Orang-orang itu, seperti diri sendiri, masing-masing paling menyayangi diri mereka sendiri; namun mereka yang marah membunuh diri mereka sendiri dalam berbagai cara ketika mereka kebingungan sehubungan dengan berbagai persoalan.
Beberapa orang membunuh diri mereka sendiri dengan pedang; beberapa orang yang kebingungan menelan racun; beberapa orang menggantung diri mereka dengan tali; beberapa orang [terjun] ke dalam jurang di gunung.
Perbuatan-perbuatan yang melibatkan penghancuran kemajuan dan perbuatan-perbuatan yang menyebabkan kematian mereka sendiri: ketika melakukan perbuatan-perbuatan demikian mereka tidak tahu bahwa kekalahan muncul dari kemarahan.
Demikianlah jerat kematian yang tersembunyi dalam pikiran telah mengambil wujud kemarahan. Seseorang harus memotongnya melalui pengendalian-diri, kebijaksanaan, kegigihan, dan pandangan [benar].
Orang yang bijaksana harus melenyapkan [kualitas] tidak bermanfaat ini. Dengan cara demikianlah seseorang harus berlatih dalam Dhamma: tidak memberi jalan pada sikap melawan.
Bebas dari kemarahan, kesengsaraan mereka sirna, bebas dari delusi, tidak lagi ketagihan, jinak, setelah meninggalkan kemarahan, mereka yang tanpa noda mencapai nibbāna.