Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Catusparisat Sutra  (Read 12805 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.185
  • Reputasi: 61
  • Gender: Male
Catusparisat Sutra
« on: 15 August 2018, 06:58:06 PM »
Khotbah Mengenai Perkumpulan Rangkap Empat
Catuṣparisat Sūtra
The Discourse on the Fourfold Assembly


Keterangan Teks :
Sumber sansekerta:

Based on the edition by Waldschmidt, Ernst, 1952, 1956, 1960. Das Catuṣpariṣatsūtra, eine Kanonische Lehrschrift über die Begründung der Buddhistischen Gemeinde. Text in Sanskrit und Tibetisch, verglichen mit dem Pali nebst einer Übersetzung der chinesischen Entsprechung im Vinaya der Mūlasarvāstivādins. Auf Grund von Turfan-Handschriten herausgegeben und bearbeitet. Teil i–iii. Berlin 1962 (Abhandlungen der Deutschen Akademie der Wissenschaften zu Berlin, Klasse für Sprachen, Literatur und Kunst, 1960/1), pp. 432–457 (revidierter Text).
Catuṣpariṣat SF 259 Waldschmidt 1957d: 108–140

Sumber bahasa Inggris:
Terjemahan bahasa Inggris oleh Bhiksu Sujato. Diterbitkan di situs suttacentral. https://suttacentral.net/sf259/en/sujato

Terjemahan
Terjemahan dari bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia oleh Prajnadeva, dengan sesekali membandingkan dengan teks sansekerta.

Ringkasan
Petapa Gautama mencapai pencerahan dan menerima dana makanan pertama dari dua pedagang. Kemudian dewa Brahma datang memohon agar Buddha mengajarkan dharma yang ditemukanNya. Buddha pergi dari hutan Uruvela ke Benares untuk mengajarkan Dharma pada lima petapa yang semuanya mencapai tingkat arahat. Berikutnya Buddha mengajar pemuda Yasa dan teman-temannya sampai akhirnya ada 60 orang arahat di dunia. Kisah ditutup dengan instruksi untuk pergi berpencar menyebarkan Dharma, sementara Buddha pergi ke Uruvela

Perkenalan

Catuṣpariṣat Sūtra adalah sebuah teks kanonik mengenai pembentukan Perkumpulan Buddhis. Teks asli dalam bahasa sansekerta dan tibet, dibandingkan dengan teks pali dan terjemahan padanan chinese di dalam vinaya Mūlasarvāstivādin.

Teks ini menceritakan kisah yang sudah lama dikenal dalam legenda buddhis mengenai pencerahan Sang Buddha dan pembentukan Sangha. Kisah serupa dalam versi lain yang mirip dan bahkan hampir identik di beberapa bagian dapat ditemukan dalam Theravada Vinaya Khandaka Mahavagga, Lalitavistara Sutra, Mahavastu, Jataka- Nidanakatha, Ariyapariyesana Sutta, dan banyak lagi.

Apa yang membuat teks ini istimewa kalau cerita yang disajikan sudah lama kita kenal? Keistimewaan pertama adalah, teks ini termasuk ke dalam ‘teks buddhis awal’.

Dewasa ini ketika Ajaran Guru Buddha terpecah-pecah menjadi banyak sekte dan tradisi, ada orang yang kebingungan mengenai manakah dharma yang asli yang benar berasal dari Sang Buddha sendiri. Tentu saja semua sekte mengklaim bahwa dirinyalah yang mewarisi dharma sejati. Dilatarbelakangi hal ini, ada usaha dari sebagian orang memakai metode analisis sejarah dan pengelompokan teks untuk mencari dharma sejati.

Dengan asumsi bahwa Dharma yang diajarkan Buddha tentunya akan ditulis paling awal, dan penambahan-penambahan belakangan oleh murid-murid atau generasi berikutnya akan ditulis belakangan, sejarawan mencoba mencari teks mana yang muncul paling awal. Hal ini tidak terlalu sulit, karena semua sekte buddhis mengakui dan menyimpan sekelompok teks yang sama, yang sekarang disebut “teks buddhis awal”. Yaitu empat nikaya dalam tradisi pali, yang mempunyai padanan empat agama dalam kanon tiongkok, dan beberapa kumpulan dalam khuddaka nikaya pali yang juga mempunyai padanan dalam ksudraka agama kanon tiongkok.

Sehingga ‘teks buddhis awal’ biasanya mempunyai otoritas dan otentisitas yang lebih tinggi dibanding teks lain seperti teks abhidhamma atau teks komentar, karena diakui dan diterima oleh semua sekte sebagai kata-kata Buddha. Sebaliknya, teks abhidhamma, teks komentar, ataupun beberapa sutra Mahayana tidak diterima oleh semua buddhis sebagai kata-kata Buddha, tetapi hanya diterima sebagian kelompok.
Catuṣpariṣat Sūtra termasuk ke dalam kategori ‘teks buddhis awal’ dan cukup bernilai untuk dipelajari oleh siapa saja, apapun sekte anda, karena tingkat otentisitasnya sama dengan teks lain di ‘teks buddhis awal’ seperti kanon pali atau kanon agama. Teks ini adalah bagian dari kanon sansekerta dari sekte Sarvastivada.

Keistimewaaan kedua adalah dukungan yang teks ini berikan terhadap keberadaan Sangha bhikkhuni/ bhiksuni.
Jika kita lihat judulnya saja, Perkumpulan Empat Rangkap mempunyai makna bahwa Sangha baru lengkap jika ada empat kelompok: Bhiksu, Bhiksuni, Upasaka, Upasika. Jadi dari judulnya saja teks ini sudah menyatakan bahwa bhiksuni diperlukan. Walaupun di dalam isinya tidak ada satupun bhiksuni, tapi ada orang-orang dari tiga kelompok lain.

Poin lainnya adalah pernyataan Buddha di dalam teks ini yang menyatakan bahwa Beliau tidak akan parinirvana sebelum mempunyai siswa Bhiksu, Bhiksuni, Upasaka, Upasika yang cerdas dan terampil dalam mengajar. Bahwa Buddha sudah mempunyai rencana mendirikan Sangha Bhiksuni terpapar jelas disitu. Hal ini membantah anggapan bahwa Buddha dipaksa oleh Ananda untuk mendirikan Sangha Bhiksuni.
Keistimewaan ketiga dari teks ini adalah karena teks ini melengkapi teks Maha Parinibbana Sutta.

Seperti dikatakan Bhikkhu Sujato dalam bukunya ‘A History of Mindfulness’:
Quote
“Dua khotbah, Catuṣpariṣat Sūtra dan Mahā Parinibbāna Sutta, adalah sepasang yang saling melengkapi. Ini terbukti dari banyak kesejajaran dan kesamaan dalam rincian dan strukturnya.
Mahā Parinibbāna Sutta mengisahkan bagaimana Māra mendekati Sang Buddha, bersujud dengan kepalanya pada kaki Sang Buddha (! hanya dalam versi Sanskrit), dan mengingatkan Beliau bahwa, ketika Sang Buddha berdiam di Uruvelā di tepi sungai Nerañjarā tak lama setelah Beliau tercerahkan, Māra telah mendatangi-Nya dan meminta agar Sang Buddha meninggal dunia. Kejadian ini kenyataannya ditemukan dalam Catuṣpariṣat Sūtra Sanskrit, tetapi tidak ada dari versi Pali yang sejajar dalam Vinaya Mahāvagga. Pada waktu itu, kedua versi Mahā Parinibbāna Sutta berlanjut mengatakan, Sang Buddha menjawab bahwa Beliau tidak akan meninggal dunia sampai empat perkumpulan dari para bhiksu, bhiksuni, umat awam laki-laki, dan umat awam perempuan telah berkembang dengan baik dan berlatih dengan baik dalam Dharma, dapat mengajarkan dan mempertahankan Dharma. (Bacaan ini, secara tidak sengaja, adalah salah satu dari banyak bacaan yang menunjukkan bahwa pendirian Sangha Bhiksunī tidak diadakan atas keengganan Sang Buddha, seperti yang muncul dalam kisah Vinaya, tetapi suatu bagian intrinsik dari misi Beliau dari awalnya.)

Keistimewaan keempat dari teks ini adalah karena menyiratkan bahwa tujuan Buddha dari awal adalah untuk mengajar, yang selaras dengan tema Mahayana yaitu bodhicitta. Berbeda dengan interpretasi yang dihasilkan oleh teks lain yang menggambarkan bahwa Buddha mempunyai keraguan dan enggan untuk mengajar.

Hal ini dapat dibaca dari struktur teks yang menempatkan pernyataan Buddha bahwa beliau tidak akan parinirvana sebelum mempunyai siswa-siswa, sebelum Brahma Sabhapati datang memohon agar Beliau mengajarkan dharma. Poin lain adalah pernyataan perlindungan dua pedagang Tripusa dan Bhallika yang berlindung pada ‘Sangha yang akan dibentuk di masa depan’.

Hal lainnya adalah ungkapan “welas asih agung” yang muncul ketika Buddha menerawang dunia untuk melihat apakah makhluk-makhluk dapat menerima ajaran. Teks ini memberi perspektif baru bahwa Buddha memang mempunyai misi untuk mengajarkan dharma kepada makhluk-makhluk di dunia ini.

Sumber utama terjemahan Bahasa Indonesia ini adalah terjemahan Bahasa Inggris yang tersedia di situs suttacentral oleh Bhikkhu Sujato. Dengan memeriksa teks asli sansekerta untuk kalimat yang membingungkan atau meragukan, dan membandingkan dengan padanan bahasa pali dan terjemahannya jika ditemukan, diharapkan terjemahan ini lebih akurat daripada hanya sekedar menerjemahkan dari terjemahan Bahasa Inggris.

Semoga terjemahan teks ini dapat membantu praktik spiritual pembaca.
Jasa kebajikan dari menerjemahkan teks ini didedikasikan untuk kelangsungan Ajaran, panjang usia dan kelangsungan aktivitas Guru Dharma, dan kebahagiaan kesejahteraan semua makhluk.
« Last Edit: 15 August 2018, 07:00:09 PM by xenocross »
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.185
  • Reputasi: 61
  • Gender: Male
Re: Catusparisat Sutra
« Reply #1 on: 15 August 2018, 07:04:29 PM »
PENCERAHAN
Sang Bodhisattva, Yang Terberkahi, sedang menetap di Uruvelā di tepi sungai Nerañjarā di bawah pohon Bodhi, selalu tenang, berdiam melatih pengembangan kualitas yang membawa menuju Pencerahan.

Di jaga pertama malam Beliau mengarahkan pikiran-Nya menuju pengetahuan langsung: pencapaian pengetahuan berkaitan dengan kekuatan supernormal.  Beliau menguasai berbagai kekuatan supernormal.

Yaitu dikatakan: dari satu, Ia menjadi banyak—dari banyak, Ia menjadi satu; Ia muncul dan lenyap menggunakan pengetahuan dan kesaktian yang dimiliki; Ia menembus tembok, tebing dan benteng tanpa rintangan seolah-olah di ruang terbuka; Ia masuk ke dalam tanah dan keluar dari tanah seolah-olah di air; Ia berjalan di atas air tanpa tenggelam seolah-olah di atas tanah; duduk bersila ia terbang di angkasa bagaikan burung; Ia menyentuh dan menepuk matahari dan bulan dengan tangannya, kuat dan sakti; dan Ia berjalan dengan tubuhnya hingga ke alam Brahmā.

Begitulah cara Bodhisattva, Yang Terberkahi, ketika menetap di Uruvela di tepi sungai Nerañjarā di bawah pohon Bodhi, selalu tenang, berdiam melatih pengembangan kualitas yang membawa menuju Pencerahan. Di jaga pertama malam menguasai berbagai kekuatan supernormal.
Kemudian Sang Bodhisattva, Yang Terberkahi, ketika menetap di Uruvela di tepi sungai Nerañjarā di bawah pohon Bodhi, selalu tenang, berdiam melatih pengembangan kualitas yang membawa menuju Pencerahan.

Di jaga pertama malam Beliau mengarahkan pikiran-Nya menuju pengetahuan langsung: realisasi pengetahuan kehidupan lampau.  Beliau mengingat banyak kehidupan lampau-Nya.

Yaitu dikatakan: satu kelahiran, dua, tiga, empat, sampai hingga Beliau mengingat banyak kalpa leburnya dunia.

Begitulah cara Bodhisattva, Yang Terberkahi, ketika menetap di Uruvela di tepi sungai Nerañjarā di bawah pohon Bodhi, selalu tenang, berdiam melatih pengembangan kualitas yang membawa menuju Pencerahan. Di jaga pertama malam mengingat banyak kehidupan lampau-Nya.

Kemudian Sang Bodhisattva, Yang Terberkahi, ketika menetap di Uruvela di tepi sungai Nerañjarā di bawah pohon Bodhi, selalu tenang, berdiam melatih pengembangan kualitas yang membawa menuju Pencerahan.

Di jaga pertengahan malam beliau mengarahkan pikiran-Nya menuju pengetahuan langsung: pencapaian pengetahuan telinga dewa.  Dengan telinga dewa, yang murni dan melampaui telinga manusia, ia mendengar suara-suara dari alam dewa dan manusia, jauh maupun dekat.

Begitulah cara Bodhisattva, Yang Terberkahi, ketika menetap di Uruvela di tepi sungai Nerañjarā di bawah pohon Bodhi, selalu tenang, berdiam melatih pengembangan kualitas yang membawa menuju Pencerahan. Di jaga pertama malam menguasai pengetahuan telinga dewa.

Kemudian Sang Bodhisattva, Yang Terberkahi, ketika menetap di Uruvela di tepi sungai Nerañjarā di bawah pohon Bodhi, selalu tenang, berdiam melatih pengembangan kualitas yang membawa menuju Pencerahan.
Di jaga pertengahan malam beliau mengarahkan pikiran-Nya menuju pengetahuan langsung: pencapaian pengetahuan mata dewa.

Dengan mata dewa, yang murni dan melampaui mata manusia, ia melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali: berpenampilan cantik dan buruk rupa, hina dan mulia, pergi ke alam menyenangkan dan alam menderita, dan demikianlah ia memahami bagaimana makhluk-makhluk mengalami kondisi sesuai karma mereka.

“Makhluk-makhluk ini yang melakukan perbuatan buruk melalui jasmani, ucapan atau pikiran, atau mencela Para Mulia, memiliki pandangan salah, dan melakukan karma yang didasari pandangan salah, karena alasan itulah, saat hancurnya jasmani setelah kematian, mereka akan terlahir kembali di alam rendah, alam yang buruk, dengan kondisi menderita, diantara makhluk neraka.
Tetapi makhluk-makhluk ini yang melakukan perbuatan baik melalui jasmani, ucapan atau pikiran, tidak mencela Para Mulia, memiliki pandangan benar dan melakukan karma yang didasari pandangan benar. Karena alasan itulah saat hancurnya jasmani setelah kematian, mereka akan terlahir kembali di alam yang baik, alam surga, diantara para dewa.”

Begitulah cara Bodhisattva, Yang Terberkahi, ketika menetap di Uruvela di tepi sungai Nerañjarā di bawah pohon Bodhi, selalu tenang, berdiam melatih pengembangan kualitas yang membawa menuju Pencerahan. Di jaga pertama malam menguasai pengetahuan mata dewa.
Kemudian Sang Bodhisattva, Yang Terberkahi, ketika menetap di Uruvela di tepi sungai Nerañjarā di bawah pohon Bodhi, selalu tenang, berdiam melatih pengembangan kualitas yang membawa menuju Pencerahan.

Di jaga terakhir malam Beliau mengarahkan pikiran-Nya menuju pengetahuan langsung: pencapaian pengetahuan membaca pikiran.
Dengan pikirannya Ia mengetahui dan membedakan pikiran makhluk-makhluk lain atau orang-orang lain. Ia mengetahui pikiran nafsu sebagai pikiran nafsu; ia mengetahui pikiran tanpa nafsu sebagai pikiran tanpa nafsu. Ia mengetahui pikiran dengan kebencian atau tanpa kebencian; pikiran terdelusi atau tanpa delusi; pikiran teralihkan atau terfokus; malas atau bersemangat; bergejolak atau tidak bergejolak; damai atau tidak damai; dalam samadhi atau tidak dalam samadhi; tidak berkembang atau berkembang; tidak terbebaskan atau terbebaskan.

Begitulah cara Bodhisattva, Yang Terberkahi, ketika menetap di Uruvela di tepi sungai Nerañjarā di bawah pohon Bodhi, selalu tenang, berdiam melatih pengembangan kualitas yang membawa menuju Pencerahan. Di jaga pertama malam menguasai pengetahuan membaca pikiran.

Kemudian Sang Bodhisattva, Yang Terberkahi, ketika menetap di Uruvela di tepi sungai Nerañjarā di bawah pohon Bodhi, selalu tenang, berdiam melatih pengembangan kualitas yang membawa menuju Pencerahan.

Di jaga terakhir malam beliau mengarahkan pikiran-Nya menuju pengetahuan langsung: pencapaian pengetahuan hancurnya kekotoran batin.
Ia memahami sesuai dengan kenyataan, “Ini adalah kebenaran mulia tentang penderitaan”, “Ini adalah kebenaran mulia asal-mula penderitaan”, “Ini adalah kebenaran mulia lenyapnya penderitaan”. Ia memahami sesuai dengan kenyataan: “Ini adalah kebenaran mulia tentang jalan menuju lenyapnya penderitaan”. Ketika Ia mengetahui dan melihat demikian, pikirannya bebas dari kekotoran keinginan-indria, dari kekotoran penjelmaan, dari kekotoran ketidak-tahuan. Ketika pikiran terbebaskan muncul pengetahuan dan penglihatan, “Saya telah terbebaskan.” Ia mengetahui, “Kelahiran telah berakhir, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi kembali ke keberadaan ini.”

Demikianlah Sang Bodhisattva, Yang Terberkahi, ketika menetap di Uruvela di tepi sungai Nerañjarā di bawah pohon Bodhi, setelah menyelesaikan tugas-Nya, telah melakukan apa yang harus dilakukan, Tercerahkan Sempurna, memasuki samadhi dengan elemen api.

1. Penghormatan oleh Dua Dewa Brahma

Kemudian dua dewa pengikut Brahma  yang menetap di alam Brahma berpikir demikian:
“Sang Buddha, Yang Terberkahi, sedang menetap di Uruvela di tepi sungai Nerañjarā setelah mencapai Pencerahan Sempurna, telah memasuki samadhi dengan elemen api. Beliau telah duduk selama tujuh hari dengan satu postur tanpa bergerak, dan tanpa dipersembahkan dana makanan. Bagaimana jika kita pergi kesana dan masing-masing memuji beliau dengan syair?”

Lalu kedua dewa pengikut Brahma, bagaikan seorang kuat yang merentangkan lengannya yang tertekuk atau menekuk lengannya yang terentang, lenyap dari alam Brahma dan muncul kembali berdiri di hadapan Yang Terberkahi.

Kemudian satu dewa pengikut Brahma mengucapkan bait ini
“Bangunlah, O Pemenang dalam pertempuran!
Membawa pencapaian tanpa kekerasan-Mu, mengembaralah di dunia.
Ajarkanlah Dharma, O Yang Berbahagia!
Akan ada orang-orang yang mampu memahami permata Dharma!”


Dewa pengikut Brahma kedua mengucapkan bait ini:
“Bangunlah, O Pemenang dalam pertempuran!
Kesombongan telah dilenyapkan, yang tanpa konflik, mengembaralah di dunia.
PikiranMu murni
Bagaikan bulan pada tanggal lima belas malam.”


Setelah mengucapkan itu, kedua dewa pengikut Brahma menghilang dari tempat itu.

Lalu Yang Terberkahi, setelah bangun dari samadhi, pada saat itu mengucapkan bait-bait ini:
“Kebahagiaan indriawi apapun di dunia ini,
dan kebahagiaan surgawi apapun juga.
Adalah tidak sebanding dengan seper enam belas bagian
Dari kebahagiaan hancurnya ketagihan.”

“Setelah meletakkan beban berat,
seseorang seharusnya tidak mengambilnya lagi.
Mengambil beban berat adalah dukkha,
melepaskan beban adalah suatu kegembiraan.”

“Setelah meninggalkan semua ketagihan
Dengan berakhirnya semua belenggu
Dengan sepenuhnya memahami semua kemelekatan
Seseorang tidak akan mempunyai kelahiran kembali.”
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.185
  • Reputasi: 61
  • Gender: Male
Re: Catusparisat Sutra
« Reply #2 on: 15 August 2018, 07:07:33 PM »
2. Santapan Pertama

Sang Buddha, Yang Terberkahi, sedang duduk selama tujuh hari dengan satu postur tanpa bergerak, dan tanpa dipersembahkan dana makanan, mengalami kebahagiaan dan sukacita pembebasan.

Pada saat itu pedagang Tripusa dan Bhallika dengan lima ratus kereta barang sedang menempuh perjalanan melalui jalan yang dekat.

Kemudian seorang dewa, yang adalah bekas teman, kerabat, atau kawan dari pedagang Tripusa dan Bhallika, demi kesejahteraan mereka berpikir demikian:
“Sang Buddha, Yang Terberkahi, sedang menetap di Uruvela di tepi sungai Nerañjarā, di bawah pohon Bodhi setelah mencapai Pencerahan Sempurna, mengalami kebahagiaan dan sukacita pembebasan. Sang Buddha, Yang Terberkahi telah duduk selama tujuh hari dengan satu postur tanpa bergerak dan tanpa berjalan untuk mengumpulkan dana makanan. Karenanya, jika pedagang Tripusa dan Bhallika menjadi yang pertama mempersembahkan dana makanan, itu akan membawa manfaat, kesejahteraan, dan kebahagiaan untuk jangka waktu yang lama. Bagaimana jika saya, dengan tujuan untuk kebahagiaan mereka, mendorong mereka untuk mempersembahkan dana makanan?”

Kemudian dewa itu, setelah menyinari karavan kereta dengan cahaya, mengatakan ini kepada pedagang Tripusa dan Bhallika:
“Pedagang, pedagang! Inilah Buddha, Yang Terberkahi, sedang menetap di Uruvela di tepi sungai Nerañjarā, di bawah pohon Bodhi setelah mencapai Pencerahan Sempurna, mengalami kebahagiaan dan sukacita pembebasan. Sang Buddha, Yang Terberkahi telah duduk selama tujuh hari dengan satu postur tanpa bergerak dan tanpa dipersembahkan dana makanan. Karena itu, kalian haruslah menjadi yang pertama untuk mempersembahkan dana makanan, yang akan membawa manfaat, kesejahteraan, dan kebahagiaan untuk jangka waktu yang lama.”

Kemudian pedagang Tripusa dan Bhallika berpikir demikian: “Buddha ini pastilah bukan orang biasa, dan ini juga tidak mungkin pengumuman Dharma biasa, jika bahkan dewa ini mendorong kami untuk mempersembahkan dana makanan kepadanya, Sang Tathagata, arahat, Buddha yang Tercerahkan sempurna.”

Kemudian pedagang Tripusa dan Bhallika membawa banyak nasi kepal dan gumpalan madu kepada Sang Bhagavā.

Setelah mendekati Sang Bhagavā dan bersujud di kaki-Nya mereka berdiri di satu sisi dan berkata kepada beliau:
“Kami berdua, oh Yang Mulia, telah menyiapkan dana makanan yang baik, berupa nasi kepal dan gumpalan madu, khusus untuk Sang Bhagavā. Semoga Sang Bhagavā menerima karena belas kasihan!”

Kemudian Sang Bhagavā berpikir demikian: “Jika Saya menerima dana makanan ini dengan tangan sendiri, ini akan seperti pengikut aliran lain dan tidaklah pantas untuk Saya. Bagaimana jika Saya merenungkan bagaimana Buddha Yang Tercerahkan Sempurna di masa lalu menerima dana makanan demi kesejahteraan para makhluk?”

Para dewa mengumumkan kepada Sang Bhagavā: “Yang Mulia, Buddha Yang Tercerahkan Sempurna di masa lalu menerima dana makanan di dalam mangkuk, demi kesejahteraan para makhluk.” Sang Bhagavā juga, mengerahkan jangkauan pengetahuan dan penglihatan, mengetahui bahwa Buddha Yang Tercerahkan Sempurna masa lalu menerima dana makanan di dalam mangkuk, demi kesejahteraan para makhluk.

Kemudian Sang Bhagavā membutuhkan sebuah mangkuk.

3. Mangkuk

Kemudian Empat Raja Dewa, mengetahui bahwa Sang Bhagavā membutuhkan sebuah mangkuk, membuat empat mangkuk batu dari batuan gunung, tidak dibuat oleh tangan manusia, bersih, tanpa noda, tak berbau, dan membawanya ke Sang Bhagavā.

Setelah mendekati Sang Bhagavā dan bersujud dengan kepala mereka di kaki-Nya, mereka berdiri di satu sisi.

Berdiri di satu sisi, Empat Raja Dewa mengatakan ini kepada Sang Bhagavā:
“Inilah, Yang Mulia, mengetahui bahwa Sang Bhagavā membutuhkan sebuah mangkuk, kami membuat empat mangkuk batu dari batuan gunung, tidak dibuat oleh tangan manusia, bersih, tanpa noda, tak berbau. Semoga Sang Bhagavā menerima dana makanan dari pedagang Tripusa dan Bhallika demi kesejahteraan para makhluk.”

Kemudian Sang Bhagavā berpikir demikian: “Jika Saya menerima mangkuk dari salah satu Raja Dewa, tiga Raja Dewa lainnya mungkin akan kecewa . Jika Saya menerima dua atau tiga, yang lainnya mungkin akan kecewa. Mengapa Saya tidak menerima semua empat mangkuk dari Empat Raja Dewa dan mengubahnya jadi satu?”

Kemudian Sang Bhagavā, setelah menerima mangkuk dari Empat Raja Dewa, mengubahnya menjadi satu mangkuk.
Kemudian Sang Bhagavā menerima dana makanan dari pedagang Tripusa dan Bhallika demi kesejahteraan para makhluk.

Kemudian pedagang Tripusa dan Bhallika berkata kepada Sang Bhagavā:
“Yang Mulia, kami pergi berlindung kepada Buddha, kami pergi berlindung kepada Dharma, dan kami pergi berlindung kepada Sangha yang akan ada di masa depan.”

Kemudian Sang Bhagavā mengucapkan bait-bait ini sebagai ungkapan terima kasih untuk pemberian pedagang Tripusa dan Bhallika:
“Perbuatan baik menghasilkan akibat bahagia
Dan tercapainya harapan seseorang.
Dengan cepat seseorang mencapai
kedamaian tertinggi, Nirvāṇa.”

“Bahkan rombongan dewa Mara
Tidak dapat menghalangi
Seseorang yang telah berbuat jasa kebajikan
Untuk mencapai surga dan yang melampauinya.”

“Jika seseorang melakukan usaha,
dengan kebijaksanaan mulia, kemurahan hati,
Melihat dengan jernih, ia dengan mudah
mengakhiri penderitaan.”


Kemudian, setelah Sang Bhagavā mengucapkan ungkapan terima kasih, pedagang Tripusa dan Bhallika bersujud di kaki Sang Bhagavā dan pergi dari sana.

4. Buddha jatuh sakit dan permintaan Mara

Kemudian Sang Bhagavā, setelah mendapatkan dana makanan dari pedagang Tripusa dan Bhallika, menyantap makanan di tempat itu.

Kemudian, Sang Bhagavā menjadi sakit karena elemen-angin dari gumpalan madu.

Kemudian Mara si Jahat, mengetahui bahwa Sang Bhagavā telah menjadi sakit karena elemen-angin, mendekati beliau, bersujud dengan kepalanya di kaki Sang Bhagavā dan berkata kepada beliau:
“Capailah Nirvāṇa Akhir, Oh Bhagavā! Inilah waktunya untuk Sang Sugata mencapai Nirvāṇa Akhir!”

“Yang Jahat, Aku tidak akan mencapai Nirvāṇa Akhir sebelum Aku memiliki siswa-siswa yang pandai, terampil, bijaksana, terlatih untuk menggunakan Dharma untuk membantah doktrin [aliran lain] yang akan muncul dari waktu ke waktu, kompeten dan menguasai [Dharma] sehingga dapat mengajarkannya dengan kata-kata mereka sendiri – para bhiksu, bhiksuni, upasaka, dan upasika, sehingga kehidupan suci [yang kuajarkan] ini menyebar, mantap dan berkembang, dikenal di segala penjuru, diajarkan dengan baik di antara umat manusia dan dewa.”

Kemudian Mara si Jahat – sedih, kecewa, dan merana – menghilang dari sana.
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.185
  • Reputasi: 61
  • Gender: Male
Re: Catusparisat Sutra
« Reply #3 on: 15 August 2018, 07:10:34 PM »
5. Sakra menyembuhkan Buddha

Kemudian Sakra Raja para Dewa, mengetahui bahwa Sang Bhagavā telah menjadi sakit karena elemen-angin, dari taman agung Dharītakī, di dekat pohon jambu mawar yang menjadi sumber nama benua Jambudwipa ini, mengambil buah obat yang berwarna dan harum, dan membawanya ke Sang Bhagavā. Setelah bersujud dengan kepalanya di kaki Sang Bhagavā ia berdiri di satu sisi.

Berdiri di satu sisi Sakra Raja para Dewa mengatakan ini kepada Sang Bhagavā. “Inilah, Yang Mulia, mengetahui bahwa Sang Bhagavā telah menjadi sakit karena elemen-angin, dari taman agung Dharītakī, di dekat pohon jambu mawar yang menjadi sumber nama benua Jambudwipa ini, saya mengambil buah obat yang berwarna dan harum. Semoga Sang Bhagavā memakannya. Setelah memakannya elemen-angin akan tenang dan sakit karena elemen-angin akan mereda.”

Setelah Sang Bhagavā memakannya elemen-angin menjadi tenang dan sakit karena elemen-angin menjadi mereda. Kemudian Sang Bhagavā menjadi lebih nyaman dan segar.

6. Raja Naga Mucalinda

Kemudian Sang Bhagavā, setelah menetap selama yang ia suka di bawah kaki pohon Bodhi, menhampiri kediaman Mucalinda Sang Raja Naga. Kemudian ia duduk bersila di bawah kaki pohon tertentu, badan tegak, dan menegakkan perhatian berkesadaran.

Sekarang, di saat itu terjadi badai selama tujuh hari yang bukan pada musimnya di tempat kediaman Mucalinda Sang Raja Naga.

Kemudian Mucalinda Sang Raja Naga, mengetahui bahwa terjadi badai selama tujuh hari yang bukan pada musimnya keluar dari kediamannya, melingkari Sang Bhagavā tujuh kali dan menegakkan tudung di atas kepala-Nya, berpikir: “Selama tujuh hari ini, semoga Sang Bhagavā tidak kedinginan atau kepanasan, dan semoga lalat, nyamuk, angin, panas, dan binatang melata tidak mengenai tubuh Sang Bhagavā.”

Kemudian Mucalinda Sang Raja Naga mengetahui bahwa tujuh hari telah berlalu ia menarik tubuhnya dari melindungi Sang Bhagavā. Ia kemudian [dalam bentuk manusia] menghiasi dirinya dengan gelang, anting, kalung berwarna-warni dan kosmetik, kemudian ia menghampiri Sang Bhagavā dengan tangan ber-anjali dan berkata:
“Selama tujuh hari ini, saya berharap semoga Sang Bhagavā tidak kedinginan atau kepanasan, dan bahwa lalat, nyamuk, angin, panas, dan binatang melata tidak mengenai tubuh Sang Bhagavā.”

Kemudian Sang Bhagavā pada saat itu mengatakan bait-bait ini: 
“Ada kebahagiaan dan keterlepasan bagi seorang yang puas,
yang telah mendengarkan Dharma, dan yang melihat,
Ada kebahagiaan bagi ia yang bebas dari permusuhan di dunia,
yang terkekang terhadap makhluk-makhluk yang bernapas.”

“Keadaan tanpa nafsu di dunia adalah kebahagiaan,
sepenuhnya melampaui keinginan-keinginan indria,
(Tetapi) padanya yang telah melenyapkan keangkuhan “aku”—
Ini sungguh adalah kebahagiaan tertinggi.”


7. Kemunculan Bergantungan

Kemudian Sang Bhagavā, setelah menetap selama yang ia suka di kediaman Raja Naga Mucalinda, menghampiri kaki pohon Bodhi.

Setelah menghampiri tempat dimana Ia mengakhiri ketagihan, ia duduk bersila, badan tegak dan menegakkan perhatian berkesadaran. Selama tujuh hari Ia berdiam dalam satu postur tanpa bergerak dan memeriksa kemunculan bergantungan  dengan dua belas faktor dalam urutan maju dan mundur.

Yaitu dikatakan: Karena ini, maka itu; dari munculnya ini, maka muncul itu.

Yaitu dikatakan: ketidaktahuan adalah kondisi untuk adanya proses-proses (berkehendak), proses-proses (berkehendak) adalah kondisi untuk adanya kesadaran, kesadaran adalah kondisi untuk adanya batin dan bentuk jasmani, batin dan bentuk-jasmani adalah kondisi untuk adanya enam bidang indria, enam bidang indria adalah kondisi untuk adanya kontak, kontak adalah kondisi untuk adanya perasaan, perasaan adalah kondisi untuk adanya ketagihan, ketagihan adalah kondisi untuk adanya kemelekatan, kemelekatan adalah kondisi untuk adanya keberlangsungan, keberlangsungan adalah kondisi untuk adanya kelahiran, kelahiran adalah kondisi untuk adanya penuaan-dan-kematian, dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan. Demikianlah asal-mula keseluruhan kumpulan penderitaan ini.

Yaitu dikatakan: Karena tidak ini, maka tidak itu, dengan lenyapnya ini, maka lenyap pula itu.

“Yaitu dikatakan: dengan lenyapnya ketidaktahuan, maka lenyap pula proses-proses (berkehendak); dengan lenyapnya proses-proses (berkehendak), maka lenyap pula kesadaran; dengan lenyapnya kesadaran, maka lenyap pula batin dan bentuk jasmani; dengan lenyapnya batin dan bentuk jasmani, maka lenyap pula enam bidang indria; dengan lenyapnya enam bidang indria, maka lenyap pula kontak; dengan lenyapnya kontak, maka lenyap pula perasaan; dengan lenyapnya perasaan, maka lenyap pula ketagihan; dengan lenyapnya ketagihan, maka lenyap pula kemelekatan; dengan lenyapnya kemelekatan, maka lenyap pula keberlangsungan; dengan lenyapnya keberlangsungan, maka lenyap pula kelahiran; dengan lenyapnya kelahiran, maka lenyap pula penuaan-dan-kematian, dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan. Demikianlah lenyapnya keseluruhan kumpulan penderitaan ini.”

Kemudian Sang Bhagavā, setelah tujuh hari berlalu, bangun dari samadhi dan mengucapkan bait-bait ini:

“Ketika Dharma menjadi jelas
Pada sang brahmana yang tekun bermeditasi,
Maka segala keragu-raguannya lenyap,
ketika ia memahami (sifat) segala sesuatu dan penyebabnya.”

“Ketika Dharma menjadi jelas
Pada sang brahmana yang tekun bermeditasi,
Maka segala keragu-raguannya lenyap,
ketika ia memahami penderitaan dan penyebabnya.”

“Ketika Dharma menjadi jelas
Pada sang brahmana yang tekun bermeditasi,
Maka segala keragu-raguannya lenyap,
ketika ia tiba pada berakhirnya perasaan.”

“Ketika Dharma menjadi jelas
Pada sang brahmana yang tekun bermeditasi,
Maka segala keragu-raguannya lenyap,
ketika ia tiba pada berakhirnya kondisi bergantungan.”

“Ketika Dharma menjadi jelas
Pada sang brahmana yang tekun bermeditasi,
Maka segala keragu-raguannya lenyap,
ketika ia tiba pada berakhirnya kekotoran.”

“Ketika Dharma menjadi jelas
Pada sang brahmana yang tekun bermeditasi,
Ia tinggal, menyinari seluruh dunia,
Bagaikan matahari (berdiam) dengan menerangi cakrawala.”

“Ketika Dharma menjadi jelas
Pada sang brahmana yang tekun bermeditasi,
Ia berdiam dengan menghalau bala tentara Māra,
Yang Tercerahkan, bebas dari belenggu.”


8. Undangan Brahma untuk Mengajar

Kemudian Sang Bhagavā berpikir demikian:
“Dharma yang Kutemukan ini adalah dalam, terlihat dalam, sulit dilihat, sulit dimengerti, di luar jangkauan logika, subtil, halus, untuk dialami oleh para bijaksana.

Jika Aku mengajarkan Dharma ini kepada orang lain mereka tidak akan memahami. Hal itu akan menggangguKu dan melelahkan bagiKu, menyulitkan bagiKu dan hatiku tidak akan riang. Mengapa Aku tidak berdiam sendiri di alam liar dan tanah hutan, mengurus hanya kebahagiaanku sendiri di kehidupan ini?”

Dan pikiran Sang Bhagavā condong ke arah tanpa aktivitas dan tidak mengajarkan Dharma.

Sekarang, pada saat itu Brahmā Sabhāpati  berpikir demikian:
 “Dunia akan musnah! Dunia akan binasa! Karena Sang Tathāgata, Sang Arahant, Yang telah mencapai Pencerahan Sempurna, yang jarang muncul di dunia seperti bunga udumbara, tetapi sekarang pikiran Sang Bhagavā condong pada tanpa aktivitas, bukan mengajar Dharma. Bagaimana jika saya mendekati beliau dengan sebuah undangan?”

Kemudian Brahmā Sabhāpati, secepat seorang kuat menekuk lengannya yang terentang, atau merentangkan lengannya yang tertekuk, lenyap dari alam Brahmā dan muncul kembali di depan Sang Bhagavā.

Kemudian Brahmā Sabhāpati pada saat itu mengucapkan bait ini:
“Di masa lalu, muncul di antara orang-orang Magadha
Ajaran tidak murni telah muncul, pemahaman yang ternoda.
Bukalah pintu menuju Tanpa-Kematian!
Ungkapkanlah Dharma dari pemahaman tanpa noda!”


Kemudian Sang Bhagavā pada saat itu mengucapkan bait ini:
“Adalah sulit untuk mencapai
Penghancuran noda-noda, O Brahmā.
Dharma ini tidak mudah dipahami
Oleh mereka yang dikuasai oleh nafsu pada keberadaan.”

“Jalan ini bergerak melawan arus
Dalam, sulit dilihat.
Mereka yang ternoda oleh nafsu tidak dapat melihat
Terhalang oleh kegelapan.”


“Ada, Yang Mulia, makhluk-makhluk yang lahir dan tumbuh besar di dunia dengan kecerdasan unggul, dengan kecerdasan menengah, dan dengan kecerdasan tumpul; dengan kualitas masing-masing, cepat memahami, dengan sedikit debu, dengan sedikit debu di mata mereka, yang akan musnah karena tidak mendengar Dharma. Ajarkanlah Dharma, O Yang Terberkahi! Ajarkanlah Dharma, O Yang Berbahagia! Akan ada orang-orang yang memahami Dharma.”

Kemudian Sang Bhagavā berpikir demikian: “Mengapa Aku tidak mengamati dunia dengan Mata Buddha milikKu sendiri?”
Sang Bhagavā melihat dengan Mata BuddhaNya sendiri dan mengamati dunia. Ada makhluk-makhluk yang lahir dan tumbuh besar di dunia dengan kecerdasan unggul, dengan kecerdasan menengah, dan dengan kecerdasan tumpul; dengan kualitas masing-masing, cepat memahami, dengan sedikit debu, dengan sedikit debu di mata mereka, yang akan musnah karena tidak mendengar Dharma. Ketika Ia melihat hal ini Ia terpenuhi dengan welas asih agung untuk makhluk-makhluk.

Dan Sang Bhagavā di saat itu mengucapkan bait ini:
“Terbukalah pintu menuju Tanpa-Kematian!
Biarlah mereka yang mau mendengar bersukacita dalam keyakinan.
Meramalkan kesulitannya, O Brahmā, Aku tidak mengajarkan
Dharma mulia yang unggul dan mulia kepada manusia.”


Kemudian Brahmā Sabhāpati berpikir demikian: “Sang Bhagavā akan mengajarkan Dharma! Sang Sugata akan mengajarkan Dharma!” Mengetahui hal ini, senang dan puas, dengan pikiran ceria, riang, dan bahagia, ia bersujud dengan kepalanya di kaki Sang Bhagavā, mengelilingi Beliau dengan menjaga sisi kanannya menghadapNya, dan lenyap dari sana.
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.185
  • Reputasi: 61
  • Gender: Male
Re: Catusparisat Sutra
« Reply #4 on: 15 August 2018, 07:15:13 PM »
9. Menentukan Siapa yang Pertama Diajar

Kemudian Sang Bhagavā berpikir demikian: “Kepada siapakah pertama kali Aku mengajarkan Dharma?”

Kemudian Sang Bhagavā berpikir demikian: “Mengapa Aku tidak mengajarkan Dharma pertama kali kepada Ārāḍa Kālāma , yang adalah mantan guruku? Hal tersebut adalah penghormatan tertinggi, sanjungan tertinggi, pikiran penghargaan dan keyakinan tertinggi!”

Kemudian seorang dewa memberitahu kepada Sang Bhagavā: “Ārāḍa Kālāma meninggal dunia tujuh hari yang lalu.”

Juga, Sang Bhagavā setelah mengerahkan pengetahuan dan penglihatan mengetahui: “Ārāḍa Kālāma meninggal dunia tujuh hari yang lalu.”

Kemudian Sang Bhagavā berpikir demikian: “Aduh, sungguh besar kerugian Ārāḍa Kālāma bahwa ia meninggal dunia tanpa mendengarkan Dharma dan Vinaya  ini. Jika ia mendengar Dharma dan Vinaya ini, ia akan memahaminya.”

Kemudian Sang Bhagavā berpikir demikian: “Kepada siapakah pertama kali Aku mengajarkan Dharma?” Kemudian Sang Bhagavā berpikir demikian: “Mengapa Aku tidak mengajarkan Dharma pertama kali kepada Udraka Rāmaputra , yang adalah mantan guruku? Hal tersebut adalah penghormatan tertinggi, sanjungan tertinggi, pikiran penghargaan dan keyakinan tertinggi!”

Kemudian seorang dewa memberitahu kepada Sang Bhagavā: “Udraka Rāmaputra meninggal dunia kemarin malam.”
Juga, Sang Bhagavā setelah mengerahkan pengetahuan dan penglihatan mengetahui: “Udraka Rāmaputra meninggal dunia kemarin malam.” Dan kemudian Sang Bhagavā berpikir demikian: “Aduh, sungguh besar kerugian Udraka Rāmaputra bahwa ia meninggal dunia tanpa mendengarkan Dharma dan Vinaya ini. Jika ia mendengar Dharma dan Vinaya ini, ia akan memahaminya.”

Kemudian Sang Bhagavā berpikir demikian: “Kepada siapakah pertama kali Aku mengajarkan Dharma?” Kemudian Sang Bhagavā berpikir demikian: “Mengapa Aku tidak mengajarkan Dharma pertama kali kepada kelompok lima bhiksu? Di masa lalu, ketika Aku sedang berusaha dalam latihan keras yang menyakitkan, mereka melayaniKu dengan kasih sayang dan rasa hormat.”

Kemudian Sang Bhagavā berpikir demikian: Di manakah para lima bhiksu itu menetap saat ini?’ Sang Bhagavā melihat dengan mata dewa yang murni dan melampaui manusia bahwa lima bhiksu sedang menetap di Benares di Peristirahatan Resi  di Taman Rusa. 

Setelah menetap selama yang Ia inginkan di bawah kaki pohon Bodhi, Ia berjalan menuju Benares, kota orang-orang Kāśī.

10. Bertemu dengan Upaga Sang Pengembara

Sekarang, pada saat itu sang petapa pengembara Ājīvaka , bernama Upaga , sedang melakukan perjalanan di jalan yang sama. Ia melihat Sang Bhagavā datang dari kejauhan dan berkata padaNya:
“Yang Mulia Gautama, indriaMu cerah, warna wajahMu murni, dan warna kulitMu cemerlang. Siapakah guru Yang Mulia Gautama? Di bawah siapakah Engkau meninggalkan keduniawian? Dharma siapakah yang Engkau anut?

Sang Bhagavā pada saat itu mengucapkan bait-bait ini:
“Aku tidak memiliki guru,
Dan Aku tidak dapat melihat [seseorang] yang setara [denganKu]
Sendiri di dunia ini [hanya] Aku yang Tercerahkan
Aku telah mencapai Pencerahan Tertinggi.

Segalanya telah Kulampaui, semua telah Kuketahui,
Semua fenomena tidak menodaiKu.
Semua telah ditinggalkan, Aku terbebas dari semua ketakutan;
Setelah mengetahui secara langsung bagi diriKu sendiri, siapakah yang harus Kuikuti?

Siapakah yang harus Kuikuti, karena Aku adalah tanpa bandingan atau yang setara,
Dengan usaha sendiri Aku mencapai pencerahan.
Sang Tathāgata adalah guru para dewa dan manusia,
Maha-tahu, menguasai semua kekuatan.

Di dunia ini Akulah Yang Pantas Dihormati
Di dunia ini Aku tiada tara.
Di dunia dengan para dewanya,
Akulah Sang Pemenang, Penakluk Māra.”


[Upaga:]“Apakah Yang Mulia Gautama mengatakan, Pemenang?”

[Buddha:]
“Seorang Pemenang sepertiKu [sebelumya] tidak diketahui,
Yang telah mencapai penghancuran kekotoran.
Aku telah menaklukan semua kualitas jahat,
Oleh karena itu, Upaga, Aku adalah Pemenang.”


[Upaga:]“Kemana Anda akan pergi, Yang Mulia Gautama?”

[Buddha:]
“Aku akan pergi ke Benares
Menabuh Tambur Keabadian
Untuk memutar Roda Dharma
Yang tidak dapat dihentikan di dunia.”
“Orang baik tidak selalu bersinar
Yang mengetahui dengan baik kodrat dunia,
Para Buddha selalu damai,
Telah menyeberangi kemelekatan pada dunia.”


“Anda mengatakan bahwa Anda adalah Pemenang, Yang Mulia Gautama.” Ājīvaka pengembara Upaga berkata, dan ia pergi berlalu menyusuri jalan.

11. Jalan Tengah

Kemudian Sang Bhagavā mengembara melalui tanah orang-orang Kāśī sampai Ia sampai di Benares.

Sekarang pada saat itu kelompok lima bhiksu sedang menetap di Benares di Peristirahatan Resi di Taman Rusa.

Kelompok lima bhiksu melihat Sang Bhagavā datang dari kejauhan. Mereka sepakat satu sama lainnya bahwa mereka tidak akan mempersiapkan tempat duduk nyaman dan melayani Beliau, dengan berkata:
“Tuan-tuan, petapa Gautama adalah seorang pemalas, senang bermewah-mewah, menjalani kehidupan mewah, yang telah menyerah dalam usaha. Hari-hari ini Ia memakan makanan bagus, nasi dan bubur dengan ghee  dan minyak, dan membasuh tubuhNya dengan air bersih!”
“Jika Ia datang mendekat kesini kita tidak akan menghormatiNya, tidak akan bersujud, tidak akan bangkit berdiri, tidak akan mengundangNya, bahkan tidak akan mempersiapkan alas duduk untuknya. Kita hanya akan berkata, “Inilah tempat duduk, Yang Mulia Gautama, Kamu boleh duduk jika Kamu mau.”

Walaupun begitu, ketika Sang Bhagavā datang mendekati kelompok lima bhiksu, kelompok lima bhiksu terkesan dengan keagunganNya, kemuliaanNya, kewibawaanNya. Jadi bangkit dari tempat duduk mereka, seorang mempersiapkan tempat duduk, seorang mengambil air untuk mencuci kaki, seorang mengambil jubahNya; dan mereka berkata: “Duduklah, Guru Gautama, tempat dudukMu sudah siap.”

Kemudian Sang Bhagavā, menyadari bahwa: “orang-orang bodoh ini telah gagal, dan sudah melayani diriKu,” duduk di tempat yang sudah disediakan.

Sekarang, kelompok lima bhiksu memanggil Sang Bhagavā dengan nama, atau dengan nama keluarga, atau sebagai “Yang Mulia” (āyasmā).
Maka Sang Bhagavā berkata pada kelompok lima bhiksu sebagai berikut: “Bhiksu, janganlah memanggil Sang Tathāgata dengan nama, atau dengan nama keluarga, atau sebagai “Yang Mulia”.

“Karena alasan apakah? Jika seseorang memanggil Sang Tathāgata dengan nama, atau dengan nama keluarga, atau sebagai “Yang Mulia”, itu akan menjadi kemalangan, kerugian, dan penderitaan untuk waktu yang lama bagi orang dungu itu.

Kemudian mereka berkata demikian: “Yang Mulia Gautama, dengan cara latihan, metode, kehidupan keras yang dulu [Anda jalani], Anda tidak mencapai dharma yang melampaui manusia  apapun, pengetahuan dan penglihatan mulia apapun, dan sebuah kondisi berdiam dalam kenyamanan. Bagaimana mungkin ini terjadi bahwa sekarang Anda telah menjadi malas, mewah, hidup dalam kemewahan, dan telah menyerah dalam usaha; hari-hari ini Anda bahkan memakan makanan bagus, nasi dan bubur dengan ghee dan minyak, dan membasuh tubuhMu dengan air bersih!”

Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada kelompok lima bhiksu: “Apakah kalian tidak menemukan, oh para bhiksu, bahwa dibandingkan sebelumnya, wajah Tathāgata cerah, indriaNya berbeda?”

“Ya, Guru Gautama.”

“Para bhiksu, kedua ekstrim ini seharusnya tidak dilatih atau dikembangkan atau dipraktekkan oleh seseorang yang telah meninggalkan keduniawian. Adalah kemelekatan pada kesenangan indera, yang rendah, kasar, biasa, dilakukan oleh orang-orang biasa. Dan adalah ketaatan pada penyiksaan diri, yang menyakitkan, hina, dan tidak berarti.”

“Menghindari kedua ekstrim ini, jalan tengah latihan membawa pada penglihatan, membawa pada pengetahuan, membawa pada kedamaian, dan membawa pada pengetahuan langsung, pencerahan, dan Nirvāṇa.”

“Apakah praktek jalan tengah itu? Adalah jalan mulia berunsur delapan, yaitu: pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, pencaharian benar, upaya benar, perhatian benar, dan samādhi benar sebagai yang kedelapan.”

Sang Bhagavā berhasil dalam membujuk lima bhiksu dari opini buruk mereka. Beliau mengajar dua dari lima bhiksu yang makan lebih dulu, sedangkan tiga orang pergi ke desa untuk mengumpulkan dana makanan. Mereka berenam makan dari apa yang dibawa tiga orang itu.
Kemudian Sang Bhagavā mengajar tiga dari lima bhiksu yang makan belakangan, sedangkan dua orang pergi ke desa untuk mengumpulkan dana makanan. Lima bhiksu makan dari apa yang dibawa dua orang itu. Sang Tathāgata hanya makan pada pagi hari, pada waktu yang layak.

12. Pemutaran Roda Dharma

Kemudian Sang Bhagavā berkata pada lima bhiksu itu:

“‘Inilah kebenaran mulia tentang penderitaan.’ Bagi-Ku, para bhiksu, ketika Aku memberikan perhatian yang bijaksana pada dharma-dharma yang tidak didengar sebelumnya ini, penglihatan  muncul, dan pengetahuan , realisasi , dan pencerahan  muncul. (1)

 “‘Inilah kebenaran mulia tentang asal mula penderitaan, lenyapnya penderitaan, dan jalan menuju lenyapnya penderitaan.’ Bagi-Ku, para bhiksu, ketika Aku memberikan perhatian yang bijaksana pada dharma-dharma yang tidak didengar sebelumnya, penglihatan muncul, dan pengetahuan, realisasi, dan pencerahan muncul. (2-4)

 “‘Kebenaran mulia tentang penderitaan harus diketahui sepenuhnya dengan pengetahuan jernih ’ Bagi-Ku, para bhiksu, ketika Aku memberikan perhatian yang bijaksana pada dharma-dharma yang tidak didengar sebelumnya ini, penglihatan muncul, dan pengetahuan, realisasi, dan pencerahan muncul. (5)

 “‘Kebenaran mulia tentang asal mula penderitaan harus ditinggalkan dengan pengetahuan jernih,” Bagi-Ku, para bhiksu, ketika Aku memberikan perhatian yang bijaksana pada dharma-dharma yang tidak didengar sebelumnya ini, penglihatan muncul, dan pengetahuan, realisasi, dan pencerahan muncul. (6)

 “‘Kebenaran mulia tentang lenyapnya penderitaan harus dilihat dengan pengetahuan jernih,” Bagi-Ku, para bhiksu, ketika Aku memberikan perhatian yang bijaksana pada dharma-dharma yang tidak didengar sebelumnya ini, penglihatan muncul, dan pengetahuan, realisasi, dan pencerahan muncul. (7)

 “‘Kebenaran mulia tentang Jalan menuju lenyapnya penderitaan  harus dikembangkan dengan pengetahuan jernih,” Bagi-Ku, para bhiksu, ketika Aku memberikan perhatian yang bijaksana pada dharma-dharma yang tidak didengar sebelumnya ini, penglihatan muncul, dan pengetahuan, realisasi, dan pencerahan muncul. (8)

 “‘Kebenaran mulia tentang penderitaan telah diketahui sepenuhnya dengan pengetahuan jernih,” Bagi-Ku, para bhiksu, ketika Aku memberikan perhatian yang bijaksana pada dharma-dharma yang tidak didengar sebelumnya ini, penglihatan muncul, dan pengetahuan, realisasi, dan pencerahan muncul. (9)

 “‘Kebenaran mulia tentang asal mula penderitaan telah ditinggalkan dengan pengetahuan jernih,” Bagi-Ku, para bhiksu, ketika Aku memberikan perhatian yang bijaksana pada dharma-dharma yang tidak didengar sebelumnya ini, penglihatan muncul, dan pengetahuan, realisasi, dan pencerahan muncul. (10)

 “‘Kebenaran mulia tentang lenyapnya penderitaan telah dilihat dengan pengetahuan jernih,” Bagi-Ku, para bhiksu, ketika Aku memberikan perhatian yang bijaksana pada dharma-dharma yang tidak didengar sebelumnya ini, penglihatan muncul, dan pengetahuan, realisasi, dan pencerahan muncul. (11)

 “‘Kebenaran mulia tentang Jalan menuju lenyapnya penderitaan telah dikembangkan dengan pengetahuan jernih,” Bagi-Ku, para bhiksu, ketika Aku memberikan perhatian yang bijaksana pada dharma-dharma yang tidak didengar sebelumnya ini, penglihatan muncul, dan pengetahuan, realisasi, dan pencerahan muncul. (12)

 “Selama, para bhiksu, mengenai empat kebenaran mulia ini, dengan tiga tahapan dan dua belas aspeknya, penglihatan tidak muncul, ataupun pengetahuan, ataupun realisasi, ataupun pencerahan tidak muncul, selama itu juga, di dunia ini dengan para dewa, para Mara, dan para Brahma-nya, dengan para pertapa dan Brahmana-nya, generasi ini dengan para dewa dan manusianya, Aku tidak terbebaskan, sampai pada tujuan, terlepas, terbebas, tanpa dibelenggu, dengan pikiran yang tidak berubah, dan Aku, para bhiksu, tidak menyatakan telah tercerahkan dalam Pencerahan Sempurna yang tiada bandingnya.”

 “Tetapi ketika, para bhiksu, mengenai empat kebenaran mulia ini dengan tiga tahapan dan dua belas aspeknya, penglihatan muncul, juga pengetahuan, realisasi, dan pencerahan muncul, maka, di dunia ini dengan para dewa, para Mara, dan para Brahma-nya, dengan para pertapa dan Brahmana-nya, generasi ini dengan para dewa dan manusianya, Aku telah terbebaskan, sampai pada tujuan, terlepas, terbebas, tanpa dibelenggu, dengan pikiran yang tidak berubah, dan Aku, para bhiksu, menyatakan telah tercerahkan dalam Pencerahan Sempurna yang tiada bandingnya.”
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.185
  • Reputasi: 61
  • Gender: Male
Re: Catusparisat Sutra
« Reply #5 on: 15 August 2018, 07:17:53 PM »
13. Kauṇḍinya memahami Dharma

Ketika pembabaran dharma ini telah diberikan, Yang Mulia Kauṇḍinya mencapai Mata Dharma yang murni dan tidak ternoda tentang prinsip-prinsip Ajaran, bersama-sama dengan 80.000 dewa.

Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada Yang Mulia Kauṇḍinya:
 “Kauṇḍinya, apakah kamu memahami Dharma dengan sepenuhnya?”

 “Saya memahami dengan sepenuhnya, Bhagava.”

 “Kauṇḍinya, apakah kamu memahami Dharma dengan sepenuhnya?”

 “Saya memahami dengan sepenuhnya, Sugata.”

“Dharma telah dipahami dengan sepenuhnya oleh Yang Mulia Kauṇḍinya, oleh sebab itu Yang Mulia Kauṇḍinya disebut ‘Ājñāta-Kauṇḍinya’.”

Dharma telah dipahami dengan sepenuhnya oleh Yang Mulia Kauṇḍinya. Maka para Yaksha yang tinggal di bumi berseru:
“Tuan-tuan, di Benares, di Peristirahatan Resi di Taman Rusa, Roda Dharma dengan tiga tahapan dan dua belas aspek telah diputar dengan benar oleh Sang Bhagavā, yang tidak dapat dihentikan oleh petapa atau brahmana atau deva atau Māra atau Brahmā atau siapa pun di dunia. Ini adalah untuk kesejahteraan banyak orang, kebahagiaan banyak orang, didorong oleh welas asih demi manfaat dan kesejahteraan dan kebahagiaan dunia, dengan dewa dan manusianya. Sehingga perkumpulan dewa akan tumbuh, sementara perkumpulan asura akan menciut.”

Setelah mendengar seruan Yaksha yang tinggal di bumi, Yaksha yang tinggal di langit mengulang seruan itu untuk didengar dan diulang oleh Empat Maha Raja Dewa , Alam Tiga Puluh Tiga Dewa , Yama, Tusita, Alam Penikmat Ciptaan Sendiri , Alam Penikmat Ciptaan Yang Lain . Pada saat itu, momen itu, waktu itu juga, seruan itu mencapai sejauh alam Brahma.

Para dewa di alam Surga Perkumpulan Dewa Brahma berseru:
“Tuan-tuan, di Benares, di Peristirahatan Resi di Taman Rusa, Roda Dharma dengan tiga tahapan dan dua belas aspek telah diputar dengan benar oleh Sang Bhagavā, yang tidak dapat dihentikan oleh petapa atau brahmana atau deva atau Māra atau Brahmā atau siapa pun di dunia. Ini adalah untuk kesejahteraan banyak orang, kebahagiaan banyak orang, didorong oleh welas asih demi manfaat dan kesejahteraan dan kebahagiaan dunia, dengan dewa dan manusianya. Sehingga perkumpulan dewa akan tumbuh, sementara perkumpulan asura akan menciut.”

Di Benares, di Peristirahatan Resi di Taman Rusa, Sang Bhagava telah memutar dengan benar Roda Dharma dengan tiga tahapan dan dua belas aspeknya. Maka dari itu pembabaran Dharma ini disebut “Pemutaran Roda Dharma”.

14. Empat Kebenaran Mulia Secara Rinci

Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada lima bhiksu itu:

 “Terdapat, para bhiksu, empat kebenaran mulia. Apakah empat hal itu?

 “Kebenaran mulia tentang penderitaan, asal mula penderitaan, lenyapnya penderitaan, dan jalan menuju lenyapnya penderitaan.

 “Apakah kebenaran mulia tentang penderitaan?

 “Kelahiran adalah penderitaan, usia tua adalah penderitaan, sakit adalah penderitaan, kematian adalah penderitaan, berpisah dari yang disenangi adalah penderitaan, berkumpul dengan yang tidak disenangi adalah penderitaan, mencari tetapi tidak mendapatkan apa yang diinginkan adalah penderitaan. Secara singkat, lima kelompok unsur kehidupan yang berkaitan dengan kemelekatan  adalah penderitaan. Untuk memahami sepenuhnya hal ini, jalan mulia berunsur delapan harus dikembangkan.

 “Apakah kebenaran mulia tentang asal mula penderitaan?

 “Keinginan yang berhubungan dengan kelahiran kembali, yang bersama dengan kenikmatan dan nafsu, yang menyenangi di sini dan di sana. Untuk meninggalkan hal ini, jalan mulia berunsur delapan harus dikembangkan.

 “Apakah kebenaran mulia tentang lenyapnya penderitaan?

 “Ini adalah meninggalkan sepenuhnya keinginan itu yang berhubungan dengan kelahiran kembali, berkaitan dengan kenikmatan dan nafsu, yang menyenangi di sini dan di sana; pelepasan, penghancuran, pelenyapan, memudarnya, penghentian, penenangan, dan mengakhirinya. Untuk melihat hal ini, jalan mulia berunsur delapan harus dikembangkan.

 “Apakah kebenaran mulia tentang jalan menuju lenyapnya penderitaan?

 “Ini adalah jalan mulia berunsur delapan, yaitu pandangan benar, kehendak benar, perkataan benar, perbuatan benar, pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar, dan samādhi benar. Ini harus dikembangkan.”

Ketika pembabaran Dharma ini diberikan, pikiran Yang Mulia Ājñāta-Kauṇḍinya terbebaskan dari kekotoran tanpa kemelekatan, dan untuk sisa dari lima bhiksu itu Mata Dharma yang murni dan tidak bernoda tentang prinsip-prinsip Ajaran muncul. Pada waktu itu terdapat seorang Arahant di dunia; Sang Bhagavā adalah yang kedua.

15. Khotbah tentang Bukan Diri

Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada sisa dari lima bhiksu itu:

 “Para bhiksu, bentuk fisik bukanlah diri. Karena jika bentuk adalah diri, maka bentuk tidak akan menyebabkan kesusahan dan penderitaan, dan seseorang tidak dapat mengatur bentuk, ‘Biarlah bentukku seperti ini; biarlah bentukku tidak seperti ini.’

“Tetapi karena, para bhiksu, bentuk adalah bukan-diri, maka bentuk menyebabkan kesusahan dan penderitaan, dan adalah tidak mungkin seseorang dapat mengatur bentuk, ‘Biarlah bentukku seperti ini; biarlah bentukku tidak seperti ini.’

“Dan seterusnya juga berlaku untuk perasaan, pencerapan, dan bentukan-bentukan kehendak. Para bhiksu, kesadaran adalah bukan diri. Karena jika kesadaran adalah diri, maka kesadaran tidak akan menyebabkan kesusahan dan penderitaan, dan adalah mungkin untuk seseorang dapat mengatur kesadaran, ‘Biarlah kesadaranku seperti ini; biarlah kesadaranku tidak seperti ini.’

“Tetapi, para bhiksu, karena kesadaran adalah bukan-diri, maka kesadaran menyebabkan kesusahan dan penderitaan, dan adalah tidak mungkin seseorang mengatur kesadaran, ‘Biarlah kesadaranku seperti ini; biarlah kesadaranku tidak seperti ini.’

“Bagaimana menurut kalian, para bhiksu, apakah bentuk adalah kekal atau tidak kekal?”—“Tidak kekal, Yang Mulia.”

“Dan lalu, apakah yang tidak kekal adalah penderitaan atau bukan?”

“Penderitaan, Yang Mulia.”

“Dan berikutnya, apakah layak bagi siswa mulia yang terpelajar untuk menganggap sebagai diri, sesuatu yang tidak kekal, penderitaan, dan tunduk pada perubahan, [mengatakan]: ‘Ini milikku, ini aku, ini diriku’?”

“Tidak, Yang Mulia.”

“Dan seterusnya yaitu perasaan, pencerapan, bentukan-bentukan kehendak, atau kesadaran; apakah kekal atau tidak kekal?
“Tidak kekal, Yang Mulia.”

“Dan lalu, apakah yang tidak kekal adalah penderitaan atau bukan?”
“Penderitaan, Yang Mulia.”

“Dan berikutnya, apakah layak bagi siswa mulia yang terpelajar untuk menganggap sebagai diri, sesuatu yang tidak kekal, penderitaan, dan tunduk pada perubahan, [mengatakan]: ‘Ini milikku, ini aku, ini diriku’?”
“Tidak, Yang Mulia.”

“Oleh karena itu, para bhiksu, bentuk apa pun juga, apakah di masa lalu, di masa depan, atau di masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau dekat, segala bentuk harus dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’

“Dan juga berlaku untuk perasaan apa pun juga, pencerapan apa pun juga, bentukan-bentukan kehendak apa pun juga. Kesadaran apa pun juga, apakah di masa lalu, di masa depan, atau di masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau dekat, segala kesadaran harus dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’

“Ketika, para bhiksu, seorang siswa mulia yang terpelajar merenungkan lima kelompok unsur kehidupan yang berkaitan dengan kemelekatan sebagai ‘Ini bukan aku, ini bukan milikku’, sehingga merenungkan demikian, ia tidak melekat pada apapun di dunia. Tidak melekat mereka tidak cemas. Tidak cemas mereka menjadi padam dalam dirinya sendiri, dan mengerti: ‘Kelahiran telah berakhir bagiku, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi kelahiran kembali ke alam keberadaan ini.’

Ketika pembabaran Dharma ini diberikan, pikiran sisa dari lima bhiksu terbebaskan dari kekotoran, tanpa kemelekatan. Pada waktu itu terdapat lima Arahant di dunia; Sang Bhagavā adalah yang keenam.
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.185
  • Reputasi: 61
  • Gender: Male
Re: Catusparisat Sutra
« Reply #6 on: 15 August 2018, 07:21:17 PM »
16. Yasa Datang untuk Berlindung

Sekarang, pada saat itu seorang putra dari keluarga paling terpandang tinggal di Benares, ia bernama Yaśa. Ia menikmati kesenangan setiap hari dihibur oleh musik yang dimainkan seluruhnya oleh para perempuan.

Kemudian, lelah dan penat oleh hiburan, ia jatuh tertidur di tempat itu juga. Dan para perempuan juga, lelah, capek, dan penat, jatuh tertidur di tempat itu juga.

Di tengah malam Yaśa sang putra keluarga paling terpandang bangun dari tidurnya dan melihat para perempuan bergelimpangan, pakaian tersingkap, rambutnya awut-awutan dan tangan terkapar, telanjang, mengigau.

Ketika ia melihat hal ini, kamar tidurnya sendiri terlihat seperti tanah pekuburan. Kemudian Yaśa sang putra keluarga paling terpandang turun dari ranjang mewahnya, mengenakan sepasang sandal yang dihiasi 100.000 permata, dan berjalan ke pintu kamarnya. Selagi berjalan ia mengucapkan: “Saya tertekan! Saya muak, tuan-tuan!” Lalu bukan-manusia membukakan pintu dan tiada suara terdengar.

Kemudian Yaśa sang putra keluarga paling terpandang berjalan menuju pintu rumah. Selagi berjalan ia mengucapkan: “Saya tertekan! Saya muak, tuan-tuan!” Lalu bukan-manusia membukakan pintu dan tiada suara terdengar.

Kemudian Yaśa sang putra keluarga paling terpandang berjalan menuju gerbang kota. Selagi berjalan ia mengucapkan: “Saya tertekan! Saya muak, tuan-tuan!” Lalu bukan-manusia membukakan gerbang dan tiada suara terdengar.

Kemudian Yaśa sang putra keluarga paling terpandang pergi ke tepi sungai Bārakāya.

Sekarang, pada saat itu Sang Bhagavā sedang berada di sisi seberang sungai Bārakāya melakukan meditasi jalan di jalur di udara terbuka di luar kediamanNya. Yaśa sang putra keluarga paling terpandang melihat Sang Bhagavā di kejauhan. Melihat Beliau, ia kembali berucap: “Saya tertekan petapa! Saya muak, petapa!”

Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada Yaśa sang putra keluarga paling terpandang: “Kemarilah anak muda, ini tidak menekan. Ini tidak memuakkan.”

Kemudian Yaśa sang putra keluarga paling terpandang melepaskan sepasang sandalnya yang dihiasi 100.000 permata, menyebrang sungai Bārakāya lewat bagian dangkalnya ke tepi sebrang, dan mendekati Sang Bhagavā.

Ia bersujud di kaki Sang Bhagavā dan berdiri di satu sisi. Kemudian Sang Bhagavā membawa Yaśa sang putra keluarga paling terpandang ke kediamanNya dan duduk di tempat yang sudah disediakan.

Kemudian Sang Bhagavā memberikan khotbah dharma yang menginspirasi, menyemangati, mendorong, dan menggembirakan Yaśa sang putra keluarga paling terpandang, dengan topik yang dahulu juga diajarkan oleh Buddha dan Bhagavān yang sudah berlalu, yaitu: uraian tentang kedermawanan, moralitas, tentang surga, dan mengenai manfaat dan kerugian dari kenikmatan-indria; Beliau menjelaskan dengan rinci hal-hal berkaitan dengan kekotoran dan pemurnian.

Dan ketika Sang Bhagavā mengetahui bahwa pikiran Yaśa telah kokoh, siap, lunak, bebas dari rintangan; bahwa ia mampu dan sanggup untuk memahami sepenuhnya ajaran Dharma yang istimewa, maka Beliau kemudian menguraikan dengan rinci empat kebenaran mulia yang adalah Ajaran Dharma istimewa milik Buddha, Yang Terberkahi, yaitu:  tentang penderitaan, asal-mulanya, lenyapnya, dan Sang Jalan.
Bagaikan sehelai kain bersih yang bebas dari noda akan dapat diwarnai dengan baik, dengan cara yang sama Yaśa sang putra keluarga paling terpandang selagi masih duduk di sana menembus empat kebenaran mulia, yaitu:  tentang penderitaan, asal-mulanya, lenyapnya, dan Sang Jalan.

Kemudian Yaśa sang putra keluarga paling terpandang melihat Dharma, mencapai Dharma, merealisasi Dharma, memahami Dharma; ia menyebrangi keraguan, tidak bergantung pada orang lain, tidak dituntun oleh orang lain, mencapai keyakinan sempurna dalam Dharma dalam Ajaran Sang Guru.  Bangkit dari tempat duduknya ia mengatur jubahnya di satu sisi dan merangkapkan tangan dalam sikap anjali kepada Sang Bhagavā dan berkata:

“Saya terpukau, O Yang Mulia, sungguh menakjubkan! Saya pergi berlindung kepada Sang Bhagavā dan kepada Dharma dan kepada Sangha bhiksu. Sejak saat ini, dan selama aku hidup dan bernapas, ingatlah aku sebagai siswa awam yang telah berlindung dengan keyakinan.”

17. Ayah dari Yaśa

Seorang gadis dari kumpulan harem melihat bahwa sang pemuda Yaśa tidak ada di ranjang mewahnya. Ia pergi menemui kepala rumah tangga  dari keluarga paling terpandang itu, dan berkata: “Tuan, ketahuilah bahwa pemuda Yaśa tidak terlihat di ranjang mewahnya.”

Kemudian kepala rumah tangga dari keluarga paling terpandang itu berpikir: “Semoga pemuda ini tidak diculik oleh pencuri atau bandit, dan semoga dia tidak pergi karena keinginannya sendiri!” Menyadari ini dia mengutus kurir berkuda ke empat penjuru dan dia sendiri membawa lampu di tangan ditemani seorang laki-laki, pergi ke tepi sungai Bārakāya.

Kepala rumah tangga dari keluarga paling terpandang itu melihat sandal yang dihiasi 100.000 permata ditinggalkan di tepi sungai Bārakāya, dan kembali dia berpikir: “Semoga pemuda ini tidak diculik oleh pencuri atau bandit, dan semoga dia tidak pergi karena keinginannya sendiri! Dan semoga pemuda ini tidak menyebrang sungai Bārakāya lewat bagian dangkalnya.”

Kemudian kepala rumah tangga dari keluarga paling terpandang menyebrang sungai Bārakāya lewat bagian dangkalnya yang sama dan mendekati Sang Bhagavā.

Sang Bhagavā melihat kepala rumah tangga dari keluarga paling terpandang itu dari kejauhan, dan Ia berpikir seperti ini: “Mengapa aku tidak melakukan suatu keajaiban sehingga kepala rumah tangga dari keluarga paling terpandang tidak dapat melihat Yaśa sang putra keluarga paling terpandang, walaupun ia duduk tepat disini?”

Kemudian Sang Bhagavā melakukan suatu keajaiban sehingga kepala rumah tangga dari keluarga paling terpandang tidak dapat melihat Yaśa sang putra keluarga paling terpandang, walaupun ia duduk tepat disitu.

Kemudian kepala rumah tangga dari keluarga paling terpandang mendekati Sang Bhagavā dan berkata:
“Apakah Sang Bhagavā melihat pemuda Yaśa? “

[Buddha] “Perumahtangga, duduklah. Mungkin saja dengan duduk disini di tempat ini anda akan dapat melihat pemuda Yaśa.”

Kemudian kepala rumah tangga dari keluarga paling terpandang berpikir, “Tentunya Sang Bhagavā sudah melihat pemuda Yaśa, karena Ia mengatakan, “Perumahtangga, duduklah. Mungkin saja dengan duduk disini di tempat ini anda akan dapat melihat pemuda Yaśa.” Menyadari hal ini ia bergembira, senang, bahagia, dipenuhi oleh sukacita, lalu ia bersujud dengan kepalanya di kaki Sang Bhagavā dan berdiri di satu sisi.

Sang Bhagavā memberikan khotbah Dharma yang menginspirasi, menyemangati, mendorong, dan menggembirakan kepada kepala rumah tangga dari keluarga paling terpandang yang duduk di satu sisi, dengan topik yang dahulu juga diajarkan oleh Buddha dan Bhagavān yang sudah berlalu, yaitu: uraian tentang kedermawanan, moralitas, tentang surga, dan mengenai manfaat dan kerugian dari kenikmatan-indria; Beliau menjelaskan dengan rinci hal-hal berkaitan dengan kekotoran dan pemurnian. Dan ketika Sang Bhagavā mengetahui bahwa pikiran kepala rumah tangga telah kokoh, siap, lunak, bebas dari rintangan; bahwa ia mampu dan sanggup untuk memahami sepenuhnya ajaran Dharma yang istimewa, maka Beliau kemudian menguraikan dengan rinci empat kebenaran mulia yang adalah Ajaran Dharma istimewa milik Buddha, Yang Terberkahi, yaitu:  tentang penderitaan, asal-mulanya, lenyapnya, dan Sang Jalan. Bagaikan sehelai kain bersih yang bebas dari noda akan dapat diwarnai dengan baik, dengan cara yang sama kepala rumah tangga keluarga paling terpandang selagi masih duduk di sana menembus empat kebenaran mulia, yaitu:  tentang penderitaan, asal-mulanya, lenyapnya, dan Sang Jalan.

Kemudian kepala rumah tangga dari keluarga paling terpandang melihat Dharma, mencapai Dharma, merealisasi Dharma, memahami Dharma; ia menyebrangi keraguan, tidak bergantung pada orang lain, tidak dituntun oleh orang lain, mencapai keyakinan sempurna dalam Dharma dalam Ajaran Sang Guru.  Bangkit dari tempat duduknya ia mengatur jubahnya di satu sisi dan merangkapkan tangan dalam sikap anjali kepada Sang Bhagavā dan berkata:

“Saya terpukau, O Yang Mulia, sungguh menakjubkan! Saya pergi berlindung kepada Sang Bhagavā dan kepada Dharma dan kepada Sangha bhiksu. Sejak saat ini, dan selama aku hidup dan bernapas, ingatlah aku sebagai siswa awam yang telah berlindung dengan keyakinan.”
Sekarang ketika pembabaran Dharma tersebut sedang diajarkan, Mata Dharma yang murni dan tidak ternoda tentang prinsip-prinsip Ajaran muncul dalam kepala rumah tangga dari keluarga paling terpandang itu; dan pikiran pemuda Yaśa terbebaskan dari kekotoran, tanpa kemelekatan.

Kemudian Sang Bhagavā membatalkan tindakan keajaiban [yang menyembunyikan Yaśa] dan pada saat itu mengucapkan bait ini:
"Walaupun seseorang berpakaian penuh hiasan,
tetapi pikirannya tenang, terjinakkan, terkendali, spiritual
dan tidak lagi menyakiti makhluk lain,
sesungguhnya ia adalah seorang brahmana, seorang samana, seorang bhiksu."


Kemudian kepala rumah tangga dari keluarga paling terpandang berkata kepada pemuda Yaśa:

“Marilah, anak muda, mari kita pulang. Ibumu sudah lelah menangis.”

Kemudian Sang Bhagavā mengatakan ini kepada kepala rumah tangga dari keluarga paling terpandang itu:
“Bagaimana menurutmu, perumahtangga? Apakah seseorang yang sudah menembus empat kebenaran mulia – penderitaan, asal-mulanya, lenyapnya, dan Sang Jalan – dengan pengetahuan dan penglihatan yang melampaui seseorang yang masih berlatih, akan tinggal di rumah menikmati barang kepemilikan atau menikmati kesenangan indria?”

“Tidak, Yang Mulia.”

“Anda, perumahtangga, sudah menembus empat kebenaran mulia - penderitaan, asal-mulanya, lenyapnya, dan Sang Jalan – dengan pengetahuan dan penglihatan yang dari seseorang yang masih berlatih, sedangkan pemuda Yaśa telah menembus empat kebenaran mulia - penderitaan, asal-mulanya, lenyapnya, dan Sang Jalan – dengan pengetahuan dan penglihatan dari seseorang yang melampaui latihan.”

 “Sebuah keuntungan, Yang Mulia, keuntungan besar untuk pemuda Yaśa bahwa dia telah menembus empat kebenaran mulia - penderitaan, asal-mulanya, lenyapnya, dan Sang Jalan – dengan pengetahuan dan penglihatan dari seseorang yang melampaui latihan!”

“Adalah baik jika Sang Bhagavā dengan ditemani Yaśa sebagai petapa pendamping sudi datang ke rumah keluarga paling terpandang ini demi welas asih.” Sang Bhagavā menyetujui dengan berdiam diri kepada kepala rumah tangga dari keluarga paling terpandang.

 Mengetahui bahwa Sang Bhagavā  telah setuju dengan berdiam diri, kepala rumah tangga dari keluarga paling terpandang itu bersujud dengan kepalanya di kaki Sang Bhagavā dan pergi.

Sekarang pada saat itu ada enam arahant di dunia, dengan Sang Bhagavā sebagai yang ketujuh.

18. Mengunjungi Rumah Yaśa

Kemudian setelah malam itu berlalu, Sang Bhagavā pergi bersama Yang Mulia Yaśa sebagai petapa pendamping ke rumah kepala rumah tangga dari keluarga paling terpandang.

Bibi dan mantan istri dari Yang Mulia Yaśa melihat Sang Bhagavā dari kejauhan.

Kemudian mereka menyiapkan tempat duduk untuk Sang Bhagavā, dan berkata: “Silahkan Sang Bhagavā duduk di tempat duduk yang sudah disediakan.” Kemudian Sang Bhagavā duduk di tempat yang sudah disediakan.

Kemudian Bibi dan mantan istri dari Yang Mulia Yaśa bersujud dengan kepala mereka di kaki Sang Bhagavā dan duduk di satu sisi.
Selagi mereka duduk di satu sisi, Sang Bhagavā memberikan khotbah dharma yang menginspirasi, menyemangati, mendorong, dan menggembirakan bibi dan mantan istri dari Yang Mulia Yaśa, dengan topik yang dahulu juga diajarkan oleh Buddha dan Bhagavān yang sudah berlalu, yaitu: uraian tentang kedermawanan, moralitas, tentang surga, dan mengenai manfaat dan kerugian dari kenikmatan-indria, hal-hal berkaitan dengan kekotoran dan pemurnian, tentang pelepasan keduniawian dan penyunyian, dan manfaat dari sisi permurnian; uraian Dharma dijelaskan dengan rinci.

Dan ketika Sang Bhagavā mengetahui bahwa pikiran mereka telah kokoh, siap, lunak, bebas dari rintangan; bahwa mereka mampu dan sanggup untuk memahami sepenuhnya ajaran Dharma yang istimewa, maka Beliau kemudian menguraikan dengan rinci empat kebenaran mulia yang adalah Ajaran Dharma istimewa milik Buddha, Yang Terberkahi, yaitu:  tentang penderitaan, asal-mulanya, lenyapnya, dan Sang Jalan.
Bagaikan sehelai kain bersih yang bebas dari noda akan dapat diwarnai dengan baik, dengan cara yang sama bibi dan mantan istri dari Yang Mulia Yaśa selagi masih duduk di sana menembus empat kebenaran mulia, yaitu:  tentang penderitaan, asal-mulanya, lenyapnya, dan Sang Jalan.

Kemudian bibi dan mantan istri dari Yang Mulia Yaśa melihat Dharma, mencapai Dharma, merealisasi Dharma, memahami Dharma; mereka menyebrangi keraguan, tidak bergantung pada orang lain, tidak dituntun oleh orang lain, mencapai keyakinan sempurna dalam Dharma dalam Ajaran Sang Guru. Bangkit dari tempat duduknya mereka mengatur jubahnya di satu sisi dan merangkapkan tangan dalam sikap anjali kepada Sang Bhagavā dan berkata:

“Kami terpukau, O Yang Mulia, sungguh menakjubkan! Kami pergi berlindung kepada Sang Bhagavā dan kepada Dharma dan kepada Sangha bhiksu. Sejak saat ini, dan selama kami hidup dan bernapas, ingatlah kami sebagai siswa awam yang telah berlindung dengan keyakinan.”

Kemudian Sang Bhagavā, setelah memberikan khotbah Dharma yang menginspirasi, menyemangati, mendorong, dan menggembirakan bibi dan mantan istri dari Yang Mulia Yaśa, bangkit dari tempat dudukNya dan pergi.
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.185
  • Reputasi: 61
  • Gender: Male
Re: Catusparisat Sutra
« Reply #7 on: 15 August 2018, 07:23:55 PM »
19. Pelepasan Keduniawian Pūrṇa, Vimala, Gavāṃpati, and Subāhu

Putra-putra dari keluarga terpandang nomor dua, tiga, empat, dan lima di Benares – yaitu Pūrṇa, Vimala, Gavāṃpati, and Subāhu— mendengar bahwa Yaśa putra dari keluarga paling terpandang telah mencukur rambut dan jangutnya, memakai jubah yang dicelup, dan telah dengan benar melepaskan keduniawian dari kehidupan rumahtangga ke kehidupan tanpa-rumah. 

Mereka berpikir: “Buddha ini pastilah bukan orang biasa, dan ini pastilah bukan pengumuman Dharma biasa, jika Yaśa putra dari keluarga paling terpandang, yang lembut dan anggun, setelah mendengar Dharma, telah mencukur rambut dan jangutnya, memakai jubah yang dicelup, dan telah dengan benar melepaskan keduniawian dari kehidupan rumahtangga ke kehidupan tanpa-rumah.”

Kemudian putra-putra dari keluarga terpandang nomor dua, tiga, empat, dan lima di Benares – yaitu Pūrṇa, Vimala, Gavāṃpati, and Subāhu – mendekati Sang Bhagavā, bersujud dengan kepala mereka di kakiNya, dan berdiri di satu sisi.

Berdiri di satu sisi, Pūrṇa, Vimala, Gavāṃpati, and Subāhu berkata kepada Sang Bhagavā:
“Yang Mulia, kami berkeinginan untuk mendapatkan pelepasan keduniawian, memasuki kebhiksuan di dalam Dharma dan Vinaya yang diuraikan dengan baik. Kami akan menjalani kehidupan suci di bawah Sang Bhagavā.”

[Buddha:] “Yang Mulia, anda sekalian telah mendapatkan pelepasan keduniawian, memasuki kebhiksuan di dalam Dharma dan Vinaya yang diuraikan dengan baik. Sekarang anda sekalian telah melepaskan keduniawian, Yang Mulia, kalian harus berdiam dalam kesendirian, mengasingkan diri, waspada, tekun, dan bersungguh-sungguh.”

Kemudian, dengan berdiam sendirian, mengasingkan diri, waspada, tekun, dan bersungguh-sungguh, mereka merealisasikannya untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam kehidupan ini masuk dan berdiam dalam tujuan tertinggi dari kehidupan suci yang dicari oleh putra-putra keluarga ini ketika mereka mencukur rambut dan jangutnya, memakai jubah yang dicelup, dan telah dengan benar meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah. Mereka secara langsung mengetahui: “Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi kelahiran kembali ke keberadaan ini.”

Sekarang pada saat itu ada sepuluh arahant di dunia, dengan Sang Bhagavā sebagai yang kesebelas.

20. Pelepasan Keduniawian 50 Pemuda

Lima puluh putra terbaik dari Benares mendengar bahwa Yaśa sang putra dari keluarga paling terpandang, dan putra-putra dari keluarga terpandang nomor dua, tiga, empat, dan lima di Benares – yaitu Pūrṇa, Vimala, Gavāṃpati, and Subāhu – telah mencukur rambut dan jangutnya, memakai jubah yang dicelup, dan telah dengan benar melepaskan keduniawian dari kehidupan rumah tangga ke kehidupan tanpa-rumah.
Mereka berpikir: “Buddha ini pastilah bukan orang biasa, dan ini pastilah bukan pengumuman Dharma biasa, jika Yaśa, Pūrṇa, Vimala, Gavāṃpati, and Subāhu, yang lembut dan anggun, setelah mendengar Dharma, telah mencukur rambut dan jangutnya, memakai jubah yang dicelup, dan telah dengan benar melepaskan keduniawian dari kehidupan rumahtangga ke kehidupan tanpa-rumah.”

Kemudian mereka mendekati Sang Bhagavā, bersujud dengan kepala mereka di kakiNya, dan berdiri di satu sisi.

Berdiri di satu sisi, lima puluh pemuda terbaik berkata kepada Sang Bhagavā:
“Yang Mulia, kami berkeinginan untuk mendapatkan pelepasan keduniawian, memasuki kebhiksuan di dalam Dharma dan Vinaya yang diuraikan dengan baik. Kami akan menjalani kehidupan suci di bawah Sang Bhagavā.”

[Buddha:] “Yang Mulia, anda sekalian telah mendapatkan pelepasan keduniawian, memasuki kebhiksuan di dalam Dharma dan Vinaya yang diuraikan dengan baik. Sekarang anda sekalian telah melepaskan keduniawian, Yang Mulia, kalian harus berdiam dalam kesendirian, mengasingkan diri, waspada, tekun, dan bersungguh-sungguh.”

Kemudian, dengan berdiam sendirian, mengasingkan diri, waspada, tekun, dan bersungguh-sungguh, mereka merealisasikan untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam kehidupan ini masuk dan berdiam dalam tujuan tertinggi dari kehidupan suci yang dicari oleh putra-putra keluarga ini ketika mereka mencukur rambut dan jangutnya, memakai jubah yang dicelup, dan telah dengan benar meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menjalani kehidupan tanpa rumah. Mereka secara langsung mengetahui: “Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak ada lagi kelahiran kembali ke keberadaan ini.”

Sekarang pada saat itu ada enam puluh arahant di dunia, dengan Sang Bhagavā sebagai yang ke enam puluh satu.

21. Sang Buddha Mendorong para Bhiksu untuk Mengembara, dan Berangkat Menuju Uruvela

Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada para bhiksu: “Para bhiksu, Aku telah terbebaskan dari segala jerat, baik surgawi maupun manusiawi. Kalian juga, para bhiksu, telah terbebaskan dari segala jerat, baik surgawi maupun manusiawi. Mengembaralah, O para bhiksu, demi kesejahteraan banyak makhluk, demi kebahagiaan banyak makhluk, demi belas kasihan terhadap dunia, demi kebaikan, kesejahteraan dan kebahagiaan para deva dan manusia. Janganlah dua orang pergi ke jalan yang sama. Aku juga, akan pergi ke Uruvelā di desa Senāyana.”

Kemudian Māra si Jahat mempunyai pikiran buruk: “Sang Bhagava telah berkata demikian kepada para bhiksu: ‘Para bhiksu, Aku telah terbebaskan dari segala jerat, baik surgawi maupun manusiawi. Kalian juga, para bhiksu, telah terbebaskan dari segala jerat, baik surgawi maupun manusiawi. Mengembaralah, O para bhiksu, demi kesejahteraan banyak makhluk, demi kebahagiaan banyak makhluk, demi belas kasihan terhadap dunia, demi kebaikan, kesejahteraan dan kebahagiaan para deva dan manusia. Janganlah dua orang pergi ke jalan yang sama. Aku juga, akan pergi ke Uruvelā di desa Senāyana.’ Bagaimana jika aku mendekati Dia dan menampakkan sebuah visi?”

Kemudian Māra si Jahat mengubah tubuhnya menjadi berpenampilan seorang siswa dan mendekati Sang Bhagavā.

Setelah mendekat pada saat itu dia berkata dalam syair:
“Tidak bebas, Ia menganggap dirinya bebas,
Bagaimana Ia dapat membayangkan dirinya bebas?
Engkau terikat oleh belenggu kuat:
Engkau tidak dapat lolos dariku, Petapa!”


Kemudian Sang Bhagavā berpikir demikian: “Māra si Jahat telah datang mendekatiKu dan menciptakan sebuah visi.” Mengetahui hal ini, Sang Bhagavā pada waktu itu mengucapkan syair ini:

“Aku terbebas dari segala jerat
Baik surgawi maupun manusiawi;
Aku mengetahuimu, si Jahat!
Engkau terkalahkan disini, Pembuat-akhir!”


Kemudian Māra si Jahat berpikir: “Petapa Gautama mengetahuiku dengan cara meliputi pikiranNya dengan pikiranku. Menyadari ini, sedih, depresi, dan menyesal, ia menghilang dari tempat itu.

Sang Bhagavā berkata lagi kepada para bhiksu: “Para bhiksu, Aku telah terbebaskan dari segala jerat, baik surgawi maupun manusiawi. Kalian juga, para bhiksu, telah terbebaskan dari segala jerat, baik surgawi maupun manusiawi. Mengembaralah, O para bhiksu, demi kesejahteraan banyak makhluk, demi kebahagiaan banyak makhluk, demi belas kasihan terhadap dunia, demi kebaikan, kesejahteraan dan kebahagiaan para deva dan manusia. Janganlah dua orang pergi ke jalan yang sama. Aku juga, akan pergi ke Uruvelā di desa Senāyana”

“Ya, Yang Mulia”, para bhiksu itu mematuhi Sang Bhagavā, dan berangkat mengembara ke pelosok negeri.
=====

Selesai
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra