Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Recent Posts

Pages: [1] 2 3 4 5 6 7 8 ... 10
1
Theravada / Re: Makanan dan pesta pernikahan
« Last post by Sostradanie on Yesterday at 10:18:16 PM »
Saya pikir ambil jalan tengah saja mungkin ya, cuma penerapannya itu. Karna kan tdk semua vegetarian nanti jadi perselisihan kan tdk
Saya pikir ambil jalan tengah saja mungkin ya, cuma penerapannya itu. Karna kan tdk semua vegetarian nanti jadi perselisihan kan tdk baik juga bukan?

Kenapa tidak mungkin atau tidak baik dengan memesan vegetarian semua?jadi lah yang pertama membuat itu.berkreasilah merancang makanan vegetarian yang Amat sangat nikmat itu.ciptakan daging vege yang terbesar dengan bentuk paling unik.pesta anda akan sukses plus promosi vege tanpa harus mengucapkan banyak kata2 . berapa banyak manusia yang bisa anda perkenalkan dengan vegetarian dan mungkin jadi berpikir seperti niat baik anda untuk menghindari pembunuhan.dengan promosi yang layak dan tepat,pesta anda akan jadi buah bibir.demikian sedikit ilusi dari saya.semoga cukup membangkitkan semangat.
2
Theravada / Re: Makanan dan pesta pernikahan
« Last post by D1C1 on Yesterday at 09:00:23 AM »
Sampai saat ini belum ketemu solusi nya , selain pesan vegetarian....

Saya pikir ambil jalan tengah saja mungkin ya, cuma penerapannya itu. Karna kan tdk semua vegetarian nanti jadi perselisihan kan tdk baik juga bukan?
3
Theravada / Re: Makanan dan pesta pernikahan
« Last post by D1C1 on Yesterday at 08:58:56 AM »
Untuk menghormati banyak pihak mgkn bs dilakukan dgn cara tidak pesan ya, ada seberapa ya seberapa cukup. Mungkin ada yg bersedia berbagi untuk komunitas disini?
4
Theravada / Re: Makanan dan pesta pernikahan
« Last post by xenocross on Yesterday at 07:09:48 AM »
Sampai saat ini belum ketemu solusi nya , selain pesan vegetarian....
5
Theravada / Re: Makanan dan pesta pernikahan
« Last post by Sostradanie on Yesterday at 04:42:35 AM »
Alo temen2,

Pertama2 pertanyaan ini ditujukan utk mereka yang sudah pernah mengalami atau punya pengalaman  mengenai hal yg bersangkutan.
Sang Buddha mengajarkan kita boleh makan daging tetapi dengan catatan daging itu tidak dipesan dahulu. Lalu ketika kalian ingin menikah tentu ada pesta pernikahan, lalu bagaimana kita menyiapkan menu makanannya tanpa memesan terlebih dahulu? Bagaimana menghadapi hal ini? Trima kasih.
Yang mau menikah jika alergi yang
Seperti itu tidak usah pesan makanan saja . lakukan saja ritual yang harus dijalani.
6
Theravada / Makanan dan pesta pernikahan
« Last post by D1C1 on 21 January 2019, 02:11:14 PM »
Alo temen2,

Pertama2 pertanyaan ini ditujukan utk mereka yang sudah pernah mengalami atau punya pengalaman  mengenai hal yg bersangkutan.
Sang Buddha mengajarkan kita boleh makan daging tetapi dengan catatan daging itu tidak dipesan dahulu. Lalu ketika kalian ingin menikah tentu ada pesta pernikahan, lalu bagaimana kita menyiapkan menu makanannya tanpa memesan terlebih dahulu? Bagaimana menghadapi hal ini? Trima kasih.
7
Theravada / Re: Anapanasati = vayo kasina; anapanasati = vipassana
« Last post by Sostradanie on 19 January 2019, 09:18:16 PM »
Langkah keempat anapanasati berbunyi:  Ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan menenangkan bentukan jasmani’; ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan menenangkan bentukan jasmani’
Di sini padanan Agama nya menyebutkan 'Aku akan menarik/menghembuskan nafas dengan menghentikan bentukan jasmani’
Menurut komentar tradisi Theravada (Visudhimagga) maupun Sarvastivada (Mahavibhasa), langkah keempat ini menunjuk pada pencapaian jhana keempat di mana bentukan jasmani (yaitu napas masuk dan keluar) lenyap.
Pertanyaannya: bagaimana mungkin bisa bermeditasi pada objek napas jika napasnya udah lenyap? Komentar menjelaskan: walaupun napas berhenti, namun tanda/ciri napas masuk keluar sudah digenggam dalam pikiran dan tanda itulah yang menjadi objeknya.

Selengkapnya bisa dibaca di buku Mindfulness in Early Buddhism: https://books.google.co.id/books?id=aAl9AgAAQBAJ&pg=PA73&lpg=PA73&dq=how+mindfulness+on+breathing+lead+to+jhana&source=bl&ots=mmnnXjkgX4&sig=NDBY3SDb5d788tGrE2LyRWwC0CA&hl=en&sa=X&ved=0ahUKEwiAhp-t56bYAhXCto8KHYXVD8kQ6AEIZTAJ#v=onepage&q&f=false
Langkah keempat anapanasati berbunyi:  Ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan menarik nafas dengan menenangkan bentukan jasmani’; ia berlatih sebagai berikut: ‘Aku akan mengembuskan nafas dengan menenangkan bentukan jasmani’
Di sini padanan Agama nya menyebutkan 'Aku akan menarik/menghembuskan nafas dengan menghentikan bentukan jasmani’
Menurut komentar tradisi Theravada (Visudhimagga) maupun Sarvastivada (Mahavibhasa), langkah keempat ini menunjuk pada pencapaian jhana keempat di mana bentukan jasmani (yaitu napas masuk dan keluar) lenyap.
Pertanyaannya: bagaimana mungkin bisa bermeditasi pada objek napas jika napasnya udah lenyap? Komentar menjelaskan: walaupun napas berhenti, namun tanda/ciri napas masuk keluar sudah digenggam dalam pikiran dan tanda itulah yang menjadi objeknya.

Selengkapnya bisa dibaca di buku Mindfulness in Early Buddhism: https://books.google.co.id/books?id=aAl9AgAAQBAJ&pg=PA73&lpg=PA73&dq=how+mindfulness+on+breathing+lead+to+jhana&source=bl&ots=mmnnXjkgX4&sig=NDBY3SDb5d788tGrE2LyRWwC0CA&hl=en&sa=X&ved=0ahUKEwiAhp-t56bYAhXCto8KHYXVD8kQ6AEIZTAJ#v=onepage&q&f=false



Bisakah di bantu menjelaskan arti kata lenyap?apakah nafas itu tidak ada atau berhenti bekerja? Atau fokusnya teralih ke areal khayalan?apa yang dimaksud digenggam itu seperti bernafas cuma di pikiran?Atau perhatian  sudah beralih mengamati lebih jauh sehingga terkadang terlihat begitu banyak gerakan nafas seperti ada beberapa orang yang sedang bernafas di tempat dan dengan posisi yang sama?
8
Theravada / Re: Anapanasati = vayo kasina; anapanasati = vipassana
« Last post by Sostradanie on 19 January 2019, 09:00:10 PM »
Bentukan jasmani lenyap pada jhana 4.

Intinya, saya ragu anapanasati menghasilkan jhana, daripada pusing-pusing meditasi anapanasati, lebih baik meditasi kasina saja, lebih mudah karena anapanasti nafas itu gak tentu. Atau latih saja kasina hingga dapat satu jhana baru transit ke anapanasati, ckckck. terutama kasina warna, tinggal persepsikan saja warna itu, print bentuk bulat atau beli kain warna atau bunga. Kalau bisa beli bunga (mungkin cowok agak malu) yang hidup, biar bisa lihat langsung ketidakkekalan, seberapa cantik/rupawan, Anda akan layu juga sampai mati. Atau jika tidak ya beli bunga mati, lebih hemat uang, trus duduk perepsikan saja sesuai warna apa yang kamu ingingkan. Waktu luang, trus persepsikan, lagi tidur juga persepsikan. Dengan begitu hayalan akan semakin berkurang.

*Untuk yang berlatih nila kasina, ingat bukan yang warna biru atau biru terang, tetapi warna nila (biru gelap). Pelangi ada 7 warna, yang warna nomor 6, itulah nila. Harus dibedakan dengan blue
Khayalan berkurang tapi jika tidak beruntung berkembang jadi halusinasi.Faktor kesesuaian termasuk dalam kamus keberuntungan.
9
Theravada / Re: Anapanasati = vayo kasina; anapanasati = vipassana
« Last post by Sostradanie on 19 January 2019, 12:25:50 PM »
Anapanasati bisa menghasilkan jhana seperti dalam SN 54.8:

“Oleh karena itu, para bhikkhu, jika seorang bhikkhu menghendaki: ‘Semoga aku, dengan terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan pemikiran dan pemeriksaan, dengan sukacita dan kebahagiaan yang muncul dari keterasingan,’ maka konsentrasi melalui perhatian pada pernapasan yang sama ini harus ditekuni dengan sungguh-sungguh.

“Oleh karena itu, para bhikkhu, jika seorang bhikkhu menghendaki: ‘Semoga aku, dengan meredanya pemikiran dan pemeriksaan, masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki keyakinan internal dan keterpusatan pikiran, tanpa pemikiran dan pemeriksaan, dan memiliki kegembiraan dan kebahagiaan yang muncul dari konsentrasi,’ maka konsentrasi melalui perhatian pada pernapasan yang sama ini harus ditekuni dengan sungguh-sungguh.

“Oleh karena itu, para bhikkhu, jika seorang bhikkhu menghendaki: ‘Semoga aku, dengan meluruhnya sukacita, berdiam dengan seimbang dan, penuh perhatian dan memahami dengan jernih, semoga aku mengalami kebahagiaan dengan jasmani; semoga aku masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga yang dikatakan oleh para mulia: “Ia berdiam seimbang, penuh perhatian, seorang yang berdiam dengan bahagia,”’ maka konsentrasi melalui perhatian pada pernapasan yang sama ini harus ditekuni dengan sungguh-sungguh.

“Oleh karena itu, para bhikkhu, jika seorang bhikkhu menghendaki: ‘Semoga aku, dengan meninggalkan kesenangan dan kesakitan, dan dengan pelenyapan sebelumnya kegembiraan dan ketidak-senangan, masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang bukan-menyakitkan juga bukan-menyenangkan dan termasuk pemurnian perhatian oleh keseimbangan,’ maka konsentrasi melalui perhatian pada pernapasan yang sama ini harus ditekuni dengan sungguh-sungguh.

Ini Baru bahasa yang bisa di mengerti oleh gelombang pendek.terima kasih.
10
Theravada / Re: Acintita Sutta
« Last post by Sostradanie on 18 January 2019, 11:54:27 PM »
Memori bukan persepsi terhadap objek lampau seperti direkam lalu diputar kembali, namun sesuatu yang dibangun kembali ketika diingat. Itu sebabnya ketika orang mengulang ingatannya bisa menceritakan hal-hal yang berbeda dengan kenyataan. Bukan karena bohong, tapi ingatan memang sangat rentan dan penuh bias.

Masalah ada atau tidak, serta di mana, entahlah. Ini sama juga seperti kamma itu yang sudah dilakukan adanya di mana? Kalau tidak 'tersimpan' di satu tempat, bagaimana "catatan" kamma itu bisa mengikuti pancakkhanda yang senantiasa berubah tersebut, bahkan melewati banyak kehancuran jasmani? Karena itulah aneka abhidhamma berkembang.


Ingatan karena Sangat rentan dan  bias makanya terkadang menceritakan yang berbeda dari kenyataan, mungkin karena tidak berminat melatih diri berbicara benar dari berbagai kehidupan.Tapi jenis seperti itu jika yang berhubungan dengan nafsu yang sudah seperti lem kuatnya pasti tidak rentan dan bias.Contohnya nafsu seks.Karena rajin dilatih dari berbagai kehidupan.
Pages: [1] 2 3 4 5 6 7 8 ... 10