Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Madhyama Agama vol. 1 (bagian 6)  (Read 9727 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Madhyama Agama vol. 1 (bagian 6)
« on: 06 April 2016, 07:40:28 PM »
Berikut adalah terjemahan Madhyama Agama bagian 6 yang terdiri atas kotbah 58-71.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. 1 (bagian 6)
« Reply #1 on: 06 April 2016, 07:43:21 PM »
MADHYAMA ĀGAMA

Bagian 6 Tentang Para Raja

58. Kotbah tentang Tujuh Harta Karun<154>

Demikianlah telah kudengar: Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu, Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:

Kalian seharusnya mengetahui bahwa ketika seorang raja pemutar-roda muncul di dunia, tujuh harta karun juga muncul di dunia.

Apakah tujuh hal itu? Harta karun roda, harta karun gajah, harta karun kuda, harta karun permata, harta karun wanita, harta karun pelayan, dan harta karun penasehat – ini adalah tujuh hal itu.

Kalian seharusnya mengetahui bahwa  ketika seorang raja pemutar-roda muncul di dunia, tujuh harta karun ini muncul di dunia.

Dengan cara yang sama, kalian seharusnya mengetahui bahwa ketika seorang Tathāgata, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, muncul di dunia, muncul juga di dunia tujuh harta karun faktor-faktor pencerahan. Apakah tujuh hal itu? Harta karun faktor pencerahan dari perhatian, faktor pencerahan dari penyelidikan fenomena, faktor pencerahan dari semangat, faktor pencerahan dari sukacita, faktor pencerahan dari ketenangan, faktor pencerahan dari konsentrasi, dan harta karun faktor pencerahan dari keseimbangan – ini adalah tujuh hal itu.

Kalian seharusnya mengetahui bahwa ketika seorang Tathāgata, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, muncul di dunia, tujuh faktor pencerahan ini muncul di dunia.

Ini adalah apa yang dikatakan Sang Buddha. Setelah mendengarkan perkataan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan mengingatnya dengan baik.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. 1 (bagian 6)
« Reply #2 on: 06 April 2016, 07:47:22 PM »
59. Kotbah tentang Tiga-puluh-dua Tanda<155>

Demikianlah telah kudengar: Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu, setelah makan siang, para bhikkhu sedang duduk bersama di aula pertemuan membahas topik ini:

Teman-teman yang mulia, adalah paling menakjubkan, paling luar biasa, bahwa bagi seorang manusia agung yang diberkahi dengan tiga-puluh-dua tanda terdapat sesungguhnya [hanya] dua kemungkinan:

Jika ia menjalankan kehidupan rumah, ia pasti akan menjadi seorang raja pemutar-roda, yang cerdas dan bijaksana, dilengkapi dengan armada pasukan berunsur empat untuk menguasai seluruh dunia, dengan bebas, seperti yang ia sukai. Menjadi seorang raja Dharma yang baik, ia mencapai tujuh harta karun. Tujuh harta karun itu adalah harta karun roda, harta karun gajah, harta karun kuda, harta karun permata, harta karun wanita, harta karun pelayan, dan harta karun penasehat – ini adalah tujuh hal itu.

Ia akan memiliki seribu orang putra, yang gagah, berani, tak kenal takut, dan dapat mengalahkan orang lain. Ia pasti akan menguasai seluruh dunia, sampai sejauh samudera, tanpa bergantung pada pisau atau gada, hanya dengan mengajarkan Dharma, yang membawa perdamaian dan kebahagiaan.

[Namun,] jika ia mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, meninggalkan rumah demi keyakinan, dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan, maka ia pasti akan menjadi seorang Tathāgata, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna. Nama baiknya akan tersebar dan diketahui di segala arah.

Pada waktu itu Sang Bhagavā sedang duduk bermeditasi. Dengan telinga dewa, yang murni dan melampaui [pendengaran] manusia, beliau mendengar para bhikkhu, yang duduk bersama di aula pertemuan setelah makan siang, membahas topik ini:

Teman-teman yang mulia, adalah paling menakjubkan, paling luar biasa, bahwa bagi seorang manusia agung yang diberkahi dengan tiga-puluh-dua tanda terdapat sesungguhnya [hanya] dua kemungkinan: Jika ia menjalankan kehidupan rumah, ia pasti akan menjadi seorang raja pemutar-roda, yang cerdas dan bijaksana, dilengkapi dengan armada pasukan berunsur empat untuk menguasai seluruh dunia, dengan bebas, seperti yang ia sukai. Menjadi seorang raja Dharma yang baik, ia mencapai tujuh harta karun. Tujuh harta karun itu adalah harta karun roda, harta karun gajah, harta karun kuda, harta karun permata, harta karun wanita, harta karun pelayan, dan harta karun penasehat – ini adalah tujuh hal itu. Ia akan memiliki seribu orang putra, yang gagah, berani, tak kenal takut, dan dapat mengalahkan orang lain. Ia pasti akan menguasai seluruh dunia, sampai sejauh samudera, tanpa bergantung pada pisau atau gada, hanya dengan mengajarkan Dharma, yang membawa perdamaian dan kebahagiaan.

[Namun,] jika ia mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, meninggalkan rumah demi keyakinan, dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan, maka ia pasti akan menjadi seorang Tathāgata, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna. Nama baiknya akan tersebar dan diketahui di segala arah.

Setelah mendengar hal ini, pada sore hari Sang Bhagavā bangkit dari keterasingan, pergi ke aula pertemuan, dan duduk pada sebuah tempat duduk yang diatur di hadapan perkumpulan para bhikkhu. Ia bertanya kepada para bhikkhu, “Topik apakah yang kalian bahas ketika duduk bersama di aula pertemuan hari ini?”

Para bhikkhu menjawab:

Sang Bhagavā, ketika duduk bersama di aula pertemuan hari ini, kami sedang membahas topik ini:

Teman-teman yang mulia, adalah paling menakjubkan, paling luar biasa bahwa bagi seorang manusia agung yang diberkahi dengan tiga-puluh-dua tanda terdapat sesungguhnya [hanya] dua kemungkinan: Jika ia menjalankan kehidupan rumah, ia pasti akan menjadi seorang raja pemutar-roda, yang cerdas dan bijaksana, dilengkapi dengan armada pasukan berunsur empat untuk menguasai seluruh dunia, dengan bebas, seperti yang ia sukai. Menjadi seorang raja Dharma yang baik, ia mencapai tujuh harta karun. Tujuh harta karun itu adalah harta karun roda, harta karun gajah, harta karun kuda, harta karun permata, harta karun wanita, harta karun pelayan, dan harta karun penasehat – ini adalah tujuh hal itu.

Ia akan memiliki seribu orang putra, yang gagah, berani, tak kenal takut, dan dapat mengalahkan orang lain. Ia pasti akan menguasai seluruh dunia, sampai sejauh samudera, tanpa bergantung pada pisau atau gada, hanya dengan mengajarkan Dharma, yang membawa perdamaian dan kebahagiaan.

[Namun,] jika ia mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, meninggalkan rumah demi keyakinan, dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan, maka ia pasti akan menjadi seorang Tathāgata, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna. Nama baiknya akan tersebar dan diketahui di segala arah.
Sang Bhagavā, adalah untuk membahas topik ini sehingga kami duduk bersama di aula pertemuan.

Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada mereka:

Para bhikkhu, apakah kalian ingin mendengar dari Sang Tathāgata tiga-puluh-dua tanda, di mana seorang manusia agung diberkahi dengannya, [yang] terdapat sesungguhnya [hanya] dua kemungkinan?

Jika ia menjalankan kehidupan rumah, ia pasti akan menjadi seorang raja pemutar-roda, yang cerdas dan bijaksana, dilengkapi dengan armada pasukan berunsur empat untuk menguasai seluruh dunia, dengan bebas, seperti yang ia sukai. Menjadi seorang raja Dharma yang baik, ia mencapai tujuh harta karun. Tujuh harta karun itu adalah harta karun roda, harta karun gajah, harta karun kuda, harta karun permata, harta karun wanita, harta karun pelayan, dan harta karun penasehat – ini adalah tujuh hal itu.

Ia akan memiliki seribu orang putra, yang gagah, berani, tak kenal takut, dan dapat mengalahkan orang lain. Ia pasti akan menguasai seluruh dunia, sampai sejauh samudera, tanpa bergantung pada pisau atau gada, hanya dengan mengajarkan Dharma, yang membawa perdamaian dan kebahagiaan.

[Namun,] jika ia mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, meninggalkan rumah demi keyakinan, dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan, maka ia pasti akan menjadi seorang Tathāgata, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna. Nama baiknya akan tersebar dan diketahui di segala arah.

Mendengar hal ini, para bhikkhu menjawab:

Sang Bhagavā, ini adalah kesempatan yang tepat. Sang Sugata, ini adalah kesempatan yang tepat. Jika Sang Bhagavā akan menjelaskan kepada para bhikkhu tiga-puluh-dua tanda itu, para bhikkhu, dengan mendengarkannya, akan menerima dan mengingatnya dengan baik.

Sang Bhagavā berkata, “Para bhikkhu, dengarkanlah dengan seksama. Dengarkanlah dengan seksama, dan perhatikan dengan baik. Aku akan menjelaskannya secara lengkap kepada kalian.”

Kemudian para bhikkhu mendengarkan untuk menerima pengajaran.

Sang Buddha berkata:

Kaki seorang manusia agung berdiri datar dan rata di atas tanah. Ini disebut tanda seorang manusia agung. Lagi, telapak kaki seorang manusia agung mengandung roda dengan seribu jeruji, semuanya lengkap. Ini disebut tanpa seorang manusia agung.

Lagi, jari kaki seorang manusia agung adalah panjang dan ramping. Ini disebut tanda seorang manusia agung.

Lagi, garis kaki seorang manusia agung adalah datar dan lurus. Ini disebut tanda seorang manusia agung.

Lagi, tumit dan pergelangan kaki seorang manusia agung adalah sama dan sempurna pada kedua sisinya. Ini disebut tanda seorang manusia agung.

Lagi, kedua pergelangan kaki seorang manusia agung adalah rata. Ini disebut tanda seorang manusia agung.

Lagi, rambut tubuh seorang manusia agung memutar ke atas. Ini disebut tanda seorang manusia agung.

Lagi, seorang manusia agung memiliki tangan dan kaki yang berselaput di antara jari-jarinya, seperti seekor angsa kerajaan. Ini disebut tanda seorang manusia agung.

Lagi, tangan dan kaki seorang manusia agung sangat lunak dan lembut bagaikan seroja. Ini disebut tanda seorang manusia agung.

Lagi, kulit seorang manusia agung adalah lembut dan halus; debu dan air tidak menempel padanya. Ini disebut tanda seorang manusia agung.

Lagi, setiap helai rambut tubuh seorang manusia agung adalah terpisah, tumbuh dari sebuah pori, memiliki warna ungu gelap, dan melingkar ke kanan seperti kulit kerang yang berpilin. Ini disebut tanda seorang manusia agung.

Lagi, paha seorang manusia agung bagaikan paha seekor rusa kerajaan. Ini disebut tanda seorang manusia agung.

Lagi, organ kelamin pria seorang manusia agung tertutup, seperti organ kelamin kuda kerajaan yang dikembangbiakkan dengan baik.

Lagi, bentuk tubuh seorang manusia agung adalah bulat sempurna dan dalam proporsi yang tepat, seperti sebatang pohon banyan. Ini disebut tanda seorang manusia agung.

Lagi, seorang manusia agung, dengan tubuhnya tidak membungkuk, tanpa membungkukkan tubuhnya, ketika berdiri tegak, dapat menyentuh tumitnya dengan tangannya. Ini disebut tanda seorang manusia agung.

Lagi, tubuh seorang manusia agung dengan corak kulit keemasan seperti emas murni dengan sedikit warna ungu. Ini disebut tanda seorang manusia agung.

Lagi, tujuh bagian tubuh seorang manusia agung adalah sempurna. Tujuh bagian yang sempurna itu adalah dua tangan, dua kaki, dua bahu, dan leher. Ini disebut tanda seorang manusia agung.

Lagi, bagian atas tubuh seorang manusia agung bagaikan bagian atas tubuh seekor singa. Ini disebut tanda seorang manusia agung.

Lagi, rahang seorang manusia agung bagaikan rahang seekor singa. Ini disebut tanda seorang manusia agung.

Lagi, seorang manusia agung memiliki tulang belakang dan punggung yang lurus. Ini disebut tanda seorang manusia agung.

Lagi, bahu seorang manusia agung berhubungan dengan leher secara datar dan sempurna. Ini disebut tanda seorang manusia agung.

Lagi, seorang manusia agung dilengkapi dengan empat puluh gigi. Giginya rata, tidak ada celah di antara giginya, giginya putih, dan ia dapat merasakan yang terbaik di antara rasa. Ini disebut tanda seorang manusia agung.

Lagi, seorang manusia agung diberkahi dengan suara surgawi yang enak didengar seperti suara burung karavīka. Ini disebut tanda seorang manusia agung.

Lagi, seorang manusia agung memiliki lidah yang panjang dan lebar yang dapat menutupi seluruh wajah ketika diulurkan dari mulut. Ini disebut tanda seorang manusia agung.

Lagi, bulu mata seorang manusia agung penuh, bagaikan bulu mata lembu jantan kerajaan. Ini disebut tanda seorang manusia agung.

Lagi, mata seorang manusia agung berwarna biru. Ini disebut tanda seorang manusia agung.

Lagi, seorang manusia agung memiliki tonjolan gemuk pada ubun-ubun kepala yang bulat dan seimbang, dengan rambut yang melingkar ke kanan bagaikan kulit kerang yang berpilin. Ini disebut tanda seorang manusia agung.

Lagi, seorang manusia agung memiliki rambut putih yang melingkar ke kanan yang tumbuh di antara alis matanya. Ini disebut tanda seorang manusia agung.

Para bhikkhu, bagi seorang manusia agung yang diberkahi dengan tiga-puluh-dua tanda ini terdapat sesungguhnya [hanya] dua kemungkinan. Jika ia menjalankan kehidupan rumah, ia pasti akan menjadi seorang raja pemutar-roda, yang cerdas dan bijaksana, dilengkapi dengan armada pasukan berunsur empat untuk menguasai seluruh dunia, dengan bebas, seperti yang ia sukai. Menjadi seorang raja Dharma yang baik, ia mencapai tujuh harta karun. Tujuh harta karun itu adalah harta karun roda, harta karun gajah, harta karun kuda, harta karun permata, harta karun wanita, harta karun pelayan, dan harta karun penasehat – ini adalah tujuh hal itu.

Ia akan memiliki seribu orang putra, yang gagah, berani, tak kenal takut, dan dapat mengalahkan orang lain. Ia pasti akan menguasai seluruh dunia, sampai sejauh samudera, tanpa bergantung pada pisau atau gada, hanya dengan mengajarkan Dharma, yang membawa perdamaian dan kebahagiaan.

[Namun,] jika ia mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, meninggalkan rumah demi keyakinan, dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan, maka ia pasti akan menjadi seorang Tathāgata, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna. Nama baiknya akan tersebar dan diketahui di segala arah.

Ini adalah apa yang dikatakan Sang Buddha. Setelah mendengarkan perkataan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan mengingatnya dengan baik.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. 1 (bagian 6)
« Reply #3 on: 06 April 2016, 07:55:54 PM »
60. Kotbah tentang Empat Benua<156>

Demikianlah telah kudengar: Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Yang Mulia Ānanda, yang sedang bermeditasi di suatu tempat yang sunyi, dengan merenungkan, berpikir:

Sangat sedikit orang di dunia yang dapat memenuhi keinginannya sehubungan dengan kesenangan indera, dan hanya sedikit yang menjadi kecewa dengan kesenangan indera pada waktu mereka meninggal. Adalah sangat jarang bahwa orang-orang di dunia yang dapat memenuhi keinginan mereka sehubungan kesenangan indera atau menjadi kecewa dengan kesenangan indera pada waktu mereka meninggal.

Kemudian, pada malam hari, Yang Mulia Ānanda bangkit dari duduk bermeditasi dan mendekati Sang Buddha. Setelah tiba di sana, ia memberikan penghormatan, duduk pada satu sisi, dan berkata:

Sang Bhagavā. Hari ini, [ketika] duduk bermeditasi di suatu tempat yang sunyi, dengan merenungkan, aku berpikir:

Sangat sedikit orang di dunia yang dapat memenuhi keinginannya sehubungan dengan kesenangan indera, dan hanya sedikit yang menjadi kecewa dengan kesenangan indera pada waktu mereka meninggal. Adalah sangat jarang bahwa orang-orang di dunia yang dapat memenuhi keinginan mereka sehubungan kesenangan indera atau menjadi kecewa dengan kesenangan indera pada waktu mereka meninggal.

Sang Buddha berkata kepada Ānanda:

Demikianlah. Demikianlah. Sangat sedikit orang di dunia yang dapat memenuhi keinginan mereka sehubungan dengan kesenangan indera, dan hanya sedikit yang menjadi kecewa terhadap kesenangan indera pada waktu mereka meninggal. Adalah sangat jarang, Ānanda, bahwa orang-orang di dunia yang dapat memenuhi keinginan mereka sehubungan dengan kesenangan indera atau menjadi kecewa dengan kesenangan indera pada waktu mereka meninggal.

Adalah sangat jarang, Ānanda, sangat jarang sesungguhnya, bahwa orang-orang di dunia yang dapat memenuhi keinginan mereka sehubungan dengan kesenangan indera, atau menjadi kecewa dengan kesenangan indera pada waktu mereka meninggal. Sebaliknya, Ānanda, banyak orang di dunia, sangat banyak, yang tidak dapat memenuhi keinginan mereka sehubungan dengan kesenangan indera dan tidak menjadi kecewa dengan kesenangan indera pada waktu mereka meninggal. Mengapa demikian?

Pada masa lampau, Ānanda, terdapat seorang raja bernama Mandhātu, seorang raja pemutar-roda, yang cerdas dan bijaksana, dilengkapi dengan armada pasukan berunsur empat untuk menguasai seluruh dunia, dengan bebas, seperti yang ia sukai. Menjadi seorang raja Dharma yang baik, ia mencapai tujuh harta karun. Tujuh harta karun itu adalah harta karun roda, harta karun gajah, harta karun kuda, harta karun permata, harta karun wanita, harta karun pelayan, dan harta karun penasehat – ini adalah tujuh hal itu.

Ia akan memiliki seribu orang putra, yang gagah, berani, tak kenal takut, dan dapat mengalahkan orang lain. Ia pasti menguasai seluruh dunia, sampai sejauh samudera, tanpa bergantung pada pisau atau gada, hanya dengan mengajarkan Dharma, yang membawa perdamaian dan kebahagiaan.

Kemudian, Ānanda, setelah waktu yang lama, Raja Mandhātu berpikir:

Aku menguasai Jambudīpa, yang sangat makmur dan menyenangkan, dengan banyak penduduk; aku memiliki tujuh harta karun dan seribu orang putra. [Tetapi] aku berkeinginan bahwa akan turun hujan harta karun di istana selama tujuh hari hingga mereka telah menumpuk sampai lututku.

Ānanda, karena Raja Mandhātu diberkahi dengan kekuatan batin yang besar, kebajikan yang besar dan hebat, jasa yang besar, kekuatan yang besar dan hebat, segera setelah ia memikirkan keinginan ini, turun hujan harta karun selama tujuh hari hingga mereka telah menumpuk sampai lututnya.

Kemudian, Ānanda, setelah waktu yang lama, Raja Mandhātu berpikir:

Aku menguasai Jambudīpa, yang sangat makmur dan menyenangkan, dengan banyak penduduk; aku memiliki tujuh harta karun dan seribu orang putra; dan turun hujan harta karun di istana selama tujuh hari hingga mereka telah menumpuk sampai lututku.

Aku ingat telah mendengar dari orang-orang zaman dahulu bahwa terdapat sebuah benua di barat bernama Godānī, yang sangat makmur dan menyenangkan, dengan banyak penduduk. Aku sekarang berkeinginan untuk pergi dan melihat benua Godānī. Setelah pergi ke sana, aku akan menaklukkannya sepenuhnya.

Ānanda, karena Raja Mandhātu diberkahi dengan kekuatan batin yang besar, kebajikan yang besar dan hebat, jasa yang besar, kekuatan yang besar dan hebat, segera setelah ia memikirkan keinginan ini, dengan kekuatan batinnya ia mengadakan perjalanan ke sana melalui udara, bersama-sama dengan armada pasukannya yang berunsur empat.

Ānanda, Raja Mandhātu segera tiba di benua Godānī dan berdiam di sana. Ānanda, Raja Mandhātu menaklukkan benua Godānī sepenuhnya, dan berdiam di sana selama tak terhitung ratusan dan ribuan tahun.

Kemudian, Ānanda, setelah waktu yang lama, Raja Mandhātu berpikir lagi:

Aku menguasai Jambudīpa, yang sangat makmur dan menyenangkan, dengan banyak penduduk; aku memiliki tujuh harta karun dan memiliki seribu orang putra; dan turun hujan harta karun di istana selama tujuh hari hingga mereka telah menumpuk sampai lututku. Aku juga menguasai benua Godānī.

Aku juga ingat telah mendengar dari orang-orang zaman dahulu bahwa terdapat sebuah benua di timur bernama Pubbavideha, yang sangat makmur dan menyenangkan, dengan banyak penduduk. Aku sekarang berkeinginan untuk pergi dan melihat benua Pubbavideha. Setelah pergi ke sana, aku akan menaklukkannya sepenuhnya.

Ānanda, karena Raja Mandhātu diberkahi dengan kekuatan batin yang besar, kebajikan yang besar dan hebat, jasa yang besar, kekuatan yang besar dan hebat, segera setelah ia memikirkan keinginan ini, dengan kekuatan batinnya ia mengadakan perjalanan ke sana melalui udara, bersama-sama dengan armada pasukannya yang berunsur empat.

Ānanda, Raja Mandhātu segera tiba di benua Pubbavideha dan berdiam di sana. Ānanda, Raja Mandhātu menaklukkan benua Pubbavideha sepenuhnya, dan berdiam di sana selama tak terhitung ratusan dan ribuan tahun.

Kemudian, Ānanda, setelah waktu yang lama, Raja Mandhātu lagi berpikir:

Aku menguasai Jambudīpa, yang sangat makmur dan menyenangkan, dengan banyak penduduk; aku memiliki tujuh harta karun dan memiliki seribu orang putra; dan turun hujan harta karun di istana selama tujuh hari hingga mereka telah menumpuk sampai lututku. Aku juga menguasai benua Godānī dan benua Pubbavideha.

Aku juga ingat telah mendengar dari orang-orang zaman dahulu bahwa terdapat sebuah benua di utara bernama Uttarakuru, yang sangat makmur dan menyenangkan, dengan banyak penduduk, yang tidak memiliki persepsi diri dan tidak memiliki kepemilikan. Aku sekarang berkeinginan untuk pergi dan melihat benua Uttarakuru, bersama-sama dengan para pelayanku. Setelah pergi ke sana, aku akan menaklukkannya sepenuhnya.

Ānanda, karena Raja Mandhātu diberkahi dengan kekuatan batin yang besar, kebajikan yang besar dan hebat, jasa yang besar, kekuatan yang besar dan hebat, segera setelah ia memikirkan keinginan ini, dengan kekuatan batinnya ia mengadakan perjalanan ke sana melalui udara, bersama-sama dengan armada pasukannya yang berunsur empat.

Ānanda, Raja Mandhātu melihat dari jauh bahwa datarannya berwarna putih dan berkata kepada orang-orang istananya, “Apakah kalian melihat bahwa dataran Uttarakuru berwarna putih?”

Orang-orang istana menjawab, “Ya, yang mulia. Kami melihatnya.”

Raja berkata lebih lanjut,

Apakah kalian mengetahui bahwa [warna putih] adalah beras putih yang alami, yang adalah makanan pokok orang-orang Uttarakuru? Kalian juga seharusnya memakan makanan ini.

Ānanda, Raja Mandhātu juga melihat dari jauh bahwa di benua Uttarakuru terdapat berbagai jenis pohon, yang bersih, mengagumkan, dekoratif, dan dengan berbagai warna, yang dikelilingi oleh sebuah pagar.

Ia berkata kepada orang-orang istananya:

Apakah kalian melihat bahwa di benua Uttarakuru terdapat berbagai jenis pohon, yang bersih, mengagumkan, dekoratif, dan dengan berbagai warna, yang dikelilingi oleh sebuah pagar?

Orang-orang istana menjawab, “Ya, yang mulia. Kami melihatnya.”

Raja berkata lebih lanjut:

Apakah kalian mengetahui bahwa pohon-pohon ini menghasilkan pakaian untuk orang-orang Uttarakuru? Orang-orang Uttarakuru mengambil pakaian ini dan memakainya. Kalian juga seharusnya mengambil pakaian ini dan memakainya.

Ānanda, Raja Mandhātu segera tiba di benua Uttarakuru dan berdiam di sana. Ānanda, Raja Mandhātu menaklukkan benua Uttarakuru sepenuhnya, dan berdiam di sana selama tak terhitung ratusan dan ribuan tahun, bersama-sama dengan para pelayannya.

Kemudian, Ānanda, setelah waktu yang lama, Raja Mandhātu lagi berpikir:

Aku menguasai Jambudīpa, yang sangat makmur dan menyenangkan, dengan banyak penduduk; aku memiliki tujuh harta karun dan memiliki seribu orang putra; dan turun hujan harta karun di istana selama tujuh hari hingga mereka telah menumpuk sampai lututku. Aku juga menguasai benua Godānī, benua Pubbavideha, dan benua Uttarakuru. Aku juga mendengar dari orang-orang zaman dahulu bahwa terdapat suatu surga bernama surga tiga-puluh-tiga. Aku sekarang berkeinginan untuk pergi dan melihat surga tiga-puluh-tiga.

Ānanda, karena Raja Mandhātu diberkahi dengan kekuatan batin yang besar, kebajikan yang besar dan hebat, jasa yang besar, kekuatan yang besar dan hebat, segera setelah ia memikirkan keinginan ini, dengan kekuatan batinnya ia mengadakan perjalanan melalui udara menuju cahaya matahari, bersama-sama dengan armada pasukannya yang berunsur empat.

Ānanda, Raja Mandhātu melihat dari jauh bahwa di surga tiga-puluh-tiga, di atas Sumeru, raja para gunung, terdapat sesuatu yang menyerupai sebuah awan besar. Ia berkata kepada orang-orang istananya, “Apakah kalian melihat, di surga tiga-puluh-tiga, di atas Sumeru, raja para gunung, sesuatu yang menyerupai sebuah awan besar?”

Orang-orang istana menjawab: “Ya, yang mulia. Kami melihatnya.”

Raja berkata lebih lanjut:

Apakah kalian mengetahui bahwa itu adalah pohon karang milik para dewa tiga-puluh-tiga? Di bawah pohon ini para dewa tiga-puluh-tiga, yang diberkahi dengan lima jenis kesenangan indera, menikmati dirinya sendiri selama empat bulan musim panas.

Ānanda, Raja Mandhātu juga melihat dari jauh bahwa di surga tiga-puluh-tiga, di atas Sumeru, raja para gunung, di dekat sisi selatannya, terdapat sesuatu yang menyerupai sebuah awan besar. Ia berkata kepada orang-orang istananya:

Apakah kalian melihat, di surga tiga-puluh-tiga, di atas Sumeru, raja para gunung, di dekat sisi selatannya, sesuatu yang menyerupai sebuah awan besar?

Orang-orang istana menjawab, “Ya, yang mulia. Kami melihatnya.”

Raja berkata lebih lanjut:

Apakah kalian mengetahui bahwa itu adalah Aula Sudhamma milik para dewa tiga-puluh-tiga? Dalam Aula Sudhamma ini para dewa tiga-puluh-tiga merenungkan Dharma dan maknanya untuk para dewa dan manusia pada hari kedelapan dan keempat belas [atau] kelima belas [dari setiap setengah bulan lunar].

Kemudian, Ānanda, Raja Mandhātu segera tiba di surga tiga-puluh-tiga. Setelah tiba di surga tiga-puluh-tiga, ia memasuki Aula Sudhamma. Di sana Sakka, raja para dewa, memberikan Raja Mandhātu setengah tahtanya untuk duduk. Raja Mandhātu kemudian duduk pada setengah tahta Sakka, raja para dewa.

Kemudian [ketika mereka duduk di sana], Raja Mandhātu dan Sakka, raja para dewa, tidak dapat dibedakan. Tidak ada perbedaan di antara mereka dalam kecemerlangan, corak kulit, atau bentuk; juga tidak ada perbedaan dalam gerakan, perilaku, atau pakaian. Satu-satunya perbedaan adalah sehubungan dengan kedipan mata.

Kemudian, Ānanda, setelah waktu yang lama Raja Mandhātu lagi berpikir:

Aku menguasai Jambudīpa, yang sangat makmur dan menyenangkan, dengan banyak penduduk; aku memiliki tujuh harta karun dan memiliki seribu orang putra; dan turun hujan harta karun di istana selama tujuh hari hingga mereka telah menumpuk sampai lututku. Aku juga menguasai benua Godānī, benua Pubbavideha, dan benua Uttarakuru.

Juga, aku telah mengunjungi pertemuan dari perkumpulan besar para dewa tiga-puluh-tiga. Aku telah memasuki Aula Sudhamma surgawi, di mana Sakka, raja para dewa, memberikanku setengah tahtanya untuk duduk. Aku dapat duduk di setengah tahta Sakka, raja para dewa. [Ketika kami duduk di sana,] aku dan Sakka, raja para dewa, tidak dapat dibedakan. Tidak ada perbedaan antara kami dalam kecemerlangan, corak kulit, atau bentuk; juga tidak ada perbedaan dalam gerakan, perilaku, atau pakaian. Satu-satunya perbedaan adalah sehubungan dengan kedipan mata. Aku sekarang ingin mengusir Sakka, raja para dewa, mengambil alih setengah tahta lainnya, dan menjadi raja para dewa dan manusia, [berkuasa] dengan bebas, seperti yang aku sukai.

Ānanda, segera ketika Raja Mandhātu memikirkan keinginan ini, sebelum ia mengetahuinya, ia telah jatuh kembali ke Jambudīpa, kehilangan kekuatan batinnya, dan sakit parah. Ketika Raja Mandhātu sekarat, orang-orang istananya pergi menemuinya dan berkata:

Yang mulia, jika para brahmana, perumah tangga, dan rakyat [anda] datang dan bertanya kepada kami apakah yang dikatakan Raja Mandhātu ketika ia sekarat, bagaimanakah, yang mulia, seharusnya kami menjawab para brahmana, perumah tangga, dan rakyat ini?

Kemudian Raja Mandhātu berkata kepada orang-orang istana:

Jika para brahmana, perumah tangga, dan rakyat[ku] datang dan bertanya kepada kalian apakah yang dikatakan Raja Mandhātu ketika ia sekarat, kalian seharusnya menjawab seperti ini: “[Walaupun] Raja Mandhātu memperoleh benua Jambudīpa, keinginannya tidak terpenuhi pada waktu ia meninggal. [Walaupun] Raja Mandhātu memperoleh tujuh harta karun, keinginannya tidak terpenuhi pada waktu ia meninggal. [Walaupun] ia memiliki seribu orang putra, keinginannya tidak terpenuhi pada waktu ia meninggal. [Walaupun] untuk Raja Mandhātu hujan harta karun turun selama tujuh hari, keinginannya tidak terpenuhi pada waktu ia meninggal.

[Walaupun] Raja Mandhātu memperoleh benua Godānī, keinginannya tidak terpenuhi pada waktu ia meninggal. [Walaupun] Raja Mandhātu memperoleh benua Pubbavideha, keinginannya tidak terpenuhi pada waktu ia meninggal. [Walaupun] Raja Mandhātu memperoleh benua Uttarakuru, keinginannya tidak terpenuhi pada waktu ia meninggal.

[Walaupun] Raja Mandhātu mengunjungi perkumpulan para dewa, keinginannya tidak terpenuhi pada waktu ia meninggal. [Walaupun] Raja Mandhātu diberkahi dengan lima jenis kesenangan indera, bentuk-bentuk, suara-suara, bebauan, rasa, dan sensasi sentuhan, keinginannya tidak terpenuhi pada waktu ia meninggal.

Jika para brahmana, perumah tangga, dan rakyat[ku] datang dan bertanya kepada kalian apa yang dikatakan Raja Mandhātu ketika ia sekarat, kalian seharusnya menjawab seperti ini.

Kemudian Sang Bhagavā mengucapkan syair-syair ini:

[Bahkan jika] turun hujan harta karun yang menakjubkan,
Seseorang yang memiliki keinginan tidak akan terpuaskan.
Keinginan adalah penderitaan, tanpa kebahagiaan –
Ini seharusnya diketahui orang bijaksana.
Bahkan jika [seseorang yang memiliki keinginan] memperoleh sekumpulan emas,
Sebesar Himalaya,
Ia tidak akan terpuaskan sama sekali –
Demikianlah orang bijaksana merenungkan.

[Bahkan ketika] memperoleh lima kesenangan indera surgawi yang mengagumkan
Ia tidak bergembira dalam lima hal ini,
Seorang siswa [sejati] Yang Tercerahkan Sempurna,
sebaiknya mengharapkan pada penghancuran ketagihan dan pada ketidakmelekatan.<157>

Kemudian Sang Bhagavā berkata:

Ānanda, apakah engkau berpikir bahwa Raja Mandhātu dari zaman dahulu adalah seseorang selain [daripada aku]? Janganlah berpikir demikian. Engkau seharusnya mengetahui bahwa ia adalah aku.

Pada waktu itu, Ānanda, aku berkeinginan untuk memberi manfaat pada diriku sendiri, memberi manfaat pada orang lain, memberi manfaat pada banyak orang; aku telah memiliki belas kasih kepada seluruh dunia, dan aku mencari kesejahteraan, manfaat, kedamaian, dan kebahagiaan bagi para dewa dan manusia.

Ajaran yang kuberikan pada waktu itu tidak membawa pada yang tertinggi, bukanlah kemurnian tertinggi, bukanlah kehidupan suci, bukanlah penyelesaian tertinggi kehidupan suci. Pada waktu itu aku tidak dapat meninggalkan kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, dukacita, dan kesengsaraan, dan aku tidak dapat mencapai pembebasan dari semua penderitaan.

Ānanda, aku sekarang telah muncul di dunia ini sebagai seorang Tathāgata, bebas dari kemelekatan, tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, seorang Yang Pergi-dengan-baik, pengenal dunia, pemimpin yang tidak tertandingi dari orang-orang yang dijinakkan, guru para dewa dan manusia, seorang Buddha, seorang Yang Beruntung.

Ajaran yang kuberikan sekarang membawa pada yang tertinggi, adalah kemurnian tertinggi, penyelesaian tertinggi kehidupan suci. Aku sekarang telah meninggalkan kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, dukacita, dan kesengsaraan. Aku sekarang telah mencapai pembebasan sempurna dari penderitaan.

Ini adalah apa yang dikatakan Sang Buddha. Setelah mendengarkan perkataan Sang Buddha, Yang Mulia Ānanda dan para bhikkhu [lainnya] bergembira dan mengingatnya dengan baik.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. 1 (bagian 6)
« Reply #4 on: 06 April 2016, 08:01:06 PM »
61. Kotbah dengan Perumpamaan Kotoran Sapi<158>

Demikianlah telah kudengar: Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu, seorang bhikkhu, yang sedang duduk bermeditasi dengan merenung di suatu tempat yang sunyi, memiliki pemikiran ini:

Apakah terdapat bentuk apa pun yang kekal dan tidak berubah, sepenuhnya menyenangkan, dan ada selamanya? Apakah terdapat perasaan apa pun, persepsi apa pun, bentukan kehendak apa pun, kesadaran apa pun yang kekal dan tidak berubah, sepenuhnya menyenangkan, dan ada selamanya?

Kemudian, pada malam hari, bhikkhu itu bangkit dari duduk bermeditasi, mendekati Sang Buddha, memberikan penghormatan dengan kepalanya [pada kaki Sang Buddha], dan duduk pada satu sisi. Ia berkata:

Sang Bhagavā, hari ini aku duduk bermeditasi di suatu tempat yang sunyi, dengan merenungkan, dan aku memiliki pemikiran ini:

Apakah terdapat bentuk materi apa pun yang kekal dan tidak berubah, sepenuhnya menyenangkan, dan ada selamanya? Apakah terdapat perasaan apa pun, persepsi apa pun, bentukan kehendak apa pun, kesadaran apa pun yang kekal dan tidak berubah, sepenuhnya menyenangkan, dan ada selamanya?

Sang Buddha berkata kepada bhikkhu itu:

Tidak ada bentuk materi yang kekal dan tidak berubah, sepenuhnya menyenangkan, dan ada selamanya. Tidak ada perasaaan, tidak ada persepsi, tidak ada bentukan kehendak, tidak ada kesadaran yang kekal dan tidak berubah, sepenuhnya menyenangkan, dan ada selamanya.

Kemudian Sang Bhagavā mengambil sedikit kotoran sapi dengan kuku jarinya, dan berkata, “Bhikkhu, apakah engkau melihat sedikit kotoran sapi yang telah aku ambil dengan kuku jariku?”

Bhikkhu itu berkata, “Ya, Sang Bhagavā. Aku melihatnya.”

Sang Buddha lebih lanjut berkata kepada bhikkhu itu:

[Sekecil ini], tidak ada bahkan sedemikian kecil jumlah bentuk materi yang kekal dan tidak berubah, sepenuhnya menyenangkan, dan ada selamanya. [Sekecil ini], tidak ada bahkan sedemikian kecil jumlah perasaan, persepsi, bentukan kehendak, kesadaran yang kekal dan tidak berubah, sepenuhnya menyenangkan, dan ada selamanya.

Mengapa demikian? Bhikkhu, aku ingat bagaimana, pada masa lampau yang jauh, aku berlatih perbuatan-perbuatan berjasa selama waktu yang lama. Setelah berlatih perbuatan-perbuatan berjasa selama waktu yang lama, aku mengalami akibat yang menyenangkan selama waktu yang lama. Bhikkhu, [karena] pada masa lampau yang jauh aku telah berlatih cinta-kasih selama tujuh tahun, aku tidak datang [terlahir] ke dunia ini selama tujuh masa kemunculan dan kehancuran semesta.

Ketika dunia menuju kehancuran, aku terlahir di surga bercahaya. Ketika dunia muncul [kembali], aku turun untuk terlahir di suatu istana Brahmā yang kosong. Di antara para Brahmā [di sana] aku adalah Maha Brahmā, yang menjadi raja surgawi yang tercipta-dengan-sendirinya atas tempat-tempat lainnya selama seribu masa semesta. [Lagi,] aku adalah Sakka, raja para dewa, selama tiga-puluh-enam masa semesta, dan aku adalah raja khattiya Mandhātu selama tak terhitung masa semesta.

Bhikkhu, ketika aku adalah raja khattiya Mandhātu, aku memiliki delapan-puluh-empat ribu ekor gajah besar, yang dilengkapi dengan perlengkapan kereta yang bagus, dihiasi dengan berbagai harta karun, dengan mutiara putih dan giok, di mana gajah utamanya adalah gajah kerajaan, Uposatha.

Bhikkhu, ketika aku adalah raja khattiya Mandhātu, aku memiliki delapan-puluh-empat ribu ekor kuda yang dilengkapi dengan perlengkapan kereta yang bagus, dihiasi dengan berbagai harta karun, emas dan perak yang dijalin dengan giok, di mana kuda utamanya adalah kuda kerajaan, Valāhaka.

Bhikkhu, ketika aku adalah raja khattiya Mandhātu, aku memiliki delapan-puluh-empat kereta, yang dihiasi dengan empat jenis hiasan dan berbagai barang yang indah, seperti kulit singa, macan, dan macan tutul, yang ditenun dengan hiasan dengan berbagai warna dan berbagai hiasan, kereta yang sangat cepat, di mana kereta utamanya adalah kereta Vejayanta.

Bhikkhu, ketika aku adalah raja khattiya Mandhātu, aku memiliki delapan-puluh-empat ribu kota, yang sangat besar dan menyenangkan, dengan banyak penduduk, di mana kota utamanya adalah Kusāvatī.

Bhikkhu, ketika aku adalah raja khattiya Mandhātu, aku memiliki delapan-puluh-empat ribu bangunan yang bertingkat banyak, yang terbuat dari empat jenis barang berharga, emas, perak, beril, dan kristal, di mana bangunan utamanya adalah Aula Sudhamma.

Bhikkhu, ketika aku adalah raja khattiya Mandhātu, aku memiliki delapan-puluh-empat ribu tahta, yang terbuat dari empat jenis barang berharga, emas, perak, beril, dan kristal, dan dilapisi dengan kain wol, ditutupi dengan brokat dan kain sutra yang bagus, dengan selimut yang berlapis dan dilapisi dengan kapas, dan dengan bantal [yang terbuat dari] kulit rusa pada kedua ujungnya.

Bhikkhu, ketika aku adalah raja khattiya Mandhātu, aku memiliki delapan-puluh-empat ribu setel pakaian: pakaian dari rami, pakaian dari brokat, pakaian dari sutra, pakaian dari katun, dan pakaian dari kulit rusa.

Bhikkhu, ketika aku adalah raja khattiya Mandhātu, aku memiliki delapan-puluh-empat ribu orang wanita, yang masing-masing dengan tubuh yang sangat bagus, jernih, cerah, segar, dengan kecantikan yang luar biasa, melampaui [kecantikan] manusia, [kecantikan] hampir surgawi, kecantikan mulia yang menggembirakan mereka yang melihatnya, dihiasi dengan berbagai harta karun dan kalung dari giok dan mutiara untuk perhiasan yang mulia, para wanita khattiya murni, dan juga tak terhitung wanita dari kasta lain.

Bhikkhu, ketika aku adalah raja khattiya Mandhātu, aku memiliki delapan-puluh-empat ribu jenis makanan, yang dihidangkan siang dan malam terus-menerus bagiku untuk dimakan ketika aku menginginkannya.

Bhikkhu, dari delapan-puluh-empat ribu jenis makanan terdapat satu yang secara khusus enak dan segar, dengan berbagai rasa, yang aku sering makan.

Bhikkhu, dari delapan-puluh-empat ribu wanita terdapat seorang wanita khattiya, yang paling mulia dan cantik, yang sering menungguku.

Bhikkhu, dari delapan-puluh-empat ribu setel pakaian terdapat satu setel, dari rami atau brokat atau sutra atau katun atau kulit rusak, yang aku sering pakai.

Bhikkhu, dari delapan-puluh-empat ribu tahta terdapat satu tahta, dari emas atau perak atau beril atau kristal, yang dilapisi dengan kain wol, ditutupi dengan brokat dan kain sutra yang bagus, dengan selimut yang berlapis dan dilapisi dengan kapas, dan dengan bantal [yang terbuat dari] kulit rusa pada kedua ujungnya, di mana aku sering duduk.

Bhikkhu, dari delapan-puluh-empat ribu bangunan bertingkat banyak, terdapat satu [yang terbuat dari] emas atau perak atau beril atau kristal, disebut Aula Sudhamma, di mana aku sering tinggal.

Bhikkhu, dari delapan-puluh-empat ribu kota terdapat satu, yang sangat makmur dan menyenangkan, dengan banyak penduduk, bernama Kusāvatī, di mana aku sering berdiam.

Bhikkhu, dari delapan-puluh-empat ribu kereta terdapat satu, yang dihiasi dengan berbagai benda yang indah seperti kulit singa, macan, dan macan tutul, yang ditenun dengan rancangan dari berbagai warna, sebuah kereta yang sangat cepat, bernama Vejayanta, yang sering aku kendarai ketika mengunjungi taman-taman hiburan.

Bhikkhu, dari delapan-puluh-empat ribu ekor kuda terdapat satu, dengan tubuh kebiruan dan kepala seperti sapi, kuda kerajaan bernama Valāhaka yang sering aku tunggangi ketika mengunjungi taman-taman hiburan.

Bhikkhu, dari delapan-puluh-empat ribu ekor gajah terdapat satu yang seluruh tubuhnya sangat putih dan tujuh bagian [tubuh]-nya sempurna, gajah kerajaan bernama Uposatha yang sering aku tunggangi ketika mengunjungi taman-taman hiburan.

Bhikkhu, aku berpikir:

Buah dan akibat dari jenis perbuatan apakah yang menyebabkanku diberkahi hari ini dengan kekuatan batin besar, kebajikan besar dan hebat, jasa besar, kekuatan besar dan hebat [demikian]?

Bhikkhu, aku berpikir lagi:

Buah dan akibat dari tiga jenis perbuatan menyebabkanku diberkahi hari ini dengan kekuatan batin besar, kebajikan besar dan hebat, jasa besar, kekuatan besar dan hebat [demikian]. Yang pertama adalah pemberian yang bermurah hati, kedua disiplin-diri, dan ketiga pengendalian [diri].

Renungkanlah ini, bhikkhu: Semua itu, keseluruhannya, akan lenyap. Kekuatan batin juga lenyap. Apakah yang engkau pikirkan, bhikkhu? Apakah bentuk materi kekal atau tidak kekal?

[Bhikkhu itu] menjawab, “Ia tidak kekal, Sang Bhagavā.”

[Sang Buddha] bertanya lebih lanjut, “Jika ia tidak kekal, apakah ia adalah penderitaan atau bukan penderitaan?”

[Bhikkhu itu] menjawab, “Ia adalah penderitaan, [karena] ia berubah, Sang Bhagavā.”

[Sang Buddha] bertanya lebih lanjut, “Jika ia tidak kekal, penderitaan dan tunduk pada perubahan, apakah seorang siswa mulia yang terpelajar akan menganggapnya sebagai ‘Ini adalah aku, ini adalah milikku, atau aku milik itu’?”

[Bhikkhu itu] menjawab, “Tidak, Sang Bhagavā.”

[Sang Buddha] bertanya lebih lanjut, “Apakah yang engkau pikirkan, bhikkhu? Apakah perasaan, persepsi, bentukan kehendak, dan kesadaran kekal atau tidak kekal?

[Bhikkhu itu] menjawab, “Mereka tidak kekal, Sang Bhagavā.”

[Sang Buddha] bertanya lebih lanjut, “Jika mereka tidak kekal, apakah mereka adalah penderitaan atau bukan penderitaan?”

[Bhikkhu itu] menjawab, “Mereka adalah penderitaan, karena mereka berubah, Sang Bhagavā.”

[Sang Buddha] bertanya lebih lanjut:

“Jika mereka tidak kekal, penderitaan dan tunduk pada perubahan, apakah seorang siswa mulia yang terpelajar akan menganggapnya sebagai ‘Ini adalah aku, ini adalah milikku, atau aku milik itu’?”

[Bhikkhu itu] menjawab, “Tidak, Sang Bhagavā.”

[Sang Buddha berkata:]

Oleh sebab itu, bhikkhu, engkau seharusnya berlatih seperti ini:

Apa pun bentuk materi, apakah masa lampau, masa depan, atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, baik atau buruk, dekat atau jauh – semua itu seharusnya dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan demikian: semua itu buka aku, itu bukan milikku, aku bukan milik itu.

Apa pun perasaan ... persepsi ... bentukan kehendak ... kesadaran, apakah masa lampau, masa depan, atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, baik atau buruk, dekat atau jauh – semua itu seharusnya dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan demikian: semua itu bukan aku, itu bukan milikku, aku bukan milik itu.

Jika, bhikkhu, seorang siswa mulia yang terpelajar merenungkan dengan cara ini, ia menjadi kecewa dengan bentuk materi, ia menjadi kecewa dengan perasaan, persepsi, bentukan kehendak, dan kesadaran. Dengan menjadi kecewa, ia menjadi bosan. Setelah menjadi bosan, ia terbebaskan. Setelah terbebaskan, ia mengetahui bahwa ia terbebaskan. Ia mengetahui sebagaimana adanya: “Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan. Tidak akan ada kelangsungan lain.”

Kemudian bhikkhu itu, setelah mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, menerimanya dengan baik dan menyimpannya [dalam pikiran]. Ia bangkit dari tempat duduknya, memberikan penghormatan dengan kepalanya pada kaki Sang Buddha, mengelilinginya tiga kali dan pergi.

Setelah menerima pengajaran Sang Buddha, bhikkhu itu tinggal sendiri di suatu tempat yang sunyi dan berlatih dengan tekun, tanpa lalai. Setelah tinggal di tempat yang sunyi dan berlatih dengan tekun, tanpa lalai – ia mencapai sepenuhnya puncak kehidupan suci, demi kepentingan di mana seorang anggota keluarga mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, meninggalkan rumah demi keyakinan, dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan.

Dalam kehidupan itu juga, ia dengan diri sendiri mencapai pemahaman dan pencerahan, dan berdiam setelah dengan diri sendiri mencapai realisasi. Ia mengetahui sebagaimana adanya: “Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan. Tidak akan ada kelangsungan lain.”

Demikianlah bhikkhu itu, setelah memahami Dharma (dan seterusnya sampai dengan), menjadi seorang Arahant.

Ini adalah apa yang dikatakan Sang Buddha. Setelah mendengarkan perkataan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan mengingatnya dengan baik.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. 1 (bagian 6)
« Reply #5 on: 06 April 2016, 08:08:09 PM »
62. Kotbah tentang Raja Bimbisāra Bertemu Sang Buddha<159>

Demikianlah telah kudengar: Pada suatu ketika Sang Buddha, yang sedang berdiam di negeri Magadha dengan sejumlah besar bhikkhu – seribu orang bhikkhu, semuanya bebas dari kemelekatan, yang telah mencapai kebenaran, sebelumnya para pertapa berambut-kusut – sedang mendekati Rājagaha, kota Magadha.

Kemudian, raja Magadha, Bimbisāra, mendengar bahwa Sang Bhagavā, yang sedang berdiam di negeri Magadha dengan sejumlah besar bhikkhu – seribu orang bhikkhu, semuanya bebas dari kemelekatan, yang telah mencapai kebenaran, sebelumnya para pertapa berambut-kusut – telah datang ke Rājagaha, kota Magadha.

Setelah mendengar hal itu, Bimbisāra, raja Magadha, mengumpulkan armada pasukannya yang berunsur empat, yaitu, pasukan gajah, pasukan kuda, pasukan kereta, dan pasukan pejalan kaki. Setelah mengumpulkan armada pasukannya yang berunsur empat, ia pergi mengunjungi Sang Buddha ditemani oleh tak terhitung orang, [suatu kumpulan yang] panjangnya satu liga.

Kemudian Sang Bhagavā, yang melihat dari jauh bahwa Bimbisāra, raja Magadha, datang, meninggalkan jalan dan pergi ke sebatang pohon banyan kerajaan yang berkembang dengan baik, menempatkan alas duduknya di bawahnya, dan duduk bersila, bersama-sama dengan kumpulan para bhikkhu.

Bimbisāra, raja Magadha, melihat dari jauh Sang Bhagavā di antara pepohonan hutan, yang dimuliakan dan indah, bagaikan rembulan di tengah-tengah bintang-bintang, dengan cahaya yang cemerlang, bercahaya bagaikan sebuah gunung emas, diberkahi dengan penampilan yang gagah dan keagungan yang mulia, dengan indera-indera yang tenang, bebas dari halangan, sempurna dan terdisiplinkan, dengan pikirannya yang tenang dan damai. Melihat hal ini, [raja] turun dari keretanya.

Seperti raja khattiya yang telah [dinobatkan dengan] percikan air pada kepalanya, yang adalah penguasa orang-orangnya dan berkuasa atas seluruh negeri, ia dilengkapi dengan lima lencana kerajaan: pertama, sebilah pedang; kedua, sebuah payung; ketiga, sebuah hiasan kepala kerajaan; keempat, sebuah kipas dengan pegangan yang berhiaskan permata; dan kelima, sandal berhiasan. Setelah melepaskan semua ini dan meninggalkan armada pasukannya yang berunsur empat di belakang, ia mendekati Sang Buddha dengan berjalan kaki.

Tiba di sana, ia memberikan penghormatan dan tiga kali mengumumkan namanya, “Sang Bhagavā, aku raja Magadha, Seniya Bimbisāra.” [Ia mengatakan] ini tiga kali.

Kemudian, Sang Bhagavā berkata, “Raja besar, sesungguhnya, sesungguhnya, engkau adalah Seniya Bimbisāra, raja Magadha.”

Kemudian Seniya Bimbisāra, raja Magadha, setelah mengumumkan namanya tiga kali, memberikan penghormatan kepada Sang Buddha dan duduk pada satu sisi. Beberapa di antara para penduduk Magadha memberikan penghormatan [dengan kepala mereka] pada kaki Sang Buddha dan kemudian duduk pada satu sisi; beberapa bertukar salam dengan Sang Buddha dan kemudian duduk pada satu sisi; beberapa menyalami Sang Buddha dengan telapak tangan disatukan [untuk menghormat] dan kemudian duduk di satu sisi; dan beberapa, setelah melihat Sang Buddha dari jauh, duduk dengan berdiam diri.

Pada waktu itu, Yang Mulia Uruvela Kassapa sedang duduk di antara kumpulan [para bhikkhu]. Yang Mulia Uruvela Kassapa dengan baik diingat oleh penduduk Magadha, diingat oleh mereka sebagai seorang guru besar dan dihormati dan seorang Manusia Sejati, bebas dari kemelekatan.

Kemudian para penduduk Magadha berpikir:

Apakah pertapa Gotama berlatih dalam kehidupan suci di bawah Uruvela Kassapa atau apakah Uruvela Kassapa berlatih dalam kehidupan suci di bawah pertama Gotama?

Pada waktu itu Sang Bhagavā, mengetahui apa yang dipikirkan penduduk Magadha, membacakan suatu syair kepada Yang Mulia Uruvela Kassapa:

Uruvela [Kassapa], apakah yang engkau lihat

Bahwa engkau berhenti [menyembah] api dan datang ke sini?
Katakan kepadaku, Kassapa,
Mengapa engkau tidak lagi [mengadakan] pengorbanan api?

[Uruvela Kassapa menjawab:]

Aku menyembah api demi keinginan
Untuk makanan dan minuman dengan berbagai rasa.
[Tetapi] penglihatan atas jalan [tengah] muncul, seperti ini,
Oleh karena itu, aku tidak lagi bergembira dalam pengorbanan [demikian].

[Sang Buddha bertanya lebih lanjut:]

Kassapa, [walaupun] pikiranmu tidak bergembira
Dalam makanan dan minuman dengan berbagai rasa,
Katakan kepadaku, Kassapa,
Mengapa engkau tidak bergembira dalam [menjadi] penghuni di surga?

[Uruvela Kassapa menjadi:]

[Karena] melihat kedamaian, lenyapnya,
Dan yang tidak berkondisi, aku tidak menginginkan kelangsungan [apa pun],
Paling kecil dari semua [adalah] surga yang dihormati.
Oleh karena itu, aku tidak lagi mengadakan pengorbanan api

Sang Bhagavā adalah yang tertinggi,
Sang Bhagavā tidak memiliki pikiran salah,
Beliau telah merealisasi dan tercerahkan pada semua hal.
Aku telah menerima Dharma tertinggi [beliau].

Kemudian Sang Bhagavā berkata, “Kassapa, engkau seharusnya mempertunjukkan kekuatan batin[mu], untuk membangkitkan keyakinan dan kegembiraan dalam perkumpulan.”

Kemudian Yang Mulia Uruvela Kassapa melakukan suatu pertunjukan kekuatan batin sehingga ia menghilang dari tempat duduknya dan muncul di timur, melayang melalui udara seraya mempertunjukkan empat posisi tubuh, di mana yang pertama adalah berjalan, kedua adalah berdiri, ketiga adalah duduk, dan keempat adalah berbaring.

Lagi, ia memasuki konsentrasi pada [unsur] api. Ketika Yang Mulia Uruvela Kassapa telah memasuki konsentrasi pada [unsur] api, muncul dari tubuhnya nyala api dengan berbagai warna: biru, kuning, merah, dan putih, dan di tengah-tengahnya air jernih. Ketika api muncul dari bagian bawah tubuhnya, air muncul dari bagian atas tubuhnya; ketika api muncul dari bagian atas tubuhnya, air muncul dari bagaian bawah tubuhnya.

Dengan cara yang sama [ia muncul] di selatan ... di barat ... di utara, melayang melalui udara seraya mempertunjukkan empat posisi tubuh, di mana yang pertama adalah berjalan, kedua adalah berdiri, ketiga adalah duduk, dan keempat adalah berbaring.

Lagi, ia memasuki konsentrasi pada [unsur] api. Ketika Yang Mulia Uruvela Kassapa telah memasuki konsentrasi pada [unsur] api, muncul dari tubuhnya nyala api dengan berbagai warna: biru, kuning, merah, dan putih, dan di tengah-tengahnya air jernih. Ketika api muncul dari bagian bawah tubuhnya, air muncul dari bagian atas tubuhnya; ketika api muncul dari bagian atas tubuhnya, air muncul dari bagaian bawah tubuhnya.

Kemudian Yang Mulia Uruvela Kassapa, setelah menyelesaikan pertunjukan kekuatan batinnya, memberikan penghormatan kepada Sang Buddha dan berkata:

Sang Bhagavā, Sang Buddha adalah guruku; aku adalah siswa Sang Buddha. Sang Buddha memiliki pengetahuan yang meliputi segalanya; aku tidak memiliki pengetahuan yang meliputi segalanya.

Kemudian Sang Bhagavā berkata, “Demikianlah, Kassapa; demikianlah, Kassapa. Aku memiliki pengetahuan yang meliputi segalanya; engkau tidak memiliki pengetahuan yang meliputi segalanya.”

Pada waktu itu, Yang Mulia Uruvela Kassapa membacakan suatu syair tentang dirinya sendiri:

Pada masa lampau ketika aku tidak mengetahui,
Aku memberikan pengorbanan kepada api agar terbebaskan.
Walaupun sudah tua, aku bagaikan terlahir buta.
Aku memiliki [pandangan] salah dan tidak melihat kebenaran tertinggi.

Sekarang aku melihat jalan tertinggi
Yang diajarkan sang nāga yang tertinggi:
Yang tidak berkondisi, pembebasan akhir dari penderitaan.
Ketika itu terlihat, kelahiran dan kematian diakhiri.

Setelah menyaksikan hal ini, para penduduk Magadha berpikir:

Pertapa Gotama tidak berlatih dalam kehidupan suci di bawah Uruvela Kassapa; Uruvela Kassapa berlatih dalam kehidupan suci di bawah pertapa Gotama.

Sang Bhagavā, mengetahui bahwa pikiran para penduduk Magadha, kemudian mengajarkan Dharma kepada Seniya Bimbisāra, raja Magadha, dengan menasehati, mendorong, dan menggembirakannya.

Setelah dengan berbagai cara terampil mengajarkannya Dharma, setelah menasehati, mendorong, dan menggembirakannya, [beliau melakukan] seperti yang dilakukan semua Buddha ketika pertama kali mengajarkan Dharma sejati untuk menggembirakan para pendengarnya: beliau mengajarkannya tentang kedermawanan, jasa, kelahiran kembali di surga, kerugian keinginan indera, dan kekotoran dari kelahiran dan kematian [yang berulang], dengan memuji kebosanan dan kemurnian dari unsur-unsur sang jalan. Sang Bhagavā memberikan raja besar itu ajaran-ajaran demikian.

Sang Buddha mengetahui bahwa pikiran [raja] bergembira, siap, lunak, dapat menahan, ringan, terpusat, bebas dari keragu-raguan, bebas dari rintangan, [memiliki] kemampuan dan kekuatan untuk menerima Dharma sejati, sesuai dengan ajaran pokok semua Buddha. Sang Bhagavā kemudian mengajarkannya tentang penderitaan, munculnya, lenyapnya dan jalan [menuju lenyapnya]:

Raja besar, bentuk materi muncul dan lenyap. Engkau seharusnya mengetahui muncul dan lenyapnya bentuk materi. Raja besar, perasaan ... persepsi ... bentukan kehendak ... kesadaran muncul dan lenyap. Engkau seharusnya mengetahui muncul dan lenyapnya kesadaran. Raja besar, seperti halnya ketika hujan turun dengan deras, gelembung-gelembung muncul dan lenyap di permukaan air, demikianlah, raja besar, muncul dan lenyapnya bentuk materi. Raja besar, perasaan ... persepsi ... bentukan kehendak ... kesadaran muncul dan lenyap. Engkau seharusnya mengetahui muncul dan lenyapnya kesadaran.

Raja besar, jika seorang anggota keluarga mengetahui muncul dan lenyapnya bentuk materi, maka ia mengetahui bahwa tidak akan ada kemunculan kembali bentuk materi [yang sama] pada masa yang akan datang.

Raja besar, jika seorang anggota keluarga mengetahui muncul dan lenyapnya perasaan ... persepsi ... bentukan kehendak ... kesadaran, maka ia mengetahui bahwa tidak akan ada kemunculan kembali kesadaran [yang sama] pada masa yang akan datang.

Raja besar, jika seorang anggota keluarga [dengan cara ini] mengetahui bentuk materi sebagaimana adanya, maka ia tidak melekat pada bentuk materi, tidak berspekulasi tentang bentuk materi, tidak terkotori [oleh] bentuk materi, tidak berdiam dalam bentuk materi, dan tidak bergembira dalam bentuk materi sebagai “aku adalah ini.”

Raja besar, jika seorang anggota keluarga [dengan cara ini] mengetahui perasaan ... persepsi ... bentukan kehendak ... kesadaran sebagaimana adanya, maka ia tidak melekat pada kesadaran, tidak berspekulasi tentang kesadaran, tidak terkotori [oleh] kesadaran, tidak berdiam dalam kesadaran, dan tidak bergembira dalam kesadaran sebagai “aku adalah ini.”

Raja besar, jika seorang anggota keluarga tidak melekat pada bentuk materi, tidak berspekulasi tentang bentuk materi, tidak terkotori [oleh] bentuk materi, tidak berdiam dalam bentuk materi, dan tidak bergembira dalam bentuk materi sebagai “aku adalah ini,” maka ia tidak akan lagi melekat pada bentuk pada masa yang akan datang.

Raja besar, jika seorang anggota keluarga tidak melekat pada perasaan ... persepsi ... bentukan kehendak ... kesadaran sebagaimana adanya, maka ia tidak melekat pada kesadaran, tidak berspekulasi tentang kesadaran, tidak terkotori [oleh] kesadaran, tidak berdiam dalam kesadaran, dan tidak bergembira dalam kesadaran sebagai “aku adalah ini,” maka ia tidak akan lagi melekat pada kesadaran pada masa yang akan datang.

Raja besar, seorang anggota keluarga demikian telah menjadi tidak terukur, tidak terhitung, tidak terbatas. Ia telah mencapai kedamaian. Jika ia telah menjadi tidak melekat dari lima kelompok unsur kehidupan, ia tidak akan lagi melekat pada kelompok unsur kehidupan apa pun.

Kemudian para penduduk Magadha berpikir:

Jika bentuk materi tidak kekal, perasaan ... persepsi ... bentukan kehendak ... kesadaran tidak kekal, maka siapakah yang menjalani dan yang mengalami penderitaan dan kebahagiaan?

Sang Bhagavā, mengetahui pikiran para penduduk Magadha, berkata kepada para bhikkhu:

Seorang duniawi yang bodoh, yang tidak terpelajar, menganggap dirinya sebagai “aku adalah diri” dan melekat pada diri. Namun, tidak ada diri; tidak ada yang menjadi milik diri; [semua ini] adalah kosong dari diri dan kosong dari apa pun yang menjadi milik diri. Ketika fenomena muncul, mereka muncul; ketika fenomena lenyap, mereka lenyap. Semua ini [hanyalah] gabungan sebab dan kondisi, yang memunculkan penderitaan. Jika sebab dan kondisi tidak ada, maka semua penderitaan akan lenyap. Adalah karena gabungan sebab dan kondisi sehingga makhluk-makhluk hidup berlanjut dan semua fenomena muncul. Sang Tathāgata, setelah melihat semua makhluk hidup terus-menerus muncul, menyatakan: Terdapat kelahiran dan terdapat kematian. Dengan mata dewa, yang dimurnikan dan melampaui [penglihatan] manusia, aku melihat makhluk-makhluk ketika mereka meninggal dan terlahir kembali gagah atau jelek, bagus atau tidak bagus, ketika mereka datang dan pergi di antara alam-alam kehidupan yang baik atau buruk, sesuai dengan perbuatan mereka [sebelumnya]. Aku melihat ini sebagaimana adanya. Jika makhluk-makhluk hidup ini berperilaku buruk dalam jasmani, ucapan dan pikiran, jika mereka tidak menghina para orang mulia, menganut pandangan salah, dan melakukan perbuatan [berdasarkan] pandangan benar, maka karena sebab dan kondisi ini, saat hancurnya tubuh, setelah kematian, mereka pasti akan pergi ke alam kehidupan yang baik, [bahkan] ke alam surga.

Mengetahui bahwa ini adalah demikian, aku tidak mengatakan kepada mereka, “Adalah diri yang dapat merasakan, dapat berbicara, yang memberikan ajaran-ajaran, yang melakukan pengembangan, yang mengajarkan pengembangan, yang mengalami buah perbuatan baik atau buruk di sini dan di sana.” Dalam hal ini, seseorang mungkin berpikir, “Ini tidak sesuai; ini tidak dapat dipertahankan.”

[Tetapi walaupun mereka keberatan] proses ini yang terjadi sesuai dengan Dharma: Karena ini, itu muncul; jika sebab ini tidak muncul, itu tidak muncul. Karena ini ada, itu ada; jika ini lenyap, itu lenyap. Dengan kata lain: dengan ketidaktahuan sebagai kondisi terdapat bentukan kehendak; (dan seterusnya sampai dengan) dengan kelahiran sebagai kondisi terdapat usia tua dan kematian. Jika ketidaktahuan lenyap, bentukan kehendak lenyap (dan seterusnya sampai dengan) jika kelahiran lenyap, usia tua dan kematian lenyap.

[Sang Buddha berkata:] “Raja besar, apakah yang engkau pikirkan? Apakah bentuk materi kekal atau tidak kekal?”

[Raja] menjawab, “Ia tidak kekal, Sang Bhagavā.”

[Sang Buddha] bertanya lagi, “Jika ia tidak kekal, apakah ia adalah penderitaan atau bukan penderitaan?”

[Raja] menjawab, “Ia adalah penderitaan [karena] ia berubah, Sang Bhagavā.”

[Sang Buddha] bertanya lagi, “Jika ia tidak kekal, penderitaan, dan tunduk pada perubahan, apakah seorang siswa mulia yang terpelajar menganggapnya sebagai ‘Ini adalah aku, ini adalah milikku, aku milik itu’?”

[Raja] menjawab, “Tidak, Sang Bhagavā.”

[Sang Buddha bertanya lagi]: “Raja besar, apakah yang engkau pikirkan? Apakah perasaan ... persepsi ... bentukan kehendak ... kesadaran kekal atau tidak kekal?”

[Raja] menjawab, “Ia tidak kekal, Sang Bhagavā.”

[Sang Buddha] bertanya lagi, “Jika ia tidak kekal, apakah ia adalaah penderitaan atau bukan penderitaan?”

[Raja] menjawab, “Ia adalah penderitaan [karena] ia berubah, Sang Bhagavā.”

[Sang Buddha] bertanya lagi, “Jika ia tidak kekal, penderitaan, dan tunduk pada perubahan, apakah seorang siswa mulia yang terpelajar menganggapnya sebagai: ‘Ini adalah aku, ini adalah milikku, aku milik itu’?”

[Raja] menjawab, “Tidak, Sang Bhagavā.”

[Sang Buddha berkata:]

Oleh karena itu, engkau seharusnya berlatih dengan cara ini:

Apa pun bentuk materi di sana, apakah masa lampau, masa depan, atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, baik atau buruk, jauh atau dekat, semua itu bukan aku, semua itu bukan milikku, dan aku bukan milik itu.

Engkau seharusnya dengan bijaksana merenungkannya dan mengetahuinya sebagaimana adanya.

Raja besar, “Apa pun perasaan ... persepsi ... bentukan kehendak ... kesadaran di sana, apakah masa lampau, masa depan, atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, baik atau buruk, jauh atau dekat, semua itu bukan aku, semua itu bukan milikku, dan aku bukan milik itu.” Engkau seharusnya dengan bijaksana merenungkannya dan mengetahuinya sebagaimana adanya.

Raja besar, jika seorang siswa mulia yang terpelajar merenungkan dengan cara ini, maka ia menjadi kecewa dengan bentuk materi, kecewa dengan perasaan ... dengan persepsi ... dengan bentukan kehendak ... dengan kesadaran. Setelah menjadi kecewa, ia menjadi bosan. Setelah menjadi bosan, ia mencapai pembebasan. Setelah mencapai pembebasan, ia mengetahui bahwa ia terbebaskan. Ia mengetahui sebagaimana adanya: “Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan. Tidak akan ada kelangsungan lain.”

Ketika Sang Buddha menyampaikan ajaran ini, [pikiran] Seniya Bimbisāra, raja Magadha, menjadi bebas dari kekotoran-kekotoran, dan [sehubungan] dengan semua fenomena, mata Dharma  muncul [dalam dirinya]; dan [pikiran] delapan puluh ribu dewa dan dua belas ribu orang penduduk Magadha menjadi bebas dari kekotoran-kekotoran, dan [sehubungan] dengan semua fenomena, mata Dharma muncul [dalam diri mereka].

Kemudian Seniya Bimbisāra, raja Magadha, melihat Dharma, mencapai Dharma, merealisasi Dharma yang sangat murni; ia meninggalkan keragu-raguan, mengatasi kebingungan; ia tidak akan mengambil guru lain, tidak akan pernah mengikuti [guru] lain; ia tanpa ketidakpastian.

Setelah mencapai buah realisasi dan mencapai ketanpagentaran dalam Dharma Sang Bhagavā, [raja] bangkit dari tempat duduknya, memberikan penghormatan [dengan kepalanya] pada kaki Sang Buddha, dan berkata:

Sang Bhagavā, aku sekarang mengambil perlindungan kepada Buddha, Dharma, dan komunitas para bhikkhu. Semoga Sang Bhagavā sudi menerimaku sebagai seorang pengikut awam; sejak hari ini sampai kehidupan berakhir, aku mengambil perlindungan [kepada Tiga Permata] selama hidupku.

Ini adalah apa yang dikatakan Sang Buddha. Setelah mendengarkan perkataan Sang Buddha, Seniya Bimbisāra, raja Magadha, delapan puluh ribu dewa, dua belas ribu orang penduduk Magadha, dan seribu orang bhikkhu bergembira dan mengingatnya dengan baik.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. 1 (bagian 6)
« Reply #6 on: 06 April 2016, 08:25:47 PM »
63. Kotbah di Vebhaḷiṅga<160>

Demikianlah telah kudengar: Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di negeri Kosala. Pada waktu itu Sang Bhagavā sedang berjalan di sebuah jalan bersama-sama dengan sekumpulan besar para bhikkhu.  Dalam perjalanan beliau tersenyum dengan penuh kebahagiaan.

Yang Mulia Ānanda, ketika melihat Sang Bhagavā tersenyum, menyatukan telapak tangannya [untuk menghormat] kepada Sang Buddha dan berkata:

Sang Bhagavā, apakah alasan atas senyum ini? Para Buddha dan Tathāgata, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, tidak tersenyum dengan sembarangan, tanpa alasan. Semoga aku mendengar makna [dari senyuman ini]

Kemudian Sang Bhagavā berkata, “Ānanda, di tempat ini Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, duduk dan mengajarkan para siswa[nya] Dharma.”

Kemudian Yang Mulia Ānanda mempersiapkan sebuah tempat duduk di tempat itu dan, dengan menyatukan telapak tangan [untuk menghormat] kepada Sang Buddha, berkata:

Sang Bhagavā, semoga Sang Bhagavā juga duduk di tempat ini dan mengajarkan para siswanya Dharma! Dengan cara ini, tempat ini akan telah digunakan oleh dua orang Tathāgata, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna.

Kemudian Sang Bhagavā duduk pada tempat duduk yang dipersiapkan di tempat itu oleh Yang Mulia Ānanda. Setelah duduk, beliau berkata:

Ānanda, di tempat ini terdapat aula pertemuan Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna. Duduk di tempat itu, Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, mengajarkan para siswanya Dharma.

Ānanda, pada masa lampau tempat ini terdapat sebuah kota bernama Vebhaḷiṅga, yang sangat makmur dan menyenangkan, dengan banyak penduduk.

Ānanda, di kota Vebhaḷiṅga terdapat seorang perumah tangga brahmana besar bernama Tanpa-kemarahan,<161> yang sangat kaya dan makmur, dengan tak terhitung harta kekayaan, dan memiliki berlimpah-limpah semua jenis ternak, tanah, bawahan, dan manor.

Ānanda, perumah tangga brahmana besar Tanpa-kemarahan memiliki seorang putra bernama Uttara, seorang brahmana muda. Ia lahir dari orang tua dengan keturunan murni. Selama tujuh generasi pada sisi ayah dan ibu terdapat kelangsungan kelahiran yang tidak terputus tanpa cacat. Ia telah mempelajari banyak hal dan mengingatnya, dan dapat mengulanginya. Ia menguasai empat Veda, dengan kosakata, liturgi, fonologi, dan etimologi, dan sejarah sebagai yang kelima.

Ānanda, pemuda Uttara memiliki seorang teman baik bernama Nandipāla, yang adalah seorang pembuat tembikar. Pemuda Uttara selalu menyayanginya. Mereka bergembira ketika bertemu [satu sama lain], tidak pernah lelah karenanya.

Ānanda, Nandipāla sang pembuat tembikar telah mengambil perlindungan kepada Buddha, Dharma, dan komunitas para bhikkhu. Ia bebas dari keragu-raguan terhadap Tiga Permata, dan ia tidak memiliki kebingungan sehubungan dengan penderitaan, munculnya, lenyapnya, dan jalan [menuju lenyapnya]. Ia telah mencapai keyakinan, menjaga moralitas, banyak belajar, dermawan, dan sempurna dalam kebijaksanaan.

[Nandipāla] menghindari diri dari pembunuhan, meninggalkan pembunuhan, meninggalkan pisau dan gada. Ia memiliki [rasa] malu dan segan, dan pikiran [yang penuh dengan] cinta-kasih dan belas kasih, [yang berharap untuk] memberi manfaat kepada semua [makhluk], termasuk serangga. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan pembunuhan makhluk hidup.

Ānanda, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari pengambilan apa yang tidak diberikan, telah meninggalkan pengambilan apa yang tidak diberikan. Ia mengambil [hanya] apa yang diberikan dan bergembira dalam mengambil [hanya] apa yang diberikan. Ia selalu gemar berderma, bergembira di dalamnya, tanpa kekikiran, dan tidak mengharapkan imbalan. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan pengambilan apa yang tidak diberikan.

Ānanda, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari aktivitas seksual, telah meninggalkan aktivitas seksual. Ia dengan tekun menjalankan kehidupan selibat, bersemangat dalam perilaku baik ini, murni, tanpa cacat, dengan menghindari dari dari keinginan seksual, meninggalkan keinginan seksual. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan aktivitas seksual.

Ānanda, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari ucapan salah, telah meninggalkan ucapan salah. Ia mengatakan kebenaran, bergembira dalam kebenaran, dengan tidak tergoyahkan berkembang dalam kebenaran, sepenuhnya dapat dipercaya, dan tidak akan menipu [orang lain di] dunia. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan ucapan salah.

Ānanda, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari ucapan yang bersifat memecah belah, telah meninggalkan ucapan yang bersifat memecah belah. Ia tidak terlibat dalam ucapan yang bersifat memecah belah, tidak bermaksud menyakiti orang lain. Mendengar sesuatu dari orang ini ia tidak mengatakannya kepada orang itu, untuk menyakiti orang ini; mendengar sesuatu dari orang itu ia tidak mengatakannya kepada orang ini, untuk menyakiti orang itu. Ia memiliki keinginan untuk menyatukan mereka yang terpecah belah, bergembira dalam persatuan. Ia tidak termasuk kelompok mana pun dan tidak bergembira dalam atau memuji pengelompokan. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan ucapan yang bersifat memecah belah.

Ānanda, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari ucapan kasar, telah meninggalkan ucapan kasar. Ia telah meninggalkan jenis ucapan yang terdiri atas kata-kata yang kasar dan tidak sopan dalam nada, kata-kata yang menyakitkan hati yang menjengkelkan bagi telinga, yang tidak dinikmati atau diinginkan orang-orang, yang menyebabkan orang lain menderita dan kesal, dan yang tidak mendukung pada konsentrasi.

Ia mengucapkan jenis ucapan yang terdiri dari kata-kata yang murni, damai, lembut, dan bermanfaat, yang menyenangkan bagi telinga dan memasuki telinga, yang dinikmati dan diinginkan, yang memberikan orang lain kebahagiaan, kata-kata yang mengandung makna, yang tidak membuat orang lain takut, dan yang mendukung orang lain dalam mencapai konsentrasi. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan ucapan kasar.

Ānanda, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari ucapan omong kosong, telah meninggalkan ucapan omong kosong. Ia berkata pada waktu [yang tepat], mengatakan apa yang benar, apa yang merupakan Dharma, apa yang bermakna, apa yang menenangkan, bergembira dalam mengatakan apa yang menenangkan. [Sehubungan dengan] hal [apa pun] ia akan mengajar dengan baik dan menasehati dengan baik, sesuai dengan waktu [yang tepat] dan dengan cara yang tepat. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan ucapan omong kosong.

Ānanda, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari mencari keuntungan, telah meninggalkan pencarian keuntungan. Ia telah meninggalkan timbangan dan pengukuran, meninggalkan menerima barang-barang, ia tidak mengikat orang-orang, tidak berusaha berbuat curang dengan pengukuran, atau ia menipu orang lain demi tujuan beberapaan keuntungan kecil. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan pencarian keuntungan.

Ānanda, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari menerima para janda atau gadis, telah meninggalkan menerima para janda atau gadis. Ia memurnikan pikirannya sehubungan dengan menerima para janda atau gadis.

Ānanda, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari menerima para pelayan laki-laki atau perempuan, telah meninggalkan menerima para pelayan laki-laki dan perempuan. Ia memurnikan pikirannya sehubungan dengan menerima para pelayan laki-laki atau perempuan.

Ānanda, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari menerima gajah, kuda, hewan ternak, atau domba, telah meninggalkan menerima gajah, kuda, hewan ternak, atau domba. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan menerima gajah, kuda, hewan ternak, atau domba.

Ānanda, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari menerima ayam atau babi, telah meninggalkan menerima ayam atau babi. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan menerima ayam atau babi.

Ānanda, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari tanah pertanian atau toko, telah meninggalkan menerima tanah pertanian atau toko. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan menerima tanah pertanian atau toko.

Ānanda, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari menerima beras, gandum, atau kacang polong yang belum dimasak, telah meninggalkan menerima beras, gandum, atau kacang polong yang belum dimasak. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan menerima beras, gandum, atau kacang polong yang belum dimasak.

Ānanda, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari minuman keras, telah meninggalkan minuman keras. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan minuman keras.

Ānanda, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari [penggunaan] tempat tidur yang tinggi atau lebar, telah meninggalkan [penggunaan] tempat tidur yang tinggi atau lebar. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan tempat tidur yang tinggi atau lebar.

Ānanda, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari [penggunaan] kalungan bunga, kalung, wewangian, dan riasan, telah meninggalkan [penggunaan] kalungan bunga, kalung, wewangian, dan riasan. Ia memurnikan pikirannya sehubungan dengan kalungan bunga, kalung, wewangian, dan riasan.

Ānanda, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari bernyanyi, menari, dan berperan [dalam pertunjukan drama], dan dari pergi melihat atau mendengarnya; ia telah meninggalkan nyanyian, tarian, dan peran [dalam pertunjukan drama] dan pergi melihat atau mendengarnya. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan nyanyian, tarian, dan peran [dalam pertunjukan drama], dan pergi melihat atau mendengarnya.

Ānanda, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari menerima emas dan perak, telah meninggalkan menerima emas dan perak. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan menerima emas dan perak.

Ānanda, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari makan setelah tengah hari, telah meninggalkan makan setelah tengah hari. Ia selalu memakan [hanya] satu kali makan [setiap hari], tidak makan pada malam hari, dengan berlatih makan [hanya] pada waktu [yang tepat]. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan makan setelah tengah hari.

Ānanda, seumur hidupnya Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari mengambil sekop dengan tangannya. Ia tidak menyenangi menggali tanah sendiri atau menyuruh orang lain melakukannya. Jika air telah membersihkan suatu tepi sungai sehingga ia longsor, atau jika tikus telah merusak tanah, ia akan mengambil [tanah] itu dan menggunakannya untuk membuat pot-potnya. Pot-pot ini akan ia letakkan pada satu sisi dan mengatakan kepada para pelanggan: “Jika kalian memiliki kacang polong, beras, gandum, biji rami, kacang bi, atau biji moster, letakkan mereka [sebagai pembayaran] dan ambil pot mana pun yang kalian suka.”

Ānanda, seumur hidupnya Nandipāla sang pembuat tembikar telah merawat ayah dan ibunya, yang buta. Mereka sepenuhnya bergantung pada orang lain, sehingga ia merawat mereka.

Ānanda, ketika malam telah berakhir, saat fajar, Nandipāla sang pembuat tembikar mendekati Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna. Tiba di sana, ia memberikan penghormatan dan duduk pada satu sisi. Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, mengajarkannya Dharma, dengan menasehati, mendorong, dan menggembirakannya. Setelah, dengan tak terhitung cara terampil, mengajarkannya Dharma, setelah menasehati, mendorong, dan menggembirakannya, [Tathāgata Kassapa] tetap berdiam diri.

Kemudian, Ānanda, Nandipāla sang pembuat tembikar, setelah diajarkan Dharma oleh Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, setelah dinasehati, didorong, dan digembirakan, bangkit dari tempat duduknya, memberikan penghormatan pada kaki Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, mengelilinginya tiga kali dan pergi.

Pada waktu itu, ketika malam telah berakhir, saat fajar, brahmana muda Uttara mengendarai sebuah kereta [yang ditarik oleh] kuda putih dan meninggalkan kota Vebhaḷiṅga ditemani oleh lima ratus orang brahmana muda. Ia sedang mendekati suatu tempat yang terpencil dengan maksud mengajar para siswanya, yang telah datang dari beberapa negeri yang berbeda, [dengan maksud] mengajarkan [mereka dalam] pengulangan kitab-kitab brahmanis.

Kemudian brahmana muda Uttara melihat dari jauh bahwa Nandipāla sang pembuat tembikar datang. Melihatnya, ia bertanya, “Nandipāla, dari manakah engkau datang?”

Nandipāla menjawab, “Aku datang dari memberikan penghormatan kepada Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna. Uttara, pergilah denganku dan dekatilah Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, dan berikan penghormatanmu!”

Kemudian brahmana muda Uttara menjawab, “Nandipāla, aku tidak ingin menemui pertapa berkepala gundul itu. Pertapa berkepala gundul itu tidak mengetahui bagaimana mencapai sang jalan, karena sang jalan sulit untuk dicapai.”

Kemudian Nandipāla sang pembuat tembikar memegang ujung simpul rambut brahmana muda Uttara dan memaksanya untuk turun dari kereta.

Kemudian brahmana muda Uttara berpikir: “Pembuat tembikar Nandipāla ini tidak pernah bercanda dan ia tidak gila atau bodoh; pastilah terdapat alasan mengapa ia sekarang memegang ujung simpul rambutku.”

Setelah berpikir demikian, ia berkata, “Nandipāla, aku akan pergi denganmu, aku akan pergi denganmu.”

Nandipāla bergembira dan berkata, “Pergi [denganku dan menemui Tathāgata Kassapa] adalah sangat baik.”

Kemudian Nandipāla sang pembuat tembikar dan Uttara sang brahmana muda mendekati Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, dan ketika tiba di sana, memberikan penghormatan mereka dan duduk pada satu sisi.

Nandipāla sang pembuat tembikar berkata kepada Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna:

Sang Bhagavā, ini adalah temanku, brahmana muda Uttara, yang selalu menyayangiku dan tak kenal lelah bergembira ketika melihatku. Ia tidak memiliki keyakinan atau penghormatan kepada Sang Bhagavā. Semoga Sang Bhagavā mengajarkannya Dharma dengan baik, sehingga ia menjadi gembira dan memiliki keyakinan dan penghormatan.

Kemudian Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, mengajarkan Dharma kepada Nandipāla sang pembuat tembikar dan brahmana muda Uttara, dengan menasehati, mendorong, dan menggembirakan mereka. Setelah, dengan tak terhitung cara terampil, mengajarkan mereka Dharma, setelah menasehati, mendorong, dan menggembirakan mereka, [Tathāgata Kassapa] tetap berdiam diri.

Kemudian, [setelah] Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, telah mengajarkan mereka Dharma, menasehati, mendorong, dan menggembirakan mereka, pembuat tembikar Nandipāla dan brahmana muda Uttara bangkit dari tempat duduk mereka, memberikan penghormatan pada kaki Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, mengelilinginya tiga kali, dan pergi.

Kemudian, ketika mereka belum berjalan jauh dalam perjalanan kembali, brahmana muda Uttara bertanya:

Nandipāla, setelah mendengarkan Dharma yang mulia ini dari Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, mengapa engkau tetap berada di rumah, [mengapa engkau] tidak dapat meninggalkan [kehidupan berumah tangga] dan berlatih dalam jalan mulia?

Kemudian Nandipāla sang pembuat tembikar menjawab:

Uttara, engkau sendiri mengetahui bahwa seumur hidupku aku telah merawat ayah dan ibuku, yang buta dan sepenuhnya bergantung pada orang lain. Adalah karena aku menyokong dan merawat ayah dan ibuku [sehingga aku tidak dapat meninggalkan kehidupan berumah tangga].

Kemudian brahmana muda Uttara bertanya:

Nandipāla, apakah aku dapat meninggalkan kehidupan berumah tangga untuk berlatih sang jalan, dengan mengikuti Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna? Apakah aku dapat menerima penahbisan penuh, menjadi seorang bhikkhu, dan berlatih kehidupan suci?

Kemudian pembuat tembikar Nandipāla dan brahmana muda Uttara langsung meninggalkan tempat itu dan mendekati Tathāgata Kassapa lagi, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna. Setelah tiba di sana dan memberikan penghormatan mereka, mereka duduk pada satu sisi.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. 1 (bagian 6)
« Reply #7 on: 06 April 2016, 08:28:23 PM »
Nandipāla sang pembuat tembikar berkata kepada Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna:

Sang Bhagavā, ketika kami belum berjalan jauh dalam perjalanan kembali kami, brahmana muda Uttara ini bertanya kepadaku, “Nandipāla, setelah mendengarkan Dharma yang mulia ini dari Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, mengapa engkau tetap berada di rumah? [Mengapa engkau] tidak dapat meninggalkan [kehidupan berumah tangga] dan berlatih dalam jalan mulia?

Sang Bhagavā, aku menjawab, “Uttara, engkau sendiri mengetahui bahwa seumur hidupku aku telah merawat ayah dan ibuku, yang buta dan sepenuhnya bergantung pada orang lain. Adalah karena aku menyokong dan merawat ayah dan ibuku [sehingga aku tidak dapat meninggalkan kehidupan berumah tangga].”

Kemudian Uttara bertanya kepadaku lebih lanjut:

Nandipāla, apakah aku dapat meninggalkan kehidupan berumah tangga untuk berlatih sang jalan, dengan mengikuti Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna? Apakah aku dapat menerima penahbisan penuh, menjadi seorang bhikkhu, dan berlatih kehidupan suci?

Semoga Sang Bhagavā mengizinkannya meninggalkan kehidupan berumah tangga untuk berlatih dalam sang jalan dengan memberikannya [sehingga ia dapat] menjadi seorang bhikkhu dan berlatih kehidupan suci.

Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, menyetujui [permintaan] Nandipāla dengan tetap berdiam diri.

Kemudian Nandipāla sang pembuat tembikar, memahami bahwa Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, telah menyetujui dengan tetap berdiam diri, bangkit dari tempat duduknya, memberikan penghormatan dengan kepalanya, mengelilinginya tiga kali dan pergi.

Kemudian, segera setelah Nandipāla pergi, Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, mengizinkan pemuda Uttara meninggalkan kehidupan berumah tangga untuk berlatih dalam sang jalan dengan memberikannya penahbisan penuh.

Setelah [mengizinkannya] meninggalkan kehidupan berumah tangga untuk berlatih dalam sang jalan, dan setelah memberikannya penahbisan penuh, [Tathāgata Kassapa] berdiam selama beberapa hari, sesuai dengan keinginannya, di kota Vebhaḷiṅga. [Kemudian] beliau membawa jubah dan mangkuknya dan, dengan sekumpulan besar para bhikkhu, pergi berkelana dengan tujuan pergi ke Benares, sebuah kota di negeri Kāsi. Dengan mengadakan perjalanan perlahan-lahan, mereka tiba di Benares, sebuah kota di negeri Kāsi. Di Benares mereka berdiam di Taman Rusa, Tempat Para Pertapa.

Kemudian Raja Kiki [dari Benares] mendengar bahwa Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, yang sedang berkelana di negeri Kāsi dengan sekumpulan besar para bhikkhu, telah tiba di Benares dan sedang berdiam di Taman Rusa, Tempat Para Pertapa.

Mendengar hal ini, Raja Kiki berkata kepada kusirnya, “Persiapkan kereta, aku sekarang ingin mendekati Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna.”

Kemudian kusir itu, setelah menerima perintah raja, segera mempersiapkan kereta. Setelah mempersiapkan kereta, [ia] kembali dan berkata kepada raja, “Kereta-kereta yang bagus telah dipersiapkan. Mereka sudah bisa yang mulia gunakan.”

Kemudian Raja Kiki, setelah mengendarai sebuah kereta yang bagus, berangkat dari Benares dan menuju Taman Rusa, Tempat Para Pertapa. Kemudian Raja Kiki melihat dari jauh Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, di antara pepohonan, yang dimuliakan dan indah, bagaikan rembulan di tengah-tengah bintang-bintang, bersinar bagaikan gunung emas, diberkahi dengan penampilan yang gagah dan kemuliaan yang agung, dengan indera-indera yang tenang, bebas dari halangan, sempurna dan terdisiplinkan, dengan pikirannya yang tenang dan damai.

Melihat hal ini, [raja] turun dari keretanya dan dengan berjalan kaki mendekati Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna. Setelah tiba di sana, [raja] memberikan penghormatan dan duduk pada satu sisi. Setelah Raja Kiki duduk pada satu sisi, Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, mengajarkannya Dharma, dengan menasehati, mendorong, dan menggembirakannya. Setelah dengan tak terhitung cara terampil mengajarkannya Dharma, setelah menasehati, mendorong, dan menggembirakannya, [Tathāgata Kassapa] tetap berdiam diri.

Kemudian, setelah Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, telah mengajarkannya Dharma, menasehati, mendorong, dan menggembirakannya, Raja Kiki bangkit dari tempat duduknya, mengatur pakaiannya sehingga memperlihatkan satu bahu, menyatukan telapak tangannya [untuk menghormat] kepada Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, dan berkata: “Semoga Sang Bhagavā bersama-sama dengan kumpulan para bhikkhu menerima undanganku [untuk makan] besok.”

Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, menerima undangan Raja Kiki dengan tetap berdiam diri.

Kemudian Raja Kiki, yang memahami bahwa Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, telah menerima undangannya dengan tetap berdiam diri, memberikan penghormatan dengan kepalanya, mengelilinginya tiga kali, dan pergi. Setelah pulang ke rumah, selama malam hari semua jenis hidangan yang sangat indah, segar, dan bagus sekali disiapkan dengan berlimpah untuk dimakan, dikecap, dan dicerna. Ketika persiapan malam telah diselesaikan, menuju fajar, tempat duduk diatur [dan pesan dikirimkan:] “Sang Bhagavā, waktunya sekarang telah tiba; makanan telah siap. Semoga Sang Bhagavā datang menurut waktunya!”

Kemudian ketika malam telah berakhir, saat fajar, Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, mengenakan jubahnya dan membawa mangkuknya. Bersama-sama dengan kumpulan para bhikkhu, Sang Bhagavā pergi ke rumah Raja Kiki dan duduk pada tempat duduk yang telah disiapkan di hadapan kumpulan para bhikkhu.

Kemudian Raja Kiki, melihat bahwa Sang Buddha dan kumpulan para bhikkhu telah duduk, secara pribadi mempersembahkan air untuk mencuci. Dengan tangannya sendiri, ia menghidangkan semua jenis hidangan yang sangat indah, segar, dan baik, dengan memastikan terdapat cukup [makanan] untuk dimakan, dikecap, dan dicerna.

Setelah selesai makan, peralatan-peralatan [makan] dibersihkan, dan air untuk mencuci telah dipersembahkan, [Raja Kiki] mempersiapkan sebuah tempat duduk yang rendah dan duduk pada satu sisi untuk mendengarkan Dharma.

Ketika Raja Kiki duduk, Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, mengajarkannya Dharma, dengan menasehati, mendorong, dan menggembirakannya. Setelah dengan tak terhitung cara terampil mengajarkannya Dharma, setelah menasehati, mendorong, dan menggembirakannya, [Tathāgata Kassapa] tetap berdiam diri.

Kemudian, setelah Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, telah mengajarkannya Dharma, dengan menasehati, mendorong, dan menggembirakannya, Raja Kiki bangkit dari tempat duduknya, mengatur pakaiannya sehingga memperlihatkan satu bahu, menyatukan telapak tangannya [untuk menghormat] kepada Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, dan berkata:

Semoga Sang Bhagavā, bersama-sama dengan kumpulan para bhikkhu, menerima undanganku untuk menghabiskan pengasingan musim hujan di sini di Benares!

Aku akan mempersiapkan lima ratus kamar dan lima ratus tempat tidur dan selimut untuk Sang Bhagavā; dan aku akan mempersiapkan, untuk Sang Bhagavā dan kumpulan para bhikkhu, nasi putih seperti ini dan makanan dengan berbagai rasa sama dengan apa yang dimakan raja.

Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, berkata kepada Raja Kiki, “Raja besar, mohon berhenti, mohon berhenti! Walaupun hatiku senang dan puas [dengan persembahanmu yang baik].”

Kedua dan ketiga kalinya Raja Kiki menyatukan telapak tangannya [untuk menghormat] kepada Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, dan berkata:

Semoga Sang Bhagavā, bersama-sama dengan kumpulan para bhikkhu, menerima undanganku untuk menghabiskan pengasingan musim hujan di sini di Benares!

Aku akan mempersiapkan lima ratus kamar dan lima ratus tempat tidur dan selimut untuk Sang Bhagavā; dan aku akan mempersiapkan, untuk Sang Bhagavā dan kumpulan para bhikkhu, nasi putih seperti ini dan makanan dengan berbagai rasa sama dengan apa yang dimakan raja.

Dan kedua dan ketiga kalinya Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, berkata kepada Raja Kiki, “Raja besar, mohon berhenti, mohon berhenti! Walaupun hatiku senang dan puas [dengan persembahanmu yang baik].”

Kemudian Raja Kiki tidak dapat menahannya dan tidak menyukainya. Hatinya penuh dengan dukacita dan kesengsaraan, [dengan berpikir:]

Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, bersama-sama dengan kumpulan para bhikkhu, tidak menerima undanganku untuk menghabiskan pengasingan musim hujan di sini di Benares.

Setelah memiliki pikiran ini, Raja Kiki berkata kepada Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, “Sang Bhagavā, apakah terdapat pengikut awam lain yang [dapat] memberikan persembahan kepada Sang Bhagavā seperti yang kulakukan?”

Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, berkata kepada Raja Kiki:

Ya, ada. Di negerimu terdapat sebuah kota bernama Vebhaḷiṅga, yang sangat makmur dan menyenangkan, dengan banyak penduduk. Raja besar, di kota Vebhaḷiṅga itu, terdapat seorang pembuat tembikar, Nandipāla.

Raja besar, Nandipāla sang pembuat tembikar telah mengambil perlindungan kepada Buddha, Dharma, dan komunitas para bhikkhu. Ia bebas dari keragu-raguan terhadap Tiga Permata, dan ia tidak memiliki kebingungan sehubungan dengan penderitaan, munculnya, lenyapnya, dan jalan [menuju lenyapnya]. Ia telah mencapai keyakinan, menjaga moralitas, banyak belajar, dermawan, dan sempurna dalam kebijaksanaan. [Nandipāla] menghindari diri dari pembunuhan, meninggalkan pembunuhan, meninggalkan pisau dan gada. Ia memiliki [rasa] malu dan segan, dan pikiran [yang penuh dengan] cinta-kasih dan belas kasih, [yang berharap untuk] memberi manfaat kepada semua [makhluk], termasuk serangga. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan pembunuhan makhluk hidup.

Raja besar, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari pengambilan apa yang tidak diberikan, telah meninggalkan pengambilan apa yang tidak diberikan. Ia mengambil [hanya] apa yang diberikan dan bergembira dalam mengambil [hanya] apa yang diberikan. Ia selalu gemar berderma, bergembira di dalamnya, tanpa kekikiran, dan tidak mengharapkan imbalan. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan pengambilan apa yang tidak diberikan.

Raja besar, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari aktivitas seksual, telah meninggalkan aktivitas seksual. Ia dengan tekun menjalankan kehidupan selibat, bersemangat dalam perilaku baik ini, murni, tanpa cacat, dengan menghindari dari dari keinginan seksual, meninggalkan keinginan seksual. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan aktivitas seksual.

Raja besar, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari ucapan salah, telah meninggalkan ucapan salah. Ia mengatakan kebenaran, bergembira dalam kebenaran, dengan tidak tergoyahkan berkembang dalam kebenaran, sepenuhnya dapat dipercaya, dan tidak akan menipu [orang lain di] dunia. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan ucapan salah.

Raja besar, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari ucapan yang bersifat memecah belah, telah meninggalkan ucapan yang bersifat memecah belah. Ia tidak terlibat dalam ucapan yang bersifat memecah belah, tidak bermaksud menyakiti orang lain. Mendengar sesuatu dari orang ini ia tidak mengatakannya kepada orang itu, untuk menyakiti orang ini; mendengar sesuatu dari orang itu ia tidak mengatakannya kepada orang ini, untuk menyakiti orang itu. Ia memiliki keinginan untuk menyatukan mereka yang terpecah belah, bergembira dalam persatuan. Ia tidak termasuk kelompok mana pun dan tidak bergembira dalam atau memuji pengelompokan. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan ucapan yang bersifat memecah belah.

Raja besar, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari ucapan kasar, telah meninggalkan ucapan kasar. Ia telah meninggalkan jenis ucapan yang terdiri atas kata-kata yang kasar dan tidak sopan dalam nada, kata-kata yang menyakitkan hati yang menjengkelkan bagi telinga, yang tidak dinikmati atau diinginkan orang-orang, yang menyebabkan orang lain menderita dan kesal, dan yang tidak mendukung pada konsentrasi.

Ia mengucapkan jenis ucapan yang terdiri dari kata-kata yang murni, damai, lembut, dan bermanfaat, yang menyenangkan bagi telinga dan memasuki telinga, yang dinikmati dan diinginkan, yang memberikan orang lain kebahagiaan, kata-kata yang mengandung makna, yang tidak membuat orang lain takut, dan yang mendukung orang lain dalam mencapai konsentrasi. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan ucapan kasar.

Raja besar, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari ucapan omong kosong, telah meninggalkan ucapan omong kosong. Ia berkata pada waktu [yang tepat], mengatakan apa yang benar, apa yang merupakan Dharma, apa yang bermakna, apa yang menenangkan, bergembira dalam mengatakan apa yang menenangkan. [Sehubungan dengan] hal [apa pun] ia akan mengajar dengan baik dan menasehati dengan baik, sesuai dengan waktu [yang tepat] dan dengan cara yang tepat. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan ucapan omong kosong.

Raja besar, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari mencari keuntungan, telah meninggalkan pencarian keuntungan. Ia telah meninggalkan timbangan dan pengukuran, meninggalkan menerima barang-barang, ia tidak mengikat orang-orang, tidak berusaha berbuat curang dengan pengukuran, atau ia menipu orang lain demi tujuan beberapaan keuntungan kecil. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan pencarian keuntungan.

Raja besar, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari menerima para janda atau gadis, telah meninggalkan menerima para janda atau gadis. Ia memurnikan pikirannya sehubungan dengan menerima para janda atau gadis.

Raja besar, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari menerima para pelayan laki-laki atau perempuan, telah meninggalkan menerima para pelayan laki-laki dan perempuan. Ia memurnikan pikirannya sehubungan dengan menerima para pelayan laki-laki atau perempuan.

Raja besar, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari menerima gajah, kuda, hewan ternak, atau domba, telah meninggalkan menerima gajah, kuda, hewan ternak, atau domba. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan menerima gajah, kuda, hewan ternak, atau domba.

Raja besar, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari menerima ayam atau babi, telah meninggalkan menerima ayam atau babi. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan menerima ayam atau babi.

Raja besar, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari tanah pertanian atau toko, telah meninggalkan menerima tanah pertanian atau toko. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan menerima tanah pertanian atau toko.

Raja besar, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari menerima beras, gandum, atau kacang polong yang belum dimasak, telah meninggalkan menerima beras, gandum, atau kacang polong yang belum dimasak. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan menerima beras, gandum, atau kacang polong yang belum dimasak.

Raja besar, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari minuman keras, telah meninggalkan minuman keras. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan minuman keras.

Raja besar, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari [penggunaan] tempat tidur yang tinggi atau lebar, telah meninggalkan [penggunaan] tempat tidur yang tinggi atau lebar. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan tempat tidur yang tinggi atau lebar.

Raja besar, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari [penggunaan] kalungan bunga, kalung, wewangian, dan riasan, telah meninggalkan [penggunaan] kalungan bunga, kalung, wewangian, dan riasan. Ia memurnikan pikirannya sehubungan dengan kalungan bunga, kalung, wewangian, dan riasan.

Raja besar, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari bernyanyi, menari, dan berperan [dalam pertunjukan drama], dan dari pergi melihat atau mendengarnya; ia telah meninggalkan nyanyian, tarian, dan peran [dalam pertunjukan drama] dan pergi melihat atau mendengarnya. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan nyanyian, tarian, dan peran [dalam pertunjukan drama], dan pergi melihat atau mendengarnya.

Raja besar, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari menerima emas dan perak, telah meninggalkan menerima emas dan perak. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan menerima emas dan perak.

Raja besar, Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari makan setelah tengah hari, telah meninggalkan makan setelah tengah hari. Ia selalu memakan [hanya] satu kali makan [setiap hari], tidak makan pada malam hari, dengan berlatih makan [hanya] pada waktu [yang tepat]. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan makan setelah tengah hari.

Raja besar, seumur hidupnya Nandipāla sang pembuat tembikar menghindari diri dari mengambil sekop dengan tangannya. Ia tidak menyenangi menggali tanah sendiri atau menyuruh orang lain melakukannya. Jika air telah membersihkan suatu tepi sungai sehingga ia longsor, atau jika tikus telah merusak tanah, ia akan mengambil [tanah] itu dan menggunakannya untuk membuat pot-potnya. Pot-pot ini akan ia letakkan pada satu sisi dan mengatakan kepada para pelanggan: “Jika kalian memiliki kacang polong, beras, gandum, biji rami, kacang bi, atau biji moster, letakkan mereka [sebagai pembayaran] dan ambil pot mana pun yang kalian suka.”

Raja besar, seumur hidupnya Nandipāla sang pembuat tembikar telah merawat ayah dan ibunya, yang buta. Mereka sepenuhnya bergantung pada orang lain, sehingga ia merawat mereka.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. 1 (bagian 6)
« Reply #8 on: 06 April 2016, 08:29:19 PM »
Raja besar, aku ingat bahwa pada masa lampau aku sedang berdiam di kota Vebhaḷiṅga. Raja besar, pada waktu itu, saat fajar, setelah mengenakan jubahku dan mengambil mangkukku, aku memasuki kota Vebhaḷiṅga untuk mengumpulkan dana makanan. Setelah selesai berkeliling mengumpulkan dana makanan dengan urutan [yang benar] [dari rumah ke rumah], aku tiba di rumah Nandipāla sang pembuat tembikar.

Pada waktu itu Nandipāla tidak berada di rumah, setelah pergi karena beberapa urusan kecil. Raja besar, aku bertanya kepada orang tua Nandipāla sang pembuat tembikar, “Tetua, di manakah sang pembuat tembikar sekarang?”

Mereka menjawabku, “Sang Bhagavā, penyokong [kami] sementara tidak berada di rumah, setelah pergi karena beberapa urusan kecil. Sang Sugata, penyokong [kami] sementara tidak berada di rumah, setelah pergi karena beberapa urusan kecil. Sang Bhagavā, terdapat gandum yang telah dimasak dan nasi di keranjang bambu dan terdapat sup kacang di dalam panci. Semoga Sang Bhagavā sendiri mengambil apa yang ia inginkan, demi belas kasih!”

Kemudian, raja besar, sesuai dengan hukum Uttarakuru, aku mengambil nasi dan sup dari keranjang bambu dan panci dan pergi.

Belakangan, ketika Nandipāla sang pembuat tembikar kembali ke rumah dan menemukan bahwa nasi dan sup di keranjang bambu dan panci telah berkurang, ia bertanya kepada orang tuanya, “Siapakah yang telah mengambil sup dan nasi?”

Orang tuanya menjawab, “Putra yang baik, Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, datang ke sini hari ini saat berkeliling mengumpulkan dana makanan. Beliau mengambil nasi dan sup dari keranjang bambu dan panci dan pergi.”

Mendengar hal ini, Nandipāla sang pembuat tembikar berpikir: “Adalah manfaat yang menakjubkan, jasa yang besar bagi kami, bahwa Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, merasa bebas [untuk mengambil apa] yang beliau inginkan  di rumah kita.” Bergembira, ia duduk bersila dengan pikiran yang tenang dan damai, dan berdiam demikian selama tujuh hari. Kegembiraan dan kebahagiaannya berlanjut selama [keseluruhan] lima belas hari; dan orang tuanya juga mengalami kegembiraan dan kebahagiaan selama tujuh hari.

Lagi, raja besar, aku ingat bahwa pada masa lampau aku berdiam di kota Vebhaḷiṅga. Raja besar, pada waktu itu, saat fajar, setelah mengenakan jubahku dan membawa mangkukku, aku memasuki kota Vebhaḷiṅga untuk mengumpulkan dana makanan. Setelah melakukan keliling mengumpulkan dana makanan sesuai dengan urutan, aku tiba di rumah Nandipāla sang pembuat tembikar.

Pada waktu itu, Nandipāla tidak berada di rumah, setelah pergi karena beberapa urusan kecil. Raja besar, aku bertanya kepada orang tua Nandipāla sang pembuat tembikar, “Tetua, di manakah sang pembuat tembikar sekarang?”

Mereka menjawabku, “Sang Bhagavā, penyokong [kami] sementara tidak berada di rumah, setelah pergi karena beberapa urusan kecil. Sang Sugata, penyokong [kami] sementara tidak berada di rumah, setelah pergi karena beberapa urusan kecil. Sang Bhagavā, terdapat nasi di dalam panci besar dan terdapat sup kacang di dalam panci kecil. Semoga Sang Bhagavā sendiri mengambil apa yang ia inginkan, demi [belas kasih]!”

Kemudian, raja besar, sesuai dengan hukum Uttarakuru, aku mengambil nasi dan sup dari panci besar dan panci kecil dan pergi.

Belakangan, ketika Nandipāla sang pembuat tembikar kembali ke rumah dan menemukan bahwa nasi di dalam panci besar dan sup di dalam panci kecil telah berkurang, ia bertanya kepada orang tuanya, “Siapakah yang telah mengambil nasi dari panci besar dan sup dari panci kecil?” Orang tuanya menjawab, “Putra yang baik, Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, datang ke sini hari ini saat berkeliling mengumpulkan dana makanan. Beliau mengambil nasi dan sup dari panci besar dan panci kecil dan pergi.”

Mendengar hal ini, Nandipāla sang pembuat tembikar berpikir: “Adalah manfaat yang menakjubkan, jasa yang besar bagi kami, bahwa Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, merasa bebas [untuk mengambil apa] yang beliau inginkan  di rumah kita.” Bergembira, ia duduk bersila dengan pikiran yang tenang dan damai, dan berdiam demikian selama tujuh hari. Kegembiraan dan kebahagiaannya berlanjut selama [keseluruhan] lima belas hari; dan orang tuanya juga mengalami kegembiraan dan kebahagiaan selama tujuh hari.

Lagi, raja besar, aku ingat bahwa pada masa lampau aku sedang menghabiskan pengasingan musim hujan bergantung pada kota Vebhaḷiṅga. Raja besar, pada waktu itu gubukku yang baru dibangun belum beratap. Gubuk pembuatan tembikar tua Nandipāla sang pembuat tembikar telah beratap baru.

Raja besar, aku berkata kepada para bhikkhu pelayanku, “Pergilah dan bongkar [atap] gubuk pembuatan tembikar tua Nandipāla sang pembuat tembikar dan bawa atap itu untuk mengatapi gubukku!”

Kemudian para bhikkhu pelayan itu, mengikuti instruksiku, pergi ke rumah Nandipāla sang pembuat tembikar, membongkar [atap] gubuk pembuatan tembikar tua, mengikatnya bersama, dan membawanya untuk mengatapi gubukku.

Orang tua Nandipāla sang pembuat tembikar mendengar [suara atap] gubuk pembuatan tembikar tua yang dibongkar. Mendengarnya, mereka bertanya, “Siapakah yang membongkar [atap] gubuk pembuatan tembikar tua Nandipāla sang pembuat tembikar?”

Para bhikkhu pelayan itu menjawab, “Tetua, kami adalah para bhikkhu pelayan Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna. Kami membongkar [atap] gubuk pembuatan tembikar tua Nandipāla sang pembuat tembikar, mengikatnya bersama, dan membawanya untuk mengatapi gubuk Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna.”

Orang tua Nandipāla sang pembuat tembikar, “Yang Mulia, ambillah apa pun yang kalian inginkan, tanpa batasan!”

Belakangan, ketika Nandipāla sang pembuat tembikar kembali ke rumah dan menemukan bahwa [atap] gubuk pembuatan tembikar tua telah dibongkar, ia bertanya kepada orang tuanya, “Siapakah yang telah membongkar [atap] gubuk pembuatan tembikarku yang tua?”

Orang tuanya menjawab, “Putra yang baik, hari ini para bhikkhu pelayan Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, membongkar [atap] gubuk pembuatan tembikar tua, mengikatnya bersama, dan membawanya untuk mengatapi gubuk Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna.”

Mendengar hal ini, Nandipāla sang pembuat tembikar berpikir: “Adalah manfaat yang menakjubkan, jasa yang besar bagi kami, bahwa Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, merasa bebas [untuk mengambil apa] yang beliau inginkan  di rumah kita.” Bergembira, ia duduk bersila dengan pikiran yang tenang dan damai, dan berdiam demikian selama tujuh hari. Kegembiraan dan kebahagiaannya berlanjut selama [keseluruhan] lima belas hari; dan orang tuanya juga mengalami kegembiraan dan kebahagiaan selama tujuh hari.

Raja besar, gubuk pembuatan tembikar tua Nandipāla sang pembuat tembikar tidak dipengaruhi oleh hujan selama keseluruhan empat bulan musim hujan itu. Mengapa demikian? Karena ia dilindungi oleh kekuatan hebat seorang Buddha.

Raja besar, Nandipāla sang pembuat tembikar dapat menahannya, bukan tidak menyukainya, dan tidak bersedih atau tertekan dalam hatinya [saat berpikir]: “Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, merasa bebas [melakukan seperti] yang ia inginkan di rumah kita.” Anda, raja besar, tidak dapat menahannya dan tidak menyukainya, dan anda memiliki dukacita besar dan kesengsaraan dalam hatimu [saat berpikir]: “Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, bersama-sama dengan kumpulan para bhikkhu, tidak menerima undanganku untuk menghabiskan pengasingan musim hujan di sini di Benares.”

Kemudian Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, mengajarkan Dharma kepada Raja Kiki, dengan menasehati, mendorong, dan menggembirakannya. Setelah, dengan tak terhitung cara terampil, mengajarkannya Dharma, setelah menasehati, mendorong, dan menggembirakannya, [Tathāgata Kassapa] bangkit dari tempat duduknya dan pergi.

Kemudian, tak lama setelah Tathāgata Kassapa, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, telah pergi, Raja Kiki berkata kepada para pelayannya, “Isikan lima ratus kereta dengan beras putih dan makanan dengan berbagai rasa, sama dengan apa yang dimakan seorang raja, bawa mereka ke rumah Nandipāla sang pembuat tembikar, dan katakan kepadanya, ‘Nandipāla, Raja Kiki mengirimkan lima ratus kereta dari beras putih dan makanan dengan berbagai rasa, sama dengan apa yang dimakan seorang raja, untuk diberikan kepada anda. Anda harus menerimanya sekarang demi belas kasih!’”

Kemudian para pelayan itu, setelah menerima perintah raja ini, mengisi lima ratus kereta dengan beras putih dan makanan dengan berbagai rasa, sama dengan apa yang dimakan seorang raja, membawanya ke rumah Nandipāla sang pembuat tembikar, dan berkata kepadanya, “Nandipāla, Raja Kiki mengirimkan lima ratus kereta dari beras putih dan makanan dengan berbagai rasa, sama dengan apa yang dimakan seorang raja, untuk diberikan kepada anda. Anda harus menerimanya sekarang demi belas kasih!”

Kemudian Nandipāla sang pembuat tembikar dengan sopan menolaknya dan tidak menerima [pemberian itu], dengan berkata kepada para pelayan itu, “Teman-teman yang mulia, dalam rumah tangga dan negeri Raja Kiki terdapat banyak urusan besar yang memerlukan pengeluaran yang sangat banyak. Mengetahui hal ini, aku tidak menerima [pemberian beliau].”

Sang Buddha berkata kepada Ānanda:

Apakah yang engkau pikirkan? Apakah engkau berpikir bahwa brahmana muda Uttara adalah orang lain [selain diriku]? Janganlah berpikir demikian. Engkau seharusnya mengetahui bahwa ia adalah diriku.

Pada waktu itu, Ānanda, aku ingin memberi manfaat bagi diri sendiri, memberi manfaat bagi orang lain, memberi manfaat bagi banyak orang; aku memiliki belas kasih terhadap seluruh dunia, dan aku mencari kesejahteraan, manfaat, kedamaian, dan kebahagiaan untuk para dewa dan manusia.

Dalam ajaran yang diajarkan pada waktu itu aku tidak mencapai yang tertinggi, kemurnian tertinggi, kehidupan suci tertinggi, penyelesaian tertinggi kehidupan suci. Pada waktu itu aku tidak dapat meninggalkan kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, dukacita, dan kesengsaraan, dan aku tidak dapat mencapai pembebasan dari semua penderitaan.

Ānanda, aku sekarang telah muncul di dunia ini sebagai seorang Tathāgata, bebas dari kemelekatan, tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, seorang Yang Pergi dengan baik, pengenal dunia, pemimpin yang tiada bandingnya dari orang-orang yang dijinakkan, guru para dewa dan manusia, seorang Buddha, seorang Yang Beruntung.

Aku sekarang memberi manfaat bagi diriku sendiri, memberi manfaat bagi banyak orang; aku memiliki belas kasih terhadap dunia, dan aku mencari kesejahteraan, manfaat, kedamaian, dan kebahagiaan untuk para dewa dan manusia.

Ajaran yang sekarang kuberikan membawa pada yang tertinggi, adalah kemurnian tertinggi, penyelesaian tertinggi kehidupan suci. Aku sekarang telah meninggalkan kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, dukacita, dan kesengsaraan. Aku sekarang telah mencapai pembebasan sempurna dari penderitaan.

Ini adalah apa yang dikatakan Sang Buddha. Setelah mendengarkan perkataan Sang Buddha, Yang Mulia Ānanda dan para bhikkhu [lainnya] bergembira dan mengingatnya dengan baik.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. 1 (bagian 6)
« Reply #9 on: 06 April 2016, 08:41:19 PM »
64. Kotbah tentang Utusan Surgawi<162>

Demikianlah telah kudengar: Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu, Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:

Dengan mata dewa, yang dimurnikan dan melampaui [penglihatan] manusia, aku melihat makhluk-makhluk ketika mereka meninggal dan ketika mereka terlahir kembali gagah atau jelek, bagus atau tidak bagus, ketika mereka datang dan pergi di antara alam-alam kehidupan yang baik atau buruk sesuai dengan perbuatan-perbuatan mereka [sebelumnya]. Aku melihat ini sebagaimana adanya.

Jika makhluk-makhluk ini berperilaku buruk dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, menghina orang-orang mulia, menganut pandangan salah, dan melakukan perbuatan [berdasarkan] pandangan salah, maka karena sebab dan kondisi ini, ketika hancurnya tubuh, setelah kematian, mereka pasti akan terlahir kembali di alam kehidupan yang buruk, di neraka.

[Namun] jika makhluk-makhluk ini berperilaku baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, tidak menghina orang-orang mulia, menganut pandangan benar, dan melakukan perbuatan [berdasarkan] pandangan benar, maka karena sebab dan kondisi ini, ketika hancurnya tubuh, setelah kematian, mereka pasti terlahir kembali di alam kehidupan yang baik, di alam surga.

Seperti halnya, ketika hujan turun deras dan gelembung-gelembung muncul dan lenyap pada permukaan air, kemudian jika seseorang dengan penglihatan yang baik berdiri di suatu tempat [yang dekat], ia [dapat] mengamati [gelembung-gelembung itu] ketika mereka muncul dan lenyap. Dengan cara yang sama, dengan mata dewa, yang dimurnikan dan melampaui [penglihatan] manusia, aku melihat makhluk-makhluk ketika mereka meninggal dan ketika mereka terlahir kembali gagah atau jelek, bagus atau tidak bagus, ketika mereka datang dan pergi di antara alam-alam kehidupan yang baik atau buruk sesuai dengan perbuatan-perbuatan mereka [sebelumnya]. Aku melihat ini sebagaimana adanya.

Jika makhluk-makhluk ini berperilaku buruk dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, menghina orang-orang mulia, menganut pandangan salah, dan melakukan perbuatan [berdasarkan] pandangan salah, maka karena sebab dan kondisi ini, ketika hancurnya tubuh, setelah kematian, mereka pasti akan terlahir kembali di alam kehidupan yang buruk, di neraka.

[Namun] jika makhluk-makhluk ini berperilaku baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, tidak menghina orang-orang mulia, menganut pandangan benar, dan melakukan perbuatan [berdasarkan] pandangan benar, maka karena sebab dan kondisi ini, ketika hancurnya tubuh, setelah kematian, mereka pasti terlahir kembali di alam kehidupan yang baik, di alam surga.

Seperti halnya, ketika hujan turun deras dan tetesan air hujan jatuh di [tempat] yang lebih tinggi atau di [tempat] yang lebih rendah, kemudian jika seseorang dengan penglihatan yang baik berdiri di suatu tempat [yang dekat], ia [dapat] mengamati mereka ketika mereka jatuh di [tempat] yang lebih tinggi atau di [tempat] yang lebih rendah. Dengan cara yang sama, dengan mata dewa, yang dimurnikan dan melampaui [penglihatan] manusia, aku melihat makhluk-makhluk ketika mereka meninggal dan ketika mereka terlahir kembali gagah atau jelek, bagus atau tidak bagus, ketika mereka datang dan pergi di antara alam-alam kehidupan yang baik atau buruk sesuai dengan perbuatan-perbuatan mereka [sebelumnya]. Aku melihat ini sebagaimana adanya.

Jika makhluk-makhluk ini berperilaku buruk dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, menghina orang-orang mulia, menganut pandangan salah, dan melakukan perbuatan [berdasarkan] pandangan salah, maka karena sebab dan kondisi ini, ketika hancurnya tubuh, setelah kematian, mereka pasti akan terlahir kembali di alam kehidupan yang buruk, di neraka.

[Namun] jika makhluk-makhluk ini berperilaku baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, tidak menghina orang-orang mulia, menganut pandangan benar, dan melakukan perbuatan [berdasarkan] pandangan benar, maka karena sebab dan kondisi ini, ketika hancurnya tubuh, setelah kematian, mereka pasti terlahir kembali di alam kehidupan yang baik, di alam surga.

Seperti halnya jika terdapat suatu permata beril, yang secara alamiah murni dan jernih, tanpa cacat atau ketidakmurnian apa pun, bersisi delapan, dipotong dengan baik, yang diuntai pada seutas benang yang bagus berwarna biru, kuning, merah, hitam, atau putih; jika seseorang dengan penglihatan yang baik berdiri di suatu tempat [yang dekat], ia [dapat] mengamati permata beril ini, yang secara alamiah murni dan jernih, tanpa cacat atau ketidakmurnian apa pun, bersisi delapan, dipotong dengan baik, yang diuntai pada seutas benang yang bagus berwarna biru, kuning, merah, hitam, atau putih. Dengan cara yang sama, dengan mata dewa, yang dimurnikan dan melampaui [penglihatan] manusia, aku melihat makhluk-makhluk ketika mereka meninggal dan ketika mereka terlahir kembali gagah atau jelek, bagus atau tidak bagus, ketika mereka datang dan pergi di antara alam-alam kehidupan yang baik atau buruk sesuai dengan perbuatan-perbuatan mereka [sebelumnya]. Aku melihat ini sebagaimana adanya.

Jika makhluk-makhluk ini berperilaku buruk dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, menghina orang-orang mulia, menganut pandangan salah, dan melakukan perbuatan [berdasarkan] pandangan salah, maka karena sebab dan kondisi ini, ketika hancurnya tubuh, setelah kematian, mereka pasti akan terlahir kembali di alam kehidupan yang buruk, di neraka.

[Namun] jika makhluk-makhluk ini berperilaku baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, tidak menghina orang-orang mulia, menganut pandangan benar, dan melakukan perbuatan [berdasarkan] pandangan benar, maka karena sebab dan kondisi ini, ketika hancurnya tubuh, setelah kematian, mereka pasti terlahir kembali di alam kehidupan yang baik, di alam surga.

Seperti halnya jika terdapat dua ruangan yang dihubungkan dengan sebuah pintu di mana banyak orang pergi masuk dan keluar; jika seseorang dengan penglihatan yang baik berdiri di suatu tempat [yang dekat], ia [dapat] mengamati mereka ketika mereka pergi masuk dan keluar. Dengan cara yang sama, dengan mata dewa, yang dimurnikan dan melampaui [penglihatan] manusia, aku melihat makhluk-makhluk ketika mereka meninggal dan ketika mereka terlahir kembali gagah atau jelek, bagus atau tidak bagus, ketika mereka datang dan pergi di antara alam-alam kehidupan yang baik atau buruk sesuai dengan perbuatan-perbuatan mereka [sebelumnya]. Aku melihat ini sebagaimana adanya.

Jika makhluk-makhluk ini berperilaku buruk dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, menghina orang-orang mulia, menganut pandangan salah, dan melakukan perbuatan [berdasarkan] pandangan salah, maka karena sebab dan kondisi ini, ketika hancurnya tubuh, setelah kematian, mereka pasti akan terlahir kembali di alam kehidupan yang buruk, di neraka.

[Namun] jika makhluk-makhluk ini berperilaku baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, tidak menghina orang-orang mulia, menganut pandangan benar, dan melakukan perbuatan [berdasarkan] pandangan benar, maka karena sebab dan kondisi ini, ketika hancurnya tubuh, setelah kematian, mereka pasti terlahir kembali di alam kehidupan yang baik, di alam surga.

Seperti halnya seseorang dengan penglihatan yang baik, berdiri di puncak sebuah bangunan yang tinggi, [dapat] mengamati orang-orang di bawah datang dan pergi, berkeliling di sekitar, duduk, berbaring, berjalan, atau [bahkan] melompat. Dengan cara yang sama, dengan mata dewa, yang dimurnikan dan melampaui [penglihatan] manusia, aku melihat makhluk-makhluk ketika mereka meninggal dan ketika mereka terlahir kembali gagah atau jelek, bagus atau tidak bagus, ketika mereka datang dan pergi di antara alam-alam kehidupan yang baik atau buruk sesuai dengan perbuatan-perbuatan mereka [sebelumnya]. Aku melihat ini sebagaimana adanya.

Jika makhluk-makhluk ini berperilaku buruk dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, menghina orang-orang mulia, menganut pandangan salah, dan melakukan perbuatan [berdasarkan] pandangan salah, maka karena sebab dan kondisi ini, ketika hancurnya tubuh, setelah kematian, mereka pasti akan terlahir kembali di alam kehidupan yang buruk, di neraka.

[Namun] jika makhluk-makhluk ini berperilaku baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, tidak menghina orang-orang mulia, menganut pandangan benar, dan melakukan perbuatan [berdasarkan] pandangan benar, maka karena sebab dan kondisi ini, ketika hancurnya tubuh, setelah kematian, mereka pasti terlahir kembali di alam kehidupan yang baik, di alam surga.

Jika suatu makluk, yang terlahir di alam manusia, tidak berbakti kepada orang tuanya, tidak menghormati para pertapa dan brahmana, tidak berperilaku jujur, tidak melakukan perbuatan berjasa, dan tidak takut terhadap akibat yang dihasilkan oleh perbuatan jahat pada kehidupan berikutnya, maka karena sebab dan kondisi ini, ketika hancurnya tubuh, setelah kematian, ia terlahir kembali di alam Raja Yama.

Para petugas Raja Yama membawa [pelaku itu] kepada Raja Yama, dengan berkata:

Yang Mulia, sebelumnya, ketika [terlahir sebagai] seorang manusia, makhluk ini tidak berbakti kepada orang tuanya, tidak menghormati para pertapa dan brahmana, tidak berperilaku jujur, tidak melakukan perbuatan berjasa, dan tidak takut terhadap akibat yang dihasilkan perbuatan jahat pada kehidupan berikutnya. Semoga yang mulia mengadili perbuatan-perbuatan jahatnya!

Kemudian Raja Yama menggunakan [perumpamaan tentang] utusan surgawi pertama untuk secara menyeluruh menanyai, memeriksa, mengajarkan, dan menegurnya: “Apakah engkau pernah melihat kedatangan utusan surgawi pertama?”

Orang itu menjawab, “Tidak, yang mulia, aku tidak melihatnya.”

Raja Yama bertanya lagi:

Apakah engkau tidak pernah melihat, di suatu desa atau kota, seorang bayi kecil, laki-laki atau perempuan, dengan tubuh yang lemah, lembut, berbaring pada kotoran dan air seninya sendiri, tidak dapat berkata kepada orang tuanya: “Ayah, ibu, bawalah aku pergi dari tempat yang kotor ini! Mandikanlah tubuh ini dan buat ia bersih!”?

Orang itu menjawab, “Aku telah melihatnya, yang mulia.”

Raja Yama bertanya lagi:

Ketika mengingat hal ini kemudian, mengapa engkau tidak berpikir, “Aku sendiri [juga] tunduk pada hukum kelahiran, aku tidak bebas dari kelahiran, dan oleh sebab itu aku seharusnya melakukan perbuatan baik dengan jasmani, ucapan, dan pikiran”?

Orang itu berkata, “Yang mulia, aku benar-benar jahat. Apakah kemunduranku yang diperpanjang akan [menyebabkanku] menderita kerugian?”

Raja Yama berkata:

Engkau benar-benar jahat, dan kemunduranmu yang diperpanjang [akan menyebabkanmu] menderita kerugian. Sekarang aku akan memeriksa dan menghukummu sebagai seorang yang lalai yang berbuat dengan kelalaian. Perbuatan jahatmu tidak dilakukan oleh orang tuamu, atau oleh para raja, para dewa, para pertapa, atau para brahmana. Engkau sendiri melakukan perbuatan jahat dan tidak bermanfaat. Oleh sebab itu, engkau sekarang pasti akan mengalami akibat [atas perbuatan jahat itu].

Setelah menggunakan [perumpamaan tentang] utusan surgawi pertama untuk secara menyeluruh menanyai, memeriksa, mengajarkan, dan menegurnya, Raja Yama juga menggunakan [perumpamaan tentang] utusan surgawi kedua untuk secara menyeluruh menanyai, memeriksa, mengajarkan, dan menegurnya: “Apakah engkau pernah melihat kedatangan utusan surgawi kedua?”

Orang itu menjawab, “Tidak, yang mulia, aku tidak melihatnya.”

Kemudian Raja Yama bertanya lagi:

Apakah engkau tidak pernah melihat, di suatu desa atau kota, seorang laki-laki atau perempuan yang sangat tua, yang sangat renta, dalam kesakitan yang hebat dan mendekati kematian, dengan gigi yang ompong dan rambut yang memutih, dengan tubuh yang bungkuk, berjalan disokong dengan sebuah tongkat, dan dengan tubuh yang bergemetaran?

Orang itu menjawab, “Aku telah melihatnya, yang mulia.”

Raja Yama bertanya lagi:

Ketika mengingat hal ini kemudian, mengapa engkau tidak berpikir, “Aku sendiri [juga] tunduk pada usia tua, aku tidak bebas dari usia tua, dan oleh sebab itu aku seharusnya melakukan perbuatan baik dengan jasmani, ucapan, dan pikiran.”
Orang itu berkata, “Yang mulia, aku benar-benar jahat. Apakah kemunduranku yang diperpanjang akan [menyebabkanku] menderita kerugian?”

Raja Yama berkata:

Engkau benar-benar jahat, dan kemunduranmu yang diperpanjang [akan menyebabkanmu] menderita kerugian. Sekarang aku akan memeriksa dan menghukummu sebagai seorang yang lalai yang berbuat dengan kelalaian. Perbuatan jahatmu tidak dilakukan oleh orang tuamu, atau oleh para raja, para dewa, para pertapa, para brahmana. Engkau sendiri melakukan perbuatan jahat dan tidak bermanfaat. Oleh sebab itu, engkau sekarang pasti akan mengalami akibat [atas perbuatan jahat itu].

Setelah menggunakan [perumpamaan tentang] utusan surgawi kedua untuk secara menyeluruh menanyai, memeriksa, mengajarkan, dan menegurnya, Raja Yama menggunakan [perumpamaan tentang] utusan surgawi ketiga untuk secara menyeluruh menanyai, memeriksa, mengajarkan, dan menegurnya: “Apakah engkau pernah melihat kedatangan utusan surgawi ketiga?”

Orang itu menjawab, “Tidak, yang mulia, aku tidak melihatnya.”

Raja Yama bertanya lagi:

Apakah engkau tidak pernah melihat, di suatu desa atau kota, seorang laki-laki atau perempuan yang sakit parah, duduk atau berbaring di sebuah tempat tidur atau dipan, atau di atas tanah, dengan rasa sakit yang hebat, rasa sakit parah yang muncul dalam tubuh, yang [sepenuhnya] tidak diinginkan dan [akhirnya] akan menyebabkan kematian?

Orang itu menjawab, “Aku telah melihatnya, yang mulia.”

Raja Yama bertanya lagi:

Ketika mengingat hal ini kemudian, mengapa engkau tidak berpikir, “Aku sendiri [juga] tunduk pada penyakit, aku tidak bebas dari penyakit, dan oleh sebab itu aku seharusnya melakukan perbuatan baik dengan jasmani, ucapan, dan pikiran”?

Orang itu berkata, “Yang mulia, aku benar-benar jahat. Apakah kemunduran[ku] yang diperpanjang akan [menyebabkanku] menderita kerugian?”

Raja Yama berkata:

Engkau benar-benar jahat, dan kemunduranmu yang diperpanjang [akan menyebabkanmu] menderita kerugian. Sekarang aku akan memeriksa dan menghukummu sebagai seorang yang lalai yang berbuat dengan kelalaian. Perbuatan jahatmu tidak dilakukan oleh orang tuamu, atau oleh para raja, para dewa, para pertapa, atau para brahmana. Engkau sendiri melakukan perbuatan jahat dan tidak bermanfaat. Oleh sebab itu, engkau sekarang pasti akan mengalami akibat [atas perbuatan jahat itu].

Setelah menggunakan [perumpamaan tentang] utusan surgawi ketiga untuk secara menyeluruh menanyai, memeriksa, mengajarkan, dan menegurnya, Raja Yama menggunakan [perumpamaan tentang] utusan surgawi keempat untuk secara menyeluruh menanyai, memeriksa, mengajarkan, dan menegurnya: “Apakah engkau pernah melihat kedatangan utusan surgawi keempat?”

Orang itu menjawab, “Tidak, yang mulia, aku tidak melihatnya.”

Raja Yama bertanya lagi:

Apakah engkau tidak pernah melihat, di suatu desa atau kota, seorang laki-laki atau perempuan, pada waktu kematian, atau telah meninggal satu hari, atau dua hari, atau sampai enam atau tujuh hari, dipatuki oleh burung gagak, dimakan oleh anjing hutan dan serigala, atau telah terbakar oleh api, dikubur di dalam tanah, atau membusuk dan hancur?

Orang itu menjawab, “Aku telah melihatnya, yang mulia.”

Raja Yama bertanya lagi:

Ketika mengingat hal ini kemudian, mengapa engkau tidak berpikir, “Aku sendiri [juga] tunduk pada kematian, aku tidak bebas dari kematian, dan oleh sebab itu aku seharusnya melakukan perbuatan baik dengan jasmani, ucapan, dan pikiran”?

Orang itu berkata, “Yang mulia, aku benar-benar jahat. Apakah kemunduranku yang diperpanjang akan [menyebabkanku] menderita kerugian?”

Raja Yama berkata:

Engkau benar-benar jahat, dan kemunduranmu yang diperpanjang [akan menyebabkanmu] menderita kerugian. Sekarang aku akan memeriksa dan menghukummu sebagai seorang yang lalai yang berbuat dengan kelalaian. Perbuatan jahatmu tidak dilakukan oleh orang tuamu, atau oleh para raja, para dewa, para pertapa, atau para brahmana. Engkau sendiri melakukan perbuatan jahat dan tidak bermanfaat. Oleh sebab itu, engkau sekarang pasti akan mengalami akibat [atas perbuatan jahat itu].

Setelah menggunakan [perumpamaan tentang] utusan surgawi keempat untuk secara menyeluruh menanyai, memeriksa, mengajarkan, dan menegurnya, Raja Yama menggunakan [perumpamaan tentang] utusan surgawi kelima untuk secara menyeluruh menanyai, memeriksa, mengajarkan, dan menegurnya: “Apakah engkau pernah melihat kedatangan utusan surgawi kelima?”

Orang itu menjawab, “Tidak, yang mulia, aku tidak melihatnya.”

Raja Yama bertanya lagi:

Apakah engkau tidak pernah melihat bahwa para petugas raja menangkap para penjahat dan menghukum mereka dengan berbagai siksaan seperti memotong tangan mereka atau memotong kaki mereka, atau memotong tangan dan kaki mereka, atau memotong telinga mereka, atau memotong hidung mereka, atau memotong telinga dan hidung mereka, memotong-motong [mereka menjadi potongan], merobek janggut mereka, atau merobek rambut mereka, atau merobek janggut dan rambut mereka, menempatkan mereka di dalam kurungan dan membakar pakaian mereka, atau membungkus mereka dalam jerami dan membakarnya, menempatkan [mereka] dalam keledai besi, atau dalam mulut babi besi, atau dalam mulut macan besi yang kemudian [dipanaskan] dengan api, menempatkan mereka dalam ketel tembaga atau ketel besi dan merebus mereka, atau memotong mereka menjadi potongan, atau menusuk mereka dengan garpu tajam, atau menyangkutkan mereka dengan kaitan, atau membaringkan mereka di atas tempat tidur besi dan membakar mereka dengan minyak mendidih, atau mendudukkan mereka di dalam tumbukan besi dan menumbuk mereka dengan alu besi, atau [menyebabkan mereka digigit oleh] ular besar, ular, dan kadal, atau mencambuk mereka dengan cambuk, atau memukul mereka dengan tongkat, atau memukul mereka dengan pentungan, atau menusuk mereka hidup-hidup pada tonggak tinggi, atau memenggal kepala mereka?

Orang itu menjawab, “Aku telah melihatnya, yang mulia.”

Raja Yama bertanya lagi, “Ketika mengingat hal ini kemudian, mengapa engkau tidak berpikir, ‘Aku tunduk, di sini dan saat ini pada masa sekarang, pada [akibat dari] [perbuatan] jahat, tidak bermanfaat [masa lampau]’?”

Orang itu berkata, “Yang mulia, aku benar-benar jahat. Apakah kemunduranku yang diperpanjang akan [menyebabkanku] menderita kerugian?”

Raja Yama berkata:

Engkau benar-benar jahat, dan kemunduranmu yang diperpanjang [akan menyebabkanmu] menderita kerugian. Sekarang aku akan memeriksa dan menghukummu sebagai seorang yang lalai yang berbuat dengan kelalaian. Perbuatan jahatmu tidak dilakukan oleh orang tuamu, atau oleh para raja, para dewa, para pertapa, atau para brahmana. Engkau sendiri melakukan perbuatan jahat dan tidak bermanfaat. Oleh sebab itu, engkau sekarang pasti akan mengalami akibat [atas perbuatan jahat itu].

Setelah menggunakan [perumpamaan tentang] utusan surgawi kelima untuk secara menyeluruh menanyai, memeriksa, mengajarkan, dan menegurnya, Raja Yama menyerahkannya kepada para petugas neraka. Para petugas neraka memegangnya dan menempatkannya ke dalam neraka besar dengan empat pintu gerbang.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. 1 (bagian 6)
« Reply #10 on: 06 April 2016, 08:42:16 PM »
[Kemudian Sang Buddha] mengulangi sebuah syair:

Ia memiliki empat ruangan dan empat pintu gerbang,
Keduabelas sisinya dikelilingi oleh
Dinding yang terbuat dari besi
Di atas, ia ditutupi dengan sebuah [atap] besi.

Di dalam neraka itu lantainya dari besi,
Besi, yang semuanya berkobar-kobar dengan nyala dan api.
Ia tidak terukur liga kedalamannya,
Sampai ke dasar bumi.

[Ia] sangat kejam, tidak tertahankan.
Cahaya apinya tidak dapat dilihat.
Melihatnya, rambut tubuh seseorang berdiri tegak,
Karena ketakutan dan kengerian dari penderitaaan yang besar ini.

[Orang itu], terlahir kembali di neraka [ini],
Turun dari kepala sampai tumit,
[Karena ia] menghina orang-orang mulia,
Yang terdisiplinkan, termurnikan sepenuhnya.<163>

[Datanglah] waktunya setelah periode yang sangat lama ketika, demi kepentingan makhluk-makhluk itu, pintu gerbang timur dari neraka besar dengan empat pintu gerbang terbuka. Setelah pintu gerbang timur terbuka, para makhluk itu berlari menuju pintu gerbang itu, mencari suatu tempat yang aman, suatu tempat berlindung.

[Tetapi ketika] tak terhitung ratusan dan ribuan makhluk telah berkumpul di sana, pintu gerbang timur neraka itu menutup lagi dengan sendirinya. [Para makhluk] di dalam mengalami penderitaan luar biasa, menangis dan meratap, berbaring di atas tanah dengan keputusasaan sama sekali; tetapi mereka tidak dapat meninggal sampai [akibat] perbuatan jahat dan tidak bermanfaat mereka telah sepenuhnya habis.

Lagi, [setelah] suatu periode yang sangat lama pintu gerbang selatan ... pintu gerbang barat ... pintu gerbang utara terbuka. Setelah pintu gerbang utara terbuka, para makhluk itu berlari menuju pintu gerbang itu, mencari suatu tempat yang aman, suatu tempat berlindung. [Tetapi ketika] tak terhitung ratusan dan ribuan makhluk telah berkumpul di sana, pintu gerbang utara neraka itu menutup lagi dengan sendirinya. [Para makhluk] di dalam mengalami penderitaan luar biasa, menangis dan meratap, berbaring di atas tanah dengan keputusasaan sama sekali; tetapi mereka tidak dapat meninggal sampai [akibat] perbuatan jahat dan tidak bermanfaat mereka telah sepenuhnya habis.

Lagi, setelah periode yang sangat lama, para makhluk itu muncul dari neraka besar dengan empat pintu gerbang. Setelah [berada] di neraka besar dengan empat pintu gerbang, mereka muncul di neraka [besar] dengan puncak yang tinggi, yang terbakar dengan api di dalam [tetapi] tidak [menghasilkan] asap atau nyala api. Mereka dipaksa untuk berjalan di atasnya, berjalan bolak-balik dan berkeliling-keliling. Kulit, daging, dan darah dari kedua kaki mereka lenyap [karena terbakar] ketika mereka meletakkan kaki mereka ke bawah, tetapi ia muncul kembali dan menjadi seperti sebelumnya ketika mereka mengangkat kaki mereka ke atas. Mereka dihukum dengan cara ini selama tak terhitung ratusan dan ribuan tahun, menahan penderitaan luar biasa; tetapi mereka tidak dapat meninggal sampai [akibat] perbuatan jahat dan tidak bermanfaat mereka telah sepenuhnya habis.

Lagi, setelah periode yang sangat lama, para makhluk itu muncul dari neraka besar dengan puncak yang tinggi. Setelah [berada] di neraka besar dengan puncak yang tinggi, mereka muncul di neraka besar dari kotoran, yang dipenuhi dengan kotoran, tak terhitung ribuan kaki dalamnya. Para makhluk itu semuanya jatuh ke dalamnya. Di dalam neraka besar dari kotoran muncul sangat banyak cacing yang disebut lingqu-lai, dengan tubuh putih, kepala hitam, dan mulut bagaikan jarum.

Cacing-cacing ini mengerogoti kaki para makhluk itu dan memakannya. Setelah memakan kaki, mereka menggerogoti dan memakan tulang betis. Setelah memakan tulang betis, mereka menggerogoti dan memakan tulang paha. Setelah memakan tulang paha, mereka menggerogoti dan memakan tulang pinggul. Setelah memakan tulang pinggul, mereka menggerogoti dan memakan tulang belakang.

Setelah memakan tulang belakang, mereka menggerogoti dan memakan tulang bahu, tulang leher, dan tengkorak. Setelah memakan tenggorak, mereka memakan otak. Para makhluk itu disiksa dengan cara ini selama tak terhitung ratusan dan ribuan tahun, menahan penderitaan luar biasa; tetapi mereka tidak dapat meninggal sampai [akibat] perbuatan jahat dan tidak bermanfaat mereka telah sepenuhnya habis.

Lagi, setelah periode yang sangat lama, para makhluk itu muncul dari neraka besar dari kotoran. Setelah [berada] di neraka besar dari kotoran, mereka muncul di neraka besar dari hutan berdaun besi. Setelah melihatnya, para makhluk itu memiliki kesan kesejukan dan mereka berpikir: “Marilah kita pergi ke sana secepatnya untuk menyejukkan diri!” Para makhluk itu pergi menuju [hutan ini], mencari suatu tempat yang aman, suatu tempat berlindung.

Kemudian tak terhitung ratusan dan ribuan makhluk yang telah berkumpul memasuki neraka besar dari hutan berdaun besi. Di neraka besar dari hutan berdaun besi, angin panas besar bertiup dari empat arah. Setelah bertiupnya angin panas, daun-daun besi berguguran. Ketika daun-daun besi berguguran, mereka memotong tangan, kaki, atau tangan dan kaki; mereka memotong telinga, hidung, atau telinga dan hidung, dan anggota tubuh lainnya. [Para makhluk itu] terpotong-potong tubuhnya dan berlumuran dengan darah selama tak terhitung ratusan dan ribuan tahun, menahan penderitaan luar biasa; tetapi mereka tidak dapat meninggal sampai [akibat] perbuatan jahat dan tidak bermanfaat mereka telah sepenuhnya habis.

Lagi, di neraka besar dari hutan berdaun besi muncul anjing-anjing raksasa dengan gigi taring yang sangat panjang. Mereka menggigit para makhluk itu, menyobek kulit mereka dari kaki sampai kepala dan memakannya, atau memotong kulit mereka dari kepala sampai kaki dan memakannya. [Para makhluk itu] disiksa dengan cara ini selama tak terhitung ratusan dan ribuan tahun, menahan penderitaan luar biasa; tetapi mereka tidak dapat meninggal sampai [akibat] perbuatan jahat dan tidak bermanfaat mereka telah sepenuhnya habis.

Lagi, di neraka besar dari hutan berdaun besi muncul burung gagak dengan dua kepala dan paruh besi. Mereka berdiri pada dahi para makhluk itu, mencungkil mata mereka hidup-hidup dan menelannya, membelah tenggorak dengan paruh mereka, dan mengeluarkan otak dan memakannya. Para makhluk itu disiksa dengan cara ini selama tak terhitung ratusan dan ribuan tahun, menahan penderitaan luar biasa; tetapi mereka tidak dapat meninggal sampai [akibat] perbuatan jahat dan tidak bermanfaat mereka telah sepenuhnya habis.

Lagi, setelah periode yang sangat lama para makhluk itu muncul dari neraka besar dari hutan berdaun besi. Setelah [berada] di neraka dari hutan berdaun besi, mereka muncul di neraka besar dari hutan pohon pedang besi.

Pohon-pohon pedang besi itu satu liga tingginya dan memiliki duri kira-kira enam kaki panjangnya. Para makhluk itu diperintahkan untuk memanjat naik dan turun pohon itu. Ketika mereka memanjat naik pohon itu, duri-durinya berubah arah ke bawah. Ketika mereka menuruni pohon itu, duri-durinya berubah arah ke atas. Duri-duri dari pohon pedang menusuk para makhluk itu, menusuk tangan mereka, kaki mereka, atau tangan dan kaki mereka; menusuk telinga mereka, hidung mereka, atau telinga dan hidung mereka, dan anggota tubuh lainnya. [Para makhluk itu] tertusuk-tusuk tubuhnya dan berlumuran dengan darah selama tak terhitung ratusan dan ribuan tahun, menahan penderitaan luar biasa; tetapi mereka tidak dapat meninggal sampai [akibat] perbuatan jahat dan tidak bermanfaat mereka telah sepenuhnya habis.

Lagi, setelah periode yang sangat lama, para makhluk itu muncul dari neraka besar dari hutan pohon pedang besi. Setelah [berada] di neraka besar dari hutan pohon pedang besi mereka muncul di [tepi] sungai asam, yang memiliki tepi yang sangat tinggi yang dikelilingi di mana-mana oleh duri. Air asam itu mendidih dan sangat hitam.

Melihat ini, para makhluk itu memiliki kesan bahwa ini adalah air dingin [dengan berpikir]: “Akan ada air dingin.” Memiliki kesan ini, mereka berpikir, “Marilah kita pergi ke sana, mandi di dalamnya, dan meminumnya sesuka kita, untuk secepatnya menyejukkan dan menenangkan diri.” Para makhluk itu, dengan berlomba satu sama lain, berlari menuju [sungai asam itu] dan memasukinya, mencari suatu tempat yang menyenangkan, suatu tempat berlindung.

Kemudian tak terhitung ratusan dan ribuan tahun makhluk yang telah berkumpul di sana jatuh ke dalam sungai asam. Setelah jatuh ke dalam sungai asam, mereka terbawa arus ke bawah, atau terbawa arus ke atas, atau terbawa arus ke bawah dan ke atas. Ketika para makhluk itu terbawa arus ke bawah, terbawa arus ke atas, atau terbawa arus ke bawah dan ke atas, kulit mereka masak dan terkelupas, daging mereka masak dan terkelupas, kulit dan daging mereka masak dan terkelupas, [sampai] hanya tulang yang tersisa. Pada kedua tepi sungai asam itu terdapat para petugas neraka yang memegang pedang, pentungan besar, dan kait besi pada tangan mereka. Ketika para makhluk itu ingin memanjat naik ke tepi sungai, para petugas neraka mendorong mereka kembali lagi.

Lagi, pada kedua tepi sungai asam itu terdapat para petugas neraka, yang memegang kait dan jaring pada tangan mereka. Dengan kait mereka menarik para makhluk itu keluar dari sungai asam dan meletakkan mereka di atas tanah dari besi panas membara, yang terbakar, menyala, dan semuanya terbakar menyala-nyala. Mereka mengangkat para makhluk itu ke atas dan melemparkan mereka ke tanah itu [lagi], menggulingkan mereka [semuanya di atas] tanah itu, dan bertanya kepada mereka, “Dari manakah kalian datang?” Para makhluk itu menjawab, “Kami tidak mengetahui dari mana kami datang, tetapi kami sekarang menderita kelaparan hebat.”

Para petugas neraka itu kemudian meletakkan para makhluk itu di atas sebuah tempat tidur dari besi panas membara, yang terbakar, menyala, dan semuanya terbakar menyala-nyala, memaksa mereka untuk duduk di atasnya. Mereka membuka mulut para makhluk itu dengan penjepit besi panas membara, dan menaruh bola-bola besi panas membara, yang terbakar, menyala, dan semuanya terbakar menyala-nyala, ke dalam mulut mereka. Bola-bola besi panas membara membakar bibir. Setelah membakar bibir, mereka membakar lidah. Setelah membakar lidah, mereka membakar langit-langit mulut. Setelah membakar langit-langit mulut, mereka membakar kerongkongan. Setelah membakar kerongkongan, mereka membakar jantung. Setelah membakar jantung, mereka membakar usus besar. Setelah membakar usus besar, mereka membakar usus kecil. Setelah membakar usus kecil, mereka membakar perut. Setelah membakar perut, mereka keluar dari bagian bawah tubuh. [Para makhluk] itu disiksa dengan cara ini selama tak terhitung ratusan dan ribuan tahun, menahan penderitaan luar biasa; tetapi mereka tidak dapat meninggal sampai [akibat] perbuatan jahat dan tidak bermanfaat mereka telah sepenuhnya habis.

Lagi, para petugas neraka bertanya kepada para makhluk itu, “Ke manakah kalian ingin pergi?” Para makhluk itu menjawab, “Kami tidak tahu ke mana kami ingin pergi, tetapi kami menderita kehausan hebat.” Para petugas neraka kemudian meletakkan para makhluk itu di atas sebuah tempat tidur besi panas membara, yang terbakar, menyala, dan semuanya terbakar menyala-nyala, memaksa mereka untuk duduk padanya. Mereka membuka mulut para makhluk itu dengan penjepit besi panas membara, dan menuangkan tembaga cair yang mendidih ke dalam mulut mereka. Tembaga cair yang mendidih itu membakar bibir. Setelah membakar bibir, ia membakar lidah. Setelah membakar lidah, ia membakar langit-langit mulut. Setelah membakar langit-langit mulut, ia membakar kerongkongan. Setelah membakar kerongkongan, ia membakar jantung. Setelah membakar jantung, ia membakar usus besar. Setelah membakar usus besar, ia membakar usus kecil. Setelah membakar usus kecil, ia membakar perut. Setelah membakar perut, ia keluar dari bagian bawah tubuh, [Para makhluk] itu disiksa dengan cara ini selama tak terhitung ratusan dan ribuan tahun, menahan penderitaan luar biasa; tetapi mereka tidak dapat meninggal sampai [akibat] perbuatan jahat dan tidak bermanfaat mereka telah sepenuhnya habis.

Jika para makhluk itu di neraka [masih] belum sepenuhnya menghabiskan [akibat] perbuatan jahat dan tidak bermanfaat mereka, belum menghabiskan semuanya, belum menghabiskannya tanpa sisa, maka para makhluk itu jatuh lagi ke dalam sungai asam, [diperintahkan untuk memanjat] naik dan turun lagi pohon di neraka besar dari hutan pohon pedang besi, harus masuk lagi ke neraka besar dari hutan berdaun besi, jatuh lagi ke dalam neraka besar dari kotoran, diperintahkan untuk berjalan bolak-balik di neraka besar dengan puncak yang tinggi, dan harus masuk lagi ke neraka besar dengan empat pintu gerbang.

[Tetapi] jika para makhluk itu di neraka telah sepenuhnya menghabiskan [akibat] perbuatan jahat dan tidak bermanfaat, menghabiskan semuanya, menghabiskannya tanpa sisa, maka beberapa dari para makhluk itu berlanjut menuju [alam] binatang, beberapa jatuh ke [alam] hantu kelaparan, dan beberapa terlahir kembali di alam surga.

Jika suatu makhluk sebelumnya adalah seorang manusia yang tidak berbakti kepada orang tuanya, yang tidak menghormati para pertapa dan brahmana, berperilaku tidak jujur, tidak melakukan perbuatan berjasa, dan tidak takut terhadap akibat yang disebabkan perbuatan itu pada kehidupan berikutnya – maka suatu makhluk demikian mengalami akibat yang tidak diinginkan, tak terbayangkan tidak menyenangkan dan menyakitkan, seperti di neraka-neraka itu.

[Tetapi] jika suatu makhluk sebelumnya adalah seorang manusia yang berbakti kepada orang tuanya, yang menghormati para pertapa dan brahmana, berperilaku jujur, melakukan perbuatan berjasa, dan takut terhadap akibat yang disebabkan oleh perbuatan itu pada kehidupan berikutnya – maka suatu makhluk demikian mengalami akibat yang diinginkan, dapat dipikirkan menyenangkan dan membahagiakan, seperti di sebuah istana surgawi di langit.

Pada masa lampau, Raja Yama membuat aspirasi berikut [ketika] berada di taman hiburannya: ketika kehidupan ini berakhir, semoga aku terlahir kembali di alam manusia! Jika terdapat keluarga yang sangat kaya dan makmur, dengan tak terhitung harta kekayaan, dan memiliki berlimpah-limpah semua jenis ternak, tanah, bawahan, dan manor – yaitu, keluarga besar perumah tangga khattiya, keluarga besar perumah tangga brahmana, atau keluarga besar perumah tangga saudagar, atau keluarga lainnya yang sangat kaya dan makmur demikian, dengan tak terhitung harta kekayaan, dan memiliki berlimpah-limpah ternak, tanah, bawahan, dan manor – semoga aku terlahir di suatu keluarga yang demikian!

Setelah terlahir kembali di sana, semoga aku mengembangkan indera pemahamanku, dan semoga aku memperoleh keyakinan murni dalam Dharma dan disiplin sejati yang diajarkan seorang Tathāgata! Setelah memperoleh keyakinan murni, semoga aku mencukur rambut dan janggut, mengenakan jubah seorang bhikkhu, meninggalkan kehidupan berumah tangga demi keyakinan, dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan [guna] mengembangkan kehidupan suci yang tiada bandingnya, [demikian juga, semoga aku] dalam kehidupan itu juga, dengan diri sendiri mencapai pemahaman dan pencerahan, dan berdiam setelah dengan diri sendiri merealisasinya, dengan mengetahui sebagaimana adanya: “Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan. Tidak akan ada kelangsungan lain.”

Pada masa lampau, Raja Yama telah membuat aspirasi ini [ketika] berada di taman hiburannya; dan ia mengulangi syair-syair ini:

Ditegur oleh para utusan surgawi,
Seseorang yang telah lalai,
Akan merasakan kesengsaraan dan dukacita selama waktu yang lama.
Ia disebut sebagai dihalangi oleh keinginan yang berbahaya.
Ditegur oleh para utusan surgawi,
Seseorang yang benar-benar unggul,
Tidak akan lalai lagi,
[Tetapi akan berlatih] Dharma yang diajarkan dengan baik, menakjubkan, mulia.
Melihat kemelekatan menyebabkannya menjadi ketakutan,
Dan beraspirasi pada padamnya kelahiran dan usia tua.
[Ketika ia] bebas dari kemelekatan, [setelah] memadamkannya tanpa sisa,
Itu adalah akhir dari kelahiran dan usia tua.
[Orang] itu mencapai kebahagiaan dari kedamaian,
Mencapai lenyapnya dalam masa kehidupan ini,
Melampaui semua yang menakutkan,
Dan menyeberangi arus duniawi ini.

Ini adalah apa yang dikatakan Sang Buddha. Setelah mendengarkan perkataan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan mengingatnya dengan baik.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. 1 (bagian 6)
« Reply #11 on: 06 April 2016, 08:51:01 PM »
65. Kotbah dengan Perumpamaan Burung Gagak

Demikianlah telah kudengar: Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Rājagaha, di Hutan Bambu, Tempat Perlindungan Tupai.

Pada waktu itu, Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:

Pada masa lampau, ketika seorang raja pemutar-roda ingin menguji harta permatanya, ia mengumpulkan armada pasukannya yang berunsur empat, yaitu, pasukan gajah, pasukan kuda, pasukan kereta, dan pasukan pejalan kaki. Armada pasukan berunsur empat setelah berkumpul, dalam kegelapan malam, pada tengah malam, sebuah bendera tinggi didirikan, permata itu ditempatkan pada puncaknya, dan ia dibawa ke taman hiburan. Kecemerlangan permata itu menyinari armada pasukan berunsur empat, dan cahayanya menjangkau wilayah yang berjarak setengah liga ke arah [mana pun].

Pada waktu itu, terdapat seorang brahmana yang memiliki pikiran ini: “Aku ingin pergi dan melihat raja pemutar-roda, bersama-sama dengan armada pasukannya yang berunsur empat, dan melihat permata beril.” Kemudian brahmana itu berpikir lagi, “Untuk saat ini, tidak perlu mengunjungi raja pemutar-roda dengan armada pasukannya yang berunsur empat, dan melihat permata beril. Aku alih-alih akan pergi ke dalam hutan.” Maka, brahmana itu mendekati hutan. Setelah tiba di sana, ia memasuki dan pergi ke kaki sebatang pohon.

Tidak lama setelah ia duduk, seekor berang-berang datang. Melihatnya, brahmana itu bertanya, “Selamat datang, berang-berang, dari manakah engkau datang dan ke manakah engkau ingin pergi?”

[Berang-berang itu] menjawab, “Brahmana, pada masa lampau kolam ini terisi air sampai ke pinggirnya oleh sebuah sumber mata air yang jernih, memiliki banyak akar dan bunga seroja, dan penuh dengan ikan dan kura-kura. Aku sebelumnya [hidup] bergantung padanya, tetapi sekarang ia telah mengering. Brahmana, engkau seharusnya mengetahui bahwa aku ingin meninggalkannya, untuk tinggal di sebuah sungai besar. Aku ingin pergi sekarang, aku takut dengan orang-orang.”

Kemudian setelah bertukar salam ini dengan brahmana itu, berang-berang itu pergi.

Brahmana itu [tetap] duduk di sana seperti sebelumnya. Lagi, datanglah seekor burung jiu-mu.<164> Melihatnya, brahmana itu bertanya, “Selamat datang, burung jiu-mu, dari manakah engkau datang dan ke manakah engkau ingin pergi?”

[Burung itu] menjawab, “Brahmana, pada masa lampau kolam ini terisi air sampai ke pinggir oleh sebuah sumber mata air yang jernih, memiliki banyak akar dan bunga seroja, dan penuh dengan ikan dan kura-kura. Aku sebelumnya [hidup] bergantung padanya, tetapi sekarang ia telah mengering. Brahmana, engkau seharusnya mengetahui bahwa aku ingin meninggalkannya, untuk bersarang di suatu tempat di mana hewan ternak mati dikumpulkan dan hidup bergantung padanya, ... atau keledai mati, ... atau untuk bersarang di suatu tempat di mana manusia mati dikumpulkan dan hidup bergantung padanya. Aku ingin pergi sekarang, aku takut dengan orang-orang.”

Setelah bertukar salam ini dengan brahmana itu, burung jiu-mu itu pergi. Brahmana itu [tetap] duduk di sana seperti sebelumnya.

Lagi, datanglah seekor burung bangkai. Melihatnya, brahmana itu bertanya, “Selamat datang, burung bangkai, dari manakah engkau datang dan ke manakah engkau ingin pergi?”

[Burung bangkai itu] menjawab, “Brahmana, aku pergi dari satu pemakaman besar ke pemakaman besar lainnya, tempat-tempat untuk [mereka yang telah] dicelakai atau dibunuh. Aku sekarang ingin memakan daging gajah mati, kuda mati, hewan ternak mati, dan manusia mati. Aku ingin pergi sekarang, aku takut dengan orang-orang.”

Kemudian, setelah bertukar salam ini dengan brahmana itu, burung bangkai itu pergi. Brahmana itu [tetap] duduk di sana seperti sebelumnya.

Lagi, datanglah seekor burung yang memakan muntahan. Melihatnya, brahmana itu bertanya, “Selamat datang, burung yang memakan muntahan, dari manakah engkau datang dan ke manakah engkau ingin pergi?”

[Burung yang memakan muntahan] menjawab, “Brahmana, apakah engkau melihat burung bangkai baru saja? Aku memakan muntahannya. Aku ingin pergi sekarang, aku takut dengan orang-orang.”

Setelah bertukar salam ini dengan brahmana itu, burung yang memakan muntahan itu pergi. Brahmana itu [tetap] duduk di sana seperti sebelumnya.

Lagi, datanglah seekor anjing hutan. Setelah melihatnya, brahmana itu bertanya, “Selamat datang, anjing hutan, dari manakah engkau datang dan ke manakah engkau ingin pergi?”

[Anjing hutan itu] menjawab, “Brahmana, aku pergi dari satu jurang dalam ke jurang dalam lainnya, dari satu hutan rimba ke hutan rimba lainnya, dan dari satu tempat terpencil ke tempat terpencil lainnya. Aku sekarang ingin memakan daging gajah mati, kuda mati, hewan ternak mati, dan manusia mati. Aku ingin pergi sekarang, aku takut dengan orang-orang.”

Kemudian, setelah bertukar salam ini dengan brahmana itu, anjing hutan itu pergi. Brahmana itu [tetap] duduk di sana seperti sebelumnya.

Lagi, datanglah seekor burung gagak. Melihatnya, brahmana itu bertanya, “Selamat datang, burung gagak, dari manakah engkau datang dan ke manakah engkau ingin pergi?”

[Burung gagak itu] menjawab, “Brahmana, engkau orang malas, mengapa engkau bertanya kepadaku, ‘Dari manakah engkau datang dan ke manakah engkau ingin pergi?’?”

Kemudian, setelah menegur brahmana itu secara langsung, burung gagak itu pergi. Brahmana itu [tetap] duduk di sana seperti sebelumnya.

Lagi, datanglah seekor kera. Setelah melihatnya, brahmana itu bertanya, “Selamat datang, kera, dari manakah engkau datang dan ke manakah engkau ingin pergi?”

[Kera] menjawab, “Brahmana, aku pergi dari satu taman ke taman lainnya, dari satu taman hiburan ke taman hiburan lainnya, dari satu hutan ke hutan lainnya, untuk minum pada sumber mata air yang jernih dan makan buah-buahan yang baik. Aku ingin pergi sekarang, [walaupun] aku tidak takut dengan orang-orang.”

Setelah bertukar salam ini dengan brahmana itu, kera itu pergi.

Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu:

Aku telah menyampaikan perumpamaan-perumpamaan ini dan ingin [kalian] memahami maknanya. Kalian seharusnya mengetahui bahwa ajaran ini memiliki suatu makna [yang lebih dalam].

Apakah makna perumpamaan yang kusampaikan [yang diakhiri dengan] “Kemudian, setelah bertukar salam ini dengan brahmana itu, berang-berang itu pergi”?

Seumpamanya terdapat seorang bhikkhu yang hidup bergantung pada suatu desa atau kota. Saat fajar bhikkhu ini mengenakan jubahnya, membawa mangkuknya, dan memasuki desa itu untuk mengumpulkan dana makanan, tanpa melindungi dirinya sendiri, tanpa menjaga indera-inderanya, tanpa mengembangkan perhatian penuh. Ia meskipun demikian mengajarkan Dharma seperti yang diajarkan oleh Sang Buddha atau oleh salah satu siswa [Sang Buddha]. Karena hal ini ia memperoleh manfaat jubah dan selimut, makanan dan minuman, tempat tidur dan kasur, dan obat-obatan. Ia disediakan dengan semua [yang ia butuhkan] untuk hidup. Setelah memperoleh manfaat-manfaat ini, ia menjadi melekat padanya, tergoda olehnya, tidak melihat bahaya di dalamnya, tidak dapat melepaskannya, dengan menggunakannya seperti yang ia inginkan.

Bhikkhu itu berlatih perilaku yang buruk, mengembangkan keadaan-keadaan tidak bermanfaat, menuju ekstrem-ekstrem, dan memunculkan bahaya dan kerusakan. Ia tidak menjalankan kehidupan suci, tetapi mengaku [menjalankan] kehidupan suci. Ia bukan seorang pertapa, tetapi mengaku [sebagai] seorang pertapa. Ini seperti halnya [dalam perumpamaan]: melihat berang-berang itu, brahmana itu bertanya, “Selamat datang, berang-berang, dari manakah engkau datang dan ke manakah engkau ingin pergi?” [Berang-berang itu] menjawab, “Brahmana, pada masa lampau kolam ini terisi air sampai ke pinggirnya oleh sebuah sumber mata air yang jernih, memiliki banyak akar dan bunga seroja, dan penuh dengan ikan dan kura-kura. Aku sebelumnya [hidup] bergantung padanya, tetapi sekarang ia telah mengering. Brahmana, engkau seharusnya mengetahui bahwa aku ingin meninggalkannya, untuk tinggal di sebuah sungai besar. Aku ingin pergi sekarang, aku takut dengan orang-orang.”

Bhikkhu yang kusebutkan adalah seperti itu. [Ia] terbenam dalam kejahatan, keadaan-keadaan yang tidak bermanfaat, dan yang mengotori yang merupakan asal mula kehidupan mendatang dan memiliki kekesalan dan penderitaan sebagai buahnya, yang menyebabkan kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian.

Oleh karena itu, para bhikkhu, janganlah berperilaku seperti berang-berang; janganlah bergantung pada apa yang bertentangan dengan Dharma sebagai penghidupan kalian. Dengan perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran yang murni, berdiamlah di tempat-tempat yang sunyi, mengenakan jubah usang, selalu mengumpulkan dana makanan, mengumpulkan dana makanan dalam urutan [yang tepat] [dari rumah ke rumah]. Berkeinginan sedikit dan merasa puas, berdiam dengan bahagia, dalam ketidakmelekatan, dan berlatih dengan bersemangat, dengan mengembangkan perhatian penuh, kewaspadaan penuh, konsentrasi benar, dan kebijaksanaan benar. Selalu tidak melekat dan berlatih dengan cara ini.

Apakah makna perumpamaan yang kusampaikan [yang diakhiri dengan] “Kemudian, setelah bertukar salam ini dengan brahmana itu, burung jiu-mu itu pergi”?

Seumpamanya terdapat seorang bhikkhu yang hidup bergantung pada suatu desa atau kota. Saat fajar bhikkhu ini mengenakan jubahnya, membawa mangkuknya, dan memasuki desa untuk mengumpulkan dana makanan tanpa melindungi dirinya sendiri, tanpa menjaga indera-indera, tanpa mengembangkan perhatian penuh. Ia memasuki rumah orang lain dan mengajarkan Dharma seperti yang diajarkan oleh Sang Buddha atau oleh salah satu siswa [Sang Buddha]. Karena hal ini ia memperoleh manfaat jubah dan selimut, makanan dan minuman, tempat tidur dan kasur, dan obat-obatan, semua [yang ia butuhkan] untuk hidup. Setelah memperoleh manfaat-manfaat ini, ia menjadi melekat padanya, tergoda olehnya, tidak melihat bahaya di dalamnya, tidak dapat melepaskannya, dengan menggunakannya seperti yang ia inginkan.

Bhikkhu itu berlatih perilaku yang buruk, mengembangkan keadaan-keadaan tidak bermanfaat, menuju ekstrem-ekstrem, dan memunculkan bahaya dan kerusakan. Ia tidak menjalankan kehidupan suci, tetapi mengaku [menjalankan] kehidupan suci. Ia bukan seorang pertapa, tetapi mengaku [sebagai] seorang pertapa. Ini seperti halnya [dalam perumpamaan]: melihat burung jiu-mu itu, brahmana itu bertanya, “Selamat datang, burung jiu-mu, dari manakah engkau datang dan ke manakah engkau ingin pergi?” [Burung itu] menjawab, “Brahmana, pada masa lampau kolam ini terisi air sampai ke pinggir oleh sebuah sumber mata air yang jernih, memiliki banyak akar dan bunga seroja, dan penuh dengan ikan dan kura-kura. Aku sebelumnya [hidup] bergantung padanya, tetapi sekarang ia telah mengering. Brahmana, engkau seharusnya mengetahui bahwa aku ingin meninggalkannya, untuk bersarang di suatu tempat di mana hewan ternak mati dikumpulkan dan hidup bergantung padanya, ... atau keledai mati, ... atau untuk bersarang di suatu tempat di mana manusia mati dikumpulkan dan hidup bergantung padanya. Aku ingin pergi sekarang, aku takut dengan orang-orang.”

Bhikkhu yang kukatakan adalah seperti itu. [Ia] terbenam dalam kejahatan, keadaan-keadaan tidak bermanfaat, dan yang mengotori yang adalah asal mula kehidupan mendatang dan memiliki kekesalan dan penderitaan sebagai buahnya, yang menyebabkan kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian.

Oleh sebab itu, para bhikkhu, janganlah berperilaku seperti burung jiu-mu; janganlah bergantung pada apa yang bertentangan dengan Dharma sebagai penghidupan kalian. Dengan perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran yang murni, berdiamlah di tempat-tempat yang sunyi, memakai jubah usang, selalu mengumpulkan dana makanan, dan mengumpulkan dana makanan dalam urutan [yang tepat]. Berkeinginan sedikit dan merasa puas, berdiam dengan bahagia, dalam ketidakmelekatan, dan berlatih dengan bersemangat, dengan mengembangkan perhatian penuh, kewaspadaan penuh, konsentrasi benar, dan kebijaksanaan benar. Selalu tidak melekat dan berlatih dengan cara ini.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. 1 (bagian 6)
« Reply #12 on: 06 April 2016, 08:51:16 PM »
Apakah makna perumpamaan yang kusampaikan [yang diakhiri dengan] “Kemudian, setelah bertukar salam ini dengan brahmana itu, burung bangkai itu pergi”?

Seumpamanya terdapat seorang bhikkhu yang hidup bergantung pada suatu desa atau kota. Saat fajar bhikkhu ini mengenakan jubahnya, membawa mangkuknya, dan memasuki desa untuk mengumpulkan dana makanan tanpa melindungi dirinya sendiri, tanpa menjaga indera-indera, tanpa mengembangkan perhatian penuh. Ia memasuki rumah orang lain dan mengajarkan Dharma seperti yang diajarkan oleh Sang Buddha atau oleh salah satu siswa [Sang Buddha]. Karena hal ini ia memperoleh manfaat jubah dan selimut, makanan dan minuman, tempat tidur dan kasur, dan obat-obatan, semua [yang ia butuhkan] untuk hidup. Setelah memperoleh manfaat-manfaat ini, ia menjadi melekat padanya, tergoda olehnya, tidak melihat bahaya di dalamnya, tidak dapat melepaskannya, dengan menggunakannya seperti yang ia inginkan.

Bhikkhu itu berlatih perilaku yang buruk, mengembangkan keadaan-keadaan tidak bermanfaat, menuju ekstrem-ekstrem, dan memunculkan bahaya dan kerusakan. Ia tidak menjalankan kehidupan suci, tetapi mengaku [menjalankan] kehidupan suci. Ia bukan seorang pertapa, tetapi mengaku [sebagai] seorang pertapa. Ini seperti halnya [dalam perumpamaan]: melihat burung bangkai itu, brahmana itu bertanya, “Selamat datang, burung bangkai, dari manakah engkau datang dan ke manakah engkau ingin pergi?” [Burung bangkai itu] menjawab, “Brahmana, aku pergi dari satu pemakaman besar ke pemakaman besar lainnya, tempat-tempat untuk [mereka yang telah] dicelakai atau dibunuh. Aku sekarang ingin memakan daging gajah mati, kuda mati, hewan ternak mati, dan manusia mati. Aku ingin pergi sekarang, aku takut dengan orang-orang.”

Bhikkhu yang kukatakan adalah seperti itu. Oleh sebab itu, para bhikkhu, janganlah berperilaku seperti burung bangkai itu; janganlah bergantung pada apa yang bertentangan dengan Dharma sebagai penghidupan kalian. Dengan perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran yang murni, berdiamlah di tempat-tempat yang sunyi, memakai jubah usang, selalu mengumpulkan dana makanan, dan mengumpulkan dana makanan dalam urutan [yang tepat]. Berkeinginan sedikit dan merasa puas, berdiam dengan bahagia, dalam ketidakmelekatan, dan berlatih dengan bersemangat, dengan mengembangkan perhatian penuh, kewaspadaan penuh, konsentrasi benar, dan kebijaksanaan benar. Selalu tidak melekat dan berlatih dengan cara ini.

Apakah makna perumpamaan yang kusampaikan [yang diakhiri dengan:] “Kemudian, setelah bertukar salam ini dengan brahmana itu, burung yang memakan muntahan itu pergi”?

Seumpamanya terdapat seorang bhikkhu yang hidup bergantung pada suatu desa atau kota. Saat fajar bhikkhu ini mengenakan jubahnya, membawa mangkuknya, dan memasuki desa untuk mengumpulkan dana makanan tanpa melindungi dirinya sendiri, tanpa menjaga indera-indera, tanpa mengembangkan perhatian penuh. Ia memasuki kediaman para bhikkhuni dan mengajarkan Dharma seperti yang diajarkan oleh Sang Buddha atau oleh salah satu siswa [Sang Buddha]. Para bhikkhuni itu kemudian memasuki beberapa rumah untuk menjelaskan [apa yang] baik dan [apa yang] buruk, menerima persembahan dari umat yang berkeyakinan, dan membawa mereka kepada bhikkhu itu. Karena hal ini ia memperoleh manfaat jubah dan selimut, makanan dan minuman, tempat tidur dan kasur, dan obat-obatan, semua [yang ia butuhkan] untuk hidup. Setelah memperoleh manfaat-manfaat ini, ia menjadi melekat padanya, tergoda olehnya, tidak melihat bahaya di dalamnya, tidak dapat melepaskannya, dengan menggunakannya seperti yang ia inginkan.

Bhikkhu itu berlatih perilaku buruk, mengembangkan keadaan-keadaan tidak bermanfaat, menuju ekstrem-ekstrem, dan memunculkan bahaya dan kerusakan. Ia tidak menjalankan kehidupan suci, tetapi mengaku [menjalankan] kehidupan suci. Ia bukan seorang pertapa, tetapi mengaku [sebagai] seorang pertapa. Ini seperti halnya [dalam perumpamaan]: melihat burung yang memakan muntahan itu, brahmana itu bertanya, “Selamat datang, burung yang memakan muntahan, dari manakah engkau datang dan ke manakah engkau ingin pergi?” [Burung yang memakan muntahan] menjawab, “Brahmana, apakah engkau melihat burung bangkai baru saja? Aku memakan muntahannya. Aku ingin pergi sekarang, aku takut dengan orang-orang.”

Bhikkhu yang kukatakan adalah seperti itu. Oleh sebab itu, para bhikkhu, janganlah berperilaku seperti burung yang memakan muntahan itu; janganlah bergantung pada apa yang bertentangan dengan Dharma sebagai penghidupan kalian. Dengan perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran yang murni, berdiamlah di tempat-tempat yang sunyi, memakai jubah usang, selalu mengumpulkan dana makanan, dan mengumpulkan dana makanan dalam urutan [yang tepat]. Berkeinginan sedikit dan merasa puas, berdiam dengan bahagia, dalam ketidakmelekatan, dan berlatih dengan bersemangat, dengan mengembangkan perhatian penuh, kewaspadaan penuh, konsentrasi benar, dan kebijaksanaan benar. Selalu tidak melekat dan berlatih dengan cara ini.

Apakah makna perumpamaan yang kusampaikan [yang diakhiri dengan], “Kemudian, setelah bertukar salam ini dengan brahmana itu, anjing hutan itu pergi”?

Seumpamanya terdapat seorang bhikkhu yang berdiam bergantung pada suatu desa miskin. Jika ia mengetahui bahwa di suatu desa atau kota berdinding tertentu terdapat banyak teman dalam kehidupan suci yang bijaksana dan bersemangat, maka ia menjauhi darinya. Tetapi jika ia mengetahui bahwa di desa atau kota berdinding itu tidak ada teman dalam kehidupan suci yang bijaksana dan bersemangat, maka ia datang dan berdiam di sana selama sembilan bulan atau selama sepuluh bulan. Ketika melihatnya, para bhikkhu bertanya, “Teman yang mulia, di manakah engkau berdiam?” Kemudian ia menjawab, “Teman-teman yang mulia, aku berdiam bergantung pada desa atau kota miskin ini.”

Mendengar hal ini, para bhikkhu berpikir, “Yang mulia ini berlatih apa yang sulit dilatih. Mengapa demikian? Yang mulia ini dapat berdiam bergantung pada desa atau kota miskin ini.” Para bhikkhu semuanya kemudian menghormatinya, menghargainya, dan menyediakannya dengan makanan. Karena hal ini ia memperoleh manfaat jubah dan selimut, makanan dan minuman, tempat tidur dan kasur, dan obat-obatan, semua [yang ia butuhkan] untuk hidup. Setelah memperoleh manfaat-manfaat ini, ia menjadi melekat padanya, tergoda olehnya, tidak melihat bahaya di dalamnya, tidak dapat melepaskannya, dengan menggunakannya seperti yang ia inginkan.

Bhikkhu itu berlatih perilaku buruk, mengembangkan keadaan-keadaan tidak bermanfaat, menuju ekstrem-ekstrem, dan memunculkan bahaya dan kerusakan. Ia tidak menjalankan kehidupan suci, tetapi mengaku [menjalankan] kehidupan suci. Ia bukan seorang pertapa, tetapi mengaku [sebagai] seorang pertapa. Ini seperti halnya [dalam perumpamaan]: melihat anjing hutan itu, brahmana itu bertanya, “Selamat datang, anjing hutan, dari manakah engkau datang dan ke manakah engkau ingin pergi?” [Anjing hutan itu] menjawab, “Brahmana, aku pergi dari satu jurang dalam ke jurang dalam lainnya, dari satu hutan rimba ke hutan rimba lainnya, dan dari satu tempat terpencil ke tempat terpencil lainnya. Aku sekarang ingin memakan daging gajah mati, kuda mati, hewan ternak mati, dan manusia mati. Aku ingin pergi sekarang, aku takut dengan orang-orang.”

Bhikkhu yang kukatakan adalah seperti itu. Oleh sebab itu, para bhikkhu, janganlah berperilaku seperti anjing hutan itu; janganlah bergantung pada apa yang bertentangan dengan Dharma sebagai penghidupan kalian. Dengan perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran yang murni, berdiamlah di tempat-tempat yang sunyi, memakai jubah usang, selalu mengumpulkan dana makanan, dan mengumpulkan dana makanan dalam urutan [yang tepat]. Berkeinginan sedikit dan merasa puas, berdiam dengan bahagia, dalam ketidakmelekatan, dan berlatih dengan bersemangat, dengan mengembangkan perhatian penuh, kewaspadaan penuh, konsentrasi benar, dan kebijaksanaan benar. Selalu tidak melekat dan berlatih dengan cara ini.

Apakah makna perumpamaan yang kusampaikan [yang diakhiri dengan], “Kemudian, setelah menegur brahmana itu secara langsung, burung gagak itu pergi”?

Seumpamanya terdapat seorang bhikkhu yang menghabiskan pengasingan musim hujan bergantung pada suatu tempat yang miskin dan terpencil. Jika ia mengetahui bahwa di suatu desa atau kota berdinding tertentu terdapat banyak teman dalam kehidupan suci yang bijaksana dan bersemangat, ia menjauh darinya. Tetapi jika ia mengetahui bahwa di desa atau kota berdinding itu tidak ada teman dalam kehidupan suci yang bijaksana dan bersemangat, ia datang dan berdiam di sana selama dua bulan atau selama tiga bulan. Ketika melihatnya, para bhikkhu bertanya, “Teman yang mulia, di manakah engkau melewati pengasingan musim hujan?” Kemudian ia menjawab, “Teman-teman yang mulia, aku melewati pengasingan musim hujan bergantung pada tempat yang miskin dan terpencil. Aku tidak seperti orang-orang bodoh itu yang dilengkapi dengan tempat tidur dan disediakan dengan lima kebutuhan, dan hidup dikelilingi olehnya; yang, apakah sebelum tengah hari atau sesudah tengah hari, mulutnya [siap] mengecap rasa-rasa dan memiliki rasa-rasa [siap] dikecap oleh mulutnya; yang meminta dan memohon lagi dan lagi.”

Mendengar hal ini, para bhikkhu itu berpikir, “Yang mulia ini berlatih apa yang sulit dilatih. Mengapa demikian? Yang mulia ini dapat menghabiskan pengasingan musim hujan bergantung pada tempat yang miskin dan terpencil ini.” Para bhikkhu semuanya kemudian menghormati, menghargai, dan menyediakan makanan [kepadanya]. Karena hal ini ia memperoleh manfaat jubah dan selimut, makanan dan minuman, tempat tidur dan kasur, dan obat-obatan, semua [yang ia butuhkan] untuk hidup. Setelah memperoleh manfaat-manfaat ini, ia menjadi melekat padanya, tergoda olehnya, tidak melihat bahaya di dalamnya, tidak dapat melepaskannya, dengan menggunakannya seperti yang ia inginkan.

Bhikkhu itu berlatih perilaku buruk, mengembangkan keadaan-keadaan tidak bermanfaat, menuju ekstrem-ekstrem, dan memunculkan bahaya dan kerusakan. Ia tidak menjalankan kehidupan suci, tetapi mengaku [menjalankan] kehidupan suci. Ia bukan seorang pertapa, tetapi mengaku [sebagai] seorang pertapa. Ini seperti halnya [dalam perumpamaan]: melihat burung gagak itu, brahmana itu bertanya, “Selamat datang, burung gagak, dari manakah engkau datang dan ke manakah engkau ingin pergi?” [Burung gagak itu] menjawab, “Brahmana, engkau gila. Mengapa engkau bertanya kepadaku, ‘Selamat datang, burung gagak, dari manakah engkau datang dan ke manakah engkau ingin pergi?’”

Bhikkhu yang kukatakan adalah seperti itu. Oleh sebab itu, para bhikkhu, janganlah berperilaku seperti burung gagak itu; janganlah bergantung pada apa yang bertentangan dengan Dharma sebagai penghidupan kalian. Dengan perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran yang murni, berdiamlah di tempat-tempat yang sunyi, memakai jubah usang, selalu mengumpulkan dana makanan, dan mengumpulkan dana makanan dalam urutan [yang tepat]. Berkeinginan sedikit dan merasa puas, berdiam dengan bahagia, dalam ketidakmelekatan, dan berlatih dengan bersemangat, dengan mengembangkan perhatian penuh, kewaspadaan penuh, konsentrasi benar, dan kebijaksanaan benar. Selalu tidak melekat dan berlatih dengan cara ini.

Apakah makna perumpamaan yang kusampaikan [yang diakhiri dengan], “Kemudian, setelah bertukar salam ini dengan brahmana itu, kera itu pergi”?

Seumpamanya terdapat seorang bhikkhu yang hidup bergantung pada suatu desa atau kota. Saat fajar bhikkhu ini mengenakan jubahnya, membawa mangkuknya, dan memasuki desa itu untuk mengumpulkan dana makanan, dengan tubuhnya terlindungi, dengan indera-indera terjaga, dan dengan perhatian penuh berkembang. Setelah kembali dari mengumpulkan dana makanan di desa atau kota itu, dan setelah selesai makan, meletakkan jubah dan mangkuknya, dan mencuci tangan dan kakinya, pada sore hari ia meletakkan alas duduknya pada bahunya dan pergi ke suatu tempat yang sunyi, ke kaki sebatang pohon, atau ke sebuah gubuk kosong. Ia mengatur alas duduknya dan duduk bersila, dengan menjaga tubuhnya tegak lurus, dengan pengamatan benar, dengan perhatian tidak terpencar. [Ia] melenyapkan keserakahan dan tidak memiliki ketamakan dalam pikirannya. Ketika melihat kekayaan dan cara penghidupan orang lain, ia tidak memunculkan keserakahan [seperti]: “Aku berharap aku dapat memperoleh [itu].”

[Demikianlah] ia memurnikan pikirannya dari keserakahan. Sama halnya, [ia memurnikan pikirannya dari] kebencian ... kelambanan dan kemalasan ... kegelisahan dan kekhawatiran ... [ia] melenyapkan keragu-raguan dan melampaui kebingungan sehubungan dengan keadaan-keadaan yang tidak bermanfaat. [Demikianlah] ia memurnikan pikirannya dari keragu-raguan. Setelah memotong lima rintangan ini, ketidaksempurnaan pikiran yang melemahkan kebijaksanaan, setelah meninggalkan keinginan, dan keadaan-keadaan jahat dan tidak bermanfaat ... (dan seterusnya sampai dengan) ... ia berdiam setelah mencapai jhāna keempat.

Ketika ia telah mencapai konsentrasi dengan cara ini, pikirannya yang murni, tanpa cacat, bebas dari kekesalan, lunak, berkembang dengan baik, setelah mencapai ketenangan, ia mengarahkan pikirannya pada realisasi pengetahuan yang lebih tinggi tentang pelenyapan noda-noda.

Ia kemudian mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah penderitaan.” Ia mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah munculnya penderitaan. Ini adalah lenyapnya penderitaan. Ini adalah jalan [menuju] lenyapnya penderitaan.” Ia mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah noda-noda. Ini adalah munculnya noda-noda. Ini adalah lenyapnya noda-noda. Ini adalah jalan [menuju] lenyapnya noda-noda.” Ia mengetahuinya seperti ini.

Melihatnya seperti ini, pikirannya terbebaskan dari noda keinginan indera, dari noda kelangsungan, dan dari noda ketidaktahuan. Terbebaskan, ia mengetahui bahwa ia terbebaskan, dan ia mengetahui sebagaimana adanya: “Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan. Tidak akan ada kelangsungan lain.” Ini seperti [dalam perumpamaan]: melihat kera itu, brahmana itu bertanya, “Selamat datang, kera, dari manakah engkau datang dan ke manakah engkau ingin pergi?” [Kera] menjawab, “Brahmana, aku pergi dari satu taman ke taman lainnya, dari satu taman hiburan ke taman hiburan lainnya, dari satu hutan ke hutan lainnya, untuk minum pada sumber mata air yang jernih dan makan buah-buahan yang baik. Aku ingin pergi sekarang, [walaupun] aku tidak takut dengan orang-orang.”

Bhikkhu yang kukatakan adalah seperti itu. Oleh sebab itu, para bhikkhu, janganlah berperilaku seperti berang-berang itu, janganlah berperilaku seperti [burung] jiu-mu itu, janganlah berperilaku seperti burung bangkai itu, janganlah berperilaku seperti burung yang memakan muntahan itu, janganlah berperilaku seperti anjing hutan itu, janganlah berperilaku seperti burung gagak itu. [Kalian] seharusnya berperilaku seperti kera itu. Mengapa demikian? Di dunia ini seorang Manusia Sejati, tanpa kemelekatan, adalah bagaikan kera itu.

Ini adalah apa yang dikatakan Sang Buddha. Setelah mendengarkan perkataan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan mengingatnya dengan baik.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. 1 (bagian 6)
« Reply #13 on: 06 April 2016, 09:06:04 PM »
66. Kotbah tentang Asal Mula

Demikianlah telah kudengar: Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Benares, di Taman Rusa, Tempat Para Pertapa.

Pada waktu itu, para bhikkhu sedang duduk bersama di aula pertemuan setelah makan siang karena beberapa urusan kecil dan melakukan diskusi berikut:

Teman-teman yang mulia, apakah yang kalian katakan? Manakah yang lebih baik bagi seorang umat awam – bahwa seorang bhikkhu, yang menjaga aturan latihan dari Dharma yang mulia dan diberkahi dengan perilaku yang mengesankan seharusnya memasuki rumahnya untuk menerima makanan, atau bahwa ia [seharusnya memperoleh] manfaat materi seratus, seribu, atau sepuluh ribu kali setiap hari?

Seorang bhikkhu tertentu berkata:

Teman-teman yang mulia, apakah gunanya manfaat materi seratus, seribu, atau sepuluh ribu kali? Hanya ini yang penting, yaitu bahwa seorang bhikkhu yang menjaga aturan latihan dari Dharma yang mulia dan diberkahi dengan perilaku yang mengesankan seharusnya memasuki rumah umat awam itu untuk menerima makanan, bukan bahwa [ia seharusnya memperoleh] manfaat materi seratus, seribu, atau sepuluh ribu kali setiap hari.

Pada waktu itu Yang Mulia Anuruddha sedang duduk di antara perkumpulan itu. Kemudian Yang Mulia Anuruddha berkata kepada para bhikkhu:

Teman-teman yang mulia, apakah gunanya manfaat materi seratus, seribu, atau sepuluh ribu kali, atau [bahkan] lebih dari itu? Hanya ini yang penting, yaitu bahwa seorang bhikkhu yang menjaga aturan latihan dari Dharma yang mulia dan diberkahi dengan perilaku yang mengesankan seharusnya memasuki rumah umat awam itu untuk menerima makanan, bukan [bahwa ia seharusnya memperoleh] manfaat materi seratus, seribu, atau sepuluh ribu kali setiap hari. Mengapa demikian?

Aku ingat bagaimana, pada masa lampau yang jauh, aku adalah seorang yang miskin di negeri Benares ini. Aku bergantung pada mengumpulkan sedikit-sedikit untuk menghidupi diriku. Pada waktu itu, negeri Benares dilanda oleh kekeringan, musim dingin yang lebih awal, dan hama belalang; sehingga [hasil panen] tidak matang. Orang-orang menderita kelaparan dan dana makanan sulit untuk diperoleh.

Pada waktu itu, terdapat seorang paccekabuddha bernama Upariṭṭha,<165> yang hidup bergantung pada Benares. Kemudian, ketika malam telah berakhir, saat fajar, paccekabuddha Upariṭṭha mengenakan jubahnya, membawa mangkuknya, dan pergi ke Benares untuk mengumpulkan dana makanan. Pada waktu itu, pada pagi hari, aku pergi keluar Benares untuk mengumpulkan sedikit-sedikit. Teman-teman yang mulia, ketika aku pergi keluar, aku melihat paccekabuddha Upariṭṭha datang. Kemudian paccekabuddha Upariṭṭha, setelah datang membawa mangkuk kosong, pergi keluar [lagi] dengan mangkuk kosong seperti sebelumnya.

Teman-teman yang mulia, pada waktu itu aku kembali ke Benares dari mengumpulkan sedikit-sedikit, dan melihat paccekabuddha Upariṭṭha pergi keluar lagi. Melihatku, ia berpikir:

Ketika aku datang saat fajar, aku melihat orang ini pergi keluar; sekarang ketika aku pergi keluar, aku melihat orang ini lagi, datang. Orang ini mungkin belum makan. Biarlah aku sekarang mengikuti orang ini.

Kemudian paccekabuddha itu mengikutiku seperti sebuah bayangan mengikuti sebuah bentuk. Teman-teman yang mulia, ketika aku telah kembali ke rumah dengan pengumpulanku sedikit-sedikit, aku meletakkan apa yang telah kukumpulkan, dan berbalik. Aku melihat bahwa paccekabuddha Upariṭṭha telah mengikuti seperti sebuah bayangan mengikuti sebuah bentuk. Melihatnya, aku berpikir:

Ketika aku pergi saat fajar, aku melihat pertapa ini memasuki kota untuk mengumpulkan dana makanan. Sekarang pertapa ini mungkin belum memperoleh makanan apa pun. Biarlah aku tidak makan dan memberikannya kepada pertapa ini!

Berpikir hal ini, aku memberikan makananku kepada paccekabuddha itu dengan berkata, “Pertapa, anda seharusnya mengetahui bahwa makanan ini adalah bagianku. Semoga anda menerimanya demi belas kasih!”

Kemudian paccekabuddha itu menjawabku dengan berkata:

Perumah tangga, kamu seharusnya mengetahui bahwa tahun ini [negeri] dilanda oleh kekeringan, musim dingin yang lebih awal, dan hama belalang, [sehingga] lima hasil panen tidak matang. Orang-orang menderita kelaparan dan dana makanan sulit untuk diperoleh. Masukkan setengah dari [makanan itu] ke dalam mangkukku, dan makanlah setengahnya lagi untuk dirimu sendiri, sehingga [kita] berdua dapat bertahan hidup. Itu akan lebih baik.

Aku berkata lebih lanjut:

Pertapa, anda seharusnya mengetahui bahwa di rumahku aku memiliki sebuah panci dan kompor, kayu bakar, padi-padian, dan beras; lebih lanjut, aku tidak memiliki batasan sehubungan dengan kapan aku dapat makan dan minum. Pertapa, demi belas kasih terhadapku, terimalah seluruh makanan itu!

Maka paccekabuddha itu menerima seluruh makanan itu demi belas kasih.

Teman-teman yang mulia, karena jasa memberikannya semangkuk penuh makanan, aku terlahir kembali di alam surga tujuh kali, dengan menjadi raja para dewa; dan aku terlahir kembali sebagai manusia tujuh kali, dengan menjadi raja manusia. Teman-teman yang mulia, karena jasa memberikannya semangkuk penuh makanan, aku terlahir di keluarga Sakya yang sangat kaya dan makmur, memiliki berlimpah-limpah semua jenis hewan ternak, tanah, dan manor, tak terbatas harta kekayaan dan diberkahi dengan harta karun berharga.

Teman-teman yang mulia, karena jasa memberikannya semangkuk penuh makanan, aku melepaskan tahta raja yang seharga ratusan, ribuan, milyaran koin emas, tidak menyebutkan berbagai harta milik lainnya, dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan. Teman-teman yang mulia, karena jasa memberikannya semangkuk penuh makanan, aku dihormati dan diperlakukan dengan pujian oleh para raja, menteri, brahmana, perumah tangga, dan semua penduduk, dan dihormati dengan penghormatan oleh empat perkumpulan para bhikkhu, bhikkhuni, umat awam pria, dan umat awam wanita.

Teman-teman yang mulia, karena jasa memberikannya semangkuk penuh makanan, aku terus-menerus diundang oleh orang-orang untuk menerima makanan dan minuman, jubah dan selimut, selimut wol, karpet, tempat tidur dan kasur, syal, obat-obatan, dan semua [yang dibutuhkan untuk] penghidupan, dan tidak pernah gagal menerima undangan.

Jika aku mengetahui pada waktu itu bahwa pertapa itu adalah seorang Manusia Sejati, bebas dari kemelekatan, maka jasa yang kuperoleh akan berlipat ganda lagi. Aku akan menerima pahala yang besar, manfaat yang paling mengagumkan, yang kecemerlangannya mulia tak terbatas dan besar.

Kemudian Yang Mulia Anuruddha, seorang Manusia Sejati, bebas dari kemelekatan, yang telah mencapai pembebasan sepenuhnya, mengucapkan syair ini:<166>

Aku ingat bagaimana pada masa lampau aku adalah orang miskin,
Yang bergantung sepenuhnya pada mengumpulkan sedikit-sedikit sebagai penghidupan
Kekurangan makanan, aku mempersembahkannya kepada sang pertapa
Upariṭṭha, yang berkebajikan besar.

Karena hal ini, aku terlahir di keluarga Sakya,
Yang diberikan nama Anuruddha.
Mengetahui dengan baik bagaimana bernyanyi dan menari,
Aku bersenang-senang dan terus-menerus menikmati[nya].

[Kemudian] aku menemui Sang Bhagavā,
Yang tercerahkan sempurna, [mengajarkan Dharma yang] bagaikan makanan surgawi.
Ketika aku menemui beliau, keyakinan dan kegembiraan muncul dalam diriku,
Dan aku meninggalkan kehidupan berumah tangga untuk berlatih dalam sang jalan.

Aku mencapai ingatan terhadap kehidupan lampau,
Mengetahui kelahiran-kelahiran lampauku.
[Aku melihat bahwa] aku [sebelumnya] terlahir di antara para dewa tiga-puluh-tiga,
Berdiam di sana selama tujuh masa [kehidupan].

Aku [terlahir] tujuh kali di sini, selain tujuh kali di sana.
[Demikianlah,] aku telah mengalami empat belas kali masa [kehidupan]
Di alam manusia dan di surga,
Tanpa pernah turun ke alam yang buruk.

Aku sekarang [juga] mengetahui kematian dan kelahiran
Dari makhluk-makhluk, tempat tujuan mereka ketika mereka meninggal dan terlahir kembali.
Aku mengetahui [keadaan-keadaan] pikiran orang lain, baik atau buruk,
Dan lima jenis kenikmatan orang mulia.

[Setelah] mencapai lima jhāna,
[Dengan] terus-menerus menenangkan dan mendamaikan pikiran,
Setelah mencapai padamnya, kediaman yang sempurna,
Aku telah mencapai mata dewa yang dimurnikan.

Apa yang dianggap pelatihan dalam sang jalan,
Terasing, setelah meninggalkan kehidupan berumah tangga,
Aku sekarang telah memperoleh manfaatnya,
Dan memasuki alam Buddha.

Aku tidak bergembira dalam kematian,
Ataupun aku menginginkan kelahiran.
Ketika waktunya tiba, ketika waktunya tepat,
Dengan perhatian dan kewaspadaan penuh berkembang,

Di Hutan Bambu di Vesālī,
Kehidupanku akan berakhir.
Di bawah pohon-pohon bambu di hutan itu,
[Aku akan mencapai] nirvana tanpa sisa.

Pada waktu itu, Sang Bhagavā sedang duduk bermeditasi, dan dengan telinga dewa, yang dimurnikan dan melampaui [pendengaran] manusia, beliau mendengar para bhikkhu, yang duduk bersama di aula pertemuan setelah makan siang, mendiskusikan topik ini.

Setelah mendengarnya, pada sore hari Sang Bhagavā bangkit dari duduk bermeditasi, pergi ke aula pertemuan dan duduk pada kursi yang diatur di hadapan perkumpulan para bhikkhu. Beliau bertanya kepada para bhikkhu, “Karena hal apakah kalian berkumpul di aula pertemuan sekarang?”

Kemudian para bhikkhu menjawab:

Sang Bhagavā, kami berkumpul di aula pertemuan hari ini karena Yang Mulia Anuruddha sedang mengajarkan Dharma sehubungan dengan kejadian pada masa lampau.

Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu, “Apakah kalian ingin mendengar Sang Tathāgata mengajarkan Dharma sehubungan dengan kejadian pada masa yang akan datang?”

Para bhikkhu menjawab:

Sang Bhagavā, sekarang adalah kesempatan yang tepat. Sang Sugata, sekarang adalah kesempatan yang tepat. Jika Sang Bhagavā akan mengajarkan para bhikkhu Dharma sehubungan dengan kejadian pada masa yang akan datang, para bhikkhu, yang mendengarnya, akan menerima dan mengingatnya dengan baik.

Sang Bhagavā berkata, “Dengarkanlah dengan baik, para bhikkhu. Dengarkanlah dengan baik dan perhatikan dengan seksama, dan aku akan menjelaskannya kepada kalian dengan lengkap.”

Kemudian para bhikkhu mendengarkan untuk menerima ajaran. Sang Bhagavā berkata:

Para bhikkhu, pada masa depan yang jauh masa kehidupan manusia akan menjadi delapan puluh ribu tahun.<167> Ketika masa kehidupan manusia adalah delapan puluh ribu tahun, [benua] Jambudīpa [ini] akan sangat makmur dan menyenangkan, dengan banyak penduduk; desa-desa dan kota-kota akan berdekatan [bersama] sejauh ayam jantan terbang. Para bhikkhu, ketika masa kehidupan manusia adalah delapan puluh ribu tahun, para wanita akan menikah pada usia lima ratus tahun. Para bhikkhu, ketika masa kehidupan manusia adalah delapan puluh ribu tahun, hanya terdapat masalah-masalah seperti [dilanda] kedinginan atau kepanasan, [harus] buang air besar dan kecil, [memiliki] keinginan [seksual], [harus] makan dan minum, dan usia tua. Tidak akan ada kesengsaraan lainnya. Para bhikkhu, ketika masa kehidupan manusia adalah delapan puluh ribu tahun, akan terdapat seorang raja bernama Saṅkha, seorang raja pemutar-roda, yang cerdas dan bijaksana, dilengkapi dengan armada pasukan berunsur empat untuk menguasai seluruh dunia, dengan bebas, seperti yang ia sukai. Menjadi seorang raja Dharma yang baik, ia akan mencapai tujuh harta karun. Tujuh harta karun itu adalah harta karun roda, harta karun gajah, harta karun kuda, harta karun permata, harta karun wanita, harta karun pelayan, dan harta karun penasehat – ini adalah tujuh hal itu. Ia akan memiliki seribu orang putra, dengan penampilan yang gagah, berani, tidak kenal takut, dan dapat menaklukkan orang lain. Ia pasti akan menguasai seluruh dunia, sampai sejauh lautan, tanpa bergantung pada pisau dan gada, hanya dengan mengajarkan Dharma, yang membawa perdamaian dan kebahagiaan. Ia akan memiliki sebuah bendera emas yang besar, dengan megah dihiasi dengan berbagai barang berharga, seribu kaki tingginya ketika ditegakkan, dan enam belas kaki dalam kelilingnya. Ia akan memerintahkannya untuk didirikan; dan setelah ia didirikan, di bawahnya ia akan membuat persembahan makanan dan minuman, pakaian dan selimut, kereta, kalungan bunga, bunga-bunga yang ditaburkan, wewangian, tempat tinggal, kasur, selimut wol, syal, para pelayan, dan pelita, dengan mempersembahkan ini kepada para pertapa dan brahmana, [dan] mereka yang dalam kemiskinan, mereka yang tanpa sanak keluarga, dan para pengemis dari jauh.

Setelah memberikan persembahan ini, ia akan kemudian mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, meninggalkan kehidupan berumah tangga demi keyakinan, dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan. [Ia akan melakukannya seperti] para anggota keluarga, yang mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, meninggalkan kehidupan berumah tangga demi keyakinan, dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan sampai kehidupan suci yang tiada bandingnya telah dikembangkan. Ia akan, dalam masa kehidupan itu, dengan diri sendiri [mencapai] pemahaman dan pencerahan, dan berdiam setelah dengan diri sendiri merealisasinya. Ia akan mengetahui sebagaimana adanya: “Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan. Tidak akan ada kelangsungan lain.”

Pada waktu itu Yang Mulia Ajita sedang duduk di antara perkumpulan itu. Kemudian Yang Mulia Ajita bangkit dari tempat duduknya, mengatur jubahnya sehingga memperlihatkan satu bahu, merangkapkan telapak tangannya [untuk menghormat] kepada Sang Buddha, dan berkata:

Sang Bhagavā, pada masa depan yang jauh ketika masa kehidupan manusia adalah delapan puluh ribu tahun, semoga aku menjadi seorang raja bernama Saṅkha, seorang raja pemutar-roda, yang cerdas dan bijaksana, dilengkapi dengan armada pasukan berunsur empat untuk menguasai seluruh dunia, dengan bebas, seperti yang kusukai. Menjadi seorang raja Dharma yang baik, aku akan mencapai tujuh harta karun. Tujuh harta karun itu adalah harta karun roda, harta karun gajah, harta karun kuda, harta karun permata, harta karun wanita, harta karun pelayan, dan harta karun penasehat – ini adalah tujuh hal itu. Aku akan memiliki seribu orang putra, dengan penampilan yang gagah, berani, tidak kenal takut, dan dapat menaklukkan orang lain. Aku pasti akan menguasai seluruh dunia, sampai sejauh lautan, tanpa bergantung pada pisau atau gada, hanya dengan mengajarkan Dharma, yang membawa perdamaian dan kebahagiaan. [Aku akan] memiliki sebuah bendera emas yang besar, dengan megah dihiasi dengan berbagai barang berharga, seribu kaki tingginya ketika ditegakkan, dan enam belas kaki dalam kelilingnya. Aku akan memerintahkannya untuk didirikan; dan setelah ia didirikan, di bawahnya aku akan membuat persembahan makanan dan minuman, pakaian dan selimut, kereta, kalungan bunga, bunga-bunga yang ditaburkan, wewangian, tempat tinggal, kasur, selimut wol, syal, para pelayan, dan pelita, dengan mempersembahkan ini kepada para pertapa dan brahmana, [dan] mereka yang dalam kemiskinan, mereka yang tanpa sanak keluarga, dan para pengemis dari jauh. Setelah memberikan persembahan ini, aku akan kemudian mencukur rambut dan janggutku, mengenakan jubah kuning, meninggalkan kehidupan berumah tangga demi keyakinan, dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan. [Aku akan melakukannya seperti] para anggota keluarga, yang mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, meninggalkan kehidupan berumah tangga demi keyakinan, dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan sampai kehidupan suci yang tiada bandingnya telah dikembangkan. Aku akan, pada kehidupan itu juga, dengan diri sendiri [mencapai] pemahaman dan pencerahan, dan berdiam setelah dengan diri sendiri merealisasinya. Aku akan mengetahui sebagaimana adanya: “Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan. Tidak akan ada kelangsungan lain.”

Kemudian Sang Bhagavā menegur Yang Mulia Ajita:

Engkau orang bodoh, yang menerima untuk meninggal satu kali lagi dan [hanya] kemudian berusaha mengakhirinya! Mengapa demikian? Karena engkau memiliki pikiran:

Sang Bhagavā, pada masa depan yang jauh ketika masa kehidupan manusia adalah delapan puluh ribu tahun, aku akan menjadi seorang raja bernama Saṅkha, seorang raja pemutar-roda, yang cerdas dan bijaksana, dilengkapi dengan armada pasukan berunsur empat untuk menguasai seluruh dunia, dengan bebas, seperti yang kusukai. Menjadi seorang raja Dharma yang baik, aku akan mencapai tujuh harta karun. Tujuh harta karun itu adalah harta karun roda, harta karun gajah, harta karun kuda, harta karun permata, harta karun wanita, harta karun pelayan, dan harta karun penasehat – ini adalah tujuh hal itu. Aku akan memiliki seribu orang putra, dengan penampilan yang gagah, berani, tidak kenal takut, dan dapat menaklukkan orang lain. Aku pasti akan menguasai seluruh dunia, sampai sejauh lautan, tanpa bergantung pada pisau atau gada, hanya dengan mengajarkan Dharma, yang membawa perdamaian dan kebahagiaan. [Aku akan] memiliki sebuah bendera emas yang besar, dengan megah dihiasi dengan berbagai barang berharga, seribu kaki tingginya ketika ditegakkan, dan enam belas kaki dalam kelilingnya. Aku akan memerintahkannya untuk didirikan; dan setelah ia didirikan, di bawahnya aku akan membuat persembahan makanan dan minuman, pakaian dan selimut, kereta, kalungan bunga, bunga-bunga yang ditaburkan, wewangian, tempat tinggal, kasur, selimut wol, syal, para pelayan, dan pelita, dengan mempersembahkan ini kepada para pertapa dan brahmana, [dan] mereka yang dalam kemiskinan, mereka yang tanpa sanak keluarga, dan para pengemis dari jauh. Setelah memberikan persembahan ini, aku akan kemudian mencukur rambut dan janggutku, mengenakan jubah kuning, meninggalkan kehidupan berumah tangga demi keyakinan, dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan. [Aku akan melakukannya seperti] para anggota keluarga, yang mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, meninggalkan kehidupan berumah tangga demi keyakinan, dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan sampai kehidupan suci yang tiada bandingnya telah dikembangkan. Aku akan, pada kehidupan itu juga, dengan diri sendiri [mencapai] pemahaman dan pencerahan, dan berdiam setelah dengan diri sendiri merealisasinya. Aku akan mengetahui sebagaimana adanya: “Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan. Tidak akan ada kelangsungan lain.”
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.353
  • Reputasi: 168
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. 1 (bagian 6)
« Reply #14 on: 06 April 2016, 09:06:49 PM »
Sang Bhagavā berkata:

Ajita, pada masa depan yang jauh ketika masa kehidupan manusia adalah delapan puluh ribu tahun, engkau akan menjadi seorang raja bernama Saṅkha, seorang raja pemutar-roda, yang cerdas dan bijaksana, dilengkapi dengan armada pasukan berunsur empat untuk menguasai seluruh dunia, dengan bebas, seperti yang engkau sukai. Menjadi seorang raja Dharma yang baik, engkau akan mencapai tujuh harta karun. Tujuh harta karun itu adalah harta karun roda, harta karun gajah, harta karun kuda, harta karun permata, harta karun wanita, harta karun pelayan, dan harta karun penasehat – ini adalah tujuh hal itu. Engkau akan memiliki seribu orang putra, dengan penampilan yang gagah, berani, tidak kenal takut, dan dapat menaklukkan orang lain. Engkau pasti akan menguasai seluruh dunia, sampai sejauh lautan, tanpa bergantung pada pisau atau gada, hanya dengan mengajarkan Dharma, yang membawa perdamaian dan kebahagiaan.

[Engkau] akan memiliki sebuah bendera emas yang besar, dengan megah dihiasi dengan berbagai barang berharga, seribu kaki tingginya ketika ditegakkan, dan enam belas kaki dalam kelilingnya. Engkau akan memerintahkannya untuk didirikan; dan setelah ia didirikan, di bawahnya engkau akan membuat persembahan makanan dan minuman, pakaian dan selimut, kereta, kalungan bunga, bunga-bunga yang ditaburkan, wewangian, tempat tinggal, kasur, selimut wol, syal, para pelayan, dan pelita, dengan mempersembahkan ini kepada para pertapa dan brahmana, [dan] mereka yang dalam kemiskinan, mereka yang tanpa sanak keluarga, dan para pengemis dari jauh.

Setelah memberikan persembahan ini, engkau akan kemudian mencukur rambut dan janggutmu, mengenakan jubah kuning, meninggalkan kehidupan berumah tangga demi keyakinan, dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan. [Engkau akan melakukannya seperti] para anggota keluarga, yang mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, meninggalkan kehidupan berumah tangga demi keyakinan, dan pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan sampai kehidupan suci yang tiada bandingnya telah dikembangkan. Engkau akan, dalam masa kehidupan ini, dengan diri sendiri [mencapai] pemahaman dan pencerahan, dan berdiam setelah dengan diri sendiri merealisasinya. Engkau akan mengetahui sebagaimana adanya: “Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan. Tidak akan ada kelangsungan lain.”

Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu:

Pada masa depan yang jauh, ketika masa kehidupan manusia adalah delapan puluh ribu tahun, akan terdapat seorang Buddha bernama Tathāgata Metteyya, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, seorang Yang Pergi-dengan-baik, pengenal dunia, pemimpin tiada bandingnya dari orang-orang yang dijinakkan, guru para dewa dan manusia, seorang Buddha, Yang Beruntung – seperti halnya aku sekarang telah menjadi seorang Tathāgata, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, seorang Yang Pergi-dengan-baik, pengenal dunia, pemimpin tiada bandingnya dari orang-orang yang dijinakkan, guru para dewa dan manusia, seorang Buddha, Yang Beruntung.

Di dunia ini dengan para dewa, Māra, Brahmā, pertapa, dan brahmana, dari manusia sampai para dewa, beliau akan [mencapai] pemahaman dan pencerahan dengan dirinya sendiri dan berdiam setelah dengan diri sendiri merealisasikannya – seperti halnya, di dunia ini dengan para dewa, Māra, Brahmā, pertapa, dan brahmana, dari manusia sampai para dewa, aku telah [mencapai] pemahaman dan pencerahan dengan diriku sendiri, dan berdiam setelah dengan diri sendiri merealisasikannya.

Beliau akan mengajarkan Dharma yang mulia pada awalnya, mulia pada pertengahannya, dan juga mulia pada akhirnya, dengan makna dan ungkapan yang benar, yang menyatakan kehidupan suci yang diberkahi dengan kemurnian – seperti halnya aku sekarang mengajarkan Dharma yang mulia pada awalnya, mulia pada pertengahannya, dan juga mulia pada akhirnya, dengan makna dan ungkapan yang benar, yang menyatakan kehidupan suci yang diberkahi dengan kemurnian.

Beliau akan menyebarluaskan kehidupan suci, dengan menyatakannya secara luas kepada tak terhitung perkumpulan dari manusia sampai para dewa – seperti halnya aku sekarang menyebarluaskan kehidupan suci, dengan menyatakannya secara luas kepada tak terhitung perkumpulan dari manusia sampai para dewa. Beliau akan memiliki komunitas dari tak terhitung ratusan dan ribuan bhikkhu – seperti halnya aku sekarang memiliki komunitas dari tak terhitung ratusan dan ribuan bhikkhu.

Pada waktu itu Yang Mulia Metteyya sedang duduk di antara perkumpulan itu. Kemudian Yang Mulia Metteyya bangkit dari tempat duduknya, mengatur jubahnya sehingga memperlihatkan satu bahu, merangkapkan telapak tangannya [untuk menghormat] kepada Sang Buddha, dan berkata:

Sang Bhagavā, pada masa depan yang jauh, ketika masa kehidupan manusia adalah delapan puluh ribu tahun, semoga aku menjadi seorang Buddha bernama Tathāgata Metteyya, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, seorang Yang Pergi-dengan-baik, pengenal dunia, pemimpin tiada bandingnya dari orang-orang yang dijinakkan, guru para dewa dan manusia, seorang Buddha, Yang Beruntung – seperti halnya Sang Bhagavā sekarang adalah seorang Tathāgata, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, seorang Yang Pergi-dengan-baik, pengenal dunia, pemimpin tiada bandingnya dari orang-orang yang dijinakkan, guru para dewa dan manusia, seorang Buddha, Yang Beruntung. Di dunia ini dengan para dewa, Māra, Brahmā, pertapa, dan brahmana, dari manusia sampai para dewa, aku akan [mencapai] pemahaman dan pencerahan dengan diriku sendiri dan berdiam setelah dengan diri sendiri merealisasikannya – seperti halnya, di dunia ini dengan para dewa, Māra, Brahmā, pertapa, dan brahmana, dari manusia sampai para dewa, Sang Bhagavā telah [mencapai] pemahaman dan pencerahan dengan dirinya sendiri, dan berdiam setelah dengan diri sendiri merealisasikannya.

Aku akan mengajarkan Dharma yang mulia pada awalnya, mulia pada pertengahannya, dan juga mulia pada akhirnya, dengan makna dan ungkapan yang benar, yang menyatakan kehidupan suci yang diberkahi dengan kemurnian – seperti halnya Sang Bhagavā sekarang mengajarkan Dharma yang mulia pada awalnya, mulia pada pertengahannya, dan juga mulia pada akhirnya, dengan makna dan ungkapan yang benar, yang menyatakan kehidupan suci yang diberkahi dengan kemurnian.

Aku akan menyebarluaskan kehidupan suci, dengan menyatakannya secara luas kepada tak terhitung perkumpulan dari manusia sampai para dewa – seperti halnya Sang Bhagavā sekarang menyebarluaskan kehidupan suci, dengan menyatakannya secara luas kepada tak terhitung perkumpulan dari manusia sampai para dewa. Aku akan memiliki komunitas dari tak terhitung ratusan dan ribuan bhikkhu – seperti halnya Sang Bhagavā sekarang memiliki komunitas dari tak terhitung ratusan dan ribuan bhikkhu.

Kemudian Sang Bhagavā memuji Metteyya, dengan berkata:

Sangat bagus, sangat bagus, Metteyya! Engkau telah menyatakan keinginan yang menakjubkan, yaitu untuk memimpin perkumpulan besar. Mengapa demikian? Engkau memiliki pikiran ini:

Sang Bhagavā, pada masa depan yang jauh, ketika masa kehidupan manusia adalah delapan puluh ribu tahun, semoga aku menjadi seorang Buddha bernama Tathāgata Metteyya, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, seorang Yang Pergi-dengan-baik, pengenal dunia, pemimpin tiada bandingnya dari orang-orang yang dijinakkan, guru para dewa dan manusia, seorang Buddha, Yang Beruntung – seperti halnya Sang Bhagavā sekarang adalah seorang Tathāgata, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, seorang Yang Pergi-dengan-baik, pengenal dunia, pemimpin tiada bandingnya dari orang-orang yang dijinakkan, guru para dewa dan manusia, seorang Buddha, Yang Beruntung.

Di dunia ini dengan para dewa, Māra, Brahmā, pertapa, dan brahmana, dari manusia sampai para dewa, aku akan [mencapai] pemahaman dan pencerahan dengan diriku sendiri dan berdiam setelah dengan diri sendiri merealisasikannya – seperti halnya, di dunia ini dengan para dewa, Māra, Brahmā, pertapa, dan brahmana, dari manusia sampai para dewa, Sang Bhagavā telah [mencapai] pemahaman dan pencerahan dengan dirinya sendiri, dan berdiam setelah dengan diri sendiri merealisasikannya.

Aku akan mengajarkan Dharma yang mulia pada awalnya, mulia pada pertengahannya, dan juga mulia pada akhirnya, dengan makna dan ungkapan yang benar, yang menyatakan kehidupan suci yang diberkahi dengan kemurnian – seperti halnya Sang Bhagavā sekarang mengajarkan Dharma yang mulia pada awalnya, mulia pada pertengahannya, dan juga mulia pada akhirnya, dengan makna dan ungkapan yang benar, yang menyatakan kehidupan suci yang diberkahi dengan kemurnian.

Aku akan menyebarluaskan kehidupan suci, dengan menyatakannya secara luas kepada tak terhitung perkumpulan dari manusia sampai para dewa – seperti halnya Sang Bhagavā sekarang menyebarluaskan kehidupan suci, dengan menyatakannya secara luas kepada tak terhitung perkumpulan dari manusia sampai para dewa. Aku akan memiliki komunitas dari tak terhitung ratusan dan ribuan bhikkhu – seperti halnya Sang Bhagavā sekarang memiliki komunitas dari tak terhitung ratusan dan ribuan bhikkhu.

Sang Buddha juga berkata kepada Metteyya:

Metteyya, pada masa depan yang jauh, ketika masa kehidupan manusia adalah delapan puluh ribu tahun, engkau akan menjadi seorang Buddha bernama Tathāgata Metteyya, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, seorang Yang Pergi-dengan-baik, pengenal dunia, pemimpin tiada bandingnya dari orang-orang yang dijinakkan, guru para dewa dan manusia, seorang Buddha, Yang Beruntung – seperti halnya aku sekarang adalah seorang Tathāgata, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, seorang Yang Pergi-dengan-baik, pengenal dunia, pemimpin tiada bandingnya dari orang-orang yang dijinakkan, guru para dewa dan manusia, seorang Buddha, Yang Beruntung.

Di dunia ini dengan para dewa, Māra, Brahmā, pertapa, dan brahmana, dari manusia sampai para dewa, engkau akan [mencapai] pemahaman dan pencerahan dengan dirimu sendiri dan berdiam setelah dengan diri sendiri merealisasikannya – seperti halnya, di dunia ini dengan para dewa, Māra, Brahmā, pertapa, dan brahmana, dari manusia sampai para dewa, aku telah [mencapai] pemahaman dan pencerahan dengan diriku sendiri, dan berdiam setelah dengan diri sendiri merealisasikannya.

Engkau akan mengajarkan Dharma yang mulia pada awalnya, mulia pada pertengahannya, dan juga mulia pada akhirnya, dengan makna dan ungkapan yang benar, yang menyatakan kehidupan suci yang diberkahi dengan kemurnian – seperti halnya aku sekarang mengajarkan Dharma yang mulia pada awalnya, mulia pada pertengahannya, dan juga mulia pada akhirnya, dengan makna dan ungkapan yang benar, yang menyatakan kehidupan suci yang diberkahi dengan kemurnian.

Engkau akan menyebarluaskan kehidupan suci, dengan menyatakannya secara luas kepada tak terhitung perkumpulan dari manusia sampai para dewa – seperti halnya aku sekarang menyebarluaskan kehidupan suci, dengan menyatakannya secara luas kepada tak terhitung perkumpulan dari manusia sampai para dewa. Engkau akan memiliki komunitas dari tak terhitung ratusan dan ribuan bhikkhu – seperti halnya aku sekarang memiliki komunitas dari tak terhitung ratusan dan ribuan bhikkhu.

Pada waktu itu, Yang Mulia Ānanda sedang memegang sebuah kipas dan melayani Sang Buddha. Kemudian Sang Bhagavā berbalik kepadanya dan berkata, “Ānanda, bawakan aku jubah-jubah yang ditenun dengan benang emas. Aku sekarang ingin memberikannya kepada bhikkhu Metteyya.”

Kemudian Yang Mulia Ānanda, mengikuti instruksi Sang Bhagavā, membawakan jubah-jubah yang ditenun dengan benang emas dan memberikannya kepada Sang Bhagavā. Kemudian, setelah menerima dari Yang Mulia Ānanda jubah-jubah yang ditenun dengan benang emas, Sang Bhagavā berkata:

Metteyya, ambillah jubah-jubah yang ditenun dengan benang emas ini dari Sang Tathāgata dan persembahkan mereka kepada Buddha, Dharma, dan komunitas para bhikkhu. Mengapa? Metteyya, semua Tathāgata, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, adalah pelindung dunia, yang mencari kesejahteraan, manfaat, kedamaian, dan kebahagiaannya.

Kemudian Yang Mulia Metteyya, setelah mengambil jubah-jubah dengan benang emas dari Sang Tathāgata, mempersembahkannya kepada Buddha, Dharma, dan komunitas para bhikkhu.

Pada waktu itu, Māra Si Jahat memiliki pikiran ini:

Pertapa Gotama, yang sedang berdiam di Benares, di Taman Rusa, Tempat Para Pertapa, sedang mengajarkan para siswanya Dharma demi tujuan masa depan. Biarlah aku pergi dan mengganggu dan membingungkan mereka.

Kemudian Māra Si Jahat mendekati Sang Buddha. Setelah tiba di sana, ia mengulangi sebuah syair kepada Sang Buddha:

Seseorang pasti akan mencapai
Penampilan yang paling menakjubkan
Dengan memakai kalungan bunga dan kalung giok pada tubuhnya
Dan mutiara yang cemerlang pada lengannya,
Jika ia berdiam di kota Ketumatī,
Di kerajaan Raja Saṅkha.

Setelah itu Sang Bhagavā berpikir: “Māra Si Jahat ini telah datang ke sini, berkeinginan untuk mengganggu dan membingungkan [para siswaku].” Mengetahui [hal ini], Sang Bhagavā mengulangi sebuah syair kepada Māra Si Jahat:

Seseorang pasti akan mencapai [keadaan]
Bebas dari tekanan, bebas dari keragu-raguan dan delusi,
Dengan melenyapkan kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian,
[Mencapai] kebebasan dari noda-noda, menyelesaikan apa yang harus dilakukan,
Jika ia berlatih kehidupan suci
Dalam kerajaan Metteyya.

Kemudian Māra Si Jahat mengulangi lagi sebuah syair:

Seseorang pasti akan memperoleh
Kemashyuran dan keunggulan, pakaian yang luar biasa
[Minyak] cendana yang diusapkan ke tubuh,
Dan tubuh yang halus, tegak, indah, dan langsing,
Jika ia berdiam di kota Ketumatī,
Di kerajaan Raja Saṅkha.

Kemudian, Sang Bhagavā mengulangi lagi sebuah syair:

Seseorang pasti akan mencapai [keadaan]
Tanpa-kepemilikan dan tanpa rumah,
Dengan tidak menyentuh harta karun emas dengan tangannya,
Bebas dari aktivitas, dengan tiada yang ditakuti,
Jika ia berlatih kehidupan suci
Dalam kerajaan Metteyya.

Kemudian Māra Si Jahat mengulangi lagi sebuah syair:

Seseorang pasti akan memperoleh
Kemashyuran, kekayaan, dan makanan dan minuman yang enak.
Mengetahui dengan baik bagaimana bernyanyi dan menari,
[Ia] akan bersenang-senang dan terus-menerus bergembira [di dalamnya].
Jika ia berdiam di kota Ketumatī,
Di kerajaan Raja Saṅkha.

Kemudian, Sang Bhagavā mengulangi lagi sebuah syair:

Ia pasti akan menyeberang menuju pantai lain,
Seperti seekor burung merusak jaring dan meloloskan diri,
Dan mencapai jhāna, berdiam di dalamnya dengan bebas,
Yang memiliki kebahagiaan, selalu bergembira.
Māra, engkau harus mengetahui
Bahwa aku telah mengatasi [dirimu].

Kemudian Raja Māra berpikir: “Sang Bhagavā mengetahui diriku. Sang Sugata telah melihatku.” Cemas, khawatir, merasa dirugikan, dan tidak dapat tetap berada di sana, ia langsung menghilang dari tempat itu.

Ini adalah apakah yang dikatakan Sang Buddha. Setelah mendengarkan perkataan Sang Buddha, Metteyya, Ajita, Yang Mulia Ānanda, dan para bhikkhu [lainnya] bergembira dan mengingatnya dengan baik.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa