Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Perumpamaan anak kuda liar  (Read 348 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Gwi Cool

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 170
  • Reputasi: -2
  • Terpujilah Sang Buddha
Perumpamaan anak kuda liar
« on: 22 November 2017, 06:54:49 PM »
Ini kisah yang menarik (yang ada) di sutta, mengenai Anak Kuda Liar. Perumpamaan ini Sang Buddha berikan kepada (mengenai) bhikkhu dan guru dari seorang bhikkhu. Di sini sama intinya namun antara orangtua/guru dan anak/murid.

Delapan jenis anak/murid yang serupa dengan anak kuda liar dan delapan cacat (kekurangan/kelemahan) padanya:

1. (a) Ketika orangtua/guru memarahi anak/muridnya atas suatu kesalahan, ia berdalih dengan alasan tidak ingat, dengan mengatakan: “Aku tidak ingat (telah melakukan kesalahan demikian).” (b) Ini serupa dengan anak kuda liar ketika disuruh “Maju!” dan dengan dipacu dan didorong oleh pelatihnya, ia mundur dan memutar kereta ke sekeliling di belakangnya, yaitu mendorong kuk ke atas dengan bahunya, ia mundur, memutar kereta ke sekeliling dengan sisi belakangnya. (Saya mungkin pernah, kayaknya tidak deh.)

2. (a) Ketika orangtua/guru memarahi anak/muridnya atas suatu kesalahan, ia balik memarahi si pengecam: “Hak apa yang engkau, orang bego (dungu) yang tidak kompeten, miliki untuk berbicara? Apakah engkau benar-benar berpikir bahwa engkau boleh mengatakan sesuatu?” (b) Ini serupa dengan anak kuda liar ketika disuruh: “Maju!” dan dengan dipacu dan didorong oleh pelatihnya, ia melompat mundur karenanya merusak palang dan mematahkan tongkat tiga, yaitu menendang dengan kedua kaki belakangnya, menghantam palang kereta, dan merusak palang. Ia mematahkan tongkat tiga, ketiga tongkat di depan kereta. (Ini anak durhaka, saya tidak pernah, ini keterlaluan bangetz.)

3. (a) Ketika orangtua/guru memarahi anak/muridnya atas suatu kesalahan, ia membalikkan kesalahan itu pada orangtua/guru, dengan mengatakan: “Engkau telah melakukan kesalahan itu. Perbaikilah itu terlebih dulu.” (b) Ini serupa dengan anak kuda liar ketika disuruh: “Maju!” dan dengan dipacu dan didorong oleh pelatihnya, ia melonggarkan pahanya dari tiang kereta dan menabrak tiang kereta, yaitu setelah menurunkan kepalanya, ia menjatuhkan kuk ke tanah dan memukul tiang kereta dengan pahanya dan mematahkan tiang kereta dengan kedua kaki depannya. (Saya pernah, sekali saja, sekali-kali.)

4. (a) Ketika orangtua/guru memarahi anak/muridnya atas suatu kesalahan, ia menjawab dengan cara mengelak, mengalihkan pembicaraan pada topik yang tidak berhubungan, dan memperlihatkan kemarahan, kebencian, dan kekesalan. (b) Ini serupa dengan anak kuda liar ketika seekor anak kuda liar disuruh: “Maju!” dan dengan dipacu dan didorong oleh pelatihnya, ia mengambil jalan yang salah dan menarik kereta itu keluar dari jalurnya. (Saya mungkin pernah, tetapi tidak sampai berlebihan.)

5. (a) Ketika orangtua/guru memarahi anak/muridnya atas suatu kesalahan, ia berbicara sambil melambai-lambaikan tangannya (ia tidak menghargai si pembicara, dengan tangan bergerak sana sini) di tengah-tengah keluarga/guru/yang lainnya. (b) Ini serupa dengan anak kuda liar ketika seekor anak kuda liar disuruh: “Maju!” dan dengan dipacu dan didorong oleh pelatihnya, ia melompat dengan bagian depan tubuhnya dan mengais udara dengan kaki-kaki (kuda hanya memiliki kaki/4 kaki) depannya. (Tidak pernah.)

6. (a) Ketika orangtua/guru memarahi anak/muridnya atas suatu kesalahan, ia tidak mematuhi disiplin/peraturan yang ada atau pengecamnya, melainkan pergi ke manapun yang ia suka sambil masih membawa pelanggarannya. (b) Ini serupa dengan anak kuda liar ketika seekor anak kuda liar disuruh: “Maju!” dan dengan dipacu dan didorong oleh pelatihnya, ia tidak mematuhi pelatihnya atau tongkat kendali (cambuk), melainkan menghancurkan kekang mulutnya dengan giginya dan pergi ke manapun yang ia suka. (Tidak pernah.)

7. (a) Ketika orangtua/guru memarahi anak/muridnya atas suatu kesalahan, ia tidak mengatakan, “Aku melakukan kesalahan,” ia juga tidak mengatakan, “Aku tidak melakukan kesalahan,” melainkan ia menjengkelkan keluarga/guru/yang lainnya dengan berdiam diri. (b) Ini serupa dengan anak kuda liar ketika seekor anak kuda liar disuruh: “Maju!” dan dengan dipacu dan didorong oleh pelatihnya, ia tidak berjalan maju atau berbalik, melainkan berdiri diam bagaikan sebuah tiang. (Pernah, takut dimarahi, so pura-pura bego.)

8. Ketika orangtua/guru mengecam anak/muridnya atas suatu kesalahan, ia mengatakan: “Mengapa engkau begitu cerewet tentang aku? Sekarang aku akan menolak disiplin/peraturan yang ada atau minggat/berhenti sekolah.” Kemudian ia menolak disiplin/peraturan yang ada, atau minggat/berhenti sekolah, dan mengatakan: “Sekarang kalian boleh puas!” (a) Ini serupa dengan anak kuda liar ketika seekor anak kuda liar disuruh: “Maju!” dan dengan dipacu dan didorong oleh pelatihnya, ia melipat kaki depan dan kaki belakangnya, dan duduk di sana di atas keempat kakinya. (Tidak pernah.)

Anak yang berbakti kepada orangtua, jumlahnya (biasanya) sedikit. Guru-sekolah (Kimia) saya (penulis) pernah mengatakan: “Murid yang tidak punya sedikit pun rasa hormat kepada gurunya, pasti tidak punya rasa hormat kepada orangtua sendiri.” Apa yang dikatakan guru saya itu benar adanya, anak yang bandal dan tidak punya sopan santun, pastinya di rumah juga demikian. Anak yang kurang ajar kepada guru, pastinya di rumah juga kurang ajar kepada orangtua sendiri.

“Yang kepadanya anak berbakti,
Kepada orangtua dan guru atau wali,
Jumlahnya adalah sedikit sekali,
Dibandingkan mereka yang tidak menghormati,
Bagaikan membandingkan satu bumi,
Dengan sedikit tanah yang diambil dari 2 kuku jari,
Seperti itu jugalah (jumlah) yang menuju alam surgawi,
Banyaknya jatuh ke sana sini.

“Seseorang harusnya dengan rendah hati,
Menghormati yang seharusnya dan tidaknya diketahui,
Bahwa orangtua layak dan adalah lahan jasa sendiri,
Begitu juga dengan para guru biasa dan yang ahli (guru agama),
Kepada mereka, harus dihormati tinggi-tinggi,
Dimana imbalannya adalah cahaya-jasmani.”

Tambahan
Baik sekali anak itu kalau sudah dewasa, harus mengingat jasa orangtuanya, puncaknya berkat orangtualah Anda bisa hidup sekarang ini, dan dapat melakukan kebajikan atau bertemu orang yang dicintai. Apa pun yang pernah terjadi, biarlah orangtua itu dimaafkan (jika Anda pernah tersakiti). Orangtua mungkin lalai atau mungkin karena pekerjaan atau hal lainnya, mereka jadi kesal terhadap Anda, taklah pantas orangtua dijadikan objek dendam karena Sang Buddha mengatakan bahwa: kedua orangtua adalah lahan jasa masing-masing setelah Sangha, lahan jasa yang paling subur. (Mustahil anak yang tidak berbakti kepada orangtua/durhaka dapat terlahir di alam yang baik atau bahkan alam Surga, sebaliknya adalah mungkin, anak yang berbakti kepada orangtua, dapat terlahir di alam yang baik bahkan di alam Surga.)

Dahulu, ada seorang anak (sudah dewasa pastinya), ia merawat ibunya yang tua renta, ia tidak memikirkan keluarganya (tidak menikah) kemudian ibunya mencari pendampingnya dan karena ia menghormati ibunya, ia pun menikahi perempuan itu secara sah agar ibunya gembira. Perempuan itu pun ingin mengusir ibu mertuanya. Ia berkata kepada suaminya: “Siapa yang dapat mengurus ibumu itu?” Namun, anak yang berbakti itu (sang suami), tetap menghormati ibunya, ia berkata: “Ibuku sudah tua, siapa lagi yang dapat merawatnya, selain saya, kamu (istrinya) masih muda, kamu masih bisa merawat diri sendiri.”–Singkatnya, istrinya jadi istri yang patuh seumur hidup. Suaminya tidak mengusir ibunya. (Kisahnya ada di Jataka.)

Demikian pula, beberapa istri mungkin ingin mengusir mertuanya, tetapi seorang anak yang dilahirkan dari darah daging ibunya sendiri, seharusnya tetap berbakti kepada ibunya (orangtuanya) sendiri, tidak durhaka, dalam berbagai cara apa pun, bahkan dibandingkan istri tercinta. Ia harus tetap menghormati orangtuanya sendiri disamping ia mencintai istrinya. (Beberapa suami yang bego mungkin terjebak dengan kecantikan istrinya lalu menelantarkan orangtuanya.) Seorang istri harusnya menghormati suaminya dan mertua adalah yang paling tinggi karena yang melahirkan sang suami. Seorang suami pun seharusnya menghormati (menghargai) istrinya dan orangtua dari istrinya karena menghormati orang yang lebih tua adalah berkah panjang umur, dll.

“Istri yang baik menghormati suaminya,
Dan menghargai kepemimpinan sang kepala keluarga,
Juga, istri yang baik akan menjaga wibawa,
Dirinya sendiri dan sang suami tercinta,
Karena suami itu bagaikan raja (yang dipertuan),
Begitu pula dengan perlakuan kepada mertua,
Karena sang suami hadir dari (dua) orangtua.
Yang derajatnya bagaikan dewa (para dewa akan marah jika orangtua tidak dihormati).”
Yang mau debat, saya diam, dan mengaku kalah karena saya hanyalah makhluk lemah, debat sama yang lain saja.
Mari berbicara Dhamma yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah di akhir. Indah dengan pikiran penuh cinta kasih. Hobiku menggubah syair.