Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: [ASK] Pertikaian, perpecahan, dan konflik antar organisasi Buddhis di nusantara  (Read 54973 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.185
  • Reputasi: 61
  • Gender: Male
Seperti judulnya, saya ingin tahu sejarah perkembangan agama buddha di Indonesia.
Versi resmi sudah banyak beredar. Biografi Bhante Ashin lumayan lengkap. Zaman majapahit dan sebelumnya juga sudah di-update. Tapi yg paling simpang siur beritanya itu adalah konflik KASI - WALUBI (lama), yg sebelumnya juga sudah dimulai dari keluarnya SAGIN dan MBI dari Walubi (lama)
Lalu berdiri Walubi baru. Lalu konflik meluas sampai STI juga keluar. Waktu itu saya masih muda dan bawahan di vihara jadi tidak tahu apa-apa. Sebenarnya ada apa sih?
Kalau ada yang tahu cerita di balik layar lebih bagus lagi. Selama ini saya mendapat informasi sepihak bahwa "Walubi lama" is the evil one. Dan oknum H yang jadi penjahat.

Ada yg mau bercerita?
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline N1AR

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 930
  • Reputasi: 22
  • Yui
harus orang lama yg tau..
gw pernah nanya soal itu.. tapi ceritannya terlalu politik..
gak suka politik jadi lupa lupa ingat :p

boleh sepotong2

Offline hatRed

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 7.400
  • Reputasi: 138
  • step at the right place to be light
loh kok bisa muncul bersamaan.

gak usah di nusantara di DC juga sedang terjadi neh :P
i'm just a mammal with troubled soul



Offline markosprawira

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.449
  • Reputasi: 155
baik atau buruknya, tergantung dari sisi mana anda mendengarnya.......

tapi cerita apapun yg didengar, hendaknya usahakan utk tidak membuat batin anda akusala

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.185
  • Reputasi: 61
  • Gender: Male
jadi, ga ada yg tahu nih? Atau memang sengaja tidak dibuka ke umum?
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.185
  • Reputasi: 61
  • Gender: Male
Walubi, Serupa Tapi Tak Sama

Umat Budha punya wadah baru untuk berhimpun. Tapi, wadah itu malah menegaskan perpecahan yang ada.
Singkatan boleh sama, tapi kepanjangannya bisa berbeda. Itulah yang terjadi dengan nama organisasi umat Budha di Indonesia, Walubi. Jika selama ini Walubi dikenal sebagai Perwalian Umat Budha Indonesia, maka sejak Agustus lalu ada Walubi lain yang artinya, Perwakilan Umat Buddha Indonesia.

Meskipun perbedaannya hanya pada kata Perwalian dan Perwakilan, ternyata perbedaan itu juga menggambarkan konflik yang sedang terjadi di kalangan pimpinan umat Budha Indonesia akhir-akhir ini. Kehadiran Walubi Perwakilan, memang dimaksudkan untuk mengganti Perwalian.

Seperti sudah diketahui, Perwalian adalah wadah berhimpunnya berbagai majelis (organisasi umat) dan sangha (organisasi bikhu) yang mewakili berbagai aliran yang berkembang dalam agama Budha. Ternyata organisasi tersebut, dalam perjalanannya, diganggu konflik internal yang berkepanjangan. Antara lain, kericuhan yang terjadi seusai Munas II tahun 1992 lalu.

Konflik itu pula berakhir dengan pemecatan 13 pengurus DPP Walubi dan keanggotaan Majelis Budhayana Indonesia (MBI) dan Sangha Agung Indonesia. Serta munculnya Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga ‘kembar? Yang dituduh sebagai motor perpecahan adalah Ketua Dewan Penyantun Walubi (1993-1998), yakni Siti Hartati Murdaya.

Meskipun langkah Murdaya itu didukung penguasa saat itu, namun pihak yang dipecat menolak cara-cara Murdaya. Antara lain, karena 13 orang yang diangkat oleh Munas itu, dipecat berdasarkan rekayasa rapat pimpinan yang disetir oleh Murdaya lewat AD/ART baru.

Bahkan, sebagaimana yang dituduhkan oleh Lieus Sungkharisma, tokoh MBI yang ikut dipecat serta pemilik usaha Berca Grup itu, ikut bertanggung jawab terhadap penyiksaan beberapa tokoh umat Budha yang dilakukan oleh oknum tentara.

Tampaknya, Murdaya ingin mengubur luka lama itu dan membuat suasana yang lebih akomodatif bagi berbagai perbedaan yang ada. Dengan dukungan sejumlah tokoh Budha, dibentuklah Perwakilan yang kemudian dikukuhkan oleh Direktorat Jenderal Pembinaan Masyarakat Hindu Buddha, Departemen Agama, 20 Agustus lalu.

Seperti diakui Murdaya kepada TEMPO, yang ia lakukan adalah jalan pintas untuk meruntuhkan benteng pemisah antara masing-masing anggota Perwalian. Organisasi yang lama dinilai memiliki kriteria yang terlalu ketat menyangkut akidah (keyakinan). Sebuah aliran seperti Niciren, hanya karena tak sesuai kriteria Perwalian, dipecat. "Sekarang kita sepakat bahwa masing-masing organisasi (aliran, pen) tidak akan mengintervensi lainnya," kata Murdaya.

Beberapa tokoh Budha dan sekaligus pendiri pengurus Perwalian dan sangha mendukung pembentukan wadah baru tersebut dan menuangkannya dalam pernyataan bersama. Mereka adalah majelis Mahayana, Theravada, Sangha Theravada, Tantrayana Kasogatan, Maitreya, Tridharma, Niciren Syosyu dan Lembaga Agama Buddha Indonesia.

Sedangkan sisanya, seperti MBI dan Forum Komunikasi Angkatan Muda Budhis (Forkami), tegas-tegas menolak wadah baru tersebut.. "Walubi baru tidak perlu. Kalau tujuannya untuk persatuan umat, yang lama cukup diperbaiki saja," kata Agus Tjandra, ketua umum Keluarga Mahasiswa Buddhis Jakarta, anggota Forkami. Sedangkan Sangha Mahayana sejauh ini belum menentukan sikap.

Adapun Lieus menilai langkah pembentukan Perwakilan bertujuan untuk membubarkan Perwalian tanpa melalui kongres. Arahnya, agar pengurus Perwalian, terutama ketua Dewan Penyantun tak perlu mempertanggungjawabkan tugasnya. "Dengan wadah baru ini, maunya kasus-kasus yang ada selesai begitu saja, " kata Lieus kepada TEMPO.

Namun, tuduhan Lieus itu bisa jadi tidak benar sebab, Perwalian rencananya akan menyelenggarakan Musyawarah Nasional Luar Biasa pada Oktober mendatang dengan agenda utama, pembubaran organisasi tersebut. Pertanggungjawaban pengurus, tentu bisa saja diagendakan.

K.M.N., laporan Karaniya Dharmasaputra, Ahmad Fuadi, Setiyardi
http://210.34.3.199/mirror/cornell/tempo/agama-1.htm
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline markosprawira

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.449
  • Reputasi: 155
buset deh bro.... itu berita lama banget....

KMBJ aja udah lebur jadi Hikmahbudhi.......

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.185
  • Reputasi: 61
  • Gender: Male
oh ya?
justru memang lagi gali berita2 lama.
Habis pertanyaanku ga ada yg jawab.
Kan memang waktu itu aku masih hijau [muda]
Pokoknya waktu KASI berdiri sampai sekarang aku di pihak KASI.
Tapi mau tau lebih jauh, in case ada yg nanya.
Ehipassiko juga...
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline sakura

  • Teman
  • **
  • Posts: 54
  • Reputasi: 6
  • Gender: Male
anda ingin mengetahui sejarah perkembangan agama buddha atau sejarah pertikaian Petinggi2 Buddhis ?
Saran sy, jika anda ingin mengetahui sejarah pertikaian yang berakhir dengan perpecahan maka anda akan bingung sendiri.
biarlah itu urusan mereka.
kalo sy pribadi, yang penting di Vihara/Cetiya atau tempat apapun namanya yang penting asal ada altar Buddha Rupam, itu tempat ibadah saya, dan mungkin tempat ibadah Bro dan Sis semua

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
anda ingin mengetahui sejarah perkembangan agama buddha atau sejarah pertikaian Petinggi2 Buddhis ?
Saran sy, jika anda ingin mengetahui sejarah pertikaian yang berakhir dengan perpecahan maka anda akan bingung sendiri.
biarlah itu urusan mereka.
kalo sy pribadi, yang penting di Vihara/Cetiya atau tempat apapun namanya yang penting asal ada altar Buddha Rupam, itu tempat ibadah saya, dan mungkin tempat ibadah Bro dan Sis semua

sdr.Sakura pernah ke BUDDHA BAR ?

http://www.buddha-bar.co.id/restaurant.html

itu tempat ibadah ? ? ? ? ?
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline Adhitthana

  • Sebelumnya: Virya
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.509
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
Kelahiran Buddha merupakan sebab kebahagiaan. Pembabaran Ajaran Benar merupakan sebab kebahagiaan. Persatuan Sangha merupakan sebab kebahagiaan. Usaha perjuangan mereka yang telah bersatu merupakan sebab kebahagiaan.”
(Dhammapada 194)


Pembubaran Perwalian Umat Buddha Indonesia (WALUBI-Lama)
Kemelut yang berkepanjangan yang melibatkan Sangha Agung Indonesia, Majelis Buddhayana Indonesia, dan WALUBI, terus berlanjut sampai menjelang akhir tahun 1998.

Pada tanggal 20 Agustus 1998 ditandatangani Konsensus Nasional Umat Buddha Indonesia dengan membentuk Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI-Baru) dengan bentuk federasi dan memegang prinsip Non Intervensi. Beberapa pihak mencurigai adanya rekayasa dibalik Konsensus Nasional Umat Buddha Indonesia yang diselenggarakan oleh WALUBI yang saat itu kepemimpinannya berada ditangan Siti Hartati Murdaya.

Pembentukan WALUBI-Baru menimbulkan pertanyaan besar bagai banyak kalangan. Umumnya, pembentukan suatu organisasi atau lembaga baru yang terdiri dari anggota-anggota lama seharusnya didahului terlebih dulu dengan pembekuan dan pembubaran organisasi atau lembaga yang lama.

Baru kemudian pada 6 November 1998 Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI-Baru) mengadakan MUNAS Khusus dengan agenda pembubaran Perwalian Umat Buddha Indonesia (WALUBI-Lama). Oleh beberapa kalangan, pembubaran WALUBI-Lama dianggap telah menyalahi AD/ART WALUBI-Lama.

Nampaknya, dengan dibubarkannya Perwalian Umat Buddha Indonesia (WALUBI-Lama), tidak membuat perbaikan yang berarti dalam tubuh organisasi Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI-Baru). Dan dengan dikeluarkannya Sangha Agung Indonesia dari WALUBI-Lama, maka WALUBI-Baru hanya tinggal memiliki dua Sangha, yaitu Sangha Theravada Indonesia (STI) dan Sangha Mahayana Indonesia (SMI).

Namun, tidak lama setelah WALUBI-Lama dibubarkan, Sangha Theravada Indonesia dan Sangha Mahayana Indonesia yang berpendapat sudah tidak ada lagi wadah yang mengikat, akhirnya bersama dengan Sangha Agung Indonesia mengadakan pertemuan dan membentuk Konferensi Agung Sangha Indonesia (KASI).

Kini WALUBI-Baru tidak lagi memiliki Lembaga Sangha yang secara historis merupakan Sangha Indonesia yang telah mengayomi umat Buddha Indonesia sejak kemunculan kembali Sangha di Indonesia pada tahun 1959. Yang tertinggal dalam WALUBI-Baru adalah pribadi-pribadi anggota sangha yang tidak tergabung dalam Lembaga Sangha manapun. Dalam perkembangan selanjutnya, WALUBI-Baru mulai merekrut pribadi-pribadi anggota Sangha baik dari dalam maupun dari luar negeri dan membentuk lembaga yang kemudian diklaim sebagai lembaga sangha dalam WALUBI-Baru. Perekrutan pribadi-pribadi anggota Sangha dari luar negeri dinyatakan oleh beberapa pihak sebagai pelanggaran atas prinsip non intervensi dan pelanggaran terhadap Anggaran Dasar WALUBI-Baru Pasal 21.

Selain merekrut pribadi-pribadi anggota sangha, WALUBI-Baru juga mulai merangkul aliran-aliran kontroversial termasuk merangkul kembali Nichiren Shoshu Indonesia (NSI) yang pada tanggal 10 Juli 1987 telah dikeluarkan dari keanggotaan WALUBI-Lama.

Konferensi Agung Sangha Indonesia (KASI)
Dengan dibubarkannya Perwalian Umat Buddha Indonesia (WALUBI-Lama), maka tidak ada lagi Lembaga Sangha yang menyatukan sangha-sangha yang ada di Indonesia. Oleh karena itu, pada tanggal 14 November 1998 berdirilah Konferensi Agung Sangha Indonesia (KASI), atas prakarsa para Ketua Sangha yang ada di Indonesia.

Naskah berdirinya KASI ditandatangani bersama oleh:
Y.M. Bhiksu Dharmasagaro Mahasthavira : Ketua Sangha Mahayana Indonesia
Y.M. Bhikkhu Sri Pannavaro Mahathera : Ketua Sangha Theravadha Indonesia
Y.M. Bhiksu Arya Maitri Mahasthavira : Wakil Ketua Sangha Agung Indonesia

Y.M. Bhiksu Prajnavira Mahasthavira yang terpilih sebagai Sekjen KASI.

KASI adalah Perhimpunan Sangha-Sangha (persaudaraan para bhikkhu.bhiksu) dalam suatu persidangan (konferensi) Agung, dengan berpedoman pada Kitab Suci Agama Buddha (Tripitaka Pali, Mahayana, Tibet/kanjur), Lembaga ini sebagai pengambilan keputusan berpedoman Dhamma (Dhammaniyoga). Meskipun KASI merupakan Perhimpunan Sangha-Sangha yang anggota pengurusnya adalah para bhikkhu/bhiksu, namun KASI juga tetap melibatkan umat awam sebagai pembantu para sangha.

Pada hari Rabu tanggal 4 Agustus 1999 pukul 14.00, Konferensi Agung Sangha Indonesia (KASI) beserta pimpinan majelis-majelis Agama Buddha yang terkait dengan KASI akan bertemu dengan Menteri Agama, Prof. Drs. Malik Fadjar, MSc. Majelis-majelis Agama Buddha yang terkait dengan KASI adalah Majelis Buddhayana Indonesia (MBI), Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia (MAJABUMI), Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (MAGABUDHI), dan Majelis Agama Buddha Tridharma Indonesia.

Dalam kesempatan itu KASI melaporkan kepada Menteri Agama bahwa setelah Perwalian Umat Buddha Indonesia (WALUBI-Lama) dibubarkan pada tanggal 6 November 1998, maka pada tanggal 14 November 1998 ketiga Sangha yang ada di Indonesia, yaitu: Sangha Agung Indonesia, Sangha Theravada Indonesia, dan Sangha Mahayana Indonesia telah berhimpun dalam wadah independen Konferensi Agung Sangha Indonesia (KASI).

Menurut Kitab Suci Tripitaka, Sangha dan umat perumah-tangga merupakan kelompok yang berdiri masing-masing. Kehadiran Sangha adalah wajib hukumnya, sedangkan kehadiran organisasi awam (umat perumah-tangga) memang dipuji, tetapi bukan keharusan. Organisasi awam boleh diubah atau mungkin dibubarkan dan diganti baru, tetapi Sangha harus dipertahankan keberadaannya dengan segala ketentuan Vinaya sebagaimana tersebut dalam Kitab Suci Tipitaka/Tripitaka.

Dalam pertemuan dengan Menteri Agama, juga dilaporkan beberapa kegiatan KASI, antara lain: mengikuti Rapat Kerja II Komite Eksekutif VI World Buddhist Sangha Council (WBSC) di Sri Lanka pada tanggal 17-22 April 1999 dan mengadakan Waisak Bersama se-Sumatera Utara di Medan. Pimpinan World Buddhist Sangha Council (WBSC) menyambut dengan gembira terbentuknya KASI, sekaligus juga mengangkat Y.M. Bhikkhu Ashin Jinarakkhita Maha Nayaka Sthavira (76 tahun, bhikkhu pelopor kebangkitan Agama Buddha di Indonesia) sebagai Wakil Presiden WBSC.

KASI sebagai organisasi resmi umat Buddha tertuang dalam surat bernomor 455.5/1204 yang ditandatangani PLH Dirjen Sosial dan Politik Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia, Drs H Ragam. Dengan demikian KASI layak mewakili umat Buddha dalam forum apa pun.

Dengan berdirinya KASI maka kini umat Buddha Indonesia memiliki lembaga ulama yang sejajar dengan lembaga-lembaga ulama dalam agama lain dimana kepengurusannya berada di tangan para ulama seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) dari agama Islam, Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) dari ka****k, Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) dari kr****n.

Nampaknya kehadiran KASI tidaklah mulus. Kehadiran KASI mendapat guncangan melalui upaya-upaya tidak sehat dari oknum pemimpin WALUBI-Baru. Guncangan pertama adalah dengan membentuk Dewan Sangha Walubi yang berusaha menjadi tandingan KASI, Dewan Sangha Walubi tersebut terdiri dari pribadi-pribadi anggota sangha yang tidak tergabung dalam Lembaga Sangha manapun dan para pribadi bhikkhu/bhiksu warga negara asing (WNA) yang sengaja didatangkan dari Thailand, Amerika Serikat, dan lain-lain. Kedua melalui siaran pers WALUBI-Baru meminta para bhikkhu/bhiksu senior yang tergabung dalam Konferensi Agung Sangha Indonesia (KASI) untuk lepas jubah (kembali menjadi umat awam) dan menuding para bhikkhu/bhiksu tersebut sebagai bhikkhu/bhiksu liar. Ketiga adalah sempat mempengaruhi Dirjen Bimas Hindu dan Buddha sehingga terbitlah surat No. H/BA.04.1/452/IV/99/RHS tanggal 19 April 1999 yang menyatakan tidak lagi membina KASI beserta SAI / SAGIN dan MBI.

Dengan adanya upaya-upaya tersebut di atas, maka timbullah konflik antar anggota WALUBI-Baru dengan umat pendukung KASI. Konflik antara WALUBI-Baru dengan umat pendukung KASI ini membuat sebagian umat Buddha Indonesia merasa bingung dan menimbulkan perpecahan dikalangan umat. Silat lidah diberbagai media sampai aksi demo mewarnai konflik WALUBI-Baru dengan KASI yang dimulai pada pertengahan tahun 1999.

Posisi KASI sebagi Lembaga Ulama Agama Buddha menjadi semakin kuat semenjak pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang berlangsung pada 20 Oktober 1999 sampai pada 23 Juli 2001. Dukungan Gus Dur kepada KASI tercermin dalam keikutsertaan Beliau sebagai tamu undangan dalam setiap acara keagamaan yang diselenggarakan oleh KASI, termasuk dalam setiap perayaan Waisak. Sebaliknya, WALUBI-Baru tidak mendapatkan dukungan dari Presiden RI ke-4 tersebut.

Seiring dengan berjalannya waktu, konflik antara WALUBI-Baru dengan KASI mulai mendingin. Meskipun demikian sisa-sisa konflik masih tersisa.

Pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada tahun 2005 menjelang perayaan Waisak 2549, atas peran pemerintah sebagai mediator, telah terjadi kesepakatan bersama antara KASI dengan WALUBI-Baru mengenai perayaan Waisak Nasional di Candi Borobudur. Sesuai kesepakatan bersama, perayaan Waisak Nasional di Candi Borobudur penyelengaranya akan dilakukan secara bergantingan antara KASI dengan WALUBI-Baru.

Pada tahun 2006 untuk pertama kalinya KASI menyelenggarakan Waisak Nasional di pelataran Candi Borobudur.

sumber : bhagavant.com
« Last Edit: 08 January 2009, 01:53:54 AM by Virya »
  Aku akan mengalami Usia tua, aku akan menderita penyakit, aku akan mengalami kematian. Segala yang ku Cintai, ku miliki, dan ku senangi akan Berubah dan terpisah dariku ....

Offline markosprawira

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.449
  • Reputasi: 155
oh ya?
justru memang lagi gali berita2 lama.
Habis pertanyaanku ga ada yg jawab.
Kan memang waktu itu aku masih hijau [muda]
Pokoknya waktu KASI berdiri sampai sekarang aku di pihak KASI.
Tapi mau tau lebih jauh, in case ada yg nanya.
Ehipassiko juga...

dear bro,

Jika saya boleh berkomentar, Kebenaran tetaplah merupakan kebenaran walau disebutkan oleh org yg tidak benar

apakah jika ada seorang penjahat yg bilang bhw api itu panas, lalu kebenaran itu harus diabaikan karena dia seorang penjahat?

Guru Buddha mengajarkan utk bagaimana mengembangkan batin kita dengan hal2 yg kusala (bermanfaat)

Sayangnya kita seringkali justru senang berbuat yg akusala
jika ada yg "menyakiti" perasaan, kita lalu benci
jika sedang asyik nonton TV, ada yg memindahkan saluran, kita jengkel

Demikian juga dari pihak Walubi.
Saya melihat bhw walau ada perbuatan mereka yg akusala, namun bukan berarti harus muncul kebencian (dosa mula citta) terhadap mereka
Justru seyogyanya kita mengembangkan Karuna, kasihan kepada mereka yg berbuat akusala

Sebenarnya jika anda ingin mencari sejarah, saya rasa jauh lebih baik jika bertanya langsung ke tokoh2 buddhist yg anda yakini integritasnya

Semoga bisa bermanfaat yah  _/\_

Offline purnama

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.309
  • Reputasi: 73
  • Gender: Male
DUUUHH Konflik dalam Tubuh organisasi buddhis tuh ngak usah dibahas lar.

Yang paling utama tuh mesti Di reformasi Organisasi Buddhis. gara2 konflik ginian tuh semua Aliran pada mentingin alirannya sendiri bahkan vihara sendiri, semangat kesatuannya tuh udah hampir kagak ada, Merasa diri saling superior. Mendingan mikirin Cara mempersatukan kembali.

Itu juga Percampuran Agama sama Politik dijadiin satuu.
Emang Di Indo perlu tokoh Buddhis yang bisa jadi pemersatu. semenjak Peninggalan Bhante Ashin Jinarakhita. Belum ada yang bisa mengantikan posisi beliau. belum ada yang sanggup jadi panutan intinya gituuu.

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.185
  • Reputasi: 61
  • Gender: Male
eh, waktu itu Sukong masih hidup lho....
tetep aja bisa pecah.
Yg menarik katanya ada kepentingan politik pihak tertentu
Yg gw pengen tau siapa dan apa kepentingan politik itu...
Eh, siapa mungkin sudah jelas... tapi kenapa?
Apa sih untungnya memecah belah umat buddha?
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline nyanadhana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.903
  • Reputasi: 77
  • Gender: Male
  • Kebenaran melampaui batas persepsi agama...
Murid2nya...karena ingin memegang tampuk kekuasaan Sukong.makanya Sukong bilang mending mati telanjang aja ga usah pake jubah2 macem2
Sadhana is nothing but where a disciplined one, the love, talks to one’s own soul. It is nothing but where one cleans his own mind.