Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: [Historical-Criticism] Ikhtisar Penanggalan Injil Markus  (Read 16628 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.847
  • Reputasi: 268
[Historical-Criticism] Ikhtisar Penanggalan Injil Markus
« on: 18 January 2019, 04:10:56 PM »
Sesuai tagnya, pembahasan ini menggunakan sudut pandang historis, bukan teologis atau tradisi. Historical-criticism adalah pendekatan sekuler yang juga digunakan dalam studi Early Buddhist Texts, di mana semua teks diperlakukan secara netral, non-sektarian, sebagai dokumen sejarah. Post ini bertujuan untuk memberi gambaran sekilas mengenai proses penentuan tanggal (dating) suatu teks kuno.


I. Tradisi

Injil Markus yang merupakan Injil ke 2 dari Kanon Perjanjian Baru, ditulis dalam bahasa Yunani dialek umum (Koine Greek, dari "ἡ κοινὴ διάλεκτος"). Seperti 3 Injil lainnya, Injil ini juga bersifat anonim (penulis tidak memberi informasi mengenai siapa dirinya) dan penyematan "Markus" merupakan Tradisi: dijelaskan oleh Papias dari Hierapolis bahwa Injil ini adalah ditulis oleh Markus, penerjemah dari Petrus. Kutipan Papias (c. 130 CE) ini sekaligus juga menjadi petunjuk batas atas tahun penulisan Injil Markus tidak lebih telat dari 130 CE. Tradisi ini juga kemudian diteruskan misalnya oleh Irenaeus dalam Adversus Haereses bahwa Markus, murid dan penerjemah Petrus sendiri yang mewarisi ajaran Petrus lewat Injil tersebut.

Secara tradisi, mayoritas Patristik (Bapak Gereja) seperti Clement dari Alexandria, Origen, Eusebius, Tertullian, Jerome berpendapat bahwa Injil Markus ini ditulis pada masa Petrus masih hidup. Papias juga berpendapat sama, namun berpendapat bahwa Petrus tidak terlibat langsung dalam penulisannya dan Markus hanya mengandalkan ingatannya. Hanya Irenaeus yang berpendapat bahwa penulisan terjadi setelah Petrus meninggal. Mayoritas Patristik memberikan tahun 38-43 CE.


II. Radiocarbon-dating & Palaeography

Radiocarbon-dating adalah metode penanggalan untuk benda-benda organik yang berdasarkan isotop radioaktif Karbon 14. Secara prinsipnya, semua makhluk hidup mengalami pertukaran atom karbon dengan lingkungan—apakah melalui respirasi ataupun makanan, sehingga proporsi antara atom karbon 12 (non-radioaktif)/karbon 14 (radioaktif) adalah sama dengan lingkungan. Namun ketika makhluk tersebut meninggal, proses tersebut berhenti. Karena Karbon 14 tidak stabil, maka dengan berlalunya waktu akan berubah menjadi Nitrogen 14. Tingkat perubahan Karbon 14 ini adalah konstan, dengan half-life (waktu yang dibutuhkan untuk peluruhan separuh jumlah atomnya) adalah sekitar 5,730 tahun. Perhitungan ini menghasilkan tingkat keyakinan dalam rentang ± 50 tahun {misalkan hasil perhitungannya adalah 100 CE, berarti dalam rentang (100-50) sampai (100+50)}.

Palaeography adalah studi mengenai bentuk tulisan kuno untuk membaca, memecahkan sandi, juga menentukan tanggal dari manuskrip kuno. Tulisan tangan mengalami perubahan bentuk dari waktu ke waktu. Dengan mempelajari tulisan tangan dengan penanggalan yang telah diketahui sebelumnya, perubahannya, maka dapat dibandingkan dengan manuskrip yang belum diketahui penanggalannya. Namun karena kebanyakan orang tidak mengubah kebiasaannya menulis, maka mungkin saja penulis tua dan muda menulis di waktu sama, namun memberikan gaya penulisan yang secara analisis berbeda waktu, maka tingkat keyakinan ini adalah 1 generasi atau sekitar ± 25-35 tahun.

Kedua metode ini dapat dilakukan untuk mendapatkan hasil independen. Mayoritas hasil dari kedua metode yang dilakukan oleh para ahli profesional adalah sesuai. Namun karena Carbon-dating memerlukan sebagian kecil dari manuskrip untuk diambil (dan dibakar), maka kebanyakan naskah-naskah kuno ini sudah tidak diperbolehkan untuk diuji demikian.

Manuskrip tertua yang memuat salinan Injil Markus adalah P45 dari kumpulan Chester Beatty Papyri, yang dibeli oleh seorang insinyur pertambangan bernama Alfred Chester Beatty pada tahun 1930 di Mesir. P45 (berarti manuskrip dari bahan papirus; 45 adalah urutan penemuannya) memuat Injil Markus pasal 4-9; 11-12 dan penanggalannya sekitar 250 CE.


III. Bahasa

Mengenai penggunaan bahasa, Catholic Encyclopedia menuliskan bahwa Injil Markus
Quote
“memiliki 1,330 kata unik (60 di antaranya nama). Delapan puluh, tidak termasuk nama, tidak terdapat di tempat lain di Perjanjian Baru; namun ini adalah jumlah kecil dibandingkan dengan lebih dari 250 kata-kata unik dari Injil Lukas. Kata-kata yang ditemukan hanya sekali di PB (apax legomena) sedikit, namun seringkali luar biasa, langka di bahasa Yunani belakangan (eiten, paidiothen, dengan istilah sehari-hari seperti kenturion, xestes, spekoulator), dan dengan transliterasi seperti korban, taleitha koum, ephphatha, rabbounei (cf. Swete, op. cit., p. xlvii). Dari kata-kata khas Markus, sekitar seperempat non-klasik, sementara di Matius atau Lukas, proporsinya hanya sekitar sepertujuh (cf. Hawkins, "Hor. Synopt.", 171). Secara keseluruhan, perbendaharaan kata-kata dari Markus menunjukkan bahwa penulis sebagai orang asing yang mengenal baik bahasa Yunani sehari-hari, namun lumayan asing dengan penggunaan bahasa literal.”


Khas lain dari Injil Markus adalah Latinism (pengaruh bahasa Latin ke dalam Yunani) yang cukup signifikan. Robert Gundry (Mark: A Commentary on His Apology for the Cross, pp 1043-1044) memberi perincian kata individual:
Quote
“... (μόδιον = modius [4:21]; χόρτος = herba in the sense of a blade of grass [4:28]; λεγιών = legio [5:9, 15]; αἰτία = causa [5:33 v.1.]; σπεκουλάτωρ = speculator [6:27]; δηνάριον = denarius [6:37]; ξέστης = sextarius [7:4]; κη̂νσος = census [12:14]; κοδράντης = quadrans [12:42]; φραγελλόω = fragello [15:15]; πραιτώριον = praetorium [15:16]; κεντυρίων = centurio [15:39, 44, 45]), turns of phrase (ο̒δὸν ποιει̂ν = iter facere [2:23]; Ἡρῳδιανοί = Herodiani, like praetoriani [3:6; 12:13]; συμβούλιον ἐδίδουν = consilium dederunt [3:6]; ο̒́ ἐστιν = hoc est [3:17; 7:11, 34; 12:42; 15:16, 42]; ἐσχάτως ἔχει = in extremis esse [5:23]; εἰ̂πεν δοθη̂ναι αὐτῃ̂ φαγει̂ν = similar to duci eum iussit [5:43]; πυγμῃ̂ = pugnus [? — 7:3]; ἐκράτησεν = [memoria] tenere [? — 9:10]; κατακρινου̂σιν αὐτὸν θανάτω = capite damnare [? — 10:33]; ει̂χον... ο̒́τι = habere [11:32]; ρ̒απίσμασιν αὐτὸν ἔλαβον = verberibus eum acceperunt [14:65]; συμβούλιον ποιήσαντες = consilium capere [15:1]; τὸ ι̒κανὸν ποιη̂σαι = satisfacere [15:15]; τίθεντες τὰ γόνατα = genua ponentes [15:19]) ...”

Kata-kata ini berkenaan dengan militer, yudisial, dan ekonomi, yang memang menyebar-luas seiring Roma mengembangkan pengaruhnya, dan memang muncul pada literatur Aramaic dan Ibrani belakangan. Karakteristik ini mengarahkan pada hipotesis bawa Injil Markus ditulis di Roma, Syria, atau Galilea.

Bas van Iersel (Mark: A Reader-Response Commentary) mengemukakan dua Latinism lainnya yaitu sintaksis/penyusunan kalimat yang berbeda di bahasa Yunani di mana akusatif/datif umumnya mengikuti kata kerjanya, dan sebaliknya berlaku di Latin. Urutan Latin ini terjadi 37 kali dalam Injil Markus, kontras dibandingkan dengan Matius/Lukas yang hanya terjadi dua kali saja. Hal lainnya adalah penggunaan kata “ἵνα” seperti “ut” dalam kalimat Latin yang mengikuti kata kerja meminta, mengajak, berbicara, atau memerintah. Terjadi 31 kali dalam Injil Markus, hanya dipertahankan 8 kali dalam Matius, dan 4 kali dalam Lukas. (Sesuai hipotesis yang diterima mayoritas, sebagai sumbernya Matius & Lukas menggunakan Markus, Q [sumber hipotesis lain di mana materi tidak ada di Markus namun ada di Matius & Lukas], serta sumber unik M & L yang tidak ditemukan di injil lainnya.)  Gaya penulisan ini yang menunjukkan kecenderungan penulis menulis di Roma, bukan tempat lainnya, juga kepada audiens non-Yahudi (dilihat dari penjelasan kata-kata Aramaic).


IV. Deskripsi Kondisi Sosial-Politik

Deskripsi dalam pasal 13 merupakan salah satu faktor utama dalam menentukan penanggalan. Pasal ini mengisahkan ramalan mengenai kemegahan dan hancurnya Bait Allah. Seperti tulisan dengan genre serupa mengenai “ramalan masa depan” dengan berbagai detail yang akan terjadi, yang sebenarnya merupakan tulisan yang ditulis setelah kejadian (ex eventu) namun ditempatkan ke masa sebelumnya, sehingga menjadi ramalan yang terjadi. Penghancuran Bait Allah di Yerusalem terjadi pada tahun 70 CE ketika terjadi perang (besar) pertama antara Yahudi dengan Roma tahun 66-73 CE. Ayat 14 menyebutkan tentang “desolating sacrilege” (Yun: τὸ βδέλυγμα τῆς ἐρημώσεως; Ibr: הַשִּׁקּוּץ מְשׁוֹמֵֽם‬) yang mengutip kitab Daniel 9:27; 11:31; 12:11, yang maksudnya adalah penodaan terhadap hal yang suci. Penghancuran Bait Allah ini diikuti dengan penjarahan isi Bait Allah. Beberapa pendapat mengemukakan hal ini merujuk pada kejadian yang lebih awal: perintah Caligula untuk membangun patung dirinya di Bait Allah pada tahun 40 CE. Namun dugaan ini kurang kuat karena Caligula dibunuh duluan sebelum perintahnya dijalankan, juga tidak berhubungan dengan penghancuran Bait Allah itu sendiri. Deskripsi lain yang sesuai adalah mengenai kelaparan yang parah (ayat 8 ) ketika terjadi pengepungan dan banyak warga yang lari ke pegunungan (ayat 14). Persekusi dan pembunuhan karena mengikuti Yesus (ayat 12-13) kemungkinan menggambarkan penindasan Nero (64-68 CE). Berdasarkan pengetahuan penulis Injil Markus mengenai hal ini, maka diperkirakan penulisannya tidak lebih awal dari masa hancur atau menjelang hancurnya Bait Allah, 68-70 CE.

Posisi kaum Farisi dalam Injil Markus juga digambarkan sebagai pihak yang berpengaruh dan mayoritas adalah anakronistik, sementara menurut sumber-sumber lain pada masa sebelum hancurnya Bait Allah, kekuatan politik kaum Yahudi didominasi oleh Saduki yang bertanggungjawab atas operasional Bait Allah, mendukung pemerintahan Romawi dan terbuka akan pengaruh Hellenistik. Setelah hancurnya Bait Allah ini, kaum Saduki hilang tidak terdengar lagi, dan kemudian urusan adminstrasi tradisi Yahudi (bukan pemerintahan) diberikan ke kaum Farisi yang kemudian berkembang dan berpengaruh. Hal lain seperti posisi Yesus bahwa "makanan kosher/treif tidak menyucikan/mengotori, namun ucapan seseorang" (7:1-23), menggambarkan posisi doktrin sekte Kr1sten non-Yahudi (Gentile) yang dipimpin oleh Rasul Paulus yang berseberangan dengan penganut tradisi yang dipimpin Rasul Petrus. Hal ini menjadi topik perdebatan dalam Konsili Yerusalem sekitar 50 CE, yang adalah tidak mungkin terjadi jika Injil Markus telah ditulis dan menggambarkan sangat jelas posisi Yesus.


V. Rangkuman & Kesimpulan

  • Secara tradisi gereja, mayoritas menganggap Injil Markus ini ditulis pada saat Petrus masih hidup, oleh sekretaris dan penerjemahnya yang bernama Yohanes Markus pada tahun 38-43 CE.
  • Manuskrip tertua yang ditemukan adalah P45 dengan perkiraan tahun 250 CE
  • Latinism dalam gaya penulisannya, walaupun tidak definitif, cenderung pada penanggalan belakangan di atas 50 CE; ditulis di Roma, dan untuk audiens non-Yahudi
  • Pasal 13 (yang disebut juga “Little Apocalypse”) menggambarkan situasi menjelang penghancuran Bait Allah sekitar 68-70 CE
  • Kisah-kisah Anakronistik lebih menggambarkan penulisan pasca 50 CE ketimbang situasi masa Yesus (20-30 CE)

Berdasarkan analisis di atas, maka mayoritas sejarawan menyimpulkan tahun penulisan Injil Markus sekitar 65-70 CE, berbeda dengan tradisi yang menempatkannya 3 dekade lebih awal. Demikian secara sekilas penanggalan Injil Markus. Silahkan ditanggapi, dilengkapi, dikoreksi, dan dibantah, namun sesuai koridor historis.
Tidak melayani argumen berbasis otoritas tradisi, bersifat teologis, atau hermeneutikal; apalagi debat kusir. Di sini wilayah netral, promosi atau menjelekkan agama apapun adalah terlarang.