Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Samyukta Agama - Tentang Enam Landasan Indera (1)  (Read 4121 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Samyukta Agama - Tentang Enam Landasan Indera (1)
« on: 03 September 2016, 05:37:32 PM »
Tentang Enam Landasan Indera (1)
Terjemahan Saṃyukta-āgama Kotbah 188 sampai 229 (Jilid 8 )

Bhikkhu Anālayo

Abstaksi

Artikel ini menerjemahkan jilid kedelapan dari Saṃyukta-āgama, yang mengandung kotbah 188 sampai 229.< 1>

188. [Kotbah tentang Pembebasan dari Kesenangan dan Nafsu]<2>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā  berkata kepada para bhikkhu: “Kalian seharusnya dengan benar menyelidiki mata sebagai tidak kekal. Seseorang yang menyelidikinya seperti ini disebut ‘[seseorang] dengan pandangan benar’. Karena dengan benar merenungkannya, kekecewaan muncul. Karena munculnya kekecewaan, seseorang bebas dari kesenangan dan bebas dari nafsu.<3> Karena bebas dari kesenangan dan nafsu, aku katakan pikiran dengan benar terbebaskan.

“Dengan cara yang sama [seseorang seharusnya dengan benar menyelidiki] telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran ... [sampai dengan] ... seseorang bebas dari kesenangan dan bebas dari nafsu. Para bhikkhu, karena bebas dari kesenangan dan nafsu, aku katakan pikiran dengan benar terbebaskan.

“Seseorang yang pikirannya dengan benar terbebaskan dapat menyatakan dirinya: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi’.”<4>

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Seperti halnya untuk tidak kekal, dengan cara yang sama juga [kotbah-kotbah] diulangi dengan cara ini untuk dukkha, kosong, dan bukan-diri.

189. [Kotbah tentang Perhatian Seksama]<5>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Kalian seharusnya memberikan perhatian seksama pada mata dan menyelidikinya sebagai tidak kekal. Mengapa demikian? Karena memberikan perhatian seksama pada mata dan menyelidikinya sebagai tidak kekal, keinginan dan nafsu terhadap mata ditinggilkan. [Bagi seseorang yang] telah meninggalkan keinginan dan nafsu, aku katakan, pikirannya dengan benar terbebaskan.

“Karena memberikan perhatian seksama pada telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran dan menyelidikinya [sebagai tidak kekal], keinginan dan nafsu [terhadapnya] ditinggalkan.<6> Bagi seseorang yang telah meninggalkan keinginan dan nafsu, aku katakan, pikirannya dengan benar terbebaskan.

“Para bhikkhu, seseorang yang pikirannya dengan benar terbebaskan dengan cara ini dapat menyatakan dirinya: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi’.”<7>

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

190. [Kotbah Pertama tentang Mata]<8>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Jika seseorang tidak mengetahui dan memahami mata, tidak meninggalkan dan tidak terbebaskan dari keinginan terhadapnya, seseorang tidak dapat dengan benar melenyapkan dukkha.<9>

“Telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran juga seperti ini.

“Para bhikkhu, seseorang yang mengetahui dan memahami mata, [49c] dan yang meninggalkan dan terbebaskan dari keinginan terhadapnya, dapat dengan benar melenyapkan dukkha. Seseorang yang mengetahui dan memahami telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran, dan yang meninggalkan dan terbebaskan dari keinginan terhadapnya, dapat dengan benar melenyapkan dukkha.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

191. [Kotbah Kedua tentang Mata]<10>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Seseorang yang tidak mengetahui dan memahami mata, tidak meninggalkan dan tidak terbebaskan dari keinginan terhadapnya, tidak dapat melampaui dukkha dari kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian. Seseorang yang tidak mengetahui dan tidak memahami telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran, tidak meninggalkan dan tidak terbebaskan dari keinginan terhadapnya, tidak dapat melampaui dukkha dari kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian.

“Para bhikkhu, seseorang yang mengetahui dan memahami mata,<11> yang meninggalkan dan terbebaskan dari keinginan terhadapnya, dapat melampaui dukkha dari kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian. Seseorang yang mengetahui dan memahami telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran, yang meninggalkan dan terbebaskan dari keinginan terhadapnya, dapat melampaui dukkha dari kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Samyukta Agama - Tentang Enam Landasan Indera (1)
« Reply #1 on: 03 September 2016, 05:56:47 PM »
192. [Kotbah Pertama tentang Tidak Bebas dari Keinginan]<12>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Jika seseorang tidak bebas dari keinginan terhadap mata, pikirannya tidak terbebaskan dan ia tidak dapat dengan benar melenyapkan dukkha. [Jika] seseorang tidak bebas dari keinginan terhadap telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran, pikirannya tidak terbebaskan dan ia tidak dapat dengan benar melenyapkan dukkha.

“Para bhikkhu, jika seseorang bebas dari keinginan terhadap mata,<13> pikirannya terbebaskan dan ia dapat dengan benar melenyapkan dukkha. [Jika] seseorang bebas dari keinginan terhadap telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran, pikirannya terbebaskan dan ia dapat dengan benar melenyapkan dukkha.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

193. [Kotbah Kedua tentang Tidak Bebas dari Keinginan]<14>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Jika seseorang tidak bebas dari keinginan terhadap mata.<15> pikirannya tidak terbebaskan dan ia tidak dapat melampaui dukkha dari kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian. [Jika] seseorang tidak bebas dari keinginan terhadap telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran, pikirannya tidak terbebaskan dan ia tidak dapat melampaui dukkha dari kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian.”

“Para bhikkhu, jika seseorang bebas dari keinginan terhadap mata, pikirannya terbebaskan dan ia dapat melampaui dukkha dari kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian. [Jika] seseorang bebas dari keinginan terhadap telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran, pikirannya terbebaskan dan ia dapat melampaui dukkha dari kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.[50a]

194. [Kotbah tentang Memunculkan Kesenangan]<16>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Jika seseorang memunculkan kesenangan sehubungan dengan mata, maka ia memunculkan kesenangan sehubungan dengan apa yang adalah dukkha. Jika seseorang memunculkan kesenangan sehubungan dengan dukkha, aku katakan, ia tidak terbebaskan dari dukkha. [Jika] seseorang memunculkan kesenangan sehubungan dengan telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran, maka ia memunculkan kesenangan sehubungan dengan dukkha. [Jika] seseorang memunculkan kesenangan sehubungan dengan apa yang adalah dukkha, aku katakan, ia tidak terbebaskan dari dukkha.

“Para bhikkhu, jika seseorang tidak memunculkan kesenangan sehubungan dengan mata, maka ia tidak memunculkan kesenangan sehubungan dengan apa yang adalah dukkha. Seseorang yang tidak memunculkan kesenangan sehubungan dengan dukkha, aku katakan, terbebaskan dari dukkha. [Jika] seseorang tidak memunculkan kesenangan sehubungan dengan telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran, maka ia tidak memunculkan kesenangan sehubungan dengan apa yang adalah dukkha. Ia yang tidak memunculkan kesenangan sehubungan dengan dukkha, aku katakan, terbebaskan dari dukkha.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

195. [Kotbah Pertama tentang Ketidakkekalan]<17>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Semua adalah tidak kekal. Apakah semua yang tidak kekal? Yaitu, mata adalah tidak kekal, bentuk, kesadaran-mata, kontak-mata, dan perasaan yang muncul bergantung pada kontak-mata, apakah perasaan menyakitkan, perasaan menyenangkan, atau perasaan netral, itu juga adalah tidak kekal.

“Telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran juga seperti ini.

“Seorang siswa mulia terpelajar yang merenungkan seperti ini memunculkan kekecewaan terhadap mata, dan memunculkan kekecewaan terhadap bentuk, kesadaran-mata, kontak-mata, dan perasaan yang muncul bergantung pada kontak-mata, apakah perasaan menyakitkan, perasaan menyenangkan, atau perasaan netral.

“Ia juga memunculkan kekecewaan terhadap telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran, dan terhadap suara ... bebauan ... rasa ... sentuhan ... objek pikiran ... kesadaran-pikiran, kontak-pikiran, dan perasaan yang muncul bergantung pada kontak-pikiran, apakah perasaan menyakitkan, perasaan menyenangkan, atau perasaan netral.

“Karena kecewa, ia tidak menyenanginya. Karena tidak menyenanginya, ia terbebaskan. Terbebaskan, ia mengetahui dan melihat: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi’.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Seperti halnya dengan kotbah tentang tidak kekal, dengan cara yang sama juga [kotbah-kotbah] diulangi dengan cara ini untuk dukkha, kosong, dan bukan-diri.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Samyukta Agama - Tentang Enam Landasan Indera (1)
« Reply #2 on: 03 September 2016, 05:59:12 PM »
196. [Kotbah Kedua tentang Ketidakkekalan]<18>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Semua adalah tidak kekal. Apakah semua [yang tidak kekal]? Yaitu, mata adalah tidak kekal, bentuk, kesadaran-mata, kontak-mata, dan perasaan yang muncul bergantung pada kontak-mata, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral, itu juga adalah tidak kekal.

“Dengan cara yang sama telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran<19> ... objek pikiran ... kesadaran-pikiran, kontak-pikiran, dan perasaan yang muncul bergantung pada kontak-pikiran, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral, itu juga tidak kekal.[50b]

“Seorang siswa mulia terpelajar yang merenungkan seperti ini terbebaskan dari mata, dan juga terbebaskan dari bentuk, kesadaran-mata, kontak-mata, dan perasaan yang muncul bergantung pada kontak-mata, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral.

“Dengan cara yang sama ia juga terbebaskan dari telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran ... objek pikiran ... kesadaran-pikiran, kontak-pikiran, dan perasaan yang muncul bergantung pada kontak-pikiran, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral.

“Aku katakan bahwa ia terbebaskan dari kelahiran,<20> usia tua, penyakit, kematian, kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan kesakitan.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Seperti yang telah dikatakan untuk semua adalah tidak kekal, dengan cara yang sama untuk semua adalah dukkha ... semua adalah kosong ... semua adalah bukan-diri ... semua adalah bersifat aktivitas hampa ... semua adalah tunduk pada kehancuran ... semua adalah tunduk pada kelahiran ... semua adalah tunduk pada usia tua ... semua adalah tunduk pada penyakit ... semua adalah tunduk pada kematian ... semua adalah tundauk pada kekhawatiran ... semua adalah tunduk pada kesengsaraan ... semua adalah tunduk pada kemunculan ... semua adalah tunduk pada kelenyapan ... semua adalah bersifat untuk dipahami ... semua adalah bersifat untuk diketahui ... semua adalah bersifat untuk ditinggalkan ... semua adalah bersifat untuk dicerahkan ... semua adalah untuk direalisasikan ... semua adalah [wilayah] Māra ... semua adalah dalam kekuasaan Māra ... semua adalah alat bantu Māra ... semua adalah membakar ... semua adalah terbakar berkobar-kobar ... semua adalah terbakar, untuk semua dari ini, masing-masing kotbah diulangi secara penuh seperti di atas.<21>

197. [Kotbah tentang Terbakar]<22>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di cetiya di Gayāsīsa bersama-sama dengan seribu orang bhikkhu, yang semuanya adalah mantan brahmana berambut kusut.

Pada waktu itu Sang Bhagavā mengajar seribu orang bhikkhu dengan cara melakukan tiga jenis keajaiban.<23> Apakah tiga hal itu? Mereka adalah keajaiban kekuatan batin, keajaiban membaca pikiran, dan keajaiban pengajaran.

Untuk keajaiban kekuatan batin, Sang Bhagavā masuk ke dalam suatu pencapaian konsentrasi yang sesuai untuk mewujubkan naiknya beliau ke udara menuju arah timur untuk melakukan [keajaiban kekuatan batin] dalam empat posisi tubuh dari berjalan, berdiri, duduk, dan berbaring. Beliau masuk ke dalam konsentrasi terhadap api dan berbagai jenis nyala api muncul dalam warna biru, kuning, merah, putih, merah menyala, dan kristal. Beliau mewujudkan api dan air secara bersamaan. Bagian bawah tubuhnya mengeluarkan api dan bagian atas tubuhnya mengeluarkan air, atau sebaliknya bagian atas tubuhnya mengeluarkan api dan bagian bawah tubuhnya mengeluarkan air. Dengan cara yang sama beliau terus bergerak di sekitar empat arah. Kemudian, setelah melakukan berbagai keajaiban, Sang Bhagavā duduk di antara perkumpulan. Ini disebut keajaiban kekuatan batin.

Untuk keajaiban membaca pikiran, [Sang Bhagavā mengetahui] demikianlah pikiran orang lain, demikianlah kehendak orang lain, demikianlah kesadaran orang lain; orang lain akan berpikir seperti ini dan tidak akan berpikir seperti itu, orang lain akan melepaskan seperti ini, orang lain akan berkembang dalam realisasi langsung seperti ini.<24> Ini disebut keajaiban membaca pikiran.

Untuk keajaiban pengajaran, Sang Bhagavā berkata demikian: “Para bhikkhu, semua adalah terbakar. Apakah semua yang terbakar? Yaitu, mata adalah terbakar, bentuk, kesadaran-mata, kontak-mata, dan perasaan yang muncul bergantung pada kontak-mata, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral, itu juga adalah terbakar.[50c]

“Dengan cara yang sama telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran adalah terbakar, objek pikiran, kesadaran-pikiran, kontak-pikiran, dan perasaan yang muncul bergantung pada kontak-pikiran, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral, itu juga adalah terbakar.

“Dengan apakah ia terbakar? Ia terbakar dengan api nafsu, ia terbakar dengan api kebencian, ia terbakar dengan api delusi, dan ia terbakar dengan api kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan kesakitan.”

Pada waktu itu, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, melalui ketidakmelekatan, pikiran seribu orang bhikkhu itu terbebaskan dari arus-arus [kekotoran batin].<25>

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Samyukta Agama - Tentang Enam Landasan Indera (1)
« Reply #3 on: 03 September 2016, 06:03:28 PM »
198. [Kotbah Pertama kepada Rāhula]<26>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Rājagaha di Gunung Puncak Burung Bangkai.

Pada waktu itu Yang Mulia Rāhula mendekati Sang Buddha, memberikan penghormatan dengan kepalanya pada kaki Sang Buddha, mengundurkan diri untuk berdiri pada satu sisi, dan berkata kepada Sang Buddha:

“Sang Bhagavā, bagaimanakah [seharusnya] seseorang mengetahui dan bagaimanakah [seharusnya] seseorang melihat sedemikian sehingga pada tubuh milikku ini dengan kesadaran di dalamnya dan semua tanda eksternal, [pemikiran] ‘aku’, ‘diriku’, dan kecenderungan yang mendasari, belenggu, dan kemelekatan pada kesombongan-aku tidak akan muncul karenanya?”

Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada Rāhula: “Bagus, Rāhula, engkau dapat bertanya kepada Sang Tathāgata tentang apa yang memiliki makna sangat mendalam.”

Sang Buddha berkata kepada Rāhula: “Pahamilah sebagaimana adanya bahwa mata, apakah masa lampau, masa depan atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, indah atau menjijikkan, jauh atau dekat, semua itu adalah bukan diri, tidak berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], tidak ada [di dalam diri, ataupun suatu diri] ada [di dalamnya].

“Telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran juga seperti ini.

“Rāhula, dengan mengetahui seperti ini dan melihat seperti ini, pada tubuh milikku ini dengan kesadaran di dalamnya dan semua tanda eksternal, [pemikiran] ‘aku’, ‘milikku’, dan kecenderungan yang mendasari, belenggu, dan kemelekatan pada kesombongan-aku tidak muncul karenanya. Rāhula, dengan cara ini seseorang tidak memunculkan [pemikiran] ‘aku’, ‘milikku’, dan kecenderungan yang mendasari, belenggu, dan kemelekatan pada kesombongan-aku. Rāhula, ini disebut meninggalkan ketagihan dan pandangan suram melalui dengan benar memahami terlampauinya dukkha yang tiada bandingnya.”<27>

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, Yang Mulia Rāhula bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Seperti halnya untuk landasan indera internal, dengan cara yang sama juga untuk landasan indera eksternal dari bentuk, suara, bebauan, rasa, sentuhan, objek pikiran, untuk kesadaran-mata ... -telinga ... –hidung ... –lidah ... –badan ... dan kesadaran-pikiran, untuk kontak-mata ... -telinga ... –hidung ... –lidah ... –badan ... dan kontak-pikiran, untuk perasaan yang muncul dari kontak-mata ... -telinga ... –hidung ... –lidah ... –badan ... dan perasaan yang muncul dari kontak-pikiran, untuk persepsi yang muncul dari kontak-mata ... -telinga ... –hidung ... –lidah ... –badan ... dan persepsi yang muncul dari kontak-pikiran, untuk kehendak yang muncul dari kontak-mata ... -telinga ... –hidung ... –lidah ... –badan ... dan kehendak yang muncul dari kontak-pikiran, untuk ketagihan yang muncul dari kontak-mata ... -telinga ... –hidung ... –lidah ... –badan ... dan ketagihan yang muncul dari kontak-pikiran, [kotbah-kotbah] juga diulangi seperti di atas.

199. [Kotbah Kedua kepada Rāhula]<28>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Rājagaha di Hutan Bambu, Tempat Memberi Makan Tupai.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada Rāhula: “Bagaimanakah [seharusnya] seseorang mengetahui dan bagaimanakah [seharusnya] seseorang melihat sedemikian sehingga dalam tubuh [milikku] ini dengan kesadaran dan semua tanda eksternal tidak ada [pemikiran] ‘aku’, ‘milikku’, dan kecenderungan yang mendasari, belenggu, dan kemelekatan pada kesombongan-aku?”[51a]

Rāhula berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagavā adalah akar Dharma, mata Dharma, landasan Dharma. Akan baik jika Sang Bhagavā menjelaskan makna hal ini sepenuhnya kepada para bhikkhu. Setelah mendengarkannya, para bhikkhu akan menjunjung tinggi dan menerimanya dengan hormat.”

Sang Buddha berkata kepada Rāhula: “Bagus, dengarkanlah pada apa yang akan kuajarkan kepadamu. Apa pun mata, apakah masa lampau, masa depan atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, indah atau menjijikkan, jauh atau dekat, seseorang dengan benar merenungkan sebagaimana adanya bahwa semua itu adalah bukan diri, tidak berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], tidak ada [di dalam diri, ataupun suatu diri] ada [di dalamnya].

“Rāhula, telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran juga seperti ini.

“Rāhula, dengan mengetahui seperti ini dan melihat seperti ini, dalam tubuh milikku ini dengan kesadaran dan semua tanda eksternal, [pemikiran] ‘aku’, ‘milikku’, dan kecenderungan yang mendasari, belenggu, dan kemelekatan pada kesombongan-aku tidak muncul. Rāhula, dengan cara ini seorang bhikkhu melampaui dualitas, bebas dari semua tanda, damai, dan terbebaskan. Rāhula, dengan cara ini seorang bhikkhu meninggalkan semua ketagihan dan keinginan, berbalik dan meninggalkan semua ikatan, dan [mencapai] terlampauinya dukkha yang tiada bandingnya.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, Yang Mulia Rāhula bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Seperti halnya untuk landasan indera internal, dengan cara yang sama juga untuk landasan indera eksternal ... sampai dengan ... untuk perasaan yang muncul bergantung pada kontak pikiran, [kotbah-kotbah] diulangi secara penuh seperti di atas.

200. [Kotbah Ketiga kepada Rāhula]<29>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Yang Mulia Rāhula mendekati Sang Buddha, memberikan penghormatan dengan kepalanya pada kaki Sang Buddha, mengundurkan diri untuk berdiri pada satu sisi, dan berkata kepada Sang Buddha:

“Akan baik jika Sang Bhagavā mengajarkanku Dharma sedemikian sehingga, ketika telah mendengar Dharma itu, aku akan di tempat yang sunyi dan terpencil menjalankan perenungan meditatif dan berdiam dengan ketekunan. Setelah menjalankan perenungan meditatif di tempat yang sunyi dan terpencil dan berdiam dengan ketekunan, aku akan merenungkan dengan cara demikian [sehingga merealisasikan] itu untuk tujuan di mana para anggota keluarga mencukur rambut dan janggutnya, dengan keyakinan benar menjadi tanpa rumah, pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih dalam sang jalan, untuk menjalankan dan menjunjung tinggi kehidupan suci. Aku di sini dan sekarang akan merealisasikan dan mengetahui dengan diriku sendiri bahwa: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan’, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi.”

Kemudian Sang Bhagavā, yang melihat bahwa pembebasan pikiran Rāhula dan kebijaksanaannya belum matang, bahwa ia belum siap untuk menerima Dharma yang lebih tinggi, bertanya kepada Rāhula: “Apakah engkau telah mengajarkan lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati kepada orang-orang?”<30>

Rāhula berkata kepada Sang Buddha: “Belum, Sang Bhagavā.”

Sang Buddha berkata kepada Rāhula: “Engkau seharusnya menguraikan lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati kepada orang-orang.”

Kemudian, setelah menerima instruksi ini dari Sang Buddha, pada kesempatan lain Rāhula menguraikan lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati kepada orang-orang. Setelah mengajar mereka, ia mendekati Sang Buddha lagi, memberikan penghormatan dengan kepalanya pada kaki Sang Buddha, mengundurkan diri untuk berdiri pada satu sisi, dan berkata kepada Sang Buddha:

“Sang Bhagavā, aku telah mengajarkan lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati kepada orang-orang. Aku berharap Sang Bhagavā mengajarkanku Dharma sedemikian sehingga,[51b] ketika telah mendengar Dharma itu, aku akan di tempat yang sunyi dan terpencil menjalankan perenungan meditatif dan berdiam dengan ketekunan ... sampai dengan ... mengetahui dengan diriku sendiri bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi.”

Kemudian Sang Bhagavā, yang melihat lagi bahwa pembebasan pikiran Rāhula dan pengetahuannya belum matang, bahwa ia belum siap menerima Dharma yang lebih tinggi, bertanya kepada Rāhula: “Apakah engkau telah mengajarkan enam landasan indera kepada orang-orang?”

Rāhula berkata kepada Sang Buddha: “Belum, Sang Bhagavā.”

Sang Buddha berkata kepada Rāhula: “Engkau seharusnya menguraikan enam landasan indera kepada orang-orang.”

Kemudian, pada kesempatan lain Rāhula menguraikan enam landasan indera kepada orang-orang. Setelah mengajarkan enam landasan indera, ia mendekati Sang Buddha, memberikan penghormatan dengan kepalanya pada [kaki Sang Buddha], mengundurkan diri untuk berdiri pada satu sisi, dan berkata kepada Sang Buddha:

“Sang Bhagavā, aku telah menguraikan enam landasan indera kepada orang-orang. Aku berharap Sang Bhagavā mengajarkanku Dharma sedemikian sehingga, ketika telah mendengar Dharma itu, aku akan di tempat yang sunyi dan terpencil menjalankan perenungan meditatif dan berdiam dengan ketekunan ... sampai dengan ... mengetahui dengan diriku sendiri bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi.”

Kemudian Sang Bhagavā, yang [lagi] melihat bahwa pembebasan pikiran Rāhula dan pengetahuannya belum matang, bahwa ia belum siap menerima Dharma yang lebih tinggi, bertanya kepada Rāhula: “Apakah engkau telah mengajarkan prinsip sebab-akibat [yang saling bergantungan] kepada orang-orang?”

Rāhula berkata kepada Sang Buddha: “Belum, Sang Bhagavā.”

Sang Buddha berkata kepada Rāhula: “Engkau seharusnya menguraikan prinsip sebab-akibat [yang saling bergantungan] kepada orang-orang.”

Kemudian Rāhula, setelah pada kesempatan lain memberikan secara panjang lebar ajaran-ajaran tentang prinsip sebab-akibat [yang saling bergantungan] kepada orang-orang, mendekati Sang Buddha, memberikan penghormatan dengan kepalanya pada kaki [Sang Buddha], mengundurkan diri untuk berdiri pada satu sisi, dan berkata kepada Sang Buddha:

“[Semoga] Sang Bhagavā mengajarkanku Dharma sedemikian sehingga, ketika telah mendengar Dharma itu, aku akan di tempat yang sunyi dan terpencil menjalankan perenungan meditatif dan berdiam dengan ketekunan ... sampai dengan ... mengetahui dengan diriku sendiri bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi.”

Kemudian Sang Bhagavā, yang melihat lagi bahwa pembebasan pikiran Rāhula dan pengetahuannya belum matang ... untuk diucapkan secara lengkap sampai dengan ... beliau berkata kepada Rāhula: “Engkau seharusnya di tempat yang sunyi dan terpencil menjalankan perenungan meditatif dan menyelidiki makna ajaran-ajaran yang engkau ajarkan sebelumnya itu.”

Kemudian Rāhula, setelah menerima instruksi dan perintah Sang Buddha, merenungkan ajaran-ajaran yang telah ia dengar sebelumnya dan telah ia ajarkan, dengan menyelidiki maknanya. Ia berpikir: “Semua ajaran ini berlanjut menuju Nirvāṇa, mengalir menuju Nirvāṇa, akhirnya mengembangkan [seseorang] dalam Nirvāṇa.”

Kemudian Rāhula pergi menemui Sang Buddha, memberikan penghormatan dengan kepalanya pada kaki [Sang Buddha], mengundurkan diri untuk berdiri pada satu sisi, dan berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagavā, di tempat yang sunyi dan terpencil aku merenungkan ajaran-ajaran yang telah kudengar sebelumnya dan telah kuajarkan, dengan menyelidiki maknanya. Aku memahami bahwa semua ajaran ini berlanjut menuju Nirvāṇa, mengalir menuju Nirvāṇa, dna akhirnya mengembangkan [seseorang] dalam Nirvāṇa.”

Kemudian Sang Bhagavā, yang melihat bahwa pembebasan pikiran Rāhula dan pengetahuannya sudah matang,[51c] bahwa ia sudah siap untuk menerima Dharma yang lebih tinggi, berkata kepada Rāhula: “Rāhula, segala hal adalah tidak kekal. Apakah hal-hal yang tidak kekal? Yaitu, mata adalah tidak kekal, bentuk, kesadaran-mata, kontak-mata ...” seperti yang diucapkan di atas secara terperinci tentang ketidakkekalan.

Kemudian Rāhula, setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, merasa gembira, senang, memberikan penghormatan kepada Sang Buddha, dan kembali.

Kemudian, setelah menerima pengajaran Sang Buddha, Rāhula menjalankan perenungan meditatif  di tempat yang sunyi dan terpencil dan berdiam dengan ketekunan. Itu untuk tujuan di mana para anggota keluarga mencukur rambut dan janggut mereka, mengenakan jubah kuning, untuk berlatih kehidupan suci ... sampai dengan ... ia di sini dan saat ini merealisasi dan mengetahui dengan dirinya sendiri bahwa: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi.” Ia telah menjadi seorang arahant yang pikirannya terbebaskan dengan baik.

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, Rāhula bergembira dan menerimanya dengan hormat.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Samyukta Agama - Tentang Enam Landasan Indera (1)
« Reply #4 on: 03 September 2016, 06:07:26 PM »
201. [Kotbah kepada Seorang Bhikkhu]<31>

Demikian telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Kemudian seorang bhikkhu tertentu mendekati Sang Buddha, memberikan penghormatan dengan kepalanya pada kaki Sang Buddha, mengundurkan diri untuk berdiri pada satu sisi, dan berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagavā, dengan mengetahui apakah, dengan melihat apakah, seseorang selangkah demi selangkah mencapai penghancuran cepat arus-arus [kekotoran batin]?”

Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada bhikkhu itu: “Seseorang seharusnya dengan benar merenungkan ketidakkekalan. Apakah hal-hal yang tidak kekal? Yaitu, ia seharusnya merenungkan mata sebagai tidak kekal, bentuk, kesadaran-mata, kontak-mata, dan perasaan yang muncul bergantung pada kontak-mata, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral, [itu juga adalah] tidak kekal.”

“Seseorang seharusnya merenungkan telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran sebagai tidak kekal ... objek pikiran ... kesadaran-pikiran, kontak-pikiran, dan perasaan yang muncul bergantung pada kontak-pikiran, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral, itu juga adalah tidak kekal. Bhikkhu, dengan mengetahui seperti ini, dengan melihat seperti ini, seseorang selangkah demi selangkah mencapai penghancuran cepat arus-arus [kekotoran batin].”

Kemudian, mendengar apa yang telah dikatakan Sang Buddha, bhikkhu itu bergembira. Ia memberikan penghormatan dan pergi.<32>

Dengan cara yang sama, seperti kotbah yang diucapkan kepada sang bhikkhu, [kotbah-kotbah lainnya diulangi] dengan perbedaan ini: “dengan mengetahui apakah, dengan melihat apakah ... seseorang selangkah demi selangkah mencapai penghancuran semua belenggu ... seseorang meninggalkan semua ikatan ... seseorang meninggalkan semua kecenderungan yang mendasari ... seseorang meninggalkan semua penderitaan yang lebih tinggi ... seseorang meninggalkan semua belenggu ... sesemua meninggalkan semua arus ... seseorang meninggalkan semua kuk ... seseorang meninggalkan semua kemelekatan ... seseorang meninggalkan semua kontak ... seseorang meninggalkan semua rintangan ... seseorang meninggalkan semua kekusutan ... seseorang meninggalkan semua noda ... seseorang meninggalkan semua ketagihan ... seseorang meninggalkan semua kehendak [salah] ... seseorang meninggalkan pandangan salah dan memunculkan pandangan benar ... seseorang meninggalkan ketidaktahuan dan memunculkan pengetahuan?”

“Bhikkhu, dengan cara ini merenungkan mata sebagai tidak kekal ... sampai dengan ... dengan mengetahui seperti ini, dengan melihat seperti ini, seseorang meninggalkan ketidaktahuan dan memunculkan pengetahuan.”
Kemudian, mendengar apa yang telah dikatakan Sang Buddha, bhikkhu itu bergembira. Dengan bergembira, ia memberikan penghormatan dan pergi.

202. [Kotbah tentang Meninggalkan Pandangan Diri]<33>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.[52a]

Kemudian seorang bhikkhu tertentu mendekati Sang Buddha, memberikan penghormatan dengan kepalanya pada kaki Sang Buddha, [mengundurkan diri untuk berdiri pada satu sisi], dan berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagavā, dengan mengetahui apakah, dengan melihat apakah, seseorang selangkah demi selangkah meninggalkan pandangan diri dan memunculkan pandangan bukan-diri?”<34>

Sang Buddha berkata kepada bhikkhu itu: “Seseorang dengan benar merenungkan mata sebagai bukan-diri,<35> dan ia juga dengan benar merenungkan bentuk, kesadaran-mata, kontak-mata, dan perasaan yang muncul bergantung pada kontak-mata, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral, sebagai bukan-diri. Dengan cara ini ... sampai dengan ... seseorang juga dengan benar merenungkan perasaan yang muncul bergantung pada kontak-pikiran, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral, sebagai bukan diri.

“Bhikkhu, dengan mengetahui seperti ini, dengan melihat seperti ini, seseorang selangkah demi selangkah meninggalkan pandangan diri dan memunculkan pandangan bukan-diri.”

Kemudian, mendengar apa yang telah dikatakan Sang Buddha, bhikkhu itu bergembira. Dengan bergembira, ia memberikan penghormatan dan pergi.<36>

203. [Kotbah tentang Dapat Meninggalkan Satu Hal]<37>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Vesālī di Hutan Mangga Jīvaka.<38>
Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Jika seorang bhikkhu dapat meninggalkan satu hal, maka ia akan mencapai pengetahuan benar dan dapat menyatakan dirinya: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi.’<39>

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagavā adalah akar Dharma, mata Dharma, landasan Dharma. Semoga beliau menguraikannya. Setelah mendengarnya, para bhikkhu akan menjunjung tinggi dan menerimanya dengan hormat.”

Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: “Dengarkanlah dan perhatikan dengan seksama pada apa yang akan kuajarkan kepada kalian. Para bhikkhu, karena meninggalkan satu hal apakah ... sampai dengan ... tidak akan ada kelangsungan yang lebih lanjut lagi? Yaitu, menjadi bosan dengan ketidaktahuan dan memunculkan pengetahuan, seseorang mencapai pemahaman benar dan dapat menyatakan dirinya: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi’.”

Kemudian seorang bhikkhu tertentu bangkit dari tempat duduknya, mengatur jubahnya sedemikian sehingga memperlihatkan bahu kanannya, memberikan penghormatan kepada Sang Buddha, berlutut di atas tanah dengan lutut kanannya, dengan telapak tangannya disatukan, berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagavā, dengan mengetahui apakah, dengan melihat apakah, seseorang menjadi bosan dengan ketidaktahuan dan memunculkan pengetahuan?”

Sang Buddha berkata kepada bhikkhu itu: “Seseorang seharusnya dengan benar menyelidiki mata sebagai tidak kekal, dan juga dengan benar merenungkan bentuk, kesadaran-mata, kontak-mata, dan perasaan yang muncul bergantung pada kontak-mata, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral, sebagai tidak kekal.

“Telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran juga seperti ini.

“Para bhikkhu, dengan mengetahui seperti ini dan melihat seperti ini, seseorang menjadi bosan dengan ketidaktahuan dan memunculkan pengetahuan.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

204. [Kotbah tentang Memahami dan Melihat Sebagaimana Adanya]

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Vesālī di Hutan Mangga Jīvaka.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada Yang Mulia Ānanda: “Seseorang seharusnya memahami mata sebagaimana adanya dan melihatnya sebagaimana adanya; seperti halnya mata, demikian juga seseorang seharusnya memahami sebagaimana adanya dan melihat sebagaimana adanya bentuk,<40> kesadaran-mata, kontak-mata, dan perasaan yang muncul bergantung pada kontak-mata,[52b] apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral.

“Telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran juga seperti ini.

“Seseorang yang telah memahami mata sebagaimana adanya dan melihatnya sebagaimana adanya, memunculkan kekecewaan terhadapnya, dan juga memunculkan kekecewaan terhadap bentuk, kesadaran-mata, kontak-mata, dan perasaan yang muncul bergantung pada kontak-mata, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral.

“Telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran juga seperti ini.

“Dengan menjadi kecewa, ia tidak menyenanginya. Dengan tidak menyenanginya, ia terbebaskan. Dengan terbebaskan, ia mengetahui dan melihat: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi’.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Samyukta Agama - Tentang Enam Landasan Indera (1)
« Reply #5 on: 03 September 2016, 06:14:12 PM »
205. [Kotbah tentang Udāna]

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Vesālī di Hutan Mangga Jīvaka.

Pada waktu itu Sang Bhagavā, setelah mengulangi semua syair dari Udāna, berkata kepada Yang Mulia Ānanda: “Mata adalah tidak kekal, dukkha, bersifat berubah dan menjadi sebaliknya. Bentuk, kesadaran-mata, kontak-mata, dan perasaan yang muncul bergantung pada kontak-mata, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral, juga adalah tidak kekal, dukkha, bersifat berubah dan menjadi sebaliknya.

“Telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran juga seperti ini.

“Seorang siswa mulia terpelajar yang merenungkan seperti ini terbebaskan dari mata, dan juga terbebaskan dari bentuk, kesadaran-mata, kontak-mata, dan perasaan yang muncul bergantung pada kontak-mata, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral. Aku katakan bahwa ia terbebaskan dari kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan kesakitan.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

206. [Kotbah Pertama di Hutan Mangga Jīvaka]<41>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Vesālī di Hutan Mangga Jīvaka.<42>

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Kalian seharusnya melakukan usaha tekun dalam meditasi, menenangkan pikiran dari dalam.<43> Mengapa demikian? Para bhikkhu, dengan cara ini dengan tekun berlatih meditasi dan menenangkan pikiran dari dalam, seseorang memahami [hal-hal] sebagaimana terwujudnya. Apakah yang ia pahami sebagaimana terwujudnya? Seseorang memahami sebagaimana terwujudnya mata, dan ia juga memahami sebagaimana terwujudnya bentuk, kesadaran-mata, kontak-mata, dan perasaan yang muncul bergantung bergantung pada kontak-mata, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral.

“Telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran juga seperti ini. Semua hal ini adalah tidak kekal dan terkondisi,<44> dan dengan cara ini seseorang juga memahaminya sebagaimana munculnya.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

207. [Kotbah Kedua di Hutan Mangga Jīvaka]<45>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Vesālī di Hutan Mangga Jīvaka.<46>[52c]

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Kalian seharusnya mengembangkan konsentrasi yang tidak terbatas, dengan semangat dan dengan perhatian yang terpusat.<47> Mengapa demikian? Setelah mengembangkan konsentrasi tanpa batas, dengan semangat dan dengan perhatian yang terpusat, maka [hal-hal] akan terwujud sebagaimana adanya. Apakah yang terwujud sebagaimana adanya? Mata terwujud sebagaimana adanya ... untuk diucapkan secara lengkap sampai dengan ... Semua hal ini, yang tidak kekal dan terkondisi, terwujud sebagaimana adanya.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

208. [Kotbah tentang Mata pada Masa Sekarang]<48>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Vesālī di Hutan Mangga Jīvaka.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Mata pada masa lampau dan masa depan adalah tidak kekal, apa yang harus dikatakan tentang mata pada masa sekarang! Seorang siswa mulia terpelajar yang merenungkan dengan cara ini tidak mengkhawatirkan mata dari masa lampau dan tidak bergembira dengan mata dari masa depan. Dengan menjadi kecewa dengan mata pada masa sekarang, ia tidak menyenanginya, menjadi bebas dari keinginan terhadapnya, dan berlanjut menuju kekecewaan terhadapnya.

“Telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran juga seperti ini.

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Seperti halnya untuk tidak kekal, dengan cara yang sama [kotbah-kotbah] juga diulangi untuk dukkha, kosong, dan bukan diri.

Seperti halnya empat kotbah untuk landasan indera internal, dengan cara yang sama juga empat kotbah untuk landasan indera eksternal, [yaitu] bentuk, suara, bebauan, rasa, sentuhan, objek pikiran, dan empat kotbah untuk landasan indera internal dan eksternal juga diulangi.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Samyukta Agama - Tentang Enam Landasan Indera (1)
« Reply #6 on: 03 September 2016, 06:21:03 PM »
209. [Kotbah tentang Enam Landasan Kontak]<49>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Vesālī di Hutan Mangga Jīvaka.

Pada waktu itu Sang Bhagavā kepada para bhikkhu: “Terdapat enam landasan kontak. Apakah enam hal itu? Mereka adalah landasan kontak mata ... telinga ... hidung ... lidah ... badan ... landasan kontak pikiran.

“[Sehubungan dengan] para pertapa dan brahmana yang tidak memahami sebagaimana adanya munculnya enam landasan kontak, lenyapnya, kepuasannya, bahayanya, dan jalan keluar darinya, harus diketahui bahwa para pertapa dan brahmana ini menyimpang dari ajaranku, jauh dari disiplinku, seperti halnya langit sehubungan dengan bumi.”<50>

Kemudian seorang bhikkhu tertentu bangkit dari tempat duduknya, mengatur jubahnya, memberikan penghormatan kepada Sang Buddha dan, dengan telapak tangan disatukan, berkata kepada Sang Buddha: “Aku diberkahi dengan pemahaman sebagaimana adanya munculnya enam landasan kontak, lenyapnya, kepuasannya, bahayanya, dan jalan keluar darinya.”<51>

Sang Buddha berkata kepada bhikkhu itu: “Aku sekarang akan bertanya kepadamu, jawablah menurut pertanyaanku. Bhikkhu, apakah engkau melihat landasan kontak mata sebagai diri, sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [di dalam diri, atau suatu diri] ada [di dalamnya]?”

Ia menjawab, “Tidak, Sang Bhagavā.”

Sang Buddha berkata kepada bhikkhu itu: “Bagus, bagus. Landasan kontak mata adalah bukan diri, ia tidak berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], ia tidak ada [di dalam diri, ataupun suatu diri] ada [di dalamnya]. Melalui ketidakmelekatan, pikiran seseorang yang mengetahui dan melihat hal ini sebagaimana adanya tidak akan terkotori oleh keterikatan, dan pikirannya akan terbebaskan dari arus-arus [kekotoran batin]. Ini disebut [seseorang] yang telah meninggalkan landasan kontak pertama,[53a] setelah memahaminya, meninggalkannya pada akarnya bagaikan tajuk sebatang pohon Palmyra yang telah dipotong, sehingga pada masa depan ia tidak akan pernah muncul lagi, yaitu, kesadaran-mata dan bentuk.

“Apakah engkau melihat landasan kontak telinga ... hidung ... lidah ... tubuh ... pikiran sebagai diri, sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [di dalam diri, atau suatu diri] ada [di dalamnya]?”

Ia menjawab: “Tidak, Sang Bhagavā.”

Sang Buddha berkata kepada bhikkhu itu: “Bagus, bagus. Landasan kontak telinga ... hidung ... lidah ... badan ... landasan kontak pikiran adalah bukan diri, ia tidak berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], ia tidak ada [di dalam diri, ataupun suatu diri] ada [di dalamnya]. Melalui ketidakmelekatan, pikiran seseorang yang mengetahui dan melihat hal ini sebagaimana adanya tidak akan terkotori oleh keterikatan, dan pikirannya akan terbebaskan dari arus-arus [kekotoran batin].<52> Ini disebut seorang bhikkhu yang telah meninggalkan enam landasan kontak, setelah memahaminya, meninggalkannya pada akarnya bagaikan tajuk sebatang pohon Palmyra yang telah dipotong, sehingga pada masa depan mereka tidak akan pernah muncul lagi,<53> yaitu ... kesadaran-pikiran dan objek pikiran.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

210. [Kotbah tentang Sukacita Ekstensif dan Penderitaan Ekstensif]<54>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Vesālī di Hutan Mangga Jīvaka.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Terdapat sukacita ekstensif dan penderitaan ekstensif.<55> Mengapa demikian? Enam landasan kontak di neraka.<56> Makhluk-makhluk hidup yang terlahir di neraka itu bertemu dengan bentuk-bentuk mata yang tidak menyenangkan dan tidak bertemu dengan bentuk-bentuk yang menyenangkan, mereka bertemu dengan bentuk-bentuk yang tidak ingin dipikirkan seseorang dan tidak bertemu dengan bentuk-bentuk yang ingin dipikirkan seseorang, mereka bertemu dengan bentuk-bentuk yang buruk dan tidak bertemu dengan bentuk-bentuk yang baik. Karena kondisi ini, keseluruhan pengalaman mereka adalah pengalaman kekhawatiran dan kesakitan [selama waktu yang lama].<57>

“Mereka bertemu dengan suara-suara telinga ... dengan bebauan hidung ... dengan rasa lidah ... dengan sentuhan badan ... dan dengan pikiran mereka mengetahui objek-objek pikiran yang tidak menyenangkan dan tidak bertemu dengan apa yang menyenangkan, mereka bertemu dengan apa yang tidak ingin dipikirkan seseorang dan tidak bertemu dengan apakah yang ingin dipikirkan seseorang, mereka bertemu dengan objek-objek pikiran yang buruk dan tidak bertemu dengan objek-objek pikiran yang baik. Karena kondisi ini, [keseluruhan] pengalaman mereka adalah pengalaman kekhawatiran dan kesakitan selama waktu yang lama.

“Para bhikkhu, terdapat [juga] enam landasan kontak [di surga]. Makhluk-makhluk hidup yang terlahir di alam itu bertemu dengan [bentuk-bentuk] mata yang menyenangkan dan tidak bertemu dengan apa yang tidak menyenangkan, mereka bertemu dengan bentuk-bentuk yang ingin dipikirkan seseorang dan tidak bertemu dengan bentuk-bentun yang tidak ingin dipikirkan seseorang, mereka bertemu dengan bentuk-bentuk yang baik dan tidak bertemu dengan bentuk-bentuk yang buruk. Karena kondisi ini, keseluruhan pengalaman mereka adalah pengalaman sukacita dan kenikmatan selama waktu yang lama.

“Mereka bertemu dengan suara-suara telinga ... dengan bebauan hidung ... dengan rasa lidah ... dengan sentuhan badan ... dan dengan pikiran mereka mengetahui objek-objek pikiran yang menyenangkan dan bukan tidak menyenangkan, [mereka bertemu dengan] apa yang ingin dipikirkan seseorang dan bukan apa yang tidak ingin dipikirkan seseorang, mereka bertemu dengan apa yang baik dan bukan apa yang buruk. [Karena kondisi ini, keseluruhan pengalaman mereka adalah pengalaman sukacita dan kenikmatan selama waktu yang lama].”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

211. [Kotbah tentang Lima Kesenangan Indera]<58>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Vesālī di Hutan Mangga Jīvaka.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Sebelumnya, ketika aku belum mencapai pencerahan sempurna, aku sedang bermeditasi sendiri di tempat yang sunyi dan terpencil dan berpikir: ‘Aku seharusnya menyelidiki: Ke arah manakah pikiranku sendiri sering berkecenderungan? Pikiranku sendiri sering mengejar lima utas kesenangan indera dari masa lampau,[53b] ia jarang mengejar lima utas kesenangan indera dari masa sekarang, dan ia sangat jarang terus-menerus berputar-putar dalam lima utas kesenangan indera dari masa depan.<59>

“Ketika aku telah merenungkan bahwa aku sering mengejar lima [utas] kesenangan indera dari masa lampau,<60> aku sepenuhnya membangkitkan semangat dan usaha untuk menjaga diriku sendiri sehingga aku tidak akan lagi mengikuti lima utas kesenangan indera dari masa lampau. Karena perlindungan diri yang tekun ini, aku perlahan-lahan mendekat pada pencerahan sempurna.<61>

“Para bhikkhu, kalian juga sering mengejar lima utas kesenangan indera dari masa lampau, sangat jarang [mengejar] lima utas kesenangan indera dari masa sekarang dan masa depan. Kalian seharusnya sekarang juga semakin melindungi diri kalian sendiri, karena pikiran sering mengejar lima utas kesenangan indera masa lampau, dan kalian akan segera mencapai penghancuran arus-arus [kekotoran batin], pembebasan pikiran yang bebas-arus dan pembebasan melalui kebijaksanaan, dengan mengetahui di sini dan saat ini untuk diri kalian sendiri dan merealisasi bahwa: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi.’<62>

“Mengapa demikian? Bergantung pada melihat bentuk dengan mata, perasaan muncul di dalamnya, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral. Bergantung pada telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran dan objek pikiran, perasaan muncul di dalamnya, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral.<63>

“Oleh sebab itu, para bhikkhu, kalian seharusnya merealisasi landasan itu di mana mata lenyap dan yang kemudian terpisah dari suatu persepsi bentuk, di mana telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran lenyap dan yang kemudian terpisah dari suatu persepsi objek pikiran.”

Sang Buddha berkata: “Kalian seharusnya merealisasi landasan itu.”<64> Setelah mengatakan hal ini, beliau memasuki gubuknya untuk duduk bermeditasi. Kemudian, segera setelah Sang Bhagavā pergi, sekelompok banyak bhikkhu mendiskusikan hal ini: “Sang Bhagavā telah mengajarkan kami intisari ajaran secara ringkas, dan tanpa menganalisisnya secara terperinci beliau memasuki gubuknya untuk duduk bermeditasi.

“Sang Bhagavā telah mengatakan: ‘Kalian seharusnya merealisasi landasan itu, di mana mata lenyap dan yang kemudian terpisah dari persepsi bentuk, di mana telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran lenyap dan yang kemudian terpisah dari persepsi objek pikiran.’ Sekarang kita masih tidak memahami di sini ajaran yang telah diajarkan Sang Bhagavā secara ringkas. Di antara komunitas ini, siapakah sekarang yang memiliki kekuatan kebijaksanaan dan kemampuan menguraikan kepada kita secara terperinci makna ajaran di sini yang telah diajarkan Sang Bhagavā secara ringkas?”

Mereka lebih jauh berpikir: “Satu-satunya hanya Yang Mulia Ānanda, yang terus-menerus melayani Sang Bhagavā dan yang terus-menerus dipuji oleh sang guru agung sebagai pelaksana kehidupan suci yang bijaksana. Yang Mulia Ānanda adalah satu-satunya orang yang dapat menguraikan kepada kita makna ajaran di sini yang telah diajarkan Sang Bhagavā secara ringkas. Kita semua seharusnya sekarang bersama-sama mendekati Yang Mulia Ānanda dan bertanya kepadanya tentang maknanya. Kita semua akan dengan hormat mengingat seperti yang dijelaskan [Yang Mulia] Ānanda.”

Pada waktu itu kelompok banyak bhikkhu mendekati Yang Mulia Ānanda. Setelah bertukar salam ramah tamah, mereka duduk pada satu sisi dan berkata kepada Yang Mulia Ānanda: “Yang Mulia, anda seharusnya mengetahui bahwa Sang Bhagavā telah mengajarkan kami intisari ajaran secara ringkas ... seperti yang dikatakan di atas ... kami bersama-sama memohon agar [Yang Mulia] Ānanda akan menjelaskan kepada kami secara terperinci maknanya.”

Yang Mulia Ānanda berkata kepada para bhikkhu:<65> “Dengarkanlah dan perhatikan dengan seksama,[53c] aku akan di sini menjelaskan secara terperinci kepada kalian makna dari ajaran yang telah diajarkan Sang Bhagavā secara ringkas. Apa yang telah diajarkan Sang Bhagavā secara ringkas adalah sehubungan dengan lenyapnya enam landasan indera. Dengan tujuan mengatakan lebih dari [satu ungkapan] itu, beliau berkata: ‘Landasan di mana mata lenyap dan yang kemudian terpisah dari persepsi bentuk, di mana telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran lenyap dan yang kemudian terpisah dari persepsi objek pikiran.’ Dari ajaran ini, yang telah diajarkan Sang Bhagavā secara ringkas ketika beliau memasuki gubuknya untuk duduk bermeditasi, aku sekarang telah menganalisis maknanya untuk kalian.”<66>

Ketika Yang Mulia Ānanda telah menjelaskan maknanya, mendengar apa yang telah ia katakan, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Samyukta Agama - Tentang Enam Landasan Indera (1)
« Reply #7 on: 03 September 2016, 06:24:09 PM »
212. [Kotbah tentang Mengembangkan Ketekunan]<67>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.<68>

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Aku tidak mengatakan kepada semua bhikkhu bahwa mereka [seharusnya] mengembangkan ketekunan, dan aku juga tidak mengatakan kepada semua bhikkhu bahwa mereka [seharusnya] tidak mengembangkan ketekunan.<69>

“Sehubungan dengan jenis bhikkhu apakah aku tidak mengatakan bahwa ia [seharusnya] mengembangkan ketekunan? Jika seorang bhikkhu telah menjadi seorang arahant dan telah melenyapkan semua arus [kekotoran batin], ia bebas dari beban berat, telah memperoleh manfaatnya sendiri, melenyapkan semua belenggu kelangsungan, dan pikirannya telah terbebaskan dengan baik.

“Kepada jenis bhikkhu seperti ini aku tidak mengatakan bahwa mereka [seharusnya] mengembangkan ketekunan. Mengapa demikian? Karena bhikkhu demikian telah menjalankan [pengembangan] ketekunan, mereka tidak dapat lagi melakukan hal-hal yang lalai. Karena aku sekarang melihat bahwa para yang mulia itu telah mencapai buah ketekunan, aku tidak mengatakan kepada mereka bahwa mereka [seharusnya] mengembangkan ketekunan.<70>

“Sehubungan dengan jenis bhikkhu apakah aku mengatakan bahwa mereka [seharusnya] mengembangkan ketekunan? Jika para bhikkhu berada pada tahap seorang siswa yang masih berlatih (sekha), mereka belum mencapai penenangan pikiran tertinggi dan [masih] berlanjut untuk menjadi berkembang dalam Nirvāṇa.

“Kepada jenis bhikkhu seperti ini aku mengatakan bahwa mereka [seharusnya] mengembangkan ketekunan.<71> Mengapa demikian? Ketika seorang bhikkhu demikian berlatih dalam indria-indria dan menggembirakan pikirannya karenanya,<72> diberkahi dengan kebutuhan hidup, dan bergaul dengan teman-teman baik, ia akan segera mencapai penghancuran arus-arus [kekotoran batin], pembebasan pikiran yang bebas-arus dan pembebasan melalui kebijaksanaan, dengan mengetahui di sini dan saat ini untuk dirinya sendiri dan merealisasi bahwa: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi.’

“Mengapa demikian? Sehubungan dengan bentuk yang dikenali oleh mata di mana ia mungkin menginginkannya dengan kesenangan dan menjadi terkotori oleh kemelekatan, ketika telah melihatnya bhikkhu itu tidak menyenanginya, tidak memujinya, tidak terkotori olehnya, dan tidak berkembang dalam ikatan kemelekatan. Ketika ia tidak menyenanginya, tidak memujinya, tidak terkotori olehnya, dan tidak berkembang dalam [ikatan] kemelekatan, ia dengan tekun maju dalam penenangan tubuh dan pikiran.

“Dengan pikiran yang sepenuhnya berkembang dalam kedamaian tanpa kelupaan, selalu terkonsentrasi dan terpusat pada satu hal, dengan sukacita tanpa batas dalam Dharma, tetapi masih mencapai pencapaian konsentratif yang tertinggi, ia pasti tidak akan mengalami kemunduran dengan mengikuti bentuk dengan mata.<73> Sehubungan dengan [suara yang dikenali oleh] telinga ... [bebauan yang dikenali oleh] hidung ... [rasa yang dikenali oleh] lidah ... [sentuhan yang dikenali oleh] badan ... objek pikiran yang dikenali oleh pikiran juga seperti ini.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.[54a]

213. [Kotbah Pertama tentang Dua Hal]<74>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Aku akan menguraikan kepada kalian tentang dua hal, dengarkanlah dan perhatikan dengan seksama. Apakah dua hal itu? Mata dan bentuk adalah dua hal, telinga dan suara ... hidung dan bebauan ... lidah dan rasa ... badan dan sentuhan ... pikiran dan objek pikiran adalah dua hal. Ini disebut dua hal.<75>

“Seumpamanya seorang pertapa atau brahmana berkata seperti ini: ‘Ini bukan dua hal. Hal-hal yang dinyatakan pertapa Gotama sebagai dua hal, mereka bukan dua hal’, dan ia menyatakan dua hal menurut gagasannya sendiri. Namun, ketika ditanyakan tentang apa yang ia katakan, ia tidak tahu,<76> dan semakin kebingungan, karena ini bukan dalam wilayah [jangkauan]nya.<77> Mengapa demikian?

“Bergantung pada mata dan bentuk, kesadaran-mata muncul. Bergantung pada pertemuan dari tiga hal ini terdapat kontak. Dari kontak muncul perasaan, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral.

“Ia tidak memahami sebagaimana adanya munculnya perasaan ini, lenyapnya perasaan, kepuasan dari perasaan, bahaya dalam perasaan, dan jalan keluar dari perasaan.

“Ia memelihara simpul jasmani dari nafsu keinginan, ia memelihara simpul jasmani dari kebencian, ia memelihara simpul jasmani dari kemelekatan pada aturan-aturan, dan ia mengembangkan simpul jasmani dari pandangan diri, dan ia memelihara dan meningkatkan keadaan-keadaan jahat dan tidak bermanfaat.<78> Dengan cara ini keseluruhan kumpulan besar dukkha sepenuhnya muncul darinya.<79>

Dengan cara yang sama bergantung pada telinga [dan suara] ... hidung [dan bebauan] ... lidah [dan rasa] ... badan [dan sentuhan] ... pikiran dan objek pikiran, kesadaran-pikiran muncul. [Bergantung pada] pertemuan dari ketiga hal ini terdapat kontak ... diulangi secara lengkap seperti di atas.

“Lagi, bergantung pada mata dan bentuk, kesadaran-mata muncul. Pertemuan dari tiga hal ini adalah kontak. Bergantung pada kontak terdapat perasaan, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral. Seseorang memahami dengan cara ini munculnya perasaan ini, lenyapnya, kepuasannya, bahayanya, dan jalan keluar darinya.

“Setelah memahaminya dengan cara ini, ia tidak memelihara simpul jasmani dari nafsu keinginan, tidak memelihara simpul jasmani dari kebencian, tidak memelihara simpul jasmani dari kemelekatan pada aturan-aturan, tidak memelihara simpul jasmani dari pandangan diri, dan tidak memelihara keadaan-keadaan jahat dan tidak bermanfaat. Dengan cara ini keadaan-keadaan jahat dan tidak bermanfaat lenyap dan keseluruhan kumpulan besar dukkha lenyap.

“[Bergantung] pada telinga [dan suara] ... hidung [dan bebauan] ... lidah [dan rasa] ... badan [dan sentuhan] ... pikiran dan objek pikiran juga seperti ini.

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

214. [Kotbah Kedua tentang Dua Hal]<80>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Terdapat dua kondisi untuk munculnya kesadaran.<81> Apakah dua hal itu? Yaitu, mata dan bentuk, telinga dan suara, hidung dan bebauan, lidah dan rasa, badan dan sentuhan, pikiran dan objek pikiran ... diulangi secara lengkap dengan cara ini sampai dengan ... karena ini bukan dalam wilayah [jangkauan]nya. Mengapa demikian?

“Bergantung pada mata dan bentuk, kesadaran-mata muncul. [Mata] itu adalah tidak kekal, terkondisi, dipikirkan, muncul bergantungan.<82> dan bentuk, seperti halnya kesadaran-mata, adalah tidak kekal, terkondisi, dipikirkan, muncul bergantungan.

“Pertemuan dari tiga hal ini adalah kontak. Setelah dikontak, terdapat perasaan. Setelah dirasakan, terdapat kehendak. Setelah dikehendaki, terdapat persepsi. Semua hal ini adalah tidak kekal, terkondisi, dipikirkan, muncul bergantungan. Itu yang adalah kontak, [perasaan], persepsi, dan kehendak [sehubungan dengan] telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran juga seperti ini.”[54b]

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Samyukta Agama - Tentang Enam Landasan Indera (1)
« Reply #8 on: 03 September 2016, 06:29:12 PM »
215. [Kotbah kepada Puṇṇa]<83>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu seorang bhikkhu, Yang Mulia Puṇṇa, mendekati Sang Buddha, memberikan penghormatan dengan kepalanya pada kaki Sang Buddha, mengundurkan diri untuk berdiri pada satu sisi, dan berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagavā mengajarkan Dharma yang terlihat secara langsung, beliau mengajarkan padamnya api, beliau mengajarkan apa yang dekat, beliau mengajarkan apa yang membawa ke depan, beliau mengajarkan apa yang terlihat di sini, beliau mengajarkan apa yang direalisasikan bergantung pada diri sendiri. Sang Bhagavā, apakah Dharma yang terlihat secara langsung ... sampai dengan ... apakah yang direalisasikan bergantung pada diri sendiri?”

Sang Buddha berkata kepada Puṇṇa: “Bagus, Puṇṇa, bahwa engkau dapat membuat pertanyaan ini. Puṇṇa, dengarkanlah dan perhatikan dengan seksama pada apa yang akan kuajarkan kepadamu.<84>

“Puṇṇa, ketika telah melihat bentuk dengan mata, seorang bhikkhu mengalami bentuk dan ia mengalami bahwa terdapat nafsu terhadap bentuk: ‘di dalam diriku terdapat nafsu terhadap bentuk yang dikenali oleh mata.’ Ia mengetahuinya sebagaimana adanya bahwa ‘di dalam diriku terdapat nafsu terhadap bentuk yang dikenali oleh mata.’

“Puṇṇa, ketika melihat bentuk dengan mata dan mengalami bentuk, seseorang yang mengalami nafsu terhadap bentuk dan mengetahui sebagaimana adanya bahwa ‘di dalam diriku terdapat nafsu terhadap bentuk yang dikenali oleh mata’, ini disebut suatu ajaran yang terlihat secara langsung.<85>

“Apakah padamnya api? Apakah yang dekat? Apakah yang membawa ke depan? Apakah yang terlihat di sini? Apakah yang direalisasikan bergantung pada diri sendiri?

“Puṇṇa, ketika telah melihat bentuk dengan mata, seorang bhikkhu mengalami bentuk dan ia mengalami bahwa nafsu terhadap bentuk tidak muncul. Ia mengetahui sebagaimana adanya bahwa ‘di dalam diriku tidak terdapat nafsu terhadap bentuk yang dikenali oleh mata,<86> aku tidak mengalami kemunculan nafsu terhadap bentuk.’

“Puṇṇa, seumpamanya ketika telah melihat bentuk dengan mata, seorang bhikkhu mengalami bentuk,<87> dan mengalami bahwa nafsu terhadap bentuk tidak muncul, dan ia mengetahui bentuk sebagaimana adanya. Mengetahui sebagaimana adanya bahwa ia tidak mengalami kemunculan nafsu terhadap bentuk, ini disebut padamnya api, dekat, membawa ke depan, terlihat di sini, dan apa yang direalisasikan bergantung pada diri sendiri.

“Telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran juga seperti itu.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, bhikkhu Puṇṇa bergembira dan menerimanya dengan hormat.

216. [Kotbah Pertama tentang Samudera]<88>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā  berkata kepada para bhikkhu: “Membicarakan tentang ‘samudera raya’ adalah apa yang dibicarakan orang-orang bodoh, ini bukan apa yang dibicarakan orang-orang mulia. Ini hanyalah lebih banyak atau lebih sedikit air.

“Apakah yang disebut oleh orang-orang mulia sebagai ‘samudera’? Yaitu, ketika telah mengenali bentuk dengan mata seseorang memiliki pikiran ketagihan, terkotori oleh kemelekatan,<89> dan nafsu terhadap aktivitas jasmani, ucapan, dan pikiran yang menyenangkan.<90> Ini disebut samudera. Seluruh dunia, dari para asura sampai para deva dan manusia, semuanya tenggelam dalam nafsu terhadap kesenangan demikian. Mereka bagaikan isi perut seekor anjing,<91> mereka bagaikan tumpukan rumput yang tidak beraturan, mereka terjerat, dibelenggu, dan terjebak di dunia ini dan dunia itu.<92>

Dengan cara yang sama juga untuk telinga yang mengenali suara ... hidung yang mengenali bebauan ... lidah yang mengenali rasa ... badan yang mengenali sentuhan ... mereka terjerat, dibelenggu, dan terjebak di dunia ini dan dunia itu, juga [diulangi] dengan cara yang sama.”<93>[54c]

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Seperti halnya untuk perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran, dengan cara yang sama juga untuk nafsu, kebencian, dan delusi, dan untuk usia tua, penyakit, dan kematian, [kotbah-kotbah] diulangi dengan cara ini. Seperti halnya tiga kotbah tentang lima indria, juga tiga kotbah tentang enam indria juga diulangi dengan cara ini.

217. [Kotbah Kedua tentang Samudera Besar]<94>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā  berkata kepada para bhikkhu: “Apa yang disebut samudera adalah apa yang dibicarakan orang-orang bodoh, ini bukan apa yang dibicarakan orang-orang mulia. Ini hanyalah lebih banyak atau lebih sedikit air.
“Bagi seseorang mata adalah samudera raya, yang gelombangnya adalah bentuk itu. Jika seseorang dapat menahan gelombang bentuk, ia menyeberangi samudera raya mata dan selesai dengan gelombang dan pusaran airnya,<95> dan dengan para binatang melata yang jahat dan para setan wanitanya.<96>

“Bagi seseorang telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran adalah samudera raya, yang gelombangnya adalah suara ... bebauan ... rasa ... sentuhan ... objek pikiran. Jika seseorang dapat menahan gelombang objek pikiran, ia dapat menyeberangi samudera raya pikiran dan selesai dengan gelombang dan pusaran airnya, dan dengan para binatang melata yang jahat dan para setan wanitanya.”

Pada waktu itu Sang Buddha mengucapkan sebuah syair:

“Samudera raya dengan gelombangnya yang besar,
Para binatang melata yang jahat dan para setan yang menakutkan,
Adalah sulit untuk diseberangi. Seseorang yang dapat menyeberanginya
Bebas dari airnya tanpa sisa.<97>

“Dapat meninggalkan semua dukkha,
Seseorang tidak lagi menyambut kelangsungan yang lebih jauh,
Selamanya [telah mencapai] Nirvāṇa,
Dan tidak akan pernah lagi lalai.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
« Last Edit: 04 September 2016, 09:09:24 AM by seniya »
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Samyukta Agama - Tentang Enam Landasan Indera (1)
« Reply #9 on: 03 September 2016, 06:31:44 PM »
218. [Kotbah tentang Sang Jalan]<98>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā  berkata kepada para bhikkhu: “Aku sekarang akan mengajarkan kalian jalan menuju munculnya dukkha dan jalan menuju lenyapnya dukkha.<99> Dengarkanlah dan perhatikan dengan seksama pada apa yang akan kuajarkan kepada kalian.

“Apakah jalan menuju munculnya dukkha? Bergantung pada mata dan bentuk, kesadaran-mata muncul. Pertemuan dari tiga hal ini adalah kontak. Bergantung pada kontak, terdapat perasaan. Bergantung pada perasaan, terdapat ketagihan. Bergantung pada ketagihan, terdapat kemelekatan. Bergantung pada kemelekatan, terdapat kemenjadian. Bergantung pada kemenjadian, terdapat kelahiran. Bergantung pada kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan kesakitan muncul.

 “Dengan cara yang sama telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran juga [diulangi] seperti itu. Ini disebut jalan menuju munculnya dukkha.

“Apakah jalan menuju lenyapnya dukkha? Bergantung pada mata dan bentuk, kesadaran-mata muncul. Pertemuan dari tiga hal ini adalah kontak. Dengan lenyapnya kontak, perasaan kemudian lenyap.<100> Dengan lenyapnya perasaan, ketagihan kemudian lenyap. Dengan lenyapnya ketagihan, kemelekatan kemudian lenyap. Dengan lenyapnya kemelekatan, kemenjadian menjadi lenyap. Dengan lenyapnya kemenjadian, kelahiran kemudian lenyap. Dengan lenyapnya kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan kesakitan kemudian lenyap. Dengan cara ini keseluruhan kumpulan besar dukkha lenyap.

“Telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran juga diulangi seperti itu. [55a] Ini disebut jalan menuju lenyapnya dukkha.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

219. [Kotbah Pertama tentang Jalan Menuju Nirvāṇa]<101>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā  berkata kepada para bhikkhu: “Aku sekarang akan mengajarkan kalian jalan menuju Nirvāṇa. Apakah jalan menuju Nirvāṇa? Yaitu, renungkanlah mata sebagai tidak kekal. Bentuk, kesadaran-mata, dan perasaan yang muncul bergantung pada kontak-mata yang dialami di dalamnya, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral, itu juga adalah tidak kekal.

“Telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran juga seperti itu. Ini disebut jalan menuju Nirvāṇa.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

220. [Kotbah Kedua tentang Jalan Menuju Nirvāṇa]<102>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā  berkata kepada para bhikkhu: “Terdapat suatu jalan yang membawa menuju Nirvāṇa. Apakah jalan yang membawa menuju Nirvāṇa? Renungkanlah mata sebagai bukan-diri. Renungkan juga bentuk, kesadaran-mata, dan perasaan yang muncul bergantung pada kontak-mata yang dialami di dalamnya, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral, sebagai bukan-diri.<103>

“Telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran juga seperti itu. Ini disebut jalan yang membawa menuju Nirvāṇa.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

221. [Kotbah tentang Kemelekatan]

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā  berkata kepada para bhikkhu: “Terdapat suatu jalan yang membawa pada semua [jenis] kemelekatan. Apakah jalan yang membawa pada semua [jenis] kemelekatan? Bergantung pada mata dan bentuk, kesadaran-mata muncul. Pertemuan dari tiga hal ini adalah kontak. Bergantung pada kontak, terdapat perasaan. Bergantung pada perasaan, terdapat ketagihan. Bergantung pada ketagihan, terdapat kemelekatan. Oleh sebab itu terdapat kemelekatan dan apa yang dilekati.

“Telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran juga seperti itu. Oleh sebab itu terdapat kemelekatan dan apa yang dilekati. Ini disebut jalan yang membawa pada semua [jenis] kemelekatan.”

“Apakah jalan meninggalkan semua [jenis] kemelekatan? Bergantung pada mata dan bentuk, kesadaran-mata muncul. Pertemuan dari tiga hal ini adalah kontak. Dengan lenyapnya kontak, perasaan kemudian lenyap. Dengan lenyapnya perasaan, ketagihan kemudian lenyap. Dengan lenyapnya ketagihan, kemelekatan kemudian lenyap.

“Dengan cara yang sama telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran juga seperti itu. [Ini disebut jalan meninggalkan semua jenis kemelekatan].”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Samyukta Agama - Tentang Enam Landasan Indera (1)
« Reply #10 on: 03 September 2016, 06:34:35 PM »
222. [Kotbah Pertama tentang Memahami]<104>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā  berkata kepada para bhikkhu: “Kalian seharusnya memahami semua hal yang harus dipahami, semua hal yang harus dimengerti.<105> Dengarkanlah dan perhatikan dengan seksama pada apa yang akan kuajarkan kepada kalian. Apakah semua hal yang harus dipahami, semua hal yang harus dimengerti?[55b]

“Para bhikkhu, mata adalah suatu hal yang harus dipahami, suatu hal yang harus dimengerti. Bentuk, kesadaran-mata, kontak-mata, dan perasaan yang muncul bergantung pada kontak-mata dan dialami di dalamnya, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral, semua ini adalah hal-hal yang harus dipahami, hal-hal yang harus dimengerti.<106>

“Telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran juga seperti itu.

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

223. [Kotbah Kedua tentang Memahami]<107>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā  berkata kepada para bhikkhu: “Aku tidak mengatakan bahwa tanpa memahami dan tanpa mengerti satu hal, seseorang mencapai terlampauinya dukkha yang tiada bandingnya.<108> Apakah satu hal yang tidak kukatakan bahwa, tanpa memahami dan tanpa mengerti hal itu, seseorang mencapai terlampauinya dukkha yang tiada bandingnya? Yaitu, aku tidak mengatakan bahwa, tanpa memahami dan tanpa mengerti mata, seseorang mencapai terlampauinya dukkha yang tiada bandingnya.

“Aku juga tidak mengatakan bahwa tanpa memahami dan tanpa mengerti bentuk,<109> kesadaran-mata, kontak-mata, dan perasaan yang muncul bergantung pada kontak-mata dan dialami di dalamnya, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral, seseorang mencapai terlampauinya dukkha yang tiada bandingnya.

“Telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran juga seperti itu.”<110>

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

224. [Kotbah Pertama tentang Meninggalkan]<111>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā  berkata kepada para bhikkhu: “Semua hal [yang berhubungan dengan] keinginan seharusnya ditinggalkan.<112> Apakah semua hal [yang berhubungan dengan] keinginan yang seharusnya ditinggalkan? Yaitu, mata adalah [salah satu dari] semua hal [yang berhubungan dengan] keinginan yang seharusnya ditinggalkan. Bentuk, kesadaran-mata, kontak-mata, dan perasaan yang muncul bergantung pada kontak-mata dan dialami di dalamnya, apakah menyakitkan, menyenangkan, dan netral, semua hal [yang berhubungan dengan] keinginan ini yang seharusnya ditinggalkan.

“Telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran juga seperti itu.

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

225. [Kotbah Kedua tentang Meninggalkan]<113>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā  berkata kepada para bhikkhu: “Aku tidak mengatakan bahwa tanpa memahami dan tanpa meninggalkan satu hal, seseorang [mencapai] terlampauinya dukkha yang tiada bandingnya.<114> Apakah satu hal yang tidak kukatakan bahwa, tanpa memahami dan tanpa meninggalkannya, seseorang [mencapai] terlampauinya dukkha yang tiada bandingnya? Yaitu, aku tidak mengatakan bahwa, tanpa memahami dan tanpa meninggalkan mata, seseorang [mencapai] terlampauinya dukkha yang tiada bandingnya.

“Aku tidak mengatakan tentang bentuk, kesadaran-mata, kontak-mata, dan perasaan yang muncul bergantung pada kontak-mata dan dialami di dalamnya, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral, yang, tanpa memahami dan tanpa meninggalkan semua hal ini, seseorang [mencapai] terlampauinya dukkha yang tiada bandingnya.

“Telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran juga seperti itu.

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.[55c]
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Samyukta Agama - Tentang Enam Landasan Indera (1)
« Reply #11 on: 03 September 2016, 06:37:46 PM »
226. [Kotbah Pertama tentang Memikirkan]<115>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā  berkata kepada para bhikkhu: “Aku sekarang akan mengajarkan kalian [tentang] ditinggalkannya semua pemikiran. Dengarkanlah dan perhatikan dengan seksama pada apa yang akan kuajarkan kepada kalian. Apakah yang tidak seharusnya dipikirkan? Yaitu, janganlah memikirkan suatu diri dalam melihat bentuk, jangan memikirkan mata sebagai milik diri, jangan memikirkannya sebagai milik yang lain. Juga jangan memikirkan dan menyenangi bentuk, kesadaran-mata, kontak-mata, dan perasaan yang muncul dari kontak mata dan dialami di dalamnya, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral, sebagai diri, sebagai milik diri, dan jangan memikirkan dan menyenanginya sebagai milik yang lain.<116>

“Janganlah memikirkan telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran juga seperti itu.”

“Bagi seseorang yang tidak memikirkan dengan cara ini, tidak ada di dunia untuk dilekati sebagai kekal. Karena tidak melekat pada apa pun, ia tidak terikat pada apa pun. Karena tidak terikat pada apa pun, ia secara pribadi merealisasi Nirvāṇa, [dengan mengetahui]: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi’.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Seperti yang diucapkan di atas tentang tidak memikirkan mata, dst., tidak memikirkan semua hal juga [diulangi] dengan cara ini.

227. [Kotbah Kedua tentang Memikirkan]<117>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā  berkata kepada para bhikkhu: “Memikirkan adalah suatu penyakit, memikirkan adalah suatu bisul, memikirkan adalah suatu duri. Karena berkembang dalam ketiadaan pemikiran, Sang Tathāgata bebas dari penyakit, bebas dari bisul, bebas dari duri.

“Oleh sebab itu seorang bhikkhu, yang berkeinginan untuk mencari berkembangnya dalam ketiadaan pemikiran, yang bebas dari penyakit, bebas dari bisul, bebas dari duri, bhikkhu itu seharusnya tidak memikirkan mata sebagai suatu diri, sebagai milik suatu diri, dan ia seharusnya tidak memikirkan mata sebagai [milik] yang lain. Ia seharusnya tidak memikirkan bentuk, kesadaran-mata, kontak-mata, dan perasaan yang muncul bergantung pada kontak-mata dan dialami di dalamnya, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral, sebagai suatu diri, sebagai milik suatu diri atau sebagai [milik] yang lain.

“Telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran juga seperti itu.”

“Para bhikkhu, seseorang yang tidak memikirkan dengan cara ini tidak melekat pada apa pun.<118> Karena tidak melekat pada apa pun, ia tidak terikat pada apa pun. Karena tidak terikat pada apa pun, ia secara pribadi merealisasi Nirvāṇa, [dengan mengetahui]: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi’.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Seperti halnya sehubungan dengan mata, dst., masing-masing topik yang tersisa diulangi dengan cara ini.

228. [Kotbah tentang Apa yang Meningkat]

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā  berkata kepada para bhikkhu: “Aku sekarang akan mengajarkan kalian apa yang bersifat meningkat dan apa yang bersifat melenyap. Apakah yang bersifat meningkat? Yaitu, bergantung pada mata dan bentuk, kesadaran-mata muncul. Pertemuan dari tiga hal ini adalah kontak. Bergantung pada kontak, terdapat perasaan ... diulangi secara lengkap sampai dengan ... ini adalah munculnya keseluruhan kumpulan besar dukkha. Ini disebut yang bersifat meningkat.[56a]

“Telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran juga seperti itu. Ini disebut yang bersifat meningkat.

“Apakah yang bersifat melenyap? Bergantung pada mata dan bentuk, kesadaran-mata muncul. Pertemuan dari tiga hal ini adalah kontak. Dengan lenyapnya kontak, perasaan kemudian lenyap ... diulangi secara lengkap sampai dengan ... lenyapnya keseluruhan kumpulan besar dukkha.

“Telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran juga seperti itu. Ini disebut yang bersifat melenyap.”<119>

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Seperti halnya untuk meningkat dan melenyap, dengan cara yang sama juga untuk bersifat bangkit, bersifat berubah selagi bertahan, bersifat muncul, dan bersifat melenyap, [kotbah-kotbah] diulangi seperti di atas.

229. [Kotbah tentang Apa yang Dengan Arus-Arus dan Tanpa Arus Kekotoran Batin]<120>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā  berkata kepada para bhikkhu: “Aku sekarang akan mengajarkan kalian apa yang bersifat dengan arus-arus [kekotoran batin] dan tanpa arus [kekotoran batin]. Apakah yang bersifat dengan arus-arus? Yaitu, ini adalah mata dan bentuk,<121> kesadaran-mata, kontak-mata, perasaan yang muncul bergantung pada kontak-mata yang dialami di dalamnya, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral, [yang bersifat duniawi].<122>

“Ini adalah telinga ... hidung ... lidah ... badan ... pikiran dan objek pikiran, kesadaran-mata, kontak-mata, perasaan yang muncul bergantung pada kontak-pikiran yang dialami di dalamnya, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral, yang bersifat duniawi. Ini disebut yang bersifat dengan arus-arus.

“Apakah yang bersifat tanpa arus? Yaitu, ini adalah ... pikiran dan objek pikiran yang melampaui duniawi, kesadaran-pikiran, kontak-pikiran, perasaan yang muncul bergantung pada kontak-pikiran yang dialami di dalamnya, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral, yang bersifat melampaui duniawi. Ini disebut yang bersifat tanpa arus.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Samyukta Agama - Tentang Enam Landasan Indera (1)
« Reply #12 on: 03 September 2016, 06:42:48 PM »
Catatan Kaki:

<1> Teks yang diterjemahkan ditemukan dalam T II 49b7 sampai 56a17, yang merupakan jilid kedelapan dalam edisi Taishō yang berhubungan dengan jilid kedelapan dalam urutan yang direkonstruksi dari kumpulan ini. Dalam apa yang mengikuti, identifikasi saya atas paralel Pāli didasarkan pada Akanuma 1929/1990 dan Yìnshùn 1983, dalam hal paralel penggalan Sanskrit saya berhutang kepada Chung 2008. Di sini dan tempat lain, saya mengadopsi Pāli untuk nama-nama diri dan istilah doktrinal untuk memfasilitasi perbandingan dengan paralel Pāli, kecuali untuk istilah-istilah seperti Dharma dan Nirvāṇa, tanpa oleh sebabnya bermaksud mengambil posisi atas bahasa asli dari manuskrip Saṃyukta-āgama yang digunakan untuk terjemahan. Ketetapan saya atas judul kebanyakan didasarkan pada Akanuma 1929/1990; dalam hal judul sama yang diulangi saya menambahkan “pertama”, “kedua”, dst.

<2> Paralel: SN 35.155 dalam SN IV 142,1. Akanuma 1929/1990: 38 juga mendaftarkan SN 35.156, SN 35.179-181, dan SN 35.185. SN 35.156 berbeda dari SN 35.155 karena ia mengambil objek dari indera-indera alih-alih indera-indera itu sendiri. Dari dua kotbah, SN 35.155 oleh sebab itu merupakan paralel yang lebih dekat pada SĀ 188. SN 35.179–181 dan SN 35.185 adalah tentang sifat sejati indera pada masa lampau, masa sekarang, dan masa depan dan dengan demikian tidak tampak sebagai paralel.

<3> SN 35.155 dalam SN IV 142,3 menyajikan penghancuran kesenangan dan penghancuran nafsu sebagai saling mendukung satu sama lain.

<4> Pernyataan ini tidak ditemukan dalam SN 35.155, yang menutup penjelasannya dengan penunjukan bahwa pikiran terbebaskan dengan baik.

<5> Paralel: SN 35.157 dalam SN IV 142,21.

<6> SN 35.157 dalam SN IV 142,25 menyajikan penghancuran kesenangan dan penghancuran nafsu sebagai saling mendukung satu sama lain.

<7> Pernyataan demikian tidak ditemukan dalam SN 35.157, yang menutup penjelasannya dengan penunjukan bahwa pikiran terbebaskan dengan baik.

<8> Paralel: SN 35.27 dalam SN IV 18,25; cf. juga SN 35.26 dalam SN IV 17,8.

<9> SN 35.27 dalam SN IV 18,25 mendahului analisis masing-masing landasan indera dengan pernyataan umum bahwa seseorang tidak dapat melenyapkan dukkha tanpa memahami (dst.) “semua”; hal yang sama berlaku untuk SN 35.26 dalam SN IV 17,8. SN 35.27 melanjutkan setelah masing-masing indera dengan menyebutkan objek, kesadaran, dan hal-hal yang dikenali oleh kesadaran yang berhubungan. Dalam SN 35.26 perlakuan jenis ini mencakup objek, kesadaran, kontak, dan tiga perasaan yang berhubungan. Karena panjang tambahan dari perlakuan ini, SN 35.27 tampaknya merupakan paralel yang lebih dekat pada SĀ 190. Mengenai perlakuan dalam SN 35.27 pada SN IV 18,30 ini, layak untuk dicatat bahwa ia juga memasukkan hal-hal yang dikenali oleh masing-masing kesadaran-indera, seperti, dalam hal mata, cakkhuviññāṇaviññātabbā dhammā. Karena penguraian yang sama sebelumnya telah menyebutkan rūpā, penunjukan demikian adalah berlebihan. Komentar, Spk II 359,10 (yang diterjemahkan Bodhi 2000: 1400 catatan no. 12) mencerminkan kesadaran dari hal berlebihan ini, dengan membawa pada penjelasan yang diusulkan yang, seperti yang telah dicatat oleh Bodhi, tampak agaknya “dibuat-buat”. Dari sudut pandang SĀ 190 tampaknya mungkin bahwa kecenderungan untuk memperluas penguraian demikian, dengan menambahkan lebih banyak aspek pengalaman indera dari masing-masing indera, yang mengakibatkan hal yang berlebihan, di mana dalam hal masing-masing indera objek masing-masing dan hal-hal yang dikenali oleh masing-masing kesadaran telah disebutkan secara terpisah, walaupun mereka menunjuk pada hal yang sama.

<10> Paralelnya sama dengan SN 35.27 seperti halnya kotbah SĀ 190 yang mendahului.

<11> Penerjemahan mengikuti saran oleh Yìnshùn 1983: 217 catatan no. 4 untuk memperbaiki 色 menjadi 眼.

<12> Mengenai paralel, Akanuma 1929/1990: 38 menyebutkan SN 35.21–22, tetapi kedua kotbah tampaknya terlalu berbeda dari SĀ 192 untuk disebut paralel.

<13> Mengadopsi suatu varian bacaan tanpa penunjukan tambahan pada 色.

<14> Mengenai paralel, hal yang sama berlaku seperti halnya kotbah SĀ 192 yang mendahului.

<15> Terjemahan didasarkan pada perbaikan dengan menghapus suatu penunjukan tambahan pada 色, di sini dan di bawah ini untuk kasus positif bebas dari keinginan. Ini tampaknya kesalahan yang sama seperti dalam kotbah sebelumnya (cf. catatan no. 13 di atas), dengan mempertimbangkan bahwa untuk indera lainnya masing-masing objek tidak disebutkan.

<16> Paralel: SN 35.19 dalam SN IV 13,11. Akanuma 1929/1990: 38 juga mendaftarkan SN 35.20, yang berbeda dari SN 35.19 karena ia mengambil objek-objek indera alih-alih indera itu sendiri. Dari kedua kotbah, SN 35.19 adalah paralel yang lebih dekat dengan SĀ 194.

<17> Paralel: SN 35.43 dalam SN IV 28,12.

<18> Paralelnya sama seperti halnya kotbah SĀ 195 yang mendahului.

<19> Penerjemahan mengikuti saran oleh Yìnshùn 1983: 220 catatan no. 4 untuk menghapus suatu penunjukan tambahan pada 識.

<20> Mengadopsi suatu varian yang menambahkan 解脫.

<21> Terjemahan didasarkan pada perbaikan 二 menjadi 一一; cf. juga pembahasan dalam Yìnshùn 1983: 220 catatan no. 6.

<22> Paralel: SN 35.28 dalam SN IV 19,22 (= Vin I 34,14), EĀ 24.5 dalam T II 622b8, Catuṣpariṣat-sūtra, Waldschmidt 1962: 316,6 (§26.2), Vinaya Dharmaguptaka, T 1428 dalam T XXII 797a11, Vinaya Mahīśāsaka, T 1421 at XXII 109b25, Vinaya Mūlasarvāstivāda, Gnoli 1977: 230,10, dengan padanan Mandarin dan Tibet-nya dalam T 1450 pada T XXIV 134b4 dan Waldschmidt 1962: 317,7 (§26.2), juga beberapa riwayat hidup Sang Buddha yang dipertahankan dalam bahasa Mandarin, seperti, sebagai contoh, T 185 dalam T III 483a9 (yang hanya menyebutkan tiga keajaiban), T 189 dalam T III 650a22, T 191 dalam T III 962a11, dan T 196 dalam T IV 151c29; cf. juga Waldschmidt 1951/1967: 193.

<23> SN 35.28 tidak menyebutkan tiga keajaiban dan hanya memiliki padanan pada tiga yang terakhir ini; cf. juga pembahasan dalam Anālayo 2015a: 26ff.

<24> Terjemahan “langsung” didasarkan pada asumsi bahwa 身 menerjemahkan bentuk instrumental kāyena (yang ditemukan pada titik ini dalam Waldschmidt 1962: 320,17 (§26.14) dan Gnoli 1977: 230,29), tentang pentingnya hal ini cf. Anālayo 2011: 379 catatan no. 203.

<25> Tentang penerjemahan 不起 sebagai “ketidakmelekatan” cf. Anālayo 2014: 8 catatan no. 17.

<26> Kotbah sekarang dan selanjutnya tidak memiliki paralel di antara kotbah-kotbah Pāli, walapun penguraian yang dapat dibandingkan berhubungan dengan lima kelompok unsur kehidupan dapat ditemukan dalam SN 18.21–22 pada SN II 252,7 dan SN 22.91–92 pada SN III 135,24.

<27> Alih-alih “pandangan suram”, menurut perbaikan yang disarankan oleh Yìnshùn 1983: 223 catatan no. 3 “kelanjutan belenggu” ditinggalkan; ini akan berhubungan dengan ungkapan yang ditemukan dalam suatu pengajaran kepada Rādha dalam SĀ 123 pada T II 40b10, yang diterjemahkan Anālayo 2015b: 22.

<28> Cf. komentar di atas dalam catatan no. 26.

<29> Paralel: MN 147 dalam MN III 277,21 dan SN 35.121 dalam SN IV 105,11; untuk studi perbandingan dan terjemahan cf. Anālayo 2011: 836f dan 2012 masing-masing.

<30> Su 2015: 120 menunjukkan bahwa pengajaran Sang Buddha kepada Rāhula yang diberikan pada kotbah sekarang dapat juga ditemukan dalam T 212 pada T IV 626b27, dengan perbedaan bahwa di sini Rāhula dinasehati untuk mengulangi kotbah-kotbah tentang kondisionalitas, lima kelompok unsur kehidupan, dan enam landasan indera, dan setelah merenungkan tentang hal-hal ini ia menjadi seorang arahant.

<31> Paralel: SN 35.56–57 dalam SN IV 32,9.

<32> SN 35.56–57 (dilengkapi dari SN 35.53) tidak melaporkan kegembiraan sang bhikkhu dan kepergiannya.

<33> Paralel: SN 35.166 dalam SN IV 148,1.

<34> Pertanyaan bhikkhu itu dalam SN 35.166 pada SN IV 148,2 hanya menyebutkan tentang meninggalkan pandangan diri, tidak memunculkan pandangan bukan-diri.

<35> Terjemahan didasarkan pada perbaikan 無常 untuk membaca 無我, sesuai dengan apa yang digunakan pada sisa kotbah (kemunculan 無常 dapat dengan mudah merupakan kesalahan penyalinan yang disebabkan oleh kemunculannya pada kotbah yang mendahului). SN 35.166 mengatakan sepenuhnya tentang bukan-diri.

<36> SN 35.166 tidak melaporkan kegembiraan sang bhikkhu dan kepergiannya.

<37> Paralel: SN 35.79 dalam SN IV 49,22.

<38> SĀ 203 dalam T II 52a10: 耆婆拘摩羅藥師菴羅園, di mana Akanuma 1930/1994: 250 mendaftarkan sebagai salah satu dari penerjemahan Jīvakambavana. Menurut tradisi Pāli, Hutan Mangga yang diberikan oleh Jīvaka alih-alih terletak di Rājagaha; cf. Malalasekera 1937/1995: 959f.

<39> SN 35.79 dalam SN IV 49,22 berlatarkan seorang bhikkhu mendekati Sang Buddha dengan pertanyaan apakah terdapat satu hal yang dengan meninggalkannya membawa pada ditinggalkannya ketidaktahuan dan memunculkan pengetahuan. Sang Buddha menjawab bahwa satu hal adalah meninggalkan ketidaktahuan, yang kemudian membawa bhikkhu itu bertanya bagaimana mengetahui dan bagaimana melihat sehubungan dengan meninggalkan ketidaktahuan, sama dengan pertanyaan yang diajukan belakangan dalam SĀ 203. Bodhi 2000: 1405 catatan no. 42 berkomentar atas bagian tanya jawab dalam SN 35.79 ini bahwa, “walaupun ini mungkin terdengar berlebihan untuk mengatakan ketidaktahuan harus ditinggalkan untuk meninggalkan ketidaktahuan, pernyataan ini menekankan kenyataan bahwa ketidaktahuan adalah sebab yang paling penting dari belenggu, yang harus dilenyapkan untuk melenyapkan semua belenggu lainnya.” Mempertimbangkan bahwa SĀ 203 tidak memiliki pernyataan demikian, mungkin penyajian dalam SN 35.79 hanyalah akibat kesalahan tekstual.

<40> Terjemahan mengikuti saran oleh Yìnshùn 1983: 253 catatan no. 1 untuk menghapus suatu penunjukan tambahan pada 眼.

<41> Paralel: SN 35.160 dalam SN IV 144,17; cf. juga SN 35.100 dalam SN IV 80,28.

<42> SN 35.160 dalam SN IV 144,17 juga menyebutkan Hutan Mangga Jīvaka sebagai tempat terjadinya kotbah, tetapi menempatkannya di Rājagaha.

<43> SN 35.160 dalam SN IV 144,20 tidak menyebutkan perlunya menenangkan pikiran dari dalam. Suatu kutipan kotbah yang berparalel dengan pernyataan dalam SĀ 206 dapat ditemukan dalam Yogācārabhūmi, Delhey 2009: 208,14 (§4.2.1): pratisaṃlayanāya bhikṣavo yogam āpadyadhvam adhyātmaṃ cetaḥśamathāyeti.

<44> Suatu penunjukan pada terkondisi tidak ditemukan dalam SN 35.160, kenyataannya hal yang sama juga hilang dari penguraian sebelumnya sehubungan dengan mata dalam SĀ 206.

<45> Paralel: SN 35.159 dalam SN IV 144,29; cf. juga SN 35.99 dalam SN IV 80,11.

<46> SN 35.159 dalam SN IV 144,29 juga menyebutkan Hutan Mangga Jīvaka sebagai tempat terjadinya kotbah, tetapi menempatkannya di Rājagaha.

<47> SN 35.159 at SN IV 144,33 tidak menyebutkan konsentrasi sebagai tidak terbatas, ataupun menyebutkan perhatian. Suatu kutipan kotbah yang berparalel dengan pernyataan dalam SĀ 207 dapat ditemukan dalam Yogācārabhūmi, Delhey 2009: 209,7 (§4.2.2.1): samādhiṃ bhikṣavo bhāvayata, apramāṇam nipakāḥ pratismṛtā iti.

<48> Paralel: SN 35.7 dalam SN IV 4,1.

<49> Paralel: SN 35.71 dalam SN IV 43,11; cf. juga SN 35.72 dalam SN IV 44,1 dan SN 35.73 dalam SN IV 44,32. SN 35.72 berbeda dari SN 35.71 dan SĀ 209 sejauh pengajaran Sang Buddha kepada bhikkhu itu mengambil bentuk menanyakannya apakah ia tidak melihat suatu diri dalam indera apa pun, dst.; dalam SN 35.73 Sang Buddha mengambil sifat ketidakkekalan dari indera-indera, yang diikuti oleh sifat ketidakpuasan dan bukan-diri. Perbedaan lainnya adalah bahwa dalam SN 35.73 penguraian membawa pada penjelasan perikop atas pencerahan berkenaan dengan kelahiran telah dilenyapkan, dst.

<50> SN 35.71 dalam SN IV 43,11 (juga SN 35.72 dalam SN IV 44,1, dan SN 35.73 dalam SN IV 44,32) mengatakan tentang “para bhikkhu” yang, dengan tidak memahami, jauh dari ajaran dan disiplin Sang Buddha. Ini sesuai dengan konteks lebih baik daripada penunjukan para pertapa dan brahmana dalam SĀ 209. SN 35.71, SN 35.72, dan SN 35.73 tidak memiliki perbandigan dengan langit dan bumi.

<51> Dalam SN 35.71 pada SN IV 43,16 (juga dalam SN 35.72 pada SN IV 44,6, dan SN 35.73 pada SN IV 45,5) bhikkhu itu alih-alih mengatakan bahwa ia tidak memahami.

<52> Mengadopsi varian 心 alih-alih 以, sesuai dengan rumusan yang digunakan untuk mata.

<53> Penerjemahan mengikuti saran oleh Yìnshùn 1983: 255 catatan no.3 untuk memperbaiki 欲 untuk membaca 永, sesuai dengan rumusan yang digunakan untuk mata.

<54> Paralel: SN 35.135 dalam SN IV 126,1.

<55> Dalam SN 35.135 pada SN IV 126,1 Sang Buddha menyoroti bahwa ini adalah suatu perolehan bagi para bhikkhu untuk memiliki kesempatan menjalankan kehidupan suci.

<56> Dalam SN 35.135 pada SN IV 126,3 Sang Buddha menegaskan bahwa beliau telah melihat neraka yang disebut “enam landasan kontak”. Komentar, Spk II 400,5, menjelaskan bahwa tidak ada sesungguhnya neraka dengan nama ini, kenyataannya nama ini berlaku untuk semua neraka; diikuti dengan menambahkan bahwa dalam konteks saat ini penunjukan itu terutama pada Avīci. Jika ini benar-benar maksud sebenarnya, pasti akan lebih berterus terang bagi Sang Buddha untuk menunjuk pada Avīci secara langsung. Mengingat fakta bahwa tidak penegasan demikian oleh Sang Buddha dilaporkan dalam SĀ 210, mungkin rumusan dalam SN 35.135 bisa jadi akibat penambahan yang belakangan. Ini akan menjelaskan munculnya pernyataan bahwa, karena berhubungan dengan neraka yang disebut “enam landasan kontak”, tidak tampak sesuai dengan konteks yang jelas tentang enam landasan kontak dalam alam neraka mana pun. Hal yang sama berlaku pada kasus surga, di mana dalam SN 35.135 dalam SN IV 126,16 Sang Buddha menegakan bahwa beliau telah melihat surga yang disebut “enam landasan kontak”, di mana Spk II 400,9 kemudian menjelaskan yang dimaksud adalah kota Tāvatiṃsa.

<57> Di sini dan di bawah ini, suatu kesimpulan demikian tidak disebutkan dalam SN 35.135.

<58> Paralel: SN 35.117 dalam SN IV 97,17.

<59> Dalam SN 35.117 pada SN IV 97,19 kesenangan indera masa lampau dan masa sekarang memiliki ketertarikan yang sama dan hanya indera masa depan disebutkan memiliki tingkat yang lebih rendah.

<60> Terjemahan didasarkan pada perbaikan dalam edisi CBETA dari 正 menjadi 五.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Samyukta Agama - Tentang Enam Landasan Indera (1)
« Reply #13 on: 03 September 2016, 06:50:30 PM »
<61> Pernyataan ini tidak memiliki padanan dalam SN 35.117.

<62> SN 35.117 tidak menunjukkan bahwa perlindungan akan membawa para bhikkhu pada pencerahan, walaupun hal yang sama adalah tersirat.

<63> Penguraian kemunculan bergantungan dari perasaan tidak memiliki padanan dalam SN 35.117, di mana setelah nasehat untuk mengerahkan usaha sehubungan dengan lima kesenangan indera melanjutkan secara langsung pada perlunya mengalami lenyapnya mata, dst.

<64> Di sini dan di bawah ini, terjemahan didasarkan pada perbaikan六入處 menjadi 入處, sesuai dengan rumusan yang ditemukan dalam penunjukan sebelumnya, di mana kemunculan saat ini dan berikutnya merupakan pengulangan. Ungkapan 六入處 hanya sesuai dengan konteks sebagai bagian dari penjelasan Ānanda yang belakangan dalam kotbah, ketika ia menjelaskan bahwa Sang Buddha berkata menunjuk pada lenyapnya enam landasan indera. Nasehat awal Sang Buddha, seperti halnya dalam SN 35.117, alih-alih berhubungan dengan satu “landasan”, yaitu pengalaman Nirvāṇa; cf. juga Spk II 391,4: nibbānasmiṃ hi cakkhu-ādīni c’evanirujjhanti, rūpasaññādayo ca nirujjhantī ti. Gagasan yang sama dari satu āyatana sebagai yang mewakili Nirvāṇa juga dicerminkan dalam Ud 8.1 pada Ud 80,9. Bahwa suatu penunjukan demikian dapat dengan mudah disalahpahami dapat dilihat dalam terjemahan oleh Choong 2000: 75 dari kemunculan pertama dari bentuk tunggal āyatane dalam SN 35.117 pada SN IV 98,3 sebagai “landasan-landasan indera” dan dengan demikian dalam bentuk jamak. Namun, pernyataan itu bukan tentang mengetahui pluralitas landasan-landasan indera, tetapi alih-alih menunjuk pada pengalaman tunggal atas Nirvāṇa, dan adalah dengan “landasan” pengalaman Nirvāṇa ini sehingga enam landasan indera menjadi lenyap secara bersamaan.

<65> Dalam SN 35.117 pada SN IV 99,28 Ānanda mengatakan kepada para bhikkhu bahwa mereka seharusnya bertanya kepada Sang Buddha secara langsung, dengan membandingkan kedatangan mereka kepadanya dengan seseorang yang, sedang mencari inti kayu, alih-alih mengambil cabang dan dedauan sebatang pohon. Ini adalah perikop standar dalam kotbah-kotbah awal, yang secara teratur digunakan oleh para bhikkhu siswa [Sang Buddha] ketika diminta untuk menjelaskan suatu perkataan singkat Sang Buddha. Namun, mempertimbangkan bahwa Sang Buddha telah mengundurkan diri ke dalam gubuknya, tidak mungkin diharapkan bahwa para bhikkhu meminta kepada beliau suatu penjelasan. Ini membuat penyajian dalam SĀ 211, di mana Ānanda tidak mengecam para bhikkhu karena tidak bertanya kepada Sang Buddha sendiri, sesuai dengan konteks narasi dengan lebih alamiah. Sehubungan dengan SN 35.117 dapat dengan mudah bahwa selama penyebaran lisan suatu bacaan yang menjelaskan pengecaman demikian berlaku pada semua hal di mana seorang siwa menjelaskan suatu pernyataan singkat oleh Sang Buddha, bahkan dalam hal di mana ini tidak cocok pada latar narasinya dengan begitu baik.

<66> Dalam SN 35.117 pada SN IV 100,19 Ānanda mendorong para bhikkhu untuk mendapatkan penjelasannya dinilai oleh Sang Buddha (yang pada waktu itu pasti telah keluar dari gubuknya lagi), adalah perikop standar lainnya. Sang Buddha menegaskan kebenaran penjelasan Ānanda dan memuji kebijaksanaannya.

<67> Paralel: SN 35.134 dalam SN IV 124,22 dan suatu kutipan kotbah dalam Abhidharmakośabhāṣya, Pradhan 1967: 375,13 (cf. juga Pāsādika 1989: 109 §438 dan Wogihara 1936: 588,20), dengan sebuah kutipan yang lebih lengkap yang dipertahankan dalam Abhidharmakośopāyikāṭīkā oleh Śamathadeva, D 4094 nyu 30b4 atau Q 5595 thu 67a2, yang diterjemahkan oleh Dhammadinnā 2016.

<68> SN 35.134 dalam SN IV 124,22 memberikan lokasinya adalah Devadaha, kota para Sakya.

<69> Dalam SN 35.134 pada SN IV 124,25 Sang Buddha menjelaskan bahwa pengembangan (atau tanpa pengembangan) ketekunan demikian dilakukan sehubungan dengan enam landasan kontak.

<70> Kalimat ini tidak memiliki padanan dalam SN 35.134, yang menutup penjelasannya tentang para arahant dengan penunjukan bahwa mereka tidak dapat melakukan kelalaian.

<71> Pradhan 1967: 375,13: śaikṣaysa cāpramādakaraṇīye ’pramādakaraṇīyaṃ vadāmīty.

<72> SN 35.134 dalam SN IV 125,17 alih-alih menjelaskan munculnya semangat, perhatian, ketenangan jasmani, dan konsentrasi pikiran; ia tidak melanjutkan setelah itu dengan suatu penjelasan tentang pencapaian penghancuran arus-arus, dst.

<73> Mengadopsi varian 退減 alih-alih 退滅; cf. juga Yìnshùn 1983: 261 catatan no. 2.

<74> Paralel: SN 35.92 at SN IV 67,10 dan suatu kutipan kotbah dalam Abhidharmakośavyākhyā, Wogihara 1936: 581,14 (walaupun ini disampaikan kepada seorang bhikkhu, alih-alih kepada sekelompok bhikkhu, seperti dalam SN 35.92 dan SĀ 213).

<75> Wogihara 1936: 581,14: tena hi bhikṣo dvayaṃ te deśayiṣyāmi tac chṛṇu sādhu ca suṣṭhu ca manasikuru bhāṣiṣye. dvayam katamat? cakṣū-rūpāṇi yāvan mano-dharmāś ceti.

<76> Mengadopsi varian 問 alih-alih 聞; cf. juga Yìnshùn 1983: 262 catatan no. 2.

<77> Penguraian sisanya dalam SĀ 213 tidak memiliki paralel dalam SN 35.92.

<78> Terjemahan didasarkan pada perbaikan 身觸 menjadi 身縛, dengan asumsi bahwa bahasa India aslinya mungkin memiliki suatu penunjukan pada kāyagrantha, mempertimbangkan bahwa penunjukan pada kontak jasmani tidak masuk akal pada konteksnya. Tiga item pertama yang disebutkan dalam SĀ 213 berhubungan dengan tiga item pertama dari empat kāyagantha dalam kotbah-kotbah Pāli, di mana yang keempat alih-alih adalah dogmatisme. Dalam kasus suatu daftar dari empat kāyagantha dalam DN 33 pada DN III 230,18, paralel DĀ 9 dalam T I 50c6 alih-alih memiliki pandangan diri sebagai yang keempat, 我見身縛. Hal yang sama juga kasusnya untuk kotbah lainnya dalam Saṃyukta-āgama, walaupun ini mengatakan hanya tentang empat grantha, SĀ 490 at T II 127a15: 四縛: 謂貪欲縛, 瞋恚縛, 戒取縛, 我見縛. Suatu daftar dari empat kāyagrantha dalam Saṅgītiparyāya, T 1536 at T XXVI 399c23, bersesuaian dengan tradisi Pāli dengan menyebutkan dogmatisme sebagai yang keempat dari kelompok ini, 實執取身繫; cf. juga penggalan Sanskrit yang direkonstruksi dari Saṅgīti-sūtra dalam Stache-Rosen 1968: 118 dan Jñānaprasthāna, *Mahāvibhāṣā, dan Yogācārabhūmi, T 1544 dalam T XXVI 929b18, T 1545 dalam T XXVII 248c8, T 1579 dalam T XXX 314c20 (yang didahului oleh empat jenis kemelekatan di mana yang keempat sesungguhnya berhubungan dengan dukungan terhadap suatu diri).

<79> Terjemahan didasarkan dengan mengadopsi varian 聚 alih-alih 集; cf. Yìnshùn 1983: 262 catatan no. 3.

<80> Paralel: SN 35.93 dalam SN IV 67,22 dan suatu kutipan kotbah dalam Abhidharmakośabhāṣya, Pradhan 1967: 295,14 (cf. juga Pāsādika 1989: 97 §377, Muroji 1993: 67, dan Wogihara 1936: 705,10); cf. juga Dhammadinnā 2016.

<81> Pradhan 1967: 295,14: dvayaṃ pratītya vijñanasyotpāda ity. Setelah pernyataan yang berhubungan, SN 35.93 dalam SN IV 67,25 melanjutkan secara langsung dengan apa yang dalam SĀ 214 muncul hanya dalam paragraf berikutnya, yaitu sifat tidak kekal dari dua kondisi untuk munculnya kesadaran, diikuti dengan menarik kesimpulan bahwa ini menyatakan bahwa kesadaran yang muncul bergantung pada kondisi-kondisi ini pasti juga tidak kekal.

<82> Di sini dan di bawah ini, SN 35.93 tidak menunjuk pada sifat mata yang muncul bergantungan dan terkondisi, dst.

<83> Paralel: SN 35.70 dalam SN IV 41,15, di mana bhikkhu protagonisnya adalah Upavāṇa/Upavāna, bukan Puṇṇa.

<84> Dalam SN 35.70 at SN IV 41,22 Sang Buddha secara langsung memulai penguraiannya, tanpa secara eksplisit menerima kenyataan bahwa bhikkhu itu telah mengajukan pertanyaan demikian.

<85> Dalam SN 35.70 pada SN IV 41,28 Sang Buddha pada titik ini juga membawakan sebutan Dharma yang lain (yang menunjukkan beberapa perbedaan dibandingkan dengan SĀ 215) dan kemudian kembali pada indera-indera lainnya.

<86> Terjemahan didasarkan pada perbaikan dalam edisi CBETA yang menambahkan 無.

<87> Terjemahan didasarkan dengan mengadopsi varian 色 alih-alih 已, sesuai dengan rumusan yang ditemukan sebelumnya.

<88> Paralel: SN 35.188 dalam SN IV 157,24.

<89> Terjemahan didasarkan dengan mengadopsi varian 染 alih-alih 深; cf. juga Yìnshùn 1983: 267 catatan no. 2.

<90> SN 35.188 tidak menunjuk pada aktivitas jasmani, ucapan, dan pikiran.

<91> Dalam SN 35.188 pada SN IV 158,8 ungkapan yang muncul sebelum suatu penunjukan pada menjadi seperti rerumputan dan alang-alang (yang akan menjadi padanan pada tumpukan rerumputan yang disebutkan berikutnya dalam SĀ 216), membaca guṇaguṇikajāta, dengan varian kulaguṇṭhikajātā (dan gulāguṇḍikajātā); cf. juga Be: kulagaṇṭhikajātā, Ce: guḷāguṇṭhikajātā, and Se: kulāguṇḍikajātā. Mungkin penunjukan pada perut seekor anjing, T II 54b27: 狗肚, telah muncul sebagai akibat dari penerjemahan fonetis dari suatu penunjukan yang kemungkinan rusak pada guṇṭha (menurut Pulleyblank 1991: 83 dan 109, dua karakter狗 dan 肚 mencerminkan suatu pelafalan bahasa Cina pertengahan awal kəw’ dan dɔh).

<92> SN 35.188 dalam SN IV 158,8 menambahkan bahwa mereka tidak melampaui alam-alam kelahiran kembali yang buruk.

<93> SN 35.188 melanjutkan dengan sebuah syair, yang dalam edisi PTS adalah bagian dari kotbah berikutnya, SN 35.189.

<94> Paralel: SN 35.187 dalam SN IV 157,1.

<95> Di sini dan di bawah ini, mengadopsi varian 洄 alih-alih 迴; cf. juga Yìnshùn 1983: 267 catatan no. 5.

<96> SN 35.187 dalam SN IV 157,7 menambahkan gambaran seorang brahmana yang berdiri di atas tanah yang kokoh.

<97> SN 35.187 dalam SN IV 157,20 hanya memiliki padanan pada bait pertama ini.

<98> Paralel: SN 35.106 dalam SN IV 86,14.

<99> SN 35.106 dalam SN IV 86,14 hanya mengatakan munculnya dan lenyapnya dukkha, tanpa memasukkan sang jalan.

<100> SN 35.106 dalam SN IV 86,27 alih-alih melanjutkan dengan kemunculan bergantungan dari perasaan berdasarkan kontak dan kemudian memulai penguraian lenyapnya hanya dengan keinginan. Ini tampaknya suatu penyajian yang lebih bermakna, karena munculnya keinginan tidak pasti mengikuti dari pengalaman perasaan, oleh sebabnya ini sesungguhnya titik di mana kemunculan bergantungan dari dukkha dapat dialihkan.

<101> Paralel: SN 35.146 dalam SN IV 133,19.

<102> Paralel: SN 35.148 dalam SN IV 134,26.

<103> Penerjemahan mengikuti saran oleh Yìnshùn 1983: 269 catatan no. 5 untuk memperbaiki 無常 untuk membaca 非我, sesuai dengan rumusan yang digunakan sebelumnya untuk kasus mata.

<104> Paralel: SN 35.25 dalam SN IV 16,15 dan suatu kutipan kotbah dalam Abhidharmakośabhāṣya, Pradhan 1967: 465,3 (cf. juga Pāsādika 1989: 124 §504).

<105> Pradhan 1967: 465,3: sarvābhijñeyaṃ vo bhikṣavo dharmaparyāyaṃ deśayiṣyāmīty. Bagian yang berhubungan dalam SN 35.25 pada SN IV 16,15 menambahkan bahwa semua (hal) seharusnya juga ditinggalkan.

<106> Pradhan 1967: 465,4: cakṣur ābhijñeyaṃ rūpāṇi cakṣurvijñānaṃ cakṣuḥsaṃsparśo yad api tac cakṣuḥsaṃsparśapratyayam adhyātmam utpadyate veditaṃ sukhaṃ duḥkhaṃ vā aduḥkhāsukhaṃ vā yāvat manaḥsaṃsparśapratyayam.

<107> Paralel: SN 35.26 dalam SN IV 17,8 dan suatu kutipan kotbah dalam Abhidharmakośabhāṣya, Pradhan 1967: 10,24 (cf. juga Pāsādika 1989: 22 §13), dan dalam Abhidharmakośavyākhyā, Wogihara 1932: 4,16, dengan sebuah kutipan yang lebih lengkap dalam Abhidharmakośopāyikāṭīkā oleh Śamathadeva, D 4094 ju 19a5 atau Q 5595 tu 21a8, yang diterjemahkan oleh Dhammadinnā 2016. Suatu kotbah yang sangat mirip adalah SN 35.27 dalam SN IV 18,25, yang berbeda sedikit dari SN 35.26 dengan pertama-tama mendefinisikan apakah yang ditunjuk oleh “semua” dan kemudian menunjukkan bahwa semua ini perlu dipahami, dst. Karena SN 35.26 alih-alih menerapkan perlunya memahami, dst., secara individual pada masing-masing indera, dst., ini adalah paralel yang lebih dekat pada SĀ 223.

<108> Pradhan 1967: 10,24: nāham ekadharmam api anabhijñāyāparijñāya duḥkhasyāntakriyāṃ vadāmīti; cf. juga Wogihara 1932: 4,16. SN 35.26 dalam SN IV 17,8 mengatakan tentang perlunya mengetahui, memahami sepenuhnya, menjadi bosan terhadap, dan meninggalkan semuanya.

<109> Penerjemahan mengikuti saran oleh Yìnshùn 1983: 274 catatan no. 2 untuk memperbaiki 見 untuk membaca 識, sesuai dengan rumusan yang digunakan sebelumnya.

<110> Dalam SN 35.26 at SN IV 17,33 Sang Buddha melanjutkan dengan menguraikan kasus positif yang berhubungan, ketiak pemahaman, dst., membawa pada pelenyapan dukkha.

<111> Paralel: SN 35.24 dalam SN IV 15,20.

<112> SN 35.24 dalam SN IV 15,20 hanya mengatakan tentang meninggalkan semuanya, tanpa menyatakan semua ini sebagai yang berhubungan dengan keinginan.

<113> Paralel: SN 35.25 dalam SN IV 16,15.

<114> SN 35.25 dalam SN IV 16,15 alih-alih mengatakan tentang memahami dan meninggalkan “semua”.

<115> Paralelnya adalah sama seperti untuk SĀ 227.

<116> Penerjemahan mengikuti saran oleh Yìnshùn 1983: 274 catatan no. 6 untuk memperbaiki 樂 untuk membaca 屬, sesuai dengan rumusan yang digunakan sebelumnya.

<117> Paralel: SN 35.90 dalam SN IV 64,32. Sebuah kotbah yang sangat mirip adalah SN 35.91,dengan perbedaan bahwa dalam SN IV 67,3 ia juga menunjuk pada kelompok-kelompok unsur kehidupan, unsur-unsur, dan landasan-landasan indera. Ini tidak disebutkan dalam SN 35.90 dan SĀ 227. Hal yang sama berlaku untuk kotbah yang mendahului, SĀ 226, yang berbeda dari SN 35.90 dan SĀ 227 dengan hanya mengatakan tentang perlunya meninggalkan semua pemikiran, tanpa menyebutkan pemikiran sebagai suatu penyakit, dst., dan juga tidak memasukkan Sang Tathāgata.

<118> Terjemahan didasarkan pada perbaikan dalam edisi CBETA dari 眼 menjadi 則, cf. juga Yìnshùn 1983: 272.

<119> Mengadopsi varian 滅 alih-alih 減.

<120> Paralel: kutipan kotbah dalam Abhidharmakośabhāṣya, Pradhan 1967: 197,9 atau 439,16 (cf. juga Pāsādika 1989: 74 §270 dan 121 §491), dan dalam Abhidharmakośavyākhyā, Wogihara 1932: 355,26 and 675,7; dengan suatu kutipan yang lebih lengkap yang dipertahankan dalam Abhidharmakośopāyikāṭīkā oleh Śamathadeva, D 4094 ju 34a2 atau Q 5595 tu 37a4, yang diterjemahkan oleh Dhammadinnā 2016.

<121> Pradhan 1967: 197,9: sāsravā dharmāḥ katame, yāvad eva cakṣur yāvad eva rūpā-ṇīti; cf. juga Pradhan 1967: 439,16 dan Wogihara 1932: 355,26, dan sebuah kutipan yang lebih panjang dalam Wogihara 1932: 675,7: sāsravā dharmāḥ katame. yāvad eva cakṣur yāvanti eva rūpāṇi yāvad eva cakṣurvijñānam, yāvad yāvān eva kāyo yāvanty eva spraṣṭavyāni yāvad eva kāyavijñānam iti.

<122> SĀ 229 dalam T II 56a13 menerapkan kualifikasi 世俗者 pada indera-indera lainnya, oleh karena itu dalam terjemahan hal yang sama telah dilengkapi untuk mata.

Singkatan

BeBurmese edition
CeCeylonese edition
DDerge edition
Dīrgha-āgama (T 1)
DNDīgha-nikāya
Ekottarika-āgama (T 125)
MNMajjhima-nikāya
QPeking edition
SeSiamese edition
Saṃyukta-āgama (T 99)
SNSaṃyutta-nikāya
SpkSāratthappakāsinī
TTaishō edition, CBETA
UdUdāna
VinVinayapiṭaka
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa