Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Kisah Nangalakula Thera  (Read 1807 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline ENCARTA

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 797
  • Reputasi: 21
  • Gender: Male
  • love letters 1945
Kisah Nangalakula Thera
« on: 20 February 2009, 10:56:13 AM »
Kisah Nangalakula Thera

Nangala adalah seorang buruh tani yang bekerja pada seorang petani. Suatu hari seorang bhikkhu melihatnya sedang bekerja di sawah dengan pakaian tuanya yang koyak-koyak. Sang bhikkhu bertanya kepadanya apakah ia berminat menjadi seorang bhikkhu. Ketika ia menyetujui sang bhikkhu membawanya ke vihara, dan mentahbiskannya menjadi bhikkhu. Setelah diterima dalam Pasamuan Bhikkhu seperti yang telah dinasehatkan oleh gurunya, ia meninggalkan bajak dan pakaian tuanya pada sebuah pohon tidak jauh dari vihara. Karena orang miskin itu meninggalkan bajaknya untuk memasuki pasamuan, maka ia dikenal dengan nama Nangala Thera (nangala artinya bajak).

Kehidupan di vihara lebih baik maka Nangala Thera menjadi lebih sehat, dan berat badannya bertambah. Setelah beberapa saat ia merasa bosan dengan kehidupannya sebagai bhikkhu dan sering memikirkan untuk kembali menjadi perumahtangga.

Jika pikiran itu muncul, ia akan pergi ke pohon dekat vihara, di mana bajak dan pakaian tuanya ditaruh. Di sana ia menegur dirinya sendiri, "O, orang tak tahu malu! Apakah kamu masih menginginkan kembali menggunakan pakaian tua ini dan bekerja keras, hidup rendah sebagai buruh kasar ?" Setelah berpikir seperti itu, ketidakpuasan terhadap kehidupan bhikkhunya menjadi sirna, dan ia kembali ke vihara. Ia pergi ke pohon itu setiap tiga atau empat hari untuk merenungkan kembali tentang masa lalunya yang tidak menyenangkan.

Jika para bhikkhu bertanya kepadanya tentang seringnya ia berkunjung ke pohon itu, ia menjawab, "Saya pergi ke tempat guru saya."

Waktu berlalu, karena ketekunannya, akhirnya ia mencapai tingkat kesucian arahat, dan ia berhenti ke pohon lagi. Para bhikkhu lain memperhatikan hal itu, bertanya kepadanya, "Mengapa engkau sekarang tidak lagi berkunjung kepada gurumu?" Kepada mereka ia menjawab, "Saya pergi kepada guru saya karena saya memerlukannya, tetapi sekarang saya tidak memerlukan pergi kepadanya." Para bhikkhu mengerti apa maksud jawabannya itu, mereka pergi menghadap Sang Buddha dan memberitahu, "Bhante, Nangala Thera menyatakan diri telah mencapai tingkat kesucian arahat. Itu barangkali tidak benar; ia membual, ia berkata bohong."

Kepada mereka, Sang Buddha berkata, "Para bhikkhu jangan berkata seperti itu perihal Nangala, ia tidak berkata bohong. Anak-Ku Nangala, dengan introspeksi diri dan memperbaiki diri sendiri telah berhasil mencapai tingkat kesucian arahat."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 379 dan 380 berikut :



Engkaulah yang harus mengingatkan
dan memeriksa dirimu sendiri.
O bhikkhu, bila engkau dapat menjaga
dirimu sendiri dan selalu sadar,
maka engkau akan hidup dalam kebahagiaan.

Sesungguhnya diri sendiri menjadi tuan bagi diri sendiri.
Diri sendiri adalah pelindung bagi diri sendiri.
Oleh karena itu kendalikan dirimu sendiri,
seperti pedagang kuda menguasai kuda yang baik.

Offline ENCARTA

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 797
  • Reputasi: 21
  • Gender: Male
  • love letters 1945
Re: Kisah Nangalakula Thera
« Reply #1 on: 20 February 2009, 10:56:41 AM »
karena saya tidak bosan membaca nya :P

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.849
  • Reputasi: 268
Re: Kisah Nangalakula Thera
« Reply #2 on: 20 February 2009, 11:16:40 AM »
Bagian apanya yang menarik?

Offline ENCARTA

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 797
  • Reputasi: 21
  • Gender: Male
  • love letters 1945
Re: Kisah Nangalakula Thera
« Reply #3 on: 20 February 2009, 11:19:01 AM »
bagian yg kepotong "yg jadi arahatnya" :P

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.849
  • Reputasi: 268
Re: Kisah Nangalakula Thera
« Reply #4 on: 20 February 2009, 11:34:00 AM »
Menjalani kehidupan pertapa itu memang kadang banyak godaan untuk kembali ke perumah-tangga. :)
Ada beberapa kisah yang mirip, mungkin bro tertarik. Dhammapada Atthakatha 143 & 144, tentang Thera Pilotikatissa yang juga "berguru" pada benda lamanya (baju & mangkuk); 38 & 39, tentang Thera Citta Hattha yang bolak balik jadi Bhikkhu - perumah-tangga. Bahkan Bodhisatta pun mengalami keraguan yang sama dalam Kuddala Jataka.


Offline markosprawira

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.449
  • Reputasi: 155
Re: Kisah Nangalakula Thera
« Reply #5 on: 20 February 2009, 01:43:42 PM »
Kalo saya boleh tambahkan,

sebenarnya ketidak puasan itu tidak saja dari pertapa menjadi perumah tangga, namun bisa juga dari perumah tangga menjadi pertapa (bnyk loh rekan2 buddhis, yg sangat ingin utk menjadi "pertapa")

atau bisa pertapa menjadi pertapa lain, yang terlihat lebih "menarik"

Seperti kata pepatah "rumput tetangga selalu lebih hijau" dimana yg berperan sebenarnya adalah Tanha (lobha mula citta)

Jadi mana yg lebih baik? pilihlah yg paling memberikan manfaat bagi batin (kusala)

semoga bermanfaat

metta

Offline ENCARTA

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 797
  • Reputasi: 21
  • Gender: Male
  • love letters 1945
Re: Kisah Nangalakula Thera
« Reply #6 on: 13 March 2009, 01:25:03 PM »
Indikator
bagaimana persisnya indikator seorang praktisi teknik buddhism akan menuntun kepencerahan?

indikator pertama
kamu akan merasa sebagai indetitas yg berbeda.

kamu bukanlah orang yg sama lagi. jika teknik itu cocok denganmu. jika kamu adalah suami, kamu bukanlah suami yg sama lagi. jika kamu penjaga toko, kamu tidak akan pernah lagi sebagai penjaga toko yg sama. siapapun anda, jika teknik itu cocok untukmu. kamu sudah menjadi orang yg berbeda sama sekali. inilah indikator pertama. jadi jika kamu merasa aneh [hatred mode on] ;D tentang diri anda. tahu sesuatu telah terjadi pada kamu.
jika kamu tetap biasa saja dan tidak merasa jangal. tidak terjadi apa2. ini adalah indikator pertama apakah teknik itu cocok untukmu. jika cocok, segera kamu akan terbawa.
terbawa menjadi orang yg tidak sama lagi. segerah: kamu akan melihat dunia ini dengan pandangan yg berbeda.
mata tetap sama, cuma cara pandang sudah berbeda sama sekali.

kedua.. semua yg menciptakan tensi, konfik, mulai menurun kadarnya. bukan dengan cara berlatih metode dalam bertahun2 lamanya, maka konflik/ permusuhan, kegelisahan, tensi akan hilang
tidak! jika metodenya cocok untuk mu. segerah juga mereka akan mulai hilang/ sirna
kamu akan merasakan arti hidup menghampirimu. kamu menjadi tidak terbelungu lagi. merasakannya, jika teknik itu cocok untukmu,
gravitasi menjadi terbalik. sekarang bumi menarikmu turun, setelah itu, langit/ angkasa menarik mu keatas. bagaimana rasanya pesawat terbang mengudara? semuanya sesuatu terganggu, dan tiba2 ada sentakan, dan gravitasi menjadi tidak berarti lagi. sekarang ini bumi tidak menarik turun anda. kamu merasakan pergi dari gravitasi.

sentakan yg sama terjadi ketika teknik meditasi itu cocok untukmu. tiba2 anda mengudara. tiba2 kamu merasa bumi tak berarti lagi, tidak ada gravitasi, dia tidak menarikmu turun, kamu didorong keatas. dalam termilogi kepercayaan. ini disebut "grace" ada dua kekuatan -- gravitasi dan grace.
grace mempunyai arti :kamu tertarik atau terdorong keatas
gravitasi/ gaya berat mempunyai arti: kamu tertarik kebawah.
ini lah kenapa dalam meditasi banyak orang yg merasa tiba-tiba kehilangan beban/ berat.
seperti melayang dari lantai, ketika kita membuka mata, kita masih dilantai, kita tidak pernah mengapung.
tubuh tetap di lantai, tapi anda mengapung

ketiga, apapun yg anda lakukan, apapun, biarpun sepele, akan berbeda. kamu akan jalan dengan cara yg berbeda, kamu akan duduk dengan cara yang berbeda, kamu akan makan dengan cara yg berbeda.


semua sudah lain sekarang. beda ini terasa dimana2. kadang2 perasaan berbeda ini menimbulkan perasaan takut. kadang2 ingin kembali lagi menjadi manusia biasanya lagi / terdahulu