Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Dirgha Agama vol. 1  (Read 1682 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Dirgha Agama vol. 1
« on: 12 September 2016, 09:57:28 PM »
Berikut adalah terjemahan dari The Canonical Book of the Buddha’s Lengthy Discourses vol. 1, yang diterjemahkan oleh Shohei Ichimura dari Taisho Tripitaka no. 1 (T 1). Volume 1 ini terdiri dari 10 sutra/kotbah pertama dan di-post di sini per sutra.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Dirgha Agama vol. 1
« Reply #1 on: 12 September 2016, 10:11:36 PM »
DIRGHA ĀGAMA VOLUME I

SUTRA 1
AWAL MULA BESAR

(Padanan Pāli: DN 14 Mahāpadāna Suttanta)

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika, Sang Buddha sedang berdiam di Śrāvastī di tempat kediaman Kareri-kuṭikā dari Vihara Jetavana, bersama-sama dengan seribu dua ratus lima puluh orang bhikkhu.

Pada waktu itu, setelah berkeliling mengumpulkan dana makanan pada pagi hari, beberapa bhikkhu berkumpul di aula yang berdekatan dengan Kareri-kuṭikā, dan masing-masing berdiskusi satu sama lain, dengan berkata:

Para bhikkhu yang mulia, hanya Yang Tiada Bandingnya (anuttarā) yang luar biasa. Kekuatan luar biasanya berjangkauan luas dan memiliki pengaruh yang luas dan besar. Demikianlah beliau [sendiri] mengetahui para Buddha masa lampau yang tak terhitung yang telah memasuki nirvana, dengan mengakhiri semua kekotoran dan memadamkan konseptualisasi yang mengobsesi [pikiran]. Lagi, beliau mengetahui jumlah kalpa-kalpa yang lampau ketika para Buddha ini masing-masing muncul, gelar dan nama mereka, keluarga di mana mereka terlahir, jenis-jenis makanan yang mereka makan, apakah masa kehidupan mereka masing-masing panjang atau pendek, dan dalam lingkungan sosial apakah mereka mengalami perubahan antara penderitaan dan kebahagiaan. Lagi, beliau mengetahui bahwa masing-masing dari para Buddha itu menegakkan aturan disiplin tertentu, mengajarkan ajaran tertentu, merealisasi pengetahuan mendalam tertentu, memperoleh pemahaman tertentu, dan berdiam dalam keadaan realisasi tertentu. Betapa luar biasanya pengetahuan beliau, teman-teman yang mulia! Sang Tathāgata dengan jelas mengetahui sifat-sifat alami berbagai hal. Karena ia mengetahui hal-hal dari masa lampau ini, para dewa (deva) datang berbicara dengan beliau.

Pada waktu itu Sang Bhagavā sedang berdiam di tempat yang sunyi. Karena kekuatan pendengarannya yang luar biasa adalah sangat murni, beliau tidak sengaja mendengarkan diskusi yang sedang berlangsung di antara para siswa itu. Beliau langsung bangkit dari tempat duduknya, pergi ke aula Kareri-kuṭikā, dan mengambil tempat duduk yang telah ditentukan. Kemudian, dengan sadar, Sang Bhagavā dengan sengaja bertanya kepada para siswanya, “O para bhikkhu, setelah berkumpul di sini, apakah yang telah kalian diskusikan?” Para bhikkhu menceritakan pokok bahasan diskusi mereka secara terperinci. Oleh sebab itu Sang Bhagavā berkata kepada mereka:

Sangat bagus, sangat bagus. Kalian telah meninggalkan kehidupan berkeluarga, yang masing-masing didorong oleh keyakinan, dan telah berlatih dalam sang jalan. Dari praktek-praktek yang dianjurkan [bagi para bhikkhu yang berkumpul bersama], terdapat dua jenis secara umum. Pertama, [mendiskusikan] pengajaran [Dharma] para bijaksana; dan kedua, [melaksanakan] keheningan luhur. O para bhikkhu, pokok bahasan diskusi kalian seharusnya dirumuskan sebagai berikut: “Kekuatan batin Sang Tathāgata memiliki pengaruh yang luas dan bijaksana. Demikianlah, beliau sendiri mengetahui semua kejadian masa lampau selama tak terhitung kalpa. Karena beliau sepenuhnya memahami sifat alami berbagai hal, dan karena para dewa datang berbicara kepada Sang Buddha, hal-hal ini diketahui oleh beliau.”

Sang Buddha kemudian melanjutkan dalam syair:

Para bhikkhu berkumpul di aula ceramah,
Berdiskusi tentang sifat-sifat alami para bijaksana.
Sang Tathāgata berdiam di ruangan yang sunyi,
Mengetahui semuanya melalui pendengarannya yang luar biasa.
Bagaikan cahaya matahari, Sang Buddha menerangi dunia,
Membedakan ruang lingkup unsur-unsur, dan
Mengetahui semua hal pada masa lampau.
Beliau mengetahui nirvana akhir para yang tercerahkan sempurna,
Gelar, nama, silsilah keluarga, dan tempat kelahiran mereka.
Mengikuti kehidupan mereka di mana pun mereka berada dalam tempat dan waktu,
Sang Buddha mengingat segalanya
Melalui kesaksiannya dengan penglihatan murni.
Para dewa muncul dengan kekuasaan besar dan keagungan,
Turun untuk memberitahukanku nirvana ketiga kelompok para Buddha masa lampau,
Gelar dan nama mereka, dan suara dukacita ketika mereka [memasuki] nirvana.
Yang Tiada Bandingnya di antara para dewa dan manusia
Dengan demikian telah mengingat [kehidupan] para Buddha masa lampau.

Sang Bhagavā lagi berkata kepada para siswanya:

O para bhikkhu, apakah kalian ingin [Sang Tathāgata] menyampaikan pengetahuan luar biasa tentang kehidupan para Buddha masa lampau dan sebab dan kondisi mereka? [Jika kalian menginginkannya], aku akan menceritakannya kepada kalian.

Para siswa menjawab:

Sang Bhagavā, ini adalah waktu yang paling tepat, yang mulia. Kami adalah para pendengarmu yang bergembira. Kabulkanlah [harapan] kami, Sang Bhagavā! Semoga yang mulia menurunkan kepada kami kebijaksanaan para Buddha masa lampau dengan segera. Kami akan mengikuti dengan sungguh-sungguh pengajaran yang disampaikan, yang mulia.

Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: “Dengarkanlah dengan seksama, kalian harus mengingat dan merenungkan dengan baik hal-hal berikut. Aku akan menyampaikan analisis dan penjelasan demi kepentingan kalian.” Setelah itu para bhikkhu mendengarkan ajaran itu.

Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu:

Sembilan puluh satu kalpa yang lampau terdapat seorang Buddha di dunia ini; Sang Tathāgata dan Arhat, bernama Vipaśyin, muncul di dunia. Lagi, O para bhikkhu, seorang Buddha berikutnya muncul tiga puluh satu kalpa yang lampau; Sang Tathāgata dan Arhat bernama Śikhin muncul di dunia ini. Lagi, O para bhikkhu, selama kalpa yang sama itu, terdapat lagi seorang Buddha lainnya; Sang Tathāgata dan Arhat bernama Viśvabhū muncul di dunia ini. Lagi, O para bhikkhu, dalam kalpa sekarang yang menguntungkan (bhadrakalpa) muncul di dunia ini serangkaian para Buddha, bernama Krakucchanda, Kanakamuni, dan Kāśyapa, dan sekarang juga, selama kalpa yang menguntungan yang sama, aku sendiri telah merealisasi pencerahan yang sempurna, yang tertinggi (anuttara samyaksaṃbodhi).

Sang Buddha kemudian melanjutkan dalam syair:

Sembilan puluh satu kalpa yang lampau,
Terdapat Buddha Vipaśyin;
Berikutnya, tiga puluh satu kalpa yang lampau,
Muncul Buddha Śikhin;
Dalam kalpa yang sama itu,
Muncul Tathāgata Viśvabhū.
Sekarang, selama kalpa yang menguntungkan ini,
Suatu masa dari banyak tak terhitung nayuta tahun,
Muncul empat orang maha bijaksana,
Yang terkemuka karena belas kasihnya terhadap semua makhluk hidup:
Krakucchanda, Kanakamuni, Kāśyapa, dan Śākyamuni.

Kalian seharusnya mengetahui bahwa ketika Buddha Vipaśyin muncul, masa kehidupan manusia adalah delapan puluh ribu tahun. Ketika Buddha Śikhin muncul, masa kehidupan manusia adalah tujuh puluh ribu tahun. Ketika Buddha Viśvabhū muncul, masa kehidupan manusia adalah enam puluh ribu tahun. Ketika Buddha Krakucchanda muncul, masa kehidupan manusia adalah empat puluh ribu tahun. Ketika Buddha Kanakamuni muncul, masa kehidupan manusia adalah tiga puluh ribu tahun. Ketika Buddha Kāśyapa muncul, masa kehidupan manusia adalah dua puluh ribu tahun. Saat ini ketika aku muncul, masa kehidupan manusia adalah kebanyakan kurang dari seratus tahun, dengan hanya sedikit yang hidup lebih panjang daripada itu.

Kemudian Sang Buddha melanjutkan dalam syair:

Pada masa Vipaśyin,
Masa kehidupan manusia adalah delapan puluh empat ribu tahun;
Pada masa Buddha Śikhin,
Masa kehidupan manusia adalah tujuh puluh ribu tahun;
Pada masa Viśvabhū,
Masa kehidupan manusia adalah enam puluh ribu tahun;
Pada masa Krakucchanda,
Masa kehidupan manusia adalah empat puluh ribu tahun;
Pada masa Kanakamuni,
Masa kehidupan manusia adalah tiga puluh ribu tahun;
Pada masa Kāśyapa,
Masa kehidupan manusia adalah dua puluh ribu tahun;
Sekarang, aku sendiri tidak melebihi
Masa kehidupan manusia sekarang dari seratus tahun.

Buddha Vipaśyin berasal dari kasta kṣatriya, yang memakai nama keluarga Kauṇḍinya (Pāli: Koṇḍañña). Buddha Śikhin dan Buddha Viśvabhū juga berasal dari kasta kṣatriya yang sama, yang memakai nama keluarga yang sama. Buddha Krakucchanda berasal dari kasta brāhmaṇa, yang memakai nama keluarga Kāśyapa. Buddha Kanakamuni dan Buddha Kāśyapa berasal dari kasta brāhmaṇa yang sama, yang memakai nama keluarga yang sama. Diriku sendiri, sebagai yang tertinggi dan paling dimuliakan, berasal dari kasta kṣatriya dan memakai nama keluarga Gautama.

Sang Buddha kemudian melanjutkan dalam syair:

Tathāgata Vipaśyin, Śikhin, dan Viśvabhū,
Tiga makhluk tercerahkan sempurna ini
Berasal dari kasta kṣatriya dengan nama keluarga Kauṇḍinya.
Tiga Tathāgata berikutnya
Berasal dari kasta brāhmaṇa dengan nama Kāśyapa.
Diriku sendiri sekarang, yang tertinggi dan paling dimuliakan,
Demi tujuan membimbing para makhluk hidup,
Berasal dari keluarga para pemberani,
Yang terutama di antara semua dewa,
Dengan nama Gautama.
Tiga makhluk tercerahkan sempurna yang pertama
Berasal dari kasta kṣatriya,
Sedangkan tiga Tathāgata yang kedua
Berasal dari kasta brāhmaṇa.
Sekarang aku sendiri, yang tertinggi dan paling dimuliakan,
Berasal dari kasta kṣatriya yang berani.

Buddha Vipaśyin duduk di bawah sebatang pohon pippala dan merealisasi pencerahan sempurna. Buddha Śikhin duduk di bawah sebatang pohon puṇḍarīka dan merealisasi pencerahan sempurna. Buddha Viśvabhū duduk di bawah sebatang pohon śāla dan merealisasi pencerahan sempurna. Buddha Krakucchanda duduk di bawah sebatang pohon śirīsā dan merealisasi pencerahan sempurna. Buddha Kanakamuni duduk di bawah sebatang pohon udumbara dan merealisasi pencerahan sempurna. Buddha Kāśyapa duduk di bawah sebatang pohon nyagrodha dan merealisasi pencerahan sempurna. Sekarang aku, Sang Buddha dan Arhat, duduk di bawah sebatang pohon paṭala dan merealisasi pencerahan sempurna.

Sang Buddha kemudian melanjutkan dalam syair:
Tathāgata Vipaśyin mendekati sebatang pohon pippala
Dan di bawah pohon itu ia merealisasi pencerahan sempurna.
Tathāgata Śikhin memadamkan kekotoran di bawah sebatang pohon puṇḍarīka
Tathāgata Viśvabhū duduk di bawah sebatang pohon śāla
Dan di sana ia merealisasi pengetahuan dan penglihatan pembebasan,
Kekuatan batinnya tidak terhalangi.
Tathāgata Krakucchanda duduk di bawah sebatang pohon śirīsā
Dan merealisasi kemahatahuannya, yang murni,
Tidak terkotori ataupun terikat.
Kanakamuni duduk di bawah sebatang pohon udumbara
Dan di bawah pohon itu memadamkan keinginan, dukacita, dan kesengsaraan.
Tathāgata Kāśyapa duduk di bawah sebatang pohon nyagrodha
Dan di bawah pohon itu mengakhiri awal mula berbagai kehidupan.
Aku sendiri, sekarang, sebagai Śākyamuni, duduk di bawah sebatang pohon paṭala
Dan sebagai Tathāgata, aku telah memperoleh sepuluh kekuatan,
Mengakhiri banyak kekotoran,
Mengatasi serangan [Māra], Si Jahat, dan
Sekarang telah menyampaikan pengetahuan agung kepada para siswa.
Kekuatan pengerahan usaha tujuh Buddha
Memancarkan berkas cahaya yang menghancurkan kegelapan ketidaktahuan.
Masing-masing para Buddha duduk di bawah sebatang pohon
Dan di sana merealisasi pencerahan sempurna.

Tathāgata Vipaśyin mengajarkan Dharma-nya di hadapan perkumpulan para siswa dalam tiga kesempatan; kehadiran sejumlah seratus enam puluh ribu [siswa] pada perkumpulan pertama, seratus ribu [siswa] pada perkumpulan kedua, dan delapan puluh ribu [siswa] pada perkumpulan ketiga. Tathāgata Śikhin juga mengajarkan Dharma-nya di hadapan perkumpulan para siswa dalam tiga kesempatan; kehadiran sejumlah seratus ribu [siswa] pada perkumpulan pertama, delapan puluh ribu [siswa] pada perkumpulan kedua, dan tujuh puluh ribu [siswa] pada perkumpulan ketiga. Tathāgata Viśvabhū mengajarkan Dharma-nya di hadapan perkumpulan para siswa dalam dua kesempatan; kehadiran sejumlah tujuh puluh ribu [siswa] pada perkumpulan pertama dan enam puluh ribu [siswa] pada perkumpulan kedua. Tathāgata Krakucchanda mengajarkan Dharma-nya di hadapan perkumpulan para siswa dalam satu kesempatan, dengan kehadiran empat puluh ribu [siswa]. Tathāgata Kanakamuni mengajarkan Dharma-nya di hadapan perkumpulan para siswa dalam satu kesempatan, dengan kehadiran tiga puluh ribu [siswa]. Tathāgata Kāśyapa mengajarkan Dharma-nya di hadapan perkumpulan para siswa dalam satu kesempatan, dengan kehadiran dua puluh ribu [siswa]. Aku sekarang mengajarkan Dharma di hadapan perkumpulan para siswa dalam satu kesempatan, dengan kehadiran seribu dua ratus lima puluh [siswa].

Sang Buddha kemudian melanjutkan dalam syair:

Vipaśyin terkemuka dalam perenungan nama;
Pengetahuan mendalamnya tak terhitung.
Ia tidak memiliki ketakutan apa pun dalam berkotbah
Di hadapan perkumpulan para siswanya dalam tiga kesempatan.
Cahaya [kebijaksanaan] Śikhin tidak tergoyahkan dan
Dengan demikian menghancurkan semua kekotoran.
Tidak ada yang dapat mengukur kekuasaan dan kebaikannya,
Begitu tak terhitung dan besar.
Buddha ini juga mengadakan dalam tiga kesempatan
Perkumpulan para siswanya
Yang berkumpul bersama dari semua tempat.
Viśvabhū mengakhiri kekotoran, dan
Banyak orang maha bijaksana berkumpul dalam pengajarannya.
Namanya terdengar di semua wilayah, dan
Nama besar dari Dharma-nya muncul.
Para siswa dari dua perkumpulan menyebarkan ke mana-mana
Makna mendalam [dari ajarannya].
Krakucchanda mengajarkan Dharma-nya
Di hadapan perkumpulan dalam satu kesempatan,
Dan sebagai pembimbing mereka membantu, dengan belas kasihnya,
Para siswa dengan demikian berkumpul
Untuk mengatasi penderitaan dan menyempurnakan perubahan [keyakinan].
Tathāgata Kanakamuni
Merealisasi pencerahan tertinggi dan
Dengan cara yang sama mengajarkan Dharma-nya.
Ciri khas fisiknya tampak mengagumkan, berwarna ungu keemasan,
Setiap aspek bentuk jasmaninya sama sempurnanya.
Perkumpulan para siswanya menyebarkan ajarannya di mana-mana.
[Ketika Kāśyapa mengajarkan Dharma-nya di hadapan perkumpulan,]
Tidak ada rambutnya yang berdiri,
Ataupun kebingungan dalam pikirannya,
Ataupun perkataan apa pun dari perulangan yang tidak perlu.
Para siswa dari perkumpulan tunggalnya
Menghormati perenungan belas kasihnya dalam kedamaian [sempurna].
Aku, dari keluarga Śākya,
Yang unggul di antara semua śramaṇa
Pusat dari semua kediaman surgawi, paling dimuliakan,
Memiliki para siswa dari perkumpulan tunggalku.
Adalah keinginanku muncul di hadapan perkumpulan itu
Untuk menyebarkan ajaran yang murni dan sejati.
Dengan pikiranku dipenuhi dengan kegembiraan,
Aku tidak memiliki kehidupan berikutnya.
Vipaśyin dan Śikhin mengajarkan Dharma mereka di hadapan tiga perkumpulan,
Buddha Viśvabhū mengajar di hadapan dua perkumpulan,
Empat Buddha yang tersisa masing-masing mengajarkan [Dharma]
Dalam kesempatan tunggal di hadapan suatu perkumpulan para bijaksana.

Buddha Vipaśyin memiliki dua orang siswa, Khaṇḍa dan Tiṣya; mereka melampaui semua siswa lainnya. Buddha Śikhin memiliki dua orang siswa, Abhibhū dan Saṃbhava; mereka melampaui semua siswa lainnya. Buddha Viśvabhū memiliki dua orang siswa, Soṇa dan Uttama; mereka melampaui semua siswa lainnya. Buddha Krakucchanda memiliki dua orang siswa, Sañjīva dan Vidhūra; mereka melampaui semua siswa lainnya. Buddha Kanakamuni memiliki dua orang siswa, Bhiyyosa dan Uttara; mereka melampaui semua siswa lainnya. Buddha Kāśyapa memiliki dua orang siswa, Tiṣya dan Bharadvāja; mereka melampaui semua siswa lainnya. Aku memiliki dua orang siswa, Śāriputra dan Maudgalyāyana; mereka melampaui semua siswa lainnya.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Dirgha Agama vol. 1
« Reply #2 on: 12 September 2016, 10:18:32 PM »
Kemudian Sang Buddha melanjutkan dalam syair:

Khaṇḍa dan Tiṣya adalah siswa dari Vipaśyin;
Abhibhū dan Saṃbhava adalah siswa dari Buddha Śikhin;
Soṇa dan Uttama melampaui semua siswa lainnya dan
Dengan sama mengatasi mantra setan;
Mereka adalah siswa dari Viśvabhū.
Sañjīva dan Vidhūra adalah siswa dari Krakucchanda;
Bhiyyosa dan Uttara adalah siswa dari Kanakamuni;
Tiṣya dan Bharadvāja adalah siswa dari Buddha Kāśyapa;
Śāriputra dan Maudgalyāyana adalah siswa utamaku.

Buddha Vipaśyin memiliki seorang siswa bernama Aśoka, yang adalah kepala pelayan pribadinya. Buddha Śikhin memiliki seorang siswa bernama Kṣemakāra [sebagai pelayan pribadinya]. Buddha Viśvabhū memiliki seorang siswa pelayan bernama Upaśānta; Buddha Krakucchanda memiliki seorang siswa pelayan bernama Buddhija; Kanakamuni memiliki seorang siswa pelayan bernama Sotthija; Buddha Kāśyapa memiliki seorang siswa pelayan bernama Sarvamitra. Buddha Śākyamuni memiliki seorang siswa pelayan bernama Ānanda.

Sang Buddha kemudian melanjutkan dalam syair:

Aśoka, Kṣemakāra, Upaśānta, Buddhija,
Sotthija, Sarvamitra, dan Ānanda sebagai yang ketujuh;
Mereka masing-masing menjadi siswa pelayan
Dari Buddha mereka masing-masing dan
Membantu mereka dalam berbagai tugas, diberkahi dengan tujuan dan cara.
Mengendalikan diri dari kelambanan siang dan malam,
Bermanfaat bagi diri mereka sendiri maupun orang lain,
Tujuh siswa bijaksana ini secara dekat melayani tujuh Buddha,
Mengabdikan pelayanan mereka dengan kegembiraan, dan
Dengan tenang memasuki nirvana.

Buddha Vipaśyin memiliki seorang putra bernama Fangying; Buddha Śikhin memiliki seorang putra bernama Apramāṇa; Buddha Viśvabhū memiliki seorang putra bernama Subuddha; Buddha Krakucchanda memiliki seorang putra bernama Shangsheng; Buddha Kanakamuni memiliki seorang putra bernama Lokanāyaka; Buddha Kāśyapa memiliki seorang putra bernama Sanghasena; sekarang aku memiliki seorang putra bernama Rāhula.

Kemudian Sang Buddha melanjutkan dalam syair:<15>

Fangying, Apramāṇa, Subuddha, Shangsheng,
Lokanāyaka, Sanghasena, dan Rāhula sebagai yang ketujuh;
Keturunan ini, penerus silsilah kepahlawanan para Buddha,
Mengabdikan diri mereka dalam moralitas,
Bergembira dalam kedermawanan, dan
Tidak memiliki rasa takut di hadapan Dharma yang mulia.

Ayah Buddha Vipaśyin adalah Bandhumant, dari keluarga kerajaan kṣatriya, dan ibunya adalah Bandhumatī. Kota yang diperintah oleh raja itu bernama Bandhumatī.

Sang Buddha kemudian melanjutkan dalam syair:

Sang ayah, yang bermata sempurna,
Adalah Bandhumant, ibunya adalah Bandhumatī.
Kota yang diperintah oleh Bandhumant adalah Bandhumatī,
Di mana Sang Buddha itu mengajarkan Dharma-nya.

Ayah Buddha Śikhin adalah Aruṇa, dari keluarga kerajaan kṣatriya, dan ibunya bernama Prabhāvatī. Kota yang diperintah oleh raja itu bernama Aruṇavatī.

Kemudian Sang Buddha melanjutkan dalam syair:

Ayah Śikhin adalah Aruṇa, dan
Ibunya [adalah] Prabhāvatī.
Ketika Aruṇa berdiam dalam ibukota
Kekuasaan dan kebaikannya melenyapkan musuh-musuhnya.

Ayah Buddha Viśvabhū adalah Suppatīta, dari keluarga kerajaan kṣatriya, dan ibunya bernama Yaśavatī. Kota yang diperintah raja itu bernama Anopama.

Sang Buddha kemudian melanjutkan dalam syair:

Ayah Buddha Viśvabhū
Bernama Suppatīta dan
Dari kasta kṣatriya, dan
Ibunya bernama Yaśavatī.
Ibukotanya bernama Anopama

Ayah Buddha Krakucchanda adalah Agnidatta, dari keluarga brāhmaṇa, dan ibunya bernama Viśākhā. Rajanya bernama Kṣema (Pāli: Khema), dan ibukota yang diperintah olehnya [bernama] Kṣema, sesuai dengan nama raja.

Sang Buddha kemudian melanjutkan dalam syair:

Ayah Buddha Krakucchanda,
Agnidatta, adalah seorang brāhmaṇa,
Ibunya bernama Viśākhā.
Raja [pada waktu itu] bernama Kṣema dan
Memerintah kota Kṣema.

Ayah Buddha Kanakamuni bernama Yajñadatta, dari keluarga brāhmaṇa, dan ibunya bernama Uttarā. Raja pada masa itu adalah Śubha, dan ibukotanya bernama Śubha sesuai dengan namanya.

Sang Buddha kemudian melanjutkan dalam syair:

Ayah Buddha Kanakamuni,
Yajñadatta, adalah seorang brāhmaṇa, dan
Ibunya bernama Uttarā.
Raja [pada masa itu] adalah Śubha dan
Memerintah kota Śubha.

Ayah Buddha Kāśyapa bernama Brahmadatta, dari keluarga brāhmaṇa, dan ibunya bernama Dhanavatī. Raja pada masa itu bernama Kikin dan kota yang diperintah raja itu bernama Vārāṇasī.

Sang Buddha kemudian melanjutkan dalam syair:

Ayah Buddha Kāśyapa,
Brahmadatta, adalah seorang brāhmaṇa, dan
Ibunya bernama Dhanavatī.
Raja pada masa itu adalah Kikin
Yang memerintah kota Vārāṇasī.

Ayahku bernama Śuddhodana, dari keluarga kerajaan kṣatriya, dan ibuku bernama Mahāmāyā. Ibukota yang diperintah oleh raja itu bernama Kapilavastu.

Sang Buddha kemudian melanjutkan dalam syair:

Ayahku adalah seorang kṣatriya,
Bernama Śuddhodana, dan
Ibuku bernama Mahāmāyā.
Negerinya luas dan penduduknya makmur.
Aku terlahir di antara mereka.

Ini adalah kisah para Buddha, nama, latar belakang keluarga, dan tempat kelahiran mereka. Bagaimana mungkin seorang bijaksana, setelah mendengarkan kisah-kisah ini, tidak bergembira dan tidak membangkitkan keyakinan?

Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu:

Dengarkanlah dengan seksama, kalian seharusnya mengingat dan merenungkan dengan baik hal berikut. Aku akan menyampaikan analisis dan penjelasan demi kepentingan kalian. O para bhikkhu, kalian seharusnya mengetahui keteraturan para Buddha. Bodhisattva Vipaśyin turun dari Surga Tuṣita untuk memasuki rahim ibunya melalui sisi kanannya, dan berdiam di sana dalam keadaan penuh perhatian, pikirannya tidak terganggu. Pada waktu itu, bumi berguncang dan seberkas cahaya menerangi seluruh dunia. Cahaya itu bahkan mencapai daerah-daerah di mana matahari dan bulan tidak dapat memberikan cahayanya kepada setiap makhluk hidup. Bahkan para makhluk hidup dari neraka yang gelap dapat melihat satu sama lain dan mengetahui alam tujuan mereka. Pada waktu itu cahaya itu juga menerangi istana Si Jahat. Walaupun cahaya itu menjangkau sampai ke semua makhluk-makhluk surgawi, dengan Indra sebagai pemimpinnya, dewa Brahmā, para śramaṇa, para brāhmaṇa, dan juga para makhluk hidup lainnya, hanya para dewa tidak terlihat karena cahaya mereka sendiri.

Sang Buddha kemudian melanjutkan dalam syair:

Ketika awan tebal berkumpul di udara,
Kilat halilintar menerangi surga dan dunia,
Vipaśyin turun dan memasuki rahim ibunya.
Berkas cahaya yang sama menerangi daerah-daerah
Di mana matahari dan bulan tidak dapat mencapainya.
Tidak ada siapa pun
Yang tidak menerima pancaran cahaya agung itu.
Ia yang demikian dikandungi adalah murni dan tidak ternoda.
Ini adalah keteraturan para Buddha.

O para bhikkhu, kalian seharusnya [lebih lanjut] mengetahui keteraturan para Buddha. Berada dalam rahim ibunya, bodhisattva Vipaśyin kokoh dalam konsentrasinya, pikirannya tidak terganggu. Empat dewa dari empat penjuru arah surga membawa tombak dan melindungi bodhisattva. Tidak ada manusia ataupun [makhluk] bukan-manusia yang dapat mendekati dan mengganggunya. Ini adalah keteraturan para Buddha.

Sang Buddha kemudian melanjutkan dalam syair:

Empat dewa dari empat penjuru arah surga
Terkemuka dalam kekuasaan dan kebaikan mereka.
Diperintahkan oleh dewa Indra,
Mereka menjaga bodhisattva dengan baik.
Mereka membawa armada prajurit bertombak dan
Selalu menjaganya, tanpa meninggalkannya,
Terhadap manusia atau [makhluk] bukan-manusia jahat yang mendekat.
Ini adalah keteraturan para Buddha.
Para dewa melindungi bodhisattva dengan baik
Seperti para bidadari menjaga istana surgawi.
Semua pelayan para dewa juga demikian bergembira.
Ini adalah keteraturan para Buddha.

Lagi Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu tentang keteraturan kehidupan para Buddha:

Bodhisattva Vipaśyin turun dari Surga Tuṣita untuk memasuki rahim ibunya dan berdiam di sana dengan konsentrasi, pikirannya tidak terganggu, sedangkan tubuh ibunya aman dan dalam kedamaian tanpa masalah. Dengan kebijaksanaannya yang meningkat, ia memeriksa janinnya dan melihat tubuh bodhisattva yang tumbuh dengan baik diberkahi dengan anggota tubuh dan indera-indera tidak ternoda bagaikan emas keunguan. Ini seperti sebuah permata lapis lazuli [yang sempurna]; seorang ahli ketika memeriksa transparansi [sempurna]nya di dalam dan di luar tidak akan menemukan bayangan ataupun kecacatan. Ini adalah keteraturan para Buddha.

Pada waktu itu Sang Buddha melanjutkan dalam syair:

Semurni sebuah permata lapis lazuli dan
Secerah matahari dan bulan yang bersinar terang,
Yang Dimuliakan berdiam dalam tubuh ibunya,
Tidak mengganggu kehamilan ibunya.
Dengan kebijaksanaannya yang meningkat,
Ia memeriksa janinnya dan
Melihat tubuh anaknya bagaikan gambaran emas.
Kehamilannya aman dan damai.
Ini adalah keteraturan para Buddha.

Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu:

Bodhisattva Vipaśyin turun dari Surga Tuṣita untuk memasuki rahim ibunya dan berdiam di sana dengan konsentrasi, pikirannya tidak terganggu. Pikiran ibunya adalah murni. Ia bebas dari pikiran nafsu apa pun dan tidak terbakar oleh api keinginan. Ini adalah keteraturan para Buddha.

Pada waktu itu, Sang Bhagavā melanjutkan dalam syair:

Ketika Bodhisattva berdiam dalam rahim sang ibu,
Berkah surgawi meningkat,
Dianugerahi [dengan Bodhisattva] dari surga-surga tertinggi,
Pikiran-pikiran sang ibu adalah murni,
Dengan tiada pikiran nafsu.
Meninggalkan keinginan indera,
Yang tidak ternoda dan tidak tersentuh,
Ia bebas dari nyala api keinginan.
Ini adalah keteraturan perjalanan hidup para Buddha.

Sang Buddha [lagi] berkata kepada para bhikkhu tentang keteraturan para Buddha:

Bodhisattva turun dari Surga  Tuṣita untuk memasuki rahim ibunya dan berdiam di sana dengan konsentrasi, pikirannya tidak terganggu. Ibunya menjunjung tinggi lima pelatihan moral (pañca-śīla) dan latihan kesederhanaannya adalah murni. Dengan keyakinan, belas kasih, dan kemauan baik yang tulus, yang terpenuhi dengan baik, tanpa apa pun kecuali kebahagiaan, ia terlahir kembali di Surga Trāyastriṃśa ketika hancurnya tubuhnya pada akhir kehidupannya. Ini adalah keteraturan para Buddha.

Pada waktu itu, Sang Bhagavā melanjutkan dalam syair:

Ketika mengandung di dalam tubuhnya
Yang tertinggi, yang paling dimuliakan di antara manusia,
Dengan menjunjung tinggi pelatihan moral dengan semangat,
Ia ditujukan untuk memperoleh
Tubuh surgawi pada kehidupan mendatangnya
Karena hal ini ia disebut ibu para Buddha.

Sang Buddha [lagi] berkata kepada para bhikkhu tentang keteraturan kehidupan para Buddha:

Ketika Bodhisattva Vipaśyin lahir, ia muncul dari sisi kanan ibunya. Pada waktu itu bumi berguncang dan seberkas cahaya menerangi dunia. Seperti halnya ketika Bodhisattva pertama kali memasuki rahim ibunya, cahaya itu mencapai bahkan neraka yang gelap, yang memberi manfaat pada setiap makhluk hidup dengan cahaya agungnya. Ini adalah keteraturan para Buddha.

Pada waktu itu, Sang Bhagavā melanjutkan dengan syair:

Ketika pangeran lahir, bumi berguncang,
Seberkas cahaya menerangi di mana pun tanpa kecuali,
Di dunia ini juga dunia lain,
Di atas dan bawah di segala arah,
Dengan demikian memberikan sebab [pembebasan] yang murni.
Diberkahi dengan suara kegembiraan yang mengagumkan,
Satu per satu para makhluk surgawi memuji
Nama Bodhisattva.

Sang Buddha [lagi] berkata kepada para bhikkhu tentang keteraturan kehidupan para Buddha:

Bodhisattva Vipaśyin muncul dari sisi kanan ibunya pada saat kelahirannya dan berdiam di sana dengan konsentrasi, pikirannya tidak terganggu. Pada waktu itu ibu Bodhisattva menarik sebatang cabang pohon [untuk menyokong dirinya], tidak duduk ataupun berbaring. Kemudian empat dewa dengan hormat memberikan air wangi dan berkata kepada sang ibu: “Demikianlah, O ratu, sekarang seorang putra mulia telah lahir.  Semoga nyonya bebas dari kekhawatiran dan dukacita.” Ini adalah keteraturan para Buddha.

Pada waktu itu Sang Bhagavā melanjutkan dengan syair:

Ibu dari Buddha
Tidak duduk ataupun berbaring di atas tanah,
Tetapi kokoh dalam pelatihan moralitas dan
Praktek kesederhanaan.
Lahir dalam keluarga bangsawan,
Ia tidak pernah kendur dalam pengerahan usaha
Ketika dilayani oleh para makhluk surgawi.

Sang Buddha [lagi] berkata kepada para bhikkhu tentang keteraturan para Buddha:

Bodhisattva Vipaśyin muncul dari sisi kanan ibunya pada saat kelahirannya dan berdiam di sana dengan konsentrasi, pikirannya tidak terganggu. Tubuhnya bersih, tidak terkena kekotoran oleh kotoran atau pikiran jahat. [Ini] bagaikan sebuah permata, yang murni dan sejati, yang ketika dengan ahli dicampurkan dengan pewarna putih tidak mempengaruhi ataupun dipengaruhi [oleh pewarna itu], karena ia murni dan sejati. Ini sama dengan munculnya Bodhisattva dari rahim ibunya. Ini adalah keteraturan para Buddha.

Pada waktu itu Sang Bhagavā melanjutkan dengan syair:

Bagaikan sebuah permata, yang murni dan sejati,
[Ketika] dicampurkan dengan pewarna, [ia] tidak mempengaruhi ataupun dipengaruhi [oleh pewarna itu],
Ketika Bodhisattva muncul dari rahim ibunya,
Ia murni dan tidak ternoda.

Sang Buddha [lagi] berkata kepada para bhikkhu tentang keteraturan para Buddha:

Bodhisattva Vipaśyin, pada saat kelahirannya, muncul dari sisi kanan ibunya dan berdiam di sana dengan konsentrasi, pikirannya tidak terganggu. Turun ke tanah dari sisi kanan ibunya, ia mengambil tujuh langkah dan, tanpa bantuan apa pun dari orang lain, melihat sekilas ke segala arah, ia mengangkat tangannya dan menyatakan: “Di atas langit dan di bawahnya, aku sendiri yang paling mulia, aku di sini untuk membebaskan makhluk-makhluk hidup dari kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian.” Ini adalah keteraturan para Buddha.

Pada waktu itu Sang Bhagavā melanjutkan dengan syair:

Bagaikan seekor singa berjalan,
[Bodhisattva] melihat sekilas ke empat arah, dan
Seorang anak bagaikan singa, ia mengambil tujuh langkah di atas tanah.
Lagi, seperti halnya gerakan seekor naga agung,
[Bodhisattva] melihat sekilas ke empat arah, dan
[Bagaikan] seekor anak naga, ketika lahir
Ia mengambil tujuh langkah pada saat turun ke tanah.
Pada waktu kelahiran[nya],
Yang Dimuliakan yang berkaki dua (yaitu, manusia)
Mengambil tujuh langkah kokoh, dan
Melihat sekilas ke empat arah,
Meneriakkan suaranya untuk menyatakan penghentian penderitaan kehidupan dan kematian.
Pada awal kelahirannya,
Tidak ada yang menyamainya [tetapi hanya] setara dengan para Buddha lain.
Ia mengetahui awal mula kehidupan dan kematian, dan
Bahwa kehidupan ini [akan menjadi] kehidupan terakhirnya.

Sang Buddha [lagi] berkata kepada para bhikkhu tentang keteraturan para Buddha:

Bodhisattva Vipaśyin, pada saat kelahirannya, muncul dari sisi kanan ibunya dan berdiam di sana dengan konsentrasi, pikirannya tidak terganggu. Dua mata air muncul, satu hangat dan yang lain dingin, sebagai suatu persembahan untuk memandikan Bodhisattva. Ini adalah keteraturan para Buddha.
« Last Edit: 13 September 2016, 07:01:29 PM by seniya »
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Dirgha Agama vol. 1
« Reply #3 on: 12 September 2016, 10:28:41 PM »
Pada waktu itu Sang Bhagavā melanjutkan dengan syair:

Ketika Yang Dimuliakan yang berkaki dua lahir,
Dua mata air muncul sebagai suatu persembahan
Untuk memandikan Bodhisattva.
Bayi itu, yang diberkahi dengan mata sempurnanya,
Dimandikan bersih dengan [air dari] mata air ini.
Dua mata air muncul secara alami;
Air itu sangat murni dan bersih;
Satu adalah hangat sedangkan yang lain adalah dingin.
Keduanya untuk memandikan [Yang] Mahatahu.

Ketika pangeran lahir, ayahnya, Raja Bandhumant, mengundang sejumlah besar peramal yang ahli dalam mantra-mantra untuk melihat pangeran dan meramalkan tentang keberuntungan atau nasibnya. Para peramal datang untuk melihat pangeran seperti yang diperintahkan. Setelah memperhatikan tanda-tanda agung yang dimiliki sang anak ketika mereka membuka pakaiannya, para peramal berkata kepada raja tentang keberuntungannya:

Kami tidak memiliki keraguan dalam pikiran kami bahwa siapa pun yang memiliki tanda-tanda ini dipastikan memiliki salah satu dari dua jalan hidup. Jika ia berdiam dalam kehidupan berumah tangga ia akan menjadi penguasa dunia (cakravartin) yang memutar roda suci dan akan menjadi raja dari keempat benua di bumi. Ia akan memperoleh empat divisi armada pasukan dan akan memerintah negeri dengan Dharma yang benar dengan adil, dengan memberi manfaat kepada segala hal di bawah langit.  Ia akan secara spontan mendapatkan tujuh jenis harta karun dan, bersama-sama dengan seribu orang pasukan yang berani dan kuat, ia akan dapat menaklukkan musuh dari luar mana pun [bahkan] tanpa [menggunakan] kekuatan hukuman; demikianlah ia akan menjaga kedamaian seluruh negeri di bawah langit. Jika ia meninggalkan kehidupan berumah tangga dan mengikuti sang jalan, ia akan merealisasi pencerahan sempurna dan disebut dalam sepuluh gelar seorang Buddha.

Kemudian para peramal berkata kepada raja:

Yang mulia, pangeran memiliki tiga puluh dua tanda agung. Kami tidak memiliki keraguan dalam pikiran bahwa ia pasti merealisasi salah satu dari dua jalan hidup, baginda. Jika ia berdiam dalam kehidupan berumah tangga, ia akan menjadi penguasa dunia yang memutar roda suci. Jika ia meninggalkan kehidupan berumah tangga, ia akan merealisasi pencerahan sempurna dan disebut dalam sepuluh gelar seorang Buddha.

Sang Buddha kemudian melanjutkan dalam syair:

Pangeran lahir diberkahi dengan tak terhitung keberuntungan.
Para peramal berkata:
“Kami tidak memiliki keraguan dalam pikiran kami bahwa,
Bagaikan suatu kasus yang telah diramalkan dalam kitab hukum,
Pangeran memiliki dua jalan hidup, baginda.
Jika ia memilih kehidupan berumah tangga,
Ia pasti menjadi seorang penguasa dunia
Yang memutar roda suci.
Ia akan secara spontan memperoleh
Tujuh jenis harta karun [yang] biasanya sulit diperoleh.
 Ia akan memperoleh roda suci
Yang terbuat dari seribu jari-jari emas,
Dengan seutas benang emas yang dipasang pada sisi luarnya.
Ketika roda itu berputar,
Ia dapat bergerak ke tempat mana pun seakan-akan terbang;
Oleh sebab itu ia disebut harta karun pertama, roda surgawi.
Ia akan memperoleh gajah-gajah yang terlatih dengan baik
Yang diberkahi dengan tujuh gading, yang besar dan lebar, dan
Seputih salju, dapat terbang di tengah-tengah udara.
Ini disebut harta karun kedua, gajah.
Ia akan memperoleh kuda-kuda yang, ketika mereka berlari,
Dapat pergi ke mana pun di bawah langit,
Pergi pada pagi hari dan
Kembali pada malam hari untuk makan,
Dengan rambut yang bercahaya dan suara seekor merak.
Ini disebut harta karun ketiga, kuda.
Ia akan memperoleh permata lapis lazuli, yang murni dan sejati,
Yang memantulkan cahaya yang bersinar sejauh satu yojana,
Menerangi malam seterang siang hari.
Ini disebut harta karun keempat, permata surgawi (maṇi-ratna).
Ia akan memperoleh ratu yang bentuk tubuh,
Suara, wangi tubuh, rasa, dan sentuhannya tiada bandingnya,
Yang terkemuka di antara semua wanita.
Ini disebut harta karun kelima, ratu.
Ia akan memperoleh orang-orang kaya
Yang, dalam hati mereka bergembira,
Memberikan permata lapis lazuli dan
Semua batu berharga lainnya.
Ini disebut harta karun keenam, bendaharawan.
Ia akan memperoleh kumpulan pasukan, yang berani dan kuat,
Yang dapat dengan cepat bergerak ketika diperintahkan.
Ini disebut harta karun ketujuh, panglima perang.
Ini adalah tujuh jenis harta karun penguasa dunia, baginda:
Roda, gajah putih, kuda, permata,
Wanita, orang kaya, dan armada pasukan.
Pangeran akan menyukai hal-hal ini dan
Menikmati kehidupan sepenuhnya
Dengan lima jenis keinginan, tetapi,
Bagaikan seekor gajah dengan meyakinkan menghancurkan tali kekangnya,
Ia akan meninggalkan kehidupan berumah tangga dan
Merealisasi pencerahan sempurna.
Yang Mulia, ini adalah keberuntungan, baginda,
Karena pangeran ini, Yang Paling Dimuliakan di antara manusia,
Yang akan memutar roda Dharma di dunia ini,
Tanpa henti, bahkan setelah realisasinya atas sang jalan.”

Pada waktu itu, ayahanda-raja [lagi] bertanya kepada para peramal tiga kali dengan hormat, “Semoga anda juga memeriksa tiga puluh dua tanda dari pangeran dan, dengan menyebutkannya, menjelaskan makna mereka masing-masing.” Kemudian para peramal seketika membuka pakaian pangeran dan menjelaskan tiga puluh dua tanda agung: (1) telapak kaki yang rata dan datar, untuk pijakan yang kokoh; (2) kedua telapak kaki yang ditandai secara simetris dengan simbol roda seribu jari-jari; (3) tangan kaki yang berselaput seperti kaki seekor angsa; (4) tangan dan kaki selembut dan sehalus kain pakaian surgawi; (5) jari tangan dan kaki yang halus, memanjang tiada bandingnya; (6) kaki yang berpermukaan lebar, bulat dengan penampilan yang menyenangkan; (7) tumit yang bulat menyempit perlahan-lahan menuju betis seperti tumit seekor rusa; (8 ) tulang rusuk yang berhubungan dengan baik seperti sambungan rantai; (9) organ kelamin yang tersembunyi dalam lipatan [kulit], seperti organ kelamin seekor kuda; (10) anggota tubuh bagian atas yang memanjang, tangan yang menyentuh kaki bahkan dalam posisi tegak; (11) setiap rambut yang tumbuh dari masing-masing akarnya, melingkar ke kanan, berwarna lapis lazuli; (12) rambut tubuh yang melingkar ke kanan, berwarna biru laut, tumbuh ke atas; (13) tubuh fisik dengan kulit keemasan (suvarṇa-varṇa); (14) kulit yang menolak debu, halus, lembut; (15) bahu yang secara simetris datar dan bulat yang dipenuhi dengan kekuatan; (16) dada yang ditandai dengan simbol yang menguntungkan dari bayangan-cermin svastika; (17) perawakan fisik dua kali tinggi badan umumnya; (18) tujuh bagian tubuh yang berkembang dengan baik (tangan, kaki, bahu bagian bawah, dan tengkuk); (19) badan yang besar dan lebar seperti sebatang pohon banyan; (20) pipi yang bulat, jelas seperti pipi seekor singa; (21) batang tubuh bagian atas yang tegak lurus, berbentuk seperti singa; (22) sekumpulan empat puluh gigi; (23) gigi yang rapi, berbentuk persegi dan tersusun dengan baik (sama-danta); (24) gigi yang tidak memiliki celah [di antaranya]; (25) gigi yang putih dan bersih; (26) tenggorokan yang murni dan langit-langit yang cocok untuk mengonsumsi makanan yang terbaik; (27) lidah yang lebar dan memanjang yang mencapai telinga (prabhūta-tanu-jihvā); (28) suara surgawi yang indah; (29) mata biru gelap; (30) kedipan dan kelopak mata seperti kedipan dan kelopak mata seekor sapi; (31) rambut putih yang mengeriting pada dahi (ūrṇā), yang lentur dan panjang, membentang sepuluh kaki, melingkar kembali ke kanan seperti kulit terompet ketika dibentangkan dan dilepaskan; dan (32) benjolan di atas kepala (uṣṇīṣa). Ini adalah tiga puluh dua tanda agung seorang Buddha.”

Sang Buddha kemudian melanjutkan dengan syair:

Kaki yang kokoh, lembut dan lunak,
Tidak meninggalkan jejak di atas tanah.
Simbol roda
Dengan seribu jari-jari adalah menakjubkan,
Dihiasi dengan warna cerah.
Seperti sebatang pohon nyagrodha,
Perawakan fisiknya sama lebar dan tingginya.
Organ kelamin pria Tathāgata secara ajaib tersembunyi
Seperti organ kelamin seekor kuda.
Pada tubuhnya, dihiasi dengan baik dengan perhiasan emas,
Semua tanda-tanda agung lainnya saling merefleksikan.
Ketika melalui dunia biasa ini,
Tidak ada debu ataupun kotoran yang mengotori tubuhnya,
Yang memiliki kulit surgawi,
Yang sangat halus dan lembut.
Payung kerajaan secara spontan melindungi kehadirannya, dan
Tubuhnya, sumber suara surgawi,
Berwarna ungu keemasan, sesegar bunga [teratai]
Yang mekar untuk pertama kalinya pada permukaan kolam.
Raja bertanya kepada para peramal, dan
Mereka dengan hormat menjawabnya,
Dengan memuji tanda-tanda agung Bodhisattva.
Keseluruhan tubuhnya diselimuti
Dengan cahaya terang yang mengungkapkan semua anggota tubuhnya,
Kaki dan tangannya, secara eksternal dan dari dalam.
Ia mengecap intisari semua makanan;
Batang tubuh bagian atasnya, lurus tidak membungkuk,
Roda dari telapak kaki terungkap, dan
Suaranya seperti suara seekor burung kalaviṅka.
Diberkahi dengan bentuk tumit yang bulat
Yang perlahan-lahan menyempit menuju betis yang lurus,
Ini adalah buah jasa dari kehidupan lampau.
Lengan bagian atas dan sikunya,
Yang bulat dan sempurna, adalah bagus untuk dilihat,
Sedangkan roman mukanya sangat gagah.
Singa yang mulia di antara para manusia
Melampaui semua yang lain dalam kekuatan,
Kedua pipinya bulat dan seimbang,
Dengan ketenangan seekor singa yang berbaring.
Kumpulan giginya, yang berjumlah empat puluh, adalah teratur dan
Tersusun dengan rata dengan tanpa celah di antaranya.
Suaranya yang tidak biasa adalah menakjubkan dan
Menarik semua orang dari jauh dan dekat.
Ia berdiri tegak tanpa membungkuk,
Kedua tangan mencapai lutut kaki.
Tangannya berkembang dengan merata dan lembut.
Ini adalah bentuk keindahan yang sesungguhnya diberkahi
Kepada yang dimuliakan dan terbaik di antara semua manusia.
Ia memiliki benjolan di atas kepalanya,
Mata biru gelap, yang berkedip,
Kedua kelopak mata yang bergerak,
Kedua bahu yang sepenuhnya bulat.
Ia dengan demikian diberkahi dengan tiga puluh dua tanda agung.
Tidak ada ketidakseimbangan tinggi atau rendah
Dengan tumit dan betisnya yang lurus,
Lembut seperti tumit dan betis seekor rusa.
Seakan-akan yang terbaik dari semua makhluk surgawi turun ke dunia,
Seperti halnya seekor gajah dengan meyakinkan menghancurkan tali kekangnya,
Ia dipersiapkan untuk menyebabkan semua makhluk hidup
Terbebaskan dari penderitaan,
Dirinya sendiri menghadapi siklus kelahiran,
Usia tua, penyakit, dan kematian.
Tergerak oleh belas kasihnya,
Ia mengajarkan Empat Kebenaran Mulia,
Menjelaskan makna syair-syair tentang Dharma, dan
Menyebabkan para siswanya mengabdikan dirinya kepada Yang Paling Dimuliakan.

Sang Buddha [lagi] berkata kepada para bhikkhu:

Ketika Buddha Vipaśyin lahir, para dewa melayang-layang di udara memegang sebuah payung putih dan kipas, dengan demikian melindunginya dari dingin dan panas, angin dan hujan, debu dan kotoran.

Sang Buddha kemudian melanjutkan dalam syair:

Tidak pernah sebelumnya muncul di antara para manusia,
Yang Paling Dimuliakan [sekarang] terlahir sebagai makhluk berkaki dua.
Para dewa memberikan penghormatan kepadanya
Dengan memberikan payung dan kipas.

Pada waktu itu ayahanda-raja menyediakan pangeran dengan empat orang pengasuh: yang pertama memberikannya susu, yang kedua memandikannya, yang ketiga mengoleskan minyak wangi ke tubuhnya, dan yang keempat menemaninya bermain. Bergembira dalam hati, mereka mengasuhnya dengan rajin.

Demikianlah Sang Buddha melanjutkan dalam syair:

Dengan cinta dan kasih sayang,
Para pengasuh mengasuh pangeran;
Yang pertama memberikannya susu,
Yang kedua memandikannya,
Yang ketiga mengoleskan minyak wangi ke tubuhnya,
Yang keempat menemaninya bermain.
Yang terbaik dari minyak wangi,
Mereka oleskan kepada Yang Paling Dimuliakan di antara manusia.

Ketika ia telah tumbuh menjadi remaja, semua gadis di negeri itu tidak pernah lelah memperhatikan pangeran muda.

Di sini Sang Buddha melanjutkan dalam syair:

Dikagumi oleh banyak orang dengan banyak penghormatan
Bagaikan sebuah patung emas yang awalnya dilempar,
Para pria dan wanita melihatnya dengan penuh perhatian,
Tidak pernah lelah mengamatinya.

Ketika ia telah tumbuh menjadi remaja, semua penduduk kota, laki-laki dan perempuan, mengaguminya seakan-akan merangkul dan mencium wangi sekuntum bunga yang berharga.

Di sini Sang Buddha melanjutkan dalam syair:

Ketika [Yang] Paling Dimuliakan lahir,
Ia dipuja oleh banyak orang dengan cinta dan penghormatan,
Satu demi satu mereka merangkulnya,
[Seakan-akan] memegang sekuntum bunga yang berharga dan mencium wanginya.

Ketika Bodhisattva lahir, ia tidak mengedipkan matanya, bagaikan para dewa Surga Trāyastriṃśa. Karena menghindari kedipan [mata], ia disebut Vipaśyin.

Di sini Sang Buddha melanjutkan dalam syair:

Yang terbaik di antara semua surga tidak mengedipkan [mata],
Bagaikan para dewa Surga Trāyastriṃśa.
Melihat suatu objek (yaitu, bentuk),
Ia merenungkannya dengan pandangan terang.
Oleh sebabnya ia disebut Vipaśyin.

Ketika Bodhisattva lahir, suaranya sangat jernih, lembut dan anggun bagaikan suara seekor burung kalaviṅka.

Di sini Sang Buddha melanjutkan dalam syair:

Bahkan seperti seekor burung Himalaya meninggikan suaranya
Dengan makanan sari buah,
Demikian juga suara Yang Dimuliakan
Jernih dan menembus bagaikan suara burung itu.
Ketika Bodhisattva lahir, matanya dapat melihat sampai jarak satu yojana.

Di sini Sang Buddha melanjutkan dalam syair:

Sebagai akibat perbuatan-perbuatan masa lampaunya, yang murni,
Ia memperoleh cahaya menakjubkan dari surga.
Matanya dapat melihat apa pun
Dalam jangkauan satu yojana.

Setelah kelahirannya, tahun demi tahun, Bodhisattva tumbuh menjadi seorang pemuda dan menduduki jabatannya di aula utama, dengan menanamkan jalan moralitas kepada para penduduk kota, dengan demikian memberi manfaat kepada mereka. Nama dan kebaikannya terkemuka bahkan di daerah-daerah yang jauh.
« Last Edit: 13 September 2016, 09:18:15 AM by seniya »
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Dirgha Agama vol. 1
« Reply #4 on: 12 September 2016, 10:34:50 PM »
Sang Buddha melanjutkan dalam syair:

Ketika ia masih seorang pemuda,
Dengan menduduki jabatan di aula utama,
Ia memberi manfaat kepada para penduduk kota dengan menanamkan jalan moralitas dan
Mengurusi berbagai pembuatan keputusan.
Karena hal ini ia disebut Vipaśyin.
Pengetahuannya, yang murni dan sejati,
Adalah luas dan terperinci dan
Sedalam samudera raya.
Ia dengan demikian membantu orang-orang
Agar dengan senang hati menerima penanaman [moralitas]nya dan
Menambah dan memperluas kebijaksanaan mereka

Kemudian Bodhisattva, yang ingin pergi bertamasya, memerintahkan para pelayannya, “Persiapkanlah kereta. Aku ingin mengunjungi hutan [kerajaan] untuk melihat berbagai hal dan tempat.”

Setelah mempersiapkan kereta, pelayan itu melaporkan, “Sudah siap, tuan.” Pangeran seketika menaiki [kereta] dan berangkat melalui jalan yang menuju hutan. Namun, di jalan, ia melihat seorang tua berambut putih, semua giginya hilang, wajahnya berkerut, tubuhnya membungkuk dan disokong oleh sebuah tongkat, langkahnya lambat dan lemah, napasnya terengah-engah. Melihat orang itu, pangeran bertanya kepada pelayannya, “Orang apakah itu?”

[Pelayan itu] menjawab, “Itu adalah orang tua, tuan.”

Pangeran bertanya lagi, “Apakah artinya menjadi tua?”

Pelayan itu menjawab, “Tuan, ini artinya bahwa masa kehidupan mendekati akhirnya, hanya meninggalkan suatu jangka waktu terbatas untuk hidup. Ini disebut usia tua, tuan.”

Pangeran bertanya lagi, “Aku juga akan menjadi seperti ini dan tidak dapat meloloskan diri darinya, bukankah demikian?”

Pelayan itu menjawab, “Ya, tuan. Siapa pun yang lahir pasti menjadi tua. Tidak ada bedanya antara orang kaya dan miskin [dalam hal ini], tuan.”

Pada waktu itu pangeran kehilangan minat [bertamasya]. Ia memerintahkan pelayan itu untuk membelokkan kereta seketika dan kembali ke istana. Ketika mengundurkan diri dalam perenungan hening, ia berpikir, “Penderitaan usia tua ini pasti juga terjadi padaku.”

Di sini Sang Buddha lagi melanjutkan dalam syair:

Setelah melihat orang tua
Yang kehidupannya mendekati akhir,
Berjalan dengan langkah yang lemah,
Disokong hanya dengan tongkatnya,
Bodhisattva berpikir:
“Aku juga tidak dapat lolos dari penderitaan ini.”

Pada waktu itu ayahanda-raja bertanya kepada pelayan itu, “Apakah pangeran menikmati tamasyanya?”

[Pelayan itu] menjawab, “Tidak, baginda.” Raja bertanya mengapa. Pelayan itu menjawab, “Baginda, kami bertemu dengan seorang tua di jalan. Pangeran tidak bergembira karena hal itu, tuan.”

Pada waktu itu, ayahanda-raja tidak mengatakan apa pun kepada pelayan itu tetapi berpikir:

Dulu, ketika sekelompok peramal meramalkan keberuntungan pangeran, mereka mengatakan kepadaku bahwa ia pasti akan meninggalkan kehidupan berumah tangga. Sekarang ia tidak bergembira dengan kehidupan di sini. Apakah tidak ada cara untuk mengubah perasaannya? Aku harus melakukan suatu cara bijak, seperti menempatkan tempat kediaman baru di bagian belakang istana. Biarkanlah ia menikmati lima [kesenangan] indera sepenuhnya, yang mengalihkan pikirannya, dengan demikian mencegahnya meninggalkan istana.

Seketika raja memerintahkan tempat kediaman baru pangeran dihiasi dengan menarik dan menugaskan para wanita istana yang terpilih untuk menghiburnya.

Di sini Sang Buddha melanjutkan dengan syair:

Setelah mendengar perkataan pelayan,
Ayahanda-raja melakukan suatu cara bijak
Memerintahkan tempat tinggal pangeran dihiasi dan
Memikat lima inderanya dengan hiburan yang ditingkatkan,
Dengan berharap mencegahnya melepaskan kehidupan berumah tangga.

Pangeran belakangan memerintahkan pelayannya untuk mempersiapkan lagi sebuah kereta dan mengunjungi dunia luar dalam suatu tamasya. [Kali ini] ia bertemu dengan seorang yang sakit. Tubuh orang itu melemah, perutnya membengkak, wajahnya gelap, ia terbaring di tengah-tengah kotorannya sendiri dengan tiada seorang pun melayaninya, dan penyakitnya sangat parah sehingga ia tidak dapat berbicara. Pangeran bertanya kepada pelayannya, “Orang apakah itu?”

Pelayan itu menjawab, “Ia adalah orang sakit, tuan.”

Pangeran bertanya lagi, “Apakah yang dimaksud dengan ‘sakit’?”

Pelayan itu menjawab, “Tuan, ini berarti bahwa banyak kesakitan menyiksa seorang yang kurang sehat, yang membuatnya tidak menentu apakah ia akan hidup atau mati. Karenanya ini disebut penyakit, tuan.”

Pangeran bertanya, “Aku juga akan menjadi seperti ini dan tidak dapat meloloskan diri darinya, bukankah demikian?”

Pelayan itu menjawab, “Ya, tuan. Siapa pun yang lahir akan menjadi sakit. Tidak ada perbedaan antara bangsawan dan rakyat jelata [dalam hal ini], tuan.”

Pada waktu itu, pangeran kehilangan minat [bertamasya]. Ia memerintahkan pelayan itu untuk membelokkan kereta seketika dan kembali ke istana. Ketika mengundurkan diri dalam perenungan hening, ia berpikir, “Penderitaan penyakit ini pasti juga terjadi padaku.”

Di sini Sang Buddha lagi melanjutkan dalam syair:

Setelah melihat seseorang dengan penyakit parah
Yang corak kulitnya kurus kering dan gelap,
Bodhisattva mengundurkan diri dalam perenungan hening,
Berpikir, “Aku juga tidak dapat meloloskan diri dari penderitaan ini.”

Pada waktu itu ayahanda-raja bertanya kepada pelayan itu, “Apakah pangeran menikmati tamasyanya?”

Ia menjawab, “Tidak, baginda.” Raja bertanya lagi mengapa. Pelayan itu menjawab, “Baginda, kami bertemu dengan seorang yang sakit di jalan. Pangeran tidak bergembira karena hal itu, tuan.”

Pada waktu itu, ayahanda-raja tidak menanyai pelayan itu lagi, tetapi berpikir:

Dulu ketika sekelompok peramal meramalkan keberuntungan pangeran, mereka mengatakan kepadaku bahwa ia akan meninggalkan kehidupan berumah tangga. Sekarang ia tidak bergembira dengan kehidupan di sini. Tidakkah ada suatu cara bijak untuk mengubah perasaannya? Aku harus melakukan beberapa cara bijak, untuk meningkatkan hiburan [untuk]nya dengan musik dan tarian, yang mengalihkan pikirannya, dengan demikian mencegahnya meninggalkan kehidupan berumah tangga.

Seketika, [raja] memerintahkan tempat kediaman baru dengan menarik dihiasi dan menugaskan para wanita istana yang terpilih untuk menghibur pangeran.

Di sini Sang Buddha melanjutkan dengan syair:

Bentuk, suara, bebauan, rasa, dan sentuhan
Adalah halus dan menyenangkan.
Karena jasa kebajikan memberkahi Bodhisattva,
Demikianlah ia menikmati kehidupannya di antara kesenangan-kesenangan [indera] ini.

Lagi, pada kesempatan lain, pangeran memerintahkan pelayannya mempersiapkan sebuah kereta dan mengunjungi dunia luar dalam suatu tamasya, tetapi ia bertemu dengan seorang yang sudah meninggal di jalan. Keluarga dan sanak saudara, yang meratap dan menangis dengan keras, pergi ke luar kota dalam upacara pemakaman, dengan berbagai bendera dari depan sampai belakang.

Pangeran lagi bertanya kepada pelayannya, “Apakah orang ini?” Ia menjawab, “Ini adalah orang mati, tuan.”

Pangeran bertanya, “Apakah yang dimaksud dengan kematian?” Pelayan itu menjawab:

Tuan, ini berarti padamnya [kehidupan], yang didahului oleh lenyapnya napas, kemudian kehilangan panas [tubuh], dan kemudian terurainya indera-indera. Orang hidup dan orang mati berada di dunia yang [sangat] berbeda. Ini [sepenuhnya] memisahkan seseorang dari keluarganya. Karenanya, ini disebut kematian, tuan.

Pangeran bertanya lagi, “Aku juga akan menjadi seperti ini dan tidak dapat meloloskan diri darinya, bukankah demikian?”

Pelayan itu menjawab, “Ya, tuan. Siapa pun yang lahir akan meninggal dunia. Tidak ada perbedaan antara bangsawan dan rakyat jelata [dalam hal ini], tuan.”

Pada waktu itu, pangeran kehilangan minat [bertamasya] dan memerintahkan pelayan itu untuk membelokkan kereta seketika dan kembali ke istana. Mengundurkan diri dalam perenungan hening, ia berpikir, “Penderitaan kematian ini pasti juga terjadi padaku.”

Di sini Sang Buddha lagi melanjutkan dalam syair:

Setelah melihat seorang yang sudah meninggal untuk pertama kalinya, dan
Mengetahui orang mati itu akan terlahir kembali,
Ia mengundurkan diri dalam perenungan hening,
Berpikir, “Aku juga tidak dapat meloloskan diri dari penderitaan ini.”

Pada waktu itu ayahanda-raja bertanya kepada pelayan itu, “Apakah pangeran menikmati tamasyanya?” Ia menjawab, “Tidak, baginda.”

Raja bertanya lagi mengapa. Pelayan itu menjawab, “Baginda, kami bertemu dengan seorang yang sudah meninggal di jalan. Pangeran tidak bergembira karena hal itu, tuan.”

Pada waktu itu, ayahanda-raja tidak menanyai pelayan itu lagi, tetapi berpikir:

Dulu ketika sekelompok peramal meramalkan keberuntungan pangeran, mereka mengatakan kepadaku bahwa ia akan meninggalkan kehidupan berumah tangga. Sekarang ia tidak bergembira dengan kehidupan di sini. Tidakkah ada suatu cara bijak untuk mengubah perasaannya? Aku harus melakukan beberapa cara bijak, untuk meningkatkan hiburan [untuk]nya dengan musik dan tarian, yang mengalihkan pikirannya, dengan demikian mencegahnya meninggalkan kehidupan berumah tangga.

Seketika, [raja] memerintahkan tempat kediaman baru dengan menarik dihiasi dan menugaskan para wanita istana untuk menghibur pangeran.

Di sini Sang Buddha melanjutkan dalam syair:

Sang pangeran muda, yang sangat terkemuka,
Yang dikelilingi para wanita istana,
Menikmati kesenangan lima indera,
Bagaikan dewa Indra.

Lagi, pada kesempatan lain, pangeran memerintahkan pelayannya mempersiapkan sebuah kereta dan mengunjungi dunia luar dalam suatu tamasya. Ia bertemu dengan seorang pertapa (śramaṇa) di jalan. Ia mengenakan jubah saṃghāṭī dan dengan mangkuk dananya pada tangannya berjalan dengan matanya melihat ke bawah di jalan.

Pangeran itu seketika bertanya kepada pelayan itu: “Apakah orang ini?” Ia menjawab, “Ini adalah seorang śramaṇa, tuan.”

Pangeran bertanya, “Apakah yang dimaksud dengan śramaṇa?” Pelayan itu menjawab:

Tuan, ini berarti orang itu telah meninggalkan hubungan keluarganya, setelah pergi meninggalkan keduniawian dari kehidupan berumah tangga. Ia menjalankan praktek religius, dengan mengendalikan indera-indera dan menghindari diri dari ketertarikan terhadap objek-objek eksternal keinginan. Karena belas kasihnya, ia menghindari diri dari perbuatan melukai apa pun, tidak terjebak oleh kekhawatiran akan penderitaan, ataupun bergembira dalam mengalami kesenangan [indera]; kokoh bagaikan bumi, oleh sebabnya ia disebut śramaṇa, tuan.

Pangeran berkata:

Sangat bagus. Jalan orang ini pasti benar dan tepat, yang melampaui dunia debu dan kotoran selamanya. Halus dan mendalam, mulia dan sederhana, aku memandangnya paling memuaskan!

Seketika ia memerintahkan pelayan itu, “Belokkan kereta dan berhentilah di dekat orang itu.” Kemudian ia bertanya kepada pertapa itu, “Setelah mencukur rambut dan janggutmu, mengenakan jubah saṃghāṭī, dan membawa sebuah mangkuk dana pada tanganmu, apakah yang anda cari?” Śramaṇa itu menjawab:

Siapa pun yang telah meninggalkan kehidupan berkeluarga seharusnya memperhatikan pada pengendalian pikiran dan keinginannya, yang melampaui hal-hal duniawi. Membantu para makhluk hidup dengan cinta kasih, tetapi tidak tertarik pada mereka, dengan pikiran yang tidak berpihak dan teguh, ia memusatkan perhatian pada praktek sang jalan.

Pangeran menjawab, “Sangat bagus. Jalanmu adalah paling benar dan tepat.” Kemudian ia berkata kepada pelayannya, “Bawalah pakaianku dan kereta ini, dan kembalilah untuk menyampaikan kata-kataku kepada raja:

Aku akan mencukur rambut dan janggutku di tempat ini, memakai tiga jubah pertapa, meninggalkan kehidupan berumah tangga, dan berlatih jalan religius. Alasan [atas hal ini] adalah karena aku [lebih] memperhatikan pada pengendalian pikiran dan keinginanku, yang melampaui hal-hal duniawi; aku ingin menjaga pikiranku dengan murni, dengan demikian mempelajari metode sang jalan.

Kemudian pelayan itu membelokkan keretanya [menuju istana] untuk menyampaikan pesan pangeran kepada ayahnya, sang raja. Setelah itu, pangeran mencukur rambut dan janggutnya dan mengenakan tiga jubah pertapa, dengan demikian menyelesaikan pelepasan kehidupan berumah tangganya.

Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu:

Pangeran melihat seorang yang tua dan sakit dan menyadari kenyataan tentang penderitaan dan kesakitan. Ketika ia melihat seorang yang sudah meninggal, ia kehilangan kemelekatannya pada dunia awam. Tetapi segera setelah ia melihat seorang śramaṇa, ia seketika mencapai terobosan spiritual yang mendalam. Ketika ia turun dari keretanya, ia melembutkan langkahnya, dengan maju setengah langkah kaki biasanya, dan melepaskan pakaian keterikatannya. Ini adalah pelepasan sejati atas kehidupan berkeluarga. Ini adalah penarikan sejati dari dunia awam. Kemudian, setelah mencukur rambut dan janggutnya, ia mengenakan jubah saṃghāṭī, dan dengan sebuah mangkuk dana pada tangannya ia pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan.

Para penduduk berkata satu sama lain:

Ini pasti jalan sejati, karena ini telah menyebabkan bahkan pangeran memutuskan untuk meninggalkan kemuliaan karir dan jabatannya.

Ini mengakibatkan terjadinya banyak pelepasan [keduniawian] yang sama. Dari seluruh negeri, datanglah saat itu kepada pangeran delapan puluh empat ribu orang penduduk kota, yang menjadi para siswanya, meninggalkan kehidupan berkeluarga, dan memasuki praktek sang jalan.

Sang Buddha kemudian melanjutkan dalam syair:

Setelah mendengar bahwa [pangeran] memilih
Dharma yang mendalam dan mulia,
Banyak mengikuti teladannya
Dalam meninggalkan kehidupan berkeluarga mereka.
Menjaga jarak diri mereka dari
Ikatan kewajiban dan cinta,
Mereka bebas dari sebab kemelekatan.

Kemudian, dengan menerima para pengikut baru ini dan mengizinkan mereka menemani dirinya, pangeran berkelana dari desa ke desa, dari negeri ke negeri, menyebarluaskan ajarannya di mana pun ia berhenti. Di mana pun ia singgah, orang-orang selalu mempersembahkan empat jenis sokongan (yaitu, makanan dan minuman, jubah atau kain, tempat tinggal, dan obat-obatan) demi penghormatan. Bodhisattva berpikir:

Aku telah mengadakan perjalanan dengan sekumpulan siswa di antara para penduduk berbagai negeri, tetapi aku tidak lagi menikmati perkumpulan dan kebisingan. Aku harus mencari cara meninggalkan keramaian orang ini dan mencari jalan tertinggi di beberapa tempat yang sunyi.

Belakangan, pangeran memenuhi keinginannya akan pengejaran kesunyian dan memusatkan latihannya di suatu tempat yang terpencil. Tetapi lagi ia tertekan oleh suatu pemikiran:

Sangat disayangkan melihat bahwa semua makhluk hidup berdiam selalu dalam kegelapan ketidaktahuan dan menghadapi berbagai bahaya, apakah kelahiran, usia tua, penyakit, atau kematian; dalam kegelapan ini semua bentuk penderitaan ini muncul seketika, dengan kematian di sini dan kelahiran di sana, kematian di sana dan kelahiran di sini. Karena kelompok unsur kehidupan (yaitu, unsur-unsur jasmani dan batin) itu sendiri adalah penderitaan, siklus samsara kehidupan adalah tiada akhir. Aku suatu saat nanti akan menyempurnakan suatu pemahaman yang menyeluruh atas kelompok unsur kehidupan ini yang secara alami adalah penderitaan, dan dengan demikian [sekali dan selamanya] mengakhiri sepenuhnya penderitaan kelahiran, usia tua, dan kematian.
« Last Edit: 13 September 2016, 07:03:20 PM by seniya »
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Dirgha Agama vol. 1
« Reply #5 on: 12 September 2016, 10:38:56 PM »
Lagi pangeran berpikir:

Setelah mengikuti atau dengan bergantung pada apakah proses kelahiran dan kematian muncul? Menyelidiki melalui pengetahuan analitis sebab dari kemunculan ini, aku melihatnya sebagai berikut: Mengikuti kelahiran (jāti) muncullah usia tua dan kematian. Kelahiran adalah kondisi sebab dari usia tua dan kematian (jarāmaraṇa). Kelahiran muncul mengikuti penjelmaan (bhava); penjelmaan adalah kondisi dari kelahiran. Penjelmaan muncul mengikuti kemelekatan (upādāna); kemelekatan adalah kondisi dari penjelmaan. Kemelekatan muncul mengikuti ketagihan (tṛṣṇā); ketagihan adalah kondisi dari kemelekatan. Ketagihan muncul mengikuti perasaan (vedanā); perasaan adalah kondisi untuk ketagihan. Perasaan muncul mengikuti kontak (sparśa); kontak adalah kondisi dari perasaan. Kontak muncul mengikuti enam landasan indera (ṣaḍāyatana) [yaitu, indera penglihatan, pendengaran, pembauan, pengecapan, sentuhan, dan pemikiran]; enam landasan indera adalah kondisi dari kontak. Enam landasan indera muncul mengikuti nama dan bentuk (nāmarūpa); nama dan bentuk adalah kondisi dari enam landasan indera. Nama dan jasmani muncul mengikuti kesadaran (vijñāna); kesadaran adalah kondisi dari nama dan bentuk. Kesadaran muncul mengikuti bentukan (saṃskāra); bentukan adalah kondisi dari kesadaran. Bentukan muncul mengikuti ketidaktahuan (avidyā). Sehubungan dengan kebenaran kemunculan bergantungan (pratītyasamutpāda) yang sebelumnya, ketidaktahuan adalah kondisi dari bentukan. Demikianlah, bergantung pada ketidaktahuan, muncullah bentukan. Bergantung pada bentukan, muncullah kesadaran. Bergantung pada kesadaran, muncullah nama dan bentuk. Bergantung pada nama dan bentuk, muncullah enam landasan indera. Bergantung pada enam landasan indera, muncullah kontak. Bergantung pada kontak, muncullah perasaan. Bergantung pada perasaan, muncullah ketagihan. Bergantung pada ketagihan, muncullah kemelekatan. Bergantung pada kemelekatan, muncullah penjelmaan. Bergantung pada penjelmaan, muncullah kelahiran. Bergantung pada kelahiran, muncullah usia tua, penyakit, kematian, dukacita, ratapan, penderitaan, dan kesakitan. Kelompok unsur kehidupan ini yang adalah penderitaan itu sendiri muncul berdasarkan pada kelahiran. Ini disebut kelompok sebab akibat penderitaan.

Ketika Bodhisattva merenungkan kelompok sebab akibat penderitaan ini, muncul dalam dirinya pengetahuan, penglihatan (cakṣus), kesadaran, kebijaksanaan, pengetahuan, dan realisasi.

Kemudian Bodhisattva berpikir lagi:

Dengan ketiadaan apakah aku dapat mengatakan bahwa tidak ada lagi usia tua dan kematian? Dengan lenyapnya apakah usia tua dan kematian lenyap? Menyelidiki sebab lenyapnya ini melalui pengetahuan [analitis], aku melihatnya sebagai berikut: Ketika kelahiran tidak ada, tidak ada lagi usia tua dan kematian; dengan lenyapnya kelahiran, usia tua dan kematian lenyap. Ketika penjelmaan tidak ada, tidak ada lagi kelahiran; dengan lenyapnya penjelmaan, kelahiran lenyap. Ketika tidak ada kemelekatan, tidak ada lagi penjelmaan; dengan lenyapnya kemelekatan, penjelmaan lenyap. Ketika tidak ada ketagihan, tidak ada lagi kemelekatan; dengan lenyapnya ketagihan, kemelekatan lenyap. Ketika tidak ada perasaan, tidak ada lagi ketagihan; dengan lenyapnya perasaan, ketagihan lenyap. Ketika tidak ada kontak, tidak ada lagi perasaan; dengan lenyapnya kontak, perasaan lenyap. Ketika tidak ada enam landasan indera, tidak ada lagi kontak; dengan lenyapnya enam landasan, kontak lenyap. Ketika tidak ada nama dan bentuk, tidak ada lagi enam landasan indera; dengan lenyapnya nama dan bentuk, enam landasan indera lenyap. Ketika tidak ada kesadaran, tidak ada lagi nama dan bentuk; dengan lenyapnya kesadaran, nama dan bentuk lenyap. Ketika tidak ada bentukan, tidak ada lagi kesadaran; dengan lenyapnya bentukan, kesadaran lenyap. Ketika tidak ada ketidaktahuan, tidak ada lagi bentukan; dengan lenyapnya ketidaktahuan, bentukan lenyap.

Ini berarti bahwa dengan lenyapnya ketidaktahuan, bentukan lenyap. Dengan lenyapnya bentukan, kesadaran lenyap. Dengan lenyapnya kesadaran, nama dan bentuk lenyap. Dengan lenyapnya nama dan bentuk, enam landasan indera lenyap. Dengan lenyapnya enam landasan indera, kontak lenyap. Dengan lenyapnya kontak, perasaan lenyap. Dengan lenyapnya perasaan, ketagihan lenyap. Dengan lenyapnya ketagihan, kemelekatan lenyap. Dengan lenyapnya kemelekatan, penjelmaan lenyap. Dengan lenyapnya penjelmaan, kelahiran lenyap. Dengan lenyapnya kelahiran, usia tua, kematian, dukacita, ratapan, penderitaan, dan kesakitan batin lenyap.

Ketika Bodhisattva merenungkan lenyapnya kelompok sebab akibat penderitaan, muncul dalam dirinya pengetahuan, penglihatan, kesadaran, kebijaksanaan, pengetahuan, dan realisasi. Pada waktu itu, Bodhisattva merenungkan rantai sebab akibat berunsur dua belas (pratītyasamutpāda) sesuai dengan jalan pemenuhan menuju terjadinya fenomena dan juga sesuai dengan jalan yang berlawanan menuju lenyapnya fenomena. Dalam kedua proses ini, ia dengan demikian menyempurnakan jalan tertinggi mengetahui hal-hal sebagaimana adanya dan melihat hal-hal sebagaimana adanya. Pada satu tempat duduk di mana ia duduk itu, Bodhisattva merealisasi pencerahan sempurna, yang tertinggi.

Sang Buddha kemudian melanjutkan dalam syair:

Berikut adalah ajaran yang diajarkan di hadapan para bhikkhu –
Dengarkanlah hal ini dengan seksama.
Ketika Bodhisattva dari masa lampau
Menyelidiki Dharma yang belum pernah dipelajari,
Ia bertanya:
“Bergantung pada kondisi apakah dan pada sebab apakah
Usia tua dan kematian muncul?”
Setelah menyelidiki hal itu dengan cara yang benar,
Ia menyadari bahwa awal mulanya adalah dari kelahiran.
“Bergantung pada kondisi apakah atau pada sebab apakah
Kelahiran berawal mula?”
Setelah berpikir dengan cara demikian,
Ia menyadari bahwa kelahiran muncul
Bergantung pada penjelmaan.
Dengan menggenggam ini atau menggenggam itu,
Penjelmaan diperkuat dan
Menjadi semakin kuat dari satu [tahap] ke [tahap] lainnya.
Karena penguatan ini,
Sang Tathāgata menjelaskan bahwa penjelmaan
Muncul bergantung pada kemelekatan.
Bagaikan tumpukan sampah kotor di atas permukaan air (yaitu, kelompok unsur kehidupan)
Mengapung di atas arus yang didorong oleh tiupan angin (yaitu, keinginan dan kemelekatan yang kuat)
Demikian juga kemelekatan
Menjangkau jauh dan luas
Melalui kekuatan ketagihan yang kuat.
Ketagihan ini muncul bergantung pada perasaan,
Awal mula semua jala penderitaan,
Kesakitan dan kenikmatan masing-masing berkembang sesuai dengan
Kekuatan kemelekatan.
“Bergantung pada apakah dan dalam apakah
Perasaan berawal mula?”
Setelah berpikir dengan cara ini,
Ia menyadari bahwa perasaan muncul bergantung pada kontak.
“Bergantung pada apakah dan dalam apakah
Kontak berawal mula?”
Setelah berpikir dengan cara ini,
Ia menyadari bahwa kontak
Bergantung pada enam landasan indera.
“Bergantung pada apakah dan dalam apakah
Enam landasan indera berawal mula?”
Setelah berpikir dengan cara ini,
Ia menyadari bahwa enam landasan indera
Muncul bergantung pada nama dan bentuk.
“Bergantung pada apakah dan dalam apakah
Nama dan jasmani berawal mula?”
Setelah berpikir dengan cara ini,
Ia menyadari bahwa nama dan bentuk
Muncul bergantung pada kesadaran.
“Bergantung pada apakah dan dalam apakah
Kesadaran berawal mula?”
Setelah berpikir dengan cara ini,
Ia menyadari bahwa kesadaran
Muncul bergantung pada bentukan
“Bergantung pada apakah dan dalam apakah
Bentukan berawal mula?”
Setelah berpikir dengan cara ini,
Ia menyadari bahwa bentukan
Muncul bergantung pada ketidaktahuan.
Kemunculan bergantungan yang sebelumnya disebut “sebab sejati.”
Ketika seseorang menyelidiki hubungan sebab akibat
Melalui pengetahuan mendalam dan cara bijaksana,
Ia dapat memahami akar kemunculan bergantungan.
Penderitaan bukanlah suatu hasil para bijaksana,
Ataupun ia ada tanpa sebab dan kondisi,
Fenomena penderitaan adalah tunduk pada perubahan, dan
Karenanya ia adalah objek yang dapat diakhiri atau
Dilenyapkan oleh para bijaksana.
Ketika ketidaktahuan lenyap,
Tidak ada bentukan.
Ketika bentukan tidak ada,
Tidak ada kesadaran.
Ketika kesadaran lenyap,
Tidak ada nama dan bentuk.
Ketika nama dan bentuk telah lenyap,
Tidak ada enam landasan indera.
Ketika enam landasan indera lenyap,
Tidak ada kontak.
Ketika kontak lenyap,
Tidak ada perasaan.
Ketika perasaan lenyap,
Tidak ada ketagihan.
Ketika ketagihan lenyap,
Tidak ada kemelekatan.
Ketika kemelekatan lenyap,
Tidak ada penjelmaan.
Ketika penjelmaan lenyap,
Tidak ada kelahiran.
Ketika kelahiran lenyap,
Tidak ada kelompok penderitaan,
Seperti usia tua dan kematian.
Keseluruhan kumpulan penderitaan lenyap selamanya.
Sebab akibat dari kemunculan bergantungan berfaktor dua belas,
Seperti yang diajarkan oleh para bijaksana, sangatlah mendalam.
Sulit untuk dilihat, dan sulit untuk diketahui.
Sang Buddha sendiri sepenuhnya memahami
Jalan di mana hal-hal
Muncul melalui kebergantungan pada yang lain, dan
Di mana hal-hal lenyap melalui ketiadaan yang lain.
Jika seseorang sepenuhnya menyelidiki keterkaitan sebab akibat ini,
Tidak akan muncul enam landasan indera.
Siapa pun yang melihat sebab akibat dari kemunculan bergantungan sepenuhnya
Tidak akan mencari seorang guru.
Ia akan sepenuhnya terbebaskan
Dari nafsu dan ketagihan sehubungan dengan kelompok unsur kehidupan,
Unsur-unsur, dan landasan-landasan indera.
Ia layak menerima semua jenis persembahan dan
Membalas kedermawan sang pendana.
Jika seseorang memperoleh empat pengetahuan analitis (yaitu, tentang Dharma, makna, bahasa, dan penjelasan)
Ia akan mencapai kepastian yang tidak tergoyahkan,
Akan dapat bebas dari semua ikatan, dan
Ketika telah memadamkannya,
Tidak akan mengendur [karena] apa pun.
Lima kelompok unsur kehidupan, yaitu,
Bentuk, perasaan, persepsi,
bentukan, dan kesadaran,
Bagaikan sebuah kereta tua.
Ketika seseorang merenungkan hal ini dengan penuh perhatian,
Ia akan dapat merealisasi pencerahan sempurna
Bagaikan seekor burung terbang di tengah udara
Sesuai dengan [arah] angin timur dan barat.
Bodhisattva dapat mengakhiri
Belenggu berbagai kekotoran
Bagaikan angin yang bertiup melalui jubah yang ringan
Menggugurkan debunya
Buddha Vipaśyin sedang berdiam di suatu tempat yang terpencil dan
Merenungkan hal-hal yang sebelumnya [disebutkan], yaitu,
“Bergantung pada kondisi apakah
Usia tua dan kematian muncul?” dan
“Bergantung pada sebab apakah ia lenyap?”
Setelah berhasil menyelesaikan
Perenungannya tentang hal-hal ini,
Ia merealisasi pengetahuan yang benar dan sejati.
Ia merealisasi bahwa usia tua dan kematian
Muncul bergantung pada kelahiran.
Tetapi ketika kelahiran lenyap,
Usia tua dan kematian juga lenyap.

Ketika Buddha Vipaśyin pertama kali menyempurnakan sang jalan, ia seringkali berdiam dalam dua jenis pencapaian meditatif: pertama, pencapaian meditatif dalam keadaan kedamaian dan ketenangan; dan kedua, pencapaian meditatif dari pembebasan.

Di sini Sang Buddha melanjutkan dalam syair:

Dengan tiada yang menyamainya,
Sang Tathāgata sering berdiam dalam dua jenis pencapaian meditatif:
Pencapaian meditatif dari kedamaian dan ketenangan serta pencapaian meditatif dari pembebasan.
Sang Bijaksana menyeberang menuju pantai di sana dan
Membebaskan pikirannya dengan mengakhiri semua kekotoran.
Menaiki puncak gunung,
Ia melihat ke semua arah.
Karenanya ia disebut Vipaśyin.
Cahaya pengetahuan mulia melenyapkan kegelapan
Bagaikan cahaya yang bersinar sendiri melalui sebuah cermin yang memantulkannya.
Ia melenyapkan dukacita dan kesakitan bagi semua orang
Dengan memadamkan penderitaan kelahiran, usia tua, dan kematian.

Buddha Vipaśyin, di tempatnya yang terpencil, berpikir lagi:

Walaupun aku telah menyempurnakan Dharma yang tertinggi ini, karena Dharma ini adalah mendalam dan mulia, sulit bagi orang-orang biasa untuk memahami dan sulit bagi mereka untuk melihat. Dharma ini adalah hening, murni dan sejati; ia hanya dapat diketahui oleh seseorang yang berpengetahuan mendalam, dan karenanya tidak dapat dicapai oleh orang biasa mana pun atau orang bodoh. Orang-orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam kesabaran, pandangan yang berbeda dalam berbagai hal, tanggapan yang berbeda pada persepsi, dan praktek yang berbeda-beda. Karenanya, mereka mengarah pada hal-hal dan tujuan yang mereka sukai, masing-masing menyibukkan diri pada apa yang biasa ia lakukan. Karena hal ini, mereka tidak dapat memahami kebenaran yang mendalam dari kemunculan bergantungan ini, ataupun mereka tidak dapat memahami nirvana adalah lenyapnya ketagihan. Bahkan jika aku berusaha mengajarkan Dharma ini, mereka tentu saja tidak hanya akan gagal memahaminya tetapi juga, sebaliknya, akan semakin jengkel melalui kehadiran kontak (yaitu, mendengarkan Dharma).

Setelah berpikir dengan cara ini, ia seketika kembali berdiam diri dan tidak berusaha mengajarkan Dharma kepada siapa pun.

Kemudian dewa Brahmā, yang mengetahui bahwa Tathāgata Vipaśyin telah berpikir [demikian], segera berpikir:
Sangat disayangkan bahwa orang-orang dunia ini sekarang kebingungan menuju kehancuran. Walaupun Buddha Vipaśyin dapat merealisasi Dharma yang mendalam ini, ia tidak berkecenderungan untuk mengajarkannya kepada orang-orang.

Dalam sekejap, secepat seorang yang kuat membengkokkan tangannya dan meluruskannya, Brahmā turun dari istana surgawinya dan berdiri di hadapan Buddha [Vipaśyin]. Dengan sikap penuh penghormatan, menghormati [Vipaśyin dengan merendahkan] dahinya [pada kakinya], ia mengundurkan diri pada satu sisi. Kemudian dewa Brahmā, dengan berlutut dengan lutut kanannya di atas tanah dan dengan kedua telapak tangannya disatukan, berkata kepada Buddha [Vipaśyin]:

Bolehkah aku memohon kepadamu, O Sang Bhagavā? Ajarkanlah Dharma kepada dunia ketika waktunya tiba. Pada saat ini, orang-orang dunia ini, yang dipengaruhi oleh berbagai kekotoran, telah menjadi tidak jujur dan [bertindak] sembarangan, indera-indera mereka ditujukan sepenuhnya untuk keuntungan mereka sendiri. Sifat alami mereka harus diubah dan dibuat lebih menghormati [Dharma]; [mereka seharusnya] takut melakukan pelanggaran berat di mana tidak ada pengampunan bahkan pada kehidupan mereka berikutnya, dengan demikian mengendalikan mereka dari [melakukan] perbuatan-perbuatan jahat sementara mendorong mereka untuk mengembangkan perbuatan-perbuatan baik.

Sang Buddha menjawab dewa Brahmā:

Engkau benar. Apa yang telah engkau katakan sesungguhnya benar. Tetapi bolehkah aku memberitahukan engkau apa yang telah kupikirkan sendiri  di tempatku yang terpencil? Dharma sejati yang telah kurealisasi adalah sangat mendalam dan mulia, sulit bagi orang-orang biasa untuk memahami dan sulit bagi mereka untuk melihat. Bahkan jika aku berusaha mengajarkan Dharma ini kepada orang-orang, mereka akan gagal memahaminya, dan kejengkelan mereka akan bertambah ketika mendengar ajaranku. Karena hal ini, aku telah memutuskan untuk berdiam diri dan tidak ingin mengajar. Sejak tak terhitung kalpa yang lampau, aku telah melanjutkan, dalam pengerahan usaha dan tanpa mengendur, untuk berlatih jalan tertinggi, dan aku saat ini telah menyempurnakan Dharma ini yang paling sulit untuk direalisasi. Jika aku mengajarkan Dharma ini kepada mereka yang tenggelam oleh nafsu, kebencian, dan ketidaktahuan, demi semua tujuan praktis ajaranku tidak akan pernah diterima oleh mereka dan hanya membuatku kelelahan. Dharma ini adalah mendalam dan bertentangan dengan karakteristik [umum] dunia manusia. Orang-orang ternoda dengan keinginan, diselimuti oleh kegelapan ketidaktahuan, tidak dapat meyakini dan memahami. O Brahmā, raja para dewa, ini adalah apa yang telah kupikirkan. Karena hal ini, aku telah berdiam diri dan tidak berusaha mengajar Dharma.

Kemudian raja Surga Brahmā memohon Sang Buddha mengubah pikirannya, dengan mengulangi tiga kali perkataan berikut:

O Sang Bhagavā, jika engkau tidak mengajarkan Dharma kepada dunia manusia ini yang saat ini kebingungan menuju kehancuran, ini akan menjadi kehilangan besar. Semoga, aku memohon, O Sang Bhagavā, agar engkau menyebarluaskan ajaran pada waktu yang tepat, dengan demikian mencegah umat manusia jatuh ke alam kehidupan yang lebih rendah.

Pada waktu itu, setelah mendengar permohonan dewa Brahmā yang penuh penghormatan, Buddha Vipaśyin mengamati dunia, menemukan bahwa beberapa orang tidak begitu terkotori dan yang lainnya lebih terkotori, beberapa diberkahi dengan lebih baik dan yang lain tidak, [dan ia kemudian menyadari] bahwa akan lebih mudah mengajar beberapa dari mereka sementara akan lebih sulit mengajar orang lain. Mereka yang lebih mudah diajarkan Dharma seharusnya ditanamkan rasa takut dalam melakukan pelanggaran yang tidak dapat diperbaiki pada kehidupan mereka berikutnya, dan karenanya mendorong melenyapkan perbuatan-perbuatan jahat sementara mengembangkan perbuatan-perbuatan baik. Seumpamanya, di antara seroja-seroja yang mekar dalam warna yang berbeda-beda, seperti biru, merah muda, merah dan putih, beberapa tumbuh keluar dari lumpur yang kotor, [tetapi] belum mencapai permukaan air; beberapa hanya muncul ke permukaan air; dan beberapa muncul ke permukaan air tetapi tidak berkembang – namun semuanya sama tidak ternodai oleh air dan siap untuk berkembang. Orang-orang dunia ini bagaikan tanaman seroja ini.

Pada waktu itu, Sang Bhagavā berkata kepada raja Brahmā:

Karena aku telah tergerak oleh belas kasih terhadap kalian semua, aku akan membuka pintu gerbang Dharma, minuman surgawi bagi kehidupan, dan mengajarkannya kepada dunia. Tetapi karena ia sangat mendalam dan mulia, sulit untuk dipahami dan diketahui, aku hanya akan mengajar mereka yang meyakininya dan mendengarnya dengan sukacita, [dan] tidak [akan] mengajar mereka yang jengkel ketika mendengarnya dan karenanya tidak memperoleh manfaat darinya.

Pada waktu itu, raja Brahmā mengetahui bahwa Sang Buddha telah menerima permohonannya dan, bergembira, penuh sukacita, dan terdorong, ia melanjutkan berjalan di sekeliling Sang Buddha menuju ke kanan, mengelilinginya tiga kali. Setelah menghormati [Sang Buddha dengan merendahkan dahinya pada] kaki[nya], [Brahmā] tiba-tiba menghilang. Tak lama setelah Brahmā menghilang, Sang Tathāgata dengan diam-diam berpikir, “Kepada siapakah aku seharusnya mengajarkan Dharma pertama kali?” Ia menetapkan pikirannya, dengan berpikir, “Aku seharusnya pergi ke kota Bandhumatī dan pertama kali membuka pintu gerbang minuman surgawi demi kepentingan Pangeran Tiṣya dan putra menteri Khaṇḍa.” Sang Buddha tiba-tiba menghilang dari tempat duduknya di bawah pohon bodhi tetapi dalam sekejap, [selama waktu] yang diperlukan bagi seorang yang kuat untuk membengkokkan tangannya dan meluruskannya, ia tiba di Taman Rusa di kota Bandhumatī, yang merupakan milik Raja Bandhumant dan, dengan membentangkan kain duduknya di sana, ia mengambil tempat duduk di sana.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Dirgha Agama vol. 1
« Reply #6 on: 12 September 2016, 10:42:53 PM »
Di sini Sang Buddha melanjutkan dalam syair:

Bagaikan seekor singa yang berkelana di dalam hutan
Dengan santai sekehendak hatinya,
Demikian juga Sang Buddha berkelana dengan cara yang sama
Dengan tanpa halangan apa pun.

Buddha Vipaśyin berkata kepada penjaga taman:

Kembalilah ke kota dan katakan kepada Pangeran Tiṣya dan putra menteri Khaṇḍa dengan perkataan ini: “Apakah anda mengetahui, tuan, bahwa Buddha Vipaśyin telah tiba di hutan Taman Rusa dan ingin bertemu dengan anda. Ini adalah kesempatan yang baik, tuan!”

Seperti yang diperintahkan, penjaga taman pergi menemui mereka dan menyampaikan perkataan [Sang Buddha] kepada mereka secara terperinci. Setelah mendengar penjaga itu, [Pangeran Tiṣya dan putra menteri Khaṇḍa] segera pergi ke tempat di mana Sang Buddha sedang berdiam, dan setelah menundukkan dahi mereka pada kaki Sang Buddha, mereka mengundurkan diri pada satu sisi.

Kemudian Sang Buddha mulai mengajarkan mereka Dharma, dengan mendorong, memberi manfaat, dan menggembirakan mereka. Ia mengajarkan mereka ajaran tentang kedermawanan, ajaran tentang moralitas, ajaran tentang kelahiran di surga, ajaran bahwa belenggu keinginan dan kekotoran yang tidak murni adalah berbahaya, dan ajaran bahwa pelepasan dari rintangan-rintangan ini adalah yang utama, mendalam, murni, dan layak mendapat pujian.

Pada waktu itu, Sang Bhagavā mengamati bahwa pikiran para pemuda ini bersifat dapat menerima [ajaran yang lebih lanjut], dipenuhi dengan sukacita dan keyakinan, dan menerima Dharma sejati. Oleh sebab itu, ia memperkenalkan (1) ajaran tentang kebenaran mulia penderitaan (ārya-duḥkha-satya), menjelaskannya secara terperinci, dan membantu mereka memahaminya. Lebih lanjut, ia melanjutkan tiga kebenaran yang tersisa masing-masing dan memberikan penjelasan yang sesuai pada masing-masing ajaran ini, yaitu: (2) kebenaran mulia tentang sebab penderitaan, (3) kebenaran mulia tentang lenyapnya penderitaan, dan (4) kebenaran mulia tentang jalan menuju lenyapnya.

Pada waktu itu, Pangeran Tiṣya dan putra menteri Khaṇḍa mencapai realisasi pada satu pertemuan itu [tepat pada tempat duduk mereka], melemahkan semua kekotoran, dan dengan demikian memperoleh mata Dharma yang murni, bagaikan sehelai kain putih yang dapat dengan mudah dicelupkan dalam berbagai warna.

Pada saat itu, dewa bumi membuat pengumuman dengan kata-kata berikut:

Tathāgata Vipaśyin telah memutar roda Dharma yang tertinggi di Taman Rusa di dekat kota Bandhumatī. Tidak ada seorang pun, apakah seorang śramaṇa, seorang brāhmana, seorang dewa, Si Jahat, atau siapa pun di dunia manusia, yang dapat memutar roda itu.

Dengan cara ini, kabar itu menyebar secara berurutan dari surga empat raja dewa (caturmaharājakāyika) sampai ke surga para dewa yang dapat mengambil bentuk apa pun yang diinginkan (paranirmitavaśavartin), surga keenam, yang tertinggi di alam nafsu, dan tak lama kemudian ini mencapai surga dewa Brahmā.

Kemudian Sang Buddha melanjutkan dalam syair:

Dengan kegembiraan dan sukacita, semua orang memuji Sang Tathāgata,
Yang menjadi Buddha Vipaśyin dan
Memutar roda Dharma yang tertinggi.
Berangkat dari bawah pohon bodhi,
Beliau sampai di kota Bandhumatī dan
Memutar roda Dharma,
Mengajarkan Khaṇḍa dan Tiṣya Empat Kebenaran Mulia.
Setelah dengan demikian menerima ajaran dari Sang Buddha,
Pada pertemuan pertama Khaṇḍa dan Tiṣya diubah keyakinannya.
Tidak ada praktek keras yang lebih tinggi
Daripada memutar roda Dharma yang suci.
Para dewa Surga Trāyastriṃśa dan raja mereka Indra
Berkata satu sama lain dalam kegembiraan dan sukacita,
Yang semua dewa pasti mendengarnya:
“Sang Buddha muncul di dunia manusia dan
Memutar roda Dharma yang tertinggi.
Ini meningkatkan kesejahteraan para dewa tetapi
Mengurangi keuntungan para asura.”
Nama seseorang
Yang menyempurnakan pencerahan tertinggi
Terdengar ke mana-mana, dan
Pengetahuan yang ia capai demikian pergi
Melampaui alam manusia.
Sepenuhnya berada di rumah bersama dengan semua makhluk,
Pengetahuannya dengan demikian memutar roda Dharma.
Merenungkan semua hal adalah bersifat sama,
Napas dan pikirannya murni dan tidak ternoda.
Terbebaskan dari kuk kelahiran dan kematian,
Pengetahuannya memutar roda Dharma.
Setelah mengakhiri penderitaan,
Bebas dari perbuatan-perbuatan jahat, dan
Terbebaskan melampaui nafsu dan
Dari belenggu cinta dan kewajiban duniawi,
Pengetahuannya dengan demikian memutar roda Dharma.
Yang paling dimuliakan di antara mereka yang tercerahkan,
Yang Dimuliakan dari dunia manusia,
Terkendali dengan baik dan tidak terbebani oleh belenggu,
Pengetahuannya memutar roda Dharma.
Siapa pun yang unggul dalam pengajaran dan bimbingan
Mengatasi kebencian Si Jahat;
Bebas dari semua kejahatan,
Pengetahuannya dengan demikian memutar roda Dharma.
Kekuatan pandangan terang melenyapkan kekotoran,
Dan mengalahkan Si Jahat;
Indera-indera terkendali dengan baik tanpa mengendur, yang mengakhiri kekotoran,
Ia membebaskan dirinya dari ikatan Si Jahat,
Pengetahuannya memutar roda Dharma.
Jika seseorang mempelajari kebenaran yang sepenuhnya pasti,
Ia akan mengetahui bahwa semua hal (dharma) adalah bukan diri (anātman);
Ini adalah yang tertinggi di antara semua kebenaran.
Demikianlah pengetahuannya memutar roda Dharma.
Ia tidak memutar roda Dharma demi perolehan,
Ataupun demi kemashyuran,
Tetapi demi belas kasih untuk semua makhluk;
Demikianlah pengetahuannya memutar roda Dharma.
Setelah mengamati kuk penderitaan semua makhluk,
Yang terbebani oleh usia tua, penyakit, dan kematian,
Adalah untuk mencegah tiga tujuan buruk dari siklus kehidupan
Sehingga pengetahuannya memutar roda Dharma.
Setelah mengakhiri nafsu, kebencian, dan ketidaktahuan,
Mencabut akar ketagihan,
Yang tidak tergoyahkan dan terbebaskan,
Pengetahuannya dengan demikian memutar roda Dharma.
Walaupun aku merasa sulit untuk mengatasinya,
Setelah menang, aku membiarkan Si Jahat mengakui kekalahannya;
Musuh yang sulit telah dikalahkan.
Demikianlah, pengetahuannya memutar roda Dharma.
Roda Dharma ini, dengan tiada yang lebih tinggi darinya,
Hanya Sang Buddha yang dapat memutarnya.
Bukan para dewa atau Si Jahat, ataupun Indra, ataupun Brahmā,
Yang dapat memutar roda itu.
Berdiam dekat dengan Dharma dan memutarnya,
Memberi manfaat kepada para dewa dan manusia;
Guru para dewa dan manusia
Dapat menyeberang menuju pantai di sana.

Pada waktu itu, Pangeran Tiṣya dan putra menteri Khaṇḍa melihat Dharma dengan pandangan terang, merealisasi buahnya, dan, tidak berbalik dari kebenaran, mencapai ketidakgentaran. Seketika mereka berkata kepada Buddha Vipaśyin, “Kami ingin berlatih kehidupan suci di bawah Dharma Sang Tathāgata.”

Sang Buddha berkata, “Datanglah, para bhikkhu. Dharma yang kuajarkan adalah murni dan sejati dan tanpa batas. Dengan menjalankannya, kalian dapat mengakhiri penderitaan.”

Pada waktu itu, kedua orang itu diberikan penahbisan yang lebih tinggi. Tidak lama setelah peristiwa penahbisan, Sang Tathāgata mempertunjukkan kepada para siswanya tiga jenis keajaiban: (1) keajaiban kekuatan batin, (2) keajaiban mengetahui pikiran orang lain, dan (3) keajaiban pengajaran untuk memperoleh hancurnya kekotoran, pembebasan dari kemabukan batin, dan pengetahuan yang bebas dari rintangan kelahiran dan kematian.

Kemudian, setelah mendengar bahwa kedua orang itu telah meninggalkan kehidupan berumah tangga untuk berlatih sang jalan, mengenakan jubah saṃghāṭī dan dengan mangkuk dana pada tangan menjalankan kehidupan suci, banyak penduduk kota Bandhumatī berkata kepada satu sama lain, “Jalan ini pasti benar, karena ini telah menyebabkan mereka meninggalkan kemuliaan karier duniawi mereka, kesempatan untuk mendapatkan peranan penting di dunia.”

Kemudian delapan puluh empat ribu orang penduduk kota mengunjungi tempat di mana Buddha Vipaśyin sedang berdiam di Taman Rusa, dan setelah menundukkan dahi mereka pada kaki Sang Buddha untuk menghormatinya, mereka mengundurkan diri dan duduk pada satu sisi. Kemudian, Sang Buddha mulai mengajarkan mereka Dharma, dengan mendorong, memberi manfaat, dan menggembirakan mereka. Ia mengajarkan mereka ajaran tentang kedermawanan, ajaran tentang moralitas, ajaran tentang  kelahiran di surga, ajaran bahwa belenggu keinginan dan kekotoran yang tidak murni adalah berbahaya, dan ajaran bahwa pelepasan dari rintangan-rintangan ini adalah yang utama, mendalam dan murni, dan layak mendapat pujian.

Pada waktu itu, Sang Bhagavā mengamati bahwa pikiran para penduduk kota ini dapat menerima [ajaran yang lebih lanjut], dipenuhi dengan sukacita dan keyakinan, dan menerima Dharma sejati. Oleh sebab itu ia memperkenalkan (1) kebenaran mulia tentang penderitaan, menjelaskannya dengan terperinci, dan membuat mereka memahaminya. Lebih lanjut, ia melanjutkan secara terpisah tiga kebenaran yang tersisa, yaitu (2) kebenaran mulia tentang sebab penderitaan, (3) kebenaran mulia tentang lenyapnya penderitaan, dan (4) kebenaran mulia tentang jalan menuju lenyapnya.

Pada waktu itu, delapan puluh empat ribu orang penduduk kota itu mencapai realisasi pada satu pertemuan [pada tempat duduk mereka], melemahkan semua kekotoran, dan dengan demikian memperoleh mata Dharma yang murni, bagaikan sehelai kain putih yang dapat dengan mudah dicelup dalam berbagai warna lainnya.

Setelah melihat Dharma dengan pandangan terang, merealisasi buahnya, dan, tidak berbalik dari kebenaran, mencapai ketidakgentaran, para penduduk kota Bandhumatī berkata kepada Buddha Vipaśyin, “Kami ingin berlatih kehidupan suci di bawah Dharma Sang Tathāgata.”

Sang Buddha berkata, “Datanglah, para bhikkhu. Dharma yang kuajarkan adalah murni dan sejati dan tanpa batas. Dengan menjalankannya, kalian dapat mengakhiri penderitaan.”

Pada waktu itu, delapan puluh empat ribu orang penduduk kota diberikan penahbisan yang lebih tinggi. Tidak lama setelah peristiwa penahbisan, Sang Tathāgata mempertunjukkan kepada para siswanya tiga jenis keajaiban: (1) keajaiban kekuatan batin, (2) keajaiban mengetahui pikiran orang lain, dan (3) keajaiban pengajaran untuk mencapai hancurnya kekotoran, pembebasan dari kemabukan batin, dan pengetahuan yang bebas dari rintangan kelahiran dan kematian. Kemudian delapan puluh empat ribu orang penduduk kota itu yang telah mendengar kabar bahwa di Taman Rusa, di dekat kota Bandhumatī, Tathāgata Vipaśyin telah memutar roda Dharma yang  tertinggi, di mana tidak ada seorang pun, apakah seorang śramaṇa, seorang brāhmana, seorang dewa, Si Jahat, atau siapa pun di dunia manusia yang dapat memutarnya, seketika mengunjungi tempat di mana Buddha Vipaśyin berdiam, dan setelah menundukkan dahi mereka pada kaki Sang Buddha untuk menghormatinya, mengundurkan diri dan duduk pada satu sisi.

Sang Buddha kemudian melanjutkan dalam syair:

Bagaikan seseorang yang berusaha diselamatkan
Dari pikirannya yang terbakar, dan
Mencari suatu tempat untuk memadamkan api itu
Secepat mungkin,
Para penduduk kota ini datang
Untuk menemui Sang Tathāgata dengan cara ini.

Kemudian Sang Buddha mulai mengajarkan Dharma lagi seperti sebelumnya. Pada waktu itu, terdapat seratus enam puluh delapan ribu orang bhikkhu di kota Bandhumatī. Bhikkhu Tiṣya dan Khaṇḍa keduanya muncul di tengah-tengah udara di hadapan perkumpulan para bhikkhu, mempertunjukkan kekuatan batin mereka menyemburkan air, memancarkan api, dan mengajarkan Dharma yang menakjubkan.

Pada waktu itu, Sang Tathāgata tetap berdiam diri dan berpikir:

Sekarang kami memiliki seratus enam puluh delapan ribu orang bhikkhu di kota ini. Akan bagus bagi mereka untuk mengadakan perjalanan ke berbagai daerah dalam kelompok dua orang, singgah di sini dan di sana selama jangka waktu enam tahun. Setelah itu, mereka kembali ke kota ini untuk bersama-sama membacakan aturan disiplin.

Kemudian dewa Śuddhāvāsa, yang mengetahui pikiran Sang Tathāgata, muncul di hadapan Sang Bhagavā dalam sekejab, secepat seorang yang kuat membengkokkan tangannya dan meluruskannya, dan, setelah menghormati [Sang Buddha] dengan menundukkan dahinya pada kaki Sang Buddha, mengundurkan diri pada satu sisi. Segera ia berkata kepada Sang Buddha:

O Sang Bhagavā, terdapat sangat banyak bhikkhu di kota ini. Akan lebih baik bagi mereka untuk mengadakan perjalanan ke berbagai daerah. Setelah enam tahun, mereka dapat kembali ke kota ini untuk bersama-sama membacakan aturan disiplin. Aku akan melindungi masing-masing [bhikkhu] yang akan mengadakan perjalanan, dan menjaga [mereka dari] siapa pun yang dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk keuntungan pribadi, tuan.

Setelah mendengar nasehat dewa ini, Sang Tathāgata memberikan persetujuannya dengan tetap berdiam diri. Kemudian dewa Śuddhāvāsa, yang memahami bahwa Sang Buddha telah memberikan izin denagn tetap berdiam diri, seketika menundukkan dahinya pada kaki [Sang Buddha] dan tiba-tiba menghilang, kembali ke kediaman surgawinya. Tidak lama setelah kepergian dewa itu, Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu:

Sekarang terdapat banyak bhikkhu di kota ini. Kalian disarankan untuk mengadakan perjalanan ke berbagai daerah untuk menyebarkan Dharma dan, setelah waktu enam tahun, kembalilah ke kota ini untuk bersama-sama membacakan aturan disiplin.

Kemudian, mengikuti instruksi Sang Buddha, para bhikkhu, dengan masing-masing membawa jubah dan mangkuknya, meninggalkan kediaman mereka setelah menghormati Sang Buddha.

Sang Buddha kemudian melanjutkan dalam syair:

Tidak mengganggu para bhikkhu,
Ataupun menginginkan apa pun [bagi dirinya sendiri],
Ataupun memiliki keterikatan apa pun,
Sang Buddha berdiam dengan kewibawaannya.
Bagaikan burung mitologis garuḍa,
Bagaikan seekor burung bangau meninggalkan sebuah kolam kosong,
Ia berangkat.

Dewa Śuddhāvāsa berkata kepada masing-masing dari para bhikkhu itu setelah satu tahun:

Persinggahan kalian telah berlalu satu tahun, dan tersisa lima tahun. Kalian seharusnya mengingat bahwa setelah enam tahun kalian harus kembali ke kota untuk bersama-sama membacakan aturan disiplin.

Dengan cara ini, waktu berlalu sampai tahun keenam. Dewa itu lagi berkata kepada para bhikkhu, “Enam tahun penuh telah berlalu. Semoga kalian semua kembali ke kota untuk bersama-sama membacakan aturan disiplin”
Ketika mendengar perkataan [dewa Śuddhāvāsa], para bhikkhu membawa jubah dan mangkuk mereka, kembali ke kota Bandhumatī, dan datang ke tempat di mana Buddha Vipaśyin berdiam di Taman Rusa. Setelah menghormatinya dengan menundukkan dahinya pada kaki Sang Buddha, mereka mengundurkan diri dan duduk pada satu sisi.

Sang Buddha kemudian melanjutkan dalam syair:

Bagaikan para gajah yang terlatih dengan baik
Mengikuti perintah penunggangnya dengan bebas,
Dengan cara yang sama perkumpulan para bhikkhu
Kembali ke sini seperti yang diinstruksikan.

Pada waktu itu, Sang Tathāgata naik ke tengah-tengah udara di hadapan perkumpulan para bhikkhu dan, ketika melayang di tengah-tengah udara, duduk bersila dalam posisi teratai, ia memberikan kotbah tentang aturan disiplin: “Kesabaran adalah [praktek] yang terbaik. Para Buddha mengajarkan bahwa Nirvana adalah tujuan tertinggi dari Dharma-nya, dan bahwa bahkan jika seseorang yang telah mencukur rambut dan janggutnya (yaitu, seorang bhikkhu), jika ia melukai orang lain, ia bukan lagi seorang śramaṇa.”

Kemudian dewa Śuddhāvāsa, yang berada tidak jauh dari Sang Buddha, memujinya dengan mengulangi syair berikut:

Pengetahuan agung Sang Tathāgata
Adalah [sangat] mendalam dan
Ini sendiri adalah yang paling dimuliakan.
Diberkahi dengan ketenangan batin (śamatha) dan
Pandangan terang (vipaśyanā),
Ia merealisasi pencerahan sempurna, yang tertinggi.
Karena ia memiliki belas kasih terhadap makhluk-makhluk hidup,
Ia berdiam di dunia manusia dan merealisasi tujuan itu.
Ia mengajarkan empat kebenaran mulia kepada para siswanya (śrāvaka):
[Kebenaran tentang] penderitaan, sebab penderitaan,
Tentang lenyapnya penderitaan, dan
Jalan mulia berunsur delapan
Yang membawa pada tempat yang damai dan tenang.
Buddha Vipaśyin muncul di dunia manusia,
Dikelilingi oleh para siswanya,
Bagaikan matahari yang bersinar dengan terang benderang.
Setelah mengulangi syair ini, dewa itu tiba-tiba menghilang.
« Last Edit: 13 September 2016, 07:06:32 PM by seniya »
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Dirgha Agama vol. 1
« Reply #7 on: 12 September 2016, 10:46:02 PM »
Pada waktu itu, Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:

Aku ingat bahwa pada suatu ketika di masa lampau, ketika aku berada di Puncak Burung Bangkai (Gṛdhrakūṭa) di kota Rājagṛha, aku tiba-tiba berpikir seperti ini:

Tidak ada tempat di seluruh dunia di mana kelahiranku tidak pernah terjadi, kecuali satu tempat, Surga Śuddhāvāsa. Jika aku lahir di surga itu, aku tidak akan kembali ke dunia ini.

O para bhikkhu, lagi aku berpikir sendiri, “Aku ingin mengunjungi Surga Avṛhā.” Kemudian, dalam sekejap, secepat seorang yang kuat membengkokkan tangannya dan meluruskannya, aku meninggalkan dunia ini dan muncul di surga itu. Para makhluk yang mendiami surga itu, setelah melihatku mendekat, menghormatiku [dengan menundukkan] dahi mereka [pada kakiku], mengundurkan diri pada satu sisi, dan berkata kepadaku, “Kami adalah para siswa Tathāgata Vipaśyin. Karena kami mengikuti ajaran beliau, kami telah lahir di surga ini, tuan.” Demikianlah mereka memberitahukanku kisah-kisah Buddha itu dari awal sampai akhir.

Beberapa dari mereka juga menyatakan, “Para Buddha Śikhin, Viśvabhū, Krakucchanda, Kanakamuni, Kāśyapa, dan Śākyamuni adalah para guru kami dengan sama, tuan. Karena kami mengikuti ajaran mereka, kami telah lahir di sini, tuan.” Lagi mereka menjelaskan kepadaku kisah-kisah para Buddha ini dari awal sampai akhir. Ketika aku mengunjungi Surga Akaniṣṭha (yang tertinggi dari lima surga Śuddhāvāsa), hal yang sama terjadi.

Kemudian Sang Buddha melanjutkan dalam syair:

Dalam sekejab, secepat seorang yang kuat
Membengkokkan tangannya dan meluruskannya,
Melalui kekuatan batinku,
Aku tiba di Surga Śuddhāvāsa, Surga Avṛhā, dan
Mengalahkan dua si jahat.
Kemudian dewa Atapā (“yang tidak menyiksa siapa pun”) mendekat dan
Memberi salam kepadaku dengan kedua telapak tangannya disatukan bagaikan sebatang pohon pārichattaka.
Nama guru Śākya adalah terkemuka
Bahkan di daerah-daerah yang jauh.
Diberkahi dengan baik dalam keistimewaan dan penampilannya,
Ia telah tiba di Surga Sudṛśa.
Bagaikan sekuntum seroja yang tidak tersentuh oleh air, bebas dari noda-noda,
Sang Bhagavā telah tiba di Surga Sudṛśa,
Bagaikan matahari yang pertama kali terbit,
Murni, tidak ternoda, dan tanpa bayangan,
Bagaikan bulan yang cerah pada musim gugur, mencapai tujuan tertinggi.
Lima tempat kediaman ini adalah tempat
Di mana semua makhluk dimurnikan.
Karena kesucian pikiran mereka,
Mereka tiba di sini dan mencapai keadaan
Ketiadaan kekotoran sepenuhnya.
Dengan pikiran yang murni,
Mereka tiba di sini dan menjadi siswa Sang Buddha,
Dengan meninggalkan kemelekatan yang mengotori sebelumnya dan
[Sekarang] menikmati ketidakmelekatan.
Dengan pandangan terang ke dalam Dharma dan kepastian yang tak tergoyahkan,
Putra Vipaśyin, dengan pikiran yang murni,
Telah disambut di sini dan telah mengunjungi Sang Mahabijaksana.
Putra Buddha Śikhin,
Yang tidak ternoda (vimala) dan tidak terkondisi (asaṃskṛta),
Datang ke sini dengan pikirannya yang murni dan
Mengunjungi Yang Mulia Vibhava.
Putra Buddha Viśvabhū,
Yang diberkahi dengan indera-indera sempurna,
Datang ke sini dan mengunjungiku,
Seakan-akan matahari bersinar di langit.
Putra Buddha Krakucchanda,
Bebas dari nafsu, dengan pikirannya yang murni,
Mengunjungiku, seakan-akan cahaya misterius menyala dalam kelimpahan.
Putra Kanakamuni,
Yang tidak ternoda dan tidak terkondisi,
Dengan pikirannya yang murni, mengunjungiku.
Cahayanya bagaikan cahaya purnama.
Siswa Kāśyapa,
Yang diberkahi dengan indera-indera sempurna,
Dengan pikirannya yang murni, mengunjungiku dan
Tidak mengganggu Sang Maha Bijaksana.
Kekuatan batinnya adalah yang utama,
Dengan pikirannya yang kokoh,
Ia menjadi seorang siswa Sang Buddha, dan
Dengan pikirannya yang murni, ia datang ke sini.
Sebagai seorang siswa Sang Buddha,
Ia menghormati Sang Tathāgata dan
Memberitahukan Yang Paling Dimuliakan di antara para manusia tentang tempat kelahirannya,
Realisasi sang jalan,
Nama dan keluarga, dan latar belakang suku secara terperinci.
Ia memiliki pengetahuan tentang Dharma yang mendalam dan
Merealisasikan jalan tertinggi.
Para bhikkhu seharusnya berdiam bebas dari debu dan kotoran,
Dengan berusaha keras untuk mengakhiri
Semua kekotoran dengan pengerahan usaha, tanpa mengendur.
Yang sebelumnya adalah kisah-kisah ketujuh Buddha itu
Dari awal sampai akhir
Seperti yang dikisahkan oleh Buddha Śākyamuni.

[Demikianlah] Sang Buddha menyelesaikan sutra tentang “Kisah-Kisah tentang Awal Mula Besar” ini. Para bhikkhu mendengar apa yang diajarkan Sang Buddha dan, bergembira, mereka mengikuti pengajaran yang disampaikan di dalamnya.

[Akhir dari Sutra 1: Awal Mula Besar]
« Last Edit: 13 September 2016, 07:25:22 PM by seniya »
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa