Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Jenggot  (Read 14363 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline nyanadhana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.903
  • Reputasi: 77
  • Gender: Male
  • Kebenaran melampaui batas persepsi agama...
Re: Jenggot
« Reply #30 on: 17 December 2008, 10:54:26 AM »
Bagaimana dgn rambut kepala yg juga selalu tumbuh alami ?

setiap uposatha Sangha selalu melakukan upacara cukur rambut.

Apakah ada perlakuan beda atau persepsi yg berbeda antara rambut kepala dgn rambut dagu ?
rambut dagu dibiarkan tumbuh alami, sedangkan rambut kepala tidak di biarkan tumbuh alami ?



good Question, dilihat dari segi Vinaya,maka iya rambut di muka juga harus dicukur, dalam ditilik dari segi pencapaian, maka rambut merupakan satu dilema kemelekatan antara memiliki dan terus mencukur.orang yang telah menyeberang tidak lagi terikat dengan dualitas sama seperti apakah iya akan menggendong perahu atau ia melepas perahu itu. karena dia sendiri sudah ada di pantai seberang.
Meskipun kita sendiri tidak dapat menebak hasil pencapaian seseorang,maka lihatlaha dari segala tindak pikiran,perbuatan dan ucapan dari seorang bhikkhu yang memelihara janggut,apakah ia sebenarnya melekat atau sebenarnya ia sudah melepas. dan kembali lagi itu merupakan urusan pribadi masing2 karena vinaya adalah peraturan disiplin diri.

rambut dagu dibiarkan tumbuh alami, sedangkan rambut kepala tidak di biarkan tumbuh alami ?
buat saya sendiri,ada satu feeling dimana kamu menumbuhkan rambut kepala dengan rambut di tempat lain,orang berkata rambut kepala adalah mahkota, saya pikir ada hubungan logis juga dengan ego lagian rambut kepala kalau dibiarkan panjang tentu akan menghalangi praktek meditasi karena tidak nyaman.
« Last Edit: 17 December 2008, 10:56:25 AM by nyanadhana »
Sadhana is nothing but where a disciplined one, the love, talks to one’s own soul. It is nothing but where one cleans his own mind.

Offline markosprawira

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.449
  • Reputasi: 155
Re: Jenggot
« Reply #31 on: 17 December 2008, 01:19:21 PM »
omong2 soal jenggot, jadi ingat teman dari paham lain.....

di paham mereka dilarang memelihara kumis sehingga sah utk memelihara jenggot
bahkan bnyk pemuka agamanya yg memelihara jenggot sehingga jenggot sering dibilang sebagai tanda org yg lebih bijaksana, lebih dituakan....

namun apakah benar tanda fisik menandakan kebijaksanaan?

lebih baik jika dilihat dari bagaimana kesehariannya karena percuma memelihara jenggot tapi dalam kesehariannya justru bnyk melanggar dhamma

Offline Gunawan

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 374
  • Reputasi: 28
  • Gender: Male
  • Siswa Berbaju Putih
Re: Jenggot
« Reply #32 on: 17 December 2008, 03:13:06 PM »
 [at] Bro Markos = Bisa bantu saya dalam menjawab pertanyaan Mas Fran , Bahwa seorang Bhikkhu yang memelihara jenggot adalah Kamma Buruk , Krn saya pernah tanya kpd seorang pengajar senior Dhamma Study Bogor bahwa seorang Bhikkhu Sangha dari Zaman Sang Buddha tidak di perbolehkan memelihara Rambut,Kumis dan Jenggot. dan Jika seorang Bhikkhu masih tetap memelihara jenggot ya bhikkhu itu harus menyadari bahwa dia telah melakukan kamma buruk.

Note = Saya tahu pendapat orang berbeda-beda mengenai hal ini..... ^:)^

Mohon pencerahannya Bro Markos..... ^-^


 _/\_
Thanks & Best Regards
Gunawan S S
Yo kho Vakkali dhamma? passati so ma? passati; yo ma? passati so dhamma? passati.
Dhammañhi, vakkali, passanto ma? passati; ma? passanto dhamma? passati"

Offline markosprawira

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.449
  • Reputasi: 155
Re: Jenggot
« Reply #33 on: 17 December 2008, 04:32:37 PM »
[at] Bro Markos = Bisa bantu saya dalam menjawab pertanyaan Mas Fran , Bahwa seorang Bhikkhu yang memelihara jenggot adalah Kamma Buruk , Krn saya pernah tanya kpd seorang pengajar senior Dhamma Study Bogor bahwa seorang Bhikkhu Sangha dari Zaman Sang Buddha tidak di perbolehkan memelihara Rambut,Kumis dan Jenggot. dan Jika seorang Bhikkhu masih tetap memelihara jenggot ya bhikkhu itu harus menyadari bahwa dia telah melakukan kamma buruk.

Note = Saya tahu pendapat orang berbeda-beda mengenai hal ini..... ^:)^

Mohon pencerahannya Bro Markos..... ^-^


 _/\_
Thanks & Best Regards
Gunawan S S

dear bro gunawan,

sejauh yg saya tahu, dalam vinaya tidak disebut mengenai jenggot ini namun ada di dalam aturan pentahbisan untuk mencukur habis rambut dan jenggot.

rambut dan jenggot, sebagaimana saya contohkan diatas, sebenarnya dapat menjadi alat untuk memperbanyak mana dan lobha/melekat pada diri sendiri

mgkn ada rekan2 lain yg bisa memberikan tambahan  _/\_

Offline Hello

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 1
  • Reputasi: 0
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Jenggot
« Reply #34 on: 13 April 2018, 01:25:57 PM »
Bukan pada masalah ia berjenggot apa tidak tetapi pada masalah apakah ia melekat pada jenggotnya itu? ada orang yang punya jenggot dan melekat tiap hari disisir dan dirawat pertumbuhannya sehingga waktunya lebih banyak habis di jenggot daripada habis di Dhamma.


1. Pertama
Logikanya bisa saja di bolak balik.
Kalau begitu kita balik saja, supaya orang tidak melekat pada sisir, pisau cukur, minyak rambut, dll mari kita sama2 panjangkan semua rambut.

menurut saya alangkah bijaknya kita melihat konteksnya pada awal zaman sang Buddha,
Yakni hilangkan rambut, jenggot, alis, kumis untuk menghilangkan kemelekatan duniawi.
Bukan terhadap alat2 cukur yang bro dan saya sebutkan.

Jadi STOP bolak balik logika seolah biar saja panjangin jenggot asal tidak melekat apalagi melekat pada pisau cukur.


2. Kedua
Kita selalu membaca tiga perlindungan.
Salah satunya Sangha,
sebagai umat awam, saya melihat Sangha adalah sebagai ROLE MODE utk pelatihan spritualitas saya untuk melepas kemelekatan.
Sebagai umat awam juga, saya akan bingung jika ROLE MODE saya juga bermacam2 "BENTUK"nya sesuka2 mereka.

Artinya, saya pikir (maaf) ini Bhante suka2nya dewe.
Dari pada saya bingung, mending saya ngga ikut agama Buddha deh, BINGUNG.

Penting loh saya pikir, jangan sampai yang Buddhist saja bingung, tetangga sebelah pasti lebih bingung
Saya pikir semua perkumpulan, institusi, gerombolan, atau apapun namanya pasti punya standar untuk anggotanya.


Ini baru masalah alis, jenggot dan rambut loh.
Kedepannya biisa makin amburadul kita ini,
Bisa saja nanti ada (maaf) Bhante yang "mengklaim" boleh menikah dan (maaf) berhubungan sex, asal tidak merasakan pada saat melakukannya.. toh ini juga kan sesuatu yang alamiah kan (ngelesnya kan sama saja ngga melekat keduniawian)  <--- ini contoh ekstrem yah, hancurlah nanti Sangha kita


mohon maaf jika bahasa saya agak kurang teratur, tetapi saya mohon di pahami inti yang saya ingin sampaikan  _/\_

 

Orang yang telah melepas keduniawiaan dan telah memiliki tingkat lebih tidak akan mempermasalahkan tubuh ini karena jenggot adalah hal yang alami tumbuh,sama seperti pubic hair anda sendiri,bila anda berkata oh jenggot ini menyebalkan,harus dicukur dan dia tumbuh lagi dan tumbuh lagi,bisakah kamu melewati kemelekatan kamu akan cukur jenggot? atau jenggot telah tumbuh kamu berkata oh ini akan jadi bagus,harus dipelihara dan sebagainya?apakah kamu sudah melewati kemelekatan akan perawatan jenggot itu sendiri?
Lalu sesungguhnya boleh apa tidah boleh? bukan itu yang dipermasalahkan tapi apakah kamu melekat atau tidak melekat akan hal jenggot itu sendiri.


Kalau saya jadi bhante (maaf ya, mohon persilahkan saya berpendapat).
Saya lebih memilih cukur aja jenggot, alis dan rambutnya.
Toh saya juga bisa balas bilang ke bro bahwa saya tidak melekat kepada semua peralatan cukur tadi.

Aman kan?

Sudahlah bro., ngga usah bolak balik logika atau (maaf) ngeles.
Kembalikan saja ke awal zaman Sang Buddha.
Pasti awalnya begitu ada tujuannya.

Itu Guru Agung Kita loh bro.
Gak baik kita robah2 pake pemahaman kita sendiri, apalagi "ngeles" sana sini.
Bukankah kita sudah sering ngucap "..... yang maha suci dan sempurna)  <-- ingat paritta ini?


Terima kasih
Namo Buddhaya



« Last Edit: 13 April 2018, 01:30:45 PM by Hello »

Offline Ariyasacca

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 14
  • Reputasi: 0
  • Gender: Male
  • Semoga semua makhluk berbahagia
Re: Jenggot
« Reply #35 on: 17 April 2018, 05:13:12 PM »
wah itu konteksnya berbeda lagi bro tapi it's a good question.saya akan buka dengan quote yang pernah saya dengar...Buddha berkata sex adalah racun paling berbahaya dibandingkan semua racun yang ada. dan kita akui sendiri, orang bisa melepas judi atau apa aja tapi kebutuhan satu ini tentu agak susah apalagi kalau sudah menjadi kebiasaan.

Mengenai konteks polygami dan merawat orang,sebenarnya ada juga alternatif lain seperti membantu kehidupan keluarganya tanpa harus menikah dengannya sekarang apa manfaatnya kalo wanita yang ibaratnya perlu perlindungan,kekurangan ini harus dinikahkan dengan pria dengan alasan ia akan lebih sejahtera? lalu si pria ini akan terus mencari istri baru dan berkata wanita ini kurang....jadi dia mesti jadi istriku agar bahagia,kalau begitu si pria ini tidak adil karena ia menikah pilih2 harusnya kalo demi cinta kasih,tidak peduli dia gendut,kurus,jelek,cantik,nenek2 yang penting dia memerlukan perlindungan dan segala macamnya,maka nikahkan lah dia.seharusnya begitu bukan perlakuan yang adil terhadap semua wanita.

Fakta poligami perempuan sudah dipilih sebelumnya,jadi keadilan hanya jatuh di satu pihak.lalu apakah adil untuk istri pertamanya,lantas bagaimana kalo ia diduakan lagi? dan coba kasih contoh sebuah keluarga yang harmonis dan baik di mata masyarakat bila si anak ketika ia besar ia berkata,saya anak dari ayah dengan ibu ke sekian.

Nah, konteks berpikir poligami tentunya kembali ke Dhamma.
1. apakah poligami menghasilkan keluarga yang bahagia seperti yang dianjurkan Buddha?yaitu sama sila,sama panna,sama - sama....(sori agak lupa ini,kalo member tahu tambahin ya)
2. apakah di mata masyarakat,seseorang itu akan mendapat nilai plus,ketika si anak tumbuh besar dengan malu mengatakan saya anak orang ini?
3. lalu apakah orang ini benar2 menikahkan istrinya karena dia merasa kasihan atau haus akan sesuatu yang baru?
4. apakah fondasi keluarga dapat berdiri dalam cinta kasih dan kebijaksanaan?

Mantap. Saya klik thread ini untuk mengetahui jawaban tentang jenggot, tapi ini adalah quote yang sangat baik  _/\_ Kalau ingin membantu, kenapa juga harus dikawini. Bilang aja nafsu!  ^-^