//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Sidang Sangha (Konsili) I  (Read 10483 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Sidang Sangha (Konsili) I
« on: 22 August 2008, 01:20:55 AM »
Yang Mulia ânanda Mencapai Kesucian Arahatta
Karena pencapaian Kearahattaan Yang Mulia ânanda berhubungan dengan sidang Pertama, kita akan membahas peristiwa tersebut merujuk pada Komentar Sãlakkhandha Vagga (Dãgha Nikàya) tentang topik ini.

Setelah menjalani misi-Nya tanpa mengenal lelah dalam memberikan Pembebasan kepada mereka yang layak, dimulai dari Khotbah Pertama, Dhammacakka, hingga khotbah terakhir kepada Petapa Subhadda, Buddha meninggal dunia di bawah pohon sàla kembar di taman para pangeran Malla di dekat Kusinàrà di tahun 148 Mahà Era. Pelenyapan total Buddha, tanpa menyisakan kelompok-kelompok kehidupan, terjadi pada hari purnama bulan Mei, dini hari. Para Pangeran Malla melakukan upacara pemakaman selama tujuh hari dengan meletakkan bunga dan wewangian di sekitar jenazah Buddha untuk menghormati Beliau. Seminggu ini disebut ‘Minggu Perayaan Pemakaman’.

Setelah perayaan tersebut, jenazah Buddha diletakkan di atas tumpukan kayu pemakaman tetapi tidak dapat terbakar meskipun para Pangeran Malla telah berusaha keras. Hanya pada hari ketujuh, setelah Yang Mulia Mahà Kassapa tiba dan memberi hormat, jenazah Buddha terbakar dengan sendirinya, sesuai kehendak Buddha sebelumnya. Minggu kedua itu disebut ‘Minggu Pembakaran’.

Setelah relik-relik Buddha dihormati oleh para Pangeran Malla selama tujuh hari dengan mengadakan perayaan, mereka menempatkan pengawal bertombak berlapis-lapis untuk mengamankan perayaan tersebut. Minggu ketiga itu disebut ‘Minggu Penghormatan Relik’.

Setelah tiga minggu berlalu, pada tanggal lima bulan deññha (Mei-Juni) dilakukan pembagian relik-relik Buddha (yang dipimpin oleh Brahmana Doõa, seorang guru brahmana). Pada hari itu terdapat kumpulan yang terdiri dari tujuh ratus ribu bhikkhu (di Kusinàrà). Pada pertemuan itu, Yang Mulia Mahà Kassapa teringat kata-kata tidak sopan yang dilontarkan oleh Subhadda, seorang bhikkhu tua yang melakukan perjalanan bersama Yang Mulia Mahà Kassapa dari Pàvà menuju Kusinàrà, pada hari ketujuh setelah Buddha meninggal dunia. Bhikkhu tua itu berkata kepada para bhikkhu yang meratapi kematian Buddha, “Teman-teman, jangan bersedih, jangan meneteskan air mata sia-sia. Karena mulai sekarang kita telah bebas dari kezaliman Bhikkhu Gotama yang selalu memerintah kita, ‘Ya, ini baik bagi seorang bhikkhu’, atau ‘Tidak, ini tidak baik bagi seorang bhikkhu.’ Sekarang kita bebas melakukan apa yang kita inginkan, dan tidak melakukan apa yang tidak kita inginkan.”

Lebih jauh lagi, Yang Mulia Mahà Kassapa melihat bahwa ajaran Buddha yang terdiri dari Tiga Ajaran Baik akan lenyap dengan mudah setelah kematian sumbernya, karena bhikkhu-bhikkhu jahat tidak menghormati sabda-sabda Buddha saat Buddha tidak ada lagi, dan jumlah mereka akan terus bertambah. Baik sekali jika para bhikkhu dikumpulkan dan membacakan semua Dhamma dan Vinaya yang diwariskan oleh Buddha.
Dengan demikian, Tiga Ajaran Baik akan bertahan lama. Demikianlah Yang Mulia Mahà Kassapa merenungkan.

Kemudian ia juga teringat akan pengakuan istimewa Buddha terhadapnya. “Buddha telah bertukar jubah luar-Nya denganku. Ia telah menyatakannya kepada para bhikkhu, ‘Para bhikkhu, dalam hal berdiam dalam Jhàna Pertama, Kassapa sebanding dengan-Ku; dan seterusnya,’ demikianlah ia memuji kekuatanku dalam pencapaian Jhàna dan juga Jhàna-Jhàna yang lebih tinggi, merangkul sembilan pencapaian Jhàna dengan berdiam dalam masing-masing tingkatannya, serta lima kekuatan batin. Juga, Bhagavà sambil berdiri di angkasa, dan melambaikan tangan-Nya, menyatakan, bahwa dalam hal Pembebasan diri dari empat jenis pengikut, Kassapa tidak ada tandingannya,’ dan ‘bahwa dalam hal sikap seimbang, Kassapa berperilaku bagaikan bulan.’ Kata-kata pujian ini sungguh tidak ada bandingnya. Aku harus bertindak sesuai kemuliaan itu dengan mengadakan sidang Saÿgha untuk membacakan Dhamma dan Vinaya untuk melestarikannya.”

“Bagaikan seorang raja yang mengangkat putra tertuanya sebagai pewaris tahta, menganugerahkan perlengkapan kerajaan dan kekuasaannya kepada putranya dengan pandangan untuk melestarikan kedaulatannya, demikian pula, Bhagavà telah memujiku secara berlebihan karena melihat bahwa, aku, Kassapa, akan mampu melestarikan ajaran-Nya.”

Setelah merenungkan demikian, Yang Mulia Mahà Kassapa menceritakan kepada perkumpulan bhikkhu tersebut tentang kata-kata tidak sopan yang dilontarkan oleh Subhadda, si bhikkhu tua (seperti telah disebutkan di atas) dan mengajukan usul:
“Sekarang, teman-teman, sebelum noda-noda moral mendapatkan landasan dan menjadi gangguan bagi Dhamma, sebelum kejahatan mendapatkan landasan dan menjadi gangguan bagi Disiplin, sebelum para penganut noda-noda moral mendapatkan kekuatan, sebelum penganut Dhamma baik menjadi lemah, sebelum para penganut kejahatan mendapatkan kekuatan, sebelum penganut Disiplin menjadi lemah, marilah kita membacakan Dhamma dan Vinaya dengan suara bulat dan melestarikan-Nya.”

Mendengar usulannya itu, kumpulan bhikkhu itu berkata kepadanya, “Yang Mulia Kassapa, silakan Yang Mulia memilih para bhikkhu untuk membacakan Dhamma dan Vinaya.” Yang Mulia Mahà Kassapa kemudian memilih empat ratus sembilan puluh sembilan Arahanta yang telah menghafal Tiga Piñaka, dan kebanyakan mereka juga memiliki empat Pengetahuan Analitis, Tiga Vijjà dan Enam Kekuatan Batin, dan dinyatakan oleh Bhagavà sebagai bhikkhu terbaik.

(Pemilihan empat ratus sembilan puluh sembilan bhikkhu menunjukkan bahwa satu telah disediakan untuk Yang Mulia ânanda. Alasannya adalah bahwa pada saat itu Yang Mulia ânanda belum mencapai kesucian Arahatta, dan masih melatih diri untuk menjadi seorang Arahanta. Tanpa ânanda tidaklah mungkin mengadakan sidang karena ia telah mendengarkan semua sabda Buddha yang terdiri dari Lima Nikàya atau kumpulan, Sembilan Aïga atau bagian, dan istilah-istilah dalam Dhamma yang berjumlah delapan puluh empat ribu.

Mengapa ânanda tidak dimasukkan dalam daftar pembaca oleh Yang Mulia Mahà Kassapa? Alasannya adalah bahwa Yang Mulia Mahà Kassapa ingin menghindari kritik bahwa ia pilih kasih terhadap ânanda karena masih ada Arahanta lain yang memiliki Empat Pengetahuan Analitis seperti ânanda sedangkan ânanda masih seorang sekkha, seorang yang masih melatih diri untuk mencapai Kearahattaan.

Kritik itu mungkin terjadi, mempertimbangkan fakta bahwa Yang Mulia Mahà Kassapa dan ânanda sangat akrab. Yang Mulia Mahà Kassapa memanggil ânanda dengan sebutan ‘anak muda ini’ padahal Yang Mulia ânanda berumur hampir delapan puluh tahun dengan rambut yang sudah memutih. (Baca Kassapa Saÿyutta, Cãvara Sutta, Nidàna Vagga). Lebih jauh lagi, Yang Mulia ânanda adalah seorang pangeran Sakya dan sepupu pertama Buddha. Karena alasan itu, walaupun Yang Mulia Mahà Kassapa mengetahui bahwa ânanda pasti terlibat dalam proyek pembacaan itu, ia menunggu persetujuan umum dari kumpulan itu untuk memilih ânanda.)

Ketika Yang Mulia Mahà Kassapa memberitahu kumpulan itu bahwa ia telah memilih empat ratus sembilan puluh sembilan Arahanta untuk tujuan itu, kumpulan itu sepakat mengusulkan Yang Mulia ânanda meskipun ia masih seorang sekkha. Mereka berkata, “Yang Mulia Mahà Kassapa, walaupun Yang Mulia ânanda masih seorang sekkha, ia bukanlah seorang yang dapat salah menilai. Terlebih lagi, ia adalah bhikkhu yang paling banyak belajar dari Buddha baik dalam hal Dhamma dan Vinaya.” Kemudian Yang Mulia Mahà Kassapa memasukkan ânanda dalam daftar pembaca. Demikianlah ada lima ratus pembaca yang dipilih dengan persetujuan kumpulan itu.

Kemudian mereka mempertimbangkan lokasi pembacaan itu.
« Last Edit: 22 August 2008, 01:28:47 AM by dilbert »
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Sidang Sangha (Konsili) I
« Reply #1 on: 22 August 2008, 01:21:47 AM »
Mereka memilih Ràjagaha karena merupakan kota besar, cukup besar untuk menyediakan makanan setiap hari kepada sidang para bhikkhu tersebut, dan karena memiliki banyak vihàra besar di mana para bhikkhu dapat menetap. Mereka juga berpikir tentang melarang para bhikkhu lain di luar daftar sidang itu untuk menjalani vassa di Ràjagaha, tempat sidang itu diadakan, selama masa itu. (Alasan melarang bhikkhu di luar sidang adalah karena sidang itu dilakukan setiap hari selama beberapa hari, jika pihak luar tidak secara resmi dilarang untuk menetap di sana selama masa vassa, orang-orang yang tidak menyetujui akan mengganggu jalannya sidang.)

Kemudian Yang Mulia Mahà Kassapa, dengan mengajukan usulan resmi tersebut bertindak sebagai pemimpin sidang, dan mendapatkan persetujuan resmi dari kumpulan itu untuk mengumumkan keputusan Saÿgha sebagai berikut:

Suõàtu me àvuso Sangho yadi Saÿghassa pattakallaÿ Saÿgho imàni pa¤cabhikkhusatàni sammanneyya ràja gahe vassaÿ vasantàni Dhamma¤ ca vinaya¤ ca sangà yituÿ na a¤¤ehi bhikkhåhi ràjagahe vassaÿ vasitabbanti, esà ¤atti.

Intinya adalah: (1) hanya lima ratus bhikkhu yang akan membacakan Dhamma dan Vinaya yang menetap di Ràjagaha selama masa vassa dan (2) bahwa para bhikkhu lain tidak diperbolehkan menetap di Ràjagaha selama masa yang sama.

Kammavàca di atas atau keputusan Saÿgha mengenai sidang terjadi dua puluh satu hari setelah Buddha meninggal dunia. Setelah keputusan itu ditetapkan, Yang Mulia Mahà Kassapa mengumumkan kepada semua anggota kumpulan sebagai berikut:

“Teman-teman, aku mengizinkan kalian untuk melakukan urusan pribadi kalian masing-masing selama empat puluh hari. Setelah empat puluh hari, tidak ada alasan untuk tidak menghadiri tugas pembacaan, apakah karena sakit, urusan yang berhubungan dengan penahbis, atau orangtua atau kebutuhan bhikkhu seperti mangkuk dan jubah. Kalian diharapkan untuk siap memulai tugas ini setelah empat puluh hari.”

Setelah memberikan instruksi keras itu kepada Saÿgha, Yang Mulia Mahà Kassapa, disertai oleh lima ratus siswa bhikkhu, pergi ke Ràjagaha. Anggota sidang lainnya juga pergi ke berbagai tempat, disertai oleh para siswa bhikkhu mereka, untuk meredakan kesedihan banyak orang dengan membabarkan Dhamma yang baik. Yang Mulia Puõõa dan tujuh ratus siswa bhikkhu tetap di Kusinàrà memberikan penghiburan dengan khotbah mereka kepada para umat yang berdukacita atas kematian Buddha.

Yang Mulia ânanda seperti biasa membawa mangkuk dan jubah Buddha, dan pergi ke Sàvatthã disertai oleh lima ratus siswa bhikkhu. Pengikutnya terus bertambah setiap hari. Ke mana pun ia pergi, para umat meratap dan menangis.

Dengan melakukan perjalanan bertahap, akhirnya Yang Mulia ânanda tiba di Sàvatthã, berita kedatangannya menyebar ke seluruh kota dan para penduduk keluar dengan membawa bunga dan wewangian untuk menyambutnya. Mereka meratap dengan berkata, “O Yang Mulia ânanda, engkau biasanya datang menyertai Buddha, tetapi di manakah engkau meninggalkan Buddha sekarang dan datang sendirian?” Kesedihan orang-orang saat melihat Yang Mulia ânanda sendirian sama seperti kesedihan yang terjadi saat Buddha meninggal dunia.

Yang Mulia ânanda menghibur mereka dengan membabarkan khotbah ketidakkekalan, penderitaan, dan tanpa-diri dari kelahiran yang berkondisi. Kemudian ia memasuki Vihàra Jetavana, memberi hormat ke arah Kuñã Harum Buddha, membuka pintunya, mengeluarkan selimut dan alas duduk, membersihkannya, menyapu bagian dalam dan luar kamar, membuang bunga-bunga yang telah layu. Kemudian ia mengembalikan selimut dan alas duduk dan melakukan tugas rutin di tempat kediaman Buddha seperti pada waktu Buddha masih hidup.

Sewaktu ia melakukan tugas-tugas rutin itu, ia akan berkata sambil menangis, “O Bhagavà, bukankah sekarang saatnya Engkau mandi?” “Bukankah sekarang saatnya Engkau membabarkan khotbah?” “Bukankah sekarang saatnya Engkau memberikan nasihat kepada para bhikkhu?” “Bukankah sekarang saatnya untuk berbaring di sisi kanan dalam keagungan Buddha (seperti singa)?” “Bukankah sekarang saatnya mencuci muka?” Ia tidak dapat menahan tangis dalam melakukan rutinitas dalam melayani Buddha itu karena, mengetahui manfaat dari kualitas menenangkan dari Bhagavà, ia memiliki cinta yang mendalam terhadap Buddha karena keyakinan juga karena kasih sayangnya; ia belum melenyapkan semua noda moral; ia memiliki hati yang lembut terhadp Buddha karena kebersamaan yang terjadi antara dirinya dan Buddha selama jutaan kehidupan yang lampau.
« Last Edit: 22 August 2008, 01:29:31 AM by dilbert »
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Sidang Sangha (Konsili) I
« Reply #2 on: 22 August 2008, 01:22:43 AM »
Nasihat yang Diberikan Oleh Dewa Hutan
Meskipun dirinya menderita kesedihan yang hebat dan dukacita akibat kehilangan Buddha, Yang Mulia ânanda juga memberikan banyak penghiburan kepada para umat yang datang menjumpainya yang berduka karena kematian Buddha. Saat ia menetap di dalam hutan di Kerajaan Kosala, dewa penjaga hutan itu juga turut bersedih karenanya; dan untuk mengingatkannya agar melawan kesedihannya, dewa itu menyanyikan syair berikut untuknya:

Rukkhamålagahanaÿ pasakkiya
Nibbànaÿ hadayasmiÿ opiya.
Jhàya Gotama mà pamàdo Kiÿ
te biëibiëikà karissati.


“O Yang Mulia dari keluarga Gotama, pergilah ke bawah pohon, celupkan batinmu ke dalam Nibbàna (‘arahkan batinmu ke Nibbàna’, Komentar) dan berdiamlah dalam Jhàna yang ditandai oleh konsentrasi pada objek (‘celupkan batinmu ke dalam Nibbàna: ‘Arahkan batinmu ke Nibbàna―Komentar, meditasi) dan pada coraknya (yaitu ketidakkekalan, penderitaan, tanpa-diri). Apa gunanya engkau bercakap-cakap dengan para pengunjung untuk menghibur mereka?”

Teguran itu membangkitkan saÿvega dalam diri Yang Mulia ânanda. Sejak Buddha meninggal dunia, ia terlalu banyak berdiri dan duduk sehingga ia merasa kurang sehat; dan untuk memulihkan dirinya, keesokan harinya ia meminum obat pencahar dari susu, dan tidak keluar dari vihàra.
Pada hari itu, Subha, putra Todeyya, seorang brahmana (yang meninggal dunia) datang mengundang Yang Mulia ânanda untuk mempersembahkan makanan. Yang Mulia ânanda berkata kepada pemuda itu bahwa ia tidak dapat datang hari itu karena ia telah meminum susu pencahar, dan bahwa ia akan datang keesokan harinya. Keesokan harinya ia pergi ke tempat Buddha di mana pemuda brahmana kaya itu mengajukan pertanyaan yang menyentuh Dhamma. Sebagai jawaban Yang Mulia ânanda membabarkan khotbah seperti yang tercatat dalam Subha Sutta, khotbah kesepuluh dalam Sãlakkhandha Vagga dari Dãgha Nikàya.

Kemudian Yang Mulia ânanda mengawasi perbaikan Vihàra Jetavana. Menjelang vassa, ia meninggalkan para siswa bhikkhu di vihàra dan berangkat ke Ràjagaha. Anggota lainnya yang terpilih untuk membacakan Piñaka juga datang ke Ràjagaha pada waktu yang hampir bersamaan. Seluruh anggota tersebut melakukan uposatha pada malam purnama bulan âsaëha (Juni-Juli) dan pada keesokan harinya mereka bertekad untuk menetap di Ràjagaha selama tiga bulan vassa.

Pada waktu itu terdapat delapan belas vihàra di Ràjagaha. Karena tidak ditempati selama beberapa waktu, bangunan dan halamannya dalam keadaan rusak dan terabaikan. Pada saat Buddha meninggal dunia, semua bhikkhu meninggalkan Ràjagaha menuju Kusinàrà dan vihàra-vihàra itu tidak ditempati sehingga bangunannya menjadi kotor dan berdebu serta banyak jendela yang pecah dan dinding yang bercelah.

Para bhikkhu mengadakan rapat dan memutuskan bahwa sesuai peraturan yang ditetapkan oleh Buddha dalam Vinaya; dalam bab tentang tempat tinggal, bangunan vihàra dan sekitarnya harus diperbaiki sebaik-baiknya. Maka mereka menyediakan waktu satu bulan pertama dari masa vassa itu untuk memperbaiki vihàra-vihàra, dan bulan kedua untuk pembacaan. Mereka melakukan pekerjaan perbaikan itu untuk menghormati instruksi Buddha yang tercantum dalam peraturan Vinaya, dan juga untuk menghindari kritik oleh aliran kepercayaan di luar ajaran Buddha yang akan mengatakan, “Para siswa Samaõa Gotama memelihara vihàra hanya pada saat guru mereka masih hidup, tetapi setelah Beliau meninggal dunia, mereka mengabaikan vihàra-vihàra itu dan menyia-nyiakan harta berharga yang disumbangkan oleh empat kelompok pengikutnya.”

Setelah memutuskan demikian, para bhikkhu mendatangi istana Raja Ajàtasattu, seorang penyumbang. Raja bersujud kepada mereka dan menanyakan tujuan dari kunjungan mereka. Mereka memberitahunya bahwa mereka memerlukan bantuan tenaga untuk pekerjaan memperbaiki delapan belas vihàra. Raja menyediakan pekerja untuk melakukan pekerjaan perbaikan di bawah pengawasan para bhikkhu. Dalam bulan pertama, pekerjaan itu selesai dilakukan. Para bhikkhu kemudian menghadap Raja Ajàtasattu dan berkata, “Tuanku, pekerjaan memperbaiki vihàra telah selesai. Sekarang kami akan mengadakan sidang untuk membacakan Dhamma dan Vinaya bersama-sama.” Raja berkata, “Para Mulia, lakukanlah tugas kalian.” Semoga ada kerjasama antara kekuasaan kerajaan dan kekuasaan Dhamma. Sebutkanlah kebutuhan kalian dan aku akan menyediakannya.” Para bhikkhu berkata, “Kami memerlukan aula pertemuan untuk Saÿgha untuk melakukan tugas itu.” Raja menanyakan tempat yang mereka pilih, dan mereka menyebutkan di lereng Gunung Vebhàra di mana berdiri sebatang pohon sattapaõni (Alstonia scholaris).
« Last Edit: 22 August 2008, 01:30:03 AM by dilbert »
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Sidang Sangha (Konsili) I
« Reply #3 on: 22 August 2008, 01:25:04 AM »
Sebuah Paviliun Besar Sumbangan Raja Ajàtasattu

“Baiklah, Yang Mulia,” Raja Ajàtasattu berkata dan ia membangun sebuah paviliun besar untuk sidang tersebut semegah paviliun yang pernah dibangun oleh Visukamma, dewa arsitek. Terdiri dari beberapa ruangan untuk melakukan berbagai pekerjaan dalam sidang tersebut, masing-masing memiliki tangga dan koridor, semua dinding dan tiang dihiasi dengan lukisan yang artistik. Keseluruhan paviliun itu melampaui kemegahan istana kerajaan dan keindahannya mengalahkan istana dewa. Tampak seperti istana megah yang menarik perhatian mereka yang melihatnya, baik dewa maupun manusia, bagaikan tepi sungai yang menyenangkan menarik perhatian segala jenis burung. Sesungguhnya, paviliun itu memiliki kesan seperti sebuah objek kegembiraan yang setara dengan gabungan seluruh hal-hal yang menggembirakan.

Aula dewan memiliki kanopi yang berhiaskan permata. Kuntum-kuntum bunga berbagai ukuran, bentuk, dan warna tergantung dari kanopi itu. Di lantainya bertebaran permata-permata yang terlihat bagaikan lantai yang terbuat dari batu delima utuh. Di atasnya terhampar karangan-karangan bunga berbagai warna yang membentuk karpet yang menghiasi istana brahmà. Lima ratus tempat duduk untuk lima ratus bhikkhu pembaca dibuat dari bahan-bahan yang tidak ternilai, namun dibuat sedemikian sehingga layak untuk dipakai oleh para bhikkhu. Singgasana, yaitu, mimbar yang tinggi, untuk bhikkhu senior yang bertugas mengajukan pertanyaan memiliki sandaran punggung yang disandarkan pada dinding sebelah selatan, menghadap ke utara. Di tengah-tengah terdapat sebuah singgasana atau mimbar untuk bhikkhu yang bertugas menjawab pertanyaan-pertanyaan, menghadap ke timur, yang cocok untuk digunakan oleh Buddha. Di atasnya diletakkan sebuah kipas bundar upacara yang terbuat dari gading. Setelah membuat semua persiapan secara saksama, raja memberitahukan kepada Saÿgha bahwa semuanya telah siap.

Hari itu adalah hari keempat bulan tua di bulan Savana (Juli-Agustus). Pada hari itu beberapa bhikkhu berkata kepada temannya, “Dalam kelompok para bhikkhu, ada satu yang masih memiliki kotoran” yang merupakan sindiran terhadap Yang Mulia ânanda. Ketika kata-kata ini sampai di telinga Yang Mulia ânanda, ia menyadari bahwa bukan orang lain melainkan dirinya sendirilah yang menyebarkan bau kotoran itu. Ia membangkitkan saÿvega dari kata-kata itu. Bhikkhu lainnya berkata kepadanya, “Teman ânanda, sidang akan dimulai besok. Engkau masih harus mencapai tingkatan Jalan yang lebih tinggi. Tidaklah tepat jika engkau berpartisipasi dalam sidang sebagai seorang sekkha (Seorang Ariya yang masih berlatih untuk mencapai Kearahattaan). Kami ingin agar engkau berusaha dengan penuh perhatian agar dapat mencapai Kearahattaan pada waktunya.”

Kearahattaan di Luar Empat Postur
Kemudian Yang Mulia ânanda berpikir, “Besok, sidang akan dimulai. Tidaklah tepat jika aku berpartisipasi dalam sidang sebagai seorang sekkha (hanya seorang Sotàpanna).” Ia bermeditasi dengan objek badan jasmani sepanjang malam. Saat menjelang pagi, ia berpikir untuk beristirahat sejenak. Ia kembali ke vihàra, dengan penuh perhatian ia berbaring di atas selimut. Saat kedua kakinya naik dari lantai dan kepalanya belum menyentuh bantal, ia seketika mencapai Kearahattaan, bukan dalam satu dari empat postur.

Penjelasan lebih lanjut: Yang Mulia ânanda telah bermeditasi berjalan mondar-mandir di luar vihàra. Magga-Phala (tiga tingkat yang lebih tinggi) masih belum tercapai. Kemudian ia teringat kata-kata Buddha saat menjelang meninggal dunia: ”ânanda, engkau telah melakukan banyak kebajikan. Bermeditasilah dengan tekun. Engkau akan segera mencapai Kearahattaan.” Ia tahu bahwa kata-kata Buddha tidak pernah keliru. Ia meninjau kembali latihannya “Aku telah terlalu keras berusaha; ini membuat pikiranku kacau. Aku harus berusaha menyeimbangkan usaha dan konsentrasi.” Dengan merenungkan demikian, ia mencuci kakinya dan masuk ke dalam ruang meditasinya, berniat untuk beristirahat sejenak. Dengan penuh perhatian, ia berbaring di atas selimut. Saat kedua kakinya naik dari lantai dan kepalanya belum menyentuh bantal, dalam waktu yang sangat singkat itu, ia mencapai Arahatta-Phala, menyucikan semua noda moral.

Karena itu jika seseorang mengajukan pertanyaan, “Bhikkhu siapakah dalam Dhamma ini yang mencapai Kearahattaan di luar dari empat postur tubuh?” Jawabannya adalah “Yang Mulia ânanda.”

ânanda Dipuji Oleh Mahà Kassapa
Hari itu adalah hari kelima bulan tua di bulan Savana (Juli-Agustus), sehari setelah Yang Mulia ânanda mencapai Kearahattaan. Setelah selesai makan, para pembaca terpilih dalam sidang itu menyimpan mangkuk dan perlengkapan lainnya dan berkumpul di paviliun besar untuk memulai tugas mereka. (Sesuai tradisi di India, periode yang dimulai sejak hari purnama di bulan âsaëha (Juni-Juli) hingga hari purnama di bulan Sayaria dihitung satu bulan. Selama periode satu bulan itu, Saÿgha melakukan pekerjaan perbaikan dan pemeliharaan vihàra. Pada hari pertama bulan tua di bulan Savana mereka memohon kepada Raja Ajàtasattu untuk dibangunkan sebuah paviliun. Pembangunan itu membutuhkan waktu tiga hari. Pada hari keempat Yang Mulia ânanda mencapai Kearahattaan. Pada hari kelima kegiatan sidang dimulai.)

Pada kesempatan itu Yang Mulia ânanda menghadiri sidang sebagai seorang Arahanta.

Ia memasuki paviliun itu saat semua yang lainnya telah hadir. Mengenakan jubahnya dengan cara yang diharuskan bagi para bhikkhu yang akan menghadiri suatu pertemuan (atau pergi ke desa), ia melangkah masuk ke ruang sidang dengan wajah bersinar bagaikan buah kelapa segar yang baru dipetik, atau bagaikan sebutir batu delima yang diletakkan di atas sehelai kain putih, atau bagaikan bulan purnama di langit yang bersih, atau bagaikan bunga teratai paduma yang mekar karena menerina sinar matahari pagi. Terlihat memancarkan kesucian Arahatta. Kemegahannya mengungkapkan Kearahattaannya.
(“Mengapa ânanda memasuki ruangan seolah-olah mengungkapkan Kearahattaannya?” “Seorang Arahanta tidak mengungkapkan pencapaian Arahatta-Phala dalam kata-kata tetapi membiarkan fakta itu diketahui oleh orang lain, dan hal ini dipuji oleh Buddha,” demikianlah renungan Yang Mulia ânanda. Ia menyadari bahwa Dewan itu mengizinkannya berpartisipasi dalam sidang karena pengetahuannya, meskipun ia masih seorang sekkha. Dan sekarang ia telah mencapai Kearahattaan, para bhikkhu lain akan gembira mengetahui fakta itu. Lebih jauh lagi, ia ingin membuktikan kepada semua orang tentang sabda terakhir Buddha, ‘Berusahalah dengan tekun untuk mencapai tujuan yang engkau tetapkan’, terbukti benar.)
« Last Edit: 22 August 2008, 01:30:43 AM by dilbert »
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Sidang Sangha (Konsili) I
« Reply #4 on: 22 August 2008, 01:26:02 AM »
Melihat Yang Mulia ânanda, Mahà Kassapa berpikir, “Ah, ânanda sebagai seorang Arahanta terlihat begitu agung. Jika Bhagavà masih hidup, ia pasti akan bersorak untuk ânanda hari ini. Sekarang aku harus mengucapkan kata-kata pujian mewakili Bhagavà.” Kemudian ia berkata, “Teman ânanda, keagunganmu menunjukkan bahwa engkau telah memenangkan Arahatta-Phala, dan seterusnya,” ia mengucapkan kata-kata itu tiga kali dengan suara keras.

Memulai Sidang
Dengan kedatangan Yang Mulia ânanda, Dewan itu menjadi lengkap dengan lima ratus pembaca terpilih. Yang Mulia Mahà Kassapa bertanya kepada Dewan bagian mana yang akan dimulai lebih dulu, apakah Dhamma, Suttanta, dan Abhidhammà yang harus dibacakan terlebih dahulu, atau Disiplin, Vinaya, yang harus dibacakan terlebih dahulu. Saÿgha sepakat mengusulkan, “Yang Mulia Mahà Kassapa, Vinaya adalah sumber kehidupan ajaran Buddha. Karena jika Vinaya bertahan lama maka ajaran Buddha juga bertahan lama. Karena itu marilah kita memulai pembacaan kita dengan membacakan Vinaya.” Yang Mulia Mahà Kassapa kemudian bertanya, “Siapakah yang akan menjadi bhikkhu pemimpin dalam membacakan Vinaya?” “Kami akan memilih Yang Mulia Upàli sebagai bhikkhu pemimpin.” “Apakah Yang Mulia ânanda tidak mampu melakukannya?” “ânanda cukup mampu melakukannya. Tetapi, ketika Bhagavà masih hidup, Beliau menyatakan Yang Mulia Upàli sebagai yang terbaik di antara para siswa bhikkhu yang menguasai Vinaya. Karena itu, kami memilih Yang Mulia Upàli, kalau ia bersedia, menjadi bhikkhu pemimpin dalam membacakan Vinaya.”

Yang Mulia Mahà Kassapa adalah bhikkhu ketua dalam sidang pertama. Ia juga bertanggung jawab dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Yang Mulia Upàli bertanggung jawab dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan Vinaya. Dua bhikkhu mulia tersebut duduk di tempat yang telah dipersiapkan untuk mereka dan melaksanakan tugas mereka. Tiap-tiap peraturan dari Vinaya diajukan sebagai suatu pertanyaan yang terdiri dari topik, kisah yang melatarbelakangi, orang yang menyebabkan Buddha menetapkan peraturan itu, peraturan asli, amandemen (jika ada), apakah pelanggaran terhadap peraturan itu memerlukan penebusan atau tidak; dan setiap pertanyaan dijawab secara lengkap sesuai urutan demikian. sidang itu kemudian mencatatnya dengan cara membacakannya bersama-sama, menyebutkan dengan ungkapan-ungkapan resmi seperti: ‘Pada saat itu’, ‘Selanjutnya’, ‘Kemudian’, ‘Dikatakan’ untuk merangkum berbagai hal. Para pembaca sepakat, “Pada saat itu Bhagavà sedang berdiam di Vera¤ja, dan seterusnya.” (Pembacaan sabda-sabda Buddha oleh Saÿgha dalam pertemuan khusus disebut mengadakan sidang, Saÿgàyanà.)

Ketika pembacaan Pàràjika Pertama selesai, bumi ini berguncang hingga ke bawah batas permukaan air, seolah-olah menyoraki peristiwa bersejarah itu.
Tiga peraturan Pàràjika berikutnya dibacakan dengan cara yang sama, demikian pula dengan dua ratus dua puluh tujuh peraturan lainnya, masing-masing diajukan sebagai sebuah pertanyaan dan diikuti oleh jawabannya. Keseluruhan kitab itu disebut Pàràjikakaõóa Pàëi, dan juga dikenal sebagai Bhikkhu Vibhaõga, yang lebih terkenal dengan sebutan “Mahàvibhaïga.” Yang ditetapkan sebagai kitab resmi yang sejak saat itu diajarkan (di vihàra-vihàra) dari generasi ke generasi. Pada akhir pembacaan Mahàvibhaïga itu, bumi ini juga berguncang keras seperti sebelumnya.

Kemudian menyusul tiga ratus empat peraturan Bhikkhunã Vibhaïga, dibacakan dalam bentuk pertanyaan dan jawaban seperti sebelumnya. Bhikkhunã Vibhaïga ini dan Mahàvibhaïga bersama-sama dikenal sebagai ‘Ubhato Vibhaïga dari enam puluh empat pembacaan atau bhàõavàra.’ Yang ditetapkan sebagai kitab resmi yang sejak saat itu diajarkan dari generasi ke generasi. Pada akhir pembacaan Ubhato Vibhaïga itu, bumi ini juga berguncang keras seperti sebelumnya.
« Last Edit: 22 August 2008, 01:31:06 AM by dilbert »
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Sidang Sangha (Konsili) I
« Reply #5 on: 22 August 2008, 01:27:49 AM »
Upàli Bertanggung Jawab Dalam Vinaya Piñaka
Dewan yang terdiri dari lima ratus pembaca mempercayakan versi yang telah disetujui dari Vinaya Piñaka kepada Yang Mulia Upàli sebagai penanggung jawab, “Teman, ajarkanlah Vinaya Piñaka ini kepada para siswa yang datang untuk memohon instruksi darimu.” Ketika pembacaan Vinaya Piñaka selesai, Yang Mulia Upàli, yang telah menyelesaikan tugasnya, meletakkan kipas bundar gading itu di atas mimbar, kemudian turun dari mimbar tersebut, memberi hormat kepada para bhikkhu senior, dan duduk di tempat duduknya.

Setelah pembacaan Vinaya, Dhamma (yaitu, Suttanta dan Abhidhammà) juga dibacakan. Maka Yang Mulia Mahà Kassapa bertanya kepada dewan pembaca, “Bhikkhu siapakah yang akan memimpin pembacaan Dhamma?” Dewan itu sepakat menyebutkan Yang Mulia ânanda untuk posisi tersebut.
Kemudian Yang Mulia Mahà Kassapa menunjuk dirinya sendiri sebagai penanya, dan Yang Mulia ânanda sebagai penjawab. Bangkit dari duduknya, membetulkan jubah, dan bersujud kepada para bhikkhu, Yang Mulia ânanda memegang kipas bundar gading dan duduk di atas mimbar. Kemudian rencana pembacaan Dhamma didiskusikan oleh Yang Mulia Mahà Kassapa dan para Thera yang berparitisipasi:

Kassapa, “Teman-teman, ada dua bagian Dhamma, Suttanta Piñaka dan Abhidhammà Piñaka, yang mana lebih dulu?”

Para Thera, “Yang Mulia, marilah kita mulai dengan Suttanta Piñaka.” (Vinaya berhubungan dengan Moralitas Tinggi (Adhi-Sãla); Suttanta membahas Kesadaran Tinggi (Adhi-Citta), yaitu konsentrasi; dan Abhidhammà membahas Kebijaksanaan Tinggi (Adhi-Pa¤¤à). Oleh karena itu, Dewan membacakan Tiga Latihan, Moralitas, Konsentrasi, dan Kebijaksanaan sesuai urutannya.)

Kassapa, “Teman-teman, ada empat kumpulan (Nikàya) dari Sutta dalam Suttanta Piñaka; yang mana lebih dulu?”

Para Thera, “Yang Mulia, marilah kita mulai dengan yang panjang, Dãgha Nikàya.”

Kassapa, “Teman-teman, Dighà Nikàya terdiri dari tiga puluh empat khotbah (Sutta) dalam tiga bagian (Vagga), yang mana lebih dulu?”

Para Thera, “Yang Mulia, marilah kita mulai dari Sãlakkhandha Vagga.”

Kassapa, “Teman-teman, Sãlakkhandha Vagga terdiri dari tiga belas khotbah; yang mana lebih dulu?”

Para Thera, “Yang Mulia, Brahmajàla Sutta menggambarkan tiga tingkat moralitas; berguna untuk menghindari dari ucapan-ucapan yang tidak benar atau kemunafikan bagi para bhikkhu yang dapat mengganggu ajaran. Juga menjelaskan enam puluh dua jenis pandangan salah. Terjadi enam puluh dua kali gempa bumi saat dibabarkan oleh Bhagavà. Marilah kita mulai dengan Brahmajàla Sutta.”

Setelah sepakat dengan rencana tersebut, Yang Mulia Mahà Kassapa mengajukan pertanyaan tentang Brahmajàla Sutta kepada Yang Mulia ânanda sehubungan dengan kisah yang melatarbelakangi, orang-orang yang terlibat dalam khotbah tersebut, topik, dan lain-lain. Yang Mulia ânanda menjawab setiap pertanyaan dengan lengkap, dan selanjutnya, lima ratus pembaca itu bersama-sama membacakan Brahmajàla Sutta. Ketika pembacaan Sutta itu selesai, bumi ini berguncang keras seperti sebelumnya.

Kemudian diikuti dengan pertanyaan dan jawaban dan pembacaan bersama dua belas Sutta lainnya dari Sãlakkhandha Vagga.

Kemudian Mahà Vagga yang terdiri dari sepuluh Sutta menyusul, dan kemudian Pàthika Vagga yang terdiri dari sebelas Sutta, masing-masing dengan pertanyaan dan jawaban. Dengan demikian tiga puluh empat Sutta dalam tiga bagian (Vagga), yang pembacaannya berjumlah dua puluh empat, tercatat sebagai Sabda-Sabda Buddha dengan judul Dãgha Nikàya, Kumpulan Khotbah Panjang, kemudian mereka mempercayakan versi yang telah disetujui itu kepada Yang Mulia ânanda, “Teman ânanda, ajarkanlah Dãgha Nikàya ini kepada siswa yang datang untuk memohon instruksi darimu.”

Selanjutnya Dewan itu menyetujui Majjhima Nikàya, kumpulan Khotbah-Khotbah yang tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek, setelah proses tanya dan jawab, yang seluruhnya memerlukan waktu delapan puluh pembacaan. Kemudian mereka mempercayakan versi kitab yang telah disetujui itu kepada siswa-siswa Yang Mulia Sàriputta, dengan mengatakan, “Teman-teman, lestarikanlah Majjhima Nikàya ini dengan baik.”

Selanjutnya Dewan itu menyetujui Saÿyutta Nikàya, Kumpulan Khotbah-Khotbah yang Saling Berhubungan, setelah proses tanya dan jawab, yang seluruhnya memerlukan waktu seratus pembacaan. Kemudian mereka mempercayakan versi kitab yang telah disetujui itu kepada Yang Mulia Mahà Kassapa, dengan berkata, “Yang Mulia, ajarkanlah Saÿyutta Nikàya ini, Sabda-Sabda Bhagavà, kepada para siswa yang mendatangimu untuk memohon instruksi.”
Selanjutnya Dewan itu menyetujui Aïguttara Nikàya, kumpulan Khotbah-Khotbah Bertingkat, setelah proses tanya dan jawab, yang seluruhnya memerlukan waktu delapan puluh pembacaan. Kemudian mereka mempercayakan versi kitab yang telah disetujui itu kepada Yang Mulia Anuruddhà, dengan berkata, “Yang Mulia, ajarkanlah Aïguttara Nikàya ini, kepada para siswa yang mendatangimu untuk memohon instruksi.”

Kemudian Dewan menyetujui tujuh kitab Abhidhammà, yaitu, Dhammasaïgaõã, Vibhaïga, Dhàtukathà, Puggala Pa¤¤àtti, Kathàvatthu, Yamaka, dan Paññhàna, setelah melewati pertanyaan, jawaban, dan pembacaan. Pada akhir pembacaan kitab-kitab Abhidhammà ini, bumi ini berguncang keras seperti sebelumnya.

Kemudian Dewan membacakan: Jàtaka, Niddesa, Pañisambhidà Magga, Apadàna, Sutta Nipàta, Khuddakapàñha, Dhammapada, Udàna, Itivuttaka, Vimànavatthu, Petavatthu, Theragàtha, dan Therãgàthà, setelah melewati proses tanya-jawab. Tiga belas kitab ini secara keseluruhan disebut Khuddaka Nikàya, Kumpulan Khotbah-Khotbah Sejenis.

Menurut para bhikkhu yang telah menghafalkan Dãgha Nikàya, disebutkan bahwa, “Khuddaka Nikàya dibacakan dan disetujui bersama-sama dengan Abhidhammà Piñaka.” Tetapi menurut para bhikkhu yang telah menghafalkan Majjhima Nikàya, tiga belas kitab ini, bersama-sama dengan Buddhavaÿsa dan Cariyà Piñaka, sehingga seluruhnya berjumlah lima belas, disebut Khuddaka Nikàya dan dikelompokkan dalam Suttanta Piñaka, (Pernyataan ini berdasarkan pada Komentar Sãlakkhandha. Satu Bhàõavàra atau satu ‘pembacaan’ adalah lama waktu yang dibutuhkan untuk membacakan satu kitab, yang menurut perkiraan waktu modern, adalah kira-kira setengah jam. Nama para bhikkhu pemimpin, yaitu, Yang Mulia Mahà Kassapa, Yang Mulia Upàli, dan Yang Mulia ânanda, dan tugasnya masing-masing, tercatat dalam Vinaya Cåëàvagga Pa¤casatikkhandhaka.)

Demikianlah Yang Mulia ânanda adalah seorang bhikkhu penting dalam sidang Pertama, yang menjawab dengan terampil semua pertanyaan yang berhubungan dengan Dhamma yang terdiri dari Suttanta Piñaka dan Abhidhammà Piñaka.

(Ini adalah kisah dari peran penting yang dimainkan oleh Yang Mulia ânanda pada sidang Pertama.)
« Last Edit: 22 August 2008, 01:38:52 AM by dilbert »
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline marcedes

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.528
  • Reputasi: 70
  • Gender: Male
  • May All Being Happinesssssssss
Re: Sidang Sangha (Konsili) I
« Reply #6 on: 09 January 2009, 09:10:50 AM »
masa kitab kathavattu juga ada?.....copot dari mana itu?
Ada penderitaan,tetapi tidak ada yang menderita
Ada jalan tetapi tidak ada yang menempuhnya
Ada Nibbana tetapi tidak ada yang mencapainya.

TALK LESS DO MOREEEEEE !!!

Offline markosprawira

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.449
  • Reputasi: 155
Re: Sidang Sangha (Konsili) I
« Reply #7 on: 09 January 2009, 09:31:49 AM »
Kathavatthu merupakan bagian dari Abhidhamma Pitaka

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Sidang Sangha (Konsili) I
« Reply #8 on: 09 January 2009, 09:42:56 AM »
masa kitab kathavattu juga ada?.....copot dari mana itu?

Tulisan di atas, di comot dari buku Buddhavamsa (Riwayat Agung Para Buddha) halaman 2726 s/d 2743... dan isinya menyatakan bahwa Abhidhamma sendiri sudah lengkap dibabarkan pada konsili Sangha I...

Pertanyaannya adalah : Manakah referensi yang kredibel, mengingat ada perbedaan perbedaan tentang pembabaran Abhidhamma dari beberapa sumber... Seperti ada referensi yang menyatakan bahwa Abhidhamma baru dibabarkan pada konsili ke-3, Ada yang menyatakan bahwa Abhidhamma baru dibabarkan pada konsili ke-2 (minus katthavathu yang dibabarkan pada konsili ke-3).

Karena di dalam Buddhavamsa (Riwayat Agung Para Buddha) terjemahan bahasa indonesia yang versi e-book dan hard copy-nya sudah beredar itu di halaman 2742 jelas jelas menyatakan bahwa buddhavamsa sendiri dibabarkan pada konsili ke-1 dan dimasukkan di dalam khuddaka nikaya.

Apakah buddhavamsa (RAPB) yang terjemahan bahasa indonesia (versi mingun sayadaw) itu beda dengan buddhavamsa di dalam Tipitaka ?
« Last Edit: 09 January 2009, 09:56:23 AM by dilbert »
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline Sunkmanitu Tanka Ob'waci

  • Sebelumnya: Karuna, Wolverine, gachapin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.807
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
  • 会いたい。
Re: Sidang Sangha (Konsili) I
« Reply #9 on: 09 January 2009, 09:50:00 AM »
Kathavatthu... kitab yang dimasukkan ke Abhidhamma pada konsili ke III oleh Mogaliputta Tissa, isinya menyanggah pandangan-pandangan dari berbagai aliran yang ada pada jaman itu. Ada bagian-bagian yang sangat bertentangan dengan Mahayana...

Dulu saya pernah posting beberapa, salah satunya Bodhisatta tidak bisa masuk neraka untuk menolong orang.

Tapi favorit saya dari Kathavatthu adalah kencing dan tai Sang Buddha tidak bau cendana.
« Last Edit: 09 January 2009, 09:53:11 AM by Wolverine »
HANYA MENERIMA UCAPAN TERIMA KASIH DALAM BENTUK GRP
Fake friends are like shadows never around on your darkest days

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Sidang Sangha (Konsili) I
« Reply #10 on: 09 January 2009, 09:55:00 AM »
Kathavatthu... kitab yang dimasukkan ke Abhidhamma pada konsili ke III oleh Mogaliputta Tissa, isinya menyanggah pandangan-pandangan dari berbagai aliran yang ada pada jaman itu. Ada bagian-bagian yang sangat bertentangan dengan Mahayana...

Dulu saya pernah posting beberapa, salah satunya Bodhisatta tidak bisa masuk neraka untuk menolong orang.

Tapi favorit saya dari Kathavatthu adalah kencing dan tai Sang Buddha tidak bau cendana.

Lha memang kalau di Theravada, Bodhisatta itu memang bukan makhluk super yang bisa masuk neraka nolong orang... ... Diterima.... hehehehehe...
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.750
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Sidang Sangha (Konsili) I
« Reply #11 on: 09 January 2009, 12:20:12 PM »
membaca cerita di atas, sepertinya jelas sekali terlihat....
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Sidang Sangha (Konsili) I
« Reply #12 on: 09 January 2009, 05:00:15 PM »
membaca cerita di atas, sepertinya jelas sekali terlihat....


terlihat apa bro morpheus ?... Jangan malu malu...
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline ika_polim

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 323
  • Reputasi: -16
Re: Sidang Sangha (Konsili) I
« Reply #13 on: 12 January 2009, 02:40:54 PM »
dari semua tulisan bro Dilbert diatas, adakah kesan bahwa semua yang diundang pada Konsili itu , merupakan "org2" yang akan setuju saja?

ika.

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Sidang Sangha (Konsili) I
« Reply #14 on: 12 January 2009, 03:31:27 PM »
dari semua tulisan bro Dilbert diatas, adakah kesan bahwa semua yang diundang pada Konsili itu , merupakan "org2" yang akan setuju saja?

ika.

kurang tahu ya... tetapi dari cerita-nya kan yang "diundang" adalah 500 arahat. Apakah memang benar ada konsensus untuk "SETUJU" aja atau memang kondisi bathin 500 arahat itu pada dasarnya sama... who knows ?

Ada masalah dengan hal ini pak ika ? mohon ditanyakan saja, jangan malu malu...
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan