Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Sejarah Cina di Indonesia : Klenteng Tjen Ling Kiong Yogyakarta  (Read 976 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Razita

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 9
  • Reputasi: 0
  • Semoga semua mahluk berbahagia

Sejarah Cina di Indonesia kali ini membahas tentang Klenteng Tjen Ling Kiong di Yogyakarta yang sekarang sudah berusia 136 tahun.

Klenteng ini merupakan klenteng tertua di Yogyakarta, karena itu warga Tionghoa merasa cukup bangga dengan keberadaan Klenteng Tjen Ling Kiong. Baru saja merayakan ulang tahun ke-136, terdapat makna yang dalam bagi etnis Tionghoa di Yogyakarta.

Menurut keterangan dari salah seorang pengurus klenteng yang bernama Gotama Fantoni, pembangunan tempat ibadah bagi Tridharma ini merupakan andil dari Sri Sultan Hamengkubuwono VII. “Klenteng ini didirikan atas jasa Raja Yogyakarta yang menghibahkan tanah keraton,” menurut pengurusnya belum lama ini.

Awalnya, pada  tahun 1860-an kawasan utara Tugu Yogyakarta ditetapkan sebagai kawasan pecinan yang dulunya bernama De Chinese Bevolking. Kemudian Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, memberikan tanah seluas 6.244 meter persegi kepada orang Tionghoa.

“Dalam prasasti tertulis dalam aksara Mandarin, klenteng dibangun pada tanggal 24 bulan 6 tahun Imlek,” kata pengurus klenteng.

Pada tahun 1881, Klenteng kauw lang teng didirikan, tempat ini juga digunakan sebagai tempat mendidik warga Tionghoa. Kemudian pada tahun 1907 kelompok Tionghoa membangun sekolah modern pertama yang bernama Tiong Hoa Hak Tong atau THHT.

Tetapi pada tahun 1940 THHT kalah bersaing dengan Holland Chinesche School atau HCS. Lembaga pendidikan ini sengaja didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda, dengan tujuan untuk mematikan THHT. Tanah tempat THHT bediri kemudian dikembalikan full kepada pimpinan Klenteng Poncowinatan.

Pada zaman Jepang, sekolah Tionghoa dibuka kembali. Aset klenteng kembali dipinjamkan kepada Sekolah Rakyat Tionghoa Pertama Yogyakarta atau Ri Re Zhong Hua Di Yi Xiao Xie (Di Yi Xiao). Dikelola oleh Yayasan Pendidikan Chung Hwa Yogyakarta.

Setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada tahun 1970 pengelolaan sekolah dikuasai oleh Yayasan Budaya Wacana atau YBW. Sekarang kembali milik klenteng dan dijadikan pusat ibadah bagi Konghucu, Tao dan Buddha.

Arsitektur dari bangunan ini masih sama dengan saat pertama kali dibangun, yakni bangunannya masih berbentuk persegi panjang yang melebar ke samping serta bagian atap yang dihiasi oleh dua buah patung naga berhadapan.

Pintu masuk klenteng ini dihiasi dengan lukisan Dewa Pintu Men Shen. Selain itu, ada patung Qilin yang terbuat dari batu. Warna merah mendominasi bangunan ini, karena melambangkan kebahagiaan menurut tradisi Tionghoa.

Klenteng ini dibangun bertepatan dengan hari lahir Kwan Kong atau Dewa Tuan Rumah. Karena itu setiap ulang tahun klenteng, selalu dibarengi dengan sejit Kwan Kong.

Demikian Informasi Sejarah Cina di Indonesia mengenai Klenteng Tjen Ling Kiong Yogyakarta.

Info Sejarah Cina di Indonesia Hari Ini yang lain : Sumber