Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: PINDAPATA Tradisi Para Buddha  (Read 13682 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline markosprawira

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.449
  • Reputasi: 155
PINDAPATA Tradisi Para Buddha
« on: 17 October 2008, 03:23:38 PM »
PINDAPATA Tradisi Para Buddha

Oleh: Samanera Dhammasugiri





Dalam menjalani kehidupan, sebagai samana atau petapa, dalam agama Buddha dikenal dengan sebutan bhikkhu atau samanera, membutuhkan empat kebutuhan pokok (cattupaccaya) dalam menjalankan kehidupan sucinya. Empat kebutuhan pokok yang dibutuhkan seorang bhikkhu adalah jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan. Empat kebutuhan pokok ini diperoleh dari hasil pemberian (dana) umat yang berbakti dan berkeyakinan kepada Sang Tiratana. Untuk kebutuhan makanan, biasanya para bhikkhu menerima dana makanan dari rumah ke rumah umat/penduduk. Hal ini dikenal dengan sebutan pindapata.

Tradisi pindapata ini masih berlangsung sampai sekarang terutama di negara-negara Buddhis, seperti Thailand, Myanmar, Kamboja, dan negara Buddhis lainnya.

Untuk di Indonesia, tradisi pindapata ini belum memasyarakat karena kurangnya umat yang mengerti tradisi ini dan minimnya jumlah bhikkhu, sehingga pindapata belum bisa dilakukan setiap hari oleh para bhikkhu.

Tetapi di beberapa vihara seperti Vihâra Jakarta Dhammacakka Jaya, biasanya (setelah direncanakan sebelumnya) mengadakan tradisi ini, yang pada umumnya dilakukan menjelang hari suci agama Buddha tiba. Begitu pula setiap ada pelaksanaan Pabbajja Samanera Sementara Sangha Theravâda Indonesia, peserta pabbajja diajak untuk mengenal tradisi pindapata ini.


Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan pindapata?

Pindapata berasal dan dua suku kata, yaitu: Pinda dan Patta. Pinda berarti gumpalan/bongkahan (makanan) dan Patta berarti mangkuk makan. Jadi dapat diartikan pindapata adalah pengumpulan makanan dengan mangkuk oleh para bhikkhu dari rumah ke rumah penduduk.


Bagi bhikkhu yang menjalankan praktik keras (Dhuthanga) harus melakukan pindapata sebagai salah satu peraturan praktiknya. Ada lima peraturan tentang makanan bagi bhikkhu yang menjalani praktik Dhutanga ini, yaitu:
  • tekad hanya makan dari hasil pindapata (pindapatikanga)
  • tekad untuk menerima dana dari rumah ke rumah tanpa kecuali (sapadanacarikanga)
  • tekad makan tanpa selingan (ekasanikanga)
  • tekad memakan hanya makanan yang ada dalam mangkuk (pattapindikanga)
  • dan tekad tidak makan lagi setelah selesai makan (kalupacchabhattikanga).



Asal mula tradisi pindapata.

Pada zaman dahulu, para petapa umumnya meminta dana makanan ke rumah-rumah penduduk untuk memenuhi kebutuhan makan mereka. Begitu pula dengan Sang Buddha, setiap pagi Sang Buddha dan rombongan para bhikkhu pergi meninggalkan vihara, memasuki desa atau kota untuk berpindapata. Pindapata ini merupakan suatu cara pendekatan masyarakat secara Agama Buddha. Tak jarang ketika Sang Buddha dan para bhikkhu berpindapata, masyarakat tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang Sang Buddha atau para bhikkhu, seperti Upatissa yang begitu terkesan melihat bhikkhu Assaji yang sedang berpindapata atau Bahiya yang berpakaian kulit kayu (Bahiyadaruciriya) berjumpa Sang Buddha saat Beliau berpindapata dan memohon Sang Buddha memberikan uraian Dhamma. Mereka berdua pada akhirnya tertarik untuk menjalani kehidupan kebhikkhuan, Upatissa kelak dikenal dengan nama Sariputta, namun kondisi karma buruk Bahiya berbuah, Beliau meninggal diseruduk sapi (jelmaan Asura) ketika mencari perlengkapan kebhikkhuannya, tetapi Bahiya telah mencapai tingkat kesucian Arahat setelah ia mendengar beberapa kalimat Dhamma dari Sang Buddha.


Bagaimanakah asal mula dan tradisi pindapata ini bemula?



Pada tahun ketiga, Sang Buddha kembali ke Kapilavatthu atas undangan dari Raja Suddhodana. Beliau beserta rombongan yang berjumlah dua puluh ribu bhikkhu berangkat dari Rajagaha menuju Kapilavatthu.


Sang Buddha beserta rombongan tiba di Kapilavatthu dan berdiam di Nigrodarama. Raja Suddhodana dan penduduk berduyun-duyun menemui Sang Buddha. Karena mengetahui bahwa para orang tua suku Sakya memiliki watak yang sombong, Sang Buddha menunjukkan keajaiban ganda (yamakapatihariya) kepada mereka. Api menyala di bagian atas tubuh Beliau dan air memancar dari tubuh bagian bawah dan sebaliknya. Setelah orang-orang suku Sakya dapat diyakinkan bahwa Sang Buddha telah mencapai ke-Buddha-an, kemudian Beliau duduk dengan tenang di tempat yang telah disediakan.


Raja Suddhodana menanyakan kabar Sang Buddha dan mengajukan beberapa pertanyaan lainnya kepada Beliau. Di akhir tanya-jawab Raja Suddhodana berhasil memperoleh mata Dhamma dan menjadi seorang Sotapanna. Berhubung tidak mendapat undangan makan di istana, maka keesokan harinya Sang Buddha berserta rombongan memasuki kota Kapilavatthu untuk berpindapata. Penduduk kota menjadi gempar. Memang mereka sering melihat seorang petapa atau brahmana berpindapata, tetapi baru sekarang mereka menyaksikan seorang berkasta Khattiya, putra dari seorang raja, berpindapata. Berita ini sampai ke telinga Raja Suddhodana, dan raja segera menemui Sang Buddha dan menegur Beliau. "Mengapakah anakku melakukan perbuatan yang sangat memalukan ini? Mengapakah anakku tidak datang saja ke istana untuk mengambil makanan? Apakah pantas seorang putra raja meminta-minta makanan di kota, tempat ia dulu sering berjalan-jalan dengan kereta emas? Mengapa anakku membuat malu ayahnya seperti ini?"


"Aku tidak membuat ayah malu, Oh Baginda. Hal ini memang sudah menjadi kebiasaan kita," jawab Sang Buddha dengan tenang. "Apa, kebiasaan kita? Bagaimana mungkin! Tidak pernah seorang anggota keluarga kita minta-minta makanan seperti ini. Dan anakku mengatakan bahwa ini sudah menjadi kebiasaan kita?"


"Oh, baginda, ini memang bukan merupakan kebiasaan seorang anggota keluarga kerajaan, tetapi ini adalah kebiasaan para Buddha. Semua Buddha di jaman dahulu hidup dengan jalan mengumpulkan dana makanan dari para penduduk."


Setelah Raja Suddhodana tetap mendesak agar Sang Buddha beserta rombongan mengambil makanan di istana, maka berangkatlah Sang Buddha berserta rombongan ke sana.


Kewajiban bhikkhu atau samanera yang berpindapata

Ada enam kewajiban yang harus dilakukan (kiccayatta) oleh bhikkhu atau samanera yang berpindapata. Enam kewajiban itu adalah:

1. Ia harus mengenakan jubahnya dengan rapi. Ketika berpindapata dan setiap kali keluar dari vihara, para bhikkhu harus mengenakan jubahnya dengan tertutup rapi. Tetapi, karena di Indonesia biasanya pindapata direncanakan dan dilaksanakan di lingkungan vihara, maka jubah bhikkhu biasanya terbuka pundak sebelah.

2. Ia harus meletakkan mangkuknya di bawah jubah (mangkuk terlindungi oleh jubah). Mangkuk merupakan salah satu dari delapan harta (attha parikara) yang dimiliki oleh seorang bhikkhu selain tiga lembar jubah, ikat pinggang, jarum-benang, saringan air, dan pisau cukur. Karena itu, seorang bhikkhu harus melindungi mangkuknya agar jangan sampai hilang atau jatuh ketika ia berpindapata.

3. Sebelum meninggalkan vihara, ia harus menyiapkan tempat duduknya, air minum, air pencuci tangan, pencuci kaki, pencuci mangkuk, dan perlengkapan kebhikkhuan lainnya.

4. Ia melaksanakan pindapata sesuai dengan tata tertib `Sekkhiyadhamma'. Sekkhiyadhamma adalah bagian dari Patimokkha Sila yang berisikan peraturan tentang kesopanan bagi seorang petapa. Terdapat tiga puluh peraturan tentang cara menerima makanan dan memakannya. Ketika menerima makanan, seorang Pindapatacarika (bhikkhu yang berpindapata) harus menerima makanan dengan hati-hati, perhatian pada mangkuk, menerima makanan dengan perbandingan yang sesuai yaitu satu bagian lauk dengan empat bagian nasi, dan menerima makanan sesuai dengan ukuran mangkuknya, tidak berlebihan.

5. Ia hendaknya penuh perhatian pada waktu berada di tempat penduduk. Ketika berada di pemukiman penduduk sebagai seorang Ariya, Pindapatacarika hendaknya berlaku tenang, penuh perhatian, dan penuh pengendalian diri. Ia tidak memandang atau berbicara kepada orang yang memberinya dana makanan. Ia juga tidak boleh memilih rumah yang dihampirinya, apakah pemilik rumah itu orang kaya atau miskin karena mereka semua harus diberi kesempatan untuk berbuat baik.

6. Ketika berpindapata, seorang Pindapatacarika tidak mengenakan alas kaki (sandal/sepatu), maka setelah ia kembali ke vihara dan sebelum memakan dana makanan hasil pindapatanya, ia harus mencuci kakinya terlebih dahulu. Begitu pula umat yang memberikan dana makanan harus melepaskan alas kaki, ketika memberikan dana makanan kepada bhikkhu yang berpindapata.


Peraturan Pacittiya menjelaskan bahwa jika ada umat yang mengundang bhikkhu untuk menerima dana makanan, maka bhikkhu itu dapat menerima tiga mangkuk penuh apabila ia mau. Apabila ia menerima lebih dari tiga mangkuk, maka ia melanggar peraturan pacittiya. Makanan yang ia terima itu harus pula dibagi kepada bhikkhu lain. Seorang bhikkhu juga dilarang untuk makan di luar waktu yang telah ditentukan (lewat dari tengah hari). Jika melakukan hal ini, maka ia melanggar pacittiya.

Dalam Pindapataparisudhi Sutta, Maijhima Nikâya, Sang Buddha memberikan nasehat kepada para bhikkhu agar selalu menjaga diri sehingga pikiran mereka tetap murni ketika sedang berpindapata atau ketika sedang makan yaitu dengan cara membuang nafsu keinginan, menghapus penghalang, serta mengembangkan pengetahuan tentang Tujuh Faktor Penerangan Sempurna lewat perjuangan yang terus-menerus.

Bagi seorang bhikkhu, ada perenungan yang harus dilakukannya ketika ia menggunakan empat kebutuhan pokok, yaitu perenungan sebelum penggunaan (Tankhanikapaccavekkhana) dan perenungan setelah penggunaan (Atitapaccavekkhana).

la harus merenungkan tujuan sebenarnya dari penggunaan kebutuhan itu. Penggunaan jubah adalah untuk melindungi tubuh dari gigitan serangga dan menutupi organ tubuh yang dapat menimbulkan rasa malu.

Makanan untuk mengurangi penderitaan dari rasa lapar, tempat tinggal untuk melindungi diri dari bahaya iklim, dan obat-obatan untuk kesembuhan dari rasa sakit.

Maksud dan tujuan dari perenungan ini adalah untuk mengurangi keserakahan yang muncul dari kebodohan dan kebencian, agar menimbulkan pengertian yang benar dari penggunaan empat kebutuhan pokok itu tanpa keserakahan, kebencian, dan kebodohan.


Pahala berdana makanan



Dalam Anguttara Nikâya IV.57, Sang Buddha memberikan khotbah singkat kepada seorang wanita dari suku Koliya, Suppavasa.
Ia adalah ibu dari Bhikkhu Sivali, Arahat yang paling beruntung. Khotbah ini disampaikan setelah Beliau menerima dana makanan darinya. "Dengan memberikan makanan, seorang siswa yang luhur memberikan empat hal kepada penerimanya. Apakah yang empat itu? Dia memberikan usia panjang (ayu), keelokan (vanno), kebahagiaan (sukha) dan kekuatan (bala).

Dengan memberikan usia panjang, dia sendiri akan memiliki usia panjang.
Dengan memberikan keelokan, dia sendiri akan memiliki keelokan.
Dengan memberikan kebahagiaan, dia sendiri akan memiliki kebahagiaan.
Dengan memberikan kekuatan, dia sendiri akan memiliki kekuatan.
Keempat pahala ini akan diperolehnya secara manusiawi (duniawi) dan surgawi.

Dengan memberikan makanan, seorang siswa yang luhur memberikan empat hal kepada penerimanya."


Merupakan kewajiban bhikkhu (vatta), setelah menerima dana makanan membacakan Anumodana Gatha atau khotbah Dhamma singkat kepada umat yang berdana. Kalimat yang diucapkan biasanya berbunyi, "Ayu, vanno, sukham, balam" artinya semoga Anda panjang umur, cantik/tampan (elok), bahagia, dan kuat.


Kesimpulan

Tradisi pindapata merupakan cara pendekatan masyarakat secara agama Buddha dan juga merupakan kebiasaan dari para Buddha, baik Buddha yang lampau, Buddha yang sekarang, maupun Buddha yang akan datang. Hanya saja, tradisi ini kurang memasyarakat dalam masyarakat Buddhis Indonesia.

Alangkah baiknya jika para bhikkhu dan umat Buddha bekerjasama untuk mulai memasyarakatkan tradisi ini. Kita dapat melakukan tradisi ini di setiap vihara terutama dilakukan menjelang hari suci agama Buddha tiba dengan perencanaan terlebih dahulu.


Banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan berpindapata, tidak hanya bagi para bhikkhu, umat Buddha juga memperoleh kesempatan untuk berbuat baik dan juga untuk melestarikan Buddha Dhamma yang merupakan kewajiban kita semua.

Sumber:

Biro Pendidikan Bhikkhu/Samanera Sangha Theravada Indonesia, Samanera Sikkha.
Widyadharma, Sumedha, MP., Riwayat Hidup Buddha Gotama, cetakan ketigabelas, Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda, 1993
Dra. Lanny Anggawati dan Dra. Wena Chintiawati, Anguttara Nikaya 2, Vihara Bodhivamsa Klaten, 2002


source
« Last Edit: 17 October 2008, 03:25:50 PM by markosprawira »

Offline Pitu Kecil

  • Sebelumnya Lotharguard
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 7.351
  • Reputasi: 217
  • Gender: Male
Re: PINDAPATA Tradisi Para Buddha
« Reply #1 on: 17 October 2008, 04:28:24 PM »
Hidup Pindapatta, kutunggu tahun depan lagi di medan _/\_ :) :lotus:
Smile Forever :)

Offline markosprawira

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.449
  • Reputasi: 155
Re: PINDAPATA Tradisi Para Buddha
« Reply #2 on: 17 October 2008, 05:26:15 PM »
demen deh ama semangatnya bro Lothar....... _/\_

Offline andry

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.115
  • Reputasi: 128
Re: (ask) PINDAPATA Tradisi Para Buddha
« Reply #3 on: 17 October 2008, 10:42:00 PM »
PINDAPATA Tradisi Para Buddha
  • tekad untuk menerima dana dari rumah ke rumah tanpa kecuali (sapadanacarikanga)
  • tekad makan tanpa selingan (ekasanikanga)
  • tekad memakan hanya makanan yang ada dalam mangkuk (pattapindikanga)
  • dan tekad tidak makan lagi setelah selesai makan (kalupacchabhattikanga).

pertanyaan:
1. bila tidak tinggal d lingkungan yang tidak buddhis, apakah seorang samana boleh berbicara/meminta?
seperti:'bolehkah saya meminta makanan?"
2.berapa kali pindapata dalam 1 hari dilakukan?
3.jika tidak habis memakan makanan yang ada didalam pata, bolehkah ia menyimpannya untuk siang harinya atau esok harinya? jika tidak! d kemanakan? d buang?


Pada zaman dahulu, para petapa umumnya meminta dana makanan ke rumah-rumah penduduk untuk memenuhi kebutuhan makan mereka.

pertanyaan:
1. pada jaman sekarang para bikhu, yg saya tahu jika mau makan pergi ke ruang makan, dan makanan sudah d siapkan. bagaimana itu? apakah melanggar vinaya?

Berhubung tidak mendapat undangan makan di istana, maka keesokan harinya Sang Buddha berserta rombongan memasuki kota Kapilavatthu untuk berpindapata.

pertanyaan:
1.apakabh tidak boleh meminta-minta?
6. Ketika berpindapata, seorang Pindapatacarika tidak mengenakan alas kaki (sandal/sepatu), maka setelah ia kembali ke vihara dan sebelum memakan dana makanan hasil pindapatanya, ia harus mencuci kakinya terlebih dahulu. Begitu pula umat yang memberikan dana makanan harus melepaskan alas kaki, ketika memberikan dana makanan kepada bhikkhu yang berpindapata.

pertanyaan:
1.tidak boleh memakai alas kaki, kenapa? tidak kah akan terluka?
2.umat yg memberi mengapa harus melepas alas kaki?

Peraturan Pacittiya menjelaskan bahwa jika ada umat yang mengundang bhikkhu untuk menerima dana makanan, maka bhikkhu itu dapat menerima tiga mangkuk penuh apabila ia mau. Apabila ia menerima lebih dari tiga mangkuk, maka ia melanggar peraturan pacittiya. Makanan yang ia terima itu harus pula dibagi kepada bhikkhu lain. Seorang bhikkhu juga dilarang untuk makan di luar waktu yang telah ditentukan (lewat dari tengah hari). Jika melakukan hal ini, maka ia melanggar pacittiya.

pertanyaan:
1. 3 mangkuk penuh? mangkuk apa, pata kah? atau mangkuk normal yang biasanya yang kita ketahui
2. 3 mangkuk penuh itu untuk apa? untuk ia makan d tempat? atau untuk d bawa pulang?
3. bolehkah ia membawa pulang makanan yang telah di danakan d tempat?
(contoh untuk no 3. saya mengundang bhante untuk makan d rumah saya, lalu ketika bhante tersebuit selesai makan, bolehkah ia membawa makanan sisanya (mis lauk-pauk,sayur mayur yang masih tersisa d meja untuk d bawa pulang olehnya?
 

Thx alotttttttt untuk jawabannya..




Samma Vayama

Offline hanes

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 379
  • Reputasi: 23
  • Gender: Male
Re: PINDAPATA Tradisi Para Buddha
« Reply #4 on: 17 October 2008, 10:45:29 PM »
Hidup Pindapatta, kutunggu tahun depan lagi di medan _/\_ :) :lotus:
ingat ajak aku lg ko.
wkkkkkkkk
_/\_
Mukjizat terbesar adalah
perubahan orang yang gelap hati
menjadi orang yang bijaksana.

cunda

  • Guest
Re: PINDAPATA Tradisi Para Buddha
« Reply #5 on: 17 October 2008, 10:55:01 PM »
Hidup Pindapatta, kutunggu tahun depan lagi di medan _/\_ :) :lotus:


 _/\_suvatthi hotu

aku tunggu kabar gembira Lothar melaksanakan pindapatta


Semoga ayu, vanno, sukham, balam berkembang

sadhu, sadhu, sadhu


cunda

  • Guest
Re: PINDAPATA Tradisi Para Buddha
« Reply #6 on: 17 October 2008, 10:56:23 PM »
Hidup Pindapatta, kutunggu tahun depan lagi di medan _/\_ :) :lotus:
ingat ajak aku lg ko.
wkkkkkkkk
_/\_


wah selamat Tante mau ikut juga, semoga makinbanyak kaula muda yang mau hidup berpindapatta

sadhu sadhu sadhu

Offline hanes

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 379
  • Reputasi: 23
  • Gender: Male
Re: PINDAPATA Tradisi Para Buddha
« Reply #7 on: 17 October 2008, 11:01:54 PM »
Hidup Pindapatta, kutunggu tahun depan lagi di medan _/\_ :) :lotus:
ingat ajak aku lg ko.
wkkkkkkkk
_/\_


wah selamat Tante mau ikut juga, semoga makinbanyak kaula muda yang mau hidup berpindapatta

sadhu sadhu sadhu


doain y romo.
sadhu sadhu sadhu.
_/\_
Mukjizat terbesar adalah
perubahan orang yang gelap hati
menjadi orang yang bijaksana.

Offline Jayadharo Anton

  • Sebelumnya: Balaviro
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.300
  • Reputasi: 19
  • Gender: Male
  • Namatthu Buddhassa
Re: PINDAPATA Tradisi Para Buddha
« Reply #8 on: 22 October 2008, 12:49:22 PM »
Ayo pindapatta,tp cenderung gue malah ketiduran,moga2 bln dpn bsa bngun agk pagi
"Kesehatan adalah keuntungan yang paling besar,kepuasan adalah kekayaan yang paling berharga,kepercayaan adalah saudara paling baik,nibbana adalah kebahagiaan tertinggi" [DHAMMAPADA:204]

Offline Pitu Kecil

  • Sebelumnya Lotharguard
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 7.351
  • Reputasi: 217
  • Gender: Male
Re: PINDAPATA Tradisi Para Buddha
« Reply #9 on: 22 October 2008, 03:56:08 PM »
Ayo pindapatta,tp cenderung gue malah ketiduran,moga2 bln dpn bsa bngun agk pagi
pasti bisa bangun, saya sih besoknya mau pindapatta saya selalu tekankan ke diri bahwa besok harus cepat bangun jam 4/5 bangun liao :)) saya juga atur alarm Handphone 2 buah :))
Smile Forever :)

Offline Sunkmanitu Tanka Ob'waci

  • Sebelumnya: Karuna, Wolverine, gachapin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.807
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
  • 会いたい。
Re: PINDAPATA Tradisi Para Buddha
« Reply #10 on: 22 October 2008, 03:59:27 PM »
pasti bisa bangun, saya sih besoknya mau pindapatta saya selalu tekankan ke diri bahwa besok harus cepat bangun jam 4/5 bangun liao :)) saya juga atur alarm Handphone 2 buah :))

Bener kata Jendral, tergantung niat. Kalo aye gak niat, weker gede juga gak mempan, paling di silent terus tidur lagi. Tapi kalo niat gak pake weker juga bangun.
HANYA MENERIMA UCAPAN TERIMA KASIH DALAM BENTUK GRP
Fake friends are like shadows never around on your darkest days

Offline Pitu Kecil

  • Sebelumnya Lotharguard
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 7.351
  • Reputasi: 217
  • Gender: Male
Re: PINDAPATA Tradisi Para Buddha
« Reply #11 on: 22 October 2008, 04:05:41 PM »
pasti bisa bangun, saya sih besoknya mau pindapatta saya selalu tekankan ke diri bahwa besok harus cepat bangun jam 4/5 bangun liao :)) saya juga atur alarm Handphone 2 buah :))

Bener kata Jendral, tergantung niat. Kalo aye gak niat, weker gede juga gak mempan, paling di silent terus tidur lagi. Tapi kalo niat gak pake weker juga bangun.
kl kita ada niat, saat bobo jam 4 gitu udah gk nyenyak pasti terbangun :P cepat bangun lalu baca doa bentar... TENG jam 6 Sluuuuuuuu Ngennggggggg ke vihara 5 menit udah ampe, tanpa hambatan / macet :))
Smile Forever :)